PERJALANAN TINA DI NEGERI KINCIR ANGIN

PERJALANAN TINA DI NEGERI KINCIR ANGIN

A Journey to AMSTERDAM

Tina Cesar, siapa yang tidak kenal dengan perempuan energik, lincah dan imut ini, salah satu Duta kampus Widyatama jebolan Fakultas Bahasa pada tahun 2009 di bawah asuhan Ibu Fitrah Rumaisa (Ica) /Dosen Fakultas Tekhnik saat ini. Tidak pernah ada yang menyangka cewe gaul ini saat kuliah di Widyatama jarang sekali pergi keluar rumah. Paling jauh ke wilayah Yogyakarta saat KKL.

Tertarik oleh tawaran teman menjadi guide traveler wisatawan asing. Cara kerjanya apply (melamar) ke salah satu situs menawarkan wisatawan asing untuk mau kita guide dan wisatawan tersebut selama kita guide menginap di rumah kita. Wisatawan pertama berasal dari Belgia selanjutnya mulai banyak dari Negara lain seperti Amerika serikat, Jerman, Korea Selatan sampai Sudan.
Secara tidak langsung dengan aktifitas ini saya jadi memiliki banyak teman dari berbagai Negara sehingga menambah wawasan. Mimpi saya menginginkan suatu saat traveling ke luar negeri semakin kuat entah itu untuk bekerja maupun menuntut ilmu, ujarnya.

Salah satu yang ditawarkan adalah semacam pertukaran pelajar (cultural exchange) jadi kita tinggal di salah satu keluarga di Negara tersebut sesuai perjanjian awal apakah mereka yang menanggung semuanya seperti biaya tinggal, visa, flight tiket, asuransi dan yang lainnya. Akhirnya setelah hampir lebih dari 6 bulan mengirimkan profile, salah satu keluarga di Amsterdam Belanda bersedia untuk menerima saya tinggal di keluarga mereka.

Persetujuannya saya dapat tinggal selama 1 tahun dengan kewajiban bekerja selama 5 jam setiap harinya untuk mengasuh anakanak mereka. Pengalaman paling berharga?selama satu tahun di Belanda walaupun tidak berupa titel tetapi secara langsung kita dapat menyelami kebudayaan asli mereka karena kita berinteraksi secara langsung dengan mereka.
Sampai disana saat akhir bulan Desember kala musim dingin dan mulai bersekolah bahasa Belanda di bulan Januari. Kendala terbesar adalah karena memiliki tugas mengasuh anak-anak yang tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali. Dalam 5 (lima) bulan mulai lancar berbahasa Belanda. Setelah 8 (delapan) bulan pindah host family ke sebuah keluarga di kota Den Haag sampai akhir saya tinggal disana. Pengalaman atau pengetahuan yang didapat kala hidup disana adalah bagaimana sangat terorganisasinya segala aspek kehidupan baik saat kita berada di masyarakat maupun dalam keluarga, penghargaan terhadap waktu (telat 2 menit pun sangat dipertanyakan), respect terhadap individu lain tanpa melihat siapa individu tersebut (semua orang equal/sama).

Beberapa sisi negatifnya adalah karena terlalu individualistis maka sukar sekali kita mendapat pertolongan dari orang lain saat kesusahan di area umum karena mereka pun memiliki kehidupan atau kegiatannya masing-masing. Stereotype orang Belanda pun sangat terkenal akan hemat bahkan cenderung pelit.
Kala mengikuti Duta kampus Widyatama awalnya tidak sengaja bahkan dipaksa oleh teman yang lain. Bahkan kurang percaya diri melihat kontestan yang lain, tetapi akhirnya terpilih. Pesan yang didapat adalah bahwa kita bisa menjadi atau meraih apapun walaupun hal tersebut sukar untuk diraih. Setelah lulus diterima di FEDEX di bagian administrasi tetapi kurang interest (tertarik) karena menganggap bukan passion (keinginan) dari diri sendiri sehingga mulai apply (melamar) lagi ke situs-situs dan dalam waktu dekat akan mencoba stay (tinggal) di salah satu keluarga di Negara Jerman.
Pesan singkat untuk adik-adik mahasiswa Widyatama tercinta adalah jangan pernah takut untuk mencoba segala hal yang positif yang dapat menumbuhkan passion (keinginan) kita, terus bangun kepercayaan diri, dan jangan pernah takut salah dalam mencoba hal yang baru. (Fe)

Comments are closed.