“Irritable Bowel Syndrome” dan Gangguan Cemas

Irritable Bowel Syndrome atau yang sering disingkat IBS adalah suatu kondisi gangguan perut yang ditandai dengan rasa tidak nyaman di daerah perut, yang disertai dengan gejala-gejala episodik perasaan sulit buang air besar (konstipasi) dan atau diare. IBS sering kali disebut sebagai suatu kumpulan keluhan dan bukan penyakit maag tertentu.
Kembung, banyak gas dan perasaan tidak nyaman adalah keluhan yang paling sering dialami pasien selain diare dan sulit buang air besar.
Label “IBS” sering digunakan ketika pemeriksaan laboratorium atau
penunjang lain seperti USG atau endoskopi tidak merujuk pada diagnosis spesifik untuk menjelaskan gejala yang ada. IBS biasanya kronis, dan membuat masalah dalam kehidupan pasien yang nyata
IBS Terkait dengan Kecemasan dan Depresi
Stres dan kecemasan telah terbukti mengganggu fungsi pencernaan.
Diperkirakan bahwa hingga 60% orang yang mencari perawatan medis
untuk IBS juga melaporkan kecemasan dan atau gangguan mood.
Beberapa penelitian mengatakan pasien gangguan panik sebagai salah
satu tipe gangguan kecemasan yang paling sering dialami mempunyai
kerentanan mengalami IBS antara 25-40%.
Beberapa peneliti percaya bahwa orang dengan IBS yang sensitif terhadap bahan kimia stres tertentu, sehingga respon berlebihan dari usus besar. Beberapa hal yang memperburuk gangguan panik juga dapat memperburuk gejala IBS. Misalnya, stres, alkohol dan kafein cenderung memicu serangan panik dan telah juga dikaitkan dengan gejala IBS meningkat. Untuk itu perlu penanganan kasus IBS bersama dengan psikiater yang memahami kondisi hubungan antara stres dan gangguan perut yang dialami.
Tip untuk mengelola gejala IBS
1. Memilih Makananan Yang Benar
Sering kali, gejala IBS diperburuk oleh makanan atau minuman tertentu. Ini sering disebut “memicu”, dan mereka berbeda untuk setiap orang. Pemicu umum yang telah terbukti dapat meningkatkan gejala IBS, meliputi : minuman dan makanan yang mengandung kafein, Alkohol, sayuran mentah, kulit di buah, Makanan tinggi lemak, minuman bersoda, produk susu. Mungkin tidak semua orang mengalami gejala-gejala IBS dengan pemicu makanan yang sama. untuk itu anda perlu mengatur menu harian anda dan melihat apakah ada makanan tertentu yang lebih mudah memicu terjadinya IBS anda.
2. Mengelola Stres
Stres yang berlebihan telah dikaitkan dengan gejala IBS meningkat dan peningkatan gejala gangguan panik. Relaksasi dan meditasi mindfulness telah banyak dilakukan untuk mengurangi stres yang berlebihan. Pasien dengan keluhan IBS juga perlu untuk mengatasi dan beradaptasi dengan stres yang dialami oleh dirinya. Reaksi stres yang berlebihan perlu diingat akan memudahkan terjadinya IBS pada diri pasien.
3. Berkunjung ke Psikiater
Sering kali pengobatan IBS oleh dokter menggunakan obat penenang dalam salah satu obatnya. Biasanya yang diberikan adalah golongan benzodiazepine. Perlu selalu diingat akan adanya potensi ketergantungan dan toleransi (dosis obat meningkat karena efeknya sudah tidak didapatkan lagi dengan dosis awal) dalam pemakaian obat jenis penenang benzodiazepine. Penggunaan obat yang rasional sangat diperlukan apalagi IBS adalah penyakit yang kronis dan berulang. Pasien yang mengalami IBS bisa melakukan konsultasi kepada psikiater berhubungan dengan hal-hal yang memicu stresnya dan juga bagaimana mengobati gangguan panik atau gangguan kecemasan lainnya yang sering berbarengan terjadinya pada pasien dengan gangguan IBS. Terapi yang tepat pada pasien secara psikiatri akan memperbaiki kondisi medis umum terkait IBS-nya.
Intinya adalah sebagai salah satu keluhan psikosomatik, maka IBS adalah salah satu kumpulan gejala sakit yang sangat erat hubungannya dengan aspek psikologis orang yang mengalaminya. Terapi pengobatan yang interdisiplin dan meliputi semua aspek akan sangat baik bagi penyelesaian kasus IBS dalam praktek sehari-hari. helath.kompas.com

Comments are closed.