Keindahan Permainan Layangan

Keindahan Permainan Layangan

Keindahan Permainan Layangan

Keindahan Permainan Layangan

Dalam Ideologi serta Aspek Kehidupan Masyarakat Bali

Oleh : Azizah Assattari

Manusia dalam pandangan Johan Huizinga (Homo Luden,Huizinga, 1938), merupakan homo luden (manusia bermain) yang memiliki sifat kebermainan yang unik dan menciptakan berbagai bentuk permainan dalam konteks budaya. Salah satu bentuk permainan universal adalah permainan layangan. Istilah layang-layang, layangan, atau wau, merupakan lembaran bahan tipis berkerangka yang diterbangkan ke udara dan terhubungkan dengan tali atau benang ke daratan atau pengendali. Layang-layang memanfaatkan kekuatan hembusan angin sebagai alat pengangkatnya.
Di Indonesia, permainan layangan juga merupakan salah satu warisan budaya yang cukup populer di tengah masyarakat. Layangan telah dikenal di Indonesia semenjak jaman prasejarah dan terus berkembang mengikuti kebutuhan hidup manusia. Layangan digunakan dalam berbagai fungsi dan tujuan, baik itu ritual keagamaan, mata pencaharian (penangkap ikan), bahkan perang. Layangan pun bermacam jenisnya, baik yang hias (koang), maupun yang aduan (laga).
Layangan Bali sebagai permainan tradisional Indonesia merupakan bagian dari ritual keagamaan dan ideologi hidup masyarakat Bali. Kekayaan budaya khas nusantara terlihat dari keindahan rancangan, makna, dan mitos legenda yang terkandung di dalamnya. Dalam masyarakat Bali, layang-layang seakan sudah menjadi bagian dalam tradisi budaya Bali yang merupakan masyarakat agraris. Hal ini tercermin dari folklore tentang Betara Rare Angon, yang kerap digunakan sebagai acuan mengenai sejarah kedekatan layang-layang dengan kehidupan masyarakat Bali.
Berdasar folklore tersebut, layang-layang menjadi bentuk ungkapan rasa syukur dan kebahagiaan petani atas keberhasilan panen di sawah mereka. Ucapan terima kasih para petani dituju kan kepada Dewa Siwa, satu dari tiga manifestasi Tuhan dalam kepercayaan Hindu. Betara (Dewa) Rare angon ini dipercaya sebagai penjelmaan Dewa Siwa, yang tedun (turun dari langit) seusai panen. Rare angon ini diwujudkan anak kecil yang duduk di punggung kerbau sambil memainkan serulingnya.
Layangan dalam mitologi memiliki semacam makna tersirat sebagai pesan cinta bumi kepada langit yang akan menyebarkan kebaikan bagi alam semesta. Ada beberapa konsep yang muncul di tengah masyarakat Bali mengenai layangan, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:
Layang-layang untuk Menghibur Dewi Sri (Dewi Padi)
Menurut mitologi orang Bali, layangan yang telah mengudara de ngan bunyi guangannya seperti sunariatau suling suci Bhatara Wisnu atau Sri Kresna, amat menarik hati para bidadari di kahyangan. Mereka datang dan naik ke atas layangan untuk turun ke Bumi meladeni Dewi Sri. Perwujudannya berupa hasil padi yang menguning dan dijemur di sawah. Menurut kepercayaan mitologis itu, Dewi Sri dihibur dengan suara guangan, sunaridan pindekan yang jernih mengalun dan menawan.
Menurut ketua Persatuan Pelayang Bali, Drs. I Gst. Putu Rai Andayana (Bali, 2009), pada saat itu para kaum lelaki dikatakan menjadi dedarinan (kaum laki yang getol dengan kegembiraan, yang dimitoskan sebagai lelaki yang mencari bidadari yang sering menjadi lupa akan segalanya). Saat itu sang dewa layangan (Rare angon) turun mengilhami para pelayang (Undagi) dalam bermain layangan, sehingga muncul istilah rare angon girang melayangan yang maknanya adalah seseorang yang kegirangan dalam suatu kesenangan / kegembiraan akan bisa melupakan segalanya. Kegembiraan/ kebahagiaan itu di simbolkan sebagai?Dewi Sri (dewi kemakmuran) dengan dan para bidadarinya.

Comments are closed.