Keindahan Permainan Layangan

Keindahan Permainan Layangan

Jenis Layangan Tradisional Bali
Layangan tradisional mengandung makna kultural serta keagamaan pada masyarakat di Bali. Dalam proses pembuatannya, dilakukan upacara yang bertujuan memasukkan roh gaib untuk menghidupkan layangan tersebut (berkaitan dengan kepercayaan bahwa layangan tersebut merupakan representasi dari makhluk gaib ciptaan para dewa). Biasanya upacara yang diadakan serta layangan yang dibuat mengikuti aliran kepercayaan banjar. Karena pada dasarnya masyarakat Bali memilih satu diantara para dewa untuk dipuja. Beberapa layangan tradisional yang umum di kenal diantaranya adalah sebagai berikut:

Layangan Bebean
Jenis ini mengambil berasosiasi pada bentuk dasar dari seekor ikan besar ( be ? dalam bahasa Bali yang artinya ikan). Jenis Bebean ini memiliki kepala, badan, sirip (berupa kibaran kain pada pinggang) dan ekor. Jenis ini sedemikian rupa dirancang agar dapat mengudara berlengak-lenggok (ngelog) sehingga dapat diasosiasikan seperti ikan berenang, selain itu?aksi mengudara yang berlenggok (ngelog) dapat meningkatkan variasi efek suara guangan yang dipasang pada bagian kepala dan pinggang. Bebean ini merupakan representasi dari elemen berunsur air (Wisnu). Bebean merupakan layangan wajib pertama yang harus ada di setiap banjar. Jenis ini termasuk layangan yang paling mudah dikendalikan diantara jenis layangan tradisional lainnya. Ada beberapa tipe Bebean dengan kekuatan yang berbeda, tergantung dari jenisnya, seperti lebih seimbang atau lebih lincah

Bebean Ikan Duri Bentuk Bebean
seperti ini mulai langka untuk dijumpai di masyarakat. Yang menjadi sangat khas dari bentuknya adalah bagian sirip (kepes) yang terbuat dari rangka bambu, sehingga tidak berkibar seperti jenis Bebean lainya. Jenis ini berasosiasi pada ikan dengan sirip berduri dan kekar. Bagian sudut badan (pemucu) lebih runcing (sudut kecil) dan umumnya memiliki aksi (elog) yang lebih cepat dari jenis lainya. Hal ini mungkin dikarenakan oleh sirip dan badan yang lebih runcing, dimana sirip biasanya mempengaruhi elog (berlenggok) untuk lebih teratur (pelan).

Bebean Ikan Kecil
Bentuk ini memiliki ciri khas berupa bagian ekor (ikuhsapi) lebih kecil dari jenis Bebean lainnya, sehingga dari proporsinya terlihat mengecil kebagian bawah (ekor). Jenis ini berasosiasi pada ikan yang bersirip pendek, berekor kecil dan lincah. Jenis ini umumnya dijumpai pada daerah persawahan di luar Bali selatan (Bali tengah, barat&timur).

Bebean Ikan Jago
Bentuk yang khas berupa kepala kotak, Sudut badan (pemucu) bulat keluar, bagian ekor (ikuh sapi) seperi sabit. Warna yang umum dipakai adalah perpaduan dua warna hitam ? putih, hitam ?kuning atau hitam merah, yang merupakan warna dasar (Tri datu) masyarakat Bali. Salah satu dari jenis ini pernah dikramatkan oleh pelayang di Semawang, Desa Sanur dengan pola warna hitam putih (catur) pada bagian tengah yang dikenal dengan nama Layangan Jago yang memiliki mitos religious.

Layangan Pecukan
Layang-layang ini umumnya berangka bambu, sedangkan dibeberapa tempat bila jenis ini dibuat lebih besar (lebih dari 3 meter) biasanya rangka bambu dibantu dengan kayu atau batang pohon pinang sebagai rangka pokok penahan beban angin. Rangka bambu diatur sedemikian rupa agar busur dan porosnya seimbang, dimana jenis ini berasosiasi pada pola daun yang ditekuk (dalam bahasa Bali disebut pecuk) dengan dua sudut yang seimbang dan bervariasi dalam proporsi dari ukuran untuk mendapatkan bentuk, posisi dan aksinya mengudara.
Bentuk layang Pecukan dapat dibandingkan dengan bagian Ulu Candra (pusat mata dewa/titik nadir) yang merupakan bagian dari Wijaksara (simbol Kebijaksanaan Dewa). Jadi bentuk layang-layang Pecukan adalah merupakan simbol Sadasiwa (Betara Siwa dalam mitologi Hindu Bali ) yang disebut juga Mata Kaala Sadasiva. Kemunculan simbol ini berawal di India dan turunan kebudayaan Hindu lainnya (termasuk juga di Indonesia) identik dengan kemunculan kekuatan kegelapan, kematian, alam gaib, atau penyihir dan disebut sebagai tanda penyihir (witchs mark).

Pecukan merupakan salah satu jenis layangan yang paling lincah namun paling sulit dikendalikan, karena itulah Pecukan dibuat dengan dua kendali.Jenis ini umumnya simetris antara kedua bagian samping serta bagian atas & bawah, sehingga menimbulkan posisi mengudara cukup tegak, dan memerlukan kekuatan angin yang cukup dan stabil untuk mengudara.
Bila dalam keadaan tidak stabil jenis ini bisa jatuh berlikuk (nge-looping) seperti daun jatuh. Pada posisi tertekan angin kencang jenis ini paling kuat/memilki tarikan kuat yang disebabkan bentuk yang simetris dan sudut yang membalut sebagai penampung angin. Untuk menstabilkan dari tekanan angin, jenis Pecukan ini memiliki bahu (pala) pada rangka badannya yang dibuat dengan penebalan rangka untuk ukuran besar, yang biasanya ditumpuk dengan rangka jenis kayu atau batang pohon pinang. Pada keadaan tekanan angin kencang Pecukan dibuat dengan pengaturan lobang udara pada lipatan kain pembungkusnya.

Layangan Janggan
Layangan janggan merupakan representasi makhluk berwujud ular naga yang lahir dari beberapa cerita tentang naga di Bali. Layangan ini mempunyai bentuk badan yang mirip dengan bentuk Pecukan. Yang membedakan hanya tubuh yang memiliki elemen tubuh yang lengkap dari kepala, leher, badan, pinggang &?ekor. Yang paling menonjol adalah bentuk ekor dari rangka badan yang diteruskan dengan lembaran ekor yang panjang. Ekor yang panjang ini diasosiasikan dengan simbol Ananthaboga (naga besar) di Bali, dimana Ananthaboga merupakan simbol Dewa kemakmuran yang berkedudukan di dasar Bumi. Sehingga jenis ini memiliki mitos riligius yang amat mendalam.

Comments are closed.