Sepintas Kilas Dyslexia

Sepintas Kilas Dyslexia

Sasmi Farida , Sepintas Kilas Dyslexia

Dyslexia sering dianggap sebagai salah satu penyebab munculya kesulitan belajar, bahkan penyandang dyslexia digolongkan kedalam orang-orang yang berkebutuhan khusus. Sebenarnya kesulitan belajar dapat menimpa siapa saja dan pada usia berapa saja, bisa terjadi pada usia kanak-kanak, remaja, dan bahkan orang dewasa sekalipun. Kondisi ini akan mempengaruhi banyak aspek kehidupan seseorang, di sekolah misalnya, di tempat kerja, bahkan di kehidupan dalam keluarga.

Apa dyslexia itu?

Disleksia diartikan sebagai kesulitan dalam memaknai simbol, huruf, dan angka melalui persepsi visual dan auditoris. Hal ini akan berdampak pada kemampuan membaca-pemahaman. (Pusat kurikulum Badan penelitian dan pengembangan Departemen pendidikan nasional, 2007). Istilah dyslexia sendiri berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu dys dan lexia. Dys berati susah atau sulit dan lexia berarti kata. Dyslexia kemudian dimaknai sebagai hambatan dalam belajar yang diakibatkan oleh sulitnya seseorang mengenali dan merangkai huruf-huruf menjadi kata, kata menjadi frase, klausa ataupun kalimat. Misalnya kata buku oleh penyandang dyslexia bisa jadi ditulis ataupun diucapkan duku, kata sederhana seperti kata itu ditulis dengan uit atau uti, tanpa disadari olehnya. Padahal terjadinya perbedaan huruf atau pertukaran huruf mengakibatkan terjadinya perbedaan makna, maka terjadilah perbedaan informasi. Lebih parah lagi, penyandang dyslexia secara tidak disadari tidak hanya mempertukarkan huruf, melainkan juga menghilangkan kata dalam kalimat, misalnya kalimat Bandung kota kita tercinta dapat saja menjadi Bandung kita tercinta dengan menghilangkan kata kota. Atau bahkan membacanya dari kanan ke kiri sehingga menjadi Tercinta kita kota Bandung. Kondisi ini menyebabkan teman-teman sebayanya atau orang-orang di sekitarnya terheran-heran dan kemudian menjadikan mereka bahan olok-olok. Bukan tidak mungkin kondisi ini pun akan melabeli dirinya sebagai seorang bodoh, atau seorang dengan tingkat intelegensi rendah, padahal mereka tidak termasuk orang-orang yang mengalami keterlambatan inteletual.

Keterbatasan atau ketidakmampuan mengolah kata ataupun mengolah informasi ini berdampak pada kemampuan membaca-pemahaman (Pusat kurikulum Badan penelitian dan pengembangan Departemen pendidikan nasional, 2007). Hal ini dibuktikan dengan banyaknya penelitian yang dilakukan baik oleh para psikolog maupun oleh para psikolinguis, dan hasilnya menunjukkan bahwa para penyandang dyslexia memiliki prestasi yang rendah di bidang akademis padahal mereka memiliki tingkat intelegensi normal bahkan tidak jarang di atas IQ rata-rata.Miller-Medzon, (dalam Nevid, et al.,2005) meyebutkan, dyslexia merupakan 80% dari kasus gangguan belajar dan terjadi pada individu-indvidu yang mengalami kesulitan membaca walaupun mereka memiliki inteligensi rata-rata. Kemampuan menulis dan membaca merupakan keterampilan berbahasa yang sangat diperlukan, dan terjadinya gangguan dalam membaca tersebut menyebabkan penyandang dyslexia kurang dapat meningkatkan potensinya. Dyslexia kemudian diklasifikasikan sebagai salah satu bentuk kesulitan belajar akademik.

Penyandang dyslexia banyak terjadi di negara-negara berbahasa Inggris, karena bahasa tersebut memiliki banyak ejaan dengan bunyi yang sama misalnya bunyi [u:] pada ‘to’, ‘too’ dan ‘two’; atau ejaan yang hampir sama seperti ‘split’ dan ‘spilt’, sehingga sulit dibedakan. Tetapi bukan tidak mungkin terjadi di negeri kita yang tidak berbahasa Inggris. Meskipun angka pasti tentang jumlah penyandang dyslexia ini belum diketahui, The Yale Center for Dyslexia & Creativity menyebutkan angka 20 % dari jumlah penduduk menderita dyslexia. Itu berarti di Indonesia juga terdapat para dyslexic yang mungkin dapat kita kenali dengan sejumlah ciri antara lain:

  • Mengalami kesulitan memahami teks. Mungkin mereka dapat membaca dengan benar, tetapi tidak mengerti atau memahami teks yang dibacanya.
  • Mengalami kesulitan dalam mengeja kata atau suku kata dengan benar, terbalik-balik ketika membunyikan huruf yang mempunyai kemiripan bentuk (seperti: d-b, u-n, atau m-n), serta rancu membedakan huruf atau fonem yang memiliki kemiripan bunyi (seperi: v dan f).
  • Sering terbalik-balik dalam menuliskan atau mengucapkan kata, misalnya: kuda menjadi duka, Mengucapkan bahasa Indonesia dengan benar. menjadi Dengan benar mengucapkan Indonesia.
  • Di lingkungan pelajar dan mahasiswa penyandang dyslexia dapat ditandai dengan seringnya mereka meminjam catatan kuliah temannya karena mereka tidak mampu membuat catatan sendiri. Jangankan untuk membuat catatan sendiri, penyandang dyslexia mengerjakan tugas-tugas sederhana saja misalnya mengisi formulir, atau membaca daftar kuliah dapat merupakan tugas berat yang mungkin saja menyebabkan mereka frustasi.
  • Penyandang dyslexia juga sering lupa mencantumkan huruf besar, kalaupun dicantumkan, dicantumkan tempat yang salah. Begitu pula dengan tanda baca, sering lupa meletakkan titik, koma, tanda tanya, atau tanda seru.
  • Sulit berkonsentrasi, acuh tak acuh dan sering tidak masuk kuliah (malas), terlambat menyelesaikan tugas, bahkan suka berbohong dan berpura-pura Para akhli berpendapat ada beberapa faktor penyebab dyslexia, antara lain:
  1. Faktor keturunan dan biologis, Volger, DeFris, dan Decker, 1985 dalam Pinel 2009, menyebutkan bahwa mereka yang memiliki orang tua disleksia akan beresiko lebih besar untuk memiliki gangguan tersebut. Adapun penelitian Bradford (1999) di Amerika menemukan indikasi, bahwa 80 persen dari seluruh subjek yang diteliti oleh lembaganya mempunyai sejarah atau latar belakang anggota keluarga yang mengalami learning disabilities (http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/ panduan05228-02.htm). Shaywitz dan Mody (2006), kemudian mengemukakan bahwa dyslexia pada anak dan remaja terjadi karena adanya gangguan pada belahan otak kiri sistem saraf posterior saat mereka mencoba membaca.
  2. Faktor gangguan pada pendengaran sejak usia dini, Gangguan pendengaran yang terjadi sejak usia dini dan tidak terdeteksi mengakibatkan terjadinya gangguan pada otak yang sedang berkembang. Dengan demikian otak akan mengalami kesulitan menghubungkan suara dalam satu kata dengan bentuk tertulisnya. Kemampuan untuk menghubungkan pendengaran dengan penglihatan merupakan hal yang sangat penting bagi perkembangan kemampuan bahasa. Bila tidak ditindak-lanjuti, gangguan ini akan bersifat menetap. (http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan05228-02.htm).
  3. Faktor kombinasi, Faktor kombinasi yang dimaksud adalah gabungan dari faktor keturunan dan pendengaran. Faktor kombinasi ini menyebabkan kondisi penyandang dyslexia semakin serius sehingga diperlukan penanganan secara terus menerus dari usia dini hingga dewasa.
Dapatkah dyslexia disembuhkan?
Apa penyebabnya?
Dyslexia adalah bawaan dari lahir dan bukan penyakit, oleh karena itu tidak ada obat tertentu yang dapat menyembuhkan. Artinya penyandang dyslexia akan membawa kelainan ini seumur hidupnya. Akan tetapi dyslexia adalah anugerah yang diberikan kepada orang-orang terpilih, jadi tidak perlu dihilangkan, melainkan berusaha hidup berdamai dengannya dengan cara meminimalkan kekurangan-kekurangan melalui penanganan khusus sejak dini dengan metode dan teknik yang tepat. Banyak riset telah dilakukan oleh para psikolog ataupun para psikolinguis dalam upaya mengembangkan strategi belajar para penyandang dyslexia. Menurut Baumer (1996) ada empat langkah untuk mengajarkan penderita dyslexia dalam meningkatkan pemahaman terhadap suatu bacaan. Berikut langkah-langkah tersebut:
  1. Meminta penderita memilih cerita yang menarik baginya dan dengan kata-kata yang dapat dipahami atau familiar dengannya. Kemudian mintalah penderita membaca dengan keras dan menceritakan kembali apa yang telah dibacanya.
  2. Bila mereka tidak mampu menceritakan, mintalah mereka membaca tiap paragraf dalam hati tanpa suara, kemudian menceritakan isi paragraf tersebut.
  3. Ketika pemahamannya meningkat, tambahkan jumlah paragraf yang dibaca sampai mereka mampu membaca dan memahami keseluruhan isi bacaan.
  4. Berikan arahan untuk membantu pemahamannya, misalnya dengan memberikan pertanyaan seperti: Bagaimana akhir ceritanya? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah si pemeran utama berhasil menjalankan misinya?
  5. Berikan pujian untuk setiap keberhasilannya. Pujian akan membangkitkan semangat untuk terus giat berlatih. Terlepas dari yang telah diuraikan, yang paling penting adalah memberikan dukungan sepenuhnya kepada setiap kemampuan yang ditunjukkannya. Berikan pemahaman kepada mereka bahwa memiliki dyslexia bukanlah sebuah kesalahan.
Berdasarkan riset-riset yang dilakukan baik oleh para psikolog maupun para psikolinguis ataupun keduanya, terdapat berbagai model pembelajaran yang telah dikembangkan untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh dyslexia, termasuk model pembelajaran yang dikembangkan oleh depdiknas. Mungkin pada kesempatan yang lain kita dapat membahas ini.

 

Penutup

Dyslexia memang kemampuan membaca yang buruk yang dimiliki oleh seseorang yang berinteligensi normal. Kondisi faktor penyebabnya didominasi oleh faktor genetis ini mengakibatkan penyandang dyslexia mengalami kesulitan dalam menerima pelajaran karena mereka sulit menyatukan dan mengolah informasi-informasi yang mereka terima. Walaupun demikian, mereka memiliki kemampuan berfikir yang imajinatif yang mungkin tidak dimiliki oleh banyak orang. Mereka adalah anak yang luar biasa bila mendapatkan penanganan dari ahlinya dan mendapatkan tempat untuk menyalurkan kemampuan mereka.

Sasmi Farida, Dosen Fakultas Bahasa Universitas Widyatama.

Comments are closed.