Pendampingan atau Monitoring Bisnis

Pendampingan atau Monitoring Bisnis

pendampingan atau monitoring bisnis

PENDAMPINGAN

Pemberdayaan UMKM dalam mengembangkan bisnisnya tentu tidak sekedar memerlukan dukungan dana, tetapi juga dukungan non-finansial berupa : pendampingan atau monitoring bisnis, konsultasi bisnis, pelatihan bisnis, networking, dan akses pasar. Terlebih bagi bisnis UMKM, para pengusaha kecil dan sederhana tersebut mungkin tidak pernah mengerti bagaimana menyusun neraca atau istilah-istilah keuangan yang rumit. Namun, kebutuhan mereka tidak jauh berbeda dengan pengusaha besar. Mereka juga memerlukan pengetahuan untuk mengelola keuangan bisnisnya, dukungan dana, dan akses ke pasar. Dalam kaitan tersebut jelas mereka memerlukan pendampingan.

Makna umum kata pendampingan mudah diterka: kegiatan mendampingi atau kegiatan menyertai sesuatu atau seseorang. Dalam pengertiannya yang umum seperti ini, kata pendam pingan tidak istimewa. Dia biasa-biasa saja. Akan tetapi, sebagai konsep, kata pendampingan belum lama hadir dan dipergunakan dalam diskursus Bahasa Indonesia. Konsep kata ini menjadi istimewa karena ia mewadahi nuansa-nuansa khusus yang baru, utamanya yang bertalian dengan teori belajar dan teori perkembangan budaya. Esei pendek ini hendak memosisikan kata pendampingan sebagai kata-sakti dalam kegiatan pendidikan dan pengembangan. Pertama akan didiskusikan berbagai (lapis) makna yang terkandung di dalam?kata pendampingan dengan cara menggelarnya dalam kaitannya dengan prinsip-prinsip pendidikan.

Ketika membicarakan prinsip-prinsip kependidikan yang lahir dari konsep pendampingan ini, berbagai atribut yang melekat pada konsep ini tersibak dan tampak menonjol. Berbagai petunjuk praktis untuk melaksanakan kegiatan pendampingan yang produktif akan diajukan supaya kegiatan ini membuahkan manfaat optimal. Yang perlu segera digarisbawahi adalah bahwa pendampingan bukanlah konsep statis seperti yang dimaknakan secara umum seperti disiratkan pada paragraf pembuka, melainkan konsep dinamis. Dalam praktik, konsep pendampingan statis mungkin mewujud dalam serentetan instruksi yang diberikan seorang manajer untuk dilaksanakan secara membuta oleh staf bawahannya.

Proses komunikasi satu arah semacam ini bukanlah pendampingan yang kita inginkan, karena relasi yang semacam ini tak memberi ruang bagi perkembangan staf yang diposisikan sebagai pelaksana perintah belaka. Konsep pendampingan yang dinamis yang diinginkan adalah kegiatan pendewasaan yang dilandasi niat membimbing dan mengembangkan, dan oleh karena itu proses pelaksanaannya juga diwarnai komunikasi dua-arah. Dalam praktiknya, pendampingan yang dinamis dan berbasis kemaslahatan yang dibimbingnya, yang pertama dilakukan adalah dialog yang sengaja diba ngun antara pihak yang lebih tahu dan mampu (sebut saja mentor) dengan yang pihak yang sedang belajar (mentee) yang dibimbingnya.

Dari dialog yang dibangun yang fungsi utamanya antara lain adalah menjajagi kemampuan awal dan kesiapan mentee untuk menjangkau tahapan kinerja yang lebih tinggi mentor mendesainkan rambatan struktural (atau scaffolds, dalam nomenklatur social constructivism) yang dapat membantu dan memfasilitasi mentee untuk mencapai tahapan kinerja lanjut yang diinginkannya. Dengan demikian, projek kegiatan yang dilakukan berada dalam jangkauan-belajar dan cakupan perkembangan mentee, dan pencapaiannya merupakan sesuatu yang diinginkan yang bersangkutan.

Rambatan struktural yang dimaksud di sini adalah upaya untuk memfasilitasi perkembangan kemampuan dan peningkatan kinerja mentee. Bentuknya dapat bermacam-macam termasuk demonstrasi, penjelasan, contoh-contoh, tugas-tugas, dan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan mentor ; dan semua bentuk sca?olds ini tidak dapat diberikan secara acak dan mana-suka. Tiga syarat perlu dipenuhi agar dukungan yang diberikan mentor memfasilitasi mentee dalam belajar dan berkembang.

Comments are closed.