Kompetensi Hard Skill dan Soft Skill

0
817

Moedjadi

Kompetensi Hard Skill dan Soft Skill

gunung

Kompetensi Hard Skill dan Soft Skill. Banyak yang mengartikan kompetensi itu sebagai kemampuan. Secara umum mungkin benar, namun menyamakan kompetensi dengan kemampuan tidaklah tepat. Seorang yang kompeten selain memiliki kemampuan juga harus mempunyai niat untuk melakukan sesuatu sesuai kemampuannya. Sebagai contoh seorang sopir, jelas ia dapat atau mampu mengendarai mobil, memajukan, mengundurkan, belok kanan, dan belok kiri. Tetapi apakah di jalan raya ia mampu menjalankan mobil dengan baik atau tidak, misalnya kalau mau berhenti memberi tanda dulu, mendahului melalui sebelah kanan, memberi tanda belok, dan tidak ngebut.

Contoh lain, seorang pemain sepak bola, apakah ia kompeten main atau tidak tergantung bukan hanya ia mampu menendang bola tetapi juga ia harus mampu menendang bola ke arah yang diinginkan oleh pelatihnya. Demikian halnya seorang pendidik, kompetensi mengajar tidak hanya bergantung pada bahwa ia menguasai materi yang diajarkan tetapi juga bergantung apakah ia mempunyai niat untuk mengajar, memiliki motivasi mengajar, dan memiliki dorongan untuk mengajar dengan baik. Pendidik? yang profesional dan berkualitas? diharapkan memiliki kompetensi yang baik untuk keperluan itu. Kompetensi bukanlah hanya kemampuan, tetapi orang yang kompeten harus memiliki kemampuan dan motivasi untuk melaksanakan kemampuan itu.

Motivasi sendiri merupakan dorongan untuk bertindak. Jadi pendidik yang kompeten adalah pendidik yang memiliki kemampuan mendidik dan memiliki dorongan untuk melaksanakannya. Menurut Spencer & Spencer (1993), kompetensi terbentuk dari lima karakteristik yaitu: 1) pengetahuan (knowledge), 2) ketrampilan (skill), 3)motif (motive), sesuatu yang dipikirkan dan diinginkan, 4) watak (traits), karakteristik mental, dan 5) konsep diri (self concept), sikap terhadap sesuatu. Jadi, seorang yang kompeten harus memiliki kelimanya. Kalau hanya sebagian yang dimiliki kompetensinya tidak lengkap.

Hard skill dan Soft skill Pengetahuan dan keterampilan, termasuk keterampilan otak, adalah kelompok hard skill, yaitu kemampuan yang menunjukkan seseorang dapat mengerjakannya, seperti matematika, fisika, akuntansi, menendang, dan memahat. Sedangkan motif, watak, dan konsep diri adalah kelompok soft skill, yaitu kemampuan yang menunjukkan seseorang mau/ingin mengerjakannya dengan baik, seperti jujur, berkomunikasi, disiplin, dan rajin. Hard skill dapat diajarkan dan dilatihkan, sedangkan soft skill sulit untuk diajarkan dan dilatihkan. Jika kita ingin menguasainya perlu dibiasakannya. Oleh karena itu, dalam latihan soft skill yang kita jalani ini disamping kita mengetahui, memahami, menghayati dan mempraktekkan, kita perlu membiasakannya agar kita dapat menguasainya dengan baik. Hard skill merupakan penguasaan Ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya, sedangkan soft skill adalah keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (Interpersonal skills) dan keterampilan mengatur dirinya (Intrapersonal Skills) yang mampu mengembangkan secara maksimal dalam performa seseorang.

Keterampilan soft skill ini meliputi kemampuan untuk berkomunikasi, membangun hubungan dengan orang lain, kemampuan untuk memahami orang lain, empati, kejujuran, integritas, kemampuan memberikan motivasi, kemampuan untuk memimpin, kemampuan adaptasi, dan lain sebagainya. Dalam dunia kerja kesuksesan seseorang tergantung dari kualitas soft skill yang dipunyai (80%), dan hard skill (20%). Berdasarkan data ini, soft skill merupakan hal yang penting untuk dikuasai demi mencapai kesuksesan di dunia kerja. Menurut Spencer & Spencer (1993) hubungan antara soft skill dan hard skill ini digambarkan sebagai gunung es.

Dari gambaran tersebut di atas dapat diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan hard skill itu nampak dan dapat ditunjukan serta merta. Sedangkan soft skill itu tidak kelihatan, baru kita mengetahui jika kita mengamatinya secara mendalam bagaimana soft skill seseorang itu. Sebagai contoh, untuk mengetahui apakah seseorang pandai matematika (hard skill) dapat ditanya seketika itu juga dengan soal-soal matematika dan kita bisa langsung mengetahui tingkat kepandaiannya atas jawaban yang diberikan. Tetapi kalau kita ingin mengetahui apakah seseorang itu memiliki kejujuran (soft skill) yang tinggi kita tidak dapat langsung mengetahui dengan bertanya apakah dia jujur. Jawaban yang diberikan tentu perlu dibuktikan kebenarannya dengan menggali lebih dalam atas kebenaran jawaban itu. Itulah sebabnya antara soft skill dan hard skill oleh Spencer & Spencer digambarkan sebagai gunung es.

Ada tiga perbedaan pokok antara hard skill dan soft skill 1. Seseorang yang hard skill-nya tinggi berarti ia memiliki IQ yang tinggi (berada di otak kiri ? pusat logika), sedangkan seseorang yang soft skillnya tinggi berarti ia memiliki EQ yang tinggi (berada di otak kanan pusat emosional). 2. Hard skill adalah skill di mana aturan berlaku di setiap tempat, tidak bergantung pada organisasi, keadaan, tempat bekerja, atau orang yang bekerja sama dengan kita. Sebaliknya, soft skill adalah keterampilan manajemen diri dan keterampilan insani, di mana aturan berubah bergantung pada budaya organisasi, tempat di mana kita bekerja, dan orang yang bekerja sama dengan kita. 3. Hard skill dapat dipelajari di sekolah dan dari buku, sebaliknya tidak ada cara sederhana untuk mempelajari soft skill. Sebagian besar soft skill tidak bisa diajarkan dengan baik di sekolah dan hanya bisa dipelajari dengan praktek bekerja melalui trial and error.

Manakah yang lebih penting, hard skill atau soft skill Dengan uraian yang saya sebutkan di atas, timbullah suatu pertanyaan: mana yang lebih penting, hard skill atau soft skill Jawabannya sangat tergantung pada karir yang kita pilih. Karir seseorang itu dapat dibagi dalam tiga kategori: 1. Karir yang memerlukan hard skill dan sedikit soft skill. Contoh: ahli fisika. Para ahli fisika ini mungkin pergaulannya dengan orang lain kurang baik, namun mereka berhasil pada karirnya. 2. Karir yang memerlukan baik hard skill maupun soft skill. Banyak karir yang termasuk ke dalam kategori ini, seperti akuntan dan pengacara.

Mereka perlu menguasai ilmu akuntansi atau ilmu hukum dengan baik tetapi juga harus menguasi hubungan interpersonal dengan orang lain (client) untuk membangun karirnya. 3. Karir yang memerlukan terutama soft skill dan sedikit hard skill. Contoh: salesman. Penjual mobil tidak perlu menguasai banyak tentang seluk beluk mobil, tetapi ia harus memahami betul tentang kebutuhan pelanggannya. Pada umumnya, soft skill adalah lebih penting dalam karir bisnis daripada hard skill. Banyak para pejabat yang sebenarnya hard skill nya kurang namun mereka menduduki jabatan yang tinggi karena mereka memiliki leadership skills, management skills, self promotion skills dsb. Dalam kehidupan kita sehari-hari sebaiknya kita memiliki hard skill dan soft skill seimbang. Seimbang tidak berarti sama bergantung pada kehidupan kita, profesi kita dan lingkungan kita. Pada waktu masih kuliah hard skill lebih penting, namun pada waktu kita bekerja diperusahaan soft skill lebih penting.

Moedjadi (Dosen Universitas Widyatama, doktor di bidang pendidikan)