“Pertanyaan terbesar yang dihadapi perguruan tinggi saat ini bukan lagi bagaimana menjadi kampus yang unggul, melainkan bagaimana tetap relevan di tengah dunia yang berubah semakin cepat.”
Di berbagai belahan dunia – termasuk Indonesia – perguruan tinggi sedang menghadapi sebuah ujian zaman. Ujian tersebut bukan semata-mata mengenai kemampuan menghasilkan lulusan yang kompeten, memperbanyak publikasi ilmiah, atau meningkatkan peringkat institusi. Lebih dari itu, perguruan tinggi sedang ditantang untuk menjawab pertanyaan yang jauh lebih mendasar. Apa makna keberadaannya bagi masyarakat, lingkungan, dan masa depan peradaban?
Masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan komunitas global kini menuntut institusi pendidikan tinggi menunjukkan relevansi sosialnya, kontribusinya terhadap pembangunan berkelanjutan, kepeduliannya terhadap lingkungan, serta komitmennya terhadap tata kelola yang transparan, akuntabel, dan berintegritas. Dengan kata lain, keberhasilan perguruan tinggi pada abad ke-21 semakin ditentukan oleh kemampuannya menciptakan nilai (value creation) yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Perubahan yang terjadi saat ini berlangsung dalam skala dan kecepatan yang belum pernah dialami generasi sebelumnya. Transformasi digital mengubah cara manusia belajar dan bekerja. Krisis iklim mengingatkan bahwa kemajuan ekonomi tidak selalu sejalan dengan keberlanjutan lingkungan. Ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global menghadirkan risiko yang sulit diprediksi. Pada saat yang sama, masyarakat menuntut institusi publik, termasuk perguruan tinggi lebih transparan, bertanggung jawab, dan mampu memberikan dampak nyata.
Dalam situasi seperti ini, ukuran keberhasilan perguruan tinggi perlahan mengalami pergeseran. Jika pada masa lalu kampus dinilai dari reputasi akademiknya. Kini muncul pertanyaan baru. Sejauh mana kampus mampu berkontribusi terhadap penyelesaian persoalan masyarakat? Seberapa besar dampak riset yang dihasilkan? Seberapa bertanggung jawab tata kelolanya? Dan seberapa siap institusi tersebut menghadapi dan memandu perubahan yang terus berlangsung?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita pada refleksi yang lebih luas mengenai masa depan pendidikan tinggi. Universitas sesungguhnya tidak hanya berfungsi sebagai pusat pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai institusi yang mempersiapkan masyarakat menghadapi tantangan masa depan. Oleh karena itu, perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi tempat transfer pengetahuan. Seharusnya menjadi agen perubahan, penjaga nilai-nilai keberlanjutan, sekaligus laboratorium sosial yang menghasilkan solusi bagi berbagai persoalan kemanusiaan.
Dalam konteks inilah Sustainable Development Goals (SDGs); Environmental, Social, and Governance (ESG); Â serta Project Management (PM) memperoleh relevansinya. Ketiganya bukan sekadar seperangkat konsep manajemen yang sedang populer di tingkat global. Ketiganya dapat dipahami sebagai cara pandang baru tentang bagaimana sebuah institusi mengelola tujuan, menjalankan tanggung jawab, dan memastikan perubahan dapat diwujudkan secara nyata.
SDGs mengingatkan perguruan tinggi tentang arah dan tujuan besar pembangunan manusia yang ingin dicapai. ESG mengingatkan bahwa setiap keputusan institusional memiliki konsekuensi sosial, lingkungan, dan tata kelola yang harus dipertanggungjawabkan. Sedang Project Management memastikan bahwa cita-cita besar tersebut tidak berhenti sebagai slogan atau dokumen perencanaan, tetapi diterjemahkan menjadi program, kegiatan, dan hasil yang terukur.
Karena itu, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan lagi apakah SDGs, ESG, dan Project Management relevan bagi perguruan tinggi. Pertanyaan yang lebih penting. Apakah perguruan tinggi dapat tetap relevan tanpa mengintegrasikan ketiganya?
Sebab pada akhirnya, tantangan terbesar perguruan tinggi abad ke-21 bukan sekadar menjadi institusi yang unggul, melainkan menjadi institusi yang mampu bertahan, adaptif, dan tetap memberi makna bagi generasi yang akan datang menghadapi zaman mereka.
Relevansi dalam Konteks Indonesia
Jika diskusi mengenai SDGs, ESG, dan Project Management sering dianggap sebagai wacana global. Pertanyaan berikut: sejauh mana ketiganya relevan bagi perguruan tinggi Indonesia?
Sesungguhnya, arah kebijakan nasional menunjukkan benih-benih integrasi ketiganya telah tumbuh dalam berbagai regulasi dan program pembangunan. Pemerintah Indonesia telah memasukkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) ke dalam agenda pembangunan nasional dan menjadikannya bagian dari kerangka perencanaan jangka menengah negara. Dengan demikian – bagi perguruan tinggi – SDGs bukanlah agenda eksternal yang datang dari luar sistem pendidikan tinggi, melainkan bagian dari ekosistem kebijakan nasional yang semakin memengaruhi arah pembangunan sumber daya manusia, riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Bahkan jika dicermati lebih jauh, berbagai kebijakan transformasi pendidikan tinggi yang telah berjalan beberapa tahun terakhir memiliki keterkaitan yang erat dengan semangat SDGs. Indikator Kinerja Utama (IKU) sesungguhnya mendorong perguruan tinggi menghasilkan dampak yang lebih nyata bagi masyarakat. Lulusan yang mampu berkontribusi di dunia kerja, penelitian yang dimanfaatkan oleh masyarakat dan industri, serta pembelajaran yang semakin kolaboratif merupakan manifestasi dari tujuan pembangunan yang lebih luas, yakni: menciptakan kesejahteraan, memperluas akses pendidikan berkualitas, dan memperkuat kemitraan pembangunan.
Pada saat yang sama, perkembangan ESG menunjukkan bahwa dunia pendidikan tinggi tidak dapat lagi berjalan terpisah dari perubahan yang terjadi di sektor industri dan dunia usaha. Ketika perusahaan-perusahaan besar – termasuk BUMN – semakin dituntut menunjukkan kinerja lingkungan, sosial, dan tata kelola yang baik, maka kebutuhan akan riset, inovasi, konsultasi, dan sumber daya manusia yang memahami prinsip-prinsip ESG akan semakin meningkat. Di sinilah perguruan tinggi memiliki peluang strategis, bukan hanya sebagai pemasok tenaga kerja, tetapi sebagai pusat pengetahuan dan laboratorium praktik keberlanjutan yang dapat membantu transformasi berbagai sektor pembangunan.
Sementara itu, Project Management menghadirkan perspektif yang sering kali terlupakan dalam diskursus pendidikan tinggi. Banyak perguruan tinggi memiliki visi yang besar, rencana strategis yang ambisius, dan komitmen yang kuat terhadap keberlanjutan. Namun tidak semua mampu menerjemahkan gagasan tersebut menjadi hasil yang nyata. Kesenjangan antara perencanaan dan pelaksanaan inilah yang menjadikan kapabilitas manajemen proyek semakin penting.
Menariknya, pengalaman tersebut sebenarnya telah hadir dalam berbagai program pendidikan tinggi Indonesia. Program magang, proyek kemanusiaan, Kuliah Kerja Nyata tematik, riset kolaboratif, hingga berbagai bentuk pembelajaran berbasis proyek. Semua itu, pada dasarnya merupakan ruang belajar yang sangat kaya untuk mengembangkan kompetensi manajemen proyek. Oleh karena itu, penguatan Project Management bukan sekadar kebutuhan institusi, melainkan juga kebutuhan mahasiswa sebagai bekal menghadapi dunia kerja yang semakin kompleks dan dinamis.
Namun di balik berbagai peluang tersebut, perguruan tinggi Indonesia juga menghadapi sejumlah tantangan yang tidak ringan. Salah satunya adalah fragmentasi kelembagaan. Agenda SDGs, ESG, manajemen risiko, penjaminan mutu, dan perencanaan strategis sering kali berjalan dalam ruang-ruang yang terpisah, dikelola oleh unit yang berbeda, dan belum sepenuhnya terhubung dalam satu sistem tata kelola yang utuh. Akibatnya, banyak inisiatif yang baik berjalan sendiri-sendiri tanpa menghasilkan dampak institusional yang optimal. Setidaknya ada upaya yang bisa dilakukan dalam mengurangi fragmentasi kelembagaan sebagai berikut.
| Upaya | Langkah Konkret |
| Satu pintu koordinasi | Bentuk Office of Sustainability & SDGs yang mengkoordinasikan SDGs, ESG, dan PM secara terintegrasi |
| Renstra berbasis SDGs | Revisi Renstra menjadikan SDGs sebagai kerangka utama pengukuran kiner-ja |
| Laporan keberlanjutan | Mulai dengan voluntary sustainability report tahunan, misal target verified report dalam 3 tahun |
| Sertifikasi PM | Dorong setidaknya satu PM-certified officer per unit pengelola program strategis |
| Integrasi kurikulum | Embed SDGs, ESG, dan PM literasi ke dalam kurikulum lintas prodi, bukan hanya mata kuliah tersendiri |
Tantangan berikut adalah kapasitas sumber daya manusia. Masih relatif sedikit tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan yang memahami hubungan antara SDGs, ESG, manajemen risiko, tata kelola, dan Project Management sebagai satu kesatuan kerangka manajemen modern. Di sisi lain, sistem data yang tersedia di banyak perguruan tinggi juga belum mampu menyediakan informasi terintegrasi untuk mengukur kontribusi terhadap SDGs, kinerja ESG, maupun pencapaian proyek strategis secara simultan.
Belum lagi persoalan insentif dan disparitas kapasitas antarperguruan tinggi. Kampus-kampus besar di kota-kota utama, umumnya memiliki sumber daya yang lebih memadai untuk mengembangkan agenda keberlanjutan. Sebaliknya, banyak perguruan tinggi di daerah menghadapi keterbatasan yang jauh lebih kompleks, mulai dari sumber daya manusia, infrastruktur digital, hingga akses terhadap jejaring kemitraan. Karena itu, transformasi menuju kampus berkelanjutan tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang seragam.
Meski demikian, tantangan tersebut tidak seharusnya dipandang sebagai alasan menunda perubahan. Justru di tengah ketidakpastian global yang semakin tinggi, perguruan tinggi memerlukan kerangka yang mampu menyatukan arah, standar, dan pelaksanaan perubahan secara sistematis. Dalam perspektif ini, SDGs memberikan arah tujuan yang ingin dicapai; ESG menyediakan prinsip dan standar akuntabilitas; sementara Project Management memastikan bahwa setiap gagasan dapat diterjemahkan menjadi tindakan yang terukur dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, SDGs, ESG, dan Project Management bukanlah tiga agenda yang berdiri sendiri. Ketiganya merupakan bagian dari upaya yang lebih besar menjawab pertanyaan mendasar tentang masa depan perguruan tinggi. Bagaimana institusi pendidikan tinggi tetap relevan, dipercaya, dan memberi manfaat bagi masyarakat di tengah perubahan zaman yang terus berlangsung.
Karena itu, masa depan perguruan tinggi Indonesia mungkin tidak lagi ditentukan semata-mata oleh jumlah publikasi, akreditasi, atau peringkat yang berhasil diraih. Masa depan tersebut akan semakin ditentukan oleh kemampuan mereka menciptakan dampak, menjaga keberlanjutan, membangun tata kelola yang baik, dan mengelola perubahan secara efektif. Di situlah integrasi SDGs, ESG, dan Project Management menemukan maknanya yang paling mendasar.
Kesimpulannya, masa depan perguruan tinggi tidak lagi ditentukan oleh berapa banyak gedung yang dibangun, jurnal yang diterbitkan, atau peringkat yang diraih. Masa depan perguruan tinggi akan ditentukan oleh kemampuannya menjawab satu pertanyaan sederhana namun mendasar. Apakah kehadirannya membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik bagi generasi berikutnya? Jika jawabannya ya, maka SDGs, ESG, dan Project Management bukan sekadar instrumen manajemen. Ketiganya adalah bagian dari jalan panjang perguruan tinggi untuk tetap relevan dalam perjalanan peradaban manusia. Semoga.
(written by lili irahali)
Sumber Grafis: Asisten AI
Rujukan: Environmental, Social, Governance and Sustainable Development Goals: Promoting Sustainability in Universities, International Journal of Sustainability in Higher Education (2024); Using Modified Delphi Study to Develop Instrument for ESG Implementation: A Case Study at an Indonesian Higher Education Institution (MDPI Sustainability); Good University Governance and Its Role in Reaching Quality Education SDGs (2026); Laporan dan Kebijakan Keberlanjutan Universitas Indonesia; Laporan SDGs dan ESG Universitas Padjadjaran; Program Sustainability Universitas Diponegoro.
Â

