ANATOMI GEOPOLITIK TIMUR TENGAH: MENELUSURI JEJAK SYKES-PICOT DALAM PUSARAN PROXY WAR MODERN
Oleh:
Ir. Nandang Supriatna, ST, MM
Nesa Awalya Choirunissa Hamidah, SM, MM
Kawasan Timur Tengah bukan sekadar titik di peta dunia; ia adalah laboratorium peradaban yang paling kompleks dan strategis dalam sistem politik, ekonomi, serta keamanan global . Wilayah ini adalah arteri utama bagi distribusi energi dunia, namun di saat yang sama, ia tetap menjadi kawasan dengan dinamika keamanan paling tidak stabil. Memahami Timur Tengah memerlukan pembedahan terhadap “dosa asal” sejarah kolonial yang kemudian bermutasi menjadi palagan perang proksi modern yang mengguncang stabilitas bisnis dan politik dunia.
Sykes-Picot: Arsitektur “Garis di Atas Pasir”
Akar dari ketidakstabilan ini tidak dapat dilepaskan dari guncangan sejarah pada awal abad ke-20, tepatnya saat runtuhnya Kekaisaran Ottoman pasca-Perang Dunia I. Selama berabad-abad,  Ottoman menjaga stabilitas melalui sistem administrasi yang mengakomodasi keragaman etnis dan agama. Namun, keruntuhan kekaisaran ini meninggalkan kekosongan kekuasaan yang segera dimanfaatkan oleh kekuatan kolonial Barat untuk memperluas pengaruh mereka.
Peristiwa yang paling menentukan adalah Perjanjian Sykes-Picot pada tahun 1916. Perjanjian rahasia antara Inggris dan Prancis ini membagi wilayah Timur Tengah menjadi zona pengaruh tanpa mempertimbangkan realitas sosial, etnis, dan keagamaan masyarakat setempat . Hasilnya adalah “garis-garis di atas pasir”—batas negara artifisial yang memaksa kelompok-kelompok yang secara historis berseteru untuk hidup dalam satu kedaulatan, atau sebaliknya, memisahkan komunitas etnis yang sama ke dalam negara yang berbeda . Luka sejarah inilah yang menjadi “bahan bakar” utama bagi konflik internal berkepanjangan di Irak, Suriah, dan Lebanon, yang kemudian mengundang keterlibatan aktor eksternal.
Pusaran Proxy War
Dalam ruang hampa stabilitas yang ditinggalkan oleh batas-batas artifisial tersebut, muncul fenomena yang dikenal sebagai proxy war (perang proksi) atau konflik proksi. Secara akademis, proxy war didefinisikan sebagai pola konflik tidak langsung di mana kekuatan besar atau regional tidak terlibat secara langsung dalam konfrontasi militer terbuka . Sebaliknya, mereka bertindak melalui pihak ketiga—baik itu aktor negara yang lebih kecil, kelompok milisi, maupun aktor non-negara lainnya—dengan memberikan bantuan militer, pendanaan, pelatihan, dan dukungan logistik guna memperluas pengaruh politik serta strategis mereka .
Pusaran perang proksi ini menjadi pilihan strategis bagi para pemain besar karena memberikan plausible deniability (penyangkalan yang masuk akal) sekaligus menekan risiko kerugian langsung, meskipun dampaknya bagi negara yang menjadi medan tempur sangatlah destruktif . Di Timur Tengah, proxy war bukan sekadar anomali, melainkan instrumen utama dalam perebutan hegemoni regional.
Rivalitas Iran-Arab Saudi Mesin Utama Perang Proksi
Pusaran perang proksi modern di kawasan ini terutama digerakkan oleh rivalitas geopolitik yang dalam antara Iran dan Arab Saudi . Kedua negara ini memperebutkan posisi sebagai pemimpin regional, yang diperparah oleh perbedaan ideologi dan identitas keagamaan antara Sunni dan Syiah . Persaingan ini jarang sekali berujung pada perang terbuka antar-militer kedua negara. Sebaliknya, mereka memproyeksikan kekuatan mereka melalui dukungan terhadap faksi-faksi yang bertikai di negara lain . Di Yaman, konflik ini termanifestasi melalui dukungan terhadap kelompok Houthi oleh pihak tertentu dan intervensi koalisi militer di sisi lain . Di Suriah dan Lebanon, kedua kekuatan ini terus memelihara jejaring pengaruh melalui aktor politik dan milisi lokal, menjadikan negara-negara tersebut sebagai pion dalam papan catur politik regional yang jauh lebih besar.
Keterlibatan Global Menambah Lapisan Kompleksitas
Pusaran proxy war ini semakin keruh dengan masuknya kepentingan kekuatan global seperti Amerika Serikat dan Rusia. Amerika Serikat telah lama menjalin aliansi strategis dengan  Israel  dan  beberapa  negara  Arab  untuk  menjaga  keamanan  energi  dan membendung pengaruh lawan . Sementara itu, Rusia mempertegas kehadirannya, terutama di Suriah, guna mempertahankan pangkalan militer strategis dan menyeimbangkan dominasi Barat di kawasan . Keterlibatan aktor global ini sering kali memperpanjang durasi konflik. Setiap kali sebuah faksi proksi berada di ambang kekalahan, penyokong eksternal mereka akan menambah bantuan militer atau logistik untuk menjaga keseimbangan kekuatan, sehingga perdamaian permanen menjadi target yang sulit dicapai . Hal ini mengubah konflik lokal menjadi isu keamanan global yang kompleks.
Dampak Sistemik Dari Keamanan ke Disrupsi Bisnis Dunia
Pusaran proxy war ini tidak hanya menyisakan reruntuhan di medan tempur, tetapi juga mengguncang fondasi ekonomi dunia. Salah satu titik paling kritis adalah Selat Hormuz, arteri energi global yang menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak dunia setiap hari. Ketegangan yang dipicu oleh perang proksi sering kali mengancam keamanan jalur pelayaran tanker minyak ini. Satu eskalasi dalam pusaran perang ini dapat langsung memicu lonjakan harga energi secara global, dengan potensi kenaikan harga minyak menembus USD 150 per barel. Bagi dunia bisnis, perang proksi adalah sumber ketidakpastian yang memicu volatilitas pasar keuangan, di mana investor akan segera melakukan flight to quality ke aset yang dianggap lebih aman seperti emas dan Dollar AS. Selain itu, konflik modern dalam pusaran ini kini merambah ke ranah digital melalui Cyber Warfare, menjadikan infrastruktur perbankan dan energi sebagai target serangan asimetris yang melintasi batas negara.
Dimensi Sosial Tragedi Kemanusiaan di Balik Strategi
Di balik kalkulasi strategis para pemain besar, proxy war menyisakan luka sosial yang sangat dalam bagi masyarakat sipil. Perang di Suriah dan Yaman telah menciptakan krisis kemanusiaan terbesar di abad ke-21, dengan jutaan orang terpaksa menjadi pengungsi baik di dalam maupun di luar negeri. Kerusakan infrastruktur dasar seperti sekolah dan rumah sakit menghancurkan tatanan sosial yang telah dibangun selama puluhan tahun . Dampak jangka panjang yang paling mengkhawatirkan adalah munculnya “generasi yang hilang” (lost generation)—anak-anak yang tumbuh tanpa pendidikan memadai dan terperangkap dalam trauma kekerasan. Polarisasi masyarakat  berdasarkan identitas agama dan etnis semakin diperdalam oleh propaganda yang digunakan oleh aktor-aktor proksi untuk memperkuat dukungan, sehingga proses rekonsiliasi sosial pascakonflik menjadi jauh lebih sulit.
Menghadapi Realitas Geopolitik Modern
Dinamika Timur Tengah menunjukkan bahwa “garis-garis” yang ditarik secara artifisial oleh Sykes-Picot telah menjadi garis retakan (fault lines) tempat terjadinya gempa politik dalam bentuk proxy war. Pemahaman ini sangat krusial untuk melihat bahwa stabilitas global tidak hanya ditentukan oleh dinamika pasar, melainkan oleh peta konflik geopolitik yang sangat cair. Bagi Indonesia, resiliensi terhadap dampak perang proksi ini memerlukan kesiapan sistemik, mulai dari penguatan cadangan fiskal untuk menghadapi lonjakan harga energi, hingga penguatan permodalan perbankan untuk menyerap risiko pasar yang volatil. Pada akhirnya, memahami anatomi proxy war di Timur Tengah adalah langkah awal untuk membangun strategi adaptif dalam menghadapi dunia yang semakin penuh disrupsi.
