Dekan Fakultas Bahasa, Universitas Widyatama

SUKSES BELAJAR DI PERGURUAN TINGGI ITU MUDAH
Bachrudin Musthafa*) Dekan Fakultas Bahasa, Universitas Widyatama

Dalam pelbagai kesempatan saya pernah ditanya orang tentang bagaimana cara?Dsukses belajar di Perguruan Tinggi (PT). Hal ini wajar ditanyakan kepada saya dan muncul ke permukaan karena saya sering mengatakan kepada publik bahwa meraih suskes akademik itu mudah, dan pendidikan di PT itu mahal (apalagi kalau dilakukan di luar negeri).
Tak seperti yang terjadi di Indonesia yang tampaknya menganggap kisah dan strategi sukses itu merupakan masalah nasib-peruntungan (a matter of luck) belaka dan, oleh karena itu, tidak menarik perhatian para peneliti. Di dalam tradisi penelitian di luar negeri, sukses dan kegagalan dipandang sebagai sesuatu yang perlu dijelaskan.KOMUNITA JUNI 2013.46jpg
Dari cara pandang semacam ini lahir berbagai studi tentang peran strategi-mengolah diri dalam berbagai bentuknya dan dengan segala konsekuensinya. Dari riset yang?dilakukan terus-menerus dan dikelola melalui sistem publikasi yang sistematis dan terbuka, telah banyak strategi-sukses yang ditemukan dan strategi ini telah diverifikasi secara terbuka oleh peneliti di mancanegara. Tulisan ringkas ini bertujuan memaparkan berbagai strategi sukses belajar di PT dan menjelaskan mengapa berbagai kebiasaan yang baik umumnya menyifati orang-orang yang kemudian terbukti sukses dalam bidangnya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, tulisan ini menggambarkan pelbagai kebiasaan yang umumnya dilakukan mahasiswa yang berkinerja akademik tinggi. Setelah itu, menjelaskan cara berpikir strategis yang telah terbukti membawa mahasiswa ke puncak prestasinya. Dengan cara ini diharapkan sidang pembaca dapat menyadap strategi pengolahan-diri yang baik, sehingga menjadi pantas untuk meraih tingkat sukses akademik yang diinginkannya.

Kebiasaan Strategis Para Mahasiswa Unggul Kebiasaan-kebiasaan pembawa sukses sebenarnya tidak asing bagi kebanyakan mahasiswa; dan kebiasaan ini sedemikian wajar dan masuk-akal, sehingga banyak mahasiswa terkecoh dan menganggap enteng faedahnya.
Kebiasaan yang dimaksud mencakup : datang ke kelas dengan persiapan yang baik; menghadiri semua sesi yang dijadualkan dosen; bersikap takzim kepada dosen/instruktur yang mengajar; belajar dengan jadual tetap dan teratur; mengembangkan perangkat keterampilan-strategis yang menguntungkan (Nelson, 1998).

Kebiasaan#1: Mahasiswa unggul menyiapkan diri sebelum datang ke kelas. Pada pertemuan pertama, lazimnya, dosen memperkenalkan matakuliah yang diampu dan diajarkannya kepada mahasiswa. Pada pertemuan ini dibahas tujuan dan cakupan matakuliah serta berbagai pengalaman-belajar yang utama, juga topik-topik utama yang akan dibahas setiap pertemuan dilengkapi dengan tugas dan referensinya.
Inilah menu pendidikan-pengajaran yang telah diracik dosen untuk matakuliah ini yang bila dikelola dengan baikakan mengantar kan mahas i swa pada pengetahuan, keterampilan, sikap, serta kebiasaan berpikir tertentu. Target-target capaian setiap matakuliah biasanya telah disusun dosen pengampu?dalam bentuk topik atau tema pengetahuan/keterampilan dan/atau kebiasaan berpikir, yang pencapaiannya dibangun setahap-demi-setahap melalui rangkaian dari satu sesi ke sesi lainnya.
Untuk memastikan pencapaian ini, dosen lazimnya akan menugaskan bacaan dan/atau latihan tertentu untuk dikerjakan mahasiswa di luar kelas untuk kemudian dibahas di dalam sesi berikutnya bersama dosen.
Mahasiswa yang kemudian terbukti berprestasi tinggi adalah mereka yang melakukan tugas-tugas membaca dan/atau mengerjakan latihan mandiri sebelum datang ke kelas untuk mengikuti k uli ah. Karena persiapan yang dilakukannya sebelum bertemu dosen, para mahasiswa unggul ini memperoleh kesempatan lebih dari satu kali memahami yang dipelajarinya:
pertama, pemahaman dibangun melalui upaya mandirinya dalam mengerjakan tugas yang ditugaskan; kedua, penguatanpemahaman diperolehnya ketika memperoleh konfirmasi dan/atau penjelasan dari dosen secara langsung di kelas.

Kebiasaaan#2: Mahasiswa unggul menghadiri semua sesi kuliah yang dijadualkan dosen. Sebagai tenaga professional yang menguasai bidang keahliannya, dosen umumnya mengetahui secara persis tahapan-tahapan yang harus dilalui mahasiswanya dari suatu sesi ke sesi lainnya dalam satu semester.
Dalam sistem semester yang umumnya berisi 16 sesi itu, misalnya, dosen menjadualkan sesi satu untuk memperkenalkan matakuliahnya (dari segi tujuan matakuliah, cakupan matakuliah, dan ekspekstasi dosen tentang apa yang harus dilakukan mahasiswa, dan sistem penilaian yang diberlakukan untuk matakuliah yang diampunya ini).
Pada sesi dua sampai sesi tujuh adalah sesisesi penting yang sarat akan konsep dan kegiatan pengembangan keterampilan yang umumnya kemudian diujikan dalam UTS (ujian tengah semester) pada pekan ke delapan. Pada sesi pekan ke sembilan sampai dengan sesi pekan ke limabelas umumnya diisi dengan konsep-konsep baru dan/atau kegiatan pendalaman serta pelanjutan pengembangan keterampilan.
Sesi pekan ke enambelas umumnya diisi dengan ujian akhir semester (UAS) yang cakupannya menyeluruh: materi dari sesi awal sampai sesi terakhir dalam semester yang bersangkutan.
Oleh karena rangkaian sesi perkuliahan yang disusun dosen ini telah sedemikian ketat dan saling-berkait, kemangkiran kuliah sangat merugikan mahasiswa itu sendiri karena hal ini dapat membuat pemahamannya tidak lengkap dan/atau ketempilannya menjadi rumpang. Untuk alasan ini pulalah, para mahasiswa unggul lazimnya akan mengupayakan?sekuat tenaga agar semua sesi perkuliahan dihadirinya. Dengan kehadirannya ini topik yang dibahas di kelas diketahui secara persis dan penjelasan serta pesan-pesan dari dosen terikuti secara langsung dan lengkap.

Comments are closed.