Peran Dosen Menumbuhkan Academic Atmosphere dan Menjunjung Marwah Kampus

0
241 views

Beberapa akademisi  telah memainkan peran penting mereka membangun academic atmosphere yang kuat melalui kontribusi mereka terhadap pendidikan, penelitian, dan wacana intelektual. Mengambil contoh, Clark Kerr – Amerika Serikat (1911–2003) merancang perluasan dan modernisasi sistem Universitas California, serta mengkonseptualisasikan “multiversitas” tempat universitas terlibat dalam pengajaran, penelitian, dan layanan publik. Paulo Freire – Brasil (1921–1997)  menulis Pedagogy of the Oppressed yang mempromosikan pedagogi kritis, serta mengadvokasi pembelajaran yang berpusat pada siswa dan keadilan sosial melalui pendidikan. Henry Rosovsky – Amerika Serikat (1927–2022) memberi pengaruh dalam membentuk kebijakan pendidikan tinggi modern di Universitas Harvard, serta mengadvokasi reformasi kurikulum dan tata kelola fakultas di universitas.

Di Indonesia, siapa yang tidak mengenal  Prof. Koentjaraningrat dan Soedjatmoko, dua tokoh yang berperan dalam membangun academic atmosphere perguruan tinggi, khususnya dalam bidang ilmu sosial dan pendidikan tinggi.

Prof. Koentjaraningrat – Pelopor Antropologi Indonesia (1923–1999) dikenal sebagai Bapak Antropologi Indonesia, mengembangkan kajian Antropologi sebagai disiplin akademik di Indonesia. Ia berperan dalam membangun berbagai institusi pendidikan antropologi, baik di Universitas Indonesia maupun perguruan tinggi lainnya. Ia mengedepankan metode penelitian etnografi dalam memahami masyarakat Indonesia secara lebih dalam, yang hingga kini menjadi rujukan utama dalam studi antropologi. Karyanya Pengantar Antropologi dan Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan sangat berpengaruh dalam pembentukan kajian sosial dan kebijakan pembangunan di Indonesia, yang dirujuk peneliti dalam dan luar negeri.

Soedjatmoko – intelektual dan diplomat Indonesia yang memiliki perhatian besar terhadap pengembangan academic atmosphere di perguruan tinggi (1922-1989). Setelah kembali ke Indonesia, ia sebagai Penasihat Khusus Urusan Budaya dan Sosial untuk Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Tahun 1972, Soedjatmoko menjadi Anggota Dewan Direktur Ford Foundation, dan pada 1980 sebagai Rektor Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Tokyo. Dalam perannya sebagai rektor, Soedjatmoko menekankan pentingnya penelitian yang tidak hanya berorientasi pada pemecahan masalah jangka pendek, tetapi juga penelitian yang diprakarsai universitas itu sendiri untuk pengembangan jangka panjang.

Kedua tokoh tersebut, meskipun dari latar belakang yang berbeda memiliki peran besar dalam membangun academic atmosphere di Indonesia. Prof. Kuntjaraningrat membangun keilmuan dan metodologi dalam antropologi serta ilmu sosial. Sementara,  Soedjatmoko memandang peran cendekiawan sebagai penghubung antara realitas nasional dan perkembangan dunia, serta penentu arah pembangunan yang tepat bagi negara. Ia juga dikenal sebagai seorang pemikir visioner dan peduli terhadap berbagai persoalan bangsa, termasuk bidang pendidikan. Dalam bukunya “Menjadi Bangsa Terdidik Menurut Soedjatmoko” berbagai pemikiran dan pandangan Soedjatmoko tentang pentingnya pendidikan dalam membangun bangsa yang maju dan berbudaya.

Dalam kondisi pendidikan tinggi saat ini relevansi Prof. Koentjaraningrat maupun  Soedjatmoko adalah telah memberikan landasan akademik yang kuat.

 

Apakah Academic Atmosphere ?

Academic atmosphere adalah lingkungan akademik yang mendukung kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Lingkungan ini mencerminkan budaya akademik yang mengutamakan kebebasan berpikir, inovasi, serta interaksi antara mahasiswa dan dosen (Clark, 1883). Bahkan Ramsden (2003) menguatkan academic atmosphere merupakan hasil dari interaksi antara mahasiswa, dosen, kurikulum, fasilitas, serta kebijakan akademik yang menciptakan pengalaman belajar yang optimal.

Academic atmosphere bukan hanya sekadar suasana belajar yang nyaman, tetapi mencakup berbagai aspek yang menciptakan lingkungan akademik berkualitas. Hal ini dipengaruhi oleh pengajaran berkualitas, kebebasan akademik, dukungan (kebijakan) institusi, keterlibatan mahasiswa dan dosen dalam kegiatan ilmiah, serta fasilitas yang memadai.

Kampus-kampus terbaik di dunia dan di Asia Tenggara berhasil membangun academic atmosphere yang kuat karena konsisten mengintegrasikan berbagai aspek di atas dalam strategi pengembangan akademik mereka. Setidaknya ada 6 (enam) aspek mempengaruhi academic atmosphere adalah:

  1. Kualitas Pengajaran dan Pembelajaran, meliputi: Ketersediaan dosen berkualitas; Metode pembelajaran yang inovatif dan berbasis riset; Penggunaan teknologi dalam pembelajaran; serta Kurikulum yang adaptif dan relevan dengan perkembangan zaman.
  2. Lingkungan Akademik dan Budaya Kampus, yaitu: Kebebasan akademik untuk berekspresi dan berdiskusi; Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan akademik dan organisasi; Etika akademik yang kuat (kejujuran, integritas, anti-plagiarisme).
  3. Kolaborasi dan Jaringan Akademik, yakni: Kemitraan dengan industri dan lembaga penelitian; Konferensi, seminar, dan workshop ilmiah yang rutin diadakan; Publikasi penelitian di jurnal bereputasi tinggi; Program magang dan kerja sama dengan dunia profesional.
  4. Keterlibatan Mahasiswa dalam Riset dan Inovasi, yakni: Kesempatan mahasiswa berpartisipasi dalam proyek penelitian; Inkubator bisnis dan program kewirausahaan berbasis akademik; Kompetisi ilmiah dan penghargaan akademik.
  5. Keberagaman dan Inklusi, yaitu: Mendorong keberagaman mahasiswa dan dosen dari berbagai latar belakang; Suasana kampus yang inklusif bagi mahasiswa berkebutuhan khusus; Adanya komunitas akademik yang mendukung berbagai perspektif dan gagasan.
  6. Dukungan Institusional dan Kebijakan Akademik, yakni: Program pertukaran akademik dan internasionalisasi; Sistem bimbingan akademik dan konseling yang baik; Ketersediaan dana penelitian bagi dosen dan mahasiswa; Sistem beasiswa dan bantuan keuangan bagi mahasiswa.
  7. Fasilitas dan Infrastruktur, yaitu: Lingkungan yang nyaman dan kondusif untuk belajar; Perpustakaan yang lengkap dan akses ke jurnal internasional; Laboratorium dan pusat penelitian yang memadai; Ruang diskusi dan fasilitas yang mendukung kolaborasi akademik.

Tantangan Peserta Didik (Generasi X, Y, Z) versus Academic Atmosphere

Pada jenjang pendidikan perguruan tinggi saat ini memiliki mahasiswa berasal dari generasi X, Y, maupun Z.  Generasi X fokus pada stabilitas dan pengembangan profesional. Mereka memiliki karakteristik: lebih menghargai stabilitas, jenjang karier yang jelas, dan keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi; berorientasi pada penguasaan keterampilan yang praktis dan dapat langsung diterapkan dalam dunia kerja; cenderung lebih suka pembelajaran berbasis pengalaman nyata dibanding teori semata. Academic atmosphere yang memadai setidaknya pembelajaran berbasis studi kasus dan pengalaman industri, mengembangkan kelas eksekutif dan pendidikan berkelanjutan, serta mentoring dan pengembangan kepemimpinan (Sharan B. Merriam & Laura L. Bierema; David A. Kolb).

Generasi Y (Milenial) fokus pada fleksibilitas dan makna dalam pekerjaan. Mereka memiliki karakteristik: ingin lebih dari sekadar pekerjaan—mereka mencari makna dan dampak sosial dalam karier mereka; menghargai fleksibilitas, kolaborasi, dan lingkungan kerja yang inovatif; cenderung memanfaatkan teknologi dalam belajar dan bekerja. Academic atmosphere yang memadai setidaknya memanfaatkan blended learning dan teknologi dalam pembelajaran; pembelajaran berbasis proyek dan kolaborasi, konektivitas dengan industri dan kewirausahaan; serta lingkungan yang mendukung work-life balancing (Jennifer Abrams; Reid Hoffman & Ben Casnocha).

Generasi Z dipengaruhi digital native dan kemandirian dalam belajar. Mereka memiliki karakteristik: sangat akrab dengan teknologi digital dan terbiasa dengan informasi yang serba cepat; lebih independen dalam belajar dan mengutamakan pengalaman personal; menginginkan lingkungan belajar yang lebih fleksibel, interaktif, dan berbasis teknologi; peduli terhadap isu sosial, keberlanjutan, dan pekerjaan yang berdampak positif. Academic atmosphere yang memadai setidaknya memanfaatkan hybrid learning dan gamifikasi; pendekatan self-directed learning dan personalisasi; fokus pada softskills dan entrepreneurial mindset; serta meningkatkan keterlibatan sosial dan kepedulian terhadap SDGs (Jean M. Twenge, Cathy N. Davidson).

Sehingga, perguruan tinggi perlu terus mengembangkan academic atmosphere yang relevan, dan inovatif bagi generasi tersebut. Perguruan tinggi dituntut mampu menciptakan lingkungan akademik yang inklusif, inovatif, dan berbasis teknologi untuk menghasilkan lulusan yang unggul, adaptif, dan siap menghadapi tantangan dunia profesional yang dinamis. Beberapa upaya diantaranya: menggunakan teknologi secara strategis dalam pembelajaran (AI, VR, AR, LMS);  menyediakan metode pembelajaran yang fleksibel (blended learning, flipped classroom, project-based learning); membangun keterhubungan erat dengan industri dan kewirausahaan untuk memperkuat employability lulusan; mengembangkan ekosistem inovasi dan kepedulian sosial melalui program berbasis SDGs dan pengabdian masyarakat; mempersiapkan sistem pembelajaran berbasis kompetensi (competency-based learning) agar lulusan lebih siap menghadapi tantangan dunia profesional yang dinamis.

Upaya tersebut menuntun dosen mengadaptasi peran dan pendekatan pedagogis mereka guna menciptakan academic atmosphere yang kondusif dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa tersebut.

 

Dosen Itu Menumbuhkan

Sebagai intelektual, pendidik, dan peneliti, dosen bertanggung jawab membangun lingkungan akademik yang kondusif bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta menjaga etos akademik yang bermartabat. Artinya, academic atmosphere yang mendorong interaksi ilmiah, kolaborasi riset, serta pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi adalah kondisi yang dikembangkan dosen.

Banyak peran yang dikembangkan dosen dalam membangun dan memperkuat academic atmosphere, diantaranya.

Mendorong Kultur dan Etika Akademik secara Kolektif: dosen aktif dalam diskusi ilmiah, seminar, dan publikasi, serta menciptakan lingkungan yang mendukung kebebasan akademik dan kebaruan ilmu; mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam kebijakan kampus; menggalang solidaritas akademik menekan praktik akademik yang tidak etis, seperti eksploitasi tenaga akademik muda dan tekanan publikasi semu.

Penguatan Tridharma Perguruan Tinggi: mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam kegiatan akademik yang relevan dan berdampak.

Peningkatan Kualitas Pembelajaran: menggunakan metode pembelajaran inovatif berbasis riset agar mahasiswa lebih aktif dalam proses akademik.

Mentorship dan Pembimbingan: membimbing mahasiswa dalam penelitian, berpikir kritis, dan keterampilan akademik lainnya untuk menghasilkan SDM unggul.

Beradaptasi dengan Perubahan Global: mengembangkan keterampilan kewirausahaan akademik, seperti entrepreneurial university untuk meningkatkan daya tawar akademisi; juga membangun jejaring global untuk meningkatkan kapasitas riset dan pengajaran serta mengurangi ketergantungan pada kebijakan internal kampus.

            Mendorong Reformasi Akademik: dosen berperan aktif dalam pengambilan keputusan kampus melalui senat akademik dan forum kebijakan pendidikan tinggi; juga mendorong kebijakan green curriculum dan keberlanjutan yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

Mengoptimalkan Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya: mengadvokasi kebijakan yang lebih adil terkait kesejahteraan dosen, termasuk peningkatan insentif dan keseimbangan beban kerja; juga memanfaatkan program hibah dan kerja sama penelitian untuk memperoleh pendanaan alternatif.

Bagaimana dengan marwah kampus yang mencerminkan integritas akademik, reputasi ilmiah, serta nilai-nilai luhur yang dijunjung oleh institusi pendidikan tinggi. Dalam kaitan ini dosen berperan dalam diantaranya. Menegakkan Etika Akademik, yakni menghindari plagiarisme, konflik kepentingan, serta praktik akademik yang tidak etis. Menjaga Independensi Akademik, yakni: tidak terpengaruh oleh kepentingan politik atau ekonomi yang dapat mengganggu objektivitas ilmu pengetahuan. Membangun Reputasi Akademik, yakni berkontribusi dalam publikasi internasional, kolaborasi riset, dan peningkatan daya saing institusi di tingkat global. Mengembangkan Kepemimpinan Akademik, yakni sebagai role model bagi mahasiswa dan kolega dalam membangun karakter akademik yang berintegritas.

Dengan meneguhkan peran strategisnya, dosen dapat menjadi pilar utama dalam membangun academic atmosphere yang dinamis, serta menjaga kehormatan dan integritas perguruan tinggi (marwah kampus)sebagai institusi ilmiah. Semoga. (Written by: lili irahali dari berbagai sumber)

 

Referensi

John Henry Newman. “The Idea of a University” ; Ernest L. Boyer, “Scholarship Reconsidered: Priorities of the Professoriate”;  Paulo Freire. “Pedagogy of the Oppressed”; Thomas H. P. Gould. “Creating the Academic Commons: Guidelines for Learning, Teaching, and Research” ; Francis L. Macrina. “Ethics and Integrity in Academia”.