Dari Dunia Industri Menuju Tata Kelola Perguruan Tinggi: Evolusi SDGs, ESG, dan Project Management ?

0
46 views

Perkembangan dunia industri global selama 5–10 tahun terakhir, terlihat jelas bahwa hubungan SDGs – ESG – Project Management (PM) semakin erat.

Pada awal ketiganya berkembang terpisah: SDGs adalah agenda global pembangunan berkelanjutan. ESG adalah alat ukur keberlanjutan perusahaan.  Project Management adalah alat eksekusi proyek.

Dalam paradigma yang berkembang saat ini, SDGs memberikan arah dan tujuan pembangunan (purpose), ESG menyediakan prinsip tata kelola sekaligus ukuran kinerja keberlanjutan (governance and performance framework), sedangkan Project Management menjadi mekanisme eksekusi yang memastikan strategi tersebut diwujudkan melalui program, proyek, dan pengukuran dampak.

Kecenderungan Evolusi Paradigma Tata Kelola Organisasi ?

Kecenderungan SDGs sebagai Purpose

Pada periode awal implementasi SDGs, banyak organisasi mulai menyelaraskan strategi bisnis dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (17 SDGs). Namun implementasinya masih didominasi pendekatan deklaratif melalui CSR (Corporate Social Responsibility), sustainability reporting, dan komitmen kebijakan. Pada tahap ini banyak organisasi masih berada pada level deklaratif.

Kecenderungan ESG sebagai Governance

Investor mulai mempertanyakan: emisi karbon, keberagaman tenaga kerja, transparansi tata kelola, risiko rantai pasok. ESG berubah dari isu reputasi menjadi isu bisnis dan investasi. Bahkan lembaga keuangan global/investor mulai menjadikan ESG sebagai bagian dari penilaian risiko dan keputusan investasi, sementara standar pelaporan global seperti IFRS Sustainability Disclosure Standards memperkuat pergeseran tersebut.

Kecenderungan Execution & Impact

Saat ini dunia industri mulai menghadapi pertanyaan yang lebih sulit, yakni: meningkatnya tuntutan assurance, target Net Zero, Scope 3 Emissions, supply chain transparency, impact measurement, outcome-based reporting. “Bagaimana target ESG dan SDGs diwujudkan secara nyata?”

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa organisasi tidak lagi dinilai berdasarkan komitmen atau laporan keberlanjutannya semata. Pemangku kepentingan semakin menuntut bukti bahwa target-target keberlanjutan benar-benar diterjemahkan menjadi program yang terencana, dikelola secara profesional, dan menghasilkan dampak yang terukur. Pergeseran inilah yang mendorong semakin pentingnya pendekatan Project Management dalam agenda keberlanjutan. Di sinilah pendekatan project management menjadi sangat penting.

Berbagai publikasi Project Management Institute (PMI) menunjukkan bahwa integrasi prinsip keberlanjutan dalam praktik manajemen proyek semakin dipandang sebagai faktor yang memperkuat penciptaan nilai, pengelolaan risiko, dan keterlibatan pemangku kepentingan. PMI bahkan menempatkan sustainability sebagai salah satu faktor penting dalam keberhasilan proyek masa depan.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa SDGs, ESG, dan Project Management bukan lagi dipandang sebagai tiga pendekatan yang berdiri sendiri. SDGs memberikan arah perubahan, ESG memastikan tata kelola dan akuntabilitasnya, sedangkan Project Management menerjemahkan strategi tersebut menjadi program dan proyek yang menghasilkan dampak nyata.

Bahkan kecenderungan ini dapat diperluas menjadi model lebih komprehensif, yaitu: Purpose Governance Execution Impact Value Creation. Model ini lebih mencerminkan arah perkembangan organisasi modern yang tidak berhenti pada pelaksanaan proyek, tetapi berujung pada penciptaan nilai yang terukur bagi organisasi dan para pemangku kepentingan.

Pertanyaannya kemudian: sejauh mana paradigma ini telah diadopsi oleh perguruan tinggi di Indonesia?

Rujukan: Project Management Institute, Sustainability in Projects dan ESG Framework; Laporan sektor dekarbonisasi global dari PwC; Kajian sustainable finance dan ESG investment; Studi implementasi AI dan ESG; PMI Most Influential Projects yang selaras dengan SDGs; Perkembangan regulasi dan pelaporan ESG global.

(Written by Lili Irahali)