Humanum dan Keutuhan Alam Ciptaan, Refleksi UNPAR
Mengeja Transformasi Perguruan Tinggi Berkelanjutan dalam Perspektif SDGs, ESG, dan Project Management
Perguruan tinggi abad ke-21 tidak lagi cukup diukur hanya dari kualitas pembelajaran, produktivitas riset, atau jumlah lulusan yang dihasilkan. Di tengah meningkatnya kompleksitas persoalan global, universitas dituntut mampu menunjukkan dampak nyata bagi masyarakat, lingkungan, dan tata kelola kelembagaan. Dalam konteks tersebut ada tiga kerangka yang berkembang secara global—Sustainable Development Goals (SDGs), Environmental, Social, and Governance (ESG), serta Project Management (PM)—semakin sering digunakan sebagai rujukan dalam membangun organisasi yang berkelanjutan.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah ketiga kerangka tersebut benar-benar relevan bagi perguruan tinggi, atau hanya sekadar tren manajemen yang diadopsi dari dunia korporasi. SDGs, ESG, dan Project Management bukanlah tiga konsep yang berdiri sendiri. Ketiganya justru membentuk suatu ekosistem tata kelola: SDGs memberikan arah dan tujuan pembangunan, ESG menyediakan prinsip-prinsip tata kelola yang bertanggung jawab, sedangkan Project Management menjadi pendekatan operasional yang memastikan strategi tersebut dapat diwujudkan secara efektif, terukur, dan berkelanjutan.
Momentum integrasi ketiga kerangka tersebut semakin menguat di Indonesia seiring implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Indikator Kinerja Utama (IKU), meningkatnya perhatian terhadap pemeringkatan internasional seperti THE Impact Rankings dan QS Sustainability Rankings, serta tuntutan akuntabilitas publik terhadap kinerja perguruan tinggi.
Berangkat dari perspektif tersebut, kita mengeja perjalanan Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) sebagai institusi yang menempuh jalur transformasi menuju kampus berkelanjutan.
Wawancara majalah Komunita dengan Dr. Ir. Carles Sitompul, S.T., M.T., MIM. – Kepala LPM UNPAR, rujukan laporan resmi institusi, dokumen publik, serta pemeringkatan internasional yang telah diraih. Komunita mencoba mengeja transformasi UNPAR dalam perspektif SDGs, ESG, dan PM dalam enam dimensi: purpose (SDGs), Governance (ESG), Execution (Project Management), Measurement, Impact, dan Lesson Learned.
Berlandaskan Humanum dan Keutuhan Alam Ciptaan
Perguruan tinggi kini dituntut menghadirkan dampak nyata melalui pendidikan yang relevan, penelitian yang solutif, tata kelola yang berkelanjutan, dan pengabdian yang berpihak pada kemanusiaan UNPAR meneguhkan transformasi berkelanjutan membangun keadaban baru berlandaskan Humanum dan Keutuhan Alam Ciptaan.
Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) memandang perubahan tersebut bukan sebagai tuntutan sesaat, melainkan sebagai bagian dari jati diri UNPAR. Dalam penjelasannya, Dr. Ir. Carles Sitompul, S.T., M.T., MIM. menegaskan bahwa keberlanjutan telah lama menjadi fondasi pengembangan universitas.
“Visi UNPAR adalah menjadi komunitas akademik yang humanum. Humanum berarti bagaimana kita meningkatkan martabat manusia sekaligus menjaga keutuhan alam ciptaan.”
Bagi UNPAR, humanum bukan sekadar slogan, melainkan filosofi yang menjiwai seluruh aktivitas akademik dan kelembagaan. Pendidikan diarahkan untuk membentuk manusia yang utuh—cerdas secara intelektual, berintegritas, memiliki kepedulian sosial, sekaligus bertanggung jawab terhadap lingkungan. Karena itu, peningkatan kualitas manusia tidak boleh dicapai dengan mengorbankan kelestarian alam. Keduanya harus berjalan beriringan sebagai satu kesatuan.
SDGs dan ESG sebagai Arah Strategis
Ketika banyak perguruan tinggi mulai mengadopsi Sustainable Development Goals (SDGs) dan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), UNPAR telah lebih dahulu memandang kedua konsep tersebut sebagai arah strategis institusi, bukan sekadar instrumen untuk mengejar pengakuan eksternal. “SDGs dan ESG bukan hanya untuk mengejar ranking. Ini sudah menjadi napas universitas dan menjadi arah strategis yang kita jalankan.”
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa SDGs diimplementasikan secara substantif. Berbagai kebijakan, program, dan aktivitas Tridarma disusun berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat dan tantangan pembangunan berkelanjutan. Karena itu, keberhasilan universitas tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kontribusinya dalam menghasilkan lulusan, penelitian, inovasi, dan pengabdian yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Konsistensi Melalui Perencanaan Jangka Panjang
Berlandaskan visinya, salah satu kekuatan transformasi UNPAR adalah keberadaan Rencana Pengembangan Jangka Panjang (RPJP) yang dirancang hingga sekitar 45 tahun. Perencanaan ini memastikan arah pengembangan universitas tetap konsisten meskipun terjadi pergantian kepemimpinan. “Para pendahulu sudah merancang RPJP sekitar 45 tahun. Dengan begitu setiap Rencana Strategis lima tahunan tetap berada pada jalur yang sama.”
RPJP menjadi kompas strategis yang menjaga kesinambungan pembangunan, mulai dari pengembangan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga strategi akademik. Dengan demikian, setiap periode kepemimpinan tidak memulai dari awal, tetapi melanjutkan visi besar yang telah disepakati bersama.
Long Life Formation: Membangun Manusia Sepanjang Hayat
UNPAR meyakini bahwa transformasi institusi hanya dapat berlangsung apabila diikuti transformasi manusianya. Karena itu, universitas mengembangkan konsep Long Life Formation, yaitu pembinaan berkelanjutan bagi dosen dan tenaga kependidikan sejak proses rekrutmen hingga memasuki masa pensiun. “Pembinaan SDM tidak berhenti setelah seseorang diterima bekerja. Kami menerapkan konsep Long Life Formation, mulai dari rekrutmen, pengembangan kompetensi, sampai memasuki masa pensiun.”
Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kompetensi profesional, tetapi juga membangun karakter, etika, kepemimpinan, dan nilai-nilai kemanusiaan. Setiap individu dipandang sebagai aset strategis yang terus bertumbuh bersama perkembangan institusi.
Sustainability Terintegrasi dalam Tridarma
Komitmen terhadap keberlanjutan juga diwujudkan melalui integrasi sistematis dalam Tridarma Perguruan Tinggi. Kurikulum mulai mengakomodasi isu-isu SDGs, sementara roadmap penelitian diarahkan pada penyelesaian persoalan nyata masyarakat. “Aspek sustainability kami integrasikan ke dalam Tridharma. Kurikulum mulai mengacu pada SDGs, demikian pula roadmap penelitian kami.”
Penelitian diprioritaskan pada bidang-bidang strategis seperti sistem pangan dan konstruksi berkelanjutan. Tujuannya bukan sekadar menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi melahirkan inovasi yang dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Hasil penelitian kemudian diperkuat melalui kegiatan pengabdian agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas.
Green Campus sebagai Komitmen Lingkungan
Komitmen keberlanjutan lingkungan diwujudkan melalui pengembangan Green Campus. Gedung-gedung baru dirancang dengan memanfaatkan pencahayaan alami sehingga konsumsi energi dapat ditekan. “Gedung-gedung baru kami dirancang agar memanfaatkan cahaya alami sebanyak mungkin sehingga konsumsi energi dapat ditekan.”
Selain efisiensi energi, UNPAR juga berupaya mengurangi emisi karbon melalui pengendalian kendaraan operasional dan mendorong pola transportasi yang lebih ramah lingkungan. Pembangunan fisik kampus tidak hanya mempertimbangkan fungsi dan estetika, tetapi juga dampaknya terhadap keberlanjutan lingkungan.
Kepemimpinan yang Memberi Teladan
Transformasi kelembagaan menurut Dr. Carles Sitompul sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan. Di UNPAR, kepemimpinan dibangun melalui prinsip leading by example. “Pemimpin harus memberi contoh. Tidak cukup hanya mengeluarkan kebijakan, tetapi ikut terlibat langsung.”
Pimpinan universitas hadir dalam berbagai proses strategis, termasuk akreditasi, pengembangan program studi, hingga pembinaan staf secara personal. Keteladanan tersebut menumbuhkan rasa memiliki di kalangan sivitas akademika dan memperkuat budaya kerja yang kolaboratif.
Budaya organisasi juga dikembangkan secara egaliter dan terbuka. Seluruh anggota komunitas akademik diberi ruang untuk menyampaikan gagasan, kritik, maupun masukan sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu. “Kami ingin membangun budaya yang terbuka. Semua orang boleh memberikan masukan dan kritik selama bertujuan memperbaiki universitas.”
Budaya ini tidak hanya memperkuat partisipasi, tetapi juga mendorong lahirnya inovasi melalui dialog yang sehat dan saling menghargai.
Berpihak kepada Mereka yang Membutuhkan
Sebagai institusi yang berlandaskan nilai kemanusiaan, UNPAR menempatkan keberpihakan kepada kelompok yang kurang beruntung sebagai bagian dari tanggung jawab moralnya. “UNPAR selalu berusaha berpihak kepada mereka yang lemah. Pendidikan harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat.”
Salah satu implementasinya adalah pembukaan Fakultas Pendidikan yang diarahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan tenaga pendidik di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Langkah ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan berkualitas, tetapi juga memperluas akses pendidikan dan berkontribusi pada pemerataan pembangunan nasional.
Menuju Keadaban Baru
Seluruh transformasi yang dilakukan UNPAR pada akhirnya bermuara pada cita-cita membangun Keadaban Baru—sebuah masyarakat yang menjunjung martabat manusia, berpikir kritis, mandiri, serta mampu merawat alam ciptaan secara berkelanjutan. “Yang ingin kita bangun adalah sebuah keadaban baru, di mana manusia semakin bermartabat, semakin kritis, semakin mandiri, dan mampu merawat alam ciptaan secara berkelanjutan.”
Bagi UNPAR, perguruan tinggi bukan sekadar lembaga penghasil lulusan, melainkan agen perubahan sosial yang membentuk generasi dengan kompetensi akademik sekaligus kesadaran moral, sosial, dan ekologis.
Transformasi yang dibangun di atas fondasi humanum, konsistensi perencanaan jangka panjang, penguatan sumber daya manusia melalui Long Life Formation, integrasi keberlanjutan dalam Tridharma, kebijakan Green Campus, kepemimpinan yang memberi teladan, budaya organisasi yang terbuka, serta keberpihakan kepada kelompok rentan menunjukkan bahwa keberlanjutan di UNPAR bukanlah kumpulan program yang berdiri sendiri. Seluruhnya merupakan satu strategi besar yang menempatkan universitas sebagai penggerak perubahan menuju masa depan yang lebih inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, pengalaman UNPAR memperlihatkan bahwa transformasi perguruan tinggi yang sesungguhnya lahir dari kekuatan nilai, konsistensi tata kelola, dan keberanian menjadikan kemanusiaan serta kelestarian alam sebagai pusat dari seluruh proses pendidikan.
UNPAR telah memiliki fondasi kuat dalam integrasi SDGs dan praktik ESG. Tantangan berikutnya bukan lagi membangun komitmen keberlanjutan, melainkan mengintegrasikan seluruh komponen tersebut ke dalam satu sistem tata kelola berbasis Project Management. Model pengembangan yang berpotensi dikembangkan yakni: SDGs → ESG Framework → Project Portfolio → Project Management → Impact Measurement → THE Impact Rankings.
Dalam model ini: SDGs berfungsi sebagai arah strategis; ESG menjadi kerangka tata kelola dan indikator kinerja; Project Management menjadi mekanisme implementasi; Impact Measurement menjadi instrumen evaluasi; pemeringkatan internasional menjadi outcome dari keseluruhan proses.
Akhirnya tantangan terbesar perguruan tinggi sesungguhnya bukan lagi apakah akan mengadopsi SDGs, ESG, atau Project Management. Tantangan yang sesungguhnya adalah bagaimana mengintegrasikan ketiganya menjadi satu sistem tata kelola yang selaras dengan karakter, nilai, dan misi institusi tersebut. Tidak ada satu resep yang berlaku untuk semua kampus. Setiap perguruan tinggi akan menempuh jalannya sendiri sesuai sejarah, budaya organisasi, sumber daya, dan strategi yang dimilikinya. Pendekatan tersebut berpotensi menjadi model tata kelola baru bagi perguruan tinggi Indonesia yang ingin meningkatkan keberlanjutan, akuntabilitas, serta daya saing global.
(Interview, rewritten by lili irahali & Egi Abinowi – Juli 2026)

