Transformasi Digital Perguruan Tinggi, Adaptasi Pandemi Covid-19

0
46

Sidang Pembaca yang budiman,

Buku Resilience: Adapt and Plan for the New Abnormal of the COVID-19 Coronavirus Pandemic, tulisan Gleb Tsipursky terbit 8 Mei 2020 lalu menyebut dengan jelas kata Ketahanan (Resilience) dalam adaptasi kebiasaan baru Pandemi Covid-19. Gleb Tsipursky mengurai strategi berbasis penelitian tentang bagaimana organisasi dan individu dapat beradaptasi secara efektif dengan New Abnormal dan bencana serupa. Ia menunjukkan bagaimana mengembangkan rencana strategis yang efektif dan membuat keputusan besar terbaik dalam konteks ketidakpastian dan ambiguitas yang ditimbulkan Pandemi Covid-19 dan bencana skala besar yang bergerak lambat lainnya. Itulah upaya intensif dan kolaboratif Gleb menanggapi pandemi virus corona 2020 dan seterusnya. Saya pandang ini penting sebagai modal dasar PT melaksanakan Transformasi Digital dalam melaksanakan layanan pendidikan tinggi berkualitas.

Institusi pendidikan tinggi, yakni perguruan tinggi PT dan badan penyelenggaranya memang sedang menghadapi masa-masa sulit, bila pandemi belum bisa dikendalikan dan stimulus pemerintah tidak diberikan layaknya pada sektor-sektor usaha lainnya. Namun bagaimanapun juga adaptasi dan ketahanan diri PT harus ditumbuh-kembangkan masing-masing dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini, bahkan dalam memasuki Pendidikan 4.0.

Karena itu, selain spirit arif pemerintah memfasilitasi PT agar tetap beroperasi sangat diharapkan. Skema stimulus yang diperlukan bisa saja KIP mahasiswa, relaksasi bagi PT dan badan penyelenggara terkait akses internet, pajak, listrik, perbankan, bahkan aspek akreditasi, pendidikan lanjut bagi dosen misalnya. PT dan badan penyelenggara pun harus melakukan adaptasi diri dalam rangka membangun dan mengembangkan ketahanan diri.

Memang PT hanya diberi waktu kurang lebih 25 hari sejak pengumuman pasien positif pertama di Indonesia memaksa perguruan tinggi segera hijrah ke pembelajaran melalui daring. Transformasi digital tentu memerlukan keberanian dan komitmen semua pihak, baik internal maupun eksternal perguruan tinggi dan badan penyelenggara. Sejatinya transformasi digital adalah perubahan berkaitan dengan penerapan teknologi digitaldalam semua aspek kehidupan masyarakat, dalam hal ini PT.Transformasi digital merupakan bagian proses memanfaatkan teknologi digital, yang didalamnya memerlukan kompetensi digital, penggunaan digital, sampai transformasi digital itu sendiri yang menggunakan kemampuan transformatif dalam menginformasikan kesadaran digital.

Transformasi digital melalui tahapan: digitasi (konversi), digitalisasi (proses), akhirnya transformasi digital (sebagai efek). Digitasi yakni “konversi?dari informasi analog ke dalam bentuk digital”. Digitalisasi yakni “proses yang disebabkan oleh perubahan teknologi di atas”. Khan (Khan, 2016, Collin et al. 2015) menegaskan bahwa digitasi telah memungkinkan proses digitalisasi, yang mendorong peluang lebih kuat untuk bertransformasi dan mengubah model bisnis yang ada, sosial-struktur ekonomi, hukum dan langkah-langkah kebijakan, pola organisasi, hambatan budaya, dll.

Ketika merancang dan melaksanakan transformasi digital, institusi perguruan tinggi dituntut mengenali faktor perubahan budaya yang akan mereka hadapi, baik bagi para pegawai, dosen, pemimpin institusi agar dapat menyesuaikan diri saat mengadopsi dan bergantung pada teknologi tersebut (https://id.wikipedia.org/wiki/). Karena itu, perguruan tinggi dan badan penyelenggara idealnya benar-benar memahami problematika masing-masing ketika menghadirkan teknologi informasi sebagai solusi, sekaligus merubah mindset sehingga dapat melakukan transformasi digital yang mampu menopang kualitas pendidikan tinggi, sekaligus menjaga sustainability-nya.

Ketika Transformasi Digital dalam perbincangan, serta dalam tahapan yang beragam di berbagai perguruan tinggi, muncul Pandemi Covid-19 yang memaksakan percepatan transformasi digital, yakni PJJ/Pembelajaran Jarak Jauh atau pembelajaran dalam jaringan. Perubahan drastis ini menimbulkan guncangan bagi PT dan badan penyelenggaranya. Kecepatan adaptasi sebesar apa yang bisa dibuat PT yang berdisparitas tinggi ini. Namun sebesar apapun dampak Pandemi Covid-19 memang adaptabilitas, dan transformasi adalah kunci di era VUCA (volatility, uncertainty, complexity, and ambiguity), siap tidak siap institusi perguruan tinggi dengan semua komponen dan pemangku kepentingan pendidikan tinggi dipacu melakukan transformasi digital dengan segala konsekuensinya. Inilah model Resilience yang setidaknya disarankan Gleb Tsipursky sejarawan Amerika, Asisten Profesor Sejarah di The Ohio State University, dan pembicara publik tentang perilaku berorientasi kebenaran, pemikiran rasional, dan pengambilan keputusan berbasis sains. Berjalan muluskah upaya transformasi digital PT dimaksud Atau PT berguguran satu demi satu. Jangan berkecil hati. Berpikir positif, berharap yang terbaik, siapkan diri untuk yang terburuk, berusaha dan berdoa. Insya Allah.

Vivat Widyatama, Vivat Civitas Academica, Vivat Indonesia dan Nusantara tercinta. (@lee)

Redaksi – Lili Irahali