Ketika Anak Menggunakan  KAMERA

Ketika Anak Menggunakan KAMERA

Pandangan terhadap citra yang terbentuk dalam media fotografi pada kebanyakan orang, umumnya sebatas pemindahan objek asli ke bidang gambar. Pandangan ini yang kemudian menjebak kita pada pemahaman bahwa, fotografi hanya sebatas media perekaman yang berhubungan dengan cahaya dari objek. Munculnya pandangan tersebut sangat wajar karena perkembangan teknologi kamera yang nyaris tidak pernah selesai dalam capaian kesempurnaan visual. Kamera-kamera terbaru yang menawarkan kemudahan dalam hal pengoperasian bermunculan, sehingga setiap orang bisa dengan mudah melakukan pemotretan.

KAMERA
Karya; Jenifer 10 tahun ? Menangkap Cahaya

Ketika penggunaan kamera telah memasyarakat, dan cenderung menjadi gaya hidup, tentu perlu diimbangi dengan cara pandang terhadap media fotografi. Melalui cara pandang inilah, setidaknya kita tersadarkan bahwa transformasi teknologi kamera dari masa ke masa membutuhkan juga imajinasi dan kreativitas dari para pegiatnya. Dengan berkembangnya cara pandang terhadap fotografi, jebakan konvensi fotografi yang berkisar pada komposisi, pengolahan intensitas cahaya, dan pengaturan pencahayaan, dapat dihindari. Walaupun kerap ditemukan, muatan ide muncul berdasarkan penentuan subject-metter berupa pencitraan hasil permainan proses pencahayaan dan sudut pandang.

Dalam perkembangannya justru kita masih terjebak pada konvensi umum fotografi. Manakala kita selalu berpandangan pada sebuah konvensi yang dianggap mainstream maka kita akan terperangah melihat karya-karya hasil pemotretan para fotografer belia berusia 8 ? 14 tahun. Menariknya, para fotografer belia ini mampu membuat karya dengan media fotografi seperti halnya dibuat oleh orang dewasa kebanyakan. Dalam hal penghadiran fakta mengenai subjek, baik secara teknis maupun pengaturan setiap unsur dalam bidang gambar, mereka sudah melakukannya dengan baik. Sebagian besar karya memperlihatkan bagaimana para fotografer belia memperlakukan kamera sebagai media representasi objektif. Mereka menggunakan kamera untuk merekam realitas, wujud dari suatu figur, alam benda, lanskap, atau apa pun yang ada di sekitar.

 

Ketika saya diperlihatkan keseluruhan karya foto karya fotografer dari Bidik Fun Photography for Kids, nampak keberanian anak dalam merekam dan memainkan teknik dalam merepresentasikan objek. Representasi objektif yang diperlihatkan dalam salah satu karya oleh Andrew Wongso misalnya, menggambarkan seorang lelaki yang mengenakan pakaian berwarna biru sedang duduk di sebuah taman sambil membaca koran. Dalam konteks bentuk visual, karya yang dibuat Andrew telah mencapai citra yang sempurna, menggunakan komposisi yang dikenal dengan prinsip rule of third. Dengan prinsip rule of third, Andrew menempatkan subyek di antara titik perpotongan garis horizontal dan vertikal yang berada di bagian kanan bidang gambar. . Penempatan subjek di sudut kanan bawah memberi kesan seimbang, dan menuntun mata yang melihat pada warna pakaian mencolok yang dikenakan obyek utama. Pencapaian kesempurnaan visual diperlihatkan oleh Andrew dalam karya lain, sebuah obyek sederhana berupa bagian ekor buaya. Ketika diatur dalam bingkai gambar secara diagonal, ekor tersebut selain memberi kesan keseimbangan juga mencitrakan transformasi bentuk sirip. Kedua karya yang dibuat Andrew tersebut menunjukkan adanya eksplorasi dan kepekaan pada obyek yang bisa kita temukan di dalam keseharian. Kedua karya tersebut merupakan gambaran besar keseluruhan karya yang kemudian dipilih untuk disajikan dalam pameran bertajuk Expression The Things Around US.

 

Melihat keseluruhan karya terlihat pencitraan visual bertumpu pada hasil akhir dalam capaian representasionalnya, pilihan teknik atau perekaman objek dapat dilakukan dengan cara apa pun. Pada salah satu karya yang dibuat oleh Thirza dalam karya bertajuk The Flowers, digambarkan bagaimana suatu objek diperlihatkan dengan cukup jelas sedangkan latar-latar yang mengganggu dibuat kabur. Karya lainnya tampak pada karya Yolandita yang diberi judul Freezing With Flash, terlihat cara perekaman obyek dengan membekukan cipratan air. Obyek gambar berupa gelas dengan air berwarna hijau menciprat manakala dimasukan benda berat. Dengan memperhitungkan waktu yang tepat maka cipratan air yang keluar dengan cepat dapat terekam dengan cukup sempurna. Barangkali para pegiat fotografi sudah tahu bahwa untuk mendapatkan citra tersebut sangatlah sulit dan dibutuhkan pemotretan berulangkali.

Secara visual, tekstur yang terekam memperlihatkan sejumlah bentuk-bentuk organik yang disusun sedemikian rupa dan bahkan cenderung repetitif. Tampak pada gambar, ada rasa garis tegas yang hadir dan dipertemukan oleh nada-nada lengkung di dalam suatu ruang. Ketidakjelasan obyek terlihat pula pada karya yang dibuat oleh Jenifer yang diberi judul Menangkap Cahaya dengan memanfaatkan garis-garis dari permainan lampu yang keluar dari ikatan figuratif. Jenifer memanfaatkan sebuah lampu senter yang digerakkan sehingga membentuk garis-garis lengkung tidak beraturan dalam bingkai dan latar yang gelap. Perekaman yang dilakukan oleh Jenifer hampir mirip dengan karya yang dibuat Philippe Halsman ketika memotret Salvador Dali yang sedang menggambar dengan senter. Dengan keberanian menampilkan objek seperti itu, Bryan dan Yolandita justru menghasilkan karya masing-masing yang mencengangkan secara visual.

Karya-karya lain selebihnya, memperlihatkan bentuk visual yang baik seperti halnya pada karya-karya yang mengutamakan teknik pemotretan. Secara konvensi, mungkin karya-karya yang dipamerkan secara visual dianggap tidak mencapai kesempurnaan. Terlepas dari capaian kesempurnaan, yang jelas karya-karya yang dipamerkan sesungguhnya mencerminkan adanya dorongan kreativitas, kepekaan dan terhadap objek. Pilihan teknik mereka pada saat merekam obyek menunjukkan adanya keinginan untuk mencoba. Walaupun, tampak seperti main-main bagi orang dewasa. Ini merupakan ciri dari usia anak, yang secara alami memang mempunyai rasa keingintahuan yang tinggi. Rasa keingintahuan yang kuat menjadikan dorongan bermain pada diri seorang anak sebagai salah satu cara untuk mereka dalam mengeksplorasi kemampuan dirinya. Hal ini berpengaruh pada cara para fotografer belia dalam pameran ini memperlakukan obyek yang dianggap biasa oleh orang dewasa. Dari objek yang sederhana ini, fotografi menjadi tidak bisu dan diam, melainkan mampu menyuguhkan makna dan bahkan sanggup berbicara.

Secara visual karya-karya ini menyuguhkan representasi obyektif dari obyek. Namun, pada beberapa karya telah tampak konstruksi yang utuh antara bentuk visual yang selalu indah dengan isi yang dituturkannya. Melalui suguhan keseluruhan karya, orang-orang dewasa dihadapkan pada kenyataan bahwa ketika anak-anak dibekali pengetahuan tentang cara memotret, mereka dapat menghasilkan karya yang baik seperti yang dibuat oleh para fotografer dewasa sekaligus menunjukkan semangat anak-anak dalam berkarya. Bravo untuk kawan-kawan fotografer belia!

Asep Deni Iskandar, M.Sn. Dosen Fakultas DKV Universitas Widyatama

Comments are closed.