Ratusan insan perfilman muda, termasuk mahasiswa dan pelajar memadati Studio Blackbox PT. Produksi Film Negara (PFN) mengikuti workshop sinematografi yang mengupas teknologi Virtual Production (VP) pada Kamis, 17 Juli 2025 lalu. Acara yang dihadiri sekitar 300 peserta bertujuan memperkenalkan inovasi sinematografi yang digadang-gadang mampu merevolusi industri film Indonesia dengan efisiensi biaya dan waktu produksi yang signifikan.
Kegiatan ini merupakan undangan khusus dari PFN bagi para talenta muda, termasuk 18 mahasiswa dan dua dosen dari Program Studi Film dan Televisi (FTV) FISIP Universitas Widyatama. Seminar dan lokakarya ini menghadirkan para pakar industri membagikan pengetahuan fundamental mengenai alur kerja dan implementasi Virtual Production (VP) dalam sebuah produksi film layar lebar.
Kupas Tuntas Inovasi Virtual Production dan Praktik di Studio Blackbox
Seminar bertajuk “Cinematography dalam Teknologi Virtual Production serta Budgeting & Manajemen Proyek Virtual Production pada Produksi Film” menjadi sesi pembuka yang kaya akan wawasan. Ilham Fajar Hadi, Head of Digital Production dari IMXR Studio memaparkan bagaimana VP menjadi solusi inovatif yang memadukan pengambilan gambar langsung (live shoot) dengan latar belakang virtual melalui teknologi LED Wall raksasa. Menurutnya, teknik ini dapat memangkas biaya produksi hingga 50 persen.
Lebih lanjut, Ilham menjelaskan bahwa VP bukan sekadar mengganti green screen, melainkan sebuah ekosistem produksi yang mengintegrasikan pergerakan kamera dinamis dengan set virtual secara presisi. Teknologi ini juga memungkinkan kontrol pencahayaan sinematik yang superior dan memaksimalkan proses pasca produksi seperti editing, colour grading, dan CGI secara real-time di lokasi syuting. Hal ini secara drastis mengurangi berbagai kendala produksi konvensional seperti cuaca buruk, perizinan lokasi yang rumit, hingga faktor keamanan.
Antusiasme peserta mencapai puncaknya pada sesi lokakarya. Sutradara Yuda Kurniawan, yang sukses menggarap film “Menuju Pelaminan” menggunakan teknologi VP mendemonstrasikan secara langsung proses syuting di dalam Studio Blackbox. Peserta diajak melihat bagaimana adegan di dalam sebuah minibus dipadukan secara mulus dengan aset visual perjalanan dari Yogyakarta ke Padang yang ditampilkan di LED Wall.
Seorang mahasiswa Widyatama yang mengikuti lokakarya mengungkapkan kekagumannya. “Seru banget dan banyak manfaatnya, karena di zaman sekarang teknologinya sudah sangat canggih. Jadi udah gak pakai green screen lagi dan bisa memanfaatkan blackbox yang ada disini,” ujarnya. Pengalaman ini memberikan gambaran nyata bagaimana VP mampu menciptakan adegan perjalanan yang kompleks tanpa harus benar-benar berpindah lokasi.
Antusiasme, Harapan Kolaborasi, dan Masa Depan Industri Film
Respon positif tidak hanya datang dari para mahasiswa. Della Dwinanti Sumpena, S.T.Sn., M.Sn., salah satu dosen pembimbing dari Universitas Widyatama menyatakan kegiatan ini memberikan perspektif baru yang sangat berharga. “Hari ini luar biasa menarik banget kita dapet insight yang baru, termasuk juga tadi dari PFN kita diajak buat langsung praktik melihat workshopnya seperti apa.,” ungkapnya. Ia juga melihat potensi kolaborasi di masa depan antara akademisi dengan para kreator film yang hadir.
Hal senada diungkapkan mahasiswa lainnya, “Ini pengalaman yang luar biasa pak, karena kita bisa berkunjung ke produksi film negara. Dan kami semua mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat bagaimana virtual production bekerja, workflow-nya bagaimana, pokoknya ini ilmu daging semua.”
Ilham Fajar Hadi perwakilan panitia dan praktisi menekankan pentingnya pemerataan pengetahuan teknologi ini. “Pesan saya untuk peserta dan yang datang di workshop ini, harapan saya adalah knowledge-nya supaya rata ya pak ya. Jadi makin banyak yang tahu tentang efisiensinya virtual production ini,” tegasnya.
Menurutnya, kemajuan industri film Indonesia bergantung pada sinergi tiga pilar utama. “Kan balik lagi untuk memajukan suatu industri harus ada tiga hal, ada komunitas, expertise-nya, dan juga knowledge-nya. Mahasiswa juga harus dimajukan, kalau tiga ini sudah maju saya yakin industri ini pasti akan sangat berkembang,” pungkas Ilham. Workshop diharapkan menjadi langkah awal untuk melahirkan lebih banyak talenta yang siap mengadopsi teknologi dan membawa sinema Indonesia ke panggung dunia. (UTama, 18 Juli 2025)
