FEB Widyatama: Menguat dari Dalam, Mendidik di Tengah Transformasi Dunia Bisnis untuk Berdampak

0
208 views

Di tengah gelombang perubahan global yang tak pernah surut—ketika kecerdasan buatan menyalip batas kemampuan manusia, krisis iklim menata ulang prioritas ekonomi, dan perilaku pasar berubah lebih cepat dari teori—dunia bisnis dan ekonomi bukan lagi medan berhitung semata. Ia menjadi ruang dinamis yang menuntut kecerdasan baru: kemampuan meraba masa depan, mengambil keputusan berbasis data, menjaga etika, dan tetap berpihak pada kepentingan sosial.

Pertanyaannya kemudian muncul: ketika pekerjaan rutin diambil alih mesin, ketika model bisnis baru bermunculan nyaris setiap pekan, bagaimana FEB Widyatama menyiapkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga tangguh dan berkarakter?

Pada konteks inilah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Widyatama menegaskan dirinya—menguat dari dalam. Ia hadir bukan sebagai lembaga yang sekadar memperbarui kurikulum atau menambah fasilitas, tetapi sebagai gerakan yang memperkokoh fondasi moral: karakter, etika, dan kesadaran kemanusiaan para calon ekonom, akuntan, analis, manajer, hingga inovator masa depan.

Sebuah misi yang oleh Dekan FEB, Dr. H. Nuryaman, S.E., M.Si., Ak., CA., dirumuskan sebagai upaya “mendidik mahasiswa agar tidak hanya mampu menghitung angka, tetapi memaknai angka dalam konteks kemanusiaan dan keberlanjutan.”

Dalam kesibukan tridharma dan pengelolaan fakultas, Dr. Nuryaman membuka ruang refleksi bersama Komunita, membagikan arah, komitmen, serta harapannya bagi FEB: dari visi transformasi, penguatan akademik dan penelitian, pengabdian masyarakat, hingga upaya membangun budaya ilmiah yang berkelanjutan.

Komunita: Bagaimana memandang posisi FEB dalam arus perubahan besar dunia ekonomi dan bisnis karena gelombang perubahan global dari kecerdasan buatan, krisis iklim, hingga disrupsi sosial?

Dr. Nuryaman: Tentunya Fakultas Ekonomi dan Bisnis harus memposisikan diri sebagai agen perubahan yang adaptif terhadap era digital, tantangan di atas melalui penguatan kurikulum berbasis teknologi, riset berorientasi keberlanjutan, serta pembentukan karakter lulusan yang beretika dan tanggap terhadap dinamika sosial. FEB dapat berperan strategis dalam mencetak sumber daya manusia unggul yang mampu berkontribusi pada pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Komunita: Apa arti “cerdas secara intelektual, adaptif secara teknologi, dan beretika secara sosial” dalam konteks pendidikan ekonomi dan bisnis masa kini?

Dr. Nuryaman: Ini mengandung makna lulusan FEB harus memiliki kemampuan analitis yang kuat, mampu mengikuti dan memanfaatkan perkembangan teknologi dalam praktik bisnis, serta menjunjung tinggi integritas dan tanggung jawab sosial agar kemajuan ekonomi selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Komunita: Banyak pihak menyebut perguruan tinggi tidak lagi cukup menghasilkan lulusan “cerdas menghitung”. Bagaimana FEB menerjemahkan pergeseran paradigma ini ke dalam arah kebijakan dan budaya akademik di dalam fakultas?

Dr. Nuryaman: FEB memahami bahwa dunia kerja kini menuntut lebih dari sekadar kemampuan menghitung. Karena itu, arah kebijakan dan budaya akademik diarahkan untuk membentuk lulusan yang critical thinker, kreatif, dan mampu memecahkan masalah nyata melalui pendekatan multidisipliner. Kurikulum diperkuat dengan pembelajaran berbasis proyek, integrasi teknologi digital, serta penanaman nilai etika dan kepemimpinan agar mahasiswa tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga memiliki wawasan strategis dan kepekaan sosial dalam pengambilan keputusan bisnis.

Komunita: Dalam konteks tridharma – mulai pendidikan. Apa langkah konkret yang telah atau sedang dilakukan FEB Widyatama memperkuat proses akademik agar lulusan memiliki future skills — seperti kemampuan analitik data, inovasi, kolaborasi lintas bidang, dan kepedulian sosial?

Dr. Nuryaman: Ini sangat mendasar. Saat ini FEB telah mengintegrasikan pembelajaran berbasis proyek, studi kasus, dan analisis data ke dalam kurikulum. Kolaborasi lintas program studi, serta kerja sama dengan industri juga diperluas guna menumbuhkan kemampuan inovasi dan kolaborasi praktis. Selain itu, program pengabdian masyarakat dan kegiatan sosial mahasiswa diarahkan untuk menanamkan kepedulian sosial serta kesadaran akan tanggung jawab etis dalam praktik bisnis dan ekonomi.

Komunita: Bagaimana FEB Widyatama menyesuaikan kurikulum agar tetap relevan dengan kebutuhan industri digital dan ekonomi hijau, tanpa kehilangan nilai-nilai dasar etika dan tanggung jawab sosial?

Dr. Nuryaman: Kami menambahkan mata kuliah dan modul berbasis digital (Literasi Digital, Power BI for Business, Enterprise Resource Planning, Analisis Perancangan Sistem dan Praktikum Sistem Informasi Akuntansi), kewirausahaan berkelanjutan (Keberlanjutan Bisnis, Kewirausahaan Sosial), serta ekonomi hijau yang relevan dengan kebutuhan industri masa kini. Sementara, integrasi nilai etika, tanggung jawab sosial, dan keberlanjutan tetap dijaga melalui pendekatan pembelajaran kontekstual, studi kasus etis, dan kegiatan pengabdian masyarakat. Sehingga lulusan tidak hanya kompeten secara profesional, tetapi juga berintegritas dan berorientasi pada keberlanjutan sosial serta lingkungan. Penyesuaian kurikulum ini kami lakukan secara rutin dengan melakukan studi banding pada universitas lainnya, mengundang pelaku usaha/industri dan berdiskusi bersama forum/asosiasi.

Komunita: Sejauhmana FEB menerapkan pembelajaran berbasis proyek, kolaborasi industri, atau riset terapan di kelas? Bisa diceritakan contohnya?

Dr. Nuryaman: Kami menerapkan mata kuliah berbasis proyek seperti: Proyek Manajemen Keuangan, Proyek Manajemen Pemasaran, Proyek Manajemen Keuangan, Proyek Manajemen Operasional, Proyek Kewirausahaan dan Start Up. Pada mata kuliah tersebut mahasiswa diwajibkan terjun ke lapangan dan masuk ke dalam industri menyelesaikan  suatu masalah. Kemudian, penerapan hasil riset di mata kuliah dosen juga memasukan hasil penelitiannya ke dalam rencana pembelajaran dalam bentuk studi kasus.

Komunita: Peran dosen sangat krusial dalam transformasi ini. Apa strategi FEB memperkuat kompetensi dosen, baik dalam penguasaan teknologi digital maupun dalam metode pembelajaran adaptif?

Dr. Nuryaman: Kami menerapkan strategi penguatan kompetensi dosen melalui pelatihan rutin tentang literasi digital, penggunaan platform pembelajaran daring, serta penerapan blended learning. Salah satunya adalah workshop pembelajaran berbasis OBE/Outcome-Based Education (sistem pendidikan berfokus pada hasil akhir/outcome yang harus dicapai mahasiswa setelah menyelesaikan suatu program studi, bukan hanya pada materi yang diajarkan) mengundang pakar Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra. Selain itu, dosen didorong mengikuti sertifikasi, lokakarya pedagogik inovatif, dan kolaborasi riset dengan industri agar mampu mengembangkan metode pembelajaran adaptif, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja digital.

Komunita: Terkait penguatan penelitian — bagaimana arah kebijakan riset diarahkan agar sejalan dengan isu-isu aktual seperti: ekonomi digital, keuangan berkelanjutan, dan tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/Environment, Social, Governance)?

Dr. Nuryaman: Arah penelitian sesuai Road Map Penelitian dan kepakaran yang ada pada dosen masing-masing. Saat ini kami memilliki beberapa bidang kajian/keahlian di bidang manajemen, akuntansi dan perdagangan internasional. Di dalam bidang kajian tersebut terdapat beberapa dosen yang memiliki keilmuan yang terkait dengan digitalisasi, keuangan berkelanjutan dan ESG. Maka dari itu, FEB Widyatama selalu sejalan dengan isu-isu aktual tersebut.

Komunita: Banyak yang berpendapat riset di bidang ekonomi dan bisnis kini perlu lintas disiplin. Bagaimana FEB mendorong kolaborasi penelitian antara bidang akuntansi, manajemen,  perdagangan internasional, bahkan dengan fakultas lain seperti teknik atau lingkungan?

Dr. Nuryaman: FEB Widyatama mendorong kolaborasi penelitian lintas disiplin dengan membuka ruang kerja sama antarprodi, seperti akuntansi, manajemen, dan perdagangan internasional, terutama dalam topik yang saling berkaitan seperti ekonomi digital, keuangan berkelanjutan, dan inovasi bisnis. Selain itu, FEB juga terbuka dalam menjalin kemitraan riset dengan fakultas lain seperti teknik dan lingkungan untuk menjawab isu-isu nyata yang ada di dunia. Juga mendorong penguatan riset di bidang intelligent economy dan sustainability.

Komunita: Bagaimana hasil penelitian FEB diarahkan untuk memberikan manfaat nyata — baik bagi dunia industri, UMKM, maupun kebijakan publik?

Dr. Nuryaman: FEB mendorong riset terapan berbasis kebutuhan lapangan, menjalin kemitraan strategis dengan sektor industri dan pemerintah, serta mengemas hasil penelitian dalam bentuk pelatihan, konsultasi, dan publikasi kebijakan agar manfaatnya dapat dirasakan secara konkret oleh masyarakat dan dunia usaha.

Komunita: Tridharma ketiga, pengabdian kepada masyarakat, seperti apa FEB memaknai “pengabdian” di era ekonomi digital dan perubahan sosial?

Dr. Nuryaman: Kami memaknai pengabdian kepada masyarakat di era ekonomi digital dan perubahan sosial sebagai upaya pemberdayaan berbasis ilmu dan teknologi. Kegiatan pengabdian diarahkan meningkatkan literasi digital, kapasitas kewirausahaan, dan keberlanjutan usaha masyarakat, khususnya UMKM. Melalui kolaborasi dengan pemerintah, industri, dan komunitas lokal, FEB Widyatama berkomitmen menghadirkan solusi inovatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta mendukung transformasi ekonomi yang inklusif dan berkeadilan sosial.

Komunita: Contoh program pengabdian masyarakat yang mencerminkan sinergi antara ilmu ekonomi-bisnis dengan tanggung jawab sosial dan keberlanjutan?

Dr. Nuryaman: Contoh di Bandung, beberapa aktivitas seperti: Kolaborasi dan digital Marketing untuk Keberlanjutan Usaha UMKM Kota Bandung (Dr. Yenny Maya Dora); Literasi Keuangan untuk SDGs: Pelatihan Personal Fiance dan Pencatatan Keuangan Sederhana bagi Pengurus dan Anggota RAHASTRA CREDIT UNION Kota Bandung (Oliver H Padmanegara, S.E.,M.Sc.); Pengenalan Konsep Akuntansi Hijau Untuk Usaha Berkelanjutan Dengan Memanfaatkan Limbah (Dr. Irene Sukma Lestari Barus); Tata Kelola Kopersi Syari’ah untuk Keberlanjutan Usaha di Koperasi Sekunder Syari’ah (PUSKOPMA) Binaan MUI Kota Bandung (Kerja Sama Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Widyatama dengan MUI Kota Bandung (Suryana, S.E., M.AK.)

Komunita: Sejauh mana mahasiswa dilibatkan langsung dalam kegiatan pengabdian tersebut agar mereka mengalami pembelajaran kontekstual dan membangun empati sosial?

Dr. Nuryaman: Mahasiswa dilibatkan secara langsung utamanya dalam kegiatan Pengabdian pada Masyarakat yang diselenggarakan dosen di lingkungan FEB. Dalam setiap kegiatan PkM, tim dosen dihimbau selalu melibatkan mahasiswa dan memberikan peran dan tugas  bagi setiap mahasiswa. Keterlibatan secara langsung ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dalam berkontribudsi bagi Masyarakat secara luas. Melalui keterlibatan ini, mahasiswa tidak hanya menerapkan ilmu yang diperoleh di kelas, tetapi juga belajar memahami realitas sosial dan ekonomi masyarakat. Pendekatan ini diharapkan menumbuhkan empati, kepemimpinan sosial, serta kemampuan berpikir kritis dan kolaboratif dalam memecahkan masalah nyata di lapangan.

Komunita: Bagaimana FEB mengukur impact dari kegiatan pengabdian kegiatan pengabdian masyarakat terhadap masyarakat dan pembentukan karakter mahasiswa?

Dr. Nuryaman: FEB menilai dampak pengabdian masyarakat tidak hanya dari hasil kegiatan di lapangan, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran mahasiswa untuk berkontribusi bagi masyarakat. Melalui keterlibatan langsung dalam program pemberdayaan, mahasiswa diajak memahami permasalahan nyata dan mencari solusi yang relevan dengan bidang keilmuannya. Perubahan sikap, kepedulian sosial, dan rasa tanggung jawab untuk memberi manfaat menjadi indikator utama keberhasilan kegiatan pengabdian di FEB.

Komunita: Bagaimana FEB membangun budaya akademik internal yang mendorong inovasi, etika, dan kolaborasi lintas bidang di kalangan dosen dan mahasiswa?

Dr. Nuryaman: Kami medorong dosen dan mahasiswa didorong mengembangkan ide-ide kreatif melalui kuliah umum, dosen tamu dari industri, riset bersama, forum akademik (seminar/conference), serta kegiatan inkubasi bisnis dan sosial. Nilai etika dan integritas diperkuat melalui pembiasaan akademik yang jujur, saling menghargai, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, FEB Widyatama berupaya menciptakan lingkungan akademik yang tidak hanya produktif secara intelektual, tetapi juga berkarakter dan berorientasi pada kemajuan bersama.

“Ketika fondasi karakter kuat, maka kecerdasan akan menemukan arah dan kompetensi akan menemukan makna.”

Komunita: Dalam menghadapi percepatan digitalisasi dan tekanan global, bagaimana FEB menjaga keseimbangan antara tuntutan profesionalisme bisnis dan nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan ekonomi?

Dr. Nuryaman: Kami menjaga melalui pendekatan pendidikan yang menempatkan etika, empati, dan tanggung jawab sosial sebagai fondasi utama. FEB Widyatama tidak hanya menekankan penguasaan teknologi dan kompetensi profesional, tetapi juga membentuk kesadaran bahwa keputusan ekonomi selalu berdampak pada manusia dan lingkungan. Dengan demikian, lulusan diharapkan mampu menjadi profesional yang unggul secara digital namun tetap berlandaskan nilai moral dan kepedulian sosial.

Komunita: Seperti apa sosok ideal lulusan FEB Widyatama masa depan yang diharapkan melalui proses penguatan internal ini?

Dr. Nuryaman: Lulusan ideal FEB Widyatama masa depan adalah individu yang memiliki kemampuan analitis yang kuat, adaptif terhadap perubahan teknologi, dan mampu berpikir kreatif dalam memecahkan masalah ekonomi serta bisnis. Selain kompetensi profesional, mereka juga diharapkan memiliki integritas, kepedulian sosial, dan semangat kolaboratif. Dengan karakter seperti itu, lulusan FEB Widyatama tidak hanya siap bersaing di dunia kerja, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.

Komunita: Jika FEB kita anggap sebagai “laboratorium masa depan ekonomi cerdas dan berkelanjutan”, apa pesan Bapak kepada sivitas akademika untuk terus beradaptasi dan berinovasi?

Dr. Nuryaman: Pesan saya kepada seluruh sivitas akademika adalah terus membangun budaya belajar yang adaptif, kolaboratif, dan berbasis nilai keberlanjutan. Setiap dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan harus berani keluar dari zona nyaman, memanfaatkan teknologi digital, data, dan inovasi sebagai sarana menciptakan solusi ekonomi yang relevan bagi masyarakat. FEB Widyatama harus menjadi tempat gagasan-gagasan baru lahir dan diuji, bukan hanya untuk kemajuan akademik, tetapi juga menghadirkan dampak sosial dan lingkungan yang positif. Dengan semangat ini, kita tidak hanya mencetak lulusan yang kompeten, tetapi juga insan yang berintegritas dan visioner dalam membangun ekonomi masa depan yang cerdas dan berkelanjutan.

Komunita: Bagaimana Bapak melihat FEB dalam 5–10 tahun ke depan — akan menjadi fakultas seperti apa, dan memberi kontribusi seperti apa bagi bangsa dan dunia?

Dr. Nuryaman: Sesuai dengan visi yang dimiliki oleh FEB Widyatama menjadi pengelola program studi yang unggul dan mandiri di bidang akuntansi, manajemen dan bisnis berbasis teknologi informasi yang profesional, inovatif dan mampu memenuhi kebutuhan industri dan Masyarakat dalam lingkungan global tahun 2028.

(Interview, rewrite by lili irahali – Nov.2025)

“Kuliah ekonomi dan bisnis bukan sekadar mempelajari teori pasar, tetapi mempersiapkan diri untuk menciptakan nilai.”

“Kami ingin lulusan FEB Widyatama tidak hanya sukses secara karier, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat.”