Indonesian Bamboo Socienty (IBS) Komunitas Bambu Dari Bandung

0
1,684 views

Tumbuhan yang banyak terdapat di wilayah Indonesia ini ternyata mempunyai nilai ekonomis maupun kesehatan, bahkan nilai estetis yang cukuptinggi. Apabila disentuh oleh daya kreatifitas yang handal. Sebagai bukti potensi dari bamboo ini sudah diangkat oleh berbagai kelompok masyarakat. misalnya berbagai bahan bangunan rumah sejak jaman dahulu, nenek moyang kita telah menggunakannya. Bahkan sebagian perabot rumahnya pun dibuat dari bamboo. selain itu berkembang produksi alat music yang terbuat dari bamboo seperti angklung, biola, gitar, suling, atau air bamboo yang dijadikan obat herbal yang sudah terkenal dikalangan masyarakat.

Sekelompok orang yang berkecimpung dengan produk bamboo ini datang dari berbagai keahlian, akhirnya bersinergi dan membentuk sebuah komunitas bernama Indonesian Bamboo Community (IBC), Dibentuk pada 30 April 2011 Komunitas ini berkembang berdasarkan kecintaan terhadap bamboo. bahkan ada anggota komunitas yang sengaja melakukan riset tentang seluk beluk bamboo dan jenis-jenis bamboo yang terdapat di Indonesia. Pelopor dan pencetus komunitas ini antara lain Bapak Adang yang memiliki basic teknik ilmu material dan Abah Yudi Rahmat yang merupakan pengrajin bamboo, dan pemilik museum Bambu Bapak Anang Suryana . Mereka berkeinginan mengembangkan produk bambu menjadi berbagai produk yang bernilai ekonomi maupun estetika tinggi.

Komunitas ini sendiri memiliki divisi produk dan divisi musik. Untuk divisi produk anggota dapat belajar membuat beragam produk alat musik yang berasal dari bambu. Antara lain seperti; Contra bass, cello, gitar, perkusi, kecapi,biola hingga saxophone yang terbuat dari bambu.

Sedangkan untuk produk selain alat music adalah para anggota berlatih untuk memainkan alat musik dari bambu. Mereka berkesempatan untuk tampil di berbagai acara festival seperti Java Jazz Festival dan Blues Festival.

Hasil produksi peralatan musik yang dibuat oleh komunitas ini juga untuk dijual kepada masyarakat. Dimana peminat yang datang rupanya tak hanya datang dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri, seperti dari Negara Amerika Serikat, Meksiko, Belgia, Perancis, Yunani, Jepang, Inggris.

Indonesian Bambo Community (IBC) telah mendapatkan apresiasi dari masyarakat bahkan dari pemerintah. Antara lain penghargaan dari Pemerintah Propinsi Jawa Barat berupa Anugerah Inovasi Jabar tahun 2014 untuk kategori bidang seni dan budaya. Salain itu IBC pun pernah mendapat penghargaan dari MURI berupa pembuatan Angklung setinggi 14 meter.

Sekertariat komunitas ini beralamatkan di Jalan Melong Asih No 23 atau mengunjungi akun fanpage Facebook ; Indonesia Bamboo Community., Instagram @inabamboon Twitter @ibc_30. Disana mereka banyak memposting beragam kegiatan seperti pertunjukan musik, juga produkproduk buatannya.

Sedikit perkenalan dengan produk bamboo, kita dapat merasakan nuansa bamboo di Dusun Bambu Lembang obyek wisata yang tergolong cukup baru di kaki gunung Burangrang tepatnya beralamat di jalan Kolonel Masturi KM 11 Cisarua Bandung Barat.

Pemandangannya sangat indah. tersedia pula villa yang tentunya terbuat dari Bamboo. bahkan lokasi ini sangat tepat untuk digunakan untuk foto selfie ria. setelah anda letih berkeliling dusun tersedia juga foorcourt yang siap dengan berbagai menu kuliner sesuai dengan selera anda.

Pemandangannya yang indah dengan beraneka macam bunga serta sungai buatan yang langsung menuju danau.

Kembali kepada keberadaan komunitas. Saat ini terletak di keramaian Jalan Raya Cibeureum No.16 Bandung, dan di tengah sesaknya deretan pertokoan dan perumahan, terselip sebuah bangunan berlabelkan “Museum Bambu”. Pelataran bangunan yang terasa sejuk, lengkap dengan berbagai tanaman hijau tertata rapi di pelatarannya. Dinding dan lantai bangunannya didominasi oleh lapisan bambu, menegaskan kesan bangunan yang antik dan klasik.

Ketika memasuki Museum Bambu lebih dalam, akan kita temui ruangan demi ruangan berisi berbagai pernik dan kreasi kerajinan bambu. Ada patung, sepeda, perkakas rumah tangga, alat musik seperti gitar dan biola, juga ada lukisan. Semuanya terbuat dari bambu. Semua karya seni ini adalah buah tangan pihak pengelola dan anggota yang tergabung dalam komunitas Indonesian Bamboo Society (IBS).

Bapak Anang Suryana, pemilik museum bambu di kawasan Cibeureum, membuka fakta keberadaan komunitas pecinta bambu yang pernah berdiri sejak tahun 1993, yang bernama Indonesia Bamboo Society. Penggagas sekaligus pengelolanya adalah Pak Anang Sumarna sendiri.

Di Jerman, bambu sangat diapresiasi, dimanfaatkan, dan dihargai, contohnya angklung. Kenapa di indonesia tidak dimanfaatkan, padahal di luar negeri dihargai banget, gimana caranya biar bambu ini dioptimalkan. Tutur Bapak Adang. Misi dari IBS adalah membudidayakan bambu, agar lebih bernilai, dihargai, dan bias dijadikan sarana wiraswasta oleh masyarakat umum. Misi dari IBS adalah membudidayakan bambu, agar lebih bernilai, dihargai, dan bisa dijadikan sarana wiraswasta oleh masyarakat umum. Mengingat kondisi museum yang sudah 5 tahun tidak berfungsi dan terlantar. Pak Anang pun mempersilakan IBS untuk berkreasi, menetap di museum bambu miliknya, tutur pak Adang pria yang sempat kuliah S2 di Jerman ini.

Sampai sejauh ini, IBS sudah menggaet 80 anggota resmi. Pernah manggung di berbagai tempat di Bandung, dan sebagian sempat ditayangkan di media elektronik. Adapun jumlah alat musik bambu yang telah dihasilkan berjumlah sekitar 12 buah, meliputi gitar bambu rytm, melodi, dan bass. Biola, seksofon bambu, klarinet, terompet, kontrabas bambu, selo bambu, kecapi bambu, dan ada 12 produk alat musik bambu. Rencana ke depannya, ia bersama Abah Yudi ingin membuat drum bamboo dan piano bambu. (http://nasionalisrakyatmerdeka.wordpress.com/).

Ribet Mengurus Hak Cipta

Kegiatan utama komunitas ini mengajarkan dan membimbing masyarakat agar bisa berkreasi dan membuka usaha lewat bambu. Semua alat yang dipakai berasal dari rumah: gergaji, pisau, golok, tidak memberatkan cukup dengan modal kecil. Yang mau berwiraswasta, nggak perlu modal besar, asal ada kemauan. Kita Sering ngadain pelatihan, seperti pelatihan kemarin di Dago, membuat alat musik dari bambu. Gratis, jelasnya.

Sayangnya mimpi-mimpi komunitas masih belum sempurna, karena dukungan finansial masih terbatas. Bukan hanya itu, hak paten produk alat musik bambu temuan mereka pun belum mereka peroleh. Kita ribet kalau sudah memikirkan hak cipta, yang biayanya harus menghabiskan berpuluh-puluh juta. Instansi dan pemerintah sudah ngomong, tapi bantuan riil belum ada. Kita ada sekitar 12 alat musik, bisa habis berapa puluh juta itu Kita inginnya, hak cipta dipegang sama kita, tapi kalau orang lain mau bikin dan produksi, kita membebaskannya.

Tapi, keterbatasan materi dan kesederhanaan fasilitas, bukanlah hal yang utama. Bagi Adang, selama ada kemauan, dan kesungguhan dalam menjalankan sebuah rencana, pasti selalu ada jalan. Ia akan tetap gigih meniti mimpi bersama IBS, yaitu membuat sebuah grup orkestra bambu. Semoga. [SONIA FITRI/ Jurnalistik UIN Bandung/ BandungOkeCom] NRMnews Bandung, Kalau ada yang meminta untuk menyebutkan alat musik dari bambu, alat musik seperti angklung, suling calung, atau karinding, mungkin akan jamak terdengar. Tapi biola, gitar, ataupun bass dari bambu Ini memang tidak biasa.

Tapi di tangan Yudi Rahmat, ini semua jadi bisa dilakukan. Lewat perkumpulan Indonesia Bamboo Society (IBS) bersama Adang Muhidin, Yudi kian mantap untuk menyuarakan dentingan berbagai alat musik bambu kreasinya.

Alat Musik Bambu

Berawal dari biolanya yang rusak karena terjatuh, Abah Yudi, sapaan akrab Yudi, lalu terpikir untuk membuat kembali biola dari bambu. Keberhasilannya membuat biola bambu di tahun 1979 itu, ternyata membuatnya ketagihan untuk membuat bambu menjadi alat musik lainnya. Selang setahun, jadilah gitar bambu. Saxophone juga berhasil dibuatnya dari bambu pada 1982. Untuk terompet ini lebih susah dapatnya.

Biola malah lebih gampang, karena biola senarnya sudah pasti C-A-D-G. Gitar juga begitu, gitar tinggal mengikuti jumlah fretnya aja dari gitar yang ada. Kalau kendang tinggal, bambu dibelah, dirangkai, dilapisi kulit, terang Abah.

Berbagai teknik pun dilakukan Abah agar nada yang keluar serupa dengan bunyi biola asli. Pertama Abah mencoba membuat biola dari bambu, ternyata tak berbunyi. Dari pencaraiannya, ternyata bambu perlu ditipiskan terlebih dulu. Penipisan dilakukan di bagian dalam bambu agar ruang resonansi lebih besar.

Penipisan ini juga membuat getaran dawai bisa dihantarkan ke badan biola. Abah Yudi malah berhasil membuat dua macam biola, alto dan tenor. Untuk membuat biola bersuara Alto di bagian bawah dawai, dipasangkan kulit. Sementara yang tidak dipasangkan kulit, menjadi suara tenor.

Meskipun terbilang unik, namun rekan Abah Yudi yang sesama pemusik ataupun rekanrekan teater di tempatnya bergabung, tak tertarik dengan inovasi yang dibuat Abah. Itu waktu saya di Jakarta. Tiga tahun belakangan, saya pindah ke Bandung. Ternyata seniman di Bandung lebih bisa menerima karya saya ini, tutur Abah lagi. ( Oleh : Red NRMnews / Eka Shantika ).

Jembatan Bambu untuk rakyat pedesaan

Kita sering mendengar keluhan masyarakat desa yang putra-putrinya terpaksa harus mengarungi sungai yang deras dengan cara berenang untuk pergi kesekolah, karena belum tersedia jembatan yang layak dan aman untuk menyebrang dari suatu desa ke desa lainnya. Dari pihak Pemerintah daerah setempat mengalami kesulitan untuk menyediakan dana yang cukup mahal untuk sekedar membangun jembatan penghubung tersebut. Namun skala prioritas yang membuat dukungan dana itu tidak dapat disediakan. Bisa dibayangkan untuk membuat suatu jembatan minimal harus tersedia dana sebesar lebih dari dua miliar rupiah. Tetapi apabila dibangun jembatan yang terbuat dari bahan bamboo mungkin nilainya tidak terlalu mahal, apalagi bahan bamboo tersebut juga tersedia di sekitar desa tersebut, mungkin akan semakin murah, namun fungsinya akan bermanfaat bagi masyarakat desa kedua belah pihak.

Air Bambu sebagai obat herbal

Disamping sebagai bahan bangunan rumah, atau peralatan music dan sebagainya ternyata khasiat bamboo dapat juga dijadikan sebagai obat herbal. yaitu cairan atau air bamboo yang diyakini dapat mengobati penyakit yang berkaitan dengan darah. Selain itu juga sebagai peningkatan daya tahan tubuh agar selalu sehat. Hanya sebagian kecil masyarakat yang mengetahui tentang khasiat air bamboo ini sehingga dapat dijadikan penghasilan sehari-hari. (dari berbagai sumber) (EB/2018)