Industri Butuh SDM Bekerja Fokus, & Berkemampuan Softskill

0
1,611 views
Industri Butuh SDM Bekerja Fokus, & Berkemampuan Softskill

Suyanto – General Manager KeuanganCardinal PT Multi Garmen Jaya

Industri garment (pakaian jadi) memiliki kontribusi besar dalam ekspor Indonesia. Karakteristik Industri ini merupakan industri padat karya, dimana sebagian besar proses pengolahan bahan baku menjadi bahan jadi atau setengah jadi menggunakan tenaga manusia. Hal ini menyebabkan tinggi biaya. Saat ini industri garment tengah menghadapi tekanan, antara lain perubahan permintaan pasar yang semakin cepat seiring dengan percepatan perkembangan fashion dunia yang tidak hanya mengandalkan musim, tetapi trend mode yang menyebabkan pesanan pakaian jadi pun cepat berubah. Walau demikian, Industri dapat di masuki oleh siapa saja, namun keahlian seorang pengusaha garment sangat menentukan kemajuan usaha.

Merek/brand Cardinal terdaftar di seluruh dunia, adalah salah satu merek terkemuka di pasar domestik. Pada tahun 1998, produk ini mulai diekspor ke Amerika Serikat, Jepang, Timur Tengah, Rusia. Beberapa negara Eropa Timur menjadi tujuan ekspor pada tahun 1988. Tahun 1998, produk ini dikirim ke coutries Eropa Barat.
Komunita bincang-bincang dengan sosok yang telah berkecimpung di industri garment dengan merk terkemuka pasar domestik yakni: Cardinal (PT Multi Garmen Jaya), bpk Suyanto.

Komunita : Bisa dijelaskan kronologis bergabung di industri garment dengan merk terkenal Cardinal ?

Suyanto : Saya berasal dari Surabaya dan kuliah di Unpar, Fak. Ekonomi, Jurusan Manajemen dan Akuntansi. Jurusan yang saya ambil ini termasuk dalam kategori sulit dan cukup lama. Sehingga matakuliah yang bermuatan manajemen lebih dulu lulus dibandingkan dengan muatan akuntansinya. Selesai kuliah saya sempat ditawari oleh Wakil Dekan untuk mengajar perkuliahan S1, tapi saat itu saya belum berani (red: pede).

Sebelum bekerja di PT. Djarum, saya bekerja di kantor akuntan 1 tahun. Ketika sedang berkarir di PT. Djarum, mulai muncul regenerasi muda-muda i disekolahkan ke Amerika. Kita diharapkan dapat terus meningkatkan kemampuan diri karena memang akan terkena imbasnya dari segi pengetahuan dan pengalaman. Akhirnya saya pun melanjutkan sekolah di UGM. Selama masa libur perkuliahan saya harus tetap bekerja, sehingga terkadang masih saja ada yang kontak dengan pekerjaan.
Masih dalam satu grup di PT.Djarum, saya mengembangkan karir di perusahaan meubel bernama ‘Sigma furniture’. Di perusahaan ini, cukup lama karena memang diamanahkan posisi dan jabatan yang bagus dibandingkan di PT.Djarum. Seiring dengan laju perkembangan perusahaan meubel, banyak generasi baru yang terlibat aktif berkarir di dalamnya, termasuk juga dari lulusan luar negeri, sehingga memunculkan pandangan baru serta perbedaan budaya kerja yang dibawa dari luar negeri dan budaya di Indonesia sendiri. Karena memiliki cara pandang berbeda, sehingga saya memutuskan untuk keluar dan berkarir di perusahaan Cardinal pada tahun 1996 hingga sekarang.

Komunita : Saat krisis terjadi tahun 1998, prospek perkembangan usaha Cardinal bagaimana ?

Suyanto : Memang ada pengaruhnya, namun hal ini dapat segera teratasi meskipun kondisinya cukup berat sekali. Kebetulan perusahaan ini krediturnya terdiri atas beberapa bank yang sedang sakit akibat krisis Namun dari sisi perusahaan tetap memiliki kemampuan membayar semua hutang-hutangnya. Hampir setahun saya menghadapi dan membereskan beban hutang ini, meskipun bunganya cukup tinggi karena memang perusahaan belum mempunyai aturan yang jelas dalam mengelola semua pembukuan keuangannya. Setelah sekian lama pihak manajemen melakukan pembenahan di semua bidang dengan baik, akhirnya perusahaan mampu melunasi semua hutangnya. Adapun imbas atas keberhasilan ini, banyak pihak bank yang antri untuk menawarkan pinjaman lagi (mendanai). Di saat itu pula, terdapat beberapa perusahaan yang bangkrut, bahkan ada yang mengemplang akibat gagal bayar dan saya memandang hal semacam itu tidak fair karena memang bukan haknya. Posisi jabatan saya di perusahaan ini hingga sekarang masih di bagian keuangan, karena memang harus membenahi semua pembukuan perusahaan.

Sebagai gambaran mengenai kapasitas dan kompetensi karyawan saat ini dengan lokasi di sini berjumlah 1.500 orang yang tersebar pada beberapa bagian, diantaranya: bagian cutting, bagian bordir, bagian pergudangan, dan lainnya. Mengenai sistem yang diterapkan, sebagian menggunakan mekanisme ‘sub-contract’. Maksudnya bagi para karyawan senior diberi kesempatan untuk mengembangkan usahanya sendiri dengan menjadi mitra bersama dalam hal pasokan barang ke perusahaan Cardinal. Sistem ini dimaksudkan juga untuk tetap menjaga kualitas dan kuantitas produk/barang selain dapat memberikan tambahan kesejahteraan bagi penduduk, karyawan di sekitarnya. Hingga sekarang produk perusahaan telah merambah ke berbagai jenis, diantaranya: sepatu, sandal, dan lainnya.

rekrutmen

Komunita : Proses perekrutan tenaga kerja (SDM), apakah dibatasi untuk jenjang tertentu ?

Suyanto : Sebenarnya untuk menjadi karyawan di perusahaan Cardinal terbuka bagi siapapun yang memenuhi kriteria dan persyaratan. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, karyawan baru yang berada di perusahaan Cardinal kebanyakan telah menempuh jenjang D3 maupun S1 sehingga jarang mendapati karyawan dengan lulusan SMA atau sederajat. Kecenderungan sekarang bahwa masyarakat makin berpendidikan, sehingga mencari lulusan SMA sudah agak sulit ? malah lebih mudah mencari lulusan jenjang D3 dan Sarjana. Mengenai kompensasi yang diberikan kepada para karyawan tentunya didasarkan pula oleh jenjang pendidikan dan skill yang dimilikinya, semakin ahli dan berkompeten di bidangnya maka akan semakin tinggi upah/kompensasi yang diberikan.

Komunita : Harapan Bapak agar tercapai kesesuaian (link and match) antara mutu lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia industri ?

Suyanto : Dosen seharusnya mampu menyeimbangkan keilmuannya yang bersifat praktis maupun akademis, yakni : antara praktik dan teori. Selama ini mungkin lebih dominan dari sisi teori, meskipun sekarang telah diselenggarakan jenis perkuliahan umum dengan mengundang pakar praktisi, namun secara kondisi dan waktu sangat singkat dan padat. Pernah juga diberikan penugasan matakuliah yang berkaitan dengan produk perusahaan Cardinal.
Kemudian di akhir tugasnya tersebut, mereka diminta untuk membuat makalah dan mempresentasikannya. Hal itu ditujukan sebagai persiapan dalam rangka menghadapi ujian sidang pada akhir matakuliahnya sehingga nantinya akan memperoleh nilai yang diharapkan.

Komunita : Menghadapi tingkat persaingan, dimana produk Cardinal, telah dilakukan pula oleh perusahaan sejenis, seperti : produk jaket, t-shirt dan produk fashion lainnya ?

Suyanto : Produk kami sekarang sudah merambah ke berbagai jenis fashion dan telah diekspor ke berbagai negara sejak lama. Hal ini telah dimulai sejak tahun 1973 yang merupakan cikal bakal dari penjahit singer (tailor) di jalan Otista ? Bandung. Kemudian semua diajari mengenai cara menjahit, membuat pola, dan lainnya sehingga mengalami kemajuan yang berarti.

Pada saat terjadi perang teluk, kebutuhan akan fashion di wilayah Timur Tengah cukup tinggi sehingga kami berani untuk mengambil risiko memenuhi permintaan tersebut. Sejak saat itu produk ekspor kami mulai banyak dan semakin naik. Dominasi pasarnya lebih banyak diekspor keluar negeri dibandingkan dalam negeri. Sehingga pada saat krisis moneter terjadi, relatif produk usaha kami dapat bertahan karena memang pembayarannya pun menggunakan mata uang dolar. Seandainya hanya berkonsentrasi pada pasar lokal saja, kemungkinan usaha kami akan mengalami kebangkrutan dan habis oleh krisis yang terjadi. Pada waktu itu, presentasi produk yang diekspor kira-kira 90% sementara sisanya yang 10% didistribusikan di pasar lokal. Namun hal ini menjadi terbalik jika dilihat dari kondisi sekarang yang semakin banyak pesaing dan produk pasar mulai membanjiri, sehingga pola presentasinya pun berubah, yaitu: untuk pasar lokal kira-kira menjadi 98% dan sisanya diekspor.

Komunita : Bisa dijelaskan asal muasal pemberian nama Cardinal ?

Suyanto : Cardinal itu berasal dari nama burung yang merupakan ide dari bapak Toni, selaku pemiliknya. Sebenarnya nama Cardinal sendiri memiliki makna yang bermacam-macam; ada yang diartikan sebagai pemimpin agama Katolik, sehingga mengakibatkan kurang menguntungkan jika istilah ini masuk ke daerah Eropa. Pemakaian merek atas suatu produk, dilarang karena menggunakan istilah dari pemuka agama. Nah, sekarang kan era-nya generasi ‘baby boomers’, dimana tingkat pendidikan dan jumlahnya sudah lebih baik. Dulu orang membuat celana, cukup datang ke tukang jahit dengan harga yang relatif lebih mahal. Namun jika hal tersebut dapat diproduksi secara massal dengan jumlah marketing yang banyak, tentunya akan lebih murah dan cepat laku. Seperti contoh: celana formal dan celana jeans.

Komunita : Apa yang menjadi catatan Bapak mengenai generasi sekarang ?

Suyanto : Sebenarnya generasi setelah kita itu merasa segalanya terlindungi dan tercukupi, tanpa harus bersusah payah lagi. Beberapa kali saya sampaikan bahwa hal ini diakibatkan oleh banyak faktor. Kalau dulu terpaksa sederhana karena faktor pembaginya lebih banyak dengan segala keterbatasannya. Akhirnya kondisi itu terbawa ke dunia kerja dan terlihat berbeda dengan generasi sebelumnya. Walaupun memang saat ini lebih berani berpendapat namun secara etika tampaknya ada yang kurang dengan kemungkinan karena dihilangkannya pelajaran budi pekerti. Sering saya sampaikan kepada para karyawan bahwa jadikanlah bekerja sebagai sarana belajar sebaik mungkin. Jika suatu saat nanti mendapatkan tempat yang lebih baik saya silahkan dan bagi saya bukan masalah. Saya selalu memberikan arahan pada staf yang dari lulusan SMK dan D3 agar mereka dapat melanjutkan sekolah lagi. Bahkan ada juga yang pernah diajukan melanjutkan sekolah dengan dibiayai perusahaan terhadap karyawan tertentu yang sudah lama danberkualitas. Statement saya Kamu bisa lebih maju dan meningkat keilmuannya pada kondisi yang lebih baik.

Komunita : Harapan Bapak terhadap perguruan tinggi terutama para pendidik (dosen) khususnya pada bidang softskill ?

Suyanto : Salah satu tugas dosen adalah dengan meningkatkan pengabdian kepada masyarakat, dari Tridharma Perguruan Tinggi. Seandainya dosen bisa mempertemukan para alumni untuk menyempatkan waktunya dalam berbagi pengalaman maupun ikut mengajar itu lebih baik. Profesi mereka bisa saja sebagai seorang praktisi, pengusaha atau lainnya untuk berbagi ilmu & pengalaman secara praktis. (Written by Dwinto Martri Aji Buana, Edited by Abdul Rozak)