Jurnal Komunita

ANTOLOGI GLOCAL DISRUPSI TIMUR TENGAH:

DAMPAK GEOPOLITIK GLOBAL DAN STRATEGI RESILIENSI SISTEMIK INDONESIA

Kumpulan Pemikiran Strategis Mahasiswa

Doktor Ilmu Manajemen Universitas Widyatama

 

Oleh:

Dr. H. Deden Sutisna M. N., S.E., M.SI., CHRA Shanti Pramelia ST,MM

 

Di era globalisasi yang semakin terintegrasi, sebuah guncangan di satu titik geografis bukan lagi sekadar peristiwa teritorial, melainkan sebuah kejutan sistemik yang mampu mengubah peta bisnis dan ekonomi dunia. Timur Tengah, sebagai jantung energi global, kini kembali berada di persimpangan krusial. Eskalasi konflik yang melibatkan kekuatan besar seperti Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah menciptakan fenomena supply-side shock yang dampaknya merambat hingga ke meja-meja manajerial di Indonesia.

Antologi ini hadir sebagai respons intelektual dari mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen Universitas Widyatama untuk membedah kompleksitas tersebut melalui pendekatan Glocal (Global-Local). Kami meyakini bahwa memahami krisis ini memerlukan “pisau analisis” yang multidimensi.

 

Sintesis Enam Perspektif Strategis

 

Melalui kumpulan pemikiran ini, kami menyajikan lapisan realitas yang saling terkait:

 

  1. Perspektif Idepolsushankam:  Membedah  bagaimana  batas  negara  artifisial warisan kolonial dan rivalitas hegemoni regional menjadi api dalam sekam yang memicu proxy war modern.
  2. Perspektif Ekonomi & Industri: Menganalisis kerapuhan jalur nadi dunia di Selat Hormuz dan  bagaimana pelaku industri  di  Indonesia  harus melakukan reorientasi rantai pasok serta mitigasi risiko melalui strategi hedging.
  3. Perspektif Perbankan & Keuangan: Menyajikan uji ketahanan (stress test) perbankan nasional terhadap risiko sistemik, dengan proyeksi lonjakan Non- Performing Loan (NPL) hingga mencapai 4,70% dalam skenario perang terbuka.
  4. Perspektif Teologi & Agama: Meninjau dialektika klaim teologis atas “Tanah yang Diberkahi” dan status situs suci yang sering kali menjadi episentrum sensitivitas sosiopolitik global.
  5. Perspektif Seni & Budaya: Mengangkat sisi humanis di mana seni menjadi medium resiliensi, identitas, dan instrumen peacebuilding yang mampu melampaui sekat-sekat politik.
  6. Perspektif  Akademisi:   Memberikan   kerangka   teoretis   berbasis   realisme mengenai perebutan kekuasaan  (power) sekaligus seruan bagi dunia kampus untuk menjaga literasi geopolitik di tengah arus disinformasi digital.

 

Harapan Kami, Antologi ini bukan sekadar catatan akademis, melainkan sebuah pinjakan diskusi bagi para pengambil keputusan, praktisi bisnis, dan masyarakat luas. Di tengah ketidakpastian global, ketajaman nalar dan kecepatan adaptasi adalah kunci utama menuju resiliensi sistemik yang berkelanjutan.

Selamat menyelami mozaik pemikiran ini.

 

Tim Penulis

DIM 8  – Universitas Widyatama