Perlukah Pola Pikir dan Sikap Kewirausahaan ?

Perlukah Pola Pikir dan Sikap Kewirausahaan ?

Sidang Pembaca yang budiman

Sebuah sinyalemen bahwa kewirausahaan dan wirausaha yang berkembang di Indonesia, bertumbuh justru bukan dari lulusan perguruan tinggi, tetapi dari sebab lain. Memang kebenarannya perlu diteliti. Tetapi paling tidak ada tiga sebab, yakni : Wirausaha muncul disebabkan bakat yang dimiliki (born by themselves), dikembagkan melalui pendidikan dan pelatihan (born to developed), serta bias juga karena keterpaksaan akibat tidak ada jalan lain setelah melamar ke berbagai instansi atau dunia usaha/industry tidak kunjung diterima.

Indonesia dengan penduduk 252 juta jiwa memiliki jumlah wirausaha non pertanian mencapai 7,8 juta orang atau 3,1 persen. Rasio wirausaha sebesar 3,1 persen tersebut lebih rendah dibandingkan negara: Malaysia 5 persen, China 10 persen, Singapura 7 persen, Jepang 11 persen, bahkan Amerika Serikat mencapai 12 persen. Bila diidentikkan dengan Malaysia yang memiliki luas wilayah 329.750 km2 atau seperenam, serta penduduk hanya 27 juta atau sepersembilan, jumlah wirausaha mereka mencapai 1,4 juta. Maka Indonesia yang memiliki luas wilayah 1.990.250 km2, serta penduduk 252 juta, seyogyanya memiliki 12,6 juta wirausaha. Padahal sekarang baru mencapai 7,8 juta wirausaha, maka masih dibutuhkan 4,8 juta wirausaha baru.

Ini sebuah tantangan bagi dunia pendidikan, dunia usaha/industri, serta pemerintah agar berupaya mencapai jumlah wirausaha yang memadai. Ekonom Joseph Schumpeter mengatakan ada tiga elemen utama dalam kemajuan suatu bangsa, yakni : wirausaha, inovasi dan creative destruction (kultur yang lama diganti dengan yang baru, yang lebih baik)

Mengapa demikian Habib Amin Nurrokhman dalam https://www.kompasiana.com/www.habibamin.blogspot.com menggambarkan : Pertama, sebuah negara yang banyak memiliki wirausaha tentunya akan mendapatkan penghasilan dari sector pajak (itu pun kalau para wirausahanya sudah mampu dan jujur membayar pajak-red) atas kegiatan ekonomi yang mereka lakukan. Kedua, ekonomi Negara akan mandiri, tidak akan bergantung pada sistem ekonomi kapitalis. Dalam kaitan ini salah satunya pemerintah harus membuka ruang pasar, dan proaktif menyediakan modal dengan bunga kompetitif bagi para wirausaha agar benar-benar produktif. Hasil keuntungan usaha mereka disimpan dibank- bank dalam negeri, sehingga perputaran uang semakin lancar, modal mereka akan bertambah yang diharapkan mampu menembus pangsa pasar global, menaikkan neraca ekspor-impor dan akan menambah devisa negara secara signifikan. Dengan demikian, bertumbuhnya wirausaha memiliki peran yang sangat penting untuk menaikkan harkat martabat kita di kancah pergaulan internasional. Semakin banyak wirausaha akan meningkatkan daya saing negara dan bangsa.

Ditinjau dari segi GNP ( Gross National Product), semakin banyak uang yang dihasilkan wirausaha anak negeri maka uang yang dihasilkan berpeluang semakin besar meningkatkan GNP sehingga akan semakin memperkuat ekonomi nasional secara makro, dan mempercepat roda pembanguna nasional karena ketersediaan anggaran semakin meningkat.

Kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi kita adalah kewirausahaan di sektor UMKM/Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Saat ini, sektor UMKM menyerap tenaga kerja 116 juta dan kontribusi terhadap produk domestik bruto/PDB mencapai 60%.

Sektor ini senantiasa bisa diandalkan saat ekonomi skala besar tertekan ingat ketika krisis ekonomi 1997 – 1998. Melihat hal tersebut kewirausahaan sector UMKM seyogyanya didukung agar bertumbuh. Lebih jauh, kewirausahaan bertujuan meningkatkan ekonomi masyarakat dan secara umum meningkatkan harkat dan martabat pribadi wirausaha, serta bangsa dan negara. Dengan pengetahuan, pola pikir dan sikap kewirausahaan diharapkan akan semakin banyak anak bangsa, khususnya mahasiswa yang terjun ke dunia usaha.

Bagaimana merubah pola pikir dan sikap berwirausaha ??? Tidak lain dan tidak bukan, diantaranya melalui dunia Pendidikan dan peluang Pengalaman serta praktek berwirausaha. Keduanya harus dikondisikan melalui kebijakan pemerintah, kepesertaaan dunia pendidikan dan dunia usaha dan industri. Wallahu alam.

 

Vivat Civitas Academica,Vivat Indonesia dan Nusantara tercinta. Redaksi – Lili Irahali

Comments are closed.