Home Blog Page 19

Melayani Pembelajar Lintas Generasi: Pedagogi Amal Shalih untuk Guru dan Dosen

Melayani Pembelajar Lintas Generasi: Pedagogi Amal Shalih untuk Guru dan Dosen

Oleh: Bachrudin Musthafa, PhD. – Profesor Literasi UPI Bandung

    Guru dan dosen dididik untuk melayani (maha)siswa yang diajarnya. Untuk dapat mengajar dengan baik, seorang guru/dosen harus memiliki minimal dua bongkah jenis pengetahuan dan keterampilan pokok: basis pengetahuan (knowledge-base) yang kuat dalam bidang keahliannya dan kelincahan memilih metode yang tepat untuk mengajarkan kepada (maha)siswa yang diamanahkan kepadanya. Dalam banyak hal, keberhasilan pembelajaran ini juga masih bergantung pada sejumlah faktor lain, termasuk kesiapan perangkat pengetahuan dan keterampilan proses yang terdapat dalam diri pembelajar.

  Dengan latar paparan yang disajikan “Dari Redaksi” (Editorial), “Bonus Demografi…Generasi Z Indonesia” (Rubrik Utama-1) dan “Pendidikan Tinggi: Membekali Gen Z…” (Rubrik Utama 2-3) telah menjadi sangat jelas bagi kita bahwa persoalan yang dihadapi telah mengglobal dan multidimensional. Pembacaan situasi tak lagi dapat diisolasi dengan sekat-sekat geografis konvensional; pendekatan yang diperlukan tak pelak lagi haruslah yang serba mencakup (all inclusive) dan yang memiliki daya-tembus superior – ilahiyah.

Artikel pada ruang terbatas ini akan mengajukan suatu pilihan strategis di antara banyak faktor penentu kualitas belajar dengan terlebih dahulu melakukan tiga hal utama berikut:

• memosisikan pembelajar sebagai sasaran pengabdian guru dan dosen;
• melayani kepentingan terbaik bagi kemaslahatan pembelajar;
• membekalkan modal yang memberdayakan bagi pembelajar; dan— sebagai penutupnya — akan menawarkan jalan setapak dan berliku menuju pedagogi keshalihan yang berpotensi superior yang dimaksud.  

.

(Maha)siswa sebagai sasaran pengabdian dosen (dan guru)

  Sejak penerimaan pada tahap awal calon guru atau dosen telah seringkali ditekan-tekankan dengan berbagai cara bahwa -– mungkin berbeda dari kelompok profesi yang lain — keguruan merupakan keahlian yang diniatkan untuk melakukan kebajikan bagi orang lain (yakni helping profession). Dalam hal ini, dosen dan guru disiapkan untuk membangun komitmen “mencerdaskan” maha(siswa) yang diajarnya.

Misalnya, ketika mengajarkan suatu konsep atau teori tertentu, dosen akan memikirkan tentang komponen-komponen apa yang penting yang terdapat dalam teori ini yang perlu diketahui dan dikuasai maha(siswa)nya sehingga, seusai belajar, pembelajar ini mengetahui apa yang harus diperhatikan ketika mempelajari teori yang dimaksud. Dengan kesadaran tersebut, mahasiswa pembelajar sedang dilatih bertindak strategis dalam mengerahkan perhatian pada fokus yang dikaji. Dengan cara ini, fokus perhatian diarahkan pada hal-hal yang penting, yang kelak akan — sedikit demi sedikit — membekali mahasiswa dengan kerangka acuan (framework) yang berguna untuk mengembangkan pemahamannya ketika menyaksikan hal-hal (teoretis) serupa yang lain. Demikianlah kejadian serupa ini akan diulang-ulang dalam berbagai kesempatan sehingga dalam diri mahasiswa — cepat atau lambat — akan berkembang pemahaman dan wawasan tertentu tentang yang dipelajarinya. Ilmu pengetahuan, kata para bijak bestari, berkembang dari satu lapis ke lapis berikutnya. Ilmu berkembang sejalan dengan akumulusi pengalaman yang berlapis-lapis. Inilah salah satu alasan sangat penting mengapa — untuk mempelajari konsep-konsep tertentu — diperlukan guru yang strategis dan reflektif.

Dan guru (atau dosen) profesional berani mempertaruhkan diri dan profesionalismenya di garis depan, dengan dukungan penuh ataupun sejauh yang mampu diadakan. Inilah agaknya alasan utama, mengapa di negara sekuler seperti Amerika Serikat, profesi guru dipandang lebih dari sisinya yang non-materiil dan non-monetary, meskipun tidak otomatis berarti spiritual.

.

Melayani kepentinggan terbaik bagi kemaslahatan pembelajar

  Guru (dan/atau dosen) yang baik disiapkan untuk “mempertaruhkan dirinya” untuk tidak-melarutkan-diri pada sekadar apa-apa yang disukai para pembelajar. Tidak otomatis seperti itu. Alasannya bukan karena kata “kesukaan” itu, tetapi pada substansi dan alasan mengapa pembelajar menyukai apa yang disukainya. Misalnya, guru yang baik perlu suatu kali menahan diri untuk mempertanyakan mengapa para pembelajar tertentu menyukai “games” yang menggaet perhatian dan pikirannya.

Dalam hal ini, mungkin guru yang baik bertanya “mengapa pembelajar dapat menginvestasikan waktu berjam-jam” untuk mengeksplor permainan tertentu tetapi sangat hitung-hitungan dengan waktu ketika diminta membaca dan/atau menulis untuk suatu tugas sekolah (yakni pelajaran) tertentu? Dalam kasus ekstrem seperti ini, mungkin guru perlu mengkaji-ulang penugasannya agar — melalui penugasan membaca dan menulis yang diberikan kepada maha(sisawa)nya itu — para pembelajar mengerjakan eksplorasi terhadap games yang sangat disukainya itu. Dan kemudian — sebagai hasil belajarnya itu — para pembelajar dapat diminta melaporkan temuan-temuannya — mengapa suatu permainan dianggap menantang bagi mereka. Poin penting yang hendak diambil di sini adalah bagaimana cara kita menantang pembelajar melakukan sesuatu yang diperlukan dalam kehidupannya baik yang kini maupun yang nanti? Hal semacam ini — dalam studi pendidikan — disebut desain tugas.

Bisakah, demi kemaslahatan pembelajar, kita sebagai guru (termasuk dosen) menginvestasikan waktu yang lebih baik untuk meningkatkan daya tarik tugas baca-tulis yang diberikan kepada (maha)siswanya dengan cara membuat desain tugas yang lebih menantang? Inilah — saya kira — kuncinya mengapa seorang profesor di USA sampai-sampai mencanangkan akan menginvestasikan waktu dan dana penelitiannya untuk mempelajari desain tugas yang “dikandung dalam bius daya-tarik games” yang dikatakan mencandukan itu.

Dengan contoh ini saya bermaksud memberikan gagasan kepada pembaca bahwa, untuk dapat menarik minat baca-tulis para pembelajar, kita perlu usaha ekstra dan modal tambahan supaya para pembelajar —yang notabene belum mentas pendidikan itu memiliki elan belajar seperti guru dan dosen profesional, yang telah memodali dirinya menjadi contoh-nyata bagi dedikasi yang militan itu.

.

Membekalkan modal pemberdayaan bagi pembelajar

  Dalam berbagai penelitian kependidikan besar yang kemudian masuk ke dalam daftar teori terpilih dalam handbooks (yang di tengah para pendidik dunia dilabeli “teori inti”) itu, penelitian dengan desain yang rapih dan memiliki dampak besar (consequential) seringkali dapat mengguncangkan pemikiran para ahli. Hal ini perlu mendapat perhatian kita supaya kita paham bahwa teori yang kuat memperoleh tempat terhormat. Ini dapat menjadi teori induk pada zamannya.

Sehubungan dengan pemberian “modal” bagi pemberdayaan pembelajar yang kita gadang-gadang kelak akan menjadi calon generasi penerus bangsa yang menjadi sandaran bangsa Indonesia di masa depan, proses pendidikan harus dijaga dari kemungkinan tergoda “latah karena kebaruan”. Tegasnya, dosen dan guru profesional harus mampu “membaca” gerak zaman. Kita harus mampu membaca “mana emas dan mana loyang” sehingga kita mampu menginvestasikan energi nasional secara strategis.

Yang dimaksud dengan teori yang berwibawa biasanya tidak berbicara pada tataran permukaan, tetapi secara substantif menukik ke akar masalah. Sebagai contoh kita dapat memosisikan generasi Z di bawah “lampu sorot”. Apakah sebenarnya yang diperlukan pembelajar “lintas generasi” dari pre-boomer, baby boomer, generasi X, generasi milenial, generasi Z, dan pasca-generasi Z” ?

Para peneliti pendidikan yang serius tidak akan terburu-buru ‘menyambar” kilauan istilah-istilah baru dan menginvestasikan dana publik untuk mengejarnya tanpa kehati-hatian yang diperlukan sebagai bagian dari sikap keilmiahan seorang peneliti profesional. Yang dimaksud di sini adalah wanti-wanti keilmiahan agar menahan diri untuk tidak membicarakan sesuatu yang belum jelas realitas “juntrungannya”. Apa yang harus dilakukan supaya kita mampu membedakan “yang mana emas yang mana loyang”?

Dari studi tren-tren perkembangan pemikiran lintas zaman akan tampak bahwa ada perubahan-perubahan di “permukaan” dan ada perubahan yang “mengakar”. Dari pengenalan dan pembedaan dua kategori ini kita akan — secara berlahan-lahan — mengenali ciri-ciri yang substantif-paradigmatis dan membedakannya dari gejala musiman (fads) belaka.

Kalau demikian adanya, apakah modal yang seyogianya kita bekalkan kepada para pembelajar yang kita jagokan akan menyelamatkan Indonesia di masa depan? Jawabannya adalah kemampuan membaca cermat dan menelisik jauh ke dalam dan di-bawah-permukaan. Apakah yang sebenarnya berada di bawah permukaan dari kemampuan bermain dengan teknologi? Dapatkah kita kenali kompetensi-kompetensi esensialnya? Apakah kita dapat mengenali komponen teoretis yang membangunnya?

Kalau kita sebagai elit pemikir teknologi dan pengembang teori pemikiran abad ini mampu membaca kemungkinan yang relatif “pasti” tentang apa yang akan diperlukan dalam ranah “lintas generasi pembelajar” itu, kita tak ayal lagi akan memperoleh anugerah “Hadiah Nobel” di waktu dekat ini. Akan tetapi — sayangnya — situasi dan kebiasaan pemikiran pendidikan di Indonesia masih “jauh panggang dari api.” Oleh karena itu — untuk mengutip pepatah yang mengajarkan sikap realistis yang sudah nyaris dilupakan — lebih baik kita “mendayung perahu kita yang bocor ke tepian dulu untuk kemudian menambal yang bocor-bocor hingga benar-benar rapat, dan baru kemudian kita turut masuk ke samudera luas” untuk turut berpartisipasi bergerak-bersama-yang-lain ke tengah samudera.

Yang hendak disarankan oleh tulisan ini sebenarnya sederhana: lebih baik belajar menertibkan cara berpikir dan bertindak dulu secara seksama dari suatu tahap ke tahap yang lain, daripada mengesankan kesiapan partisipasi dalam lomba yang akan membawa kita kepada kegagalan performansi seperti yang telah nyata-nyata diperlihatkan dalam status peringkat literasi kita di tengah dunia yang benar-benar menyulitkan kita untuk mampu “berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah” di tengah-tengan warga dunia.

Bekali pemuda pembelajar yang ada di sekolah dan perguruan tinggi kita dengan kemampuan berpikir sistematis dan realistis dan ajak mereka memikirkan apa yang terbaik bagi kita di Indonesia. Barangkali, keberanian menahan diri semacam inilah yang akan membuahkan kemajuan bagi Indonesia di masa datang.

.

Jalan setapak dan berliku menuju keshalihan yang diidam-idamkan

    Dalam studi pendidikan dan keguruan terdapat berbagai lapisan konsep yang dianggap sangat fundamental: ada teori, ada konsep, ada metode, ada pendekatan. Ruangan terbatas pada majalah ini jelaslah tidak memungkinkan kita membicarakan semuanya. Bahkan pada bagian ujung tulisan ini hanya sepintas saja “pedagogi amal shalih” ini akan dibicarakan.

Apa itu pedagogi amal shalih yang digadang-gadang sebagai jalan ke luar bagi kemelut perjuangan mencari makna pamuncak bagi kebermaknaan perbekalan bagi ikhtiar pendidikan di Indonesia? Pedagogi dalam tulisan ini dimaknai sebagai bagaimana seorang dosen (atau guru) memahami bagaimana murid yang dididiknya belajar. Pedagogi mengarahkan bagaimana interaksi antara guru dengan murid yang diajarnya memiliki dampak besar terhadap pikiran para pembelajar itu. Pedagogilah yang membuat para guru dan profesor memilih mengonsentrasikan perhatian pada hal-hal yang relevan bagi keperluan dan kemaslahatan besar bagi pembelajar. Pedagogilah yang memberikan kepada guru sejati semangat membara untuk bertahan dan tetap bersemangat memberikan upaya pemberdayaan terhadap maha(siswa) yang diajarnya — meski dalam kemelut krisis kepercayaan diri yang menggerus karena bertubi-tubi diterpa kekalahan kompetisi di berbagai lini.

Selain posisi krusial yang ditempati pedagogi dalam konstelasi sistem pemikiran pendidikan, terdapat berbagai pendekatan yang memotori gerak dan ruh pedagogi yang dikenal dalam khazanah dan literatur penelitian pendidikan yang serius. Lima pendekatan yang telah survive dalam kompetisi global lintas generasi antara lain adalah yang berikut: perspektif konstruktivisme (constructivist perspective), pendekatan kolaborasi (collaborative approach), pendekatan terintegrasi (integrative approach), pendekatan reflektif (reflective approach), dan pembelajaran berbasis penelitian (inquiry-based learning).

Seperti tercermin dalam nama konsep pada masing-masing pendekatan pedagogi yang lima buah ini, setiap teori belajar mengusung keyakinan yang memosisikan (maha)siswa sebagai agen pembelajar yang aktif dan artikulatif, yang semuanya memperlakukan peserta didik sebagai pelaku aktif pembelajaran. Anggapan yang umum pada pedagogi mutakhir ini — sayangnya — frontal bertolakbelakang dengan praktik pembelajaran yang dominan di sebagian besar sektor pembelajaran di republik ini. Kalau anggapan ini akurat, usulan perbaikan ini akan mengundang gagasan perproyekan nasional di negeri ini, yang dikuatirkan akan memancing etos-kerja serupa yang telah terjadi sebelum-sebelumnya, kalau tidak didahului dengan pertobatan nasional.

Dengan diwarnai kekuatiran yang belum sepenuhnya hilang dari ingatan, tulisan ini akan mengakhiri sajian dengan himbauan yang disampaikan Redaksi Komunita edisi sekarang ini, bahwa dua hal menjadi syarat sukses bagi Indonesia mendatang: pemberdayaan sumberdaya dan kepemimpinan yang menyokong sistem pendidikan dan persekolahan yang bersih. Dengan semangat taat aturan dan mengharap berkah Allah SWT yang maha kuasa dan maha melihat, usulan pengusungan pedagogi amal shalih ini pantas dipancangkan di depan khalayak pembaca Komunita di penghujung tahun 2021 ini.

Semoga diberkati Allah SWT selalu. *****

.

.

PENDIDIKAN TINGGI: MEMBEKALI GEN Z DI TENGAH TRANSFORMASI DIGITAL DAN ERA VUCA

.

.

PENDIDIKAN TINGGI:

MEMBEKALI GEN Z DI TENGAH TRANSFORMASI DIGITAL DAN ERA VUCA

.

  

  Komitmen kuat dan konsistensi melakukan Transformasi Digital sebuah keniscayaan mensikapi Industri 4.0. Dalam kaitan itu membangun sumber daya manusia yang tangguh melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan dan karakter saangat penting agar kompetensi mereka tetap relevan dan lincah (agile) dalam menghadapi tantangan era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity). VUCA merupakan gambaran situasi global saat ini, yang dipicu pesatnya kemajuan teknologi informasi.

  Pendidikan tinggi salah satu jenjang pendidikan dan pembelajaran dalam mempersiapkan sumber daya manusia berkualitas dan tangguh. Karena itu urgensi melakukan evaluasi dan adaptasi sistem pendidikan tinggi melalui pengembangan kurikulum yang sesuai dengan dunia usaha dan industri (DUDI) merupakan sebuah tuntutan. Kondisi tersebut bertepatan dengan Generasi Z /Gen Z dengan karakter tersendiri yang saat ini memasuki pendidikan tinggi.

  Dalam konteks pendidikan, pemahaman tentang karakteristik setiap generasi menjadi penting untuk menentukan bagaimana strategi pendidikan yang efektif diberikan kepada peserta didik. Tujuannya tidak sekadar capaian akademik dan pedagogik, tetapi juga bagaimana proses pendidikan mampu menumbuhkan karakter dan kecintaan peserta didik terhadap aktivitas belajar, serta mengembangkan kompetensi yang memadai. Saat ini, sebagian besar dari Gen Z berada pada jenjang pendidikan tinggi. Ini berarti, penyesuaian sistem pembelajaran dalam ruang-ruang pendidikan tinggi harus mempertimbangkan karakteristik Gen Z agar sesuai dengan kebutuhan mereka, sekaligus dunia usaha dan industri (DUDI) tanpa mengesampingkan minat dan habituasi mereka sebagai sebuah kelompok generasi.

  Bertepatan pula Indonesia tengah berada pada periode Bonus Demografi. Sensus 2020 menunjukkan komposisi penduduk Indonesia sebagian besar berasal dari Generasi Z/Gen Z (generasi yang lahir antara tahun 1997 sampai dengan 2012) sebanyak 27, 94% atau 74, 93 juta. Sementara Generasi Milenial yang diharapkan menjadi motor pergerakan masyarakat saat ini lebih sedikit, yaitu 25, 87% atau 69, 38 juta dari total penduduk Indonesia.

Karakter Gen Z di Indonesia, Melek Teknologi dan Tidak Lihat Materi   Maknanya, keberadaan Gen Z memegang peranan penting dan memberikan pengaruh pada perkembangan Indonesia saat ini dan ke depan. Ini tentunya tantangan di tengah ketidakpastian bagi pendidikan tinggi dan perguruan tinggi yang merupakan terminal akhir pendidikan dalam membangun SDM yang berdaya saing dengan kompetensi sesuai kebutuhan.   Peserta didik kini adalah Gen Z dengan karakter yang berbeda dari generasi sebelumnya. Bagaimana perguruan tinggi merespon tumbuh kembang Gen Z serta era VUCA. Perguruan tinggi perlu merenungkan karakter Gen Z, serta fenomena pergeseran kompetensi lulusan perguruan tinggi dalam memenuhi dunia kerja saat ini dan mendatang. Perguruan tinggi dituntut menemukan dirinya, antara paradigma lama dan paradigma baru yang tidak pasti. Namun dapat dipastikan pendidikan tinggi memerlukan pembaharuan dalam dimensi: pedagogi (PEKERTI maupun AA), kurikulum, pengajaran, sekolah dan pembelajaran dalam mengkatalisasi paradigma baru pendidikan tinggi yang dituntut bermuatan penelitian dan inovasi, solidaritas, kerjasama, pembangunan karakter, maupun entrepreneur, sehingga pendidikan tinggi berdaya membekali dan menguatkan kompetensi lulusannya. Maka paradigma baru pendidikan tinggi dan pengajaranpun menjadi penting untuk menjadi titik perhatian.

  Kami menemui dua tokoh pendidik tinggi yang puluhan tahun bergelut dalam dunia pendidikan tinggi yang telah memahami, memaknai, melaksanakan, merasakan, dan menghayati bagaimana menyelenggarakan, mengelola pendidikan tinggi serta mendidik generasi demi generasi agar muncul sosok generasi unggul dan berkarakter. Generasi lalu sampai kini Gen Z yang bertepatan dengan hadirnya era VUCA ini.

.

MENGUBAH PARADIGMA PENDIDIKAN TINGGI

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Prof. Dr. B. S. Kusbiantoro

Ketua Dewan Pakar ABP PTSI Pusat, juga

Pengurus Yayasan Universitas Katolik Parahyangan

.

  Pak Kus kami memanggil adalah sosok Guru yang sabar, tabah, rendah hati, dan amanah itulah kesan pertama pada beliau. Perkenalan kami dengan Prof. B.S. Kusbiantoro, Ph. D. sudah cukup lama sejak mulai aktif di Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia. Kami sangat tertarik dengan pemikiran-pemikiran beliau selaku Dewan Pakar ABP PTSI tentang pendidikan tinggi dan penyelenggaraan perguruan tinggi. Pemikirannya senantiasa kami simak dan maknai. Puncaknya pada Rakernas ABP PTSI di Serang tanggal 19 – 20 November 2021 kami tergugah akan paparan beliau berkaitan dengan Kompetensi, Kolaborasi, dan Inovasi Pendidikan Tinggi.

  Kami menghubungi beliau mohon waktu berbincang tentang Generasi Z dan Pendidikan Tinggi. Beliau dengan sangat terbuka dan rendah hati bersedia berbagi pandangan dan pemikiran terkait topik tersebut, walaupun beliau masih dalam kesehatan yang belum stabil. Terima kasih Prof. B.S. Kusbiantoro, Ph.D. Berikut bincang-bincang kami dengan beliau.

.

Komunita: Perspektif Bapak tentang Industri – 4.0, juga Generasi Z yang saat ini sedang mengenyam pendidikan tinggi ?

.

Prof. B.S. Kusbiantoro, Ph. D.: Industri 4.0 identik dengan “kompetensi” (dalam arti luas) yang dibutuhkan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) yang makin beragam dan makin dinamis, termasuk akan adanya beberapa “kompetensi” baru yang sekarang belum ada. Misal tahun 2030, di Indonesia akan ada 10 juta lapangan kerja yang sekarang belum ada (McKinsey & Co, 2019), 60 % lapangan kerja yang akan datang sekarang belum ada, 40 % anak nantinya harus bisa bekerja mandiri – self-employed (WEF Future of Jobs Report, Krisnan, 2020).

  Dinamika tersebut mendorong DUDI. Pertama, DUDI makin cenderung untuk langsung menerima lulusan siap kerja ketimbang siap latih (DUDI harus cepat berproduksi/menghasilkan, waktu makin terbatas/tidak ada waktu untuk melatih pekerja baru); DUDI mulai cenderung memberi bobot lebih pada kompetensi (siap kerja) ketimbang gelar akademik (siap latih). Kedua, DUDI harus lincah – tidak mungkin “membesarkan SDM-nya” secara menerus (disamping berbiaya tinggi), untuk ini DUDI melakukan outsource untuk memenuhi makin besar dan tingginya dinamika perubahan kompetensi yang dibutuhkan. Pada sisi lain, dengan perkembangan teknologi digital, pekerja dimungkinkan untuk bekerja dimana saja dan kapan saja (‘bebas’ secara spasial dan temporal), pekerja mulai bekerja sebagai pekerja paruh-waktu – multi-jobs dsb. Kedua hal tersebut memunculkan “Gig Economy”, yakni DUDI cenderung outsource pekerja, dan pekerja juga cenderung part-time/freelance/multi-jobs.

  Dengan makin besar dan tingginya dinamika perubahan di atas, peserta didik dituntut untuk belajar secara menerus mempersiapkan diri dengan kompetensi dan/atau gelar yang disertai dengan kompetensi yang dibutuhkan, yang memungkinkan mereka siap kerja (termasuk sebagai pekerja freelance) dan/atau kerja mandiri.

.

Komunita: Problematika pendidikan tinggi terkait Industri 4.0 dan Generazi Z ?

.

Prof. B.S. Kusbiantoro, Ph. D.: Dunia pendidikan tinggi diwarnai dengan makin besar dan tingginya dinamika perubahan “sisi demand” dan “sisi supply” akibat makin besar dan tingginya turbulensi berbagai disrupsi (industri 4.0, pandemi, dsb),

  Sisi demand sebagaimana saya sebut di atas. Sedang Sisi supply adalah semakin meledaknya perkembangan Massive Open Online Courses (MOOC), munculnya program pendidikan tinggi sertifikasi/tanpa gelar dari beberapa korporasi besar dunia yang memungkinkan bagi peserta didik untuk siap kerja serta lebih terjangkau (finansial, waktu, dsb). Dengan makin besar dan cepatnya perubahan di atas, masalah terbesar dikti adalah: pertama, kompetensi lulusan tidak sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan DUDI masa mendatang; kedua, masa studi, biaya dan lain sebagainya tidak kompetitif dibandingkan dengan munculnya berbagai program pendidikan tinggi dalam bentuk lain (MOOC, sertifikasi dsb). Sebagai catatan: pendidikan tinggi pada umumnya dikembangkan berdasar revolusi Industri, (terutama industri 1.0 dan industri 2.0), a.l. untuk melayani pabrik – produksi massal, efisiensi, standar produk, profesi/spesialisasi tertentu, dsb. Pada gilirannya, kompetensi lulusan tidak sesuai dengan makin besar dan tingginya dinamika kebutuhan DUDI pada era turbulensi disrupsi kini.

  Masalah di atas ditambah dengan berbagai masalah lain, diantaranya: Rendahnya mutu banyak PT. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi nasional era 1980-an menuntut kebutuhan akan lulusan pendidikan tinggi yang tidak dapat dipenuhi oleh PTN. Hal ini mendorong meledaknya pertumbuhan PTS, tanpa adanya pengawasan yang ketat yang akhirnya memunculkan berbagai masalah rendahnya mutu banyak PT. Berikutnya, “Ranking”, akreditasi dan sejenisnya tanpa mutu. Ada salah kaprahnya penetapan ranking, akreditasi dan sejenisnya sebagai tujuan utama yang rentan akan “rekayasa” untuk pencapaiannya, dan sekaligus rentan berseberangan dengan tujuan mulia pendidikan tinggi. Ranking dan sejenisnya seyogyanya merupakan sarana dalam rangka mencapai tujuan akhir pendidikan tinggi (terkait visi-misi PT masing-maisng). Juga, “Gelar” tanpa kompetansi. Munculnya semacam “feodalisme baru”, yakni mengejar gelar ketimbang “kompetensi”, bahkan Profesor sebagai “jabatan” diperlakukan sebagai gelar tertinggi.

.

Komunita: Dalam konteks Industri – 4.0, serta Generasi Z, bagaimana kita memaknai 3 fungsi pendidikan tinggi – (a. kembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat; b. kembangkan sivitas akademika yang inovatif, responsif, kreatif, terampil, berdaya saing, dan kooperatif; c. kembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan memperhatikan dan menerapkan nilai humaniora) ?

.

Prof. B.S. Kusbiantoro, Ph. D.: Dalam era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity) makin krusial bagaimana menyiapkan peserta didik untuk mampu menghadapi makin besar serta tingginya dinamika perubahan. Yakni bagaimana proses belajar-mengajar (learning to know, learning to do, learning to live together, learning to be) yang memungkinkan peserta didik, antara lain: Pertama,

belajar menerus – siap adaptasi secara menerus; Kedua, terkait learning to know & learning to do (yang rentan tergeser) – belajar bukan hanya terbatas “bidang keilmuannya” (T-shape learning); Ketiga, terkait learning to live together & learning to be – belajar bukan hanya terbatas kegiatan kurikuler, termasuk lintas bidang keilmuan, tetapi memadukan juga dengan kegiatan ko/extra-kurikuler (kuliah di PT lain, magang di DUDI, aspek humanoria – disiplin, etika, moral dsb – lewat tari, musik, olah raga, dlsb); Keempat, belajar sampai dengan level 6 Taxonomi Bloom (agar tidak dilindas mesin cerdas); Kelima, belajar terkait keberagaman SDA-SDM unggulan berbagai PT (pertukaran mahasiswa, dlsb) – bangga – cinta tanah air dan seterusnya; Keenam, bagaimana melibatkan peserta didik dalam kegiatan tridharma terpadu lintas bidang keilmuan – termasuk keselarasan ilmu – iman – moral.

  Melalui proses belajar-mengajar di atas, diharapkan 3 fungsi pendidikan tinggi di atas dapat tercapai. Sebaiknya dengan beberapa catatan. Pertama, Proses belajar-mengajar pendidikan tinggi tiap PT diharapkan memunculkan warna unggulan PT dengan SDA-SDM wilayah terkait, untuk memungkinkan peserta didik “belajar” tentang kekayaan/keberagaman SDA-SDM dari berbagai wilayah (tak kenal – maka tak sayang, untuk meningkatkan kebanggaan/cinta tanah air dsb); sekaligus sebagai kontribusi nyata PT yang relevan bagi masyarakat berdasar masalah/potensi SDA-SDM wilayah terkait. Kedua, Kita dalam era Bonus Demografi, hingga peran PT sangat krusial bagaimana kompetensi lulusan sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan DUDI mendatang, antara lain dalam rangka mencegah Bonus Demografi menjadi kutukan demografi. Ketiga, Tetapi peran PT dengan tridharma-nya tidak hanya menghasilkan lulusan yang dapat memberikan dampak bagi DUDI, melainkan juga bagi masyarakat keilmuan (misal S1 yang disiapkan untuk S2-S3), dan juga bagi masyarakat umum (misal untuk berkarya di lembaga sosial, heritage, lingkungan, dlsb).

.

Komunita: Apakah orientasi pendidikan tinggi perlu diubah atau perlu visi baru ? Kemana fokus orientasinya ? Apakah seirama dengan “Merdeka Belajar – Kampus Merdeka”?

.

Prof. B.S. Kusbiantoro, Ph. D.: Dalam era VUCA – ketimbang terjebak mengejar ranking/akreditasi dsb. – yang rentan berubah/tergeser dsb. – seyogyanya – back to basics – apa visi – kontribusi nyata PT dengan tridharma-nya (pendidikan dna pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat) bagi masyarakat. Yakni bagi; a) masyarakat masa kini (DUDI, masyarakat keilmuan, masyarakat umum); b) masyarakat masa yang akan datang (lingkungan alam yang merupakan titipan generasi mendatang, dsb); c) masyarakat masa lalu (lingkungan buatan bernilai sejarah yang merupakan warisan nenek moyang, dsb) baik dalam tataran lokal, nasional, global. Sedang arah/semangat MBKM “benar” (sejiwa dengan proses belajar-mengajar di atas), dengan catatan pelaksanannya jangan sampai terlalu rinci/kaku dengan beban administratif terlalu banyak dsb.

.

Komunita: Upaya faktual dan konkrit Perguruan Tinggi/PT selaku institusi pendidikan tinggi, juga dosen selaku pendidik mewujudkan ketiga fungsi pendidikan tinggi di tengah disrupsi digital, sekaligus membekali Generasi Z menyongsong masa depan mereka ?

.

Prof. B.S. Kusbiantoro, Ph. D.: Tugas, tanggung jawab, wewenang Yayasan selaku badan penyelenggara (bersama PT selaku badan pengelola) untuk menetapkan visi – kontribusi nyata bagi masyarakat dsb. Tugas, tanggung jawab, wewenang PT untuk menghasilkan kuantitas dan kualitas peserta didik yang mampu memberikan dampak tsb; menyiapkan dana tau melaksanakan proses belajar-mengajar terkait (the required processes), dan Yayasan (bersama PT) menyiapkan apa yang dibutuhkan untuk semuanya (the needed inputs). Misal: a) untuk proses belajar-mengajar tersebut dibutuhkan dosen dengan “kompetensi” tertentu, bagaimana hal ini disiapkan dst. – dalam program capacity building terkait serta anggarannya dst. b) untuk proses belajar-mengajar tersebut dibutuhkan infra penunjang yang seperti apa, dst. c) dll. Berdasar hal di atas disusun Renstra dst.

.

Komunita: Bagaimana pengembangan terkait jurusan/prodi, kompetensi, kurikulum, model & substansi pembelajaran serta lainnya dalam membekali Gen Z agar mereka mampu mandiri atau match dengan dunia kerja ?

.

Prof. B.S. Kusbiantoro, Ph. D.: Pada satu sisi, program studi menuntut terpenuhinya kompetensi keilmuan terkait. Pada sisi lain, dalam era VUCA peserta didik harus dibekali dengan berbagai kompetensi “lain” (T-shape learning dsb), termasuk kegiatan ko/extra-kurikuler (dalam rangka peserta didik siap untuk antisipasi menerus makin besar serta tingginya dinamika perubahan, termasuk kemungkinan tergesernya kompetensi program studi terkait).

  Hal ini tentunya merupakan PR/pekerjaan rumah bagi tiap PT untuk menyelaraskan hal di atas. Selain itu, Sistem regulasi seyogyanya juga harus cukup lugas agar memungkinkan tiap PT melakukan penyelarasan tsb.

.

Komunita: Harapan dan pesan terhadap pemerintah, pimpinan PTS, dosen dan mahasiswa, juga orang tua dalam rangka memberikan pembelajaran yang tepat bagi Gen Z tersebut ?

.

Prof. B.S. Kusbiantoro, Ph. D.: Memang kita perlu mencermati dan memaknai dinamika perubahan ini dengan beberapa hal berikut.

• Pertanyaan orang tua bagi peserta didik dan/atau pertanyaan bagi peserta didik sendiri adalah: ingin ikut kontribusi apa bagi masyarakat (misal, dalam bidang energi terbarukan, pelestarian lingkungan, dlsb), dan bukan ingin ranking 10 besar, atau ingin menjadi “profesi” tertentu, dsb. Karena ranking, profesi dsb, rentan tergeser oleh kompetensi baru yang sekarang belum ada, tapi bakal ada.
• Bagi Yayasan/PT – ingin ikut kontribusi apa bagi masyarakat (dan bukan ingin ranking 200 besar/akreditasi internasional dlsb. Ranking dsb. adalah sarana untuk mencapai tujuan dst). Selanjutnya bagaimana Yayasan/PT menyiapkan proses-belajar yang seperti apa dan berbagai input yang dibutuhkan; termasuk bagaimana dosen menyiapkan diri untuk proses belajar-mengajar tsb.
• Untuk pemerintah, bagaimana agar memungkinkan PT untuk “to be itself, but better, better, and better” dst. dengan catatan sebagaimana diuraikan dalam butir-butir sebelumnya. (lili_irahali – 23 November 2021)

.

CIPTAKAN KARAKTER UNGGUL PT

Prof. Dr. Endang Komara, M.Si.

Ketua Paguyuban Guru Besar LLDIKTI Wilayah IV

Guru Besar ASN LLDIKTI Wilayah IV Dpk – STKIP Pasundan, juga Ketua Senat Universitas Nurtanio Bandung.

  Prof. Endang – guru besar Sosiologi Pendidikan adalah sosok pencerah yang mendorong peserta didik untuk senantiasa menggapai mendidikan sebagai keniscayaan. “Life Long Education” , pendidikan seumur hidup, pendidikan tidak memandang usia itulah yang selalu didengungkan kepada peserta didik dan siapapun. Kami berkenalan dengan beliau ketika berkecimpung di organisasi ABP PTSI Jawa Barat, sekaligus guru kami.

  Kami menghubungi beliau mohon waktu berbincang tentang Generasi Z dan Pendidikan Tinggi. Beliau dengan spontan bersedia memberikan pandangan dan perspektif terkait topik tersebut. Berikut bincang-bincang kami.

.

Komunita: Perspektif Prof. Endang selaku pendidik menyikapi Industri 4.0 berkaitan dengan Generasi Z.

.

Prof. Endang Komara: Saya mencoba merumuskan dua konsep untuk membekali generasi Z/Gen Z di tengah industri 4.0. Pertama, berdasar hasil sensus tahun 2020 ada 6 (enam) generasi di Indonesia yakni: veteran generation (mereka yg lahir thn 1925-1946), kemudian generasi kedua – baby boomer (lahir thn 1946–1960 sekitar 21.88 % dari 272 juta penduduk Indonesia), ketiga – generasi X (lahir thn 1960-1980 itu ada sekitar 21.88 %), keempat – Generasi Y atau generasi milenial (lahir thn 1980-1995 berusia 24-39 tahun, sekitar 28.87 % atau 69.39 juta penduduk), dan kelima – Generasi Z (lahir thn 1995-2010 berusia 8-23 tahun, ada 27.94% atau 75.49 juta penduduk dan merupakan generasi terbanyak saat ini), dan terakhir yang keenam – Generasi Alpha (lahir thn 2010- keatas). Generasi Z disebut juga Generasi Net atau Generasi Internet. Mereka memiliki kesamaan dengan generasi Y, tapi mereka mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu seperti nge-tweet, menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik dengan menggunakan headset, apapun yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya sejak kecil sudah mengetahui teknologi gadget canggih yang secara tidak langsung berpengaruh pada kepribadian manusia.

  Karakteristik Generasi Z yang pertama fasih teknologi/kids safey/web safy atau Friendly generation. Mereka adalah generasi digital yang mahir dan gandrung akan teknologi informasi dan berbagai aplikasi komputer. Mereka dapat mengakses informasi yang mereka butuhkan secara mudah dan cepat, baik untuk kepentingan pendidikan, maupun kepentingan kehidupan keseharian lainnya. Kedua, aspek sosial mereka sangat intens berinteraksi melalui media sosial dengan semua kalangan khususnya teman sebaya, melalui berbagai situs jejaring seperti facebook, instagram, twitter, SMS. Melalui media ini mereka bisa mengekspresikan apa yang dirasakan dan dipikirkannya secara spontan. Ketiga Ekspresif, mereka cenderung toleran dengan perbedaan kultur dan sangat peduli terhadap lingkungan. Keempat multitasking, mereka terbiasa dengan berbagai aktifitas (menonton, membaca, berbicara, atau mendengarkan musik) dalam waktu bersamaan. Kelima, cepat berpindah dari satu pemikiran/pekerjaan ke pemikiran/pekerjaan yang lain atau fast Switcher. Keenam, senang berbagi.

  Revolusi industri 4.0 merupakan fenomena yang mengkolaborasikan teknologi cyber dan teknologi robotic, konsep penerapan automatisasi teknologi tanpa memerlukan tenaga kerja manusia dalam proses mengaplikasikannya untuk menambah nilai efisiensi pada suatu lingkungan kerja dimana manajemen waktu dianggap sebagai sesuatu yang vital dan sangat dibutuhkan bagi pemain industri. Revolusi industri 4.0 memanfaatkan teknologi pada bidang industri adalah proses pembukuan dan produksi yang kini bisa dengan mudah diakses oleh siapa saja dan kapan saja.

  Revolusi industri 4.0 mengandung sembilan pilar utama teknologi yang mengembangkan sebuah industri menuju industri yang siap digital. Pertama, Internet of Thing (IoT) yakni alat yang terhubung dengan internet dan saling terintegrasi; kedua, Big Data yaitu istilah yang menggambarkan volume data yang besar baik terstruktur maupun tidak terstruktur; ketiga, Argumented reality yakni teknologi yang menggabungkan benda maya 2Dimensi atau 3Dimensi ke dalam sebuah lingkungan nyata 3D lalu memproyeksikan benda maya tersebut dalam waktu yang nyata; keempat, Cyber Security yakni upaya untuk melindungi informasi dari adanya cyber attack; kelima, Artificial Intelligence yaitu beberapa produk teknologi yang berinteraksi langsung dengan manusia; keenam, Addictive Manufacturing yakni terobosan baru di industri manufaktur yang sering dikenal dengan menggunakan prinsip 3D; ketujuh, Simulation mewakili operasinya dari waktu ke waktu seperti simulasi teknologi untuk optimalisasi kerja, teknik seperti simulasi keselamatan, pengujian, pendidikan, pelatihan, video games; kedelapan, System Integration; kesembilan, Cloud Computing yaitu komputasi awan menjadikan internet sebagai pusat pengolahan data dan aplikasi.

  Kemudian hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Informasi Indonesia (APJII) pada tahun 2017 menunjukan sekitar 143.26 juta jiwa penduduk Indonesia menggunakan internet. UU No 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), dan UU No 40 thn 2008 tentang penghapusan diskrimasi Ras dan Etnis serta tindakan ketika ujaran kebencian telah mengakibatkan terjadinya konflik sosial. Motif seseorang menyebabkan HOAKS ada bermacam bisa karena uang, politik, ideologi, kebencian, ataupun hanya iseng semata.

  Karena itu, Gen Z perlu mengetahui etika dalam ber-media sosial. Pertama, jangan mengumbar hal pribadi. Kedua, hindari kata-kata kotor, debat kusir, hasutan, dusta, dan opini negative. Ketiga, jangan menyebarkan konten pornografi dan SARA (saya mendengar di radio nasional pagi ini, tidak boleh menayangkan gambar mengarah pornografi baik di facebook, atau platform internet lainnya, akan dikenakan sanksi). Keempat, sharing (sebelum sharing harus sesuai dengan UU ITE). Kelima, jangan plagiat (UU Hak Cipta). Keenam, Pahami konten menyeluruh. Ketujuh, Opini dengan fakta dan data. Kedelapan, tidak boleh menggunakan nama samaran (UU KUHP Pasal 378).

.

Komunita: Dunia pendidikan mengalami problematik dalam menghadapi Industri 4.0 dan kehadiran Generasi Z. Dimana hal yang paling krusial ?

.

Prof. Endang Komara: Permasalahan pendidikan baik di tingkat Dasar, Menengah, atau Perguruan Tinggi, menurut hemat saya ada 3 hal yaitu: 1) pemerataan; 2) peningkatan kualitas; 3) Daya Saing. Dalam kaitan itu Industri 4.0 dan membekali Gen Z adalah bagaimana menciptakan karakter unggul di Perguruan Tinggi dengan enam kata kuncinya.

  Pertama, Merdeka dalam belajar. Di PT pada Kampus Merdeka – Merdeka Belajar yang memiliki tiga ukuran, yaitu: melalui Blended learning/ hybrid learning, PJJ, serta diterapkannya Permendikbud No. 3 Tahun 2020, dimana mahasiswa diberikan hak belajar di luar program studinya selama 3 semester, 1 semester di dalam PTnya dan 2 semester di luar PTnya.

  Kedua, Pengembangan kepemimpinan. Perlu pembinaan dan penyampaikan pemahaman tentang kepemimpinan. Karena Gen Z yang lahir mulai tahun 1995 – 2010 berarti sekarang sudah hampir 21 tahun dan memasuki Perguruan Tinggi. Maka kepemimpinan/leadership harus diperkenalkan kepada mereka. Apalagi kalau berbicara kepemimpinan ideal. Siapapun yang memberikan peringkat, Rasulullah Muhammad pasti diberikan peringkat yang pertama karena beliau Rahmatan lil alamin dan memiliki tabiat dan karakter shiddiq, tabligh, amanah, fathonah. Itu yang menurut hemat saya diperkenalkan kepada mereka dengan harapan di masa depan bisa menjadi pemimpin yang seperti itu.

  Ketiga, Pendampingan Dosen atau Dosen Penggerak. Di Indonesia ini tidak kurang dari 4.300 PT, 200 nya adalah PTN. Berarti begitu besar PTS. Bahkan ada sekitar 1.650-an PTS yang terindikasi “tidak sehat”. Kalau melihat di Tiongkok jumlah universitas sekitar 2.300-an (separuh dari Indonesia). Menurut hemat saya pendampingan dosen ini menjadi salah satu upaya tadi, supaya betul-betul PT terutama di Jawa Barat dan Banten bisa meningkatkan kualitasnya. Sampai hari ini institusi yang sudah memiliki Akreditasi Unggul baru lima (UNPAS, UNISBA, UNPAR, U-Tel, Universitas President). Mudah-mudahan selanjutnya Universitas Widyatama, dan ITENAS berpeluang mendapatkan Akreditasi Unggul. Itu yang berhubungan dengan Pendampingan Dosen atau Dosen Penggerak.

  Keempat, General Education, dengan cara para mahasiswa diberikan wawasan kebangsaan. Di dalamnya menyangkut Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, NKRI. Dan saya pikir General Education ini harus diberikan di semester awal. Ketika mereka ada transisi pengenalan antara SMA dan PT, disitula eventnya. Jadi pendidikan bela negara termasuk wawasan kebangsaaan harus disampaikan. Dengan harapan mereka menjadi generasi muda yang memiliki empat paradigma kebangsaan.

  Kelima, Pemerintah mendorong entrepreneurial mindset bagi pendidikan tinggi. Jadi tidak salah kalau di PT setiap prodi antara 2 – 4 SKS memiliki pemahaman entepreneurial mindset, agar setelah lulus nanti tuntutan kehidupan mereka jangan hanya menjadi Pegawai Negeri. Mindset pemahaman wirausahawan terbangun. Jika dibandingkan negara tetangga, wirausahawan Indonesia masih rendah sekitar 0.2%, dibandingkan Malaysia, Singapore, Korea (sudah 5% diatas dari total jumlah penduduk).

  Keenam, Pembelajaran sepanjang hayat. Sesuai tuntutan hadits dan filosofi Pendidikan bahwa pencarian ilmu tidak ada batasan usia, selama ia masih bisa beraktifitas senantiasa harus meningkatkan profesionalitas. Kunci utama meningkatkan profesionalitas ada tiga yaitu: Pertama, mengikuti pendidikan lanjut (mengikuti workshop (pelatihan); kedua, bisa menciptakan berbagai karya tulis; ketiga, ada karya inovatif.

  Ketiga hal di atas menurut hemat saya untuk dapat menciptakan karakter unggul. Berikutnya, Penguatan karakter di Pendidikan Tinggi, Pendidikan Dasar, dan Menengah, yang mencakup enam hal.

• Computating thinking, bagaimana peserta didik bisa berfikir secara cepat. Kalau di taksonomi itu ada high order thinking skills (HOTS), ada low order thinking skills (LOTS). LOTS mulai pengetahuan, pemahaman, penerapan. Sedangkan high order thinking skills (HOTS) mulai analisis, sintesis, penilaian. Harapannya melalui computating thinking, peserta didik bisa berfikir cepat dan bisa memutuskan secara benar dengan cepat.
• Kreatif, sangat tidak mungkin kreatif jika dalam dirinya tidak memiliki kecerdasan intelektual, kreatifitas yang bersamaan untuk bisa menopang sesuatu yang baru.
• Critical Thinking, harus bisa berfikir kritis. Kalau berfikir kritis pasti dimensinya berpengaruh dengan lamanya sekolah orang di Indonesia (sampai hari ini lama sekolah orang Indonesia itu sekolah 8 tahun 3 bulan), SMP pun belum tamat. Jawa Barat masih di bawah Nasional.
• Collaboration, sekarang tidak ada batasan atau penyekat antara satu benua, satu negara. Jadi artinya bisa memanfaatkan hal tersebut untuk berkolaborasi.
• Communication.
• Compassion (Budi Pekerti), menurut Ki Hajar Dewantara ending dari Pendidikan adalah Karakter. Karakter itu senantiasa harus mewarnai terhadap pola pendidikan di Indonesia, baik Pendidikan Dasar, Menengah, maupun Pendidikan Tinggi.

.

Komunita: Ada sekitar 4.300-an Perguruan Tinggi, apakah PT bisa melaksanakan? Bagaimana menyikapinya?

.

Prof. Endang Komara: Saya mengambil klasterisasi atau pe-Ranking-an PT dengan melihat 4 indikator. Pertama, SDM (di PT ukurannya adalah Lektor Kepala, Guru Besar, Doktor). Ketika PT belum banyak Lektor Kepala atau Guru Besar, maka jangan terlalu berharap “dari sangat baik menuju ke unggul”. Begitu pula dengan akreditasi institusi. Jawa Barat Banten memiliki jumlah dosen 27.000-an orang. Setengah dari jumlah tersebut belum memiliki sertifikasi Dosen, juga belum memiliki jabatan akademik dosen. Padahal pengajuan jabatan akademik dosen sekarang bisa online (PT diberikan waktu dari tanggal 1 s.d 15, dari tgl 15 dst biasanya proses penilaian LLDIKTI). Ini yang harus senantiasa kita perhatikan. Sekarang ini yang menjadi ukuran brand image nya memang Lektor Kepala dan Guru Besar.

  Kedua, Publikasi ilmiah, Di 2021 Indonesia bisa mengalahkan Singapore dan Malaysia. Yang paling banyak publish jurnal international adalah India, China, Korea Selatan, Jepang, Indonesia (peringkat 5, namun di ASEAN peringkat pertama). Sekarang posisi Indonesia sudah di 50.000-an, sementara Singapore dan Malaysia 30.000-an). Nah, menurut hemat saya publikasi ilmiah harus senantiasa menjadi acuan utama. Artinya, Rektor, Direktur, atau Ketua, senantiasa harus bisa mendorong Dosen, baik itu mereka publish Jurnal nasional terakreditasi SINTA, maupun Jurnal Internasional bereputasi.

  Ketiga, Seberapa besar Dosen bisa dimanfaatkan di luar Perguruan Tingginya, baik internal di Kemendikbudristek atau di luar itu (menjadi Sentral penilaian sekarang). Seperti saya, sudah hampir satu tahun bersama beberapa kawan Profesor menjadi staf ahli Wakil Gubernur. Minimal kita bisa memberikan berbagai pemikiran untuk kemajuan Jawa Barat khususnya di aspek Pendidikan.

  Keempat, Kualitas prestasi mahasiswa. Kalau dulu bisa dalam berbagai aspek, kalau sekarang harus report ke Belmawa – DIKTI semua kegiatan/aktifitas harus di–upload kesana.

  Klasterisasi dan pemeringkatan senantiasa menjadi referensi utama, sehingga menurut hemat saya keempat hal tadi harus mengalami peningkatan. Kalau kata Imam Ali, kalau hari ini sama seperti hari kemarin itu rugi, orang yang beruntung itu hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari yang akan datang.

.

Komunita: Bagaimana dengan orientasi PT sendiri dalam mensikapi hal di atas. Apakah perlu merubah visi baru dari Perguruan Tinggi secara umum?

.

Prof. Endang Komara: Hemat saya klasifikasi PT di belahan dunia manapun ada tiga: Learning University, Research University, World Class University. Jika tadi saya petakan PT ada 4.300an di Indonesia (di Jawa Barat ada sekitar 387 PT) dan kita masih 89 % di level Learning University, artinya menganggap dari Tridarma PT, aspek pengajaran yang lebih dominan.

  Kalau kami di PT, Dosen yang sudah lulus akreditasi (Serdos) ada BKD LKD, nah mereka jangan kurang melaksanakan 12 – 16 SKS. Kalau pembagian 12 SKS mestinya 6 SKS untuk Pendidikan Pengajaran, 3 SKS Penelitian, sisanya Pengabdian Masyarakat dan sosial penunjang. Mestinya Dosen tidak beranggapan hanya pendidikan pengajaran saja, tetapi juga melaksanakan penelitian. Sekarang ini minimal ada 3 hibah penelitian: penelitian dasar, penelitian terapan, dan pengembangan. Kalau penelitian dasar biasanya luaran/output adalah jurnal, penelitian terapan dituntut outputnya buku, pengembangan outputnya HAKI/Hak Paten. Jadi kalau PT posisi Learning University dosen selayaknya menjalankan hal di atas.

  Bagaimana cara meningkatkan peringkat dari Learning University menjadi Research University. Kalau ITB dan UNPAD sekarang kelasnya sudah disitu, para Dosennya banyak yang terlibat dalam hibah penelitian (baik dari pemerintah maupun instansi lain).

  Kemudian, World Class University itu lebih ideal lagi. Jadi inti Kampus Merdeka adalah ketika mahasiswa lulus dari PT tidak akan gagap lagi, baik terhadap teknologi ataupun pada pangsa kerja (dunia kerja). Mereka sudah bertransmisi. Ukuran mereka lulusan bagus antara 3 – 6 bulan setelah lulus (untuk S1 dan D3). Kalau untuk S2 rata-rata studi lanjut jadi mereka tidak ada ukuran itu.

  Pemanfaatan merdeka belajar untuk standar kurikulum nasional PT ada 8 standar: standar proses, dosen, sarana prasarana, pembiayaan, dll. Itu senantiasa yang harus diperhatikan. Saya mantan Rektor thn 2014-2018, jadi sangat paham bagaimana mengelola PT itu supaya lebih transparansi, akuntabilitas. Saya pikir itu yang senantiasa harus dipertahankan perguruan tinggi kita.

.

Komunita: Lebih spesifik upaya faktual PT, untuk tiga klasifikasi PT tadi. Apa yang harus dipersiapkan pimpinan PT.

.

Prof. Endang Komara: PT memiliki Renstra, Statuta, Renop, Anggaran Tahunan, senantiasa itu harus menjadi ukuran di dalam kemajuan dan penilaian terhadap penilaian PT. Katakanlah pada saat menjadi Rektor saya memiliki Dosen sekitar 200 orang. Hampir setiap tahun menyekolahkan Dosen (baik beasiswa ataupun tidak) sekitar 30-50 orang. Hal itu tidak mudah, kita membuka kerjasama dengan berbagai PT yang membuka S3, baik PTN maupun PTS. Kalau mereka ikut beasiswa untuk Doktor biasanya di bawah 40, kalau untuk Magister di bawah 35. Kalau mereka tidak mendapat beasiswa dari pemerintah, kita bantu dan upayakan sesuai kemampuan kita meskipun tidak totally dibantu sepenuhnya, tetapi itu harus di-mapping–kan.

  Nanti kira-kira tahun depan orientasinya harus sudah Doktor semua, yang mengamanatkan Guru dan Dosen meraih Strata Pendidikan itu salah satunya UU No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Mengajar S1 harus Magister (S2), Pascasarjana harus Doktor maupun Profesor. Setelah 15 tahun sudah pasti ke depannya akan ada perubahan lagi. Saya mendorong Dosen untuk menjadi Doktor dalam beberapa tahun ke depan.

  Disamping SDM diperhatikan, juga Publikasi. Karena yang bisa mendongkrak pemeringkatan maupun klasterisasi PT adalah Publikasi ilmiah Dosen. Saya mengapresiasi apa yang dilakukan Universitas Widyatama. Mahasiswa tidak harus tesis, tugas akhir bisa juga publikasi jurnal bereputasi, sehingga dengan cara ini bisa mendongkrak pemeringkatan dan klasterisasi PT.

.

Komunita: Kaitan Industri 4.0 yang memungkin muncul pekerjaan baru. Bagaimana PT harus mengembangkan prodi baru, kurikulum baru, dan kaitan dengan itu. Sementara peminatan masyarakat terhadap prodi belum berubah, tetapi beda dengan industri dituntut adaptif cepat?

.

Prof. Endang Komara: Saya pikir di tahun akademik ini sudah diberlakukan Kampus Merdeka, dimana mahasiswa memiliki hak belajar kuliah 3 semester (di PT sendiri atau diluar PT nya). Ini peluang.

  Analoginya seperti ini: selama ini mahasiswa pandai berenang di kolam sendiri, ketika di kampus pasti sudah paham. Tapi ketika lulus dilepas di lautan/samudera, pasti tidak ingat lagi cara berenang dengan gaya yang mana. Berarti dituntut skills, maka ada 8 pilihan di Kampus Merdeka, yang senantiasa harus ada kerjasama baik dari PT maupun dengan industri. Jika sudah dibuka kerjasama, katakanlah mereka di awal diberikan teori, maka di semester 3 & 4 harus dilepas (dibuka peluang harus bisa kuliah diluar Prodi/PT nya) dengan asumsi mereka tidak akan kaget lagi.

  Terkadang begini, jika di laboratorium kampusnya peralatan masih jadul, ketika masuk Industri peralatan sudah lebih canggih/modern, sehingga kalau dia bekerja harus ada pelatihan lagi, nah itu salah satu kendalanya. Setidaknya kalau ada merdeka belajar minimal bisa konsep link and match. Jangan sampai sekarang muncul gap lagi antara industri maupun PT. Dengan cara tadi, akan ada sesuatu yang baru.

  Mahasiswa tidak boleh dilepas, tetap harus ada dosen pendamping/ pembimbingnya agar terlihat progresnya. Harapannya beberapa tahun ke depan skills mahasiswa kita mampu berdaya saing lebih bagus, termasuk Dosennya. Kebetulan saya Senat di Universitas Nurtanio, kami ada 3 – 4 PT, salah satu Stikes, uniknya misal mahasiswa ambil D3 atau D4 katakanlah dia bermasalah dengan aspek SPP kemudian dia stagnan, lalu dikirim ke Jepang kerjasama dengan industri di Jepang kemudian bisa mendapatkan upah di atas 10 juta selama 5-6 bulan. Tapi tetap jangan dilepas, harus ada monitor Dosen pembimbing namun jangan Dosen yang sama terus. Dengan cara seperti ini minimal ada input dari industri ke PTnya.

  Untuk kurikulum perlu peninjauan ulang 2-5 tahun. Sekarang di pendidikan dasar dan menengah sudah dikenal kurikulum sekolah penggerak. Itu baru di 2.500 sekolah (baik guru dan kepala sekolah sudah melakukan pelatihan guru penggerak). Di Tahun ajaran 2021/2022 sudah diberlakukan kurikulum sekolah penggerak, intinya harus mengadaptasi dunia pendidikan dan industri. Untuk Perguruan Tinggi pun sedang dipersiapkan namanya agak aneh, namanya kurikulum kolaboratif karena nanti harus kerjasama dengan dunia industri. Sekarang masih kurikulum berbasis kompetensi yang berkarakter KKNI.

.

Komunita: Dari aspek pengembangan kurikulum, kami belum melihat inisiatif dari PT mensiasati industri 4.0. Hanya beberapa PT menciptakan program studi baru berorientasi memenuhi kebutuhan dunia industri.

.

Prof. Endang Komara: Sebetulnya kebijakan Kemendikbud sudah 5 tahun terakhir yang bisa dibuka adalah STEM (Science, Teknologi, Engineering, Matematika) diluar itu tidak boleh, kecuali membuka Fakultas Kedokteran di daerah terdalam/tertinggal masih bisa. Selain STEM masih moratorium. Apalagi Januari 2022, Kemendikbudristek tidak akan meloloskan Universitas baru atau Prodi baru.

  Agar tidak ditinggalkan masyarakat, harus ada peninjauan ulang kurikulum minimal 2 tahun. Karena dunia industri sudah di depan, kurikulum masih tertinggal di belakang maka itulah perlu adaptasi. Ketika dia lulus misalnya X waktu masuk industri ketemunya Y, nah itu akan jadi aneh. Dalam peninjauan kurikulum ada 4 komponen yang harus dilibatkan: stakeholders, alumni, Dosen, mahasiswa (4 komponen ini harus dilibatkan, agar tidak tertinggal). Kalau ditinggalkan biasanya orang tidak menarik lagi. Itulah kenapa prodi-prodi yang ada membuat suatu pembaharuan, perlu ada pencitraan dan bencmarking baik menyangkut mahasiswa, sarana prasarana, dosennya. Biasanya persepsi masyarakat lebih kuat dibandingkan dengan penilaian/informasi yang lain. Menurut saya peninjauan kurikulum di PT harus menjadi rutinitas yang dilakukan agar tidak ditinggalkan masyarakat pengguna (user) PT.

.

Komunita: Terkait tata kelola PT, ada 2 hal penting: tata kelola itu sendiri dan unsur pemimpin (leadership). Satu pesan Prof. bagi institusi pendidikan, mahasiswa, Badan Penyelenggara, dan kepemimpinan.

.

Prof. Endang Komara: Betul, jangan auto pilot (berjalan sendiri), jangan ada di zona nyaman. Seorang pemimpin harus ada kreatifitas dan inovasi. Dari sangat baik ke unggul itu harus ada diatas 8 standar tadi baik dari sisi manajerial, dosennya. Apalagi sekarang pandemi sudah mau 3 tahun, menguji Dosen dengan cara online (luring terbatas), kuliah virtual, membimbing juga virtual. Itu harus dilakukan karena Dosen itu berfungsi sebagai fasilitator dan motivator. Jangan sekali kali menghambat mahasiswa kita, karena saya sangat meyakini ketika mahasiswa menulis/mengerjakan tugas pasti perlu bertanya dan sebagai Dosen sangat perlu mengarahkan mereka.

  Pendidikan itu tidak hanya tanggungjawab Pemerintah. Ada Badan Penyelenggara, Pelaksana Dosen, mahasiswa. Trilogi ini harus menjadi satu kesatuan agar terjadi kekompakan dan klasterisasi PT. Jadi, pertama, PT perlu ada penguatan baik secara internal maupun eksternal; kedua, Peningkatan SDM tidak bisa ditunda karena sudah ada di alam global, apalagi teknologi semakin deras, komunikasi semakin meng-global. kalau kita tidak mempersiapkan Sumber Daya Berkualitas kita tidak bisa bermain di alam global. Seseorang untuk sukses yang mengandalkan softskills hanya 30% (interaksi di kampus bagus, IPK bagus, prestasi di kampus bagus, interaksi organisasi kampus), sisanya 70% adalah hardskill (tanggungjawab, kejujuran, dia meningkatkan keimanan pada tuhannya, bersinergi dengan lingkungan sekitar, peduli terhadap orang lain). Antara softskill dan hardskill tidak bisa tidak harus diperhatikan, senantiasa menjadi acuan penting dalam PT. Itulah makanya di PT sekarang ada yang namanya IKU yaitu Indikator Kompetensi Utama, yang senantiasa harus dijalankan.

  Menurut John Naisbith mengartikan globalisasi itu adalah “Think globally, Act Locally”. Maksudnya berfikir global universal tetapi harus memiliki karakter orang Indonesia dengan adat ketimuran, beragama, bertanggungjawab, kejujuran, disiplin. Itu senantiasa yang harus diperkenalkan dan diterapkan di PT kita, agar supaya memiliki kebanggaan dalam kehidupan dia, keluarga, bangsa dan Negara. Kita pernah menghadapi pemilu 120 juta terdiri dari generasi Z dan Y, mereka harus dibekali jangan transaksional. Karena merekakan calon pemimpin di masa depan. Selama kejujuran dikesampingkan dan kesejahteraan masih kurang, jangan harap bangsa ini akan lebih baik dari hari ini. Softskill dan hardskill tetap harus menjadi referensi utama. Softskill itu akademik, dan hardskill (non Akademik). Konsep pembelajaran 2021 salah satunya adalah kolaboratif, tidak bisa hidup di alam global tetapi hidup sendirian. (lili_irahali – 25 Oktober 2021)

(Rewrite & Interview: Lili Irahali – Audio to transcript: Intan Liswandini)

.

  

BONUS DEMOGRAFI & MEMAHAMI “GENERASI Z” INDONESIA

.BONUS DEMOGRAFI & MEMAHAMI “GENERASI Z” INDONESIA

.

Karakter Gen Z di Indonesia, Melek Teknologi dan Tidak Lihat Materi     Teori Bonus Demografi adalah teori yang menghubungkan antara dinamika kependudukan dengan ekonomi. Semakin sedikit jumlah penduduk usia non-produktif yang harus ditanggung penduduk usia produktif akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Potensi Bonus Demografi tercermin dari perubahan angka Rasio Ketergantungan (RK), yang menunjukkan jumlah penduduk usia anak dan lansia (non-produktif) dibanding jumlah penduduk usia kerja (produktif).

  Indonesia tengah berada pada periode Bonus Demografi. Sensus 2020 menunjukkan komposisi penduduk Indonesia sebagian besar berasal dari Generasi Z/Gen Z (generasi yang lahir antara tahun 1997 sampai dengan 2012) sebanyak 27, 94% atau 74, 93 juta. Sementara Generasi Milenial yang menjadi motor pergerakan masyarakat saat ini lebih sedikit, 25, 87% atau 69, 38 juta dari total penduduk Indonesia.

  Keberadaan Gen Z memegang peranan penting dan memberikan pengaruh pada perkembangan Indonesia saat ini dan ke depan. Saat ini sebagian mereka telah memasuki jenjang perguruan tinggi. Ini tentunya tantangan bagi pendidikan tinggi dan perguruan tinggi yang merupakan terminal akhir pendidikan dalam membangun SDM yang berdaya saing dengan kompetensi sesuai kebutuhan. Bagaimana perguruan tinggi memahami dan merespon tumbuh kembangnya Gen Z ini.

.

Mengenal dan Memahami Gen Z

  Rumusan United Nations Population Fund (UNFPA) menyebutkan sebuah negara dapat menikmati Bonus Demografi ketika setiap orang menikmati kesehatan yang baik, pendidikan yang berkualitas, pekerjaan yang layak, dan kemandirian anak muda (usia produktif) yang dipadukan dengan kebijakan negara yang baik dan tepat.

  Optimasi Bonus Demografi yang bakal diperankan Gen Z tidak boleh dipandang sepele. Maknanya menumbuhkembangkan potensi mereka dari sekarang, melalui pemahaman terhadap Gen Z dan karakternya, mempersiapkan sistem dan model pendidikan yang memadai, serta membuka ruang-ruang peluang mereka di dunia kerja dan industri.

  Mengacu sensus nasional tahun 2020 Prof. Dr. Endang Komara, M. Si menggambarkan 6 (enam) generasi penduduk Indonesia. Pertama veteran generation (lahir tahun 1925-1946), kemudian generasi kedua baby boomer (lahir tahun 1946–1960) sekitar 21,88 % dari 270 juta penduduk Indonesia), yang ketiga generasi X (lahir tahun 1960-1980) sekitar 21,88 %, yang keempat Generasi Y atau generasi milenial (lahir tahun 1980-1995, berusia 24-39 tahun) sekitar 28,87 % atau 69,39 juta penduduk, dan kelima Generasi Z (lahir tahun 1995-2010, berusia 8-23 tahun) ada 27,94% atau 75,49 juta penduduk yang merupakan generasi terbanyak saat ini, serta yang terakhir yaitu Generasi Alpha (lahir tahun 2010 – ke atas). Terkait dengan komposisi tersebut, ke depan Gen Z bakal memegang perang penting seandainya mereka sebagai sumber daya manusia produktif, yang mampu dan berdaya.

  Gen Z disebut juga Generasi Net atau Generasi Internet. Mereka memiliki kesamaan dengan generasi Y, tapi mereka mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu seperti nge-tweet, menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik dengan menggunakan headset. Apapun yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya. Sejak kecil sudah mengetahui teknologi gadget canggih yang secara tidak langsung berpengaruh pada kepribadian manusia. Para ahli menyatakan bahwa Gen Z memiliki sifat dan karakteristik yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi ini dilabeli sebagai generasi yang minim batasan (boundary-less generation).

  Berdasar penelitian sepanjang 2003 sampai dengan 2013, Bruce Tulgan dan Rainmaker Thinking, Inc. dalam artikel “Meet Generation Z: The Second Generation within The Giant Millenial Cohort” menemukan lima karakteristik utama Gen Z yang membedakannya dengan generasi sebelumnya. Pertama, media sosial merupakan gambaran tentang masa depan generasi ini. Gen Z adalah generasi yang tidak pernah mengenal dunia yang benar-benar terasing dari keberadaan orang lain. Media sosial membuktikan bahwa seseorang dapat berbicara dengan siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Media sosial menjadi jembatan atas keterasingan, karena semua orang dapat terhubung, berkomunikasi, dan berinteraksi. Kedua, bahwa keterhubungan Gen Z dengan orang lain sebagai hal yang terpenting. Ketiga, kesenjangan keterampilan dimungkinkan terjadi pada generasi ini. Karenanya upaya mentransfer keterampilan dari generasi sebelumnya melalui komunikasi interpersonal, budaya kerja, keterampilan teknis dan berpikir kritis harus intensif dilakukan. Keempat, Gen Z menjelajah dan terkoneksi dengan banyak orang di berbagai tempat secara virtual melalui koneksi internet. Hal ini menyebabkan pengalaman mereka menjelajah secara geografis, menjadi terbatas. Namun, kemudahan mereka terhubung dengan banyak orang dari beragam belahan dunia menyebabkan Gen Z memiliki pola pikir global (global mindset). Kelima, keterbukaan Gen Z menerima berbagai pandangan dan pola pikir, menyebabkan mereka mudah menerima keragaman dan perbedaan pandangan akan suatu hal. Namun, dampaknya Gen Z menjadi sulit mendefinisikan dirinya sendiri. Identitas diri yang terbentuk sering kali berubah berdasarkan pada berbagai hal yang mempengaruhi mereka berpikir dan bersikap terhadap sesuatu.

  Studi Ernest & Young (2015) menyebut terdapat lima perbedaan karakter pokok antara Gen Y dan Gen Z. Studi tersebut mengindikasikan bahwa latar belakang kelahiran Gen Z di masa resesi yang penuh dengan turbulensi, membuat Gen Z tumbuh menjadi generasi yang memiliki kesadaran diri dan mandiri. Gen Z diidentifikasi sebagai generasi yang inovatif dan produktif, serta berorientasi pada tujuan dan memiliki cara pandang yang realistis. Survei tersebut turut mengungkap fakta bahwa 62% Gen Z memiliki preferensi untuk memulai bisnisnya sendiri dibandingkan dengan bekerja di organisasi. Hal ini disebabkan oleh Gen Z yang memiliki jiwa kewirausahaan yang tinggi dan cenderung ambisius, serta tertarik untuk menemukan solusi atas masalah yang mereka hadapi (Galih Sakitri, 2021).

  Ryan Jenkins (2017) dalam tulisan berjudul “Four Reasons Generation Z will be the Most Different Generation” menyatakan Gen Z memiliki harapan, preferensi, dan perspektif kerja yang berbeda serta dinilai menantang bagi organisasi. Karakter Gen Z lebih beragam, bersifat global, serta memberikan pengaruh pada budaya dan sikap masyarakat kebanyakan. Satu hal yang menonjol, Gen Z mampu memanfaatkan perubahan teknologi dalam berbagai sendi kehidupan mereka.

  Sementara studi McKinsey (2018) membagi perilaku Gen Z dalam empat komponen besar berlandaskan pada satu fondasi yang kuat bahwa Gen Z adalah generasi yang mencari akan suatu kebenaran. Pertama, Gen Z sebagai “the undefined ID”. Mereka menghargai ekspresi setiap individu tanpa memberi label tertentu, memiliki keterbukaan yang besar untuk memahami keunikan tiap individu. Kedua, Gen Z sebagai “the communaholic”. Mereka sangat inklusif dan tertarik untuk terlibat dalam berbagai komunitas dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi guna memperluas manfaat yang ingin mereka berikan. Ketiga, Gen Z sebagai “the dialoguer”. Mereka percaya akan pentingnya komunikasi dalam penyelesaian konflik dan perubahan melalui dialog. Mereka juga terbuka terhadap pemikiran tiap individu yang berbeda-beda dan gemar berinteraksi dengan individu maupun kelompok yang beragam. Keempat, Gen Z sebagai “the realistic”. Mereka cenderung lebih realistis dan analitis dalam pengambilan keputusan, dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka merupakan generasi yang menikmati kemandirian dalam proses belajar dan mencari informasi, sehingga membuat mereka senang memegang kendali keputusan yang mereka pilih (Galih Sakitri, 2021).

  Namun, tidak selamanya kedekatan Gen Z dengan teknologi memberikan keuntungan. Penelitian O’Connor, Becker, dan Fewste (2018) dalam dunia kerja berjudul Tolerance of Ambiguity at Work Predicts Leadership, Job Performace, and Creativity menemukan bahwa pekerja yang lebih muda menunjukkan kapasitas yang lebih rendah dalam mengatasi ambiguitas lingkungan dibandingkan dengan pekerja yang lebih tua. Generasi lebih muda terbiasa mengekspresikan keinginan untuk hal-hal yang bersifat kebaruan termasuk pada bidang pekerjaan yang sifatnya lebih menantang. Mereka belum memiliki keterampilan dan kepercayaan diri mumpuni untuk mengelola ketidakpastian lingkungan yang sering kali terjadi sehingga cenderung menjadi lebih cemas.

  Apalagi Gen Z dilahirkan dan dibesarkan dalam pengasuhan yang terlalu protektif di tengah kondisi dunia yang serba tidak menentu. Resesi ekonomi, transformasi digital, invasi di beberapa negara, bencana alam, dan juga wabah penyakit.  Ini yang kemudian menyebabkan di masa dewasa, Gen Z menjadi kurang toleran terhadap ambiguitas lingkungan karena masa kanak-kanak yang terlalu terlindungi. Penelitian American Psychological Association yang dikutip Media Literasi bagi Digital Natives: Perspektif Gen Z di Jakarta (2018) menegaskan temuan tersebut. Kemampuan mengelola stres dan mencapai gaya hidup sehat semakin menurun di setiap generasi. Jika fenomena ini berlanjut, maka ke depannya, Gen Z akan menjadi generasi yang paling stres sepanjang sejarah. Kondisi ini juga berkaitan dengan karakter Gen Z yang tidak memiliki batasan dengan individu lain, sehingga memungkinkan mereka mudah labil ketika menerima terpaan informasi dan kondisi yang cepat berubah dan serba acak (Diyan Nur Rakhmah,  2021).

.

Transformasi Pendidikan ?

  David Stillman dan Jonah Stillman (2017) mengidentifikasi karakter Gen Z dalam bukunya Gen Z at Work: How The Next Generation is Transforming the Workplace dalam tujuh karakter utama Gen Z, yakni: figital, fear of missing out (FOMO), hiperkustomisasi, terpacu, realistis, Weconomist, dan do it yourself  (DIY) yang tentunya memberi masukan bagaimana pendidikan perlu bertransformasi.

  Karakter figital. Generasi Z eksis di dua dunia, yaitu dunia nyata dan virtual. Kepribadian mereka bisa sangat berbeda saat di dunia virtual dibandingkan kehidupan nyata. Bisa jadi dikehidupan nyata terlihat seperti anak yang pendiam, tetapi bisa berubah menjadi anak yang banyak bicara saat di media sosial.

  Ini akan menjadi landasan bagi pendidik menentukan metode pembelajaran yang tepat digunakan. Pendidik juga harus semakin terbiasa menggunakan sarana pembelajaran yang beragam melalui teknologi digital, agar peserta didik tetap dapat aktif dan tersambung dalam pembelajaran dalam berbagai kondisi pembelajaran yang ada. Pendidik juga perlu lebih terbuka terhadap tambahan leksikon baru sebagai media dan perangkat pembelajaran. Ini dapat berupa visual, video, atau bahkan simbol tertentu yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas komunikasi antara peserta didik dan pendidik. Pendidik perlu lebih kreatif dalam mencari dan menerapkan solusi figital untuk meningkatkan dan menyebarkan budaya pembelajaran.

  Karakter FOMO (Fear of Missing Out). Generasi Z sangat update terkait segala sesuatu yang terjadi di sekitar mereka. Mereka bisa melewatkan aktivitas makan atau bahkan rela untuk tidur di jam yang singkat, demi selalu update berita di media sosial agar tidak melewatkan segala sesuatu yang mereka anggap penting. Mereka memiliki rasa ingin tahu tinggi tentang berbagai hal, khususnya hal-hal baru. Peserta didik terpacu untuk mengetahui berbagai hal dari sumber-sumber informasi yang tersebar dan mudah diakses saat ini. Dalam hal ini, pendidikan perlu menjadi media yang terbuka dan mewadahi berbagai informasi yang diperlukan peserta didik tidak hanya pada hal yang berkaitan dengan pembelajaran, tetapi juga keterampilan hidup. Pendidikan perlu mampu mengkurasi informasi apa saja yang memang bermanfaat bagi peserta didik, dan yang tidak. Kompetensi guru menjadi sangat penting dalam hal akurasi tersebut.

  Karakter Hiperkustomisasi. Generasi Z suka sekali melakukan modifikasi pada barang-barang yang mereka miliki, seperti di motor, laptop, bahkan pakaian yang dikenakan. Hal ini mereka lakukan untuk menunjukkan identitas diri dengan cara bebas berekspresi.

  Peserta didik menjadi terbiasa menentukan kebutuhan apa yang mereka butuhkan dan perlu dapatkan. Aktivitas mereka berselancar di dunia maya, merupakan bagian dari cara Gen Z memenuhi kebutuhan akan dirinya.  Dalam konteks pendidikan, memberikan kebebasan peserta didik menentukan cara belajarnya merupakan sebuah kebutuhan. Guru dituntut mampu melakukan personalisasi cara-cara belajar bagi setiap peserta didik, dan memberikan peserta didik lebih banyak kesempatan untuk mencari sumber belajar di luar aktivitas bersekolah. Karakter hiperkustomisasi menyebabkan peserta didik menjadi terbiasa mengkritisi banyak hal di sekelilingnya, termasuk memberikan masukan terhadap media-media belajar yang selama ini digunakannya. Kenyamanan belajar adalah yang utama bagi Gen Z.  

  Karakter Terpacu. 72 % Gen Z merasa kompetitif terhadap orang yang melakukan perkerjaan yang sama, hal ini membuktikan bahwa Gen Z sangat terpacu untuk menjadi yang terbaik. Guru perlu mendorong berbagai media yang mampu mengakomodasi potensi peserta didik yang beragam, tanpa mengarahkan pada upaya memperbandingkan antara peserta didik yang satu dan lainnya. Peserta didik perlu lebih banyak diapresiasi dan menjadikan praktik tersebut sebagai bagian tidak terpisahkan dari upaya-upaya reflektif semua pihak dalam memperbaiki kualitas pembelajaran.

  Karakter Realistis. Gen Z merupakan generasi yang memiliki cita-cita tinggi, karena mereka sadar hal tersebut bukanlah sesuatu yang tidak bisa dilakukan di era canggih seperti sekarang. Mereka dapat menjadi apapun yang mereka inginkan. Namun nyatanya kebebasan bermimpi yang dimiliki juga tetap mengedepankan realitas yang mungkin terjadi. Mereka juga menyadari akan keterbatasan diri, ancaman, dan tantangan yang ada di dunia luar.

  Karakter Weconomist. Gen Z terbiasa dengan konsep ‘sharing economy’ yaitu konsep bisnis yang dapat memberikan akses kepada sumber daya yang dimiliki orang atau perusahaan untuk dikonsumsi atau dimanfaatkan bersama dengan pengguna. Contohnya seperti aplikasi semacam Grab, Uber, dan Gojek. Gen Z lebih menyenangi kegiatan yang sifatnya berkelompok dan selalu terhubung dengan sejaw atnya. Karakter ini dapat difasilitasi dengan penerapan pendekatan pembelajaran yang melibatkan lebih dari satu peserta didik dan mengondisikan untuk saling berkolaborasi dalam menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran yang diberikan. Pendekatan pembelajaran berbasis proyek dan sejenisnya akan membuat peserta didik terbiasa bekerja dengan kelompok dan berbagi informasi di dalamnya. Peserta didik perlu lebih banyak didekatkan dengan sesamanya, untuk dapat saling belajar dan memberikan masukan dengan komunitasnya (peer review), dengan tetap menempatkan guru sebagai fasilitator belajar. Kegiatan eksplorasi peserta didik juga perlu untuk semakin dihidupkan melalui berbagai percakapan/diskusi antar mereka.  

  Karakter DIY (Do It Yourself). Gen Z lebih senang melalukan banyak hal sendiri. Gaya hidup khas Gen Z tidak perlu sekolah khusus dalam membantu kehidupan sehari-hari, karena mereka punya Google dan Youtube, yang di dalamnya berisi berbagai macam hal yang bisa langsung dicontoh, seperti mencari resep untuk memasak sesuatu, memperbaiki barang elektronik, bahkan sampai cara memotong rambut bisa mereka lakukan sendiri.

  Mengembangkan karakter-karakter di atas, guru perlu membangun pembelajaran dengan pendekatan beragam untuk mendorong kreativitas peserta didik dalam banyak hal. Internet lebih diarahkan guru sebagai sumber informasi dan inspirasi meningkatkan keterampilan hidup peserta didik. Proses belajar harus bersifat mandiri, demokratis, dan membuka ranah yang luas bagi penciptaan dan penemuan hal-hal baru dalam pembelajaran. Guru perlu menciptakan iklim belajar yang mampu membangun self regulation pada diri peserta didik. Mereka juga perlu lebih banyak dilatih realistis tentang kehidupan dan masa depannya. Guru juga perlu menyampaikan secara terbuka peluang, tantangan dan juga hambatan yang mungkin akan membuat mereka memerlukan upaya lebih untuk mencapai cita-cita yang mereka impikan. Dengan berbagai upaya tersebut, pendidikan diharapkan mampu memberikan masukan tentang hal-hal rasional yang perlu Gen Z lakukan dalam kehidupan mereka, pada saat ini dan ke depan (Diyan Nur Rakhmah,  2021).

  Studi yang dilakukan Forbes (2018), 77% Gen Z merasakan stres di tempat kerja yang disebabkan oleh persepsi mereka akan lingkungan kerja yang sangat kompetitif, jam kerja yang panjang, dan tenggat waktu yang sempit dalam penyelesaian tugas pekerjaan. Meski demikian, Gen Z memiliki semangat kerja yang kuat dalam meniti kariernya dan akan berupaya untuk memastikan bahwa mereka berkontribusi dengan baik untuk organisasi (Bucovetchi, et al, 2019).

  Sementara, survei yang dilakukan Kronos Incorporated (2019) menemukan bahwa 33% Gen Z dari 3.400 responden yang tersebar di berbagai negara tidak hanya menilai fleksibilitas di tempat kerja sebagai suatu hal yang penting, melainkan merupakan suatu kebutuhan yang esensial. Menariknya, survei tersebut menemukan bahwa Gen Z ternyata tidak terlalu percaya diri untuk memasuki dunia kerja dan adanya tuntutan untuk bekerja dalam waktu yang panjang menjadi salah satu faktor penentu. Tidak hanya itu, Gen Z cenderung mengkhawatirkan kemampuan mereka untuk sukses di dunia kerja. Setidaknya, terdapat tiga hambatan emosional yang dialami Gen Z sehingga menciptakan ketidakpercayaan diri akan pencapaian secara profesional, diantaranya kecemasan (34%), kurangnya motivasi (20%), dan adanya perasaan rendah diri (17%).

  Gen Z dikenal sebagai generasi yang kreatif dan inovatif. Survei yang dilakukan Harris Poll (2020), menggambarkan sebanyak 63% Gen Z tertarik melakukan beragam hal kreatif setiap harinya. Kreatifitas tersebut turut dibentuk dari keaktifan Gen Z dalam komunitas dan sosial media. Hal ini relevan dengan sejumlah studi yang mengidentifikasi bahwa Gen Z merupakan generasi yang erat dengan teknologi (digital native). Sebagaimana mereka lahir di era ponsel pintar, tumbuh bersama dengan kecanggihan teknologi komputer, dan memiliki keterbukaan akan akses internet yang lebih mudah dibandingkan dengan generasi terdahulu. Bahkan, survei tersebut memaparkan bahwa Gen Z di Indonesia khususnya, menduduki peringkat tertinggi dalam penggunaan ponsel, yakni 8,5 jam setiap harinya (Kim, et al, 2020). Menariknya, meskipun Gen Z dikenal sebagai generasi digital, 44% Gen Z lebih menyukai bekerja dengan tim dan rekan kerja secara langsung.

  Pada dasarnya, Gen Z merupakan generasi yang unik dan memiliki potensi yang luar biasa di dalam diri. Di Indonesia, khususnya, Gen Z lahir di periode krisis ekonomi yang berat dan menyuguhkan tantangan tersendiri bagi para orang tua untuk membesarkan generasi pascamilenial ini di masa sulit. Kecemasan yang dialami orang tua, tanpa disadari, turut berpengaruh terhadap pembentukan karakter Gen Z. Tumbuh di era resesi, membuat Gen Z diberikan perlindungan lebih, sehingga mereka seringkali mudah merasa cemas bila keadaan tidak berjalan sesuai yang mereka inginkan.

  Bangkitnya Gen Z juga akan menimbulkan tantangan baru bagi praktek manajemen dalam organisasi, khususnya bagi praktek manajemen sumber daya manusia. Nah, tugas kita bagaimana melalui pendidikan tinggi, bagaimana Gen Z menjadi lebih berdaya dalam mengusung produktivitas kerja dalam menguatkan kelebihan dan kekurangan mereka. Sehingga memberi dampak optimal bagi Bonus Demografi. Bukan Bencana Demografi !!! Semoga.

(Dari berbagai sumber, Rewriter: lili irahali – 24 November 2021)

Generation Z, Education, and an Empowered Country 2045

0

             

Generation Z, Education, and an Empowered Country 2045

.

Lili-6  The Empowered Country before Indonesia’s Independence was historically achieved by two major kingdoms in the Archipelago (Indonesia). The Sriwijaya Kingdom in 683 – 1178 AD, and the Majapahit Kingdom in 1293 – 1527 AD. Their work has gone global and is recorded in national and international history. What underlies these achievements can be assumed to be the empowerment of human resources and leadership that supports their work. But then both of them receded due to conflict and war.

  In its glory, The Sriwijaya controlled trade on the main route of the Malacca Strait. The Sriwijaya succeeded in maritime, political and economics fields. Its power includes Cambodia, Southern Thailand, the Malay Peninsula, Sumatra and parts of Java.

  While the glory of Majapahit in the economics field, Majapahit became a trading center in Southeast Asia with export commodities of pepper, salt, and cloth. Supported by a formidable navy and military strength and strategy. Majapahit was able to create stability in its territory. His range of power includes: Sumatra, the Malay Peninsula, Kalimantan, Sulawesi, the Nusa Tenggara Islands, Maluku, Papua, Tumasik (Singapore) and parts of the Philippine Islands and also has ties to Campa/Thailand, Cambodia, Siam, southern Burma, Vietnam and China.

If we pay attention to this achievement in a span of almost 700 years. The question is whether in the third 700 years (2045s), Indonesia (the new face of the Archipelago) can become an Empowered Country? Dreaming or Aspiring is a must. But it requires struggle and sacrifice, as well as thinking and behaving for the nation, not for oneself and the group. Generations of Indonesia past and present are responsible for the sustainability of future generations and this country through the preparation of human resources supported by science, technology, and national character. Historical evidence has been inscribed by predecessors. Of course, with a record of interpreting the causes of its collapse, and finding solutions to avoid it, as well as creatively developing new innovations based on science, technology and character.

  After the colonial period, Indonesia was delivered by the founders of this nation through the thoughts of that time (thoughts that were born from the struggle to understand the ideology of colonialism/capitalism, nationalism, socialism, Islamism, marxism), as well as the influence of history, education and the Industrial revolution. the nation and state of Indonesia based on Pancasila and the 45 Constitution. Indonesia is the result of thought, taste, initiative, struggle and noble ideals of the predecessors of the founding fathers of Indonesia.

  Indonesia’s 2020 Population Census is inhabited by 270 million people, including young people (Generation Y aged 26 to 40 years 25.87%; Generation Z aged 11 to 25 years 27.94%; and Generation Alpha aged 11 years and under 10.88%) a total of 64.69%. While Generation X aged 41 to 61 years 21.88% in the next 14 years their productivity will decrease, Generation Y will also decline. Generation Z and Generation Alpha as productive population (young age) are potentials in achieving the Demographic Bonus until 2035, as well as Indonesia Excellent 2045.

The problem is how far the three generations; especially Generation Z are able to become the foundation. Of course, by maintaining them as qualified, healthy, productive human resources with integrity. The United Nations Population Fund (UNFPA) states that a country can enjoy a Demographic Bonus when everyone enjoys good health, quality education, decent work, and the independence of young people (productive age) combined with good and appropriate state policies.

  Indonesia’s RK has been declining since the late 1970s and is expected to continue to decline to its lowest point in 2020 – 2035. The decline in RK creates two opportunities for obtaining the Demographic Bonus. First, it can be achieved when there is an increase in per capita income as a result of an increase in the productive age population relative to the non-productive age. Second, it can be achieved after the working age population has accumulated their assets through investment and old-age savings to finance consumption in old age (Diahhadi Setyonaluri, Flora Aninditya, 2020).

Our homework is to optimize the productive resources above, especially since other countries are still confused about finding the intake of the productive young generation. How this hope is realized, and we are actually able to enjoy the Demographic Bonus. One of them is that this great potential should be supported by developing a platform and an ecosystem of good educators that are right in the midst of the Industry 40 era and the VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity and Ambiguity) era. This is what we should understand.  

Potensi kuantiti Generasi Z sesungguhnya membuka peluang. Namun demikian perlu mencermati karakter Gen Z, khususnya sisi-sisi lemah mereka yang harus diperkuat, serta sisi-sisi kuat mereka untuk dikembangkan melalui platform dan ekosistem pendidikan yang memberdayakan mereka. Bisa jadi kita memerlukan paradigma baru pendidikan. Mungkin saja, salah satu jalan terbuka melalui Kebijakan Merdeka Belajar yang bisa dipandang sebagai terobosan dalam mempercepat transformasi pendidikan. Merdeka Belajar juga merupakan filosofi yang mendasari proses sekaligus tujuan jangka panjang pendidikan Indonesia.

  Generation Z’s quantitative potential actually opens up opportunities. However, it is necessary to pay attention to the character of Gen Z, especially their weak sides that must be strengthened, as well as their strong sides to be developed through an educational platform and ecosystem that empowers them. It could be that we need a new paradigm of education. Perhaps, one way is open through the Freedom of Learning Policy which can be seen as a breakthrough in accelerating the transformation of education. Freedom of Learning is also the philosophy that underlies the process as well as the long-term goal of Indonesian education.

Freedom of Learning as a philosophy is actually rooted in the thoughts of Ki Hajar Dewantara – our Father of Education. Independence is an educational goal as well as an educational paradigm that should be understood by all stakeholders. He said that independence is the ability to live in one’s own strength, leading to a peaceful, safe and happy life, based on the morality of human life (2013, p.480). Safety and happiness as goals are not only obtained and felt by individuals, but also collectively (Dewantara, 2013).

  He said that in education, independence has three characteristics: independent, not dependent on others, and can regulate itself. This implies that independence and efforts to always be independent are goals to be achieved through the educational process. Because of that, it is not enough just to put it in the policy. Freedom of Learning should underlie all education policies, both at the national level and in the micro context, namely classrooms to families. The Freedom of Learning Philosophy is also closely related to the concept of lifelong learning, independent learning, and a developing mindset. Research shows that this is an important capital for the future generation of young people to face the rapid development of the times. Especially in the era of VUCA and Industry 4.0. Policy documents from the OECD and UNESCO emphasize the need to prepare students for VUCA. They emphasize the socio-emotional competencies needed to cope with such conditions.

  Well, it is said that Freedom of Learning is designed to achieve long-term goals based on the philosophy of Ki Hajar Dewantara. In the context of education management in each region, every education provider and manager, every educator and education staff are “agents” who must be increasingly able to build themselves.

Hopefully the spirit and policy of Freedom of Learning as a breakthrough will be able to provide space for anyone mentioned above to organize and manage education in accordance with the best available capacity and resources, as well as being able to develop superior human resources. Indonesia excellent 2045. Wallahualam.

  Vivat Widyatama, Vivat Civitas Academica, Vivat Indonesia and the beloved Archipelago. (@lee)

.

Editor – Lili Irahali

Membangun Asset Selagi Muda Dengan Ilmu

.

Meriza Hendri (2)Asuhan : Dr Meriza Hendri, SIp, MM
Membangun Asset Selagi Muda Dengan Ilmu

D:\AMoveFromSATA27Apr12\DATALEEYys\DATALEE1Yys\LIRAHALI\(1)StafKHUSUSYYSAN\KOMUNITAbuletinMajalah\VirtualTour\NEWSLETTER1\KOMUNITAnew\Edisi#30KomunitaAgsSepOkt21\drgMunawar.jpg  “Membangun asset selagi muda dengan Ilmu Bisnis dan Manajemen”. Inilah pernyataan yang disampaikan oleh Munawar Chalid atau yang biasa dipanggil Munawar ketika bicara tentang kewirausahaan yang beliau jalankan meski berstatus Dokter Gigi dan TNI Angkatan Udara yang berdinas sebagai Wakil Kepala RSAU Lanud Sulaiman Bandung. Lelaki Kelahiran Jakarta, 34 tahun lalu ini memang menjadikan bisnis sebagai salah kegiatan yang dijalankannya dan saat ini sudah membuka usaha di Bekasi, Garut dan Bandung.

  Bisnis yang dipilih oleh Munawar adalah konveksi yaitu tas, baju dan sepatu. “Produk-produk tersebut sangat dibutuhkan oleh pasar dan sejak Juli 2019, saya memulai bisnis ini” kata Munawar sembari menjelaskan awal mulai bisnis ini dengan modal awal 50 juta rupiah dengan nama usaha Chawan Mandiri Putra.

  Karena masih berstatus sebagai karyawan, Munawar membangun model bisnis kolaborasi dengan produsen dengan sistem maklun. “Modal awal 50 juta tadi, 10 juta saya gunakan untuk keperluan kantor sebagai pusat pengelolaan usaha dan 40 juta digunakan untuk membeli barang-barang yang akan dijual” tambah Munawar.

  Target pasar produk-produk yang dihasilkan Munawar adalah remaja, ibu rumah tangga, dan pelajar sekolah. “Pasar tersebut dilayani secara online dengan menggunakan market place seperti Lazada, Tokopedia, dan Shopee dan media sosial” kata Munawar. Proses bisnis yang diawali dengan desain produk yang diinginkan pasar yang kemudian diproduksi oleh rekan bisnis. Usaha ini dapat memperkerjakan 9 orang pegawai tetap dan dibantu oleh beberapa orang pekerja lepas sesuai dengan kebutuhan selama proses bisnis.

.

Kuliah untuk Menambah Pengetahuan

  Saat ini, Munawar baru saja menyelesaikan pendidikan master dengan mengambil kuliah di Magister Manajemen Universitas Widyatama tahun 2020. Kuliah memberikan pengetahuan tentang bisnis dan manajemen yang relevan dengan pekerjaan sebagai Wakil Kepala RSAU Lanud Sulaiman Bandung serta membangun bisnis.

  “Materi pelajaran yang didapat selama kuliah sangat relevan dengan pekerjaan dan bisnis yang dikembangkan sebagai upaya membangun asset di masa muda” tambah Munawar. Pelajaran yang diambil Munawar ini mengingatkan juga pada bisnis yang sudah dijalankannya sebelum konveksi ini, yaitu ketika bisnis kuliner yaitu nasi kuning, kentang goreng dan pempek Palembang. Selain itu, pernah juga menjual aksesories pria dan wanita seperti jam, cincin dan kalung imitasi. Dikarenakan keterbatasan ilmu bisnis dan manajemen, bisnis tersebut tidak bisa berlanjut.

  Jadi, dengan ilmu yang didapat dari Magister Manajemen Universitas Widyatama, Munawar yang awalnya bisnis menggunakan insting, semenjak kuliah pengembangan bisnispun signifikan. Kedepannya, Munawar berharap usaha semakin besar sehingga memiliki perusahaan resmi, dan juga bisnis klinik maupun rumah sakit.

.

Bagi teman-teman yang ingin mendapatkan produk hasil karya Munawar, dapat melihat instagram @exgue.id atau menghubungi di nomor hp 0811-3871-035.

.

Karet Indonesia : Wujudkan Industri Karet Berkelanjutan ?

.

Karet Indonesia

Wujudkan Industri Karet Berkelanjutan ?

.

  Salah satu kemudahan hidup kita tidak lepas dari materi satu ini. Ketika kita aktif di rumah, berkendaraan mobil sendiri maupun angkutan umum, bekerja di kantor maupun industri. Banyak peralatan‐peralatan yang kita gunakan memanfaatkan komponen terbuat dari bahan elastis ini. Dari yang digunakan untuk tanah berlumpur sampai untuk kebutuhan kesehatan yang memerlukan higienitas tinggi.  Karet membawa ingatan kita pada perkebunan karet, penyadapan karet sampai proses olahan getah karet sebagai bahan setengah jadi lalu diekspor, atau karet produk sekunder semisal ban, bola.  Kalau dicermati penggunaan karet banyak kita jumpai dalam penggunaan sehari-hari. Semisal untuk alat kesehatan dan laboratorium, ban dan perlengkapan kendaraan lainnya, perlengkapan olah raga, perlengkapan teknik industri, perlengkapan anak dan bayi, perlengkapan rumah tangga dan lainnya yang sebagian suku cadangnya menggunakan bahan karet.

  Pendek kata karet sebagai komoditas setengah jadi, maupun hasil pengolahan hilir sampai akhir, berupa bahan baku, suku cadang atau produk akhir banyak digunakan dalam mempermudah kehidupan kita. Karet secara nyata memberikan kontribusi bagi bertumbuhnya kegiatan ekonomi, sektor usaha, sekaligus memberi kesejahteraan bagi masyarakat yang terlibat langsung mapun tidak langsung.

.

Rantai Produk Karet

(Gambar – Statistik Karet Indonesia 2019)

  Hasil utama pohon karet adalah lateks segar, slab/koagulasi ataupun sit asap/sit angin yang diperdagangkan masyarakat. Selanjutnya produk tersebut sebagai bahan baku pabrik Crumb Rubber/Karet Remah yang menghasilkan bahan baku untuk berbagai industri hilir seperti ban, sepatu karet, sarung tangan, dan lain sebagainya.

  Sebagai komoditi, produksi karet sangat tergantung pada teknologi dan manajemen yang diterapkan dalam sistem dan proses produksinya. Produk industri karet juga disesuaikan dengan kebutuhan pasar yang senantiasa berubah.

  Produksi karet pada 2019 mencapai 3,325 juta ton, yang meliputi: SIR (crumb rubber), lateks pekat, dan RSS (ribbed smoked sheet). Dari jumlah tersebut, 80 % karet diekspor ke beberapa negara tujuan seperti Amerika Serikat, Jepang, Cina, India, Korea Selatan, Brasil, Jerman, hingga Turki. Dua belas tahun terakhir total ekspor karet cenderung berfluktuasi, berkisar antara – 13,25 % sampai dengan 18,05 %. Tahun 2008 total berat ekspor mencapai 2,3 juta ton dengan total nilai sebesar 6,06 milyar dolar US, meningkat menjadi 2,5 juta ton pada tahun 2019 dengan total nilai sebesar 3,52 milyar dolar US (lihat Gambar bawah).

Perkembangan Volume dan Nilai Ekspor Karet Alam, 2008-2019 – Statistik Karet Indonesia 2019

  Sementara baru 20 % karet diolah di dalam negeri oleh industri hilir menjadi ban, vulkanisir, alas kaki, rubber articles, maupun manufacture rubber goods (MRG) lainnya. Karena itu selain peluang ekspor yang terbuka, pasar karet di dalam negeri masih cukup besar. Pasar potensial yang akan menyerap pemasaran karet adalah industri-industri hilir dan akhir di dalam negeri seperti industri ban, otomotif, aspal, dan lain-lain yang patut diperkuat dan dikembangkan.

.

Peluang & Nilai Tambah

  Seiring kebutuhan menggunakan barang yang bersifat tahan pecah dan elastis maka kebutuhan akan karet saat ini akan terus berkembang dan meningkat sejalan dengan pertumbuhan industri terkait: otomotif, kebutuhan rumah sakit, alat kesehatan dan keperluan rumah tangga dan sebagainya. Diperkirakan untuk masa datang kebutuhan karet akan terus meningkat. Hal ini akan menjadi peluang yang baik bagi Indonesia mengembangkan industri hilir atau mengekspor karet dan hasil olahan industri karet Indonesia ke negara‐negara lain.

  Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor: 112/M-IND/PER/10/2009 tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Kluster Industri Karet dan Barang Karet, bahwa industri karet dan barang karet dikelompokkan dalam tiga kelompok industri, yakni: kelompok industri hulu, kelompok industri antara, dan kelompok industri hilir. Kelompok industri hulu mencakup: bahan olahan karet (bokar) dan kayu karet. Kelompok industri antara mencakup: crumb rubber, sheet/RSS, latek pekat, thin pole crepe, dan brown crepe. Kelompok industri hilir mencakup: ban dan produk terkait serta ban dalam, barang jadi karet untuk keperluan industri, barang karet untuk kemiliteran, alas kaki dan komponennya, barang jadi karet untuk penggunaan umum, dan alat kesehatan dan laboratorium.

  Ragam produk karet yang dihasilkan dan di ekspor Indonesia masih terbatas, umumnya masih didominasi oleh produk primer (raw material) dan produk setengah jadi. Produk karet alam bisa ditingkatkan dengan meningkatkan teknologi pengolahan karet yang mampu meningkatkan efisiensi, sehingga lateks yang dihasilkan dari getah karet bisa lebih banyak dan menghasilkan material sisa yang semakin sedikit.

  Terlebih dari itu, nilai tambah produk karet dapat diperoleh melalui pengembangan industri hilir, selain juga pemanfaatan kayu karet sebagai bahan baku industri kayu. Industri hilir karet dari bahan lateks dan crumb rubber (keduanya berasal dari getah karet) meliputi: industri alat kesehatan & laboratorium, Ban, Kelengkapan kendaraan lain, Pelengkapan & pakaian olah raga, Perlengkapan Teknik Industri, Perlengkapan Anak & Bayi, Perlengkapan Rumah Tangga, serta barang lain (pelampung), dsb.

  Saat ini Indonesia masih “terperangkap” menghasilkan produk-produk antara dari karet. Produk olahan karet alam Indonesia lebih didominasi untuk menghasilkan RSS, SIR dan crepe. Lebih dari 90% produk-produk tersebut diekspor, kurang dari 5% yang diolah menjadi produk final. Berbeda dengan Thailand yang telah mengembangkan produk-produk akhir dari karet alam.

  Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong sektor industri pengolahan karet agar semakin produktif dan berdaya saing serta mampu melakukan diversifikasi produk. Langkah tersebut sekaligus memacu program hilirisasi dan memperdalam struktur sektor manufaktur di dalam negeri. Dalam pertemuan dengan Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo), 14 Juni 2020 di Jakarta, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa pemerintah terus mengupayakan agar industri dapat terus berproduksi serta meningkatkan kinerjanya, mengingat kontribusi penting industri karet alam terhadap pengembangan industri di dalam negeri.

  Jika industri hilir berkembang, maka status industri karet akan berubah dari pemasok bahan mentah menjadi pemasok barang jadi atau setengah jadi yang bernilai tambah lebih tinggi yakni melakukan pengolahan lebih lanjut dari hasil karet. Semuanya memerlukan dukungan teknologi industri yang lengkap, diperoleh melalui kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi yang dibutuhkan. Indonesia telah memiliki lembaga penelitian karet yang menyediakan ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi di bidang perkaretan.

  Memperhatikan peningkatan permintaan bahan karet alam di negara‐negara industri terhadap komoditi karet, maka upaya meningkatkan persediaan karet alam dan industri produksi karet merupakan langkah tepat. Mendukung upaya ini perlu diperhatikan perkembangan perkebunan karet, serta industri hilir guna memberi nilai tambah hasil industri hulu. Apakah perguruan tinggi akan bergabung terkait dengan program kampus merdeka – merdeka belajar (MBKM)? Diperlukan kebijakan pemerintah yang memadai.

.

Potensi Hilirisasi  

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sumber: STA Group, 2013

.

  Potensi Indonesia menjadi produsen karet alam terbesar kedua di dunia merupakan peluang industri pengolahan karet semakin produktif, berdaya saing, dan mampu mendiversifikasi produk melalui program penghiliran. Syamdian, Kepala Balai Riset dan Standardisasi (Baristand) Industri Palembang, mengatakan dorongan penghiliran diimplementasikan dengan program penelitian, pengembangan inovasi, konsultasi, penjaminan kualitas produk, dan pelatihan transfer teknologi industri khususnya Jambi dan provinsi penghasil karet lainnya. Kolaborasi di antara stakeholder memegang peran penting dalam pembentukan ekosistem industri karet alam. Selain itu dapat mendukung perumusan langkah strategis penghiliran industri barang jadi karet serta usulan rencana aksi untuk mengembangkan perkomoditi dan potensi lainnya.

  “Baristand Industri Palembang memiliki teknologi yang siap untuk dimanfaatkan calon wirausaha, contohnya ban pejal kursi roda, rubber tips untuk tongkat pasien, shock dumper, selang gas LPG, bantalan conveyor, karet otomotif, karpet, tegel, alas kaki dan paving block karet,” melalui siaran pers, Rabu (9/12/2020). Baristand Industri Palembang juga sedang mengembangkan teknologi pengolahan lateks menjadi karet keperluan medical device. Pada akhirnya hasil litbang prototip barang karet sudah techno-proven dan economically feasible untuk diadopsi ke tenant. Bahkan, Baristand juga siap menjadi Techno-Incubator dan Quality Assurance bagi pelaku industri di dalam negeri.

  Upaya yang diinisiasi oleh Baristand Industri Palembang untuk mengembangkan industri hilirisasi karet alam, mendapat banyak dukungan dari stakeholder di Jambi. Semoga.

.

• Lili Irahali (Dari berbagai sumber) 

.

Generasi Z, Pendidikan, dan Negeri Berdaya 2045

             

Generasi Z, Pendidikan, dan Negeri Berdaya 2045

.

Lili-6  Negeri Berdaya sebelum Indonesia Merdeka menurut sejarah dicapai oleh dua kerajaan besar di Nusantara (Indonesia). Kerajaan Sriwijaya pada 683 – 1178 M, dan Kerajaan Majapahit pada 1293 – 1527 M. Kiprah mereka sudah mengglobal dan dicatat dalam sejarah nasional maupun internasional. Apa yang mendasari capaian tersebut, bisa diduga pemberdayaan sumber daya manusia dan kepemimpinan yang mendukung kiprah keduanya. Namun kemudian keduanya surut karena konflik dan peperangan.

  Di masa kejayaannya, Sriwijaya mengontrol perdagangan di jalur utama Selat Malaka. Sriwijaya berhasil di bidang maritim, politik dan ekonomi. Kekuasaannya meliputi Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera dan sebagian Jawa.

  Sementara kejayaan Majapahit di bidang ekonomi, Majapahit menjadi pusat perniagaan di Asia Tenggara dengan komoditas ekspor lada, garam, dan kain. Didukung armada laut yang tangguh serta kekuatan militer dan strateginya Majapahit mampu menciptakan stabilitas di wilayahnya. Rentang kekuasaannya meliputi: Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura) dan sebagian Kepulauan Filipina. Juga memiliki jalinan relasi dengan Campa/Thailand, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, Veitnam dan Cina.

  Kalau diperhatikan capaian tersebut dalam rentang hampir 700 tahun. Pertanyaannya, apakah pada 700 tahun ketiga (2045an), Indonesia (wajah baru Nusantara) bisa menjadi Negeri Berdaya? Bermimpi atau Bercita-cita sebuah keharusan. Namun membutuhkan perjuangan dan pengorbanan, serta berpikir dan berperilaku untuk bangsa, bukan untuk diri dan kelompok. Generasi Indonesia lalu dan kini bertanggungjawab terhadap keberlangsungan generasi ke depan dan negeri ini melalui penyiapan sumber daya manusia yang didukung ilmu pengetahuan, teknologi, dan karakter bangsa. Bukti sejarah telah ditorehkan oleh para pendahulu. Tentunya dengan catatan memaknai sebab-sebab keruntuhannya, dan menemukan solusi untuk menghindarinya, serta secara kreatif mengembangkan inovasi-inovasi baru berbasis ilmu pengetahuan, teknologi dan karakter.

  Lepas dari masa penjajahan, Indonesia telah dihantarkan para pendiri bangsa ini melalui pemikiran ketika itu (pemikiran-pemikiran yang lahir dari pergulatan pemahaman ideologi kolonialisme/kapitalisme, nasionalisme, sosialisme, Islamisme, marxisme), serta pengaruh sejarah, pendidikan dan revolusi Industri, sehingga lahir bangsa dan negeri Indonesia berlandaskan Pancasila dan UUD 45. Indonesia adalah hasil olah pikir, rasa, karsa, perjuangan dan cita-cita yang mulia generasi pendahulu pendiri Indonesia.

  Sensus Penduduk 2020 Indonesia dihuni 270 juta jiwa, diantaranya penduduk usia muda (Generasi Y usia 26 sd 40 tahun 25,87 %; Generasi Z usia 11 sd 25 tahun 27,94 %; serta Generasi Alpha usia 11 tahun ke bawah 10,88 %) total sebanyak 64,69 %. Sementara Generasi X usia 41 sd 61 tahun 21,88 % dalam 14 tahun kedepan produktivitasnya akan menurun, Generasi Y juga akan menurun. Generasi Z, dan Generasi Alpha sebagai penduduk produktif (berusia muda) adalah potensi dalam mencapai Bonus Demografi sampai 2035, serta Indonesia Unggul 2045.

  Problemnya sejauhmana ketiga generasi tersebut, khususnya Generasi Z mampu menjadi tumpuan. Tentunya dengan menjaga dan mengembangkan mereka sebagai sumber daya manusia yang berkualitas, sehat, produktif, serta berintegritas. United Nations Population Fund (UNFPA) menyebutkan sebuah negara dapat menikmati Bonus Demografi ketika setiap orang menikmati kesehatan yang baik, pendidikan yang berkualitas, pekerjaan yang layak, dan kemandirian anak muda (usia produktif) yang dipadukan dengan kebijakan negara yang baik dan tepat.

  RK Indonesia menurun sejak akhir 1970-an dan diperkirakan terus menurun sampai titik terendah pada 2020 – 2035. Penurunan RK memunculkan dua peluang dalam meraih Bonus Demografi. Pertama, dapat diraih saat terjadi peningkatan pendapatan perkapita sebagai hasil dari peningkatan penduduk usia produktif relatif terhadap usia non-produktif. Kedua, dapat diraih setelah penduduk usia kerja mengakumulasi asset mereka melalui investasi dan tabungan hari tua untuk membiaya konsumsi di masa tua (Diahhadi Setyonaluri, Flora Aninditya, 2020).

  Pekerjaan rumah kita adalah mengoptimalkan sumber daya produktif di atas, apalagi negara lain masih kebingungan mencari asupan generasi muda produktif. Bagaimana harapan ini mewujud, dan benar-benar kita mampu menikmati Bonus Demografi. Salah satunya potensi besar ini seharusnya didukung dengan mengembangkan platform serta ekosistem pendidik yang baik dan tepat di tengah era Industri 40 dan era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity). Inilah yang patut kita maknai.

  Potensi kuantiti Generasi Z sesungguhnya membuka peluang. Namun demikian perlu mencermati karakter Gen Z, khususnya sisi-sisi lemah mereka yang harus diperkuat, serta sisi-sisi kuat mereka untuk dikembangkan melalui platform dan ekosistem pendidikan yang memberdayakan mereka. Bisa jadi kita memerlukan paradigma baru pendidikan. Mungkin saja, salah satu jalan terbuka melalui Kebijakan Merdeka Belajar yang bisa dipandang sebagai terobosan dalam mempercepat transformasi pendidikan. Merdeka Belajar juga merupakan filosofi yang mendasari proses sekaligus tujuan jangka panjang pendidikan Indonesia.

  Merdeka Belajar sebagai filosofi sesungguhnya berakar pada pemikiran Ki Hajar Dewantara – Bapak Pendidikan kita. Kemerdekaan adalah tujuan pendidikan sekaligus paradigma pendidikan yang seharusnya dipahami seluruh pemangku kepentingan. Beliau mengatakan bahwa kemerdekaan adalah kemampuan unruk hidup dengan kekuatan sendiri, menuju ke arah tertib-damai, serta selamat dan bahagia, berdasarkan kesusilaan hidup manusia (2013, h.480). Keselamatan dan kebahagiaan sebagai tujuan tidak saja diperoleh dan dirasakan oleh individu, tetapi juga secara kolektif (Dewantara, 2013).

  Dikatakan beliau bahwa dalam pendidikan, kemerdekaan memiliki tiga sifat: berdiri sendiri, tidak bergantung pada orang lain, dan dapat mengatur dirinya sendiri. Ini menyiratkan bahwa kemandirian dan upaya untuk senantiasa memerdekakan diri adalah tujuan yang ingin dicapai melalui proses pendidikan.

  Karena itu Merdeka Belajar tidak cukup hanya dituangkan dalam kebijakan saja. Merdeka Belajar seharusnya melandasi seluruh kebijakan pendidikan, baik di tingkat nasional maupun di konteks mikro, yaitu ruang-ruang kelas hingga keluarga. Filosofi Merdeka Belajar sangat erat pula dengan konsep pembelajaran sepanjang hayat, pembelajaran mandiri, serta pola pikir berkembang. Penelitian menunjukkan bahwa hal tersebut sebagai modal penting generasi muda ke depan menghadapi perkembangan zaman yang cepat. Apalagi di era VUCA dan Industri 4.0. Dokumen kebijakan dari OECD dan UNESCO menekankan perlunya mempersiapkan peserta didik menghadapi VUCA. Mereka menekankan kompetensi sosial-emosional yang diperlukan untuk mengatasi kondisi seperti itu.

  Nah, konon Merdeka Belajar dirancang untuk mencapai tujuan jangka panjang dengan basis filosofi Ki Hajar Dewantara. Dalam konteks pengelolaan pendidikan setiap daerah, setiap penyelenggara dan pengelola pendidikan, setiap pendidik dan tenaga kependidikan merupakan “agents” yang harus makin mampu membangun dirinya sendiri.

  Semoga semangat dan kebijakan Merdeka Belajar sebagai sebuah terobosan mampu memberikan ruang bagi siapapun tersebut di atas menyelenggarakan dan mengelola pendidikan sesuai dengan kapasitas dan sumber daya yang tersedia sebaik-baiknya, sekaligus mampu mengembangkan sumberdaya manusia unggul. Indonesia Unggul 2045. Wallahualam.

  Vivat Widyatama, Vivat Civitas Academica, Vivat Indonesia dan Nusantara tercinta. (@lee)

.

Redaksi – Lili Irahali

QuiiZ …. KiRim NeWs, Ilustrasi, Sequen-Foto berita WidyaTamA untuk Komunita Edisi #31

QuiiZ …. KiRim NeWs, Ilustrasi, Sequen-Foto berita WidyaTamA untuk Komunita Edisi #31

BE a CITIZEN JOURNALIST & ILUSTRATOR

Dapatkan Hadiah Pilihan Kamu !!!

1) voucher makan bareng teman di Foodcourt Widyatama – Universitas Widyatama OR

2) Voucher pulsa HP anda senilai Rp 200.000 (dua ratus ribu).

.

1. Mahasiswa punya berita / news kampus ? Berniat membuat berita ? Berlatih membuat Berita ? Foto Berita / Mau menjadi citizen journalist ? KIRIM News, Foto berita, ilustrasi anda ke majalah Komunita.

.

2. Syarat : a) Berita mengandung konten 5 W (What, Who, When, Where, Why), 1 H (How); atau Foto Berita; b) Tema kegiatan kampus dan mahasiswa yang mempunyai nilai berita; c) Kegiatan subjek berita pada periode sebelum terbit edisi #31, d) Ilustrasi.

                                  

Kirim Berita/News/Foto Berita/Ilustrasi Anda melalui : Sekretaris Redaksi Komunita, email : [email protected], [email protected]. Berita/Foto yang dimuat pada KOMUNITA edisi #31 mendapat hadiah yang dapat diambil di Redaksi Komunita, Telp 122, dengan membawa identitas lengkap.

.

Kantor Buka pada : Rabu – Kamis, jam 10.00 s/d 16.00.

.

Selamat bergabung sebagai citizen Journalist, illustrator majalah

IKUTI DAN BACA TERUS MAJALAH KOMUNITA.

.

                                            

.

.

KEMBANGKAN KECENDEKIAAN & KOMPETENSI DIRI; BERBAGI PENGETAHUAN DAN BAGI SESAMA ….. ATAU SEDEKAH ILMU …… MENJEMPUT PAHALA TIDAK TERPUTUS 

KEMBANGKAN KECENDEKIAAN & KOMPETENSI DIRI;

BERBAGI PENGETAHUAN DAN BAGI SESAMA ….. ATAU

SEDEKAH ILMU …… MENJEMPUT PAHALA TIDAK TERPUTUS  

EKSPRESIKAN POTENSI ANDA melalui

majalah KOMUNITA …..!!!, pada:

1)Rubrik Buah Pikir
2)Rubrik Opini
3)Rubrik Resensi Buku & Film
4)Rubrik Ragam
5)Rubrik Wawasan
6)Rubrik Ilustrasi Grafis atau Foto

Syarat : belum pernah dipublikasikan, untuk naskah tulisan 1.500 s/d 2.000 kata dalam bahasa Indonesia dalam 1,5 spasi, dilengkapi cv singkat dan foto diri.

Karya disampaikan ke alamat email : [email protected], yandaramadana @gmail.com, atau Redaksi Komunita, Gedung A lantai 1 Yayasan Widyatama, Kampus Widyatama, jl. Cikutra 204 A Bandung, 40125.

 Terima kasih. (Redaksi)

.

REDAKSI

.

.

TOPIK KOMUNITA Edisi berikut.

Edisi # 31 : SDGs, Bagaimana upaya PT.

Edisi # 32 : Biaya Pendidikan Tinggi Mahal ? Edisi # 33 : Bonus Demografi Peluang & Tan-tangan

Kami mengundang bpk, ibu, rekan-rekan, serta adik-adik mahasiswa berpartisipasi dan berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam topik di atas berbentuk naskah tulisan, foto dll.

Kami tunggu partisipasi Anda. Terima kasih. (red.)

Salam,

Redaksi

WISATA SEMARANG KOTA LAMA

C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\1635303310806.jpgWISATA SEMARANG KOTA LAMA

  Kota Lama Semarang, Sebuah Cerita dengan Keindahan dan Sejarah Belanda

.

C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\1635303310998.jpgKota lama Semarang dibangun pada abad 18 ketika itu masih era pemerintahan Hindia Belanda. Pada jaman dulu kota tua merupakan pusat pemerintahan Semarang dan pusat pemukiman masyarakat Belanda. Seperti bangunan Belanda lainnya, kawasan kota tua di bangun dengan model perumahan yang ter-konsep dan memiliki nilai seni tinggi. Sampai sekarang di sekeliling kota tua terdapat sebuah kanal air dilengkapi dengan jembatan, yang salah satunya merupakan jembatan Berok masih aktif hingga sekarang.

.

Wisata Kota Lama Semarang

Kota lama, Semarang Jawa Tengah di jaman itu menjadi sebuah kawasan yang sering disebut oleh orang sekitar dengan sebutan Outstadt dipenuhi oleh gedung-gedung mewah dijadikan kantor Belanda. Sampai sekarang ada satu gedung masih terawat dengan baik yaitu gedung Asuransi Jiwasraya. Sedangkan kawasan permukiman warga, di kota lama terdapat pusat peribadatan seperti Gereja Blenduk dan juga Gereja Gendangan.

Tidak hanya itu terdapat juga ruangan mewah terbuka Taman Srigunting dan gedung Marabunta yang pada jaman dulu dijadikan warga sekitar kota lama di Semarang sebagai gedung pertunjukan. Secara umum, hampir seluruh karakter bangunan yang ada di kawasan kota tua memiliki gaya Eropa elit di jaman itu, seperti di teman- temani dengan besarnya ukuran pintu dan jendela setiap gedung, penggunaan kaca patri, bentuk atap yang terlihat unik, hingga konon terdapat ruangan rahasia di bawah tanah.

.

C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\1635303311173.jpg

C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\1635303311186.jpg

.

Keindahan Taman Terbaik Indonesia di Selecta Malang dan Wahana Menarik. Sebutan lain dari kawasan wisata kota lama yang menjadi sebuah julukan khas di dalamnya, yaitu Little Netherland. Sebutan itu didapat lantaran sekeliling kota lama Jawa Tengah terdapat bangunan khas Eropa. Setelah negara Indonesia merdeka, kawasan elit Little Netherland perlahan mulai ramai ditinggalkan oleh penduduk Belanda. Saat ini tersisa di bangunan mewah kota lama hanyalah bangunan bangunan mewah bersejarah, namun sayangnya bangunan tersebut tidak terawat dengan baik.

C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\1635303311198.jpg    Saat Pagi sampai dengan sore hari masih banyak orang yang lalu lalang melewati bangunan tua, tapi bila sudah malam hari kawasan kota lawas Semarang berubah sunyi dan terkesan misterius. Pada akhirnya pihak pemerintah dengan bekerja sama dengan penduduk sekitar sepakat menghidupkan kembali suasana di kota lama Jateng yaitu dengan cara sering mengadakan festival seni dengan mengundang artis lokal sampai artis nasional.

    Biarpun sekarang jarang diselenggarakan festival seni, berkunjung ke kota lama, Semarang Jawa Tengah wajib teman-teman masukan ke daftar wisata kunjungan. Kita dapat membayangkan bukan, dengan menyusuri lorong lorong kecil di kawasan kota lawas Semarang. Kita akan merasakan sensasi sebuah kenangan lama yang telah bangkit kembali, yaitu sebuah kenangan masa lalu bernuansa Eropa. Tidak hanya itu, bila malam hari tiba di daerah wisata kota lama Semarang, terdapat wisata kuliner dari berbagai pedagang berjualan di sekitar komplek kota lama di Semarang. Meskipun liburan teman-teman, menyaksikan bangunan bangunan tua Semarang, percayalah perjalanan teman-teman akan terkesan.

C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\1635303310973.jpgBagi teman-teman yang menyukai seni retro atau vintage maka teman-teman dapat jalan jalan ke kota tua hanya sekedar photo hunting. Tapi jangan lupa, kalau tujuan teman-teman hanya sekedar foto maka gunakan juga model busana vintage style agar menambah kental rasa retro suasana. Nyaris setiap sudut kota tua Semarang, bisa diabadikan dalam sebuah foto. Bagi teman-teman yang ingin melangsungkan pernikahan maka teman-teman bisa memakai background kota lama Jateng sebagai foto prewedding yang sempurna, tentu wajib teman-temani memilih lokasi foto prewedding. Apabila teman-teman menuju lokasi Srigunting di wisata kota lama Semarang, maka teman- teman akan melihat banyak sekali lapak-lapak pedagang yang menjual aneka barang unik dan antik. Barang yang biasanya di jual antara lain adalah buku, komik lawas, setrika antik, penggilingan kopi jadul, mainan mainan anak tempo dulu, rantang antik, semua barang antik yang memiliki nilai seni tinggi dapat kamu beli di sini. Selain barang barang antik, teman- teman pun dapat menemukan aneka kerajinan seni. Tidak ketinggalan pula komunitas komunitas sepeda antik juga berkumpul sekedar nongkrong atau pun melakukan kopdar komunitas.

Di kawasan wisata kota lama Jawa Tengah, terdapat beberapa galeri seni dan koleksi barang kuno apik. Diantaranya adalah Galeri Semarang atau sering di sebut dengan Semarang Contemporary Art Gallery yang berdiri tahun 2008. Ruang pameran menggunakan gedung bekas kantor sebuah perusahaan asuransi Indische Llyod, konon usianya nyaris satu abad. Di dalam galeri, dapat melihat koleksi lukisan, patung dan benda seni lainnya. Selain di galeri Semarang teman-teman pun dapat melihat lihat galeri seni yang berada di lantai dua Spiegel Bar & Resto.

  .

C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\1635303310832.jpg C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\1635303310845.jpg

.

C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\1635303310882.jpg

C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\1635303310895.jpg

.

C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\1635303310922.jpg  C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\1635303310935.jpg

.

Rute Kota Lama

Letak umum atau geografis kota tua Semarang yaitu bersebelahan dengan stasiun Tawang dan pasar Johor. Teman-teman dapat menggunakan kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum, seperti data wisata berikan rute nya :

.

A. Kendaraan Pribadi

Misal teman-teman datang dari arah Demak, maka kamu bisa lewat kawasan terminal Terboyo, menyusuri jalan Jendral Raden Patah, kemudian masuk ke kawasan wisata kota lama. Datang dari arah Ungaran, menyusuri rute Banyumanik, Peterongan, dilanjutkan ke Jalan MT Haryono, Bunderan Mbubakan, Jalan Cendrawasi dan sampai lah di kota lama. Misal Teman-teman datang dari arah Barat teman-teman dapat melalui rute bunderan Kali Banteng, bunderan Tugu Muda, Lawang Sewu, Jalan Pemuda, Pasar Johar, kota tua Semarang.

.

C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\1635303310986.jpgC:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\1635303311135.jpg

C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\1635303310960.jpg

.

B. Kendaraan Umum

Bila teman-teman tidak membawa kendaraan pribadi teman-teman pun tidak perlu khawatir, lantaran ada beberapa rute yang mudah agar sampai di kota tua Semarang, menggunakan kendaraan umum/motor sebaiknya, karena memang jalannya kecil dan minimnya tempat parkir.

Kendaraan umum kereta api, teman-teman bisa turun di stasiun Tawang. Dimana polder Tawang tersebut merupakan salah satu ikon dari kota lama Semarang, letaknya tepat di depan pintu masuk stasiun dan teman-teman pun bisa mengakses kota lama dengan hanya berjalan kaki.

.

  C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\1635303311048.jpg 

  C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\1635303311060.jpg

.

Sebenarnya, bagi teman-teman yang ingin menikmati keindahan seni dari Kota lama tidak ada biaya yang pasti, lantaran teman-teman tidak perlu mengeluarkan biaya tiket masuknya. Namun apa bila teman-teman ingin keliling kota Lama menggunakan becak ataupun delman, mungkin teman-teman harus mempersiapkan ongkos jasa tersebut.

.

C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\1635303311073.jpg

 

C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\1635303311085.jpg

        

Happy holiday Gaisss..
PO Hotel Semarang

Paragon City Mall Semarang

Alamat    : Jl. Pemuda No.118, Sekayu, Kec. Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah 50132
Telepon    : (024) 86579111
Email
    : info@pohotels.co.id
Website
    : http://web.pohotels.co.id/
Check in
    : 14.00 WIB
Check out
  : 12:00 WIB

.

By Yanda Ramadana, Oktober, 2021

.