Home Blog

”Kode” untuk Bumi: Ketika Teknologi Bertemu Kesadaran Global

Wawancara

Prof. Dr. Azizul Azhar bin Ramli

Dekan Periode 2022 – 2024,  Peneliti – Fakulti Sains Komputer dan Teknologi Maklumat – Universiti Tun Hussein Onn Malaysia

Di sebuah ruang kerja yang dipenuhi layar komputer dan papan tulis penuh sketsa algoritma, seorang profesor ilmu komputer mengakui bahwa pertemuannya dengan gagasan keberlanjutan tidak datang dari laboratorium atau konferensi teknologi. Justru datang dari sebuah dokumen global yang tampaknya sederhana: daftar 17 tujuan yang dikenal sebagai United NationsSustainable Development Goals (SDGs).

Ketika pertama kali membaca dokumen itu, reaksinya spontan. “Akhirnya dunia memiliki daftar tugas bersama,” terangnya.

Sebelum SDGs, menurutnya negara, lembaga, dan komunitas ilmiah sering bekerja sendiri-sendiri, memecahkan potongan kecil masalah global tanpa kerangka bersama. SDGs mengubah cara pandang itu. Untuk pertama kalinya, umat manusia tampak duduk di meja yang sama dan menyepakati tujuan kolektif—dari menghapus kemiskinan hingga melindungi ekosistem bumi.

Bagi seorang ilmuwan komputer, kesadaran itu membawa perubahan mendasar: masalah global ternyata saling terhubung. Kemiskinan tidak dapat diatasi tanpa pendidikan. Pendidikan tidak berkembang tanpa lingkungan yang sehat. Air bersih, kesehatan, pangan, dan energi membentuk satu sistem yang saling terkait.

“Di titik itu saya menyadari bahwa teknologi tidak boleh hanya memikirkan pengguna.” “Kita harus memikirkan manusia secara keseluruhan,” ujarnya.

Dari Baris Kode ke Dampak Global

Selama bertahun-tahun, ia mengira pekerjaannya sebagai ilmuwan komputer hanyalah membuat aplikasi lebih cepat atau situs web lebih efisien. Namun perkembangan teknologi digital membuka perspektif baru.

Sebuah algoritma misalnya, dapat membantu petani di desa terpencil memprediksi musim kering. Sebuah aplikasi sederhana dapat membantu dokter mendiagnosis pasien dari jarak jauh. Program komputer yang dirancang dengan baik bisa menjangkau jutaan orang sekaligus—tanpa biaya distribusi yang besar.

“Di situlah saya menyadari sesuatu yang sangat kuat. Jika saya membuat alat fisik, saya membantu satu orang. Jika saya menulis perangkat lunak, saya bisa membantu jutaan orang,” jelasnya. Inilah yang ia sebut sebagai kekuatan skala dalam ilmu komputer.

Perubahan cara pandang ini membuatnya melihat teknologi sebagai alat strategis dalam mencapai tujuan global. Bahkan hal yang tampak kecil—seperti membuat program lebih efisien—dapat berdampak besar. Server internet dan pusat data mengonsumsi energi yang sangat besar. Ketika algoritma dibuat lebih hemat daya, konsumsi listrik menurun dan emisi karbon berkurang.

“Kadang orang tidak menyadari bahwa mengoptimalkan kode juga berarti menghemat energi bagi planet ini,” katanya sambil tersenyum.

Ilmu Komputer: Lebih dari Sekadar Pemrograman

Banyak orang masih menganggap ilmu komputer identik dengan pemrograman. Padahal, menurutnya inti dari disiplin ini adalah logika dan pemecahan masalah. Pemrograman hanyalah bahasa yang digunakan untuk memberi instruksi kepada mesin. Tantangan sebenarnya adalah memecah persoalan besar menjadi langkah-langkah yang dapat diselesaikan secara sistematis.

Bagaimana memberi makan delapan miliar manusia? Bagaimana memprediksi  perubahan iklim? Bagaimana mengelola sistem kesehatan yang kompleks? Pertanyaan-pertanyaan ini membutuhkan cara berpikir komputasional: mengubah data dunia nyata yang berantakan menjadi peta informasi yang dapat dibaca dan dianalisis.

Ilmu komputer, katanya, berfungsi sebagai penerjemah data. Para ilmuwan mengambil data cuaca, rekam medis, atau statistik ekonomi, lalu mengubahnya menjadi wawasan yang dapat membantu pengambil keputusan.

Dalam konteks SDGs, teknologi sering bekerja secara diam-diam tetapi efektif. Contohnya dapat ditemukan dalam bidang pertanian. Sensor tanah yang terhubung ke ponsel memungkinkan petani mengetahui tanaman mana yang membutuhkan air. Dengan sistem ini, penggunaan air dapat dihemat secara signifikan sekaligus meningkatkan hasil panen.

Di sektor konsumsi, aplikasi digital dapat membantu toko makanan menjual produk yang hampir kedaluwarsa dengan harga diskon alih-alih membuangnya. Solusi sederhana seperti ini mampu mengurangi limbah makanan dan emisi karbon.

Teknologi, dengan kata lain, sering kali menjadi jembatan antara niat baik dan tindakan nyata.

Kecerdasan Buatan dan Dunia yang Lebih Terhubung

Nah, perkembangan Artificial Intelligence/AI (Kecerdasan Buatan) mempercepat potensi tersebut.  Dalam dunia kesehatan, algoritma AI kini mampu menganalisis gambar rontgen atau foto penyakit kulit dengan akurasi yang mendekati dokter spesialis. Bagi daerah terpencil yang kekurangan tenaga medis, teknologi ini bisa menjadi penyelamat.

Di bidang pendidikan, AI berfungsi seperti tutor pribadi yang tidak pernah lelah. Sistem pembelajaran digital dapat menjelaskan materi dengan berbagai cara hingga siswa benar-benar memahami konsepnya.

“Teknologi membuat pengetahuan ahli dapat hadir di tempat yang sebelumnya tidak terjangkau,” terangnya.

Lebih jauh lagi, AI juga membantu mengurangi kesenjangan digital global. Aplikasi penerjemahan otomatis memungkinkan seseorang yang berbicara bahasa lokal mengakses pengetahuan global tanpa harus mempelajari bahasa asing. Dengan kata lain, teknologi mulai belajar berbicara dalam bahasa manusia.

Generasi Digital yang Lebih Sadar Sosial

Jika ada satu hal yang membuat profesor ini optimistis tentang masa depan, itu adalah generasi muda. Mahasiswa saat ini, katanya tumbuh dalam dunia yang sepenuhnya terhubung. Mereka tidak hanya membaca berita tentang krisis iklim atau kemiskinan global; mereka melihatnya secara langsung melalui media sosial.

Akibatnya, kesadaran sosial menjadi bagian dari identitas mereka. “Generasi sebelumnya mungkin melihat isu global sebagai aktivitas sukarela. Mahasiswa sekarang melihatnya sebagai bagian dari siapa mereka,” katanya.

Perubahan ini juga terlihat dalam proyek-proyek mahasiswa. Jika dulu tugas akhir sering berupa aplikasi permainan sederhana, kini banyak mahasiswa memilih membuat teknologi yang berdampak sosial. Ada yang membuat aplikasi pelacak jejak karbon. Ada yang merancang sistem digital untuk bank makanan. Ada pula yang mengembangkan AI untuk mendeteksi penyakit tanaman.

“Minat mereka bukan hanya akademis. Mereka ingin melihat teknologi benar-benar memecahkan masalah,” jelasnya.

Universitas Global: Lebih dari Sekadar Peringkat

Perubahan paradigma ini juga memengaruhi cara kita memandang universitas. Menurutnya, sebuah universitas tidak menjadi global hanya karena memiliki kampus di banyak negara. Universitas disebut global ketika penelitian dan inovasinya memberikan dampak lintas batas. Jika sebuah laboratorium kecil mampu memecahkan krisis air di wilayah lain di dunia, universitas itu sudah bersifat global.

Ia juga percaya bahwa kampus harus menjadi laboratorium hidup  (Living Labaoratorium) bagi keberlanjutan. Mahasiswa dapat merancang sistem energi surya untuk gedung perpustakaan atau sistem pengelolaan limbah kampus. Ketika mereka melihat dampak nyata dari proyek mereka, pembelajaran menjadi lebih bermakna daripada sekadar nilai di transkrip.

Tentu saja, dalam dunia akademik modern, reputasi global sering diukur melalui sistem pemeringkatan seperti QS World University Rankings. Ia tidak menolak pentingnya peringkat tersebut. Menurutnya, peringkat dapat berfungsi sebagai sinyal reputasi yang menarik mahasiswa berbakat dan pendanaan riset.

Namun ia mengingatkan bahwa peringkat hanyalah “cermin tingkat tinggi”. “Peringkat bisa mengukur publikasi dan reputasi. Tetapi sulit mengukur jiwa sebuah universitas—seberapa besar dosen peduli pada mahasiswa atau nilai-nilai etika yang diajarkan di kelas,” tegasnya.

Teknologi Menuju 2030

Ketika berbicara tentang masa depan, ia menunjukkan antusiasme yang jelas. Salah satu perkembangan yang paling menarik baginya adalah AI untuk optimalisasi sumber daya. Bayangkan jaringan listrik kota yang dikelola oleh sistem cerdas yang secara otomatis mendistribusikan energi ke tempat yang paling membutuhkan, meminimalkan pemborosan.

Teknologi lain yang menjanjikan adalah jaringan sensor global berbasis satelit yang memantau kondisi bumi secara real-time—mulai dari hutan hingga lautan. Dengan data semacam ini, aktivitas ilegal seperti penebangan hutan atau pemborosan air dapat dideteksi segera.

Namun ia juga mengingatkan tentang dua ancaman besar: meningkatnya limbah elektronik dan potensi bias algoritma. Jika tidak hati-hati, teknologi yang dirancang untuk menyelamatkan planet justru dapat menciptakan masalah baru.

Optimisme yang Keras Kepala

Ketika ditanya apakah dunia masih memiliki peluang mencapai target SDGs pada tahun 2030, ia tidak ragu menjawab. “Saya seorang optimis yang keras kepala,” katanya sambil tertawa.

Data memang menunjukkan bahwa dunia masih tertinggal dari banyak target. Namun sejarah menunjukkan bahwa inovasi manusia berkembang secara eksponensial. Kita sering melebih-lebihkan apa yang dapat dilakukan dalam satu tahun, tetapi meremehkan apa yang dapat dicapai dalam satu dekade.

Sumber optimisme terbesarnya tetap sama: mahasiswa. “Mereka tidak menunggu izin untuk mengubah dunia. Mereka sudah mulai membangun alatnya,” katanya.

Teknologi sebagai Cermin Nilai

Pada akhirnya, ia mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat. Ia bisa memperbesar kesenjangan—atau mengurangi ketidakadilan. Ia bisa merusak lingkungan—atau membantu menyelamatkan planet.

Teknologi adalah cermin dari nilai manusia, jelasnya. Jika masyarakat hanya mengejar keuntungan, teknologi akan mengikuti arah itu. Tetapi jika dunia memilih keberlanjutan dan kesetaraan, teknologi dapat menjadi alat paling kuat yang pernah dimiliki umat manusia.

Dan yang paling menarik: setiap orang memiliki peran. “Kita semua, pada dasarnya, adalah programmer masa depan.  Dengan memilih teknologi yang etis dan berkelanjutan, kita ikut menulis kode sumber bagi dunia yang lebih baik.” tegasnya optimis.

 

(Interview by Egi Abinowi; Written by Lili Irahali)

 

Menata Jalan ke Panggung Global: Saat Riset, Kurikulum, dan Lulusan Menjadi Wajah Universitas

Wawancara Rektor Universitas Widyatama

Prof. Dr. Dadang Suganda, M.Hum.

Komunita beberapa kali bersepakat menemui Rektor Universitas Widyatama – Prof. Dr. Dadang Suganda, M.Hum untuk melakukan wawancara. Namun baru kali ketiga kami bisa bertemu. Di tengah kesibukan beliau, Komunita menggali lebih dalam tentang isu Global Academic University yang saat ini terus bergulir.  Dari wawancara ini menegaskan bahwa transformasi menuju Global Academic University bukan hanya soal internasionalisasi simbolik, tetapi tentang konsistensi membangun ekosistem riset, kurikulum adaptif, serta luaran yang berdampak nyata bagi masyarakat. Mari kita simak pandangan beliau.

 

Di tengah perubahan global yang bergerak cepat—dari disrupsi teknologi hingga tekanan ekonomi—perguruan tinggi tidak lagi bisa hanya mengandalkan proses pembelajaran di ruang kelas. Ukuran keberhasilan kini bergeser: bukan sekadar apa yang diajarkan, melainkan apa yang dihasilkan.

Di sinilah konsep Global Academic University menemukan relevansinya, jelasnya. Fokusnya tegas: luaran akademik. Kualitas mahasiswa baru, kurikulum yang adaptif, tingkat serapan lulusan, kemampuan menciptakan lapangan kerja, hingga kesejahteraan alumni menjadi indikator nyata yang tak bisa ditawar. Perguruan tinggi, dalam kerangka ini, tidak lagi cukup menjadi pusat pengetahuan—melainkan harus menjadi mesin penghasil dampak.

Namun, jalan menuju pengakuan global tidak dibangun dari kurikulum semata. Riset menjadi tulang punggung utama. Tanpa riset yang kuat, reputasi global hanya akan menjadi jargon. Di sinilah dua pilar penting bertemu: reputasi akademik dan reputasi riset. Keduanya saling menguatkan, membentuk legitimasi sebuah universitas di mata dunia.

Kurikulum, tentu saja, tetap menjadi fondasi. Tetapi kurikulum yang dimaksud bukanlah kurikulum statis. Ia harus hidup—menyerap isu-isu strategis global, seperti kecerdasan buatan, digitalisasi, hingga agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Dengan demikian, lulusan tidak hanya kompeten secara lokal, tetapi juga memiliki daya saing global.

Di sisi lain, dosen menjadi aktor kunci dalam transformasi ini. Perannya tidak lagi terbatas sebagai pengajar. Dosen dituntut menjadi peneliti aktif, kontributor ilmu pengetahuan, sekaligus agen perubahan. Indikatornya jelas: publikasi di jurnal bereputasi, peningkatan H-Index, jumlah sitasi, hingga lahirnya paten. Semua ini bukan sekadar angka, tetapi representasi dari kontribusi nyata terhadap perkembangan ilmu dan masyarakat.

Untuk itu, ia menegaskan ekosistem riset harus dibangun secara sistematis. Pendanaan penelitian, partisipasi dalam hibah kompetitif, hingga pendampingan melalui klinik jurnal menjadi bagian dari strategi yang tidak terpisahkan. Lebih dari itu, kolaborasi menjadi kunci. Ketika perguruan tinggi mampu bersinergi dengan lembaga riset, industri, hingga mitra internasional, maka batas antara teori dan praktik mulai melebur.

Contoh konkret pun mulai bermunculan. Ia menjelaskan, riset pemanfaatan teknologi AI dalam budidaya ikan lele, misalnya, menunjukkan bagaimana inovasi lokal dapat menembus panggung global. Dipublikasikan di jurnal internasional dan mendapat pengakuan luar negeri. Riset semacam ini menegaskan bahwa globalisasi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar—tetapi dari sesuatu yang relevan.

Namun, membangun universitas berkelas dunia tidak cukup hanya dengan riset dan publikasi. Tata kelola menjadi faktor penentu, tegasnya. Kepemimpinan harus mampu merumuskan arah strategis, sementara implementasi diserahkan pada fakultas dan program studi yang memahami konteks keilmuan masing-masing. Fleksibilitas ini penting agar kebijakan tidak berhenti di atas kertas.

Di dalamnya, peran guru besar menjadi sangat strategis. Mereka bukan hanya simbol akademik, tetapi motor penggerak keilmuan. Dengan membangun kelompok cabang keilmuan (KCK), riset tidak lagi menjadi aktivitas individual, melainkan gerakan kolektif yang terarah. Dari sinilah lahir regenerasi akademisi dan penguatan sub-bidang ilmu yang lebih spesifik.

Meski demikian, tantangan tetap nyata. Beban mengajar yang tinggi kerap menggerus waktu riset, terutama di perguruan tinggi swasta. Di titik ini, kemampuan manajemen waktu dan dukungan institusi menjadi krusial. Tanpa keseimbangan, idealisme akademik bisa terjebak dalam rutinitas administratif.

Pada akhirnya, Prof. Dadang menyebutkan semua upaya ini bermuara pada satu titik: lulusan. Mereka adalah wajah sejati universitas. Karena itu, orientasi pendidikan pun bergeser—dari mencetak pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja. Sertifikasi tambahan, pengalaman praktis, dan semangat kewirausahaan menjadi bekal penting di tengah ketidakpastian ekonomi.

Memang, realitas ekonomi hari ini tidak selalu ideal. Target gaji lulusan di atas rata-rata mungkin belum sepenuhnya tercapai. Namun, menjaga agar lulusan tetap kompetitif dan tidak berada di bawah standar minimum sudah menjadi langkah strategis yang realistis.

Ketika lulusan mampu membuktikan kualitasnya, efek domino pun terjadi. Kepercayaan publik meningkat, minat calon mahasiswa bertambah, dan reputasi institusi menguat. Dalam siklus inilah universitas menemukan perannya yang sesungguhnya—bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi sebagai penggerak perubahan sosial dan ekonomi.

Saatnya Universitas Bukan Sekadar Mengajar

Wawancara di atas menjelaskan bahwa di tengah kompetisi global, perguruan tinggi dituntut melampaui peran tradisionalnya. Tanpa riset, inovasi, dan lulusan yang berdampak, universitas hanya akan menjadi penonton di panggung dunia.

Ada satu kenyataan yang mulai sulit disangkal: banyak perguruan tinggi masih terlalu sibuk mengajar, tetapi belum cukup serius meneliti.

Kondisi ini menjadi paradoks. Kampus berbicara tentang internasionalisasi, tetapi luaran risetnya minim. Kurikulum diperbarui, tetapi tidak selalu relevan dengan dinamika global. Lulusan dihasilkan setiap tahun, tetapi tidak semuanya siap menghadapi realitas dunia kerja—apalagi menciptakan lapangan kerja.

Di titik inilah, transformasi menuju Global Academic University menjadi mendesak, bukan pilihan.

Konsep ini menuntut perubahan mendasar: dari orientasi proses ke orientasi hasil. Perguruan tinggi tidak lagi dinilai dari seberapa banyak kelas yang dibuka, tetapi dari seberapa besar dampak yang dihasilkan. Apakah lulusannya terserap kerja? Apakah mereka mampu berinovasi? Apakah mereka berkontribusi pada ekonomi?

(Interview & Rewrite by Lili Irahali)

SDGs: Ketika Tantangan Global Menjadi Agenda Akademik ?

Pada pagi yang basah di Aceh, ingatan kolektif bangsa ini masih menyimpan luka. Tsunami 2004 bukan sekadar bencana alam; ia adalah pengingat betapa rapuhnya kehidupan ketika alam, tata kelola, dan kesiapsiagaan tidak berjalan beriringan. Bertahun-tahun kemudian, tepatnya  25 – 30 November 2025 banjir bandang melanda Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat yang menelan korban 1.204 orang tewas, 140 hilang, 8.041 luka.  Juga longsor di berbagai wilayah, serta kekeringan di daerah lain kembali menegaskan satu hal: derita masyarakat akibat krisis ekologis bukan cerita sesaat, melainkan pola yang berulang.

            Negara memang hadir—melalui pemba-ngunan infrastruktur, kebijakan mitigasi, hingga berbagai program pemulihan sosial-ekonomi. Namun di lapangan, persoalan yang dihadapi masyarakat jauh lebih kompleks daripada sekadar penanganan darurat pascabencana.

Tata ruang yang rapuh, alih fungsi lahan yang masif, ekspansi industri ekstraktif, perubahan iklim, krisis pangan, ketimpangan sosial, degradasi lingkungan, hingga disrupsi teknologi kini saling bertaut. Semua itu bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan realitas hari ini—sebuah jaringan persoalan yang saling memperkuat dan pada akhirnya memperbesar kerentanan kita terhadap bencana.

Laporan Global Risk Assessment yang dirilis oleh United Nations menunjukkan bahwa risiko global paling tinggi dalam satu dekade ke depan didominasi oleh risiko sistemik: krisis iklim, kegagalan adaptasi lingkungan, tekanan terhadap ketahanan pangan dan air, serta dampak sosial dari ketimpangan ekonomi dan transformasi teknologi. Risiko-risiko ini tidak berdiri sendiri; tetapi lintas sektor, lintas wilayah, dan sering kali melampaui kapasitas satu institusi atau satu disiplin ilmu.

Di titik inilah universitas berhadapan dengan pertanyaan yang semakin mendesak: apa peran ilmu pengetahuan ketika dunia bergerak dalam situasi krisis yang simultan? Apakah kampus cukup berpuas diri dengan publikasi ilmiah yang berjarak dari realitas sosial? Ataukah kampus harus turun lebih dalam, menjadi simpul pemecahan masalah yang relevan dan berdampak?

Jawaban atas pertanyaan tersebut tidak bisa lagi mengandalkan riset individual yang terfragmentasi atau proyek jangka pendek yang berhenti pada laporan akhir. Tantangan global menuntut cara kerja akademik yang baru—terorkestrasi, berkelanjutan, dan lintas disiplin. Ilmu lingkungan harus berdialog dengan ekonomi, teknologi harus bertemu dengan etika sosial, dan kebijakan publik perlu ditopang oleh riset berbasis data serta kearifan lokal.

Di sinilah Center of Excellence (CoE) SDGs menemukan relevansinya yang paling substantif. CoE bukan sekadar kebijakan danunit struktural di dalam universitas, melainkan ruang temu gagasan, kepakaran, dan aksi nyata. Ia berfungsi sebagai penghubung antara riset, kebijakan, dan kebutuhan masyarakat; antara laboratorium akademik dan persoalan riil di lapangan. Melalui pendekatan yang terfokus pada Sustainable Development Goals, CoE SDGs memungkinkan universitas berkontribusi secara konsisten dan terukur terhadap agenda pembangunan berkelanjutan—baik di tingkat lokal, nasional, maupun global.

Dalam dunia yang semakin tidak pasti, universitas tidak lagi cukup menjadi menara gading pengetahuan. Ia dituntut menjadi jangkar moral, pusat inovasi, dan mitra strategis bagi masyarakat dan negara.

Mengapa SDGs Menjadi Kerangka CoE?

CoE SDGs, jika dikelola dengan visi dan keberlanjutan, merupakan salah satu jawaban paling masuk akal atas tantangan zaman ini. Sustainable Development Goals (SDGs) terdiri dari 17 tujuan dan 169 target yang mencerminkan tantangan terbesar umat manusia. Namun, kekuatan SDGs bukan pada jumlah targetnya, melainkan pada kerangka berpikir sistemik yang ditawarkannya.

United Nations Sustainable Development Solutions Network/UN SDSN (2022) mencatat bahwa: lebih dari 85% target SDGs saling terkait; dan tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin ilmu saja. Bagi universitas, SDGs menyediakan: bahasa global yang dipahami lintas negara; kerangka legitimasi akademik dan kebijakan; serta titik temu antara riset, pendidikan, dan pengabdian.

Dengan menjadikan SDGs sebagai basis CoE, universitas menempatkan diri sebagai aktor global yang bertanggung jawab, bukan sekadar pengamat. Hal ini mengingat fungsi Strategis CoE SDGs dalam Universitas Global, sebagai:

  1. Orkestrator Riset Lintas Disiplin

Salah satu tantangan terbesar riset universitas adalah fragmentasi. Dosen dan peneliti bekerja dalam “ruang disiplin” masing-masing, dengan sedikit interaksi strategis. CoE SDGs hadir untuk: mengidentifikasi grand challenges, menyusun thematic research clusters, dan mengorkestrasi kolaborasi lintas fakultas.

Pendekatan ini sejalan dengan temuan Nature Sustainability (2021) yang menyebut bahwa riset lintas disiplin memiliki peluang dampak kebijakan dan sosial dua kali lebih besar dibanding riset monodisiplin.

  1. Jembatan antara Akademia dan Kebijakan Publik

Banyak hasil riset berhenti di jurnal ilmiah. CoE SDGs bertugas menerjemahkan pengetahuan akademik menjadi: policy brief, rekomendasi kebijakan, dan naskah akademik berbasis bukti.

Di tingkat global, universitas-universitas anggota SDSN berperan aktif sebagai policy advisors bagi pemerintah nasional dan lokal. Model ini sangat relevan bagi Indonesia, di mana kualitas kebijakan publik sangat membutuhkan dukungan berbasis riset.

  1. Penggerak Kurikulum Berbasis Tantangan Nyata

CoE SDGs tidak boleh terpisah dari proses pembelajaran. Justru sebaliknya, ia harus menjadi sumber kasus nyata (real-world cases) bagi kurikulum. Melalui CoE: mahasiswa terlibat dalam riset SDGs, dosen mengintegrasikan temuan riset ke dalam perkuliahan, dan pembelajaran menjadi kontekstual serta bermakna.

UNESCO (2020) menunjukkan bahwa mahasiswa yang terlibat dalam challenge-based learning memiliki tingkat engagement dan problem-solving skills yang lebih tinggi.

  1. Simpul Kolaborasi Global dan Lokal

Global Academic University tidak mungkin berdiri sendiri. CoE SDGs menjadi pintu masuk kolaborasi: dengan universitas luar negeri, lembaga internasional, industri berorientasi keberlanjutan, serta komunitas lokal.

Kolaborasi global memberikan perspektif dan standar, sementara kolaborasi lokal memberikan konteks dan relevansi. Inilah keseimbangan antara global outlook dan local impact.

CoE SDGs, Tantangan Implementasi di Indonesia dan Warisan Institusional

Meskipun konsepnya kuat, implementasi CoE SDGs di Indonesia menghadapi tantangan nyata: keterbatasan pendanaan jangka panjang; budaya riset yang masih individual; lemahnya integrasi lintas unit; serta kecenderungan menjadikan CoE sebagai “proyek struktural”.

Namun, Indonesia juga memiliki peluang besar: agenda nasional yang sejalan dengan SDGs; kebutuhan kebijakan berbasis bukti; serta dukungan mitra industri dan internasional yang semakin terbuka.

Kunci keberhasilan CoE SDGs bukan pada kemewahan fasilitas, melainkan pada kejelasan mandat, konsistensi tata kelola, dan kepemimpinan akademik yang kuat.

Dalam Sustainable Development Report 2022, Indonesia dinilai menunjukkan kemajuan pada beberapa indikator pembangunan, terutama terkait pengurangan kemiskinan, peningkatan akses pendidikan, serta pembangunan infrastruktur dasar. Namun laporan tersebut juga menegaskan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan serius pada sejumlah tujuan SDGs, khususnya yang berkaitan dengan lingkungan hidup dan keberlanjutan sumber daya alam.

 

Secara konseptual, CoE SDGs adalah jantung akademik universitas global— sebuah simpul strategis yang mengintegrasikan: riset unggulan, pengembangan kurikulum, kolaborasi global, serta kontribusi kebijakan dan masyarakat.

Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD (2019) menyebut CoE sebagai knowledge hub, bukan hanya penghasil pengetahuan, tetapi penggerak ekosistem inovasi dan dampak. Salah satu nilai penting CoE SDGs adalah kemampuannya menjadi warisan institusional. Ia tidak bergantung pada satu rektor, satu hibah, atau satu proyek.

Dengan sistem yang matang, CoE SDGs: menjaga konsistensi arah riset, membangun reputasi jangka panjang, dan memastikan universitas tetap relevan lintas generasi.

Namun demikian dalam praktik di banyak perguruan tinggi, CoE sering kali baru dipahami sebagai: pusat studi tematik, unit tambahan di bawah LPPM, atau wadah administratif untuk mengelola proposal riset. Pendekatan ini membuat CoE kehilangan daya transformasinya.

Tanpa tata kelola yang jelas, CoE berisiko menjadi simbol tanpa substansi. Karena itu Tata Kelola CoE SDGs harus berubah dari hanya pendekatan struktur ke fungsi. CoE SDGs yang efektif memiliki karakter tata kelola sebagai berikut:

  • mandat strategis langsung dari pimpinan universitas,
  • kepemimpinan akademik yang kredibel,
  • sistem insentif riset lintas disiplin, serta
  • indikator kinerja berbasis outcome dan impact.

Dari Keunggulan Akademik ke Keunggulan Bermakna

Universitas global masa depan bukan hanya yang unggul secara akademik, tetapi yang unggul secara bermakna. CoE SDGs adalah wujud konkret dari pergeseran tersebut—dari universitas yang menanyakan “apa yang bisa kami teliti?” menjadi universitas yang bertanya “masalah apa yang perlu kami bantu selesaikan?”

Di tengah dunia yang rapuh dan saling terhubung, Center of Excellence SDGs menempatkan universitas di jantung solusi global, bukan di pinggiran perubahan. (Written by lili Irahali)

 

Rujukan:

United Nations (2015). Transforming our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development; OECD (2019). University-Industry Collaboration and Sustainable Innovation; World Economic Forum (2018-2019). Global Future Councils on Entrepreneurship & Sustainability; Etzkowitz, H.(2008) The Triple Helix: University–Industry–Government Relations; UNESCO (2021). Reimagining our Futures Together: A New Social Contract for Education; Sachs, J., Kroll, C., Lafortune, G., Fuller, G., & Woelm, F. (2022). Sustainable Development Report 2022. New York: United Nations Sustainable Development Solutions Network.

 

Perguruan Tinggi di Persimpangan Global: Global Academic University, Sebuah Keniscayaan?

Lebih dari empat ribu perguruan tinggi—negeri maupun swasta—berdiri di Indonesia dengan dinamika, tantangan, dan keunggulannya masing-masing. Sebagian bergerak maju dengan inovasi, sebagian lainnya masih berjuang mengatasi persoalan klasik: tata kelola yang belum efisien, kurikulum yang lambat beradaptasi, serta riset yang berhenti sebagai laporan administratif.

Pertanyaan mendasarnya sederhana namun menentukan masa depan: apakah perguruan tinggi Indonesia akan naik kelas dalam percaturan global, atau justru tertinggal?

Dunia tidak menunggu kampus yang ragu-ragu. Ketika banyak negara mendorong universitasnya menjadi pusat riset, inovasi, dan solusi global, sebagian kampus kita masih terjebak dalam rutinitas administratif. Dalam situasi seperti ini, yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar kesiapan, melainkan keberanian untuk berubah.

Negara sebenarnya telah memberi arah yang jelas. Empat Pilar Visi Indonesia 2045 serta berbagai program transformasi pendidikan tinggi yang dijalankan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia menunjukkan satu orientasi: perguruan tinggi Indonesia harus bergerak menuju Global Academic University—universitas yang berpikir global, bekerja dengan standar dunia, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Bola kini berada di tangan kampus. Apakah ia memilih melangkah dan naik kelas, atau tetap diam hingga tertinggal di pinggir sejarah?

Dari Menara Gading ke Mesin Dampak

Selama puluhan tahun, universitas sering dipersepsikan sebagai menara gading: tempat ilmu berkembang, tetapi jauh dari denyut persoalan nyata masyarakat.

Abad ke-21 menuntut perubahan. Universitas tidak lagi cukup menjadi pusat transfer pengetahuan, tetapi harus menjadi mesin dampak (impact engine) bagi masyarakat.

Laporan Organisation for Economic Co‑operation and Development melalui berbagai publikasinya—Skills Strategy, Education at a Glance, serta Green Growth Policy Review for Indonesia—menegaskan bahwa universitas masa depan adalah impact-oriented university. Artinya, riset tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi berkembang menjadi:

  • inovasi teknologi,
  • kebijakan publik,
  • solusi sosial,
  • transformasi ekonomi berkelanjutan.

Dengan kata lain, ukuran keberhasilan universitas bukan hanya jumlah jurnal atau sitasi, tetapi seberapa jauh pengetahuan tersebut mengubah kehidupan masyarakat.

Transformasi ini juga menandai evolusi peran universitas:

Tahap Evolusi Karakter Utama
Teaching University Fokus pada pengajaran
Research University Fokus pada produksi ilmu
Global Academic University Integrasi ilmu, jejaring global, dan dampak sosial

Perguruan tinggi yang tidak bergerak menuju tahap ketiga berisiko kehilangan relevansinya.

Globalisasi dan Tanggung Jawab Global Universitas

Globalisasi membuka peluang besar: kolaborasi riset lintas negara, mobilitas mahasiswa dan dosen, serta pertukaran pengetahuan tanpa batas.

Namun globalisasi juga menghadirkan paradoks. Kemajuan teknologi berjalan sangat cepat, sementara krisis lingkungan, ketimpangan sosial, dan ketidakpastian ekonomi semakin meningkat.

Di sinilah universitas memiliki tanggung jawab moral. Ilmu pengetahuan tidak boleh sekadar menjadi alat kemajuan teknologi, tetapi juga kompas etika bagi masa depan umat manusia.

Agenda global seperti United Nations Sustainable Development Goals (SDGs) menjadi referensi penting bagi universitas dunia. SDGs bukan hanya agenda pembangunan internasional, tetapi juga kerangka berpikir bagi pendidikan tinggi yang berkelanjutan.

Pendidikan tinggi berkelanjutan tidak cukup dimaknai sebagai kampus hijau (green campus). Ia harus menjadi sistem yang terintegrasi, yakni: kurikulum yang berorientasi masa depan; riset yang menjawab persoalan global; lulusan yang memiliki tanggung jawab sosial; tata kelola yang transparan dan akuntabel.

Dalam konteks Indonesia, integrasi ini tercermin melalui instrumen kebijakan seperti: Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI); Indikator Kinerja Utama (IKU); sistem akreditasi nasional.

Keberlanjutan bukan proyek jangka pendek, tetapi cara berpikir institusional yang harus melekat dalam budaya kampus.

Apa Itu Global Academic University?

Konsep Global Academic University sering disalahpahami sekadar sebagai upaya “go international”. Padahal maknanya jauh lebih luas.

Menurut Philip G. Altbach dan Hans de Wit, universitas global memiliki empat karakter utama: 1) Keunggulan akademik berbasis riset; 2) Keterlibatan global melalui jejaring internasional; 3) Relevansi terhadap persoalan dunia; 4) Keberlanjutan institusional.

Universitas global bukan hanya diukur dari reputasi atau ranking internasional, tetapi dari kemampuannya menghubungkan ilmu pengetahuan dengan tantangan kemanusiaan.

Bagi Indonesia, peluangnya justru sangat besar. Keberagaman sosial, kekayaan alam, serta kompleksitas pembangunan menjadikan negeri ini laboratorium hidup (living laboratory) bagi banyak agenda global: perubahan iklim, ketahanan pangan, transformasi digital, hingga ekonomi kreatif.

Berakar Lokal, Relevan Global

Salah satu kesalahpahaman terbesar adalah menganggap universitas global harus meninggalkan konteks lokalnya. Justru sebaliknya. Menurut Simon Marginson, universitas global yang kuat adalah universitas yang berakar pada konteks lokal tetapi relevan secara global.

Banyak pengetahuan lokal Indonesia yang memiliki nilai global tinggi, misalnya: biodiversitas tropis; kearifan lokal dalam pengelolaan lingkungan; ekonomi berbasis komunitas; masyarakat multikultural

Jika dikembangkan dengan metodologi ilmiah yang kuat, pengetahuan tersebut dapat menjadi kontribusi Indonesia bagi peradaban global.

Dari Konsep ke Implementasi: Apa yang Bisa Dilakukan Kampus?

Transformasi menuju Global Academic University tidak terjadi secara instan. Justru transformasi ini memerlukan langkah strategis yang realistis.

Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan perguruan tinggi antara lain:

  1. Kurikulum berbasis masalah global

Program studi dapat mengintegrasikan isu global seperti perubahan iklim, transformasi digital, atau keberlanjutan ekonomi dalam kurikulum. Contoh implementasi: mata kuliah Sustainability Innovation; Global Leadership; proyek lintas disiplin berbasis SDGs.

  1. Riset kolaboratif internasional

Alih-alih bekerja sendiri, dosen dan peneliti membangun kolaborasi dengan universitas luar negeri, lembaga riset, maupun industri global.

Contoh: joint research; joint publication; visiting scholar program.

  1. Kampus sebagai living laboratory

Lingkungan kampus dapat menjadi ruang eksperimen untuk inovasi sosial dan teknologi. Contoh: kampus sebagai laboratorium energi terbarukan; sistem pengelolaan sampah berbasis sirkular; program kewirausahaan mahasiswa berbasis komunitas.

  1. Penguatan budaya akademik

Transformasi global tidak mungkin terjadi tanpa budaya akademik yang sehat: integritas ilmiah; kebebasan akademik; kolaborasi lintas disiplin.

  1. Pengembangan dosen dan mahasiswa global

Dosen tidak lagi hanya berperan sebagai pengajar, tetapi sebagai: global scholar; peneliti kolaboratif; mentor inovasi.

Mahasiswa pun harus dilatih menjadi problem solver dan job creator, bukan sekadar pencari kerja.

Data dari World Economic Forum menunjukkan bahwa lebih dari 65% pekerjaan masa depan berkaitan dengan inovasi, kewirausahaan, dan ekonomi berbasis pengetahuan. Universitas harus menyiapkan lulusan untuk realitas tersebut.

Universitas sebagai Aktor Peradaban

Pada akhirnya, diskusi tentang Global Academic University bukan semata soal strategi institusi atau ranking internasional. Tetapi merupakan pertanyaan nilai: apa peran universitas dalam peradaban manusia?

Di dunia yang semakin kompleks, universitas yang relevan adalah universitas yang mampu: menghasilkan ilmu pengetahuan; membentuk manusia yang berintegritas; memberi makna bagi masa depan bersama.

 

Global Academic University bukan sekadar label. Justru merupakan komitmen jangka panjang untuk menjadikan pendidikan tinggi sebagai kekuatan transformasi global—berakar pada konteks lokal, namun berkontribusi bagi masa depan dunia.

Dan mungkin, di persimpangan sejarah inilah perguruan tinggi Indonesia harus mengambil keputusan penting: tetap berjalan seperti biasa, atau berani melangkah menjadi bagian dari perubahan global. Semoga.

Rujukan

OECD (2019). University Futures: Innovation, Impact and Global Engagement; Marginson, S. (2016). Higher Education and the Common Good; Altbach, P., & de Wit, H. (2018). Globalization and Internationalization of Higher Education; United Nations (2015). Transforming our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development; OECD (2019). University-Industry Collab-oration and Sustainable Innovation; World Bank (2020). Higher Education for Innovation and Growth; UNESCO (2020). Education for Sustainable Development: A Roadmap; UNESCO (2021). Reimagining our Futures Together: A New Social Contract for Education; UN SDSN (2022). Accelerating Education for the SDGs; World Economic Forum (2023 – 2024). Global Future Councils on Entrepreneurship & Sustainability; Etzkowitz, H. (2008). The Triple Helix: University–Industry–Government; Audretsch, D. (2014). From the Entrepreneurial University to the University for the Entrepreneurial Society; Gibb, A. (2012). Exploring the Synergy Between Entrepreneurship and Higher Education; Shattock, M. (2014). International Trends in University Governance.

(Research & Written by lili irahali – 6 Februari 2026)

Global Academic University Is It Time for Universities to Become Architects of the Future?

0

It is a reality that the world is changing faster than our classrooms. Climate crises, rapid advances in digital technology, and intensifying global economic competition mean that knowledge can no longer move at a slow pace. Universities can no longer be content with serving merely as teaching institutions, as is still often the case in this resource-rich nation. Amid these changes, a fundamental question arises: are our universities moving as fast as the times demand? After all, they are expected to be drivers of change.

In fact, the direction has already been set at the national level. Through the Vision of Indonesia 2045, reinforced by the flagship programs of the Ministry of Higher Education, Science, and Technology, the government has sent a clear signal: Indonesian universities must move up to the next level. They must not only produce graduates but evolve into Global Academic Universities—institutions that are academically strong, globally engaged, and capable of delivering real impact.

That said, this needs to be clarified from the outset. A Global Academic University does not mean that every campus must become a foreign university in an Indonesian form. Nor is it about chasing global rankings. Once again, it is not. Rather, it refers to universities that dare to think globally while remaining firmly grounded in national needs. This is the strategic answer that the country urgently requires.

Indonesia needs universities that can produce high-quality human capital, research-based innovation, and solutions to real-world challenges—from climate change to social inequality. None of this can be achieved if campuses remain trapped in routine interpretations of the tridharma, burdened by administrative inertia, and constrained by outdated curricula.

This is where the policy direction of the Ministry becomes highly relevant. Strengthening lecturers and researchers, transforming research and innovation, fostering linkages with industry and society, advancing internationalization, and implementing performance-based governance are not separate initiatives. Together, they form a coherent push for universities to step out of their comfort zones and enter the global arena of knowledge—or, more precisely, to assume a strategic role within the global knowledge ecosystem.

Internationalization in this context goes beyond student exchanges, faculty mobility, or the signing of international agreements. It entails active engagement in collaborative research, international publications, and meaningful contributions to global agendas such as the Sustainable Development Goals (SDGs), as well as innovations with cross-border impact. Universities are no longer speaking only for themselves; they are contributing solutions for both the nation and the world.

Interestingly, two key concepts are increasingly prominent in Indonesia’s higher education policies: sustainability and entrepreneurship. The SDGs clearly provide direction for where knowledge should be heading, while entrepreneurship ensures that research outputs and creative ideas do not end up gathering dust on library shelves. Universities become breeding grounds for innovations that can grow, create impact, and deliver tangible benefits to society. Together, these concepts reaffirm the university’s role as a bridge between knowledge, the market, and the public interest.

Of course, the journey toward becoming a Global Academic University is not without challenges. Not all institutions possess the same level of resources. Rigid bureaucratic cultures and persistent misunderstandings about what “global” truly means often hinder progress. Therefore, the Global Academic University should not be seen as a single uniform model, but rather as a shared direction with diverse pathways.

Ultimately, the push toward becoming a Global Academic University is not merely about following global trends—it is a strategy for knowledge sovereignty and a matter of national future. A country that aspires to stand shoulder to shoulder with the world must have universities that are strong, bold, and relevant. Universities that do not merely teach theory, but shape thinkers, innovators, and future leaders.

The question now is simple yet fundamental: are our universities ready to go further—from merely teaching to truly making an impact? And how far are they prepared to embrace this historic role? Indeed, as “architects of the future.”

Vivat Widyatama, Vivat Civitas Academica, Vivat Indonesia and our beloved Nusantara. (@lee)

Redaksi: Lili Irahali

Global Academic University Saatnya Perguruan Tinggi sebagai Arsitek Masa Depan?

0

Sebuah realita, dunia berubah lebih cepat dari ruang-ruang kelas. Krisis iklim, lompatan teknologi digital, dan persaingan ekonomi global membuat pengetahuan tak lagi bisa bergerak pelan. Perguruan tinggi tidak lagi cukup berperan sebagai institusi pengajaran, yang banyak kita jumpai di negeri kaya ini. Di tengah perubahan tersebut, satu pertanyaan penting muncul: apakah perguruan tinggi kita sudah bergerak secepat zaman? Padahal ia dituntut menjadi penggerak perubahan.

Jawaban atas pertanyaan itu sebenarnya sudah diarahkan oleh negara. Melalui Visi Indonesia 2045 dan diperkuat oleh Program utama Kemendiktisaintek, pemerintah memberi sinyal yang jelas: perguruan tinggi Indonesia harus naik kelas. Bukan hanya mencetak lulusan, tetapi menjadi Global Academic University, yakni universitas yang kuat ilmunya, terbuka pada dunia, dan berdampak nyata.

Namun, mari kita luruskan sejak awal. Global Academic University bukan berarti semua kampus harus menjadi universitas luar negeri versi Indonesia. Ini juga bukan soal mengejar peringkat global. Sekali lagi bukan. Yang dimaksud adalah universitas yang berani berpikir global, tetapi tetap berpijak pada kebutuhan bangsa. Inilah jawaban strategis yang sangat dibutuhkan negeri ini.

Indonesia membutuhkan perguruan tinggi yang mampu melahirkan sumber daya manusia unggul, inovasi berbasis riset, dan solusi atas persoalan nyata—dari perubahan iklim hingga ketimpangan sosial. Semua ini tidak mungkin dicapai jika kampus terjebak oleh rutinitas tridharma, administratif, dan kurikulum yang tak pernah diperbarui.

Di sinilah arah kebijakan Kemendiktisaintek menjadi relevan. Penguatan dosen dan peneliti, transformasi riset dan inovasi, keterhubungan dengan dunia industri dan masyarakat, internasionalisasi, serta tata kelola berbasis kinerja bukanlah program terpisah. Semuanya adalah dorongan agar kampus keluar dari zona nyaman dan masuk ke arena global ilmu pengetahuan, atau menuju peran strategis dalam ekosistem global ilmu pengetahuan.

Internasionalisasi dalam konteks ini bukan sekadar pertukaran mahasiswa, dosen atau penandatanganan kerja sama luar negeri. Ia adalah keterlibatan aktif dalam kolaborasi riset bersama, publikasi internasional, dan kontribusi pada agenda dunia seperti Sustainable Development Goals (SDGs), dan inovasi yang berdampak lintas batas. Kampus tidak lagi hanya berbicara untuk dirinya sendiri, tetapi ikut menyumbang solusi bagi bangsa dan dunia.

Menariknya, dua kata kunci semakin sering muncul dalam kebijakan pendidikan tinggi Indonesia: keberlanjutan dan kewirausahaan. SDGs jelas memberi arah ke mana ilmu pengetahuan seharusnya bergerak, sementara kewirausahaan memastikan bahwa hasil riset dan ide kreatif tidak berhenti di rak perpustakaan. Kampus menjadi tempat lahirnya inovasi yang bisa tumbuh, berdampak, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Keduanya menegaskan peran universitas sebagai jembatan antara ilmu, pasar, dan kepentingan publik.

Tentu, perjalanan menuju Global Academic University bukan tanpa tantangan. Tidak semua perguruan tinggi memiliki sumber daya yang sama. Budaya birokrasi yang kaku dan pemahaman yang masih keliru tentang makna “global” juga kerap menghambat langkah. Karena itu, Global Academic University tidak boleh dipahami sebagai satu model seragam, melainkan sebagai arah bersama dengan jalan yang beragam.

Pada akhirnya, dorongan menuju Global Academic University bukan sekadar mengikuti tren global, tapi strategi kedaulatan ilmu pengetahuan yang juga soal masa depan bangsa. Negara yang ingin berdiri sejajar dengan dunia harus memiliki universitas yang kuat, berani, dan relevan. Universitas yang tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga membentuk pemikir, inovator, dan pemimpin masa depan.

Pertanyaannya kini sederhana namun mendasar: apakah perguruan tinggi kita siap melangkah lebih jauh—dari sekadar mengajar, menuju benar-benar berdampak?  Lalu sejauh mana perguruan tinggi kita siap mengambil peran sejarah tersebut. Ya ”Sebagai arsitek masa depan”.

Vivat Widyatama, Vivat Civitas Academica, Vivat Indonesia dan Nusantara tercinta. (@lee)

Redaksi: Lili Irahali

Catatan Editor:
Feature ditulis berdasarkan hasil telaah laporan OECD (2019), UNESCO (2020-2022), United Nation (2015, 2022), World Economic Forum (2023-2024), serta kajian literatur.

E-Magazine 46

0

From Teaching to Empowerment: It’s Time for Campuses to Measure Impact with Heart and Mind

0

The recent tragedy of bullying at a university, which claimed lives, has once again shaken the conscience of the academic world. This incident has jolted us to realize that higher education, long believed to be a home of knowledge and wisdom, has not yet become a truly safe and liberating space. Campuses should be places where people seek truth, innovate, and learn to be responsible towards others.

Amidst the increasingly rapid flow of change driven by the technological revolution, economic disruption, and social shifts, the meaning of higher education has also changed. It is no longer simply a place for teaching but rather a space of empowerment that fosters whole individuals who think critically, behave ethically, and act with moral awareness. Universities must rebuild public trust as homes of values ​​and knowledge, places where knowledge coexists with compassion.

Today, campuses are no longer simply spaces for knowledge transfer. They must transform into social ecosystems that foster trust among all stakeholders: students, parents, lecturers, the community, the workplace, and the government. Trust in students who demand relevance, in parents who entrust their hopes, and in the workplace that awaits readiness. This is where the current meaning of higher education is tested. To what extent can campuses become a breeding ground for knowledge, character, and a meaningful future for all stakeholders?

“A superior university is not only a center of excellence but also a center of care.”

An ideal campus should cultivate not only intellectual intelligence but also moral wisdom. Ernest Boyer (1990) emphasized that a true university is a place to discover meaning, not simply to recite theory. A caring university instills empathy, responsibility, and curiosity. Today’s students come not simply to “receive” knowledge but to “co-create.” They are no longer objects of learning but co-creators actively engaged in the pursuit of knowledge. George Kuh (2008) emphasized that universities that provide space for high-impact learning, such as student research, service learning, and internships, will produce graduates who are more job-ready and more satisfied with their academic experience.

The transformation from a teaching university to a learning ecosystem, where students become the driving force behind academic activities, is now a necessity. For example, the Applied Learning Hub program provides space for cross-disciplinary collaboration and direct interaction with industry and the community. This is the new face of relevant, contextual, and meaningful learning. It’s a concrete step toward a campus that’s not only intelligent but also caring.

Caring as the Foundation of Impact

A caring campus understands that students don’t grow alone. Families remain important partners in their growth. Joyce Epstein (2018) emphasized the vital role of family involvement at all levels of education, including higher education. Therefore, several universities worldwide have developed parent portals as a means of academic and psychosocial communication between the campus and students’ families. Widyatama University is currently developing a similar model, with an academic reporting system and a two-way communication channel with parents, so parents can actively support students’ adaptation and career development.

On the other hand, the workplace is no longer simply a channel for graduates but a strategic partner in developing innovators. The Triple Helix model (Etzkowitz & Leydesdorff, 2000) emphasizes the importance of synergy between universities, industry, and government to build sustainable innovation. For universities like Widyatama, this partnership serves as the foundation for strengthening the vision of an entrepreneurial and SDGs-based university where research and learning are directed toward addressing real societal needs while supporting global sustainability.

“Success is not measured by how quickly students graduate, but by how ready they are to contribute.”

Learning That Brings Life to Life

Meanwhile, David Kolb (1984) reminds us that meaningful learning stems from direct experience. Therefore, a caring campus provides space for students to practice or supports experiential learning—through social projects, field research, business incubation, or cultural activities. All of these are forms of empowerment: learning to make an impact, not just to achieve. However, true caring must go hand in hand with public accountability. UNESCO (2022) emphasizes that modern higher education institutions must be transparent and open to public evaluation, with clear measures of learning outcomes, employability, and the social impact of their graduates. Widyatama and many private universities are now strengthening their tracer study systems, updating their curriculum based on learning outcomes, and transparently disclosing their performance results not because of demands, but because caring is the highest form of responsibility to society.

“Transparency is not a threat, but rather a sign of caring and accountability.”

Measuring Impact with Heart and Mind

Ultimately, campus concern should not stop at slogans. It must become the heartbeat of academic life. A caring campus will listen to its students, involve parents/families, and build equal relationships with the workplace. From there, a sense of belonging, trust, confidence, and renewed hope will grow. Trust isn’t born overnight but grows from consistent attention and relationships of mutual respect. Therefore, the future of higher education should be one rooted in empathy, openness, and collaboration. If these values ​​are maintained, universities will remain a home of knowledge and a beacon of hope that fosters both intellectual and emotional individuals a place where every young person can learn, create, and become meaningful individuals.

A campus is truly a “shared home” that must continually foster trust among its community and residents. This trust grows when the community perceives the campus as present, not as an ivory tower, but as a lookout, tall, expansive, yet grounded, sensitive to reality, and open to all. Hopefully.

Vivat Widyatama, Vivat Civitas Academica, Vivat Indonesia and our beloved archipelago. (@lee)

Editorial: Lili Irahali

Editor’s Note:
This feature was written based on the results of a review of UNESCO reports, Widyatama, and a literature review of higher education stakeholders.

Widyatama Peduli dan Berdampak: Menuju Transformatif Adaptif dan Menjaga Rumah Ilmu Tetap Tegak

Di tengah dunia yang bergerak tanpa jeda—ketika teknologi melesat, iklim berubah tak menentu, dan nilai-nilai generasi bergeser—perguruan tinggi kembali diuji sebagai penjaga nalar dan penuntun arah peradaban. Bukan hanya tempat mengajar atau mencetak inovasi, tetapi ruang yang menanamkan nilai, menumbuhkan pemahaman, dan merawat ekosistem pengetahuan yang mampu menjawab kegelisahan zaman.

Di tengah lanskap itu, Widyatama meneguhkan dirinya sebagai Kampus Peduli dan Berdampak—sebuah komitmen untuk menjaga rumah ilmu tetap tegak, bahkan ketika perubahan global mengguncang fondasinya. Memilih jalur academic university, Widyatama menempatkan penelitian, pemahaman mendalam, dan pemaknaan ulang tantangan kontemporer sebagai napas institusinya.

Spirit transformatif–adaptif membuat langkah Widyatama tidak tergesa namun terarah: menjembatani warisan akademik yang kuat dengan kebutuhan masyarakat yang terus berubah. Di ruang-ruang kerja dan diskusi, pergulatan gagasan berlangsung; di baliknya ada kesadaran bahwa kualitas pendidikan hari ini menentukan ketahanan masa depan.

Di antara kesibukan mengelola universitas, Prof. Dr. H. Dadang Suganda, M.Hum. menempatkan pendidikan sebagai perhatian utama. Melalui wawancara ini, ia menyingkap arah dan komitmennya: bagaimana visi ditumbuhkan, bagaimana proses akademik diperkuat, bagaimana budaya ilmiah dipersatukan, dan bagaimana sebuah universitas menjaga integritas ilmiahnya sembari tetap peka pada kebutuhan sosial  dan memberi dampak nyata di tengah dunia yang bergerak lebih cepat dari sebelumnya.

“Perguruan tinggi yang kehilangan nilai kebersamaan akan mudah retak dari dalam, bukan karena serangan luar, melainkan karena goyahnya kepercayaan.”

Komunita:
Makna “kampus berdampak tanpa kehilangan nurani” bagi Universitas Widyatama di tengah perubahan global  dalam aspek teknologi, dunia kerja, isu keberlanjutan?

Rektor Widyatama:

Jika kita mengacu pada kategorisasi perguruan tinggi—teaching university, academic university, dan entrepreneur university—Widyatama telah memetakan diri pada academic university. Pilihan ini sejalan dengan evolusi sumber daya universitas.

Ketika pemerintah menggulirkan gagasan kampus berdampak, saya sangat setuju. Perguruan tinggi memang harus hadir memecahkan problematika masyarakat. Stanford University misalnya, 60% lulusannya menjadi pencipta pekerjaan baru. Ini menunjukkan bagaimana pergerakan ekonomi dapat hadir dari perguruan tinggi.

Presiden, dan Menteri Pendidikan Tinggi dan Sains Teknologi juga berulang kali menegaskan bahwa kampus wajib memerhatikan problematika masyarakat dan negara. Berdasarkan perspektif tersebut, Widyatama harus berkontribusi minimal di lingkungan terdekat—Bandung dan Jawa Barat—serta, bila memungkinkan berdampak di tingkat regional, nasional, dan global.

Implementasi kampus berdampak kami mulai dari evaluasi kemampuan sumber daya kampus. Dalam pendidikan, kami berorientasi pada academic university dengan tujuan:

  1. Kurikulum adaptif dan solutif terhadap problematika masyarakat serta link-match dengan dunia kerja dan industri.
  2. Kurikulum dan RPS dievaluasi secara berkala agar benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat.

Kami ingin lulusan memiliki kompetensi yang mampu memecahkan masalah di lingkungannya dan bahkan melampaui batas wilayah.

Dosen juga didorong melakukan riset yang bukan sekadar memenuhi kebutuhan jurnal, tetapi juga memiliki implikasi praktis bagi masyarakat. Ilmu harus diterapkan untuk memecahkan problematika kehidupan nyata. Misalnya, prodi manajemen, akuntansi, teknik, dan budaya dapat membantu UMKM berkembang dan memberi nilai tambah pada potensi lokal. Contoh nyata, kami bekerja sama dengan Kabupaten Sumedang di Cikurubuk terkait padi dan beras organik. Teori yang dipelajari di kelas diterapkan dalam produksi, distribusi, dan konsumsi sehingga menghasilkan manfaat finansial dan kesejahteraan.

Selain itu, ada konsep kecerdasan jalanan—pengalaman di lapangan yang menghasilkan teori baru atau sintesis teori lama. Teori kampus belum tentu relevan dengan realitas terkini, terutama dengan perubahan besar seperti digitalisasi dan AI.

Di Inggris, banyak pekerjaan jasa kini dikelola AI, meningkatkan pendapatan negara, tetapi juga mengurangi kesempatan kerja manusia. Karena itu, masyarakat—khususnya generasi muda—harus literat terhadap AI, bukan memusuhinya. Adaptasi dan kolaborasi dengan AI akan membuka peluang baru.

Kampus berdampak tidak hanya memecahkan masalah masa kini, tetapi juga merancang ilmu masa depan agar manusia dan bangsa mampu beradaptasi dan maju.

Komunita:
Dalam konteks kampus berdampak, ukuran dampak berasal dari prestasi lembaga, prestasi dosen, prestasi mahasiswa, atau perubahan sosial yang digerakkan kampus? Mana yang paling penting?

Rektor Widyatama:

Bagi saya, dampak perguruan tinggi adalah sejauhmana luaran tridarma mampu memecahkan problematika masyarakat. Problematika itu beragam: sosial, religi, sandang–pangan–papan, iklim, hingga isu-isu SDGs. Saya tidak memfokuskan pada satu kelompok indikator saja. Justru pertanyaan utamanya adalah: dari berbagai problematika itu, mana yang dapat kita kontribusikan solusinya?

Saat ini masyarakat mengalami semacam gegar budaya. Pemerintah mendorong revitalisasi budaya—Sunda, Jawa, dan lainnya—karena budaya populer global sangat dominan. Perguruan tinggi harus menjaga nilai-nilai budaya asli yang menjadi habitus masyarakat.

Dampak kampus bukan hanya dalam hal materi, tetapi juga pembentukan pergaulan sosial, nilai-nilai, perubahan iklim, kebutuhan digitalisasi, hingga kesiapan bangsa menuju Indonesia 2045. Jika kampus hanya fokus pada satu persoalan, kita akan mudah tertinggal oleh problem-problem lain yang terus bermunculan. Karena itu, tridarma harus melahirkan luaran yang mampu memecahkan berbagai problematika secara simultan.

Komunita:
AI kini menantang hampir semua sektor. Bagaimana kebijakan Widyatama dalam pemanfaatan AI untuk pembelajaran dan peningkatan kompetensi dosen serta mahasiswa?

Rektor Widyatama:

Kami sudah memperoleh banyak wawasan terkait penggunaan AI dari Ditjen Dikti, komunitas, dan berbagai sumber lain. Kami memahami plus minusnya. Menghindari AI justru membuat kita tertinggal. Karena itu, kebijakan Widyatama adalah:

  1. Semua dosen harus menguasai AI.
  2. AI dijadikan fasilitator pembelajaran.
  3. Ruang kosong dari AI harus diisi oleh kreativitas manusia.

AI memiliki keterbatasan—data yang tidak selalu lengkap, minim sisi kemanusiaan—sehingga dosen dan mahasiswa harus mampu menciptakan hal-hal baru yang tidak dapat digantikan AI. AI dapat merancang, menginformasikan, dan memproses data. Namun pertanyaannya: apakah output AI sesuai kondisi nyata? Apakah mampu merancang masa depan secara kontekstual? Ruang-ruang kosong inilah yang perlu diisi manusia.

Kami berharap seluruh sivitas menguasai AI, memanfaatkannya sebagai alat pendidikan, sekaligus memasukkan pendekatan manusiawi agar teknologi dan kemanusiaan berjalan harmonis.Pedoman utama kami mengacu pada panduan resmi Ditjen Dikti mengenai pemanfaatan AI.

Komunita:
Sebagai Global Academic University dengan keunggulan SDGs dan Kewirausahaan, nilai-nilai apa yang menjadi landasan moral, dan arah kebijakan kampus?

Rektor Widyatama:

Program Unggulan Perguruan Tinggi (PUPT) kami berfokus pada SDGs dan Kewirausahaan. SDGs menjadi rujukan karena problematika masa kini dan masa depan telah terakumulasi di dalam 17 indikatornya. Saat ini kami fokus pada enam SDGs yang paling relevan dengan kapasitas kampus, sehingga arah tridarma lebih jelas.

Kewirausahaan penting karena academic university menuntut kurikulum adaptif, link-match dengan dunia kerja, serta lulusan yang cepat terserap industri, atau mampu menciptakan lapangan kerja.

Mengapa harus global? Dunia semakin sempit. Informasi bergerak cepat dan masalah global dirasakan bersama. Karena itu:

  1. Kurikulum harus mengakomodasi isu strategis global.
  2. Dosen harus memahami isu global.
  3. Produk dan karya kampus harus direkognisi global.

Contoh implementasi, kami mengembangkan Living Lab di Sumedang yang menciptakan alat budidaya ikan berbasis AI. Proyek ini merupakan hasil kolaborasi dengan INTI Malaysia dan universitas lain yang punya prodi AI. Model seperti ini umum di Eropa. Artinya, isu global kami akomodasi ke dalam riset dan pembelajaran.

Saat ini Widyatama juga tercantum dalam daftar perguruan tinggi yang akan masuk QS WUR Ranking Asia 2026—informasi sedang kami verifikasi. Namun ini menunjukkan produk, kompetensi dosen, serta mobilitas mahasiswa sudah bergerak pada standar global.

Komunita:
Pemerintah kini fokus pada proyek-proyek berbasis sustainability dan green management. Dalam konteks Living Lab Widyatama, sejauh mana Fakultas Ekonomi terlibatkan untuk mengembangkan Green Finance?

Rektor Widyatama:

Living Lab kami memang diarahkan berbasis teknologi dan green project, dan keterlibatan bukan hanya di Fakultas Ekonomi & Bisnis—seluruh fakultas dan program studi harus ikut serta. Konsep utamanya adalah ekonomi sirkuler. Produk Living Lab seperti: pangan dan perikanan akan bermuara pada pembentukan UMKM. Misalnya, budidaya lele sehat dan cepat tumbuh akan menghasilkan produk, seperti: pecel lele bergizi yang dapat menjadi bisnis masyarakat. Ini contoh dampak ekonomi sirkuler.

Jadi setiap fakultas dan program studi harus berpikir bagaimana Living Lab berkolaborasi dan menghasilkan irisan manfaat bagi masyarakat setempat hingga tingkat nasional, regional, dan global.

Komunita:
Untuk mencapai tujuan-tujuan besar tadi dibutuhkan keseimbangan antara pencapaian akademik dan pengelolaan sumber daya manusia internal. Bagaimana Widyatama menjaga keseimbangan tersebut?

Rektor Widyatama:

Saat ini kami sedang menata ulang ekosistem keilmuan melalui pembentukan Kelompok Cabang Keilmuan (KCK). Semua dosen akan dikelompokkan ke dalam cabang atau ranting keilmuan tertentu, dan masing-masing kelompok akan memiliki tugas pokok dan fungsi (tupoksi) yang jelas.

Pertama, setiap dosen wajib melakukan riset. Riset inilah yang menjadi dasar untuk menghasilkan berbagai luaran, baik yang bersifat ilmiah—jurnal, HAKI, teori atau konsep baru—maupun yang pragmatis, seperti: produk kebendaan, atau inovasi yang dapat diimplementasikan langsung. Dalam konteks sains, riset memungkinkan dosen menciptakan referensi pembelajaran baru. Dunia berubah, teori berubah—karena itu dosen yang tidak meneliti tidak akan mampu memperbarui bahan ajarnya.

Kedua, hasil riset tersebut menjadi landasan untuk menciptakan mata kuliah dan kompetensi baru yang relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat dan dunia industri. Ilmu memiliki masa kedaluwarsa; stagnasi terjadi jika tidak ada pembaruan. Karena itu kami memberi ruang yang besar pada apa yang saya sebut sebagai “kecerdasan jalanan”—yakni kemampuan menyintesiskan pengalaman lapangan menjadi teori baru. Teori tidak hanya lahir dari profesor atau doktor; setiap dosen berhak dan wajib menciptakannya.

Dengan KCK, kami berharap muncul rekonstruksi kurikulum, restrukturisasi mata kuliah, dan rekontekstualisasi teori ke dalam realitas kekinian. Semua ini akan menghasilkan luaran yang bermanfaat: jurnal, HAKI, produk kebendaan, rekomendasi kebijakan, hingga inovasi yang dapat diimplementasikan. Itu yang dibutuhkan negara, kementerian, dan dunia pendidikan.

Ketiga, KCK akan memberi kontribusi besar pada perubahan kurikulum. Wawasan yang dihasilkan dari proses riset akan menjadi umpan balik untuk mengevaluasi kurikulum agar tetap relevan dengan perkembangan zaman, teknologi, dan kebutuhan masyarakat.

Intinya, KCK adalah instrumen untuk mendorong dosen terus belajar, meneliti, menyintesiskan pengalaman, dan akhirnya menciptakan teori baru. Dengan begitu, universitas bisa terus bergerak maju, dinamis, dan responsif terhadap perubahan.

Komunita:
Terkait SDGs, dari 17 ini, Prof mengatakan kurang lebih 6 yang diterapkan. Ini tentunya terkait dengan implementasi Tridharma, lalu Living Lab sudah dimulai. Sejauh mana memberi manfaat nyata pada lingkungan dan masyarakat. Kira-kira butuh waktu berapa lama dengan kecepatan dan kemampuan Widyatama?

Rektor Widyatama:

Kami memulai dengan memetakan problematika masyarakat dan memetakan resources yang kami miliki. Setelah itu, kami memilih titik fokus di daerah tertentu agar bisa menghasilkan role model dan luaran yang tajam. Karena itu, Living Lab Widyatama kami rancang bertahap. Tahap pertama alhamdulillah selesai, dan tahap berikutnya kami kembangkan ke Smartfish Sumedang — inovasi untuk daerah Sumedang berbasis alat deteksi dan sistem cerdas. Target waktu kami jelas: Batch pertama: 1 tahun; Batch kedua: 1 tahun berikutnya. Jadi, dalam 2 tahun kami sudah menargetkan lahirnya alat berbasis AI yang betul-betul siap digunakan masyarakat. Dengan siklus cepat seperti ini, evaluasi menjadi lebih mudah dan perkembangan bisa terpantau.

Program ini sudah dikunjungi dan diapresiasi LLDikti IV Jabar Banten, bahkan Living Lab kami ikut menjadi bagian dari presentasi Smart City Sumedang di Malaysia.

Ini berkaitan dengan siklus KCK yang berjalan per tahun, yakni: luaran jurnal, luaran HAKI, produk, kebendaan, dan rekomendasi kebijakan. Semua dievaluasi, lalu diterapkan reward & punishment. Dari sana kami melihat mana yang dilanjutkan, mana yang harus diperkuat, dan mana yang harus diperbaiki. Polanya: 1 program = 1 tahun = 1 evaluasi komprehensif.

Komunita:
Terkait dengan tugas Widyatama mendidik peserta didik, untuk mencapai hal-hal di atas. Bagaimana bentuk kepedulian kepada mahasiswa, seperti: bagaimana membangun karakter, empati sosial mereka, kesiapan mereka dalam menghadapi masyarakat dan dunia kerja?

Rektor Widyatama:

Saya setuju dengan moto DJITU: Disiplin, Jujur, Inovatif, Tekun, Ulet. Tetapi kita juga mempunyai satu kekuatan besar: SIMKATMAWA. Alhamdulillah tahun ini Widyatama berada pada kategori unggul. Itu bukan hal mudah, karena di dalam SIMKATMAWA ada banyak kompetisi, PKM, dan program yang mendorong mahasiswa bergerak.

Kunci kami adalah kolaborasi dosen–mahasiswa. Dosen tidak bisa berdiri sendiri. Mahasiswa bukan hanya objek, tetapi juga subjek. Karena itu mahasiswa kami libatkan dalam: kegiatan riset KCK, pengabdian masyarakat, organisasi kemahasiswaan, kegiatan sosial, kegiatan akademik dan non-akademik lain.

Saya selalu tekankan kepada mahasiswa: “Bergaullah dengan orang yang tepat. Kalau kalian dekat dengan megabintang, kalian akan kecipratan kemegabintangannya.” Jangan langsung pulang. Pulangnya berkelok-kelok dulu. Bergaul, membangun relasi, memperluas pengalaman. Dari pergaulan itulah lahir kecerdasan jalanan—sintesis pengalaman yang menjadi dasar ilmu baru.

Komunita:
Jadi mahasiswa diberi ruang sebagai co-creator mendampingi dosen?

Rektor Widyatama:

Betul. Mahasiswa kami tempatkan sebagai co-creator dan sekaligus partisipan aktif. Mereka bukan hanya menerima ilmu, tetapi memberi kontribusi terhadap terciptanya ilmu. Banyak gagasan segar justru muncul ketika dosen berdialog dan berkolaborasi dengan mahasiswa. Jadi hubungan keduanya adalah hubungan kolaboratif untuk menyelamatkan ilmu dari stagnasi.

Komunita:
Bagaimana Widyatama melibatkan orang tua sebagai mitra, karena keberhasilan mahasiswa juga akan didorong oleh dukungan dari orang tua. Bagaimana hal ini disentuh?

Rektor Widyatama:

Saya selalu kembali pada prinsip dasar: pendidikan pertama dan utama berasal dari keluarga. Seberapa cerdas pun mahasiswa, kalau fondasi karakter dari keluarga kurang, pasti ada celah. Karena itu saya selalu mengajak orang tua: membangun komunikasi dengan anak, ajak berdialog (ngobrol, storytelling), pahami problematikanya, berikan dukungan karakter.

Widyatama punya peluang-peluang, posisi-posisi untuk melakukannya. Tetapi orang tua jangan lepas tangan. Siapapun anak-anak yang belajar di kampus, orang tua sangat berkontribusi besar untuk menciptakan watak dasar anak dari rumah. Kampus melanjutkan, bukan menggantikan.

Komunita:
Sejauh ini orang tua mendapat informasi perkembangan anaknya.

Rektor Widyatama:

Dalam perwalian ada hal-hal yang disampaikan tapi dalam konteks implementasi mungkin harus bisa dilihat peta secara keseluruhan, dosen menyampaikan informasi penting kepada orang tua. Minimal orang tua dapat mengakses transkrip nilai, catatan perkembangan, hingga catatan akademik tertentu. Kami juga sudah menyediakan Portal Orang Tua agar mereka bisa memantau perkembangan anak secara keseluruhan.

Komunita:
Isu teknologi yang mempengaruhi perubahan dunia kerja ke arah efisiensi dan produktivitas. Sejauh mana Widyatama membentuk mahasiswa adaptif, berjiwa wirausaha – tidak hanya membangun dunia usaha sendiri, juga sebagai karyawan berjiwa kewirausahaan. Lalu, bagaimana kampus menanamkan nilai-nilai ini tanpa kehilangan sisi kemanusiaannya, bahwa mereka harus bisa memencahkan problematik kemanusiaan masyarakat.

Rektor Widyatama:

Kampus memiliki struktur, kurikulum, dan aturan akademik. Tetapi pada saat yang sama, kita harus memahami karakteristik generasi milenial dan generasi digital. Karena itu pembelajaran harus: relevan dengan dunia kampus, relevan dengan dunia nyata, relevan dengan dunia yang sedang bermigrasi dari tradisional ke digital.

Dosen harus mengadaptasi diri. Kampus bukan satu-satunya pusat ilmu. Perkembangan ilmu justru sering muncul dari dunia luar. Karena itu, mahasiswa harus dibiasakan hidup di dua dunia sekaligus: dunia akademik dan dunia nyata.

Kami memberi ruang seluasnya bagi mahasiswa untuk aktivitas di luar kampus: riset, magang, kegiatan sosial, kewirausahaan, organisasi, hingga kolaborasi industri. Dosen pun harus mengakomodasi isu strategis yang muncul di dalam dan di luar kampus agar pembelajaran tidak tercerabut dari realitas.

 

Komunita:
Terkait integritas perguruan tinggi dan nurani akademik. Ada kasus ijazah, kemudian tindakan-tindakan di sekolah yang akhirnya berakibat pada peserta didik. Kemudian pendidikan tinggi dituntut lebih kompetitif, dan ada komersialisasi pendidikan. Bagaimana Widyatama menjaga integritas agar tetap menjadi perguruan tinggi yang menjaga karakter akademik dan juga bermanfaat.

Rektor Widyatama:

Integritas akademik adalah hal fundamental. Kami menjaga ini melalui peta jalan penyelenggaraan pendidikan dan rambu-rambu yang tegas.

Pertama, dalam proses pembelajaran—baik daring, luring, maupun hybrid—ada kewajiban yang harus dipenuhi dosen dan mahasiswa. Kewajiban itu bagian dari integritas.

Kedua, untuk tugas akhir, kami sangat ketat. Isu skripsi palsu, jurnal palsu, atau karya AI yang tidak legitimate tidak kami toleransi. Aturannya jelas. Dosen harus cermat memeriksa. Ada tatap muka, evaluasi langsung, dan pemeriksaan proses untuk memastikan keaslian karya mahasiswa.

Ketiga, kami menjalankan reward & punishment baik untuk dosen maupun mahasiswa. Dosen yang melakukan pelanggaran mendapat sanksi. Dosen yang menghasilkan riset berkualitas mendapat penghargaan. Intinya, tidak ada yang dibiarkan berjalan tanpa rambu-rambu normatif.

Komunita:
Pesan kepada sivitas dari makna sejati Widyatama menjadi kampus unggul secara global, berdampak secara sosial tapi tetap berhati nurani.

Rektor Widyatama:

Pertama, kita harus memiliki semacam pengetahuan berkaitan dengan Tupoksi. Tupoksi seorang dosen dalam konteks pendidikan. Semua itu karakter, kemudian kebiasaan. Jadi, saya berpesan pada teman-teman dosen, kita harus mengetahui, menguasai, fokus pada karakter dosen. Saya ingin merujuk kepada pepatah lama, guru digugu dan ditiru. Apalagi kalau kita melihat pemikiran Ki Hajar Dewantara.

Kedua, dosen harus mampu beradaptasi dengan kompetensi keilmuan yang baru. Kalau tidak menguasai keilmuan-keilmuan yang baru, bagaimana mungkin mahasiswa akan menjadi korban. Dosen harus menjadi pemacu prestasi mahasiswa.   Kemudian, dosen harus bisa menciptakan. Dosen menguasai ilmu, baik ilmu lama, ilmu baru. Dosen harus mentransfer ilmu. Dosen harus menerapkan ilmu. Dosen harus mengembangkan ilmu. Terakhir dosen harus menciptakan ilmu. Semua tupoksi itu adalah kewajiban seorang dosen agar kita bisa terus beradaptasi update dengan perkembangan dunia.

Sekali lagi, kalau dosen stagnasi dalam kepemilikan ilmu yang lama, bagaimana mahasiswa akan berubah? Sekali lagi, dosen harus menguasai ilmu, merupakan ilmu baru. Dosen harus mentransfer ilmu pada mahasiswa, pada masyarakat. Dosen harus menerapkan ilmu, bisa menjadi implikasi pada luaran kebijakan. Dosen harus mengembangkan ilmu. Dengan adanya riset, maka dosen akan tahu ruang-ruang kosong dari teori yang dimiliki. Dan yang terakhir adalah dosen harus menciptakan Ilmu. Ilmu itu isinya adalah teori. Jadi pada prinsipnya dosen harus bisa mencipta teori-teori. Salah satu cara menciptakan teori-teori adalah pengalaman hidup, pengalaman bergaul, pengalaman bekerja sama, kolaborasi sebab dari pengalaman itu akan tercipta menyintesiskan pengalaman yang baru itu ke dalam teori-teori baru, menciptakan teori baru. Akhirnya kita akan menjadi motor penggerak, inspirator untuk bisa mencipta ilmu baru. Itu yang saya pesankan sejalan undang-undang Guru dan Dosen menguasai ilmu menerapkan ilmu, mentransfer ilmu, mengembangkan ilmu, dan menciptakan ilmu. Ilmu kontennya adalah teori.

“Perguruan tinggi bukan sekadar institusi pendidikan, tetapi benteng nilai dan nurani bangsa. Ia hanya akan tumbuh kuat bila dikelola dengan hati yang jernih.”

(Interview & Writting by lili irahali – 26 Nov 2025)

FEB Widyatama: Menguat dari Dalam, Mendidik di Tengah Transformasi Dunia Bisnis untuk Berdampak

Di tengah gelombang perubahan global yang tak pernah surut—ketika kecerdasan buatan menyalip batas kemampuan manusia, krisis iklim menata ulang prioritas ekonomi, dan perilaku pasar berubah lebih cepat dari teori—dunia bisnis dan ekonomi bukan lagi medan berhitung semata. Ia menjadi ruang dinamis yang menuntut kecerdasan baru: kemampuan meraba masa depan, mengambil keputusan berbasis data, menjaga etika, dan tetap berpihak pada kepentingan sosial.

Pertanyaannya kemudian muncul: ketika pekerjaan rutin diambil alih mesin, ketika model bisnis baru bermunculan nyaris setiap pekan, bagaimana FEB Widyatama menyiapkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga tangguh dan berkarakter?

Pada konteks inilah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Widyatama menegaskan dirinya—menguat dari dalam. Ia hadir bukan sebagai lembaga yang sekadar memperbarui kurikulum atau menambah fasilitas, tetapi sebagai gerakan yang memperkokoh fondasi moral: karakter, etika, dan kesadaran kemanusiaan para calon ekonom, akuntan, analis, manajer, hingga inovator masa depan.

Sebuah misi yang oleh Dekan FEB, Dr. H. Nuryaman, S.E., M.Si., Ak., CA., dirumuskan sebagai upaya “mendidik mahasiswa agar tidak hanya mampu menghitung angka, tetapi memaknai angka dalam konteks kemanusiaan dan keberlanjutan.”

Dalam kesibukan tridharma dan pengelolaan fakultas, Dr. Nuryaman membuka ruang refleksi bersama Komunita, membagikan arah, komitmen, serta harapannya bagi FEB: dari visi transformasi, penguatan akademik dan penelitian, pengabdian masyarakat, hingga upaya membangun budaya ilmiah yang berkelanjutan.

Komunita: Bagaimana memandang posisi FEB dalam arus perubahan besar dunia ekonomi dan bisnis karena gelombang perubahan global dari kecerdasan buatan, krisis iklim, hingga disrupsi sosial?

Dr. Nuryaman: Tentunya Fakultas Ekonomi dan Bisnis harus memposisikan diri sebagai agen perubahan yang adaptif terhadap era digital, tantangan di atas melalui penguatan kurikulum berbasis teknologi, riset berorientasi keberlanjutan, serta pembentukan karakter lulusan yang beretika dan tanggap terhadap dinamika sosial. FEB dapat berperan strategis dalam mencetak sumber daya manusia unggul yang mampu berkontribusi pada pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Komunita: Apa arti “cerdas secara intelektual, adaptif secara teknologi, dan beretika secara sosial” dalam konteks pendidikan ekonomi dan bisnis masa kini?

Dr. Nuryaman: Ini mengandung makna lulusan FEB harus memiliki kemampuan analitis yang kuat, mampu mengikuti dan memanfaatkan perkembangan teknologi dalam praktik bisnis, serta menjunjung tinggi integritas dan tanggung jawab sosial agar kemajuan ekonomi selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Komunita: Banyak pihak menyebut perguruan tinggi tidak lagi cukup menghasilkan lulusan “cerdas menghitung”. Bagaimana FEB menerjemahkan pergeseran paradigma ini ke dalam arah kebijakan dan budaya akademik di dalam fakultas?

Dr. Nuryaman: FEB memahami bahwa dunia kerja kini menuntut lebih dari sekadar kemampuan menghitung. Karena itu, arah kebijakan dan budaya akademik diarahkan untuk membentuk lulusan yang critical thinker, kreatif, dan mampu memecahkan masalah nyata melalui pendekatan multidisipliner. Kurikulum diperkuat dengan pembelajaran berbasis proyek, integrasi teknologi digital, serta penanaman nilai etika dan kepemimpinan agar mahasiswa tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga memiliki wawasan strategis dan kepekaan sosial dalam pengambilan keputusan bisnis.

Komunita: Dalam konteks tridharma – mulai pendidikan. Apa langkah konkret yang telah atau sedang dilakukan FEB Widyatama memperkuat proses akademik agar lulusan memiliki future skills — seperti kemampuan analitik data, inovasi, kolaborasi lintas bidang, dan kepedulian sosial?

Dr. Nuryaman: Ini sangat mendasar. Saat ini FEB telah mengintegrasikan pembelajaran berbasis proyek, studi kasus, dan analisis data ke dalam kurikulum. Kolaborasi lintas program studi, serta kerja sama dengan industri juga diperluas guna menumbuhkan kemampuan inovasi dan kolaborasi praktis. Selain itu, program pengabdian masyarakat dan kegiatan sosial mahasiswa diarahkan untuk menanamkan kepedulian sosial serta kesadaran akan tanggung jawab etis dalam praktik bisnis dan ekonomi.

Komunita: Bagaimana FEB Widyatama menyesuaikan kurikulum agar tetap relevan dengan kebutuhan industri digital dan ekonomi hijau, tanpa kehilangan nilai-nilai dasar etika dan tanggung jawab sosial?

Dr. Nuryaman: Kami menambahkan mata kuliah dan modul berbasis digital (Literasi Digital, Power BI for Business, Enterprise Resource Planning, Analisis Perancangan Sistem dan Praktikum Sistem Informasi Akuntansi), kewirausahaan berkelanjutan (Keberlanjutan Bisnis, Kewirausahaan Sosial), serta ekonomi hijau yang relevan dengan kebutuhan industri masa kini. Sementara, integrasi nilai etika, tanggung jawab sosial, dan keberlanjutan tetap dijaga melalui pendekatan pembelajaran kontekstual, studi kasus etis, dan kegiatan pengabdian masyarakat. Sehingga lulusan tidak hanya kompeten secara profesional, tetapi juga berintegritas dan berorientasi pada keberlanjutan sosial serta lingkungan. Penyesuaian kurikulum ini kami lakukan secara rutin dengan melakukan studi banding pada universitas lainnya, mengundang pelaku usaha/industri dan berdiskusi bersama forum/asosiasi.

Komunita: Sejauhmana FEB menerapkan pembelajaran berbasis proyek, kolaborasi industri, atau riset terapan di kelas? Bisa diceritakan contohnya?

Dr. Nuryaman: Kami menerapkan mata kuliah berbasis proyek seperti: Proyek Manajemen Keuangan, Proyek Manajemen Pemasaran, Proyek Manajemen Keuangan, Proyek Manajemen Operasional, Proyek Kewirausahaan dan Start Up. Pada mata kuliah tersebut mahasiswa diwajibkan terjun ke lapangan dan masuk ke dalam industri menyelesaikan  suatu masalah. Kemudian, penerapan hasil riset di mata kuliah dosen juga memasukan hasil penelitiannya ke dalam rencana pembelajaran dalam bentuk studi kasus.

Komunita: Peran dosen sangat krusial dalam transformasi ini. Apa strategi FEB memperkuat kompetensi dosen, baik dalam penguasaan teknologi digital maupun dalam metode pembelajaran adaptif?

Dr. Nuryaman: Kami menerapkan strategi penguatan kompetensi dosen melalui pelatihan rutin tentang literasi digital, penggunaan platform pembelajaran daring, serta penerapan blended learning. Salah satunya adalah workshop pembelajaran berbasis OBE/Outcome-Based Education (sistem pendidikan berfokus pada hasil akhir/outcome yang harus dicapai mahasiswa setelah menyelesaikan suatu program studi, bukan hanya pada materi yang diajarkan) mengundang pakar Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra. Selain itu, dosen didorong mengikuti sertifikasi, lokakarya pedagogik inovatif, dan kolaborasi riset dengan industri agar mampu mengembangkan metode pembelajaran adaptif, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja digital.

Komunita: Terkait penguatan penelitian — bagaimana arah kebijakan riset diarahkan agar sejalan dengan isu-isu aktual seperti: ekonomi digital, keuangan berkelanjutan, dan tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/Environment, Social, Governance)?

Dr. Nuryaman: Arah penelitian sesuai Road Map Penelitian dan kepakaran yang ada pada dosen masing-masing. Saat ini kami memilliki beberapa bidang kajian/keahlian di bidang manajemen, akuntansi dan perdagangan internasional. Di dalam bidang kajian tersebut terdapat beberapa dosen yang memiliki keilmuan yang terkait dengan digitalisasi, keuangan berkelanjutan dan ESG. Maka dari itu, FEB Widyatama selalu sejalan dengan isu-isu aktual tersebut.

Komunita: Banyak yang berpendapat riset di bidang ekonomi dan bisnis kini perlu lintas disiplin. Bagaimana FEB mendorong kolaborasi penelitian antara bidang akuntansi, manajemen,  perdagangan internasional, bahkan dengan fakultas lain seperti teknik atau lingkungan?

Dr. Nuryaman: FEB Widyatama mendorong kolaborasi penelitian lintas disiplin dengan membuka ruang kerja sama antarprodi, seperti akuntansi, manajemen, dan perdagangan internasional, terutama dalam topik yang saling berkaitan seperti ekonomi digital, keuangan berkelanjutan, dan inovasi bisnis. Selain itu, FEB juga terbuka dalam menjalin kemitraan riset dengan fakultas lain seperti teknik dan lingkungan untuk menjawab isu-isu nyata yang ada di dunia. Juga mendorong penguatan riset di bidang intelligent economy dan sustainability.

Komunita: Bagaimana hasil penelitian FEB diarahkan untuk memberikan manfaat nyata — baik bagi dunia industri, UMKM, maupun kebijakan publik?

Dr. Nuryaman: FEB mendorong riset terapan berbasis kebutuhan lapangan, menjalin kemitraan strategis dengan sektor industri dan pemerintah, serta mengemas hasil penelitian dalam bentuk pelatihan, konsultasi, dan publikasi kebijakan agar manfaatnya dapat dirasakan secara konkret oleh masyarakat dan dunia usaha.

Komunita: Tridharma ketiga, pengabdian kepada masyarakat, seperti apa FEB memaknai “pengabdian” di era ekonomi digital dan perubahan sosial?

Dr. Nuryaman: Kami memaknai pengabdian kepada masyarakat di era ekonomi digital dan perubahan sosial sebagai upaya pemberdayaan berbasis ilmu dan teknologi. Kegiatan pengabdian diarahkan meningkatkan literasi digital, kapasitas kewirausahaan, dan keberlanjutan usaha masyarakat, khususnya UMKM. Melalui kolaborasi dengan pemerintah, industri, dan komunitas lokal, FEB Widyatama berkomitmen menghadirkan solusi inovatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta mendukung transformasi ekonomi yang inklusif dan berkeadilan sosial.

Komunita: Contoh program pengabdian masyarakat yang mencerminkan sinergi antara ilmu ekonomi-bisnis dengan tanggung jawab sosial dan keberlanjutan?

Dr. Nuryaman: Contoh di Bandung, beberapa aktivitas seperti: Kolaborasi dan digital Marketing untuk Keberlanjutan Usaha UMKM Kota Bandung (Dr. Yenny Maya Dora); Literasi Keuangan untuk SDGs: Pelatihan Personal Fiance dan Pencatatan Keuangan Sederhana bagi Pengurus dan Anggota RAHASTRA CREDIT UNION Kota Bandung (Oliver H Padmanegara, S.E.,M.Sc.); Pengenalan Konsep Akuntansi Hijau Untuk Usaha Berkelanjutan Dengan Memanfaatkan Limbah (Dr. Irene Sukma Lestari Barus); Tata Kelola Kopersi Syari’ah untuk Keberlanjutan Usaha di Koperasi Sekunder Syari’ah (PUSKOPMA) Binaan MUI Kota Bandung (Kerja Sama Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Widyatama dengan MUI Kota Bandung (Suryana, S.E., M.AK.)

Komunita: Sejauh mana mahasiswa dilibatkan langsung dalam kegiatan pengabdian tersebut agar mereka mengalami pembelajaran kontekstual dan membangun empati sosial?

Dr. Nuryaman: Mahasiswa dilibatkan secara langsung utamanya dalam kegiatan Pengabdian pada Masyarakat yang diselenggarakan dosen di lingkungan FEB. Dalam setiap kegiatan PkM, tim dosen dihimbau selalu melibatkan mahasiswa dan memberikan peran dan tugas  bagi setiap mahasiswa. Keterlibatan secara langsung ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dalam berkontribudsi bagi Masyarakat secara luas. Melalui keterlibatan ini, mahasiswa tidak hanya menerapkan ilmu yang diperoleh di kelas, tetapi juga belajar memahami realitas sosial dan ekonomi masyarakat. Pendekatan ini diharapkan menumbuhkan empati, kepemimpinan sosial, serta kemampuan berpikir kritis dan kolaboratif dalam memecahkan masalah nyata di lapangan.

Komunita: Bagaimana FEB mengukur impact dari kegiatan pengabdian kegiatan pengabdian masyarakat terhadap masyarakat dan pembentukan karakter mahasiswa?

Dr. Nuryaman: FEB menilai dampak pengabdian masyarakat tidak hanya dari hasil kegiatan di lapangan, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran mahasiswa untuk berkontribusi bagi masyarakat. Melalui keterlibatan langsung dalam program pemberdayaan, mahasiswa diajak memahami permasalahan nyata dan mencari solusi yang relevan dengan bidang keilmuannya. Perubahan sikap, kepedulian sosial, dan rasa tanggung jawab untuk memberi manfaat menjadi indikator utama keberhasilan kegiatan pengabdian di FEB.

Komunita: Bagaimana FEB membangun budaya akademik internal yang mendorong inovasi, etika, dan kolaborasi lintas bidang di kalangan dosen dan mahasiswa?

Dr. Nuryaman: Kami medorong dosen dan mahasiswa didorong mengembangkan ide-ide kreatif melalui kuliah umum, dosen tamu dari industri, riset bersama, forum akademik (seminar/conference), serta kegiatan inkubasi bisnis dan sosial. Nilai etika dan integritas diperkuat melalui pembiasaan akademik yang jujur, saling menghargai, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, FEB Widyatama berupaya menciptakan lingkungan akademik yang tidak hanya produktif secara intelektual, tetapi juga berkarakter dan berorientasi pada kemajuan bersama.

“Ketika fondasi karakter kuat, maka kecerdasan akan menemukan arah dan kompetensi akan menemukan makna.”

Komunita: Dalam menghadapi percepatan digitalisasi dan tekanan global, bagaimana FEB menjaga keseimbangan antara tuntutan profesionalisme bisnis dan nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan ekonomi?

Dr. Nuryaman: Kami menjaga melalui pendekatan pendidikan yang menempatkan etika, empati, dan tanggung jawab sosial sebagai fondasi utama. FEB Widyatama tidak hanya menekankan penguasaan teknologi dan kompetensi profesional, tetapi juga membentuk kesadaran bahwa keputusan ekonomi selalu berdampak pada manusia dan lingkungan. Dengan demikian, lulusan diharapkan mampu menjadi profesional yang unggul secara digital namun tetap berlandaskan nilai moral dan kepedulian sosial.

Komunita: Seperti apa sosok ideal lulusan FEB Widyatama masa depan yang diharapkan melalui proses penguatan internal ini?

Dr. Nuryaman: Lulusan ideal FEB Widyatama masa depan adalah individu yang memiliki kemampuan analitis yang kuat, adaptif terhadap perubahan teknologi, dan mampu berpikir kreatif dalam memecahkan masalah ekonomi serta bisnis. Selain kompetensi profesional, mereka juga diharapkan memiliki integritas, kepedulian sosial, dan semangat kolaboratif. Dengan karakter seperti itu, lulusan FEB Widyatama tidak hanya siap bersaing di dunia kerja, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.

Komunita: Jika FEB kita anggap sebagai “laboratorium masa depan ekonomi cerdas dan berkelanjutan”, apa pesan Bapak kepada sivitas akademika untuk terus beradaptasi dan berinovasi?

Dr. Nuryaman: Pesan saya kepada seluruh sivitas akademika adalah terus membangun budaya belajar yang adaptif, kolaboratif, dan berbasis nilai keberlanjutan. Setiap dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan harus berani keluar dari zona nyaman, memanfaatkan teknologi digital, data, dan inovasi sebagai sarana menciptakan solusi ekonomi yang relevan bagi masyarakat. FEB Widyatama harus menjadi tempat gagasan-gagasan baru lahir dan diuji, bukan hanya untuk kemajuan akademik, tetapi juga menghadirkan dampak sosial dan lingkungan yang positif. Dengan semangat ini, kita tidak hanya mencetak lulusan yang kompeten, tetapi juga insan yang berintegritas dan visioner dalam membangun ekonomi masa depan yang cerdas dan berkelanjutan.

Komunita: Bagaimana Bapak melihat FEB dalam 5–10 tahun ke depan — akan menjadi fakultas seperti apa, dan memberi kontribusi seperti apa bagi bangsa dan dunia?

Dr. Nuryaman: Sesuai dengan visi yang dimiliki oleh FEB Widyatama menjadi pengelola program studi yang unggul dan mandiri di bidang akuntansi, manajemen dan bisnis berbasis teknologi informasi yang profesional, inovatif dan mampu memenuhi kebutuhan industri dan Masyarakat dalam lingkungan global tahun 2028.

(Interview, rewrite by lili irahali – Nov.2025)

“Kuliah ekonomi dan bisnis bukan sekadar mempelajari teori pasar, tetapi mempersiapkan diri untuk menciptakan nilai.”

“Kami ingin lulusan FEB Widyatama tidak hanya sukses secara karier, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat.”