Di tengah dunia yang bergerak tanpa jeda—ketika teknologi melesat, iklim berubah tak menentu, dan nilai-nilai generasi bergeser—perguruan tinggi kembali diuji sebagai penjaga nalar dan penuntun arah peradaban. Bukan hanya tempat mengajar atau mencetak inovasi, tetapi ruang yang menanamkan nilai, menumbuhkan pemahaman, dan merawat ekosistem pengetahuan yang mampu menjawab kegelisahan zaman.
Di tengah lanskap itu, Widyatama meneguhkan dirinya sebagai Kampus Peduli dan Berdampak—sebuah komitmen untuk menjaga rumah ilmu tetap tegak, bahkan ketika perubahan global mengguncang fondasinya. Memilih jalur academic university, Widyatama menempatkan penelitian, pemahaman mendalam, dan pemaknaan ulang tantangan kontemporer sebagai napas institusinya.
Spirit transformatif–adaptif membuat langkah Widyatama tidak tergesa namun terarah: menjembatani warisan akademik yang kuat dengan kebutuhan masyarakat yang terus berubah. Di ruang-ruang kerja dan diskusi, pergulatan gagasan berlangsung; di baliknya ada kesadaran bahwa kualitas pendidikan hari ini menentukan ketahanan masa depan.
Di antara kesibukan mengelola universitas, Prof. Dr. H. Dadang Suganda, M.Hum. menempatkan pendidikan sebagai perhatian utama. Melalui wawancara ini, ia menyingkap arah dan komitmennya: bagaimana visi ditumbuhkan, bagaimana proses akademik diperkuat, bagaimana budaya ilmiah dipersatukan, dan bagaimana sebuah universitas menjaga integritas ilmiahnya sembari tetap peka pada kebutuhan sosial dan memberi dampak nyata di tengah dunia yang bergerak lebih cepat dari sebelumnya.
“Perguruan tinggi yang kehilangan nilai kebersamaan akan mudah retak dari dalam, bukan karena serangan luar, melainkan karena goyahnya kepercayaan.”
Komunita:
Makna “kampus berdampak tanpa kehilangan nurani” bagi Universitas Widyatama di tengah perubahan global dalam aspek teknologi, dunia kerja, isu keberlanjutan?
Rektor Widyatama:
Jika kita mengacu pada kategorisasi perguruan tinggi—teaching university, academic university, dan entrepreneur university—Widyatama telah memetakan diri pada academic university. Pilihan ini sejalan dengan evolusi sumber daya universitas.
Ketika pemerintah menggulirkan gagasan kampus berdampak, saya sangat setuju. Perguruan tinggi memang harus hadir memecahkan problematika masyarakat. Stanford University misalnya, 60% lulusannya menjadi pencipta pekerjaan baru. Ini menunjukkan bagaimana pergerakan ekonomi dapat hadir dari perguruan tinggi.
Presiden, dan Menteri Pendidikan Tinggi dan Sains Teknologi juga berulang kali menegaskan bahwa kampus wajib memerhatikan problematika masyarakat dan negara. Berdasarkan perspektif tersebut, Widyatama harus berkontribusi minimal di lingkungan terdekat—Bandung dan Jawa Barat—serta, bila memungkinkan berdampak di tingkat regional, nasional, dan global.
Implementasi kampus berdampak kami mulai dari evaluasi kemampuan sumber daya kampus. Dalam pendidikan, kami berorientasi pada academic university dengan tujuan:
- Kurikulum adaptif dan solutif terhadap problematika masyarakat serta link-match dengan dunia kerja dan industri.
- Kurikulum dan RPS dievaluasi secara berkala agar benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat.
Kami ingin lulusan memiliki kompetensi yang mampu memecahkan masalah di lingkungannya dan bahkan melampaui batas wilayah.
Dosen juga didorong melakukan riset yang bukan sekadar memenuhi kebutuhan jurnal, tetapi juga memiliki implikasi praktis bagi masyarakat. Ilmu harus diterapkan untuk memecahkan problematika kehidupan nyata. Misalnya, prodi manajemen, akuntansi, teknik, dan budaya dapat membantu UMKM berkembang dan memberi nilai tambah pada potensi lokal. Contoh nyata, kami bekerja sama dengan Kabupaten Sumedang di Cikurubuk terkait padi dan beras organik. Teori yang dipelajari di kelas diterapkan dalam produksi, distribusi, dan konsumsi sehingga menghasilkan manfaat finansial dan kesejahteraan.
Selain itu, ada konsep kecerdasan jalanan—pengalaman di lapangan yang menghasilkan teori baru atau sintesis teori lama. Teori kampus belum tentu relevan dengan realitas terkini, terutama dengan perubahan besar seperti digitalisasi dan AI.
Di Inggris, banyak pekerjaan jasa kini dikelola AI, meningkatkan pendapatan negara, tetapi juga mengurangi kesempatan kerja manusia. Karena itu, masyarakat—khususnya generasi muda—harus literat terhadap AI, bukan memusuhinya. Adaptasi dan kolaborasi dengan AI akan membuka peluang baru.
Kampus berdampak tidak hanya memecahkan masalah masa kini, tetapi juga merancang ilmu masa depan agar manusia dan bangsa mampu beradaptasi dan maju.
Komunita:
Dalam konteks kampus berdampak, ukuran dampak berasal dari prestasi lembaga, prestasi dosen, prestasi mahasiswa, atau perubahan sosial yang digerakkan kampus? Mana yang paling penting?
Rektor Widyatama:
Bagi saya, dampak perguruan tinggi adalah sejauhmana luaran tridarma mampu memecahkan problematika masyarakat. Problematika itu beragam: sosial, religi, sandang–pangan–papan, iklim, hingga isu-isu SDGs. Saya tidak memfokuskan pada satu kelompok indikator saja. Justru pertanyaan utamanya adalah: dari berbagai problematika itu, mana yang dapat kita kontribusikan solusinya?
Saat ini masyarakat mengalami semacam gegar budaya. Pemerintah mendorong revitalisasi budaya—Sunda, Jawa, dan lainnya—karena budaya populer global sangat dominan. Perguruan tinggi harus menjaga nilai-nilai budaya asli yang menjadi habitus masyarakat.
Dampak kampus bukan hanya dalam hal materi, tetapi juga pembentukan pergaulan sosial, nilai-nilai, perubahan iklim, kebutuhan digitalisasi, hingga kesiapan bangsa menuju Indonesia 2045. Jika kampus hanya fokus pada satu persoalan, kita akan mudah tertinggal oleh problem-problem lain yang terus bermunculan. Karena itu, tridarma harus melahirkan luaran yang mampu memecahkan berbagai problematika secara simultan.
Komunita:
AI kini menantang hampir semua sektor. Bagaimana kebijakan Widyatama dalam pemanfaatan AI untuk pembelajaran dan peningkatan kompetensi dosen serta mahasiswa?
Rektor Widyatama:
Kami sudah memperoleh banyak wawasan terkait penggunaan AI dari Ditjen Dikti, komunitas, dan berbagai sumber lain. Kami memahami plus minusnya. Menghindari AI justru membuat kita tertinggal. Karena itu, kebijakan Widyatama adalah:
- Semua dosen harus menguasai AI.
- AI dijadikan fasilitator pembelajaran.
- Ruang kosong dari AI harus diisi oleh kreativitas manusia.
AI memiliki keterbatasan—data yang tidak selalu lengkap, minim sisi kemanusiaan—sehingga dosen dan mahasiswa harus mampu menciptakan hal-hal baru yang tidak dapat digantikan AI. AI dapat merancang, menginformasikan, dan memproses data. Namun pertanyaannya: apakah output AI sesuai kondisi nyata? Apakah mampu merancang masa depan secara kontekstual? Ruang-ruang kosong inilah yang perlu diisi manusia.
Kami berharap seluruh sivitas menguasai AI, memanfaatkannya sebagai alat pendidikan, sekaligus memasukkan pendekatan manusiawi agar teknologi dan kemanusiaan berjalan harmonis.Pedoman utama kami mengacu pada panduan resmi Ditjen Dikti mengenai pemanfaatan AI.
Komunita:
Sebagai Global Academic University dengan keunggulan SDGs dan Kewirausahaan, nilai-nilai apa yang menjadi landasan moral, dan arah kebijakan kampus?
Rektor Widyatama:
Program Unggulan Perguruan Tinggi (PUPT) kami berfokus pada SDGs dan Kewirausahaan. SDGs menjadi rujukan karena problematika masa kini dan masa depan telah terakumulasi di dalam 17 indikatornya. Saat ini kami fokus pada enam SDGs yang paling relevan dengan kapasitas kampus, sehingga arah tridarma lebih jelas.
Kewirausahaan penting karena academic university menuntut kurikulum adaptif, link-match dengan dunia kerja, serta lulusan yang cepat terserap industri, atau mampu menciptakan lapangan kerja.
Mengapa harus global? Dunia semakin sempit. Informasi bergerak cepat dan masalah global dirasakan bersama. Karena itu:
- Kurikulum harus mengakomodasi isu strategis global.
- Dosen harus memahami isu global.
- Produk dan karya kampus harus direkognisi global.
Contoh implementasi, kami mengembangkan Living Lab di Sumedang yang menciptakan alat budidaya ikan berbasis AI. Proyek ini merupakan hasil kolaborasi dengan INTI Malaysia dan universitas lain yang punya prodi AI. Model seperti ini umum di Eropa. Artinya, isu global kami akomodasi ke dalam riset dan pembelajaran.
Saat ini Widyatama juga tercantum dalam daftar perguruan tinggi yang akan masuk QS WUR Ranking Asia 2026—informasi sedang kami verifikasi. Namun ini menunjukkan produk, kompetensi dosen, serta mobilitas mahasiswa sudah bergerak pada standar global.
Komunita:
Pemerintah kini fokus pada proyek-proyek berbasis sustainability dan green management. Dalam konteks Living Lab Widyatama, sejauh mana Fakultas Ekonomi terlibatkan untuk mengembangkan Green Finance?
Rektor Widyatama:
Living Lab kami memang diarahkan berbasis teknologi dan green project, dan keterlibatan bukan hanya di Fakultas Ekonomi & Bisnis—seluruh fakultas dan program studi harus ikut serta. Konsep utamanya adalah ekonomi sirkuler. Produk Living Lab seperti: pangan dan perikanan akan bermuara pada pembentukan UMKM. Misalnya, budidaya lele sehat dan cepat tumbuh akan menghasilkan produk, seperti: pecel lele bergizi yang dapat menjadi bisnis masyarakat. Ini contoh dampak ekonomi sirkuler.
Jadi setiap fakultas dan program studi harus berpikir bagaimana Living Lab berkolaborasi dan menghasilkan irisan manfaat bagi masyarakat setempat hingga tingkat nasional, regional, dan global.
Komunita:
Untuk mencapai tujuan-tujuan besar tadi dibutuhkan keseimbangan antara pencapaian akademik dan pengelolaan sumber daya manusia internal. Bagaimana Widyatama menjaga keseimbangan tersebut?
Rektor Widyatama:
Saat ini kami sedang menata ulang ekosistem keilmuan melalui pembentukan Kelompok Cabang Keilmuan (KCK). Semua dosen akan dikelompokkan ke dalam cabang atau ranting keilmuan tertentu, dan masing-masing kelompok akan memiliki tugas pokok dan fungsi (tupoksi) yang jelas.
Pertama, setiap dosen wajib melakukan riset. Riset inilah yang menjadi dasar untuk menghasilkan berbagai luaran, baik yang bersifat ilmiah—jurnal, HAKI, teori atau konsep baru—maupun yang pragmatis, seperti: produk kebendaan, atau inovasi yang dapat diimplementasikan langsung. Dalam konteks sains, riset memungkinkan dosen menciptakan referensi pembelajaran baru. Dunia berubah, teori berubah—karena itu dosen yang tidak meneliti tidak akan mampu memperbarui bahan ajarnya.
Kedua, hasil riset tersebut menjadi landasan untuk menciptakan mata kuliah dan kompetensi baru yang relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat dan dunia industri. Ilmu memiliki masa kedaluwarsa; stagnasi terjadi jika tidak ada pembaruan. Karena itu kami memberi ruang yang besar pada apa yang saya sebut sebagai “kecerdasan jalanan”—yakni kemampuan menyintesiskan pengalaman lapangan menjadi teori baru. Teori tidak hanya lahir dari profesor atau doktor; setiap dosen berhak dan wajib menciptakannya.
Dengan KCK, kami berharap muncul rekonstruksi kurikulum, restrukturisasi mata kuliah, dan rekontekstualisasi teori ke dalam realitas kekinian. Semua ini akan menghasilkan luaran yang bermanfaat: jurnal, HAKI, produk kebendaan, rekomendasi kebijakan, hingga inovasi yang dapat diimplementasikan. Itu yang dibutuhkan negara, kementerian, dan dunia pendidikan.
Ketiga, KCK akan memberi kontribusi besar pada perubahan kurikulum. Wawasan yang dihasilkan dari proses riset akan menjadi umpan balik untuk mengevaluasi kurikulum agar tetap relevan dengan perkembangan zaman, teknologi, dan kebutuhan masyarakat.
Intinya, KCK adalah instrumen untuk mendorong dosen terus belajar, meneliti, menyintesiskan pengalaman, dan akhirnya menciptakan teori baru. Dengan begitu, universitas bisa terus bergerak maju, dinamis, dan responsif terhadap perubahan.
Komunita:
Terkait SDGs, dari 17 ini, Prof mengatakan kurang lebih 6 yang diterapkan. Ini tentunya terkait dengan implementasi Tridharma, lalu Living Lab sudah dimulai. Sejauh mana memberi manfaat nyata pada lingkungan dan masyarakat. Kira-kira butuh waktu berapa lama dengan kecepatan dan kemampuan Widyatama?
Rektor Widyatama:
Kami memulai dengan memetakan problematika masyarakat dan memetakan resources yang kami miliki. Setelah itu, kami memilih titik fokus di daerah tertentu agar bisa menghasilkan role model dan luaran yang tajam. Karena itu, Living Lab Widyatama kami rancang bertahap. Tahap pertama alhamdulillah selesai, dan tahap berikutnya kami kembangkan ke Smartfish Sumedang — inovasi untuk daerah Sumedang berbasis alat deteksi dan sistem cerdas. Target waktu kami jelas: Batch pertama: 1 tahun; Batch kedua: 1 tahun berikutnya. Jadi, dalam 2 tahun kami sudah menargetkan lahirnya alat berbasis AI yang betul-betul siap digunakan masyarakat. Dengan siklus cepat seperti ini, evaluasi menjadi lebih mudah dan perkembangan bisa terpantau.
Program ini sudah dikunjungi dan diapresiasi LLDikti IV Jabar Banten, bahkan Living Lab kami ikut menjadi bagian dari presentasi Smart City Sumedang di Malaysia.
Ini berkaitan dengan siklus KCK yang berjalan per tahun, yakni: luaran jurnal, luaran HAKI, produk, kebendaan, dan rekomendasi kebijakan. Semua dievaluasi, lalu diterapkan reward & punishment. Dari sana kami melihat mana yang dilanjutkan, mana yang harus diperkuat, dan mana yang harus diperbaiki. Polanya: 1 program = 1 tahun = 1 evaluasi komprehensif.
Komunita:
Terkait dengan tugas Widyatama mendidik peserta didik, untuk mencapai hal-hal di atas. Bagaimana bentuk kepedulian kepada mahasiswa, seperti: bagaimana membangun karakter, empati sosial mereka, kesiapan mereka dalam menghadapi masyarakat dan dunia kerja?
Rektor Widyatama:
Saya setuju dengan moto DJITU: Disiplin, Jujur, Inovatif, Tekun, Ulet. Tetapi kita juga mempunyai satu kekuatan besar: SIMKATMAWA. Alhamdulillah tahun ini Widyatama berada pada kategori unggul. Itu bukan hal mudah, karena di dalam SIMKATMAWA ada banyak kompetisi, PKM, dan program yang mendorong mahasiswa bergerak.
Kunci kami adalah kolaborasi dosen–mahasiswa. Dosen tidak bisa berdiri sendiri. Mahasiswa bukan hanya objek, tetapi juga subjek. Karena itu mahasiswa kami libatkan dalam: kegiatan riset KCK, pengabdian masyarakat, organisasi kemahasiswaan, kegiatan sosial, kegiatan akademik dan non-akademik lain.
Saya selalu tekankan kepada mahasiswa: “Bergaullah dengan orang yang tepat. Kalau kalian dekat dengan megabintang, kalian akan kecipratan kemegabintangannya.” Jangan langsung pulang. Pulangnya berkelok-kelok dulu. Bergaul, membangun relasi, memperluas pengalaman. Dari pergaulan itulah lahir kecerdasan jalanan—sintesis pengalaman yang menjadi dasar ilmu baru.
Komunita:
Jadi mahasiswa diberi ruang sebagai co-creator mendampingi dosen?
Rektor Widyatama:
Betul. Mahasiswa kami tempatkan sebagai co-creator dan sekaligus partisipan aktif. Mereka bukan hanya menerima ilmu, tetapi memberi kontribusi terhadap terciptanya ilmu. Banyak gagasan segar justru muncul ketika dosen berdialog dan berkolaborasi dengan mahasiswa. Jadi hubungan keduanya adalah hubungan kolaboratif untuk menyelamatkan ilmu dari stagnasi.
Komunita:
Bagaimana Widyatama melibatkan orang tua sebagai mitra, karena keberhasilan mahasiswa juga akan didorong oleh dukungan dari orang tua. Bagaimana hal ini disentuh?
Rektor Widyatama:
Saya selalu kembali pada prinsip dasar: pendidikan pertama dan utama berasal dari keluarga. Seberapa cerdas pun mahasiswa, kalau fondasi karakter dari keluarga kurang, pasti ada celah. Karena itu saya selalu mengajak orang tua: membangun komunikasi dengan anak, ajak berdialog (ngobrol, storytelling), pahami problematikanya, berikan dukungan karakter.
Widyatama punya peluang-peluang, posisi-posisi untuk melakukannya. Tetapi orang tua jangan lepas tangan. Siapapun anak-anak yang belajar di kampus, orang tua sangat berkontribusi besar untuk menciptakan watak dasar anak dari rumah. Kampus melanjutkan, bukan menggantikan.
Komunita:
Sejauh ini orang tua mendapat informasi perkembangan anaknya.
Rektor Widyatama:
Dalam perwalian ada hal-hal yang disampaikan tapi dalam konteks implementasi mungkin harus bisa dilihat peta secara keseluruhan, dosen menyampaikan informasi penting kepada orang tua. Minimal orang tua dapat mengakses transkrip nilai, catatan perkembangan, hingga catatan akademik tertentu. Kami juga sudah menyediakan Portal Orang Tua agar mereka bisa memantau perkembangan anak secara keseluruhan.
Komunita:
Isu teknologi yang mempengaruhi perubahan dunia kerja ke arah efisiensi dan produktivitas. Sejauh mana Widyatama membentuk mahasiswa adaptif, berjiwa wirausaha – tidak hanya membangun dunia usaha sendiri, juga sebagai karyawan berjiwa kewirausahaan. Lalu, bagaimana kampus menanamkan nilai-nilai ini tanpa kehilangan sisi kemanusiaannya, bahwa mereka harus bisa memencahkan problematik kemanusiaan masyarakat.
Rektor Widyatama:
Kampus memiliki struktur, kurikulum, dan aturan akademik. Tetapi pada saat yang sama, kita harus memahami karakteristik generasi milenial dan generasi digital. Karena itu pembelajaran harus: relevan dengan dunia kampus, relevan dengan dunia nyata, relevan dengan dunia yang sedang bermigrasi dari tradisional ke digital.
Dosen harus mengadaptasi diri. Kampus bukan satu-satunya pusat ilmu. Perkembangan ilmu justru sering muncul dari dunia luar. Karena itu, mahasiswa harus dibiasakan hidup di dua dunia sekaligus: dunia akademik dan dunia nyata.
Kami memberi ruang seluasnya bagi mahasiswa untuk aktivitas di luar kampus: riset, magang, kegiatan sosial, kewirausahaan, organisasi, hingga kolaborasi industri. Dosen pun harus mengakomodasi isu strategis yang muncul di dalam dan di luar kampus agar pembelajaran tidak tercerabut dari realitas.
Komunita:
Terkait integritas perguruan tinggi dan nurani akademik. Ada kasus ijazah, kemudian tindakan-tindakan di sekolah yang akhirnya berakibat pada peserta didik. Kemudian pendidikan tinggi dituntut lebih kompetitif, dan ada komersialisasi pendidikan. Bagaimana Widyatama menjaga integritas agar tetap menjadi perguruan tinggi yang menjaga karakter akademik dan juga bermanfaat.
Rektor Widyatama:
Integritas akademik adalah hal fundamental. Kami menjaga ini melalui peta jalan penyelenggaraan pendidikan dan rambu-rambu yang tegas.
Pertama, dalam proses pembelajaran—baik daring, luring, maupun hybrid—ada kewajiban yang harus dipenuhi dosen dan mahasiswa. Kewajiban itu bagian dari integritas.
Kedua, untuk tugas akhir, kami sangat ketat. Isu skripsi palsu, jurnal palsu, atau karya AI yang tidak legitimate tidak kami toleransi. Aturannya jelas. Dosen harus cermat memeriksa. Ada tatap muka, evaluasi langsung, dan pemeriksaan proses untuk memastikan keaslian karya mahasiswa.
Ketiga, kami menjalankan reward & punishment baik untuk dosen maupun mahasiswa. Dosen yang melakukan pelanggaran mendapat sanksi. Dosen yang menghasilkan riset berkualitas mendapat penghargaan. Intinya, tidak ada yang dibiarkan berjalan tanpa rambu-rambu normatif.
Komunita:
Pesan kepada sivitas dari makna sejati Widyatama menjadi kampus unggul secara global, berdampak secara sosial tapi tetap berhati nurani.
Rektor Widyatama:
Pertama, kita harus memiliki semacam pengetahuan berkaitan dengan Tupoksi. Tupoksi seorang dosen dalam konteks pendidikan. Semua itu karakter, kemudian kebiasaan. Jadi, saya berpesan pada teman-teman dosen, kita harus mengetahui, menguasai, fokus pada karakter dosen. Saya ingin merujuk kepada pepatah lama, guru digugu dan ditiru. Apalagi kalau kita melihat pemikiran Ki Hajar Dewantara.
Kedua, dosen harus mampu beradaptasi dengan kompetensi keilmuan yang baru. Kalau tidak menguasai keilmuan-keilmuan yang baru, bagaimana mungkin mahasiswa akan menjadi korban. Dosen harus menjadi pemacu prestasi mahasiswa. Kemudian, dosen harus bisa menciptakan. Dosen menguasai ilmu, baik ilmu lama, ilmu baru. Dosen harus mentransfer ilmu. Dosen harus menerapkan ilmu. Dosen harus mengembangkan ilmu. Terakhir dosen harus menciptakan ilmu. Semua tupoksi itu adalah kewajiban seorang dosen agar kita bisa terus beradaptasi update dengan perkembangan dunia.
Sekali lagi, kalau dosen stagnasi dalam kepemilikan ilmu yang lama, bagaimana mahasiswa akan berubah? Sekali lagi, dosen harus menguasai ilmu, merupakan ilmu baru. Dosen harus mentransfer ilmu pada mahasiswa, pada masyarakat. Dosen harus menerapkan ilmu, bisa menjadi implikasi pada luaran kebijakan. Dosen harus mengembangkan ilmu. Dengan adanya riset, maka dosen akan tahu ruang-ruang kosong dari teori yang dimiliki. Dan yang terakhir adalah dosen harus menciptakan Ilmu. Ilmu itu isinya adalah teori. Jadi pada prinsipnya dosen harus bisa mencipta teori-teori. Salah satu cara menciptakan teori-teori adalah pengalaman hidup, pengalaman bergaul, pengalaman bekerja sama, kolaborasi sebab dari pengalaman itu akan tercipta menyintesiskan pengalaman yang baru itu ke dalam teori-teori baru, menciptakan teori baru. Akhirnya kita akan menjadi motor penggerak, inspirator untuk bisa mencipta ilmu baru. Itu yang saya pesankan sejalan undang-undang Guru dan Dosen menguasai ilmu menerapkan ilmu, mentransfer ilmu, mengembangkan ilmu, dan menciptakan ilmu. Ilmu kontennya adalah teori.
“Perguruan tinggi bukan sekadar institusi pendidikan, tetapi benteng nilai dan nurani bangsa. Ia hanya akan tumbuh kuat bila dikelola dengan hati yang jernih.”
(Interview & Writting by lili irahali – 26 Nov 2025)