Home Blog Page 18

Era Metaverse Dalam Pendidikan

Era Metaverse Dalam Pendidikan

  Metaverse secara Etimologi berasal dari kata “meta” yang artinya melampaui dan “verse” berarti alam semesta. Sehingga metaverse bisa diartikan melampaui alam semesta.

  Istilah metaverse diperkenal oleh Neal Stephenson yang menyebutkan istilah tersebut pada novelnya berjudul “Snow Crash” di tahun 1992. Metaverse merujuk pada dunia virtual 3D yang dihuni oleh avatar orang sungguhan.

Teknologi Virtual Reality (VR) Mulai Diterapkan di Sekolah Jakarta   Kemudian metaverse digaungkan kembali oleh Mark Zuckerberg – pendiri Facebook yang mengembangkan konsep yang menggambarkan lingkungan virtual yang bisa kita masuki, bukan hanya sekedar melihat layar. Metaverse merupakan sebuah konsep rancangan dunia virtual di mana seseorang dapat membuat dan menjelajah dengan pengguna internet lainnya dalam bentuk avatar dirinya sendiri.  Metaverse sebagai dunia komunitas virtual tanpa akhir yang saling terhubung, di mana orang-orang dapat bekerja, bertemu, bermain dengan menggunakan headset virtual reality, kacamata augmented reality, aplikasi smartphone dan atau perangkat lainnya.

  Augmented reality (AR) adalah teknologi yang menggabungkan benda maya dua dimensi dan ataupun tiga dimensi ke dalam sebuah lingkungan nyata lalu memproyeksikan benda-benda tersebut secara realitas dalam waktu nyata. Sementara virtual reality (VR) adalah teknologi yang mampu menciptakan simulasi. Simulasi ini bisa mirip seperti dunia nyata, seperti suasana saat pengguna berjalan-jalan di sebuah tempat. 

  Sehingga, Metaverse merupakan sebuah rancangan yang memadukan dunia nyata dan dunia digital. Atau secara lebih luas, Metaverse adalah sebuah ruang virtual yang memanfaatkan teknologi virtual reality dan augmented reality yang memungkinkan untuk setiap orang dari seluruh dunia berkumpul dan berinteraksi.(Anugrah Aji Pariris, S.Pd., M.Pd., 2022)

  

Lalu Apa Era Metaverse Dalam Pendidikan ?

  Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Statista pada 4 Februari 2022 lalu, sebanyak 52% responden menyebutkan bahwa mereka ingin masuk ke metaverse agar bisa mendapatkan pengalaman bekerja di ruang kerja virtual.

  Kegiatan yang Ingin Dilakukan Orang di Dunia Metaverse (2021)

Bekerja di ruang virtual

.

.

.

Menonton seni & hiburan

.

.

.

Investasi Kripto

.

.

.

Pendidikan/Belajar

.

.

.

Kencan Online/bersosial

.

.

.

Bermain Gim

.

.

.

Hiburan Dewasa

.

.

.

0

20

40

60

Sumber : Statista

  Di masa yang akan datang, perkembangan metaverse akan semakin pesat dan massif, dikarenakan teknologi semakin canggih dari waktu ke waktu. Juga pengembangan Metaverse oleh perusahaan-perusahaan teknologi raksasa, maka dunia pendidikan mau tidak mau harus menyiapkan diri menyambut teknologi tersebut. Dunia pendidikan tidak dapat menolak kemajuan teknologi. Justru wajib memanfaatkan kemajuan teknologi tersebut sebagai alat untuk melakukan kegiatan pembelajaran yang positif.

  Metaverse suatu saat akan membuat guru sejarah tidak perlu membawa peserta didiknya ke museum di dunia nyata. Peserta didik cukup diajak masuk ke Metaverse yang di sana sudah tersedia museum virtual tiga dimensi. Contoh lain, dalam pelajaran geografi, guru dapat mengajak peserta didik melihat peristiwa gunung meletus, bahkan bisa juga sekaligus melakukan wawancara kepada ahli vulkanologi secara virtual. Metaverse akan menjadikan pelajaran yang sebelumnya hanya bisa dilihat dalam dua dimensi, menjadi sebuah pengalaman yang lebih nyata. Peserta didik dibawa keluar dari dimensi abstrak menuju sebuah realitas virtual.

  Metaverse mungkin suatu saat akan membuat seluruh aktivitas dalam dunia pendidikan dapat dilakukan dalam dunia virtual. Sekolah akan dibangun di dunia virtual, banyak kelas akan terdapat di dunia virtual, pembelajaran dilakukan secara virtual, bahkan administrasi sekolah juga dapat dilakukan secara virtual. Metaverse membuat kita dapat melakukan apa pun tanpa harus bertemu secara langsung. Jika hal ini terjadi, tentu menjadi sebuah disrupsi bagi dunia pendidikan masa kini.

  Metaverse memang masih merupakan ide untuk teknologi masa depan namun beberapa bagian teknologinya sudah ada dan tanggal diintegrasikan. Karena itu, dunia pendidikan perlu merespon secara tepat dan baik. Memang butuh persiapan yang matang agar tidak terbawah oleh arus teknologi yang berdampak kurang baik. Bagi dunia pendidikan, perkembangan Metaverse tidak boleh dianggap hanya sebagai ilusi.

  Kekhawatiran dunia pendidikan adalah masalah kemandirian manusia. Kemandirian pada peserta didik lebih khususnya, karena pada keadaan dua tahun pandemi Covid-19 belakangan ini semenjak perubahan sistem pendidikan dengan melaksanakan pembelajaran jarak jauh banyak masalah sosial yang timbul.

  Namun demikian, perkembangan teknologi bagaimanapun tidak bisa kita cegah. Kita hanya perlu bijak menggunakan teknologi tersebut sehingga membawa manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia, khususnya dalam bidang pendidikan.

  Perkembangan teknologi, termasuk metaverse, hakikatnya hanyalah sebuah cara, tidak bisa dijadikan esensi kehidupan. Sekolah fisik dan semua kegiatan di dalamnya juga tidak akan digantikan oleh metaverse seutuhnya. Metaverse  hanya akan menjadi alat bagi dunia pendidikan untuk membuat pelayanan pendidikan menjadi lebih baik lagi, tanpa harus menghilangkan semua yang ada di dunia nyata. Bagaimanapun juga, pendidikan bertujuan memanusiakan manusia, bukan memvirtualkan manusia.

.

Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/tech/; https://lifestyle.kontan.co.id/; https://tekno.kompas.com/;      https://databoks.katadata.co.id/; https://ika.um.ac.id/

.

Paradigma & Tantangan Kebijakan Program MBKM KemendikbudRistek, Praktik Baik di FT UTama

.          Paradigma & Tantangan

Kebijakan Program MBKM KemendikbudRistek,

Praktik Baik di FT UTama

Dr. M. Rozahi Istambul, S.Kom., M.T

.

.

Peningkatan kualitas hidup salah satunya dapat dilakukan dengan meningkatkan kapasitas dan kompetensi pengetahuan melalui pendidikan. Sebagaimana diamanatkan dalam program UNESCO, yakni ‘lifelong learning’ yang terdiri atas a) Literacy; b) Technical and Vocational Education and Training (TVET); c) Higher Education; d) Open and Distance Learning; e) ICT Applications for Non–Formal Education; f) 21st Century Skills. Perubahan teknologi, iklim, demografi, dan budaya terjadi semakin cepat dan semakin masif di kehidupan kita, menyebabkan perkembangan sumber pengetahuan juga semakin masif dan mudah untuk diperoleh dengan memanfaatkan peran teknologi informasi. Hal ini menyebabkan perguruan tinggi perlu melakukan berbagai perubahan strategi proses pembelajaran dalam dunia pendidikan, khususnya di lingkup perguruan tinggi pada konteks peningkatan kemampuan pengetahuan dan keterampilan.

Merujuk pada undang–undang pendidikan nasional, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Nampak dalam pernyataan di atas bahwa suatu pendidikan tidak harus terjadi bila suatu perguruan tinggi dianalogikan hanya sebagai ruang kelas untuk melakukan proses pembelajaran. Berbagai tempat dapat dijadikan sumber belajar bagi peserta didik untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang terkait dengan proses interaksi yang terjadi di tempat tersebut. Seperti yang dikemukakan Prof. Eko Indrajit, bahwa “belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat , sedangkan pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. Tentunya, pemaknaan sumber belajar tersebut tidak lagi hanya didapatkan di ruang kelas atau perpustakaan, namun dapat melalui media elektronik, seperti: komputer; radio; tv; surat kabar atau berbagai tempat organisasi/ komunitas/ kelompok, yakni: kantor pemerintahan, perusahaan negeri/swasta, UMKM/UKM, SD/SMP/ SMA/MAN, Pesantren, dan lainnya.

Pendidikan di belahan dunia manapun dalam 3 tahun terakhir ini dihadapkan pada situasi

pandemi COVID, yang menuntut kebiasaan proses pembelajaran yang pada awalnya secara tatap muka langsung di kelas berubah menjadi pendidikan jarak jauh (eLearning). Bila di perhatikan secara seksama perubahan dalam proses berinteraksi saat ini dalam proses pembelajaran merupakan suatu konsekuensi dari suatu kondisi lingkungan pandemi. Namun harapan masyarakat mengenai pendidikan dalam memperoleh pengetahuan dan keterampilan akan selalu dicari solusinya, salah satunya dengan memanfaatkan peran teknologi. Disamping itu pula dukungan akan berbagai sumber pembelajaran melalui teknologi informasi tersebut (baca: resources) juga semakin marak dan mudah ditemukan baik untuk pencariannya (akses) dan ketersediaan bahannya. Hal ini, dikarenakan begitu banyak masyarakat (volounter) dari manapun asalnya dengan suka rela ingin membagikan pengalaman terbaiknya untuk dapat menyajikan berbagai informasi yang diketahui/dimiliki untuk dapat dibagikan pada jejaring teknologi (dunia maya).

Permasalahan lain yang sering didengar dan dihadapi oleh kalangan dunia pendidikan, khususnya lulusan dari suatu perguruan tinggi bahwa kesiapan dari lulusan belum siap secara langsung bekerja di industri, dunia usaha dan dunia kerja (Iduka). Catatan dari sejumlah Iduka yang menyatakan tidak siapnya lulusan tersebut, dikarenakan beberapa faktor yang umum yakni: 1) perlu beradaptasi beberapa bulan 2) tidak diinginkan proses bisnis di Iduka hanya sebagai bahan percontohan/uji coba 3) waktu pelatihan yang mengganggu jalannya proses bisnis 4) menjadi beban pembiayaan yang tidak produktif. Fenomena tersebut menjadi indikator bahwa peran dari Iduka sulit menerima para lulusan dengan kondisi yang selama beberapa dekade ini berlaku di Indonesia. Link and match yang pernah diharapkan gaungnya oleh kebijakan beberapa menteri pendidikan yang terdahulu belum dapat merubah pemaknaan lulusan perguruan tinggi di mata Iduka. Indikator tersebut di atas seakan–akan menjadi suatu ukuran bahwa perguruan tinggi belum mampu secara optimal untuk dapat berkontribusi di masyarakat/Iduka. Walaupun sudah banyak terobosan beberapa mahasiswa yang dapat membuat inovasi dan kreativitas produk. Tentunya, temuan dari mahasiswa tersebut rasio jumlahnya masih lebih kecil dibandingkan masalah yang ada di masyarakat/Iduka secara umum.

Melihat sejumlah fenomena yang berkembang seperti uraian di atas, maka tidak ada alasan bagi dunia pendidikan untuk segera berbenah agar dapat menjawab tantangan Iduka termasuk banyaknya keterlibatan dan kontribusi mahasiswa/lulusan dalam membantu menyelesaikan permasalahan Iduka. Kebijakan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (KemendikbudRistek) telah membuat regulasi terkait link & match yang sulit terjadi dalam periode Kementerian Pendidikan sebelumnya. Salah satunya, program mengenai Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang diperuntukkan untuk skala perguruan tinggi. Program MBKM memberikan kesempatan  dan peluang bagi mahasiswa untuk mengembangkan passion yang mungkin saja baru dapat muncul pada saat berada di akhir tahun pendidikannya. Kebijakan yang dibuat oleh KemendikbudRistek, yakni memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk dapat mengikuti program MBKM baik sesuai keilmuan mahasiswa atau di luar keilmuan program studinya, yakni sebesar maksimum 60 sks setara dengan 3 semester. Adapun pengaturan peletakkan dan komposisi sks diberikan kewenangan penuh kepada masing–masing institusi perguruan tinggi, untuk difasilitasi mulai tingkat fakultas hingga program studi.

Fakultas Teknik Universitas Widyatama, menyambut kebijakan KemendikbudRistek ini

sebagai sesuatu yang fenomenal dikarenakan satu sisi peluang dan kesempatan mahasiswa sangat besar berkiprah di Iduka/masyarakat sesuai passionnya dan kegiatan MBKM ini akan direkognisi ke dalam kurikulum. Sedangkan sisi yang lain seakan–akan keilmuan prodi tidak optimal diperoleh mahasiswa karena waktunya (pembelajaran) diganti menjadi mengikuti program MBKM tersebut. Pro kontra pada awalnya, melihat kebijakan tersebut, namun seiring dengan berbagai paradigma yang diperoleh selama ini, menyebabkan keputusan untuk mengarahkan mahasiswa mengikuti program MBKM menjadi realistis. Ada sejumlah parameter yang menjadi acuan dalam memperkuat keputusan tersebut, yakni :

1. Kebijakan MBKM dari pemerintah (KemendikbudRistek) tidak hanya diperuntukkan bagi perguruan tinggi semata, ibarat tidak hanya disediakan pancingnya namun disediakan kolam dan ikannya untuk dapat dipancing. Analogi ini menjelaskan bahwa kementerian lain terlibat pula yang menyediakan kolam dan ikannya. Hal ini dibuktikan dengan seluruh BUMN melalui Forum Human Capital Indonesia (FHCI) memfasilitasi penerimaan mahasiswa untuk melakukan magang selama 6 bulan (maksimum) dan dapat dilanjutkan 6 bulan berikutnya bila disepakati antara 2 belah pihak (Perguruan Tinggi & FHCI) . Dalam konteks ini, makna link & match yang merupakan harapan dari perguruan tinggi sejak dahulu dapat tercapai, artinya mahasiswa dapat diterima kompetensinya sesuai ketersediaan kegiatan di masing– masing BUMN.

2. Ternyata, lingkup kerjasama yang dianjurkan oleh KemendikbudRistek tidak hanya perusahaan-perusahaan  di BUMN dalam program MBKM yang dikenal sebagai program Magang & Studi Independen Bersertifikat (MSIB), namun Kementerian lain pun terlibat, seperti halnya: Kemenhan dengan program Bela Negara, Kementerian Sosial dengan Program Pejuang Muda, Kementerian Kesehatan dengan Program Proyek Kemanusiaan, Kementerian Desa dengan Program Bina Desa, Badan Standarisasi Nasional, Pemerintah Daerah, Komunitas masyarakat, UMKM, hingga Perusahaan swasta.

3. Kebijakan program MBKM juga memberikan kemudahan dan atau tantangan bagi para mahasiswa dikarenakan mahasiswa dapat memilih program mana saja yang dapat dipilih sesuai dengan  impiannya, artinya mahasiswa dapat memilih program yang tidak sesuai dengan latar belakang keilmuan yang saat ini sedang berlangsung. Disinilah kemudahan dan sekaligus tantangan bagi mahasiswa untuk menentukan passion yang sebenarnya diinginkan. Kesempatan ini memberikan keuntungan bagi mahasiswa yang mengambil pilihan program MBKM karena dapat memulai impiannya dengan kepercayaan yang diberikan dari mitra pada program MBKM tersebut. Sehingga, sangat banyak pengalaman konkret dan nyata dari mahasiswa yang pernah mengambil program MBKM dengan membandingkan, bahwa mahasiswa tidak pernah memperoleh pengalaman tersebut dengan dunia pembelajaran di kampus.

4. Salah satu hambatan dalam terjadinya link & match di masa yang lalu, bahwa mahasiswa yang mempunyai talenta di luar kampus ternyata tidak dapat di rekognisi hasilnya ke dalam penilaian mata kuliah di sebaran kurikulum. Jangankan bertalenta tidak sesuai dengan keilmuan prodinya, malah mahasiswa yang mempunyai kompetensi yang sesuai dengan keilmuannya dan telah membantu pihak mitra atau menghasilkan suatu keberhasilan dalam wirausaha baru (start up), juga tidak dapat dinilai sebagai suatu keberhasilan untuk dijadikan rujukan nilai pada suatu mata kuliah. Kebijakan KemendikbudRistek dalam program MBKM membawa perubahan yang berbanding terbalik dengan periode-periode kebijakan Kementerian terdahulu. Saat ini, semua talenta dan kompetensi yang ditunjukkan mahasiswa terkait dengan kegiatannya di luar kampus dan memberikan dampak di masyarakat/Iduka dapat direkognisi (konversi) ke dalam suatu mata kuliah, baik dalam mata kuliah yang sesuai dengan penamaan dalam kegiatan MBKM atau dibuatkan nama baru mata kuliah. Dalam hal ini KemendikbudRistek telah memberikan kewenangan penuh kepada setiap instisusi perguruan tinggi terkait teknis operasional rekognisinya.

5. Hal lain yang menjadi pengamatan dalam proses pembelajaran di kampus saat ini, dimana

peran teknologi informasi sudah semakin pesat dalam kehidupan bermasyarakat, tidak terkecuali perguruan tinggi. Artinya, resource pengetahuan dan keterampilan terdahulu hanya dapat ditemui dan dipahami jika mahasiswa hadir di kelas nyata secara fisik. Namun saat ini, sudah dapat digantikan peran seorang dosen bila hanya sekedar transfer pengetahuan (satu arah/dua arah), yang mana peran  tersebut dapat digantikan dengan teknologi melalui penelusuran di mesin pencari atau rekaman/streaming video dan dapat dilakukan pengulangan terkait platform teknologi. Tentunya, informasi yang disajikan dalam teknologi informasi tersebut merupakan proses pembelajaran terbesar dan tanpa batas dalam penyajian pengetahuan dan keterampilan. Paradigma dosen seperti peran teknologi informasi ini perlu disikapi secara bijak, yang artinya peran dosen tidak lagi sebagai transfer pengetahuan seperti biasanya, namun berperan sebagai arsitek pembelajaran yang berfungsi sebagai desainer belajar mahasiswa. Mahasiswa dirancang & diarahkan dalam mencari dan melihat berbagai permasalahan dan solusi sesuai teori yang berkembang, serta tersedianya berbagai pengalaman (best practice) penyelesaian masalah dalam berbagai platform teknologi informasi untuk menjadi referensi pembelajaran. Hal ini, tentunya tidak jauh berbeda dengan program MBKM yang saat ini sedang marak dilakukan. Keberadaan mahasiswa akan mendapat pengalaman berharga yang tidak pernah diterima dari dosen yang hanya sebagai transfer pengetahuan (pembelajaran terdahulu). Artinya, program MBKM ini sebagai referensi yang berharga seperti halnya peran teknologi informasi. Malahan program MBKM lebih fenomenal, dikarenakan peluang berinteraksi dan penilaian kompetensi dan talenta seorang mahasiswa dapat langsung dilihat/dinilai oleh pihak pengguna lulusan perguruan tinggi. Apalagi bila mahasiswa dapat menggabungkan kemampuan memanfaatkan teknologi informasi dengan penerapan/penyelesaian masalah dalam program MBKM akan memberikan hasil yang semakin optimal.

6. Proses interaksi pembelajaran dalam program MBKM, ternyata memberikan banyak pengalaman baru yang membuktikan efisiensi & efektifitas penerimaan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa. Terbukti dengan sejumlah pelaksanaan program MBKM baik yang hadir di tempat mitra atau yang tidak hadir di mitra MBKM karena dilakukan secara jarak jauh (daring/dalam jaringan). Namun progress dan finalisasi suatu hasil kerja diberikan penilaian yang terbaik dari pihak mitra MBKM (eksternal insitusi pendidikan). Mahasiswa di era teknologi informasi saat ini adalah peniru yang cepat, mereka akan melakukan proses pembelajaran secara berpindah–pindah (melompat), sehingga sangat dinamis dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Apalagi bila semakin meningkatnya sinyal bandwith di Indonesia dengan biaya yang semakin murah serta mulai berkembangnya teknologi metaverse yang mulai disebarluaskan pula oleh pemerintah, sehingga eLearning merupakan suatu model pembelajaran yang sangat diharapkan untuk berbagai penyelesaian perkuliahan mengganti peran dari pembelajaran terdahulu. Tentunya, akan berkaitan langsung dengan beberapa program MBKM yang dapat memanfaatkan model eLearning yang dapat menggabungkan kerja dari pihak stakeholder/eksternal (mitra MBKM), pihak mahasiswa, dan pihak program studi.

Uraian di atas telah memberikan banyak wawasan dan cerminan, mengapa Fakultas Teknik Universitas Widyatama melakukan perubahan paradigma pembelajarannya. Hal ini diperkuat dengan memfasilitasi berbagai ketersediaan model pembelajaran yang dapat dipilih oleh mahasiswa. Program MBKM dan eLearning merupakan sarana yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa melalui peran dosen, program studi, dan fakultas selama ini, setelah penerapannya selama 3 tahun terakhir di Universitas Widyatama. Sebagai bagian akhir dalam pemikiran ini yang bersesuaian dengan pemikiran Eko Indrajit bahwa Kunci Sukses Pembelajaran Dalam MBKM: Jam terbang (practice make perfect); Berfikir terbuka (Open mindset); Berani eksperimen (Dosen merdeka); Tak henti belajar (lifelong learning). “Apakah ingin Kembali ke masa lalu yang semuanya diatur   (administrasi) sehingga menghambat kreativitas dan inovasi dalam berfikir serta berkarya ? ” Sebaiknya Tidak.

Sosok Duta Kampus Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MB-KM) Universitas Widyatama

Dr. M. Rozahi Istambul, S.Kom., M.T.:

Sosok Duta Kampus Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MB-KM)

Universitas Widyatama

.

      “Dosen selaku  pendidik kini dituntut tidak hanya melakukan transfer pengetahuan dan ilmu pada peserta didik. Di era informasi dan pengetahuan berlimpah, dosen selain sebagai fasilitator juga harus aktif mendisain pembelajaran layaknya arsitek mendisain bangunan. Apalagi setelah diluncurkannya kebijakan MB–KM dosen dituntut memberi totalitas perhatian kepada peserta didik sekaligus mampu mendisain pembelajaran yang mencerminkan merdeka belajar kampus merdeka serta selaras dengan dunia usaha dan dunia industri ”. Itulah penggalan prinsip Dr. M. Rozahi Istambul, S.Kom., M.T – Duta Kampus Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (Duta Kampus MB-KM) yang juga dosen sekaligus Dekan Fakultas Teknik – Universitas Widyatama yang telah mengendapkan pengalamannya sebagai dosen yang menggeluti e-learning, sistem informasi serta impelentasinya dalam pendidikan.

  Ia memandang setiap dosen adalah penggerak perubahan (agent of change) dalam mewujudkan pendidikan yang merdeka. Untuk bisa mencerdaskan dan mencerahkan peserta didik, kami (dosen) harus adaptif terhadap segala tantangan, perubahan, dan disrupsi teknologi. Kami harus berperan dalam transformasi pendidikan tinggi dan eksistensi kampus ke depan.

  Penunjukkannya sebagai Duta Kampus MB-KM merupakan tantangan dalam mewujudkan komitmen dirinya sebagai dosen penggerak yang terus menginspirasi dosen, mahasiswa, dan program studi dalam implementasi MB-KM. Duta Kampus MB-KM merupakan komunitas para dosen perguruan tinggi yang tergerak berkontribusi dalam mengakselerasi sosialisasi dan implementasi Merdeka Belajar – Kampus Merdeka.

  Awal tahun 2020 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MB–KM). Kebijakan MB–KM mendorong agar lembaga pendidikan tinggi memberikan hak belajar bagi mahasiswa program sarjana dan sarjana terapan selama tiga (3) semester belajar di luar program studi. Di dalam pelaksanaanya, mahasiswa dapat secara sukarela menempuh pembelajaran di luar program studi selama 1 (satu) semester atau setara dengan 20 (dua puluh) sks; dan paling lama 2 (dua) semester atau setara dengan 40 (empat puluh) sks menempuh pembelajaran pada program studi yang sama di luar kampus, pembelajaran pada program studi yang berbeda di perguruan tinggi yang berbeda; dan/atau pembelajaran di luar perguruan tinggi.

  Menurut Dr. Rozahi kebijakan MB–KM dilaksanakan dalam rangka mewujudkan proses pembelajaran yang otonom dan fleksibel sehingga perguruan tinggi dapat merancang dan melaksanakan proses pembelajaran yang inovatif agar peserta didik dapat meraih capaian pembelajaran mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara optimal. MB–KM dimaksudkan meningkatkan kompetensi lulusan, baik soft skills maupun hard skills agar lebih siap dan relevan dengan kebutuhan zaman, serta menyiapkan lulusan sebagai pemimpin masa depan bangsa yang unggul dan berkepribadian. MB-KM juga dalam rangka meningkatkan link and match dengan dunia usaha dan dunia industri, serta mempersiapkan mahasiswa dalam dunia kerja sejak awal.

  Sebagai salah seorang Duta Kampus MB-KM Dr. Rozahi tergabung dalam 256 dosen terpilih seluruh Indonesia dari 4.500 PT, yakni ia termasuk dalam 20 dosen PTS dari 370 PTS yang ada di Jawa Barat yang mendapat penugasan resmi Kemendikbudristek dalam mengakselerasi kebijakan MB-KM. Para duta melakukan berbagai kegiatan sosialisasi dan bimbingan dalam perguruan tinggi masing-masing dan sekitarnya, baik kepada mahasiswa, dosen, maupun para ketua program studi. Peran Duta Kampus membantu mengidentifikasi dan mengatasi tantangan implementasi Kampus Merdeka yang masih banyak ditemui di perguruan tinggi. Duta Kampus MB-KM menjawab dan membantu memecahkan masalah seputar program Kampus Merdeka sehingga tidak ada lagi kendala mengimplementasikannya pada kurikulum perguruan tinggi. Sekaligus memastikan kebijakan dan kurikulum Kampus Merdeka dapat diterapkan di seluruh perguruan tinggi. Peran Duta Kampus MB-KM memastikan kesiapan dan keberlanjutan implementasi kebijakan Kampus Merdeka yang bergerak serentak untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa dan mewujudkan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka.

  Dr. Rozahi sejak Juni 2008 tercatat sebagai dosen program studi Sistem Informasi, Fakultas Teknik, Universitas Widyatama. Pada tahun 2013 Dr. Rozahi telah menggeluti e-learning yang memudahkan administrasi dan capaian pembelajaran di program studi Sistem Informasi. Model pembelajaran ini ia geluti sampai  ketika ia diberi amanat sebagai Dekan Fakultas Teknik. Pengalaman ini semakin bersinergi ketika Kemendikbudristek di akhir tahun 2019 meluncurkan kebijakan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka, kemudian ia ditunjuk sebagai Duta Kampus MB-KM.

Tugas Duta Kampus Merdeka:

1). Membantu dosen atau kepala prodi di kampusnya untuk menyelaraskan kurikulum dengan Kampus Merdeka. Dalam hal ini, dapat dilakukan dengan menyelenggarakan lokakarya dimana duta menampung kekhawatiran Kaprodi dan menawarkan solusi, serta melalukan bimbingan teknis restrukturisasi kurikulum;

2). Membantu dosen atau kepala prodi dari perguruan tinggi lain untuk menyelaraskan kurikulum dengan Kampus Merdeka. Contoh kegiatan yang dapat dilaksanakan yaitu dengan membantu dosen-dosen dari perguruan tinggi lain yang menghubungi helpdesk Kemendikbudristek dalam penyesuaian kurikulum atau dengan membagi pengalaman praktik baik revisi kurikulum;

3). Sosialiasi kepada para dosen agar membimbing mahasiswa dalam kegiatan Kampus Merdeka dengan cara menyosialiasikan Pedoman Operasional Beban Kerja Dosen 2021 khususnya terkait kegiatan bimbingan Kampus Merdeka atau dengan mengajak dosen lain untuk menjadi Duta Kampus Merdeka;

4). Sosialisasi kepada para mahasiswa agar berpartisipasi dalam kegiatan Kampus Merdeka.  

  Menurut Rozahi penggunaan e-learning semakin banyak dilakukan oleh sejumlah masyarakat, khususnya dalam konteks pendidikan. Namun, perbedaan perilaku dan infrastruktur dalam mengimplementasikan e-learning yang akan diterapkan, menyebabkan perbedaan tata kelola dalam upaya memanfaatkan e-learning di masing-masing lembaga pendidikan, seperti perguruan tinggi. E-learning sebenarnya memiliki filosofi dasar bahwa pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi informasi. Begitu juga halnya dengan pembelajaran konvensional mahasiswa dan upaya yang dilakukan dosen untuk penyampaian bahan ajar yang optimal bagi peserta didik. E-learning dapat memotivasi siswa untuk mandiri menggunakan sejumlah sumber belajar. Menggunakan e-learning merupakan proses peningkatan pengetahuan dan keterampilan bagi peserta didik, sehingga mereka tidak hanya menerima pengetahuan sebatas apa yang disampaikan oleh dosen dalam transfer ilmu atau pembelajaran secara langsung.

  Selamat bertugas dan berkarya sebagai Duta Kampus MB-KM Dr. Rozahi dalam rangka mencerdaskan anak bangsa, serta membawa nama institusi Widyatama sesuai visi dan misinya.

@lili irahali  

.

Tata Kurniawan (Maheswari Hijab)

Asuhan: Keni Kaniawati

Widyatama Business Incubator/ WIBI

.

“Tata Kurniawan (Maheswari Hijab)”

    MW Hijab and Fashion adalah sebuah unit usaha skala kecil (UMKM) yang bergerak di bidang produksi sekaligus penjualan kerudung (hijab) dan pakaian wanita (Muslimah). Bermula dari coba-coba berjualan wall sticker secara online, kemudian beralih ke produk kesehatan, skincare, kerudung hingga busana Muslimah. Saat itu, kami hanya menjual produk orang lain. Namun karena semakin tingginya animo terhadap produk hijab dan busana Muslimah, serta jumlah konsumen dan reseller yang mulai bertambah, kami berpikir untuk membuat produk dengan brand sendiri.   Pada tanggal 4 April 2014 Fonny Novriana (teh Fonny) memilih nama “Maheswari” sebagai nama produk (dalam bahasa Sansakerta berarti Bidadari). Sejalan dengan waktu, orang kemudian mengenalnya dengan nama (singkatan) MW, yang kini ditetapkan sebagai nama (brand) produk.

    Perusahaan dipimpin oleh Tata Kurniawan (kang Tata), alumni Program Magister Manajemen Universitas Widyatama tahun 2021 sekaligus merupakan Tenant Widyatama Business Incubator, yang tidak lain adalah suami

Figure 1, Tatan Kurniawan, SE., MM. – Tenant WIBI

dari teh Fonny. Jumlah karyawan hingga saat ini sebanyak 5 orang serta didukung oleh tim produksi yang berjumlah 14 orang. Lokasi bisnis terletak di Kabupaten Sumedang Jawa Barat. Aktifitas pemasaran dan penjualan dilakukan secara online melalui media sosial serta marketplace. Meskipun demikian, layanan offline tetap merupakan bagian dari strategi MW. Letaknya yang cukup dekat dengan pusat kota menjadikannya tidak sulit bagi konsumen yang ingin datang mengunjungi tokonya.

Di tengah persaingan bisnis serupa yang semakin ketat, MW berupaya menciptakan diferensiasi dan keunggulan dengan membangun image kerudung dan busana Muslimah yang memiliki desain menarik, inovatif, kualitas premium, namun dengan harga yang terjangkau. Alhamdulillah, keunggulan dan strategi bisnis yang diterapkan berhasil membawa MW keluar dari dahsyatnya gelombang Covid-19 yang terjadi sejak awal 2020 lalu. Bahkan hingga saat ini, jumlah dan varian produk pun semakin bertambah dengan angka penjualan rata-rata Juni – September 2021 cenderung meningkat dari sebelumnya.

  Tantangan MW saat ini adalah bagaimana meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas jejaring pemasaran termasuk menjangkau segmen baru, dengan tetap fokus pada inovasi, kualitas produk, layanan kosumen, promosi, dan tentu saja tata kelola (manajemen) yang baik. Berbicara persaingan bisnis, kang Tata tidak banyak melakukan analisis terhadap kompetitor secara lebih jauh. Ia percaya bahwa setiap produk pasti memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri. Dan persaingan bisnis yang sebenarnya bukan hanya bersaing pada aspek produk atau harga, namun juga strategi tentang bagaimana agar selalu dekat di hati pelanggannya.

Visi

Menjadi sahabat terbaik wanita dalam memenuhi kebutuhan akan produk hijab dan fashion (baju Muslimah) yang berkualitas dengan harga yang terjangkau.

Misi

1.Menciptakan trend melalui inovasi produk yang berorientasi pada kebutuhan konsumen
2.Menerapkan fungsi manajemen secara profesional
3.Memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh mitra dan konsumen
4.Meningkatkan jangkauan pemasaran yang lebih luas termasuk mitra, produk, hingga konsumen (segmen) baru

.

    Widyatama Business Incubator (WIBI)   merupakan program bantuan kepada perintis usaha di tahap awal bisnis. Bantuan yang diberikan biasanya berupa konsep dan pembuatan produk awal. Sementara, akselerator bisnis memberikan bantuan pada bisnis yang sudah memiliki produk. Inkubator bisnis biasanya memberikan program kepada pengusaha pemula untuk mempercepat keberhasilan pengembangan bisnis melalui rangkaian program permodalan yang diikuti dukungan kemitraan atau pembinaan elemen bisnis lainnya. (KK)

.

.

Tuntutan terhadap Dosen, Guru, dan Mahasiswa Era Digital

  

Mengajar dan Belajar di Tengah Persimpangan

Tuntutan Mutu dengan Kendali Berujukan Jamak:                                                                   

Tuntutan terhadap Dosen, Guru, dan Mahasiswa Era Digital

Bachrudin Mustafa, Ph.D – Profesor Literasi, UPI Bandung

    Dosen dan guru yang direkrut ke Perguruan Tinggi dan Persekolahan, kemudian memasuki lingkungan kerja dua-tiga tahun belakangan ini saya bayangkan gamang dan “mati-langkah” karena bingung melayani tuntutan kendali mutu yang menggunakan parameter beraneka. Tuntutan yang banyak tidak-mengapa asalkan koheren. Akan tetapi, tuntutan yang ada belakangan ini membingungkan karena indikator-indikatornya berbenturan satu dengan yang lainnya. Kriteria semacam ini rentan terhadap multi-tafsir dan dapat mengundang perselisihan yang dapat menjadi kontra produktif.

    Komunita edisi kali ini menyajikan topik dan narasumber hebat, jika tidak dapat dikatakan “lebih hebat” dibanding nara-nara sumber edisi terdahulu. Kali ini kita diberi kesempatan untuk mengikuti dari dekat pikiran orang nomor satu di APTISI (Asosiasi Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia): Prof. Dr. Budi Djatmiko, M.Si, MEI. Dari paparan pikiran beliau, saya akan mengomentari enam hal, termasuk yang saya beri tajuk sebagai berikut.

• Manajemen Kisruh;
• Isu Tolok Ukur yang Multi-arah dan Berbenturan
• Mutu PT Unggul: Dari Tudingan “PT Menara Gading” ke Kesadaran Baru untuk Melayani Masyarakat yang Lebih Luas;
• Pergeseran Tata-nilai Masyarakat: dari Orientasi Gelar ke Orientasi Keterampilan Kerja;
• Perubahan Cara Kerja Pendidikan Tinggi dalam Merespon Gambaran Tuntutan Generasi Z dan Generasi Alfa.
• Bebenah Diri dalam Menyonsong Zaman yang Lebih Baik: Tuntutan terhadap Dosen, Guru, dan Mahasiswa Era Digital

Isu Manajemen Kisruh

  Tergantung kerapihan aturan main yang telah disepakati dan berbagai pihak utama yang “bermain” di lembaga terhormat yang disebut Perguruan Tinggi (PT) ini, pihak pimpinan dan pelaksana manajemen seyogianya tidak perlu gontok-gontokan, karena – segala sesuatunya – dapat diatur dengan musyawarah dan mufakat. Bukankah prinsip musyawarah-mufakat masih relevan untuk urusan kepemimpinan Pendidikan Tinggi (PT) di negeri ini? Kata narasumber kita, “(P)ermasalahan dalam PT disebabkan oleh aturan main yang tidak jelas dan kadang-kadang satu sama lainnya tidak menaati aturan tersebut.” Kalau hal ini merupakan pernyataan faktual yang akurat, sangatlah disayangkan bahwa kaum terdidik di lembaga pendidikan tinggi kita masih ada yang belum mampu mengurus dirinya secara tertib, sehingga kinerja profesionalnya terganggu.

  Konon—dahulu kala ketika tolok-ukur mutu masih sederhana—kekisruhan manajemen dapat dengan mudah diselesaikan karena mungkin memang masalahnya jelas dan dapat dengan tegas dikenali baik-atau-buruknya atau dapat diurai benar-dan-salahnya. Pertanyaannya sekarang: mungkinkah kita kembali ke rumusan sederhana yang tegas – senyampang/sekiranya kita, dengan itu, kita menyepakati pengajaran dan prestasi hasil-belajar yang merupakan salah satu core business PT?

  Dari sisi dosen, guru (dosen dan guru sebagai orangtua murid) seyogianya isunya sederhana: pembelajar memiliki hak untuk memperoleh layanan pendidikan, pembelajaran, dan pembimbingan yang sebaik-baiknya. Bukankah hal ini merupakan isu yang jelas dan, oleh karena itu, ia harus diperioritaskan atas nama integritas kita sebagai insan aktivis PT?

.

Isu tolok-ukur mutu yang multi-arah dan seringkali saling bertabrakan

  Ini seharusnya tidak boleh terjadi: kasus yang menarik untuk dikomentari pada ruang terbatas ini adalah multi-arah yang dibidikkan terhadap tingkah-laku “non-akademik” yang dilakukan berbagai pihak terhadap lembaga pendidikan tinggi (PT), tetapi dampak-ikutannya dijadikan tolok-ukur nilai yang disematkan kepada PT di Indonesia. “Tiket mutu” yang dimaksud, antara lain, adalah yang berikut:

• Sejauh mana sebuat PT mengalami kunjungan luas dalam website oleh masyarakat luas (silakan pelajari cara kerja WEBOMETRICS).
• Sejauh mana PT menerapkan kurikulum “Kampus Merdeka Merdeka Belajar” seperti diindikasikan parameter “pertukaran mahasiswa” di dalam dan luar negeri? Sejauh mana dosen dapat memberikan kontribusi kepada dunia usaha dan bisnis?
• Sejauh mana suatu PT mengupayakan pengadaan kelas internasional? Seberapa besar lulusan suatu PT bekerja di industri /atau perusahaan multi-nasional yang termasuk dalam kategori 500 perusahaan terbaik di dunia?

  Banyak kasus-kasus serupa yang digambarkan di atas dipakai untuk menilai PT. Ini tidak fair karena parameter yang digunakan tidak-jelas-keterkaitannya dengan kualitas pembelajaran, kualitas hasil belajar yang diperoleh mahasiswa.

  Kalau kita biarkan cara berpikir ini berkembang terus, saya kuatir kita (secara beramai-ramai) tengah terperosok dalam pusaran penilaian “pihak luar” yang “ngawur”. Oleh karena itu, demi ketertiban cara berpikir dan ‘izzah kita sebagai komunitas terpelajar di PT, saya kira kita harus mulai sangat selektif dalam mengikuti “pemeringkatan-ini-dan-itu” dan ujung-ujungnya kita korbankan sumberdaya yang kita miliki atas nama label-label yang orang lain telah tetapkan untuk PT kita.

  Dengan sikap kehati-hatian yang kita bicarakan ini, kita dapat mulai dengan seksama dan serius “bebenah ke dalam”, dan mengurusi amal-ibadah keilmuan kita masing-masing. Bagi kita di PT, yang “wajib” dan yang “sunnah” sudah jelas dan tegas.

  Tegasnya, kita urusi saja masalah peningkatan layanan dan kualitas pembelajaran dulu, selain kita perbaiki masalah kualitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (Tridharma PT). Dalam hal ini, yang saya usulkan adalah fokus pada bidang pokok dulu—mungkin dengan orientasi tata-nilai yang diperbaiki—sehingga PT kita berfungsi optimal bagi masyarakat luas yang dilayaninya.

.

Isu tuduhan “PT Menara Gading” dan Kesadaran Baru untuk Melayani Masyarakat yang Lebih Luas

  Melalui suara narasumber kita yang baik, saya merasa bangga ketika mengetahui niat baik yang telah diangkat ke permukaan (oleh Kumunita edisi sekarang ini) bahwa hubungan PT di Indonesia dengan lingkungan masyarakat yang membesarkannya kini berkembang membaik. Melalui berbagai jalur kerja-sama dan wahana “silih asih dan silih asuh” masyarakat pengelola PT dan masyarakat-umum menjalin berbagai kerjasama simbiose-mutualistis — “saling-menitipkan” dan “saling membantu” dalam semangat membangun kesejahteraan bersama.

  Contoh konkret yang dapat disoroti adalah kerja-sama APTISI dengan PEMDA-PEMDA dan APTISI turut serta memikirkan secara aktif dan empatis mendata berbagai persoalan sosial-kemasyarakatan yang terjadi di lingkungan sekitar dan bagaimana upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.

  Inisiatif merangkul masyarakat yang dibuat PT ini patut diacungi jempol karena PT kita—ternyata—masih memiliki jati-diri melayani dan merangkul masyarakat yang melingkupinya. Contoh konkretnya—antara lain—adalah upaya merangkul PEMDA untuk “membaca” kemungkinan dengan mengidentifikasi “daerah rawan.”

  Inisiatif semacam ini merupakan perangkulan dan pengabdian yang dilatari motif luar-biasa. Ini—sekali lagi—merupakan inisiatif jempolan, dan bukan business as usual.

.

Isu Pergeseran Tata-nilai Masyarakat: dari Orientasi Gelar ke Orientasi Keterampilan Kerja

  Menyikapi kenyataan arah kependidikan yang membagi dua antara pendidikan akademik dan pendidikan vokasional, narasumber Komunita yang merupakan orang nomor satu di APTISI itu “membaca” pergeseran nilai telah terjadi di masyarakat terdidik di Indonesia. Yakni, pergeseran nyata dari orientasi gelar ke orientasi kerja.

  Ada data yang menggembirakan dari yang dipaparkan narasumber ini: bahwa inisiatif yang dikatakannya sebagai arah yang menggembirakan itu sebenarnya memang telah nyata-nyata terjadi: gagasan link-and-match (hubungkan dan jodohkan) yang pernah digagas beberapa dasawarsa yang lalu kini telah memperoleh momentumnya yang tepat dan produktif. Contohnya di Jawa Barat, yang dalam kata-kata narasumber kita diikatnya “kampus di dalam industri” sehingga keterterapan hasil belajar dapat dicek dan diperbaiki on the spot melalui cara kerja “hubungkan dan jodohkan” seperti yang dikatakan tadi.

  Dalam keadaan seperti ini, yang diperlukan adalah belajar—kita belajar melalui proses yang benar; kita perlu belajar memberi ruang dan waktu bagi proses–proses belajar yang wajar di antara para pembelajar dewasa yang memiliki latarbelakang wawasan dan pengalaman yang mungkin berbeda. Dalam keadaan seperti ini, kita perlu menekankan “ke-kita-an” kita dan kita tekan ke titik minimal “ke-kami-an” dan “ke–kamu–an” yang dapat muncul kapan saja di antara komunitas yang majemuk ini.

  Tetaplah sabar dalam memfasilitasi mewujudnya gagasan cemerlang di belakang link-and-match ini sampai benar-benar kita dapat mengecap hasilnya. Kita yakin—dengan niat mengutamakan kemanfaatan bagi orang banyak—gagasan ini akan jadi pola yang menguntungkan bagi pendidikan dan pengembangan sumberdaya insani di negeri kita.

.

Perubahan Cara Kerja Pendidikan Tinggi dalam Merespon Gambaran Tuntutan Generasi Z dan Generasi Alfa

  Dengan berbagai caranya yang “simpang-siur” banyak spekulasi berseliweran yang kita baca dan wacanakan bahwa anak-anak kita, generasi yang kita labeli dengan “generasi Z” dan “generasi Alfa” merupakan mahluk asing yang memerlukan suatu “cara hidup” dan “kehidupan” yang asing pula. Sebagai dosen dan aktivis di PT kita seyogianya jangan terbius oleh yang hal-hal yang tampak beda. Sebaliknya, kita sebaiknya memandang generasi mendatang (baik Z maupun Alfa) sebagai mahluk sosial seperti kita juga. Cuma saja, konteks yang dihadapinya—dalam beberapa hal—berbeda.

  Meskipun demikian, keperluan belajar generasi Z dan genarasi Alfa akan sama saja seperti generasi sebelumnya: mereka perlu mengetahui konsep-konsep yang melekat pada kenyataan hidup yang dilakoninya, dan mereka memerlukan prosedur-prosedur yang akan memungkinkannya berkembang lebih terampil dan mereka harus memahami kasus-kasus yang terjadi dalam kehidupan yang mungkin dirasakan dan/atau disaksikannya.

  Dengan cara memosisikan situasi seperti ini, kita aktivis di PT tidak perlu panik tetapi, memang, kita perlu memutakhirkan pengetahuan kita khususnya yang bertalian dengan basis cara-pikir kita: membaca, menulis, dan berpikir kritis melalui berbagai modalitas pikiran kita.

Bebenah Diri Menyonsong Zaman yang Lebih Baik: Tuntutan terhadap Dosen, Guru, dan Mahasiswa Era Digital

  Dari cara esei ini digelar dan gagasan utamanya disajikan, mungkin telah jelas bagi khalayak pembaca Komunita bahwa semangat yang menonjol melatari tulisan ini adalah rasa-tanggungjawab kita sebagai kaum terdidik terhadap generasi muda yang lahir dan berkembang jauh berada di belakang. Dalam rangka melanjutkan dan mendukung tumbuh-kembang generasi penerus yang strategis dan optimal, kita diminta mengaji diri, mempelajari apa kekurangan dan kelebihan kita sebagai mahluk budaya, dan kita diminta membayangkan peran baru yang mungkin dituntut keadaan masa datang agar kita sebagai kelompok memiliki peran bermakna di masa depan.

  Mengikuti pemikiran nara-sumber Komunita edisi kali ini, saya menawarkan elaborasi model pembelajaran berbasis “pelatihan” (coaching) seperti dipaparkan dalam bagian akhir artikel pemikiran ini.

  Beringsut dari model dosen/model guru tahun 1980-an yang diposisikan sebagai sumber ilmu pengetahuan yang memberikan arahan dan buku-buku rujukan yang ditulisnya sendiri, para dosen dan guru dasawarsa 2000-an ke atas diharapkan beralih fungsi. Untuk dapat melayani dan mendampingi generasi Z yang lahir dasawarsa 2010 dan sesudahnya, perangkat peran baru yang diindikasikan adalah posisi dosen/guru sebagai pelatih (coach).

  Sebagai pelatih, tentu saja dosen harus menunjukkan kinerja yang mumpuni sebagai coach. Kemampuan ini dicirikan dengan tiga jenis basis pengetahuan: pengetahuan teoretis yang relevan dengan segala komponen konseptual yang mendukungnya; pengetahuan prosedural yang merupakan buah dari ketelatenan latihan yang mendarah-daging; dan pengetahuan kasus-kasus yang relevan (yang diperoleh dosen dan guru melalui membaca riset dalam bidangnya).

  Mungkin dalam waktu dekat ini, para dosen dan guru perlu segera diberi dukungan dalam bentuk “pengayaan dan latihan”, yang akan memungkinkannya dapat memerankan peran barunya dengan baik sebagai coach.

  Berikut ini disampaikan dalam garis besar apa-apa saja yang perlu dilatihkan kepada para pelatih (coach):

• membaca dan menulis yang baik;
• membaca kritis;
• menulis akurat dan kritis;
• membaca dan menulis untuk menciptakan pengetahuan baru (syntopical reading & synthesis writing)

  Selain kemampuan membaca dan menulis yang harus dikembangkan sampai pada tingkat mahir-dan-fungsional, para guru yang ada dalam sistem perlu dimutahirkan pengetahuan dan keterampilannya sehingga memungkinkan baginya untuk mengajarkan secara eksplisit materi-materi pilihan yang memungkinkan munculnya para pembelajar era-digital yang terampil berpikir dan terampil mengoperasikan perangkat pembelajaran yang ada dalam jangkauannya.

  Secara lebih terinci, dalam pembelajaran eksplisit pola yang telah teruji sangat berhasil dalam riset adalah pola-tiga-bagian berikut: “demonstration, modeling, explanation”; “guided practice with feedback”; dan “independent practice.”

  Dengan cara yang lain, kita dapat menjalankan pengajaran konsep dan keterampilan ini dalam tiga-tahapan:

• “I DO IT—Guru memberikan model dan menjelaskan kepada siswa pembelajar. Watch me do it first.”
• “WE DO IT—Guru dan murid sama-sama melakukan apa yang tadi didemonstrasikan oleh guru, dengan feedback dari guru. “Let’s do it together, and I will help you.”
• “YOU DO IT—Murid melakukan latihan sendirian. “Now you do it on your own.” Tahap ini merupakan latihan mandiri yang ketuntasannya harus dipastikan sampai mahir. Sampai pada level otomatis.

  Model pengembangan konsep dan kemampuan prosedural tiga tahap ini, bila dilakukan secara akurat dan dengan keseriusan, akan dapat mengentaskan mahasiswa dari ketakmanpuannya berpikir dan bertindak strategis. Hal inilah, persisnya, yang selama ini menguatirkan kita sebagai warga PT.

  Insya Allah, kita dapat melakukannya dengan baik asalkan kita disiplin dan fokus pada garapan utama kita sebagai dosen dan guru. Insya Allah demikian adanya.

.

EXCELLENT ACCREDITATION HIGHER EDUCATION HAVE REACHED THE SIZE ENRICH THE LIFE OF A NATION???

0

EXCELLENT ACCREDITATION HIGHER EDUCATION

HAVE REACHED THE SIZE

ENRICH THE LIFE OF A NATION???

.

    Development can only be realized if the character and knowledge of the community are developed through education, so that the goals of the Indonesian state can be approached. The opening of the fourth paragraph of the 1945 Constitution affirms the goals of the Indonesian state in: “…protecting the entire Indonesian nation and the entire homeland of Indonesia, advancing public welfare, educating the nation’s life, implementing world order based on independence, eternal peace and social justice.”

The purpose of educating the nation’s life is strengthened in the article which explains that every Indonesian citizen has the right to education and the state has an obligation to fulfill the education of every citizen in order to realize the national goal, namely the intellectual life of the nation.

Fulfilling these obligations requires an education system that is comprehensive, synchronized, and regulates the education system in which the state is obliged to provide a legal system that regulates and integrates existing laws. An intellectual education system certainly includes all components of education, both the school family and the community which together develop the intelligence of students, the intelligence of the nation, and the intellectual life of the nation.

The national education system must of course be able to answer the need to improve the quality of Indonesian education which has become an urgent need. The facts on the ground today prove that the quality of education is a common problem. A number of international survey institutions still place the quality of Indonesian education at the bottom. Reports from The Learning Curve, Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), TIMS and PIRLS, UN World Education Forum, World Literacy show that our quality is low. Likewise, the assessment by UNESCO through the Program for International Student Assessment (PISA) and UNDP through The Global Knowledge Index.

  

Transformation and Achievements

  In the midst of these facts the transformation continues. The Minister of Education, Culture, Research, and Technology – Nadiem Makarim has launched the Learning Campus Independent Program (MBKM) program and the 2035 Indonesian Education Roadmap. The initial test of this transformation is faced with the Covid-19 pandemic, which has now been running for 2 years. The Independent Learning Campus Independent Program (MBKM) seems to answer the thesis that we are in an era where degrees do not guarantee competence, graduates do not guarantee readiness to work and work, accreditation does not guarantee quality, and going to class does not guarantee learning. This concept certainly requires an ecosystem, atmosphere, infrastructure, as well as cultural values ​​and indicators of community success that support it.

  In the midst of these facts the transformation continues. The Minister of Education, Culture, Research, and Technology – Nadiem Makarim has launched the Merdeka Learning Campus Merdeka (MBKM) program and the 2035 Indonesian Education Roadmap. The initial test of this transformation is faced with the Covid-19 pandemic, which has now been running for 2 years. The Independent Learning Campus Independent Program (MBKM) seems to answer the thesis that we are in an era where degrees do not guarantee competence, graduates do not guarantee readiness to work and work, accreditation does not guarantee quality, and going to class does not guarantee learning. This concept certainly requires an ecosystem, atmosphere, infrastructure, as well as cultural values ​​and indicators of community success that support it.

Meanwhile, in terms of legislation, the National Education System Bill is currently being drafted which of course requires transparency in its discussion with the community. This bill is based on three urgencies: first, the mandate of the 1945 Constitution to design the implementation of a national education system. Currently, there are at least three laws governing the education system that create inconsistencies in the derived regulations. Second, the existing National Education System Law sometimes regulates specific and technical matters. The National Education System Law should regulate fundamental matters and principles, while the technical regulations are at the PP or Permen level. Third, there are many decisions of the Constitutional Court that require changing the material of the existing National Education System Law. This was stated by the Head of the Curriculum Standards and Educational Assessment Agency – Kemendikbudristek, Anindito Aditomo.

Meanwhile, the achievements of the higher education system as explained in the 2020 Higher Education Statistics Data refer to three target programs, namely: 1) increasing access, quality of learning and relevance of higher education; 2) improving the quality of lecturers and education staff; 3) the realization of quality governance of the directorate general of higher education.

The statistical data shows that universities in Indonesia are still fat, namely 4,593 universities consisting of: PTS 3,044 (66.27 %), PTA 1,240 (27 %), PTK 187 (4.07 %), and PTN 122 (2.66%). Successively the largest number of PTs in Java is 2,220 PT, Sumatra 1,695 PT, Sulawesi 509 PT, Kalimantan 278 PT, Nusa Tenggara & Bali 243 PT, Papua 115 PT, and Maluku 68 PT. Indeed, there was a decrease of 0.01% from last year due to the process of updating data and improving the quality of higher education, among others through the merger program of PT. The question is whether the distribution of the number of 4,593 PTs is balanced with a population of 270,200,000 people, and the population density is different in each province and island as described above.

.

  Of these, 2,713 (59%) accredited universities were accredited, the remaining 1,880 (41%) had not yet been accredited. Of those accredited, there are accreditations: A totaling 95 PT, B totaling 809 PT, C totaling 1,291 PT; Excellent 4 PT, Very Good 50 PT, and Good 464 PT. The description describes the largest number is the lowest accreditation.

While the study programs are 29,413 study programs, consisting of the fields of science: Education 6,032 (21 %), Engineering 5,390 (18 %), Social 4,302 (15 %), Health 4,034 (14 %), Economics 3599 (12 %), Agriculture 1,988 (7 %), Religion 1,692 (6 %), Mathematics and Natural Sciences 1,219 (4 %), Humanities 731 (2 %), and Arts 426 (1 %). Of these 23,691 (81%) study programs are accredited, the remaining 5,722 (19%) have not been accredited. This means that in terms of quality through the accreditation system, both universities and study programs still need more efforts to achieve quality targets according to the accreditation standards.

In terms of students registered at PT, there are 8,483,213 people, consisting of levels: Diploma-1 totaling 2,778 (0.033 %), Diploma-2 totaling 6,934 (0.082 %), Diploma-3 totaling 668,922 (7,885 %), Diploma-4 totaling 206,685 (2,436 %), Bachelors are the largest 7,113,663 (83, 856 %), Masters are 318,789 (3,758%); Doctoral numbers are 44,099 (0.520 %), Specialists are 12,989 (0.153 %), and Professionals are 108,354 (1,277%). The highest number of undergraduate levels is even though the needs of the business world and industry are more at the vocational level. The number of students is guided by 312,890 lecturers. If you look at the rough average, the ratio of lecturers: students is 1:27. This means that the ratio of 1 lecturer is compared to 27 students.

Meanwhile, there are 1,535,074 graduates (18%) of the 8,483,213 registered students. The graduate data is relatively small compared to the number of new students who are registered as many as 2,163,681 people (26%) in terms of higher education participation or student supply. This means that the higher education participation rate related to the number of PT and the population of the population of education age is actually still possible to increase.

Meanwhile, students’ study options are still divided into conventional fields of science, namely: Education at 1,831,768 (21.59 %), Economics by 1,771,864 (20.89 %), Social by 1,648,219 (19.43 %), Engineering 1,374,528 (16.20%), Health by 658,633 (7.76 %), Agriculture by 414,890 (4.89 %), Mathematics and Natural Sciences by 274,693 (3.24 %), Religion by 256,044 (3.02 %), Humanities by 170,221 (2.01 %), and Arts by 82,373 (0.97%). New fields of science or new branches of science related to the dynamics of the development of information and communication technology or others have not been seen.

  From the description it appears that the goal of developing quality human resources, able to adapt to technological developments and ready to face challenges in the industrial world still requires more efforts. Indeed, the Ministry of Education and Culture continues to encourage these efforts by transforming higher education through the Independent Learning Campus (MBKM) policy which has 8 forms of learning activities. Policy implementation is tied to performance contracts and higher education budget distribution arrangements, which are regulated in the Decree of the Minister of Education and Culture Number 754/P/2020 concerning Higher Higher Education Main Performance Indicators (IKU PTN).

There are three main focuses of the PTN IKU including the quality of graduates, the quality of lecturers and lecturers, and the quality of the curriculum. The measurement of the three focuses is broken down into eight indicators.

.

College Excellence Accreditation

  Accreditation which includes the level of accreditation (Excellent, Excellent, Good.) is a new standard in empowering the quality of the school system, including for universities. Regarding the measurement of the quality of education through accreditation, it is encouraged to provide quality substance, not formality. Let’s look at the journey of measuring the quality of higher education in higher education.

Currently, there has been a change in the accreditation assessment system from the 7 standard study program/college accreditation instrument (IAPS/IAPT) accreditation instrument, to the Study Program Accreditation Instrument (IAPS) 4.0 and the Higher Education Accreditation Instrument (IAPT) 3.0. IAPS 4.0 has been in effect since April 1, 2019 while IAPT 3.0 has been in effect since October 1, 2015.

At first glance, it seems as if the change from the old rating system to the new one only lies in the way the ranking is stated. Commonly understood as C=Good, B=Excellent, and A=Excellent. In fact, the substance of the change in the assessment system is not that simple. For PT (college) or PS (study program) that has been accredited A, you just need to change it to accredited Excellent, change B to Very Good, and C just change to Good. It’s really not, and it’s not that easy or that simple either.

  The conversion process can be carried out in only two ways. First, using the Conversion Supplement Instrument (ISK) as stated in the BAN PT Regulation Number 2/2020. This UTI was proposed by the Executive Board (DE) and determined by the Accreditation Council (MA) which was specifically used for rating conversion from the A, B, and C rating system to the Excellent, Excellent, and Good rating system. Second, apply for reaccreditation using APS 4.0 or APT 3.0.

The extension of the accreditation rating for PS or PT is only valid once, and in the next extension it will be added to the UTI, so that the accreditation rating for APS (Study Program Accreditation) or APT (University Accreditation) will use the accreditation rating of Excellent, Very Good, or Good .

This new accreditation assessment system is indeed claimed by BAN-PT to be simpler and more specific with assessment instruments that are more responsive and in accordance with the times (T. Basaruddin, 2018). However, it remains a burden for a number of universities. How come. Not necessarily those who have been accredited A can easily achieve Superior, and so on. There are additional criteria that must be met in order for a PT or PS to achieve accreditation with the latest ranking above. The Minister of Education, Culture and Research and Technology (Mendikbudristek) said that higher education accreditation set by the National Accreditation Board for Higher Education (BAN-PT) would be renewed automatically every five years.

  The different classifications of accreditation A, B, and C use 7 standard accreditation instruments. Meanwhile, for the classification of Excellent, Excellent, and Good accreditation, IAPS 4.0 and IAPT 3.0 are used. So there are at least 2 main differentiators between IAPT 7 Standard and IAPT 3.0. First, lies in the emphasis of the assessment. In IAPT 7 the standard emphasizes the input and process aspects, while in IAPT 3.0 it gives great weight to the output and outcome aspects. Second, the fulfillment and exceeding the national standards of higher education (SN-Dikti). So the most important thing in IAPT 3.0 (New) is the measurement of compliance and exceeding the SN-Dikti, and this cannot be measured with the standard IAPT 7 because the instrument was only developed in 2011. While the SN-Dikti was only established in 2014. These two differences are what causing inequality in accreditation ratings between ratings of A with Excellent, B with Very Good, and C with Good.

In simple terms, as the purpose of BAN-PT accreditation is to determine the feasibility of a PT or PS based on the SN-Dikti, the government wants universities to be able to achieve or exceed these quality standards in both academic and non-academic fields (Muhammad Yasar, 31 May 2021).

.

Enrich the life of a nation

  M, Jumarin in writing in the Scientific Journal of Education, AKADEMIKA: Vol. 16, No. 1, April 2017 illustrates that the concept of intelligent, intelligent life has diverse and evolving meanings. Initially, intelligence was more defined as a cognitive ability used to explain the nature of the mind which includes a number of abilities, such as: the ability to reason, plan, solve problems, think abstractly, understand ideas, use language, and learn. This intelligence is closely related to the cognitive abilities possessed by individuals which are commonly called intelligence (IQ).

Further development, intelligence has a very broad meaning, namely the ability in various aspects of life that is not limited to mere cognitive abilities. Intelligence is a general term to describe a trait that includes a number of individual abilities in solving a problem at hand. The word smart means having the ability that can be used to solve or face real problems, so smart means creative, innovative and solutive. The intellectual life of the nation is a cultural conception, not just a biological-genetic conception. This means not only to produce an intelligent brain, but also to achieve civilized progress, self-esteem, welfare and so on.

Early psychologists better understood the concept of intelligence as a basic ability that is general (general capacity factor), then developed the concept of a group of abilities (common factor), the ability to develop special abilities (specific factor) (Sumadi, 1993). Contemporary psychologists generally have a multi-factor concept, namely humans have general abilities, group abilities and special abilities. Thus the direction and quality of intelligence of each individual will be different. There is one person who is intelligent in the aspect of language, another is smarter in the aspect of calculation (numerical), another is more prominent in spatial intelligence (spatial), and so on.

Intelligence is influenced by innate and environmental factors. Everyone has the basic potential of intelligence that is brought from birth (innate factors) or can be called talent. Potential can be developed through the provision of stimuli or stimuli from the outside, so that these innate abilities develop. The stimulation can be in the form of nutrition, physical, psychological, pedagogical treatment, social, cultural and so on. One can also optimize these basic abilities into a functional ability through various efforts, such as training, creating certain conditions and so on.

In psychology, various intelligences are known, the popular initial concept is Intelligence Quotient (IQ), then it develops with various types of intelligence. Zohar and Marshal (2000), for example, put forward the concept of spiritual intelligence (Spiritual Quotient/SQ), Goleman (1995) put forward the concept of emotional intelligence (Emotional Quotient/EQ), Ary Ginanjar (2001) put forward the concept of Emotional-Spiritual Quotient (Emotional-Spiritual Quotient). /ESQ). Covey (1990) suggests physical intelligence, intellectual intelligence, emotional intelligence, spiritual intelligence. Howard Gardner calls multiple intelligences, which initially had eight factors, then developed into 9, namely: language intelligence, visual-spatial intelligence, logical-mathematical intelligence, musical intelligence, kinesthetic intelligence, intra-personal intelligence, interpersonal intelligence, existential intelligence and naturalist intelligence. Shumanjaya (2014) suggests behavioral intelligence. Several other intelligence concepts were also put forward, such as problem-solving intelligence (advisory quotient), financial intelligence, artificial intelligence, cultural intelligence, and even intelligence in other areas will develop in the future.

It is not easy to say or judge that someone is intelligent or not, because the label of intelligence is highly dependent on culture. People in one place/culture are said to be intelligent, but are not necessarily called intelligent in other socio-cultural environments, or people who are intelligent in one aspect are not necessarily intelligent in another. A person’s level of intelligence can be known through measurement, using measuring tools that have been developed. Nowadays, various intelligence measuring tools have been developed, according to the intelligence aspect and measurement objectives. Intelligence measuring tools or intelligence tests that have been made scientifically have various limitations, including they will never be free from cultural influences (free culture test). Psychological measurements, especially intelligence, are very important for educational purposes, but must be used wisely.

Associated with an intelligent life is a life that has the ability to deal with life’s problems quickly, precisely and meaningfully. Smart life means involving all aspects of life, not only cognitive aspects, but also other aspects. Educating life is a cultural conception, not just a biological-genetic conception, meaning that it does not only produce an intelligent brain, but also to achieve civilized progress, self-esteem, welfare and so on. The life of a new nation can be said to be intelligent if each of its citizens can rise from the lowest birthplace to the highest level of achievement thanks to education. After all, a successful nation in the future is one that not only opens the door for some of the talents of some of the nation’s children, but develops all the talents of all of the nation’s children.

.

Intelligent Education

Education is a conscious and planned effort to create a learning atmosphere and learning process, so that students actively develop their potential to have religious strength, identify themselves, personality, intelligence, noble character and skills needed by themselves, society, nation and state (Constitution No. 20 of 2003). Regarding the function and purpose of education (Law No. 20 of 2003, article 3) conceptually and normatively, our educational goals are ideal, and that is the figure or picture of an intelligent Indonesian man. Realizing these goals requires an education system. The government has sought an intellectual education system through various laws and regulations, but in its implementation it is felt that it is not optimal. Finally, the function of the purpose of education to educate the nation’s life has not been realized.
  It is true that the intellectual life of the nation must be done through education, because intelligence is not genetically fixed, but can and must be taught or developed. An intellectual education is not only sufficient to educate students, but also educates the entire educational ecosystem which includes parents, students, teachers, and the community (families, schools, and communities). If the three ecosystems are intelligent, then students will be smarter, or education will be able to educate. The education ecosystem is a very important part in realizing an intellectual education, because students are only about 6 or 7 hours in school, and the rest are in the family and community. The three ecosystems are interrelated, all of which make important contributions in realizing intellectual education.

The government has formulated national education standards (the latest being Government Regulation No. 57 of 2021 and its derivatives) as an effort to improve the nation’s intelligence, which consists of 8 (eight) standard components, namely: graduate competency standards, content standards, process standards, education standards , education personnel standards, facilities and infrastructure standards, management standards, and financing standards. These eight standards are indeed related to the school education ecosystem and are very important to improve the quality of intellectual education, but other ecosystems must be optimized. Therefore, it is necessary to build an education system that involves the entire educational ecosystem, namely students, family and community ecosystems.

This component is very important, where the national education system has focused on school education. The eight educational standards must be met at a minimum, but in order to realize an education that educates the practice of education, it must exceed the eight standards, including:

a. Aspects of educators: educators should have competence, both personal, social, pedagogical and professional. Also educators who are dedicated, committed, have a vision, are able to inspire and so on.

b. Aspects of content or educational material: must be adapted to the development of students and contextual to life, the material must be structured, simple, easy to understand, providing a curriculum of choice for students.

c. The process aspect: becomes very important in intellectual education, because through the process students get stimulation for the development of their intelligence. Therefore, in the educational process, a learner-centered approach is needed, students are active, fun to face challenges, far from threats. The individual approach should be emphasized.

d. Aspects of facilities and infrastructure: the environment in schools (social, natural) must be conducive to providing a sense of security, and must be adequate.

e. Management aspect: is the minimum criteria regarding the planning, implementation, and supervision of educational activities carried out by the education unit/school so that the education administration is efficient and effective.

Education has a central role in efforts to educate the nation’s life. The main function of education in Indonesia is to educate the nation’s life, which is not only educating intellectual aspects, but also educating other aspects, not only educating Indonesian people, but also educating the nation’s life. Educating education is education that is able to develop all the potential of the nation’s children for the benefit of life and life. An intelligent education system is an educational component, both family, school and community that is functional and jointly able to develop the intelligence of students, the intelligence of the nation, and the intellectual life of the nation.

(From various sources, Rewriter: lili irahali – 15 Maret 2022): Kemendikbudristek – Data Statistik Pendididkan Tinggi 2020; M. Hadi Subhan – Universitas Airlangga, Kompas March 4, 2022; M, Jumarin – Jurnal Ilmiah Kependidikan, AKADEMIKA: Vol. 16, No. 1, April 2017; Dr Muhammad Yasar STP M Sc., – Memahami Grade Akreditasi BAN PT Terbaru, 31 Mei 2021 – https://aceh.tribunnews.com.

.

PT KAI Gandeng Prodi Teknik Sipil UTama Kembangkan Alat Penduga Dasar Sungai

PT KAI Gandeng Prodi Teknik Sipil UTama Kembangkan Alat Penduga Dasar Sungai

https://www.widyatama.ac.id/wp-content/uploads/2022/02/IMG_7332.jpg  Perkembangan perkeretaapian di tanah air semakin meningkat, baik dari segi sarana, prasarana, maupun teknologi, termasuk segi keselamatan. Artinya tingkat kecelakaan semakin menurun bahkan diharapkan mencapai zero accident.

  Upaya PT KAI menciptakan transportasi yang berkeselamatan di antaranya dengan melakukan pemeriksaan rutin sarana dan prasarana, seperti pemeriksaan jembatan oleh Unit Track & Bridge Engineering Maintenance.

  Saat ini pengukuran dasar sungai pada bentang jembatan KA dilakukan secara manual. Metode konvensional ini memerlukan banyak personil, peralatan dan biaya, jelas Dicky Arisikam, S.T., M.T, QRMP, IPM. – Manager Track & Bridge Engineering Maintenance PT KAI (persero) selaku pengarah Tim Peneliti PEDAS yang diantaranya dari Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Widyatama (UTama).

  Hasil pengukuran konvensional di atas dirasa masih kurang akurat. Selain itu dari segi keselamatan juga masih berpotensi membahayakan petugas pengukur. Karena itu, dibutuhkan suatu metode dan alat bantu pengukuran dasar sungai yang mudah dalam pemakaian, hasil akurat, dan dapat mengurangi jumlah petugas, biaya serta resiko kecelakaan kerja.

  Unit Track & Bridge Engineering Maintenance PT KAI telah menggandeng dan menjalin penelitian bersama dengan Program Studi (Prodi) Teknik Sipil, Fakultas Teknik UTama. Alasan terpilih Prodi Teknik Sipil UTama mengacu terhadap keberhasilan beberapa program kerja sama yang telah terealisasi dan dianggap sukses oleh PT KAI.

  Berkaitan dengan itu, Yanyan Agustian, S.T., M.Eng., Ph.D., Ketua Prodi Teknik Sipil UTama menjelaskan bahwa kerja sama penelitian ini merupakan wujud nyata implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di lingkungan kampus UTama, khususnya Prodi Teknik Sipil. Program Studi Teknik Sipil UTama saat ini dipercaya menciptakan dan mengembangkan Alat Penduga Dasar Sungai (Pedas) Level 1. Semoga alat ini dapat membantu dan memudahkan kerja dari petugas KAI di lapangan, jelas Yanyan, Senin (31/1/2022) lalu.

  Sementara, Raden Herdian Bayu Ash Siddiq, S.T., M.T, Ketua Tim Peneliti menambahkan bahwa penelitian dan pembuatan Alat PEDAS Level 1 ini memerlukan waktu sekitar 3 bulan, mulai bulan Oktober 2021 dan selesai Desember 2021.

  Output dari alat PEDAS level 1 ini adalah elevasi dasar sungai dalam Mdpl dan kedalamannya dalam satuan sentimeter (cm) terukur dari level muka air. Alat PEDAS Level 1 dapat mengukur kedalaman sungai dari atas jembatan dengan tinggi kurang lebih 20 meter, dan bisa dilakukan hanya oleh 1 orang petugas, jelas Raden Herdian Bayu Ash Siddiq.

  Sementara itu Dicky Arisikam, sebagai pengarah Tim Peneliti PEDAS mengungkapkan bahwa beberapa uji coba sudah dilakukan bersama dengan PT KAI dengan hasil yang memuaskan. Ia berharap pengembangan PEDAS Level berikutnya diharapkan akan dapat menyempurnakan fungsi alat tersebut dan mempermudah petugas lapangan.

  Dari hasil uji coba, Alat PEDAS Level 1 sudah dapat menghasilkan kedalaman yang cukup akurat dengan rata-rata kesalahan paling besar adalah 3 cm. Untuk pengembangan berikutnya di level 2 diharapkan Alat PEDAS ini dapat lebih praktis, wireless, serta dapat dikembangkan menjadi aplikasi, sehingga semakin memudahkan pemakaian petugas di lapangan.

  Tim peneliti alat PEDAS ini terdiri dari: Raden Herdian Bayu Ash Siddiq, S.T., M.T (Dosen Prodi Teknik Sipil) sebagai Ketua Tim Peneliti, Resa Pramudita, S.Pd., M.T. (Dosen Prodi Teknik Elektro) dan Muhammad Adli Rizqulloh, S.Pd., M.T (Tenaga Ahli Elektro) sebagai anggota (UTama, 03 Feb 2022).

.

Latih UMKM Kancah Guna Bangun Tingkatkan Laporan Keuangan Industri Karet Rumahan

  Kontribusi Universitas Widyatama (UTama) membantu para pelaku usaha, terutama di tengah pandemi dan era 4.0 terus dijalankan. Kali ini PkM dilaksanakan di Kampung BTN, Jalan Cihonje-Batukarut No.58, Wargaluyu, Kec. Arjasari, Kabupaten Bandung memberikan pengetahuan dan pelatihan akuntasi dasar laporan keuangan atau financial statement.

  PkM dimaksudkan untuk mengoptimalkan pelaku usaha menengah produk karet yang terkendala pengetahuan akuntansi dasar, jelas Ignatius Oki Dewa Brata mewakili rekan-rekannya, Senin (31/1/2022). Tujuan lainnya adalah meningkatkan marginal profit usaha mereka, dengan memperluas (ekspansi) pemasaran yang didapat setelah memahami pengetahuan dan penerapan akuntansi dasar.

  Kegiatan PkM yang didukung oleh LP2M UTama ini melibatkan para dosen Program Studi (Prodi) Akuntansi S1 dan D3 UTama yakni: R. Roosaleh Laksono, T.Y, S.T., S.Si., M.E.; Bunga Indah Bayunitri, S.E., M.M., Ak., CA.; Ignatius Oki Dewa Brata, S.E., M.Si., Ak., CA.; Remon Gunanta, S.Pd., M.Si., Ak.; Sendi Gusnandar Arnan, S.E., M.M., Ak. CA.; serta Yogo Heru Prayitno, S.E., M.Si., Ak., CA.

  Menurut Oki, peranan pengetahuan akuntansi dasar di era 4.0, tidak hanya sekedar meningkatkan kemampuan menghitung, mencatat dan membuat laporan keuangan saja. Lebih jauh

adalah bagaimana kemampuan dasar akuntansi dapat menetapkan harga menarik, mendistribusikan produk dengan mudah, serta mempertahankan pelanggan yang sudah ada dengan tetap memegang prinsip kepuasan pelanggan. Oleh sebab itu, setelah mengikuti pelatihan diharapkan para pelaku UMKM tersebut dapat menjaring konsumen seluas-luasnya. Sekaligus bisa meningkatkan profit, serta menekan biaya operasional, sehingga dapat memberikan harga yang kompetitif. Jadi, arti penting pengetahuan akuntansi dasar bagi usaha mereka merupakan bagian dari pengelolaan organisasi bisnis.

Juga diharapkan pelaku UMKM yang menjadi peserta dapat terinspirasi dan termotivasi mempelajari dan menggunakan Pengetahuan Akuntansi dalam pengelolaan Akuntansi Dasar (UTama, 31 Jan 2022).

.

Dosen TI – UTama, Dorong Kesadaran Guru Terhadap Teknologi Informasi

Dosen TI Universitas Widyatama, Bangun Kesadaran Guru SDN 105 Kresna Kota Bandung Terhadap IT  Dosen dari Program Studi (Prodi) Teknik Informatika UTama menggelar Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) bagi 96 orang Guru SDN 015 Kresna Kota Bandung.  Kegiatan diselenggarakan melalui web seminar (Webinar) membangun kesadaran pembelajaran dan teknologi digital. Literasi digital untuk pendidikan dan masyarakat ini, juga memberikan kiat mengatasi tantangan dan ancaman di era digital. PkM dilaksanakan hari Selasa, tanggal 21 Desember 2021 lalu.

  Dalam kesempatan itu para dosen: Dr. Feri Sulianta, S.T., M.T., Esa Fauzi, S.T. , M.T,. Sy. Yuliani, S.Kom., M.T, dan Dr. Yenie Syukriyah, S.Si., M.Si. aktif dalam kegiatan webinar itu. Tema yang diusung yakni “IT Awareness-Bangun Kesadaran Teknologi di Abad Informasi Menyikapi Pandemi Covid-19”.

  Feri Sulianta – Ketua Kluster PkM menjelaskan, bahwa kegiatan tersebut mengangkat sub topik yang penting di era digital saat ini. Terlebih bagi dunia edukasi di era digital dalam kondisi pandemi Covid-19. Feri menyampaikan kondisi tersebut perlu disikapi dengan seksama dengan membekali para pendidik termasuk peserta didik dengan sumberdaya edukasi yang tepat sasaran, yakni dukungan perangkat dan infrastruktur Teknologi Informasi. Sementara itu, materi Learning Strategiest Sekolah.mu. disampaikan Fajri Alfalah, S.Pd., M.Pd., serta Esa Fauzi, S.T. , M.T., dosen Prodi Informatika UTama.

   Acara selain dihadiri oleh guru SDN 015 Kresna dan dosen, juga diikuti oleh mahasiswa, praktisi dan umum. Mereka menyambut dan antusias dengan diselenggarakannya webinar tersebut.

Webinar juga menjadi ajang berbagi ilmu dan keterampilan, berkaitan dengan memberdayakan teknologi informasi dalam ranah edukasi dan aktivitas lainnya, lanjut Feri,

  Terlaksananya kegiatan PkM tersebut, berkat kerjasama yang baik antara Prodi Teknik Informatika UTama dengan Kepala SDN 105 Kresna, Yayat Hidayat, S.Pd., M.M.Pd., serta Dr. Nuni Ruqiyyatus Sholihah, M. Pd., perwakilan guru SDN 015 Kresna. Dalam kegiatan tersebut, Prodi Teknik Informatika melibatkan kerjasama antara dosen dengan para mahasiswa dengan dukungan LPPM UTama. (UTama, 24 Jan 2022)

.

PkM Dosen FEB UTama, Bantu Strategi Inovasi Produk dan Organisasi “Opak ODED”

  Tim dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis/FEB UTama pada hari Rabu, tanggal 12 Januari

Pengabdian Masyarakat Dosen FEB UTama, Bantu Strategi Inovasi Produk dan Organisasi “Opak ODED” 2022 lalu melakukan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Keni Kaniawati selaku Ketua Tim Cluster PkM mengungkapkan para dosen yang tergabung yakni Meriza Hendri, Fansuri dan Ifa Latifah memberikan pelatihan dan pendampingan kepada pelaku usaha Opak ODED yang memproduksi opak, makanan tradisional khas Jawa Barat.

  Opak ODED beralamat di Desa Conggeang Wetan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Kini dikelola oleh Ganjar R. Adiwijaya S.M. selaku generasi kedua.

  Pelatihannya dihadiri oleh pemilik, manajemen dan 20 karyawan Opak ODED mengusung tema “Strategi Inovasi Produk dan Organisasi Opak ODED Dalam Masa Pandemi Covid-19”. Fokus kepada memecahkan akar permasalahan dalam pengelolaan sumber daya manusia (SDM). Karyawan Opak ODED semula berjumlah 80 orang, kini tersisa 50 orang. Hal tersebut mengganggu terhadap proses produksi, karena itu membutuhkan bimbingan dari akademisi.

  Untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi Opak ODED dosen FEB menyampaikan pengetahuan tentang inovasi pengelolaan SDM dan pemahaman karyawan terhadap usaha. Dalam kesempatan itu, Meriza Hendri memberikan pemahaman pentingnya pengelolaan karyawan Opak ODED. Konsep utama yang dijalankan perusahaan adalah aspek human capital, sehingga entrepreneur dituntut untuk bisa mengelola karyawan dengan baik. Dalam kaitan ini tim Opak ODED perlu memperhatikan pengelolaan karyawan, karena karyawan yang sudah lebih dari 10 orang. Penanggungjawab karyawan membutuhkan kompetensi tentang manajemen SDM, sehingga produktivitas karyawan bisa optimal dalam menjalankan tugas dan pencapaian target, jelas Meriza.

  Sementara itu Fansuri, menjelaskan bahwa dasar dari pengelolaan SDM yakni komitmen karyawan untuk menjalankan tugas. Diharapkan karyawan bisa meningkatkan rasa memiliki terhadap perusahaan serta berkomitmen menjalankan tugas secara optimal. Secara seksama dan secara bersama-sama menyatakan komitmen untuk bekerja secara professional di Opak ODED,” kata Fansuri.

  Sedangkan, Ifa Latifah memberikan pemahaman kepada pimpinan Opak ODED serta karyawannya untuk meningkatkan inovasi dalam bekerja. Kata kunci untuk membuat Opak ODED tetap tumbuh dan berkembang adalah dengan inovasi oleh manajemen dan karyawan,” kata Ifa. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan ide-ide kepada manajemen. Ifa pun mengajak karyawan “Opak ODED” untuk tidak ragu menyampaikan ide kepada pimpinan dan tugas manajemen untuk menganalisis.

  Apa yang dilakukan tim PkM sejalan dengan harapan Dudang Adihana, sebagai perintis Opak ODED – singkatan dari “opak Dudang enak dimakan”. Usaha ini saya dirikan dan kembangkan untuk bisa menyelesaikan masalah ketenagakerjaan. Diharapkan bisa membuka lapangan pekerjaan bagi keluarga dan tetangga sekitar tempat usaha, jelas Dudang Adihana.

  Ia tidak memungkiri tantangan ke depan Opak ODED adalah kondisi ekonomi dan Covid- 19 yang berdampak pada karyawan. Saya berharap dosen Widyatama bisa membantu kami dalam pengelolaan usaha, khususnya karyawan sehingga konsep Opak ODED bisa tumbuh dan berkembang, kata Dudang. (UTama, 24 Jan 2022)

.

Dosen UTama Dukung Pemberdayaan UMKM Kota Bandung Menghadapi Era Society 5.0

Menghadapi Era Society 5.0, Dosen UTama Mendukung Pemberdayaan UMKM di Kota Bandung    Sebanyak 20 Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kota Bandung mengikuti kegiatan Pelatihan Digital Marketing “Optimasi” Bagi Dunia Usaha yang diadakan oleh Program Studi (Prodi) Sistem Informasi, UTama. Acara dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 20 Desember 2021 lalu.

    Kegiatan merupakan salah satu bentuk Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dosen Sistem Informasi UTama.

  Iwan Rijayana, S.Kom., M,Kom., Ketua Kluster kegiatan menjelaskan bahwa Prodi Sistem Informasi UTama bekerjasama dengan Dinas Perdagangan dan Industri (DISDAGIN) Kota Bandung menggelar kegiatan itu. Sebagian besar UMKM sudah menggunakan media digital, seperti media sosial Instagram dan facebook, serta sudah tergabung dalam beberapa marketplace, kata Iwan.

  Pada kesempatan tersebut para peserta UMKM diberikan wawasan terkait pemanfaatan digital marketing. Khususnya “optimasi” teknologi pada digital marketing, salah satunya adalah penggunaan dan pemanfaatan SEO yang merupakan langkah optimasi marketing melalui digital.

  Di samping itu para peserta juga, diberikan wawasan terkait pemanfaatan digital marketing, khususnya “branding”. Mulai dari pengenalan digitasi, branding seperti logo, nama, dan sosial media. Termasuk pengenalan digital branding yang merupakan proses membangun brand UMKM secara online dengan menggunakan website, aplikasi dan media sosial.

  Kegiatan PkM melibatkan 10 orang mahasiswa dan 4 orang dosen Program Studi Sistem Informasi. Dosen terlibat sebagai fasilitator untuk pemecahan masalah yang dihadapi UMKM terutama dalam “branding” produk UMKM, jelas Iwan.

  Pelaksanaan PkM dihadiri Kasi Distribusi Barang Penting DISDAGIN Kota Bandung, Rohman Agus Jatnika, S.T.,M.M., Founder Adelie Studio, Sandi Pratama sebagai narasumber, dan Kepala Prodi Sistem Informasi , Sri Lestari, Ir.,M.T.

  Rohman Agus Jatnika mengucapkan terima kasih atas terlaksananya pelatihan digital marketing bagi UMKM komunitas DISDAGIN Kota Bandung. Menurutnya kegiatan tersebut sangat bermanfaat dan berharap dapat mendukung pemberdayaan UMKM di Kota Bandung terutama untuk menghadapi era society 5.0. (UTama, 24 Jan 2022)

.

UTama Bantu Pengembangan & Pengisian Konten Website Desa Karyawangi

Abdimas Universitas Widyatama Desa Karyawangi KBB - Pembuatan dan Pengisian Konten Website Desa Karyawangi Oleh UTama  Kegiatan Abdimas merupakan salah satu elemen Tri Dharma perguruan tinggi. Hal tersebut menjadi bukti keterlibatan perguruan tinggi khususnya para dosen, dalam pembangunan masyarakat. Perguruan tinggi diharapkan dapat berperan aktif, bahkan proaktif membantu pemerintah daerah dalam memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat.

  Berbeda dengan kegiatan Abdimas UTama sebelumnya, pengabdian masyarakat oleh dosen UTama dilakukan secara integratif. Seluruh fakultas dan program studi (Prodi) yang ada di UTama fokus pada pembangunan tujuh desa di Kecamatan Perongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Gagasan awal mengadakan kegiatan Abdimas UTama secara integratif disampaikan oleh Prof. Dr. Dadang Suganda, M.Hum., Warek 1 Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Pembelajaran UTama.

  Mengingat persoalan di masyarakat sangatlah komplek, dan tentu saja tidak bisa hanya diselesaikan oleh satu disiplin ilmu. Tetapi harus secara integratif lintas prodi dan lintas fakultas. Berkaitan dengan itu Dekan Fakultas Bahasa, Dr. H. Hendar, M.Pd., selaku Ketua Kluster Prodi Bahasa Inggris menjelaskan pada semester Ganjil Tahun Akademik 2021/2022, Abdimas integratif sangat perlu untuk segera diwujudkan.

  Kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan dosen saja, tetapi juga mahasiswa-mahasiswi UTama menjadi bagian dari Tri Dharma perguruan tinggi. Ini sebagai upaya implementasi salah satu kegiatan hak belajar mahasiswa di luar prodi sesuai dengan Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dalam bentuk Bina Desa selama 1 sampai 2 semester

   Khsusus pada semester ganjil ini, dosen dan mahasiswa dari kluster Bahasa Inggris juga FDKV membantu pembuatan sekaligus mengisi menu serta konten website Desa Karyawangi, Kecamatan Parongpong. Sesuai dengan kebutuhan informasi bagi masyarakat Desa Karyawangi, seperti yang disampaikan Kades Desa Karyawangi Dadang Sudaryat,” pungkas Hendar. (UTama, 20 Jan 2022)

.

Universitas Widyatama Raih Predikat Unggul Dan Buka Prodi S3 Manajemen

  Universitas Widyatama (UTama) Kota Bandung kembali menorehkan capaian prestasi yang membanggakan. UTama yang sebelumnya menyandang akreditasi dengan predikat perguruan tinggi dengan nilai baik sekali, pada tanggal 11 Januari 2022 meraih akreditasi predikat unggul dari Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi (BAN-PT) berdasarkan keputusan BAN-PT No 1134/SK/BAN-PT/SURV-BDG/PT/XII/ 2021.   Pada saat berdekatan di awal tahun 2022 UTama diijinkan membuka Program Studi (Prodi) S3 Manajemen.

  Tentu saja capaian itu telah melalui berbagai proses, dan upaya peningkatan seperti menjadi pionir kampus yang menerapkan pembelajaran hybrid, yang juga sebagai kampus percontohan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) oleh LLDIKTI Wilayah IV.

  Mahasiswa UTama bisa memilih perkuliahan tatap muka dengan dosen selama dua hari dalam seminggu. Selebihnya bisa memperdalam ilmu di luar kampus disesuaikan dengan kompetensi ataupun ketertarikan mereka terhadap bidangnya.

  Syarat kelulusan berupa tugas akhir mahasiswa UTama melalui beberapa pola, tidak hanya melalui skripsi saja. Namun bisa juga dengan membuat business plan serta menulis paper (hasil penelitian) yang dipublikasikan di jurnal internasional. UTama juga terus berupaya menjadi kampus berbasis riset dan penelitian.

  Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) dosen dan mahasiswa UTama juga dilaksanakan secara masif di berbagai daerah. Tujuannya berupaya membantu pemerintah dan masyarakat menyelesaikan masalah yang me nunjukkan PT hadir.

WhatsApp Image 2022 01 15 at 11.45.37 AM 1024x768 - Kado Istimewa Bagi Yayasan, Prof Obi Membawa Universitas Widyatama Raih Predikat Unggul Dan Buka Prodi S3  UTama juga menjadi percontohan Pusat Karir bagi perguruan tinggi se-Indonesia. UTama menyelenggarakan pelaksanaan program pengembangan layanan pusat karir dan pusat karir lanjutan (tracer study) pada Direktorat Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendikbud Ristek. Hal ini dimaksudkan mempercepat keterserapan mahasiswa UTama bekerja di dunia usaha dan dunia industri.

  Dari sisi perankingan Kemendikbud Ristek semula diperingkat 200-an, dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun menduduki ranking 42 perguruan tinggi negeri swasta se-Indonesia. Sementara itu dalam ranking SINTA – Science and Technology UTama menduduki peringkat 41 nasional. Di Kota Bandung, UTama menjadi kampus swasta ke-1 versi Webometrics.   

  Pihaknya berharap, kualitas pendidikan seiring berjalan terus meningkat. Termasuk komitmen dengan penyelenggaraan pendidikan tinggi yang memilik output lulusan yang kompeten dalam keilmuan dan memiliki ahlaq yang baik. UTama menjadi unggul tentunya harus memenuhi banyak parameter seperti: kinerja manajemen, tridharma para dosen, kinerja mahasiswa. Ini menunjukan bahwa kesinambungan proses akademik UTama semakin meningkat, ini menjadi bekal yang baik di tahun mendatang. Landasan filosofi DJITU, yakni: disiplin, jujur, inovatif, tekun dan ulet senantiasa menjadi rujukan jelas Djoko Roespinoedji.

  Senada dengan Djoko, Kepala LLDIKTI Wilayah IV, M Samsuri juga bangga atas capaian UTama meraih predikat unggul dari BAN-PT. Ia mengapresiasi Universitas Widyatama, agar bisa menjadi motivasi bagi perguruan tinggi lain meningkatkan grade akreditasinya.

  Pesannya bahwa predikat unggul, jangan hanya menjadi sebuah branding institusional saja, tapi berharap terwujud dalam proses pembelajaran dan kualitas lulusannya. Yakni mudah diterima di dunia kerja atau mampu membuka lowongan kerja. Juga lulusan bisa berkecimpung di masyarakat karena memiliki karakter yang baik.

  Lebih jauh arti reward atas upaya kerja keras UTama selama ini menjadi salah satu perguruan tinggi yang memiliki proses pembelajaran dengan baik. Di samping itu memiliki uji kepatuhan yang baik dalam pelaporan di pangkalan data perguruan tinggi, yakni Taat azas, jelas Samsuri.

  Lanjut terkait Prodi S3 Manajemen UTama memang sudah layak. Semua persyaratan terpenuhi, dosen dipersiapkan, menambah semangat UTama bukan hanya berupaya melahirkan lulusan S1 dan S2 berkualitas tetapi juga lulusan S3 yang berkualitas juga. Selamat kepada UTama ini jadikan motivasi melahirkan lulusan yang unggul dan karakter Pancasila, tegasnya. (UTama,14 Jan 2022)

.

Dosen UTama Latih UMKM Rumah Sayur Garut, Pentingnya Pembukuan & Laporan Keuangan

Pentingnya Pembukuan, Dosen UTama Latih UMKM Rumah Sayur Garut, Membuat Laporan Keuangan  Tim Dosen Fakultas Ekonomi & Bisnis/FEB, UTama melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Rumah Sayur Padaringan, Kabupaten Garut, pada tanggal 14 Desember 2021 lalu.

  Ketua Pelaksana PkM, Dr. Rina Tresnawati, S.E., M.M. menjelaskan bahwa pelatihan diberikan karena manajemen keuangan merupakan salah satu bidang paling penting dalam sebuah perusahaan baik skala besar maupun kecil, profit maupun non profit, termasuk UMKM.

  Menurutnya pimpinan perusahaan atau manajemen sangat berkepentingan terhadap laporan keuangan yang telah di analisis. Karena hasil tersebut dapat dijadikan alat dalam pengambilan keputusan lebih lanjut untuk perkembangan perusahaan.

  Pembukuan merupakan hal yang penting bagi perusahaan skala besar sesuai dengan Pasal 28 Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP). Demikian pula perusahaan skala kecil pun disarankan membuatnya meskipun bentuknya sederhana. Pembukuan yang dilanjutkan dengan pembuatan laporan keuangan, khususnya laporan laba/rugi dan neraca dapat memberi informasi bagi yang membaca, baik pemilik maupun pihak lain.

  Di samping itu, pembukuan bermanfaat untuk mencatat setiap transaksi usaha dan berguna sebagai sumber pembuatan laporan keuangan. Pelaku usaha dapat melakukan perencanaan berdasarkan laporan tersebut. Namun karena kurangnya pengetahuan mengenai pembuatan dan penyusunan pembukuan yang benar bagi kalangan UMKM terutama pada UMKM yang baru berdiri, hal tersebut menjadi masalah pada pencatatan laporan keuangan.

  Dalam kaitan itu, tim Dosen FEB UTama melaksanakan program PkM dengan tema Peningkatan “Kapasitas Ekonomi Keluarga Melalui Pemberdayaan Kemampuan Manajerial Dan Keuangan, UMKM Di Garut”.

  UMKM Rumah Sayur Padaringan baru berdiri pada bulan November 2021 dan masih mengalami kesulitan dalam proses pembuatan pembukuan keuangannya. UMKM Rumah Sayur Padaringan didirikan oleh Bu Eti Rohayati dan Bapak Sani Hotman. Kegiatan PkM dilakukan dalam bentuk pemberian materi oleh Rina bersama tim, termasuk di dalamnya diskusi permasalahan yang dihadapi serta pelatihan mengenai pembuatan pembukuan keuangan.

  Eti dan Sani merasa terbantu dan berterimakasih atas terselenggaranya kegiatan tersebut di UMKM Rumah Sayur Padaringan.

  Anggota tim PkM terdiri dari Evi Octavia, Dr., SE., M.M., AK., CA., Niki Hadian, H. SE., M.M., AK., CA., Dini Verdania Latif, SE., M.Si., AK., Syakieb Arsalan, SE., M.M., Mochamad Kohar Mudzakar, SE., M.Si., dan Shinta Dewi Herawati, Hj., SE., M.M., AK., CA. Kegiatan PkM akan terus digalakan UTama sebagai wujud kepedulian perguruan tinggi terhadap masyarakat, dalam rangka peningkatan literasi dan sosialisasi perkembangan pengetahuan. (UTama, 04 Jan 2022)

.

Dosen UTama Membantu Branding dan Strategi Marketing UMKM Kampoeng Rajoet

Abdimas Universitas Widyatama Kampoeng Rajoet Binong Jati 2 1 - Abdimas Dosen UTama, Membantu Branding Dan Strategi Marketing UMKM Kampoeng Rajoet  Pengaruh dan dampak Pandemi Covid-19 di Indonesia sangat terasa terutama bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Semua sektor usaha memiliki harapan sama, agar pandemi segera berakhir dan roda perekonomian berputar seperti sediakala. Dalam konteks ini kehadiran dan peran perguruan tinggi sangat penting dalam upaya membantu pemerintah melalui tridharma perguruan tinggi yakni pengabdian kepada masyarakat (Abdimas).

  Para dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis/FEB UTama bekerjasama dengan Kampoeng Rajoet Binong Jati Kota Bandung melaksanakan kegiatan Abdimas secara daring tangal 14 Desember 2021. Abdimas Dosen UTama dimaksudkan membantu Branding dan Strategi Marketing UMKM Kampoeng Rajoet.   

  Agatha Rinta Suhardi, S.Si., M.M., Ketua Tim Kluster Abdimas UTama di Kampoeng Rajoet Binong Jati menjelaskan bahwa Abdimas kali ini mengangkat tema “Pelatihan Pembuatan Branding dan Konten Sebagai Strategi Pemasaran UMKM Kampoeng Rajoet Binong Jati”.

  Pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) masih menggunakan daring menyesuaikan dengan kondisi pandemi. Diikuti sekitar 20 orang pelaku UMKM yang tergabung dalam komunitas Kampoeng Rajoet Binong Jati.

  Webinar dibuka Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UTama, Dr. Adjeng Mariana yang mengapresiasi kegiatan Webinar ini. Sementara itu perwakilan UMKM Kampoeng Rajoet Binong Jati, Lia Sugiarti mengatakan bahwa saat ini Kampoeng Rajoet membutuhkan bantuan dalam pengembangan branding agar produk-produknya semakin dikenal masyarakat.

  Kami sampaikan terima kasih kepada para pihak yang telah membantu dalam kegiatan ini, khususnya UTama yang telah memberikan bantuan berupa fasilitas zoom dan dana pengabdian kepada masyarakat, kata Lia

  Hadir pada kegiatan tersebut Tim kluster Abdimas Kampoeng Rajoet Binong Jati, Kota Bandung, yakni Andi Budiawan, S.Sos., M.M., Titto Rohendra, S.E., M.Si., Sari Dewi Oktari, Hj., S.E., M.M., dan Shinta Oktafien, S.E., M.M. (UTama, 03 Jan 2022)

.

Berbekal Pengetahuan dan Kemampuan Berinovasi, Petani Bangkit Hadapi Pandemi

PKM Universitas Widyatama Fakultas Ekonomi dan Bisnis 3 1024x768 - Berbekal Pengetahuan dan Kemampuan Berinovasi, Petani Bangkit Lawan Pandemi  Dampak pandemi Covid-19 yang melanda dunia juga Indonesia, selama dua tahun, dirasakan begitu kuat mengguncang berbagai sektor. Termasuk penurunan aktivitas ekonomi yang juga dirasakan oleh para petani.

  Masalah-masalah klasik yang dialami petani pun semakin menjerat, seperti masalah permodalan, harga jual produk hasil pertanian yang rendah, serta sulitnya memasarkan hasil pertanian.

  Karena itu semangat juang para petani di tengah-tengah keterpurukan akibat pandemi tersebut memerlukan perhatian serta dukungan dari berbagai pihak. Hal tersebut menjadi alasan kuat dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis/FEB UTama hadir membantu memecahkan masalah dengan memberikan pelatihan bagi pengelola Pusat Pelatihan dan Pedesaan Swadaya (P4S) Kurnia Abadi, di Kampung Pasirlangu Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

  Kegiatan dimotori Ketua Cluster Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), Yelli Eka Sumadhinata, SE., M.M. dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 28 Desember 2021 yang diikuti puluhan pengelola dari P4S dan warga sekitar. Mengusung tema “Pengembangan Kompetensi Kewirausahaan dalam Bidang Manajemen Sumber Daya Manusia Pengelola Pusat Pelatihan dan Pedesaan Swadaya (P4S) Kurnia Abadi”.

  PKM UTama Fakultas Ekonomi dan Bisnis 2 – Berbekal Pengetahuan dan Kemampuan Berinovasi, Petani Bangkit Lawan Pandemi

  Desa Pasirlangu dikenal sebagai pelopor tanaman paprika dan ingin terus dikenal sebagai desa yang maju dalam bidang pembudidayaan paprika. Harapan kami kegiatan ini dapat memberikan bekal ilmu pengetahuan serta motivasi untuk terus berinovasi bagi petani agar dapat bangkit dalam suasana sulit di tengah pandemi,” kata Yelli yang juga dosen entrepreneurship dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Ke depan pihaknya akan terus melakukan terobosan melaui kolaborasi serta kontinuitas, memberikan penyuluhan dan pelatihan dengan bekal informasi, adaptif terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Diharapkan petani dapat mengambil peran aktif dalam memutarkan kembali roda perekonomian serta bangkit dari keterpurukan akibat Pandemi Covid-19 ini, kata Yelli.

  Terkait PkM itu, Kepala Desa Pasirlangu Nur Awaludin Lubis sangat mengapresiasi UTama, karena bisa sharing di Desa Pasirlangu. Desa ini merupakan desa pelopor dalam hal pembudidayaan paprika, semoga kegiatan ini dapat berlangsung secara berkesinambungan, jelas Nur.

  Sementara, Yanti Kurniati – Ketua P4S Kurnia Abadi mengatakan banyak warga yang menurut kacamata pertanian sudah mahir seperti kapan harus menanam, menyiram, panen, tetapi kami kesulitan dalam memasarkan terlebih saat ini sedang gencar pemasaran online.

  “Kami tahu banyak market place tetapi kami kebingungan menggunakannya. Mudah-mudahan dengan adanya kolaborasi akademisi ini dapat membantu kami para petani menjadi lebih sejahtera,” kata Yanti.

  Tim dosen dan mahasiswa yang terlibat PkM di Pusat Pelatihan dan Pedesaan Swadaya (P4S) Kurnia Abadi adalah Yelli Eka Sumadhinata, S.E., M.M., Dr. Hj. Wien Dyahrini, S.E., M.Si, Dr. Yana Hendayana, S.E., M.M., Sri Wiludjeng SP., S.E., M.P, Suskim Riantani, S.E., M.Si, Nabilah Ramahdan, S.M.B., M.M. Mereka ahli dalam bidang-bidang seperti marketing, manajemen, organisasi, kewirausahaan, dan keuangan. (UTama, 01 Jan 2022)

.

UMKM Bandung dan Yogyakarta Kembangkan Kearifan Lokal Hadapi Pasar Internasional

  Perguruan tinggi selayaknya berperan dalam membantu para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) agar lebih berkembang terlebih di masa Pandemi Covis-19. UTama melalui kolaborasi para dosen Manajemen D3, Manajemen S1, dan Magister Manajemen melaksanakan pelatihan para pelaku UMKM di Kota Bandung dan Yogyakarta.

  Tema yang diangkat “Menciptakan Dan Menginspirasi Kearifan Lokal UMKM Unggul Yang Terstandarisasi Dalam Meningkatkan Komersialisasi Di Pasar Internasional (UMKM Di Kota Bandung Dan Yogyakarta)”.

  Dr. Artarina D. A. Samoedra, S.Sos., M.M., Ketua tim PkM menjelaskan kolaborasi melakukan kegiatan PkM melalui ilmu pengetahuan yang diberikan para akademisi dan sharing dari para praktisi secara daring.   PKM Universitas Widyatama FEB Pascasarjana 6 - PkM Dosen UTama, Agar UMKM Kota Bandung dan Yogyakarta Siap Menghadapi Pasar InternasionalKegiatan dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 22 Desember 2021 lalu. Kegiatan dibuka Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UTama, Dr. Hj. R. Adjeng Mariana F, S.E., M.M dan Kepala LP2M Universitas Widyatama Dr. Ratna Komala Putri, S.E., M.Si.

  Hadir tiga narasumber, yakni Pardji Rono Wijoyo – Staf Pengembangan Hamzah Batik Yogyakarta merupakan mitra kegiatan; Dr. Gallang P. Dalimunthe, S.E., M.M. – dosen Manajemen S1 FEB UTama; dan Dr. Mariana Rachmawati, S.E., M.M. – dosen Magister Manajemen UTama.

  Pada kesempatan itu Pardji Rono Wijoyo dari Hamzah Batik Yogyakarta memaparkan materi “Strategi Pengembangan Usaha dengan Pemanfaatan Kekayaan Budaya Daerah, Sebagai Modal Kreativitas dan Inovasi. Diungkapkan bahwa faktor penyumbang kesuksesan Hamzah Batik Yogyakarta, salah satunya dari hasil pengamatan, apa yang disukai dan diinginkan pasar. Termasuk kemampuan memanfaatkan peluang yang ada. Sehingga akan muncul kreativitas dan inovasi dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.

  Sementara itu Dr. Gallang P. Dalimunthe, S.E., M.M. membahas “Enhancing Creative Entrepreneurship Competencies”. Menurutnya hal penting yang harus dilakukan para wirausaha yaitu bisa memanfaatkan media yang ada. Khususnya perkembangan teknologi digital. Para wirausaha diharapkan dapat memanfaatkan teknologi yang disesuaikan dengan karakteristik konsumen masing-masing.

  Sementara, Dr. Mariana Rachmawati, S.E., M.M. memaparkan materi “Upaya Meningkatkan Kinerja Perusahaan Blankon Surjan Yogyakarta dengan Meningkatkan Kemitraan Strategi”. Mariana mengungkapkan strategi untuk dapat mengembangkan bisnis di masa pandemi Covid-19 dengan mencari mitra/afiliasi, sehingga bisnis dapat terus berkembang. Selain itu harus konsisten, memiliki komitmen yang kuat, percaya diri dan selalu yakin tetap maju.

  Dalam kegiatan tersebut juga menyajikan sharing session dengan dua praktisi bisnis, Giyanti dari Sogga Batik Yogyakarta dan Gumelar Bayu Fadhillah, pemilik Lembur Kuring Hidroponik Bandung. Giyanti pemilik Sogga Batik Yogyakarta yang juga mitra kegiatan ini menceritakan mengenai usahanya yang sudah dijalankan selama kurang lebih 20 tahun dan mengalami masa pasang surut terutama di masa pandemi. Menurutnya dengan keyakinan, komitmen serta kepercayaan akan kemampuan Sogga Batik tetap bertahan di masa pandemi Covid-19.

  Menurut Bayu kunci sukses menjadi seorang wirausaha, jangan takut menghadapi kegagalan tetapi terus bangkit dan berjuang. Karena kegagalan akan memberi pembelajaran untuk meraih kesuksesan.

  Tim PkM terdiri dari: Annisa Lisdayanti, S.E., M.M; Dinda Kayani Putri Bestari, S.M.B., M.M; Dr. Gallang Perdhana Dalimunthe, S.E., M.M; Ni Putu Nurwita Pratami Wijaya, S.M.B., M.M; Dr. Mariana Rachmawati,S.E.,M.M; Dr. H. Deden Sutisna M. N.,S.E., M.Si; Dr. Hj. R. Adjeng Mariana, F, S.E.,M.M; Dr. Ahmad Doli Kurnia Tandjung, S.Si., M.Si; Dr. Lilis Yuaningsih, S.E.,M.Si; Dr.Suharno Pawirosumarto, M.M; Oktora Yogi Sari, S.Sos., M.T; Intan Widuri Sakti, S.T., M.M; Nugraha Saefudin, S.T., M.M; Dr. Yenny Maya Dora, S.T., M.M; Yusep Budiansyah, Drs, M.Pd; serta para mahasiswa: Tanzania Eriza Yuniar; Farli Muhamad Burhanudin; Siti Nuraisyah; Shayla Azzahra Tivania; Vimbi Mustopa; Arini Putri Nathania, dan mahasiswa dari Magister Manajemen. (UTama, 31 Des 2021)

.

Penelitian Pembangunan Sistem Informasi Di Kecamatan Parongpong

Penelitian Pembangunan Sistem Informasi Di Kecamatan Parongpong  Dosen Program Studi Sistem informasi, Fakultas Teknik, UTama melakukan penelitian di Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat.

  Penelitian mengenai produk sistem informasi desa, berupa website dan aplikasi pembuatan surat keterangan berbasis android, Senin (27/12/2021) lalu. Penelitian dan pelatihan tersebut mengundang perwakilan kader PKK, ketua RT, Ketua RW untuk melihat sejauh mana peran teknologi informasi.

  Ketua Klaster Pengabdian Masyarakat Program Studi Sistem Informasi, Dr. M. Rozahi Istambul, S.Kom., M.T. mengatakan bahwa pemanfaatan teknologi informasi di era sekarang sudah menjadi budaya di masyarakat, termasuk yang berada di lingkungan pedesaan. Penelitian dibantu anggota tim Hari Supriadi, ST., M.Kom dan Aminuddin, ST., M.Kom.

  Melalui aplikasi yang dibuat nanti urusan pembuatan surat, seperti surat keterangan usaha, surat keterangan domisili, surat keterangan lainnya bisa diminta via aplikasi yang langsung terhubung ke desa atau kecamatan. Namun tetap akan diverifikasi dari RT RW nya,” kata Rozahi.

  Sedang pelaksanaan kegiatan kluster pengabdian masyarakat terkait “Workshop penggunaan

Hibah Dikti 2021 Universitas Widyatama copy 1024x768 - Penelitian Pembangunan Sistem Informasi Di Kecamatan Parongpongaplikasi pelayanan masyarakat Desa” yang pelaksanaannya di Kecamatan Parongpong. Lebih lanjut jelas Rozahi kegiatan penelitian tersebut juga merupakan program merdeka belajar kampus merdeka (MBKM) terkait pembelajaran kolaboratif. Oleh sebab itu selain dosen ada delapan mahasiswa Program Studi Sistem Informasi yang sedang melaksanakan program MBKM turut dalam kegiatan itu.

  Hasil kegiatan MBKM akan direkognisi penilaiannya ke dalam sejumlah mata kuliah.

  Dengan pelatihan aplikasi pelayanan informasi bagi masyarakat desa juga dapat memberikan peningkatan kinerja yang baik bagi staf kantor desa di Kecamatan Parongpong. Di samping masyarakat juga dapat melihat berbagai hal kemajuan dari pemerintah desanya, melalui web.

  Pelatihan aplikasi pelayanan informasi bagi masyarakat desa dapat memberikan peningkatan kinerja yang baik bagi staf Kantor Desa di Kecamatan Parongpong. Kegiatan tersebut didukung dari bantuan dana Program Penelitian Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka dan Pengabdian Masyarakat Berbasis Hasil Penelitian dan Purwarupa PTS Ditjen Diktiristek tahun Anggaran 2021, jelas Rozahi.

  Hadir pada saat itu Camat Parongpong Iwan Mustawan, M.Ap. yang memberikan arahan mengenai pentingnya masyarakat untuk melek teknologi informasi, sehingga perkembangan teknologi yang ada saat ini dapat dimanfaatkan secara baik (UTama, 30 Des 2021)

.

Prodi Sistem Informasi Memberikan Pelatihan Branding Digital Market UMKM

Prodi Sistem Informasi UTama Memberikan Pelatihan “Branding” Digital Market UMKM  Tertuang dalam Keppres RI No. 19 Tahun 1998 Pemerintah berupaya melindungi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebagai kegiatan ekonomi rakyat pada skala kecil yang perlu dilindungi dan dicegah dari persaingan tidak sehat.

  Terkait dengan UMKM, Program Studi Sistem Informasi, UTama Bandung bekerjasama dengan Dinas Perdagangan dan Industri (DISDAGIN) Kota Bandung mengadakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) semester ganjil tahun akademik 2021-2022.

  Dalam kegiatan itu Dosen Prodi Sistem Informasi memberikan pelatihan Digital Marketing yang difokuskan pada materi “branding” bagi UMKM. Kegiatan dilaksanakan di kampus UTama, pada hari Senin, tanggal 20 Desember 2021 lalu dan diikuti 20 UMKM yang tergabung dalam komunitas DISDAGIN Kota Bandung. Kegiatan tersebut melibatkan 10 orang mahasiswa dan 4 orang dosen Prodi Sistem Informasi sebagai fasilitator untuk pemecahan masalah yang dihadapi UMKM terutama dalam hal “branding” produk UMKM.

  Kepala Prodi Sistem Informasi , Sri Lestari, Ir.,M.T. menjelaskan bahwa para UMKM diberikan wawasan pemanfaatan digital marketing khususnya branding. Mulai dengan pengenalan digitasi, branding seperti logo, nama, dan sosial media hingga digital branding yang merupakan proses membangun brand UMKM secara online melalui website, aplikasi dan sosial media. Para peserta juga dilatih pembuatan logo, nama dan pemilihan warna yang mudah diingat konsumen dan memiliki arti tersendiri.

  Kini sebagian besar UMKM dalam memasarkan produk mereka sudah menggunakan media digital, seperti media sosial Instagram dan facebook, dan sudah tergabung dalam beberapa marketplace.

  Pelatihan dihadiri Kasi Distribusi Barang Penting DISDAGIN Kota Bandung, Rohman Agus Jatnika, S.T.,M.M., Founder Adelie Studio, Sandi Pratama. Dalam sambutannya Kasi Distribusi Barang Penting DISDAGIN Kota Bandung, Rohman mengapresiasi Prodi Sistem Informasi UTama.

(UTama, 30 Des 2021)

.

Pelatihan Sistem Informasi Berbasis Online Bagi Aparatur Dan Masyarakat Desa Ciwaruga

  Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) dosen dan mahasiswa UTama dilakukan di berbagai tempat. Pelatihan Sistem Informasi Desa Berbasis Online Bagi Aparatur Dan Masyarakat Desa Ciwaruga Desa Ciwaruga, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat mengimplemen–tasikan Sistem Informasi Desa (SID) berbasis web, hasil dari Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Kegiatan yang dilaksanakan di Gadung Serba Guna, Desa Ciwaruga, Selasa, tanggal 28 Desember 2021 lalu.

  Sebagai pelaksanaan program MBKM, kegiatan ini melibatkan mahasiswa berjumlah 10 orang sebagai bentuk pembelajaran kolaboratif. Hasil kegiatan akan direkognisi (penilaiannya) ke dalam sejumlah mata kuliah, jelas Ketua Pelaksana Kegiatan, Dra. Yani Iriani, M.T., didampingi Ucu Nugraha, S.T., M.Kom. dan Riki Ridwan Margana, S.T., M.T.

  Yani menjelaskan kegiatan diikuti sekitar 150 peserta, terdiri dari aparat desa, Ketua RT/RW, Ibu-ibu PKK, dan lainnya. Pembukaan dihadiri Iwan Mustawan Aziz, M.Ap., Camat Parongpong, dan Dadan Carmana, A.Md., Kepala Desa Ciwaruga.

  Diharapkan implementasi SID akan meningkatkan kinerja layanan perangkat desa, mempermudah, serta mempercepat urusan admisnistrasi dan pelayanan informasi kepada masyarakat.

  Lebih lanjut Yani menjelaskan bahwa terlaksananya kegiatan tersebut atas dukungan Ditjen Diktiristek berupa bantuan dana Program Penelitian Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka dan Pengabdian Masyarakat Berbasis Hasil Penelitian dan Purwarupa Perguruan Tinggi Swasta, tahun Anggaran 2021. (UTama, 30 Des 2021)

.

Hibah Dikti Universitas Widyatama Bandung 8 - Bantuan Hibah Dikti, Dosen UTama Kembangkan Sistem Pembelajaran dan Pustaka Online Di Pesantren CilelesDosen UTama Kembangkan Sistem Pembelajaran dan Pustaka Online Di Pesantren

  Dosen beserta mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis/FEB, sertaserta Fakultas Teknik melakukan pengabdian kepada masyarakat di Pesantren Al-Istiqomah, Desa Cileles, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

  Mereka memberikan pelatihan sistem pembelajaran e-learning dan pustaka dalam jaringan (perpustakaan online).

Kegiatan dilaksanakan Jum’at, tanggal 24 Desember 2021 lalu.

Hibah Dikti Universitas Widyatama Bandung 7 1024x768 - Bantuan Hibah Dikti, Dosen UTama Kembangkan Sistem Pembelajaran dan Pustaka Online Di Pesantren Cileles  Dr. Keni Kaniawati S.E., M.Si. – Kepala Widyatama Business Incubator (WIBI) sekaligus Ketua Pengabdian Kepada Masyarakat menjelaskan bahwa Tim PkM memberikan pelatihan sistem pembelajaran e-learning dan pustaka secara daring. Tujuan agar tenaga pendidik bisa memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, meskipun siswa berada di rumah.

  Di samping itu, penerapan perpustakaan digital juga dapat membawa pada perluasan akses, peningkatan kepercayaan diri para santri dan membuat proses belajar mengajar menjadi lebih menarik.

  Oleh karena itu, tim peneliti membangun dan mengembangkan perpustakaan digital. Hal tersebut merupakan penawaran inovatif agar santri terlatih mengambil pengetahuan dari sumber informasi manapun, tanpa harus menunggu dari satu sumber yakni pendidik atau gurunya.

  Sesuai dengan konsepsi tersebut tugas pengajar di pesantren bukan semata menuangkan ilmu, namun merangsang santri agar lebih menyukai memperdalam keilmuannya, secara mandiri juga. Meskipun kehadiran guru tetap tidak bisa tergantikan kehadirannya oleh teknologi.

  Pengembangan koleksi digital sebaiknya mendapatkan prioritas, karena hal tersebut adalah komponen terpenting dalam proses belajar mengajar. Sehingga melalui perpustakaan digital tersebut, sistem pengajaran yang mendorong pengembangan akan terus dikembangkan.

  Ia mengungkapkan bahwa berjalannya PkM tersebut tidak terlepas dari hibah “Program Penelitian Kebijakan Merdeka Belajar kampus Merdeka dan Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Hasil Penelitian dan Purwarupa PTS Ditjen Diktiristek Tahun Anggaran 2021”. Kami bersama tim PkM mengucapkan terimakasih kepada Ditjen Dikti atas bantuan hibah sehingga Pengabdian Kepada Masyarakat ini bisa terlaksana.

  Sementara itu, Dr. Fansuri M.M., anggota Tim PkM menambahkan dalam masa pandemi hampir di seluruh Indonesia pesantren mengalami permasalahan yang sama. Termasuk di Pesantren Cileles, Jatinangor yang mengalami kendala saat proses belajar mengajar. Sejak Maret 2020, pandemi Covid-19 sebagian pesantren telah menghentikan pembelajaran tatap muka secara langsung.

  Dengan memberikan pelatihan dan simulasi tentang sistem pembelajaran secara online/e-learning pada pesantren Al-Istiqomah diharapkan sistem pembelajaran e-learning secara online/daring dikenal luas.

  Berkaitan dengan itu, Dede Otang – Ketua Yayasan Tarbiyatul Ummah Al -Istiqomah sangat mengapresiasi kegiatan tim dosen dan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis/FEB, serta Fakultas Teknik UTama. Menurutnya pengabdian kepada masyarakat tidak hanya sebagai wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi, tetapi memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan sistem pembelajaran dan pustaka secara daring di pesantren. (UTama, 29 Des2021)

.

Dosen Dan Mahasiswa UTama Beri Bantuan Penjernih Air Warga Bojongmalaka

Hibah Dikti, Dosen Dan Mahasiswa UTama Beri Bantuan Penjernih Air Bagi Warga Bojongmalaka  Dalam upaya membantu dan memecahkan kesulitan masyarakat terhadap ketersediaan air bersih memenuhi kebutuhan sehari-hari tim dosen serta mahasiswa Program Studi Teknik Mesin dan Sistem Informasi, Fakultas Teknik UTama melakukan penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) di Desa Bojongmalaka, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung.

  Selama ini warga daerah tersebut terkendala kondisi air keruh dan berwarna kuning yang kurang layak digunakan.

Melihat kondisi tersebut tim dosen serta mahasiswa Prodi Teknik Mesin dan Sistem Informasi UTama melakukan penelitian dan memberikan bantuan 7 set saringan air, yakni sebanyak 14 unit alat untuk menjernihkan air tanah.

  Sri Lestari, Ir., M.T., Ketua Pelaksana Hibah PkM menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bentuk MBKM yang telah digulirkan Menteri Nadiem Markarim – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Melalui transformasi pendidikan tinggi dalam konsep MBKM, penelitian dan pengabdian pada masyarakat didorong untuk hilirisasi menyelesaikan persoalan-persoalan di masyarakat.

  Pelaksanaan hibah PkM dari UTama melibatkan tim dosen yakni Dani Hamdani, S.Kom., M.T., dan Martoni, S.T., M.T. menyelesaikan masalah air bersih warga Bojongmalaka, Kabupaten Bandung. Sedangkan pendanaan kegiatan tersebut dibiayai dari Program Penelitian kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan Pengabdian Masyarakat Berbasis Hasil Penelitian dan Purwarupa PTS Ditjen Dikti Ristek Tahun 2021, jelas Sri Lestari.

  Alat saringan air yang diterima langsung Kepala Desa Bojongmalaka, Dedi Dermawan diharapkan dapat membantu mengatasi masalah air bersih di desa Bojongmalaka. Serah terima saringan air telah dilakukan hari Senin, tanggal 27 Desember 2021 lalu.

  Atas bantuan tersebut, Dedi Dermawan mengucapkan terimakasih kepada UTama dan Ditjen Dikti Ristek. Dedi pun berharap kegiatan serupa dapat dilanjutkan, untuk masalah-masalah lain di Desa Bojongmalaka. (UTama, 29 Des 2021)

.

Akuntansi UTama Sosialisasikan UU Perpajakan Bagi UMKM

  Para Dosen Program Studi (Prodi) Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis/FEB UTama pada semester ganjil tahun akademik 2021-2022 telah melaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas).

PKM D 3 Akuntansi Universitas Widyatama 3 - Abdimas Akuntansi UTama, Sosialisasikan UU Perpajakan Yang Baru Bagi UMKM  Sosialisasi peraturan perundang-undang yang baru yakni nomor 7 Tahun 2021 tentang harmonisasi peraturan perpajakan kepada para pelaku UMKM), pelaku bisnis di perusahaan, akademisi dan lainnya.

  Sosialisasi yang dilaksanakan tanggal 7 Desember 2021 dalam jaringan (daring) tersebut, Prodi Akuntansi UTama bekerjasama dengan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Cibeunying.

  Yati Mulyati, SE., M.Ak., Ak , CA., Sekretaris Prodi Akuntansi D-3 menjelaskan Abdimas tersebut merupakan program rutin dari kluster dosen UTama. Dalam satu semester mininal melaksanakan satu kali Abdimas. Kebetulan kluster kami adalah kluster tentang perpajakan. Isu yang baru diluncurkan DirePajak/DPJ, yakni Undang-undang no 7 tahun 2021yang di–launching akhir Oktober dan kemudian disosialisasikan pertengahan bulan November 2021, jelas Yati.

  Kegiatan Sosialisasi mengundang narasumber Rosina Dwi Rahadiani, S.E., (KPP Pratama Bandung Cibeunying) dan Herry Prapto, S.E., (KPP Pratama Bandung Cibeunying) dan dimoderatori Dr. Radhi Abdul Halim, R, S.E., M.M., Ak., CA., BKP., CSRA., dosen UTama.

  Reformasi perpajakan sangat cepat bergulir, dari mulai undang-undang KUP tahun 2007, kemudian undang-undang Cipta Kerja tahun 2020, dan sekarang terbit undang undang nomor 7 tahun 2021 tentang harmonisasi sistem perpajakan. Karena itu mengedukasi masyarakat dipandang perlu terlebih undang-undang ini berlaku akan efektif mulai tahun 2022, jelas Yati.

  Peserta terdiri pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah Kecamatan Coblong, Kota Bandung, staf akunting, pelaku bisnis di institusi perusahaan, akademisi, konsultan dan lainnya.

  Sedangkan Citra Mariana, S.Pd., M.Ak., Ketua Kluster Abdimas mengatakan berbagai tanggapan keterkaitan aturan terbaru dengan PPh dan PPN, perlakuan Program Pengungkapan Sukarela (PPS), termasuk bagi UMKM yang beromset Rp 500 juta pertahun apakah bebas pajak. Kurang lebih enam pokok bahasan di dalam undang-undang dari mulai KUP, pajak materi cukai, jelas Citra.

  Tster Abdimas Prodi Akuntansi diketuai Citra Mariana, S.Pd., M.Ak. dengan anggota: Dr. Dyah Purnamasari, SE, M.Si., Ak., CA Dr. Radhi Abdul Halim R., S.E., M.M., Ak., C.A., BKP., CSRA., Diah Andari, SE., M.Acc, Ak., CA., Hafied Noor Bagja, S.H., M.Kn., Yati Mulyati, SE, M.Ak., Ak., CA., dan Yoga Tantular Rachman, S.E., M.Si. (UTama, 28 Des 2021)

.

.

.

.

.

Dosen Dan Mahasiswa UTama Berikan Pelatihan ORAI Untuk Santri

WhatsApp Image 2021 12 27 at 7.25.05 AM 1 1024x768 - Dapat Bantuan Dikti, Dosen Dan Mahasiswa Universitas Widyatama Berikan Pelatihan ORAI Untuk Santri    Tim peneliti dosen dan mahasiswa Program Studi Bahasa Inggris UTama melakukan pelatihan dan pengabdian kepada masyarakat di Pesantren/Madrasah Al Istiqomah, Desa Cileles, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang yang dilaksanakan hari Kamis, tanggal 23 Desember 2021.

  Dr Ervina CM Simatupang, Kaprodi Bahasa Inggris UTama menjelaskan bahwa tim peneliti sengaja memberikan pelatihan penggunaan aplikasi ORAI kepada santri di pesantren tersebut.

  Penelitian aplikasi ORAI dilakukan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris berbasis digital literasi di masa pandemi. Aplikasi ORAI yang berbasis digital literasi angat membantu para santri dalam penguasaan bahasa asing – Bahasa Inggris. Lebih jauh program ini untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris mereka. Karena, penguasaan Bahasa Inggris di era digital semakin diperlukan, jelas Ervina, Ketua Tim Peneliti sekaligus pemateri kegiatan.

  Ia mengungkapkan ada banyak alat ukur untuk mengetahui tingkatan kemampuan Bahasa Inggris seseorang. Kemampuan berbicara dalam Bahasa Inggris adalah salah satu di antara alat ukur yang bisa mendiagnosa tingkatan kemampuan Bahasa Inggris seseorang.

  Kegiatan tersebut terlaksana tidak terlepas dari dana Program Penelitian Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka dan Pengabdian Masyarakat Berbasis Hasil Penelitian dan Purwarupa PTS Ditjen Diktiristek tahun Anggaran 2021. Bantuan ini diberikan Dikti sehingga penelitian dosen dan mahasiswa ini bisa berjalan.

  Sementara itu Dr. Hendar, M.Pd, Dekan Dekan Fakultas Bahasa UTama menjelaskan penggunaan aplikasi dalam pembelajaran di masa pandemi sangat membantu para santri belajar Bahasa Inggris secara mandiri. Aplikasi tersebut bagus digunakan mengasah kemampuan para santri, dalam meningkatkan kemampuan dalam berbicara Bahasa Inggris yang bisa menjadi bekal nantinya, jelas Hendar.

  Sedangkan Dr. Nurul Hermina, S.E., M.M., pemateri digital literasi juga anggota penelitian menyampaikan bahwa literasi digital menjadi semakin penting dalam abad ke-21. Melalui literasi digital para santri akan memiliki kemampuan luar biasa untuk berpikir, belajar, berkomunikasi, bekerja sama, serta berkarya, kata Nurul.

  Berkaitan PkM dan pelatihan tersbeut, Dede Otang – Ketua Yayasan Tarbiyatul Ummah Istiqomatul Khoir yang menaungi Madrasah Al Istiqomah mengapresiasi kegiatan itu. Menurutnya upaya akademisi seperti itu layak diapresiasi, karena bukan hanya memberikan wawasan para praktisi akademisi kepada para santri, tapi juga memperluas jaringan dan hubungan harmonis antar-lembaga Pendidikan. (UTama, 27 Des 2021)

.

Dosen FEB UTama Berikan Kiat Berinvestasi Di Pasar Modal Syariah

123 1024x576 - Dosen FEB UTama Beri Pemahaman Kiat Berinvestasi Di Pasar Modal Syariah  Perkembangan pasar modal syariah saat ini mulai dilirik kalangan masyarakat luas. Namun masih terdapat kesulitan, dan keraguan masyarakat untuk melakukan investasi di pasar modal syariah.

  Menjawab masalah tersebut dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis/FEB UTama yang dikordinir Neneng Susanti, S.MB., M.M. melaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dengan memberikan pelatihan peningkatan pengetahuan tentang investasi di Pasar Modal Syariah.

  Kegiatan dilangsungkan secara daring pada hari Sabtu, tanggal 18 Desember 2021 lalu yang diikuti anggota QASHWA Kota Bandung. Tujuan pelatihan untuk memberikan pemahaman tentang produk-produk investasi yang ada di pasar modal syariah di Indonesia. Di samping memberikan pemahaman praktis agar tidak ragu berinvestasi di pasar modal syariah di Indonesia. Peserta merasakan manfaat pelatihan atas bahan dan materi yang disampaikan Bayu Aji Sumantri, S.M.B., M.COM.

  Lebih lanjut Neneng mengatakan pelatihan semacam ini akan terus digalakan UTama sebagai wujud kepedulian kampus terhadap masyarakat dalam rangka peningkatan literasi dan sosialiasi perkembangan pengetahuan.

  Anggota tim terdiri dosen FEB UTama dan mahasiswa, yakni: Ivan Gumilar Sambas Putra, S.E., M.M., M.Ak, Muhammad Bayu Aji Sumantri, S.MB., M.Com., Tanti Irawati Mukhlis, S.E., M.M., serta Vincentia Wahyu Widajatun, SE., M.M. Sedangkan mahasiswa adalah, Annisa Luthfia dan Alifah Nugitasari. (UTama, 27 Des 2021)

.

Sakinah Finance, Solusi Keuangan Keluarga Saat Pandemi

Sakinah Finance, Solusi Keuangan Keluarga Pada Saat Pandemi  Hampir dua tahun kita mengalami masa pandemi Covid-19. Seluruh aspek perekonomian negara terdampak. Hal ini berakibat bagi perusahaan, tetapi juga berakibat pada para pekerja perusahaan tersebut.

  Data dari bps.go.id menyebutkan 77,91 juta orang (59,45 persen) bekerja pada kegiatan informal, turun 1,02 persen poin dibanding Agustus 2020. Persentase pekerja paruh waktu naik sebesar 1,03 persen poin, sementara persentase setengah pengangguran turun 1,48 persen poin dibandingkan Agustus 2020. Terdapat 21,32 juta orang (10,32 persen penduduk usia kerja) yang terdampak Covid-19. Terdiri dari pengangguran karena Covid-19 (1,82 juta orang), Bukan Angkatan Kerja (BAK) karena Covid-19 (700 ribu orang), sementara tidak bekerja karena Covid-19 (1,39 juta orang), dan penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena Covid-19 (17,41 juta orang). Akibat lanjut semakin banyak jumlah keluarga yang mengalami penurunan pendapatan.

  Hal itu menjadi salah satu alasan menyelenggarakan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) mengangkat topik “Sakinah Finance” yang diselenggarakan hari Sabtu, tanggal 18 Desember 2021 lalu. Sakinah Finance merupakan judul buku hasil karya pasangan Luqyan Tamanni dan Murniati Mukhlisin yang secara garis besar menjelaskan pengertian serta penjelasan tentang pengaturan keuangan yang dapat membuat keluarga kita tenteram secara Islami.

  Kondisi keuangan selama ini kurang menjadi concern seluruh pihak terkait, sehingga diangkat sebagai kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) UTama dipimpin Sakina Ichsani, S.E., M.M., yang juga dosen UTama. Kegiatan bertujuan memberikan penjelasan dan gambaran betapa pentingnya pengelolaan keuangan keluarga berdasarkan syariat agama.

  Para peserta mendapat gambaran aspek-aspek penting terkait pengelolaan keuangan secara syar’i, yaitu meliputi Pengelolaan dan Perencanaan. Mengapa diperlukan perencanaan? Alasan mengapa perencanaan keuangan diperlukan dan menjadi bagian penting dalam manajemen rumah tangga karena hidup harus direncanakan, setiap keluarga mempunyai impian dan cita-cita berbeda, dunia modern yang terbiasa dengan hutang, dan perencanaan keuangan merupakan bagian dari maqashid syariah.

  Bagaimana pengelolaan keuangan keluarga? Pengelolaan keuangan keluarga dengan konsep sakinah finance adalah mengedepankan kebutuhan pokok yang sifatnya dharuriyat, kemudian hajiyyat, baru setelahnya tahsiniyyat. Dan terakhir adalah bagaimana proses perencanaan keuangan?

  Pengaturan keuangan secara syar’i merupakan salah satu cara agar keuangan keluarga kita dapat menenteramkan, sehingga dapat memenuhi kebutuhan keluarga. Hal ini dapat dilakukan dengan memastikan bahwa sumber pemasukan keuangan keluarga berasal dari sumber yang halal, yang berkah bagi keluarga kita.

  Keuangan keluarga yang kita miliki dapat disesuaikan dengan maqashid syariah (maksud atau tujuan dasar dari syariah). Menurut Ibnul Qayyim, maqashid syariah di dalam kategori kebutuhan dasar itu mempunyai lima aspek : a. Pemeliharaan agama (hifdhud-din); b. Pemeliharaan jiwa atau kehidupan (hifdhul-hayah); c. Pemeliharaan intelek/ilmu pengetahuan (hifdhul-‘aql); d. Pemeliharaan keturunan (hifdhun–nasl); dan e. Pemeliharaan harta (hifdhul-maal).

  Berpegang pada prinsip-prinsip di atas, selanjutnya kita mengatur dan merencanakan keuangan keluarga kita dengan mengatur 5 hal : 1. Managing Income (mengatur sisi penerimaan), 2. Managing Needs (mengatur kebutuhan), 3. Managing Dreams/Wants (mengatur keinginan), 4. Managing surplus/deficit, 5. Managing Contingency.

  Narasumber Dr. Kharisya, yang juga dosen Program Studi S1 Manajemen mengatakan bahwa managing income dapat disimpulkan bahwa kita perlu melakukan niat yang benar, fokus mencari yang halal dan thayyib, bekerja keras dan memulai saat masih pagi, menyambung tali silaturahim, menunaikan hak Allah, muhasabah dan taubat serta banyak bersyukur.

  Sementara managing needs dalam konteks maqashid syariah. Managing needs berarti mengatur konsumsi kita terhadap semua keperluan yang bersifat dharuriyyat dan (sebagian kecil) hajiyyat dalam menjaga atau memelihara aspek-aspek agama, jiwa, harta, keturunan, dan intelek. Managing needs tentang mengelola kebutuhan mengupas secara lengkap aspek pengeluaran wajib yang harus diperhatikan, di samping bagaimana keluarga harus menyusun prioritas belanja untuk bisa menenuhi semua aspek maqashid syariah.

  Managing dreams disimpulkan kita secara tegas memisahkan antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Keinginan atau dreams merupakan hal-hal yang kita inginkan untuk melengkapi kehidupan kita bisa dikarenakan memberi kenyamanan atau memperindah lingkungan sekitar kita. Secara sederhana, wants adalah semua kebutuhan yang mempunyai dimensi secondary/sebagian besar dari hajiyyat atau tertiary/tahsiniyyat. Tidak ada batasan khusus yang mengatur wants karena memang keinginan setiap individu sangat relatif dan berbeda-beda sesuai dengan zaman, tempat tinggal, atau kondisi sosial ekonomi masing-masing. Yang harus diperhatikan barangkali adalah rambu-rambu isyraf (berlebihan), mubazir serta tidak melalaikan kita dari tugas utama sebagai hamba Allah.

  Managing surplus/deficit dalam pengelolaan keuangan, tingkat rumah tangga atau level kenegaraan, yang sering menjadi indikator kesuksesan adalah hasil akhir (bottom line), baik berupa laba atau neraca yang surplus maupun berimbang. Rugi atau defisit merupakan kondisi yang tidak diinginkan. Hal ini karena ketika neraca keuangan keluarga surplus atau minimal berimbang, keluarga tersebut akan mampu berfungsi dengan baik, memenuhi semua kewajiban keuangan, bahkan merealisasikan berbagai impian keluarga.

  Dr. Kharisya Ayu Effendi, S.E., M.S.M. menyimpulkan managing contingencies sebagai kejadian yang tak terduga selalu akan kita alami dalam kehidupan berkeluarga, baik yang menimpa kita maupun keluarga dekat kita. Sering kali kejadian ini membutuhkan dana yang terkadang cukup besar dan terjadi di saat kita sedang tidak siap. Oleh karena itu, mempersiapkan diri secara keuangan

PKM Manajemen Universitas Widyatama b - Sakinah Finance, Solusi Keuangan Keluarga Pada Saat Pandemisangat dianjurkan, apalagi tidak setiap saat kita dapat meminta bantuan ke keluarga atau kerabat. Dana darurat dan perlindungan asuransi merupakan dua hal yang dianjurkan sebagai langkah persiapan menghadapi situasi darurat, seperti sakit, terkena dampak bencana, dan seterusnya.

  Dalam penutupan pemaparannya, Dr. Kharisya Ayu Effendi, S.E., M.S.M. mengatakan bahwa seperti halnya neraca tahunan keuangan perusahaan, keuangan keluarga pun idealnya memiliki perhitungan akhir untuk mengetahui kondisi keuangan keluarga, apakah surplus atau defisit. Dari sana, kita bisa mengevaluasi tindakan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Baik defisit maupun surplus, keduanya harus ditindaklanjuti dengan baik dan benar, sehingga tercipta keseimbangan keuangan yang dapat mensejahterakan keluarga itu sendiri. (UTama, 27 Des 2021)

.

“Branding Masuk Desa”, Pelatihan Tingkatkan Brand UMKM Di Parongpong

  Dosen Fakultas Desain Komunikasi Visual dan Multimedia, UTama memberikan pelatihan “Klinik Desain Kemasan” produk secara langsung kepada puluhan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dari Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat.

WhatsApp Image 2021 12 16 at 12.43.33 PM 1024x576 - “Branding Masuk Desa”, Pelatihan Dari Dosen UTama Tingkatkan Brand UMKM Di Parongpong  Dilaksanakan selama dua hari, tanggal 10-11 Desember 2021, di Ruang Seminar Gedung B, Lantai 6, UTama Bandung.

  Dekan FDKV UTama, Deden Maulana. Drs. M.Ds, menjelaskan acara tersebut merupakan rangkaian kegiatan program kerja integratif, Lembaga Penelitian Pengabdian Kepada Masyarakat (L2PM) UTama dan Fakultas DKV.

WhatsApp Image 2021 12 16 at 12.43.31 PM 1024x768 - “Branding Masuk Desa”, Pelatihan Dari Dosen UTama Tingkatkan Brand UMKM Di Parongpong  Dalam dua hari kegiatan, para peserta pelatihan diberikan pengetahuan secara terapan dan kegiatan dalam bentuk analisa, konsultasi dan praktik. Kegiatan diikuti jumlah terbatas serta memenuhi prokes. Peserta UMKM terdiri dari 25 pelaku usaha, 15 mahasiswa sebagai mentor dan 6 Dosen sebagai pelatih dalam bidang branding dan kemasan.

  Kegiatan diaplikasikan dalam studi kasus nyata, yaitu “Branding Masuk Desa” yang disampaikan Rudi Farid. Drs. M.Ds – Dosen DKV UTama. Menurut Rudi, branding adalah kegiatan strategis untuk memenangkan persaingan bisnis. Dengan branding yang baik, maka suatu merek atau entitas, akan dapat membentuk anggapan positif, kepercayaan dan preferensi dalam benak konsumen, kata Rudi.                                        Ayu peserta pelatihan.

  Di era kelumpuhan media masa, di mana media yang paling berpengaruh dalam keputusan membeli adalah media personal, seperti pada sosial media. Maka kegiatan branding versi mutakhir, yaitu branding yang tidak mengandalkan iklan di media tradisional seperti media masa. Semakin mutlak diperlukan oleh setiap entitas bisnis. Tidak saja usaha yang sudah besar dan mapan, tapi juga pelaku UMKM, jelas Rudi. Oleh sebab itu para UMKM yang turut serta dalam kegiatan terintegrasi ini diharapkan akan semakin cerdas untuk menyusun langkah dalam mengembangkan produk dan jasa mereka melalui pencitraan yang lebih baik.

  Sementara itu Ayu salah satu peserta mengatakan, bahwa dirinya sangat terbantu dengan kegiatan “Branding Masuk Desa”. Kebetulan saya dan ibu memiliki usaha makanan ringan, dengan merek Mamah Intan yang sudah berjalan satu tahun. Makanannya ada kicimpring, permen jahe, keripik dan lainnya, kata Ayu. Dengan pelatihan brand/merek ini produk dan kemasannya harus dibuat semenarik mungkin. Agar konsumen lebih tertarik membeli produk saya. Selama ini dititipkan di Borma serta warung-warung di daerah Ciwaruga. Namun saat pandemi agak berkurang penjualannya (omsetnya). Maka kegiatan ini banyak manfaat, jelasnya.

  Sedangkan Iwan Mustawan, Camat Kecamatan Parongpong beharap implementasi program kerja sama dengan UTama bisa terus dilakukan secara berkelanjutan.   Diharapkan para peserta UMKM mendapat perhatian serius untuk pemajuan kewirausahaan mereka. Terutama dari berbagai disiplin ilmu terapan guna pertumbuhan ekonomi masyarakat lebih maju,” kata Iwan.

  Pembukaan dan kegiatan disaksikan Iwan termasuk dihadiri para Dekan UTama dari lima fakultas. UTama sangat mendukung kegiatan PKM DKV sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Kegiatanpun dilaksanakan atas kerjasama dengan Satuan Kerja Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan Budaya, dan Prestasi Olahraga Kementerian Koordinasi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). Dengan penyampaian misi mengenai bagaimana membangun sikap dan mental, diantaranya misi integritas, etos kerja dan sikap gotong royong. (UTama, 16 Des 2021)

.

Dit. Pembelajaran dan Kemahasiswaan – DitJen DiktiRisTek

Gelar Hibah Pusat Karir bagi PT Indonesia

D:\AMoveFromSATA27Apr12\DATALEEYys\DATALEE1Yys\LIRAHALI\(1)StafKHUSUSYYSAN\KOMUNITAbuletinMajalah\VirtualTour\NEWSLETTER1\KOMUNITAnew\Edisi#31KomunitaDes21JanFeb22\(1a)FotoHibahTracerStudy.jpg    Dit. Pembelajaran dan Kemahasiswaan berikan bantuan kepada 259 perguruan tinggi yang memenuhi syarat dalam pengelolaan tracer study. Pelaporan hasil tracer study tersebut dilakukan di Hotel Grand Hyatt, Nusa Dua Bali pada 5-7 Desember 2021 lalu. Kegiatan diawali dengan seminar internasional dengan pembicara utama Prof. Dr. Ir. Nizam M.Sc., DIC., Ph.D., IPU, ASEAN, ENG – Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi. Narasumber kedua Prof, drh., Aris Juanidi, Ph.D. – Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemdikbud dengan dibantu moderator oleh Ahmad Syafiq dan Sandra Fikawati dari Universitas Indonesia, Ied Sitepu dari Universitas Kristen Indonesia, Syarifah Iis dari Institut Pertanian Bogor, Ruddy J Suhatril dari Universitas Gunadarma.

  Sedangkan narasumber dari luar negeri yaitu Harald Schomburg sebagai President Ingradnet Kassel Germany, Rene Koiij sebagai INCHER University Of Kassel Germany, Silvia Amanda Demas sebagai Deputy Executive Director National Council Of Higher Education Namibia.

  Prof, drh., Aris Juanidi, Ph.D. mengatakan bahwa pentingnya pelacakan lulusan perguruan tinggi agar perguruan tinggi dapat mempersiapkan lulusan memasuki persaingan dunia kerja, selain itu perguruan tinggi dapat merancang kurikulumbberdasarkan umpan balik lulusan dan sebagai indikator kinerja utama pada perguruan tinggi.

  Di hari kedua kegiatan ini di isi paralel session dimana perguruan tinggi yang mendapatkan bantuan tracer study wajib mempresentasikan hasilnya. Kegiatan dibagi dalam 5 kelas dibantu koordinator wilayah pusat karir yang telah ditunjuk Kemdikbudristek yaitu Kusnandar dari Universitas Sebelas Maret, Pipin Sukandi dari Universitas Widyatama, Muhammad Arifin dari Universitas Muria Kudus, Sumanto dari Institut Teknologi Nasional Malang, Lisyan Tamara dari Universitas Surabaya, Dewi Bancin dari Universitas Sari Mutiara Indonesia, Elvi Rusmiyanto dari Universitas Tanjungpura, Ambar Kusuma Astuti dari Universitas Kristen Duta Wacana, dan Lastiko Endi dari Universitas Airlangga

  Dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UTama, Pipin Sukandi sebagai Koordinator Pusat Karir Wilayah Jawa Barat menjelaskan bahwa kegiatan sangat membantu perguruan tinggi dalam pelaksanaan tracer study. Saat ini khususnya Wilayah Jawa Barat kurang lebih baru 5% perguruan tinggi yang benar-benar menjalankan tracer study. Adanya bantuan dari Kemdikbud khususnya pelaksanaan tracer study, maka perguruan tinggi diharapkan serius melakukan pelacakan para lulusannya. Tracer study ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi terakhir lulusan dari perguruan tinggi tersebut baik dari jenis pekerjaan atau berwirausaha, kompetensi lulusan, keselarasan mendapatkan pendidikan dengan dunia kerja dan masih banyak lagi. (Inilahkoran, 5 – Des 2021)

.

#### 0 ####

E-Magazine-31

HIGHER EDUCATION: EMPOWERING GEN Z IN THE MIDDLE OF DIGITAL TRANSFORMATION AND THE VUCA ERA

0

.

HIGHER EDUCATION:

EMPOWERING GEN Z IN THE MIDDLE OF DIGITAL TRANSFORMATION AND THE VUCA ERA

  

  

  

Strong commitment and consistency in carrying out Digital Transformation is a necessity in responding to Industry 4.0. In this regard, building strong human resources through increasing knowledge, skills and character is very important so that their competencies remain relevant and agile in facing the challenges of the VUCA era (Volatility, Uncertainty, Complexity and Ambiguity). VUCA is a picture of the current global situation, which is triggered by the rapid advances in information technology.

Higher education is one of the levels of education and learning in preparing quality and resilient human resources. Therefore, the urgency to evaluate and adapt the higher education system through the development of a curriculum that is appropriate to the world of business and industry is a demand. This condition coincides with Generation Z / Gen Z with its own character who is currently entering higher education.

In the context of education, understanding the characteristics of each generation becomes important to determine how effective educational strategies are given to students. The goal is not only academic and pedagogical achievements, but also how the educational process is able to grow the character and love of students towards learning activities, as well as develop adequate competencies. Currently, most of Gen Z is in higher education. This means, the adjustment of the learning system in higher education spaces must consider the characteristics of Gen Z to suit their needs, as well as the business and industry world without compromising their interests and habituation as a generational group.

At the same time, Indonesia is in the period of the Demographic Bonus. The 2020 census shows that the composition of the Indonesian population mostly comes from Generation Z/Gen Z (generations born between 1997 and 2012) as much as 27.94% or 74.93 million. Meanwhile, the Millennial Generation which is expected to be the motor of the movement of society is currently less, which is 25.87% or 69.38 million of the total population of Indonesia.

Karakter Gen Z di Indonesia, Melek Teknologi dan Tidak Lihat Materi   This means that the existence of Gen Z plays an important role and influences the development of Indonesia today and in the future. This is certainly a challenge in the midst of uncertainty for higher education and universities which are the final terminal of education in building competitive human resources with competencies as needed. Today’s students are Gen Z with different characters from the previous generation. How universities respond to the growth and development of Gen Z and the VUCA era. Universities need to reflect on the character of Gen Z, as well as the phenomenon of shifting competence of college graduates in meeting the current and future world of work. Higher education is required to find itself, between the old paradigm and the new paradigm which is uncertain. However, it is certain that higher education requires reforms in the dimensions: pedagogy (Improved Basic Skills of Instructional Techniques and Applied Approach), curriculum, teaching, schools and learning in catalyzing a new paradigm of higher education which is required to contain research and innovation, solidarity, cooperation, character building, and entrepreneurship, so that higher education empowered to equip and strengthen the competence of graduates. So the new paradigm of higher education and teaching becomes important to be a point of attention.

We met two figures of higher education who have been struggling in the world of higher education for decades who have understood, interpreted, implemented, felt, and lived up to how to organize, manage higher education and educate generation after generation to emerge a superior and characterized generation figure. The last generation until now is Gen Z which coincides with the presence of this VUCA era.

.

CHANGING HIGHER EDUCATION PARADIGM

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

 

Prof. Dr. B. S. Kusbiantoro

Chair of the Central ABP PTSI Expert Council and Parahyangan Catholic University Foundation Management

.

  Pak Kus we call is a teacher who is patient, steadfast, humble, and trustworthy, that is the first impression on him. Our introduction to Prof. B.S. Kusbiantoro, Ph. D. It has been a long time since he started to be active in the Association of Indonesian Private Higher Education Organizing Bodies. We are very interested in his thoughts as the ABP PTSI Expert Board regarding higher education and university administration. We always listen to his thoughts and understand them. The climax was at the ABP PTSI National Working Meeting in Serang on 19 – 20 November 2021, we were moved by his presentation related to Competence, Collaboration, and Higher Education Innovation.

We contacted him asking for time to talk about Generation Z and Higher Education. He is very openly and humbly willing to share his views and thoughts on the topic, even though he is still in unstable health. Thank you Prof. B.S. Kusbiantoro, Ph.D. Here’s our conversation with him.

.

Komunita: What is your perspective on Industry – 4.0, as well as Generation Z who is currently pursuing higher education?

.

Prof. B.S. Kusbiantoro, Ph. D.: Industry 4.0 is synonymous with “competence” (in a broad sense) which is needed by the Business World and the Industrial World (DUDI) which is increasingly diverse and increasingly dynamic, including the existence of several new “competencies” that currently do not exist. For example, in 2030, in Indonesia there will be 10 million jobs that do not currently exist (McKinsey & Co, 2019), 60% of future jobs that do not exist now, 40% of children will have to be able to work independently – self-employed (WEF Future of Jobs Report, Krisnan, 2020).

These dynamics drive DUDI. First, DUDI is increasingly inclined to immediately accept graduates who are ready to work rather than ready to train (DUDI must be fast in producing/producing, time is increasingly limited/no time to train new workers); DUDI began to tend to give more weight to competencies (ready to work) than academic degrees (ready to train). Second, DUDI must be agile – it is impossible to continuously “expand its human resources” (beside the high cost), for this DUDI outsources to meet the increasingly large and high dynamics of changing competencies required. On the other hand, with the development of digital technology, it is possible for workers to work anywhere and anytime (spatially and temporally ‘free’), workers start working as part-time workers – multi-jobs etc. These two things give rise to the “Gig Economy”, namely DUDI tends to outsource workers, and workers also tend to be part-time/freelance/multi-jobs.

With the greater and higher dynamics of the above changes, students are required to learn continuously to prepare themselves with competencies and/or degrees accompanied by the required competencies, which will enable them to be ready to work (including as freelance workers) and/or work independently.

.

Komunita: What are the problems of higher education related to Industry 4.0 and Generation Z?

.

Prof. B.S. Kusbiantoro, Ph. D.: The world of higher education is characterized by increasingly large and high dynamics of changes in the “demand side” and “supply side” due to the greater and high turbulence of various disruptions (industry 4.0, pandemics, etc.),

The demand side as I mentioned above. On the supply side, there is the explosive development of Massive Open Online Courses (MOOC), the emergence of certification/non-degree higher education programs from several large corporations in the world that make it possible for students to be ready to work and more affordable (financially, time, etc.). With the bigger and faster changes mentioned above, the biggest problems of Higher Education are: first, the competence of graduates is not in accordance with the competencies needed by DUDI in the future; second, the study period, fees and so on are not competitive compared to the emergence of various higher education programs in other forms (MOOC, certification, etc.). As a note: higher education is generally developed based on the Industrial revolution, (especially industry 1.0 and industry 2.0), a.l. to service factories – mass production, efficiency, product standards, certain professions/specialties, etc. In turn, the competence of graduates does not match the growing and high dynamics of the need for DUDI in the current era of disruptive turbulence.

The above problems are compounded by various other problems, including: The low quality of many universities. The increasing national economic growth in the 1980s demanded the need for higher education graduates which could not be met by Public universities. This has led to the explosive growth of private universities, without strict supervision, which eventually led to various problems with the low quality of many universities. Next, “Rank”, accreditation and the like without quality. There is a mistake in determining rankings, accreditation and the like as the main goals that are prone to “engineering” for their achievement, and at the same time vulnerable to conflict with the noble goals of higher education. Ranking and the like should be a means in order to achieve the ultimate goal of higher education (related to the vision and mission of each university). Also, “Degree” without competition. The emergence of a kind of “new feudalism”, namely the pursuit of a title rather than “competence”, even Professor as a “position” is treated as the highest title.

.

Komunita: In the context of Industry – 4.0, and Generation Z, how do we interpret the 3 functions of higher education – (a. develop capabilities and shape the character and civilization of a dignified nation; b. develops innovative, responsive, creative, skilled, competitive, and academic academics. cooperative; c. develops science and technology by paying attention to and applying humanities values)?

.

Prof. B.S. Kusbiantoro, Ph. D.: In the VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity) era, it is increasingly crucial how to prepare students to be able to face the bigger and higher dynamics of change. Namely how the teaching-learning process (learning to know, learning to do, learning to live together, learning to be) that allows students, among others: First,continuous learning – ready to adapt continuously; Second, related to learning to know & learning to do (which are vulnerable to being displaced) – learning is not only limited to its “scientific field” (T-shape learning); Third, related to learning to live together & learning to be – learning is not only limited to curricular activities, including cross-scientific fields, but also combines with co/extra-curricular activities (study at other universities, internships at DUDI, humanities – discipline aspects, ethics, morals etc. – through dance, music, sports, etc.); Fourth, learn up to level 6 Bloom’s Taxonomy (so as not to be run over by intelligent machines); Fifth, learn about the diversity of superior human resources from various universities (student exchanges, etc.) – proud – love the homeland and so on; Sixth, how to involve students in integrated tridharma activities across scientific fields – including the harmony of science – faith – morals.

Through the teaching and learning process above, it is hoped that the 3 functions of higher education above can be achieved. Preferably with a few notes. First, the teaching and learning process of higher education for each university is expected to bring out the superior colors of higher education with related regional natural resources, to enable students to “learn” about the wealth/diversity of natural resources and human resources from various regions (don’t know – so don’t care, for increase pride/love for the homeland, etc.); at the same time as a real contribution of universities that are relevant to the community based on the problems/potential of the related regional natural resources. Second, we are in the Demographic Bonus era, so that the role of universities is very crucial in how the competence of graduates is in accordance with the competencies needed by the upcoming DUDI, among others, in order to prevent the Demographic Bonus from becoming a demographic curse. Third, but the role of Universities with their tridharma is not only to produce graduates who can have an impact on DUDI, but also to the scientific community (eg undergraduates prepared for masters-doctoral degrees), and also to the general public (eg to work in social institutions, heritage, environment, etc.).

.

Komunita: Does the orientation of higher education need to be changed or does it need a new vision? Where is the focus of orientation? Is it in tune with “Merdeka Learning – Independent Campus”?

.

Prof. B.S. Kusbiantoro, Ph. D.: In the VUCA era – instead of being stuck chasing rankings/accreditation etc. – susceptible to change/shift etc. – should – back to basics – what is the vision – the real contribution of higher education with its tridharma (education and teaching, research and community service) for the community. Namely for; a) contemporary society (DUDI, scientific community, general public); b) future society (the natural environment which is entrusted to future generations, etc.); c) past communities (artificial environment with historical value which is the heritage of ancestors, etc.) both at local, national, global levels. While the direction/spirit of MBKM is “right” (soul with the teaching and learning process above), with notes that the implementation should not be too detailed/rigid with too many administrative burdens etc.

.

Komunita: The factual and concrete efforts of Higher Education as higher education institutions, as well as lecturers as educators to realize the three functions of higher education in the midst of digital disruption, as well as equip Generation Z to meet their future?

.

Prof. B.S. Kusbiantoro, Ph. D.: Duties, responsibilities, authority of the Foundation as the organizing body (together with the Higher Education as the managing body) to establish a vision – a real contribution to the community, etc. Duties, responsibilities, and authority of higher education institutions to produce the quantity and quality of students who are able to have that impact; prepare funds or carry out related teaching and learning processes (the required processes), and the Foundation (with Universities) prepares what is needed for all of them (the needed inputs). For example: a) for the teaching and learning process, lecturers with certain “competencies” are needed, how this is prepared and so on. – in related capacity building programs and their budgets and so on. b) for the teaching and learning process, what kind of supporting infrastructure is needed, and so on. c) etc. Based on the above, a Strategic Plan and so on are drawn up.

.

Komunita: How is the development related to major’s/study programs, competencies, curriculum, models & learning substances and others in equipping Gen Z so that they are able to be independent or match the world of work?

.

Prof. B.S. Kusbiantoro, Ph. D.: On the one hand, the study program demands the fulfillment of related scientific competencies. On the other hand, in the VUCA era, students must be equipped with various “other” competencies (T-shape learning, etc.), including co/extra-curricular activities (in order for students to be ready to anticipate the greater and higher dynamics of change, including the possibility of shifting competence of related study programs).

This is of course a homework for each university to harmonize the above. In addition, the regulatory system should also be clear enough to allow each university to make the alignment.

.

Komunita: Expectations and messages to the government, leaders of PTS Private Universities, lecturers and students, as well as parents in order to provide the right learning for Gen Z?

.

Prof. B.S. Kusbiantoro, Ph. D.: Indeed, we need to observe and interpret the dynamics of this change with the following points.

• Parents’ questions for students and/or questions for students themselves are: what kind of contribution do you want to contribute to society (eg, in the field of renewable energy, environmental conservation, etc.), and don’t want to be in the top 10, or want to become a “profession” certain, etc. Because rankings, professions, etc., are vulnerable to being displaced by new competencies that don’t exist yet, but will exist.

• For Foundations/Universities – what kind of contribution do you want to contribute to society (and don’t want a top 200 ranking/international accreditation etc. Ranking etc. is a means to achieve goals etc.). Furthermore, how does the Foundation/University prepare what kind of learning process and various inputs are needed; including how lecturers prepare themselves for the teaching and learning process.

• For the government, how to enable universities to “to be themselves, but better, better, and better” and so on. with the notes as described in the previous points. (lili_irahali – November 23, 2021)

.

CREATE HIGHER EDUCATION EXCELLENT CHARACTER

Prof. Dr. Endang Komara, M.Si.

Chair of the LLDIKTI Region IV Professors Association

Professor of Civil Servant LLDIKTI Region IV Dpk – STKIP Pasundan, and Chair of the Senate of the University of Nurtanio Bandung.

  Prof. Endang – professor of Sociology of Education is an enlightening figure who encourages students to always achieve education as a necessity. “Life Long Education”, lifelong education, education regardless of age is what is always echoed to students and anyone else. We became acquainted with him when he was in the ABP PTSI West Java organization, as well as our teacher.

  We contacted him asking for time to talk about Generation Z and Higher Education. He was spontaneously willing to provide views and perspectives related to the topic. Here’s our talk.

Kami menghubungi beliau mohon waktu berbincang tentang Generasi Z dan Pendidikan Tinggi. Beliau dengan spontan bersedia memberikan pandangan dan perspektif terkait topik tersebut. Berikut bincang-bincang kami.

.

Komunita: How is the perspective of Prof. Endang as an educator responds to Industry 4.0 related to Generation Z?

.

Prof. Endang Komara: I tried to formulate two concepts to equip generation Z/Gen Z in the midst of industry 4.0. First, based on the results of the 2020 census, there are 6 (six) generations in Indonesia, namely: the veteran generation (those born in 1925-1946), then the second generation – baby boomers (born in 1946-1960 around 21.88% of Indonesia’s 272 million population). , third – generation X (born in 1960-1980 there were about 21.88%), fourth – Generation Y or millennial generation (born in 1980-1995 aged 24-39 years, around 28.87% or 69.39 million people), and fifth – Generation Z (born in 1995-2010 aged 8-23 years, there are 27.94% or 75.49 million people and is the largest generation today), and finally the sixth – Generation Alpha (born in 2010- and above). Generation Z is also known as the Net Generation or Internet Generation. They have similarities with generation Y, but they are able to apply all activities at one time such as tweeting, using a cellphone, browsing with a PC, and listening to music using a headset, whatever they do is mostly related to cyberspace since childhood, they already know advanced gadget technology. which indirectly affects the human personality.

  The characteristics of the first Generation Z are fluent in technology/kids safe/web safe or Friendly generation. They are a digital generation who are proficient and passionate about information technology and various computer applications. They can access the information they need easily and quickly, both for educational purposes and for other daily life purposes. Second, their social aspect is very intense in interacting through social media with all groups, especially peers, through various networking sites such as Facebook, Instagram, Twitter, SMS. Through this media they can express what they feel and think spontaneously. Third, Expressive, they tend to be tolerant of cultural differences and are very concerned about the environment. Fourth, multitasking, they are used to various activities (watching, reading, talking, or listening to music) at the same time. Fifth, quickly switch from one thought/work to another thought/work or fast Switcher. Sixth, happy to share.

The industrial revolution 4.0 is a phenomenon that collaborates cyber technology and robotic technology, the concept of applying technology automation without the need for human labor in the process of applying it to add value to efficiency in a work environment where time management is considered as something vital and much needed for industrial players. The industrial revolution 4.0 utilizing technology in the industrial sector is a bookkeeping and production process that can now be easily accessed by anyone and anytime.

The industrial revolution 4.0 contains nine main pillars of technology that develop an industry towards a digital-ready industry. First, the Internet of Things (IoT) which is a tool that is connected to the internet and is integrated with each other; second, Big Data, which is a term that describes a large volume of data, both structured and unstructured; third, Argumented reality, which is a technology that combines 2Dimensional or 3Dimensional virtual objects into a real 3D environment and then projects these virtual objects in real time; fourth, Cyber ​​Security, namely efforts to protect information from cyber attacks; fifth, Artificial Intelligence, namely several technological products that interact directly with humans; sixth, Addictive Manufacturing is a new breakthrough in the manufacturing industry which is often known by using 3D principles; seventh, Simulation represents its operation from time to time such as technology simulation for work optimization, techniques such as safety simulation, testing, education, training, video games; eighth, System Integration; ninth, Cloud Computing, namely cloud computing that makes the internet a center for data processing and applications.

Then the results of a survey by the Indonesian Information Service Providers Association (APJII) in 2017 showed that around 143.26 million Indonesians use the internet. Law No. 11 of 2008 concerning Information and Electronic Transactions (ITE), and Law No. 40 of 2008 concerning the elimination of racial and ethnic discrimination and actions when hate speech has resulted in social conflict. A person’s motives for causing Hoaxes can vary due to money, politics, ideology, hatred, or just for fun.

Therefore, Gen Z needs to know the ethics of using social media. First, don’t get personal. Second, avoid dirty words, coachman debate, incitement, lies, and negative opinions. Third, don’t spread pornographic content and SARA (I heard on national radio this morning, you can’t show pornographic images on Facebook or other internet platforms, you will be penalized). Fourth, sharing (before sharing it must be in accordance with the ITE Law). Fifth, do not plagiarize (Copyright Law). Sixth, Understand the comprehensive content. Seventh, Opinion with facts and data. Eighth, it is not allowed to use pseudonyms (UU KUHP Article 378).

.

Komunita: The world of education is experiencing problems in dealing with Industry 4.0 and the presence of Generation Z. Where is the most crucial thing?

.

Prof. Endang Komara: In my opinion, there are 3 issues with education at the Elementary, Middle, or Higher Education level, there are: 1) equity; 2) quality improvement; 3) Competitiveness. In this regard, Industry 4.0 and equipping Gen Z is how to create superior characters in higher education with six key words.

First, freedom in learning. At the Higher Education on the Merdeka Campus – Merdeka Learning which has three measures, namely: through Blended learning/hybrid learning, PJJ, and the implementation of Permendikbud No. 3 of 2020, where students are given the right to study outside their study program for 3 semesters, 1 semester in their Higher Education and 2 semesters outside their Higher Education.

Second, leadership development. Need coaching and conveying an understanding of leadership. Because Gen Z who were born from 1995 – 2010 means that they are now almost 21 years old and entering College. So leadership must be introduced to them. Especially when it comes to ideal leadership. Whoever gives a rating, Rasulullah Muhammad will definitely be given the first rank because he is Rahmatan lil alamin and has the character and character of shiddiq, tabligh, amanah, fathonah. That’s what I think was introduced to them in the hope that in the future they can become such leaders.

Third, Lecturer Assistance or Lecturer Motivator. In Indonesia, there are no less than 4,300 universities, 200 of which are state universities. It means that PTS is so big. There are even around 1,650 private universities that are indicated to be “unhealthy”. If you look at China, the number of universities is around 2,300 (half of Indonesia). In my opinion, the mentoring of lecturers is one of those efforts, so that universities, especially in West Java and Banten, can improve their quality. To date, only five institutions already have Excellent Accreditation (UNPAS, UNISBA, UNPAR, U-Tel, President University). Hopefully, Widyatama University and ITENAS will have the opportunity to get Excellent Accreditation in the future. That is related to Lecturer Assistance or Lecturer Motivator.

Fourth, General Education, where students are given national insight. It includes Pancasila, the 1945 Constitution, Bhineka Tunggal Ika, and the Unitary State of the Republic of Indonesia. And I think this General Education should be given in the first semester. When they have an introduction transition between high school and college, that’s where the event is. So state defense education, including national insight, must be delivered. With the hope that they become the younger generation who have four national paradigms.

Fifth, the government encourages an entrepreneurial mindset for higher education. So it is not wrong if in higher education every study program between 2-4 credits has an understanding of the entrepreneurial mindset, so that after graduation their life demands will not only be civil servants. The mindset of understanding entrepreneurs is built. When compared to neighboring countries, Indonesian entrepreneurs are still low at around 0.2%, compared to Malaysia, Singapore, Korea (already above 5% of the total population).

  Sixth, lifelong learning. In accordance with the demands of the hadith and philosophy of education that the search for knowledge has no age limit, as long as he can still carry out his activities, he must always improve his professionalism. There are three main keys to improving professionalism, there are: First, following further education (participating in workshops (training); second, being able to create various written works; third, there is innovative work.

In my opinion, the three things above are to be able to create superior characters. Next, character strengthening in Higher Education, Primary Education, and Secondary Education, which includes six things.

• Computing thinking, how students can think quickly. If in the taxonomy there are high order thinking skills (HOTS), there are low order thinking skills (LOTS). LOTS from knowledge, understanding, application. Meanwhile, high order thinking skills (HOTS) start from analysis, synthesis, assessment. The hope is that through computing thinking, students can think quickly and make decisions quickly.

• Creative, it is very impossible to be creative if he does not have intellectual intelligence, creativity at the same time to be able to support something new.

• Critical Thinking, must be able to think critically. If you think critically, the dimensions will certainly affect the length of school people in Indonesia (to this day, the length of schooling for Indonesians is 8 years and 3 months), junior high school has not yet been completed. West Java is still under the National.

• Collaboration, now there are no boundaries or barriers between one continent, one country. So that means you can use it to collaborate.

• Communications.

• Compassion (Character), according to Ki Hajar Dewantara the ending of Education is Character. This character always has to color the pattern of education in Indonesia, both for Elementary, Secondary and Higher Education.

.

Komunita: There are around 4,300 Universities, can Private University implement them? How to deal with it?

.

Prof. Endang Komara: I take the clustering or ranking of Higher Education by looking at 4 indicators. First, HR (in Higher Education the size is Head Lector, Professor, Doctor). When a university doesn’t have many head lecturers or professors, then don’t expect too much “from very good to excellent”. Likewise, with institutional accreditation. West Java Banten has 27,000 lecturers. Half of them do not have a lecturer certification, nor do they have a lecturer academic position. Even though the submission of academic positions for lecturers can now be online (Higher Education is given time from the 1st to the 15th, from the 15th onwards the LLDIKTI assessment process is usually done). This is something we should always pay attention to. Currently, the measure of the brand image is indeed the Head Lecturer and Professor.

Second, scientific publications, in 2021 Indonesia can beat Singapore and Malaysia. The ones that publish the most international journals are India, China, South Korea, Japan, Indonesia (ranked 5th, but ASEAN is ranked first). Now Indonesia’s position is in the 50,000’s, while Singapore and Malaysia’s 30,000’s). Well, in my opinion, scientific publications should always be the main reference. This means, the Chancellor, Director, or Chair, must always be able to encourage Lecturers, whether they publish SINTA accredited national journals, or reputable international journals.

Third, how much Lecturer can be utilized outside of the Tertiary Education Institution, either internally within the Ministry of Education and Technology or outside it (to be the center of assessment now). Like me, it has been almost a year with some of the Professor’s friends being the expert staff of the Deputy Governor. At least we can give various thoughts for the progress of West Java, especially in the education aspect.

Fourth, the quality of student achievement. In the past, it was possible in various aspects, now you have to report to Belmawa – DIKTI all activities must be uploaded it.

  Clustering and ranking are always the main references, so in my opinion these four things should be improved. According to Imam Ali, if today is the same as yesterday, it is a loss, the lucky person today must be better than yesterday, and the day that will come.

.

Komunita: How about the orientation of the university itself in responding to the above. Is it necessary to change the new vision of Higher Education in general?

.

Prof. Endang Komara:  In my opinion, there are three classifications of Universities in any part of the world: Learning University, Research University, World Class University. If I mapped the College there are 4,300 in Indonesia (in West Java there are about 387 universities) and we are still 89% at the Learning University level, meaning that we think from Tridarma higher education, the teaching aspect is more dominant.

If we at Lecturer Colleges who have passed accreditation (Serdos) there are BKD LKD, so they should not be less able to implement 12-16 credits. If the distribution of 12 credits should be 6 credits for teaching education, 3 credits for research, the rest for community service and social support. Lecturers should not think only of teaching education, but also carry out research. Currently there are at least 3 research grants: basic research, applied research, and development. If basic research is usually the output of a journal, applied research is required to produce a book, and develop intellectual property rights/patent rights. So if the Higher Education is in the position of Learning University, the lecturer should carry out the above.

How to increase ranking from Learning University to Research University? If ITB and UNPAD now have classes there, many of the lecturers are involved in research grants (both from the government and other agencies).

Then, World Class University is even more ideal. So the point of the Merdeka Campus is that when students graduate from university they will no longer stutter, either towards technology or the share of work (the world of work). They’re already transmitting. Their size is good graduates between 3 – 6 months after graduation (for S1 and D3). If for S2, the average is advanced studies, so they don’t have that size.

Utilization of independent learning for higher education national curriculum standards there are 8 standards: process standards, lecturers, infrastructure, financing, etc. That’s always something to watch out for. I am a former Chancellor in 2014-2018, so I really understand how to manage a university so that more transparency and accountability. I think that’s what our universities must always maintain.

.

Komunita: More specifically, the factual efforts of Higher Education, for the three classifications of Higher Education, earlier. What should university leaders prepare?

.

Prof. Endang Komara: Higher Education has a Strategic Plan, Statute, Renop, Annual Budget, always it must be a measure in the progress and assessment of the Higher Education assessment. Let’s say that when I became Chancellor I had around 200 lecturers. Almost every year, around 30-50 people send lecturers to school (whether scholarship or not). It is not easy, we open cooperation with various universities that open doctoral degrees, both state universities and private universities. If they participate in scholarships for Doctorate, usually below 40, if for Masters below 35. If they don’t get a scholarship from the government, we will help and try to the best of our ability even though it is not totally assisted, but it must be mapped.

Later in the next year or so, the orientation will have to be Doctoral, one of which mandates Teachers and Lecturers to achieve Education Strata is Law No. 14 of 2005 concerning Teachers and Lecturers. Teaching S1 must be a Master (S2), Postgraduate must be a Doctor or Professor. After 15 years, it is certain that in the future there will be more changes. I encourage Lecturers to become Doctors in the next few years.

In addition to human resources are considered, as well as publications. Because what can boost the ranking and clustering of universities is Lecturer scientific publications. I appreciate what Widyatama University is doing. Students do not have to have a thesis, a final project can also be published in a reputable journal, so that in this way it can boost the ranking and clustering of universities.

.

Komunita: Industry 4.0 linkages that allow new jobs to emerge. How Universities should develop new study programs, new curriculum, and links with it. While the public’s interest in study programs has not changed, is it different from the industry that is required to adapt quickly?

.

Prof. Endang Komara: I think that in this academic year the Independent Campus has been implemented, where students have the right to study for 3 semesters of lectures (Universit alone or outside the College This is an opportunity).

The analogy goes like this: so far, students are good at swimming in their own pools, when they were on campus they would have understood. But when the pass is released in the ocean/ocean, you will no longer remember how to swim in which style. This means that skills are required, so there are 8 choices at the Merdeka Campus, which must always have cooperation from both universities and industry. If cooperation has been opened, let’s say they were given theory at the beginning, then in semester 3 & 4 they must be released (there is an opportunity to be able to study outside of Higher Education) with the assumption that they will not be surprised again.

Sometimes it’s like this, if the equipment in the campus laboratory is still old school, when he enters the industry the equipment is more sophisticated/modern, so if he works there must be more training, well that’s one of the obstacles. At least if there is freedom to learn, at least you can use the concept of link and match. Do not until now there is a gap between industry and universities. That way, there will be something new.

Students may not be released, there must still be a accompanying lecturer/supervisor so that their progress can be seen. It is hoped that in the next few years our students’ skills will be able to be better competitive, including the lecturers. Incidentally, I am a Senate at Nurtanio University, we have 3-4 universities, one of which is Stikes, uniquely for example a student taking D3 or D4, say he has a problem with the SPP aspect then he stagnates, then sent to Japan in collaboration with industry in Japan and then can get wages in over 10 million for 5-6 months. But still don’t let go, there must be a supervisor for the supervisor, but not the same lecturer all the time. In this way, there is minimal input from industry to universities.

The curriculum needs a review of 2-5 years. Now in primary and secondary education, the curriculum for driving schools is known. That’s only in 2,500 schools (both teachers and principals have already conducted teacher training for movers). In the 2021/2022 school year, the driving school curriculum has been implemented, the point is that it must adapt to the world of education and industry. For universities, the name is a bit strange, it’s called a collaborative curriculum because it will have to cooperate with the industrial world. Now it is still a competency-based curriculum that has the character of KKNI.

.

Komunita: From the aspect of curriculum development, we have not seen any initiatives from universities to anticipate industry 4.0. Only a few universities create new study programs oriented to meet the needs of the industrial world.

.

Prof. Endang Komara: Actually, the policy of the Ministry of Education and Culture for the last 5 years that can be opened is STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) outside of that it is not allowed, except to open a Faculty of Medicine in the deepest/underdeveloped areas. Apart from STEM, there is still a moratorium. Moreover, in January 2022, Kemendikbudristek will not pass a new university or new study program.

In order not to be abandoned by the community, there must be a curriculum review of at least 2 years. Because the industrial world is already ahead, the curriculum is still lagging behind, that’s why adaptation is needed. When he graduated, for example, when X entered the industry, he met Y, now that would be weird. In reviewing the curriculum there are 4 components that must be involved: stakeholders, alumni, lecturers, students (4 these components must be involved, so as not to be left behind). If left behind usually people are not interesting anymore. That’s why the existing study programs make an update, there needs to be imaging and benchmarking both regarding students, infrastructure, and lecturers. Usually people’s perceptions are stronger than other assessments/information. In my opinion, reviewing the curriculum in higher education should become a routine that is carried out so as not to be abandoned by the university user community.

.

Komunita: Regarding higher education governance, there are 2 important things: governance itself and the element of leadership. One message Prof. for educational institutions, students, Organizing Body, and leadership.

.

Prof. Endang Komara: That’s right, don’t auto pilot (run alone), don’t be in your comfort zone. A leader must have creativity and innovation. From very good to superior, it must be above the 8 standards, both from the managerial side, the lecturer. Especially now that the pandemic has been going on for 3 years, testing lecturers online (limited offline), virtual lectures, also virtual tutoring. It must be done because the lecturer functions as a facilitator and motivator. Never hinder our students, because I firmly believe that when students write/do assignments, they definitely need to ask questions and as a Lecturer, they really need to direct them.

  Education is not only the responsibility of the government. There is an Organizing Body, Implementing Lecturers, students. This trilogy must become a single unit so that there is cohesiveness and clustering of higher education institutions. So, first, Universities need to be strengthened both internally and externally; second, the increase in human resources cannot be delayed because it already exists in the global realm, moreover, technology is getting faster, communication is getting more global. if we do not prepare Qualified Resources we cannot play in the global realm. A person for success who relies on soft skills is only 30% (good campus interactions, good GPA, good campus achievements, campus organizational interactions), the remaining 70% is hard skills (responsibility, honesty, he increases faith in God, synergizes with the surrounding environment, cares about against others). Between soft skills and hard skills, it is unavoidable to pay attention to, they have always been an important reference in higher education. That’s why in Universities now there is such a thing as IKU, namely the Main Competency Indicators, which must always be implemented.

According to John Naisbith, globalization means “Think globally, act locally”. It means to think globally universally but must have the character of Indonesian people with eastern customs, religion, responsibility, honesty, discipline. It always has to be introduced and implemented in our Universities. This is so that they have pride in their lives, families, nations and countries. We have faced an election of 120 million consisting of generations Z and Y. They must be equipped, not transactional. Because they are future leaders. As long as honesty is put aside and prosperity is still lacking, don’t expect this nation to be better than today. Soft skills and hard skills should still be the main reference. Soft skills are academic, and hard skills (non-academic). One of the concepts of learning in 2021 is collaborative, you cannot live in a global world but live alone.

(lili_irahali – October 25, 2021)

(Rewrite & Interview: Lili Irahali – Audio to transcript: Intan Liswandini)

INDONESIA DEMOGRAPHY BONUS & UNDERSTANDING INDONESIAN “GENERATION Z”

0

INDONESIA DEMOGRAPHY BONUS & UNDERSTANDING INDONESIAN “GENERATION Z”

.

Karakter Gen Z di Indonesia, Melek Teknologi dan Tidak Lihat Materi     The Demographic Bonus Theory is a theory that connects population dynamics with the economy. The less number of non-productive age population that must be borne by the productive age population will have an impact on better economic growth. The potential for the Demographic Bonus is reflected in the change in the Dependency Ratio (RK), which shows the number of children and the elderly (non-productive) compared to the working age (productive) population.

  Indonesia is in the Demographic Bonus period. The 2020 census shows that the composition of the Indonesian population mostly comes from Generation Z/Gen Z (generations born between 1997 and 2012) as much as 27.94% or 74.93 million. Meanwhile, the Millennial Generation, which is the motor of the movement of society, is currently less than 25.87% or 69.38 million of the total population of Indonesia.

  The existence of Gen Z plays an important role and influences the development of Indonesia today and in the future. Currently, some of them have entered the university level. This is certainly a challenge for higher education and universities which are the final terminal of education in building competitive human resources with competencies as needed. How universities understand and respond to the growth and development of Gen Z.

.

Recognizing and Understanding Gen Z

  The United Nations Population Fund (UNFPA) formula states that a country can enjoy a Demographic Bonus when everyone enjoys good health, quality education, decent work, and the independence of young people (productive age) combined with good and appropriate state policies.  

  Optimization of the Demographic Bonus that will be played by Gen Z should not be underestimated. This means developing their potential from now on, through understanding Gen Z and their character, preparing an adequate education system and model, and opening up opportunities for them in the world of work and industry.

Referring to the 2020 national census Prof. Dr. Endang Komara, M. Si describes 6 (six) generations of Indonesians. First the veteran generation (born 1925-1946), then the second generation of baby boomers (born 1946-1960) around 21.88% of the 270 million Indonesian population), the third generation X (born 1960-1980) around 21.88 %, the fourth Generation Y or millennial generation (born in 1980-1995, aged 24-39 years) around 28.87% or 69.39 million people, and the fifth Generation Z (born 1995-2010, aged 8-23 years). ) there are 27.94% or 75.49 million people who are the largest generation today, and the last one is Generation Alpha (born 2010 – above). Related to this composition, in the future Gen Z will hold an important war if they are productive, capable and empowered human resources.

Gen Z is also known as the Net Generation or Internet Generation. They have similarities with Generation Y, but they are able to apply all activities at one time such as tweeting, using cellphones, browsing with PCs, and listening to music using headsets. Whatever is done mostly related to the virtual world. Since childhood, he has known advanced gadget technology which indirectly affects the human personality. Experts state that Gen Z has very different traits and characteristics from the previous generation. This generation is labeled as a boundary-less generation.

  Based on research from 2003 to 2013, Bruce Tulgan and Rainmaker Thinking, Inc. in the article “Meet Generation Z: The Second Generation within The Giant Millennial Cohort” found five main characteristics of Gen Z that set it apart from previous generations. First, social media is a picture of the future of this generation. Gen Z is a generation that has never known a world that is completely alienated from the existence of other people. Social media proves that one can talk to anyone, anywhere, anytime. Social media is a bridge over alienation, because everyone can connect, communicate, and interact. Second, that Gen Z connectedness with other people is the most important thing. Third, skills gaps are possible in this generation. Therefore, efforts to transfer skills from previous generations through interpersonal communication, work culture, technical skills and critical thinking must be intensive. Fourth, Gen Z explores and connects with many people in various places virtually through an internet connection. This causes their experience of browsing geographically, to be limited. However, their ease of connecting with many people from various parts of the world causes Gen Z to have a global mindset. Fifth, Gen Z’s openness to accept various views and mindsets, causing them to easily accept diversity and different views on a matter. However, as a result, Gen Z becomes difficult to define itself. The self-identity that is formed often changes based on various things that influence them to think and behave towards something.

  Ernest & Young’s (2015) study mentions that there are five main character differences between Gen Y and Gen Z. The study indicates that the background of the birth of Gen Z in a recession filled with turbulence, makes Gen Z grow into a generation that has self-awareness and independence. Gen Z is identified as a generation that is innovative and productive, as well as goal-oriented and has a realistic perspective. The survey also revealed the fact that 62% of Gen Z have a preference for starting their own business compared to working in an organization. This is due to Gen Z who have a high entrepreneurial spirit and tend to be ambitious, and are interested in finding solutions to the problems they face (Galih Painri, 2021).

Ryan Jenkins (2017) in an article entitled “Four Reasons Generation Z will be the Most Different Generation” states that Gen Z has different expectations, preferences, and work perspectives and is considered challenging for the organization. Gen Z characters are more diverse, global in nature, and have an influence on the culture and attitudes of most people. One thing that stands out, Gen Z is able to take advantage of technological changes in various aspects of their lives.

Meanwhile, the McKinsey (2018) study divides Gen Z behavior into four major components based on a strong foundation that Gen Z is a generation that seeks the truth. First, Gen Z as “the undefined ID”. They value the expression of each individual without giving a specific label, have a great openness to understand the uniqueness of each individual. Second, Gen Z as “the communaholic“. They are very inclusive and interested in engaging in various communities by leveraging advanced technology to expand the benefits they want to provide. Third, Gen Z as “the dialoguer”. They believe in the importance of communication in conflict resolution and change through dialogue. They are also open to the different thoughts of each individual and enjoy interacting with diverse individuals and groups. Fourth, Gen Z as “the realistic”. They tend to be more realistic and analytical in their decision-making, compared to previous generations. They are a generation that enjoys independence in the process of learning and seeking information, thus making them happy to be in control of the decisions they choose (Galih Painri, 2021).

However, Gen Z’s proximity to technology is not always an advantage. O’Connor, Becker, and Fewste (2018) research in the world of work entitled “Tolerance of Ambiguity at Work Predicts Leadership, Job Performance, and Creativity” found that younger workers show a lower capacity to deal with environmental ambiguity than older workers. The younger generation is accustomed to expressing a desire for things that are novelty, including in fields of work that are more challenging. They do not have the skills and self-confidence to manage the environmental uncertainty that often occurs so they tend to be more anxious.

Moreover, Gen Z was born and raised in overprotective upbringing in the midst of an uncertain world. Economic recession, digital transformation, invasions in several countries, natural disasters, and also disease outbreaks. This then causes in adulthood; Gen Z becomes less tolerant of environmental ambiguity because childhood is too protected. The American Psychological Association research cited by Media Literacy for Digital Natives: The Gen Z Perspective in Jakarta (2018) confirms these findings. The ability to manage stress and achieve a healthy lifestyle decreases with each generation. If this phenomenon continues, then in the future, Gen Z will be the most stressed generation in history. This condition is also related to the character of Gen Z who has no boundaries with other individuals, thus allowing them to be easily unstable when receiving exposure to information and conditions that quickly change and are completely random (Diyan Nur Rakhmah, 2021).

.

Educational Transformation

  David Stillman and Jonah Stillman (2017) identify Gen Z characters in their book Gen Z at Work: How The Next Generation is Transforming the Workplace in the seven main Gen Z characters, namely: figital, fear of missing out (FOMO), hypercustomization, driven, realistic, Weconomist, and do it yourself (DIY) which of course provides input on how education needs to transform.

Figital Fictional. Generation Z exists in two worlds, namely the real and virtual worlds. Their personalities can be very different in the virtual world than in real life. In real life, you may look like a quiet child, but you can turn into a talkative child on social media.

This will be the basis for educators to determine the appropriate learning method used. Educators must also become more accustomed to using various learning facilities through digital technology, so that students can remain active and connected in learning in various learning conditions. Educators also need to be more open to the addition of new lexicon as media and learning tools. This can be in the form of visuals, videos, or even certain symbols that aim to improve the quality of communication between students and educators. Educators need to be more creative in finding and implementing figital solutions to enhance and spread a learning culture.

  FOMO (Fear of Missing Out) characters. Generation Z is very up-to-date with everything that is happening around them. They can skip eating activities or even be willing to sleep for short hours, in order to always update the news on social media so they don’t miss everything they think is important. They have a high curiosity about various things, especially new things. Students are encouraged to know various things from information sources that are scattered and easily accessible today. In this case, education needs to be an open medium and accommodate various information needed by students not only on matters related to learning, but also life skills. Education needs to be able to curate any information that is indeed useful for students, and which is not. Teacher competence becomes very important in terms of accuracy.

Hypercustomized Character. Generation Z loves to make modifications to the things they have, such as motorbikes, laptops, and even the clothes they wear. This they do to show their identity by means of free expression.

Learners become accustomed to determining what needs they need and need to get. Their activity of surfing in cyberspace, is part of the way Gen Z fulfills their needs for themselves. In the context of education, giving students the freedom to determine how to learn is a necessity. Teachers are required to be able to personalize learning methods for each student, and provide students with more opportunities to find learning resources outside of school activities. The hypercustomization character causes students to become accustomed to criticizing many things around them, including providing input on the learning media that they have been using. The convenience of learning is paramount to Gen Z.

Driven Character. 72% of Gen Z feel competitive with people who do the same job, this proves that Gen Z is very motivated to be the best. Teachers need to encourage various media that are able to accommodate the diverse potential of students, without directing efforts to compare students with one another. Learners need to be more appreciated and make this practice an inseparable part of the reflective efforts of all parties in improving the quality of learning.

  Realistic Character. Gen Z is a generation that has high aspirations, because they are aware that this is not something that cannot be done in this modern era. They can be whatever they want. But in fact, the freedom to dream that you have also still prioritizes the reality that might happen. They are also aware of their limitations, threats, and challenges in the outside world.

Weconomist character. Gen Z is familiar with the concept of ‘sharing economy’, which is a business concept that can provide access to resources owned by people or companies to be consumed or shared with users. Examples include applications such as Grab, Uber, and Gojek. Gen Z prefers group activities and is always connected to their peers. This character can be facilitated by the application of a learning approach that involves more than one student and conditions for collaborating with each other in completing the given learning tasks. Project-based learning approaches and the like will make students accustomed to working with groups and sharing information in them. Learners need to be closer to each other, to be able to learn from each other and provide input with their community (peer review), while still placing the teacher as a learning facilitator. Exploration activities of students also need to be turned on through various conversations/discussions between them.

DIY (Do It Yourself) Characters. Gen Z prefers to do things on their own. Gen Z’s typical lifestyle doesn’t need special schools to help with daily life, because they have Google and Youtube, which contain various things that can be directly imitated, such as looking for recipes to cook something, repairing electronics, even how to cut. hair they can do themselves.

Developing the characters above, teachers need to build learning with diverse approaches to encourage students’ creativity in many ways. The internet is more directed towards teachers as a source of information and inspiration to improve the life skills of students. The learning process must be independent, democratic, and open a wide area for the creation and discovery of new things in learning. Teachers need to create a learning climate that is able to build self-regulation in students. They also need to be more realistic about their life and future. Teachers also need to openly convey opportunities, challenges and obstacles that might make them need more effort to achieve their dreams. With these various efforts, education is expected to be able to provide input on rational things that Gen Z needs to do in their lives, now and in the future (Diyan Nur Rakhmah, 2021).

  A study conducted by Forbes (2018), 77% of Gen Z feel stress at work caused by their perception of a highly competitive work environment, long working hours, and tight deadlines in completing work assignments. However, Gen Z has a strong work ethic in pursuing their careers and will strive to ensure that they contribute well to the organization (Bucovetchi, et al, 2019).

Meanwhile, a survey conducted by Kronos Incorporated (2019) found that 33% of Gen Z out of 3,400 respondents spread across various countries did not only value flexibility in the workplace as an important thing, but also an essential need. Interestingly, the survey found that Gen Z was not very confident about entering the workforce and the need to work long hours was a determining factor. Not only that, Gen Z worry about their ability to succeed in the world of work. At least, there are three emotional barriers experienced by Gen Z that create distrust of themselves professionally, including anxiety (34%), lack of motivation (20%), and low self-esteem (17%).

Gen Z is known as a creative and innovative generation. A survey conducted by Harris Poll (2020), illustrates that as many as 63% of Gen Z are interested in doing various creative things every day. This creativity is also shaped by Gen Z’s activity in the community and social media. This is relevant to a number of studies which identify that Gen Z is a generation that is closely related to technology (digital native). As they were born in the era of smart phones, grew up with the sophistication of computer technology, and have an openness to internet access that is easier than the previous generation. In fact, the survey explains that Gen Z in Indonesia in particular, occupies the highest rank in cellphone use, which is 8.5 hours per day (Kim, et al, 2020). Interestingly, even though Gen Z is known as the digital generation, 44% of Gen Z prefer to work with teams and co-workers face to face.

Basically, Gen Z is a unique generation and has tremendous potential inside. In Indonesia, in particular, Gen Z was born in a period of severe economic crisis and presents its own challenges for parents to raise this post-millennial generation in difficult times. Anxiety experienced by parents, without realizing it, also influences the formation of Gen Z’s character. Growing up in a recession era, Gen Z is given more protection, so they often feel anxious when things don’t go as they want.

The rise of Gen Z will also pose new challenges for management practices in organizations, especially for human resource management practices. Now, our task is how through higher education, how can Gen Z become more empowered in carrying out work productivity in strengthening their strengths and weaknesses. So that it has an optimal impact on the Demographic Bonus. Not a Demographic Disaster!!! Hopefully.

(From various sources, Rewriter: lili irahali – November 24, 2021)