Home Blog Page 8

Implementasi Artificial Intelligence Di Perguruan Tinggi Menjawab Disrupsi Pendidikan Tinggi ?

0

Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan telah menjadi salah satu teknologi disruptif yang merevolusi berbagai sektor, termasuk pendidikan tinggi. Perguruan tinggi dunia mulai mengadopsi dan memanfaatkan AI.

Tren ini dipercepat oleh peristiwa pandemi COVID-19 tahun 2020 lalu yang memaksa banyak perguruan tinggi mengadopsi teknologi digital. Pemanfaatannya untuk mendukung administrasi kampus, dan meningkatkan efisiensi tata kelola; memperkaya pengalaman dan meningkatkan kualitas pembelajaran; memperkuat dan mempercepat inovasi dalam penelitian serta pengabdian kepada masyarakat.

Merujuk riset digital majalah Komunita kecenderungan global implementasi Artificial Intelligence/AI  di perguruan tinggi antara lain meliputi aspek: Pembelajaran yang dipersonalisasi (Personalized Learning), Penilaian Otomatis (Automated Grading), Otomatisasi dan Peningkatan Administrasi Kampus, Sistem Bimbingan Akademik (AI-Powered Advising), Pengembangan Riset Berbasis AI. Identik dengan pernyataan: Artificial Intelligence (AI) has become a focal point in higher education, offering transformative potential in teaching, research, administration, and student support (Brown & Lippincott, 2017).

Tata Kelola dan Administrasi Kampus

Dalam meningkatkan efisiensi tata kelola dan administrasi di perguruan tinggi AI memainkan peran penting. Sistem berbasis AI membantu menyederhanakan proses administratif yang kompleks, seperti pendaftaran mahasiswa, manajemen keuangan, serta pengelolaan data akademik.

Sistem Pendaftaran Otomatis, proses pendaftaran mahasiswa baru menjadi lebih cepat dan akurat. Chatbot berbasis AI digunakan Arizona State University untuk memberikan informasi kepada calon mahasiswa, menjawab pertanyaan, serta membantu menyelesaikan proses pendaftaran secara otomatis.

Otomatisasi Tugas Administratif/Peningkatan Administrasi Kampus, yakni otomatisasi tugas penilaian, pengelolaan data mahasiswa, dan administrasi lainnya,  mengelola pendaftaran mahasiswa, pembayaran, dan komunikasi kampus dengan memanfaatkan chatbot cerdas seperti Nina atau Ivy.ai.  Otomatisasi tersebut memungkinkan staf fokus pada kegiatan yang lebih strategis.

Manajemen Data dan Prediksi menganalisis data besar (big data) untuk membuat keputusan strategis. University of Melbourne – Australia menggunakan AI untuk menganalisis data akademik mahasiswa, mengidentifikasi risiko mahasiswa drop-out, dan memberikan intervensi tepat waktu.

Personalisasi Pengalaman Mahasiswa, sistem berbasis AI dapat merekomendasikan program studi, mata kuliah, atau peluang magang berdasarkan minat dan profil mahasiswa. Nanyang Technological University (NTU) – Singapura telah mengimplementasikan AI untuk mempersonalisasi pengalaman mahasiswa tersebut.

 

Pendidikan dan Pengajaran

Dalam pendidikan dan pengajaran AI merevolusi cara dari pembelajaran adaptif hingga pembimbing virtual. AI membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan efektif, karena fungsi AI mendukung dosen, mendukung mahasiswa, serta memediasi interaksi.

Pembelajaran yang Dipersonalisasi (Personalized Learning). Dalam upaya meningkatkan efektivitas pembelajaran, AI digunakan untuk menyusun konten pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan belajar individu mahasiswa. AI digunakan untuk memahami kebutuhan belajar individu, merekomendasikan konten, dan mengembangkan modul pembelajaran, serta  menyesuaikan materi dan metode pengajaran sesuai dengan kebutuhan individu mahasiswa, serta memberi dukungan akademik secara real-time.  Contoh: sistem adaptive learning, seperti ALEKS dan Smart Sparrow.

Penilaian Otomatis (Automated Grading). Penggunaan sistem berbasis AI untuk menilai tugas-tugas esai dan ujian pilihan ganda secara cepat dan konsisten dapat mengurangi beban kerja dosen.

Pembelajaran Adaptif. AI memungkinkan pembelajaran adaptif, di mana konten pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan individu mahasiswa. Platform seperti Carnegie Learning – Amerika Serikat menggunakan AI untuk mempersonalisasi materi pembelajaran matematika, membantu mahasiswa belajar sesuai kecepatan mereka.

Pengajar Virtual. Pengajar virtual berbasis AI, seperti “Jill Watson” di Georgia Institute of Technology mampu menjawab pertanyaan mahasiswa secara real-time. Teknologi ini mengurangi beban pengajar dan meningkatkan keterlibatan mahasiswa.

Evaluasi dan Umpan Balik Otomatis. AI memungkinkan mengotomasi penilaian tugas dan ujian. Universitas di Finlandia menggunakan sistem AI untuk memberikan umpan balik mendalam pada esai mahasiswa, sehingga proses evaluasi menjadi lebih cepat dan konsisten.

Sistem Bimbingan Akademik (AI-Powered Advising). Menggunakan platform seperti IBM Watson dapat memberikan saran akademik berbasis data kepada mahasiswa tentang pilihan mata kuliah, jalur karier, dan studi lanjut.

Analisis Data Pendidikan. Menggunakan AI untuk menganalisis big data pendidikan guna mengidentifikasi tren, memprediksi kinerja mahasiswa, dan mendukung pengambilan keputusan strategis.

Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat bisa diinisiasi Pengembangan Riset Berbasis AI. AI dimanfaatkan dalam analisis data besar (big data analytics), analisis data yang kompleks untuk mempercepat proses penelitian, serta mendorong inovasi di berbagai disiplin ilmu,  pemodelan prediksi di berbagai bidang ilmu, dan penemuan obat.

Penelitian Multidisiplin. AI membuka peluang penelitian multidisiplin yang menggabungkan teknologi dengan bidang lain, seperti kesehatan, lingkungan, dan ilmu sosial. Contoh, University College London menggunakan AI untuk menganalisis data genetik dalam penelitian kanker.

Pengabdian kepada Masyarakat. University of Cape Town – Afrika menggunakan AI untuk mengembangkan solusi berbasis data dalam mengatasi masalah air bersih. Sistem AI membantu mengelola sumber daya air secara efisien dan memberikan peringatan dini terhadap kekeringan.

Menjawab Disrupsi Pendidikan Tinggi ?

            Perguruan tinggi dunia tengah menghadapi gelombang disrupsi yang disebabkan oleh globalisasi, digitalisasi, dan perubahan kebutuhan pasar tenaga kerja. Dalam konteks ini, Artificial Intelligence (AI) muncul sebagai solusi strategis untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut. Implementasi AI di perguruan tinggi bukan hanya menjadi katalisator efisiensi, tetapi juga merevolusi cara pendidikan tinggi dikelola dan dikembangkan sebagaimana dalam tridharma di atas.

Disrupsi pendidikan tinggi ke depan melibatkan perubahan besar, termasuk tumbuhnya pembelajaran daring, meningkatnya kebutuhan akan pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning), dan tekanan untuk menghasilkan lulusan yang siap kerja. AI kiranya dapat membantu menjawab tantangan ini melalui: personalisasi pendidikan, efisiensi tata kelola, dan inovasi dalam pengajaran.

Melalui personalisasi pendidikan AI mampu menyesuaikan kurikulum berdasarkan kebutuhan individu mahasiswa, memastikan pembelajaran lebih relevan dan efektif. Contohnya adalah platform pembelajaran adaptif, seperti Coursera dan edX yang menggunakan algoritma AI untuk menyarankan materi yang sesuai.

Proses administratif yang sering memakan waktu, seperti pendaftaran mahasiswa dan evaluasi akademik, dapat diotomatisasi menggunakan chatbot atau sistem AI lainnya, memungkinkan fokus lebih pada pengembangan akademik. Ini sebagai  bentuk efisiensi tata kelola.

Teknologi AI memungkinkan pengajaran berbasis simulasi dan analitik, seperti penggunaan realitas virtual berbasis AI di kelas-kelas teknik dan kedokteran. Inilah bentuk inovasi dalam pengajaran:

AI mendukung penelitian multidisiplin yang mampu menyelesaikan masalah global, seperti perubahan iklim, kesehatan masyarakat, dan ketahanan pangan. Contohnya, Stanford University menggunakan AI dalam pengembangan algoritma kesehatan untuk mendiagnosa penyakit dengan akurasi tinggi. Selain itu, AI memfasilitasi kolaborasi global dengan analisis data yang cepat dan presisi. Inilah bentuk penelitian dan inovasi yang disruptif.

Kemampuan teknologi AI menciptakan model pendidikan yang lebih fleksibel, adaptif, dan berkelanjutan. Perguruan tinggi yang cepat beradaptasi dengan teknologi ini akan mampu mencetak lulusan yang relevan dengan pasar tenaga kerja global, sekaligus mempertahankan relevansinya di era disrupsi.  AI bukan lagi sekadar teknologi masa depan; ia telah menjadi kebutuhan saat ini agar perguruan tinggi tetap relevan dan kompetitif. Dengan adopsi AI yang strategis, perguruan tinggi dapat memanfaatkan disrupsi sebagai peluang untuk menciptakan model pendidikan yang inovatif dan inklusif. Itulah masa depan pendidikan tinggi. Namun demikian “The adoption of AI in higher education is a complex and multifaceted process that unfolds in distinct stages. By understanding and navigating these stages effectively, institutions can harness the transformative potential of AI to enhance teaching, learning, research, and administration.” (Firas Khairi Yhya Alhafidh, April 2024).

 

Artificial Intelligence: Tantangan dan Peluang bagi Mutu Pendidikan Tinggi Menjawab Disrupsi

0

Bincang bersama Prof. Dr. Suyanto, S.T., M.Sc, – Pakar Artificial Intelligence

Director of Center of Artificial Intelligence for Learning and Optimization, Telkom University

Elon Musk, CEO Tesla bergabung dengan pakar Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) lainnya mengklaim bahwa hanya tinggal sedikit data dunia nyata yang tersisa untuk melatih model Artificial Intelligence (AI). “Data puncak” yang dikuasai AI akan segera tercapai. Musk menjelaskan hampir semua pengetahuan manusia yang tersedia telah diproses dalam pelatihan AI. Dikatakannya “pada dasarnya, kami telah menghabiskan jumlah kumulatif pengetahuan manusia … dalam pelatihan AI,” siaran langsung di media sosial X, dilansir TRT World, dan CNN Indonesia, Sabtu, 11 Januari 2025.

Edisi #41 ini Tim majalah Komunita bersepakat mengangkat isu seksi Artificial Intelligence (AI)/Kecerdasan Buatan, khususnya di dunia pendidikan tinggi. Lalu kami meriset pakar Indonesia di bidang ini. Ketemulah sosok Prof. Dr. Suyanto, S.T., M.Sc. – Director of Center of Artificial Intelligence for Learning and Optimization, Telkom University. Kami hubungi beliau melalui WA, disusul surat resmi, selanjutnya kami keep contact by WA. Semuanya mengalir dan begitu lancar. Barakallah.    Senin, tanggal 6 Januari 2025 kami sepakat bertemu di kantor beliau, Universitas Telkom, Kabupaten Bandung.

Prof. Suyanto sungguh sosok yang sederhana dan akrab. Kami langsung cair dalam wawancara dan diskusi. Wawancara dan diskusi yang menarik, terbuka, hidup, dan mengalir sampai tidak terasa telah berlangsung sekitar 2,5 jam. Pukul 15.30 an saya pamit dan berterima kasih atas pencerahannya. Bahkan saya dihadiahi dua buku novel karya beliau dalam gelutannya dengan perjalanan hidup dan Artificial Intelligence (Roller Coasteran – Bareng Pacar, dan Maratonan Bareng Pacar – Cara Asyik Menikmati Disrupsi AI). Selama diskusi beliau lebih senang dengan panggilan akrab Prof. SUO yang sudah melekat sebagai panggilan akrab.

Kami urai wawancara dan diskusi dalam 7 (tujuh) segmen tulisan berurutan terkait pandangan dan pemikiran beliau tentang Artificial Intelligence ini. Berikut tujuh segmen pandangan dan pemikiran beliau.

Memahami AI: Teknologi, Potensi, dan Tantangannya

            AI adalah teknologi yang sangat potensial, tetapi penggunaannya membutuhkan pemahaman yang tepat, terutama dalam penyusunan data pelatihan dan cara bertanya (prompting). Melalui pendekatan yang benar, AI dapat menjadi alat yang revolusioner dalam berbagai bidang, terutama pendidikan dan penelitian. Namun, tantangan seperti validitas data dan bias tetap harus menjadi perhatian utama dalam pengembangannya.

Komunita: Apakah  AI dan bagaimana potensinya dalam  kehidupan kita?

Prof. SUO: Artificial Intelligence (AI) memiliki potensi luar biasa dalam  mempercepat pengolahan data dan pengetahuan. AI dapat mengkurasi miliaran buku dalam waktu singkat, hal yang mustahil dilakukan oleh manusia. Dalam enam bulan pelatihan saja, AI bisa memahami berbagai ilmu dari miliaran buku dalam berbagai bahasa di dunia.

Namun, pengembangan AI membutuhkan investasi besar, hingga ratusan triliun. Meski begitu, jika biaya ini dibagi dengan jumlah penduduk dunia—sekitar 8 miliar orang—biaya per orangnya menjadi relatif kecil, sekitar 12 juta rupiah.

Dalam dunia pendidikan, AI memungkinkan mahasiswa belajar dari ribuan “profesor virtual” yang menguasai berbagai bidang ilmu. Hal ini membuat proses pembelajaran jauh lebih efisien dan akurat. AI benar-benar membuka pintu bagi eksplorasi pengetahuan yang tak terbatas.

Komunita: Bagaimana memastikan data dan informasi yang diberikan AI valid dan mempersempit bias?

Prof. SUO: AI memiliki mekanisme otomatis untuk mem-filter data. Dengan menggunakan teknik stokastik—atau perhitungan peluang—AI cenderung mengidentifikasi informasi yang paling umum atau yang memiliki konsensus tinggi di antara data yang tersedia.

Contoh, jika 90% dari miliaran data menyatakan suatu hal benar, maka itulah yang akan dianggap valid oleh AI. Data yang tidak valid atau bias akan otomatis diabaikan, meskipun ada upaya untuk memasukkan informasi yang salah secara masif (bombing).

Namun demikian, tetap ada risiko bias, terutama jika data yang digunakan tidak mencakup semua sudut pandang atau jika data itu sendiri bermasalah. Oleh karena itu, validitas data menjadi kunci utama dalam pengembangan AI.

Komunita: Ada kasus AI memberikan informasi tidak akurat tentang sebuah institusi. Bagaima-na menjelaskan  hal  ini?

Prof. SUO: Kesalahan semacam itu bisa terjadi jika informasi yang diminta terlalu umum, atau AI belum dilatih pada bidang tertentu. Selain itu, pertanyaan yang tidak spesifik juga dapat menghasilkan jawaban yang tidak relevan.

Misal, jika kita bertanya tentang “evolusi” tanpa konteks yang jelas, AI mungkin akan memberikan jawaban yang salah arah. Kata “evolusi” bisa merujuk pada biologi, ilmu alam, algoritma, atau bahkan komputer sains. Oleh karena itu, teknik bertanya atau prompting sangat penting untuk memastikan jawaban AI relevan dan akurat.

Komunita: Bagaimana cara membuat pertanyaan yang efektif untuk AI?

Prof. SUO: AI bekerja dengan memahami konteks dari pertanyaan yang diberikan. Jika pertanyaan spesifik, dan sesuai dengan data pelatihannya, AI akan memberikan jawaban yang sangat akurat. Namun, jika pertanyaan terlalu umum atau tidak sesuai konteks, jawaban yang dihasilkan bisa menjadi campur aduk atau bahkan salah arah.

Sebagai pengguna, ketika menggunakan AI kita perlu: Menyusun pertanyaan yang spesifik. Sebutkan ruang lingkup topik yang diinginkan, misalnya biologi, tanpa mencampurkan topik lain seperti budaya. Lalu, Memposisikan peran AI dan pengguna. Misalnya, kita bisa meminta AI untuk “berperan sebagai ahli biologi” agar jawaban lebih terfokus.

Kesalahan dalam prompting ini dapat menyebabkan AI memberikan jawaban yang salah atau bahkan “halusinasi,” di mana satu kesalahan kecil memicu rangkaian kesalahan berikutnya dalam jawabannya.

 

Komunita: Mengapa banyak institusi, termasuk kampus dan Kementerian, masih ragu mengim-plementasikan AI?

Prof. SUO: Keraguan ini wajar, mengingat AI masih memiliki keterbatasan dan membutuhkan pemahaman mendalam untuk menggunakannya secara efektif. AI memang memiliki potensi besar namun banyak limitasi, karena itu perlu regulasi dan mitigasi sesuai porsi. Banyak yang belum memahami bagaimana AI bekerja dan bagaimana memaksimalkan penggunaannya.

Sebagai contoh, saat saya menjelaskan teknologi AI dalam sebuah forum yang diikuti 600 ribu peserta online, banyak yang baru memahami potensi AI setelah saya memaparkannya selama dua jam. Hal ini menunjukkan perlunya edukasi lebih lanjut tentang bagaimana AI dapat digunakan secara praktis dan aman. Sisi lain tantangan dalam implementasi AI di pendidikan tinggi adalah perlu pelatihan secara massif, edukasi tanpa henti, serta relokasi anggaran.

 

Pengaruh AI Terhadap Pendidikan, Bisnis, dan Politik

Perkembangan teknologi AI dapat mempengaruhi banyak aspek kehidupan, termasuk sektor pendidikan. AI berpotensi mendisrupsi sistem pendidikan tradisional, termasuk pendidikan tinggi, di mana sekolah berbasis AI bisa menggantikan yang tidak mengadopsi teknologi ini.

Kehadiran teknologi ini juga menunjukkan bahwa negara yang tidak beradaptasi dengan perkembangan AI akan tertinggal. Misalnya, Cina yang berhasil mengintegrasikan AI dengan cepat, mengembangkan Baidu sebagai pesaing Google dan mengendalikan informasi untuk keuntungan negaranya. Hal ini membuka diskusi lebih lanjut tentang bagaimana pemerintah dan lembaga pendidikan perlu memahami dampak jangka panjang AI terhadap masa depan pendidikan dan ekonomi.

Menghadapi perubahan ini, penting bagi Indonesia, terutama perguruan tinggi, untuk mulai mengintegrasikan teknologi AI dalam pendidikan. Seperti yang disebutkan, pendidikan tidak hanya perlu menyiapkan individu untuk menguasai keterampilan yang relevan dengan zaman, tetapi juga harus siap beradaptasi dengan perubahan global yang terjadi, termasuk pemanfaatan teknologi seperti AI.

“AI bisa mengendalikan informasi dengan mudah. Negara yang menguasai AI bisa mempengaruhi banyak hal. Kita perlu waspada agar tidak ketinggalan,” jelas Prof. SUO. Ini menunjukkan pentingnya pendidikan tinggi dalam mempersiapkan generasi mendatang menghadapi tantangan teknologi yang semakin berkembang. Lebih jauh lagi, peran kampus sebagai pusat penelitian dan inovasi harus didorong untuk mengejar perkembangan teknologi ini, dengan mengintegrasikan AI dalam proses belajar-mengajar. Pembelajaran berbasis AI akan menjadi faktor penting dalam mencetak mahasiswa yang siap menghadapi masa depan yang penuh disrupsi.

Dalam konteks pengembangan pusat keunggulan di perguruan tinggi – seperti yang sedang dijalankan beberapa universitas di Indonesia – penting untuk memastikan bahwa riset dan program-program akademis fokus pada penguasaan teknologi dan kreativitas.

Karena itu, pemahaman tentang peran teknologi – terutama AI – sangat penting dalam pembangunan ekonomi dan pendidikan global. Negara yang tidak memanfaatkan teknologi ini berisiko tertinggal, dan bagi Indonesia, ini adalah tantangan sekaligus peluang besar mengejar ketertinggalan dan memperkuat daya saing global.

Dilema Etika, Regulasi Teknologi AI dan Mobil Otonom

Saat ini teknologi Artificial Intelligence (AI) telah mengalami perkembangan pesat selama belasan tahun terakhir. Salah satu implementasinya adalah mobil otonom – mulai dioperasionalkan untuk kepentingan publik –  yang membawa banyak tantangan etika, regulasi, dan sosial. Kendaraan ini didesain untuk membuat keputusan secara mandiri dalam situasi kritis, seperti memilih arah ketika harus menghindari tabrakan.

Etika Mobil Otonom dan Dilema Regulasi

Contoh konkret dapat dilihat pada situasi ketika sebuah mobil otonom sedang melaju dan menghadapi rintangan besar, seperti tembok atau pohon. Sistem mobil harus memutuskan untuk berbelok ke kiri atau ke kanan. Namun, jika ke kiri ada seorang ibu; dan jika ke kanan ada anak kecil yang merupakan anak ibu tersebut.

Keputusan ini mencerminkan dilema etika yang berbeda antara budaya dan kebijakan suatu negara. Di Jerman, mobil cenderung memilih menyelamatkan anak kecil, karena tingkat kelahiran rendah dan anak dianggap memiliki masa depan yang panjang. Sementara, di Indonesia, ibu cenderung diselamatkan karena angka kelahiran tinggi dan diasumsikan bahwa ibu tersebut dapat memiliki anak lain. Perbedaan ini menunjukkan bahwa regulasi tidak dapat sepenuhnya diuniversalisasi karena dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya, sosial, dan kebijakan lokal.

Dari sisi Regulasi mobil otonom harus mempertimbangkan tanggung jawab berbagai pihak. Mereka adalah: Produsen Mobil, bertanggung jawab atas desain dan integrasi teknologi; Vendor Sensor, kesalahan sensor dapat memicu insiden; Pengguna, walaupun tidak memiliki kendali langsung, pengguna dapat terlibat dalam dampak hukum; Negara, sebagai otoritas pengatur harus menetapkan standar keselamatan dan tanggung jawab.

Namun, regulasi lintas negara sulit diterapkan karena perbedaan pandangan dan kebijakan. Misalnya, aturan di Jerman tidak dapat sepenuhnya diterapkan di Indonesia karena perbedaan sosial budaya.

AI dalam Pendidikan

Selain dalam transportasi, AI juga memiliki dampak besar pada pendidikan tinggi. Contoh kasus pada penggunaan teknologi AI, seperti ChatGPT. Penelitian di Harvard University menunjukkan bahwa AI seperti ChatGPT memiliki tingkat kesesuaian sekitar 90% dengan budaya negara-negara, seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Australia. Namun, di negara-negara seperti Indonesia, Tunisia, dan Pakistan tingkat kesesuaian hanya sekitar 60%, karena perbedaan budaya dan psikologi.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun AI bersifat universal, penerapannya harus disesuaikan dengan konteks lokal, terutama dalam pendidikan. Contoh: Pembelajaran Sastra: AI harus memahami nilai-nilai budaya setempat untuk memberikan konteks yang relevan; lalu Pengembangan Pengetahuan Lokal: AI dapat digunakan untuk mendukung penelitian tentang isu-isu lokal, semisal keberagaman kopi di Indonesia.

Peran Manusia dalam Teknologi AI

Teknologi AI bersifat bebas nilai, tetapi manusia yang menggunakannya harus memiliki nilai-nilai etika. Oleh karena itu, dalam menggunakan AI penting untuk melakukan beberapa upaya: Memfilter Informasi: artinya AI harus dirancang untuk menghindari memberikan jawaban yang berbahaya atau menyesatkan. Kustomisasi: artinya Informasi dari AI perlu disesuaikan dengan kebutuhan spesifik, seperti dalam seni atau pendidikan. Kolaborasi: artinya teknologi AI tidak dapat sepenuhnya menggantikan manusia. Dalam banyak kasus, seperti operasi medis atau kendaraan otonom, manusia tetap diperlukan sebagai pengendali.

Adalah benar bahwa teknologi AI, termasuk mobil otonom menawarkan potensi besar, tetapi juga membawa tantangan etika, regulasi, dan budaya. Regulasi yang bersifat universal sulit diterapkan, karena harus menjawab kebutuhan lokal dan global secara bersamaan. Oleh sebab itu, kolaborasi antara manusia dan teknologi menjadi kunci utama untuk memaksimalkan manfaat AI sambil meminimalkan risikonya.

Artificial Intelligence : Peluang dan Tantangan  

Artificial Intelligence (AI) telah menjadi teknologi revolusioner yang berdampak besar pada berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan tinggi. Dengan kemampuan mengolah data dalam skala besar dan memberikan prediksi akurat, AI menjadi solusi menjawab tantangan global, seperti efisiensi pendidikan,  pertanian modern, bahkan penemuan obat. Namun, implementasi AI juga menimbulkan tantangan yang membutuhkan kebijakan dan strategi adaptasi.

Peluang

AI Paling tidak menawarkan peluang dalam aspek sebagai berikut. Efisiensi dalam Penemuan Pengetahuan dan Teknologi. AI mampu menganalisis miliaran data dalam waktu singkat untuk menghasilkan temuan baru. Dalam bidang kesehatan, misalnya, AI mempercepat penemuan obat dengan mengeliminasi eksperimen yang tidak relevan.

Disrupsi Positif di Dunia Pendidikan Tinggi. AI memungkinkan dosen menciptakan metode pembelajaran lebih efektif, membuat mereka lebih hebat dalam membimbing mahasiswa. Sedang mahasiswa yang memanfaatkan AI menjadi lebih unggul karena memiliki kombinasi akurasi teknologi dan kemampuan berpikir kritis.

Kolaborasi Manusia – AI: sebagai Entitas Terbaik. Keunggulan AI adalah kurasi tinggi dan kapasitas besar dalam pengolahan data. Sementara Keunggulan Manusia adalah kreativitas dan kemanusiaan. Maka kolaborasi antara AI dan manusia memungkinkan terciptanya solusi terbaik yang memadukan efisiensi teknologi dan nilai kemanusiaan.

Optimalisasi Sumber Daya Pertanian. Dengan dukungan AI dan Internet of Things (IoT), pertanian modern dapat memastikan ketahanan pangan bagi populasi global yang diproyeksikan mencapai 9,6 miliar pada 2050.

Tantangan

Namun demikian beberapa tantangan perlu menjadi perhatian, setidaknya mencakup: kreativitas dan humanitas, disrupsi bagi profesi tradisional, kurangnya regulasi dan kebijakan.

Kreativitas dan Humanitas, bahwa AI dengan logika probabilitasnya sulit menghasilkan kreativitas yang melawan arus atau unik. Kreativitas tetap menjadi ranah manusia. Inilah kelebihan manusia yang memiliki sisi humanis.

Disrupsi Bagi Profesi Tradisional. Kehadiran AI mendisrupsi profesi tradisional. Contoh, seniman yang tidak berkolaborasi dengan AI berisiko terdisrupsi oleh seniman lain yang menggunakan AI untuk brainstorming atau membuat sketsa awal.

Kurangnya Regulasi dan Kebijakan. Hingga kini, belum ada regulasi nasional atau internasional yang mengatur penggunaan AI. Kebijakan sering kali diinisiasi di tingkat lokal, misalnya oleh fakultas atau program studi.

 

 

Tantangan Implementasi AI di Pendidikan Tinggi

Wawancara kami berlanjut mengenai implementasi teknologi Artificial Intelligence (AI) di dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Fokus utama meliputi regulasi, literasi digital, serta tantangan teknis dan sosial dalam mengintegrasikan AI ke dalam proses pembelajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Paling tidak terdapat 6 (enam) aspek yang perlu diperhatikan terkait implementasi AI di pendidikan tinggi, serta strateginya.

Regulasi dan Panduan Penggunaan AI

Saat ini belum terdapat regulasi spesifik terkait penggunaan AI di pendidikan tinggi, tegas Prof. SUO. Hanya ada panduan umum yang belum memiliki kekuatan hukum mengikat (Panduan Penggunaan Generative Artificial Intelligence pada Pembelajaran di  Perguruan Tinggi, 2024 yang diinisiasi Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan). Akibatnya, implementasi AI sering kali diserahkan kepada masing-masing institusi, bahkan hingga ke level fakultas atau individu dosen. Contoh, di satu perguruan tinggi, antara Fakultas Industri Kreatif dengan Fakultas Informatika memiliki kebijakan yang berbeda. Kondisi ini menunjukkan kebutuhan mendesak akan edukasi dan panduan yang lebih terpadu di tingkat universitas.

Edukasi dan Literasi AI

Dalam kaitan itu Prof. SUO  menekankan pentingnya meningkatkan literasi AI bagi seluruh sivitas akademika, termasuk dosen, mahasiswa, dan tenaga pendidikan. Proses ini membutuhkan waktu, biaya, dan upaya besar, namun sangat penting agar perguruan tinggi tetap relevan di mata mahasiswa. Tanpa literasi AI yang memadai, perguruan tinggi berisiko kehilangan kepercayaan mahasiswa. Literasi ini mencakup pemahaman teknis, keamanan, mitigasi risiko, dan etika dalam penggunaan AI.

Peran AI dalam Pendidikan

Teknologi AI menawarkan berbagai manfaat di pendidikan tinggi, seperti personalisasi pembelajaran, learning optimization, dan adaptive learning platforms, juga penelitian. Dengan menggunakan AI, profil mahasiswa dapat diidentifikasi melalui data yang tersedia, seperti aktivitas di media sosial atau sistem pembelajaran daring (Learning Management System/LMS). Hal ini memungkinkan dosen menyusun materi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing mahasiswa, atau menciptakan konsep “personalized learning” yang lebih optimal.

Dalam hal ini, AI dapat mengenali dan memetakan profil setiap mahasiswa: bakat, minat, serta gaya dan kecepatan belajarnya. Kemudian, AI bisa memberikan rekomendasi materi, kuis, diskusi, proyek, dan sebagainya secara personal sesuai profil masing-masing mahasiswa. Banyak negara maju sudah menerapkan AI untuk personalisasi pembelajaran sebab mereka sudah memasuki Industri 5.0, yang bertujuan untuk Mass Customization, bukan lagi Mass Production seperti dalam Industri 4.0.

Learning optimization yang didukung AI dapat meningkatkan hasil pembelajaran mahasiswa. Misalnya, mahasiswa yang mengalami masalah studi karena tidak sesuai bakat, minat, serta gaya dan kecepatan belajarnya, bisa ditangani dengan melakukan optimasi pembelajaran berbasis AI. Jika pembelajaran dilaksanakan luring, dosen bisa mendapatkan informasi dari AI dan menyesuaikan materi secara optimal. Jadi, optimasi pembelajaran dapat dilakukan untuk mencapai personalisasi pembelajaran sehingga meningkatkan hasil pembelajaran mahasiswa.

Demikian pula peran adaptive learning platforms dalam menciptakan pendidikan berbasis kebutuhan individu. Adaptive learning platforms digunakan untuk membangun ekosistem dalam mengelola sistem pendidikan berbasis kebutuhan individu berskala besar, nasional, hingga internasional.

AI juga mendukung proses penelitian di perguruan tinggi. Banyak teknologi AI yang digunakan untuk mendukung penelitian dari awal sampai final: mulai dari mencari ide-ide novelty, desain, implementasi, pengolahan data dan analisis, hingga publikasi. Dalam pengolahan data dan analisis, kita bisa mengunggah hasil-hasil eksperimen, dalam bentuk tabel atau grafik, serta tujuan pengolahan data dan analisis ke dalam mesin AI, dan memberikan hasil pengolahan data dan analisis secara presisi. Selain itu, AI dapat digunakan untuk penemuan ilmiah baru, seperti pengembangan obat-obatan dalam menghadapi pandemi. Lebih jauh Prof. SUO  menekankan bahwa penggunaan AI di pendidikan tinggi seharusnya difokuskan pada kreasi pengetahuan baru dan solusi inovatif untuk berbagai masalah global.

Tantangan Sosial dan Humaniora

Hal lain, integrasi AI di pendidikan tinggi tidak hanya membutuhkan penguatan aspek teknis, tetapi juga aspek sosial dan humaniora. Kreativitas dan humanitas menjadi elemen penting yang harus dikembangkan. Hal ini terutama berlaku pada pendidikan dasar dan menengah, di mana penekanan pada pembentukan karakter, keamanan, dan mitigasi risiko lebih diutamakan. Di perguruan tinggi, mahasiswa yang lebih dewasa dapat diarahkan untuk mengeksplorasi teknologi dengan tetap menjaga nilai-nilai etika dan tanggung jawab sosial.

Pergeseran ke Industri 5.0

Prof. SUO  juga menyoroti pergeseran saat ini dari industri 4.0 ke industri 5.0, yang menekankan personalisasi massal dengan pendekatan human-centric. Penggunaan AI memungkinkan personalisasi dalam skala besar, seperti pengelolaan materi kuliah untuk puluhan ribu mahasiswa dengan gaya belajar yang berbeda. Hal ini menjadi tantangan besar bagi perguruan tinggi untuk mengelola data secara efektif dan efisien.

Kebutuhan Infrastruktur dan Pendanaan

Integrasi AI membutuhkan investasi besar, baik untuk literasi, infrastruktur, maupun layanan pendukung seperti bimbingan konseling. Prof. SUO menekankan pentingnya pendanaan yang mencakup teknologi, pelatihan, dan penguatan aspek sosial. Sebagai contoh, beberapa kampus di Eropa memiliki divisi khusus yang menangani konseling psikologi dan sosial, baik untuk mahasiswa maupun dosen, guna menjaga keseimbangan antara penggunaan teknologi dan kebutuhan manusia.

Keenam aspek tersebut menunjukkan bahwa teknologi AI memiliki potensi besar untuk merevolusi pendidikan tinggi, tetapi penerapannya memerlukan pendekatan holistik yang mencakup aspek teknis, sosial, dan humaniora. Karena itu, perguruan tinggi harus menjadi pelopor dalam literasi AI, mengembangkan kebijakan yang komprehensif, dan memastikan AI digunakan secara etis untuk mendorong pembelajaran yang personal dan humanis. Dengan demikian, AI akan dapat menjadi alat untuk menciptakan pendidikan yang lebih inklusif, kreatif, dan relevan di masa depan.

Strategi

Dalam kaitan itu strategi yang perlu ditempuh pendidikan tinggi mencakup: kebiajakan institusional, integrasi AI dalam proses pembelajaran, serta peningkatan kolaborasi manusia dan AI. Kebijakan Institusional menuntut perguruan tinggi merancang kebijakan internal untuk memanfaatkan AI secara bertanggung jawab. Sementara dosen dan mahasiswa perlu dipersiapkan untuk memahami dan memanfaatkan AI secara optimal.

Integrasi AI dalam Proses Pembelajaran, dalam proses pembelajaran ini AI dapat digunakan untuk membuat sketsa awal atau ide brainstorming, sementara proses kreatif akhir tetap dilakukan manusia. Selanjutnya kampus perlu mengatur kapan dan bagaimana AI digunakan dalam tugas mahasiswa.

Peningkatan Kolaborasi Manusia – AI, tentunya perguruan tinggi perlu mendorong kolaborasi antara AI dan manusia dalam pengajaran, penelitian, dan pengembangan inovasi. Dengan memanfaatkan AI, dosen dan mahasiswa dapat mencapai produktivitas dan kualitas yang lebih tinggi. AI merupakan teknologi yang menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan signifikan. Pendidikan tinggi perlu memanfaatkan potensi AI untuk menciptakan lulusan yang unggul di era disrupsi teknologi. Namun, integrasi AI harus dilakukan dengan bijaksana, menghormati nilai-nilai kemanusiaan, dan memastikan bahwa kolaborasi antara manusia dan AI menghasilkan manfaat maksimal bagi masyarakat.

Disrupsi Teknologi di  Pendidikan Tinggi dan Kolaborasi Antar Kampus

            Kehadiran AI serta kecenderungan perkembangannya mengguncang dunia pendidikan tinggi memerlukan strategi dan langkah mitigasi untuk menghindari disrupsi teknologi di pendidikan tinggi tersebut. Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian (Prof. SUO, wawancara 6 Januari 2024).

Pertama, terkait strategi pengembangan Perguruan Tinggi (PT) mengingat prediksi para ahli di tahun 2030 – 2035 akan hadir tiga teknologi hebat yang semakin disruptif, yakni: 4G AI, 6G Wireless Network, dan Quantum Computing. Kehadiran tiga teknologi tersebut, menghadapkan kita berada di era teknologi AI yang sangat cerdas dengan akurasi dan kapasitas besar, jaringan-jaringan nirkabel super cepat (10.00 kali lebih cepat), dan komputer-komputer bisa mereduksi waktu komputasi yang semula berjuta tahun menjadi hanya satu detik saja.

Hal ini membuat banyak ahli khawatir apakah PT masih diperlukan atau tidak. Namun, saya optimis PT akan tetap diperlukan, bahkan wajib ada. Tentu saja dengan operasional yang berbeda. PT dituntut beradaptasi diri dengan cepat dalam memanfaatkan AI secara baik dan benar untuk efisiensi administasi dan pelaksanaan tridharma. Dalam buku motivasi pengembangan diri, saya menyampaikan satu pernyataan: “Sekolah yang mengadaptasi AI akan mendisrupsi sekolah yang tidak mengadaptasi AI. Universitas yang mengadopsi AI akan mendisrupsi universitas yang tidak mengadopsi AI. Perusahaan yang menerapkan AI akan mendisrupsi perusahaan yang tidak menerapkan AI. Negara yang berbasis AI akan mendisrupsi negara yang tidak berbasis AI” (Prof. SUO, Maratonan – Bareng ‘Pacar – Cara Asyik Menikmati Disrupsi AI – 2024).

Karena itu, perguruan tinggi perlu memahami tiga hal utama dalam pengembangan dirinya, yakni: potensi, limitasi, dan mitigasi (evaluasi diri). Untuk itu dibutuhkan kebijakan internal yang adil, adaptif, dan cepat untuk menanggapi perubahan lingkungan pendidikan di atas.

Kedua,  Tantangan Teknologi dan Ketertinggalan. Indonesia masih tertinggal dalam infrastruktur teknologi dibandingkan negara maju. Sebagai perbandingan, Swedia sudah menggunakan teknologi 4G pada 2004, sedangkan Indonesia baru mengadopsinya pada 2015. Lalu, Quantum computing akan menjadi ancaman besar bagi keamanan data, termasuk sistem blockchain dan keamanan nasional, jika tidak segera diantisipasi. Perguruan tinggi harus fokus pada pengembangan aplikasi dan penggunaannya, karena pengembangan teknologi inti membutuhkan anggaran yang sangat besar, jauh di luar kemampuan finansial negara atau perusahaan di Indonesia.

Ketiga, Pentingnya Kustomisasi dan Industri 5.0. Perguruan tinggi di Indonesia perlu mengadopsi konsep Industri 5.0, yang menekankan pada “mass customization” (kustomisasi massal). Teknologi AI memungkinkan penyampaian pendidikan yang lebih terpersonalisasi, bahkan untuk skala besar, yang sebelumnya sulit dilakukan secara manual. Memanfaatkan bantuan AI, kustomisasi dalam skala besar dapat dilakukan dengan cepat dan efisien. Misalnya: pembuatan materi pembelajaran yang personal untuk setiap mahasiswa, berdasarkan kemampuan dan karakteristik individu. Juga, pengembangan soal dan evaluasi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan tingkat kemampuan mahasiswa.

Keempat, Kolaborasi Antar Kampus. Saat ini, kolaborasi antar perguruan tinggi belum terlalu dioptimalkan, termasuk dalam hal berbagi fasilitas. Contoh, kolaborasi terjadi pada konsolidasi beberapa kampus di bawah TelU (Telkom University) yang menggabungkan empat kampus. Kemungkinan untuk berbagi fasilitas antar kampus di lokasi berdekatan menjadi alternatif efisiensi, seperti di sekitar kawasan Kopertis IV, Ekuitas, USB, Widyatama, dan Itenas yang berdekatan. Pemerintah perlu mendorong kebijakan yang lebih tegas, tanpa mengurangi akses pendidikan, agar kolaborasi atau merger dapat terjadi dengan lebih efektif. Kebijakan pemerintah sebelumnya melarang pendirian kampus baru. Alternatif yang digunakan adalah akuisisi dan merger. Merger sebagai solusi untuk memperkuat kampus-kampus swasta yang tidak efisien.

Sehingga yang perlu diperhatikan perguruan tinggi adalah: harus mengadopsi teknologi terkini secara cepat untuk tetap relevan di era disrupsi teknologi; menyadari tentang peran industri 5.0 dan penerapan teknologi AI harus ditingkatkan dalam lingkungan akademik; fokus pada pengembangan program berbasis sosial dan humaniora yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat; serta peningkatan kapasitas: baik dalam jumlah mahasiswa maupun kualitas program studi, melalui optimalisasi sumber daya dan kolaborasi.

Adopsi teknologi mutakhir, fokus pada kustomisasi pendidikan, dan kolaborasi antar kampus adalah langkah penting bagi perguruan tinggi di Indonesia menghadapi tantangan global dan disrupsi teknologi di masa depan. Dukungan kebijakan yang tegas dan inovasi yang cepat akan menjadi kunci keberhasilan transformasi ini.

Pengalaman Pribadi, Disrupsi AI, dan Pendidikan Masa Depan

Diakhir diskusi kami berbincang pengalaman Prof. SUO dalam mendidik anak-anaknya, mengembangkan pemahaman tentang AI dan disrupsi, serta pengalamannya menulis buku AI dengan bahasa yang mudah dipahami.

Komunita: Prof.  SUO, bisa diceritakan pengalaman dalam mendidik anak-anak, terutama dalam menghadapi disrupsi AI?

Prof. SUO: Saya selalu mencoba untuk menyiapkan anak-anak agar bisa menikmati disrupsi teknologi seperti AI, bukan hanya menghadapinya dengan rasa takut. Misalnya, anak-anak saya yang kembar, Aisyah dan Fatimah, keduanya kini sedang menempuh S2 di bidang AI di UGM. Saya memang sengaja mengarahkan mereka ke bidang ini, karena saya tahu bahwa AI adalah masa depan yang akan mengubah banyak hal. Di sisi lain, anak saya yang ketiga, Taslim, lebih tertarik pada Antropologi. Itulah kenapa saya ingin menggabungkan dua disiplin ilmu ini—AI dan Antropologi—untuk menghadapinya dengan perspektif yang lebih manusiawi.

Komunita: Ternyata Bapak sudah jauh-jauh hari menyiapkan mereka. Lalu, bagaimana pandangan Bapak tentang pentingnya memadukan sains teknik dengan sosial-humaniora?

Prof. SUO: Betul sekali. Sains teknik memang penting, tetapi saya merasa lebih penting lagi untuk mempersiapkan generasi yang memiliki pemahaman tentang humanisme. Anak ketiga saya, Taslim, adalah contoh bagaimana dia bisa mempelajari manusia lebih dalam, sesuatu yang tidak bisa diajarkan hanya dengan teknologi. Dari sinilah saya berpikir, kita bisa menikmati disrupsi dengan cara yang lebih manusiawi. Antropologi memberi kita cara melihat dunia yang berbeda, dan itulah yang sangat saya hargai. Saya belajar banyak darinya.

Komunita: Lalu, bagaimana perjalanan Bapak dalam menciptakan teknologi atau invensi seperti yang Bapak sebutkan sebelumnya?

Prof. SUO: Ya, saya menemukan konsep yang saya sebut “Scalable Universal Optimizer/SUO” pada 2021. Konsep ini sebenarnya mirip dengan quantum computing, tetapi dengan pendekatan yang lebih sederhana. Quantum computing mencoba menghitung seluruh kemungkinan, sedangkan SUO hanya mengambil sampel dari kemungkinan tersebut, yang menghasilkan output hampir sama dengan hasil perhitungan penuh. Ini bisa menyelesaikan masalah dalam waktu jauh lebih cepat, bahkan dalam hitungan menit, meskipun itu masih dalam tahap pengembangan dan belum saya publikasikan secara luas.

Komunita: Itu terdengar sangat luar biasa, Prof. Apakah ini terkait dengan pemahaman Bapak tentang AI dan disrupsi?

Prof. SUO: Semua ini berasal dari pengalaman pribadi saya, termasuk bagaimana anak-anak saya bermain atau berdebat. Dari situ saya menciptakan algoritma yang bisa menyelesaikan masalah besar, bahkan energi nasional, hanya dalam hitungan menit. Algoritma ini bisa menangani lebih dari 1.400 variabel. Ini benar-benar menunjukkan potensi luar biasa dari AI yang dapat mengubah banyak sektor dalam waktu yang sangat cepat.

Komunita: Sangat menarik, Prof. Jadi, AI bagi Bapak bukan hanya teknologi, tetapi juga sebuah pendekatan untuk memahami dan menyelesaikan masalah sosial?

Prof. SUO: Tepat sekali. AI memang sering dianggap hanya sebagai alat untuk mengoptimalkan proses teknis. Tetapi bagi saya, AI harus dikembangkan dengan memahami aspek sosial dan humanistiknya. Itu yang saya coba tanamkan kepada anak-anak saya. Saya ingin mereka memahami bahwa AI bisa digunakan untuk memperbaiki dunia, bukan hanya untuk kemajuan teknologi semata.

Komunita: Lalu, dalam perjalanan ini, bagaimana cara Bapak menulis buku dengan pendekatan yang lebih manusiawi, meskipun topiknya sangat teknis seperti AI?

Prof. SUO: Sebenarnya, menulis buku tentang AI dengan bahasa yang ringan memang tantangan tersendiri. Saya ditantang oleh seorang jurnalis membuat tulisan tentang AI yang bisa dipahami oleh orang awam, seolah-olah seperti novel. Pada awalnya saya terkejut, tapi kemudian saya teringat sejak muda saya memang suka membaca novel. Itu yang akhirnya menginspirasi saya menulis dengan cara yang berbeda. Buku saya yang pertama, yang berjudul Rollercoaster, saya selesaikan dalam waktu 60 jam tanpa bantuan AI. Saya ingin menyampaikan pengetahuan teknis dengan cara yang lebih emosional dan bisa dirasakan oleh pembaca, seperti rollercoaster yang penuh dengan perubahan suasana hati.

Komunita: Jadi, melalui buku yang saya terima ini, Bapak ingin menunjukkan bahwa teknologi dan humanisme bisa berjalan berdampingan?

Prof. SUO: Betul. Bahkan dalam penulisan buku ini, saya ingin pembaca merasakan emosi yang saya alami saat menulis. Ini bukan hanya tentang fakta dan data, tetapi juga tentang bagaimana kita menyelami dan meresapi perjalanan itu. Jadi, meskipun banyak orang yang berpikir AI adalah hal yang menakutkan, saya ingin menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, kita bisa menikmati dan mengambil manfaat dari disrupsi ini.

Komunita: Luar biasa, Prof. Terima kasih atas wawancara dan diskusinya. Banyak insight yang sangat berguna bagi kita semua, terutama dalam menghadapai disrupsi di masa depan.

Itulah sekelumit diskusi dengan Prof. SUO melihat disrupsi teknologi, terutama AI, yang dipahami tidak hanya sebagai tantangan, tetapi juga peluang untuk menggabungkan ilmu pengetahuan dengan pemahaman humanistik. Dengan pengalaman mendalam di dunia akademik dan kehidupan keluarga, beliau menunjukkan bahwa cara kita menyikapi dan mengembangkan teknologi akan mempengaruhi masa depan yang lebih seimbang antara sains dan sosial.

Segmen terakhir ini dapat disimak lebih dalam pada dua buku novel yang bertema AI dan perjalanan hidup Prof. Suyanto atau SUO (SUO bermakna Scalable Universal Optimizer – yang merupakan inovasi kedua beliau di bidang AI). Inovasi pertama adalah Swarm Intelligence : Komodo Mlipir Algorithm (KMA). Buku novel pertama berjudul “Roller Coasteran (Bareng Pacar)”, novel kedua berjudul : “Maratonan (Bareng Pacar) – Cara Asyik Menikmati Disrupsi AI”.

(Interview & writing: lili irahali)

Artificial Intelligence: Akar dan Awal Perkembangan

0

Membicarakan Artificial Intelligence (AI)  atau Kecerdasan Buatan dengan merujuk buku Melanie Mitchell, Artificial Intelligence: A Guide to Intelligent Systems (2020) menggambarkan perjalanan panjang AI dari ide filosofis hingga teknologi praktis.

AI memiliki akar  pada  sejarah pemikiran manusia, dimulai dari pertanyaan mendasar tentang apa itu kecerdasan dan bagaimana pikiran bekerja.  AI telah berkembang melalui interaksi antara pemikiran manusia, kemajuan  teknologi, dan tantangan dunia nyata. Meski telah mencapai banyak hal, sejarah AI menunjukkan bahwa jalan ke depan penuh dengan tantangan baru, baik dari segi teknis maupun etis. Memahami akar  sejarah  ini, setidaknya kita dapat lebih menghargai bagaimana AI telah dan akan terus membentuk masa depan kita.

Buku  Melanie menyelami akar intelektual, filosofis, dan teknis dari bidang ini, yang telah membentuk dasar pengembangannya selama berabad-abad.

Inspirasi dari Pemikiran Filosofis

Sejarah AI tidak dapat dipisahkan dari upaya manusia memahami dirinya sendiri. Filsafat memainkan peran penting dalam  membentuk konsep awal  tentang kecerdasan dan pemrosesan informasi. Filsuf Yunani, Plato dan Aristoteles mencoba menjelaskan cara manusia berpikir dan mengambil keputusan melalui logika.

Aristoteles memperkenalkan gagasan logika formal, yaitu sistem aturan untuk menarik kesimpulan dari premis. Logika ini menjadi dasar untuk memahami proses inferensi, yang kemudian diterapkan dalam sistem komputer modern. René Descartes pada abad ke-17  memperkenalkan dualisme, yaitu pandangan bahwa pikiran dan tubuh adalah entitas yang terpisah. Ia juga berpendapat bahwa pikiran manusia dapat dianalisis secara mekanis, gagasan yang mengilhami pencarian untuk membangun mesin cerdas. Pada periode yang sama, filsuf Thomas Hobbes dan Gottfried Wilhelm Leibniz berpendapat bahwa proses berpikir manusia dapat direduksi menjadi operasi matematis (gagasan Mekanisme). Leibniz bahkan bermimpi menciptakan mesin yang dapat menyelesaikan semua masalah dengan logika.

Mesin Mekanik dan Revolusi Industri

Sepanjang  abad ke-17 hingga abad ke-19, perkembangan teknologi memacu imajinasi tentang kemungkinan menciptakan mesin yang dapat berpikir. Mesin-mesin mekanik mulai dirancang untuk meniru fungsi manusia.

Otomaton, mesin “Turk”(sejenis robot yang bisa bermain catur melawan manusia)  yang dirancang pada abad ke-18 merupakan contoh awal upaya meniru kecerdasan manusia. Meskipun Turk sebenarnya adalah tipuan (dikendalikan oleh manusia tersembunyi), itu menunjukkan minat besar terhadap ide mesin cerdas. Lalu, Charles Babbage merancang mesin analitik, prototipe komputer modern pertama. Sementara itu, Ada Lovelace memahami potensi mesin ini untuk melakukan lebih dari sekadar  perhitungan, menciptakan algoritma pertama yang  dirancang untuk dijalankan oleh mesin.

Revolusi Komputasi di Abad ke-20

Fondasi  modern AI mulai  terbentuk dengan  perkembangan  teori  komputasi di awal abad ke-20. Gagasan bahwa pikiran  manusia dapat disimulasikan melalui algoritma matematis menjadi inti dari bidang ini.

Pada tahun 1936, Alan Turing memperkenalkan konsep mesin Turing, perangkat teoretis yang dapat memproses algoritma untuk menyelesaikan masalah apa pun yang dapat didefinisikan secara matematis (Teori Komputasi). Turing juga mengemukakan pertanyaan tentang apakah mesin dapat berpikir dalam esainya “Computing Machinery and Intelligence” (1950), yang memperkenalkan Turing Test sebagai ukuran kecerdasan mesin.

Lalu, pada tahun 1940-an dan 1950-an, Norbert Wiener memperkenalkan bidang sibernetika, yang mempelajari sistem kendali dan komunikasi dalam mesin dan organisme hidup. Konsep ini menjadi dasar untuk pengembangan sistem adaptif dan belajar mandiri dalam AI.

Kelahiran Kecerdasan Buatan sebagai Disiplin

Istilah “Artificial Intelligence” pertama kali  diciptakan pada  konferensi Dartmouth di tahun 1956, yang dianggap sebagai  titik awal  resmi bidang  ini. Para peneliti terkemuka, yakni: John McCarthy, Marvin Minsky, Allen Newell, dan Herbert Simon berkumpul untuk mengeksplorasi cara membuat mesin yang dapat berpikir seperti manusia.

Pendekatan awal AI berfokus pada sistem berbasis aturan, di mana komputer diprogram untuk mengikuti sekumpulan instruksi logis yang ketat. Pendekatan ini digunakan untuk membangun program seperti Logic Theorist dan General Problem Solver, yang dapat menyelesaikan masalah matematika dan logika dasar.

Selama dekade 1950-an dan 1960-an, ada  optimisme  besar bahwa AI akan dengan cepat menghasilkan mesin yang mampu melakukan hampir semua tugas manusia. Namun, tantangan teknis segera muncul.

Periode Kekecewaan (AI Winter)

Optimisme awal segera memudar ketika para peneliti menyadari keterbatasan sistem berbasis aturan. Mesin sulit menangani masalah dunia nyata yang memerlukan intuisi, fleksibilitas, dan pemahaman  konteks.

Sistem AI awal mengalami kesulitan mengatasi kompleksitas masalah yang tumbuh secara eksponensial. Misalnya, permainan  catur atau pemrosesan bahasa alami membutuhkan  komputasi  jauh lebih  banyak daripada yang dapat ditangani oleh komputer pada waktu itu. Selain itu, teknologi komputasi belum cukup kuat, dan data  untuk melatih sistem AI masih sangat terbatas (kurangnya Data dan Komputasi). Akibat kekecewaan ini, pendanaan untuk AI menurun selama beberapa dekade, menciptakan periode yang dikenal sebagai “AI Winter.”

Kebangkitan AI: Pembelajaran Mesin dan Data

Pada akhir abad ke-20, AI mengalami kebangkitan dengan munculnya pendekatan baru, yaitu machine learning (pembelajaran mesin). Pendekatan ini memungkinkan  komputer  belajar dari data daripada bergantung sepenuhnya  pada aturan yang  ditentukan  manusia.

Konsep jaringan  saraf  buatan, yang pertama kali diperkenalkan  pada tahun 1940-an  oleh  Warren  McCulloch dan Walter Pitts dihidupkan kembali dengan pengembangan algoritma pelatihan seperti backpropagation. Jaringan saraf memungkinkan komputer  mengenali pola dalam data dan  membuat prediksi. Lalu, kemunculan internet dan revolusi digital menciptakan volume data yang sangat besar (Big Data), yang  menjadi  bahan  bakar  utama untuk melatih sistem pembelajaran mesin. Didukung peningkatan daya komputasi, terutama dengan pengenalan unit pemrosesan grafis (GPU), memungkinkan pelatihan  model AI yang  lebih besar dan lebih kompleks.

Era Modern: AI yang Mengubah Dunia

Saat ini, AI telah  menjadi  bagian  tak  terpisahkan dari  kehidupan  sehari-hari, digunakan dalam berbagai aplikasi  seperti  pengenalan  wajah,  asisten  virtual,  mobil  otonom, dan  banyak  lagi. Beberapa perkembangan penting dalam AI  modern  adalah: Deep Learning merupakan kemajuan  dalam  jaringan saraf mendalam (deep learning) memungkinkan komputer untuk melakukan tugas-tugas yang sebelumnya dianggap mustahil, seperti mengenali gambar dengan  akurasi  tinggi dan  menerjemahkan bahasa secara real-time. Lalu Natural Language Processing (NLP) merupakan kemajuan dalam pemrosesan bahasa alami telah memungkinkan  pengembangan  model seperti GPT (Generative Pre-trained Transformer), yang dapat memahami dan  menghasilkan teks dengan cara yang menyerupai manusia.

Dengan  kekuatan besar yang  dimiliki AI, muncul pertanyaan tentang dampak etis dan  sosialnya. Bagaimana AI dapat digunakan secara bertanggung jawab untuk manfaat umat manusia menjadi topik diskusi yang semakin penting.

 

Written by: lili irahali dari berbagai sumber

Artificial Intelligence in Higher Education: Balancing Optimism and Caution

0

In 1989, the Higher Education in Europe journal, Vol. XIV, No. 2, explored the theme “The Advent of Artificial Intelligence in Higher Education,” marking a pivotal moment in discussions about the role of Artificial Intelligence (AI) in higher education. This edition featured an article titled “The New Information Technologies and The Role of Artificial Intelligence in Their Development” by Germogen S. Pospelo, which highlighted the transformative potential of AI, envisioning computers capable of “reasoning” like humans, processing natural language, and performing complex tasks with minimal user expertise. Over three decades later, AI has evolved from theoretical promise into a powerful force shaping all aspects of life, including education.

Yet, alongside optimism about its potential, there is an equally urgent need to address its ethical and social implications.

AI has achieved remarkable advancements, from visual recognition and speech synthesis to knowledge representation, accumulation, and manipulation across various purposes. However, its development raises critical questions about alignment with human values and educational principles such as ethics, integrity, and responsibility.

From a technical standpoint, AI systems are vulnerable to biases. If AI is trained on datasets reflecting social inequalities, these systems risk perpetuating—or even exacerbating—those disparities. Cathy O’Neil, in her 2016 book Weapons of Math Destruction, warned that poorly designed algorithms could reinforce social injustices. Morally, the responsibility for AI technology lies with its developers, yet their neutrality often proves elusive. Without careful oversight, AI systems may prioritize efficiency over ethical considerations, posing risks to societal values. To mitigate these risks, collaboration among technologists, ethicists, legal experts, and civil society is vital. Governments and international organizations must also establish robust policies to ensure AI serves humanity positively and responsibly.

The potential and impact of AI in higher education are substantial. AI can transform learning processes, foster academic integrity, and reshape the skills required for future employment. UNESCO’s 2019 working paper, Artificial Intelligence in Education: Challenges and Opportunities for Sustainable Development, emphasized AI’s role in enhancing personalization, equity, and education management systems. Universities are adapting to these changes by integrating AI-powered tools, such as personalized learning platforms and data-driven systems for academic management. While AI holds the promise of more inclusive and effective education, it also necessitates critical reflection on its ethical implications.

Thus, integrating AI into higher education brings significant challenges, including: Public Policy: Developing comprehensive policies to align AI with sustainable development goals. Inclusivity: Ensuring equitable access to AI-powered education for all. Educator Readiness: Training educators to effectively use AI while ensuring AI systems understand educational contexts. Data Quality: Establishing inclusive, high-quality data systems. Research: Conducting extensive research on AI’s implications for education. Ethics and Transparency: Upholding ethical standards in data collection, usage, and dissemination.

Despite these challenges, AI offers opportunities to automate administrative tasks, personalize learning, and enhance accessibility for students, including those with disabilities. It also supports multidisciplinary research by processing vast datasets, driving innovation across various fields.

AI in education is a double-edged sword. While it provides innovative solutions to improve efficiency and academic outcomes, it also demands vigilance to safeguard core values such as academic freedom, integrity, and privacy. Universities must establish clear guidelines, ensure rigorous training, and foster an ethical culture in AI utilization. With a balanced approach, AI can elevate global education quality while upholding its fundamental values.

As we navigate this transformative era, higher education institutions must lead by example. AI should complement, not replace, the core values of education—creativity, integrity, and responsibility. By embracing adaptive measures and promoting ethical practices, universities can pioneer sustainable AI applications that benefit society at large.

This is the challenge and opportunity awaiting higher education: to expand access, enhance quality, and ensure the sustainability of education for future generations.

Vivat Widyatama, Vivat Civitas Academica, Vivat Indonesia, and our beloved Nusantara. (lee-@i)

Redaksi – Lili Irahali

Artificial Intelligence di Pendidikan Tinggi: Keseimbangan antara Optimisme dan Kehati-hatian?

0

Tahun 1989 Jurnal Higher Education in Europe, Vol. XIV, No. 2 mengangkat tema “The Advent of Artificial Intelligence in Higher Education” menandai momen penting dalam diskusi tentang peran Kecerdasan Buatan (AI) dalam pendidikan tinggi. Jurnal Pendidikan Tinggi di Eropa ini menampilkan sebuah artikel “The New Information Technologies and The Role of Artificial Intelligence in Their Development” (Germogen S. Pospelo) yang menyoroti potensi transformatif AI, membayangkan komputer yang dapat “bernalar” seperti manusia, memproses bahasa alami, dan menangani tugas-tugas kompleks dengan keahlian pengguna yang minimal. Lebih dari tiga dekade kemudian, AI telah berevolusi dari janji teoritis menjadi kekuatan dahsyat yang membentuk semua aspek kehidupan, termasuk pendidikan.

Namun, di samping optimisme tentang potensinya, ada kebutuhan yang sama mendesaknya untuk mengatasi masalah etika dan implikasi sosial.

AI telah membawa kemajuan luar biasa, dari pengenalan visual dan sintesis ucapan hingga representasi pengetahuan, akumulasi jenis pengetahuan, dan manipulasi segala jenis pengetahuan dengan berbagai cara dan untuk berbagai tujuan. Namun, pengembangannya menimbulkan pertanyaan tentang keselarasan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan pendidikan seperti etika, integritas, dan tanggung jawab.

Dari perspektif teknis, sistem AI rentan terhadap bias. Bila AI dilatih pada kumpulan data yang mencerminkan ketidaksetaraan sosial, sistem ini berisiko melanggengkan atau bahkan memperburuk kesenjangan tersebut. Cathy O’Neil, dalam bukunya “Weapons of Math Destruction” yang terbit pada tahun 2016 memperingatkan bahwa algoritma yang dirancang dengan buruk dapat memperkuat ketidakadilan sosial. Secara moral, tanggung jawab teknologi AI terletak pada pengembang AI, tetapi netralitas mereka sering kali sulit dipahami. Tanpa pengawasan yang cermat, sistem AI mungkin memprioritaskan efisiensi daripada pertimbangan etika, yang menimbulkan risiko terhadap nilai-nilai sosial. Untuk mengurangi hal ini, kolaborasi antara teknolog, ahli etika, pakar hukum, dan masyarakat sipil sangat penting. Juga pemerintah dan organisasi internasional harus menetapkan kebijakan yang kuat untuk memastikan AI melayani kemanusiaan secara positif dan bertanggung jawab.

Potensi dan dampak AI dalam pendidikan tinggi sangat besar. AI dapat mengubah proses pembelajaran, menumbuhkan integritas akademis, dan membentuk kembali keterampilan yang dibutuhkan oleh pekerjaan masa depan. Makalah kerja UNESCO tahun 2019, “Artificial Intelligence in Education: Challenges and Opportunities for Sustainable Development” menekankan peran AI dalam meningkatkan personalisasi, kesetaraan, dan sistem manajemen pendidikan. Perguruan tinggi beradaptasi dengan perubahan ini dengan mengintegrasikan perangkat bertenaga AI seperti platform pembelajaran yang dipersonalisasi dan sistem berbasis data untuk mengelola proses akademis. Teknologi AI menjanjikan pendidikan yang lebih inklusif dan efektif, tetapi juga menyerukan refleksi kritis tentang implikasi etisnya.

Karena itu, integrasi AI ke dalam pendidikan tinggi disertai beberapa tantangan yang signifikan, menyangkut aspek:  Kebijakan Publik, yakni mengembangkan kebijakan yang komprehensif untuk menyelaraskan AI dengan tujuan pembangunan berkelanjutan;  Inklusivitas, yakni memastikan akses yang adil ke pendidikan bertenaga AI untuk semua;  Kesiapan Pendidik, yakni melatih pendidik untuk menggunakan AI secara efektif dan memastikan sistem AI memahami konteks pendidikan;  Kualitas Data, yakni menetapkan sistem data yang inklusif dan berkualitas tinggi;  Penelitian, yakni melakukan penelitian ekstensif tentang implikasi AI untuk pendidikan;  Etika dan Transparansi, yakni mempertahankan standar etika dalam pengumpulan, penggunaan, dan penyebaran data.

Meskipun ada tantangan tersebut, AI menawarkan peluang mengotomatiskan tugas administratif, mempersonalisasi pembelajaran, dan meningkatkan aksesibilitas bagi mahasiswa secara inklusif (penyandang disabilitas). AI juga mendukung penelitian multidisiplin dengan memproses kumpulan data yang sangat banyak, mendorong inovasi di berbagai bidang.

AI bagai pedang bermata dua dalam pendidikan. Meskipun menawarkan solusi inovatif untuk meningkatkan efisiensi dan hasil akademis, AI juga menuntut kewaspadaan untuk menjaga nilai-nilai inti seperti kebebasan akademis, integritas, dan privasi. Perguruan tinggi harus menerapkan pedoman yang jelas, memastikan pelatihan yang ketat, dan menumbuhkan budaya etis dalam pemanfaatan AI. Dengan pendekatan yang seimbang, AI dapat meningkatkan kualitas pendidikan global sambil menegakkan nilai-nilai fundamentalnya.

Saat kita mengarungi era transformatif ini, perguruan tinggi harus memimpin dengan memberi contoh. AI harus mampu melengkapi bukan menggantikan nilai-nilai inti pendidikan yaitu kreativitas, integritas, dan tanggung jawab. Dengan merangkul langkah-langkah adaptif dan mendorong praktik etis, perguruan tinggi dapat memelopori pemanfaatan AI yang berkelanjutan, yang memberi manfaat bagi masyarakat luas.

Inilah tantangan dan peluang yang menanti perguruan tinggi: untuk memperluas akses, meningkatkan kualitas, dan memastikan keberlanjutan pendidikan tinggi bagi generasi mendatang. Wallahualam.

            Vivat Widyatama, Vivat Civitas Academica, Vivat Indonesia dan Nusantara tercinta. (@lee)

 

Redaksi – Lili Irahali

Artificial Intelligence: Roots and Early Development

Discussing Artificial Intelligence (AI) by referring to Melanie Mitchell’s book, Artificial Intelligence: A Guide to Intelligent Systems (2020) describes AI’s long journey from philosophical idea to practical technology.  AI has its roots in the history of human thought, starting with fundamental questions about what intelligence is and how the mind works.  AI has evolved through the interaction of human thought, technological advances, and real-world challenges. Despite much that has been achieved, the history of AI shows that the road ahead is full of new challenges, both from a technical and ethical perspective. Understanding these historical roots, we can at least better appreciate how AI has and will continue to shape our future.

Melanie’s book delves into the intellectual, philosophical and technical roots of this field, which have formed the basis of its development over the centuries.

Inspiration from Philosophical Thought

The history of AI cannot be separated from humans’ efforts to understand themselves. Philosophy played an important role in forming early concepts of intelligence and information processing. Greek philosophers, Plato and Aristotle tried to explain how humans think and make decisions through logic.

Aristotle introduced the idea of ​​formal logic, which is a system of rules for drawing conclusions from premises. This logic is the basis for understanding the inference process, which is then applied in modern computer systems. René Descartes in the 17th century introduced dualism, namely the view that the mind and body are separate entities. He also argued that the human mind could be analyzed mechanically, an idea that inspired the quest to build intelligent machines. In the same period, philosophers Thomas Hobbes and Gottfried Wilhelm Leibniz argued that human thought processes could be reduced to mathematical operations (the idea of ​​Mechanism). Leibniz even dreamed of creating a machine that could solve all problems with logic.

Mechanical Machines and the Industrial Revolution

Throughout the 17th century to the 19th century, technological developments spurred imagination about the possibility of creating machines that could think. Mechanical machines began to be designed to imitate human functions.

The automaton, a “Turk” machine (a type of robot that could play chess against a human) designed in the 18th century, is an early example of an attempt to imitate human intelligence. Even though Turk is actually a hoax (controlled by hidden humans), it shows great interest in the idea of ​​intelligent machines. Then, Charles Babbage designed the analytical engine, the prototype of the first modern computer. Meanwhile, Ada Lovelace understood the potential of these machines to do more than just calculations, creating the first algorithm designed to be executed by a machine.

The Computing Revolution in the 20th Century

The modern foundations of AI began to take shape with the development of computational theory in the early 20th century. The idea that the human mind can be simulated through mathematical algorithms is at the heart of the field. In 1936, Alan Turing introduced the concept of a Turing machine, a theoretical device that can process algorithms to solve any problem that can be defined mathematically (Theory of Computation). Turing also raised the question of whether machines can think in his essay “Computing Machinery and Intelligence” (1950), which introduced the Turing Test as a measure of machine intelligence.

Then, in the 1940s and 1950s, Norbert Wiener introduced the field of cybernetics, which studies control and communication systems in machines and living organisms. This concept is the basis for the development of adaptive and self-learning systems in AI.

The Birth of Artificial Intelligence as a Discipline

The term “artificial intelligence” was first coined at the Dartmouth conference in 1956, which is considered the official starting point of the field. Leading researchers, namely John McCarthy, Marvin Minsky, Allen Newell, and Herbert Simon, gathered to explore how to create machines that could think like humans. Early approaches to AI focused on rule-based systems, where computers were programmed to follow a strict set of logical instructions. This approach is used to build programs such as Logic Theorist and General Problem Solver, which can solve basic mathematical and logical problems.

During the 1950s and 1960s, there was great optimism that AI would quickly produce machines capable of performing almost all human tasks. However, technical challenges soon emerged.

Period of Disappointment (AI Winter)

Initial optimism soon faded as researchers realized the limitations of rule-based systems. Machines have a hard time dealing with real-world problems that require intuition, flexibility, and understanding of context.

Early AI systems had difficulty coping with the exponentially growing complexity of problems. For example, chess games or natural language processing required far more computing than computers could handle at that time. In addition, computing technology is not yet powerful enough, and data for training AI systems is still very limited (lack of data and computation). As a result of this disappointment, funding for AI declined for decades, creating a period known as “AI Winter.”

The Rise of AI: Machine Learning and Data

At the end of the 20th century, AI experienced a revival with the emergence of a new approach, namely machine learning. This approach allows computers to learn from data rather than relying entirely on human-defined rules.

The concept of artificial neural networks, first introduced in the 1940s by Warren McCulloch and Walter Pitts, was revived with the development of training algorithms such as backpropagation. Neural networks allow computers to recognize patterns in data and make predictions. Then, the emergence of the internet and the digital revolution created very large volumes of data (big data), which became the main fuel for training machine learning systems. Increased computing power, especially with the introduction of graphics processing units (GPUs), enables the training of larger and more complex AI models.

The Modern Era: AI That Changed the World

Today, AI has become an integral part of everyday life, used in various applications such as facial recognition, virtual assistants, autonomous cars, and many more. Some important developments in modern AI are: Deep learning is an advancement in deep neural networks (deep learning) enabling computers to perform tasks previously thought impossible, such as recognizing images with high accuracy and translating languages ​​in real-time. Then Natural Language Processing (NLP) is an advance in natural language processing that has enabled the development of models such as GPT (Generative Pre-trained Transformer), which can understand and generate text in a human-like way.

With the immense power that AI has, questions arise about its ethical and social impact. How AI can be used responsibly for the benefit of humanity is an increasingly important topic of discussion.

 

Written by: lili irahali from various sources

Edisi November 2024

0

 

Perubahan Iklim, Wajah Indonesia & Upaya Mitigasi Demi Keberlanjutan

0

Perubahan iklim merupakan sebuah fenomena kompleks yang telah terjadi dalam jangka waktu ratusan tahun. Fenomena ini memberikan pengaruh signifikan pada perubahan suhu dan pola cuaca. Perubahan iklim disebabkan faktor alami, seperti perubahan variasi siklus matahari. Namun, pada abad ke-18, mulai terjadi percepatan perubahan iklim oleh aktivitas manusia.

Perubahan iklim sebagai akibat kegiatan dan perilaku manusia tersebut sudah menjadi tantangan yang sangat mendesak untuk ditangani solusinya saat ini. Kemajuan pembangunan di seantero planet bumi mau tidak mau didorong oleh temuan-temuan manusia yang ditandai melalui Revolusi Industri. Akumulasi akibat berbagai kegiatan manusia sejak Revolusi Industri 1.0, 2.0, 3.0, dan 4.0 telah   menimbulkan dampak seperti: emisi karbon; eksplorasi sumber daya alam (tambang, deforestasi hutan dan rusaknya keanekaragaman hayati hutan, kerusakan tanah dan polusi udara;  eksploitasi laut dan polusi plastik yang telah merusak keanekaragaman hayati laut); perkembangan teknologi yang berperan besar dalam peningkatan emisi karbon; serta  era digital dan jejak karbon yang membutuhkan energi besar, serta limbah digital.

Perubahan Iklim

            Perubahan iklim mengacu pada perubahan jangka panjang dalam pola cuaca dan suhu global. Hal ini dipicu oleh peningkatan suhu rata-rata bumi akibat efek rumah kaca yang diperburuk oleh emisi karbon yang berlebihan. Perubahan iklim sering dikaitkan juga dengan pemanasan global, yang merujuk pada kenaikan suhu rata-rata permukaan bumi. Pemanasan global merupakan konsekuensi langsung dari efek rumah kaca yang diperburuk oleh emisi karbon. Kondisi perubahan iklim kini dan prediksi mendatang menggambarkan kecenderungan yang semakin meningkat.

Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), suhu rata-rata global telah meningkat sebesar 1,1 derajat C sejak era pra-industri (1850-1900). Data ini menunjukkan percepatan peningkatan suhu yang lebih tinggi daripada yang diperkirakan beberapa dekade lalu. Dampak saat ini, yakni: fenomena seperti gelombang panas, cuaca ekstrem, dan mencairnya es kutub menjadi lebih sering terjadi. Data tahun 2020 tercatat sebagai salah satu tahun terpanas, dengan suhu global 1,2 derajat C di atas rata-rata pra-industri.

Sementara, World Meteorological Organization (WMO) menunjukkan bahwa frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem telah meningkat. Badai, banjir, dan kekeringan lebih sering terjadi dan menyebabkan kerusakan signifikan. Badai tropis pada tahun 2020 yang menghantam Vietnam menyebabkan kerugian ekonomi senilai $1,7 miliar, sementara banjir di India tahun 2021 menewaskan lebih dari 1.200 orang. Konsentrasi CO2 di atmosfer (Konsentrasi Gas Rumah Kaca) telah mencapai level tertinggi dalam sejarah manusia modern. Pada 2021, konsentrasi CO2 mencapai 419 ppm (parts per million), meningkat dari 280 ppm pada era pra-industri. Gas rumah kaca lainnya, seperti metana dan nitrogen dioksida, juga meningkat signifikan, dengan metana tumbuh pada laju tahunan terbesar sejak pengukuran dimulai.

IPCC menemukan terdapat lebih dari 50% kemungkinan bahwa kenaikan suhu global akan mencapai atau melampaui 1,5 derajat C (2,7 derajat F) antara tahun 2021 dan 2040 di seluruh skenario yang diteliti, dan pada jalur emisi tinggi, khususnya, dunia mungkin akan terkena dampaknya. Ambang batas ini bahkan lebih cepat lagi — antara tahun 2018 dan 2037. Kenaikan suhu global dalam skenario intensif karbon juga dapat meningkat menjadi 3,3 derajat C hingga 5,7 derajat C (5,9 derajat F hingga 10,3 derajat F) pada tahun 2100. Perkiraan jumlah pemanasan ini sebagai gambaran, terakhir kali suhu global melampaui 2,5 derajat C (4,5 derajat F) di atas suhu pra-industri adalah lebih dari 3 juta tahun yang lalu. Mengubah arah untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat C (2,7 derajat F) – tanpa atau melampaui batas tertentu – akan memerlukan pengurangan emisi GRK (Gas Rumah Kaca) yang besar dalam jangka pendek. (https://wri-indonesia.org/id/wawasan/10-temuan-besar-dari-laporan-ipcc-2023-terkait-perubahan-iklim)

Menurut IPCC pula peningkatan frekuensi dan intensitas bencana alam, serta ekstremitas cuaca akan terus meningkat. Cuaca ekstrem seperti badai, banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan akan menjadi lebih sering dan lebih intens dalam beberapa dekade mendatang. Diprediksi dengan peningkatan suhu yang lebih tinggi dari 1,5°C, sekitar 20-30% spesies terancam punah (kehilangan keanekaragaman hayati). Terumbu karang yang saat ini sudah mengalami pemutihan besar-besaran akan hampir seluruhnya hilang pada tahun 2050. Bahkan, Global Climate Risk Index 2021, menyebutkan Indonesia adalah salah satu negara yang sangat rentan terhadap risiko cuaca ekstrem.

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) melaporkan permukaan laut global telah naik sekitar 21–24 cm sejak tahun 1880, dengan kenaikan yang lebih cepat dalam dua dekade terakhir. Dampak kenaikan permukaan laut telah menyebabkan erosi pantai, banjir pesisir, dan pencemaran air tanah di banyak wilayah pesisir. Jakarta, merupakan salah satu kota dengan penurunan permukaan tanah tercepat, sebagian wilayah kota Jakarta diprediksi tenggelam pada tahun 2050 jika tidak ada upaya mitigasi yang signifikan. Menurut NOAA pada tahun 2100, kenaikan permukaan laut diprediksi akan mencapai 0,61-1,10 meter, tergantung pada skenario emisi global. Kenaikan ini tidak hanya mengancam komunitas pesisir, tetapi juga akan mempercepat hilangnya habitat di dataran rendah, menyebabkan lebih banyak pengungsi iklim. Dampaknya diprediksi negara-negara kepulauan seperti Maladewa akan kehilangan sebagian besar wilayah daratannya pada akhir abad ini jika tren ini berlanjut.

Perubahan iklim lebih jauh akan berdampak pada sistem produksi pangan global. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), peningkatan suhu, perubahan pola curah hujan, dan kejadian cuaca ekstrem akan menyebabkan penurunan hasil pertanian hingga 25% di beberapa wilayah tropis pada pertengahan abad ini, termasuk di Indonesia.

Dampak Terhadap Kehidupan Manusia

Kondisi perubahan iklim tersebut  memberikan dampak pada kehidupan manusia dan ekosistem sehingga menciptakan berbagai tantangan sosial ekonomi, yakni: kesehatan manusia karena bencana alam, keanekaragaman hayati yang terancam karena perubahan habitat, serta ketahanan pangan yang menurun serius karena perubahan pola hujan, suhu bumi yang meningkat. The World Bank memprediksi bahwa perubahan iklim bisa memaksa lebih dari 216 juta orang menjadi pengungsi iklim pada tahun 2050. Negara-negara kepulauan dan daerah pesisir, seperti Indonesia, sangat rentan terhadap risiko ini.

Penurunan hasil pertanian dan perubahan pola curah hujan akan menyebabkan krisis pangan di banyak negara, termasuk negara-negara berkembang seperti Indonesia. Di daerah dengan kelangkaan air, terutama Asia Selatan dan Timur Tengah diperkirakan akan terjadi persaingan antar-komunitas untuk sumber daya air. Peningkatan penyakit tropis, seperti malaria dan demam berdarah akan terjadi akibat pemanasan global. Laporan The Lancet menunjukkan bahwa panas ekstrem akan meningkatkan angka kesehatan dan kematian global, terutama di daerah perkotaan.

Beberapa krisis belakangan ini menunjukkan kepada kita gambaran dampak perubahan iklim.

  1. Di Dunia:
  • Gelombang Panas di Eropa (2023), banyak negara di Eropa mengalami gelombang panas ekstrem, dengan suhu mencapai lebih dari 40 derajat C. Peristiwa ini menyebabkan ribuan kematian, kebakaran hutan besar, serta mengganggu infrastruktur, khususnya sektor transportasi dan energi. Fenomena seperti ini semakin sering terjadi akibat pemanasan global yang menyebabkan peningkatan suhu rata-rata bumi.
  • Banjir Besar di Pakistan (2022), yang disebabkan oleh curah hujan ekstrem membanjiri sepertiga wilayah Pakistan, menewaskan lebih dari 1.700 orang, dan menyebabkan jutaan orang kehilangan tempat tinggal. Fenomena ini diperkirakan diperparah oleh perubahan pola hujan akibat pemanasan global.
  1. Di Indonesia:
  • Jakarta dan Daerah sekitarnya rutin mengalami banjir besar hampir setiap tahun. Perubahan pola curah hujan akibat pemanasan global, diperparah oleh urbanisasi dan penurunan permukaan tanah, membuat banjir semakin sering dan parah. Pada 2020, banjir besar terjadi pada awal tahun, yang menewaskan puluhan orang dan merusak ribuan rumah.
  • Nusa Tenggara Timur (NTT), salah satu daerah paling kering di Indonesia, semakin rentan terhadap kekeringan panjang yang diperparah oleh perubahan iklim. Pada 2020, kekeringan ekstrem melanda daerah ini, mengganggu sektor pertanian dan memperburuk kemiskinan.
  1. Di Jawa Barat:
  • Jawa Barat, khususnya kawasan Bandung Utara menghadapi krisis lingkungan akibat deforestasi untuk pembangunan perumahan dan pertanian. Hilangnya hutan telah mengurangi kapasitas penyerapan air tanah, meningkatkan risiko banjir di musim hujan, dan memperparah kekeringan di musim kemarau. Selain itu, perusakan ekosistem hutan menyebabkan tanah menjadi rentan terhadap erosi dan longsor.
  • Longsor besar di Sumedang pada awal 2021, menewaskan puluhan orang dan menyebabkan kerusakan besar. Peristiwa ini merupakan akibat dari curah hujan ekstrem yang diperparah oleh penggundulan hutan. Perubahan iklim telah meningkatkan intensitas curah hujan, sementara deforestasi di daerah perbukitan meningkatkan risiko longsor.

Perubahan Iklim Jawa Barat dan Bandung Terkini

Merujuk data perubahan iklim di Jawa Barat dan Kota Bandung terkini menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan.

Paparan Kepala Pusat Perubahan Iklim ITB Djoko Santoso Abi Suroso dalam acara Bencana Akibat

Perubahan Iklim disiarkan secara daring di Jakarta, Kamis (19/10/2023). (ANTARA/Muzdaffar Fauzan)

  1. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan suhu rata-rata di Bandung telah mengalami kenaikan. Pada 2020 rata-rata suhu udara di Bandung mencapai 23-24 detrajat C, meningkat sekitar 0,5 derajat C dibandingkan dengan dekade sebelumnya. Kenaikan ini merupakan dampak dari urbanisasi, deforestasi, dan perubahan iklim global. Dampak lokal peningkatan suhu menyebabkan fenomena urban heat island (UHI), yaitu kondisi di mana kota menjadi lebih panas dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Hal ini memperburuk kualitas udara dan meningkatkan risiko penyakit yang terkait dengan suhu panas.
  2. Data IQAir  tahun 2023 menyebutkan Bandung memiliki tingkat polusi udara PM2.5 yang mencapai rata-rata 35-45 µg/m³ melebihi ambang batas aman dari WHO yaitu 10 µg/m³.  Kualitas udara yang buruk berdampak negatif pada kesehatan penduduk, terutama anak-anak dan lansia yang rentan terhadap penyakit pernapasan seperti asma dan bronkitis.
  3. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat pada tahun 2021, Bandung dan sekitarnya mengalami lebih dari 70 kejadian tanah longsor dan banjir. Banjir bandang yang sering terjadi di kawasan hilir Citarum dan longsor di daerah dataran tinggi menjadi ancaman serius bagi infrastruktur dan keselamatan penduduk, terutama di wilayah utara Bandung yang  mengalami alih fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian dan perumahan.
  4. Deforestasi dan Alih Fungsi Lahan Wilayah Bandung Utara yang dahulu merupakan kawasan konservasi hutan kini telah banyak beralih fungsi menjadi lahan perumahan dan pertanian. Laporan Dinas Kehutanan Jawa Barat menunjukkan bahwa dalam 10 tahun terakhir, lebih dari 30% hutan di kawasan Bandung Utara hilang, yang mengurangi kemampuan tanah menyerap air dan meningkatkan risiko banjir serta longsor. Hilangnya area hutan mengganggu keseimbangan ekosistem lokal, mempengaruhi keanekaragaman hayati, dan meningkatkan risiko erosi serta degradasi tanah, yang pada akhirnya mempengaruhi siklus hidrologi.
  5. Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Sumber Daya Air Jawa Barat menyebutkan pasokan air tanah di Bandung mengalami penurunan signifikan. Debit air di Sungai Citarum, yang menjadi sumber air utama untuk Jawa Barat terus menurun akibat deforestasi, pencemaran, dan perubahan iklim. Kota Bandung kini menghadapi ancaman krisis air bersih, terutama di musim kemarau panjang. Penurunan kualitas air juga terjadi akibat pencemaran limbah industri yang tidak dikelola dengan baik.

Dampak Jangka Panjang dan Upaya Mitigasi

Gambaran di atas menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman yang jauh di masa depan, melainkan masalah mendesak yang sudah berdampak pada kehidupan manusia dan ekosistem global. Jika tren peningkatan suhu global dan kenaikan permukaan laut terus berlanjut, keberlanjutan planet dan kehidupan manusia akan sangat terganggu. Oleh karena itu, aksi segera dan komprehensif untuk mitigasi dan adaptasi sangat diperlukan untuk melindungi bumi bagi generasi mendatang.

Fenomena perubahan iklim yang ekstrem ini memperburuk kualitas hidup, menurunkan hasil pertanian, meningkatkan kerawanan pangan, serta menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar. Di Jawa Barat dan Indonesia secara umum, upaya mitigasi, seperti reboisasi, pengelolaan air yang lebih baik, dan penerapan kebijakan lingkungan yang ketat, menjadi semakin mendesak untuk mengurangi dampak perubahan iklim yang semakin parah.

Uraian di atas menunjukkan perubahan iklim tidak hanya menjadi masalah lingkungan, tetapi juga krisis kemanusiaan yang membutuhkan perhatian global dan lokal. Upaya untuk mitigasi dan adaptasi diantaranya dengan melibatkan perguruan tinggi. Paling tidak aspek mitigasi dan adaptasi berikut perlu menjadi perhatian.

  1. Pengurangan Emisi Karbon, untuk menahan laju kenaikan suhu, pengurangan emisi karbon secara signifikan harus segera dilakukan. Menurut IPCC, untuk menjaga kenaikan suhu di bawah 1,5 derajat C, emisi global harus mencapai net-zero pada tahun 2050.
  2. Adaptasi Terhadap Kenaikan Permukaan Laut, negara-negara pesisir, termasuk Indonesia, harus mulai mempersiapkan diri dengan infrastruktur adaptif untuk menghadapi banjir, seperti membangun tanggul dan mengelola tata ruang untuk menghindari pembangunan di kawasan rentan.
  3. Peningkatan Pendidikan dan Kesadaran Global melalui Green Curriculum di perguruan tinggi diharapkan dapat memainkan peran penting dalam menyiapkan generasi masa depan yang lebih sadar terhadap keberlanjutan planet dan tantangan perubahan iklim dengan cara inovatif dan berkelanjutan. Tentunya hal tersebut adalah langkah yang mendesak dan penting.

Written by: lili irahali dari berbagai sumber

Green Curriculum, Perguruan Tinggi & Dampak Positif

0

Green Curriculum merupakan upaya pendidikan dalam rangka menjawab tantangan
perubahan iklim dengan tujuan menciptakan kesadaran lingkungan dan memberdayakan
generasi muda menghadapi tantangan perubahan iklim. Green curriculum melibatkan
perubahan dan sistem pendidikan yang memprioritaskan topik lingkungan, keberlanjutan dan
perubahan iklim. Green curriculum sebagai upaya mengintegrasikan prinsip-prinsip
keberlanjutan ke dalam kurikulum perguruan tinggi. Green curriculum didefinisikan sebagai
program dan proses pendidikan that incorporates principles of sustainability enables all people
to become effective, engaged, global citizens by empowering them with the knowledge, values
& skills to promote a future that is socially just, and humane, economically viable, ecologically
sound, supporting healthy quality of life and holistic well-being” (Sustainable Peralta Green
Curriculum Subcommittee, 07 Nov 2006).
Berkaitan dengan tantangan mencapai SDGs Indonesia menuju 2030 yang mencakup:
1) Kesenjangan Wilayah, disparitas pembangunan antara daerah perkotaan dan pedesaan; 2)
Pendanaan, keterbatasan sumber daya finansial untuk pembiayaan berbagai program SDGs; 3)
Kapasitas Institusional, keterbatasan kapasitas di tingkat lokal mengimplementasikan dan
memantau pencapaian SDGs; 4) Perubahan Iklim, ancaman perubahan iklim yang dapat
mempengaruhi berbagai sektor pembangunan. Merujuk Peta Jalan SDGs Indonesia secara
langsung green curriculum mencakup upaya mencapai:
1) SDG-4, Pendidikan Berkualitas: mendorong akses pada pendidikan yang mendukung
keberlanjutan, termasuk metode pembelajaran yang inovatif dan inklusif.
2) SDG-13, Penanganan Perubahan Iklim: melakukan riset yang berkontribusi pada solusi
perubahan iklim dan mengajarkan mahasiswa tentang dampak perubahan iklim.
3) SDG-11, Kota dan Komunitas Berkelanjutan: perguruan tinggi dapat bekerja sama dengan
pemerintah untuk mengembangkan kebijakan lokal yang mendukung keberlanjutan.
4) SDG-12, Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab: mendorong pola konsumsi yang
bertanggung jawab di kampus serta mengembangkan riset terkait produksi berkelanjutan.
Sedang secara tidak langsung green curriculum mencakup dampak pada: SDG-1, SDG-
2, SDG-3, SDG-6, SDG-7, SDG-8, SDG-9, SDG-10, SDG-16, dan SDG-17.
Peta Jalan SDGs Indonesia Terkait Green Curriculum

1. Pendidikan Berkualitas (SDG 4):
 Program dan Inisiatif: Program Indonesia Pintar, Wajib Belajar 12 Tahun, dan Peningkatan Kualitas
Pendidikan Tinggi.
 Target: Memastikan semua anak mendapatkan akses pendidikan dasar dan menengah yang gratis,
setara, dan berkualitas.
2. Kota dan Komunitas Berkelanjutan (SDG 11):
 Program dan Inisiatif: Pengembangan Kota Cerdas (Smart City), Peningkatan Transportasi Umum, dan
Perencanaan Perkotaan yang Berkelanjutan.
 Target: Meningkatkan kualitas hidup di perkotaan dan memastikan pembangunan kota yang inklusif dan
berkelanjutan.
3. Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (SDG 12):
 Program dan Inisiatif: Program Pengelolaan Limbah, Promosi Konsumsi Berkelanjutan, dan Edukasi

tentang Produksi Ramah Lingkungan.
 Target: Mengurangi separuh sampah makanan per kapita dan memastikan pola konsumsi dan produksi
yang berkelanjutan.
4. Penanganan Perubahan Iklim (SDG 13):
 Program dan Inisiatif: Program Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim, Penghijauan, dan Pengurangan
Emisi Gas Rumah Kaca.
 Target: Mengurangi emisi karbon hingga 29% (dengan upaya sendiri) atau 41% (dengan bantuan
internasional) pada tahun 2030.
Peran dan Kontribusi Perguruan Tinggi
Menjawab tantangan pendidikan tinggi terkait green curriculum, perguruan tinggi dapat
berperan aktif dalam tiga hal utama: penyusunan kurikulum, pengembangan infrastruktur ramah
lingkungan, dan penelitian serta pengabdian masyarakat yang mendukung keberlanjutan.
Upaya mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan ke dalam kurikulum perguruan tinggi
dapat dilakukan melalui:
• Kurikulum Berbasis Keberlanjutan: menyusun program studi yang mencakup topik-topik
seperti ekologi, perubahan iklim, energi terbarukan, dan pengelolaan sumber daya alam.
• Pembelajaran Interdisipliner: menggabungkan ilmu sosial, sains, dan teknologi dalam
memahami isu keberlanjutan dari berbagai sudut pandang.
• Penerapan Teori ke Praktek: mengadakan kegiatan yang memungkinkan mahasiswa terlibat
langsung, seperti praktik lapangan, program magang pada lembaga yang bergerak di bidang
lingkungan, dan proyek penelitian keberlanjutan.
Nana Supriatna mengilustrasikan green curriculum dalam pelajaran sejarah
mencontohkan dalam dua hal: Pertama, sebagai pendekatan untuk memilih materi pelajaran
sejarah tentang masalah lingkungan hidup, kerusakan lingkungan, bencana kemanusiaan,
pemanasan global yang berlangsung dalam perjalanan sejarah umat manusia yang disebabkan
oleh adanya hegemoni pemilik kuasa (power) atas kelompok lain. Kedua, sebagai cara
pandang kritis (critical theory) yang relevan dengan pemikiran postmodernism tentang
pentingnya otonomi para siswa untuk menentukan jalan hidupnya pada masa yang akan
datang, tentang pentingnya menggali kearifan lokal masyarakat (termasuk sejarah lokal) dalam
beradaptasi dengan lingkungan hidup, serta tentang pentingnya mengembalikan posisi biner
(binari) kepada masyarakat setempat (masyarakat lokal) seperti diungkap oleh para pendukung
postcolonial theory. Cara pandang kritis tersebut difasilitasi dengan menggunakan konsep
dalam ecopedagogy sebagai bagian dari critical pedagogy (Nana Supriatna – Universitas
Pendidikan Indonesia, Agustus 2017).
Dampak Positif Green Curriculum
Perguruan tinggi sudah merasakan dampak positif penerapan green curriculum.
Program-program keberlanjutan yang mereka integrasikan ke dalam kurikulum dan aktivitas
kampus telah memberikan hasil signifikan, baik dalam hal perubahan perilaku mahasiswa
maupun dalam kinerja institusi. University of Queensland berhasil meraih Penghargaan Green
Gown pada 2021 untuk inisiatif pengurangan karbon, serta rating Silver dalam STARS yang
mengakui performa keberlanjutan mereka di tingkat internasional. Gothenburg University dan
Wageningen University telah melaporkan peningkatan dalam efisiensi energi dan pengurangan
emisi sebagai bagian dari program green curriculum, juga mencatat pengurangan penggunaan

plastik sekali pakai di laboratorium dan kampus. Wageningen University telah menghasilkan
lulusan yang berperan penting dalam penelitian lingkungan global dan pengembangan teknologi
hijau. Banyak alumninya bekerja di organisasi internasional untuk menyelesaikan masalah
keberlanjutan pangan dan lingkungan. Kyoto University memperkenalkan kurikulum
keberlanjutan yang berfokus pada adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, serta pengelolaan
sumber daya air. Kurikulum ini melibatkan mahasiswa dalam riset tentang teknologi energi
terbarukan, kebijakan lingkungan, dan mitigasi bencana. Lulusan Kyoto kini bekerja di sektor
energi, pemerintahan, dan organisasi internasional, dan mereka turut serta dalam
pengembangan kebijakan lingkungan Jepang yang lebih ketat. Perguruan tinggi ini telah diakui
sebagai model penerapan green curriculum di Asia Timur.
Penerapan green curriculum memberi dampak menguntungkan tidak hanya perguruan
tinggi, tetapi juga masyarakat luas, terutama pada:
• Peningkatan Kesadaran Lingkungan: mahasiswa dan masyarakat menjadi lebih sadar akan
pentingnya menjaga lingkungan dan peran mereka dalam upaya keberlanjutan.
• Pengembangan SDM Ramah Lingkungan: lulusan yang memiliki pemahaman kuat terhadap
isu lingkungan dan kemampuan menerapkan praktik berkelanjutan di dunia kerja.
• Inovasi dalam Teknologi Hijau: riset-riset yang dihasilkan perguruan tinggi berpotensi
menghasilkan teknologi ramah lingkungan dan solusi inovatif untuk tantangan lingkungan,
serta menghasilkan teknologi energi terbarukan dan praktik keberlanjutan yang dapat
diadopsi oleh industri dan masyarakat.
• Kebijakan Pemerintah yang Lebih Berwawasan Keberlanjutan: banyak lulusan perguruan
tinggi berkontribusi dalam kebijakan publik yang mendukung praktik ramah lingkungan di
sektor energi, transportasi, dan pengelolaan limbah.
• Masyarakat yang Berkelanjutan: adanya tenaga ahli di bidang keberlanjutan, masyarakat
dapat lebih cepat beradaptasi dengan kebijakan yang mendukung keberlanjutan lingkungan,
baik di sektor industri, pemerintahan, maupun pendidikan.
Implementasi green curriculum akan semakin relevan seiring dengan kebutuhan untuk
mencetak lulusan yang dapat menjadi pionir dalam pencapaian keberlanjutan, baik di dalam
maupun di luar kampus. Green curriculum memberikan kontribusi signifikan bagi SDGs dan
masa depan keberlanjutan global, serta mempersiapkan generasi baru yang tidak hanya
memiliki kemampuan profesional, tetapi juga pemahaman mendalam akan tanggung jawab
mereka terhadap lingkungan.
Written by: lili irahali dari berbagai sumber: https://sdgs.bappenas.go.id/, Sterling, S. (2002), Cortese,
A.D. (2003), Leal Filho, W., et al. (2018), Clugston, R.M., & Calder, W. (2000), Nana Supriatna. (2017).

Green Curriculum Menuju Keberlanjutan

0

Prof. Dr. Ratih Hurriyati, M.P., CSBA.
Guru Besar UPI, Wakil Direktur Bidang Sumber daya, Keuangan, dan Umum

Majalah Komunita: Perubahan iklim harus disikapi, apa maknanya
berkaitan dengan pendidikan tinggi dan kurikulum?
Prof. Ratih: The Brundtland Report mendefinisikan sustainable
development sebagai “development that meets the needs of the present
without compromising the ability of future generations to meet their own
needs” (United Nations 1987). Karena itu, penting bagi kita membantu
memastikan bahwa dunia akan terus mempunyai cukup air, material,
dan sumber daya lainnya untuk sistem kehidupannya. Hal ini juga
berarti setiap pembangunan harus memerlukan keseimbangan yang
baik antara kondisi ekonomi, sosial, dan lingkungan. Sejak terbitnya
Laporan Brundtland, keberlanjutan telah menjadi salah satu perhatian
utama lembaga pemerintah, perusahaan, dan organisasi lainnya.
Deklarasi Stockholm tahun 1972 telah membahas tentang
Keberlanjutan dalam Pendidikan Tinggi. Deklarasi fokus pada menemukan cara agar
perguruan tinggi, pimpinan, dosen, peneliti, dan mahasiswa dapat menggunakan
sumber daya mereka dalam menanggapi tantangan dalam menyeimbangkan antara
upaya manusia untuk pembangunan ekonomi dan teknologi, dengan pelestarian
lingkungan. Foo (2013) menyatakan pendidikan tinggi merupakan kontributor besar bagi
masyarakat untuk mencapai keberlanjutan. Peneliti perguruan tinggi dapat memberikan
peringatan pertama mengenai tantangan lingkungan melalui riset mereka. Berdasarkan 2
hal tersebut maka pengembangan kurikulum, khususnya terkait kurikulum yang
mendukung keberlanjutan harus disesuaikan dengan 2 deklarasi tersebut.
Majalah Komunita: Urgensi mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam kurikulum
perguruan tinggi saat ini?
Prof. Ratih: Memberikan landasan bagi pengembangan kurikulum sebagai perangkat
pendidikan yang terdiri dari tujuan, materi, kegiatan belajar dan lingkungan belajar yang
positif bagi perolehan pengalaman pembelajar yang relevan dengan perkembangan
personal dan sosial pembelajar (Ornstein & Hunkins, 2014, p. 128). Kurikulum harus
mampu mewariskan Pendidikan yang berkelanjutan dari satu generasi ke generasi
berikutnya di tengah terpaan pengaruh globalisasi yang terus mengikis eksistensi
kebudayaan lokal. Ascher dan Heffron (2010) menyatakan bahwa kita perlu memahami
pada kondisi seperti apa justru globalisasi memiliki dampak negatif terhadap praktik
Pendidikan keberlanjutan. Lebih jauh mereka menyampaikan bahwa kita perlu mengenali
aspek keberlanjutan untuk membentengi diri dari pengaruh globalisasi. Sejalan dengan
pendapat Plafreyman (2007) yang menyatakan bahwa masalah Pendidikan
berkelanjutan menjadi topik hangat di kalangan civitas academica di berbagai negara.
Dalam hal mana perguruan tinggi diharapkan mampu meramu antara kepentingan
memajukan proses pembelajaran yang berorientasi kepada kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi, dengan unsur keberlanjutan peserta didik.

Majalah Komunita: Menjabarkan “green curriculum” dan elemen utama yang harus ada di
dalamnya?
Prof. R a t i h : Berorientasi pada tindakan dengan memperhatikan empat konsep
elemen, yakni:
a. Memberdayakan: mendukung pemberdayaan, kemanjuran diri, dan agensi peserta didik
dengan meningkatkan keterampilan analitis, komunikasi, dan keterampilan lainnya, serta
dengan mendukung perolehan pengetahuan dan nilai-nilai yang relevan untuk
pembangunan berkelanjutan dan mengatasi perubahan iklim.
b. Berpusat pada peserta didik: pedagogi (misalnya pendekatan kritis, partisipatif,
berorientasi pada masalah, berpusat pada peserta didik, dan eksperiensial)
memungkinkan peserta didik berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran, terlibat
secara kritis dengan pengalaman pribadi dan lingkungan alami mereka, serta
membangun pemahaman mereka sendiri.
c. Terkait karier: menggabungkan praktik atau ide yang dapat diterapkan pada
pilihan karier dan praktik tempat kerja.
d. Transformatif: berkontribusi pada upaya kolektif di seluruh masyarakat, lokal, dan
global untuk mengubah perilaku manusia, sistem, dan penyebab mendasar serta
pendorong utama perubahan iklim.
Majalah Komunita: Bagaimana mengintegrasi konsep keberlanjutan secara efektif ke
dalam berbagai mata pelajaran di perguruan tinggi?
Prof. Ratih: Mengintegrasikan konsep berkelanjutan dengan mengedepankan konsep
kunci berikut:
a. Konten berkualitas
b. Akurat secara ilmiah: konten didasarkan pada bukti yang terkait dengan
perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.
c. Menyampaikan urgensi: pendidikan penghijauan menekankan urgensi menangani
darurat iklim yang terus meningkat.
d. Sesuai usia dan perkembangan: konten responsif terhadap kemampuan anak dan
remaja yang terus berkembang seiring pertumbuhan mereka.
e. Dipengaruhi oleh masyarakat adat: pengetahuan dan perspektif masyarakat adat
dimasukkan dalam pendidikan, terutama dari kelompok masyarakat adat yang berbasis
di daerah setempat.
f. Seimbang: dimensi pembelajaran kognitif, sosial dan emosional, serta perilaku
ditangani secara seimbang untuk memastikan pendekatan holistik terhadap pendidikan
penghijauan.
Majalah Komunita: Tantangan utama perguruan tinggi dalam mengimplementasikan
green curriculum.
Prof. Ratih: Dunia menghadapi tantangan yang saling terkait dengan krisis iklim yang
membayangi sebagai ancaman eksistensial. Mengatasi tantangan ini diperlukan sistem
pendidikan yang tidak hanya mengakui realitas ini tetapi juga secara aktif mempersiapkan
individu menavigasinya dan berinovasi demi masa depan yang lebih berkelanjutan. Sistem
pendidikan nasional sering kali gagal membekali peserta didik mengatasi krisis iklim secara
efektif. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya tolok ukur yang jelas
mengembangkan kurikulum yang memberdayakan individu sebagai agen perubahan. Kita
perlu mendefinisikan apa arti sebenarnya dari pendidikan berkualitas untuk aksi hijau.
Mengacu pada kerangka kerja Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan
(ESD) untuk tahun 2030, negara-negara mengintegrasikan perubahan iklim sebagai
komponen kurikulum utama pada tahun 2030. Tujuannya adalah menanamkan pendidikan
perubahan iklim yang berkualitas secara konsisten di semua mata pelajaran.
Terdapat kerangka kerja fleksibel mendukung revisi kurikulum, yang
memungkinkan penyesuaian khusus konteks sambil mencapai tujuan pendidikan. Ini
dirancang untuk dilengkapi dengan sumber daya lain yang menerjemahkan hasil

pembelajaran dari panduan ini untuk pengembangan buku teks, pedagogi transformatif,
dan teknik penilaian. Melalui komitmen global untuk mengubah pendidikan, sehingga
dapat dipastikan bahwa semua lembaga pembelajaran secara efektif mempersiapkan
peserta didik mengatasi krisis iklim dan menciptakan solusi yang dibutuhkan
membangun masa depan yang berkelanjutan.
Majalah Komunita: Bagaimana mempersiapkan dosen dan tenaga pengajar dalam
mengadopsi dan mengimplementasikan green curriculum.
Prof. Ratih: Kurikulum pada tingkat ini harus memprioritaskan keterampilan berpikir tingkat
tinggi dari taksonomi Bloom dan menggabungkan pedagogi inovatif untuk menjelaskan
konsep-konsep kompleks secara efektif untuk memastikan pemahaman yang komprehensif
tentang ilmu dasar yang mendasari krisis iklim. Pada akhir tahap ini, peserta didik harus
mampu mengartikulasikan definisi yang jelas tentang perubahan iklim, penyebabnya,
mekanismenya, dan strategi mitigasi potensial yang didukung oleh bukti yang kuat.
Kurikulum harus mengintegrasikan diskusi tentang teknologi energi terbarukan dan
praktik berkelanjutan, seperti desain dan isolasi bangunan yang lebih baik, yang menyoroti
peran mereka dalam mengurangi ketergantungan bahan bakar fosil dan mencapai emisi nol
bersih. Selain itu, peserta didik harus mengeksplorasi dampak buruk pengasaman laut dan
peningkatan suhu pada ekosistem laut, serta peran ganda kemajuan teknologi dalam
meningkatkan produksi pangan, sekaligus menimbulkan ancaman bagi keanekaragaman
hayati.
Penting menggarisbawahi dampak perubahan iklim yang semakin meningkat
terhadap keanekaragaman hayati dan ekosistem di masa mendatang. Peserta didik harus
memahami bahwa krisis iklim berakar pada sistem ekonomi dan politik historis, yang
melanggengkan kesenjangan sosial dan ekonomi global. Ketidakadilan iklim memperkuat
ketidaksetaraan yang ada di berbagai tingkatan. Peserta didik harus mengeksplorasi
bagaimana kelompok tertentu kekurangan sumber daya untuk terlibat dalam kegiatan yang
lebih rendah polusi, dengan menekankan perlunya transisi yang adil menuju kesetaraan,
pemerataan, dan keberlanjutan. Untuk mencapai masa depan yang lebih hijau dan lebih
adil, semua pemangku kepentingan harus menerima tanggung jawab yang berbeda
berdasarkan keadilan sosial dan hak asasi manusia.
Kurikulum harus menyoroti peran gerakan sosial dan keterlibatan masyarakat dalam
mengadvokasi keadilan iklim dan menekan pemerintah memprioritaskan tindakan iklim.
Kurikulum harus menyoroti meningkatnya frekuensi dan tingkat keparahan peristiwa cuaca
dan bencana terkait perubahan iklim, dengan menggarisbawahi dampak ekonomi yang
signifikan.
Peserta didik harus membedakan antara pertumbuhan ekonomi dan pembangunan
berkelanjutan, dengan memahami bahwa pembangunan berkelanjutan mencakup
perubahan berkelanjutan untuk kesejahteraan secara keseluruhan. Mereka harus
menolak gagasan partum-buhan tak terbatas, dengan mengakui dampak merugikan dari
eksploitasi sumber daya yang tinggi terhadap manusia dan planet. Dengan demikian, perlu
ditekankan bahwa model pertumbuhan ekonomi dan pola konsumsi saat ini merupakan
pendorong krisis iklim.
Selain itu, kurikulum dapat menekankan pendekatan siklus hidup dalam ekonomi
sirkular, yang mempertimbangkan dampak lingkungan dari semua tahap kehidupan suatu
produk. Lebih jauh, mekanisme adaptasi dan mitigasi berfungsi sebagai alat untuk
mengurangi konsekuensi ekonomi yang merugikan dari perubahan iklim.
Pembelajar dapat mengeksplorasi hubungan antara pertumbuhan ekonomi, model
ekonomi yang berlaku, dan kontribusinya terhadap krisis iklim dari berbagai perspektif.
Dalam ranah sosial dan emosional, kurikulum harus membahas kecemasan iklim
sebagai kesempatan mengembangkan kesadaran emosional dan strategi penanggulangan.
Pembelajar harus membedakan antara emosi seperti kesedihan, kemarahan, ketakutan,
dan rasa bersalah yang berasal dari masalah iklim dan berempati dengan diri mereka sendiri
dan orang lain yang mengalami perasaan tersebut.

Majalah Komunita: Langkah-langkah konkret perguruan tinggi mengatasi tantangan
ini, baik dalam jangka pendek maupun panjang.
Prof. Ratih: Langkah konkrit jangka pendek. Terbentuknya domain awal dari pembelajaran
green curriculum, yakni:
a. Aspek Kognitif: memperoleh pengetahuan dan pemahaman, serta mempraktikkan
pemikiran kritis tentang isu-isu global, regional, nasional, dan lokal; keterkaitan dan saling
ketergantungan berbagai negara dan populasi; serta aspek sosial, ekonomi, dan
lingkungan dari pembangunan berkelanjutan.
b. Aspek Sosial dan Emosional: memiliki rasa memiliki terhadap kemanusiaan yang
sama dan peduli terhadap lingkungan alam; berbagi nilai dan tanggung jawab lintas
batas; memiliki empati, solidaritas, dan rasa hormat terhadap perbedaan dan
keberagaman; serta merasakan, merefleksikan, dan memikul rasa tanggung jawab
antargenerasi untuk masa kini dan masa depan.
c. Aspek Perilaku: bertindak secara efektif, kreatif, dan bertanggung jawab di tingkat lokal,
nasional, dan global untuk mempromosikan dunia yang lebih damai, inklusif, hijau, dan
berkelanjutan. Domain ini memelihara kemampuan peserta didik bertindak secara
bertanggung jawab, penuh kasih sayang, penuh rasa hormat, dan tanpa kekerasan,
membangun hubungan yang konstruktif dan berkelanjutan. Dimensi ini juga merujuk
pada kompetensi tindakan, seperti berpartisipasi secara konstruktif dalam proyek
komunitas (lokal atau global) yang mempromosikan pembangunan berkelanjutan di
lingkungan sekitar seseorang dan sekitarnya. Terakhir, dimensi perilaku membantu
peserta didik menerapkan pembelajaran mereka sesuai dengan norma komunitas lokal
atau standar masyarakat yang lebih luas.
Untuk jangka Panjang, masih diperlukan penelitian yang mendasar dan signifikan
terutama untuk Indonesia.
Majalah Komunita: Dampak jangka panjang dari green curriculum terhadap kualitas
lulusan dan kontribusi mereka terhadap keberlanjutan global.
Prof. Ratih: Melalui green curriculum menumbuhkan harapan dan mengenali potensi
tindakan kolektif dan individu untuk mengatasi tantangan iklim. Karena green curriculum
berfokus pada tindakan peserta didik mendorong penerjemahan pengetahuan kognitif
menjadi hasil perilaku. Ini dapat mencakup perilaku baru yang diadopsi oleh individu,
penggunaan bakat mereka (misalnya komunikasi, ekspresi artistik, dll.) untuk menyoroti isu-
isu kritis, partisipasi dalam acara advokasi pemuda, dan proyek-proyek komunitas.
Sehingga Pendidikan yang berkelanjutan dapat terrealisasi.
Majalah Komunita: Green curriculum dapat membantu menciptakan pemimpin masa
depan yang lebih peduli terhadap lingkungan?
Prof. Ratih: Perlu pengukuran dan model ilmiah menggunakan data iklim untuk
memprediksi masa depan alternatif. Metode ilmiah juga mendukung pemahaman kita
tentang dampak perubahan iklim
pada ekosistem dan keanekaragaman hayati. Pemahaman yang jelas tentang sains dan
bukti fundamental dapat membantu hasil peserta didik yang dapat memerangi
misinformasi, agar diberdayakan untuk terlibat aktif dalam transformasi sosial dan ekonomi
yang ramah lingkungan, dan untuk mengadopsi gaya hidup yang berkelanjutan.
Penting bagi peserta didik menyadari upaya yang dilakukan di seluruh dunia oleh
para ilmuwan dan insinyur menemukan cara mengurangi pemanasan global dan
beradaptasi dengan perubahan iklim. Ini memberikan jalan harapan. Namun, peserta didik
perlu menyadari tantangan dan peluang yang lebih luas. Mereka memang harus mampu
memadukan apa yang mereka pelajari tentang proyeksi iklim dengan solusi dari ilmu fisika
dan ilmu biologi. Yang sama pentingnya, peserta didik harus membangun tinjauan
multidisiplin dan holistik, yang menghubungkan sains, sosial, dan ekonomi.
Pemodelan perubahan iklim menunjukkan perlunya tindakan segera membatasi
kecepatan dan tingkat pemanasan global. Ilmu pengetahuan dan teknologi dimanfaatkan

untuk menemukan pendekatan baru bagi keberlanjutan. Energi terbarukan, misalnya,
menawarkan janji menggantikan bahan bakar fosil guna memenuhi kebutuhan energi gaya
hidup modern.
Pertanian berkelanjutan dapat membantu memulihkan ekosistem dan
melindungi keanekaragaman hayati. Memperkuat kesiapsiagaan dan ketahanan terhadap
perubahan iklim, baik untuk mengurangi risiko bencana maupun kecemasan ekologi,
dapat ditangani melalui tindakan positif terhadap isu iklim yang relevan bagi peserta didik.
Tindakan masyarakat memastikan pengambilan keputusan kolektif tentang kebijakan
mengurangi, beradaptasi, dan menjadi tangguh terhadap perubahan iklim.
Majalah Komunita: Harapan, saran atau rekomendasi yang ingin disampaikan kepada
pemerintah atau lembaga pendidikan terkait pentingnya mengadopsi green curriculum.
Prof. Ratih:
Harapan bahwa setiap perubahan kurikulum dapat mengantisipasi perubahan sesuai
dengan SDGs 2045. Ada dua saran atau rekomendasi:
a. Kebijakan pendidikan ramah lingkungan memperoleh legitimasi jika dikaitkan
dengan prioritas pendidikan nasional (Benavot, 2014). Meskipun ada kebutuhan yang
jelas dan mendesak akan peran penting yang dimainkan pendidikan dalam krisis iklim,
banyak negara masih menghadapi tantangan. Ada banyak alasan untuk ini, termasuk
tidak adanya contoh kurikulum; kurikulum yang terlalu padat; persepsi bahwa perubahan
iklim hanya sesuai untuk ilmu pengetahuan alam atau geografi; dan kurangnya
kapasitas guru untuk mengatasi masalah terkait.
b. Selain itu, beberapa negara memiliki sistem pendidikan federalis yang
terdesentralisasi yang menambah lapisan kompleksitas tambahan dalam
mengorganisasi upaya reformasi pendidikan yang terkoordinasi secara nasional. Penting
untuk mengatasi hambatan ini dengan memasukkan pendidikan ramah lingkungan
dalam program pendidikan.
Inreview by: Keni Kaniawati; Editing by Lili Irahali, dari berbagai sumber)