Home Blog Page 81

Mengenal Lebih Dekat Phobia

Phobia

Phobia adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena. Phobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Kata phobia sendiri berasal dari istilah Yunani phobos yang berarti lari (fight), takut dan panik (panic-fear), takut hebat (terror). Istilah ini memang dipakai sejak zaman Hippocrates.

Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap phobia sulit dimengerti. Itu sebabnya, pengidap tersebut sering dijadikan bulan bulanan oleh teman sekitarnya. Ada perbedaan bahasa antara pengamat phobia dengan seorang pengidap phobia. Pengamat phobia menggunakan bahasa logika sementara seorang pengidap phobia biasanya menggunakan bahasa rasa. Bagi pengamat dirasa lucu jika seseorang berbadan besar, takut dengan hewan kecil seperti kecoa atau tikus. Sementara dibayangan mental seorang pengidap phobia subjek tersebut menjadi benda yang sangat besar, berwarna, sangat menjijikkan ataupun menakutkan.

Dalam keadaan normal setiap orang memiliki kemampuan mengendalikan rasa takut. Akan tetapi bila seseorang terpapar terus menerus dengan subjek phobia, hal tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya fiksasi.

Fiksasi adalah suatu keadaan dimana mental seseorang menjadi terkunci, yang disebabkan oleh ketidak-mampuan orang yang bersangkutan dalam mengendalikan perasaan takutnya. Penyebab lain terjadinya fiksasi dapat pula disebabkan oleh suatu keadaan yang sangat ekstrem seperti trauma bom, terjebak lift dan sebagainya.

Seseorang yang pertumbuhan mentalnya mengalami fiksasi akan memiliki kesulitan emosi atau mental blocks dikemudian harinya. Hal tersebut dikarenakan orang tersebut tidak memiliki saluran pelepasan emosi katarsis yang tepat. Setiap kali orang tersebut berinteraksi dengan sumber phobia secara otomatis akan merasa cemas dan agar nyaman, maka cara yang paling mudah dan cepat adalah dengan cara mundur kembali atau regresi kepada keadaan fiksasi. Kecemasan yang tidak diatasi seawal mungkin berpotensi menimbulkan akumulasi emosi negatif yang secara terus menerus ditekan kembali ke bawah sadar (represi). Pola respon negatif tersebut dapat berkembang terhadap subjek subjek phobia lainnya dan intensitasnya semakin meningkat. Walaupun terlihat sepele, pola respon tersebut akan dipakai terus menerus untuk merespon masalah lainnya. Itu sebabnya seseorang penderita phobia menjadi semakin rentan dan semakin tidak produktif. Phobia merupakan salah satu dari jenis jenis hambatan sukses lainnya.

Phobia ini terbagi menjadi 3 kategori, yaitu:

1. Phobia khusus yaitu ketakutan terhadap obyek atau aktivitas tertentu. Misalnya acrophobia: takut ketinggian, ailurophobia: takut kucing, arachnophobia: takut laba-laba, cynophobia: takut anjing, nyctophobia: takut gelap, dll.

2. Phobia sosial yaitu ketakutan terhadap penilaian orang lain.

3. Agoraphobia yaitu rasa takut berada di tempat terbuka atau pusat keramaian.

Banyak hal yang membuat seseorang mengidap phobia. Paling sering karena traumatis, terutama yang terjadi dimasa kecil. Phobia terjadi karena pikiran bawah sadar kita salah memberi arti terhadap peristiwa traumatis yang menyebabkan phobia. Untuk penyembuhan phobia dapat meminta bantuan kepada seorang hypnotherapist

10 PESOHOR DUNIA YANG TERKENA PHOBIA

1. Oprah Winfrey (Takut permen karet)

Oprah memiliki phobia besar pada permen karet. Ini bermula pada usia dini, ketika neneknya mengumpulkan permen karet dan menyimpannya di lemari. Oprah begitu muak dengan hal itu dan menyebabkan dia menjadi takut permen karet selama sisa hidupnya. Suatu kali, katanya, ia melemparkan piring karena ada permen karet di atasnya.

2. Woody Allen (Panophobia/takut banyak hal)

Woody Allen termasuk orang yang mengalami phobia ektrim. Aktor dan penulis skenario berusia 74 tahun ini memiliki phobia yang cukup banyak. Ia takut ketinggian, ruang tertutup, serangga, dan kekhawatiran melebihi orang normal. Ia juga takut warna-warna cerah, binatang, lift dan selai kacang yang menempel di langit-langit mulutnya. serta meminta pisang dipotong tujuh, sebelum dimasukkan ke dalam sereal setiap pagi.

3. Richard Nixon (Nosocomephobia/takut rumah sakit)

Presiden Amerika Serikat ke-34 yang terkenal dengan skandal Watergate ini, tersugesti bahwa setelah masuk ke rumah sakit, tidak akan pernah keluar dalam keadaan hidup. Pada 1974, ia menderita pembekuan darah dan menolak dibawa ke rumah sakit. Namun ketika diberitahu bahwa jika ia tidak pergi, ia akan mati, Nixon pun menurut. Ketakutan ini cukup umum terjadi, banyak yang takut pada rumah sakit karena alasan serupa.

4. Natalie Wood (Hydrophobia/takut air)

Aktris yang dikenal dalam film Miracle on 34th Street dan West Side Story ini takut dengan air, khususnya berada di dalam air. Meskipun tidak diketahui kapan mulanya, kabar yang beredar menyebut phobia itu terjadi sejak sang ibu menipunya untuk berdiri di atas sebuah jembatan untuk adegan sebuah film. Jembatan itu sengaja dibuat rapuh agar Natalie terjatuh ke dalam air. Ironisnya, ia meninggal karena tenggelam suatu malam setelah jatuh dari kapal pesiar.

5. Sigmund Freud (Takut senjata dan pakis)

Sigmund Freud, seorang neurolog psikoanalis yang mendirikan sekolah psikiatri dan menciptakan banyak perubahan pada teori psikolgi dunia, takut dengan senjata dan pakis. Ia sering mengatakan bahwa ketakutan dengan senjata adalah tanda keterbelakangan seksual dan kematangan emosional. Juga, adalah umum bagi orang untuk takut senjata. Sedangkan takut pada tumbuhan pakis adalah hal yang sangat tidak umum. Sulit untuk tahu mengapa hal itu bisa terjadi.

6. George Washington (Taphephobia/takut dikubur hidup-hidup)

Presiden pertama Amerika Serikat ini memang terlihat gagah berani. Ia memimpin pasukan dan mempertaruhkan hidupnya untuk orang lain. Dia memiliki ketakutan yang sangat serius pada penguburan prematur. Ketakutan ini tertulis jelas di ranjang kematiannya, 1799. Ia membuat pernyataan resmi bahwa tubuhnya baru boleh dikubur dua hari setelah kematiannya. Ia khawatir tubuhnya masih hidup saat dikubur. Taphephobia adalah phobia yang cukup umum dialami masyarakat Amerika pada abad ke-16 dan 17.

7. Alfred Hitchcock (Ovophobia/takut telur)

Alfred Hitchcock, seorang sutradara dan produser yang memproduksi film-film horor ternyata memiliki ketakutan ekstrim dengan telur. Dia mengatakan bahwa telur menjijikkan dan belum pernah mencicipi telur sepanjang hidupnya. Ia pun menolak untuk berada di dekat telur. Menurutnya tidak ada yang lebih menjijikkan daripada melihat sesuatu yang bundar, putih tanpa lubang, dan berisi cairan kuning.

8. Billy Bob Thornton (Takut pada banyak hal)

Mantan suami Angelina Jolie yang berprofesi sebagai aktor, sutradara, musisi dan penulis ini juga memiliki banyak ketakutan. Sebagai permulaan, ia menderita chromophobia, atau takut warna cerah. Masih ada lagi, dia takut mebel antik. Setiap furnitur yang dibuat sebelum tahun 1950 benar-benar membuatnya ketakutan. Sebuah restoran penuh mebel antik membuatnya tidak bisa makan, minum, bahkan bernapas. Terakhir, ia juga takut badut atau coulrophobia.

9. Nikola Tesla (Takut perhiasan dan batu mulia)

Nikola Tesla, adalah penemu elektromagnetisme dan listrik. Nama belakangnya juga dijadikan satuan listrik. Ia adalah seorang germaphobe yang menghindari sentuhan orang dan hallain yang mengandung kuman. Tesla diketahui sangat sering mencuci tangan. Ia juga sangat takut pada perhiasan, terutama anting-anting yang mengandung mutiara. Ia juga memiliki keanehan dengan menyukai angka tiga atau kelipatan tiga. Sebagai contoh, ia bersikeras menginap di kamar hotel yang nomornya bisa dibagi tiga.

10. Napoleon Bonaparte (Ailurophobia/takut kucing)

Tidak jelas mengapa ia bisa takut dengan kucing. Setiap melihat kucing termasuk anak kucing yang lucu ia pasti panik. Bukan hanya Napoleon saja yang takut kucing, Adolf Hitler, Benito Mussolini dan Julius Caesar juga takut dengan binatang lucu berbulu itu. (http://unic77.info/10-pesohor-dunia-yang-memiliki-phobia-unik.html)

KALAU PIKUN MINUMLAH KOPI ATAU TEH PAHIT TIAP PAGI

Penyakit demensia atau pikun, perlahan namun pasti, akan dialami sejalan dengan pertambahan usia. Dan menurut studi, dengan minum kopi atau teh pahit setiap pagi, mampu untuk memperlambat dan melawan kepikunan.

Kopi dan teh sudah menjadi minuman favorit bagi kebanyakan orang di dunia. Tapi efek menguntungkan dari kafein pada kopi sebagai obat psikoaktif, yang dapat memelihara fungsi otak, mulai belakangan ini dihargai.

Penelitian terbaru oleh pakar internasional dari University of Lisbon dan University of Coimbra, Portugal menemukan, bahwa kafein dalam kopi dan teh dapat melindungi terhadap penurunan kognitif yang terlihat pada demensia (kepikunan) dan penyakit Alzheimer.

Studi epidemiologis pertama menunjukkan, hubungan terbalik antara konsumsi kafein dengan kejadian penyakit Parkinson. Kemudian beberapa studi epidemiologi lanjutan menunjukkan, bahwa konsumsi jumlah moderat kafein juga berbanding terbalik dengan penurunan kognitif yang terkait dengan penuaan serta kejadian penyakit Alzheimer, jelas Alexandre de Mendonca, dari Institute of Molecular Medicine and Faculty of Medicine, University of Lisbon, Portugal, seperti dilansir dari beritaunik.net.

Selain kopi pahit, teh pahit juga dapat melawan kepikunan. Uji laboratorium menemukan, bahwa minum secangkir teh hitam dan hijau secara teratur dapat menghambat aktivitas enzim tertentu di otak, yang membawa pada Alzheimer, yaitu suatu bentuk demensia generatif yang mempengaruhi 10 juta orang di seluruh dunia.

Berdasarkan jurnal Phytotherapy Research, Alzheimer ditandai dengan penurunan asetilkolin. Kopi dan teh pahit dapat menghambat aktivitas enzim acetylcholinesterase (AChE), yang memecah bahan kimia atau neurotransmiter dan asetilkolin.

Selain itu kopi, teh hitam, dan teh hijau juga menghambat aktivitas enzim butyrylcholinesterase (BuChE), yang ditemukan dalam deposit protein pada otak penderita Alzheimer.

Meskipun tidak ada obat untuk Alzheimer, kopi dan teh berpotensi menjadi senjata lain yang digunakan untuk mengobati penyakit ini dan memperlambat perkembangannya, ungkap Dr. Ed Okello, peneliti dari Medicinal Plant Research Centre di Newcastle University, Inggris.

Tapi ingat, harus kopi atau teh pahit, cukup setiap paginya. Karena minum kopi secara berlebihan, dapat meningkatkan serangan stroke akibat kerusakan pada dinding pembuluh darah. Pada wanita hamil dapat meningkatkan denyut jantung, menyerang plasenta, masuk ke dalam sirkulasi darah, dan yang lebih parah bisa menyebabkan kematian.

Tapi minum kopi dalam jumlah yang sedang tidak membahayakan, malah bisa memberikan manfaat

“Irritable Bowel Syndrome” dan Gangguan Cemas

Irritable Bowel Syndrome atau yang sering disingkat IBS adalah suatu kondisi gangguan perut yang ditandai dengan rasa tidak nyaman di daerah perut, yang disertai dengan gejala-gejala episodik perasaan sulit buang air besar (konstipasi) dan atau diare. IBS sering kali disebut sebagai suatu kumpulan keluhan dan bukan penyakit maag tertentu.

Kembung, banyak gas dan perasaan tidak nyaman adalah keluhan yang paling sering dialami pasien selain diare dan sulit buang air besar.

Label “IBS” sering digunakan ketika pemeriksaan laboratorium atau penunjang lain seperti USG atau endoskopi tidak merujuk pada diagnosis spesifik untuk menjelaskan gejala yang ada. IBS biasanya kronis, dan membuat masalah dalam kehidupan pasien yang nyata IBS Terkait dengan Kecemasan dan Depresi Stres dan kecemasan telah terbukti mengganggu fungsi pencernaan.

Diperkirakan bahwa hingga 60% orang yang mencari perawatan medis untuk IBS juga melaporkan kecemasan dan atau gangguan mood. Beberapa penelitian mengatakan pasien gangguan panik sebagai salah satu tipe gangguan kecemasan yang paling sering dialami mempunyai kerentanan mengalami IBS antara 25-40%.

Beberapa peneliti percaya bahwa orang dengan IBS yang sensitif terhadap bahan kimia stres tertentu, sehingga respon berlebihan dari usus besar. Beberapa hal yang memperburuk gangguan panik juga dapat memperburuk gejala IBS. Misalnya, stres, alkohol dan kafein cenderung memicu serangan panik dan telah juga dikaitkan dengan gejala IBS meningkat. Untuk itu perlu penanganan kasus IBS bersama dengan psikiater yang memahami kondisi hubungan antara stres dan gangguan perut yang dialami.

Tip untuk mengelola gejala IBS

1. Memilih Makananan Yang Benar

Sering kali, gejala IBS diperburuk oleh makanan atau minuman tertentu. Ini sering disebut “memicu”, dan mereka berbeda untuk setiap orang. Pemicu umum yang telah terbukti dapat meningkatkan gejala IBS, meliputi : minuman dan makanan yang mengandung kafein, Alkohol, sayuran mentah, kulit di buah, Makanan tinggi lemak, minuman bersoda, produk susu. Mungkin tidak semua orang mengalami gejala-gejala IBS dengan pemicu makanan yang sama. untuk itu anda perlu mengatur menu harian anda dan melihat apakah ada makanan tertentu yang lebih mudah memicu terjadinya IBS anda.

2. Mengelola Stres

Stres yang berlebihan telah dikaitkan dengan gejala IBS meningkat dan peningkatan gejala gangguan panik. Relaksasi dan meditasi mindfulness telah banyak dilakukan untuk mengurangi stres yang berlebihan. Pasien dengan keluhan IBS juga perlu untuk mengatasi dan beradaptasi dengan stres yang dialami oleh dirinya. Reaksi stres yang berlebihan perlu diingat akan memudahkan terjadinya IBS pada diri pasien.

3. Berkunjung ke Psikiater

Sering kali pengobatan IBS oleh dokter menggunakan obat penenang dalam salah satu obatnya. Biasanya yang diberikan adalah golongan benzodiazepine. Perlu selalu diingat akan adanya potensi ketergantungan dan toleransi (dosis obat meningkat karena efeknya sudah tidak didapatkan lagi dengan dosis awal) dalam pemakaian obat jenis penenang benzodiazepine. Penggunaan obat yang rasional sangat diperlukan apalagi IBS adalah penyakit yang kronis dan berulang. Pasien yang mengalami IBS bisa melakukan konsultasi kepada psikiater berhubungan dengan hal-hal yang memicu stresnya dan juga bagaimana mengobati gangguan panik atau gangguan kecemasan lainnya yang sering berbarengan terjadinya pada pasien dengan gangguan IBS. Terapi yang tepat pada pasien secara psikiatri akan memperbaiki kondisi medis umum terkait IBS-nya.

Intinya adalah sebagai salah satu keluhan psikosomatik, maka IBS adalah salah satu kumpulan gejala sakit yang sangat erat hubungannya dengan aspek psikologis orang yang mengalaminya. Terapi pengobatan yang interdisiplin dan meliputi semua aspek akan sangat baik bagi penyelesaian kasus IBS dalam praktek sehari-hari. helath.kompas.com

RISIKO SISTEMIK

“Krisis keuangan 2007-2009 telah menciptakan minat baru dalam risiko sistemik (Billio et al,2012) dimana konsep awalnya terkait dengan bank runs dan krisis mata uang tetapi sekarang diterapkan lebih luas terhadap goncangan ke bagian lain dari sistem keuangan. Deltuvaite (2012) menekankan pentingnya risiko sistemik dalam perbankan yaitu dilihat dari argumen ekonomi, argumen sosial, argumen ilmiah dan argumen penting lainnya sehingga diharapkan risiko sistemik dapatdiantisipasi untuk menghindarkan kelumpuhan sistem keuangan”

Di Indonesia, risiko sistemik mulai sering dibicarakan setelah adanya kasus bank Century dan sering disebut sebut sebagai bank berdampak sistemik, namun sebelumnya harus dibedakan dahulu mengenai istilah risiko sistematis dan risiko sistemik yang sering tertukar atau dianggap sama. Risiko sistematik adalah risiko yang bersifat makro dimana tidak bisa dihindari dengan cara diversifikasi aset misalnya risiko akibat resesi ekonomi atau risiko akibat pemerintah mengetatkan belanjanya. Risiko risiko seperti ini mempunyai dampak yang luas termasuk ke para investor. Sedangkan risiko sistemik adalah risiko rusaknya atau disfungsi sistem keuangan, dimana sistem keuangan itu adalah sekumpulan pasar, institusi, peraturan dan teknik dimana surat berharga diperdagangkan, tingkat suku bunga di temtuka, jasa keuangan dihasilkan dan ditawarkan keseluruh dunia. Sistem keuangan masih berjalan bila terjadi risiko sistematis, namun akan lumpuh bila terjadi risiko sistemik.

Hal hal yang berkaitan dengan risiko sistemik diungkapkan pada Perppu no 4 tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan pasal 1 point 4 dalam istilah Berdampak sistemik, yaitu suatu kondisi sulit yang ditimbulkan oleh suatu bank, LKBB, dan/atau gejolak pasar keuangan yang apabila tidak diatasi dapat menyebabkan kegagalan sejumlah bank dan/atau LKBB lain sehingga menyebabkan hilangnya kepercayaan terhadap sistem keuangan dan perekonomian nasional.

Karena pembicaraan mengenai risiko sistemik itu baru mulai kembali sejak tahun 2008, maka sampai saat ini belum ada istilah risiko sistemik yg sudah baku, berdasarkan tim kajian perubahan Undang undang Bank Indonesia, yang diungkap pada Draft RUU per 16 Oktober 2012 Bab I ayat 1 point 12, risiko sistemik adalah potensi terganggunya seluruh atau sebagian dari sistem keuangan yang timbul karena faktor penularan (contagion) dan penyebaran (spillover) akibat keterkaitan antar institusi dan/atau pasar keuangan, serta kecenderungan perilaku institusi keuangan untuk mengikuti siklus ekonomi (procyclical), yang dapat menimbulkan dampak negatif yang signifikan (serious negative consequences) terhadap perekonomian nasional.

Lembaga internasional keuangan lainnya yang penting ( Dana Moneter Internasional , Dewan Stabilitas Keuangan dan Bank for International Settlements ) yang dikutip dalam Deltuvaite (2013) mendefinisikan risiko sistemik sebagai ” risiko gangguan terhadap jasa keuangan yang disebabkan oleh adanya penurunan dari semua atau bagian dari sistem keuangan dan memiliki potensi untuk memiliki konsekuensi negatif yang serius bagi ekonomi riil.

Allen & Carletti ( 2008) dan Bollard ( 2011) membedakan peran utama bank dalam sistem keuangan dan ekonomi yaitu peran proses transformasi dana , menilai kelayakan kredit, fungsi pemantauan dari peminjam , peran berbagi risiko dalam perekonomian

dengan diversifikasi risiko, berkontribusi dalam pembangunan ekonomi , mengumpulkan deposito, melunasi dan menggalang dana di pasar modal jangka pendek dan berinvestasi dalam aset jangka panjang, berperan dalam menyediakan layanan pembayaran dan penyelesaian , dan lain-lain. Pentingnya bank dalam sistem keuangan dan ekonomi juga dapat dilihat dari ukuran bank dimana aset bank mendominasi (Davis (2007)) dan mengontrol sistem perekonomian (OECD(2010)).

Tingginya frekuensi krisis perbankan dikemukakan Laeven & Valencia ( 2008) yang mana telah mengidentifikasi 394 krisis keuangan selama periode 1970-2007 : 124 krisis perbankan sistemik , 207 krisis mata uang dan 63 episode krisis utang publik Menurut Laeven & Valencia (2008 , 2010) , krisis perbankan yang paling sering selama periode 1990-1994 ( sekitar 9 krisis per tahun). Reinhart & Rogoff ( 2008, 2009 ) menunjukkan 264 episode krisis perbankan di seluruh dunia selama periode 1800-2007 .

Dampak ekonomi dari krisis perbankan dikemukakan dalam penelitian Boyd et al . ( 2005 ) , Hutchison & Noy ( 2005 ) , Barrell et al . ( 2006 ) , Demirg? – Kunt et al . ( 2006) , Laeven & Valencia (2008 , 2010) , Serwa ( 2010), dan lain-lain. Sebagian besar penelitian empiris telah menunjukkan perkiraan yang sangat besar kerugian output dan biaya fiskal krisis perbankan, namun dalam beberapa kasus , menurut studi Dana Moneter Internasional ( 1998 ) , tidak ada kerugian yang signifikan dari yang diperkirakan ( kurang lebih 20 persen dari episode krisis perbankan ) . .Laeven & Valencia ( 2008) mencatat bahwa biaya fiskal yang berkaitan dengan manajemen krisis perbankan dapat substansial (sekitar 13,3 persen dari PDB rata-rata ) . Mereka juga menyatakan bahwa kerugian output krisis perbankan dapat menjadi besar dan berkisar dari 0 persen menjadi 98 persen dari PDB selama empat tahun pertama krisis perbankan ( sekitar 20 persen dari PDB rata-rata ) .

Penelitian Reinhart & Rogoff ( 2008, 2009 ) , Laeven & Valencia (2008 , 2010) telah menganalisis terjadinya krisis perbankan meningkatkan kemungkinan krisis keuangan lainnya dalam konteks global . Frekuensi yang berbeda dari jenis krisis keuangan ( perbankan , mata uang, dan utang negara ) , serta terjadinya dua atau tiga krisis keuangan telah dianalisis di studi Laeven & Valencia ( 2008 ) . Mereka mencatat bahwa beberapa negara mengalami berbagai krisis keuangan selama periode 1970-2007 : 42 kasus dapat dianggap sebagai dua krisis keuangan setiap episode dan 10

kasus dapat diklasifikasikan sebagai 3 krisis keuangan

Krisis Perbankan memiliki dampak negatif yang besar pada populasi kesejahteraan psikologis. Das et al . ( 2008) menganalisis sampel negara besar, menemukan bahwa krisis ekonomi dapat memiliki dampak yang besar pada kesehatan mental manusia . Friedman & Thomas ( 2007) meneliti efek dari krisis perbankan 1997 di Indonesia dan menemukan bahwa krisis perbankan ini memiliki dampak negatif yang besar pada populasi kesejahteraan psikologis. .Hasil studi Friedman & Thomas (2007) menunjukkan bahwa beberapa dimensi tekanan psikologis meningkat

secara substansial selama periode krisis dan bertahan bahkan setelah indikator kesejahteraan ekonomi telah kembali ke tingkat sebelum krisis . Friedman & Thomas ( 2007) menunjukkan bahwa krisis perbankan memiliki efek jangka panjang merusak pada kesejahteraan psikologis penduduk Indonesia

Krisis Perbankan memiliki dampak jangka panjang bagi pembangunan manusia menurut Ravallion ( 2008 ) dan dikemukakan bahwa rumah tangga yang terkena dampak krisis perbankan mungkin mencoba untuk memperlancar konsumsi dengan meningkatkan kerja mereka pasokan atau ( dan ) tabungan mereka dalam jangka pendek , tetapi ketika rumah tangga memiliki sedikit atau tidak memiliki tabungan , tidak ada akses ke kredit dan kesempatan kerja yang langka, mereka harus mengurangi asupan makanan atau mengeluarkan anak-anak dari sekolah . Alderman et al. ( 2006) mencatat bahwa bukti dari krisis perbankan di masa lalu menunjukkan bahwa anak-anak mengalami perampasan gizi jangka pendek dapat menderita efek jangka panjang . Namun, Ravallion ( 2008 ) mengemukakan bahwa guncangan ekonomi sering dianggap memiliki efek negatif pada pendidikan dan kesehatan , tapi temuan empiris menunjukkan hal berbeda . Dalam prakteknya , menurut Ruhm ( 2000 ) , Ferreira & Schady ( 2008 ) , resesi ekonomi di negara maju umumnya terkait dengan pendidikan dan kesehatan yang lebih baik, namun di negara-negara berkembang termiskin terkait dengan efek sampingnya.

European Central Bank (EBC) (2009) mengemukakan beberapa kekhasan dari bisnis perbankan yang meningkatkan kemungkinan risiko sistemik yaitu sifat inter -temporal dari kontrak keuangan , intensitas informasi , struktur neraca bank ( tingkat leverage yang tinggi , ketidaksesuaian jatuh tempo antara bank kewajiban dan aset , tingginya tingkat interkoneksi perantara keuangan ) . Kaufman ( 1996 ) juga membedakan tiga karakteristik neraca bank yang mengakibatkan kerapuhan ekstrim dari sektor perbankan : kas yang rendah terhadap aset ( sebagian kecil cadangan perbankan ) , modal yang rendah terhadap aset ( leverage yang tinggi ) , dan giro tinggi rasio jumlah deposito ( potensi tinggi untuk runs )

Para ahli dari Bank Sentral Eropa ( ECB (2009) )membedakan berbagai ketidaksempurnaan pasar (eksternalitas , informasi asimetris , pasar tidak lengkap, karakter publik , stabilitas sistem perbankan , dll ) yang mengarah ke kerapuhan lebih besar dari sistem perbankan dibandingkan dengan sektor ekonomi lainnya . Kaufman ( 2000b ) juga memberikan perhatian untuk relevansi risiko sistemik di sektor perbankan. Menurut Kaufman ( 2000b ) , transmisi yang tiba-tiba guncangan eksogen atau endogen dan luasnya potensi dampak , membedakan sektor perbankan dari sebagian besar sektor ekonomi lainnya . Kaufman (1996) juga mencatat bahwa kegagalan bank memiliki efek merusak yang lebih besar terhadap perekonomian dan lebih penting daripada kegagalan jenis lain dari perusahaan bisnis karena ketakutan bahwa kegagalan bank dapat menyebar dengan cara domino seluruh sistem perbankan .

Kaufman ( 1996) mengidentifikasi lima alasan untuk relevansi yang lebih besar dari risiko sistemik di perbankan daripada di industri lain : perbankan , risiko sistemik ( 1 ) terjadi lebih cepat , (2 ) menyebar lebih luas dalam industri perbankan (3 ) mengakibatkan sejumlah besar bank kegagalan, (4 ) menimbulkan kerugian yang lebih besar kepada kreditor di bank-bank gagal , dan ( 5 ) yang tersebar lebih di luar industri perbankan ke sektor lain dan negara-negara lain .

Para akademisi dan praktisi Kaufman ( 2000a , 2000b ) , Laeven & Valencia ( 2010), International Institute for Sustainable Developmen (IISD) ( 2012) , dan lain-lain ) berpendapat bahwa risiko sistemik telah menjadi lebih mungkin dan lebih penting dalam beberapa tahun terakhir sebagai akibat dari beberapa kecenderungan penting dari perbankan modern dan lingkungan eksternal antara lain pembangunan ekonomi meningkat pentingnya perbankan, saling ketergantungan bank dan saling ketergantungan global negara, kemajuan dalam teknologi komputer dan telekomunikasi telah membuat bank yang beroperasi lebih mudah dan lebih cepat, meningkatnya pendapatan dan kekayaan rumah tangga telah membawa unit-unit ekonomi berhubungan dengan bank dan lembaga keuangan lainnya dan pasar, adanya globalisasi dan konsolidasi industri keuangan, adanya liberalisasi dan deregulasi kontrol modal internasional, meningkatnya ketidakseimbangan neraca keuangan dan arus global yang dapat menghasilkan pergerakan dengan cepat modal global, meningkatnya ketidakseimbangan sektor publik karena defisit fiskal yang besar dan peningkatan utang.

Adanya kecenderungan perbankan modern yang meningkatkan kemungkinan risiko sistemik di sektor perbankan yaitul liberalisasi keuangan dan deregulasi sektor perbankan, perluasan luas inovasi keuangan terutama dalam bentuk sekuritisasi aset, menurunnya ketergantungan bank pada deposito dalam mendukung ketidakstabilan sumber dana besar, semakin pentingnya sistem perbankan bayangan (lembaga non-perbankan) yang lebih longgar persyaratan kehati-hatianya, meningkatnya kompleksitas bisnis Beberapa elemen penting dari konsep risiko sistemik dijelaskan dalam literatur penelitian De Bandt & Hartmann ( 2000 ) , De Bandt et al . ( 2009 ) ) , namun, para ahli dari Bank Sentral Eropa ( ECB (2009) ) menyatakan bahwa saat ini tidak ada definisi risiko sistemik yang diterima secara umum. Bank Sentral Eropa ( ECB (2009) ) menggambarkan risiko sistemik sebagai risiko akibat peristiwa sistemik kuat yang merugikan dimana mempengaruhi sejumlah perantara keuangan penting atau pasar keuangan termasuk infrastruktur secara sistemik .

Menurut ECB (2009), pemicu peristiwa itu bisa shock eksogen ( dari luar sistem keuangan ) atau endogen ( dari dalam sistem keuangan atau dari dalam perekonomian ) . De Bandt & Hartmann ( 2000 ) , ECB ( 2009 ) membedakan dua perspektif risiko sistemik : “horizontal ” perspektif risiko sistemik , dimana semua komponen sistem keuangan ( perantara keuangan , pasar keuangan dan infrastruktur pasar ) dapat terlibat dan ” vertikal ” perspektif risiko sistemik di mana hubungan dua arah antara sistem keuangan dan ekonomi saling memperhitungkan.

De Bandt et al . (2009) , Trichet (2009) , ECB (2009) membedakan tiga utama ” bentuk risiko sistemik : risiko penularan , risiko guncangan makro yang menyebabkan kegagalan simultan perantara keuangan dan risiko bahwa ketidakseimbangan meluas yang telah terakumulasi dari waktu ke waktu terurai tiba-tiba . Menurut De Bandt et al . (2009) , Trichet (2009) , ECB (2009) , risiko penularan biasanya mengacu pada awal masalah idyosintratic yang menjadi lebih luas dalam dimensi cross- sectional , sering secara berurutan . Bentuk kedua dari risiko sistemik , mengacu pada guncangan eksogen luas ( misalnya guncangan pasar keuangan atau perkembangan makroekonomi yang merugikan ) yang negatif mempengaruhi berbagai perantara keuangan dan pasar secara simultan Bentuk ketiga risiko sistemik mengacu pada akumulasi endogen ketidakseimbangan meluas dalam sistem keuangan secara bertahap dari waktu ke waktu (misalnya kredit dan pasar aset gelembung ) yang dapat mengungkap secara tiba-tiba , dengan efek negatif pada banyak perantara keuangan dan pasar pada saat yang sama . Ketiga bentuk-bentuk risiko sistemik dapat terwujud secara mandiri atau bersama dengan satu sama lain , namun, dua bentuk terakhir dari risiko

sistemik yang sangat relevan untuk pro – cyclicality sistem keuangan .

ECB ( 2010 ) mencatat bahwa identifikasi dan penilaian risiko sistemik membutuhkan intelijen pasar , analisis data , model dan alat-alat analisis . ECB ( 2010 ) membedakan empat pendekatan analitis luas dari identifikasi dan penilaian risiko sistemik di perbankan yaitu indikator stabilitas keuangan, indikator dan model peringatan dini, model pengujian tekanan makro dan model penularan dan penyebaran . Para ahli dari European Centrlal Bank ( ECB ( 2010 ) mengemukakan bahwa peningkatan dan perluasan model yang tersedia dan alat-alat yang diperlukan .ECB ( 2010 ) juga berpendapat bahwa ada beberapa keterbatasan dan tantangan dalam penggunaan berbagai pendekatan : setiap identifikasi risiko sistemik dan model penilaian atau alat analisis bergantung pada asumsi tertentu , serta pada keandalan dan ketersediaan data sehingga terbuka peluang untuk penelitian penelitian lembih lanjut.

PENUTUP

Setelah mmembahas tentang pentingnya risiko sistemik pada perbankan dilihat dari peran utama bank dalam sistem keuangan dan ekonomi , frekuensi tinggi krisis perbankan , konsekuensi ekonomi dari krisis perbankan, dampak dari krisis perbankan pada kemungkinan terjadinya krisis keuangan lainnya., dampak negatif yang krisis perbankan pada populasi kesejahteraan psikologis dan konsekuensi jangka panjang bagi pembangunan manusia, belum jelasnya konsep risiko sistemik saat ini, identifikasi dan mengukuran risiko sistemik yang tidak langsung, belum adanya model yang tepat, kekhasan bisnis perbankan, adanya tren perbankan modern, adanya lingkungan eksternal meningkatkan kemungkinan risiko sistemik di sektor perbankan. Risiko sistemik tidak bisa dihindari, namun dengan mempelajari gejala, proses dan akibat yang ditimbulkannya , membuat kita lebih waspada dan menghindarinya , mengantisipasinya agar tidak melumpuhkan sistem keuangan.

4 CARA MENJAGA OTAK AWET MUDA

Bagi orang berusia lanjut, penurunan daya ingat otak hingga pikun jadi momok yang kerap terjadi. Ada banyak cara yang bisa dilakukan agar otak tetap tajam. Rajin membaca, tetap berusaha menghapal sesuatu, hingga bermain game yang menuntut otak berpikir dan mengingat. Selain itu, ternyata ada 4 hal lain yang berguna untuk melatih otak. Anda mungkin tak mengira sebelumnya. Inilah daftarnya yang dikutip dari merdeka.com.

1. Minum teh hijau

Penelitian tahun 2012 menunjukkan bahwa teh hijau bisa meningkatkan kemampuan kognitif, terutama pada pria. Peneliti berhasil menemukan efek positif dari flavonoid yang terkandung dalam teh hijau pada otak. Sementara itu, penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa teh hijau bisa melindungi otak dari Alzheimer.

2. Jaga tingkat kolesterol

Penelitian di tahun 2009 menunjukkan bahwa peningkatan kolesterol dalam tubuh berkaitan dengan tingginya risiko Alzheimer dan demensia. Berdasarkan peneliti, apa yang baik untuk jantung juga baik untuk otak. Untuk itu, Anda bisa menurunkan risiko demensia dan dengan menurunkan tingkat kolesterol.

3. Menjaga kesehatan gigi

Percaya atau tidak, kesehatan gigi berhubungan dengan kesehatan otak. Penelitian menunjukkan bahwa mengunjungi dokter gigi dua kali setahun dan membersihkan gigi secara teratur baik untuk kesehatan otak. Kesehatan gigi yang baik bisa menurunkan risiko seseorang terkena demensia. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa orang yang menggosok gigi kurang dari sekali sehari memiliki risiko terkena demensia 65 persen lebih tinggi.

4. Menonton film dokumenter tentang alam

Sebuah penelitian terbaru di jurnal PLoS ONE menemukan bahwa orang yang menonton film dokumenter tentang alam memiliki nilai yang lebih tinggi dalam tes kemampuan bahasa. Mereka juga memiliki tingkat stres yang lebih rendah dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Bahkan, mereka memiliki otak yang lebih baik daripada orang yang berhasil menyelesaikan permainan asah otak dan sejenisnya. Tak perlu menunggu hingga usia tua datang. Membiasakan diri saat masih muda justru semakin membantu sel-sel otak tetap bagus saat kita tua nanti

SAKIT LAMBUNG TERKAIT GANGGUAN PSIKOSOMATIK

Tulisan ini bukan merupakan resensi buku, namun lebih bersifat upaya Lambung Punya Otak Sendiri

Dalam ilmu kedokteran, khususnya bidang Psikosomatik Medis, dipercaya bahwa lambung mempunyai otaknya sendiri yang sering disebut ENTERIC NERVOUS SYSTEM. Sistem saraf ini juga diatur oleh NEUROTRANSMITTER yang sama seperti yang terdapat di susunan saraf pusat di otak. Saling mempengaruhi antara lambung dan otak banyak kita temukan pada beberapa kasus dispepsia fungsional, suatu kondisi gangguan lambung yang tidak didasari oleh adanya kelainan organ lambung itu sendiri. Sistem saraf enterik ini terdapat di esofgus, lambung, usus kecil dan kolon sehingga keluhan lambung terkait dengan sistem ini bisa mengenai keempat bagian organ lambung tersebut.

Karena didasari dan mempunyai NEUROTRANSMITTER yang sama seperti di susunan saraf pusat jugalah yang membuat pengobatan kasus-kasus dispepsia fungsional atau masalah lambung terkait dengan sistem saraf enterik biasanya menggunakan obat-obatan yang juga bekerja di susunan saraf pusat. Penggunaannya namun sering kali agak berbeda, tergantung diagnosis dasarnya.

Pada kasus pertama misalnya, gejala lambung lebih mendominasi dan menjadi pemicu untuk gejala lainnya. Sedangkan pada kasus kedua gejala lambung merupakan gejala yang terkait dengan gejala lain pada pasien gangguan cemas panik.

Jika melihat dasar dari kondisi sepert ini maka tidak salah jika pasien yang mengalami gangguan lambung dan sudah berobat ke dokter spesialis penyakit dalam saluran cerna namun tidak mengalami perbaikan, dapat berkonsultasi ke psikiater yang memahami masalah lambung ini sebagai masalah terkait dengan aktifitas sistem saraf di tubuh.

BANYAK MAKAN BUAH MALAH BIKIN GEMUK?

Saat mencoba menurunkan beberapa kilogram berat badan, banyak orang yang memanfaatkan buah untuk menghilangkan keinginan ngemil makan manis. Buah mengandung banyak serat, vitamin, dan mineral sehingga makan banyak buah mungkin terdengar menyehatkan. Buah memiliki manfaat kesehatan yang penting bagi pola makan sehari-hari. Namun benarkah terlalu banyak makan buah justru akan merusak diet penurunan berat badan? Jacqueline Silvestri Banks, konselor kesehatan holistik asal Oregon Amerika Serikat mengatakan, buah mengandung gula sederhana jenis fruktosa dan karbohidrat, dua hal yang perlu dikonsumsi dengan moderasi oleh pelaku diet. Makan buah terlalu banyak dapat menyebabkan peningkatan kadar insulin. Padahal saat kadar insulin meningkat, tubuh akan kesulitan dalam membakar lemak.

Fruktosa diproses di lever (hati) dan jika tidak segera digunakan, zat ini disimpan di dalam tubuh dalam bentuk lemak dan dapat digunakan lagi sebagai energi sewaktu- waktu. Penyimpanan sebagai lemak ini tentu akan menjadi masalah bagi pelaku diet.

Banks mengatakan, jumlah fruktosa yang dimakan juga perlu menjadi perhatian bagi penyandang diabetes. Ini karena kemampuan tubuh mereka untuk mencerna gula sudah menurun. Dengan kata lain, mekanisme pemanfaatan gula sebagai energi atau penyimpanan gula yang tidak terpakai menjadi lemak penyandang diabetes tidak sebaik pada orang sehat.

Menurut Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan RI tahun 2007, hanya 6,4 persen orang Indonesia yang cukup makan sayur dan buah. Lantaran rata-rata konsumsi buah yang masih rendah ini, mungkin akan sangat jarang ditemukan kasus kegemukan karena terlalu banyak mengonsumsi buah.

Bahan pemanis alami seperti madu ataupun AGAVE juga mengandung fruktosa. Belum lagi makanan yang diproses misalnya sereal, minuman kemasan, hingga roti dan yogurt juga mengandung sirup jagung tinggi fruktosa. Jjika Anda peduli dengan metabolisme tubuh serta bertujuan mengurangi berat badan, maka konsumsi buah setiap hari perlu dibatasi dua sajian per hari. Serta, pilih buah dengan kandungan fruktosa rendah dengan serat yang tinggi seperti apel hijau.

kompas.com

Batasi Buah jika Fungsi Ginjal Menurun

Secara umum, mengonsumsi buah adalah satu cara yang disarankan agar kita mendapatkan tubuh yang sehat. Buah mengandung banyak serat, vitamin, dan mineral yang penting untuk menjaga kesehatan. Namun, orang yang sudah mengalami penurunan fungsi ginjal sebaiknya tidak makan buah terlalu banyak.

“Buah memang diperlukan. Namun, pada orang berpenyakit ginjal kronis, konsumsi buah perlu dibatasi,” ujar konsultan ginjal hipertensi, dr Parlindungan Siregar, dalam seminar media bertajuk “Chronic Kidney Disease and Aging” di Jakarta.

Parlindungan menjelaskan, buah merupakan sumber kalium ataupotasium. Hal ini khususnya untuk buah-buahan tertentu, misalnya pisang, yang bahkan diketahui mengandung mineral dalam jumlah tinggi.

Karena kandungan kaliumnya tinggi, konsumsi buah berlebihan dapat memicu terjadinya hiperkalemia bagi mereka yang berpenyakit ginjal kronis (PGK). Pasien PGK mengalami penurunan fungsi ginjal, termasuk terhadap kemampuannya membuang kalium dalam tubuh. Umumnya, kandungan kalium dalam tubuh pasien PGK sudah tinggi, apalagi dengan mengonsumsi buah berlebihan. Kalium yang tinggi dalam tubuh, lanjut Parlindungan, dapat menyebabkan terganggunya kelistrikan pada jantung. “Orang yang kelistrikan jantungnya terganggu, sewaktu-waktu bisa saja mengalami serangan jantung,” tandasnya.

Menurut Parlindungan, bagi orang-orang dengan penurunan fungsi ginjal, konsumsi buah cukup dilakukan satu kali sehari, begitu juga sayur-sayuran. Selain itu, orang-orang dengan PGK juga sebaiknya memilih buah dan sayur dengan kandungan kalium rendah. PGK merupakan penurunan fungsi ginjal secara perlahan-lahan dengan rentang waktu lebih dari tiga bulan karena adanya kerusakan ginjal yang disebabkan oleh abnormalitas struktural atau fungsional, dengan atau tanpa laju filtrasi glomerulus (LFG).

PGK umumnya merupakan SILENT DISEASE pada tahap awal, yang berarti sebagian besar orang tidak mengalami gejala klinis pada stadium ringan hingga sedang. Akibatnya, penderita PGK sering tidak menyadari kondisi mereka. Oleh karena itu, pemeriksaan faktor risiko PGK merupakan hal yang penting untuk dilakukan.

Kompas.com

Menanti Senja di Kaimana

Senja di pantai Pulau Triton, Kabupaten Kaimana, Papua Barat, beberapa waktu lalu. Pulau ini merupakan bagian kawasan konservasi laut Kabupaten Kaimana yang kaya keanekaragaman hayati bawah laut dengan jajaran bukit karst berhias lukisan dinding kuno di sekitarnya.
Selamat datang di Kota Senja Indah Kaimana. Seuntai kalimat di baliho raksasa itu menyambut pengunjung di Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Kota Senja menyimpan berbagai pesona, mulai dari tebing berhias lukisan purba hingga keragaman hayati bawah laut. Semburat jingga menghiasi langit biru saat perahu cepat yang membawa Tim Survei Direktorat Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan menepi di Pantai Kaimana, akhir Februari lalu. Di ufuk barat, mentari meluncur perlahan lalu tenggelam di balik horizon di laut lepas.
Senja indah di Kaimana seperti inilah yang pernah memesona Surni Warkiman sehingga menggubah lagu Senja di Kaimana puluhan tahun silam. Sejak itu, Kota Senja pun disematkan pada kota di pesisir Papua Barat itu.

10 Negara yang Paling Banyak Mencari Informasi tentang Indonesia

Bisnis-jabar.com

Wisatawan asal Australia menempati urutan teratas yang paling banyak mencari informasi mengenai destinasi wisata di Indonesia, diikuti oleh wisman asal Amerika Serikat dan Singapura.

Tidak mengherankan jika Australia menempati urutan teratas dalam daftar pencarian tentang Indonesia karena mereka yang paling banyak mencari informasi mengenai Bali. Sementara itu, tujuan wisata luar negeri yang paling banyak dicari oleh turis domestik sebagian besar masih berada di kawasan Asia antara lain Singapura, Bangkok, Kuala Lumpur, dan Hongkong.

Ini menunjukkan bawah masyarakat Indonesia lebih suka tujuan yang lebih dekat dengan lokasi tinggal mereka. 10 Negara teratas yang paling banyak mencari informasi tentang Indonesia

  1. Australia,
  2. Amerika Serikat,
  3. Singapura,
  4. Jepang,
  5. Malaysia,
  6. Inggris
  7. Perancis,
  8. Jerman,
  9. Cina,
  10. Belanda

10 Tujuan wisata luar negeri dan tujuan domestik yang paling dicari oleh wisatawan Indonesia

Tujuan Wisata luar negeri

  1. Singapura,
  2. Bangkok, Thailand,
  3. KualaLumpur, Malaysia,
  4. Hong Kong, China
  5. Paris, Prancis,
  6. Seoul, Korea Selatan,
  7. Johor Bahru, Malaysia,
  8. London, UK
  9. Barcelona, Spanyol,
  10. New York City, USA

Tujuan Wisata Domestik

  1. Jakarta,
  2. Seminyak,
  3. Bandung,
  4. Kuta,
  5. Ubud,
  6. Yogyakarta,
  7. Nusa Dua,
  8. Surabaya,
  9. Sanur,
  10. Bogo