Home Blog Page 88

COMPETENCY

Soendoro Dalil

COMPETENCY

Disadari atau tidak kekeliruan organisasi secara umum dalam pembinaan SDM khususnya pengembangan competency, tidak mengkaitkan kebutuhan competency dengan strategi bisnis organisasi, competency didesain hanya ketika ada posisi
lowong, kurang mengetahui Competency Pool dan serta kurangnya perhatian manajemen atas kebutuhan dan pengembangan competency. Sering organisasi melakukan rekruitmen dan pengembangan anggotanya dalam kerangka meningkatkan competency sumberdaya manusia dan performance organisasi tanpa memperhatikan bagaimana cara untuk mendapatkan dan mempertahankan anggotanya yang terbaik.

Juga seringkali lupa pernahkan organisasi bertanya Apa sebetulnya yang dibutuhkan oleh anggota organisasi kita ? Apa yang akan diberikan oleh organisasi terhadap stakeholders ? . Sebuah pertanyaan yang mendasar yang harus dijawab karena akan menjadi salah satu landasan dalam membangun sumberdaya manusia suatu organisasi . Banyak cara dan
pendekatan untuk mengelola SDM dalam organisasi. Hal ini tergantung dari arah dan tujuan organisasi dalam membina SDM serta perspektif organisasi terhadap SDM itu sendiri. Beragam cara dan pendekatan yang digunakan untuk mengelola SDM, tapi yang jelas organisasi memahami dengan pasti bahwa asumsi sifat dasar dari manusia sendiri mempunyai
talent dan competency .

Apapun bentuk manajemen SDM yang digunakan oleh organisasi, harus disadari oleh organisasi tersebut bahwa manusia
merupakan subyek sentral sebagai sumberdaya insani. Tekanan pada harkat manusia inilah yang menjadi kiat organisasi dalam meletakkan dasar filosofinya. Gambaran tersebut merupakan awal organisasi memahami bagaimana
organisasi mengelola SDM dalam konteks membangun sumber daya
insani. Hal tersebut yang harus dilakukan oleh organisasi. Artinya organisasi mempunyai filosofi dasar dalam merancang strategi pengembangan sumber daya insani yang berbasis competency dan berorientasi pada Future Competency Needs dan harus diawali dengan adanya insight dari dalam organisasi. Kebutuhan competency suatu organisasi dalam mengembangkan SDM selama ini masih terpaku pada hard skill, yaitu competency yang berdimensi fungsional, kemampuan
pengetahuan (knowledge know how) dan kemampuan keterampilan (skill know how) kurang diimbangi dengan soft skill, yaitu competency berdimensi personality (konsep diri, motif dan karakter) dengan baik sebagai kebutuhan modal / sumberdaya insani organisasi.

Seyogyanya strategi pengembangan sumberdaya insani berbasis competency melalui pendekatan dimensi fungsional (hard skill) dan personality ( soft skill) sebagai upaya memenuhi Future Competency Needs yang dapat membentuk Learning Organization, yaitu anggota organisasi yang anggota-anggotanya mampu mengembangkan competency nya, berfokus
kepada pengembangan diri, kreativitas dan adaptasi dan kerja sama sebagai proses dan pengembangan belajar secara berkelanjutan dalam mewujudkan High performance and viability organization.

Lebih dari itu, hal yang penting bagi organisasi tidak boleh terlewatkan proses assessment untuk mengukur dan mengembangkan competency baik hard skill maupun soft skill sesuai kebutuhan saat ini dan ke depan.
Hasil assessment perlu diketahui anggota agar mereka memperoleh insight untuk memotivasi diri. Juga dalam pengembangan competency ( hard skill & soft skill ) organisasi tersebut dapat memilih cara self development, job / program assignment atau coaching. Kita melihat sistem yang dimiliki organisasi lain atau benchmarking sebagai contoh yang terbaik. Bila organisasi ingin berubah perspektif, hal yang mendasar perlu menata dan membangun competency ( hard skill & soft skill ).

Selanjutnya perlu dilakukan pemetaan competency dan potensi serta menata Future Competency Needs yang dimiliki anggota organisasi sehingga bisa diketahui posisi setiap anggota organisasi yang bersangkutan dalam Competency Pool yang dimiliki organisasi. Berdasarkan competency pool tersebut dibuat Competency Development Program yang sesuai dengan
competency dan potensi anggota dan kebutuhan organisasi sebagai soft investment. Inisiatif organisasi yang terintegrasi untuk meningkatkan ketersediaan dan pendayagunaan anggota yang mempunyai competency dan potensi tinggi yang memberikan pengaruh bagi kinerja organisasi .

Harapan ke depan suatu organisasi dalam membangun dan mengembangkan SDM harus mempunyai pola pembinaan SDM dengan perspektif sumberdaya insani, berbasis competency baik hard skill maupun soft skill yang berorientasi future competency needs sebagai unsur yang strategis dalam pengembangan organisasi, serta dapat menciptakan keunggukan daya saing, dengan arah dan sasaran kebijakan sumberdaya insani yang memiliki kejelasan dalam :

  • Pola perencanaan, rekruitmen, seleki dan penempatan SDM yang tepat;
  • Pola pengembangan, pemberdayaan SDM yang tepat dan bermanfaat
  • Daya kesadaran profesional, inovatif, keteladanan & integritas yang tinggi;
  • Pola remunerasi berbasis kompetensi yang menghasilkan high performance employee

Pada akhirnya, manajemen sumber daya insani berbasis competency baik hard skill maupun soft skill yang berorientasi future competency needs secara langsung memberi nilai tambah dan manfaat dalam aplikasi pengelolaan sumber daya insani secara profesional serta dapat menumbuhkan budaya dan iklim kerja yang mendukung motivasi dan produktivitas serta terciptanya employee retention dan employee engagement.

 

Soendoro Dalil
Konsultan Organisasi & Manajemen

Kuliah Umum Kelas Unggulan Akuntansi

Akuntansi Kelas Unggulan Jurusan Akuntansi S1 UTama telah menyelenggarakan kuliah umum pada Sabtu (9/11) lalu bertempat di ruang teater lantai 6 Gedung B, dibilangan Cikutra. Kuliah yang dimulai pukul 09.00 WIB menghadirkan Bapak Marius Widyarto Wiwied (owner C-59). Mahasiswa kelas unggulan sangat antusias mengikuti kuliah umum ini. Kuliah umum ini diakhiri dengan sesi pemberian cinderamata dari perwakilan prodi kepada pembicara.

Kuliah Umum Kelas Unggulan Akuntansi

Satu jam bersama Prof. Abdul Hakim Halim

Satu jam bersama Prof. Abdul Hakim Halim

Sesungguhnya Kopertis sebagai salah satu otoritas pendidikan tinggi serta representasi pemerintah memandang hakekat perguruan tinggi dan khususnya perguruan tinggi swasta (PTS) sebagai penyelenggara, pengelola pendidikan tinggi harus seperti apa dan harus bagaimana ?

Pendidikan tinggi merupakan pendidikan lanjutan dari pendidikan sebelumnya, dan sebagai terminal akhir pendidikan formal yang menghantarkan peserta didik memasuki dunia kerja.

Karena itu perguruan tinggi dituntut menyelenggarakan pendidikan dengan sebaikbaiknya serta tentunya semakin meningkatkan kualitas.

Dulu, orientasi perguruan tinggi hanya berkisar pada pengetahuan, misal lulusan ekonomi dulu ditanya apa yang kamu ketahui ? Tetapi sekarang yang ditanya adalah kamu bisa apa ? Harapannya bahwa apa yang didapat di perguruan tinggi tak hanya ilmu pengetahuan tetapi kemampuan juga harus didapat. Pemerintah berkehendak agar para lulusan perguruan tinggi memiliki kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja.

Keinginan pemerintah terhadap PTS bukan besaran atau jumlah lulusan (output) yang dihasilkan, tetapi outcome atau kualitas lulusan yang bisa dihasilkan PTS dan bagaimana manfaatnya bagi kemajuan bangsa ini. Pada awalnya paradigma kualitas lulusan PTS cukup mendapat tanggapan yang beragam. Ada yang beranggapan merupakan sebuah hal yang

sangat merepotkan bagi perguruan tinggi. Tetapi bila melihat jauh ke depan dimana negara lain menunjukkan kualitas pendidikan di perguruan tingginya maju sangat pesat. Maka kualitas pendidikan tinggi merupakan sebuah keharusan supaya bangsa kita tidak tertinggal jauh dari bangsa lain.

Tahun 2015 yang mulai mendekat dengan adanya kebebasan aliran dana, produk, tenaga kerja tanpa mengenal batas dapat berakibat cukup fatal bila bangsa ini tidak menanggapinya dengan serius terutama para penyelenggara pendidikan tinggi.

Lulusan-lulusan dari negara lain dapat bebas bekerja mencari pekerjaan di negara ini. Apabila kita tidak siap, maka dipastikan lulusan-lulusan dari perguruan tinggi kita hanya jadi penonton saja.

Kurang dari 2 (dua) tahun lagi menuju 2015 merupakan waktu yang kurang ideal untuk mendorong peningkatan kualitas pendidikan di perguruan tinggi, tetapi sebetulnya hal ini sudah digaungkan dari beberapa tahun ke belakang. Hanya saja karena kurang mendapat respon yang cepat atau diabaikan hal ini terus terjadi.

Apa permasalahan mendasar terkait pendidikan tinggi dan perguruan tinggi kita sehingga demikian lambat ?

Salah satu hal yang paling mendasar dari mindset yang terus ada di bangsa ini adalah kurang bekerja secara maksimal sampai batas kemapuan yang dimiliki.

Hal ini yang menjadi pemicu dari lambatnya peningkatan kualitas perguruan tinggi di Indonesia. Permasalahan mendasar yang ada di lapangan dalam penyelenggaraan perguruan tinggi menurut para penyelenggara adalah masalah dana.

Tetapi menurut otoritas dalam hal ini Kopertis itu bukan merupakan masalah terbesar, yang paling besar adalah mentalitas atau etos kerja.

Dana hanya merupakan indikator saja, yang paling besar adalah kerja keras dan keinginan kuat untuk lebih maju yang paling penting. Jadi sebetulnya mindset yang salah dari individu yang berdampak ke organisasi penyelenggara pendidikan. Yang akhirnya mengakibatkan sebuah perguruan tinggi tidak dapat meningkatkan kualitas tapi justru dapat mengakibatkan degradasi kualitas.

Mindset kita yang harus dirubah sehingga etos kerja berubah dari yang asalnya kerja asalasalan dengan sikap yang minimalis menjadi perfektionis dalam bekerja sehingga hasilnya terukur terus meningkat.

Perguruan tinggi swasta sebagai sebuah entitas yang menyelenggarakan pendidikan tinggi tentunya memerlukan produktivitas dalam pengelolaan lembaganya Efisiensi, efektifitas dan produktifitas merupakan terminologi yang ada dalam menjalankan penyelenggaraan pendidikan tinggi bagi sebuah perguruan tinggi yang berorientasi pada kualitas.

Unsur-unsur yang harus ada supaya efisiensi, efektifitas dan produktifitas tercapai dalam kaitannya dengan outcome/ kualitas perguruan tinggi supaya market-in (dalam hal ini lulusan perguruan tinggi dapat terserap oleh dunia usaha) antara lain adalah fasilitas yang mencukupi, manajemen yang baik dalam perguruan tinggi dengan leadership yang kuat, mahasiswa yang berkualitas bukan asal mahasiswa yang asal-asalan menuntut

ilmu, proses pendidikan dan tata kelola yang mencakup kaidah-kaidah pendidikan yang manageable. Dimana letak kaitan kualitas dan akreditasi ? Saat ini semua sepakat bahwa kualitas merupakan sebuah ukuran perguruan tinggi yang diterima di masyarakat.

Secara sederhana kualitas sebuah perguruan tinggi dilihat dari akreditasi bukan dari gedung yang mewah atau biaya yang mahal. Akreditasi A untuk perguruan tinggi yang telah menjalankan kegiatan pendidikannya yang sudah sama dengan ratarata minimum kegiatan pendidikan internasional atau dapat dianggap sudah berada di atas ratarata pendidikan nasional.

Akreditasi B untuk perguruan tinggi yang telah menjalankan kegiatan pendidikannya yang sama dengan ratarata kegiatan pendidikan nasional atau berada di atas batas minimum kegiatan pendidikan nasional dan akreditasi C untuk perguruan tinggi yang menjalankan kegiatan pendidikannya berada di batas minimum kegiatan pendidikan nasional.

Dengan aturan sekarang dari pemerintah, setiap jurusan program studi yang diijinkan diselenggarakan dalam sebuah perguruan tinggi sudah masuk ke akreditasi C dan kemudian perguruan tinggi tersebut mendaftarkan pengakreditasian program studinya untuk diakreditasi supaya tidak berada dalam bawah minimum standar.

Jadi akreditasi adalah sebagai salah satu standar kualitas yang secara umum diterapkan dan menjadi acuan bersama. Karena itu, untuk menyongsong tahun 2015 setiap perguruan tinggi harus memiliki inisiatif sendiri meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikannya lebih tinggi, tidak boleh malas dan harus selalu bekerja keras bahkan bekerja lebih keras dibandingkan yang lain.

Mulai dari diri sendiri, dari hal yang kecil dan mulai dari sekarang. (Fe, Lee)

Abdul Hakim Halim. Prof. Dr. Ir. M.Sc
Abdul Hakim Halim. Prof. Dr. Ir. M.Sc
Lahir 14 September 1956 (lima puluh enam tahun lalu) di Cianjur, Jawa Barat Ketua Kopertis Wil. IV Jawa Barat dan Banten Mulai menjabat 2009 – sekarangAnggota Senat Institut Teknologi Bandung (ITB), 2010 ? sekarang Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), 1981 ? sekarang
Ketua KKSM FTI, Institut Teknologi Bandung (ITB), 2007 – 2008
Ketua Komisi Pasca FTI, Institut Teknologi Bandung (ITB), 2007 – 2008
Ketua Departemen TI, Institut Teknologi Bandung (ITB), 2004 – 2007
Koordinator Program Doktor TI, Institut Teknologi Bandung (ITB), 2002 -2004
Sekretaris Program MM, Institut Teknologi Bandung (ITB), 2001 ? 2002
Sekretaris Prodi Teknik Industri, Institut Teknologi Bandung (ITB), 1998 ? 2002
Pendidikan :
S1 – Teknik Industri ITB
S2 – Teknik & Manajemen Indutri ITB
S3 – Teknik Industri University of Osaka Prefecture Japan

Membangun PTS = Sinergi Pemerintah, Aptisi & ABPTSI

Membangun PTS = Sinergi Pemerintah, Aptisi & ABPTSIMembangun PTS = Sinergi Pemerintah, Aptisi & ABPTSI

 

Pembangunan memang sudah menetapkan pendidikan sebagai salah satu prioritas, namun dalam implementasinya diperoleh kesan bahwa penanganan pendidikan masih pragmatis (straight to the problem) belum dalam perspektif jangka panjang dan longitudinal. Hal semacam ini sulit untuk bisa mengatasi masalah pendidikan itu sendiri serta akan kurang memberikan sumbangan yang besar terhadap pemecahan masalah ekonomi. Linking Education to Economy masih belum terpaut.

Kesenjangan lainnya, terletak dalam proses pendidikan yang tampak pada proses kegairahan atau motivasi belajar yang belum tinggi, semangat kerja yang relatif rendah. Ada gejala-gejala menurunkan disiplin nasional, generasi santai, sikap hidup yang masih menunggu, konsumtif, tradisional yang belum kreatif produktif modern. Gejala-gejala tersebut merupakan indikasi kesenjangan atau kriteria produktivitas kualitas manusia yang relatif rendah, baik dalam proses maupun iklim pendidikan. Apabila kesenjangan itu dibiarkan berlarut-larut dapat menggangu laju pembangunan. Oleh karena itu, memang seharusnya Kementerian Pendidikan & Kebudayaan terus bergiat melalui kebijakankebijakan peningkatan profesionalisme maupun tata kelola pendidikan yang lebih akuntabel, berkualitas, dan terstandarisasi nasional maupun internasional.

PTS memang menjadi perhatian masyarakat, disamping jumlahnya yang fantastis (3.019 dibandingkan 238 juta penduduk dan sebarannya tidak merata), 2,2 juta lebih mahasiswa belajar di PTS, jumlah lulusan sekitar 233.522 orang yang bakal terjun ke duia kerja. Karena itu, perhatian pemerintah selayaknya lebih dikembangkan. Pembinaan ini diperlukan untuk menjamin proses pendidikan berjalan dengan benar, serta semakin produktif dan berkualitas.

Perguruan tinggi swasta (PTS) pertama dan tertua lahir tahun 1945 di Yogyakarta, kemudian bermunculan perguruan-perguruan tinggi swasta berikutnya yang kini telah memberi sumbangsih bagi pengembangan sumber daya manusia Indonesia. Sekitar 3.102 perguruan tinggi tersebar, 95 diantaranya berstatus PTN, selebihnya adalah PTS. Sekitar 72 % mahasiswa belajar di PTS sisanya di PTN. Memang kualitas penyelenggaraan pendidikan di PTS sangat beragam. Dalam realitas tersebut kebijakan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi dirasakan berat sebelah. Dalam arti ada ketidakadilan dalam perlakuan terhadap PTS dan PTN. Ketidakadilan yang kemudian menimbulkan pergesekan.

Kita tidak lupa kasus UU BHP yang akhirnya dibatalkan Mahkamah Konstitusi. UU BHP cenderung bakal menimbulkan konflik dalam penyelenggaraan PTS. Selain itu, politik anggaran pendidikan, akreditasi yang dianggap tidak berpihak pada PTS. Belakangan ini sanksi bagi plagiat yang juga menghukum institusi PTS-nya. PTS terkesan institusi yang dikerdilkan. Padahal permasalahannya adalah pembinaan yang?berkesinambungan, konsisten serta adil.

PERMASALAHAN PERGURUAN TINGGI SWASTA

PERMASALAHAN
PERGURUAN TINGGI SWASTA

APTISI Wil IV A Jawa Barat, Musyawarah Wilayah ke-4

Bangsa Indonesia dengan 238 juta penduduk merupakan bangsa terbesar di ASEAN yang menghuni wilayah seluas 1,9 juta km2 daratan dan 3,1 juta km2 lautan, dengan potensi sumber daya alam yang beragam dan kaya. Indonesia membutuhkan SDM yang berpengetahuan dan berketrampilan tinggi, berbadan sehat dan mempunyai karakter yang kokoh yaitu : jujur, disiplin, peduli dan bertanggungjawab.

Dalam rangka memenuhi tuntutan SDM yang tinggi tersebut maka dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi dituntut dapat memberikan akses luas kepada masyarakat untuk mendapatkan pendidikan tinggi sekaligus menjamin kualitas pendidikan tinggi sehingga menghasilkan sarjana dengan kompetensi dan karakter yang kuat. Beberapa kebijakan dan strategi dalam bidang pendidikan yang perlu diperhatikan pemerintah dan kalangan pendidikan tinggi adalah :
a) Peningkatan Equalitas dalam pendidikan dengan meningkatkan APK PT dari 16 % tahun 2011 menjadi 21 % tahun 2015;
b) Peningkatan Quality dengan cara : (1) meningkatkan kemampuan mahasiswa sesuai dengan kebutuhan sumberdaya lokal untuk pertumbuhan ekonomi dan (2) mengembangkan learning process dan character building yang membentuk karakter jujur, disiplin dan kerja keras;
c) Meningkatkan Relevancy pendidikan dengan cara : (1) meningkatkan jumlah Entrepreneur dari 0,24 % tahun 2011 menjadi 2,53 % dari angkatan kerja tahun 2015 dan mengembangkan pendidikan berbasis teknik dibanding sosial sesuai kebutuhan industri atau daerah, mengembangkan pendidikan multidisiplin sesuai kebutuhan daerah; serta
d) Meningkatkan Competitiveness dengan cara : (1) mengembangkan competency and talent track yaitu penelusuran bakat dan minat siswa sejak dini mulai SMP ke SMK atau SMU, dan SMU/SMK ke jenjang Vokasi, Sarjana dan Pascasarjana. (2) mendorong universitas riset untuk menghasilkan jurnal, paten dan HAKI.

https://uono.fun

https://uono.site

https://uono.club

https://uono.pw

https://uono.space

https://uono.uk.cc

https://yono.sbs

https://yonox.art

https://jaiho.net

https://yono.eu.cc

https://yono.asia

https://yono.rest

https://jaiho.icu

https://jaiho.xyz

https://okrummy.cc

https://okrummy.org

https://winrummy.org

https://winrummy.cc

https://winrummy.asia

https://winrummy.me

https://winrummy.art

https://winrummy.online

https://winrummy.site

https://jaiho.cc

https://jaiho.top

https://okrummy.online

https://okrummy.site

https://okrummy.art

https://okrummy.asia

https://okrumee.top

https://okrummyclub.fun

https://okrumy.xyz

https://ocrummy.site

https://okrumi.online

https://myokrummy.xyz

https://playokrummy.online

https://okrummie.fun

https://okrummy.today

https://okrummyworld.com

https://okrummypro.com

https://okrummylive.com

https://okrummy.live

https://okrummypoker.com

https://okrummynet.com

https://okrummyplus.com

https://okrummygaming.com

https://okrummyplay.com

https://bestokrummy.com

https://okrummy.fun

https://okrummy.click

https://okrummyclub.com

https://okrummy.world

https://okrummygaming.club

https://playokrummy.bet

https://myokrummy.com

https://playokrummy.com

https://gookrummy.com

https://okrummytoday.com

https://okrummyzone.com

https://okrummyvip.com

https://okrummygame.com

https://okrummyonline.com

https://myokrummy.games

https://okrummyzone.biz

https://bestokrummy.pro

https://okrummyonline.vip

https://okrummypoker.co

https://okrummygames.net

https://okrummylive.top

https://okrummygame.site

https://okrummyplay.org

https://okrummy.co

https://okrummy.biz

https://www.sbgaccsojitra.edu.in/okrummy/

https://kamanitubes.com/index.aspx

Terkait dengan upaya peningkatan daya saing melalui peningkatan equalitas, quality, relevancy dan competitiveness, maka APTISI menekankan isu-isu penting yang perlu dibahas bersama seluruh stakeholder terkait dengan :
a) Penataan organisasi PTS menuju PTS yang sehat,
b) Peningkatan mutu, relevansi dan daya saing terkait produk Akademik,
c) Peningkatan akuntabilitas dan pencitraan publik yang menjamin proses pendidikan di PTS taat hukum yang berlaku,
d) Pemerataan dan perluasan akses pendidikan bagi masyarakat di seluruh Indonesia, dan
e) Pembinaan PTS – sebagai peran serta masyarakat – oleh pemerintah yang seimbang.

APTISI sebagai Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia mempunyai tanggungjawab menyadarkan semua pihak terkait peningkatan?daya saing, sebab APTISI adalah organisasi induk seluruh organisasi perguruan tinggi di Indonesia dan salah satunya wadah kebersamaan antar perguruan tinggi swasta yang penyelenggaraannya untuk memperjuangkan terciptanya sistem pendidikan tinggi yang berdaya guna. Peran perguruan tinggi swasta dalam sistem pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan bangsa adalah nyata. Akselerasi peran perguruan tinggi swasta tersebut dalam menghadapi persaingan global merupakan kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. PTS pada saat ini menampung 72 % mahasiswa, sehingga perannya harus mendapat perhatian yang serius dari seluruh pihak dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan tinggi.

Dalam rangka mencapai hasil guna yang diharapkan, kebersamaan antar perguruan tinggi swasta dan penyelenggaranya merupakan sebuah kekuatan yang harus selalu ditumbuh-kembangkan. Oleh karena itu, APTISI perlu menerima dan mengelaborasi isu-isu terkini yang dapat diangkat untuk dapat dibicarakan dan diseleasikan bersama, sehingga akan terlihat nyata kontribusi APTISI yang menaungi unsur-unsur pimpinan perguruan tinggi swasta dan unsur-unsur pimpinan yayasan.

Dari Persaingan ke Sinergi

Peningkatan daya saing dalam rangka ASEAN Economic?Community (AEC) 2015 membutuhkan sinergi antar perguruan tinggi dan antar negara. Peranan PTS dalam pendidikan tinggi di Indonesia masih cukup besar, karena 2,2 juta lebih mahasiswa atau 72 % berada di PTS. Oleh sebab itu perhatian pemerintah terhadap PTS patut lebih dikembangkan. Pembinaan?tersebut untuk menjamin bahwa proses pendidikan dilakukan dengan benar, serta kualitas dapat terus ditingkatkan.

PERMASALAHAN PERGURUAN TINGGI SWASTA

DIPERLUKAN SINERGI PARA PIHAK

DIPERLUKAN SINERGI
PARA PIHAK

Bincang dengan Ketua ABPTSI Jawa Barat,
Drs. Sali IskandarDIPERLUKAN SINERGI PARA PIHAK

Apa yang mendasari berdirinya ABPTSI (Asosiasi Badan Perguruan Tinggi Swasta Indonesia)?

ABPTSI lahir disebabkan adanya kecenderungan ingin menghilangkan Yayasan sebagai lembaga berbadan hukum yang menaungi PTS. Ini terbukti dengan UU Yayasan nomor 16 tahun 2001 dan UU Yayasan nomor 28 tahun 2004. Disitu katakata Yayasan hampir tidak ada. Waktu itu kita hampir melakukan review. Juga usaha panjang pemerintah untuk melahirkan UU BHP (Badan Hukum Pendidikan) yang juga menghilangkan eksistensi Yayasan. Kemudian kami perjuangkan ke Mahkamah Konstitusi, sehingga UU BHP dibatalkan. Itulah yang melatarbelakanginya. Di awal banyak orang mencibir, tidak percaya, demikian pula Pemerintah Pusat. Tetapi seiring berjalannya waktu keberadaan AB PTSI membawa berkah. UU BHP ditiadakan maka Yayasan dan Badan Wakaf Perkumpulan bisa mengelola kembali penyelenggaraan pendidikannya. Pengurus yayasan baru sadar bahwa ini kesalahan negara. Ke depan kita akan mereview UU Yayasan karena sangat emosional terkait yayasan yang didirikan pa Harto, padahal yayasan pendidikan berbeda. Dengan berdirinya AB PTSI pemerintah memahami bahwa di Indonesia ada dua

asosiasi, yaitu AB PTSI (yang anggotanya pembina, pengurus , pengawas yayasan) dan APTISI (yang anggotanya rektor, ketua, direktur perguruan tinggi). Kita bagi tugas APTISI menangani akreditasi, kualitas pendidikan, PBM dsb, sementara AB PTSI menangani penyelenggaraan pendidikan (SDM, sarana, fasilitas).

Upaya AB PTSI agar memenuhi harapan anggota ?

AB PTSI selalu mengutamakan sinergi dengan semua pihak. Kopertis, Aptisi; eksekutif dan legislatif maupun pihakpihak terkait lainnya. Asosiasi telah berhasil mendapatkan bantuan Gubernur Jawa Barat senilai 300 juta untuk masing-masing PTS bagi pembangunan ruang kelas. Upaya lain AB PTSI yaitu masalah PBB bagi Yayasan/PTS. Kami mengirim surat untuk beraudiensi dengan Walikota terkait pembebasan PBB, karena bertentangan dengan perundang-undangan. Ketentuan Dirjen Pajak Yayasan dikenakan 50%, padahal Dinas Pajak mengenakan pajak penuh. Padahal Yayasan/PTS telah berkontribusi terhadap pemerintah dengan membuka sarana pendidikan bagi masyarakat yang mestinya mendapat insentif pajak. Pengenaan pajak terhadap lembaga

pendidikan swasta telah melanggar aturan. AB PTSI sebagai asosiasi berusaha konsisten memperjuangkan eksistensi anggotaanggotanya, sehingga AB PTSI dirasakan manfaatnya.

Bagaimana persepsi AB PTSI tentang hubungan kerja Yayasan dan PTnya ?

AB PTSI – SI : Dalam UU Nomor 12 Tahun 2012 disebutkan Yayasan adalah badan penyelenggara pendidikan. Penyelenggaraan otonomi perguruan tinggi pada PTS diatur oleh badan penyelenggara. Kami sepakat: Universitas menangani aspek akademik (akreditasi dll), sedang Yayasan dalam aspek keuangan, SDM, sarana. Karena itu pengangkatan dosen dan pegawai kewenangan Yayasan. UU nomor 12 memang mengakomodir keinginan yayasan, meskipun beberapa hal masih belum terpenuhi

Antara AB PTSI dan APTISI saling berbagi tugas bagai dua sisi mata uang maksudnya bagaimana ?

Persoalan terkait dengan akademik seperti isu akreditasi, semisal LAM adalah urusan APTISI. Akreditasi tidak seharus serba negeri sehingga ada lembaga lain seperti LAM tadi. Penentuan jabatan Rektor non DPK seharusnya wewenang Yayasan.

PRODUKTIVITAS PERGURUAN TINGGI

Produktivitas Perguruan Tinggi

Dr. Islahuzzaman, SE.,M.Si Ak. (Assessor BAN PT)

Dr. Islahuzzaman, SE.,M.Si Ak. (Assessor BAN PT)

https://uono.fun

https://uono.site

https://uono.club

https://uono.pw

https://uono.space

https://uono.uk.cc

https://yono.sbs

https://yonox.art

https://jaiho.net

https://yono.eu.cc

https://yono.asia

https://yono.rest

https://jaiho.icu

https://jaiho.xyz

https://okrummy.cc

https://okrummy.org

https://winrummy.org

https://winrummy.cc

https://winrummy.asia

https://winrummy.me

https://winrummy.art

https://winrummy.online

https://winrummy.site

https://jaiho.cc

https://jaiho.top

https://okrummy.online

https://okrummy.site

https://okrummy.art

https://okrummy.asia

https://okrumee.top

https://okrummyclub.fun

https://okrumy.xyz

https://ocrummy.site

https://okrumi.online

https://myokrummy.xyz

https://playokrummy.online

https://okrummie.fun

https://okrummy.today

https://okrummyworld.com

https://okrummypro.com

https://okrummylive.com

https://okrummy.live

https://okrummypoker.com

https://okrummynet.com

https://okrummyplus.com

https://okrummygaming.com

https://okrummyplay.com

https://bestokrummy.com

https://okrummy.fun

https://okrummy.click

https://okrummyclub.com

https://okrummy.world

https://okrummygaming.club

https://playokrummy.bet

https://myokrummy.com

https://playokrummy.com

https://gookrummy.com

https://okrummytoday.com

https://okrummyzone.com

https://okrummyvip.com

https://okrummygame.com

https://okrummyonline.com

https://myokrummy.games

https://okrummyzone.biz

https://bestokrummy.pro

https://okrummyonline.vip

https://okrummypoker.co

https://okrummygames.net

https://okrummylive.top

https://okrummygame.site

https://okrummyplay.org

https://okrummy.co

https://okrummy.biz

https://www.sbgaccsojitra.edu.in/okrummy/

https://kamanitubes.com/index.aspx

Komunita:
Dari pengalaman sebagai asessor, bagaimana kondisi yang terjadi pada saat melakukan visitasi ke beberapa perguruan tinggi?

Dr.Islahuzzaman: Saat ini, kondisi yang terjadi pada setiap perguruan tinggi baik negeri maupun swasta masih berfikir secara parsial dengan disertai oleh lemahnya kesadaran mengenai arti penting sebuah nilai akreditasi.

Beberapa hal yang menjadi penyebabnya yakni:

1) Belum adanya pemahaman yang komprehensif diantara civitas akademia terhadap indikator-indikator kualitas dalam penilaian akreditasi tersebut.
2) Masih menganggap bahwa urusan akreditasi adalah sepenuhnya dibebankan kepada prodi. Sehingga unit/elemen lainnya merasa tidak memiliki kewajiban dan tanggungjawab yang sama besarnya.
3) Adanya kesan yang menganggap kurang baik dari segi tata tertib administratif sehingga sulit untuk dilakukan pengukuran terhadap segala rencana program kegiatan institusi akibat dari tidak terdokumentasi nya secara rapih Contohnya: pada saat menerjemahkan makna dari Visi & Misi program studi.

Kebanyakan belum memahaminya secara menyeluruh, padahal di dalam Visi & Misi terkandung ruh utama untuk mengawali segala aktivitas yang akan dilakukan oleh seluruh civitas akademia. Kemudian ada juga yang masih menganggap akreditasi sebagai beban saja sehingga kurangnya nilai-nilai kesadaran akan pentingnya suatu akreditasi.

Komunita:
Bagaimana tingkat produktivitas perguruan tinggi yang didorong oleh akreditasi?

Dr.Islahuzzaman: Akreditasi institusi hingga saat ini masih merupakan satu-satunya bentuk penilaian kualitas bagi program studi perguruan tinggi yang diakui secara nasional oleh pemerintah. Bentuk penilaian tersebut yakni dengan mengacu pada indikator-indikator yang terdiri atas beberapa point standar penilaian kualitas. Contohnya : standar penilaian kualitas untuk program D3 berbeda dengan program S1.

Hal ini tentunya dapat dilihat berdasarkan pada jumlah masing-masing indikator yang menjadi ukuran dalam rangka memutuskan penilaian kualitas bagi setiap program studi pada perguruan tinggi. Apabila dikaitkan dengan tingkat produktivitas perguruan tinggi, maka point-point standar penilaian program studi harus dapat di realisasikan dan dilaksanakan secara berkesinambungan oleh semua pihak civitas akademia (terintegrasi) guna mewujudkan dan menghasilkan pengakuan yang berkualitas dalam segala bidang.

Salah satu bentuk produktivitas yang didorong oleh akreditasi adalah dalam hal peningkatan mutu SDM. Contohnya adalah seorang dosen yang menjadi ujung tombak dalam proses belajar-mengajar di perguruan tinggi diharapkan juga mampu meningkatkan jumlah kualitas karya ilmiahnya (penelitian, buku, jurnal,dll), jumlah pengabdian masyarakat, dan aktivitas penunjang lainnya. Dengan beberapa pencapaian hasil produktivitasnya, dapat membuktikan bahwa telah terjadinya aktualisasi dan kompetensi diri yang dilakukan dosen dalam rangka peningkatan kualitas perguruan tinggi khususnya pada program studi.

Elemen-elemen lainnya yang ikut membantu dalam?mendorong tercapainya peningkatan kualitas perguruan tinggi khususnya bagi program studi diantaranya yaitu: mahasiswa, staf dan pengurus yayasan. Adapun bentuk-bentuk aktivitas yang dilakukan oleh prodi yakni: mengadakan kuliah umum, seminar-seminar, dan pengabdian masyarakat. Efektivitas dan efisiensi merupakan kunci bagi tercapainya peningkatan produktivitas perguruan tinggi yang diukur oleh nilai akreditasi guna menghasilkan target lulusan (output) yang mandiri, kreatif dan inovatif.

Mendulang Perguruan Tinggi Swasta

Mendulang Perguruan Tinggi Swasta

Mendulang
Perguruan Tinggi Swasta
Berkualitas

Acep Edison

Obsesi sangat sederhana setiap orang tua wisudawan perguruan tinggi adalah putranya segera dengan cepat mendapatkan pekerjaan. Pertanyaannya apakah obsesi dapat terwujud dengan segera atau menambah daftar pengangguran intelektual yang semakin panjang. Obsesi orang tua dan calon mahasiswa sebagian terpicu dan terbentuk saat reklame-reklame di sepanjang pinggir-pinggir jalan, iklan di mass media serta berbagai janji dan sloganslogan yang sangat menarik saat penerimaan mahasiswa baru pada Perguruan Tinggi Swasta (PTS).

Daftar pertanyaan semakin panjang mengapa calon mahasiswa memilih PTS. Berda-sarkan penelitian Suwondo (2012), calon mahasiswa terpaksa studi di PTS karena tidak diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan secara umum menyatakan calon mahasiswa yang memilih studi di PTN disebabkan faktor biaya studi yang dinilai relatif murah, tetapi memiliki kualitas pendidikan yang terjamin bagus, lulusan banyak yang sukses dan di kenal, serta banyak dicari dalam berbagai lapangan kerja.
Penelitian Alexander Joseph Ibnu Wibowo dan Florentinus Nugro Hardianto (2012) mengungkapkan bahwa : kualitas pelayanan merupakan aspek yang banyak memperoleh perhatian siswa, secara rinci meliputi kualitas dosen, fasilitas fisik, mata kuliah (kurikulum), dan lingkungan kampus. Para mahasiswa yang menentukan studi pada perguruan tinggi swasta yang dipilihnya didasarkan pada ekspektasi yakni:
1). Perguruan Tinggi Populer dan dikenal oleh masyarakat luas.
2). Gedung dan suasana kampus memenuhi estetika, menarik dan memberikan kesan citra rasa.
3). Biaya pendidikan sesuai dengan kemam- puan dan relatif murah dibandingkan dengan PTS yang lain.
4). Lulus cepat dan lulusan mudah bekerja.
5). Pelayan akademik cepat, ramah dan menyenangkan.
6). Metode perkuliahan sangat menarik dan istimewa dan dibina oleh dosen – dosen yang memiliki kompentesi dan pengala- man yang luas (hasil observasi, 2013).

Kualitas

Ekspektasi mahasiswa studi pada perguruan tinggi swasta yang dipilihnya dianalogikan dengan hubungan kesesuaian karakteristik suatu produk sebagaimana konsep kualitas Gaspersz (2003) yakni menyangkut : performasi (performance), Keandalan (rea-bility), Mudah dalam penggunaan (ease for use), Estetika (esthetic), Tepat waktu, memenuhi standard (spesifikasi, ukuran dan dimensi), memenuhi kebutuhan pemakai dan didasarkan pendekatan Rao Ashok (2001) salah satu gurus kualitas mengemukakan bahwa kualitas berdasarkan Transcendent Approach, Product-Based Approach, User-Based Approach, Value-Based Approach merupakan kunci yang dapat digunakan pada perguruan tinggi swasta.

Pada hakekatnya pencapaian kualitas didasarkan pada partisipasi aktif pimpinanpimpinan puncak perguruan tinggi swasta dalam proses peningkatan kualitas secara terus- menerus merupakan konsekwensi yang mutlak dilakukan dan jika tanggungjawab pencapaian kualitas didelegasikan kepada departemen, biro, fakultas maka pemimpin-pemimpin harus terlibat secara transformasional total dan aktif untuk melakukan pelayanan yang berkualitas serta mampu memotivasi para bawahannya untuk berusaha dan menaruh perhatian terhadap kualitas. Sistem kualitas ditandai adanya aktivitas yang berorientasi pada tindakan pencegahan kegagalan dan upaya menditeksi potensi kerusakan serta berfokus pada upaya perbaikan yang dilakukan secara terus? menerus merupakan roh dalam pencapaian kualitas.

Perguruan tinggi yang dikenal berkualitas menurut padangan masyarakat ditandai cepatnya lulusan bekerja atau pengguna (user) melakukan recruitment hanya lulusan dari perguruan tinggi yang dipandangnya berkualitas. Pencapaian perguruan tinggi yang berkualitas ditandai adanya empat faktor utama yakni ; kepemimpinan kualitas, dosen berkualitas, fasilitas fisik, kurikulum.
-Faktor pertama, adanya kepemimpinan yang mampu mengkomunikasikan tujuan yang ingin dicapai melalui pernyataan dan tindakan serta bertanggungjawab dalam meningkatkan kinerja manusia dan alat-alat untuk menghasilkan peningkatan out put dan produktivitas serta aktif dalam proses peningkatan kualitas secara terus-menerus. Pemimpin berkemampuan mentransformasikan organisasi dengan baik menuju sasaran kualitas yang telah ditetapkan, memiliki visi yang kuat, memiliki peta tindakan, memiliki kerangka untuk pencapaian visi, memiliki kepercayaan diri, berani mengambil resiko, memiliki gaya pribadi inspirasional, memiliki kemampuan merangsang usaha? usaha individual dalam berkarya dan memiliki kemampuan mengidentifikasikan manfaat? manfaat.
-Faktor kedua, dosen yang berkualitas/ bermutu memiliki kemampuan mengolah potensi mahasiswa baik intelektual maupun ketrampilan, cara mengajar dosen mudah dimengerti (baik), memiliki pengalaman yang?memadai, aktif memberi jalan agar mahasiswa bisa meraih cita-citanya, penguasaan atas materi yang diajarkan, sistimatika mengajar yang baik, berkemampuan untuk menciptakan interaksi dalam perkuliahan, mampu melakukan penelitian ilmiah.

Editorial

Sarjana

 

 

 

 

Sidang Pembaca yang Budiman,

Sarjana sebagai keluaran perguruan tinggi alih-alih bisa bersaing mengisi dan menciptakan lapangan kerja, sebaliknya justru cenderung meningkatkan jumlah penganggur terdidik. Jumlah penganggur saat ini mencapai 7,17 juta orang. Sebuah ironi bagi daya saing lulusan perguruan tinggi, bila dalam tahun 2015 ketika dimulai perdagangan bebas ASEAN/ ASEAN Economic Communities yang membuka secara luas perdagangan dan lalu lintas orang tanpa pembatasan. Maka tenaga kerja asing dengan berbagai profesi yang dimiliki bakal meramaikan pasar kerja di Indonesia. Bahkan dalam beberapa bidang pekerjaan bakal terancam didominasi tenaga kerja asing. Pasalnya, Indonesia kekurangan tenaga kerja berkeahlian khusus.

Sejak 20 tahun lalu bidang studi favorit di kalangan pelajar masih belum berubah. Empat bidang studi yang menjadi favorit ialah bisnis manajemen, kedokteran, arsitektur dan Informasi Teknologi (IT). Kondisi ini menyebabkan, langkanya tenaga ahli di bidang lain sehingga tenaga kerja Indonesia kurang kompetitif. Jika lulusan Indonesia masih berkutat di empat bidang studi tersebut maka posisi-posisi unik dan strategis akan dikuasai oleh pekerja asing. Banyak bidang-bidang studi strategis yang belum diminati kalangan pelajar. Misalnya, farmasi sains, tehnik farmasi, kuliner, agrikultur dan lifestyle. (Trobe University – Ina Liem).

Ilustrasi di atas menunjukkan kekurang jelian kita. Atau pertanyaannya Ada apa dengan perguruan tinggi kita yang merupakan terminal terakhir pendidikan mahasiswa sebelum terjun ke dunia kerja ? Selanjutnya ada apa dengan pengambil kebijakan pendidikan tinggi ? Perguruan tinggi seharusnya cerdas dalam mengembangkan ragam bidang studi strategis sejalan dengan dinamika perkembangan masyarakat, sekaligus meningkatkan kualitas lulusannya sehingga menghasilkan tenaga kerja yang mampu bersaing, baik di dalam negeri maupun intra-ASEAN. Demikian pula para pengambil kebijakan pendidikan tinggi. Pekerjaan ini memang bukan sesuatu yang mudah, karena memerlukan cetak biru sistem pendidikan secara menyeluruh serta sertifikasi berbagai profesi terkait. Sehingga mampu menciptakan Linking Education to Economy.

PTS dengan jumlah 3.019 dan 2.2 juta mahasiswa, didera keterbatasan sumber daya, serta kurangnya pembinaan dari pemerintah tentunya menghadapi permasalahan besar dalam meningkatkan kualitas diri dan lulusan. Untuk itu, kami mencoba menggali informasi kebijakan, pemikiran dan upaya yang dilakukan pemerintah (via Kopertis), APTISI dan AB PTSI sebagai lembaga yang selayaknya mengambil peran di area masing-masing. Tulisan ini kami sajikan dalam KOMUNITA edisi #9 dengan tema Kualitas (=Akreditasi) PTS.

KOMUNITA juga menyajikan rubrik lain seputar pendidikan tinggi, perbankan, info kualitas & akreditasi yang merupakan olah pikir civitas academica terkait dengan profesi masing-masing menyikapi masalah dari pandangan akademis dan kemasyarakatan. Selain itu kami sajikan tulisan rehat berupa aktivitas Widyatama, profil, lifestyle yang bisa kita simak bersama.

Semoga upaya kami dapat mendorongkan etos kerja kita sebagai insan-insan yang kreatif dan inovatif. Vivat Widyatama,

Vivat Civitas Academica, Vivat Indonesia dan Nusantara tercinta. Redaksi – Lili Irahali

Soft Skill Dalam Perspektif Pendidik

SOFT SKILL DALAM PERSPEKTIF PENDIDIK

Ki Hajar Dewantara peletak dasar pendidikan nasional menegaskan bahwa kompetensi pendidikan seharusnya mendorong agar manusia dapat hidup mempunyai kecakapan dasar, memiliki pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) yang dapat dipelajari, sikap (attitude) yang arif, rendah hati dan manusiawi. Hal ini dipertegas UU No. 12 tentang Pendidikan Tinggi bahwa pendidikan tinggi sebagai jenjang terakhir pendidikan formal berfungsi

a. mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa

b. mengembangkan Civitas Akademika yang inovatif, responsif, kreatif, terampil, berdaya saing, dan kooperatif melalui pelaksanaan Tridharma dan

c. mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan memperhatikan dan menerapkan nilai Humaniora. Ketiga fungsi tersebut sesungguhnya memiliki nilai-nilai karakter yang di dalamnya tentu terkandung substansi soft skill. Persoalannya banyak perguruan tinggi dalam rangka meningkatkan mutu pendidikannya lebih berorientasi pada peningkatan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) dan lulus tepat waktu sebagai indikator keberhasilan peningkatan mutu, dibanding menguatkan aspek soft skill.

Belum banyak terlihat kebijakan yang terstruktur dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi yang memberi porsi yang memadai bagi substansi soft skill. Disinyalir hanya perguruan tinggi tertentu yang memberi perhatian mendasar pada hakekat fungsi pendidikan tinggi sebagaimana tersebut di atas, termasuk bagaimana soft skill dikembangkan untuk mengurangi kesenjangan kompetensi lulusan agar diserap dunia kerja.Tampaknya perlu belajar dari Skenario India.

soft skill

Ketiga fungsi tersebut sesungguhnya memiliki nilai-nilai karakter yang didalamnya tentu terkandung substansi soft skill. Persoalannya banyak perguruan tinggi dalam rangka meningkatkan mutu pendidikannya lebih berorientasi pada peningkatan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) dan lulus tepat waktu sebagai indikator keberhasilan peningkatan mutu, dibanding menguatkan aspek soft skill. Belum banyak terlihat kebijakan yang terstruktur dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi yang memberi porsi yang memadai bagi substansi soft skill.

Disinyalir hanya perguruan tinggi tertentu yang memberi perhatian mendasar pada hakekat fungsi pendidikan tinggi sebagaimana tersebut di atas, termasuk bagaimana soft skill dikembangkan untuk mengurangi kesenjangan kompetensi lulusan agar diserap dunia kerja.

Tampaknya perlu belajar dari Skenario India. Laporan NASS-COM terbaru mendukung fakta yang menyatakan bahwa 75 % dari para insinyur tidak dipekerjakan karena fokusnya selalu pada akademisi dan teori. Ini menunjukkan krisis soft skill yang merupakan fenomena universal. Tetapi justru masalah dan alasan India menyelenggarakan pendidikan tinggi mengacu
pada alasan-alasan yang naif :

  • Sistem pendidikan dirancang memaksa siswa untuk lebih berkonsentrasi pada belajar hafalan dari pada mengembangkan semangat penyelidikan, yang merupakan faktor yang paling dominan untuk mencapai keberhasilan di tempat kerja .
  • Selama pendidikan di perguruan tinggi, banyak insinyur mengabaikan mempelajari humaniora, bahasa dan seni. Dalam proses ini, perkembangan untuk melengkapi kecerdasan manusia dan fakultas seperti kreativitas dan keterampilan antar-pribadi menjadi terhambat.

Bagaimana praktek pendidikan tinggi dalam perspektif perguruan tinggi kita ? Rektor UPI, Prof. Sunaryo menegaskan bahwa
esensi perguruan tinggi adalah selain mencetak individu yang memiliki ilmu juga harus dapat melahirkan individu-individu yang dapat menerapkan ilmu yang didapatkannya sehingga bermanfaat bagi masyarakat atau menjadi kata hati umat manusia, kata hati bangsa dan bahkan kata hati kehidupan. Untuk itu, setiap perguruan tinggi memiliki otonomi untuk membuat pilihan dan mempertanggungjawabkan hasil pilihannya dalam memilih alternatif-alternatif untuk melahirkan para sarjana yang terbaik. Esensi tersebut tentunya harus terdapat benang merah dengan kompetensi kebutuhan dunia kerja.

Karena itu, Prof. Sunaryo berpendapat bahwa: paradigma dunia pendidikan harus mulai dirubah sehingga para mahasiswa harus mendapatkan juga soft skill sebagai penunjang dalam percepatan kinerja dan karir saat memasuki dunia kerja atau di masyarakat. Intinya adalah para lulusan-lulusan perguruan tinggi harus dibekali ilmu survival menghadapi dunia kerja yang sangat bergerak cepat. Soft skill yang meliputi kemampuan berkomunikasi, bernegosiasi dan berfikir kreatif wajib dimiliki para lulusan perguruan tinggi. Harap diingat bahwa soft skill bukanlah ilmu yang dapat dipelajari dalam waktu singkat, tetapi merupakan life – long process yang memerlukan waktu lama ditempa melalui berbagai dinamika kehidupan, kehidupan kampus maupun kehidupan masyarakat dengan kemampuan fleksibilitas dan adaptasi yang tinggi.

Yang paling utama perguruan tinggi atau sekolah di jenjang sebelumnya wajib menciptakan manusia yang siap belajar sepanjang hayat. Salah satu strategi yang dapat diterapkan oleh perguruan tinggi dalam menyiapkan lulusan-lulusan yang handal dalam menghadapi tekanan berat dalam dunia kerja atau masyarakat adalah dengan memperkenalkan sedini mungkin terhadap mahasiswa apa yang akan dihadapinya di masa akan datang dengan program yang dinamakan early exposure. Seperti diterjunkan ke masyarakat sebagai bagian dari training awal. Kemudahan fasilitas saat ini juga seharusnya dijadikan sebagai penunjang untuk mempermudah dalam proses belajar bagi para mahasiswa, belajar lebih keras dan berusaha lebih banyak.

Hal senada diungkapkan Prof. Ichsan Setya Putra, Ketua Satuan Penjaminan Mutu ITB bahwa dunia pendidikan seharusnya tidak selalu menekankan pada kompetensi keilmuan saja tetapi seperti yang dicantumkan di badan akreditasi di Amerika Serikat. Badan Akreditasi di Amerika memasukan soft skill di urutan tertinggi porsinya. Disana juga dicantumkan kemampuan
berkomunikasi dan team work, memahami etika profesi. Perlu juga menyadari pentingnya lifelong learning, memahami dari 11 kompetensi, 6 diantaranya masuk soft skill. Seperti contoh berkaitan dengan kompetensi engineer di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat seorang insinyur harus mampu mengimplikasikan solusi-solusi tekniknya bagi masyarakat. Dari hal
tersebut dapat diketahui bahwa soft skill (dalam hal ini empati) dicampurkan dengan keilmuan teknik guna membuat masyarakat lebih maju dengan kehadiran ilmu teknik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kompetensi yang harus
dimiliki para mahasiswa adalah bukan hanya kompetensi keilmuan yang dipelajarinya tetapi juga problem solving skill dengan langkah kenali masalah, sederhanakan masalah, buat model dari masalah tersebut kemudian diselesaikan lalu dievaluasi.

Pendidikan karakter dimulai bagaimana seseorang bisa memberikan empati (our under achievening collegues). Intinya bagaimana melatih mahasiswa untuk empati. Seharusnya Dosen memberikan team dynamics theory. Contohnya dulu ada KKN tematik (menyelesaikan masalah-masalah di masyarakat) untuk membangun rasa empati. Pendidikan pembentukan karakter dimulai dari membangun rasa empati sehingga timbul rasa ingin membangun atau memperbaiki sesuatu yang kurang tepat yang akhirnya timbullah integritas (kejujuran) dari setiap individu. Mengenali pemahaman-pemahaman langkah supaya terintegrasi yaitu dimulai dengan yang pertama yaitu konsep, IPK (integritas, prestasi dan komitmen), dirancang memasuki tahapan yaitu akademik, cokurikuler dan extrakurikuler. Perubahan perilaku mahasiwa itu tidak cukup dengan membuat SK (surat keputusan).

Menumbuhkan soft skill memerlukan environment yang mendukung yang terintegasi antar dosen, mahasiswa, dan seluruh elemen karyawan. Keberhasilan seseorang tidak ditentukan dengan IPK atau IQ seseorang, tetapi bagaimana seseorang bisa berinteraksi dengan orang lain.

Interaksi sangat luas. Intrapersonal ke dalam diri, sedang interpersonal dengan sesama. Intrapersonal lebih pada kemampuan
mengendalikan emosi/emotional intelligence (mengenali, memahami, mengendalikan dan mengarahkan emosi), mengelola diri seperti time management, selalu mengasah gergaji (longlife kearning yaitu teknik belajar terus) seperti olahraga yaitu mengasah dirinya untuk hidup sehat, spiritual. Kemampuan berkomunikasi interpersonal dengan orang lain tidak hanya untuk berbicara tetapi juga mendengar individu lain. Aktif di kegiatan himpunan (leadership & sinergi). Sinergi artinya mencari jalan keluar yang lebih baik dari dua pikiran yang berbeda, mendengarkan dengan empati (emphatic listening) memahami lawan bicara kita, sudut pandang seseorang, kemampuan membentuk team works. (Lee)

soft skill2