Cokelat Indonesia, Riwayatmu Kakao Indonesia komoditas ketiga di dunia

0
39
Cokelat Indonesia, Riwayatmu Kakao Indonesia komoditas ketiga di dunia

Cokelat IndonesiaSiapa tidak kenal cokelat yang disajikan dalam bentuk minuman maupun beku dengan berbagai varian sajian, bentuk, corak dan rasa unik. Bahkan cokelat kini menjadi bentuk hadiah atau bingkisan sebagai ungkapan terima kasih, simpati,perhatian bahkan pernyataan cinta. Cokelat juga telah menjadi salah satu rasa yang paling populer di dunia. Selain dikonsumsi paling umum dalam bentuk cokelat padat,cokelat juga menjadi bahan minuman hangat dan dingin.

Sejarah

Cokelat dihasikan dari kakao (Theobroma cacao) yang diperkirakan tumbuh di daerah Amazon Utara sampai ke Amerika Tengah, bahkan diduga sampai Chiapas,bagian paling selatan

Cacao

Meksiko. Orang-orang Olmec memanfaatkan pohon dan membuat “cokelat” di sepanjang pantai teluk di selatan Meksiko.

Residu cokelat ditemukan pada tembikar yang digunakan suku Maya kuno di Rio Azul, Guatemala Utara, menunjukkan bahwa Suku Maya meminum cokelat disekitar tahun 400 SM. Peradaban pertama yang mendiami daerah Meso-Amerika itu mengenal pohon “kakawa” yang buahnya dikonsumsi sebagai minuman xocoLDtl yang berarti minuman pahit.

Cara menyajikannya pun tidak sembarangan, dengan memegang wadah cairan ini setinggi dada dan menuangkan ke wadah Lain ditanah, penyaji yang ahli dapat membuat busa tebal, bagian yang membuat minuman itu begitu bernilai. Busa ini sebenarnya dihasikan oleh Lemak kokoa (cocoa butter) namun kadang-kadang ditambahkan juga busa tambahan. Orang Meso-Amerika tampaknya memiliki kebiasaan penting minum dan makan bubur yang mengandung cokelat.

Biji kakao sangat pahit dan harus difermentasi agar rasanya dapat diperoleh. Setelah dipanggang dan dibubukkan hasilnya adalah cokelat. Diperkirakan kebiasaan minum cokelat suku Maya dimulai sekitar tahun 450 SM – 500 SM. Konsumsi cokelat dianggap sebagai simbol status penting pada masa itu. Suku Maya mengonsumsi cokelat dalam bentuk cairan berbuih ditaburi Lada merah, vanila, atau rempah-rempah lain. Minuman ini dipercaya sebagai pencegah Lelah, sebuah kepercayaan yang mungkin disebabkan dari kandungan theobromin didalamnya.

Ketika peradaban Maya klasik runtuh (sekitar tahun 900) dan digantikan oleh bangsa Toltec, biji kakao menjadi komoditas utama Meso-Amerika. Pada masa Kerajaan Aztec berkuasa (sampai sekitar tahun 1500 SM) daerah yang meliputi kota Meksiko saat ini dikenal sebagai daerah Meso-Amerika yang paling kaya biji kakao. Bagi suku Aztec biji kakao merupakan “makanan para dewa” (theobroma, dari bahasa Yunani). Biasanya biji kakao digunakan dalam upacara-upacara keagamaan dan sebagai hadiah.

Cokelat juga menjadi barang mewah pada masa Kolombia-Meso Amerika, dalam kebudayaan mereka yaitu suku Maya, Toltec, dan Aztec biji kakao (cacao bean) sering digunakan sebagai mata uang. Sebagai contoh suku Indian Aztec menggunakan sistem perhitungan dimana satu ayam turki seharga seratus biji kakao dan satu buah avokado seharga tiga biji kakao. Sementara tahun 1544 M, delegasi Maya Kekchi dari Guatemala yang mengunjungi istana Spanyol membawa hadiah,diantaranya minuman cokelat.

Cokelat cair

Awal abad ?ke- 17, cokelat ?menjadi minuman penyegar yang digemari di istana Spanyol. Sepanjang abad itu,cokelat menyebar diantara kaum elit Eropa, kemudian lewat proses yang demokratis harganya menjadi cukup murah, dan pada akhir abad itu menjadi minuman yang dinikmati kelas pedagang. Kira-kira 100 tahun setelah kedatangannya di Eropa, begitu terkenalnya cokelat di London, sampai didirikan “rumah cokelat” untuk menyimpan persediaan cokelat, dimulai di rumah-rumah kopi. Rumah cokelat pertama dibuka pada 1657, dan resep es coklat pertama diketahui berasal dari lnggris pada tahun 1668. Pada tahun 1689 seorang dokter dan kolektor bernama Hans Sloane, mengembangkan sejenis minuman susu cokelat di Jamaika dan awalnya diminum suku apothekari, namun minuman ini kemudian dijual oleh Cadbury bersaudara.

Semua cokelat Eropa awalnya dikonsumsi sebagai minuman. Boru pada 1847 ditemukan cokelat padat. Orang Eropa membuang hampir semua rempah – rempah yang ditambahkan orang Meso – Amerika, tetapi sering mempertahankan vanila. Jugo mengganti banyak bumbu sehingga sesuai dengan selera mereka, mulai dari resep khusus yang memerlukan ambergris, zat warna keunguan berlilin yang di ambil dari usus ikan paus, hingga bahan lebih umum seperti kayu manis atau cengkeh. Namun, yang paling sering ditambahkan adalah gula. Sebaliknya, cokelat Meso-Amerika tampaknya tidak dibuat manis.

Cokelat Eropa awalnya diramu dengan cara yang soma dengan yang digunakan suku Maya dan Aztec. Bahkan sampai sekarang, cara Meso-Amerika kuno masih dipertahankan, tetapi di dalam mesin industri. Biji kakao masih sedikit difermentasikan, dikeringkan, dipanggang, dan digiling. Namun, serangkaian teknik lebih rumit pun dilakukan. Bubuk cokelat diemulsikan dengan karbonasi kalium atau natrium agar lebih mudah bercampur dengan air (dutched, metode emulsifikasi yang ditemukan orang Belanda), lemaknya dikurangi dengan membuang banyak lemak kakao (defatted), digiling sebagai cairan dalam gentong khusus (conched), atau dicampur dengan susu sehingga menjadi cokelat susu (milk chocolate). https://id.wikipedia.org/

Biji kakao dan bubuk cacao