Indeks Inovasi Global 2019 dan Pandangan Otoritas, Komunitas Perguruan Tinggi tentang Riset & Inovasi Indonesia

Indeks Inovasi Global 2019 dan Pandangan Otoritas, Komunitas Perguruan Tinggi tentang Riset & Inovasi Indonesia

Kapasitas ilmu pengetahuan dan teknologi suatu negara salah satunya dapat dilihat melalui indeks-indeks global, seperti Global Innovation Index (GII). Setiap tahun Global Innovation Index/GII (Indeks Inovasi Global) menghadirkan komponen tematik yang melacak inovasi global. Dalam edisi tahun 2019 lalu, GII menganalisis lanskap inovasi medis dekade berikutnya dengan mengangkat tema Menciptakan Kehidupan Sehat – Masa Depan Inovasi Medis. Yakni melihat bagaimana inovasi teknologi dan non-teknologi medis akan mengubah layanan kesehatan di seluruh dunia. Indeks ini juga mengeksplorasi peran dan dinamika inovasi medis dalam membentuk masa depan perawatan kesehatan, dan pengaruh potensialnya terhadap pertumbuhan ekonomi.

GII merupakan sumber wawasan tentang aspek multidimensi dari pertumbuhan yang didorong oleh inovasi. GII telah menjadi salah satu referensi terkemuka mengukur kinerja inovasi ekonomi, serta telah berkembang menjadi alat pembandingan berharga yang dapat memfasilitasi dialog publik-swasta di mana para pembuat kebijakan, pemimpin bisnis, dan pemangku kepentingan lainnya dapat mengevaluasi kemajuan inovasi setiap tahunnya.

Indikator yang digunakan secara garis besar mencakup 2 index, yakni: Innovations Input dan Innovations Output, yang mencakup 7 kriteria meliputi: institution, human capital & research, infrastructure, market sophistication, business sophistication, and knowledge & technologies outputs, serta creative outputs yang dilengkapi 21 sub kriteria.

Bagaimana perkembangan inovasi negeri kita Menurut penilaian GII negeri kita berada dalam peringkat ke 85 dari 129 negara, dan pada peringkat ke 14 dari 15 di lingkungan negara SEAO/ South East Asia, East Asia, and Oceania dengan nilai 29,72 dari ukuran 0 100. Diantara negara SEAO (Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, Hongkong, China, Jepang, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Mongolia, Filipina, Brunei, Indonesia, Kamboja).

Sebagaimana dilansir beberapa media menurut para pemegang otoritas, maupun komunitas perguruan tinggi bahwa riset dan inovasi di Indonesia dipandang masih memprihatinkan dan memerlukan pembenahan konseptual, terstruktur, dan operasional.

Wakil Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Bob Azzam mengatakan posisi Indonesia dalam Global Innovation Indexyang di bawah Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam ini menjadi alarm untuk sungguh-sungguh memperbaiki iklim iptek supaya lebih efektif lagi.Menurutnya, yang perlu dilakukan saat ini kerjasama yang intens antara bisnis pemerintah – akademisi untuk membangun riset yang innovatif dan meningkatkan daya saing industri serta ekspor. Ekosistem inovasi sangat perlu dibangun. Kelemahan kita masih suka jalan sendiri-sendiri. Selain itu juga pendekatan risetnya diubah, inovasi harus didorong yang dekat dengan pasar,” tutur Bob (www. Bisnis.com26 Juli 2019)

Sebelumnya Prof. Bambang Permadi Soemantri Bodjonegoro, S.E., M.U.P., Ph.D. – Menteri Riset, Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Republik Indonesia dalam sambutannya pada acara Konsorsium Nasional Lembaga Penelitian, Publikasi dan Pengabdian Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah (LPPM PTMA), Selasa (7/1) di Hotel Harpe, Mangkubumi, Yogyakarta. Riset dan pengabdian merupakan dua hal penting yang perlu menjadi komitmen perguruan tinggi. Peran perguruan tinggi dalam penguatan riset menjadi sangat penting untuk memunculkan inovasi-inovasi di tengah peradaban revolusi industri 4.0. Selain itu peran perguruan tinggi sangat penting dalam hal riset untuk dapat memecahkan permasalahan di masyarakat melalui kerjasama dengan berbagai pihak. Akan tetapi yang disayangkan perguruan tinggi di Indonesia belum optimal dalam melakukan riset.

Beberapa faktor yang mempengaruhi permasalahan penguatan dan pengembangan riset di Indonesia, diantaranya: kelembagaan akreditasi Lemlit (Lembaga Penelitian), anggaran riset, relevansi dan produktivitas, manajemen riset, serta sumberdaya manusia. Menghadapi permasalahan riset tersebut, perlu partisipasi pihak swasta untuk mengikuti riset, seperti BUMN atau perusahaan. Sehingga muncul Research and Development (R&D) yang akan menjadi kebutuhan untuk bersaing dalam memunculkan sebuah inovasi.

Bambang juga menjelaskan pentingnya relevansi perguruan tinggi dengan perusahaan dalam melakukan riset yang selanjutnya memunculkan inovasi sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pasar. Riset perguruan tinggi harusnya selaras dengan kebutuhan pasar oleh karena itu penting dilakukan kerjasama riset dengan pengusaha atau perusahaan agar hasil riset nantinya memunculkan hasil riset yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Oleh karena itu, diharapkan perguruan tinggi aktif dan fokus pada R&D. Peran perguruan tinggi berkaitan dengan fungsi dosen untuk mengubah paradigma riset menjadi kebutuhan perusahaan atau sektor swasta dan menjadi kebutuhan masyarakat, jelasnya. (https://www.umy.ac.id/)

Dewan Kehormatan Forum Rektor Indonesia (FRI), Asep Saefuddin mengatakan posisi Indonesia dalam Global InnovationIndex menunjukkankualitas SDM terutama di bidang kesehatan, pendidikan, riset, dan birokrasi pemerintahan. ujarnya kepadaBisnis.com, Kamis (25/7/2019).Selain itu, perlu dilakukan insentif pajak yang berkaitan denganoutcome based research.Dimana pemberian insentif ini harus dibarengi dengan perubahan birokrasi pada riset, sehingga akan berdampak pada indeks inovasi Indonesia.

Lebih jauh, “Perlu ada mandat riset bagi kampus besar yang sudah mapan. Riset tanpa mandat, negara tidak dapat apa-apa dan indeks inovasi Indonesia juga tidak akan berubah. Mandatkan kepada perguruan tinggi seperti IPB untuk riset pangan, ITB untuk teknologi informasi, UI untuk kesehatan, dan kampus di Provinsi mandatkan untuk penguatan sumber daya lokal di tempat itu,” terang Asep. Pemberian mandat juga dapat dilakukan ke beberapa perguruan tinggi untuk bergabung dalam konsorsium riset mandat tertentu.

“Bilaoutcome(hasilnya) berdampak pada ekonomi dan indeks inovasi global, perguruan tinggi diberi insentif lagi, misalnya kemudahan pengiriman post doctoral atau lainnya atau bisa juga insentif bebas pajak PPH bagi peneliti dalam tim mandat,” ucapnya.

Hal lain, sedikitnya riset yang menghasilkan inovasi, karena tak adanya grand design riset secara nasional. Selain itu, peneliti merasa jago sendiri dan merasa berhasil memenangkan riset kompetitif, dimana cenderung peneliti itu-itu saja. Hasilnya hanya menaikan citra dirinya, paling jauh citra kampus tetapi bukan negara,” kata Asep.(www.Bisnis.com 26 Juli 2019)

Rektor Universitas Pancasila, Prof. Wahono Sumaryono mengatakan perguruan tinggi saat ini memang perlu menggiatkan riset yang melahirkan pelbagai inovasi. Untuk itu, pertama-tama mengubah pola pikir dan membuka wawasan para sivitas kampus untuk mau mengembangkan inovasi. Setelah itu, diperlukan kolaborasi dan membangun jejaring dengan kalangan industri. Dengan begitu, kebutuhan pasar bisa dipahami sehingga riset bisa lebih terarah. “Kami mendorong para dosen dan mahasiswa agar terbuka dalam riset, mengembangkan barang dan jasa, sehingga bisa diserap pasar. Sehingga riset tidak hanya menjadi kredit poin untuk kelulusan atau naik jabatan, tapi juga bisa menghasilkan koin (uang),” Jumat 15 Maret 2019 (https://mediaindonesia.com/)

Rektor Universitas Andalas, Prof. Dr. Tafdil Husni, SE, MBA pada saat membuka Konferensi Nasional Klaster dan Hilirisasi Riset Berkelanjutan (KNKHRB ) V 2019 pada Senin (18/11) mengungkapkan hasil riset perguruan tinggi memiliki sejumlah kendala hilirisasi sehingga hasil penelitian belum dapat diaplikasikan di masyarakat. “Kendala pertama setelah riset selesai dilakukan dan mendapatkan hak paten, banyak yang berhenti pada tahapan tersebut,” Selain itu ada kendala regulasi yang menghambat untuk dilakukan hilirisasi riset dan ini menyangkut hubungan dengan dunia industri. “Oleh sebab itu perlu perubahan aturan agar hilirisasi riset menjadi lebih mudah diadopsi dunia usaha dan industri,” katanya.

Kemudian kendala hilirisasi riset lain yang kerap dihadapi adalah jika sudah ada penelitian yang bisa diaplikasikan terkendala dengan ketersediaan bahan baku produk. “Ada hilirisasi riset yang bisa diaplikasikan, kadang bahan baku minim atau sulit didapat sehingga akhirnya menjadikan biaya produksi menjadi lebih tinggi,” ujarnya. Berikutnya untuk hilirisasi riset dibutuhkan penelitian lanjutan sebagai upaya pengembangan lebih lanjut sesuai dengan kebutuhan dunia industri. (https://www.unand.ac.id/)

Rektor Unpar, Mangadar Situmorang, Ph.D., Sabtu 25 Jan 2020 dalam forum ilmiah di kampus Unpar menyoroti pentingnya pengembangan riset sebagai bagian dari pendidikan tinggi. “Kewajiban kita sebagai dosen dan peneliti adalah menyelenggarakan riset terutama membantu masyarakat menjawab persoalan-persoalan yang ada.” (https://republika.co.id/)

Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI), Dr. Ir. H.M. Budi Djatmiko menuturkan rendahnya inovasi yang dilakukan oleh Indonesia juga karena riset yang masih sedikit.Terlebih, perguruan tinggi swasta sangat sulit untuk memperoleh pendanaan dari Kemenristekdikti sehingga riset yang dilakukan tak begitu banyak. Selain itu, tema yang dipilih peneliti, jarang yang aplikatif atau sesuai dengan kebutuhan industri atau yang menghasilkan inovasi sehingga riset yang dihasilkan hanya berupa kertas saja atau pelaporan.

Menurutnya, pemerintah perlu membuat kebijakan yang mewajibkan kepada industri untuk bekerja sama perguruan tinggi dalam melakukan riset yang menghasilkan inovasi sebagai upaya untuk meningkatkan Global Innovation Index Indonesia.Hal ini dikarenakan banyak industri yang melakukan riset sendiri atau menggunakan lembaga asing. “Perlu ada grand design riset, riset seperti apa yang dibutuhkan, arahnya kemana dan sebagainya,” ucap Budi.(www.Bisnis.com 26 Juli 2019)

Rektor Unpas, Prof. Dr. Ir. H. Eddy Jusuf, M.Si., M.Kom : Riset itu penting dan yang lebih penting adalah menghilirisasikan riset-riset itu sendiri. Riset-riset yang dilakukan PT jangan hanya mengejar Cum/ Point belaka, tapi bagaimana hasil riset kemudian mendapat cum dan dihilirisasikan. Untuk ini PT harus menjalin kerjasama dengan dunia usaha/ industri, minimal dari PT tersebut dapat diterapkan dalam skala laboratorium, walaupun belum dalam skala produksi, tapi sudah ada usaha untuk menginternalisasikan hasil riset tersebut.

Selain itu Riset disamping keluarannya untuk tingkat nasional dan bermanfaat untuk kepentingan Perguruan Tinggi berada, juga berdampak pula pada lingkungan tempat PT itu berada. PT sebagai menara air (pusat) untuk sekitarnya.

Tantangan bagi dosen harus mampu mengembangkan inisiatif bahwa riset tidak hanya mengandalkan dana dari institusi/internal yang relatif terbatas, ada baiknya menggunakan dana hibah dari pemerintah, maupun menggandeng dunia industri.

Juga perlu dilakukan penyelarasan dana-dana hibah antara PTS dengan PTN, karena keberadaan PTS mengangkat APK (Angka Partisipasi Kasar) – yang mengangkat itu adalah dari daya serap/ lulusan 4500 PTS kurang lebih besaran presentasenya adalah 93 %, kontribusinya sangat tinggi – dan kita usulkan kepada Kementrian/pemerintah, baiknya ada seperti dana operasional untuk PTS seperti BOS. (lee)

Sumber : dari berbagai sumber

Comments are closed.