Wawancara
Prof. Dr. Azizul Azhar bin Ramli
Dekan Periode 2022 – 2024, Peneliti – Fakulti Sains Komputer dan Teknologi Maklumat – Universiti Tun Hussein Onn Malaysia
Di sebuah ruang kerja yang dipenuhi layar komputer dan papan tulis penuh sketsa algoritma, seorang profesor ilmu komputer mengakui bahwa pertemuannya dengan gagasan keberlanjutan tidak datang dari laboratorium atau konferensi teknologi. Justru datang dari sebuah dokumen global yang tampaknya sederhana: daftar 17 tujuan yang dikenal sebagai United Nations – Sustainable Development Goals (SDGs).
Ketika pertama kali membaca dokumen itu, reaksinya spontan. “Akhirnya dunia memiliki daftar tugas bersama,” terangnya.
Sebelum SDGs, menurutnya negara, lembaga, dan komunitas ilmiah sering bekerja sendiri-sendiri, memecahkan potongan kecil masalah global tanpa kerangka bersama. SDGs mengubah cara pandang itu. Untuk pertama kalinya, umat manusia tampak duduk di meja yang sama dan menyepakati tujuan kolektif—dari menghapus kemiskinan hingga melindungi ekosistem bumi.
Bagi seorang ilmuwan komputer, kesadaran itu membawa perubahan mendasar: masalah global ternyata saling terhubung. Kemiskinan tidak dapat diatasi tanpa pendidikan. Pendidikan tidak berkembang tanpa lingkungan yang sehat. Air bersih, kesehatan, pangan, dan energi membentuk satu sistem yang saling terkait.
“Di titik itu saya menyadari bahwa teknologi tidak boleh hanya memikirkan pengguna.” “Kita harus memikirkan manusia secara keseluruhan,” ujarnya.
Dari Baris Kode ke Dampak Global
Selama bertahun-tahun, ia mengira pekerjaannya sebagai ilmuwan komputer hanyalah membuat aplikasi lebih cepat atau situs web lebih efisien. Namun perkembangan teknologi digital membuka perspektif baru.
Sebuah algoritma misalnya, dapat membantu petani di desa terpencil memprediksi musim kering. Sebuah aplikasi sederhana dapat membantu dokter mendiagnosis pasien dari jarak jauh. Program komputer yang dirancang dengan baik bisa menjangkau jutaan orang sekaligus—tanpa biaya distribusi yang besar.
“Di situlah saya menyadari sesuatu yang sangat kuat. Jika saya membuat alat fisik, saya membantu satu orang. Jika saya menulis perangkat lunak, saya bisa membantu jutaan orang,” jelasnya. Inilah yang ia sebut sebagai kekuatan skala dalam ilmu komputer.
Perubahan cara pandang ini membuatnya melihat teknologi sebagai alat strategis dalam mencapai tujuan global. Bahkan hal yang tampak kecil—seperti membuat program lebih efisien—dapat berdampak besar. Server internet dan pusat data mengonsumsi energi yang sangat besar. Ketika algoritma dibuat lebih hemat daya, konsumsi listrik menurun dan emisi karbon berkurang.
“Kadang orang tidak menyadari bahwa mengoptimalkan kode juga berarti menghemat energi bagi planet ini,” katanya sambil tersenyum.
Ilmu Komputer: Lebih dari Sekadar Pemrograman
Banyak orang masih menganggap ilmu komputer identik dengan pemrograman. Padahal, menurutnya inti dari disiplin ini adalah logika dan pemecahan masalah. Pemrograman hanyalah bahasa yang digunakan untuk memberi instruksi kepada mesin. Tantangan sebenarnya adalah memecah persoalan besar menjadi langkah-langkah yang dapat diselesaikan secara sistematis.
Bagaimana memberi makan delapan miliar manusia? Bagaimana memprediksi perubahan iklim? Bagaimana mengelola sistem kesehatan yang kompleks? Pertanyaan-pertanyaan ini membutuhkan cara berpikir komputasional: mengubah data dunia nyata yang berantakan menjadi peta informasi yang dapat dibaca dan dianalisis.
Ilmu komputer, katanya, berfungsi sebagai penerjemah data. Para ilmuwan mengambil data cuaca, rekam medis, atau statistik ekonomi, lalu mengubahnya menjadi wawasan yang dapat membantu pengambil keputusan.
Dalam konteks SDGs, teknologi sering bekerja secara diam-diam tetapi efektif. Contohnya dapat ditemukan dalam bidang pertanian. Sensor tanah yang terhubung ke ponsel memungkinkan petani mengetahui tanaman mana yang membutuhkan air. Dengan sistem ini, penggunaan air dapat dihemat secara signifikan sekaligus meningkatkan hasil panen.
Di sektor konsumsi, aplikasi digital dapat membantu toko makanan menjual produk yang hampir kedaluwarsa dengan harga diskon alih-alih membuangnya. Solusi sederhana seperti ini mampu mengurangi limbah makanan dan emisi karbon.
Teknologi, dengan kata lain, sering kali menjadi jembatan antara niat baik dan tindakan nyata.
Kecerdasan Buatan dan Dunia yang Lebih Terhubung
Nah, perkembangan Artificial Intelligence/AI (Kecerdasan Buatan) mempercepat potensi tersebut. Dalam dunia kesehatan, algoritma AI kini mampu menganalisis gambar rontgen atau foto penyakit kulit dengan akurasi yang mendekati dokter spesialis. Bagi daerah terpencil yang kekurangan tenaga medis, teknologi ini bisa menjadi penyelamat.
Di bidang pendidikan, AI berfungsi seperti tutor pribadi yang tidak pernah lelah. Sistem pembelajaran digital dapat menjelaskan materi dengan berbagai cara hingga siswa benar-benar memahami konsepnya.
“Teknologi membuat pengetahuan ahli dapat hadir di tempat yang sebelumnya tidak terjangkau,” terangnya.
Lebih jauh lagi, AI juga membantu mengurangi kesenjangan digital global. Aplikasi penerjemahan otomatis memungkinkan seseorang yang berbicara bahasa lokal mengakses pengetahuan global tanpa harus mempelajari bahasa asing. Dengan kata lain, teknologi mulai belajar berbicara dalam bahasa manusia.
Generasi Digital yang Lebih Sadar Sosial
Jika ada satu hal yang membuat profesor ini optimistis tentang masa depan, itu adalah generasi muda. Mahasiswa saat ini, katanya tumbuh dalam dunia yang sepenuhnya terhubung. Mereka tidak hanya membaca berita tentang krisis iklim atau kemiskinan global; mereka melihatnya secara langsung melalui media sosial.
Akibatnya, kesadaran sosial menjadi bagian dari identitas mereka. “Generasi sebelumnya mungkin melihat isu global sebagai aktivitas sukarela. Mahasiswa sekarang melihatnya sebagai bagian dari siapa mereka,” katanya.
Perubahan ini juga terlihat dalam proyek-proyek mahasiswa. Jika dulu tugas akhir sering berupa aplikasi permainan sederhana, kini banyak mahasiswa memilih membuat teknologi yang berdampak sosial. Ada yang membuat aplikasi pelacak jejak karbon. Ada yang merancang sistem digital untuk bank makanan. Ada pula yang mengembangkan AI untuk mendeteksi penyakit tanaman.
“Minat mereka bukan hanya akademis. Mereka ingin melihat teknologi benar-benar memecahkan masalah,” jelasnya.
Universitas Global: Lebih dari Sekadar Peringkat
Perubahan paradigma ini juga memengaruhi cara kita memandang universitas. Menurutnya, sebuah universitas tidak menjadi global hanya karena memiliki kampus di banyak negara. Universitas disebut global ketika penelitian dan inovasinya memberikan dampak lintas batas. Jika sebuah laboratorium kecil mampu memecahkan krisis air di wilayah lain di dunia, universitas itu sudah bersifat global.
Ia juga percaya bahwa kampus harus menjadi laboratorium hidup (Living Labaoratorium) bagi keberlanjutan. Mahasiswa dapat merancang sistem energi surya untuk gedung perpustakaan atau sistem pengelolaan limbah kampus. Ketika mereka melihat dampak nyata dari proyek mereka, pembelajaran menjadi lebih bermakna daripada sekadar nilai di transkrip.
Tentu saja, dalam dunia akademik modern, reputasi global sering diukur melalui sistem pemeringkatan seperti QS World University Rankings. Ia tidak menolak pentingnya peringkat tersebut. Menurutnya, peringkat dapat berfungsi sebagai sinyal reputasi yang menarik mahasiswa berbakat dan pendanaan riset.
Namun ia mengingatkan bahwa peringkat hanyalah “cermin tingkat tinggi”. “Peringkat bisa mengukur publikasi dan reputasi. Tetapi sulit mengukur jiwa sebuah universitas—seberapa besar dosen peduli pada mahasiswa atau nilai-nilai etika yang diajarkan di kelas,” tegasnya.
Teknologi Menuju 2030
Ketika berbicara tentang masa depan, ia menunjukkan antusiasme yang jelas. Salah satu perkembangan yang paling menarik baginya adalah AI untuk optimalisasi sumber daya. Bayangkan jaringan listrik kota yang dikelola oleh sistem cerdas yang secara otomatis mendistribusikan energi ke tempat yang paling membutuhkan, meminimalkan pemborosan.
Teknologi lain yang menjanjikan adalah jaringan sensor global berbasis satelit yang memantau kondisi bumi secara real-time—mulai dari hutan hingga lautan. Dengan data semacam ini, aktivitas ilegal seperti penebangan hutan atau pemborosan air dapat dideteksi segera.
Namun ia juga mengingatkan tentang dua ancaman besar: meningkatnya limbah elektronik dan potensi bias algoritma. Jika tidak hati-hati, teknologi yang dirancang untuk menyelamatkan planet justru dapat menciptakan masalah baru.
Optimisme yang Keras Kepala
Ketika ditanya apakah dunia masih memiliki peluang mencapai target SDGs pada tahun 2030, ia tidak ragu menjawab. “Saya seorang optimis yang keras kepala,” katanya sambil tertawa.
Data memang menunjukkan bahwa dunia masih tertinggal dari banyak target. Namun sejarah menunjukkan bahwa inovasi manusia berkembang secara eksponensial. Kita sering melebih-lebihkan apa yang dapat dilakukan dalam satu tahun, tetapi meremehkan apa yang dapat dicapai dalam satu dekade.
Sumber optimisme terbesarnya tetap sama: mahasiswa. “Mereka tidak menunggu izin untuk mengubah dunia. Mereka sudah mulai membangun alatnya,” katanya.
Teknologi sebagai Cermin Nilai
Pada akhirnya, ia mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat. Ia bisa memperbesar kesenjangan—atau mengurangi ketidakadilan. Ia bisa merusak lingkungan—atau membantu menyelamatkan planet.
Teknologi adalah cermin dari nilai manusia, jelasnya. Jika masyarakat hanya mengejar keuntungan, teknologi akan mengikuti arah itu. Tetapi jika dunia memilih keberlanjutan dan kesetaraan, teknologi dapat menjadi alat paling kuat yang pernah dimiliki umat manusia.
Dan yang paling menarik: setiap orang memiliki peran. “Kita semua, pada dasarnya, adalah programmer masa depan. Dengan memilih teknologi yang etis dan berkelanjutan, kita ikut menulis kode sumber bagi dunia yang lebih baik.” tegasnya optimis.
(Interview by Egi Abinowi; Written by Lili Irahali)

