Menata Jalan ke Panggung Global: Saat Riset, Kurikulum, dan Lulusan Menjadi Wajah Universitas

0
74 views

Wawancara Rektor Universitas Widyatama

Prof. Dr. Dadang Suganda, M.Hum.

Komunita beberapa kali bersepakat menemui Rektor Universitas Widyatama – Prof. Dr. Dadang Suganda, M.Hum untuk melakukan wawancara. Namun baru kali ketiga kami bisa bertemu. Di tengah kesibukan beliau, Komunita menggali lebih dalam tentang isu Global Academic University yang saat ini terus bergulir.  Dari wawancara ini menegaskan bahwa transformasi menuju Global Academic University bukan hanya soal internasionalisasi simbolik, tetapi tentang konsistensi membangun ekosistem riset, kurikulum adaptif, serta luaran yang berdampak nyata bagi masyarakat. Mari kita simak pandangan beliau.

 

Di tengah perubahan global yang bergerak cepat—dari disrupsi teknologi hingga tekanan ekonomi—perguruan tinggi tidak lagi bisa hanya mengandalkan proses pembelajaran di ruang kelas. Ukuran keberhasilan kini bergeser: bukan sekadar apa yang diajarkan, melainkan apa yang dihasilkan.

Di sinilah konsep Global Academic University menemukan relevansinya, jelasnya. Fokusnya tegas: luaran akademik. Kualitas mahasiswa baru, kurikulum yang adaptif, tingkat serapan lulusan, kemampuan menciptakan lapangan kerja, hingga kesejahteraan alumni menjadi indikator nyata yang tak bisa ditawar. Perguruan tinggi, dalam kerangka ini, tidak lagi cukup menjadi pusat pengetahuan—melainkan harus menjadi mesin penghasil dampak.

Namun, jalan menuju pengakuan global tidak dibangun dari kurikulum semata. Riset menjadi tulang punggung utama. Tanpa riset yang kuat, reputasi global hanya akan menjadi jargon. Di sinilah dua pilar penting bertemu: reputasi akademik dan reputasi riset. Keduanya saling menguatkan, membentuk legitimasi sebuah universitas di mata dunia.

Kurikulum, tentu saja, tetap menjadi fondasi. Tetapi kurikulum yang dimaksud bukanlah kurikulum statis. Ia harus hidup—menyerap isu-isu strategis global, seperti kecerdasan buatan, digitalisasi, hingga agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Dengan demikian, lulusan tidak hanya kompeten secara lokal, tetapi juga memiliki daya saing global.

Di sisi lain, dosen menjadi aktor kunci dalam transformasi ini. Perannya tidak lagi terbatas sebagai pengajar. Dosen dituntut menjadi peneliti aktif, kontributor ilmu pengetahuan, sekaligus agen perubahan. Indikatornya jelas: publikasi di jurnal bereputasi, peningkatan H-Index, jumlah sitasi, hingga lahirnya paten. Semua ini bukan sekadar angka, tetapi representasi dari kontribusi nyata terhadap perkembangan ilmu dan masyarakat.

Untuk itu, ia menegaskan ekosistem riset harus dibangun secara sistematis. Pendanaan penelitian, partisipasi dalam hibah kompetitif, hingga pendampingan melalui klinik jurnal menjadi bagian dari strategi yang tidak terpisahkan. Lebih dari itu, kolaborasi menjadi kunci. Ketika perguruan tinggi mampu bersinergi dengan lembaga riset, industri, hingga mitra internasional, maka batas antara teori dan praktik mulai melebur.

Contoh konkret pun mulai bermunculan. Ia menjelaskan, riset pemanfaatan teknologi AI dalam budidaya ikan lele, misalnya, menunjukkan bagaimana inovasi lokal dapat menembus panggung global. Dipublikasikan di jurnal internasional dan mendapat pengakuan luar negeri. Riset semacam ini menegaskan bahwa globalisasi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar—tetapi dari sesuatu yang relevan.

Namun, membangun universitas berkelas dunia tidak cukup hanya dengan riset dan publikasi. Tata kelola menjadi faktor penentu, tegasnya. Kepemimpinan harus mampu merumuskan arah strategis, sementara implementasi diserahkan pada fakultas dan program studi yang memahami konteks keilmuan masing-masing. Fleksibilitas ini penting agar kebijakan tidak berhenti di atas kertas.

Di dalamnya, peran guru besar menjadi sangat strategis. Mereka bukan hanya simbol akademik, tetapi motor penggerak keilmuan. Dengan membangun kelompok cabang keilmuan (KCK), riset tidak lagi menjadi aktivitas individual, melainkan gerakan kolektif yang terarah. Dari sinilah lahir regenerasi akademisi dan penguatan sub-bidang ilmu yang lebih spesifik.

Meski demikian, tantangan tetap nyata. Beban mengajar yang tinggi kerap menggerus waktu riset, terutama di perguruan tinggi swasta. Di titik ini, kemampuan manajemen waktu dan dukungan institusi menjadi krusial. Tanpa keseimbangan, idealisme akademik bisa terjebak dalam rutinitas administratif.

Pada akhirnya, Prof. Dadang menyebutkan semua upaya ini bermuara pada satu titik: lulusan. Mereka adalah wajah sejati universitas. Karena itu, orientasi pendidikan pun bergeser—dari mencetak pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja. Sertifikasi tambahan, pengalaman praktis, dan semangat kewirausahaan menjadi bekal penting di tengah ketidakpastian ekonomi.

Memang, realitas ekonomi hari ini tidak selalu ideal. Target gaji lulusan di atas rata-rata mungkin belum sepenuhnya tercapai. Namun, menjaga agar lulusan tetap kompetitif dan tidak berada di bawah standar minimum sudah menjadi langkah strategis yang realistis.

Ketika lulusan mampu membuktikan kualitasnya, efek domino pun terjadi. Kepercayaan publik meningkat, minat calon mahasiswa bertambah, dan reputasi institusi menguat. Dalam siklus inilah universitas menemukan perannya yang sesungguhnya—bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi sebagai penggerak perubahan sosial dan ekonomi.

Saatnya Universitas Bukan Sekadar Mengajar

Wawancara di atas menjelaskan bahwa di tengah kompetisi global, perguruan tinggi dituntut melampaui peran tradisionalnya. Tanpa riset, inovasi, dan lulusan yang berdampak, universitas hanya akan menjadi penonton di panggung dunia.

Ada satu kenyataan yang mulai sulit disangkal: banyak perguruan tinggi masih terlalu sibuk mengajar, tetapi belum cukup serius meneliti.

Kondisi ini menjadi paradoks. Kampus berbicara tentang internasionalisasi, tetapi luaran risetnya minim. Kurikulum diperbarui, tetapi tidak selalu relevan dengan dinamika global. Lulusan dihasilkan setiap tahun, tetapi tidak semuanya siap menghadapi realitas dunia kerja—apalagi menciptakan lapangan kerja.

Di titik inilah, transformasi menuju Global Academic University menjadi mendesak, bukan pilihan.

Konsep ini menuntut perubahan mendasar: dari orientasi proses ke orientasi hasil. Perguruan tinggi tidak lagi dinilai dari seberapa banyak kelas yang dibuka, tetapi dari seberapa besar dampak yang dihasilkan. Apakah lulusannya terserap kerja? Apakah mereka mampu berinovasi? Apakah mereka berkontribusi pada ekonomi?

(Interview & Rewrite by Lili Irahali)