SDGs: Ketika Tantangan Global Menjadi Agenda Akademik ?

0
103 views

Pada pagi yang basah di Aceh, ingatan kolektif bangsa ini masih menyimpan luka. Tsunami 2004 bukan sekadar bencana alam; ia adalah pengingat betapa rapuhnya kehidupan ketika alam, tata kelola, dan kesiapsiagaan tidak berjalan beriringan. Bertahun-tahun kemudian, tepatnya  25 – 30 November 2025 banjir bandang melanda Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat yang menelan korban 1.204 orang tewas, 140 hilang, 8.041 luka.  Juga longsor di berbagai wilayah, serta kekeringan di daerah lain kembali menegaskan satu hal: derita masyarakat akibat krisis ekologis bukan cerita sesaat, melainkan pola yang berulang.

            Negara memang hadir—melalui pemba-ngunan infrastruktur, kebijakan mitigasi, hingga berbagai program pemulihan sosial-ekonomi. Namun di lapangan, persoalan yang dihadapi masyarakat jauh lebih kompleks daripada sekadar penanganan darurat pascabencana.

Tata ruang yang rapuh, alih fungsi lahan yang masif, ekspansi industri ekstraktif, perubahan iklim, krisis pangan, ketimpangan sosial, degradasi lingkungan, hingga disrupsi teknologi kini saling bertaut. Semua itu bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan realitas hari ini—sebuah jaringan persoalan yang saling memperkuat dan pada akhirnya memperbesar kerentanan kita terhadap bencana.

Laporan Global Risk Assessment yang dirilis oleh United Nations menunjukkan bahwa risiko global paling tinggi dalam satu dekade ke depan didominasi oleh risiko sistemik: krisis iklim, kegagalan adaptasi lingkungan, tekanan terhadap ketahanan pangan dan air, serta dampak sosial dari ketimpangan ekonomi dan transformasi teknologi. Risiko-risiko ini tidak berdiri sendiri; tetapi lintas sektor, lintas wilayah, dan sering kali melampaui kapasitas satu institusi atau satu disiplin ilmu.

Di titik inilah universitas berhadapan dengan pertanyaan yang semakin mendesak: apa peran ilmu pengetahuan ketika dunia bergerak dalam situasi krisis yang simultan? Apakah kampus cukup berpuas diri dengan publikasi ilmiah yang berjarak dari realitas sosial? Ataukah kampus harus turun lebih dalam, menjadi simpul pemecahan masalah yang relevan dan berdampak?

Jawaban atas pertanyaan tersebut tidak bisa lagi mengandalkan riset individual yang terfragmentasi atau proyek jangka pendek yang berhenti pada laporan akhir. Tantangan global menuntut cara kerja akademik yang baru—terorkestrasi, berkelanjutan, dan lintas disiplin. Ilmu lingkungan harus berdialog dengan ekonomi, teknologi harus bertemu dengan etika sosial, dan kebijakan publik perlu ditopang oleh riset berbasis data serta kearifan lokal.

Di sinilah Center of Excellence (CoE) SDGs menemukan relevansinya yang paling substantif. CoE bukan sekadar kebijakan danunit struktural di dalam universitas, melainkan ruang temu gagasan, kepakaran, dan aksi nyata. Ia berfungsi sebagai penghubung antara riset, kebijakan, dan kebutuhan masyarakat; antara laboratorium akademik dan persoalan riil di lapangan. Melalui pendekatan yang terfokus pada Sustainable Development Goals, CoE SDGs memungkinkan universitas berkontribusi secara konsisten dan terukur terhadap agenda pembangunan berkelanjutan—baik di tingkat lokal, nasional, maupun global.

Dalam dunia yang semakin tidak pasti, universitas tidak lagi cukup menjadi menara gading pengetahuan. Ia dituntut menjadi jangkar moral, pusat inovasi, dan mitra strategis bagi masyarakat dan negara.

Mengapa SDGs Menjadi Kerangka CoE?

CoE SDGs, jika dikelola dengan visi dan keberlanjutan, merupakan salah satu jawaban paling masuk akal atas tantangan zaman ini. Sustainable Development Goals (SDGs) terdiri dari 17 tujuan dan 169 target yang mencerminkan tantangan terbesar umat manusia. Namun, kekuatan SDGs bukan pada jumlah targetnya, melainkan pada kerangka berpikir sistemik yang ditawarkannya.

United Nations Sustainable Development Solutions Network/UN SDSN (2022) mencatat bahwa: lebih dari 85% target SDGs saling terkait; dan tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin ilmu saja. Bagi universitas, SDGs menyediakan: bahasa global yang dipahami lintas negara; kerangka legitimasi akademik dan kebijakan; serta titik temu antara riset, pendidikan, dan pengabdian.

Dengan menjadikan SDGs sebagai basis CoE, universitas menempatkan diri sebagai aktor global yang bertanggung jawab, bukan sekadar pengamat. Hal ini mengingat fungsi Strategis CoE SDGs dalam Universitas Global, sebagai:

  1. Orkestrator Riset Lintas Disiplin

Salah satu tantangan terbesar riset universitas adalah fragmentasi. Dosen dan peneliti bekerja dalam “ruang disiplin” masing-masing, dengan sedikit interaksi strategis. CoE SDGs hadir untuk: mengidentifikasi grand challenges, menyusun thematic research clusters, dan mengorkestrasi kolaborasi lintas fakultas.

Pendekatan ini sejalan dengan temuan Nature Sustainability (2021) yang menyebut bahwa riset lintas disiplin memiliki peluang dampak kebijakan dan sosial dua kali lebih besar dibanding riset monodisiplin.

  1. Jembatan antara Akademia dan Kebijakan Publik

Banyak hasil riset berhenti di jurnal ilmiah. CoE SDGs bertugas menerjemahkan pengetahuan akademik menjadi: policy brief, rekomendasi kebijakan, dan naskah akademik berbasis bukti.

Di tingkat global, universitas-universitas anggota SDSN berperan aktif sebagai policy advisors bagi pemerintah nasional dan lokal. Model ini sangat relevan bagi Indonesia, di mana kualitas kebijakan publik sangat membutuhkan dukungan berbasis riset.

  1. Penggerak Kurikulum Berbasis Tantangan Nyata

CoE SDGs tidak boleh terpisah dari proses pembelajaran. Justru sebaliknya, ia harus menjadi sumber kasus nyata (real-world cases) bagi kurikulum. Melalui CoE: mahasiswa terlibat dalam riset SDGs, dosen mengintegrasikan temuan riset ke dalam perkuliahan, dan pembelajaran menjadi kontekstual serta bermakna.

UNESCO (2020) menunjukkan bahwa mahasiswa yang terlibat dalam challenge-based learning memiliki tingkat engagement dan problem-solving skills yang lebih tinggi.

  1. Simpul Kolaborasi Global dan Lokal

Global Academic University tidak mungkin berdiri sendiri. CoE SDGs menjadi pintu masuk kolaborasi: dengan universitas luar negeri, lembaga internasional, industri berorientasi keberlanjutan, serta komunitas lokal.

Kolaborasi global memberikan perspektif dan standar, sementara kolaborasi lokal memberikan konteks dan relevansi. Inilah keseimbangan antara global outlook dan local impact.

CoE SDGs, Tantangan Implementasi di Indonesia dan Warisan Institusional

Meskipun konsepnya kuat, implementasi CoE SDGs di Indonesia menghadapi tantangan nyata: keterbatasan pendanaan jangka panjang; budaya riset yang masih individual; lemahnya integrasi lintas unit; serta kecenderungan menjadikan CoE sebagai “proyek struktural”.

Namun, Indonesia juga memiliki peluang besar: agenda nasional yang sejalan dengan SDGs; kebutuhan kebijakan berbasis bukti; serta dukungan mitra industri dan internasional yang semakin terbuka.

Kunci keberhasilan CoE SDGs bukan pada kemewahan fasilitas, melainkan pada kejelasan mandat, konsistensi tata kelola, dan kepemimpinan akademik yang kuat.

Dalam Sustainable Development Report 2022, Indonesia dinilai menunjukkan kemajuan pada beberapa indikator pembangunan, terutama terkait pengurangan kemiskinan, peningkatan akses pendidikan, serta pembangunan infrastruktur dasar. Namun laporan tersebut juga menegaskan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan serius pada sejumlah tujuan SDGs, khususnya yang berkaitan dengan lingkungan hidup dan keberlanjutan sumber daya alam.

 

Secara konseptual, CoE SDGs adalah jantung akademik universitas global— sebuah simpul strategis yang mengintegrasikan: riset unggulan, pengembangan kurikulum, kolaborasi global, serta kontribusi kebijakan dan masyarakat.

Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD (2019) menyebut CoE sebagai knowledge hub, bukan hanya penghasil pengetahuan, tetapi penggerak ekosistem inovasi dan dampak. Salah satu nilai penting CoE SDGs adalah kemampuannya menjadi warisan institusional. Ia tidak bergantung pada satu rektor, satu hibah, atau satu proyek.

Dengan sistem yang matang, CoE SDGs: menjaga konsistensi arah riset, membangun reputasi jangka panjang, dan memastikan universitas tetap relevan lintas generasi.

Namun demikian dalam praktik di banyak perguruan tinggi, CoE sering kali baru dipahami sebagai: pusat studi tematik, unit tambahan di bawah LPPM, atau wadah administratif untuk mengelola proposal riset. Pendekatan ini membuat CoE kehilangan daya transformasinya.

Tanpa tata kelola yang jelas, CoE berisiko menjadi simbol tanpa substansi. Karena itu Tata Kelola CoE SDGs harus berubah dari hanya pendekatan struktur ke fungsi. CoE SDGs yang efektif memiliki karakter tata kelola sebagai berikut:

  • mandat strategis langsung dari pimpinan universitas,
  • kepemimpinan akademik yang kredibel,
  • sistem insentif riset lintas disiplin, serta
  • indikator kinerja berbasis outcome dan impact.

Dari Keunggulan Akademik ke Keunggulan Bermakna

Universitas global masa depan bukan hanya yang unggul secara akademik, tetapi yang unggul secara bermakna. CoE SDGs adalah wujud konkret dari pergeseran tersebut—dari universitas yang menanyakan “apa yang bisa kami teliti?” menjadi universitas yang bertanya “masalah apa yang perlu kami bantu selesaikan?”

Di tengah dunia yang rapuh dan saling terhubung, Center of Excellence SDGs menempatkan universitas di jantung solusi global, bukan di pinggiran perubahan. (Written by lili Irahali)

 

Rujukan:

United Nations (2015). Transforming our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development; OECD (2019). University-Industry Collaboration and Sustainable Innovation; World Economic Forum (2018-2019). Global Future Councils on Entrepreneurship & Sustainability; Etzkowitz, H.(2008) The Triple Helix: University–Industry–Government Relations; UNESCO (2021). Reimagining our Futures Together: A New Social Contract for Education; Sachs, J., Kroll, C., Lafortune, G., Fuller, G., & Woelm, F. (2022). Sustainable Development Report 2022. New York: United Nations Sustainable Development Solutions Network.