Menjawab Tantangan Kompetensi SDM, Profil lulusan PT, & Pengangguran Terdidik

Menjawab Tantangan Kompetensi SDM, Profil lulusan PT, & Pengangguran Terdidik

Perspektif Stakeholder

1) Wawancara Prof Dwi Suhartanto, MCM., Ph.D Guru Besar – Politeknik Negeri Bandung (Polban)

Tidak dipungkiri terdapat jarak antara dunia pendidikan tinggi dengan dunia usaha dan industri/DUDI. Karena itu, diperlukan pendekatan lebih jauh antara dunia pendidikan tinggi dengan dunia usaha dan industri. Pendekatan ini mendesak untuk dilakukan guna mengoptimalkan usaha mengurangi angka pengangguran lulusan PT yang semakin nyata. Beberapa dialog sudah dimulai namun membutuhkan implementasi nyata yang bisa dirasakan semua pihak. Untuk itu majalah Komunita mencoba menggali PERSPEKTIF dari para pemangku kepentingan yang terlibat dalam profil lulusan PT, relevansi dan kompetensi SDM. Berikut empat wawancara narasumber dalam perspektif mereka tersebut.

“DUDI harus berkontribusi dan Berkolaborasi dengan PT”

Komunita : Bagaimana memaknai profil lulusan dan relevansinya bagi PT dalam mempersiapkan SDM berkompeten?

Prof. Dwi S : Institusi pendidikan tinggi harus mendukung program penyiapan kualitas SDM yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dunia bisnis maupun industri. Dalam kesiapannya harus diproyeksikan sesuai kebutuhan dan kualifikasi, serta jumlah posisi pekerjaan pada dunia industri. Kenyataan berdasarkan data yang saya amati, di Indonesia begitu banyak pengangguran akibat dari peningkatan jumlah lulusan perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan permintaan pasar. Ketidaksesuaian ini bisa saja terjadi karena tingginva volume lulusan yang membludak ataupun kompetensi yang tcrlalu rendah. Jika dilihat dari angka persentase pengangguran, berdasarkan data terbaru – telah menyentuh angka peningkatan setiap tahunnya sebesar 11% dari level 6% pada jumlah lulusan perguruan tinggi. Data tersebut mengindikasikan bahwa profil lulusan tidak sesuai dengan kebutuhan pasar yang ada.

Namun, hal ini bukan hanya dari sisi perguruan tinggi yang salah, akan tetapi tingkat kebutuhan atas kualifikasi pendidikan yang begitu rendah, seperti jenjang SMK. Karena adanya ketidakrelevan antara dunia pendidikan dengan kebutuhan industri dalam masyarakat. Hal ini yang telah menjadi pemicu dalam permasalahan tingkat nasional. Mayoritas jumlah pekerja lulusan di Indonesia dari tiap jenjang yakni sebesar 41% (lulusan SD hingga menengah ke atas), sementara dari jenjang perguruan tinggi sebesar 10%. Penyebab terjadinya jumlah lulusan yang menganggur akibat dari kurangnya ketidaksesuaian tenaga terampil dengan kebutuhan pada pasar tenaga kerja, ditambah lagi dengan ketidaksesuaian harapan dengan penghasilan serta ketersediaan lapangan pekeijaan yang terbatas.

Jika dilihat dari segi filosofi Undang-undang perguruan tinggi, maka setiap perguruan tinggi wajib mempersiapkan lulusan sesuai dengan kebutuhan industri pasar tenaga kerja. Namun, yang terjadi bukan hanya karena pennasalahan di lingkungan perguruan tinggi, namun dari sisi permasalahan tingkat pertumbuhan pada bidang industri pun tergolong masih rendah sekitar 5%. Sehingga, hal inilah yang menjadi perhatian penting bagi setiap perguruan tinggi dalam membenahi permasalahan tersebut.

Komunita : Bagaimana tentang kurikulum pendidikan tinggi yang dipandang kurang relevan dengan kebutuhan dunia industril usaha ?

Prof. Dwi S.: Kurikulum adalah sebuah software aplikasi dalam mencapai tujuan pembelajaran. Di Indonesia, kurikulum yang sudah baik, begitupun dengan software-nya, hanya saja dalam pelaksanaannya kurang optimal dan sedikit mencapai sasarannya sehingga menimbulkan efek pemyataan akibat ketidaksesuaian dengan pola pada masing-masing perguruan tinggi. Pada tahapan implementasi di lapangan menjadi tidak sesuai, sehingga mengakibatkan terjadinya ketidakrelevanan isi kurikulum dengan dunia industri/usaha. Hal ini menjadi tugas penting secara bersamaan dalam membenahinya agar kurikulum yang ditetapkan sesuai dengan kebutuhan dunia industri/usaha. Bagi para pengajar (dosen) diharapkan dapat melakukan penyesuaian kurikulum bahan ajar dengan perkembangan zaman saat ini scrta tidak bisa menggunakan metode lama dalam mengajar.

Komunita : Hal apa lagi yang mengindikasikan adanya ketidakrelevanan kebutuhan salu sama lain antara dunia pendidikan dengan dunia industri usaha?

Prof. Dwi S.: Seperti telah saya sampaikan sebelumnya, hal ini tidak bisa dipisahkan dari keberadaaan sumber data yang tertulis, yakni adanya ketidaksesuaian antara jumlah lulusan dengan kebutuhan lowongan pekerjaan yang tersedia. Sehingga menimbulkan ketidaksesuaian kompetensi yang dimiliki para lulusan dengan tingkat kualifikasi bagi kebutuhkan dunia industri/usaha. Hal tersebut yang menjadikan adanya ketidakrelevanan kurikulum antara perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia industri/usaha. Namun, terdapat pula sisi permasalahan dalam dunia industrinya sendiri yang tidak bersifat terbuka dalam memenuhi kebutuhan tenaga pekerjanya. Ketika calon lulusan mengadakan program magang terlebih dahulu, pihak industri hanya mempermainkan dengan anggapan bahwa adanya program ini hanya bersifat bantuan sementara secara gratis. Padahal, tujuannya adalah untuk memberikan pelajaran dan pengalaman bagi para calon lulusan yang sedang melakukan magang. Jadi intinya, dunia industri harus menyadari bahwa dunia industri tetap harus berkontribusi & berkolaborasi dengan dunia pendidikan. Sehingga ketika pihak industri berkontribusi bagi dunia pendidikan, akan melahirkan generasi lulusan yang berkompeten dan mumpuni pada bidangnya tersendiri bagi kemajuan industri tersebut.

Komunita : Faktor lain yang menjadi penyebab kesenjangan antara jumlah pencari kerja (lulusan) dengan kebutuhan lapangan kerja (lowongan kerja)?

Prof. Dwi S.: Terjadinya kesenjangan disebabkan oleh ketidak-sinkronan dalam mengimplementasikan proposal “Feasibility study” suatu perguruan tinggi ketika membuka program studi. Maksudnya yakni ketika akan membuka program studi, setiap perguruan tinggi diharapkan dapat mengetahui adanya pangsa pasar serta kebutuhan tenaga kerja sehingga memiliki prediksi jumlah lulusan yang dihasilkan dengan kebutuhan pasamya. Kenyataan menimbulkan efek ‘over supplyi bagi kebanyakan lulusan perguruan tinggi. Faktor lain yang juga menjadi penyebab kesenjangan yakni melambatnya tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditunjukkan oleh rendahnya produktivitas pada sektor dunia industri/usaha.

Komunita : Upaya yang bisa dilakukan menghadapi berbagai permasalahan ketidak-relevanan antara kurikulum yang ada pada dunia pendidikan dengan kualifikasi permintaan dari dunia industri/usaha ?

Prof. Dwi S.: Seharusnya sebagian dari tenaga pengajar/dosen merupakan orang-orang praktisi yang pernah bergelut pada bidang industri/usaha, sehingga dapat memberikan pemahaman kepada para mahasiswa mengenai sepak terjang dan implementasi keilmuan pada saat memasuki dunia industri/usaha. Contoh, negara yang telah menerapkan kasus implementasi ini yaitu Singapura. Sebagian besar tenaga pengajamya merupakan mantan petinggi dari tenaga ahli pada bidang tertentu sesuai dengan keilmuannya masing-masing, seperti: pemimpin pada suatu bank yang kemudian melanjutkan pengabdiannya menjadi tenaga pengajar. Jadi, alangkah lebih baiknya perguruan tinggi, khususnya di Indonesia memiliki sifat terbuka (Open Source of Knowlegde). Kemudian dalam rangka proses pengembangan sumber daya manusia, pemerintah diharapkan tetap memberikan program beasiswa, pertukaran tingkat mahasiswa dan pelajar serta open access terhadap tenaga pengajar yang berasal dari luar negeri. Hal ini tentu akan memberikan dampak positif bagi pengembangan institusi dalam negeri agar mampu bersaing di kancah intemasional.

Komunita : Saran bapak dalam rangka menyelaraskan potensi dan kualitas lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan tenaga terampil (SDA) guna mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia ?

Prof. Dwi S.: Perguruan tinggi sudah seharusnya senantiasa terbuka (Open Access/Source) dan jangan menutup diri. Pola pikir (mindset) harus dirubah secara berkesinambungan, apalagi di era teknologi informasi yang serba terbuka; menjadikan tidak adanya perbedaan antara mahasiswa dalam negeri (Indonesia) dengan mahasiswa luar negeri – karena segala sesuatu dapat diakses serta berkesempatan memperoleh informasi yang sama. Pada sisi lain yang membedakannya yakni bagaimana cara kita bersikap menghadapi hal tersebut. Ketika suatu perguruan tinggi mulai membuka diri dan merubah pola pikir ke arah lebih baik, maka perguruan tinggi tersebut akan mampu bersaing dengan perguruan tinggi lain yang berstandar nasional maupun internasional. Namun sebaliknya, jika perguruan tinggi tetap bersikap dengan menutup diri serta tidak melakukan perubahan dalam proses pembelajarannya tentu diprediksi tidak akan mengalami kemajuan yang signifikan. Solusi penting dalam rangka meningkatkan kualitas SDM dan mutu lulusan pada jenjang perguruan tinggi yakni berfikir terbuka (Open of Knowledge) dengan tetap mengedepankan sikap etis, elegan & berwibawa. (Written by Abdul Rozak)

2) Wawancara DR. Ruddy J. Suhatril, S.Kom., MSc. Head of Gunadarma University Computing Center, juga Tim Pusat Karir & Tracer Study Ditjen Belmawa

“PT harus bisa melihat kondisi pasar yang serba dinamis” Komunita mempersiapkan begitu lama untuk menemui Dr. Ruddy J. Suhatril, S.Kom., M.Sc. untuk konfirmasi wawancara terkait kesenjangan antara profil lulusan PT dengan kebutuhan Dunia Usaha dan Industri. Berikut petikan wawancara.

Komunita : PT memiliki peran penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia berkompeten bagi kemajuan pendidikan tinggi di Indonesia. Bagaimana memaknai hal ini dikaitkan dengan profil dan relevansi lulusan pendidikan tinggi ?

Dr. Ruddv : Perguruan tinszgi tidak hanva sekadar menerima mahasiswa saja tetapi juga dengan mempersiapkan ke jenjang selanjutnya. seperti melanjutkan pendidikan, bekeda ataupun berwirausaha. Profil lulusan yang merupakan turunan dari visi & misi perguruan tinggi, fakultas & prodi dalam membentuk pencapaian belajar, harus dicapai oleh seorang lulusan di tingkat pendidikan tinggi. Adanya capaian pembelajaran tersebut, tentu diharapkan setiap mahasiswa memiliki hard skills yang sesuai dengan keahliannya. Sedangkan pada bidang soft skills, senantiasa memiliki kemampuan komunikasi, kemampuan leadership, kemampuan berbahasa asing dan berorganisasi. Diantara kompetensi tersebut, kesenjangan (gap) seperti halnya komunikasi dan berorganisasi yang dibutuhkan di lokasi pekerjaan belum tentu sesuai dengan pencapaian di perguruan tinggi. Maka, dengan adanya gap tersebut harus dibenahi oleh perguruan tinggi untuk mempersiapkan lulusan agar profilnya sesuai dengan kebutuhan akan visi & misi perguruan tinggi. Lalu, penilaian akhir berupa Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) saat ini tidak bisa dijadikan sebagai alat untuk mengukur mutu seorang alumni perguruan tinggi. Oleh karenanya, untuk mengukur outcome terhadap mutu alumni dari jenjang perguruan tinggi adalah dengan melihat seberapa besar jumlah lulusannya dapat terserap di dunia kerja dengan rentang durasi yang tepat.

Komunita : Kemenristekdikti mencanangkan 7 program unggulan baru dalam rangka peningkatan relevansi pendidikan tinggi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Bagaimana menurut pandangan bapak terhadap program unggulan tersebut ?

Dr. Ruddy : Menurut saya, adanya program unggulan tersebut sangat baik. Namun perlu diantisipasi bahwa kebutuhan industri lebih cepat perkembangannya dibandingkan dengan proses peruhahan kurikulum yang ada di perguruan tinggi sehingga menjadi tertinggal. Perguruan tinggi harus bisa melihat kondisi pasar yang serba dinamis agar terus meningkatkan skills dosen guna mengikuti perkembangan jaman selain mengembangkan kurikulum yang menjadi tolak ukur saat ini. Kebanyakan keluhan dari perusahaan menyatakan bahwa lulusan perguruan tinggi di Indonesia tidak siap untuk bekerja. Sehingga, banyak perusahaan yang melakukan training kembali sesuai dengan posisi pekerjaannya. Contoh: industri perbankan dan lainnya yang hingga saat ini sudah tidak melihat disiplin ilmu tertentu saja. Hal ini dikarenakan perusahaan sudah tidak melihat sudut pandang hand-skill dari lulusan, tetapi soji-skill lebih diutamakan. Untuk jenjang pendidikan vokasi dan non-vokasi memang terdapat perbedaan, diantaranya yaitu jika pendidikan non-vokasi lebih kepada ilmu dan pengembangannya; sementara pendidikan vokasi lebih kepada penguasaan keahlian sehingga pendidikan vokasi menitikberatkan untuk lebih siap bekerja dibandingkan pendidikan non-vokasi.

Komunita : Bagaimana pendapat bapak mencermati kurikulum pendidikan tinggi yang standar kebijakan Kemenristekdikti, sebagai materi bahan ajar yang disampaikan oleh tenaga pengajar (dosen) dirasa kurang relevan dengan kebutuhan dunia industri/usaha ?

Dr. Ruddy : Sebenamya menutut saya lembaga Kemenristekdikti sudah mengatur capaian pembelajaran nasional, dimana semua program studi diharuskan sesuai standar yang sama untuk hasil pencapaian secara umum. Semua perguruan tinggi harus menyesuaikan dengan pencapaian belajar nasional yang telah ditetapkan Kemenristekdikti. Namun, permasalahan yang sering ditemui yakni ketidak-sinkronan kurikulum yang sudah dibuat dengan pencapaian belajar secara nasional. Untuk itu diharapkan pencapaian belajarnya dapat sesuai dengan tujuan pembelajaran secara nasional. Hal ini seharusnya menjadi panduan untuk semua prodi, yang kemudian dapat pula ditambahkan dengan muatan-muatan khusus didalamnya, yang dapat memenuhi kebutuhan.

Komunita : Mohon dijelaskan secara mendasar perihal hubungan antara dunia pendidikan dengan dunia industri dari sisi Potensi lulusan PT, Kuantitas Iulusan PT, dan Ketersediaan lowongan pekerjaan ?

Dr. Ruddy : Pada saat membahas supply dan demand khususnya demand yang di butuhkan oleh perusahaan,sebenarnya banyak perusahaan yang belum menemukan pekerja sesuai kriterianya. Misalnya, untuk salah satu posisi pekerjaan yang belum diisi disebabkan pelamar pekerjaan tidak lolos seleksi. Artinya, ketika membahassupply dan demand bukan hanya berkaitan dengan kuantitas saja, tetapi juga kualitas. Kemudian di instansi Kemenristekdikti telah ada Sistem Informasi Pendidikan dan Dunia Kerja (SINDIKKER). Sindikker yaitu sistem informasi dunia kerja untuk memberikan lowongan kepada para lulusan, khususnya perguruan tinggi sehingga mampu mengurangi jumlah pengangguran terdidik. Banyak cara untuk mengimbangi perubahan yang serba cepat dari industri, selain kurikulum yang sudah diimplementasikan dengan ditambah oleh Sertifikasi Intemasional dari industri. Jadi, hal tersebut dapat dilakukan sebagai suatu strategi PT untuk menyelaraskan dengan kebutuhan dunia kerja. Kemudian, untuk mengatasi problem pengangguran terdidik, pemerintah tidak hanya menyiapkan lulusan untuk bekerja namun juga untuk berwirausaha. Telah banyak bantuan yang diberikan oleh pemerintah, seperti halnya bantuan materi & non-materi dalam memulai usaha (start up business).

Komunita : Indikasi Iain terkait adanya ketidakrelevanan kebutuhan antara dunia pendidikan dengan dunia industri usaha ?

Dr. Ruddy : Ketidak-relevan antara dunia pendidikan tinggi dan dunia industri dikarenakan faktor hard-skill dan sofi-skill yang memang belum diimplementasikan secara berkesinambungan. Contoh, kemarin kami melakukan FGD (forum group discussion) dengan salah satu perusahaan unIuk mengetahui kebutuhan industri dengan pusat karir. Ternyata sangat beragam, perusahaan yang ingin mengetahui informasi mengenai pegawai tidak memiliki cukup infonnasi tersebut. Namun, ada yang cukup mengejutkan pula, karena salah satu parameter diterima bekerja pada suatu perusahaan yakni dengan menjadi fo!lowers di akun media sosial instagram. Jadi, PT bukan hanya lagi berbicara tentang pendidikan tetapi juga behavior di social media yang menjadi point soft-skillsnya. Ketika dahulu, orang-orang kebanyakan bersifat generalized dalam bidang tertentu – nah, untuk saat ini cenderung lebih bersifat specialized. Hal ini dikarenakan industri saat ini mulai membutuhkan seorang yang spesialis pada bidangnya.

Komunita : Penyebab lain kesenjangan antara jumlah pencari kerja (lulusan) dengan kebutuhan lapangan kerja (lowongan kerja) ?

Dr. Ruddy : Seperti yang sudah dijelaskan, diantaranya terdapat faktor kurikulum, seperti: hard-skill dan soft-skill yang tidak mendukung ataupun tidak relevan dengan dunia industri. Kemudian melalui wadah FGD (forum group discussion) yang telah dilaksanakan. banyak informasi yang bisa dijadikan bahan pembclajaran agar dapat diimplementasikan. Rata-rata perusahaan atau industri menyatakan keIuhannya (complain) kepada lulusan perguruan tinggi dikarenakan hanyak IuIusan yang kurang dari segi pengorbanannya (struggle). Artinya softskift lulusan perguruan tinggi memang perlu dibenahi.

Komunita : Bagaimana upaya menghadapi berbagai permasalahan ketidakrelevanan antara kurikulum pada dunia pendidikan dengan kualifikasi permintaan dari dunia industri usaha ?

Dr. Ruddy : Salah salu solusinya yaitu aktif berdiskusi dengan Industri, dengan cara mengetahui inforrnasi. keluhan dan kebutuhan akan dunia industri Sehingga. program studi di perguruan tinggi bisa melakukan perecepatan guna menyesuaikan dengan kebutuhan industri. Sehingga, sisi soft-skiil memang sangat diperlukan bagi lulusan perguruan tinggi dapat ditingkatkan agar dapat diterima pada dunia industri dan mampu bersaing.

Komunita : Saran bapak untuk pengambil kebijakan di Kemenristekdikti dalam rangka menyelaraskan potensi dan kualitas lulusan PT dengan kebutuhan tenaga terampil (SDM) guna mendukung pertumbuhan ekonomi indonesia?

Dr. Ruddy : Menurut saya, kita harus lebih dinamis dalam menghadapi perkembangan jaman yang serba cepat ini.ditambah dengan adanya regulasi yang mampu menyesuikan dengan keadaan. Terkadang segala aturan/regulasi dapat menjadi halangan seseorang untuk bertindak sehingga bisa saja menjadi tidak fleksibel. Oleh karenanya, perlu unsur kreatifitas yang juga dapat diimplementasikan pada dunia pendidikan. Pemerintah harus menciptakan ruang kreatifitas bagi mahasiswa di kampus agar dapat menyesuaikan perkembangannya dengan keadaan saat ini. Kemudian dunia industri pun juga harus bertanggung jawab dalam memberikan dukungan dan kebutuhannya kepada dunia pendidikan. Segala informasi tentang kebutuhan tenaga kerja dan teknologi dapat diselaraskan dengan kebutuhan pada dunia industri, sehingga nantinya memiliki kesamaan yang sesuai standar antara dunia pendidikan dan industri. written by Riyan Mardian & editted by Abdul Rozak

3) Wawancara Hendry Bunardi – Kepala Regional Bandung Bank Sampoerna

“Benahi PT di segi praktek magang bersertifikat sebuah solusi”

Komunita : Bagaimana pandangan bapak selaku pengguna dalam memaknai ‘mutu lulusan PT kaitannya dengan persyaratan (requirements) pada dunia industri/usaha?

Hendry – Bank Sampoerna : Menurut saya, PT terlalu banyak memberikan teori, sedangkan dunia usaha membutuhkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Oleh karenanya, untuk membenahi kelemahan PT dari segi prakteknya, maka dibutuhkanlah metode magang pada beberapa instansi/lembaga. Untuk proses magang itu sendiri, telah difasilitasi lembaga Perbanas yang bekerjasama dengan beberapa perguruan tinegi – ditandai oleh adanya kesepakatan (MoU) sehingga mahasiswa khususnya jurusan perbankan bisa magang pada lembaga perbankan dengan harapan setelah magang mampu mengetahui dan memahami segala proses pekerjaannya. Dari program magang tersebut diberikan sertifikat yang berfungsi sebagai acuan dan bukti pada saat nanti melakukan proses lamaran pekerjaan.

Komunita : Target, arah dan sepak terjang apa yang akan dicapai oleh dunia industri/usaha dalam membina & melatih SDM agar dapat menyelaraskan kompetensi lulusan dengan lingkungan kerja pada masing-masing bidangnya ?

Hendry – Bank Sampoerna : Untuk dunia perbankan dalam rangka menyelaraskan kebutuhan sesuai dengan kompetensinya, maka dilakukan program On Job Training untuk me-refresh & memunculkan bakat, serta kemampuan dan keterampilannya. Bagian sumber daya setiap bank memiliki target yang dicapai didalam melakukan training ini dengan anggaran yang telah dibuat. Bidang training-nya sendiri dapat berupa konsep dan kemampuan marketing, skills, dan lainnya guna meningkatkan kompetensi. Jaman dulu lulusan S1 saja sudah cukup dan mampu melakukan berbagai hal dengan terampil, namun saat ini terutama untuk peningkatan karir jabatan pada level-level tertentu, khususnya di BUMN seperti jenjang kanwil atau pimpinan divisi, minimal harus menempuh program S2 keatas. Bahkan sekarang untuk meraih level sebagai pimpinan divisi harus yang telah mencapai gelar doktor (S3).

Komunita : Mohon dijelaskan perihal hubungan antara dunia pendidikan dengan dunia industri dan usaha dari sisi : Potensi lulusan perguruan tinggi, Kuantitas lulusan PT, dan Ketersediaan lowongan pekerjaan?

Hendry – Bank Sampoerna : Menurut pandangan saya, ini merupakan suatu kompetisi. Modal utama yang pertama bagi seorang lulusan perguruan tinggi yaitu menjadi lulusan terbaik pada jenjangnya. Kedua, memiliki pengalaman dalam program magang sebagai nilai tambah (value added) dalam melengkapi portofolionya. Apabila seorang lulusan perguruan tinggi tidak mempunyai pengalaman, maka akan sulit untuk berkompetisi dalam memperoleh suatu pekerjaan. Ketiga, berorganisasi di lingkungan kampus pun juga diperlukan. Hal ini dikarenakan akan membantu dalam berbagai penyelesaian masalah yang terjadi di masyarakat dan membantu untuk pengembangan diri. Keempat, membuka hubungan (relationship) bisnis yang positif untuk saling menguntungkan dan menghasilkan manfaatnya.

Berkenaan dengan jumlah lowongan pekerjaan di era digitalisasi ini, maka tentunya diperlukan sejumlah kuantitas SDM yang berkualitas. Karena saat ini, segala metode pengoperasianlimplementasi dalam suatu perusahaan menggunakan versi digital dan online. Contoh: berbelanja saat ini serba online, kemudian sistem pembayaran jalan tol sudah menggunakan e-toll. Sehingga, jika kita tidak mampu melihat peluang suatu usaha dan memanfaatkannya secara maks imal maka akan tertinggal. Oleh karenanya lulusan suatu perguruan tinggi dituntut agar lebih kreatif serta disiapkan untuk menjadi seorang entrepreneur. Sebagai contoh, salah satu cara yang telah dilakukan oleh kami (pihak perbankan), yakni mempersiapkan program desa wisata bagi para pensiunan suatu instansi negeri maupun swasta (perusahaan) agar kembali ke masyarakat. Seseorang yang biasa rutinitas bekerja seharian di kantor, sekarang dilatih bercocok tanam dan kembali ke masyarakat. Sementara para mahasiswa/i yang sedang menunggu waktu dalam menyelesaikan studinya pun dilibatkan untuk mengikuti pelatihan di desa wisata sebab potensi peternakan dan pertanian di Indonesia ini masih terbuka lebar. Contoh: saya memilih metode budidaya ikan lele di desa wisata kabupaten Bandung dikarenakan memang potensinya masih cukup besar dan kebutuhan akan ikan lele juga begitu banyak.

Komunita : Kalau begitu, sebagian besar kurikulum pendidikan tinggi dirasa kurang relevan dengan kebutuhan (requirements) dunia industri dan usaha. Bagaimana pandangan bapak ?

Hendry – Bank Sampoerna : Sebenamya bukan tidak relevan, namun ada beberapa hal yang tidak diajarkan dalam hal prakteknya secara teoretis, misalnya tentang verifikasi karakter seseorang. Melihat karakter seseorang sebenamya pemahaman secara teori sudah baik, tetapi masih diperlukan berbagai pengalaman di bidangnya. Sehingga, suatu bentuk kompetisi dan pengalaman merupakan suatu hal yang sangat penting bagi lulusan perguruan tinggi. Sebab untuk memahami teori bahasan yang diajarkan dibangku perguruan tinggi dapat dipelajari, akan tetapi untuk suatu hubungan (relationship) yang bersifat bisnis dan saling menguntungkan hanya bisa diperoleh dari pengalaman.

Komunita : Bagaimana dengan penyebab kesenjangan antara jumlah pencari kerja (lulusan PT) dengan kebutuhan lapangan kerja (lowongan kerja)?

Hendry – Bank Sampoerna : Penyebab terjadinya kesenjangan antara jumlah lulusan suatu perguruan tinggi dengan kebutuhan lapangan pekerjaan dikarenakan kebanyakan mereka ingin bekerja di kantor dengan suasana nyaman serta memperoleh pendapatan yang bersifat rutin, tanpa melihat peluang atau potensi yang ada disekitar untuk menjadi seorang pengusaha (entrepreneur). Apabila kita berusaha kembali ke alam dengan beragam kegiatan yang bermanfaat, pasti akan menghasilkan pendapatan yang jauh lebih besar dibandingkan bekerja dikantor. Oleh karenanya, dengan usaha yang bersifat mandiri serta dirintis secara efektif dan efisien akan menghasilkan keuntungan lebih besar dibandingkan terus berkutat di atas meja kantor. Apalagi, pada era digital sekarang ini yang serba dimudahkan untuk melakukan kegiatan pemasaran produk secara luas.

Komunita : Saran bapak selaku pimpinan manajemen dunia usaha kepada pemerintah serta pengelola PT dalam rangka meminimalisir kesenjangan (gap) lulusan PT dengan kebutuhan tenaga terampil yang siap pakai guna menurunkan angka pengangguran dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi ?

Hendry – Bank Sampoerna : Solusinya yaitu dengan memberikan pendampingan yang berkelanjutan hingga proses monitoring ke berbagai perusahaan tempat bekerja maupun bagi yang memilih untuk berwirausaha, bukan hanya pada saat perkuliahan saja. Para lulusan atau alumni perguruan tinggi kebanyakan hanya mengetahui kesuksesan suatu bisnis tanpa mengetahui proses panjangnya yang begitu berharga. Selama tidak ada pendatnpingan yang baik maka hasilnya pun tidak akan maksimal utnuk tnencapai target yang diinginkan. Sementara, peran pemerintah sangat diperlukan dalam mempermudah akses birokrasi dan kebijakan yang mendukung ke arah pengembangan potensi & bakat bagi masyarakat, khususnya para alumni perguruan tinggi. Untuk PT-nya agar senantiasa menggiatkan mahasiswanya untuk aktif pada berbagai organisasi kampus sehingga memiliki pengalaman & kepemimpinan ,ketika nantinya terjun ke tengah masyarakat. Hal ini pun dikarenakan dalam suatu organisasi bukan hanya sekedar tnetnpelajari tentatig metode berorganisasi, namun dipelajari juga mengenai cara menyelesaikan suatu permasalahan secara komprehensif. (Written by Riyan Mardian & editted by Abdul Rozak)

4) Wawancara Irna Mutiara – Wirausaha Hijab

“Dunia bisnis memiliki perputaran sangat cepat”

Perkembangan fashion busana muslim di Indonesia, tidak luput mengkait diri pada seorang desainer Irna Mutiara. Selain sebagai pengusaha busana muslim, Irna juga dikenal terampil saat merancang berbagai busana muslim, terutama busana pengantin untuk wanita yang memakai hijab. Kesuksesan Irna Mutiara tidak datang begitu saja. Untuk mencapai tingkat kesuksesan ini Irna bekerja keras dan membangun ketekunan. Kemampuan Irna dalam hal merancang busana dan menjahit dimulai karena orang tuanya berprofesi sebagai penjahit. Wanita ini memulai usahanya dengan berbekal satu mesin jahit. Pasang surut usahanya sempat membuat Ima bangkrut, tetapi dia kembali bangkit dan berhasil mendirikan puluhan outlet butik. Irna membangun labelnya sejak 1998. Wanita kelahiran 24 Januari 1970 ini mulai terjun menjadi desainer karena senang mendesain dan hidup dalam lingkungan keluarga yang menekuni bisnis jahit-menjahit. Bahkan Irna mengaku sempat bekeda sebagai penjahit di pabrik gannen busana untuk anak di kawasan Bandung selama lima tahun. Kemudian ia berpikir kalau bekerja dengan orang lain bukan pekerjaan yang bisa menjanjikan inasa depan yang diinginkannya. Bertepatan dengan resesi di tahun 1998, ia memutuskan membangun bisnis keluarga di bidang jahit-menjahit. Tidak puas hanya menjahit, ia mencoba menuangkan kemampuannya mendisain busana siap pakai untuk sehari-hari. Irna berusaha memperkenalkan hasil rancangannya ke masyarakat sehingga harus berusaha keras untuk mempromosikan rancangannya. la memulai aksi promosi dari rumah ke rumah. Irna menawarkan desainnya sebagai penjahit sekaligus, memberikan saran kepada kliennya. Promosi dari rumah ke rumah tersebut cukup membuahkan hasil dan namanya cukup populer. Bahkan kini Ima sudah memiliki dua label yang masing-masing memiliki butik sendiri.

Ima mendirikan PT Trimoda Up2date di 2006 dan merilis busana siap pakai untuk wanita dewasa hingga anak-anak. Busana “Up2date” didesain simpel, berwarna cerah, serta minim detail. Brand siap pakai yang dinamakan “Up2date” mencapai 27 butik yang t ersebar di Indonesia dan Malaysia. Dua tahun setelah merilis “Up2date”, Irna memutuskan membuat produk busana pengantin muslim dengan nama “Ima La Perle”. la pun diklaim sebagai desainer busana pengantin pertama Indonesia. Label “Ima La Perle” yang dirilis pada 2008 terus meningkat sampai saat ini. Capaian-capaian wirausaha wanita asal kota Bandung ini mendorong majalah Komunita menemui beliau untuk menjaring opininya tentang “Cap Lulusan PT dan Kebutuhan Dunia Industri dan Usaha”. Berikut petikan wawancaranya.

Komunita : Bagaimana pandangan Ibu memaknai “mutu lulusan PT kaitannya dengan persyaratan (requirements) pada dunia industri dan usaha”?

Irna Mutiara : Dunia bisnis memiliki perputaran yang sangat cepat, hal tersebut terkadang membuat lulusan PT tidak sinkron pada saat menerapkan teori yang telah dipelajari dengan praktek di lapangan. Terdapat gap terhadap lulusan PT, namun dunia industri pun tetap membutuhkan lulusan dari PT. Oleh karenanya PT tidak hanya mempelajari ilmu yang praktis, tetapi mempelajari metode-metode yang kemudian membentuk pola pikir secara sistematis dan terukur guna kebutuhan pada dunia industri. Sebab dunia industri akan terus berjalan dan berkembang dengan cepat, tentunya akan membutuhkan strategi yang tepat pula. Dengan demikian, pada dasarnya dunia industri pun membutuhkan lulusan PT yang mampu menerapkan metode-metode yang telah dipelajari di bangku perkuliahan. Karena untuk menyusun sebuah usaha diperlukan metode dan strategi dari segala teori yang telah dipelajari. Ketika mahasiswa sudah mendapatkan modal berupa teori, hal selanjutnya yaitu menyelaraskan antara teori dengan praktek. Setelah itu kita dapat membandingkan teori yang telah dipelajari dengan praktek di lapangan, yang nantinya akan membentuk pola pikir sistematis.

Komunita : Apa saja persyaratan dunia industri terhadap berbagai kriteria lulusan PT ? selain persyaratan administratifnya?

Irna Mutiara : Syarat utama harus aktif. Ketika seorang lulusan PT telah memiliki keilmuan tertentu maka dia harus mampu menerapkannva. Yang kemudian ditambahkan dengan pola kreatifitas dalam berfikir, dalam bekerja, sehingga memiliki sikap yang efektif dan efisien. Sebab dunia usaha sangat menuntut hal-hal tersebut. Terkadang pada dunia PT mahasiswa tidak mampu menerapkan sikap yang efektif dan efisien, karenanya perlu dilatih agar dapat menerapkan sikap tersebut. Mengenai persyaratan administratif sebetulnya tergantung pada dunia usahanya sendiri. Saat ini dunia usaha sudah merambah ke ranah digital marketing, bahkan saya pun menampung siswa SMK yang jurusannya lebih fokus ke bagian IT, walaupun mereka tidak dinobatkan sebagai lulusan PT, ternyata mereka mampu dilatih untuk membuat sebuah konten pemasaran. Strategi yang terdapat pada digital marketing membutuhkan konten-konten pemasaran yang kreatif, jadi kita lebih mengutamakan akan kebutuhan tersebut. Namun apabila untuk dijadikan seorang leader (supervisor), tentu kami pun menbutuhkan lulusan PT, baik dari program S I maupun D3. Hal ini sebetulnya kembali lagi pada kebutuhan dunia industrinya. Kecepatan yang terdapat pada dunia usaha tentu berbeda dengan PT dan kita pun harus mampu menyesuaikannya, yaitu dengan memahami pola pikir yang telah disebutkan serta bersikap efektif dan efisien agar dapat mengejar target yang telah ditetapkan. Tentu harus disediakan pula perangkat/too/s yang sudah dimiliki oleh lulusan PT sehingga mereka harus mampu beradaptasi antara lingkungan PT dengan dunia industri/usaha.

Komunita : Target, arah dan sepak tetjangapa yang akan dicapai dunia industri/usaha dalam membina & melatih SDM agar dapat menyelaraskan kompetensi dengan lingkungan kerja pada masing-masing bidangnya ?

Irna Mutiara : Yang kita lihat yaitu persaingan di luar, apabila persaingan di luar semakin cepat tentu kita juga harus mampu menyusun strategi utama (backbone) secara internal dan diharapkan dapat terus mengrupdate secara dinamis. Agar selalu tetap updating terhadap segala perkembangan, maka perlu diadakan program melalui mekanisme training khusus baik secara internal maupun eksternal.

Komunita : Mohon dijelaskan perihal hubungan antara dunia pendidikan dengan dunia industri dan usaha dari sisi : a) Potensi lulusan PT, b) Kuantitas lulusan PT, dan c) Ketersediaan lowongan pekerjaan.

lrna Mutiara : Kebetulan saya memiliki anak yang sudah lulus dari PT; ketika saya menawarkan pekerjaan kepada anak saya, ternyata dia menolak dan lebih memilih untuk terjun ke dunia bisnis. Faktanya anak muda jaman sekarang cenderung lebih tertarik untuk berwirausaha dan membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain melalui sistem business start up. Hal tersebut memiliki potensi yang bagus, dengan demikian mereka akan mampu memahami digital marketing yaitu membuat program khusus berkaitan dengan media promosi online yang nantinya akan dibutuhkan oleh perusahaan lain. Jika kita bekerja pada perusahaan besar, tentu harus memiliki disiplin kerja dan juga mengukur jumlah kuantitas orang yang dapat menghargai potensinya.

Membahas tentang kuantitas lulusan PT, tentunya setiap manusia akan saling berkompetisi guna memperoleh hasil yang lebih
baik. Namun hal ini akan ditunjukkan oleh seberapa besar usaha (effort) yang telah dikeluarkannya. Bila effort-nya kurang, maka akan tersisihkan oleh seseorang yang memiliki effort lebih tinggi. Biasanya orang yang berkompetisi tersebut akan terseleksi dan terkurasi dengan sendirinya, hanya saja dia memiliki potensi yang berbeda antar satu dengan lainnya. Pembeda itulah yang kemudian akan menonjol dan menciptakan pemikiran kreatif, sehingga akhirnya terpilih. Bagi yang belum terpilih,
harus terus berfikir lagi dan belajar mengenai kchidupan, scbab pada intinya kehidupan itu harus disikapi dengan pemikiran optimis serta tidak lalai dalam segala hal. Lulusan jenjang PT memang tidak selalu dituntut untuk bekerja dengan orang lain, karena semuanya bergantung pada karakter mahasiswa itu sendiri yang akan memilihnya. Menurut saya untuk mengatasi tingkat pengangguran yang semakin kentara ini melalui pemberian motivasi dan dukungan secara penuh kepada para lulusan PT serta mengembangkan program /link & match dengan dunia industri dan usaha yang telah memiliki target-target tersendiri.

Komunita : Terkait dengan kurikidum pendidikan tinggi vang dipandang kurang relevan dengan kebutuhan (requirements) dunia industri/usaha. Bagaimana pandangan ibu tentang hal tersebut ?

Irna Mutiara : Ada beberapa yang mungkin kurang relevan, namun pada dasarmya semua keilmuan yang dipelajari di tingkat PT sangat penting untuk disampaikan dan diterapkan yang bertujuan untuk membentuk pola pikir, sehingga mampu menerapkan metode dan strategi terstruktur di masa mendatang. Bila ternyata diindikasikan terdapat kurang relevan, maka diharapkan ada yang menjembatani antara kedua belah pihak (perguruan tinggi & dunia industri/usaha), dikarenakan dunia usaha selalu berkembang dinamis dan variatif. PT diharapkan dapat terus update secara kekinian dengan mencetak lulusan yang selalu lebih berfikir kreatif dan dinamis. Selain itupun PT dapat juga mengubah konsep pembelajaran di dalam ruang kelas, dari yang tadinya bersifat monoton (metode ceramah) – menjadi lebih semangat, asik dan rileks. Materi pembelajaran
yang disampaikan dosen pada umumnya terpaku oleh bidang keilmuan yang dimilikinya tanpa ada bukti perwujudan implementasi di lapangan. Hal ini perlu dibenahi oleh setiap dosen yang mengajar khususnya pada jurusan bisnis dan manajemen agar senantiasa dapat berkolaborasi dengan dosen praktisi (pakar) guna memperoleh metode penerapan keilmuan di masyarakat, sehingga para mahasiswa dapat mengembangkannya secara mandiri di lapangan. Jika tidak dilakukan, akan berdampak pada adanya kekakuan suatu ilmu. Sehingga dibutuhkan standar baku yang tepat, relevan, dinamis dan up to date untuk terus dikembangkan.

Komunita : Faktor apa lagi yang menjadi penyebab kesenjangan antara jumlah pencari kerja (Lulusan Perguruan Tinggi) dengan kebutuhan lapangan kerja (lowongan kerja) ?

Irna Mutiara : Dunia industri dan usaha yang telah beroperasi lama bahkan sudah menjadi favorit; tentu menjadi target sebagian besar lulusan PT untuk bekerja apalagi dilihat dari fasilitas yang ditawarkan dan tingginya standar gaji. Sementara dunia industri dan usaha mempunyai perputaran durasi waktu yang berbeda dengan PT. Dunia industri dan usaha tidak sclalu menyediakan bidang lowongan pekerjaan secara rutin bila dibandingkan dengan jumlah angka lulusan PT setiap tahunnya.
Terlebih setiap perusahaan menerapkan seleksi atau penyaringan khusus yang tidak semua persyaratannya dimiliki oleh semua lulusan PT. Faktor penyebabnya adalah tingkat populasi lulusan PT semakin meningkat, sedangkan lapangan pekerjaan semakin terbatas. Oleh sebab itu, sebaiknya mahasiswa diarahkan untuk lebih kreatif guna menciptakan kesempatan lapangan pekerjaan bagi orang lain. Sebenarnya perguruan tinggi dapat terus mendorong mahasiswanya agar mampu menciptakan business start up yang bisa disalurkan dan diajak kerjasama dengan lembaga lain.

Komunita : Saran ibu selaku pimpinan dunia industri dan usaha kepada pemerintah, serta pengelola PT dalam rangka meminimalisir gap/kesenjangan lulusan PT dengan kebutuhan tenaga terampil yang siap pakai guna menurunkan angka pengangguran dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi ?

Irna Mutiara : Seperti yang sudah dibahas tadi bahwa dunia industri ini di tuntut untuk cepat, efektif dan efisien. Kemudian menerapkan metode-metode praktis dan strategi yang sebagaimana telah dipelajari pada jenjang PT guna membuat para mahasiswa memiliki soft ski// atau karakter yang baik, seperti: memiliki motivasi agar mampu lebih kreatif atau lebih menghargai waktu; disamping ard skill yang dimiliki dan dibutuhkan dalam dunia industrim dan usaha. Contoh: dengan menghimbau mahasiswa agar senantiasa aktif mengikuti kegiatan atau workshop di luar_ jam pembelajaran kampus, seperti: mengikuti berbagai jenis kegiatan UKM atau organisasi yang telah disediakan oleh pihak kampus. Dengan begitu, mahasiswa pun akan dituntut untuk menjadi lebih kreatif schingga implementasi soft ski/l-nya akan terbentuk. (Written by Silpiani Nur Utami & editted by Abdul Rozak)

Comments are closed.