Pengembangan Kreativitas dan Entrepreneurship dalam Pendidikan Nasional

0
77

Judul : Pengembangan Kreativitas dan Entrepreneurship dalam Pendidikan Nasional

Penulis : Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, MSc.Ed.

Tebal Buku : xviii + 237 halaman

Penerbit : Buku Kompas

Tahun Terbit : 1 Juni 2012

Tahun Terbit : 1 Juni 2012

ISBN : 9789797096533

Kekayaan sumber daya alam berupa bahan tambang, mega biodiversity, forest diversity – sebagai hutan tropis terbesar setelah Brazil. Negeri kepulauan yang terbentang di sepanjang garis khatulistiwa, dengan luas daratan 1,9 juta km2 beserta kekayaan alamnya, dan 3,1 juta km2 luas perairan beserta kekayaan lautnya. Sedang secara budaya memiliki lebih dari 300 ragam suku dan 742 bahasa dan dialek. Itulah potensi kekayaan alam Indonesia sejak dahulu mengundang kedatangan bangsa-bangsa lain.

Namun, fakta bahwa potensi sumber daya alam, maupun sumber daya manusia belum sepenuhnya dikembangkan dengan baik. Sebaliknya, bisnis korporasi multinasional terus menggurita di tanah air mengeksplorasi potensi domestik di atas, sementara pengusaha, dan korporasi nasional belum memiliki satu pun produk industri global yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat global sekaligus menopang kemajuan ekonomi kita.

Kemajuan ekonomi akan dapat dicapai jika ada spirit kewirausahaan yang kuat dari warga bangsa yang didukung penuh pemerintah. BPS menyebutkan potensi 252 juta penduduk Indonesia, hanya memiliki wirausaha non pertanian 7,8 juta orang atau 3,1 %. Rasio wirausaha sebesar 3,1 % itu masih lebih rendah dibandingkan dengan negara: Malaysia 5 %, China 10 %, Singapura 7 %, Jepang 11 % maupun AS yang 12 % dengan jumlah penduduknya jelas lebih sedikit. Bagaimana program pendidikan dalam mengembangkan semangat kewirausahaan.

 

Pakar ilmu pendidikan Prof. Dr. H.A.R. Tilaar mencoba memberi jawaban. Buku ini berisi kajian tentang akar dari sikap seorang entrepreneur, yakni kemampuan berpikir kreatif dan inovatif. Juga berisi gagasan tentang cara bagaimana kemampuan dan tindakan kreatif tersebut dapat dikembangkan melalui program-program pendidikan dan pelatihan di dalam system pendidikan nasional kita. Berikut kami angkat resensi kritis seorang Wahyu dari laman https://islamindonesia.id/.

Entrepreneurship dan Perubahan Sosial

Pemikir pendidikan kritis, H.A.R Tilaar, menyebut ketertinggalan ekonomi Indonesia dari Negara-negara tetangga dikarenakan minimnya entreprenuer di negara ini. Mengapa harus entrepeneur dan apa kaitannya dengan pedagogik kritis transformatif yang selama ini diusungnya?

Kreativitas, Entrepreneur dan Pedagogik kritis merupakan tiga kata kunci dari buku Pengembangan Kreativitas dan Entrepreneurship dalam Pendidikan Nasional ini. Penulisnya, H.A.R Tilaar, mencoba menemukan benang merah antara tiga kata itu dengan realitas sosial ekonomi masyarakat Indonesia saat ini.

Dari hasil penelusurannya, Tilaar menemukan keterpurukan ekonomi Indonesia dikarenakan minimnya jumlah entrepreneur yang hanya 0,8 persen dibandingkan dengan total jumlah penduduk yang kurang lebih mencapai dua ratus juta jiwa. Ia pun membandingkan dengan negara-negara maju yang pernah disinggahinya, paling minimal entrepreneurnya berjumlah dua persen dari total penduduknya. Salah satu faktor yang membuat Indonesia minim dengan entrepreneur, kata Tilaar, itu dikarenakan sistem pengembangan sumber daya manusia Indonesia, khususnya di bidang pendidikan dan pelatihan masih belum beranjak pada pola lama, hanya bertumpu pada hal-hal teknis seperti pencapaian kemampuan pengetahuan dengan nilai yang tinggi sebagai ukuran.
Alhasil, pola ini diyakini mematikan kreativitas peserta didik, karena hanya mengantarkan peserta didik pada lembah kompetensi dan persaing an yang pada akhir nya hanya menghasilkan output pendidikan yang timpang; individualistis dan memikirkan dirinya sendiri. Tilaar mengkritik kebijakan pendidikan yang masih terkooptasi dengan rezim tes dan nilai tersebut.

Namun, di tengah praktek pendidikan yang begitu merusak pola pikir sumber daya manusia Indonesia, masih ada daya yang bias membongkar, menggugat dan menerobos pakem-pakem yang mencengkeram dunia pendidikan nasional, ini yang disebut dengan berpikir kreatif dan inovatif atau disebut dengan sikap entrepreneur.
Tilaar menggarisbawahi, entrepreneur tidak selalu wirausahawan atau pengusaha, tapi orang atau kelompok yang mampu keluar dari pakem yang ada dan mampu memaksimalkan batas-batas kemampuannya. Kendati begitu, Tilaar juga tak bisa melepaskan diri dari menggunakan sosok pengusaha sukses seperti Martha Tilaar (Istrinya) dan Ciputra sebagai contoh seorang entreprenuer sejati.

Pada hakikatnya entreprenuer adalah pembaharu zaman dan pembawa obor perubahan. Lompatan peradaban manusian, ditentukan serta diwarnai oleh cara berpikir kritis, cara berpikir kreatif-inovatif yang menghasilkan hal-hal baru di tengah masyarakat. Kedua pola berpikir itulah yang akhirnya melahirkan modernisasi dan globalisasi . Tilaar menambahkan, sumber dari segala kreativitas ialah penemuan problem. Seorang anak tidak mungkin mengembangkan kreativitas apabila tak pernah menemukan masalah dalam keseharian hidup.

Namun, hal yang lebih penting, kata Tilaar, keberhasilan seorang entreprenuer justru ditentukan oleh pola pikirnya, yakni bagaimana dirinya menggunakan dimensi pikirannya untuk berpikir secara kritis dan merdeka. Dimensi berpikir kritis dan merdeka dapat menuntun individu untuk mencari kebenaran dan membebaskan dirinya dari keterkungkungan dan ketidakberdayaan.

Subjek Perubahan

Sebagai pendidik sekaligus pakar pendidikan , tilikan Tilaar tentang Entrepreneurship tak jauh-jauh dari kajian pedagogik. Entrepreneur, kata Tilaar, tak bias dipisahkan dari ranah pedagogik, terutama pedagogik transformatif (Hal 126). Pedagogik transformatif atawa proses pendidikan yang menekankan pada kesadaran kritis dan tindakan perubahan ke arah yang lebih baik, sejalan dengan ide entrepreneur. Pertemuan pedagogik transformatif dengan entrepreneur berada pada titik cara berpikir, yakni kesadaran berpikir kritis, kreatif dan transformatif.

Tilaar percaya, pola berpikir yang menghasilkan entrepreneur atau pelaku pedagogik transformatif akan muncul apabila lembaga pendidikan bisa melepaskan diri dari mabuknya dogma-dogma darwnisme sosial yang mengagung-agungkan persaingan dan melestarikan kekuatan politik yang dominan.

Untuk itu, menurut Tilaar ada baiknya institusi pendidikan mencoba menjejakkan diri pada aliran Mazhab Frankfurt yang menekankan pada teori krtis dan postmodernisme yang mengusung tema dekonstruksi kemapanan dan menolak narasi besar yang tunggal. Kebersatuan dua aliran ini dalam pendidikan nasional diharapkan dapat menghasilkan peserta didik yang tidak begitu saja menerima konsep pengetahuan mapan tanpa didasari pada kritik yang dialektis, serta menolak bentuk penyeragaman pengetahuan sehingga pengetahuan bisa lebih kontekstual.

Inti dari kedua paradigma itu pada pendidikan nasional adalah pengembalian peserta didik sebagai subjek atau inti perubahan itu sendiri. Murid atau peserta didik dapat membongkar peneguhan proses transformasi (sistem) pengetahuan (knowledge) yang hanya dikuasai atau dihegemoni oleh segelintir pihak (dominasi guru misalnya).

Sebenarnya, itulah yang menjadi sasaran tembak Tilaar dalam bukunya ini. Memulihkan kembali posisi subjek pendidikan sebagai individu produktif di dalam kehidupan sosialnya, sadar akan dirinya dan sadar pada tanggung jawabnya terhadap kemanusiaan sehingga tidak melakukanpengkhianatan pada upaya pencerahan budi.

Tugas entrepreneur yang tercipta melalui pedagogik transformatif ialah melucuti ideology pendidikan yang justr u melang gengkan pelecehan terhadap kemanusiaan itu sendiri, seperti RSBI (baru dibatalkan oleh MK) yang membuat kastanisasi dalam dunia pendidikan atau pola pendidikan yang mengarahkan peserta didik hanya sebagai sekrup atau robot industri.

Di buku ini, Tilaar mencoba mengajukan tawaran bahwasanya Entrepreneurship dalam dunia pendidikan nasional harus sejalan dengan agenda pembangunan lokal. Artinya, proses pendidikan, sesunguhnya diterapkan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhanakan sumberdaya manusia yang (minimal) sanggup menyelesaikan persoalan lokal yang melingkupinya dan signifikan dengan kebutuhan masyarakat. Bukan hanya pada persoalan global yang justru jauh dari realita masyarakat.

Saat ini, dunia pendidikan nasional memang sedang gandrung dengan pendidikan kewirausahaan sebagai hasil dari penerjemahan konsep entrepreneurship. Sayangnya, konsep hanyalah konsep. Pasalnya pendidikan kewirausahaan yang gencar digalakkan oleh pemerintah seperti tergelincir alias salah kaprah.

Budaya kritis dan kreatif sebagai landasan dasar dari pendidikan kewirausahaan tidak dibangun dalam paradigma pendidikan nasional.

Akhirnya, pendidikan kewirausahaan besutan pemerintah hanyalah bertujuan atau berorientasi pada pengejaran profit semata yang ujung-ujungnya juga bermuara pada persaingan dan individualisme. Padahal, entrepreneurship di mata Tilaar tidak semata-mata hanya bicara soal ekonomi, tapi juga perubahan sosial.

Jika hanya bicara soal ekonomi, tak bias dipungkri kalau konsep Entrepreneurship masih berada dalam kerangka kapitalisme global. Memang, lewat buku setebal 238 halaman ini Tilaar mengajak kita untuk membuka pola pikir kalau kita harus bisa berkompromi dengan globalisasi yang tak bisa dihindari. Kendati begitu, lewat pemikirannya ini guru besar emiritus UNJ menawarkan jalan agar bangsa ini tidak tenggelam begitu saja dalam gulungan globalisasi, salah satunya caranya membangun manusia Indonesia yang kritis dan kreatif melalui pedagogik transformatif. (Wahyu/Islam Indonesia) https://islamindonesia.id /berita/resensi-buku