Home Blog Page 47

Paradigma Baru, Sikapi Revolusi Industri 4.0

Jumlah perguruan tinggi Indonesia terbesar di dunia, yakni 4.539 perguruan tinggi Dari jumlah tersebut, 3.128 diantaranya perguruan tinggi swasta/PTS. Jumlah perguruan tinggi ini tentunya menghasilkan jumlah lulusan yang besar. Namun, melimpahnya jumlah lulusan perguruan tinggi tidak berbanding lurus dengan terpenuhinya kualitas lulusan dengan persyaratan dunia kerja. Kondisi di atas paling tidak disebabkan empat permasalahan utama, yakni: kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), kualitas perguruan tinggi, relevansi kualifikasi lulusan perguruan tinggi dengan dunia kerja, dan karakter manusia Indonesia.

Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), semisal dosen. Bisa dilihat dari kualifikasi jabatan fungsional dan juga produktivitas dalam menjalankan tridharma, khususnya dalam aspek penelitian/publikasi dan pengabdian kepada masyarakat masih tergolong memprihatinkan. Padahal ada relevansi yang kuat antara pengajaran dengan dua dharma di atas dalam sisi kualitas. Fakta berbicara (lihat data PDPT, index Sinta, apalagi index global lainnya). Sementara, untuk kualitas perguruan tinggi (data BAN PT sebagai acuan standar pengelolaan perguruan tinggi menjelaskan yang terakreditasi APT: A = 72, B = 576, C = 936), sedang ribuan lainnya bahkan belum terakreditasi.

Relevansi kompetensi lulusan perguruan tinggi menunjukkan ketidaksesuaian dengan kebutuhan dunia kerja, atau artinya pekerja tidak linier dengan latar belakang pendidikannya. Hal ini menjadikan mereka kurang terserap, sehingga timbul banyak pengangguran terdidik lulusan perguruan tinggi yang setiap tahun cenderung meningkat. Hal ini menjadi stigma buruk dalam dunia pendidikan tinggi dan industrialisasi.

Sebagai ilustrasi, mahasiswa Indonesia hanya sekitar 5 % menempuh bidang pertanian, 16 % bidang teknik, sedang yang terbanyak bidang sosial dan politik berjumlah lebih dari 50 %. Seharusnya perguruan tinggi menghasilkan lulusan yang siap terjun mengelola potensi bumi Indonesia. Potensi bumi Indonesia terbesar di bidang pertanian dan kelautan. Potensi ini sangat memerlukan pengelolaan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perguruan tinggi juga dituntut merumuskan proses pendidikan yang dapat mengembangkan karakter para peserta didik. Sebab karakter merupakan satu modal penting untuk kesuksesan mereka. Lulusan yang unggul, harus memiliki karakter positif dan berkualitas. Berkaca dari bangsa Jepang yang mampu bangkit setelah hancur karena perang dunia II, bangsa Korea yang memperjuangkan kemerdekaannya 72 lalu mampu bangkit menjadi negara maju dan produktif.

Hal lain, padatnya tuntutan akademik yang menyebabkan mahasiswa kekurangan waktu meningkatkan kemampuan di luar kampus dan aktivitas organisasi. Kondisi itu, memang berdampak pada akreditasi kampus dan indeks prestasi kumulatif (IPK) mahasiswa tinggi. Namun tidak menjamin kematangan mahasiswa secara wawasan dan keorganisasian, agility mahasiswa. Untuk menunjang kualitas mahasiswa, perguruan tinggi perlu memberi keleluasaan mahasiswa berekpresi, kritis mensikapi problematik kemasyarakatan dalam pendekatan keilmuan secara inovatif.

Di dalam cengkeraman problematik di atas, perguruan tinggi dihadapkan pada era baru – era disruptif, Revolusi Industri 4.0 (Industri 4.0) yang bakal mengguncang eksistensi perguruan tinggi. Ibarat kata, bagai pepatah sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Namun, perguruan tinggi tidak boleh hilang harapan menjalankan perannya mencerdaskan bangsa. Sejauh perguruan tinggi senantiasa olah pikir, olah motivasi, serta, olah perilaku positif dan inovatif di depan pasti ada jalan.

Sebagai warga dunia, maupun warga bangsa, Revolusi Industri sesungguhnya sudah tiga kali kita alami dan kini Industri 4.0 yang menjadi perhatian. Industri 4.0 sebagai akibat perkembangan luar biasa teknologi robotika, machine learning dan kecerdasan buatan (Artificial Intellegence), Internet of Things, serta 3D printing yang hadir dan menjadi sebuah realitas tidak terbantahkan. Industri 4.0 berbasis pada kolaborasi, interkonektifitas, serta keterbukaan data yang memungkinkan kolaborasi antar manusia, bahkan antar mesin. Industri 4.0 merupakan era digital ketika semua mesin terhubung melalui sistem internet atau cyber system yang membawa dampak perubahan besar di masyarakat, serta menggejala di seluruh penjuru dunia.

Di dunia pendidikan tinggi tumbuh fenomena open educational resources (OER), situs tutorial online, massive open online course (MOOC) atau kuliah online seperti Coursera atau Udemy yang dapat menjadi ancaman. Kedua layanan tersebut menawarkan kenyamanan belajar dengan harga yang relatif murah. Materi yang ditawarkan dari berbagai topik IT hingga bisnis dan hukum. Waktu belajar pun fleksibel dan dapat dilakukan dimana saja.

Selaraskan Kebutuhan Industri dengan Kompetensi Lulusan

Kompetensi Lulusan

Salah satu indikator keberhasilan dari sebuah sistem pendidikan adalah dengan adanya sistem yang digunakan untuk mengukur kualitas output dari pendidikan itu sendiri. Hal-hal yang dapat diukur utuk menentukan kualitas lulusan salah satunya adalah kompetisi, kepuasan user pada lulusan universitas, kesesuaian kemampuan yang digunakan dengan bidang yang dipelajari dan masih banyak lagi.

Universitas Widyatama sangat concern terhadap hal ini. Ini dibuktikan dengan keseriusan penanganan alumni setelah selesai menempuh pendidikan di Universitas Widyatama. Pengelolaan Career Center Widyatama yang dilakukan secara serius dan profesional menjadikan lulusan yang berkualitas. Hal ini tercermin oleh kegiatan yang dilakukan oleh Career Center diantaranya adalah menjali kerjasama dengan perusahaan-perusahaan baik swasta maupun pemerintah agar mengetahui apa yang dibutuhkan oleh dunia usaha dan industri (DUDI), selain untuk menjembatani para lulusan dalam memperoleh pekerjaan atau berwirausaha.

Selain menyelenggarakan kegiatan hubungan perusahaan, Career Center pun mengadakan kegiatan rutin Job Fair yang bukan hanya lulusan Universitas Widyatama saja, tetapi terbuka untuk umum. Pada aspek bina karir seluruh mahasiswa ataupun alumni dapat mengikuti pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh Career Center .
Keseriusan Career Center dalam melayani dan melacak lulusan dibuktikan ketika pada tahun 2017 Career Center mendapatkan hibah berupa Bantuan Pengembangan Layanan Pusat Karir Lanjutan (BPKPKL) dari Kemenristek Dikti. Prestasi ini diraih untuk ketiga kalinya sehingga saat ini Career Center Widyatama ditunjuk sebagai Koordinator Wilayah Pusat Karir Provinsi Jawa Barat dan Banten.

Hasil pelacakan lulusan (Tracer Study) yang dilakukan oleh Career Center Widyatama mengarah pada kompetensi softskill dan masa tunggu lulusan dalam mencari pekerjaan. Hasil analisis menunjukan 60% – 80%lulusan Widyatama memiliki kompetensi baik. Rata-rata  masa tunggu lulusan Widyatama untuk mendapatkan pekerjaan selama 4.6 bulan (Sumber : Laporan Tracer Studi Career Center Widyatama Tahun 2017).
Output kegiatan Tracer Study diharapkan sebagai evaluasi diri terhadap kemampuan kompetensi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi dalam hal ini Widyatama, selain itu juga menjadi evaluasi terhadap kurikulum pada tiap Program Studi yang disesuaikan dengan kebutuhan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). (Hum, 06Jun2018)

 

Mendorong Wirausaha Muda Bangun Ekonomi Rakyat

Agung Sudjatmoko

Agung Sudjatmoko – Ketua Harian Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN)?

Banyak pilihan karir dalam kehidupan ini. Ada orang yang berkeinginan kuat menjadi pegawai negeri, buruh, karyawan, aktivis sosial, aktivis keagamaan, politisi atau menjadi pengusaha. Keinginan ini menunjukan bahwa hidup adalah pilihan, sukses atau gagalnya seseorang karena pilihan hidupnya yang sudah ditentukan. Sehingga sukses tidaknya seseorang menjalani pilihan hidupnya tergantung dari garis tangan dan campur tangan. Kedua istilah itu sama menggunakan kata tangan tetapi mempunyai makna yang sangat berbeda. Garis tangan terkait dengan nasib seseorang yang telah digariskan oleh Sang Kholiq atau Sunatullah.

Sedangkan campur tangan, merupakan usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan dukungan dari orang lain. Dalam dunia bisnis campur tangan bisa menentukan keberhasila atau kegagalan seseorang.Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maka relasi atau mitra kerja dengan berbagai stakeholders harus dibangun oleh wirausaha. Relasi bisnis mempunyai prinsip berbanding lurus, artinya semakin banyak jumlah relasi bisnis akan mempercepat seseorang mencapai sukses dalam berusaha, begitu juga sebaliknya.

Seminar Kewirausahaan yang diselenggarakan hari Senin, 14 April 2018 di GSG oleh FMB UTama, sebagai bagian tugas mata kuliah kewirausahaan yang bertujuan membangun motivasi mahasiswa berwirausaha, memperluas cakrawala mahasiswa tentang bisnis, dan membangun kekuatan mental mahasiswa agar berani memulai berusaha. Kegiatan yang diikuti 200 mahasiswa menghadirkan praktisi gerakan koperasi tingkat nasional, Agung Sudjatmoko – Ketua Harian Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN).

Dalam paparanya narasumber membuka dengan pernyataan yang sangat sentimental menggugah mahasiswa untuk berpikir memilih menjadi wirausaha. Dikatakan menjadi wirausaha itu mudah, yang sulit itu memulai merintis bisnis. Menurut narasumber banyak ide dan gagasan mahasiswa melakukan usaha, tetapi banyak juga ide tersebut yang tidak terwujud. Banyak faktor yang menyebabkan kondisi ini antara lain, ketidak sungguhan mahasiswa memikirkan berwirausaha, ketidaktahuan bagaimana merumuskan konsep berusaha, tidak paham cara memulai berusaha, tidak memiliki mentor, atau faktor internal mahasiswa karena rasa takut gagal.

Melihat fenomena tersebut maka, nasarumber memberikan penguatan bahwa setiap manusia dilahirkan adalah sebagai pemenang, dan setiap manusia yang dilahirkan dengan sempurna merupakan karunia Allah dan dipastikan menjadi manusia yang kaya raya, Maka manusia harus kaya, untuk itu harus bekerja/berusaha, dengan cerdas, karena hanya dengan itu dapat merubah nasibnya. Agung Sudjatmoko menyampaikan statemen Bill Gates manusia terkaya di dunia yg mengatakan Jika Anda terlahir miskin, itu bukan kesalahan Anda, tetapi jika Anda meninggal dalam keadaan miskin itu kesalahan Anda. Ini menunjukan bahwa setiap manusia harus berusaha dengan cerdas dan berani memulai berwirausaha untuk mengembangkan potensi dirinya, menangkap dengan cerdas setiap peluang dan mampu menjadi manusia pembelajar.

Menjadi Diri Sendiri

Secara teori dikatakan Agung Sudjatmoko, para wirausaha adalah individu-individu yang berorientasi pada tindakan, dan bermotivasi tinggi, berani mengambil (take a risk) dan mengelola risiko (manage to risk) dalam mengejar tujuannya. Seorang yang berniat menjadi wirausaha adalah orang-orang yang mempunyai tujuan hidup jelas, terarah sikapnya dan mempunyai tindakan yang terukur hasilnya. Ini kebiasaan yang harus sudah menjadi budaya mahasiswa yang mempunyai tekad kuat menjadi wirausaha.

Berdasarkan konsepsi di atas, dapat dikatakan dengan jelas, para wirausaha adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk membaca peluang di lingkungannya. Mereka adalah orang yang berani melawan arus kehidupan, serta mempunyai keyakinan kuat untuk mempertaruhkan kehidupannya dengan usaha yang digeluti tersebut. Dalam mengembangkan kemampuan wirausahanya, seseorang mempunyai berbagai strategi, karena kemampuan wirausaha merupakan integrasi intelektual, emosional, spiritual dan kemampuan menemukan peluang bisnis (business opportunity).

Bekal menjadi wirausaha terbesar adalah sikap mental, tentu hal ini sangat terkait erat dengan karakter kepribadian seseorang. Secara kodrati, masing-masing orang diciptakan oleh Tuhan dengan kepribadian sendiri-sendiri. Tidak ada satu orang pun yang memiliki kepribadian yang sama, karena itu adalah Sunatullah. Seseorang yang mempunyai kepribadian yang kuat, dia akan menjadi dirinya sendiri, karena memiliki kemampuan kemandirian, tanggung jawab, kepercayaan diri yang kuat, optimis, berpikir positif, dan cerdas. Dengan demikian orang tersebut mampu memimpin dirinya sendiri, atau mempunyai kepercayaan diri yang baik, sehingga faktor eksternal hanya bersifat komplementer saja. Karakter diri atau kepribadian mandiri yang kuat tersebut mampu menumbuhkan wirausaha baru di kalangan mahasiswa.

Sebaliknya, seseorang yang mempunyai kepribadian lemah, maka dia memiliki karakter yang labil, mudah terombang-ambing keadaan, tidak percaya diri, pesimis, dan kesulitan untuk menentukan keputusan tentang pilihan hidupnya. Sulit bagi seseorang yang mempunyai jiwa seperti ini untuk mandiri, karena kemampuan wirausahanya tidak terbangun. Coba kita lihat keadaan tersebut di masyarakat. Masih banyak masyarakat yang miskin, pemuda yang masih menganggur, pengusaha kecil yang tidak tumbuh dan berkembang usahanya. Akhirnya mereka tidak fokus untuk mengembangkan potensi dirinya, yang lambat tapi pasti mereka akan menjadi sumber daya manusia pembangunan yang tidak produktif.

Tindak Lanjuti Seminar Wirausaha

Melihat animo mahasiswa UTama yang begitu baik, maka Agung Sudjatmoko mengusulkan untuk menindaklanjuti kegiatan ini. Banyak pilihan program kegiatan bisa direalisasikan antara lain, training merintis bisnis pemula, workshop menangkap dan mengelola peluang bisnis, business motivation training bagi mahasiswa, lomba penyusunan bisnis plan mahasiswa. Bahkan Agung mengusulkan untuk membangun laboratorium usaha di kampus dengan merintis mendirikan koperasi universitas sebagaimana di kampus-kampus Jepang, di mana semua kebutuhan siivtas akademika dapat dipenuhi oleh koperasi universitas dengan harga yang sangat terjangkau, yang sangat menarik koperasi universitas ini menjadi laboratorium belajar mahasiswa mengelola usaha.

Komitmen Pimpinan UTama yang besar mendorong kampus menjadi entrepreneur university, maka di tingkat universitas dapat didirikan pusat pengembangan kewirausahaan, klinik konsultasi bisnis, atau inkubator bisnis dan berbagai kelembagaan yang mempunyai konsentrasi kegiatan pengembangan kewirausahaan, baik di kalangan mahasiswa maupun sebagai lahan pengabdian pada pelaku UKM dan koperasi. (Agung Sudjatmoko, Keni Kaniawati)

Aspiring Professional Accounting Championship 2018 (APA Champ 2018)

Accounting Championship 2018

Mahasiswa Fakultas Ekonomi berpartisipasi dalam IAI Aspiring Professional Accounting Championship 2018 (APA Champ 2018) yang diselenggarakan Universitas Widyatama, Bandung. APA Champ merupakan kompetisi yang sudah dua kali dilaksanakan Ikatan Akuntan Indonesia. Pada tahun ini Universitas Widyatama mengirimkan 1 tim beranggotakan 6 orang yaitu, Ersa Pramesthi Zahra (21), Rizky Dwikurnia Wanditra (21), Frieska Kirana Dewi (21), Mita Alya Syafitri (20), Faldy Anwari (22), dan Aulia Kusumaningtyas (20).

Accounting Championship 2018 2

IAI Aspiring Professional Accounting Championship 2018 dimulai dengan Preliminary Online yang dilaksanakan tanggal 11 April 2018, 1 dari 4 tim terbaik yang lolos dari babak Preliminary akan masuk ke babak Final yang akan di selenggarakan di Bursa Efek Indonesia, Jakarta.Rabu (11/4) Babak Preliminary yang bertempat di Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama yang terdiri dari babak: The Case Study, dilanjutkan dengan Oral Presentation. Pada babak The Case Study setiap tim diberi waktu 60 menit untuk memecahkan kasus yang diberikan panitia IAI Pusat. Setelah selesai lalu dilaksanakan Oral Presentation dimana setiap tim harus mempresentasikan ide – ide mereka di depan Juri selama 10 menit. (Hms, 23Mei2018)

Menjawab Revolusi Industri 4.0 Era Disruptif?

Siapa yang tidak kenal Nokia dan Kodak dalam khasanah kehidupan kita, khususnya bagi generasi yang merasakan produk mereka. Perusahaan yang tinggal sejarah ini ada baiknya kita simak kisahnya.

Nokia Corporation adalah produsen peralatan telekomunikasi terbesar di dunia serta merupakan perusahaan terbesar di Finlandia. Nokia memproduksi handphone untuk seluruh pasar dan protokol utama, termasuk GSM, CDMA, and W-CDMA. Merasa percaya diri sebagai market leader, Nokia tidak mengadopsi sistem Android yang sedang berkembang saat itu. Ketika Nokia mencoba memodifikasi produknya, sudah terlambat. Nokia harus merelakan diri diakuisisi Microsoft pada April 2014. Sementara Samsung yang membeli dan memanfaatkan sistem operasi Android untuk diterapkan di semua lini produknya, menjadikan Samsung pemimpin pasar terbesar dalam teknologi aplikasi gadget di dunia.

Kodak lebih dari 100 tahun, berhasil memonopoli pasar penjualan kamera. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, kamera digital mulai menyingkirkan Kodak. Sayangnya, Kodak bersikukuh tidak memproduksi kamera digital, padahal penemu kamera digital pertama adalah Kodak sendiri. Akhirnya, Kodak menelan pil pahit kebangkrutan pada tahun 2012.

Panasonic Corporation merek besar asal Jepang adalah sebuah produsen elektronik yang berkibar di Indonesia. Panasonic bangkrut karena ekonomi dunia dan daya beli masyarakat melemah, hingga penjualan produk Panasonic menurun drastis, kalah bersaing dari produk-produk China. Akhirnya, pada 2015 perusahaan ini resmi menutup Panasonic di Indonesia.

Kisah keruntuhan perusahaan Nokia, Kodak, dan Panasonic adalah gambaran dramatis perusahaan besar yang tidak memandang disruptif sebagai sesuatu yang strategis dan disikapi serius. Di negeri ini muncul gencar ketika gonjang ganjing Gojek vs taxi tradisional, bukalapak dan blibli vs mall misalnya. Pasalnya jelas Revolusi Industri tidak bisa dibendung.

Kini Revolusi Industri 4.0 (Industri 4.0) sebagai akibat perkembangan luar biasa teknologi robotika, machine learning dan kecerdasan buatan (Artificial Intellegence), Internet of Things, serta 3D printing yang hadir dan menjadi sebuah realitas.

Pelajaran teramat penting kegagalan Nokia, Kodak dan Panasonic, sebagaimana dilansir www.philmckinney.com, yakni:

1) Sempit mendefinisikan usaha. Keengganan Nokia mengalihkan fokus dari bidang hardware ke bidang software membuat mereka kehilangan pasar. Kodak memilih asyik bermain teknologi kamera analog daripada berubah cepat ke teknologi digital, padahal merekalah yang pertama kali menemukan teknologi kamera digital.

2) Melupakan Customer. Mereka melupakan keinginan customer. Akibatnya, customer beralih ke kompetitor lain yang menawarkan teknologi terbaru (teknologi digital) yang memudahkan hidup mereka,

3) Bergerak lamban. Berinovasi memang sulit dilakukan bila perusahaan dalam kondisi aman, dan profitable. Salah satu kesalahan Nokia tidak segera merubah platform smartphone (OS) dari Symbian ke Operation System (OS) generasi berikut yaitu MeeGo. Langkah menjadikan Symbian sebagai OS yang bersifat Open Source untuk mengalahkan Android pada tahun 2008, terlambat. Demikian pula Kodak yang tidak memanfaatkan hasil penemuannya.

4) Tak mendengarkan masukan staff. Kodak, lebih dulu memprediksikan munculnya teknologi kamera digital. Mereka mengetahui teknologi tersebut, 20 tahun sebelum penjualan kamera digital mematikan kamera analog di tahun 2002. Tapi para manager Kodak tidak mendengarkan masukan departemen Market research bahwa perusahaan hanya punya waktu satu dekade untuk berubah ke teknologi digital.

5) Gagal mengembangkan budaya Inovasi. Awal sejarah Nokia berinovasi – dari sebuah pabrik kertas menjadi perusahaan elektronik dan menjadi produsen smartphone. Namun kemudian mereka menggantungkan usaha mereka di bidang Hardware. Mereka terlalu puas dengan kesuksesan yang telah mereka raih. Para pemimpin Kodak juga mengabaikan masukan karyawan mereka yang melihat teknologi digital sebagai sebuah peluang menjanjikan. Inovasi kadang bisa menjadi ancaman, namun kadang kita harus melepaskan sebuah produk atau layanan agar bisa bertransformasi ke layanan/ produk baru.

Hargyo Tri Nugroho Ignatius, S.Kom., M.Sc dosen UMN, menjelaskan Era Industri 4.0 menawarkan efisiensi waktu dan sumber daya, penghematan biaya, kenaikan pendapatan, kelincahan (agility), maupun inovasi bagi industri. Industri lama akan digantikan oleh industri gaya baru yang lebih efisien. Disrupsi ini harus diantisipasi dengan baik sehingga kita dapat melihat peluang-peluang baru di masa depan.

Sementara Suherman Soemardi – Business Development Blibli.com memandang bahwa kemunculan era disrupsi/Imdustri 4.0 menyebabkan semakin tingginya tingkat persaingan produk antar perusahaan, karena didorong oleh kecanggihan fasilitas dan pelayanannya. Contoh, semakin kesini, banyak toko-toko di pusat grosir Glodok gulung tikar akibat transisi konsep layanan secara modern dan digital, sementara mereka tidak mampu beradaptasi. Namun di saat yang sama, ternyata ditemukan segelintir toko yang masih bertahan. Ternyata pemilik toko tersebut telah merubah mindset berfikir ke arah penjualan produk dengan berbasiskan online.

Tingkat persaingan antar produk bagi kalangan industri sebenarnya suatu hal klasik, yakni mengenai harga, baik terjadi pada model sistem offline maupun online. Produk yang murah, efektif, efisien dan kecepatan dalam proses pengantarannya menjadi daya tarik konsumen. Sebagaimana telah diterapkan oleh Blibli.com, pertama kali mengusung istilah trust (kepercayaan). Ini menjadi modal dasar dalam membangun kepercayaan di antara pelanggan, yang membentuk jalinan kuat saling membutuhkan dan menguntungkan satu sama lain, tegas Suherman.

Dalam dunia perbankan ada hal yang spesifik. Menurut Ong Tek Tjan CEO Bank Sahabat Sampoerna : saya sebagai pelaku industri melihat isu desruptif sebagai suatu gejolak industri bukan sebagai suatu ancaman, justru ini adalah kesempatan. Artinya tepat bagi bank-bank melakukan suatu perubahan, apalagi perubahan itu didukung oleh environment yang justru sangat ditunggu pihak perbankan. Karena itu, harus terjadi proses transisi dari perbankan konvensional menuju ke perbankan digital. Banyak sekali yang berubah dan akan terus berkelanjutan. Saya melihat ada gerakan fintech di perbankan dan cukup ramai serta banyak yang berinvestasi di produk fintech tersebut. Hal itu tidak dapat dihindari dan perbankan harus terus bermetamorfosis menyesuaikan segala produk-produk yang ada untuk mampu beradaptasi.

Sikap Pendidikan dan Perguruan Tinggi?

Tujuan Pendidikan tinggi: Mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat berkemampuan akademik dan profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian; juga mengembangkan, menyebar luaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian serta mengoptimalkan penggunaannya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional. Sedang, Perguruan tinggi adalah kelembagaan untuk tujuan tersebut.

Dengan peran tersebut, perguruan tinggi yang merupakan terminal terakhir pendidikan formal tentu berkewajiban mensikapi Industri 4.0. Tantangan Industri 4.0 adalah ekonomi digital dan turunannya. Artinya teknologi digital niscaya menyebar di seluruh sektor ekonomi sebagaimana diuraikan di atas. Bahkan, majalah The Economist, menegaskan sebagian besar perusahaan menggunakan teknologi menjual produk mereka secara online. Sedang anjuran Parray (ILO, 2017), bahwa Indonesia perlu meningkatkan kualitas keterampilan tenaga kerja dengan teknologi digital.

Sementara problematik pendidikan tinggi kita antara lain : rata-rata APK pendidikan tinggi rendah (butuh akses yang luas), relevansi hasil pendidikan, dan mutu penyelenggaraan pendidikan tinggi dan pengelolaan perguruan tinggi untuk menghasilkan SDM yang berkualitas perlu mendapat perhatian. Disisi lain: biaya kuliah semakin mahal, jumlah dosen terbatas, sementara jumlah mahasiswa bertambah. Karena itu, penyelenggara pendidikan tinggi dan pimpinan perguruan tinggi wajib mendukung inovasi untuk menghadapi perubahan global dan memenuhi kebutuhan sumber daya manusia Indonesia yang kreatif, inovatif dan kompetitif Joko Widodo, 2017.

2017Prof. Intan Ahmad Dirjen Belmawa, Kemenristekdikti menegaskan pemerintah mempunyai kebijakan; 1) menyelaraskan paradigma Tridharma Perguruan Tinggi dengan Era Industri 4.0. Penyelarasan paling tidak melalui, yakni: 2) mendorong Science and Technology Index menjadi Pemeringkat Global; 3) meningkatkan kegiatan riset dan publikasi yang relevan dengan tema Industri 4.0; 4) perguruan tinggi wajib melaksanakan proses inovasi produk melalui inkubasi dan pembelajaran berbasis industri; dan 5) Reorientasi Kurikulum melalui pengembangan & pembelajaran model literasi baru (coding, big data, teknologi, humanities/general education), dikembangkan dan diajarkan kegiatan ekstra kurikuler. untuk pengembangan kepemimpinan dan bekerja dalam tim, serta jiwa wirausahawan dan intership, serta kemandirian yang matang. Kemudian 6) menerapkan format baru sistem pengajaran pendidikan jarak jauh (PJJ) berbasis Hybrid/ Blended Learning/Online.

Sisi lain yang penting disiapkan adalah kompetensi inti yang dimiliki setiap dosen sebagai ujung tombak dalam melahirkan generasi masa depan bangsa, yaitu para alumnus perguruan tinggi yang bermental kuat serta siap bekerja secara profesional, mandiri, kreatif dan berdaya saing. Optimalisasi Kompetensi Dosen 4.0 (SDID, 2018), meliputi aspek: 1. Kompetensi Pendidikan, 2. Kompetensi Riset (fundamental dan terapan), 3. Kompetensi komersialisasi hasil penelitian dan inovasi (hilirisasi), 4. Kompetensi dalam era global, yakni mampu berinteraksi dan berkontribusi secara global, 5. Kompetensi dalam memprediksi strategi masa depan, 6. Kompetensi dalam entrepreneurship.

Dosen harus Berubah

Sedang menurut Hargyo Tri Nugroho Ignatius, S.Kom., M.Sc., hal mendasar adalah paradigma berfikir dan bertindak seorang dosen harus berubah. Karena peran perguruan tinggi adalah sebagai pencetak sumber daya manusia terampil. Sementara ragam keterampilan yang dibutuhkan Industri 4.0 tak lagi sama dengan sebelumnya. Pada era canggih ini manusia dan mesin pintar akan berdampingan di tempat kerja. Implikasinya bukan hanya pada bisnis, namun pada masyarakat pada skala yang lebih luas. Maka seorang dosen perlu kembali menilik perannya sebagai pendidik, bukan hanya sebagai pengajar. Sebagai pendidik, dosen perlu mengupayakan agar pendidikan softskill yang membuat manusia berbeda dengan mesin – tercermin pada kegiatan pembelajaran yang mereka lakukan.

Dalam kaitan itu, maka pengembangan literasi kekinian yang bersinggungan dengan dosen, serta mahasiswa itu sendiri sangat diperlukan. Pengembangn literasi kekinian, mencakup : 1) Kemampuan membaca, menganalisis serta menggunakan informasi (big data) pada era dunia digital_machine learning : watch, buy and love; 2) Memahami cara kerja mesin dan aplikasi penerapan teknologi (Coding, Artificial Intelligence, Engineering Principles & Cyber Security); 3) Memahami aspek humanities, komunikasi, desain, entrepreneurship dan kreatifitas

Lebih jauh Prof. Intan berpendapat perguruan tinggi harus mampu mencari metode khusus guna peningkatan kapasitas kognitif para mahasiswa melalui cara berfikir kritis dan sistemik dan pengembangan keterampilan yang bersifat mental spiritual. Disinilah peran dosen mengembangkan gagasan pengembangan model literasi manusia, khususnya bagi mahasiswa paling tidak mencakup:

  • Keterampilan, melalui teknik kepemimpinan (leadership) dan siap bekerja dalam tim (team work).
  • Kelincahan dan kematangan kebudayaan (cultural agility), memahami bahwa semua mahasiswa beragam dengan berbagai latar belakang mampu bekerja dalam lingkungan yang berbeda (di dalam atau di luar negeri).
  • Wirausahawan, termasuk di dalamnya adalah jiwa sosial wirausaha (social entrepreneurship); merupakan kapasitas dasar yang sebaiknya dimiliki oleh semua mahasiswa.

Itulah hal-hal yang perlu dikembangkan dan diterapkan menghadapi era Industri 4.0 dengan terus memberikan arahan dan keyakinan kepada penyelenggara, pengelola, dosen dan mahasiswa, khususnya literasi baru yang akan membuat mereka mampu berkompetitif pada sistem perekonomian kontemporer dengan berdasarkan pada teknologi kekinian.

Menguatkan uraian ini, kami sajikan pendapat mereka dalam wawancara berikut. (by: lili irahali)

Belajar Keuangan Konsolidasi di Pertamina

Puluhan mahasiswa Program Pascasarjana Akuntansi Universitas Widyatama Bandung melakukan kunjungan perusahaan ke Kntor Pusat Pertamina di jl. Medan Merdeka Timur 1A, Jakarta pada Kamis (17/5/2018). Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa mendapat pemaparan materi dari Manager Institutional Relations Pertamina, Muhammad Baron dan Manager Financial Reporting, Agus Susanto.

Manager Institutional Relations, Muhammad Baron menyambut hangat kehadiran mahasiswa Pascasarjana. Ia menjelaskan, kegiatan kunjungan mahasiswa menjadi salah satu sarana bagi Pertamina menjalin hubungan baik dengan institusi pendidikan. Dalam kesempatan itu, ia juga memaparkan materi tentang bisnis dan kiprah Pertamina bagi bangsa ini.
Sementara itu, Manager Financial Reporting, Agus Susanto memberikan materi mengenai proses penyusunan laporan keuangan konsolidasi Pertamina. Menurutnya, penyelesaian laporan keuangan konsolidasi Pertamina memiliki strategi audit, yakni: internal audit dan eksternal audit.

“Kami bukan hanya mengerjakan keuangan yang ada di PT Pertamina (Persero) saja, namun seluruh anak perusahaan juga kami kontrol. Oleh karena itu, audit keuangan yang kami lakukan begitu kompleks. Strategi yang Pertamina lakukan untuk mengaudit keuangan adalah dengan menggunakan internal audit maupun eksternal audit,” jelas Agus.
Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama, Dr. R. Wedi Rusmawan mengungkapkan apresiasinya karena Pertamina bersedia menerima mahasiswa. Ia berharap kegiatan kunjungan ini dapat diimplementasikan mahasiswa profesi maupun magister di dunia kerja. Kunjungan perusahaan. Merupakan kegiatan rutin bagi mahasiswa Profesi Akuntansi atau Magister Akuntansi Universitas Widyatama. Mudah-mudahan apa yang diperoleh saat kuliah dapat diimplementasikan di dunia kerja dan pastinya menambah pengalaman bagi seluruh mahasiswa yang hadir,” ucapnya. (Hms, 07Jun2018)

Pandai Berstrategi melalui Kuliah Umum “Successful Execution Strategy in Digital Era”

Strategy in digital era

Program Studi S1 Manajemen Fakultas Bisnis dan Manajemen (FBM) menyelenggarakan Kuliah Umum Manajemen Strategik dengan tema “Successful Execution Strategy in Digital Era (Strategic Thinking in a Distruptive Era)” pada hari Rabu (16 Mei 2018) di Ruang Seminar Lantai 4 Gedung A. Kegiatan yang dihadiri dosen-dosen Manajemen Strategik dan hampir 140 mahasiswa ini merupakan suatu wadah khususnya bagi mahasiswa UTama untuk mengetahui implementasi teori Manajemen Strategik dalam prakteknya di dunia bisnis, terutama di Era Digital yang sangat dinamis, penuh tantangan. Melalui kuliah umum ini diutarakan strategis mengeksekusi bisnis dengan sukses dan mencapai tujuan perusahaan yang berdaya saing. Selain untuk menambah pengetahuan mahasiswa, kegiatan ini pun diharapkan mampu menumbuhkan karakter-karakter positif yang mendukung kesuksesan mahasiswa.

Pada kesempatan tersebut Program Studi S1 Manajemen (FBM) mengundang praktisi / expert di bidang Manajemen Strategik sebagai narasumber, yaitu Rizqi Ayunda Pratama yang merupakan Chief Executive Officer (CEO) dari PT INTI Konten Indonesia (INTENS). INTENS merupakan anak perusahaan PT INTI (Persero) dan didampingi moderator Vina Silviani Marinda Dosen Manajemen Strategik di FBM.

Pria kelahiran Aceh 08 Februari 1989 ini memaparkan pengalamannya dalam manajemen strategik dan mengelola perusahaan yang dipimpinnya sehingga mampu sukses dalam menjalankan strategi bisnisnya. Menurutnya sebagai salah satu unsur dari manajemen perusahaan, dalam menyusun dan mengimplemetasikan strategi perusahaan tidak boleh hanya memandang penting faktor lingkungan eksternal seperti konsumen dan pesaing saja, tetapi juga faktor lingkungan internal, seperti SDM, team work, culture, lingkungan kerja dan proses bisnis, harus menjadi fokus.

Ia juga menceritakan Top 10 International Company yang telah berhasil dalam mengeksekusi strategi bisnisnya seperti Amazone.com, Google, dan Uber. Pria yang telah berhasil meningkatkan performa perusahannya hingga 800% ini menekankan bahwa diperlukan attitude yang sempurna dalam segala kondisi agar sukses dalam menjalankan strategi, yaitu: integrity, responsibility, creativity & innovation, dsb.

Kuliah umum berlangsung sangat kondusif dan efektif, serta didukung mahasiswa yang sangat kooperatif, aktif, dan penuh semangat. Ditutup oleh jargon disampaikan Moderator dan diikuti oleh para mahasiswa yaitu “Siap, Siap, Bisa!”, semua memper-siap-kan diri, semua siap merencanakan dan mengeksekusi strategi, semua bisa menjadi CEO Muda yang sukses! (Vina Silviani Marinda/FBM) (Hms, 24Mei2018)

Pikiran Rakyat dan Komunita Bersinergi Melalui Pelatihan Jurnalistik

Peran media sebagai penyebar informasi faktual dan memenuhi kaidah media dikaji tuntas pada Pelatihan Jurnalistik Civitas Academica Widyatama yang diselenggarakan oleh majalah Komunita Widyatama pada 8 Juni 2018 di Ruang Theater Gedung B Lantai 6 Universitas Widyatama. Komunita merupakan media komunikasi yang dimiliki Yayasan Widyatama guna menyampaikan informasi tentang pendidikan tinggi, serta berbagai kegiatan Widyatama.
Nugroho Hardiyanto, selaku redaktur utama mengatakan tujuan dari kegiatan ini agar Civitas Academica mendapatkan pengetahuan tambahan teknik wawancara, menulis serta keredaksian yang sesuai dengan EYD.
Pada kesempatan ini, Wakil Ketua Pimpinan Redaksi Pikiran Rakyat, Erwin Kustiman memaparkan materi jurnalistik dengan tema “Menulis Artikel Opini di Media Massa”. Berbagai tips menulis disampaikan secara terbuka mulai dari menulis pers release yang efektif, menghindari Writers Block (hambatan dalam menulis), menulis artikel popular sampai menyunting naskah.

pelatihan jurnalstik

Puluhan peserta menghadiri pelatihan ini, diantaranya dosen dan mahasiswa. Memahami geliat literasi sedang digalakan kembali, Komunita menggelar kegiatan ini untuk membangun brand image Universitas Widyatama dan menangkal berita hoax yang saat ini sangat dengan mudah disebarluaskan.(Hms, 08Jun2018)

Dosen Fakultas Bisnis & Manajemen Edukasi Masyarakat Melalui Tridharma PT

Edukasi Masyarakat Melalui Tridharma PTSabtu (21/4) Sebanyak 59 Dosen Program Studi D-3 Manajemen bersama beberapa mahasiswa yang aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Kewirausahaan melakukan bakti sosial di Desa Ciburial, Kabupaten Bandung. Mengangkat tema Social and Education 2.0 (Sotion 2.0), di mana masyarakat diberikan edukasi sosial. Terdapat dua acara inti: pemaparan materi mengenai Koperasi Serba Usaha dan bakti sosial dengan kegiatan berbentuk pembagian sembako dan penyerahan peralatan sholat (sarung, mukena, sejadah, iqro, Al Qur’an dan uang tunai).

Edukasi Masyarakat Melalui Tridharma PT 2

Ketua Program Studi D-3 Manajemen Lasmanah, S.E., M.Si menuturkan kegiatan ini diharapkan dapat memberikan efek yang positif, terutama kepada warga desa setempat dengan diadakannya acara PKM dan bakti sosial ini.
Lebih dari 50 warga Desa Ciburial mengikuti acara yang memiliki tujuan mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan keterampilan sebagai sarana aktualisasi diri mahasiswa untuk membantu sesama. Lasmanah menambahkan diharapkan ke depan dapat diadakan kembali acara kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini dengan jumlah peserta yang jauh lebih banyak dan menjadi event tahunan. (Hms, 05Mei2018)

Japan Community Widyatama Selenggarakan Sashimi X “Mecha”

Japan Community Widyatama Selenggarakan Sashimi X “Mecha”

Mahasiswa Universitas Widyatama yang tergabung dalam Unit Kegiatan Community Widyatama menyelenggarakan Pekan Budaya Jepang melalui kegiatan Sashimi “Mecha” yang ke sepuluh kalinya. Kegiatan Sashimi ini rutin diselenggarakan tiap tahun sebagai ajang mengenal culture dan mengekspresikan kebudayaan Jepang yang dipelajari selama perkuliahan.
Sashimi ke X yang mengusung tema “Mecha” ini mengelar: kompetisi, demo kesenian budaya Jepang dan entertainment. Kompetisi meliputi cover dance, cosplay, kompetisi band dan cover sing dengan peserta setingkat SMA se-Jawa Barat. Acara puncak Sashimi Mecha dikunjungi oleh lebih dari 500 orang dari kalangan umum.

Acara yang diselenggarakan di Gedung Auditorium (GSG) Widyatama pada sabtu (28/4) ini dimeriahkan oleh beberapa guest star band antara lain: Lunatic Tokyo, Eyivose, Sam site, Umbrellatime, Recode, Thousandsunny dan Kirari. Stand-stand bernuansa kejepangan turut meramaikan area Gedung Auditorium mulai dari aksesoris hingga kuliner. (Hms.11Jun2018)

sashimi mecha