Program Studi Sastra dan Bahasa Jepang Universitas Padjajaran bekerjasama dengan The Japan Foundation kembali menggelar Pekan Bahasa & Budaya Jepang ke-43 pada 5-6 Mei 2017 di Aula Pusat Studi Bahasa Jepang (PSBJ) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjajaran Kampus Jatinangor. Kegiatan yang pertama kali digelar pada tahun 1974 ini mendorong semangat penguasaan bahasa Jepang melalui budaya.
Tahun ini penyelenggara menggelar beberapa mata lomba yakni : Kana, Kanji, Chokai, Sakubun, Speech Contest, Karaoke dan Quiz yang diikuti setidaknya 240 peserta dari beberapa perguruan tinggi, antara lain : Unpad, UPI, STBA Yapari ABA, Universitas Widyatama, UNIKOM, Universitas Maranatha, UNAS-Pasim dan STIBAINVADA.
Berbagai lomba dan kontes yang digelar bertujuan mcningkatkan gairah mahasiswa untuk berperan aktif di dalam penguasaan bahasa Jepang serta lebih mengenal budaya Jepang. Dari 8 mata lomba, Universitas Widyawna mengirimkan setidaknya 29 (duapuluh sembilan) mahasiswa. Tercatat 1(satu) orang mahasiswa Widyatama meraih Juara 3 pada mata lomba “Sakubun” yakni Rizlci Prabowo.
Sivicas Akademika Universitas dan Yayasan Widyatama mengucapkan sdarnat bagi mahasiswa yang meraih prestasi terbaik, semoga dikompetisi mendatang dapat berprestasi lebihbaik lagi.1910512017 (Ming)
Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABP PTSI) menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) IV di Hotel Puri Saron,Seminyak. Dalam Munas yang diadakan setiap 5 tahun sekali itu hadir 391 perguruan tinggi swasta seluruh Indonesia. Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla dalam sambutannya mengatakan, suatu negara yang maju tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alamnya tapi juga sumber daya manusianya. SDM yang hebat ditentukan oleh pendidikannya. ABP PTSI memiliki peran yang penting dalam mencerdaskan bangsa.
Dengan banyaknya perguruan tinggi di Indonesia yaitu 4.400 lebih, ia menyadari persaingan pun semakin ketat. Persaingan cenderung mengarah ke pendidikan yang lebih mudah dan cepat, sehingga mengabaikan kualitas dan mengabaikan masa depan anak didik. Maka PTS diharapkan dapat meningkatkan kualitasnya.
Munas ke-4 ini berlangsung selama 2 hari, dari 17 hingga 18 Juli dengan mengangkat tema “Revitalisasi dan Redinamisasi Organisasi”. Ketua Panitia Munas IV, Drs. AA. Gde Oka Wisnu Murti, M.Si., mengatakan Munas merupakan amanat tertinggi dari ABP PTSI sesuai dengan AD/ART. Munas ke-4 dikatakan istimewa karena pertama kali dilaksanakan diluar Jakarta dan dibuka oleh Wakil Presiden RI didampingi Menristik Dikti dan Menteri Agama.
Dalam munas ada 3 pembahasan pokok yang dibahas yaitu, pembaharuan dan penyempurnaan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) organisasi, menyusun rekomendasi-rekomendasi yang nanti akan masuk dalam komisi khusus, pertanggung jawaban pengurus pusat terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan selama 4 tahun ke belakang, dan pemilihan ketua umum periode 2017/2021.
Ketua Umum AB PTSI, Prof Dr.Thomas Suyatno mengatakan, dalam munas nantinya ada 21 pokok permasalahan perguruan tinggi yang akan dibahas. Sekaligus merumuskan strategi mengatasi dan memecahkan 21 permasalahan tersebut. Oleh karena itu, dalam memecahkan permasalahan tersebut juga diundang Menristek Dikti. Dari 21 permasalahan tersebut, permasalahan yang mendesak untuk segera dibahas adalah kualitas PT disegala bidang. Kualitas pendidikan tinggi ditentukan 4 variabel yang memerlukan perhatian khusus, yaitu kualitas manajemen, SOM, penditian dan pengabdian kepada masyarakat (PKM), serapan output/lulusan didunia kerja.
Dari 21 masalah PTS, juga dibahas permasalahan tentang wacana merger, penggabungan yayasan dua atau lebih bergabung menjadi satu. “Dulu alih tata kelola PT dilarang, tapi dengan terbitnya Permen No.100 tahun 2016, memungkinkan untuk penggabungan,” katanya. (CittaMaya/balipost)
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Per 29 Juli 2017, 4ICU merilis 20 perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Peringkat pertama adalah Universitas Gadjah Mada. Disusul Universitas Indonesia dan Institut Pertanian Bogor. Jika melihat daftar itu, mungkin ada yang bertanya sambil mengerutkan dahi.
Menyikapi pemeringkatan seperti itu, yang harus kita perhatikan adalah lembaga yang memberi peringkat. Ada banyak lembaga pemeringkat Perguruan Tinggi di dunia dengan masing-masing metodologi. Selain 4ICU ada QS World University Ranking, yang pada 2016/2017 mendudukkan Universitas Indonesia sebagai peringkat pertama, disusul Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Gadjah Mada. Sistem QS sekarang terdiri atas keseluruhan dan juga mata kuliah peringkat global, dalam lima regional independen (Asia, Amerika Latin, Eropa dan Asia Tengah, Wilayah Arab, dan BRICS).
Ini adalah satu-satunya peringkat internasional yang telah menerima persetujuan dari International Ranking Expert Group (IREG), dan menjadi satu dari beberapa pemeringkatan yang paling banyak dibaca, selain Academic Ranking of World Universities and Times Higher Education World University Rankings.
Sedangkan 4ICU yang sekarang berubah menjadi uniRank, merupakan sebuah direktori pendidikan tinggi internasional yang meninjau perguruan tinggi dan kolese terakreditasi di dunia. UniRank mencakup 13.000 Perguruan Tinggi dan Universitas, yang diurutkan berdasarkan popularitas web di 200 negara. Karena itu metode ini sering disebut juga dengan webometric.
Peringkat universitas versi UniRank saat ini didasarkan pada algoritma termasuk 5 metrik web yang tidak bias dan independen yang diambil dari empatsumber kecerdasan web yang berbeda, yakni Moz Domain Authority, Alexa Global Rank, SimilarWeb Global Rank, Majestic Referring Domain, Majestic Trust Flow.
Dalam situsnya (4icu.org), tujuan dari pemeringkatan itu adalah untuk memberikan perkiraan peringkat popularitas perguruan tinggi dan kolese dunia berdasarkan tujuan dari pemeringkatan itu adalah untuk memberikan perkiraan peringkat popularitas perguruan tinggi dan kolese dunia berdasarkan popularitas situs web mereka yang dinilai dari popularitas lalu lintas.
Mereka mengakui bahwa peringkat mereka bukan peringkat secara akademis sehingga sebaiknya tidak diadopsi sebagai kriteria utama untuk memilih sebuah organisasi pendidikan tinggi tempat belajar.
Lalu, apa yang bisa dipetik dari pemeringkatan versi uniRank ini? Dalam blognya, Ipan Pranashkati, staf pengajar dari UII yang juga menekuni dunia webometric, menyarankan untuk menjadikan pemeringkatan ini sebagai benchmarking, untuk melihat sejauh mana perkembangan optimalisasi media daring dari perguruan tinggi lain, bagaimana manajemennya, bagaimana pemberdayaannya, bagaimana kepeduliannya, bagaimana menjadikan stakeholder optimal berpartisipasi di media daring termasuk cara penggunaan yang efektif.
“Anggap itu bukan ‘penilaian’ tapi melihat sebagai ‘peluang perbaikan’,” katanya.(*)
Peringkat webometric edisi juli 2017, untuk 4icu edisi Juli 2017, Universitas Widyatama berada pada peringkat 15 secara nasional versi 4icu , naik 25 peringkat setelah sebelum nya (Januari 2017) menempati urutan ke 44 versi 4icu.
Sumber : http://www.tribunnews.com/nasional/2017/08/01/ini-peringkat-20-perguruan-tinggi-terbaik-di-indonesia-saat-ini
Joseph Schumpeter 1942 mengemukakan creative destruction yang menyatakan bahwa proses mutasi industri terus menerus merevolusi struktur ekonomi dari dalam, terus menerus menghancurkan yang lama tanpa henti dan menciptakan yang baru. Setelah industri buku yang dimulai dengan Amazon (1995), industri film dengan Netflix (1997), industri komunikasi dengan Whatsapp (2009), lndustri transportasi dengan Uber (2009) dan Gojek(2011), kini creative destruction mulai masuk ke industri keuangan menggunakan teknologi keuangan. Namun teknologi keuangan bukan merupakan fenomena baru karena teknologi keuangan dimulai dengan adanya telegraph (1983), trans- atlantic cable (1865), exhange goods using credit (akhir 1800), fedwire (1918), diners credit card (1950), sistem pasar modal (1960), telex (1966), clearing house (1970), nasdaq (1971), swift (1973), online brokerage (1982), online banking (1983), onlineshopping (1984), FinTech coin (1993), FinTech consortium (1993), internet banking (1998), paypal (1998), alibaba (1999), wealthfront (2008), Mpesa (2008), square (2009), apple pay (2014), samsung pay (2015) dan smile to pay (2015) (New YorkTimes&Arner).
Dengan adanya creative destruction, berkembanglah teknologi keuangan yang biasa di sebut Financial Technology disingkat FinTech yang akan merubah dunia dengan kelebihan kelebihannya disamping kelemahan yang diakibatkan terlambatnya regulasi/ aturan yang belum ada.
Financial Technology /FinTech
Evolusi teknologi keuangan pada dua dekade yang lalu dimulai dari perbankan namun sekarang terjadi inovasi teknologi dari sisi pengguna sehingga menjamurnya teknologi keuangan (FinTech) seperti terlihat padagambar dibawah ini :
Posisi FinTech ( Financial Technology )
FinancialTechnology mengandung 2 unsur kata yaitu Financial dan Technology sehingga dapat disimpulkan menjadi inovasi dalam bidang finansial yang mengadopsi sentuhan teknologi modern. FinTech merupakan fenomena perpaduan antara teknologi dengan fitur keuangan yang mengubah model bisnis dan melemahnya barrier to entry. National Digital Research Centre (NDRC) mendefinisikankonsep FinTech mengadaptasi perkembangan teknologi yang dipadukan dengan bidang finansial dimana diharapkan bisa menghadirkan proses transaksi keuangan yang lebih praktis, aman serta modern. FinTech menggambarkan sebuah industri bagi perusahaan – perusahaan yang menggunakan teknologi untuk membuat sistem keuangan menjadi lebih efisien. FinTech adalah sebuah segmen dari dunia startup yang memiliki fokus untuk memaksimalkan penggunaan teknologi guna mengubah, mempercepat atau mempertajam berbagai aspek dari layanan keuangan yang tersedia saat ini. Mulai dari metode pembayaran, transfer dana, pinjaman, pengumpulandana, hingga pengelolaan aset.
Terminologi FinTech ( Financial Technology )
Dari gambaran diatas terlihat bahwa istilah FinTech tidak mengacu pada pengertian kelembagaan atau institusi atau instrumen keuangan atau pembayaran tertentu. FinTech merupakan terminologi yang umum dengan cakupan pengertian yang luas.
Financial Stability Board membagi FinTech kedalam 4 katagori berdasarkan jenis inovasinya yaitu
Deposit, Lending, Capital raising yang terdiri dari crowdfunding dan Peer to peerlending
MarketProvisioning misalnya e-Aggregators
Investment and Risk Management misalnya robo advice, e-trading, dan insurance
Payment, clearing and settlement misalnya mobile payment contohnya P2P transfer, apple/ samsung payment, Web-based payment misalnya (invoice payment, paypal), termasuk digital currency.
Pengkategorian ini bersifat non exaustive yaitu sebuah model bisnis FinTech dapat mempunyai lebih dari satu kategori dandapat masukdalam lebihdari satu kategori Technology return membagi FinTech berdasarkan, data, equity / debt,asset management dan services sebagai berikut:
Kategori-FinTech ( Financial Technology )
Perusahaan FinTech dunia dan FinTech di Indonesia berdasarkan kategori flnancial stability board adalah sebagai berikut:
Pemain dalam FinTech
Dengan meningkatnya FinTech di Indonesia, posisi transaksi FinTech di Indonesia dibanding dengan beberapa negara lainnya adalah sebagai berikut:
Posisi transaksi FinTech
Keberadaan FinTech dalam sistem keuangan formal pada awalnya mereplikasi model bisnis keuangan formal khususnya perbankan namun dengan daya inovasi dan kemampuannya dalam menjangkau kebutuhan finansial yang belum terjangkau oleh industri keuangan khususnya industri perbankan, telah menimbulkan pertanyaan apakah keberadaan FinTech akan menggantikan atau mendukung lembaga keuangan yang formal. Berikut ini adalah jasa jasa lembaga keuangan formal dimana terlihat sudah mulai Research Equity Finance dimasuki oleh FinTech.
Peran Lembaga Keuangan formal yang dimasuki FinTech
Masuknya?FinTech dalam lembaga keuangan formal tidalk terlepas dari kelebihan FinTech berlkut :
Kelebihan FinTech diatas menyebabkan adanya peluang berkembangnya?FinTech karena murah, cepat, dimanapun, kapanpun dan melalui bentuk apapun.
Keunggulan FinTech Jasa perbankan pertama belum ada regulator dan biaya IT yang lebih rendah (unregulated), kedua Lebih mudah memanfaatkan big data dalam melakukan assesmen terhadap risiko dan dalam pengambllan keputusan, ketiga lebih mudah dalam mendiversifikasi risiko melalui sharing economics.
Keunggulan FinTech dimbangi dengan kekurangan berupa manajemen risiko, permodalan, belum terlalu dipercaya masyarakat, kurangnya perangkat hukum bila terjadi sengketa, perlindungan konsumen karena masih baru, baru pada taraf perijinan, belum bisa menggantikan peran perbankan dalam industri keuangan yang lebih syabil karena diawasi regulator dan memilki tata kelola perusahaan yang lebih teruji.
Penutup
Creative destruction adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari, berkembanganya teknologi informasi mempercepat terjadinya keusangan produk dan jasa sehingga perkembangan FinTech akan terus meningkat didukung oleh pengguna smartphone yang terus meningkat, sehingga masyarakat lebih mudah mengakses produk produk di bidang keuangan, mempermudah dan mempercepat transaksi serta meningkatkan literasi keuangan. Tantangan terbesar FinTech di Indonesia adalah regulasi, regulasi yang ketat akan melindungi pasar namun akan sulit tumbuh karena terlalu di proteksi sehingga menghambat inovasi. Pemerintah sebaiknya membuka aturan terbuka yang tidak membatasi inovasi tapi masih dapat melindungi industri dan konsumen.
Pada tanggal 24 Juli 2017 lalu Pusat Karir Universitas Widyatama menerima kunjungan Pusat Karir dan Alumni Universitas Nusa Bangsa Bogor untuk melakukan studi banding. Rombongan tamu yang hadir pada kesempatan tersebut : Ibu Karmanah (Ka.Biro Humas Promosi), Ibu Nia Yuliani (Ka. Pusat Karir dan Alumni), Ibu Nia (Ka.Kepegawaian), Bpk. Agung (Staff Pusat Karir), Bpk. Nurdin (Staff Pusat Karir)Kegiatan studi banding ini diterima langsung Wakil Rektor Akademik,Perencanaan dan Kerjasama bersama Kepala Pusat Karir dan didampingi oleh para dekan dan kepala biro/pusat Universitas Widyatama. Studi banding dimaksudkan melihat sekaligus belajar dari pusat karir Universitas Widyatama sebagai koordinator pusat karir Jawa Barat yang ditunjuk oleh Dirjen Belmawa Kemenristek Dikti. Acara tersebut dilakukan di ruang rapat rektorat dari pk!. 10.00-13.00 dan dilanjutkan dengan keliling kampus melihat sarana dan prasarana Universitas Widyatama.(Mktg}
Universitas Widyatama (Utama) melalui Biro Marketing mengadakan kerjasama tahunan dengan bimbel Tridaya. kerjasama tahun ini diawali pelatihan kepada guru-guru Tridaya dari SD sampai dengan SMA. bimbel dengan motto “BeFun and Smart with Us? ini merupakan penyuluhan pendidikan yang diisi pembicara dari praktisi dan akademisi. Hadir sebagai pembicara Dr. Sandi Budi lriawan ST.M.Pd, akademisi dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Miss Dwi sebagai pengisi acara Internal (Tridaya). Ufarnahadir berkontribusi dengan penjabaran visi dan misi serta tata nilai Universitas. Ada garis irisan antara tujuan bimbel dengan tujuan Utama yaitu mahasiswa berkualitas, maka kerjasama ini ditekankan dengan pembelajaran yang out of the box. Calon mahasiswa tidak mungkin sepenuhnya di Universitas Negeri sebagai acuan.
Kerjasama Bimbel Tridaya Bandung
Perubahan stigma calon mahasiswa yang mengikuti bimbel (bimbingan belajar) dengan keluaran yang berkualitas dikampus yang berkualitas tidak hanya diperguruan tinggi negeri.”Tidak banyak pula siswa kami yang berkualitas, mencari kampus swasta yang berkualitas serta memiliki fasilitas dan kurikullum yang up to date. Seperti Widyatama, adanya revolusi kurikulum dari beberapa program studi menjadikan UTama melekat dihati siswa kami”, ujar Miss Dwi selaku panitia internal Tridaya Kerjasama difinalisasi dengan penandatanganan MOU (Memorandum of Understanding) ini merencanakan promosi bersama ke depannya. Kedua belah pihak sepakat akan melaksanakan beberapa kegiatan untuk satu tahun akademik ke depan. (mkt, 2310312017)
Hadirnya perekonomian global yang meresap clan dirasakan pula di Indonesia celah merubah paradigma budaya yang diterapkan perusahaan. Tidak hanya paradigma perusahaan yang men”global”kan budaya kerja, namun juga bahasa. Bahasa merupakan instrumen penting dan alat komunikasi berbisnis di dunia usaha.
English Club (EC) UTama menyelenggarakan acara GROW. GROW adalah kegiatan annual dengan rangkaian acara seminar clan lomba bahasa lnggris. Seminar yang diisi beberapa pembicara yang telah “melanglangbuana” di bidangnya ini menyedot ancusias racusan mahasiswa UTama maupun mahasiswa eksternal di lingkungan kota Bandung. Pembicara adalah :Rudiniyadi, S.Pd (Penerima Beasiswa Pendidikan Jerman); FounderandPresidentDirectorRussellSprachuk andCorporate TrainingCollege; Viktor Asih, Ir., MBA., MT (Founder clan Mentor Tetap Sekolah Bisnis Gratis USB School, Motivator and lnspirator), Ayu Gani (Model, Winner of Asia s Next Top Model Cyck 3 2015) serta Moderator Fikri Alwi Hasan yang juga merupakan staff dari Biro Marketing Utama.
Setiap pembicara tidak hanya sharing perihal ilmu berbahasa lnggris, mereka pun berbicara pengalaman di bidang pendidikan, kewirausahaan clan fashion dalam lingkup penggunaan berbahasa. Ayu Ghani berbicara bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang cerdas dengan berbagai inovasinya, namun adanya “gap” yaitu bahasa. Bahasa membuat Bangsa Indonesia kalah unggul clan bersaing dalam program inovatif dunia. Hal yang sama pun terjadi dengan yang dialami oleh Rudi, ia sempat melihat banyak program inovatif Indonesia yang diakui bangsa lain karena bangsa Indonesia kurang menguasai bahasa asing (dalam konteks bahasa Inggris), faktor tersebut yang menggerakan Rudi membuat inisiatif membuka forum gratis speaking class setiap minggunya di tempat les yang ia rintis sekarang.
Seminar yang digelar di GSG Widyatama ini merupakan rangkaian acara lomba speech contest yang dilaksanakan Rabu, 13April 2017. Pemenang lomba kategori SpeechContest diraih :Juara 1: Rizky dari Universitas Komputer, Juara 2 :Andrian Gandhi dari Universitas Widyatama, Juara 3 :Daniel dari Universitas Widyatama.
Dengan tema “how to ApplyEnglishfrom our daily life” panitia English club berharap penggunaan Bahasa Inggris di Indonesia tidak menjadi sesuatu yang asing bagi kita. Kesulitan berbahasa dapat dikemas menjadi sesuatu yang menyenangkan dengan istilah “learning by doing” yang diimplementasikan dikehidupan sehari-hari.2510412017 (Mktg)
Minggu (26/2) Fakultas Desain Komunikasi Visual/ FDKV Universitas Widyatama bekerjasama dengan Bimbingan Belajar SR 104 menggelar Tryout menuju seleksi mahasiswa baru Program Studi Seni Rupa di lnstitut Teknologi Bandung (ITB). Kegiatan berlangsung di Gedung B lantai 5 & lantai 6 Universitas Widyatama ,setidaknya 100 orang hadir sebagai peserta. Kegiatan ini dimaksudkan agar peserta mendapatkan bekal sebelum masuk ke seleksi sebenarnya di ITB pada 17dan 18 Meimendatang.
Acara diawali sambutan Dekan FDKV Widyatama, Dr.Anne Nurfarina,S.Sn., M.Sn. dilanjutkan dengan sambutan sekaligus pemaparan teknis Tryout dari Bimbingan Belajar SR 104, Bapak Aris. Tryout sendiri berlangsung kurang lebih selama 120,dengan dibagi 2 tahap seleksi Kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan sejak tahun 2013.Disela-sela kegiatan, peserta dimanjakan dengan pameran gallery hasil karya mahasiswa/i Fakultas Desain Komuniukasi Visual di sekitaran koridor Gedung B Lantai 5 Universitas Widyatama.
FDKV memiliki Program Studi Desain Grafis dan Multimedia yang dibina oleh para dosen tetap alumni FSRD ITB yang telah menempuh program Magister dan Doktor, serta aktif sebagai praktisi / profesional di industri DKV sehingga mahasiswa/i di Universitas Widyatama tidak sekedar menimba ilmu teori tapi sekaligus menyerap pengalaman mutakhir dari dunia profesi yang sangat dinamis. (mkt,01/ 03/2 017}
SMK Negeri 1 Cimahi mendominasi Ajang Widyatama Informatic Festival 2017. Setelah sukses dengan pelaksanaan Widyatama Informatics Festival (Wlfi) pada tahun 2016 lalu, Program Studi Teknik lnformatika beserta Himpunan Mahasiswa teknik informatika Universitas widyatama kembali mempersembahkan WIFi 2017 yang diselenggarakan pada 16-18 Maret 2017, bertempat di Ruang Theater dan Gedung Auditorium (GSG) Widyatama.
WIFi merupakan event tahunan yang diselenggarakan Program Studi Teknik lnformatika Univeristas Widyatama, yang pertama kali diselenggarakan pada tahun 2010. Kali ini, WIFi 2017 mengusung tema ”Show your Passion in The Future of Technology’: dengan harapan Program Studi mampu memperkenalkan pengetahuan seputar teknologi yang sedang berkembang pada era lnformatika dewasa ini, terlebih untuk memperkenalkan program studi Fakultas Teknik lnformatika Universitas Widyatama.
Kegiatan berlangsung selama 3 hari. Hari pertama dan kedua merupakan Perlombaan untuk siswa/i SMA/SMK/MA sederajat, Mahasiswa dan Umum dilaksanakan pada tanggal 16 & 17 Maret 2017. Jenis? perlombaan yang dilaksanakan adalah: Programming : perlombaan untuk menguji kemampuan para siswa/I SMA/SMK dalam bidang perograming. Lomba programming sendiri menggunakan Bahasa C/Java sebagai Bahasa pemograman untuk perlombaannya; Web Design : perlombaan untuk melihat kreatifitas siswa/i SMA/SMK dan Umum dalam mendesain sebuah tampilan website; Networking : perlombaan untuk siswa/i SMA/SMK untuk menyelesaikan studi kasus tentang permasalahan jaringan komputer.
Pada hari ketiga, pengumuman pemenang sekaligus Seminar untuk siswa/I SMA/SMK/MA sederajat, serta Mahasiswa dan Umum. Acara seminar dibuka Wakil Dekan Fakultas Teknik Universitas Widyatama Dr. Savitri Galih, S.Si., M.T. dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Program Studi Teknik lnformatika Universitas Widyatama Sriyani Violina S.T., M.T. Bertindak sebagai pembicara Fajar Eri Dianto (Ketua Umum Relawan TIK), Andri Yadi (CEO-Co Founder PT. Dycode Cominfotech Development) dan Wiradeva Arif Kristawaman (CPO-Co Founder Agate Studio). Pada penyelenggaraan WIFi tahun 2017, dari 3 mata lomba yang diikuti 10 sekolah, yang berhasil memenangkan perlombaan adalah : Lomba Web Design, Lomba Networking, dan Lomba Programming diraih SMK Negeri 1 Cimahi. 10/04/2017 (Mktg)
Guru Besar UPI dalam Bidang Literasi, Bahasa & Sastra lnggris
Gonta-ganti personil dalam suatu pemerintahan merupakan hal yang biasa kita saksikan dari waktu ke waktu dan dari masa pemilihan pimpinan yang satu ke masa pemilihan yang lainnya. Sering kali mungkin kita pertanyakan apa alasan penggantian seseorang dengan yang lainnya: pertimbangan apa yang merupakan motif utama penggantian itu Mungkin tentang pengetahuan pada bidang garapannya Mungkin keterampilan mengelola sumberdaya yang berada pada bidang tanggung jawabnya Atau mungkin cara orang tersebut menghubungkan diri dengan orang lain baik di dalam maupun di luar lingkup ruang gerak pekerjaan sehari-harinya … Bisa jadi semua ini merupakan modal penting bagi nasib peruntungan seseorang dalam profesi yang dijalaninya.
Hal serupa itu juga terjadi pada bidang pendidikan dan pengajaran serta kurikulum yang mengarahkannya. Kurikulum dikatakan mengarahkan gerak pendidikan dan pengajaran karena memang tugas strategis kurikulum demikian adanya: memberikan garis haluan dan parameter keberhasilanrelatif pelaksanaannya.
Konon, sejak kemerdekaan RI di tahun 1945 sampai sekarang di tahun 2017, di Republik yang kita juluki NKRI ini telah terjadi tak kurang dari sembilan kali ganti kurikulum. Setiap terjadi pergantian ini para pakar dan kaum awam yang peduli pendidikan turut angkat bicara dan banding pandangan serta adu argumentasi. Ujung-ujungnya, sering kali, atas nama kekompakan, satu keputusan diambil dan sebagai konsekuensinya satu ukuran keberhasilan belajar ditetapkan dan diberlakukan alas hasil belajar pembelajar yang beraneka itu.
Dalam tulisan ini akan disoroti satu sisi dari ikhtiar perbaikan upaya kependidikan yakni pengembangan keterampilan yang merupakan kriteria sah untuk menimbang keberhasilan atau kegagalan suatu upaya kependidikan. Keterampilan merupakan kata kunci untuk setiap kurikulum betapapun sulitnya kata ini diterjemahkan ke dalam praktik.Komunita kali ini mempersoalkan jenis keterampilan yang dituntut dunia kerja: yakni “keterampilan lunak” (soft skills), yang selama ini oleh para akademisi di kampus-kampus diakui kepentingannya namun ditelantarkan dalam praktik kegiatan belajar – mengajar, termasuk asesmen hasil belajar dari waktu ke waktu dan di akhir setiap semester.
Apa itu soft skills? Dalam Komuita edisi nomor 20 (2017) ini para pakar kontributor dan narasumber tampaknya telah bersepakat untuk memahami bahwa soft skills merupakan keterampilan non-teknis akademis yang tidak melekat pada kurikulum inti prodi (program studi) di Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia, Karena itulah kiranya mengapa dikatakan dalam pengantar artikel oleh editor Komunita bahwa PT belum mampu menyiapkan lulusan dengan tingkat penguasaan “keterampilan lunak” yang baik. Tentang akurasi “tuduhan” ini kita tak perlu persoalkan. Meski demikian, ada yang perlu dipikirkan dengan sangat serius untuk langkah kita kedepan:apakah soft skills dapat diajarkan? Kalau memang dapat diajarkan, bagaimana mengajarkannya dan apa saja yang harus diwaspadai dalam menyiapkannya? lni pertanyaan inti yang perlu segera dicarikan jawabannya .
Pertama, sebagai keterampilan, soft skills tunduk pada sifat dasarnya sebagai keterampilan. Semua jenis keterampilan baik yang lunak maupun yang “keras” dapat dirumuskan dalam gerak dan dalam kata-kata. Keterampilan ini, dengan demikian, berada dalam kontrol kesadaran kita. Oleh karena sifatnya yang demikian, soft skills dapat diajarkan.
Kedua, sebagai bentuk keterampilan, softskills dapat dibangun dan dikembangkan melalui latihan berulang. Akan halnya otot lengan dan otot kaki yang dapat dilatih melakukan gerakan tertentu dengan cara dan kecepatan tertentu, “otot mental” yang menyifati perilaku sosial (salah satu bentuk panting soft skills) dapat juga dilatihkan melalui praktik yang diulang-ulang. Bagaimana caranya? Apakah cara tertentu akan menghasilkan “buah” perilaku yang berbeda?
Lazimnya, dalam dunia pendidikan dikenal pembedaan dua hal: pembiasaan sampai refleks atau dihapal mati “tanpa mikir” seperti layaknya gerak fisik dalam beladiri dan olahraga lainnya; dan yang lainnya pembiasaan olah batin (termasuk olah pikir dan olah hati) yang memerlukan “permenungan” pada awalnya tetapi setelah terbiasa dapat dieksekusi “secepat kilat” juga. Yang pertama oleh para pendukungnya dikatakan sebagai refleks fisik bawah sadar ; yang kedua dikatakan sebagai penajaman kecenderungan batin.
Yang pertama dijuluki mindless practice (karena sepintas seperti tidak mengandalkan pikiran), sedangkan yang ke dua disebut mindful/practice (karena, meski dikeakan dengan cepat, kecenderungan mental ini lahir dari pikrian reflektif yang penuh pertimbangan lahir batin). Bisakah kita mendidik mahasiswa agar berkecenderungan baik dan pro-sosial?
Pertanyaan semacam ini sudah mulai dipikirkan para pakar pendidikan karakter sejak lama. Pesan intinya adalah bahwa kita bisa mendidik mahasiswa dalam berbagai tataran kebajikan: mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk; terampil melakukan apa yang baik; dan ini tataran yang masih merupakan tantangan mencintai kebajikan.
Melalui artikel ini saya ingin mengajak atau tegasnya menantang para dosen untuk mengambil misi ini sebagai “misi ukhrowi” (atau misi altruistik keakhiratan). Yakni, tanpa mengendurkan semangat mencerdaskan dan menerampilkan para mahasiswa sehingga mereka terampil menyerap informasi dan menyadap gagasan inovatif, dosen secara moral berkewajiban “menyolehkan” maha siswa sehingga para mahasiswa berkecendungan dan berketerampilan berbuat yang baik-baik dan pada ujungnya mencintai berbuat kebajikan.
Kalau para pengajar dapat menginvestasikan pikiran, energi, waktu, serta keahliannya ke arah ini secara berkelanjutan, dapat dipastikan bahwa satu dua generasi mendatang, NKRI dapat memetik buah amal sholeh ini berupa tumbuh mekarnya para cendekiawan muda yang terampil secara teknis dan mulia secara sosial dan moral. lnilah cikal bakal kado terindah bagi para pejuang kemajuan NKRI di masa datang. Merdeka! BM/17Agustus, 2017
Networking Promosi Sustainability Pendidikan & Rise!di Pascasarjana Sekretariat UPI