Home Blog Page 3

Perilaku Mahasiswa di Tengah Stres Finansial

0

Perilaku Mahasiswa di Tengah Stres Finansial

Oleh: Dr. Ivan Gumilar Sambas Putra, S.E., M.M., M.Ak.

Di tengah riuhnya perkuliahan, tugas, dan organisasi, ada satu masalah yang jarang dibicarakan secara terbuka di kampus yaitu stres finansial mahasiswa. Bukan hanya sekadar kekurangan uang untuk membeli kopi kekinian atau tiket konser, tetapi tekanan ekonomi yang menyentuh kebutuhan pokok, biaya kuliah, hingga perasaan aman secara finansial. Fenomena ini semakin terasa di era pasca-pandemi, ketika biaya hidup terus merangkak naik sementara peluang beasiswa atau pekerjaan paruh waktu tidak selalu sebanding.

Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya harus memutar otak untuk bertahan, mulai dari mengambil pekerjaan sambilan, berhemat secara ekstrem, hingga meminjam uang dari teman atau keluarga. Pilihan-pilihan ini terkadang menyelamatkan situasi sesaat, namun di sisi lain dapat menambah tekanan psikologis dan memengaruhi fokus belajar. Kondisi inilah yang membuat stres finansial menjadi isu serius di dunia kampus, bukan hanya soal pengelolaan uang, tetapi juga tentang bagaimana mahasiswa menjaga kesehatan mental dan motivasi akademiknya.

Bagi sebagian mahasiswa, perjalanan menuju gelar sarjana bukan hanya perjuangan akademis, tetapi juga perjuangan dompet. Stres finansial datang tanpa permisi, membebani pikiran bahkan sebelum ujian dimulai. Menariknya, penyebab tersebut sering kali saling berkaitan dan membentuk lingkaran masalah yang sulit diputus. Sehingga akar dari stres finansial dimulai dari biaya kuliah hingga tekanan gengsi.

  1. Biaya Pendidikan yang Tinggi

Meski sudah ada Kartu Indonesia Pintar (KIP), beasiswa, atau skema cicilan, realitas di lapangan tetap terasa berat. Uang Kuliah Tunggal (UKT), biaya praktikum, hingga pembelian buku referensi yang “wajib” dibeli menjadi pos pengeluaran yang tak bisa dihindari. Tidak jarang, mahasiswa harus memilih antara membeli buku asli seharga ratusan ribu atau mencari versi fotokopi yang harganya lebih bersahabat. Seorang mahasiswa Teknik di Bandung bahkan mengaku harus “ngirit” makan selama seminggu hanya demi membayar biaya ujian praktikum.

  1. Biaya Hidup Harian yang Menguras Kantong

Bagi mahasiswa perantau, biaya hidup sehari-hari bisa jadi lebih menantang daripada tugas kuliah itu sendiri. Sewa kos yang semakin mahal, tarif transportasi online yang naik-turun, hingga harga makanan yang merangkak naik membuat dompet makin tipis. Tidak heran, banyak yang beralih ke strategi bertahan hidup seperti masak mie instan di kamar atau berjalan kaki jarak jauh demi menghemat ongkos.

  1. Pendapatan yang Terbatas

Tidak semua mahasiswa memiliki kesempatan atau waktu untuk bekerja paruh waktu. Bagi yang bisa, penghasilan tambahan sering kali tidak cukup untuk menutup semua kebutuhan. Mereka yang mendapat dukungan dari orang tua pun kerap merasa bersalah saat harus meminta tambahan uang, apalagi jika keluarga berada dalam kondisi ekonomi yang sulit. Pada titik ini, sebagian mahasiswa mulai mencari penghasilan dari bisnis kecil-kecilan—jualan online, menjadi freelancer desain, atau bahkan menjadi content creator.

  1. Tekanan Sosial dan Budaya Gengsi

Di era media sosial, perbandingan hidup tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga di layar ponsel. Foto-foto teman nongkrong di kafe hits, liburan ke luar kota, atau pamer gadget baru bisa memicu perasaan tertinggal. Fenomena fear of missing out (FOMO) ini mendorong sebagian mahasiswa mengeluarkan uang di luar kemampuan mereka demi “tetap terlihat keren” di lingkar pertemanan. Akibatnya, kartu kredit atau aplikasi paylater menjadi “penyelamat” instan—yang justru memicu masalah baru di bulan berikutnya.

Stres finansial bukan hanya persoalan ekonomi semata, melainkan juga berimplikasi luas pada dinamika kehidupan mahasiswa. Tekanan yang berkepanjangan akibat kesulitan memenuhi kebutuhan finansial dapat mengganggu stabilitas emosional, motivasi, dan interaksi sehari-hari. Hal ini pada akhirnya membentuk pola pikir dan perilaku yang berbeda dibandingkan mahasiswa dengan kondisi finansial lebih stabil.

Dampaknya pada Perilaku

Menurut penelitian Roberts & Jones (2022) di Journal of College Student Development, mahasiswa dengan tingkat stres finansial tinggi cenderung mengalami penurunan konsentrasi belajar, produktivitas, dan kesejahteraan mental. Akibatnya, beberapa mahasiswa mulai menunda penyelesaian tugas, mengurangi partisipasi dalam kegiatan perkuliahan, hingga menarik diri dari interaksi sosial karena merasa tertekan oleh kondisi ekonominya.

Ketika tekanan finansial semakin menekan, perilaku mahasiswa pun mengalami perubahan yang cukup signifikan, baik dalam dunia akademik maupun kehidupan sosial mereka. Salah satu dampak yang sering muncul adalah pengambilan keputusan finansial yang kurang bijak. Demi menjaga penampilan atau mengikuti tren gaya hidup teman sebayanya, sebagian mahasiswa memilih jalan pintas dengan mengambil pinjaman konsumtif berbunga tinggi, meski sadar bahwa hal itu justru menambah beban di kemudian hari.

Selain itu, tekanan ekonomi juga berdampak pada motivasi akademik. Alih-alih berkonsentrasi penuh pada perkuliahan, banyak mahasiswa justru lebih sibuk mencari penghasilan tambahan. Akibatnya, tugas kuliah sering tertunda, bahkan prestasi akademik pun ikut menurun.

Di sisi lain, stres finansial turut memengaruhi pola interaksi sosial. Beberapa mahasiswa mulai menghindari aktivitas yang membutuhkan biaya, seperti nongkrong bersama teman atau ikut kegiatan kampus. Lambat laun, hal ini bisa menimbulkan rasa terisolasi dan kesepian.

Tak jarang pula mahasiswa masuk dalam apa yang bisa disebut sebagai “survival mode”. Dalam kondisi ini, mereka lebih memilih untuk memprioritaskan kebutuhan jangka pendek, seperti makan atau transportasi, sambil mengabaikan perencanaan keuangan jangka panjang. Pola ini memang membantu bertahan hari demi hari, tetapi berpotensi menimbulkan masalah yang lebih besar di masa depan.

Strategi Mengatasi Stres Finansial

Kabar baiknya, stres finansial bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari tekanan ini, banyak mahasiswa belajar cara bertahan sekaligus tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh. Ada beberapa langkah sederhana namun efektif yang bisa dilakukan:

Pertama, susunlah anggaran yang realistis. Dengan mencatat pemasukan dan pengeluaran secara rutin, mahasiswa bisa mengetahui kondisi keuangan yang sebenarnya. Langkah kecil ini membantu mengendalikan arus uang, sekaligus mencegah pengeluaran yang tidak perlu.

Kedua, manfaatkan beasiswa dan berbagai program bantuan. Banyak kampus, pemerintah, maupun lembaga swasta menyediakan dukungan finansial yang sering kali luput dari perhatian. Dengan keberanian untuk mencari informasi dan mengajukan diri, peluang untuk meringankan beban biaya akan semakin besar.

K

Mengelola uang bukan sekadar soal angka, tapi tentang mengendalikan hidup kita di tengah badai.”

etiga, tingkatkan literasi keuangan. Mengikuti seminar, membaca buku, atau bergabung dengan komunitas finansial dapat membuka wawasan baru tentang bagaimana cara mengelola uang dengan bijak. Semakin terampil mengatur keuangan, semakin kecil pula kemungkinan terjebak pada stres finansial.

Terakhir, jangan lupakan keseimbangan mental. Tekanan keuangan sering kali memengaruhi kesehatan psikologis, sehingga penting untuk menjaga diri melalui olahraga, meditasi, atau sekadar berbincang dengan teman dekat. Kesehatan mental yang baik akan membuat mahasiswa lebih kuat menghadapi tantangan ekonomi.

Pada akhirnya, stres finansial bisa menjadi batu sandungan, tapi juga bisa menjadi batu loncatan. Dengan strategi yang tepat, mahasiswa tidak hanya mampu melewati masa sulit ini, tetapi juga membawa bekal penting untuk mengelola kehidupan di masa depan.

Penutup

Stres finansial memang nyata dan dapat mengubah cara mahasiswa berpikir, merasa, dan bertindak. Namun, dengan kesadaran dan strategi yang tepat, mahasiswa tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang di tengah tantangan tersebut. Kampus pun memegang peran penting dalam menyediakan ekosistem yang mendukung kesejahteraan finansial mahasiswa, karena pendidikan yang berkualitas seharusnya tidak terhambat oleh masalah keuangan.

  • Dr. Ivan Gumilar Sambas Putra, S.E., M.M., M.Ak., dosen Fakultas Ekonomi & Bisnis – Univeristas Widyatama

Rujukan

  • Roberts, J., & Jones, M. (2022). Financial Stress and College Student Success. Journal of College Student Development, 63(4), 451–468.

  • Lusardi, A., & Mitchell, O. S. (2020). Financial literacy and the need for financial education: Evidence and implications. Journal of Economic Literature, 58(1), 1–44.

Generative AI dalam Pendidikan: Kreativitas Baru di Ruang Belajar

0

Generative AI dalam Pendidikan: Kreativitas Baru di Ruang Belajar

Oleh : Fajar Persada Supandi, S.St., M.T

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memberikan perubahan besar dalam dunia pendidikan. Salah satu inovasi yang menonjol adalah kehadiran Generative AI, teknologi yang mampu menciptakan konten baru seperti teks, gambar, ilustrasi, video, dan musik berdasarkan data yang dipelajari. Beberapa aplikasi populer seperti ChatGPT, Gemini, MidJourney, Copilot, dan Stable Diffusion sudah digunakan secara luas oleh pendidik, siswa, dan seniman.

Dalam konteks pendidikan kreatif, generative AI dapat dimanfaatkan sebagai pendamping belajar yang membantu siswa memperluas wawasan, mengeksplorasi ide, dan mengasah keterampilan dasar menggambar serta membuat aset visual. Teknologi ini bukan sekadar alat bantu otomatis, tetapi juga media kreatif yang dapat mengaktifkan potensi berpikir visual dan imajinasi siswa.

Landasan Teoritis

Landasan teoritis pemanfaatan generative AI dapat dikaitkan dengan Constructionism yang dikembangkan oleh Seymour Papert (1991). Teori ini menekankan bahwa pembelajaran akan lebih bermakna ketika siswa menciptakan sesuatu dan merefleksikan prosesnya. Generative AI dapat berperan sebagai rekan kreatif digital yang membantu siswa menemukan inspirasi visual, membuat sketsa awal, dan memunculkan variasi ilustrasi untuk dikembangkan lebih lanjut. Misalnya, siswa dapat membuat sketsa manual, kemudian menggunakan AI untuk mengeksplorasi komposisi warna, pencahayaan, atau gaya visual yang berbeda. Pendekatan ini memberi ruang bagi siswa untuk berkreasi, bereksperimen, dan memperdalam pemahaman mereka terhadap konsep desain visual.

Pendekatan ini sejalan dengan Cognitive Theory of Multimedia Learning yang dikemukakan oleh Richard Mayer (2009). Teori ini menjelaskan bahwa siswa belajar lebih efektif ketika informasi disajikan dalam bentuk teks dan secara bersamaan. Generative AI dapat membantu pengajar dan siswa menghasilkan ilustrasi, diagram, atau infografis yang relevan untuk memperkuat pemahaman materi. Namun, pendidik perlu mengelola cognitive load atau beban informasi agar visual yang dihasilkan tetap fokus pada tujuan pembelajaran dan tidak mengganggu pemahaman inti.

Kerangka Universal Design for Learning (UDL) juga memberikan dasar kuat untuk pemanfaatan generative AI secara inklusif. UDL menekankan pentingnya menyediakan beragam bentuk representasi, ekspresi, dan keterlibatan siswa sesuai dengan gaya belajar masing-masing. Generative AI memungkinkan pengajar membuat materi pembelajaran yang adaptif. Misalnya, ilustrasi sederhana dapat disiapkan untuk siswa pemula, sementara model visual yang lebih detail dapat diberikan kepada siswa tingkat lanjut. Pendekatan ini membuat proses belajar menjadi lebih personal, adaptif, dan relevan bagi setiap peserta didik.

Kerangka yang Jelas

Dalam praktiknya, integrasi generative AI dalam pendidikan memerlukan kerangka yang jelas, seperti: TPACK (Technological, Pedagogical, and Content Knowledge), dan model SAMR (Substitution, Augmentation, Modification, Redefinition). Dengan TPACK, pendidik dapat menyeimbangkan pemanfaatan teknologi, pedagogi, dan konten pembelajaran. Sementara model SAMR membantu pengajar memahami tahapan penerapan teknologi secara efektif. Pada tahap substitusi, AI dapat digunakan untuk menghasilkan ilustrasi sederhana sebagai pengganti gambar manual. Pada tahap redefinisi, siswa dan AI dapat berkolaborasi menciptakan karya visual kompleks, seperti ilustrasi multi-gaya, simulasi pencahayaan, atau aset desain interaktif yang sebelumnya sulit diwujudkan tanpa teknologi.

Sejumlah penelitian terbaru mendukung peran generative AI dalam pendidikan seni dan desain. Studi MDPI Computers (2025) menemukan bahwa mahasiswa seni yang memanfaatkan AI dalam proses desain visual mampu mengeksplorasi ide lebih cepat dan mengembangkan lebih banyak variasi komposisi dibandingkan metode tradisional. Penelitian lain dari Informatics (2024) menunjukkan bahwa penggunaan AI membantu siswa memvisualisasikan konsep dengan lebih efektif, meningkatkan motivasi, dan memperluas kreativitas. Selain itu, publikasi Scientific Reports (Nature, 2025) mengembangkan sistem berbasis Generative Adversarial Networks (GAN) yang memungkinkan transformasi sketsa sederhana menjadi ilustrasi detail secara real-time. Teknologi ini memberikan peluang baru bagi siswa untuk berlatih membuat ilustrasi, mengevaluasi hasilnya, dan meningkatkan keterampilan melalui proses pembelajaran berbasis eksperimen.

Tips untuk Guru

Menggunakan Generative AI di Kelas

1. Mulai dari sederhana

Gunakan AI untuk mengganti ilustrasi manual atau membuat contoh gambar cepat.

2. Jadikan sebagai teman diskusi

Dorong siswa untuk membandingkan hasil karya AI dengan ide mereka sendiri.

3. Kelola beban informasi

Jangan terlalu banyak menampilkan visual dari AI—fokuslah pada inti pembelajaran.

4. Tekankan etika digital

Ingatkan siswa bahwa karya asli tetap milik mereka. AI hanya membantu, bukan menggantikan.

5. Sesuaikan dengan level siswa

Berikan ilustrasi sederhana untuk pemula, dan visual detail atau interaktif untuk siswa yang lebih mahir. (dari berbagai sumber)

Selain memahami manfaatnya, penting bagi pengguna, baik pengajar maupun siswa menjaga kejujuran akademik dalam memanfaatkan generative AI. Teknologi ini sebaiknya digunakan sebagai referensi dan pendamping belajar, bukan untuk menyalin mentah hasilnya. Siswa diharapkan menggunakan AI untuk memperluas wawasan, memunculkan ide, dan mempermudah eksplorasi visual, tetapi tetap bertanggung jawab untuk membuat karya asli dan otentik. Dengan sikap ini, generative AI dapat menjadi sarana yang efektif untuk mendorong kreativitas tanpa mengurangi integritas dan kualitas pembelajaran. Pengajar juga berperan penting dalam membimbing siswa agar memiliki etika digital yang kuat serta memahami batasan penggunaan AI.

Dari sisi panduan internasional yang diterbitkan UNESCO melalui dokumen Generative AI in Education and Research (2025) menegaskan bahwa teknologi AI dapat mendorong kreativitas dan pembelajaran berbasis proyek jika digunakan dengan bijak. Panduan ini menekankan pentingnya literasi digital, perlindungan privasi, dan kejujuran dalam praktik akademik. Dengan mengikuti panduan ini dan mengutamakan integritas, generative AI dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.

Dengan demikian, generative AI dapat menjadi panduan belajar kreatif yang membantu siswa mengeksplorasi ide, memperluas wawasan visual, dan melatih keterampilan membuat ilustrasi serta aset digital. Pengajar dapat memanfaatkannya untuk mendukung praktik pembelajaran berbasis proyek dan mendorong eksplorasi visual yang lebih interaktif. Namun, keberhasilan pemanfaatannya sangat bergantung pada literasi digital, pemahaman etika, dan kejujuran pengguna dalam mengolah hasil AI. Dengan bimbingan yang tepat, generative AI dapat menjadi pendamping belajar yang memperkuat kreativitas, kolaborasi, dan keterampilan siswa dalam menghadapi tantangan pendidikan di era digital.

  • Fajar Persada Supandi, S.St., M.T. – Dosen Desain Multimedia – Fakultas DKV Universitas Widyatama

Dr. Meriza Hendri, S.IP., M.M: Sosok Ilmuwan, Inovator, dan Inspirator Kewirausahaan

0

Saya kerap berdiskusi dengan tokoh ini, dan setiap perbincangan selalu memantik perspektif baru—baik dalam ranah bisnis maupun pendidikan. Di tengah dinamika yang terus berubah dalam dunia usaha dan pendidikan tinggi, hadir sosok yang mampu menghubungkan keduanya: Dr. Meriza Hendri, S.IP., MM. Tak sekadar akademisi, ia juga praktisi bisnis, penulis produktif, dan inspirator di bidang kewirausahaan yang mengedepankan pendekatan humanis dan berpandangan maju.

Berbekal latar belakang akademik yang kaya—Sarjana Ilmu Politik, Magister Manajemen, hingga Doktor Manajemen dari Universitas Padjadjaran—Dr. Meriza memiliki pandangan multidisipliner yang tajam. Perpaduan keilmuan politik dan manajemen serta pengalaman langsung di dunia bisnis menjadikannya mampu membaca dinamika sosial-ekonomi secara strategis, termasuk dalam membentuk pola pikir kewirausahaan yang adaptif di era disrupsi.

Akademisi yang Terhubung dengan Realitas Lapangan

Sebagai dosen tetap di Program Doktor Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widyatama Bandung, Dr. Meriza tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga membimbing mahasiswa jenjang magister dan doktoral dengan pendekatan praktis, terutama dalam bidang kewirausahaan, intrapreneurship, dan strategi bisnis keluarga.

Sebagai peneliti yang terdaftar di SINTA, ia telah menulis puluhan artikel ilmiah, termasuk publikasi di jurnal internasional. Penelitiannya banyak mengangkat isu-isu aktual, seperti daya saing wirausaha di era digital, pola pikir inovatif di kalangan pensiunan (pensionpreneurship), hingga strategi bertahan UMKM pasca-pandemi.

Tak hanya aktif di jurnal akademik, Dr. Meriza juga konsisten menyebarkan pemikirannya melalui media populer. Ia mengisi acara radio mingguan “Belbiz” di K-Lite FM Bandung yang membahas tema-tema manajemen dan bisnis dengan pendekatan ringan namun mendalam. Topik-topik seperti literasi keuangan untuk pensiunan, transformasi bisnis keluarga, dan inovasi organisasi menjadi bahasan rutin. Kehadirannya di berbagai platform—radio, TikTok, hingga situs Strabiz dan GiMB—menunjukkan dedikasinya dalam mendekatkan ilmu kepada masyarakat luas.

Membangun Ekosistem Kolaboratif untuk Kewirausahaan

Di luar dunia kampus, Dr. Meriza juga memiliki kontribusi besar dalam dunia organisasi. Sebagai Wakil Ketua KADIN Kota Bandung dan Pengarah Inkubator Bisnis KADIN, ia mendorong tumbuhnya startup dan UMKM lokal. Ia juga dipercaya memimpin Sinergitas ABCGM Jawa Barat—sebuah platform lintas sektor yang mengintegrasikan akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, dan media demi memperkuat ekosistem kolaboratif di wilayah tersebut.

Partisipasinya dalam pengabdian masyarakat berskala internasional, seperti melalui kegiatan PKM bersama PKBM PPI Taiwan, mencerminkan komitmennya untuk memberi dampak nyata, tak hanya di level nasional, tetapi juga bagi komunitas diaspora Indonesia.

Sosok Kolaboratif yang Menjadi Inspirasi

Yang menjadikan Dr. Meriza istimewa bukan hanya deretan gelar dan jabatan, tetapi keteladanannya sebagai akademisi yang aktif menciptakan perubahan nyata. Ia membangun jembatan antara teori dan praktik, antara ruang kuliah dan ruang publik, antara riset, aksi, dan dampak.

Di era yang menuntut kolaborasi dan inovasi lintas sektor, sosok seperti Dr. Meriza hadir sebagai penyegar cara pandang kita terhadap peran pendidikan tinggi—bukan sebagai menara gading yang terpisah dari realitas, melainkan sebagai penggerak transformasi sosial dan ekonomi.

Salah satu kutipan yang mencerminkan semangatnya berbunyi: “Kewirausahaan bukan hanya soal bisnis, tetapi keberanian untuk mengubah pola pikir dan menciptakan nilai.”

Bagi pembaca yang hendak berdiskusi dengan Dr. Meriza Hendri dapat menghubungi email-nya [email protected].

Riset ke Bisnis: Strategi Widyatama Cetak Pebisnis Masa Depan

0

Riset ke Bisnis: Strategi Widyatama Cetak Pebisnis Masa Depan

Universitas Widyatama wujudkan tagline “Friendly Campus for Future Business Pro”

lewat inovasi bernilai

Senin pagi, 16 Juni 2025 lalu, Gedung Serba Guna Universitas Widyatama dipenuhi energi muda. Ratusan mahasiswa, tenant inkubator, hingga UMKM binaan berkumpul dalam Expo INKOPA UTama. Bertema “Memajukan Kolaborasi, Inovasi, dan Globalisasi”, acara ini bukan sekadar pameran produk. Ia adalah panggung nyata bagaimana kampus mampu melahirkan inovasi sekaligus entrepreneur baru.

Menara Gading ke Kampus Berdampak – Kolaborasi Pentahelix

Bagi Universitas Widyatama, inovasi bukan hanya berhenti di laboratorium. Melalui Inovasi dan Korporasi Akademik (INKOPA), hasil riset ditransformasi menjadi produk bernilai dan solusi nyata bagi masyarakat.

Prof. Dr. Keni Kaniawati, Kepala Biro INKOPA, menegaskan bahwa kampus berdampak harus terukur lewat karya. “Produk seperti pendeteksi gempa, penjernih air, hingga inovasi berbasis teknologi hibah Kedaireka, semua kami arahkan untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat,” ujarnya.

Semangat ini juga sejalan dengan visi universitas. Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi, Dr. Didit Damur Rochman, menambahkan, “Kami tidak ingin lulusan hanya jadi pekerja. Sesuai tagline ‘Friendly Campus for Future Business Pro’, mereka didorong menjadi pebisnis tangguh dan penggerak UMKM baru.”

Keberhasilan Expo INKOPA tak lepas dari model kolaborasi pentahelix – akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, dan media. BRIN hadir memberi dukungan teknologi bagi UMKM, sementara KADIN Bandung membuka akses jejaring usaha.

Driszal Fryantoni perwakilan BRIN menyebut pihaknya siap mendampingi UMKM binaan agar lebih efisien dengan teknologi riset. Sedangkan Wakil Ketua KADIN Bandung, Ir. H. M. Shobirin menegaskan keterbukaan bagi mahasiswa wirausaha. “Kami siap mengasistensi mereka agar naik kelas,” katanya.

Rumah BUMN Bandung pun ikut terlibat, membawa UMKM binaannya untuk berbagi pengalaman melalui program Basecamp Millennials.

Dari Riset ke Pasar, Menuju Inovasi Berkelanjutan

Pameran menampilkan karya mahasiswa dan dosen yang siap dipasarkan. Mulai dari sistem deteksi gempa, alat penjernih air, hingga sepatu ramah lingkungan dan “Fashion Bandung Belong To Us”. Semua menunjukkan bahwa riset kampus bisa menembus pasar, bukan sekadar berakhir di jurnal akademis.

Bagi mahasiswa, kegiatan ini merupakan ruang belajar langsung menghadapi dunia usaha. “Kami berharap mereka terinspirasi dan berani terjun ke bisnis,” ungkap Radinal Pramudha Sirat, CEO Rumah BUMN Bandung.

Sebagai penyelenggaraan perdana, Expo INKOPA dipandang sebagai pemantik kegiatan serupa di masa depan. Wakil Rektor Bidang SDM dan Tata Kelola, Dr. R. Wedi Rusmawan Kusumah, optimistis, “Acara ini pendorong lahirnya kolaborasi, inovasi, dan globalisasi yang berkelanjutan.”

Dengan dukungan penuh dan semangat kolaborasi, Universitas Widyatama meneguhkan diri sebagai kampus berdampak: melahirkan entrepreneur muda, memperkuat ekosistem UMKM, dan menghadirkan riset yang benar-benar berguna bagi masyarakat. (by Komunita)

Angka Partisipasi Kasar Perguruan Tinggi: Cermin Akses Pendidikan Tinggi dan Masa Depan Indonesia ?

0

Pendidikan tinggi sering dipandang sebagai “eskalator” mobilitas sosial, atau jalan naik menuju kehidupan yang lebih baik. Namun, eskalator ini belum bisa dinaiki semua orang. Di balik semarak pembangunan kampus baru, perkuliahan digital, serta bergugurannya PTS, ternyata jutaan lulusan SMA/SMK/MA tidak pernah menginjakkan kaki di perguruan tinggi. Faktanya bukan karena kurang cerdas, melainkan karena terbentur biaya, akses, atau norma sosial.

Apa Angka Partisipasi Kasar (APK)?

Secara sederhana, APK pendidikan tinggi menggambarkan seberapa besar daya serap perguruan tinggi terhadap penduduk usia kuliah (19–23 tahun). Rumusnya: jumlah mahasiswa (semua usia) dibagi dengan total penduduk usia 19–23 tahun. Jadi, meski ada mahasiswa yang lebih muda atau lebih tua, tetap dihitung.

Menurut UNESCO (2020), indikator ini disebut Gross Enrolment Ratio (GER) dan digunakan di seluruh dunia untuk mengukur akses pendidikan tinggi. Di Indonesia, APK pendidikan tinggi tahun 2024 baru 32% (31,45%). Jika dipecah menurut jenis kelamin: laki-laki 31,05% dan perempuan 32,96% (BPS, World Bank Open Data). Angka ini jauh tertinggal dibanding negara maju, di mana rata-rata APK bisa melampaui 70%.

Mengapa APK Tidak Merata?

K

  • Setiap kenaikan 1% angka partisipasi pendidikan tinggi bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 0,37%.”
    World Bank, Education and Economic Growth (2018)

  • Pendidikan tinggi adalah mesin mobilitas sosial. Semakin banyak anak muda kuliah, semakin luas peluang keluar dari kemiskinan.”
    UNESCO Institute for Statistics (2022)

 

ajian Bank Dunia dan lembaga internasional lain melihat ada faktor utama dan faktor sekunder yang menjelaskan ketimpangan ini:

Faktor utama berkaitan dengan: Biaya pendidikan tinggi (meliputi: UKT/Uang Kuliah Tunggal, biaya hidup, hingga “biaya kesempatan” karena harus bekerja) menjadi penghalang utama bagi rumah tangga miskin; lalu Ketersediaan perguruan tinggi dan program studi yang tidak merata. Provinsi di luar Jawa umumnya memiliki pilihan perguruan tinggi lebih terbatas.

Faktor sekunder berkaitan dengan: Kesiapan akademik lulusan SMA/SMK/MA yang belum optimal karena kualitas sekolah menengah tidak merata; Norma sosial, misal perkawinan dini, khususnya pada perempuan; lalu Kurangnya informasi tentang jalur kuliah atau beasiswa, serta kesenjangan akses digital yang memperlebar jarak aspirasi pendidikan antarwilayah.

Indonesia menujukan disparitas ketimpangan APK pendidikan tinggi yang mencolok mengingat kondisi geografis, dan sosial ekonomi yang menjadikan tantangan tersendiri. Berikut gambaran APK pendidikan tinggi setiap 38 provinsi.

Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi (PT) Menurut Provinsi 2024

Provinsi

Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi (PT)

ACEH

42,48

SUMATERA UTARA

31,63

SUMATERA BARAT

43,29

RIAU

34,86

JAMBI

31,89

SUMATERA SELATAN

26,41

BENGKULU

37,79

LAMPUNG

22,29

KEP. BANGKA BELITUNG

20,14

KEP. RIAU

30,48

DKI JAKARTA

41,98

JAWA BARAT

27,21

JAWA TENGAH

26,37

DI YOGYAKARTA

73,90

JAWA TIMUR

31,85

BANTEN

32,40

BALI

38,15

NUSA TENGGARA BARAT

34,80

NUSA TENGGARA TIMUR

31,47

KALIMANTAN BARAT

24,99

KALIMANTAN TENGAH

27,49

KALIMANTAN SELATAN

28,06

KALIMANTAN TIMUR

40,03

KALIMANTAN UTARA

27,98

SULAWESI UTARA

34,75

SULAWESI TENGAH

40,38

SULAWESI SELATAN

41,83

SULAWESI TENGGARA

42,95

GORONTALO

35,68

SULAWESI BARAT

30,41

MALUKU

47,91

MALUKU UTARA

42,22

PAPUA BARAT

27,52

PAPUA BARAT DAYA

36,71

PAPUA

35,63

PAPUA SELATAN

25,07

PAPUA TENGAH

15,45

PAPUA PEGUNUNGAN

12,23

INDONESIA

32,00

Sumber: BPS, Susenas KOR Catatan: Kelompok umur perguruan tinggi yang digunakan adalah 19-23 tahun

Dampak APK Rendah atau Timpang

Rendahnya partisipasi pendidikan tinggi bukan sekedar soal individu yang gagal memasuki masa kuliah. Namun efeknya merembet ke tingkat nasional pada aspek-aspek: pertumbuhan ekonomi terhambat, inovasi dan riset lemah, ketimpangan sosial melebar, risiko Middle-Income Trap, kesejahteraan masyarakat terhambat.

Pertumbuhan Ekonomi Terhambat. Pendidikan tinggi adalah mesin pencetak human capital. Rendahnya APK membuat mayoritas tenaga kerja hanya berpendidikan menengah ke bawah, sehingga produktivitas nasional lambat dan daya saing melemah.

Inovasi dan Riset Lemah. Basis peneliti, insinyur, dan wirausaha terdidik sangat bergantung pada APK. OECD (2024) menilai Indonesia akan kesulitan membangun ekonomi berbasis pengetahuan tanpa percepatan akses pendidikan tinggi.

Ketimpangan Sosial Melebar. Data World Bank menunjukkan anak dari keluarga kaya punya peluang masuk kampus jauh lebih besar daripada dari keluarga miskin. Jika dibiarkan, kesenjangan ini menutup jalan mobilitas sosial dan memperlebar ketidaksetaraan regional.

Risiko Middle-Income Trap. Tanpa tenaga kerja berpendidikan tinggi, Indonesia sulit beralih dari industri padat karya berupah rendah menuju industri teknologi menengah-tinggi. Hasilnya: risiko terjebak di kelas menengah dengan pertumbuhan melambat.

Kesejahteraan Masyarakat Terhambat. Studi BPS dan ILO konsisten: lulusan perguruan tinggi memiliki penghasilan lebih tinggi, pengangguran lebih rendah, dan mobilitas sosial lebih besar. Rendahnya APK berarti sebagian besar angkatan kerja kehilangan peluang ini.

APK dan Masa Depan Indonesia

Karena itu, APK pendidikan tinggi bukan sekadar angka statistik melainkan indikator masa depan bangsa.

  • APK tinggi dan merata berarti fondasi SDM unggul, pendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, inovasi, daya saing global, dan kesejahteraan masyarakat.

  • APK rendah dan timpang berarti risiko terjebak di middle-income trap, stagnasi inovasi, kesenjangan sosial yang makin lebar, dan pertumbuhan kesejahteraan yang tersendat.

Sumber Data Grafik:
UNESCO Institute for Statistics (UIS) 2022, World Bank Education Statistics 2023, ADB (2021).

Jika Indonesia berkehendak melompat menjadi negara maju, memperluas akses pendidikan tinggi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan strategis. (lili irahali)

Rujukan

  1. BPS (2024). Gross Enrolment Ratio (GER) by Sex and Education Level

  2. World Bank (2020). The Promise of Education in Indonesia

  3. OECD (2024). Economic Survey of Indonesia

  4. ADB & Bank Dunia – laporan tentang risiko middle-income trap Indonesia dan kebutuhan transformasi berbasis SDM berpendidikan.

  5. ILO & BPS – data korelasi pendidikan tinggi dengan upah, pengangguran, dan kesejahteraan.

PTS, Aset Terlupakan Dalam Misi Akses Pendidikan Tinggi

0

Saat PTN masih menjadi pusat perhatian kebijakan, PTS diam-diam menanggung beban berat pemerataan akses pendidikan tinggi. Apakah negara sudah cukup adil?

Meski sudah memasuki tahun ke-80 kemerdekaan, akses pendidikan tinggi di Indonesia masih diwarnai oleh ketimpangan struktural yang serius. Data BPS tahun 2024 mencatat Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi nasional baru 31,45% (32.0%), dan lebih parah lagi terjadi ketimpangan geografis yang mencolok. Pendidikan tinggi lebih banyak berpusat di pulau Jawa. DKI Jakarta menduduki angka APK 41,98%. Di sisi lain, Papua Pegunungan 12,23%, dan Kep Bangka Belitung sekitar 20,14%.

Dalam konteks keadilan sosial, situasi ini memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi belum sepenuhnya menjadi hak semua anak bangsa. Anak-anak dari keluarga kurang mampu, atau yang tinggal di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) masih kesulitan mengakses bangku kuliah. Hal ini menjadi tantangan serius bagi negara yang tengah membidik Indonesia Emas 2045, di mana bonus demografi hanya akan berbuah bila kualitas SDM merata.

PTN-sentris vs Strategi Mobilitas Sosial Afirmasi PTS

Pemerintah memang telah menggulirkan berbagai program seperti: KIP-Kuliah, SPADA, MBKM kini Diktisaintek Berdampak, Matching Fund hingga kebijakan lainnya untuk memperluas akses dan meningkatkan mutu pendidikan tinggi. Namun, kebijakan-kebijakan ini masih terlalu berpusat pada perguruan tinggi negeri (PTN). PTS belum diposisikan sebagai mesin mobilitas sosial melalui afirmasi kebijakan akses dan kesempatan pendidikan tinggi bagi kelompok masyarakat yang sulit menembus PTN atau terhambat faktor ekonomi-sosial.

Tabel berikut menggambarkan bahwa strategi Kementerian tidak hanya beasiswa, tapi juga digitalisasi pembelajaran, fleksibilitas kurikulum, link and match dengan industri, afirmasi sosial, hingga internasionalisasi.

Tabel Program Kementerian untuk Peningkatan Akses Pendidikan Tinggi

Program

Tujuan Utama

Sasaran

Dampak terhadap APK

KIP Kuliah Membantu mahasiswa kurang mampu secara ekonomi untuk mengakses pendidikan tinggi Lulusan SMA/SMK sederajat dari keluarga miskin/ rentan miskin Menekan hambatan biaya, memperluas akses masuk PTN/PTS
SPADA (Sistem Pembelajaran Daring Indonesia) Memperluas akses kuliah daring lintas perguruan tinggi Mahasiswa di PTN/PTS seluruh Indonesia, terutama daerah 3T Menambah pilihan mata kuliah tanpa batas ruang, meningkatkan partisipasi
MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) Memberikan fleksibilitas belajar di luar prodi/PT asal (magang, riset, proyek sosial, dll.) Mahasiswa S1/D4 PTN dan PTS Meningkatkan relevansi dan minat studi, mengurangi putus kuliah
Diktisaintek Berdampak Menghubungkan riset sains dan teknologi dengan isu masyarakat & industri Dosen, mahasiswa, mitra industri APK meningkat karena daya tarik prodi saintek bertambah, peluang riset & pembiayaan meluas
Matching Fund (Kedaireka) Kemitraan PT dengan industri untuk mendanai riset, inovasi, dan pembelajaran PTN/PTS, industri, startup Membuka peluang pembiayaan, memperkuat link-and-match, mendorong mahasiswa lanjut kuliah
Beasiswa LPDP (Kemendikbudristek & Kemenkeu) Menyediakan pendanaan penuh S2/S3 dalam dan luar negeri Mahasiswa, dosen, ASN APK pascasarjana meningkat, kualitas SDM akademik naik
Beasiswa Unggulan Mendukung mahasiswa/ dosen berprestasi akademik & non-akademik Mahasiswa unggulan Memotivasi kelompok berprestasi lanjut kuliah
Program Afirmasi (ADik, Papua, 3T, PPA, Bidikmisi lama) Memberikan akses khusus bagi daerah tertinggal, disabilitas, dan afirmasi lainnya Mahasiswa dari daerah 3T, Papua, disabilitas, miskin Menutup kesenjangan wilayah & sosial, menambah APK inklusif
PDDikti & Satu Data Pendidikan Tinggi Basis data untuk pemetaan, evaluasi, dan kebijakan PTN/PTS, mahasiswa Memperbaiki perencanaan APK nasional
Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Memberi pengakuan pendidikan informal/ nonformal/kerja jadi SKS Pekerja, masyarakat non-linier Menarik pekerja lanjut kuliah tanpa mulai dari nol
Program Kampus Merdeka Vokasi (Magang & Sertifikasi Industri) Meningkatkan keterhubungan lulusan vokasi dengan dunia kerja Mahasiswa D3/D4 Meningkatkan minat ke vokasi, memperluas akses APK
SMK Pusat Keunggulan & Link and Match Menguatkan jenjang vokasi dan transisi ke perguruan tinggi Lulusan SMK Membuka jalan masuk ke PTN/PTS, menambah partisipasi
Internasionalisasi Perguruan Tinggi (Indonesian International Student Mobility Awards / IISMA) Mobilitas internasional mahasiswa Mahasiswa S1 seluruh Indonesia Meningkatkan daya tarik masuk PT, APK lebih kompetitif

Namun fakta menunjukkan bahwa kebijakan di atas masih berorientasi kepada PTN dengan daya tampung jumlah mahasiswa yang terbatas. Padahal, data menunjukkan bahwa lebih dari 65% mahasiswa Indonesia menempuh studi di Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Meski memikul mayoritas beban akses pendidikan tinggi, PTS belum mendapat porsi perhatian dan anggaran yang sebanding.

Agar pendidikan tinggi bisa menjadi alat mobilitas sosial bukan reproduksi ketimpangan, maka negara perlu mengubah paradigma kebijakan secara lebih inklusif. Termasuk di dalamnya:

  • Afirmasi berbasis wilayah dan latar belakang sosial ekonomi, bukan sekadar jenis perguruan tinggi.

  • Pendanaan yang adil bagi PTS yang aktif menjangkau masyarakat miskin.

  • Pembinaan mutu kelembagaan untuk mengangkat kualitas PTS secara merata.

Tanpa itu, akses tidak akan bermakna, dan PTS akan terus tertatih dalam menyediakan pendidikan yang terjangkau dan bermutu.

PTS Diam-diam Bekerja Keras

Walaupun demikian beberapa PTS telah berinovasi dalam membuka akses pendidikan tinggi bagi kelompok marginal. Melalui program afirmasi PTS, salah satunya: 1) Menyelenggarakan kelas malam dan program RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) bagi pekerja dewasa; 2) Memberikan beasiswa internal terbatas yang dibiayai Yayasan selaku penyelenggara; 3) Menjalin kemitraan dengan pemda dan dunia usaha untuk mendanai mahasiswa dari daerah tertinggal.

Dalam 3 tahun terakhir, beberapa PTS mencatat bahwa lebih dari 30% mahasiswa barunya berasal dari keluarga berpenghasilan rendah. Namun tantangannya tetap besar, mencakup: 1) Biaya operasional tanpa subsidi negara, membuat margin untuk memberi beasiswa sangat sempit; 2) Persepsi sosial bahwa PTS inferior terhadap PTN; 3) Keterbatasan SDM dan infrastruktur, terutama di luar Jawa.

Tabel Program Afirmasi PTS & Dampak Sosialnya

Program Afirmasi

di PTS

Contoh Implementasi

Dampak Sosial

Beasiswa Afirmasi (KIP Kuliah / internal PTS) Membebaskan/menurunkan UKT bagi mahasiswa dari keluarga miskin Meningkatkan akses pendidikan tinggi bagi kelompok miskin dan rentan
Jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Mengakui pengalaman kerja/kompetensi sebagai kredit akademik Memberi kesempatan pekerja non-gelar untuk naik mobilitas sosial melalui ijazah formal
Subsidi Silang (Cross-subsidy) Mahasiswa reguler membayar lebih tinggi untuk mendukung mahasiswa kurang mampu Mengurangi kesenjangan ekonomi dalam akses kuliah di PTS
Kemitraan Industri & CSR Perusahaan membiayai mahasiswa PTS tertentu (beasiswa industri, ikatan dinas) Membuka akses kerja plus meningkatkan relevansi lulusan dengan pasar
Kelas Khusus Afirmasi Daerah 3T Kuota khusus bagi mahasiswa dari Papua, Maluku, NTT, dll. Memperluas pemerataan pendidikan tinggi ke wilayah terpinggirkan
Skema Pembiayaan Fleksibel Cicilan biaya kuliah, income-sharing agreement (bayar setelah kerja) Mengurangi hambatan biaya langsung dan memperbesar kesempatan kuliah
Kampus Rakyat (Community College Model) PTS membuka kelas satelit di daerah Menyediakan akses dekat ke pendidikan tinggi tanpa harus migrasi ke kota besar

Harapan pada Negara, PTS Sebagai Aset Nasional

Yayasan, Rektor dan pimpinan PTS berharap pemerintah seyogyanya mulai memberi perhatian pada kebijakan:

  • Menyetarakan kesempatan akses program nasional, seperti KIP-Kuliah, MBKM, dan LPDP untuk mahasiswa dan dosen PTS.

  • Memberikan insentif fiskal kepada PTS yang menjangkau daerah 3T.

  • Memperkuat peran LLDIKTI sebagai pembina dan fasilitator, bukan hanya regulator administratif.

  • Menyediakan pendanaan kompetitif berbasis kinerja sosial, bukan hanya akademik.

Kebijakan tersebut akan mengurangi jurang ketimpangan antara kampus negeri dan swasta yang saat ini terasa melebar. Hal tersebut dengan harapan akhirnya, mimpi Indonesia Emas 2045 akan menjadi milik semua, bukan hanya akan menjadi milik segelintir kelompok sosial yang beruntung.

Waktu bagi pemerintah untuk mengubah lensa kebijakan pendidikan tinggi sudah tiba. PTS bukan beban, bukan cadangan. Mereka adalah aset nasional yang menopang cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa di wilayah dan kelompok sosial yang selama ini terabaikan.

Pemerataan pendidikan tinggi hanya akan terwujud jika negara membuka mata terhadap kontribusi dan potensi PTS. Inilah langkah strategis yang tak hanya mendesak, tetapi mutlak diperlukan. (lili irahali)

Rujukan:

  1. Badan Pusat Statistik (BPS). Statistik Pendidikan Tinggi Indonesia 2023.

  2. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (2022). Laporan KIP-Kuliah 2023 dan Evaluasi MBKM.

  3. World Bank (2022). Higher Education Financing in Indonesia: Challenges and Opportunities.

  4. Forum Rapat Kerja Pimpinan Perguruan Tinggi (RAKERPIM) 2024.

  5. Bappenas (2023). RPJPN 2025–2045: Indonesia Emas.

 

Wawancara: Prof. Ir. Meilinda Nurbanasari, S.T., M.T., Ph.D. Rektor ITENAS Akses Pendidikan Tinggi, Keadilan Sosial, dan Peran PTS

0

Ketimpangan akses pendidikan tinggi di Indonesia masih nyata. Kesenjangan antara Jawa dan luar Jawa, kota dan desa, hingga kelompok sosial-ekonomi kaya dan miskin. Ini mencerminkan perguruan tinggi belum sepenuhnya menjadi alat mobilitas sosial.

Mahasiswa dari keluarga mampu relatif lebih mudah melanjutkan ke perguruan tinggi negeri (PTN), sementara kelompok rentan sering terkendala biaya, akses informasi, maupun kesiapan akademik. Biaya kuliah, biaya hidup di kota besar, hingga keterbatasan beasiswa menjadi hambatan utama.

Data BPS bahkan memperlihatkan bahwa partisipasi pendidikan tinggi jauh lebih tinggi di kelompok 20% rumah tangga terkaya dibanding kelompok 20% termiskin. Akibatnya, perguruan tinggi lebih banyak diakses oleh kalangan berpunya, yang justru memperlebar kesenjangan sosial-ekonomi.

PTN besar seperti UI, UGM, ITB, atau Unair masih menjadi puncak piramida pendidikan tinggi. Status ‘kampus negeri’ dipandang lebih prestisius, akses masuknya ketat, dan sebagian besar dukungan negara — mulai dari anggaran riset hingga proyek strategis — terfokus pada PTN. Padahal, lebih dari 65% mahasiswa Indonesia kuliah di Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Sayangnya, PTS kerap diperlakukan sekunder, meskipun merekalah yang menampung mayoritas mahasiswa. Kalau bicara keadilan sosial, pemerintah harus menyeimbangkan dukungan, tidak hanya memperkuat PTN, tetapi juga memberdayakan PTS.

Prof. Dr. Keni Kaniawati, S.E., M.Si. dari majalah Komunita berbincang dengan Prof. Ir. Meilinda Nurbanasari, S.T., M.T., Ph.D – Rektor ITENAS di tengah kesibukan beliau memimpin pengelolaan perguruan tingginya. Prof. Meilinda menyoroti masalah, strategi transformatif, hingga harapan terhadap pemerintah agar pendidikan tinggi lebih adil dan merata.

Prof. Dr. Keni K.: Bagaimana Anda melihat ketimpangan akses pendidikan tinggi dalam konteks keadilan sosial di Indonesia saat ini?

Prof. Ir. Meilinda N. Ph.D.: Ketimpangan akses masih sangat nyata. Kita bisa melihat kesenjangan antar wilayah, antara Jawa dan luar Jawa, perkotaan dan pedesaan, bahkan antar kelompok sosial-ekonomi. Mahasiswa dari keluarga mampu cenderung lebih mudah masuk perguruan tinggi negeri (PTN), sementara kelompok rentan tertinggal karena hambatan biaya, akses informasi, dan kesiapan akademik.

Dari aspek ekonomi, biaya kuliah, biaya hidup di kota besar, dan keterbatasan beasiswa menjadi hambatan utama. Program seperti KIP-Kuliah, Bidikmisi, atau LPDP memang membantu, tapi daya jangkaunya masih terbatas. Data BPS menunjukkan partisipasi pendidikan tinggi jauh lebih tinggi di kelompok rumah tangga terkaya dibanding yang termiskin. Ini mencerminkan ketidakadilan sosial: perguruan tinggi lebih mudah diakses kelompok kaya, sehingga memperlebar kesenjangan sosial-ekonomi.

Prof. Dr. Keni K.: Apakah kebijakan pendidikan tinggi selama ini masih terlalu elitis dan berpusat pada PTN?

Prof. Ir. Meilinda N. Ph.D.: Betul, kebijakan pendidikan tinggi kita masih sangat PTN-sentris. Dari sisi regulasi, anggaran, maupun program afirmasi, PTN selalu menjadi pusat perhatian. Padahal, lebih dari 60% mahasiswa Indonesia justru kuliah di Perguruan Tinggi Swasta (PTS).

PTN besar seperti UI, UGM, ITB, atau Unair masih dianggap puncak piramida pendidikan tinggi. Reputasi “kampus negeri” dipandang lebih prestisius, akses masuknya sangat kompetitif, dan sebagian besar dana riset serta hibah diarahkan ke PTN. Dampaknya, PTS—yang jumlahnya lebih dari 3.000 kampus—seringkali diperlakukan sekunder. Padahal merekalah yang menampung mayoritas mahasiswa.

Kalau bicara keadilan sosial, pemerintah perlu menyeimbangkan kebijakan. Dukungan tidak boleh hanya untuk PTN, tapi juga memberdayakan PTS agar akses pendidikan tinggi benar-benar merata.

Prof. Dr. Keni K.: Menurut Anda, apa strategi transformatif yang paling efektif agar pendidikan tinggi benar-benar menjadi alat mobilitas sosial?

Prof. Ir. Meilinda N. Ph.D.: Strategi yang paling efektif adalah menjadikan pendidikan tinggi sebagai instrumen mobilitas sosial, bukan sekadar pencetak ijazah. Caranya dengan memperkuat beasiswa afirmatif bagi kelompok rentan, memperluas jalur masuk berbasis talenta, serta memberi dukungan non-akademik seperti pendampingan belajar, literasi digital, dan pembinaan karakter.

Saya membaginya ke dalam tiga tahap:

  1. Jangka pendek (0–2 tahun): memperluas beasiswa pro-poor, memberi bantuan biaya hidup dan transportasi bagi mahasiswa daerah 3T, jalur afirmasi seleksi masuk, serta layanan bimbingan karier di sekolah.

  2. Jangka menengah (2–5 tahun): memperkuat PTS melalui dana kompetitif, mengembangkan kampus satelit di luar Jawa, menyediakan program bridging, serta memperkuat program Merdeka Belajar Kampus Merdeka.

  3. Jangka panjang (5–15 tahun): reformasi pembiayaan dengan income-contingent loans, investasi pendidikan dasar-menengah di daerah tertinggal, akreditasi berbasis inklusi, serta pengembangan jalur vokasi dan community college.

Prof. Dr. Keni K.: Apakah negara perlu membuat kebijakan afirmasi khusus terhadap mahasiswa PTS?

Prof. Ir. Meilinda N. Ph.D.: Tentu saja perlu, bahkan harus. Sebagian besar mahasiswa Indonesia kuliah di PTS. Kalau afirmasi hanya fokus di PTN, maka mayoritas mahasiswa justru tidak terjangkau.

Mahasiswa PTS menanggung biaya kuliah lebih tinggi karena kampus mereka tidak mendapat subsidi operasional sebesar PTN. Padahal, pendidikan tinggi adalah public good, sehingga tidak adil jika dukungan negara lebih besar ke PTN. Apalagi, banyak PTS hadir di daerah yang tidak terjangkau PTN.

Memang ada program afirmasi seperti KIP-Kuliah untuk mahasiswa PTS, tapi jumlahnya kecil dibanding kebutuhan riil. Bantuan UKT saat pandemi juga ada, tapi sifatnya darurat. Sementara bantuan operasional rutin dan dana riset jauh lebih banyak mengalir ke PTN. Jadi, kebijakan afirmasi untuk mahasiswa PTS sudah ada, tapi belum proporsional.

Prof. Dr. Keni K.: Bagaimana kontribusi PTS dalam membuka akses pendidikan tinggi bagi masyarakat?

Prof. Ir. Meilinda N. Ph.D.: PTS adalah garda depan pemerataan akses. Banyak PTS menyediakan beasiswa internal, skema cicilan, dan kerja sama dengan pemerintah daerah maupun dunia usaha untuk membantu mahasiswa kurang mampu.

PTS juga lebih cepat beradaptasi dengan kebutuhan industri dan tren global. Mereka membuka program studi baru seperti digital business, teknologi informasi, atau green entrepreneurship. Dengan begitu, daya tampung bertambah dan pilihan studi makin relevan dengan kebutuhan zaman.

Selain itu, PTS memfasilitasi KIP-Kuliah, memberi beasiswa internal, dan membangun kemitraan industri untuk magang atau kelas vokasional. Semua ini memperluas akses sekaligus meningkatkan kualitas lulusan.

Prof. Dr. Keni K.: Apa tantangan terbesar yang dihadapi PTS dalam menjangkau calon mahasiswa dari kalangan bawah atau kelompok rentan?

Prof. Ir. Meilinda N. Ph.D.: Tantangan utamanya ada tiga: biaya, akses, dan stigma. Pertama, faktor biaya jelas menjadi kendala besar. Kedua, akses informasi bagi siswa di daerah 3T masih terbatas, ditambah kesiapan akademik lulusan SMA/SMK yang sering tidak merata. Ketiga, stigma masyarakat: banyak yang menganggap PTN lebih prestisius, sementara PTS dipersepsikan mahal atau kurang berkualitas. Padahal, kenyataannya akses di PTS justru lebih terbuka.

Prof. Dr. Keni K.: Adakah kebijakan internal atau program afirmatif di kampus Anda untuk mendukung mahasiswa dari kelompok kurang mampu atau daerah 3T?


Prof. Ir. Meilinda N. Ph.D.: Ada. Banyak PTS memiliki program beasiswa internal untuk mahasiswa berprestasi dari keluarga tidak mampu, program afirmasi untuk anak dari daerah terpencil, hingga kerja sama dengan yayasan dan perusahaan melalui dana CSR.

Kami juga menjalankan community scholarship program berbasis pengabdian, di mana penerima beasiswa diwajibkan kembali ke daerah asalnya setelah lulus. Selain itu, ada mentoring akademik dan karier untuk memastikan mahasiswa dari kelompok rentan bisa menyelesaikan studi dengan baik, bukan hanya sekadar masuk.

Prof. Dr. Keni K.: Terakhir, apa harapan Anda terhadap pemerintah dalam mendukung peran PTS ke depan?


Prof. Ir. Meilinda N. Ph.D.: Harapan kami, pemerintah memberikan pengakuan dan dukungan yang setara bagi PTS. Caranya dengan memperluas beasiswa KIP-Kuliah untuk mahasiswa PTS, memberi subsidi operasional, serta membuka akses dana riset dan pengabdian masyarakat yang lebih proporsional.

Selain itu, kami berharap pemerintah melibatkan PTS lebih aktif dalam program nasional seperti Kampus Merdeka, vokasi, dan pengembangan SDM unggul. PTN dan PTS perlu dilihat sebagai mitra sejajar dalam membangun pendidikan tinggi nasional yang adil, merata, dan berkualitas.

(Interviewer & Writing: Keni Kaniawati, Editor: Lili Irahali)

Karya Film Mahasiswa Widyatama Tembus Panggung Nasional dan Diakuisisi BRIN

0

Universitas Widyatama kembali mengukir prestasi gemilang di tingkat nasional. Sebuah film dokumenter karya mahasiswa dari Program Studi Film dan Televisi (FTV) berhasil diakuisisi oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pengumuman membanggakan ini disampaikan dalam acara pemutaran film “Cinema Wonderland 2025” yang diselenggarakan di kampus pada Rabu, 25 Juni 2025.

Pencapaian ini menjadi tonggak sejarah baru bagi prodi FTV dan Universitas Widyatama. Kepala Program Studi FTV, Kenmada Widjajanto, S.Sos., M.IKom. menyatakan akuisisi oleh BRIN merupakan sebuah pengakuan kualitas nasional yang diraih melalui proses kurasi yang sangat ketat. Prestasi ini, ditambah tiga penghargaan lain di ajang kompetisi berbeda, membuktikan bahwa kualitas pendidikan Widyatama mampu menghasilkan sineas muda yang karyanya diakui secara luas.

Cinema Wonderland 2025 sendiri sukses menjadi panggung yang menampilkan karya-karya berkualitas mahasiswa. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi kebanggaan internal, tetapi juga memperkuat reputasi Universitas Widyatama sebagai institusi pencetak talenta unggul di industri kreatif yang siap bersaing dan memberikan kontribusi nyata bagi bangsa. (UTama, 27 Juni 2025)

oo0oo

Widyatama Bangun Living Lab Berbasis AI, Dukung Pertanian dan Peternakan

0

Universitas Widyatama terus menunjukkan komitmennya dalam menjawab tantangan riil masyarakat melalui inovasi berbasis riset. Bertempat di Desa Cileles, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang Widyatama membangun sebuah Living Lab berbasis kecerdasan buatan (AI) sebagai solusi atas permasalahan yang dihadapi sektor pertanian dan peternakan pada 8 Juli 2025 lalu.

Living Lab ini bukan sekadar proyek akademik melainkan model integrasi antara penelitian, pemberdayaan masyarakat desa, dan hilirisasi inovasi yang langsung menyasar kebutuhan masyarakat. Salah satu hasil konkret dari pengembangan ini adalah alat pendeteksi kualitas air kolam lele berbasis AI yang mampu mengatur pH air secara otomatis.

Alat ini lahir dari kebutuhan nyata para peternak lele yang kerap mengalami kesulitan menjaga stabilitas air di tengah perubahan cuaca dan keterbatasan alat ukur. Dengan dukungan AI, seluruh proses dapat dikendalikan secara otomatis, lebih akurat, dan dapat direplikasi secara luas,” ungkap Rektor Universitas Widyatama, Prof. Dr. H. Dadang Suganda, M.Hum. saat meninjau langsung lokasi kegiatan, Selasa lalu.

Lebih lanjut, Prof. Dadang menjelaskan pengembangan alat ini merupakan bagian dari strategi universitas membumikan hasil riset dan inovasi agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Inisiatif ini juga dilengkapi dengan pembangunan ekosistem berbasis ekonomi sirkular dan penguatan UMKM lokal.

Kami tidak berhenti pada pengembangan alat. Kami membangun ekosistem: produksi teknologi oleh masyarakat, distribusi melalui UMKM lokal, dan konsumsi oleh masyarakat sekitar. Ini adalah upaya kami menjadikan riset sebagai bagian dari solusi ekonomi rakyat,” ujarnya.

Melalui Living Lab ini, Universitas Widyatama berharap dapat menjadi pelopor dalam pemanfaatan AI untuk mendukung sektor-sektor strategis, serta memperkuat sinergi antara kampus, masyarakat, dan dunia usaha dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. (UTama, 8 Juli 2025)

Mahasiswa FTV Widyatama Hadiri Workshop Sinematografi

0

Ratusan insan perfilman muda, termasuk mahasiswa dan pelajar memadati Studio Blackbox PT. Produksi Film Negara (PFN) mengikuti workshop sinematografi yang mengupas teknologi  Virtual Production (VP) pada Kamis, 17 Juli 2025 lalu. Acara yang dihadiri sekitar 300 peserta bertujuan memperkenalkan inovasi sinematografi yang digadang-gadang mampu merevolusi industri film Indonesia dengan efisiensi biaya dan waktu produksi yang signifikan.

Kegiatan ini merupakan undangan khusus dari PFN bagi para talenta muda, termasuk 18 mahasiswa dan dua dosen dari Program Studi Film dan Televisi (FTV) FISIP Universitas Widyatama. Seminar dan lokakarya ini menghadirkan para pakar industri membagikan pengetahuan fundamental mengenai alur kerja dan implementasi Virtual Production (VP) dalam sebuah produksi film layar lebar.

Kupas Tuntas Inovasi Virtual Production dan Praktik di Studio Blackbox

Seminar bertajuk “Cinematography dalam Teknologi Virtual Production serta Budgeting & Manajemen Proyek Virtual Production pada Produksi Film” menjadi sesi pembuka yang kaya akan wawasan. Ilham Fajar Hadi, Head of Digital Production dari IMXR Studio memaparkan bagaimana VP menjadi solusi inovatif yang memadukan pengambilan gambar langsung (live shoot) dengan latar belakang virtual melalui teknologi LED Wall raksasa. Menurutnya, teknik ini dapat memangkas biaya produksi hingga 50 persen.

Lebih lanjut, Ilham menjelaskan bahwa VP bukan sekadar mengganti green screen, melainkan sebuah ekosistem produksi yang mengintegrasikan pergerakan kamera dinamis dengan set virtual secara presisi. Teknologi ini juga memungkinkan kontrol pencahayaan sinematik yang superior dan memaksimalkan proses pasca produksi seperti editingcolour grading, dan CGI secara real-time di lokasi syuting. Hal ini secara drastis mengurangi berbagai kendala produksi konvensional seperti cuaca buruk, perizinan lokasi yang rumit, hingga faktor keamanan.

Antusiasme peserta mencapai puncaknya pada sesi lokakarya. Sutradara Yuda Kurniawan, yang sukses menggarap film “Menuju Pelaminan” menggunakan teknologi VP mendemonstrasikan secara langsung proses syuting di dalam Studio Blackbox. Peserta diajak melihat bagaimana adegan di dalam sebuah minibus dipadukan secara mulus dengan aset visual perjalanan dari Yogyakarta ke Padang yang ditampilkan di LED Wall.

Seorang mahasiswa Widyatama yang mengikuti lokakarya mengungkapkan kekagumannya. “Seru banget dan banyak manfaatnya, karena di zaman sekarang teknologinya sudah sangat canggih. Jadi udah gak pakai green screen lagi dan bisa memanfaatkan blackbox yang ada disini,” ujarnya. Pengalaman ini memberikan gambaran nyata bagaimana VP mampu menciptakan adegan perjalanan yang kompleks tanpa harus benar-benar berpindah lokasi.

Antusiasme, Harapan Kolaborasi, dan Masa Depan Industri Film

Respon positif tidak hanya datang dari para mahasiswa. Della Dwinanti Sumpena, S.T.Sn., M.Sn., salah satu dosen pembimbing dari Universitas Widyatama menyatakan kegiatan ini memberikan perspektif baru yang sangat berharga. “Hari ini luar biasa menarik banget kita dapet insight yang baru, termasuk juga tadi dari PFN kita diajak buat langsung praktik melihat workshopnya seperti apa.,” ungkapnya. Ia juga melihat potensi kolaborasi di masa depan antara akademisi dengan para kreator film yang hadir.

Hal senada diungkapkan mahasiswa lainnya, “Ini pengalaman yang luar biasa pak, karena kita bisa berkunjung ke produksi film negara. Dan kami semua mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat bagaimana virtual production bekerja, workflow-nya bagaimana, pokoknya ini ilmu daging semua.”

Ilham Fajar Hadi perwakilan panitia dan praktisi menekankan pentingnya pemerataan pengetahuan teknologi ini. “Pesan saya untuk peserta dan yang datang di workshop ini, harapan saya adalah knowledge-nya supaya rata ya pak ya. Jadi makin banyak yang tahu tentang efisiensinya virtual production ini,” tegasnya.

Menurutnya, kemajuan industri film Indonesia bergantung pada sinergi tiga pilar utama. “Kan balik lagi untuk memajukan suatu industri harus ada tiga hal, ada komunitas, expertise-nya, dan juga knowledge-nya. Mahasiswa juga harus dimajukan, kalau tiga ini sudah maju saya yakin industri ini pasti akan sangat berkembang,” pungkas Ilham. Workshop diharapkan menjadi langkah awal untuk melahirkan lebih banyak talenta yang siap mengadopsi teknologi dan membawa sinema Indonesia ke panggung dunia. (UTama, 18 Juli 2025)