Home Blog Page 3

PTS, Aset Terlupakan Dalam Misi Akses Pendidikan Tinggi

0

Saat PTN masih menjadi pusat perhatian kebijakan, PTS diam-diam menanggung beban berat pemerataan akses pendidikan tinggi.  Apakah negara sudah cukup adil?

 

Meski sudah memasuki tahun ke-80 kemerdekaan, akses pendidikan tinggi di Indonesia masih diwarnai oleh ketimpangan struktural yang serius. Data BPS tahun 2024 mencatat Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi nasional baru 31,45% (32.0%), dan lebih parah lagi terjadi ketimpangan geografis yang mencolok. Pendidikan tinggi lebih banyak berpusat di pulau Jawa. DKI Jakarta menduduki angka APK 41,98%. Di sisi lain, Papua Pegunungan 12,23%, dan Kep Bangka Belitung sekitar 20,14%.

Dalam konteks keadilan sosial, situasi ini memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi belum sepenuhnya menjadi hak semua anak bangsa. Anak-anak dari keluarga kurang mampu, atau yang tinggal di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) masih kesulitan mengakses bangku kuliah. Hal ini menjadi tantangan serius bagi negara yang tengah membidik Indonesia Emas 2045, di mana bonus demografi hanya akan berbuah bila kualitas SDM merata.

PTN-sentris vs Strategi Mobilitas Sosial Afirmasi PTS

Pemerintah memang telah menggulirkan berbagai program seperti: KIP-Kuliah, SPADA, MBKM kini Diktisaintek Berdampak, Matching Fund  hingga kebijakan lainnya untuk memperluas akses dan meningkatkan mutu pendidikan tinggi. Namun, kebijakan-kebijakan ini masih terlalu berpusat pada perguruan tinggi negeri (PTN). PTS belum diposisikan sebagai mesin mobilitas sosial melalui afirmasi kebijakan akses dan kesempatan pendidikan tinggi bagi kelompok masyarakat yang sulit menembus PTN atau terhambat faktor ekonomi-sosial.

Tabel berikut menggambarkan bahwa strategi Kementerian tidak hanya beasiswa, tapi juga digitalisasi pembelajaran, fleksibilitas kurikulum, link and match dengan industri, afirmasi sosial, hingga internasionalisasi.

 

Tabel Program Kementerian untuk Peningkatan Akses Pendidikan Tinggi

Program Tujuan Utama Sasaran Dampak terhadap APK
KIP Kuliah Membantu mahasiswa kurang mampu secara ekonomi untuk mengakses pendidikan tinggi Lulusan SMA/SMK sederajat dari keluarga miskin/ rentan miskin Menekan hambatan biaya, memperluas akses masuk PTN/PTS
SPADA (Sistem Pembelajaran Daring Indonesia) Memperluas akses kuliah daring lintas perguruan tinggi Mahasiswa di PTN/PTS seluruh Indonesia, terutama daerah 3T Menambah pilihan mata kuliah tanpa batas ruang, meningkatkan partisipasi
MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) Memberikan fleksibilitas belajar di luar prodi/PT asal (magang, riset, proyek sosial, dll.) Mahasiswa S1/D4 PTN dan PTS Meningkatkan relevansi dan minat studi, mengurangi putus kuliah
Diktisaintek Berdampak Menghubungkan riset sains dan teknologi dengan isu masyarakat & industri Dosen, mahasiswa, mitra industri APK meningkat karena daya tarik prodi saintek bertambah, peluang riset & pembiayaan meluas
Matching Fund (Kedaireka) Kemitraan PT dengan industri untuk mendanai riset, inovasi, dan pembelajaran PTN/PTS, industri, startup Membuka peluang pembiayaan, memperkuat link-and-match, mendorong mahasiswa lanjut kuliah
Beasiswa LPDP (Kemendikbudristek & Kemenkeu) Menyediakan pendanaan penuh S2/S3 dalam dan luar negeri Mahasiswa, dosen, ASN APK pascasarjana meningkat, kualitas SDM akademik naik
Beasiswa Unggulan Mendukung mahasiswa/ dosen berprestasi akademik & non-akademik Mahasiswa unggulan Memotivasi kelompok berprestasi lanjut kuliah
Program Afirmasi (ADik, Papua, 3T, PPA, Bidikmisi lama) Memberikan akses khusus bagi daerah tertinggal, disabilitas, dan afirmasi lainnya Mahasiswa dari daerah 3T, Papua, disabilitas, miskin Menutup kesenjangan wilayah & sosial, menambah APK inklusif
PDDikti & Satu Data Pendidikan Tinggi Basis data untuk pemetaan, evaluasi, dan kebijakan PTN/PTS, mahasiswa Memperbaiki perencanaan APK nasional
Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Memberi pengakuan pendidikan informal/ nonformal/kerja jadi SKS Pekerja, masyarakat non-linier Menarik pekerja lanjut kuliah tanpa mulai dari nol
Program Kampus Merdeka Vokasi (Magang & Sertifikasi Industri) Meningkatkan keterhubungan lulusan vokasi dengan dunia kerja Mahasiswa D3/D4 Meningkatkan minat ke vokasi, memperluas akses APK
SMK Pusat Keunggulan & Link and Match Menguatkan jenjang vokasi dan transisi ke perguruan tinggi Lulusan SMK Membuka jalan masuk ke PTN/PTS, menambah partisipasi
Internasionalisasi Perguruan Tinggi (Indonesian International Student Mobility Awards / IISMA) Mobilitas internasional mahasiswa Mahasiswa S1 seluruh Indonesia Meningkatkan daya tarik masuk PT, APK lebih kompetitif

Namun fakta menunjukkan bahwa kebijakan di atas masih berorientasi kepada PTN dengan daya tampung jumlah mahasiswa yang terbatas. Padahal, data menunjukkan bahwa lebih dari 65% mahasiswa Indonesia menempuh studi di Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Meski memikul mayoritas beban akses pendidikan tinggi, PTS belum mendapat porsi perhatian dan anggaran yang sebanding.

Agar pendidikan tinggi bisa menjadi alat mobilitas sosial bukan reproduksi ketimpangan, maka negara perlu mengubah paradigma kebijakan secara lebih inklusif. Termasuk di dalamnya:

  • Afirmasi berbasis wilayah dan latar belakang sosial ekonomi, bukan sekadar jenis perguruan tinggi.
  • Pendanaan yang adil bagi PTS yang aktif menjangkau masyarakat miskin.
  • Pembinaan mutu kelembagaan untuk mengangkat kualitas PTS secara merata.

Tanpa itu, akses tidak akan bermakna, dan PTS akan terus tertatih dalam menyediakan pendidikan yang terjangkau dan bermutu.

PTS Diam-diam Bekerja Keras

Walaupun demikian beberapa PTS telah berinovasi dalam membuka akses pendidikan tinggi bagi kelompok marginal. Melalui program afirmasi PTS, salah satunya: 1) Menyelenggarakan kelas malam dan program RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) bagi pekerja dewasa; 2) Memberikan beasiswa internal terbatas yang dibiayai Yayasan selaku penyelenggara; 3) Menjalin kemitraan dengan pemda dan dunia usaha untuk mendanai mahasiswa dari daerah tertinggal.

Dalam 3 tahun terakhir, beberapa PTS mencatat bahwa lebih dari 30% mahasiswa barunya berasal dari keluarga berpenghasilan rendah. Namun tantangannya tetap besar, mencakup: 1) Biaya operasional tanpa subsidi negara, membuat margin untuk memberi beasiswa sangat sempit; 2) Persepsi sosial bahwa PTS inferior terhadap PTN; 3) Keterbatasan SDM dan infrastruktur, terutama di luar Jawa.

 

Tabel Program Afirmasi PTS & Dampak Sosialnya

Program Afirmasi

di PTS

Contoh Implementasi Dampak Sosial
Beasiswa Afirmasi (KIP Kuliah / internal PTS) Membebaskan/menurunkan UKT bagi mahasiswa dari keluarga miskin Meningkatkan akses pendidikan tinggi bagi kelompok miskin dan rentan
Jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Mengakui pengalaman kerja/kompetensi sebagai kredit akademik Memberi kesempatan pekerja non-gelar untuk naik mobilitas sosial melalui ijazah formal
Subsidi Silang (Cross-subsidy) Mahasiswa reguler membayar lebih tinggi untuk mendukung mahasiswa kurang mampu Mengurangi kesenjangan ekonomi dalam akses kuliah di PTS
Kemitraan Industri & CSR Perusahaan membiayai mahasiswa PTS tertentu (beasiswa industri, ikatan dinas) Membuka akses kerja plus meningkatkan relevansi lulusan dengan pasar
Kelas Khusus Afirmasi Daerah 3T Kuota khusus bagi mahasiswa dari Papua, Maluku, NTT, dll. Memperluas pemerataan pendidikan tinggi ke wilayah terpinggirkan
Skema Pembiayaan Fleksibel Cicilan biaya kuliah, income-sharing agreement (bayar setelah kerja) Mengurangi hambatan biaya langsung dan memperbesar kesempatan kuliah
Kampus Rakyat (Community College Model) PTS membuka kelas satelit di daerah Menyediakan akses dekat ke pendidikan tinggi tanpa harus migrasi ke kota besar

 

Harapan pada Negara, PTS Sebagai Aset Nasional

Yayasan, Rektor dan pimpinan PTS berharap pemerintah seyogyanya mulai memberi perhatian pada kebijakan:

  • Menyetarakan kesempatan akses program nasional, seperti KIP-Kuliah, MBKM, dan LPDP untuk mahasiswa dan dosen PTS.
  • Memberikan insentif fiskal kepada PTS yang menjangkau daerah 3T.
  • Memperkuat peran LLDIKTI sebagai pembina dan fasilitator, bukan hanya regulator administratif.
  • Menyediakan pendanaan kompetitif berbasis kinerja sosial, bukan hanya akademik.

Kebijakan tersebut akan mengurangi jurang ketimpangan antara kampus negeri dan swasta yang saat ini terasa melebar. Hal tersebut dengan harapan akhirnya, mimpi Indonesia Emas 2045 akan menjadi milik semua, bukan hanya akan menjadi milik segelintir kelompok sosial yang beruntung.

Waktu bagi pemerintah untuk mengubah lensa kebijakan pendidikan tinggi sudah tiba. PTS bukan beban, bukan cadangan. Mereka adalah aset nasional yang menopang cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa di wilayah dan kelompok sosial yang selama ini terabaikan.

Pemerataan pendidikan tinggi hanya akan terwujud jika negara membuka mata terhadap kontribusi dan potensi PTS. Inilah langkah strategis yang tak hanya mendesak, tetapi mutlak diperlukan. (lili irahali)

Rujukan:

  1. Badan Pusat Statistik (BPS). Statistik Pendidikan Tinggi Indonesia 2023.
  2. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (2022). Laporan KIP-Kuliah 2023 dan Evaluasi MBKM.
  3. World Bank (2022). Higher Education Financing in Indonesia: Challenges and Opportunities.
  4. Forum Rapat Kerja Pimpinan Perguruan Tinggi (RAKERPIM) 2024.
  5. Bappenas (2023). RPJPN 2025–2045: Indonesia Emas.

 

Sobat Mahasiswa Kenali Diri, Temukan Karier: Manfaatkan Self-Assessment

0

Pertanyaan “Aku cocoknya kerja di bidang apa ya?” lazim muncul di kepala mahasiswa—mulai dari awal kuliah hingga menjelang lulus. Ijazah dan IPK memang penting, tetapi keduanya belum tentu cukup untuk menunjuk jalur karir yang tepat. Di tengah persaingan global, mahasiswa perlu mengenal diri sendiri: apa minatnya, nilai yang dijunjung, dan keahlian yang dimiliki. Salah satu cara praktis memetakan ketiga hal di atas menggunakan self-assessment tools.

Mengapa Self-assessment?

Self-assessment membantu mahasiswa menjawab tiga pertanyaan kunci: Apa yang saya sukai? (minat); Apa yang penting bagi saya dalam bekerja? (nilai); Apa yang bisa saya lakukan dengan baik? (keterampilan: hard & soft skills)

Dengan mengenali tiga aspek ini, mahasiswa bisa lebih percaya diri menentukan langkah: memilih magang, melanjutkan studi, atau melamar pekerjaan. Laporan National Association of Colleges and Employers (NACE, 2022) menyebutkan bahwa lulusan dengan kesadaran diri tinggi cenderung lebih mudah menyesuaikan diri di tempat kerja dan merasa puas dengan pilihan karir mereka.

 

Pilih Alat populer Mengenal Diri

Alat populer mengenal diri bisa menggunakan versi gratis  sampai berbayar, mahasiswa dapat pelajari dan manfaatkan secara online diantaranya:

  • Holland Code (RIASEC Test)

Mengelompokkan minat karir ke enam tipe: Realistic, Investigative, Artistic, Social, Enterprising, Conventional. Alat ini berguna untuk mencocokkan jurusan dan jenis pekerjaan. Contoh implementasi: O*NET Interest Profiler.

  • MBTI (Myers-Briggs Type Indicator)

Mengukur preferensi kepribadian (mis. Introvert–Extrovert, Thinking–Feeling). Banyak dipakai untuk memahami gaya kerja dan interaksi tim. Versi populer tersedia di 16Personalities.

  • StrengthsFinder (CliftonStrengths)

Mengidentifikasi kekuatan dominan seseorang (mis. Strategic, Learner, Communication). Cocok untuk perencanaan karir jangka panjang (Gallup Strengths).

  • Career Values Test

Menelaah nilai pribadi dalam bekerja—mis. stabilitas, kreativitas, status, atau keseimbangan hidup. Memahami work values membantu menghindari pilihan karir yang berpotensi menimbulkan stres.

Manfaat nyata self-assesment di atas untuk mahasiswa dan kampus: Menjadi peta minat, nilai, dan kekuatan diri; Menghubungkan hasil asesmen ke pilihan jurusan, program MBKM, sertifikasi, dan jalur karir; Menjadi dasar sesi coaching individual atau kelompok di Pusat Karir; serta Memperkuat link & match antara lulusan dan kebutuhan dunia kerja.

Paket sederhana biasanya meliputi tes minat, nilai, kepribadian, dan kekuatan karakter. Hasilnya bisa jadi peta awal perjalanan karier.

 

Praktik di ASEAN dan di Indonesia

Di ASEAN, self-assessment sudah jadi bagian serius dalam layanan karier.  Banyak negara mengintegrasikan self-assessment ke dalam upaya kesiapan keterampilan (TVET/Technical and Vocational Education and Training, upskilling/reskilling). Semisal di Singapura, portal MySkillsFuture menyediakan profil RIASEC – asesmen nilai dan kekuatan yang digunakan sejak jenjang sekolah sampai dewasa – sering direferensikan oleh universitas seperti NUS.

Di Indonesia, ekosistem pemerintah mendorong employability lewat platform seperti Karirhub (Kemnaker), SIAPkerja, dan program Kartu Prakerja. Sementara di kampus, layanan Bimbingan Konseling (BK) dan Pusat Karier menggunakan RIASEC dan asesmen lain sebagai bagian dari layanan informasi karir (contoh praktis: CDC-UI sebagai role model).

Ekosistem pemerintah tersebut arah penguatan diharapkan mengintegrasikan hasil self-assessment (minat/nilai/kekuatan) ke dalam portal kampus, sehingga bisa dihubungkan langsung ke katalog mata kuliah/MBKM, program pelatihan (SIAPkerja/Prakerja), lowongan (Karirhub/LinkedIn), dan layanan coaching.

Self-assessment bukan ramalan masa depan, melainkan cermin untuk mengenali potensi. Semakin cepat mahasiswa mengenal minat, nilai, dan keterampilannya, semakin percaya diri langkahnya memasuki dunia kerja.

Agar Hasil Asesmen Sia-SIa

  1. Jangan terburu-buru—isi tes dengan fokus, jangan asal klik.
  2. Refleksikan hasilnya: apakah deskripsi itu resonan dengan pengalaman nyata Anda?
  3. Diskusikan dengan mentor, dosen pembimbing, atau alumni.
  4. Padukan dengan pengalaman praktik: magang, organisasi, proyek—itu yang membuktikan.
  5. Ulangi secara berkala karena minat dan nilai dapat berubah seiring waktu.

Bagi Pusat Karier dan Mahasiswa

Self-assessment merupakan instrumen strategis yang dapat memperkuat kesiapan karier mahasiswa sekaligus meningkatkan kualitas layanan pusat karier perguruan tinggi. Pusat Karier perlu menyiapkan alur layanan terintegrasi: asesmen → coaching → pengembangan keterampilan → job matching. Menyatukan alat yang kredibel (gratis maupun berbayar) dalam satu portal kampus akan mempercepat layanan dan meningkatkan employability lulusan, sekaligus memperkuat relevansi perguruan tinggi.

Self-assessment bukanlah ramalan masa depan, melainkan cermin untuk melihat potensi diri. Semakin dini mahasiswa mengenali minat, nilai, dan keterampilannya, semakin besar peluang melangkah ke dunia kerja dengan percaya diri.

Jadi, sebelum sibuk mencari lowongan kerja, tanyakan dulu pada diri sendiri: sudahkah aku benar-benar mengenal diri sendiri? Tetap semangat. (liliirahali)

 

Rujukan

  • National Association of Colleges and Employers (NACE). (2022). Career Readiness Competencies.
  • Psychology Today. (2021). Why Career Values Matter.
  • (2020). CliftonStrengths for Students.
  • O*NET Interest Profiler – U.S. Department of Labor. https://www.mynextmove.org/explore/ip
  • https://www.16personalities.com

 

Academic Atmosphere Perguruan Tinggi Konsep dan Teori

0

Academic Atmosphere Perguruan Tinggi

Konsep dan Teori:

Clark, Burton R. (1983); Barnett, Ronald (2000); dan Altbach, Philip G., Berdahl, Robert O., & Gumport, Patricia J. (Eds.) (2011)

Perkembangan pendidikan tinggi tentunya mencerminkan dinamika sosial, ekonomi, dan politik suatu bangsa dari masa ke masa menyongsong globalisasi dengan didukung academic atmosphere yang berkelanjutan. Membangun academic atmosphere yang berkualitas bukan sekedar meningkatkan kompetensi intelektual, tetapi juga membentuk karakter yang kuat. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki moralitas tinggi, etika profesional, dan kesadaran sosial.

Dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa pendidikan tinggi bukan sekadar menghasilkan lulusan yang sekedar siap bekerja, tetapi juga siap berkontribusi dan membawa perubahan positif bagi dunia.

Menurut Ernest Boyer (1990), atau UU No. 12 Tahun 2012 tentang pendidikan tinggi disimpulkan bahwa Academic Atmosphere adalah kondisi lingkungan akademik yang mendukung terciptanya proses pembelajaran berkualitas, inovatif, dan beretika. Lingkungan ini tidak hanya infrastruktur fisik, tetapi juga nilai-nilai akademik, budaya intelektual, kebebasan akademik, serta interaksi yang membangun hubungan positif antara dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan. UNESCO (2009) menekankan bahwa keberlanjutan pendidikan tinggi hanya dapat dijamin bila academic atmosphere dijaga—terutama kebebasan berpikir, kolaborasi ilmiah, dan dukungan sumber daya.

Membangun academic atmosphere yang kuat dalam perguruan tinggi memerlukan pendekatan holistik yang melibatkan seluruh komponen ekosistem akademik: dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, serta manajemen perguruan tinggi. Lalu lingkungan yang memampukan (enabling environment) harus dirancang untuk mendukung pencapaian tridharma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat) secara optimal. Tentu, perguruan tinggi di Indonesia dapat menafsirkan bahwa academic atmosphere berkelanjutan adalah syarat utama agar perguruan tinggi tidak hanya mengejar akreditasi dan ranking, tetapi benar-benar menjadi agen perubahan sosial yang sejalan dengan kebutuhan bangsa dan dunia. Jadi, academic atmosphere sebaiknya dipahami sebagai ekosistem akademik yang berkelanjutan.

Mari kita simak konsep dan teori academic atmosphere menurut tiga pakar berikut.

1) Clark, Burton R. (1983)

Pokok pikiran Clark dalam buku The Higher Education System: Academic Organization in Cross National Perspective menjelaskan academic atmosphere didasari dan memperhatikan empat hal, yakni: model sistem pendidikan tinggi; peran organisasi akademik; integrasi dan fragmentasi; serta makna bagi academic atmosphere.

  1. Model Sistem Pendidikan Tinggi

Clark membedakan tiga pola sistem pendidikan tinggi di berbagai negara: a) State-dominated model (misalnya Perancis, Jepang) dimana birokrasi negara sangat menentukan arah perguruan tinggi; b) Market-oriented model (AS) dimana kompetisi, diversifikasi, dan otonomi relatif tinggi; c) Collegial/self-governing model (Inggris, Eropa Utara) dimana dosen dan komunitas akademik berperan penting dalam pengambilan keputusan. Menurut Clark, academic atmosphere sangat dipengaruhi struktur tata kelola ini.

  1. Peran Organisasi Akademik

Fakultas, departemen, dan profesi membentuk “subkultur akademik”. Sehingga hubungan antar-subkultur menentukan dinamika atmosfer akademik (apakah kondusif untuk riset, kolaborasi, atau justru terfragmentasi).

  1. Integrasi dan Fragmentasi

Tantangan academic atmosphere adalah menjaga integrasi visi perguruan tinggi di tengah spesialisasi yang semakin sempit tiap disiplin ilmu.

  1. Makna Academic Atmosphere

Lingkungan akademik yang sehat lahir bila ada keseimbangan antara otonomi akademik, regulasi negara, dan tuntutan pasar. Lalu tanpa keseimbangan academic atmosphere bisa terganggu: bisa terlalu birokratis, terlalu pragmatis (komersialisasi), atau terlalu terpecah-pecah.

Dalam kaitan pandangan Clark, bagi Indonesia bahwa academic atmosphere di PTS–PTN perlu dilihat dari sejauh mana birokrasi negara, pasar (industri/mahasiswa sebagai konsumen), dan komunitas akademik saling tarik-menarik.

2) Altbach, Philip G., Berdahl, Robert O., & Gumport, Patricia J. (Eds.) (2011)

Pokok pikiran Altbach dalam buku American Higher Education in the Twenty-First Century: Social, Political, and Economic Challenges menjelaskan bahwa academic atmosphere didasari dan memperhatikan lima hal, yakni: pendidikan tinggi dalam konteks soisal politik dan ekonomi; academic freedom & shared governance; riset dan knowledge economy; diversitas mahasiswa & inklusi; serta tantangan kontemporer.

    1. Konteks Sosial-Politik-Ekonomi, bahwa: a) pendidikan tinggi di Amerika menghadapi tekanan eksternal: politik (regulasi negara bagian), ekonomi (pendanaan publik menurun, biaya kuliah naik), dan sosial (tuntutan akses lebih luas); b) academic atmosphere dipengaruhi oleh tekanan eksternal ini—tidak murni internal kampus.

  1. Academic Freedom & Shared Governance, bahwa: a) kebebasan akademik dan tata kelola bersama (shared governance) menjadi fondasi iklim akademik; model ini sedang diuji karena intervensi politik, efisiensi manajerial, dan tuntutan pasar.

  2. Riset dan Knowledge Economy, bahwa: a) perguruan tinggi harus menyeimbangkan riset fundamental dan riset terapan; b) academic atmosphere sehat mendukung keduanya tanpa kehilangan integritas ilmiah.

  3. Diversitas Mahasiswa & Inklusi, bahwa: a) perubahan demografi mahasiswa (ras, gender, kelas sosial) menuntut academic atmosphere yang inklusif; b) lingkungan belajar yang aman dan terbuka pada keberagaman menjadi syarat perkembangan intelektual.

  4. Tantangan Kontemporer, bahwa: a) komersialisasi pendidikan tinggi, globalisasi, e-learning, dan tekanan peringkat dunia mengubah wajah perguruan tinggi; b) academic atmosphere rentan tergeser dari idealisme ilmiah ke orientasi pasar.

Dalam kaitan pandangan Altbach, makna bagi Indonesia bahwa academic atmosphere PTS–PTN mengalami tekanan serupa: pendanaan terbatas, kompetisi global, komersialisasi, dan tuntutan akses. Sehingga academic atmosphere perlu dilindungi agar tetap inklusif, otonom, dan berintegritas.

3) Barnett, Ronald (2000)

Pokok pikiran Barnett dalam buku Realizing the University in an Age of Supercomplexity menyatakan academic atmosphere didasari dan memperhatikan lima hal: era superkompleksitas; perguruan tinggi sebagai ”enabling environment”; kebebasan dan keterbukaan; pembelajaran sebagai transformasi; serta tanggungjawab moral perguruan tinggi.

  1. Era Superkompleksitas, bahwa: a) dunia abad ke-21 ditandai ketidakpastian, ambiguitas, kompleksitas, dan perubahan cepat (supercomplexity); b) perguruan tinggi tidak lagi menghadapi sekadar kompleksitas ilmu, tapi juga kompleksitas nilai, identitas, dan tuntutan masyarakat.

  2. Universitas sebagai “Enabling Environment”, bahwa: a) perguruan tinggi harus menciptakan atmosfer yang memungkinkan mahasiswa dan dosen berkembang di tengah ketidakpastian; b) hal ini bukan sekadar soal kurikulum, tapi menciptakan academic atmosphere yang mendorong eksplorasi, refleksi kritis, dan keberanian mengambil risiko intelektual.

  3. Kebebasan & Keterbukaan, bahwa: a) academic atmosphere harus menumbuhkan keberanian mempertanyakan asumsi, menantang otoritas, dan menciptakan makna baru; b) perguruan tinggi gagal jika hanya menjadi birokrasi produksi ijazah.

  4. Pembelajaran sebagai Transformasi, bahwa: a) pendidikan tinggi bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan transformasi diri mahasiswa menjadi warga dunia yang kritis, adaptif, dan etis; b) academic atmosphere sehat mendukung “deep learning” dan pembentukan identitas, bukan hanya keterampilan teknis.

  5. Tanggung Jawab Moral Universitas, bahwa perguruan tinggi harus berperan dalam membentuk nilai moral, sosial, dan ekologi, bukan hanya memenuhi pasar kerja.

Dalam kaitan pandangan Barnett, makna bagi Indonesia bahwa academic atmosphere perguruan tinggi (PTS – PTN) harus berani menciptakan ruang kebebasan akademik, dialog kritis, dan inovasi, meskipun menghadapi regulasi ketat dan tuntutan pragmatis.

Matrik Ketiga Pemikiran

Aspek

Clark (1983)

Altbach et al. (2011)

Barnett (2000)

Fokus Struktur & organisasi pendidikan tinggi lintas negara Tantangan sosial-politik-ekonomi pendidikan tinggi Amerika Universitas dalam era superkompleksitas
Kunci Academic Atmosphere Keseimbangan antara negara, pasar, dan komunitas akademik Kebebasan akademik, shared governance, inklusi, resistensi terhadap komersialisasi Universitas sebagai enabling environment untuk berpikir kritis & transformatif
Risiko Academic Atmosphere Fragmentasi, birokratisasi, komersialisasi Hilangnya idealisme, dominasi politik & pasar Reduksi universitas jadi pabrik ijazah, hilangnya ruang reflektif
Pesan Utama Struktur menentukan kultur akademik Tantangan eksternal harus direspon tanpa mengorban-kan Academic Atmosphere Universitas harus menciptakan ruang pembelajaran kritis di era ketidakpastian

Jadi, academic atmosphere menurut ketiga pemikir tersebut dapat dimaknai sebagai berikut:

  • Clark: academic atmosphere ditentukan oleh struktur dan budaya organisasi.

  • Altbach et al.: academic atmosphere dipengaruhi tekanan sosial-politik-ekonomi, tapi harus dijaga agar tetap inklusif & otonom.

  • Barnett: academic atmosphere harus menjadi ruang yang memungkinkan pencarian makna dan transformasi di era penuh ketidakpastian. (lili irahali)

Rujukan:

  1. Altbach, P. G., Berdahl, R. O., & Gumport, P. J. (Eds.). (2011). American Higher Education in the Twenty-First Century: Social, Political, and Economic Challenges. Johns Hopkins University Press.

  2. Barnett, R. (2000). Realizing the University in an Age of Supercomplexity. Open University Press.

  3. Boyer, E. L. (1990). Scholarship reconsidered: Priorities of the professoriate. The Carnegie Foundation for the Advancement of Teaching.

  4. Clark, B. R. (1983). The Higher Education System: Academic Organization in Cross-National Perspective. University of California Press.

  5. UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi

  6. UNESCO (2009). World Conference on Higher Education: The New Dynamics of Higher Education and Research for Societal Change and Development. Paris: UNESCO.

Irmayanty, Dari MM UTama Mengembangkan Bisnis Hotel Keluarga

0

Irma, demikianlah teman-teman mahasiswa memanggil nya. Irma adalah salah seorang mahasiswi Magister Manajemen Universitas Widaytama (MM UTama) dengan nama lengkap Irmayanti dan dijuluki mahasiswi paling rajin di kelas. Memang sih, selama di kelas Irma memang sangat aktif dan rajin, bahkan menjadi sumber informasi untuk kegiatan kelas dari para dosen yang mengajar.

Wanita kelahiran Bandung ini memang salah seorang mahasiswi yang sudah menyelesaikan kuliah di MM UTama dengan konsentrasi kewirausahaan dan percaya atau tidak, salah satu tujuan mengambil kuliah di MM Widyatama adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan skill nya tentang bisnis, karena saat ini Irma memang sedang menjalankan projek pengembangan usaha keluarga yang bergerak di bidang perhotelan di Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat.

Hotel milik keluarga yang dikembangkan Irma adalah Hotel Puri Mutiara. “Hotel milik keluarga ini sudah berdiri sejak tahun 1996 di Kabupaten Sumedang, dan hadir untuk memenuhi kebutuhan akomodasi yang nyaman, aman, dan terjangkau bagi tamu dari berbagai kalangan” kata Irma memulai penjelasan tentang bisnis yang sedang dikembangkannya semasa kuliah ini.

Adapun keterlibatan Irma di usaha hotel ini sejak tahun 2010 sampai sekarang dan kuliah di Magister Manajemen Universitas Widyatama memperkuat pengetahuan dan pengalaman tentang bisnis dan manajemen.

Pilihan Irma menjadi seorang wirausa itu tidak lepas dari komitmennya untuk berkontribusi pada usaha milik keluarga tersebut. “Saya menyadari bahwa hotel miliki keluarga tersebut bisa terus dikembangkan dengan manajemen yang kuat sehingga dapat terus menciptakan lapangan kerja serta menyediakan layanan yang bermanfaat bagi masyarakat” tambah Irma.

Dalam analisis Irma, bidang perhotelan dipilih karena memiliki prospek jangka panjang yang sejalan dengan pertumbuhan aktivitas pendidikan, bisnis, dan pariwisata di Kabupaten Sumedang. Selain itu, bisnis ini memberikan ruang untuk berinovasi dalam meningkatkan mutu pelayanan dan pengelolaan usaha.

Memang dalam perjalanannya, tidak mudah karena memiliki tantangan tersendiri. Apalagi kondisi pandemi Covid tahun 2020 – 2023 silam sangat terasa bagi Irma, dimana aktivitas yang sangat dibatasi dan membuat para pengunjung tidak dapat menginap di hotel. Hal ini memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi Irma, sekaligus tantangan tersendiri karena berhubungan dengan bagaimana berbisnis perlu menerapkan strategi bisnis untuk bisa melewati masa sulit tersebut. “Perlu inovasi dalam hal pemasaran dan proses bisnis” tambah Irma.

Disinilah Irma terdorong belajar tentang entrepreneurship, bisnis dan manjemen di MM UTama. Kuliah di MM UTama membantu memperluas wawasan manajerial, meningkatkan kemampuan analisis bisnis, serta memberikan pemahaman strategi kewirausahaan yang dapat diterapkan langsung dalam pengelolaan hotel.

Dengan bekal materi kuliah yang didapat, Irma sudah bisa melakukan pengembangan bisnis dan saat ini layanan akomodasi penginapan yang ditawarkan Irma fokus pada kenyamanan, bersih, dan terjangkau dengan fasilitas pendukung seperti restoran, parkir luas, serta pelayanan ramah.

Hal ini sejalan dengan keunggulan yang diberikan yaitu lokasi strategis di pusat Kota Sumedang, harga kompetitif, pelayanan personal yang mengutamakan kenyamanan tamu, serta suasana hotel yang tenang dan bersih.

“Dengan dukungan 15 orang karyawan, kami menyasar perusahaan swasta, pegawai pemerintahan, pebisnis, keluarga, wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Sumedang, serta mahasiswa” kata Irma. Mereka berasal dari Kabupaten Sumedang dan sekitarnya, termasuk tamu dari luar kota yang datang untuk urusan bisnis, pendidikan, maupun wisata.

Kedepannya, Irma dan tim manajemen hotel, fokus untuk mencapai visi mengembangkan Hotel Puri Mutiara menjadi hotel non-bintang yang unggul di wilayah Sumedang Timur dengan fasilitas yang semakin lengkap, pelayanan profesional, dukungan teknologi digital untuk meningkatkan daya saing serta pengembangan ruang pertemuan modern.

Irma yakin, dengan ilmu manajemen dan bisnis, akan bisa terus mengembangkan hotel, milik keluarga. Inilah Best Practice yang dilakukan Irma menumbuhkembangkan bisnis Hotel milik keluarganya.

Bagi sahabat yang ingin mengunjungi Hotel Puri Mutiara yang dikembangkan Irma, dapat melihat di sosial media Instagram @Hotel Puri Mutiara Sumedang, Google Business Profile Hotel Puri Mutiara Sumedang dan juga bisa wa di 0821-1832-6886. Bila ingin berdiskusi dengan Irma, dapat juga mengunjungi Instagram @ irmayantyrizki

Roblox dan Game Vokasi Anak, Antara Kecemasan dan Kreativitas

0

Roblox dan Game Vokasi Anak,

Antara Kecemasan dan Kreativitas

Oleh: Egi Abinowi

Belakangan ini, sorotan media terhadap platform permainan daring—terutama Roblox—memicu perdebatan sengit tentang dampaknya bagi anak-anak. Banyak orang tua mengkhawatirkan konten tidak pantas, potensi predator online, dan risiko adiksi. Namun, di balik narasi kekhawatiran tersebut, Roblox juga menyimpan peluang edukatif dan kreatif yang cukup besar, asalkan digunakan secara bijak dan di bawah pengawasan yang tepat.

Sekilas Game dan Roblox

Sejarah game digital dimulai sejak 1950–1960-an, dengan contoh awal seperti Tennis for Two (1960) dan Spacewar! (1962). Pada era konsol dan arcade (1970–1980-an) muncul ikon-ikon seperti Pong (1972), serta konsol Magnavox Odyssey dan Atari 2600. Memasuki era modern, game semakin interaktif, kreatif, dan fleksibel berkat konten buatan pengguna (user-generated content/UGC) yang menciptakan ekosistem kaya dan beragam.

Di sinilah Roblox menonjol—dari fenomena sederhana menjadi ekosistem kreatif global. Sejak 2018 hingga 2025, platform ini melahirkan berbagai game populer hasil kreasi komunitas, tanpa batasan bentuk kreativitas. Beberapa judul terkenal meliputi: MeepCity dan Jailbreak (2018), Adopt Me! dan Royale High (2019), Brookhaven dan Tower of Hell (2020), Blox Fruits dan Piggy (2021), Doors dan Pet Simulator X (2022), Anime Fighters dan BedWars (2023), Blade Ball dan Combat Warriors (2024), hingga Grow of Garden (2025) yang memecahkan rekor 21,9 juta pemain online bersamaan.

Keberhasilan Roblox didorong oleh:

  • UGC tanpa batas: siapa pun bisa membuat game, item, dan pengalaman baru.

  • Akses lintas platform: tersedia di PC, konsol, dan mobile—dengan smartphone sebagai perangkat dominan.

  • Personalisasi tinggi: pemain bisa menyesuaikan avatar dan dunia permainan sesuai selera.

Roblox: Lebih dari Sekadar Hiburan

Dulu, generasi yang tumbuh bersama Nintendo, Sega, atau PlayStation jarang menghadapi stigma negatif sebesar saat ini. Perbedaan utamanya adalah akses internet yang masif kini memungkinkan interaksi tanpa batas, termasuk risiko terpapar konten yang tidak pantas.

Meski demikian, tidak sedikit anak yang memperoleh manfaat positif dari ekosistem game: melatih fokus, keterampilan problem solving, hingga kemampuan manajerial. Contohnya, seorang introvert yang awalnya pasif justru berhasil mengembangkan kepemimpinan strategis lewat pengalaman bermain game, hingga kini menjabat sebagai wakil manajer di sebuah bank multinasional—kisah nyata yang menunjukkan potensi transformatif dunia game.

Generasi sebelumnya pernah mengasah kreativitas lewat konsol, kini giliran anak-anak kita yang memanfaatkan metaverse dengan cerdas.

Kekhawatiran, Mitigasi, dan Peran Orang Tua

Kekhawatiran terhadap Roblox bukan tanpa alasan.

  • Pemerintah: Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengingatkan bahwa anak belum mampu membedakan kekerasan virtual dan nyata, sehingga berisiko meniru perilaku negatif (Radar Surabaya).

  • Komnas Perlindungan Anak Surabaya: menemukan 15 mode permainan berpotensi berbahaya—termasuk unsur pornografi, kekerasan sadis, hingga tema pergaulan bebas (Antara News).

  • Studi keamanan: fitur verifikasi usia dan kontrol konten masih lemah; anak-anak semuda lima tahun dapat mengakses area dewasa (Popmama.com).

PBESI (Esports Indonesia) merekomendasikan pendampingan aktif, terutama bagi anak di bawah 10 tahun. Dengan bimbingan tepat, Roblox bisa menjadi sarana belajar coding, desain game, dan eksplorasi kreatif (Antara News). KPAI menegaskan, jika terbukti melanggar regulasi perlindungan anak, pemerintah berhak memblokir akses platform tersebut (detiknews).

Selain itu, sistem monetisasi di dalamnya, seperti pay-to-win dan gacha mendekati praktik perjudian. Di sinilah literasi digital dan pengajaran nilai uang menjadi bagian penting pengawasan keluarga.

Game sebagai Industri Kreatif Global

Industri game kini menjelma menjadi sektor kreatif bernilai triliunan dolar. Negara-negara Timur Tengah, seperti Arab Saudi, rutin menjadi tuan rumah kejuaraan e-sports berskala dunia, sementara Indonesia juga mencatat prestasi internasional.

PBESI melalui platform Garudaku berperan sebagai pusat pembinaan atlet dan tim e-sports nasional. Di tingkat regional, AESF (Asian Electronic Sports Federation) mengakui e-sports sebagai cabang resmi.

Dengan regulasi yang tepat—termasuk rating umur dan kontrol orang tua—game dan e-sports dapat menjadi arena prestasi dan inovasi, bukan sekadar sumber kekhawatiran. Semoga.

  • Egi Abinowi – Dosen Prodi Perpustakaan dan Sains Informasi – Universitas Widyatama

Perilaku Mahasiswa di Tengah Stres Finansial

0

Perilaku Mahasiswa di Tengah Stres Finansial

Oleh: Dr. Ivan Gumilar Sambas Putra, S.E., M.M., M.Ak.

Di tengah riuhnya perkuliahan, tugas, dan organisasi, ada satu masalah yang jarang dibicarakan secara terbuka di kampus yaitu stres finansial mahasiswa. Bukan hanya sekadar kekurangan uang untuk membeli kopi kekinian atau tiket konser, tetapi tekanan ekonomi yang menyentuh kebutuhan pokok, biaya kuliah, hingga perasaan aman secara finansial. Fenomena ini semakin terasa di era pasca-pandemi, ketika biaya hidup terus merangkak naik sementara peluang beasiswa atau pekerjaan paruh waktu tidak selalu sebanding.

Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya harus memutar otak untuk bertahan, mulai dari mengambil pekerjaan sambilan, berhemat secara ekstrem, hingga meminjam uang dari teman atau keluarga. Pilihan-pilihan ini terkadang menyelamatkan situasi sesaat, namun di sisi lain dapat menambah tekanan psikologis dan memengaruhi fokus belajar. Kondisi inilah yang membuat stres finansial menjadi isu serius di dunia kampus, bukan hanya soal pengelolaan uang, tetapi juga tentang bagaimana mahasiswa menjaga kesehatan mental dan motivasi akademiknya.

Bagi sebagian mahasiswa, perjalanan menuju gelar sarjana bukan hanya perjuangan akademis, tetapi juga perjuangan dompet. Stres finansial datang tanpa permisi, membebani pikiran bahkan sebelum ujian dimulai. Menariknya, penyebab tersebut sering kali saling berkaitan dan membentuk lingkaran masalah yang sulit diputus. Sehingga akar dari stres finansial dimulai dari biaya kuliah hingga tekanan gengsi.

  1. Biaya Pendidikan yang Tinggi

Meski sudah ada Kartu Indonesia Pintar (KIP), beasiswa, atau skema cicilan, realitas di lapangan tetap terasa berat. Uang Kuliah Tunggal (UKT), biaya praktikum, hingga pembelian buku referensi yang “wajib” dibeli menjadi pos pengeluaran yang tak bisa dihindari. Tidak jarang, mahasiswa harus memilih antara membeli buku asli seharga ratusan ribu atau mencari versi fotokopi yang harganya lebih bersahabat. Seorang mahasiswa Teknik di Bandung bahkan mengaku harus “ngirit” makan selama seminggu hanya demi membayar biaya ujian praktikum.

  1. Biaya Hidup Harian yang Menguras Kantong

Bagi mahasiswa perantau, biaya hidup sehari-hari bisa jadi lebih menantang daripada tugas kuliah itu sendiri. Sewa kos yang semakin mahal, tarif transportasi online yang naik-turun, hingga harga makanan yang merangkak naik membuat dompet makin tipis. Tidak heran, banyak yang beralih ke strategi bertahan hidup seperti masak mie instan di kamar atau berjalan kaki jarak jauh demi menghemat ongkos.

  1. Pendapatan yang Terbatas

Tidak semua mahasiswa memiliki kesempatan atau waktu untuk bekerja paruh waktu. Bagi yang bisa, penghasilan tambahan sering kali tidak cukup untuk menutup semua kebutuhan. Mereka yang mendapat dukungan dari orang tua pun kerap merasa bersalah saat harus meminta tambahan uang, apalagi jika keluarga berada dalam kondisi ekonomi yang sulit. Pada titik ini, sebagian mahasiswa mulai mencari penghasilan dari bisnis kecil-kecilan—jualan online, menjadi freelancer desain, atau bahkan menjadi content creator.

  1. Tekanan Sosial dan Budaya Gengsi

Di era media sosial, perbandingan hidup tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga di layar ponsel. Foto-foto teman nongkrong di kafe hits, liburan ke luar kota, atau pamer gadget baru bisa memicu perasaan tertinggal. Fenomena fear of missing out (FOMO) ini mendorong sebagian mahasiswa mengeluarkan uang di luar kemampuan mereka demi “tetap terlihat keren” di lingkar pertemanan. Akibatnya, kartu kredit atau aplikasi paylater menjadi “penyelamat” instan—yang justru memicu masalah baru di bulan berikutnya.

Stres finansial bukan hanya persoalan ekonomi semata, melainkan juga berimplikasi luas pada dinamika kehidupan mahasiswa. Tekanan yang berkepanjangan akibat kesulitan memenuhi kebutuhan finansial dapat mengganggu stabilitas emosional, motivasi, dan interaksi sehari-hari. Hal ini pada akhirnya membentuk pola pikir dan perilaku yang berbeda dibandingkan mahasiswa dengan kondisi finansial lebih stabil.

Dampaknya pada Perilaku

Menurut penelitian Roberts & Jones (2022) di Journal of College Student Development, mahasiswa dengan tingkat stres finansial tinggi cenderung mengalami penurunan konsentrasi belajar, produktivitas, dan kesejahteraan mental. Akibatnya, beberapa mahasiswa mulai menunda penyelesaian tugas, mengurangi partisipasi dalam kegiatan perkuliahan, hingga menarik diri dari interaksi sosial karena merasa tertekan oleh kondisi ekonominya.

Ketika tekanan finansial semakin menekan, perilaku mahasiswa pun mengalami perubahan yang cukup signifikan, baik dalam dunia akademik maupun kehidupan sosial mereka. Salah satu dampak yang sering muncul adalah pengambilan keputusan finansial yang kurang bijak. Demi menjaga penampilan atau mengikuti tren gaya hidup teman sebayanya, sebagian mahasiswa memilih jalan pintas dengan mengambil pinjaman konsumtif berbunga tinggi, meski sadar bahwa hal itu justru menambah beban di kemudian hari.

Selain itu, tekanan ekonomi juga berdampak pada motivasi akademik. Alih-alih berkonsentrasi penuh pada perkuliahan, banyak mahasiswa justru lebih sibuk mencari penghasilan tambahan. Akibatnya, tugas kuliah sering tertunda, bahkan prestasi akademik pun ikut menurun.

Di sisi lain, stres finansial turut memengaruhi pola interaksi sosial. Beberapa mahasiswa mulai menghindari aktivitas yang membutuhkan biaya, seperti nongkrong bersama teman atau ikut kegiatan kampus. Lambat laun, hal ini bisa menimbulkan rasa terisolasi dan kesepian.

Tak jarang pula mahasiswa masuk dalam apa yang bisa disebut sebagai “survival mode”. Dalam kondisi ini, mereka lebih memilih untuk memprioritaskan kebutuhan jangka pendek, seperti makan atau transportasi, sambil mengabaikan perencanaan keuangan jangka panjang. Pola ini memang membantu bertahan hari demi hari, tetapi berpotensi menimbulkan masalah yang lebih besar di masa depan.

Strategi Mengatasi Stres Finansial

Kabar baiknya, stres finansial bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari tekanan ini, banyak mahasiswa belajar cara bertahan sekaligus tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh. Ada beberapa langkah sederhana namun efektif yang bisa dilakukan:

Pertama, susunlah anggaran yang realistis. Dengan mencatat pemasukan dan pengeluaran secara rutin, mahasiswa bisa mengetahui kondisi keuangan yang sebenarnya. Langkah kecil ini membantu mengendalikan arus uang, sekaligus mencegah pengeluaran yang tidak perlu.

Kedua, manfaatkan beasiswa dan berbagai program bantuan. Banyak kampus, pemerintah, maupun lembaga swasta menyediakan dukungan finansial yang sering kali luput dari perhatian. Dengan keberanian untuk mencari informasi dan mengajukan diri, peluang untuk meringankan beban biaya akan semakin besar.

K

“Mengelola uang bukan sekadar soal angka, tapi tentang mengendalikan hidup kita di tengah badai.”

etiga, tingkatkan literasi keuangan. Mengikuti seminar, membaca buku, atau bergabung dengan komunitas finansial dapat membuka wawasan baru tentang bagaimana cara mengelola uang dengan bijak. Semakin terampil mengatur keuangan, semakin kecil pula kemungkinan terjebak pada stres finansial.

Terakhir, jangan lupakan keseimbangan mental. Tekanan keuangan sering kali memengaruhi kesehatan psikologis, sehingga penting untuk menjaga diri melalui olahraga, meditasi, atau sekadar berbincang dengan teman dekat. Kesehatan mental yang baik akan membuat mahasiswa lebih kuat menghadapi tantangan ekonomi.

Pada akhirnya, stres finansial bisa menjadi batu sandungan, tapi juga bisa menjadi batu loncatan. Dengan strategi yang tepat, mahasiswa tidak hanya mampu melewati masa sulit ini, tetapi juga membawa bekal penting untuk mengelola kehidupan di masa depan.

Penutup

Stres finansial memang nyata dan dapat mengubah cara mahasiswa berpikir, merasa, dan bertindak. Namun, dengan kesadaran dan strategi yang tepat, mahasiswa tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang di tengah tantangan tersebut. Kampus pun memegang peran penting dalam menyediakan ekosistem yang mendukung kesejahteraan finansial mahasiswa, karena pendidikan yang berkualitas seharusnya tidak terhambat oleh masalah keuangan.

  • Dr. Ivan Gumilar Sambas Putra, S.E., M.M., M.Ak., dosen Fakultas Ekonomi & Bisnis – Univeristas Widyatama

Rujukan

  • Roberts, J., & Jones, M. (2022). Financial Stress and College Student Success. Journal of College Student Development, 63(4), 451–468.

  • Lusardi, A., & Mitchell, O. S. (2020). Financial literacy and the need for financial education: Evidence and implications. Journal of Economic Literature, 58(1), 1–44.

Generative AI dalam Pendidikan: Kreativitas Baru di Ruang Belajar

0

Generative AI dalam Pendidikan: Kreativitas Baru di Ruang Belajar

Oleh : Fajar Persada Supandi, S.St., M.T

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memberikan perubahan besar dalam dunia pendidikan. Salah satu inovasi yang menonjol adalah kehadiran Generative AI, teknologi yang mampu menciptakan konten baru seperti teks, gambar, ilustrasi, video, dan musik berdasarkan data yang dipelajari. Beberapa aplikasi populer seperti ChatGPT, Gemini, MidJourney, Copilot, dan Stable Diffusion sudah digunakan secara luas oleh pendidik, siswa, dan seniman.

Dalam konteks pendidikan kreatif, generative AI dapat dimanfaatkan sebagai pendamping belajar yang membantu siswa memperluas wawasan, mengeksplorasi ide, dan mengasah keterampilan dasar menggambar serta membuat aset visual. Teknologi ini bukan sekadar alat bantu otomatis, tetapi juga media kreatif yang dapat mengaktifkan potensi berpikir visual dan imajinasi siswa.

Landasan Teoritis

Landasan teoritis pemanfaatan generative AI dapat dikaitkan dengan Constructionism yang dikembangkan oleh Seymour Papert (1991). Teori ini menekankan bahwa pembelajaran akan lebih bermakna ketika siswa menciptakan sesuatu dan merefleksikan prosesnya. Generative AI dapat berperan sebagai rekan kreatif digital yang membantu siswa menemukan inspirasi visual, membuat sketsa awal, dan memunculkan variasi ilustrasi untuk dikembangkan lebih lanjut. Misalnya, siswa dapat membuat sketsa manual, kemudian menggunakan AI untuk mengeksplorasi komposisi warna, pencahayaan, atau gaya visual yang berbeda. Pendekatan ini memberi ruang bagi siswa untuk berkreasi, bereksperimen, dan memperdalam pemahaman mereka terhadap konsep desain visual.

Pendekatan ini sejalan dengan Cognitive Theory of Multimedia Learning yang dikemukakan oleh Richard Mayer (2009). Teori ini menjelaskan bahwa siswa belajar lebih efektif ketika informasi disajikan dalam bentuk teks dan secara bersamaan. Generative AI dapat membantu pengajar dan siswa menghasilkan ilustrasi, diagram, atau infografis yang relevan untuk memperkuat pemahaman materi. Namun, pendidik perlu mengelola cognitive load atau beban informasi agar visual yang dihasilkan tetap fokus pada tujuan pembelajaran dan tidak mengganggu pemahaman inti.

Kerangka Universal Design for Learning (UDL) juga memberikan dasar kuat untuk pemanfaatan generative AI secara inklusif. UDL menekankan pentingnya menyediakan beragam bentuk representasi, ekspresi, dan keterlibatan siswa sesuai dengan gaya belajar masing-masing. Generative AI memungkinkan pengajar membuat materi pembelajaran yang adaptif. Misalnya, ilustrasi sederhana dapat disiapkan untuk siswa pemula, sementara model visual yang lebih detail dapat diberikan kepada siswa tingkat lanjut. Pendekatan ini membuat proses belajar menjadi lebih personal, adaptif, dan relevan bagi setiap peserta didik.

Kerangka yang Jelas

Dalam praktiknya, integrasi generative AI dalam pendidikan memerlukan kerangka yang jelas, seperti: TPACK (Technological, Pedagogical, and Content Knowledge), dan model SAMR (Substitution, Augmentation, Modification, Redefinition). Dengan TPACK, pendidik dapat menyeimbangkan pemanfaatan teknologi, pedagogi, dan konten pembelajaran. Sementara model SAMR membantu pengajar memahami tahapan penerapan teknologi secara efektif. Pada tahap substitusi, AI dapat digunakan untuk menghasilkan ilustrasi sederhana sebagai pengganti gambar manual. Pada tahap redefinisi, siswa dan AI dapat berkolaborasi menciptakan karya visual kompleks, seperti ilustrasi multi-gaya, simulasi pencahayaan, atau aset desain interaktif yang sebelumnya sulit diwujudkan tanpa teknologi.

Sejumlah penelitian terbaru mendukung peran generative AI dalam pendidikan seni dan desain. Studi MDPI Computers (2025) menemukan bahwa mahasiswa seni yang memanfaatkan AI dalam proses desain visual mampu mengeksplorasi ide lebih cepat dan mengembangkan lebih banyak variasi komposisi dibandingkan metode tradisional. Penelitian lain dari Informatics (2024) menunjukkan bahwa penggunaan AI membantu siswa memvisualisasikan konsep dengan lebih efektif, meningkatkan motivasi, dan memperluas kreativitas. Selain itu, publikasi Scientific Reports (Nature, 2025) mengembangkan sistem berbasis Generative Adversarial Networks (GAN) yang memungkinkan transformasi sketsa sederhana menjadi ilustrasi detail secara real-time. Teknologi ini memberikan peluang baru bagi siswa untuk berlatih membuat ilustrasi, mengevaluasi hasilnya, dan meningkatkan keterampilan melalui proses pembelajaran berbasis eksperimen.

Tips untuk Guru

Menggunakan Generative AI di Kelas

1. Mulai dari sederhana

Gunakan AI untuk mengganti ilustrasi manual atau membuat contoh gambar cepat.

2. Jadikan sebagai teman diskusi

Dorong siswa untuk membandingkan hasil karya AI dengan ide mereka sendiri.

3. Kelola beban informasi

Jangan terlalu banyak menampilkan visual dari AI—fokuslah pada inti pembelajaran.

4. Tekankan etika digital

Ingatkan siswa bahwa karya asli tetap milik mereka. AI hanya membantu, bukan menggantikan.

5. Sesuaikan dengan level siswa

Berikan ilustrasi sederhana untuk pemula, dan visual detail atau interaktif untuk siswa yang lebih mahir. (dari berbagai sumber)

Selain memahami manfaatnya, penting bagi pengguna, baik pengajar maupun siswa menjaga kejujuran akademik dalam memanfaatkan generative AI. Teknologi ini sebaiknya digunakan sebagai referensi dan pendamping belajar, bukan untuk menyalin mentah hasilnya. Siswa diharapkan menggunakan AI untuk memperluas wawasan, memunculkan ide, dan mempermudah eksplorasi visual, tetapi tetap bertanggung jawab untuk membuat karya asli dan otentik. Dengan sikap ini, generative AI dapat menjadi sarana yang efektif untuk mendorong kreativitas tanpa mengurangi integritas dan kualitas pembelajaran. Pengajar juga berperan penting dalam membimbing siswa agar memiliki etika digital yang kuat serta memahami batasan penggunaan AI.

Dari sisi panduan internasional yang diterbitkan UNESCO melalui dokumen Generative AI in Education and Research (2025) menegaskan bahwa teknologi AI dapat mendorong kreativitas dan pembelajaran berbasis proyek jika digunakan dengan bijak. Panduan ini menekankan pentingnya literasi digital, perlindungan privasi, dan kejujuran dalam praktik akademik. Dengan mengikuti panduan ini dan mengutamakan integritas, generative AI dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.

Dengan demikian, generative AI dapat menjadi panduan belajar kreatif yang membantu siswa mengeksplorasi ide, memperluas wawasan visual, dan melatih keterampilan membuat ilustrasi serta aset digital. Pengajar dapat memanfaatkannya untuk mendukung praktik pembelajaran berbasis proyek dan mendorong eksplorasi visual yang lebih interaktif. Namun, keberhasilan pemanfaatannya sangat bergantung pada literasi digital, pemahaman etika, dan kejujuran pengguna dalam mengolah hasil AI. Dengan bimbingan yang tepat, generative AI dapat menjadi pendamping belajar yang memperkuat kreativitas, kolaborasi, dan keterampilan siswa dalam menghadapi tantangan pendidikan di era digital.

  • Fajar Persada Supandi, S.St., M.T. – Dosen Desain Multimedia – Fakultas DKV Universitas Widyatama

Dr. Meriza Hendri, S.IP., M.M: Sosok Ilmuwan, Inovator, dan Inspirator Kewirausahaan

0

Saya kerap berdiskusi dengan tokoh ini, dan setiap perbincangan selalu memantik perspektif baru—baik dalam ranah bisnis maupun pendidikan. Di tengah dinamika yang terus berubah dalam dunia usaha dan pendidikan tinggi, hadir sosok yang mampu menghubungkan keduanya: Dr. Meriza Hendri, S.IP., MM. Tak sekadar akademisi, ia juga praktisi bisnis, penulis produktif, dan inspirator di bidang kewirausahaan yang mengedepankan pendekatan humanis dan berpandangan maju.

Berbekal latar belakang akademik yang kaya—Sarjana Ilmu Politik, Magister Manajemen, hingga Doktor Manajemen dari Universitas Padjadjaran—Dr. Meriza memiliki pandangan multidisipliner yang tajam. Perpaduan keilmuan politik dan manajemen serta pengalaman langsung di dunia bisnis menjadikannya mampu membaca dinamika sosial-ekonomi secara strategis, termasuk dalam membentuk pola pikir kewirausahaan yang adaptif di era disrupsi.

Akademisi yang Terhubung dengan Realitas Lapangan

Sebagai dosen tetap di Program Doktor Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widyatama Bandung, Dr. Meriza tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga membimbing mahasiswa jenjang magister dan doktoral dengan pendekatan praktis, terutama dalam bidang kewirausahaan, intrapreneurship, dan strategi bisnis keluarga.

Sebagai peneliti yang terdaftar di SINTA, ia telah menulis puluhan artikel ilmiah, termasuk publikasi di jurnal internasional. Penelitiannya banyak mengangkat isu-isu aktual, seperti daya saing wirausaha di era digital, pola pikir inovatif di kalangan pensiunan (pensionpreneurship), hingga strategi bertahan UMKM pasca-pandemi.

Tak hanya aktif di jurnal akademik, Dr. Meriza juga konsisten menyebarkan pemikirannya melalui media populer. Ia mengisi acara radio mingguan “Belbiz” di K-Lite FM Bandung yang membahas tema-tema manajemen dan bisnis dengan pendekatan ringan namun mendalam. Topik-topik seperti literasi keuangan untuk pensiunan, transformasi bisnis keluarga, dan inovasi organisasi menjadi bahasan rutin. Kehadirannya di berbagai platform—radio, TikTok, hingga situs Strabiz dan GiMB—menunjukkan dedikasinya dalam mendekatkan ilmu kepada masyarakat luas.

Membangun Ekosistem Kolaboratif untuk Kewirausahaan

Di luar dunia kampus, Dr. Meriza juga memiliki kontribusi besar dalam dunia organisasi. Sebagai Wakil Ketua KADIN Kota Bandung dan Pengarah Inkubator Bisnis KADIN, ia mendorong tumbuhnya startup dan UMKM lokal. Ia juga dipercaya memimpin Sinergitas ABCGM Jawa Barat—sebuah platform lintas sektor yang mengintegrasikan akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, dan media demi memperkuat ekosistem kolaboratif di wilayah tersebut.

Partisipasinya dalam pengabdian masyarakat berskala internasional, seperti melalui kegiatan PKM bersama PKBM PPI Taiwan, mencerminkan komitmennya untuk memberi dampak nyata, tak hanya di level nasional, tetapi juga bagi komunitas diaspora Indonesia.

Sosok Kolaboratif yang Menjadi Inspirasi

Yang menjadikan Dr. Meriza istimewa bukan hanya deretan gelar dan jabatan, tetapi keteladanannya sebagai akademisi yang aktif menciptakan perubahan nyata. Ia membangun jembatan antara teori dan praktik, antara ruang kuliah dan ruang publik, antara riset, aksi, dan dampak.

Di era yang menuntut kolaborasi dan inovasi lintas sektor, sosok seperti Dr. Meriza hadir sebagai penyegar cara pandang kita terhadap peran pendidikan tinggi—bukan sebagai menara gading yang terpisah dari realitas, melainkan sebagai penggerak transformasi sosial dan ekonomi.

Salah satu kutipan yang mencerminkan semangatnya berbunyi: “Kewirausahaan bukan hanya soal bisnis, tetapi keberanian untuk mengubah pola pikir dan menciptakan nilai.”

Bagi pembaca yang hendak berdiskusi dengan Dr. Meriza Hendri dapat menghubungi email-nya [email protected].

Riset ke Bisnis: Strategi Widyatama Cetak Pebisnis Masa Depan

0

Riset ke Bisnis: Strategi Widyatama Cetak Pebisnis Masa Depan

Universitas Widyatama wujudkan tagline “Friendly Campus for Future Business Pro”

lewat inovasi bernilai

Senin pagi, 16 Juni 2025 lalu, Gedung Serba Guna Universitas Widyatama dipenuhi energi muda. Ratusan mahasiswa, tenant inkubator, hingga UMKM binaan berkumpul dalam Expo INKOPA UTama. Bertema “Memajukan Kolaborasi, Inovasi, dan Globalisasi”, acara ini bukan sekadar pameran produk. Ia adalah panggung nyata bagaimana kampus mampu melahirkan inovasi sekaligus entrepreneur baru.

Menara Gading ke Kampus Berdampak – Kolaborasi Pentahelix

Bagi Universitas Widyatama, inovasi bukan hanya berhenti di laboratorium. Melalui Inovasi dan Korporasi Akademik (INKOPA), hasil riset ditransformasi menjadi produk bernilai dan solusi nyata bagi masyarakat.

Prof. Dr. Keni Kaniawati, Kepala Biro INKOPA, menegaskan bahwa kampus berdampak harus terukur lewat karya. “Produk seperti pendeteksi gempa, penjernih air, hingga inovasi berbasis teknologi hibah Kedaireka, semua kami arahkan untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat,” ujarnya.

Semangat ini juga sejalan dengan visi universitas. Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi, Dr. Didit Damur Rochman, menambahkan, “Kami tidak ingin lulusan hanya jadi pekerja. Sesuai tagline ‘Friendly Campus for Future Business Pro’, mereka didorong menjadi pebisnis tangguh dan penggerak UMKM baru.”

Keberhasilan Expo INKOPA tak lepas dari model kolaborasi pentahelix – akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, dan media. BRIN hadir memberi dukungan teknologi bagi UMKM, sementara KADIN Bandung membuka akses jejaring usaha.

Driszal Fryantoni perwakilan BRIN menyebut pihaknya siap mendampingi UMKM binaan agar lebih efisien dengan teknologi riset. Sedangkan Wakil Ketua KADIN Bandung, Ir. H. M. Shobirin menegaskan keterbukaan bagi mahasiswa wirausaha. “Kami siap mengasistensi mereka agar naik kelas,” katanya.

Rumah BUMN Bandung pun ikut terlibat, membawa UMKM binaannya untuk berbagi pengalaman melalui program Basecamp Millennials.

Dari Riset ke Pasar, Menuju Inovasi Berkelanjutan

Pameran menampilkan karya mahasiswa dan dosen yang siap dipasarkan. Mulai dari sistem deteksi gempa, alat penjernih air, hingga sepatu ramah lingkungan dan “Fashion Bandung Belong To Us”. Semua menunjukkan bahwa riset kampus bisa menembus pasar, bukan sekadar berakhir di jurnal akademis.

Bagi mahasiswa, kegiatan ini merupakan ruang belajar langsung menghadapi dunia usaha. “Kami berharap mereka terinspirasi dan berani terjun ke bisnis,” ungkap Radinal Pramudha Sirat, CEO Rumah BUMN Bandung.

Sebagai penyelenggaraan perdana, Expo INKOPA dipandang sebagai pemantik kegiatan serupa di masa depan. Wakil Rektor Bidang SDM dan Tata Kelola, Dr. R. Wedi Rusmawan Kusumah, optimistis, “Acara ini pendorong lahirnya kolaborasi, inovasi, dan globalisasi yang berkelanjutan.”

Dengan dukungan penuh dan semangat kolaborasi, Universitas Widyatama meneguhkan diri sebagai kampus berdampak: melahirkan entrepreneur muda, memperkuat ekosistem UMKM, dan menghadirkan riset yang benar-benar berguna bagi masyarakat. (by Komunita)

Angka Partisipasi Kasar Perguruan Tinggi: Cermin Akses Pendidikan Tinggi dan Masa Depan Indonesia ?

0

Pendidikan tinggi sering dipandang sebagai “eskalator” mobilitas sosial, atau jalan naik menuju kehidupan yang lebih baik. Namun, eskalator ini belum bisa dinaiki semua orang. Di balik semarak pembangunan kampus baru, perkuliahan digital, serta bergugurannya PTS, ternyata jutaan lulusan SMA/SMK/MA tidak pernah menginjakkan kaki di perguruan tinggi. Faktanya bukan karena kurang cerdas, melainkan karena terbentur biaya, akses, atau norma sosial.

Apa Angka Partisipasi Kasar (APK)?

Secara sederhana, APK pendidikan tinggi menggambarkan seberapa besar daya serap perguruan tinggi terhadap penduduk usia kuliah (19–23 tahun). Rumusnya: jumlah mahasiswa (semua usia) dibagi dengan total penduduk usia 19–23 tahun. Jadi, meski ada mahasiswa yang lebih muda atau lebih tua, tetap dihitung.

Menurut UNESCO (2020), indikator ini disebut Gross Enrolment Ratio (GER) dan digunakan di seluruh dunia untuk mengukur akses pendidikan tinggi. Di Indonesia, APK pendidikan tinggi tahun 2024 baru 32% (31,45%). Jika dipecah menurut jenis kelamin: laki-laki 31,05% dan perempuan 32,96% (BPS, World Bank Open Data). Angka ini jauh tertinggal dibanding negara maju, di mana rata-rata APK bisa melampaui 70%.

Mengapa APK Tidak Merata?

K

  • “Setiap kenaikan 1% angka partisipasi pendidikan tinggi bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 0,37%.”
    —
    World Bank, Education and Economic Growth (2018)

  • “Pendidikan tinggi adalah mesin mobilitas sosial. Semakin banyak anak muda kuliah, semakin luas peluang keluar dari kemiskinan.”
    —
    UNESCO Institute for Statistics (2022)

 

ajian Bank Dunia dan lembaga internasional lain melihat ada faktor utama dan faktor sekunder yang menjelaskan ketimpangan ini:

Faktor utama berkaitan dengan: Biaya pendidikan tinggi (meliputi: UKT/Uang Kuliah Tunggal, biaya hidup, hingga “biaya kesempatan” karena harus bekerja) menjadi penghalang utama bagi rumah tangga miskin; lalu Ketersediaan perguruan tinggi dan program studi yang tidak merata. Provinsi di luar Jawa umumnya memiliki pilihan perguruan tinggi lebih terbatas.

Faktor sekunder berkaitan dengan: Kesiapan akademik lulusan SMA/SMK/MA yang belum optimal karena kualitas sekolah menengah tidak merata; Norma sosial, misal perkawinan dini, khususnya pada perempuan; lalu Kurangnya informasi tentang jalur kuliah atau beasiswa, serta kesenjangan akses digital yang memperlebar jarak aspirasi pendidikan antarwilayah.

Indonesia menujukan disparitas ketimpangan APK pendidikan tinggi yang mencolok mengingat kondisi geografis, dan sosial ekonomi yang menjadikan tantangan tersendiri. Berikut gambaran APK pendidikan tinggi setiap 38 provinsi.

Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi (PT) Menurut Provinsi 2024

Provinsi

Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi (PT)

ACEH

42,48

SUMATERA UTARA

31,63

SUMATERA BARAT

43,29

RIAU

34,86

JAMBI

31,89

SUMATERA SELATAN

26,41

BENGKULU

37,79

LAMPUNG

22,29

KEP. BANGKA BELITUNG

20,14

KEP. RIAU

30,48

DKI JAKARTA

41,98

JAWA BARAT

27,21

JAWA TENGAH

26,37

DI YOGYAKARTA

73,90

JAWA TIMUR

31,85

BANTEN

32,40

BALI

38,15

NUSA TENGGARA BARAT

34,80

NUSA TENGGARA TIMUR

31,47

KALIMANTAN BARAT

24,99

KALIMANTAN TENGAH

27,49

KALIMANTAN SELATAN

28,06

KALIMANTAN TIMUR

40,03

KALIMANTAN UTARA

27,98

SULAWESI UTARA

34,75

SULAWESI TENGAH

40,38

SULAWESI SELATAN

41,83

SULAWESI TENGGARA

42,95

GORONTALO

35,68

SULAWESI BARAT

30,41

MALUKU

47,91

MALUKU UTARA

42,22

PAPUA BARAT

27,52

PAPUA BARAT DAYA

36,71

PAPUA

35,63

PAPUA SELATAN

25,07

PAPUA TENGAH

15,45

PAPUA PEGUNUNGAN

12,23

INDONESIA

32,00

Sumber: BPS, Susenas KOR Catatan: Kelompok umur perguruan tinggi yang digunakan adalah 19-23 tahun

Dampak APK Rendah atau Timpang

Rendahnya partisipasi pendidikan tinggi bukan sekedar soal individu yang gagal memasuki masa kuliah. Namun efeknya merembet ke tingkat nasional pada aspek-aspek: pertumbuhan ekonomi terhambat, inovasi dan riset lemah, ketimpangan sosial melebar, risiko Middle-Income Trap, kesejahteraan masyarakat terhambat.

Pertumbuhan Ekonomi Terhambat. Pendidikan tinggi adalah mesin pencetak human capital. Rendahnya APK membuat mayoritas tenaga kerja hanya berpendidikan menengah ke bawah, sehingga produktivitas nasional lambat dan daya saing melemah.

Inovasi dan Riset Lemah. Basis peneliti, insinyur, dan wirausaha terdidik sangat bergantung pada APK. OECD (2024) menilai Indonesia akan kesulitan membangun ekonomi berbasis pengetahuan tanpa percepatan akses pendidikan tinggi.

Ketimpangan Sosial Melebar. Data World Bank menunjukkan anak dari keluarga kaya punya peluang masuk kampus jauh lebih besar daripada dari keluarga miskin. Jika dibiarkan, kesenjangan ini menutup jalan mobilitas sosial dan memperlebar ketidaksetaraan regional.

Risiko Middle-Income Trap. Tanpa tenaga kerja berpendidikan tinggi, Indonesia sulit beralih dari industri padat karya berupah rendah menuju industri teknologi menengah-tinggi. Hasilnya: risiko terjebak di kelas menengah dengan pertumbuhan melambat.

Kesejahteraan Masyarakat Terhambat. Studi BPS dan ILO konsisten: lulusan perguruan tinggi memiliki penghasilan lebih tinggi, pengangguran lebih rendah, dan mobilitas sosial lebih besar. Rendahnya APK berarti sebagian besar angkatan kerja kehilangan peluang ini.

APK dan Masa Depan Indonesia

Karena itu, APK pendidikan tinggi bukan sekadar angka statistik melainkan indikator masa depan bangsa.

  • APK tinggi dan merata berarti fondasi SDM unggul, pendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, inovasi, daya saing global, dan kesejahteraan masyarakat.

  • APK rendah dan timpang berarti risiko terjebak di middle-income trap, stagnasi inovasi, kesenjangan sosial yang makin lebar, dan pertumbuhan kesejahteraan yang tersendat.

Sumber Data Grafik:
UNESCO Institute for Statistics (UIS) 2022, World Bank Education Statistics 2023, ADB (2021).

Jika Indonesia berkehendak melompat menjadi negara maju, memperluas akses pendidikan tinggi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan strategis. (lili irahali)

Rujukan

  1. BPS (2024). Gross Enrolment Ratio (GER) by Sex and Education Level

  2. World Bank (2020). The Promise of Education in Indonesia

  3. OECD (2024). Economic Survey of Indonesia

  4. ADB & Bank Dunia – laporan tentang risiko middle-income trap Indonesia dan kebutuhan transformasi berbasis SDM berpendidikan.

  5. ILO & BPS – data korelasi pendidikan tinggi dengan upah, pengangguran, dan kesejahteraan.