Perilaku Mahasiswa di Tengah Stres Finansial
Oleh: Dr. Ivan Gumilar Sambas Putra, S.E., M.M., M.Ak.
Di tengah riuhnya perkuliahan, tugas, dan organisasi, ada satu masalah yang jarang dibicarakan secara terbuka di kampus yaitu stres finansial mahasiswa. Bukan hanya sekadar kekurangan uang untuk membeli kopi kekinian atau tiket konser, tetapi tekanan ekonomi yang menyentuh kebutuhan pokok, biaya kuliah, hingga perasaan aman secara finansial. Fenomena ini semakin terasa di era pasca-pandemi, ketika biaya hidup terus merangkak naik sementara peluang beasiswa atau pekerjaan paruh waktu tidak selalu sebanding.
Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya harus memutar otak untuk bertahan, mulai dari mengambil pekerjaan sambilan, berhemat secara ekstrem, hingga meminjam uang dari teman atau keluarga. Pilihan-pilihan ini terkadang menyelamatkan situasi sesaat, namun di sisi lain dapat menambah tekanan psikologis dan memengaruhi fokus belajar. Kondisi inilah yang membuat stres finansial menjadi isu serius di dunia kampus, bukan hanya soal pengelolaan uang, tetapi juga tentang bagaimana mahasiswa menjaga kesehatan mental dan motivasi akademiknya.
Bagi sebagian mahasiswa, perjalanan menuju gelar sarjana bukan hanya perjuangan akademis, tetapi juga perjuangan dompet. Stres finansial datang tanpa permisi, membebani pikiran bahkan sebelum ujian dimulai. Menariknya, penyebab tersebut sering kali saling berkaitan dan membentuk lingkaran masalah yang sulit diputus. Sehingga akar dari stres finansial dimulai dari biaya kuliah hingga tekanan gengsi.
-
Biaya Pendidikan yang Tinggi
Meski sudah ada Kartu Indonesia Pintar (KIP), beasiswa, atau skema cicilan, realitas di lapangan tetap terasa berat. Uang Kuliah Tunggal (UKT), biaya praktikum, hingga pembelian buku referensi yang “wajib” dibeli menjadi pos pengeluaran yang tak bisa dihindari. Tidak jarang, mahasiswa harus memilih antara membeli buku asli seharga ratusan ribu atau mencari versi fotokopi yang harganya lebih bersahabat. Seorang mahasiswa Teknik di Bandung bahkan mengaku harus “ngirit” makan selama seminggu hanya demi membayar biaya ujian praktikum.
-
Biaya Hidup Harian yang Menguras Kantong
Bagi mahasiswa perantau, biaya hidup sehari-hari bisa jadi lebih menantang daripada tugas kuliah itu sendiri. Sewa kos yang semakin mahal, tarif transportasi online yang naik-turun, hingga harga makanan yang merangkak naik membuat dompet makin tipis. Tidak heran, banyak yang beralih ke strategi bertahan hidup seperti masak mie instan di kamar atau berjalan kaki jarak jauh demi menghemat ongkos.
-
Pendapatan yang Terbatas
Tidak semua mahasiswa memiliki kesempatan atau waktu untuk bekerja paruh waktu. Bagi yang bisa, penghasilan tambahan sering kali tidak cukup untuk menutup semua kebutuhan. Mereka yang mendapat dukungan dari orang tua pun kerap merasa bersalah saat harus meminta tambahan uang, apalagi jika keluarga berada dalam kondisi ekonomi yang sulit. Pada titik ini, sebagian mahasiswa mulai mencari penghasilan dari bisnis kecil-kecilan—jualan online, menjadi freelancer desain, atau bahkan menjadi content creator.
-
Tekanan Sosial dan Budaya Gengsi
Di era media sosial, perbandingan hidup tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga di layar ponsel. Foto-foto teman nongkrong di kafe hits, liburan ke luar kota, atau pamer gadget baru bisa memicu perasaan tertinggal. Fenomena fear of missing out (FOMO) ini mendorong sebagian mahasiswa mengeluarkan uang di luar kemampuan mereka demi “tetap terlihat keren” di lingkar pertemanan. Akibatnya, kartu kredit atau aplikasi paylater menjadi “penyelamat” instan—yang justru memicu masalah baru di bulan berikutnya.
Stres finansial bukan hanya persoalan ekonomi semata, melainkan juga berimplikasi luas pada dinamika kehidupan mahasiswa. Tekanan yang berkepanjangan akibat kesulitan memenuhi kebutuhan finansial dapat mengganggu stabilitas emosional, motivasi, dan interaksi sehari-hari. Hal ini pada akhirnya membentuk pola pikir dan perilaku yang berbeda dibandingkan mahasiswa dengan kondisi finansial lebih stabil.
Dampaknya pada Perilaku
Menurut penelitian Roberts & Jones (2022) di Journal of College Student Development, mahasiswa dengan tingkat stres finansial tinggi cenderung mengalami penurunan konsentrasi belajar, produktivitas, dan kesejahteraan mental. Akibatnya, beberapa mahasiswa mulai menunda penyelesaian tugas, mengurangi partisipasi dalam kegiatan perkuliahan, hingga menarik diri dari interaksi sosial karena merasa tertekan oleh kondisi ekonominya.
Ketika tekanan finansial semakin menekan, perilaku mahasiswa pun mengalami perubahan yang cukup signifikan, baik dalam dunia akademik maupun kehidupan sosial mereka. Salah satu dampak yang sering muncul adalah pengambilan keputusan finansial yang kurang bijak. Demi menjaga penampilan atau mengikuti tren gaya hidup teman sebayanya, sebagian mahasiswa memilih jalan pintas dengan mengambil pinjaman konsumtif berbunga tinggi, meski sadar bahwa hal itu justru menambah beban di kemudian hari.
Selain itu, tekanan ekonomi juga berdampak pada motivasi akademik. Alih-alih berkonsentrasi penuh pada perkuliahan, banyak mahasiswa justru lebih sibuk mencari penghasilan tambahan. Akibatnya, tugas kuliah sering tertunda, bahkan prestasi akademik pun ikut menurun.
Di sisi lain, stres finansial turut memengaruhi pola interaksi sosial. Beberapa mahasiswa mulai menghindari aktivitas yang membutuhkan biaya, seperti nongkrong bersama teman atau ikut kegiatan kampus. Lambat laun, hal ini bisa menimbulkan rasa terisolasi dan kesepian.
Tak jarang pula mahasiswa masuk dalam apa yang bisa disebut sebagai “survival mode”. Dalam kondisi ini, mereka lebih memilih untuk memprioritaskan kebutuhan jangka pendek, seperti makan atau transportasi, sambil mengabaikan perencanaan keuangan jangka panjang. Pola ini memang membantu bertahan hari demi hari, tetapi berpotensi menimbulkan masalah yang lebih besar di masa depan.
Strategi Mengatasi Stres Finansial
Kabar baiknya, stres finansial bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari tekanan ini, banyak mahasiswa belajar cara bertahan sekaligus tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh. Ada beberapa langkah sederhana namun efektif yang bisa dilakukan:
Pertama, susunlah anggaran yang realistis. Dengan mencatat pemasukan dan pengeluaran secara rutin, mahasiswa bisa mengetahui kondisi keuangan yang sebenarnya. Langkah kecil ini membantu mengendalikan arus uang, sekaligus mencegah pengeluaran yang tidak perlu.
Kedua, manfaatkan beasiswa dan berbagai program bantuan. Banyak kampus, pemerintah, maupun lembaga swasta menyediakan dukungan finansial yang sering kali luput dari perhatian. Dengan keberanian untuk mencari informasi dan mengajukan diri, peluang untuk meringankan beban biaya akan semakin besar.
K
“Mengelola uang bukan sekadar soal angka, tapi tentang mengendalikan hidup kita di tengah badai.”
etiga, tingkatkan literasi keuangan. Mengikuti seminar, membaca buku, atau bergabung dengan komunitas finansial dapat membuka wawasan baru tentang bagaimana cara mengelola uang dengan bijak. Semakin terampil mengatur keuangan, semakin kecil pula kemungkinan terjebak pada stres finansial.
Terakhir, jangan lupakan keseimbangan mental. Tekanan keuangan sering kali memengaruhi kesehatan psikologis, sehingga penting untuk menjaga diri melalui olahraga, meditasi, atau sekadar berbincang dengan teman dekat. Kesehatan mental yang baik akan membuat mahasiswa lebih kuat menghadapi tantangan ekonomi.
Pada akhirnya, stres finansial bisa menjadi batu sandungan, tapi juga bisa menjadi batu loncatan. Dengan strategi yang tepat, mahasiswa tidak hanya mampu melewati masa sulit ini, tetapi juga membawa bekal penting untuk mengelola kehidupan di masa depan.
Penutup
Stres finansial memang nyata dan dapat mengubah cara mahasiswa berpikir, merasa, dan bertindak. Namun, dengan kesadaran dan strategi yang tepat, mahasiswa tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang di tengah tantangan tersebut. Kampus pun memegang peran penting dalam menyediakan ekosistem yang mendukung kesejahteraan finansial mahasiswa, karena pendidikan yang berkualitas seharusnya tidak terhambat oleh masalah keuangan.
-
Dr. Ivan Gumilar Sambas Putra, S.E., M.M., M.Ak., dosen Fakultas Ekonomi & Bisnis – Univeristas Widyatama
Rujukan
-
Roberts, J., & Jones, M. (2022). Financial Stress and College Student Success. Journal of College Student Development, 63(4), 451–468.
-
Lusardi, A., & Mitchell, O. S. (2020). Financial literacy and the need for financial education: Evidence and implications. Journal of Economic Literature, 58(1), 1–44.





