Home Blog Page 4

PTS, Aset Terlupakan Dalam Misi Akses Pendidikan Tinggi

0

Saat PTN masih menjadi pusat perhatian kebijakan, PTS diam-diam menanggung beban berat pemerataan akses pendidikan tinggi. Apakah negara sudah cukup adil?

Meski sudah memasuki tahun ke-80 kemerdekaan, akses pendidikan tinggi di Indonesia masih diwarnai oleh ketimpangan struktural yang serius. Data BPS tahun 2024 mencatat Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi nasional baru 31,45% (32.0%), dan lebih parah lagi terjadi ketimpangan geografis yang mencolok. Pendidikan tinggi lebih banyak berpusat di pulau Jawa. DKI Jakarta menduduki angka APK 41,98%. Di sisi lain, Papua Pegunungan 12,23%, dan Kep Bangka Belitung sekitar 20,14%.

Dalam konteks keadilan sosial, situasi ini memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi belum sepenuhnya menjadi hak semua anak bangsa. Anak-anak dari keluarga kurang mampu, atau yang tinggal di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) masih kesulitan mengakses bangku kuliah. Hal ini menjadi tantangan serius bagi negara yang tengah membidik Indonesia Emas 2045, di mana bonus demografi hanya akan berbuah bila kualitas SDM merata.

PTN-sentris vs Strategi Mobilitas Sosial Afirmasi PTS

Pemerintah memang telah menggulirkan berbagai program seperti: KIP-Kuliah, SPADA, MBKM kini Diktisaintek Berdampak, Matching Fund hingga kebijakan lainnya untuk memperluas akses dan meningkatkan mutu pendidikan tinggi. Namun, kebijakan-kebijakan ini masih terlalu berpusat pada perguruan tinggi negeri (PTN). PTS belum diposisikan sebagai mesin mobilitas sosial melalui afirmasi kebijakan akses dan kesempatan pendidikan tinggi bagi kelompok masyarakat yang sulit menembus PTN atau terhambat faktor ekonomi-sosial.

Tabel berikut menggambarkan bahwa strategi Kementerian tidak hanya beasiswa, tapi juga digitalisasi pembelajaran, fleksibilitas kurikulum, link and match dengan industri, afirmasi sosial, hingga internasionalisasi.

Tabel Program Kementerian untuk Peningkatan Akses Pendidikan Tinggi

Program

Tujuan Utama

Sasaran

Dampak terhadap APK

KIP Kuliah Membantu mahasiswa kurang mampu secara ekonomi untuk mengakses pendidikan tinggi Lulusan SMA/SMK sederajat dari keluarga miskin/ rentan miskin Menekan hambatan biaya, memperluas akses masuk PTN/PTS
SPADA (Sistem Pembelajaran Daring Indonesia) Memperluas akses kuliah daring lintas perguruan tinggi Mahasiswa di PTN/PTS seluruh Indonesia, terutama daerah 3T Menambah pilihan mata kuliah tanpa batas ruang, meningkatkan partisipasi
MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) Memberikan fleksibilitas belajar di luar prodi/PT asal (magang, riset, proyek sosial, dll.) Mahasiswa S1/D4 PTN dan PTS Meningkatkan relevansi dan minat studi, mengurangi putus kuliah
Diktisaintek Berdampak Menghubungkan riset sains dan teknologi dengan isu masyarakat & industri Dosen, mahasiswa, mitra industri APK meningkat karena daya tarik prodi saintek bertambah, peluang riset & pembiayaan meluas
Matching Fund (Kedaireka) Kemitraan PT dengan industri untuk mendanai riset, inovasi, dan pembelajaran PTN/PTS, industri, startup Membuka peluang pembiayaan, memperkuat link-and-match, mendorong mahasiswa lanjut kuliah
Beasiswa LPDP (Kemendikbudristek & Kemenkeu) Menyediakan pendanaan penuh S2/S3 dalam dan luar negeri Mahasiswa, dosen, ASN APK pascasarjana meningkat, kualitas SDM akademik naik
Beasiswa Unggulan Mendukung mahasiswa/ dosen berprestasi akademik & non-akademik Mahasiswa unggulan Memotivasi kelompok berprestasi lanjut kuliah
Program Afirmasi (ADik, Papua, 3T, PPA, Bidikmisi lama) Memberikan akses khusus bagi daerah tertinggal, disabilitas, dan afirmasi lainnya Mahasiswa dari daerah 3T, Papua, disabilitas, miskin Menutup kesenjangan wilayah & sosial, menambah APK inklusif
PDDikti & Satu Data Pendidikan Tinggi Basis data untuk pemetaan, evaluasi, dan kebijakan PTN/PTS, mahasiswa Memperbaiki perencanaan APK nasional
Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Memberi pengakuan pendidikan informal/ nonformal/kerja jadi SKS Pekerja, masyarakat non-linier Menarik pekerja lanjut kuliah tanpa mulai dari nol
Program Kampus Merdeka Vokasi (Magang & Sertifikasi Industri) Meningkatkan keterhubungan lulusan vokasi dengan dunia kerja Mahasiswa D3/D4 Meningkatkan minat ke vokasi, memperluas akses APK
SMK Pusat Keunggulan & Link and Match Menguatkan jenjang vokasi dan transisi ke perguruan tinggi Lulusan SMK Membuka jalan masuk ke PTN/PTS, menambah partisipasi
Internasionalisasi Perguruan Tinggi (Indonesian International Student Mobility Awards / IISMA) Mobilitas internasional mahasiswa Mahasiswa S1 seluruh Indonesia Meningkatkan daya tarik masuk PT, APK lebih kompetitif

Namun fakta menunjukkan bahwa kebijakan di atas masih berorientasi kepada PTN dengan daya tampung jumlah mahasiswa yang terbatas. Padahal, data menunjukkan bahwa lebih dari 65% mahasiswa Indonesia menempuh studi di Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Meski memikul mayoritas beban akses pendidikan tinggi, PTS belum mendapat porsi perhatian dan anggaran yang sebanding.

Agar pendidikan tinggi bisa menjadi alat mobilitas sosial bukan reproduksi ketimpangan, maka negara perlu mengubah paradigma kebijakan secara lebih inklusif. Termasuk di dalamnya:

  • Afirmasi berbasis wilayah dan latar belakang sosial ekonomi, bukan sekadar jenis perguruan tinggi.

  • Pendanaan yang adil bagi PTS yang aktif menjangkau masyarakat miskin.

  • Pembinaan mutu kelembagaan untuk mengangkat kualitas PTS secara merata.

Tanpa itu, akses tidak akan bermakna, dan PTS akan terus tertatih dalam menyediakan pendidikan yang terjangkau dan bermutu.

PTS Diam-diam Bekerja Keras

Walaupun demikian beberapa PTS telah berinovasi dalam membuka akses pendidikan tinggi bagi kelompok marginal. Melalui program afirmasi PTS, salah satunya: 1) Menyelenggarakan kelas malam dan program RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) bagi pekerja dewasa; 2) Memberikan beasiswa internal terbatas yang dibiayai Yayasan selaku penyelenggara; 3) Menjalin kemitraan dengan pemda dan dunia usaha untuk mendanai mahasiswa dari daerah tertinggal.

Dalam 3 tahun terakhir, beberapa PTS mencatat bahwa lebih dari 30% mahasiswa barunya berasal dari keluarga berpenghasilan rendah. Namun tantangannya tetap besar, mencakup: 1) Biaya operasional tanpa subsidi negara, membuat margin untuk memberi beasiswa sangat sempit; 2) Persepsi sosial bahwa PTS inferior terhadap PTN; 3) Keterbatasan SDM dan infrastruktur, terutama di luar Jawa.

Tabel Program Afirmasi PTS & Dampak Sosialnya

Program Afirmasi

di PTS

Contoh Implementasi

Dampak Sosial

Beasiswa Afirmasi (KIP Kuliah / internal PTS) Membebaskan/menurunkan UKT bagi mahasiswa dari keluarga miskin Meningkatkan akses pendidikan tinggi bagi kelompok miskin dan rentan
Jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Mengakui pengalaman kerja/kompetensi sebagai kredit akademik Memberi kesempatan pekerja non-gelar untuk naik mobilitas sosial melalui ijazah formal
Subsidi Silang (Cross-subsidy) Mahasiswa reguler membayar lebih tinggi untuk mendukung mahasiswa kurang mampu Mengurangi kesenjangan ekonomi dalam akses kuliah di PTS
Kemitraan Industri & CSR Perusahaan membiayai mahasiswa PTS tertentu (beasiswa industri, ikatan dinas) Membuka akses kerja plus meningkatkan relevansi lulusan dengan pasar
Kelas Khusus Afirmasi Daerah 3T Kuota khusus bagi mahasiswa dari Papua, Maluku, NTT, dll. Memperluas pemerataan pendidikan tinggi ke wilayah terpinggirkan
Skema Pembiayaan Fleksibel Cicilan biaya kuliah, income-sharing agreement (bayar setelah kerja) Mengurangi hambatan biaya langsung dan memperbesar kesempatan kuliah
Kampus Rakyat (Community College Model) PTS membuka kelas satelit di daerah Menyediakan akses dekat ke pendidikan tinggi tanpa harus migrasi ke kota besar

Harapan pada Negara, PTS Sebagai Aset Nasional

Yayasan, Rektor dan pimpinan PTS berharap pemerintah seyogyanya mulai memberi perhatian pada kebijakan:

  • Menyetarakan kesempatan akses program nasional, seperti KIP-Kuliah, MBKM, dan LPDP untuk mahasiswa dan dosen PTS.

  • Memberikan insentif fiskal kepada PTS yang menjangkau daerah 3T.

  • Memperkuat peran LLDIKTI sebagai pembina dan fasilitator, bukan hanya regulator administratif.

  • Menyediakan pendanaan kompetitif berbasis kinerja sosial, bukan hanya akademik.

Kebijakan tersebut akan mengurangi jurang ketimpangan antara kampus negeri dan swasta yang saat ini terasa melebar. Hal tersebut dengan harapan akhirnya, mimpi Indonesia Emas 2045 akan menjadi milik semua, bukan hanya akan menjadi milik segelintir kelompok sosial yang beruntung.

Waktu bagi pemerintah untuk mengubah lensa kebijakan pendidikan tinggi sudah tiba. PTS bukan beban, bukan cadangan. Mereka adalah aset nasional yang menopang cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa di wilayah dan kelompok sosial yang selama ini terabaikan.

Pemerataan pendidikan tinggi hanya akan terwujud jika negara membuka mata terhadap kontribusi dan potensi PTS. Inilah langkah strategis yang tak hanya mendesak, tetapi mutlak diperlukan. (lili irahali)

Rujukan:

  1. Badan Pusat Statistik (BPS). Statistik Pendidikan Tinggi Indonesia 2023.

  2. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (2022). Laporan KIP-Kuliah 2023 dan Evaluasi MBKM.

  3. World Bank (2022). Higher Education Financing in Indonesia: Challenges and Opportunities.

  4. Forum Rapat Kerja Pimpinan Perguruan Tinggi (RAKERPIM) 2024.

  5. Bappenas (2023). RPJPN 2025–2045: Indonesia Emas.

 

Wawancara: Prof. Ir. Meilinda Nurbanasari, S.T., M.T., Ph.D. Rektor ITENAS Akses Pendidikan Tinggi, Keadilan Sosial, dan Peran PTS

0

Ketimpangan akses pendidikan tinggi di Indonesia masih nyata. Kesenjangan antara Jawa dan luar Jawa, kota dan desa, hingga kelompok sosial-ekonomi kaya dan miskin. Ini mencerminkan perguruan tinggi belum sepenuhnya menjadi alat mobilitas sosial.

Mahasiswa dari keluarga mampu relatif lebih mudah melanjutkan ke perguruan tinggi negeri (PTN), sementara kelompok rentan sering terkendala biaya, akses informasi, maupun kesiapan akademik. Biaya kuliah, biaya hidup di kota besar, hingga keterbatasan beasiswa menjadi hambatan utama.

Data BPS bahkan memperlihatkan bahwa partisipasi pendidikan tinggi jauh lebih tinggi di kelompok 20% rumah tangga terkaya dibanding kelompok 20% termiskin. Akibatnya, perguruan tinggi lebih banyak diakses oleh kalangan berpunya, yang justru memperlebar kesenjangan sosial-ekonomi.

PTN besar seperti UI, UGM, ITB, atau Unair masih menjadi puncak piramida pendidikan tinggi. Status ‘kampus negeri’ dipandang lebih prestisius, akses masuknya ketat, dan sebagian besar dukungan negara — mulai dari anggaran riset hingga proyek strategis — terfokus pada PTN. Padahal, lebih dari 65% mahasiswa Indonesia kuliah di Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Sayangnya, PTS kerap diperlakukan sekunder, meskipun merekalah yang menampung mayoritas mahasiswa. Kalau bicara keadilan sosial, pemerintah harus menyeimbangkan dukungan, tidak hanya memperkuat PTN, tetapi juga memberdayakan PTS.

Prof. Dr. Keni Kaniawati, S.E., M.Si. dari majalah Komunita berbincang dengan Prof. Ir. Meilinda Nurbanasari, S.T., M.T., Ph.D – Rektor ITENAS di tengah kesibukan beliau memimpin pengelolaan perguruan tingginya. Prof. Meilinda menyoroti masalah, strategi transformatif, hingga harapan terhadap pemerintah agar pendidikan tinggi lebih adil dan merata.

Prof. Dr. Keni K.: Bagaimana Anda melihat ketimpangan akses pendidikan tinggi dalam konteks keadilan sosial di Indonesia saat ini?

Prof. Ir. Meilinda N. Ph.D.: Ketimpangan akses masih sangat nyata. Kita bisa melihat kesenjangan antar wilayah, antara Jawa dan luar Jawa, perkotaan dan pedesaan, bahkan antar kelompok sosial-ekonomi. Mahasiswa dari keluarga mampu cenderung lebih mudah masuk perguruan tinggi negeri (PTN), sementara kelompok rentan tertinggal karena hambatan biaya, akses informasi, dan kesiapan akademik.

Dari aspek ekonomi, biaya kuliah, biaya hidup di kota besar, dan keterbatasan beasiswa menjadi hambatan utama. Program seperti KIP-Kuliah, Bidikmisi, atau LPDP memang membantu, tapi daya jangkaunya masih terbatas. Data BPS menunjukkan partisipasi pendidikan tinggi jauh lebih tinggi di kelompok rumah tangga terkaya dibanding yang termiskin. Ini mencerminkan ketidakadilan sosial: perguruan tinggi lebih mudah diakses kelompok kaya, sehingga memperlebar kesenjangan sosial-ekonomi.

Prof. Dr. Keni K.: Apakah kebijakan pendidikan tinggi selama ini masih terlalu elitis dan berpusat pada PTN?

Prof. Ir. Meilinda N. Ph.D.: Betul, kebijakan pendidikan tinggi kita masih sangat PTN-sentris. Dari sisi regulasi, anggaran, maupun program afirmasi, PTN selalu menjadi pusat perhatian. Padahal, lebih dari 60% mahasiswa Indonesia justru kuliah di Perguruan Tinggi Swasta (PTS).

PTN besar seperti UI, UGM, ITB, atau Unair masih dianggap puncak piramida pendidikan tinggi. Reputasi “kampus negeri” dipandang lebih prestisius, akses masuknya sangat kompetitif, dan sebagian besar dana riset serta hibah diarahkan ke PTN. Dampaknya, PTS—yang jumlahnya lebih dari 3.000 kampus—seringkali diperlakukan sekunder. Padahal merekalah yang menampung mayoritas mahasiswa.

Kalau bicara keadilan sosial, pemerintah perlu menyeimbangkan kebijakan. Dukungan tidak boleh hanya untuk PTN, tapi juga memberdayakan PTS agar akses pendidikan tinggi benar-benar merata.

Prof. Dr. Keni K.: Menurut Anda, apa strategi transformatif yang paling efektif agar pendidikan tinggi benar-benar menjadi alat mobilitas sosial?

Prof. Ir. Meilinda N. Ph.D.: Strategi yang paling efektif adalah menjadikan pendidikan tinggi sebagai instrumen mobilitas sosial, bukan sekadar pencetak ijazah. Caranya dengan memperkuat beasiswa afirmatif bagi kelompok rentan, memperluas jalur masuk berbasis talenta, serta memberi dukungan non-akademik seperti pendampingan belajar, literasi digital, dan pembinaan karakter.

Saya membaginya ke dalam tiga tahap:

  1. Jangka pendek (0–2 tahun): memperluas beasiswa pro-poor, memberi bantuan biaya hidup dan transportasi bagi mahasiswa daerah 3T, jalur afirmasi seleksi masuk, serta layanan bimbingan karier di sekolah.

  2. Jangka menengah (2–5 tahun): memperkuat PTS melalui dana kompetitif, mengembangkan kampus satelit di luar Jawa, menyediakan program bridging, serta memperkuat program Merdeka Belajar Kampus Merdeka.

  3. Jangka panjang (5–15 tahun): reformasi pembiayaan dengan income-contingent loans, investasi pendidikan dasar-menengah di daerah tertinggal, akreditasi berbasis inklusi, serta pengembangan jalur vokasi dan community college.

Prof. Dr. Keni K.: Apakah negara perlu membuat kebijakan afirmasi khusus terhadap mahasiswa PTS?

Prof. Ir. Meilinda N. Ph.D.: Tentu saja perlu, bahkan harus. Sebagian besar mahasiswa Indonesia kuliah di PTS. Kalau afirmasi hanya fokus di PTN, maka mayoritas mahasiswa justru tidak terjangkau.

Mahasiswa PTS menanggung biaya kuliah lebih tinggi karena kampus mereka tidak mendapat subsidi operasional sebesar PTN. Padahal, pendidikan tinggi adalah public good, sehingga tidak adil jika dukungan negara lebih besar ke PTN. Apalagi, banyak PTS hadir di daerah yang tidak terjangkau PTN.

Memang ada program afirmasi seperti KIP-Kuliah untuk mahasiswa PTS, tapi jumlahnya kecil dibanding kebutuhan riil. Bantuan UKT saat pandemi juga ada, tapi sifatnya darurat. Sementara bantuan operasional rutin dan dana riset jauh lebih banyak mengalir ke PTN. Jadi, kebijakan afirmasi untuk mahasiswa PTS sudah ada, tapi belum proporsional.

Prof. Dr. Keni K.: Bagaimana kontribusi PTS dalam membuka akses pendidikan tinggi bagi masyarakat?

Prof. Ir. Meilinda N. Ph.D.: PTS adalah garda depan pemerataan akses. Banyak PTS menyediakan beasiswa internal, skema cicilan, dan kerja sama dengan pemerintah daerah maupun dunia usaha untuk membantu mahasiswa kurang mampu.

PTS juga lebih cepat beradaptasi dengan kebutuhan industri dan tren global. Mereka membuka program studi baru seperti digital business, teknologi informasi, atau green entrepreneurship. Dengan begitu, daya tampung bertambah dan pilihan studi makin relevan dengan kebutuhan zaman.

Selain itu, PTS memfasilitasi KIP-Kuliah, memberi beasiswa internal, dan membangun kemitraan industri untuk magang atau kelas vokasional. Semua ini memperluas akses sekaligus meningkatkan kualitas lulusan.

Prof. Dr. Keni K.: Apa tantangan terbesar yang dihadapi PTS dalam menjangkau calon mahasiswa dari kalangan bawah atau kelompok rentan?

Prof. Ir. Meilinda N. Ph.D.: Tantangan utamanya ada tiga: biaya, akses, dan stigma. Pertama, faktor biaya jelas menjadi kendala besar. Kedua, akses informasi bagi siswa di daerah 3T masih terbatas, ditambah kesiapan akademik lulusan SMA/SMK yang sering tidak merata. Ketiga, stigma masyarakat: banyak yang menganggap PTN lebih prestisius, sementara PTS dipersepsikan mahal atau kurang berkualitas. Padahal, kenyataannya akses di PTS justru lebih terbuka.

Prof. Dr. Keni K.: Adakah kebijakan internal atau program afirmatif di kampus Anda untuk mendukung mahasiswa dari kelompok kurang mampu atau daerah 3T?


Prof. Ir. Meilinda N. Ph.D.: Ada. Banyak PTS memiliki program beasiswa internal untuk mahasiswa berprestasi dari keluarga tidak mampu, program afirmasi untuk anak dari daerah terpencil, hingga kerja sama dengan yayasan dan perusahaan melalui dana CSR.

Kami juga menjalankan community scholarship program berbasis pengabdian, di mana penerima beasiswa diwajibkan kembali ke daerah asalnya setelah lulus. Selain itu, ada mentoring akademik dan karier untuk memastikan mahasiswa dari kelompok rentan bisa menyelesaikan studi dengan baik, bukan hanya sekadar masuk.

Prof. Dr. Keni K.: Terakhir, apa harapan Anda terhadap pemerintah dalam mendukung peran PTS ke depan?


Prof. Ir. Meilinda N. Ph.D.: Harapan kami, pemerintah memberikan pengakuan dan dukungan yang setara bagi PTS. Caranya dengan memperluas beasiswa KIP-Kuliah untuk mahasiswa PTS, memberi subsidi operasional, serta membuka akses dana riset dan pengabdian masyarakat yang lebih proporsional.

Selain itu, kami berharap pemerintah melibatkan PTS lebih aktif dalam program nasional seperti Kampus Merdeka, vokasi, dan pengembangan SDM unggul. PTN dan PTS perlu dilihat sebagai mitra sejajar dalam membangun pendidikan tinggi nasional yang adil, merata, dan berkualitas.

(Interviewer & Writing: Keni Kaniawati, Editor: Lili Irahali)

Karya Film Mahasiswa Widyatama Tembus Panggung Nasional dan Diakuisisi BRIN

0

Universitas Widyatama kembali mengukir prestasi gemilang di tingkat nasional. Sebuah film dokumenter karya mahasiswa dari Program Studi Film dan Televisi (FTV) berhasil diakuisisi oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pengumuman membanggakan ini disampaikan dalam acara pemutaran film “Cinema Wonderland 2025” yang diselenggarakan di kampus pada Rabu, 25 Juni 2025.

Pencapaian ini menjadi tonggak sejarah baru bagi prodi FTV dan Universitas Widyatama. Kepala Program Studi FTV, Kenmada Widjajanto, S.Sos., M.IKom. menyatakan akuisisi oleh BRIN merupakan sebuah pengakuan kualitas nasional yang diraih melalui proses kurasi yang sangat ketat. Prestasi ini, ditambah tiga penghargaan lain di ajang kompetisi berbeda, membuktikan bahwa kualitas pendidikan Widyatama mampu menghasilkan sineas muda yang karyanya diakui secara luas.

Cinema Wonderland 2025 sendiri sukses menjadi panggung yang menampilkan karya-karya berkualitas mahasiswa. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi kebanggaan internal, tetapi juga memperkuat reputasi Universitas Widyatama sebagai institusi pencetak talenta unggul di industri kreatif yang siap bersaing dan memberikan kontribusi nyata bagi bangsa. (UTama, 27 Juni 2025)

oo0oo

Widyatama Bangun Living Lab Berbasis AI, Dukung Pertanian dan Peternakan

0

Universitas Widyatama terus menunjukkan komitmennya dalam menjawab tantangan riil masyarakat melalui inovasi berbasis riset. Bertempat di Desa Cileles, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang Widyatama membangun sebuah Living Lab berbasis kecerdasan buatan (AI) sebagai solusi atas permasalahan yang dihadapi sektor pertanian dan peternakan pada 8 Juli 2025 lalu.

Living Lab ini bukan sekadar proyek akademik melainkan model integrasi antara penelitian, pemberdayaan masyarakat desa, dan hilirisasi inovasi yang langsung menyasar kebutuhan masyarakat. Salah satu hasil konkret dari pengembangan ini adalah alat pendeteksi kualitas air kolam lele berbasis AI yang mampu mengatur pH air secara otomatis.

“Alat ini lahir dari kebutuhan nyata para peternak lele yang kerap mengalami kesulitan menjaga stabilitas air di tengah perubahan cuaca dan keterbatasan alat ukur. Dengan dukungan AI, seluruh proses dapat dikendalikan secara otomatis, lebih akurat, dan dapat direplikasi secara luas,” ungkap Rektor Universitas Widyatama, Prof. Dr. H. Dadang Suganda, M.Hum. saat meninjau langsung lokasi kegiatan, Selasa lalu.

Lebih lanjut, Prof. Dadang menjelaskan pengembangan alat ini merupakan bagian dari strategi universitas membumikan hasil riset dan inovasi agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Inisiatif ini juga dilengkapi dengan pembangunan ekosistem berbasis ekonomi sirkular dan penguatan UMKM lokal.

“Kami tidak berhenti pada pengembangan alat. Kami membangun ekosistem: produksi teknologi oleh masyarakat, distribusi melalui UMKM lokal, dan konsumsi oleh masyarakat sekitar. Ini adalah upaya kami menjadikan riset sebagai bagian dari solusi ekonomi rakyat,” ujarnya.

Melalui Living Lab ini, Universitas Widyatama berharap dapat menjadi pelopor dalam pemanfaatan AI untuk mendukung sektor-sektor strategis, serta memperkuat sinergi antara kampus, masyarakat, dan dunia usaha dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. (UTama, 8 Juli 2025)

Mahasiswa FTV Widyatama Hadiri Workshop Sinematografi

0

Ratusan insan perfilman muda, termasuk mahasiswa dan pelajar memadati Studio Blackbox PT. Produksi Film Negara (PFN) mengikuti workshop sinematografi yang mengupas teknologi  Virtual Production (VP) pada Kamis, 17 Juli 2025 lalu. Acara yang dihadiri sekitar 300 peserta bertujuan memperkenalkan inovasi sinematografi yang digadang-gadang mampu merevolusi industri film Indonesia dengan efisiensi biaya dan waktu produksi yang signifikan.

Kegiatan ini merupakan undangan khusus dari PFN bagi para talenta muda, termasuk 18 mahasiswa dan dua dosen dari Program Studi Film dan Televisi (FTV) FISIP Universitas Widyatama. Seminar dan lokakarya ini menghadirkan para pakar industri membagikan pengetahuan fundamental mengenai alur kerja dan implementasi Virtual Production (VP) dalam sebuah produksi film layar lebar.

Kupas Tuntas Inovasi Virtual Production dan Praktik di Studio Blackbox

Seminar bertajuk “Cinematography dalam Teknologi Virtual Production serta Budgeting & Manajemen Proyek Virtual Production pada Produksi Film” menjadi sesi pembuka yang kaya akan wawasan. Ilham Fajar Hadi, Head of Digital Production dari IMXR Studio memaparkan bagaimana VP menjadi solusi inovatif yang memadukan pengambilan gambar langsung (live shoot) dengan latar belakang virtual melalui teknologi LED Wall raksasa. Menurutnya, teknik ini dapat memangkas biaya produksi hingga 50 persen.

Lebih lanjut, Ilham menjelaskan bahwa VP bukan sekadar mengganti green screen, melainkan sebuah ekosistem produksi yang mengintegrasikan pergerakan kamera dinamis dengan set virtual secara presisi. Teknologi ini juga memungkinkan kontrol pencahayaan sinematik yang superior dan memaksimalkan proses pasca produksi seperti editing, colour grading, dan CGI secara real-time di lokasi syuting. Hal ini secara drastis mengurangi berbagai kendala produksi konvensional seperti cuaca buruk, perizinan lokasi yang rumit, hingga faktor keamanan.

Antusiasme peserta mencapai puncaknya pada sesi lokakarya. Sutradara Yuda Kurniawan, yang sukses menggarap film “Menuju Pelaminan” menggunakan teknologi VP mendemonstrasikan secara langsung proses syuting di dalam Studio Blackbox. Peserta diajak melihat bagaimana adegan di dalam sebuah minibus dipadukan secara mulus dengan aset visual perjalanan dari Yogyakarta ke Padang yang ditampilkan di LED Wall.

Seorang mahasiswa Widyatama yang mengikuti lokakarya mengungkapkan kekagumannya. “Seru banget dan banyak manfaatnya, karena di zaman sekarang teknologinya sudah sangat canggih. Jadi udah gak pakai green screen lagi dan bisa memanfaatkan blackbox yang ada disini,” ujarnya. Pengalaman ini memberikan gambaran nyata bagaimana VP mampu menciptakan adegan perjalanan yang kompleks tanpa harus benar-benar berpindah lokasi.

Antusiasme, Harapan Kolaborasi, dan Masa Depan Industri Film

Respon positif tidak hanya datang dari para mahasiswa. Della Dwinanti Sumpena, S.T.Sn., M.Sn., salah satu dosen pembimbing dari Universitas Widyatama menyatakan kegiatan ini memberikan perspektif baru yang sangat berharga. “Hari ini luar biasa menarik banget kita dapet insight yang baru, termasuk juga tadi dari PFN kita diajak buat langsung praktik melihat workshopnya seperti apa.,” ungkapnya. Ia juga melihat potensi kolaborasi di masa depan antara akademisi dengan para kreator film yang hadir.

Hal senada diungkapkan mahasiswa lainnya, “Ini pengalaman yang luar biasa pak, karena kita bisa berkunjung ke produksi film negara. Dan kami semua mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat bagaimana virtual production bekerja, workflow-nya bagaimana, pokoknya ini ilmu daging semua.”

Ilham Fajar Hadi perwakilan panitia dan praktisi menekankan pentingnya pemerataan pengetahuan teknologi ini. “Pesan saya untuk peserta dan yang datang di workshop ini, harapan saya adalah knowledge-nya supaya rata ya pak ya. Jadi makin banyak yang tahu tentang efisiensinya virtual production ini,” tegasnya.

Menurutnya, kemajuan industri film Indonesia bergantung pada sinergi tiga pilar utama. “Kan balik lagi untuk memajukan suatu industri harus ada tiga hal, ada komunitas, expertise-nya, dan juga knowledge-nya. Mahasiswa juga harus dimajukan, kalau tiga ini sudah maju saya yakin industri ini pasti akan sangat berkembang,” pungkas Ilham. Workshop diharapkan menjadi langkah awal untuk melahirkan lebih banyak talenta yang siap mengadopsi teknologi dan membawa sinema Indonesia ke panggung dunia. (UTama, 18 Juli 2025)

Pelantikan Ketua ORMAWA Universitas Widyatama Masa Bakti 2025/2026

0

Sebanyak 45 Ketua  Organisasi Kemahasiswaan (ORMAWA) Universitas Widyatama  resmi mengemban amanah baru setelah dilantik untuk masa bakti 2025/2026. Prosesi pelantikan yang berlangsung khidmat di Ruang Seminar Lantai 6 Gedung B pada Rabu, 23 Juli 2025 lalu menjadi momentum penegasan kembali komitmen ORMAWA sebagai ujung tombak dalam menorehkan prestasi mahasiswa. Acara dihadiri jajaran rektorat dan menjadi titik awal perjuangan para pemimpin muda tersebut.

Prosesi pelantikan berjalan dengan tertib dan terstruktur. Acara diawali sambutan dari Wakil Rektor Bidang Akademik & Kemahasiswaan, Prof. Dr. Reiza D. Dienaputra, M.Hum. yang memberikan wejangan mendalam kepada para ketua baru. Selanjutnya, suasana menjadi lebih formal saat Kepala Bagian Minat, Bakat, Organisasi Kemahasiswaan, dan Internasionalisasi, Edi Witono, S.M., (MOS) membacakan Surat Keputusan Rektor tentang pengangkatan para ketua ORMAWA.

Satu per satu nama ketua ORMAWA dipanggil ke depan menerima amanah secara simbolis. Puncak komitmen mereka diwujudkan melalui penandatanganan pakta integritas, yang diwakili oleh Muhammad Rizki dari program studi Manajemen S1, selaku Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Acara ditutup dengan pembacaan janji pengurus yang diikuti serentak oleh seluruh ketua ORMAWA yang baru dilantik, menandai kesiapan mereka bekerja dan berprestasi.

Menjaga Tradisi Prestasi ORMAWA

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Reiza D. Dienaputra, M.Hum. menekankan peran krusial ORMAWA sebagai “lokomotif bagi pencapaian prestasi mahasiswa.” Beliau mengingatkan bahwa tantangan ke depan akan semakin berat, terutama dalam mempertahankan reputasi Universitas Widyatama yang berada pada level unggul di klaster dua. Universitas menaruh harapan besar agar prestasi gemilang di tahun 2024 dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan pada tahun 2025.

“Jadikan ini sebagai awal untuk menghadirkan prestasi yang membanggakan bagi almamater kita bersama. Saya sangat berharap agar ORMAWA yang dilantik hari ini dapat terus merancang kegiatan yang terukur dan berdampak di sepanjang masa jabatan,” tegas Prof. Reiza. Beliau juga mendorong para pimpinan ORMAWA untuk menerjemahkan visi misi universitas ke dalam program kerja yang nyata, terutama dalam mendukung kegiatan PKM yang menjadi parameter unggulan nasional.

Lebih lanjut, Prof. Reiza menegaskan bahwa kontribusi ORMAWA sangat vital untuk menjaga dan meningkatkan akreditasi program studi serta institusi menuju peringkat unggul. Universitas, menurutnya akan selalu memberikan dukungan maksimal terhadap setiap program kerja yang dirancang untuk membangun kualitas prestasi mahasiswa yang lebih baik.

Kolaborasi dan Dukungan Penuh untuk ORMAWA 

Semangat baru ini disambut dengan antusiasme dan sedikit rasa gugup oleh para ketua terpilih. Immaculatta Gabrielle, Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) mengungkapkan perasaannya. “Perasaan aku sih udah pasti seneng tapi di satu sisi agak gugup juga karena kan abis ini menjabat sebagai ketua MPM yang tugasnya gak mudah. Untuk saat ini, aku ingin membuat supaya KM Utama bisa berkolaborasi dan bersatu,” ujarnya. Harapannya, seluruh ORMAWA dapat lebih mengeksplorasi kemampuan dan membawa nama Widyatama lebih berjaya.

Kepala Bagian Minat, Bakat, Organisasi Kemahasiswaan, dan Internasionalisasi, Edi Witono, S.M., (MOS) Edi Witono, S.M., (MOS) menyatakan komitmennya mendukung program kerja ORMAWA yang selaras dengan visi misi universitas. “Kami akan selalu mendukung program kerja organisasi, terutama yang berkaitan dengan empat poin utama yaitu prestasi, kaderisasi, internasionalisasi, dan kegiatan yang dapat mengangkat citra positif Universitas Widyatama,” jelas Edi.

“Selamat kepada semua Organisasi Kemahasiswaan yang telah resmi dilantik hari ini. Mudah-mudahan, kalian bisa menjalankan amanah dari rektorat sebaik-baiknya untuk mendukung visi misi Universitas Widyatama,” pungkasnya. Pelantikan ini bukan sekadar seremonial, melainkan tonggak awal bagi para pemimpin muda untuk berkarya dan mengangkat marwah almamater di kancah yang lebih luas. (UTama, 23 Juli 2025)

Apresiasi Mahasiswa Berprestasi – Widyatama

0

Universitas Widyatama kembali menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan talenta dengan menggelar “Apresiasi dan Pagelaran Seni 2025” pada Sabtu, 26 Juli 2025 lalu. Bertempat di Gedung Serbaguna (GSG), acara ini menjadi puncak penghargaan bagi 163 mahasiswa, pembina, serta pelatih organisasi kemahasiswaan (ormawa) yang telah menorehkan prestasi gemilang sepanjang tahun akademik 2024/2025. Dengan total dana apresiasi mencapai lebih dari 200 juta rupiah, kegiatan ini bertujuan memicu semangat kompetisi dan sebagai wujud nyata apresiasi mahasiswa berprestasi di lingkungan kampus.

Acara yang dihadiri Rektor beserta jajaran pimpinan universitas dan fakultas ini merupakan wujud komitmen institusi dalam mendukung penuh setiap pencapaian mahasiswa. Rektor Universitas Widyatama, Prof. Dr. H. Dadang Suganda, M.Hum. dalam sambutannya menyatakan bahwa prestasi mahasiswa adalah salah satu pilar utama membangun dan menciptakan universitas yang unggul di tingkat nasional maupun internasional.

Prestasi Mahasiswa Fondasi Kampus Unggul

Lebih lanjut, Rektor menegaskan bahwa pencapaian yang diraih para mahasiswa bukan hanya kebanggaan individu, melainkan kontribusi nyata bagi lembaga. Menurutnya, pengalaman dan pengorbanan yang dilalui untuk meraih sebuah prestasi akan membentuk karakter mahasiswa menjadi pribadi yang tangguh dan siap menghadapi tantangan di masa depan.

“Sebuah prestasi adalah modal untuk sukses di hidup yang akan datang. Karena berprestasi itu tidak semudah yang dibayangkan, ada pengorbanan diri, jiwa, tenaga, dan pikiran,” ujar Prof. Dadang. Ia menambahkan bahwa seluruh pencapaian ini akan tercatat dalam Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) yang menjadi portofolio berharga bagi lulusan saat memasuki dunia kerja.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Biro Kemahasiswaan, I Gede Nyoman Wisnu Satyadharma, S.T., M.Sn. merinci bahwa penghargaan diberikan berdasarkan Surat Keputusan Rektor. Total 618 prestasi yang diraih oleh 163 mahasiswa berasal dari berbagai bidang, mulai dari tingkat provinsi, nasional, hingga internasional. Di antara penerima apresiasi, terdapat pula empat mahasiswa yang menerima beasiswa khusus sebagai influencer kampus.

Ekspresi Bangga, Motivasi dari Para Juara, Investasi, dan Portofolio Diri

Antusiasme dan rasa syukur terpancar dari para mahasiswa penerima penghargaan. Arthur Andersonhanes, mahasiswa D3 Manajemen yang meraih juara Muay Thai tingkat provinsi dan nasional merasa sangat bangga. “Perasaan saya sangat senang, apalagi masih maba. Ini menjadi kebanggaan buat saya dan orang tua. Rencananya, uang apresiasi ini akan ditabung dan digunakan untuk biaya pendaftaran lomba berikutnya,” tuturnya.

Rasa bangga yang sama juga diungkapkan Devi Mulyani –  prodi Bahasa Inggris. Menurutnya, apresiasi mahasiswa berprestasi seperti ini membuat mereka lebih bersemangat untuk terus belajar dan menggapai cita-cita. “Perasaanku pastinya senang dan bersyukur karena kampus mau mengapresiasi mahasiswanya. Rencananya mau aku pakai lagi buat ikut lomba MUN (Model United Nations) ke depannya,” kata Devi.

Kisah para juara ini menunjukkan bahwa dukungan kampus tidak hanya memotivasi, tetapi juga secara langsung membantu keberlanjutan prestasi mereka di masa mendatang. Baik untuk ditabung, modal usaha, maupun biaya kompetisi selanjutnya, apresiasi ini menjadi bahan bakar baru bagi semangat mereka.

Acara “Apresiasi dan Pagelaran Seni 2025” bukan sekadar seremoni penghargaan. Tapi merupakan investasi strategis Universitas Widyatama dalam membentuk sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing. Dengan memberikan penghargaan yang layak, kampus secara aktif membangun ekosistem yang kondusif bagi lahirnya prestasi-prestasi baru.

Dalam sambutan penutup Rektor mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari Biro Kemahasiswaan, para dosen pembimbing, pelatih, hingga orang tua mahasiswa. Kolaborasi inilah yang menjadi kunci utama di balik setiap pencapaian yang berhasil ditorehkan, sekaligus mempertegas posisi Universitas Widyatama sebagai lembaga pendidikan yang peduli dan mendukung penuh potensi mahasiswanya. (UTama, 26 Juli 2025)

Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Lewat Ikan Hias, Peluang Ekspor Baru Terbuka di Bandung

0

Kluster Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Nascent Entrepreneurship Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widyatama menggelar program pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pelatihan beternak ikan hias tujuan ekspor. Acara yang menargetkan warga binaan UP2K ini diselenggarakan di Gedung Serba Guna (GSG) Kelurahan Sukapada, Kecamatan Cibeunying Kidul, pada Sabtu, 26 Juli 2025 lalu. Inisiatif ini bertujuan menciptakan wirausaha baru dengan memanfaatkan ceruk pasar ekspor yang terbukti stabil dan berkelanjutan.

Program ini lahir dari pengamatan jeli terhadap potensi ekonomi yang belum tergarap maksimal. Ismail Solihin, S.E., M.Si., selaku Ketua Kluster Nascent Entrepreneurship Widyatama menjelaskan pemilihan budidaya ikan hias didasarkan pada pasar yang jelas. “Kami menawarkan salah satu opportunity untuk beternak ikan hias tujuan ekspor. Dipilihnya kegiatan ini karena memiliki market niche yang jelas, jadi ekspornya nanti insyaallah bisa berkelanjutan,” ungkap Ismail.

Pernyataan ini diperkuat oleh narasumber sekaligus praktisi ekspor, Elan Aprilianto, pemilik CV Gama Aquaculture. Menurutnya, prospek budidaya ikan hias sangat menjanjikan mengingat Indonesia memiliki kekayaan hayati luar biasa dengan 4.552 jenis ikan endemik. “Sebagian besar diekspor ke berbagai negara seperti Hongkong, Singapura, Vietnam untuk pasar Asia, serta Inggris dan Swedia untuk pasar Eropa,” jelas Elan. Ia menambahkan, jenis ikan yang mudah dirawat pemula seperti Guppy dan Brushmouth memiliki nilai jual tinggi.

Sistem Kemitraan, Antusiasme dan Harapan Baru

Salah satu kendala utama bagi pengusaha pemula adalah modal dan jaminan pasar. Untuk mengatasi hal ini, program pemberdayaan ekonomi masyarakat ini menawarkan skema kemitraan yang saling menguntungkan. Elan Aprilianto memaparkan model kerja sama kepada para peserta. “Indukan kita sediakan dan peserta hanya menyiapkan tempat serta sarananya. Hasil panenan akan diambil kembali oleh saya, dengan catatan kualitas ikan bagus dan sehat,” ujarnya.

Model ini memberikan rasa aman bagi para pemula, karena mereka tidak perlu khawatir tentang pemasaran hasil panen. Fokus mereka adalah memastikan proses budidaya berjalan baik. Untuk tahap awal, peserta dibekali keterampilan beternak ikan jenis Guppy dan Brushmouth Albino Slayer yang perawatannya relatif mudah dan tidak memerlukan pergantian air yang terlalu sering, sehingga cocok untuk usaha skala rumahan.

Pelatihan ini disambut dengan antusiasme tinggi warga Kelurahan Sukapada. Emi, salah satu peserta, mengaku mendapatkan wawasan baru bahwa menjadi pengusaha bisa dimulai dari hal kecil. “Informasi terbaru yang saya dapatkan bahwa untuk menjadi seorang pengusaha bisa dimulai dari yang terkecil dan insyaallah itu akan saya coba beternak ikan hias ini dari rumah, dari mulai akuarium-akuarium kecil,” katanya penuh semangat.

Peserta lain, Seni yang memiliki pengalaman beternak sebelumnya, menaruh harapan besar pada kelanjutan program ini. Ia berharap ada materi lebih mendalam mengenai penanganan risiko kematian dan penyakit ikan. “Harapan saya kedepan mungkin materi-materinya lebih diperdalam lagi, agar peternak mengetahui penyakitnya dan cara antisipasinya,” tutur Seni. Para peserta juga berharap ada pendampingan berkelanjutan dari Widyatama untuk membentuk komunitas yang solid hingga benar-benar sukses.

Strategi Jangka Panjang Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Berkelanjutan

Ismail Solihin menegaskan kegiatan ini bukan sekadar pelatihan sesaat. Kelurahan Sukapada merupakan batch ketiga setelah sebelumnya program serupa sukses digelar di Kelurahan Padasuka dan Sukamaju. Dari dua kelurahan tersebut, sudah lahir tiga peternak baru. “Ini merupakan satu fenomena snowball. Memang di awal mungkin baru pelaku kecil-kecil, tapi kalau kita bina terus dan satukan potensinya, insyaallah bisa memberikan dampak yang besar,” tegasnya.

Dukungan penuh juga datang dari pemerintah setempat. Camat Cibeunying Kidul, Drs. H. Aris Rusdianto., M.Si. mengapresiasi fasilitasi dari P2M Universitas Widyatama. “Saya ucapkan terima kasih banyak, semoga pelatihan pembibitan ikan hias ini dapat bermanfaat bagi kami seluruhnya warga Kecamatan Cibeunying Kidul,” ucapnya. Ke depan, tim Universitas Widyatama berencana membentuk koperasi khusus bagi para alumni pelatihan dan mengadakan kunjungan langsung ke lokasi peternakan untuk memberikan pengalaman nyata bagi para calon pengusaha. (UTama, 31 Juli 2025)

Humas Universitas Widyatama Raih Penghargaan Terbaik ke-4 Tingkat LLDIKTI IV Kategori Pengelolaan Laman

0

Humas Universitas Widyatama kembali mencatatkan prestasi dengan meraih Penghargaan Terbaik ke-4 dari total 62 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dalam Kategori Pengelolaan Laman pada ajang Anugerah Humas Diktisaitek LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat – Banten Tahun 2025.

Ajang tahunan yang diselenggarakan LLDIKTI Wilayah IV merupakan bentuk apresiasi terhadap kinerja kehumasan di lingkungan perguruan tinggi, khususnya dalam mendukung transparansi, keterbukaan informasi, serta pengelolaan media digital secara profesional dan berdampak.

Puncak acara dan penyerahan penghargaan dilaksanakan pada Selasa, 30 Juli 2025 lalu bertempat di Aula LLDIKTI Wilayah IV. Tim Humas Universitas Widyatama hadir dan menerima langsung piagam penghargaan yang diserahkan Kepala LLDIKTI Wilayah IV, Dr. M. Samsuri, S.Pd., M.T.

Dalam kompetisi yang ketat ini, Universitas Telkom menempati posisi pertama, disusul Universitas Katolik Parahyangan, Universitas Komputer Indonesia, dan Universitas Widyatama pada posisi keempat. Capaian ini menunjukkan bahwa laman resmi Universitas Widyatama dinilai mampu menyampaikan informasi dengan baik, menarik, dan sesuai dengan standar kehumasan perguruan tinggi.

Capaian ini tidak lepas dari kerja keras dan kolaborasi tim Humas Universitas Widyatama dalam melakukan pengelolaan dan pengembangan laman secara konsisten, kreatif, dan adaptif terhadap kebutuhan informasi publik. Hal ini juga sejalan dengan visi kampus sebagai Kampus Berdampak yang berkomitmen terus meningkatkan kualitas layanan informasi kepada masyarakat. (UTama, 31 Juli 2025)

Ubah Modul Jadi Buku, Dosen Widyatama Peroleh Trik Ahli

0

Sebanyak 160 dosen  Universitas Widyatama  mengikuti lokakarya intensif pembuatan buku ajar di Ruang Seminar Gedung B kampus, pada Kamis (31/7/2025) lalu. Kegiatan yang diinisiasi Biro Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat & Modal Intelektual (P2M) bertujuan menaikkan kualitas bahan ajar dosen, dari semula berbentuk modul atau slide presentasi menjadi buku referensi yang berkualitas. Untuk mencapai tujuan tersebut, lokakarya menghadirkan penulis produktif, Prof. Dr. H. Suwatno, M.Si., sebagai narasumber utama.

Dosen Produktif Meraih Angka Kredit

Kepala Biro P2M, Eriana Kartadjumena, S.E., M.M.Ph.D., Ak., C.A.,CSRS. dalam sambutannya menegaskan pentingnya kegiatan ini bagi karir dan pemenuhan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Ia melihat ada urgensi mendorong produktivitas dosen dalam menghasilkan karya tulis. Meskipun tahun ini ada lonjakan pengajuan apresiasi buku menjadi hampir sepuluh, angka tersebut masih sangat kecil dibandingkan total 270 dosen.

“Kami yakin bapak ibu dosen semua sudah mempunyai bahan ajar. Kami menginginkan bisa dinaikkan kualitasnya menjadi buku ajar atau buku referensi sehingga menjadi salah satu luaran kinerja di bidang pengajaran,” ujar Eriana. Selain itu, ia juga menekankan bahwa luaran dari hibah penelitian dapat dibukukan sebagai tambahan kinerja, terlebih dengan terbitnya SK 076 yang memberikan nilai apresiasi pantas bagi para penulis.

Kunci Sukses Menulis

Adalah Prof. Dr. H. Suwatno, M.Si., narasumber pada acara lokakarya pembuatan buku ajar. Beliau

telah menulis 35 buku yang membagikan pengalamannya untuk memotivasi para peserta. Menurutnya, buku ajar memiliki manfaat besar tidak hanya bagi mahasiswa dan dosen, tetapi juga untuk meningkatkan peringkat institusi di level global.

Ia berupaya mematahkan mitos bahwa menulis adalah kegiatan yang sulit dan membosankan. “Menulis pada prinsipnya tidak sulit, menulis itu mudah, yang susah memulainya. Ketika sudah mulai, menulis itu menyenangkan dan membahagiakan karena selain ada kepuasan batin juga ada kepuasan finansial,” ungkap Prof. Suwatno. Ia berharap setiap dosen yang hadir dapat menghasilkan minimal satu buku per semester, yang kini prosesnya akan dipermudah dengan kehadiran penerbit internal, UTama Press.

Atasi Plagiarisme dan Tantangan Pembajakan

Dari sisi peserta, Dr. Irene Sukma L. Barus., S.E., M.Si. – dosen akuntansi – menyambut baik materi yang disampaikan. Menurutnya, lokakarya ini memberikan pencerahan teknis yang sangat dibutuhkan, terutama dalam hal menjaga orisinalitas karya. Ia merasa mendapatkan banyak masukan praktis yang dapat langsung diterapkan.

“Manfaatnya banyak, salah satunya secara teknis saya mengetahui cara mengembangkan kutipan dari referensi yang kita ambil sehingga bagaimana kita menghindari tingkat plagiarisme yang tinggi,” jelas Dr. Irene. Ia juga menyoroti tantangan pembajakan di era digital dan berharap UTama Press dapat menjadi garda terdepan dalam melindungi karya dosen, misalnya dengan membuat versi ebook yang tidak bisa disalin atau dicetak untuk mencegah kerugian penulis.

Kegiatan lokakarya diakhiri dengan paparan dari UTama Press mengenai peluang dan alur publikasi bagi para dosen. Dengan sinergi antara lokakarya, insentif universitas, dan dukungan penerbit internal, Universitas Widyatama menargetkan sebuah ekosistem akademik yang lebih produktif. Harapannya, setiap dosen tidak hanya mampu mengajar, tetapi juga aktif menghasilkan karya buku yang bermanfaat luas dan terlindungi. (UTama, 02 Agustus 2025)