Home Blog Page 61

Editorial

komunita Edisi 18 editorial

Sidang Pembaca
yang budiman,

Ada sebuah tanya RINDU. Dimana, kapan, dan bagaimana mahasiswa ? mahasiswa penggerak masyarakat dan pembangunan bertumbuh dan tersebar di negeri ini ? Tanya ini timbul melihat realita proses pembangunan wilayah yang didambakan masyarakat berjalan lambat mengingat kelangkaan kader-kader penggerak perubahan dan pembangunan di seantero negeri.

Gaya hidup mahasiswa kini sangat berbeda dengan mahasiswa dahulu. Mahasiswa tampak lebih hedonistik, pragmatik. Juga ramai di media massa ketika mereka melakukan tindakan-tindakan anarkis semisal : tawuran antar mahasiswa, perusakan kampus, perseteruan kepemimpinan mahasiswa tidak dengan nalar akademik, sepertinya dianggap biasa. Bahkan, sinyalemen anggota Komisi III DPR RI Fraksi PKS Aboe Bakar Alhabsy membuat kita terkejut. Dalam diskusi ‘Hitam Putih Pemberantasan Narkoba ‘di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, 6 Agustus 2016 lalu, Alhasby mencatat jutaan mahasiswa terlibat penyalahgunaan narkoba (narkotik dan obat terlarang). Dari sekitar 7 juta mahasiswa, lebih dari 30% nya pengguna narkoba, bahkan diperkirakan 70% atau 4,9 juta mahasiswa terlibat penyalahgunaan narkoba.

Atas realita tersebut, negara mengalami kerugian mencapai Rp 50 triliun setiap tahun. Mirisnya, hal ini masih akan berlangsung, karena berdasarkan penelusuran Badan Narkotika Nasional (BNN) masih ada sekitar 30 ton narkoba yang lolos dan siap beredar di masyarakat, terutama di kalangan mahasiswa.

Apakah ini salah satu bentuk “degradasi moral” generasi Y dan Z (kategori generasi mahasiswa kini) bangsa ini ? Generasi Y memang masih menggeliat, mencari kemapanan dalam bidang pekerjaan maupun pribadi, walau tidak dipungkiri beberapa sudah menjadi pimpinan perusahaan sejak usia muda. Sedang generasi Z, sekarang ini mempakan anak-anak muda yang rata-rata masih mencari jati diri, beberapa di antaranya sudah mempunyai penghasilan sendiri yang cukup besar terutama dari bidang seni.

Hilangnya idealisme membuat mahasiswa seperti kehilangan arah. Momentum-momentum setelah reformasi pun menjadi kehilangan jiwa di mana mahasiswa bisa berperan. Pasca reformasi, mahasiswa seperti kehilangan momentum. Mahasiswa seakan-akan tidak peduli lagi dengan nasib bangsanya, hanya ada segelintir mahasiswa yang masih peduli dan konsisten. Padahal mahasiswa juga insan akademik yang tentunya memiliki logika akademis serta intelektualitas yang dibutuhkan masyarakat. Agenda reformasi dan mahasiswa saat ini seperti berjalan sendiri ? sendiri. Tidak ada yang mengawal reformasi, padahal reformasi telah berjalan 18 tahun dan belum menunjukkan perbaikan berarti bagi masyarakat.

Benarkah sikap mahasiswa kini cenderung apatis dan terkungkung, karena sistem pembelajaran kampus yang menyekat mahasiswa dari persoalan masyarakatnya ? Benarkah sistem pembelajaran sekarang, membuat mahasiswa hanya mengejar nilai (indeks prestasi) dan hanya berpikir bagaimana caranya lulus cepat. Sehingga mahasiswa kehilangan daya kritis, mahasiswa tidak peka menangkap realitas sosiologis dan realitas psikologis yang terjadi dalam masyarakat. Mahasiswa menjadi kelompok elitis dan jauh dari masyarakat. Benarkah sistem pembelajaran kini hanya melatih mahasiswa menjadi kuli ? Bukan mahasiswa sebagai penggerak pembangunan atau agen perubahan ?

Jika sinyalemen ini benar, sungguh memprihatinkan dan tentunya menggerogoti potensi mahasiswa sebagai penggerak pembangunan dan agen perubahan yang sekaligus keberlanjutan bangsa ini. Menjaga potensi diri mahasiswa tentunya harus berangkat dari kesadaran mahasiswa itu sendiri sebagai salah satu komponen bangsa, sekaligus generasi penerus. Apapun peran mereka, sesuai dengan kompetensi keilmuan dan bidang yang digelutinya.

Mahasiswa mempunyai kewajiban untuk mengubah mentalitas hedonis dan pragmatis tersebut untuk kembali pada jati diri mahasiswa, yang mempunyai idealisme tinggi. Salah satu alternatif adalah dengan menghadapkan langsung mahasiswa pada masalah – masalah yang terjadi di masyarakat. Dengan menghadapkan langsung mahasiswa kepada masalah yang terjadi di masyarakat, mahasiswa diharapkan mampu menangkap realitas sosiologis dan psikologis masyarakat. Karena itu, Perlukah kita menggugat mahasiswa?

Sebuah riset kecil yang dilakukan IMM (Mahasiswa Muhammadiyah) membagi mahasiswa dalam lima karakter. 1) mahasiswa akademis, 2) mahasiswa romantik, 3) mahasiswa hedonis, 4) mahasiswa agamis, 5) mahasiswa organisatoris. Fragmentasi karakter mahasiswa tersebut tentunya menjadi keprihatinan bersama, apalagi jika memang komposisinya ke arah hedonis, akademis pragmatis. Serangkaian strategi pendidikan yang diluncurkan clan diimplementasikan pemerintah konon dirancang untuk melahirkan generasi emas Indonesia pada 2045.

Tetapi benarkah strategi pendidikan kini melalui membangunkan mahasiswa akan jati diri dan perannya ? Mahasiswa hams mulai sadar dan berperan menjadi human resources yang kompetitif serta memiliki dasar nasionalisme, dipadu dengan pengabdian.

Prof Intan Ahmad, Dirjen Belmawa – Menristekdikti mendorong Mahasiswa di era global saat ini jangan berorientasi pada gelar. Menurutnya, “lulusan PT seharusnya tak hanya pintar secara keilmuan, tetapi juga harus pandai berkomunikasi dengan orang lain. Memiliki kemampuan berbahasa asing, kritis, dan memiliki motivasi tinggi untuk sukses. Tuntutan peran besar inilah yang perlu dikreasi mahasiwa, karena hal-hal ini tidak dapat dipelajari di dalam pendidikan formal, non ? formal. Menjadi penentu ‘Generasi Emas’ adalah yang lebih penting. Berprestasi adalah pijakan awal yang harus diteruskan dengan pendidikan ‘soft skills’ agar dapat aktif dan bermanfaat bagi lingkungannya. Pendidikan bukan hanya … untuk menjadi Sarjana, tapi menjadi berpendidikan adalah mengetahui mana yang benar dan salah, ada ‘learning outcome ‘ dari hanya sekedar otak. Banyak lulusan PT pandai secara keilmuan, namun belum menjadi penggerak di masyarakat “.
 

 

Mahasiswa dan Regulasi Pemerintah

Membicarakan mahasiswa tentunya menggiring kita untuk memahami koridor regulasi yang berlaku, dari UUD?1945, UU, clan PP yang berkaitan dengan hal tersebut.Mengapa Karena mahasiswa adalah komponen bangsa yang bakal menjadi generasi penerus yang mengusung keberlanjutan, kesejahteraan bangsa ini. Mereka adalah salah satu leader yang akan mengisi kemerdekaan bangsanya serta menentukan arah bangsa ini ke depan.Apa yang diarur regulasi untuk mereka?

UUD1945:

Pasal 28C, ayat (1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan clan teknologi, seni clan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya clan demi kesejahteraan umat manusia.

Pasal 31, ayat (1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, serta ayat (3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan clan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.

UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Pasal 1, ayat 4 : “Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur,jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.

Pasal 12, ayat (1) Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak: a. mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama; b. mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, clan kemampuannya; c. mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya; d. mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya; e. pindah ke program pendidikan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara; f. menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan.

Pasal 12, ayat (2) Setiap peserta didik berkewajiban: a. men jaga norma-norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses? dan keberhasilan pendidikan; b. ikut menanggung biaya penyenggaraan pendidikan, kecuali bagi peserta didik yang dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Perayaan HUT RI ke-71 Universitas Widyatama

Perayaan HUT RI ke-71 Universitas Widyatama

 

Rabu(l 7/8) Segenap impinan Yayasan dan Universitas Widyatama beserta civitas academica melaksanakan upacara bendera di lapangan parkir kampus tepat pukul 08.00 WIB. Pelaksanaan upacara ini sebagai bentuk penghormatan bagi para pahlawan yang telah mengorbankan darah, keringat dan nyawa bagi kepentingan bangsa dan Negara. Upacara berlangsung hikmat dengan Inspektur upacara Rektor

Universitas Widyatama, Bapak Dr. H. Islahuzzaman, S.E., M.Si., Ak., CA. Dalam sambutannya membacakan pesan Kemenristek, Inspektur

upacara menghimbau jajarannya untuk menauladani semangat juang para pahlawan, dengan tagline “Kerja Nyata”. Bangsa Indonesia harus tetap berjuang dan bekerja dalam pembangunan pendidikan lebih baik lagi.

Bekerja tidak lengkap apabila tidak dibarengi dengan berdoa maka dengan itulah kita harus menyelaraskan kerja dengan berdo’a. Acara ditutup dengan kumandang lagu-lagu kemerdekaan dari paduan suara mahasiswa Universitas Widyatama. (Mktg)

PPU Widyatama 2016

PPU Widyatama 2016

Perubahan paradigma ospek menjadi program perkenalan bukanlah tahun pertama bagi Widyatama. Widyatama telah merubah paradigma ospek tersebut sejak beberapa tahun lalu. Surat edaran Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi No: 253/B/SEIVIII/2016 tentang Pengenalan Kampus bagi Mahasiswa Baru yang dalam butir 5 menjelaskan bahwa Penyelenggaraan Program Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) difokuskan pada upaya pendewasaan dan pembelajaran dengan tertib, dan tidak ada kekerasan verbal, fisik maupun mental memang sejalan dengan Widyatama.

Dalam rangka mempertahankan tata nilai pendidikan dan akhlak yang stabil bagi mahasiswanya dalam Program Pengenalan Universitas Widyatarna (PPU) disisipkan acara penyuluhan anti Narkoba bekerjasama dengan Yayasan Sahabat Rekan Sebaya dengan Tema Global Actionfor Healthy Without Drugs. Juga disampaikan materi wawasan kebangsaan kesadaran bela negara, serta meredam paham radikalisme.

Penerimaan mahasiswa baru diresmikan melalui Sidang Senat Universitas Widyatama tepat pada hari pertama pelaksanaan PPU. Menjadi moment yang monumental ketika jajaran Senat UTama meresmikan mahasiswa baru. PPU ini dikemas agar mahasiswa lebih kreatif, inovatif serta berwawasan luas dengan memperkenalkan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di lingkungan civitas Widyatama. Mahasiswa baru dapat memberikan kreasi inovatif dalam wujud nyata dengan bergabung ke UKM dan Lembaga Kemahasiswaan lainnya.

PPU tahun ini, kemasan dengan mengundang para alumni yang telah sukses berwirausaha di bidangnya untuk sharing dan cerita atas perjalanan kesuksesannya. Jadikan kami sebagai rumah kedua untuk anda, dengan segala fasilitas dan kualitas pengajaran terbaik dari Universitas Widyatama.

Mahasiswa Seutuhnya sebagai Pembelajar Kaffah Bachrudin Musthafa, Ph.D., Profesor UPI dalam Pendidikan Bahasa dan Sastra lnggris

Mahasiswa Seutuhnya sebagai Pembelajar Kaffah Bachrudin Musthafa
Mahasiswa Seutuhnya sebagai Pembelajar Kaffah Bachrudin Musthafa

Komunita edisi sekarang ini merupakan edisi yang sangat istimewa karena pada edisi ini dibicarakan mahasiswa atau pembelajar yang merupakan alasan utama bagi kehadiran dan signifikansi profesi keguruan (baca “perdosenan”) kita. Kita akan mengatakan “keterlaluan” atau bahkan mungkin mengumpat dengan ungkapan “dosen tak tahu diri” bila kita bertanya kepada seorang dosen tentang siapa mahasiswa yang diajarnya dan yang bersangkutan tak mampu menjawabnya. Akan tetapi, sejujurnya, benarkah kita benar benar mengenal siapa mahasiswa kita yang secara kolektif nasional di negeri inisekarang berjumlah sekitar7 (tujuh) jutaan orang itu?

Dalam berbagai bagian pada Komunita edisi sekarang ini, berbagai kategori mahasiswa telah ditulis dengan aneka citarasanya. Misalnya,ada istilah “mahasiswa apolitis”yang ditujukan kepada mereka yang tak perdulipada nasib masyarakat dan bangsanya; ada “mahasiswa pragmatis” yang dilabelkan kepada mereka yang maunya hanya yang gampang dan praktis saja; ada “mahasiswa ‘kupu-kupu”‘ yang kerjanya cuma kuliah-pulang kuliah-pulang. lni adalah label negaitif hasil peneropongan dengan kacamata “minus” yakni pengamatan dengan sudut-pandang defisit yang dengan sendirinya akan melihatyang negatif – negatif saja.

Apa boleh buat: kali ini kita melihat dari semangat keprihatinan kita dan mendambakan sosok kolektif mahasiswa alternatif dari angan dan harapan kitasebagai negara-bangsa.

Pengumpulan Dana

Pengumpulan Dana
Pengumpulan Dana

Ide kreatif Dosen FDKV Widyatama Bapak Alfonso, tugas mahasiswa untuk membuat poster tentang musibah banjir di Garut dan longsor di Sumedang. Setelah itu mahasiswa pameran sekaligus happening jadi korban sambil keliling dengan kotak kencleng. Alhamdulillah terkumpul 2 juta rupiah untuk disumbangkan. Membangun kemampuan kognitif sekaligus afektif mahasiswa, akhimya pada tanggal 18 oktober 2016 Penyerahan bantuan bagi korban bencana banjir melalui Posko Dompet Peduli Pikiran Rakyat dari Mahasiswa/i Fakultas Desain Komunikasi Visual Widyatama. (Mktg)

Membangun Jiwa Patriotisme Terbarukan

Membangun Jiwa Patriotisme Terbarukan
Eddy Budianto, S. T.

Negara Republik Indonesia, saat ini memasuki masa penting sebagai suatu bangsa di tengah-tengah bangsa lain di dunia. Dua pertiga wilayahnya terdiri dari lautan, akan menjadi tempat yang diperebutkan oleh berbagai Negara yang minim sumber daya alamnya terutama untuk bahan kehidupan yang berasal dari potensi laut. Disamping itu sumber daya alam di daratan yang sebagian besarnya sudah dikuasai oleh Negara lain menjadi bahan perhatian serius bagi tumbuhnya potensi penjajahan gaya baru di abad modern ini. Oleh sebab itu dibutuhkan upaya yang integratif dalam membangun ketahanan nasional untuk menghadapi bahaya laten baikyang datangnya dari luar maupun dari dalam negeri. Serangan dalam bentuk multi-dimensi dan datang dari berbagai penjuru sendi kehidupan sangat berbahaya dibandingkan dengan perang konvensional yang mayoritas mengandalkan berbagai alutsista (alat utama sistim senjata) berat, bahkan yang berjenis nubika (nuklir, biolagi dan kimia).

Dalam rangka mendukung kepentingan nasional untuk memperkuat ketahanan dan pertahanan negara Indonesia, maka kekuatan yang harus dibangun untuk menjamin terciptanya stabilitas nasional semestinya tumbuh dan dikembangkan sedapat mungkin muncul dari kekuatan sendiri. Oleh sebab itu sedini mungkin diusahakan agar tingkat ketergantungan terhadap negara lain dikurangi bahkan ditiadakan.

Serangan yang ditujukan kepada faktor manusia inilah, kini menjadi sasaran yang hendak dihancurkan sebelum mereka menguasai seluruh sumber daya alam dengan segala isinya. Bentuk serangan kepada faktor manusia ini, antara lain dengan merusak segi ideologi, sosial, budaya, ekonomi, dari peri kehidupan bangsa. Apalagi dibarengi dengan kerusakan mental dan spiritual, sehingga terwujudlah penguasaan suatu bangsa oleh bangsa lain tidak harus dengan peperangan secara fisik.

Timbul pertanyaan mendasar : Tindakan apakah yang harus dilakukan Pemerintah dalam rangka melindungi bangsanya ??? dimulai dari manakah akan melangkah ??? dengan cara bagaimana agar ketahanan nasional bangsa Indonesia ini dapat semakin kuat dan tangguh dalam menghadapi gangguan dari bangsa lain di dunia. Apabila bangsa Indonesia kuat, maka akan membentuk suatu kepercayaan diri yang kuat untuk mempertahankan diri dari gangguan dan tantangan dari Negara lain.

Bagaimana caranya agar Negara mendapatkan ketahanan bangsa yang mumpuni? salah satunya adalah segera membangkitkan kembali semangat kebanggaan terhadap Negara dan Bangsanya sendiri. Dengan demikian akan meningkatkan posisi tawar dan martabat bangsa Indonesia dikancah pergaulan International.

Kondisi Dasar

Saat ini peri kehidupan bangsa telah mencapai suatu titik yang cukup kritis, terutama yang berkaitan pada pemahaman dan pemaknaan nilai-nilai luhur bangsa seperti Pancasila,patriotism dan nasionalisme,serta nilai-nilai kejuangan ’45.

Faktor manusia yang lemah menjadi bagian penting dari ketahanan bangsa dan Negara menerima gempuran dasyat, seperti kondisi tipisnya pemahaman tentang nilai-nilai luhur Pancasila di kalangan remaja maupun generasi muda lainnya. Di samping itu kurangnya semangat untuk membela Negara maupun berjuang membela kehormatan bangsadan Negara di kancah persaingan antar Negara dalam berbagai hal. Gangguan Negara lain (asing) terhadap lintas batas Negara Indonesia semakin sering terjadi tanpa reaksi perlawanan yang berarti dari kita sendiri. Kerusakan moral generasi muda semakin merajalela, dimana tindakan amoral di kalangan remaja/pemuda semakin meluas dan jumlahnya semakin banyak. Bahaya laten yang saat ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah adalah bahaya Narkoba, yang telah mencapai titik kritis, di samping gangguan ideologis berupa penyebaran pemahaman tentang islam radikal (ISIS), islam liberal, dan faham neo komunisme maupun hal lainnya semakin marak, selain itu gerakan LGBT mulai melanda luas di kalangan generasi muda termasuk pornografi maupun porno aksi. Sehingga lambat laun akan merusak ideologi generasi muda Indonesia

Pihak asing mulai bermanuver semakin tumpang tindih saling bertarung mencengkeramkan pengaruhnya di segala peri kehidupan bangsa. Jalur yang ditempuh melalui bidang ekonomi berupa penguasaan pusat-pusat kendali ekonomi seperti sumber daya alam,mekanisme pasar,baik pasar modal maupun konvensional. Jalur sosial budaya berupa masuknya budaya kebebasan tanpa batas pornografi, pornoaksi, melalui film, video. dan kemudahan akses ke dunia maya lainnya. Jalur politik berupa kekuatan uang yang mengendalikan penentuan kebijakan publik mengarah pada keinginan pihak asing tertentu dalam berkiprah diwilayah Indonesia.

Penciptaan suasana serba; mudah, tersedia, dan mewah, (materialistis) di kalangan generasi muda, akan membuat mereka semakin malas, menggampangkan, serba instan, semakin tidak terbiasa menghadapi tantangan, kesulitan, hambatan, bodoh, miskin dan akhirnya sangat mudah putus asa. Generasi yang lapuk, rapuh, tak berdaya menghadapi persaingan global.

Kondisi yang memprihatinkan ini ditambah dengan pelemahan generasi muda melalui pengaruh narkoba, di mana wilayah Indonesia telah dijadikan salah satu pasar penjualan narkoba terbesar di ASEAN. Apabila generasi mudanya telah menjadi lemah maka akan melemahnya generasi penerus bangsa, maka penguasaan Negara Asing atas kedaulatan bangsa Indonesia akan semakin mudah. Penguasaan bangsa Asing terhadap bangsa Indonesia dimungkinkan akan terjadi lebih cepat dari perkiraan semula, apabila tidak ada kepedulian untuk? segera bertindak menghadapi perkembangan yang memprihatinkan ini. Secara terstruktur dan terencana, mereka (Negara Asing) akan menguasai Negara Indonesia ini menyeluruh dan total dalam kurun waktu satu generasi yaitu sekitar sepuluh s.d. dua puluh tahun lagi. Lalu apakah yang harus kita perbuat???

Pameran Karya

pameran Karya
pameran Karya

Mahasiswa/i Fakultas Desain Komunikasi Visual Universitas Widyatama mengikuti pameran di Pesta Rakyat De Syukron. De Syukron 6 merupakan Pesta Rakyat Jawa Barat 2016 yang digelar di areal Gedung Sate, menjadi salah satu cara pemprov mensyukuri pembangunan dan pemerintahan di Jawa Barat. De Syukron merupakan puncak peringacan hari jadi Jabar. Pesta rakyat “De Syukron 6” ini berlangsung selama dua hari dimulai tanggal 2 – 3 September di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung. Beragam kegiatan digelar mulai dari hiburan, pertunjukan seni dan budaya hingga pameran berbagai macam produk UKM Jabar. (Mktg)

Media Gathering 2016

Bandung (19/7), Universitas Widyatama (UTama) menyelenggarakan Media Gathering 2016 di Cafe Humming Bird Jl. Progo No. 20 Bandung. Acara yang sempat vakum beberapa tahun ini mengundang media yang telah lama bersinergi dengan UTama. Maksud dan tujuan dirangkainya acara tersebut tidak lepas dari masih hangatnya suasana

Hari Raya ldul Fitri. Menjadi sebuah momentum bagi UTama dalam mengundang media untuk saling berkumpul, duduk dan kembali merumuskan perihal sinergisitas kedua institusi yang barn atau telah lama berjalan.

Tercatat UTama menerima lebih dari 20 tamu undangan, baik media cetak, elektronik, dan online media. Dibuka oleh Sekretaris Universitas – Uning Kuraesin, M.Hum disambung dengan pemaparan selintas perihal Widyatama, kegiatan berjalan dengan khidmat. Pada sambutannya Uning menjelaskan perihal Tata Nilai Universitas dan kegiatan yang sedang disusun dalam capaian visioner kebijakan Rektor sekarang. Selain itu, beliau menjelaskan pula perihal sinergisitas yang dapat dibangun antara UTama dengan media.

Keterlibatan media massa memungkinkan institusi berperan maksimal dalam memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Rencana,kegiatan ini akan dilaksanakan annual dengan venue yang berbeda-beda , sehingga koordinasi antara institusi pendidikan UTama dengan media menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi stakeholder. (Mktg)

lnovasi Bahan Bakar Perguruan Tinggi

 

Didi Tarmidi, Dosen Fakultas Bisnis & Manajemen UTama
Didi Tarmidi, Dosen Fakultas Bisnis & Manajemen UTama

Demo mahasiswa di Makassar ricuh. Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Mahasiswa Anti Korupsi terlibat aksi perusakan pos penjagaan keamanan. Dua dosen Fisika Sekolah Tinggi Keguruan dan llmu Pendidikan (STKIP) Surya di Gading Serpong diduga dikeroyok mahasiswanya. ltulah diantaranya realita perilaku mahasiswa yang menjurus kurang positif dan anarkis.

Tindakan melenceng mahasiswa sebaiknya segera diantisipasi. Apalagi di era digital saat ini, hanya pada hitungan satu, hal-hal tersebut bisa terjadi. Tidak adanya quick response membuat para mahasiswa membuat kegiatan yang tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran di perguruan tinggi. Bahkan sikap emosional lebih cenderung muncul untuk memenuhi imajinasinya. Akal sehat sering mereka tinggalkan hanya untuk kesenangan sesaat.

Memang seringkali perguruan tinggi abai memberi bahan bakar “inovasi” pada mata kuliah yang diajarkan kepada mahasiswa. Bahan bakar “inovasi” merupakan konsep soft skill yang sering terabaikan hanya karena ketakutan perguruan tinggi kehilangan simpati mahasiswa.

Bahan bakar “inovasi” tidak harus selalu mahal, apalagi diluar jangkauan kocek mahasiswa. Kita berikan sesuai dengan kemampuan atau bahkan ide inovasi yang berasal dari para mahasiswa itu sendiri. Yang penting perguruan tinggi ikut berperan serta menciptakan suasana kondusif bagi keberhasilan revolusi mental tersebut.

Sebagaimana gagasan bahwa pendidikan bukan lagi kompetitif, melainkan kolaboratif. Gagasan yang semula berasal dari atas dalam bentuk kurikulum atau silabus (top down), sebaiknya diawali dari bawah ke atas (bottom up). Cetusan bahwa pendidikan perlu kompetitif sebagaimana masa lalu, sebaiknya diberikan dengan model kolaboratif. Artinya kerjasama antar lembaga akan lebih berarti ketimbang persaingan. Kerjasama ini menjadikan perolehan pembelajaran yang sinergis.Demikian antara lain hasil “International Intellectual Discourse” yang diselenggarakan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang awal September 2016.

Mimbar bebas para ilmuwan Indonesia, Malaysia, Singapura, lnggris, Sudan dan Cina itu lebih mendukung pola pembelajaran bottom up dan inovasi para mahasiswa dari hasil sinergis kolaboratif antar lembaga pendidikan. Sebagaimana sekarang ini dicanangkan Green School agar bisa membuahkan hasil secara nyata. Di tingkat perguruan tinggi ada perguruan tinggi yang membeli taman hiburan rekreasi untuk menambah incomenya. Bahkan Universitas Brawijaya mengembangkan temuan pakan ternak, vaksin dan obat obat tertentu untuk peningkatan pendanaan universitasnya. Gagasan gagasan itu tidak lebih dari menjadikan sekolah atau kampus lebih mandiri, dengan harapan berdampak pada para mahasiswa yang inovatif dan berjiwa mandiri.

Kota Kansas memberikan bahan bakar “inovasi” dengan pendekatan enterpreneurial . Beberapa yayasan membantu sekolah sekolah yang mengembangkan pilihan dan variasi pembelajaran untuk peserta didiknya. Mereka mengaitkan sekolah sekolah itu dengan sekolah yang ada di kota metropolitan. Hal ini dilakukan agar ada getaran lingkungan pendidikanyang memenuhi kebutuhan para peserta didik.

Bahkan, para Company Social Response (CSR) yang tanggap pendidikan membuat gebrakan dengan menjelalajahi negara untuk menentukan model yang pas.Untuk mencari model mereka tidak segan memberikan dukungan moril maupun materiil kepada sekolah. Hal ini terjadi di Cristo Rey, mereka membuat program Pembelajaran Ekspedisi Diluar (ELOBI Expeditionary Learning Outward Bound), dan Program Kemampuan Pengetahuan (KIPP!Knowledge is Power Program).