Pandangan terhadap citra yang terbentuk dalam media fotografi pada kebanyakan orang, umumnya sebatas pemindahan objek asli ke bidang gambar. Pandangan ini yang kemudian menjebak kita pada pemahaman bahwa, fotografi hanya sebatas media perekaman yang berhubungan dengan cahaya dari objek. Munculnya pandangan tersebut sangat wajar karena perkembangan teknologi kamera yang nyaris tidak pernah selesai dalam capaian kesempurnaan visual. Kamera-kamera terbaru yang menawarkan kemudahan dalam hal pengoperasian bermunculan, sehingga setiap orang bisa dengan mudah melakukan pemotretan.
Karya; Jenifer 10 tahun ? Menangkap Cahaya
Ketika penggunaan kamera telah memasyarakat, dan cenderung menjadi gaya hidup, tentu perlu diimbangi dengan cara pandang terhadap media fotografi. Melalui cara pandang inilah, setidaknya kita tersadarkan bahwa transformasi teknologi kamera dari masa ke masa membutuhkan juga imajinasi dan kreativitas dari para pegiatnya. Dengan berkembangnya cara pandang terhadap fotografi, jebakan konvensi fotografi yang berkisar pada komposisi, pengolahan intensitas cahaya, dan pengaturan pencahayaan, dapat dihindari. Walaupun kerap ditemukan, muatan ide muncul berdasarkan penentuan subject-metter berupa pencitraan hasil permainan proses pencahayaan dan sudut pandang.
Dalam perkembangannya justru kita masih terjebak pada konvensi umum fotografi. Manakala kita selalu berpandangan pada sebuah konvensi yang dianggap mainstream maka kita akan terperangah melihat karya-karya hasil pemotretan para fotografer belia berusia 8 ? 14 tahun. Menariknya, para fotografer belia ini mampu membuat karya dengan media fotografi seperti halnya dibuat oleh orang dewasa kebanyakan. Dalam hal penghadiran fakta mengenai subjek, baik secara teknis maupun pengaturan setiap unsur dalam bidang gambar, mereka sudah melakukannya dengan baik. Sebagian besar karya memperlihatkan bagaimana para fotografer belia memperlakukan kamera sebagai media representasi objektif. Mereka menggunakan kamera untuk merekam realitas, wujud dari suatu figur, alam benda, lanskap, atau apa pun yang ada di sekitar.
Ketika saya diperlihatkan keseluruhan karya foto karya fotografer dari Bidik Fun Photography for Kids, nampak keberanian anak dalam merekam dan memainkan teknik dalam merepresentasikan objek. Representasi objektif yang diperlihatkan dalam salah satu karya oleh Andrew Wongso misalnya, menggambarkan seorang lelaki yang mengenakan pakaian berwarna biru sedang duduk di sebuah taman sambil membaca koran. Dalam konteks bentuk visual, karya yang dibuat Andrew telah mencapai citra yang sempurna, menggunakan komposisi yang dikenal dengan prinsip rule of third. Dengan prinsip rule of third, Andrew menempatkan subyek di antara titik perpotongan garis horizontal dan vertikal yang berada di bagian kanan bidang gambar. . Penempatan subjek di sudut kanan bawah memberi kesan seimbang, dan menuntun mata yang melihat pada warna pakaian mencolok yang dikenakan obyek utama. Pencapaian kesempurnaan visual diperlihatkan oleh Andrew dalam karya lain, sebuah obyek sederhana berupa bagian ekor buaya. Ketika diatur dalam bingkai gambar secara diagonal, ekor tersebut selain memberi kesan keseimbangan juga mencitrakan transformasi bentuk sirip. Kedua karya yang dibuat Andrew tersebut menunjukkan adanya eksplorasi dan kepekaan pada obyek yang bisa kita temukan di dalam keseharian. Kedua karya tersebut merupakan gambaran besar keseluruhan karya yang kemudian dipilih untuk disajikan dalam pameran bertajuk Expression The Things Around US.
Melihat keseluruhan karya terlihat pencitraan visual bertumpu pada hasil akhir dalam capaian representasionalnya, pilihan teknik atau perekaman objek dapat dilakukan dengan cara apa pun. Pada salah satu karya yang dibuat oleh Thirza dalam karya bertajuk The Flowers, digambarkan bagaimana suatu objek diperlihatkan dengan cukup jelas sedangkan latar-latar yang mengganggu dibuat kabur. Karya lainnya tampak pada karya Yolandita yang diberi judul Freezing With Flash, terlihat cara perekaman obyek dengan membekukan cipratan air. Obyek gambar berupa gelas dengan air berwarna hijau menciprat manakala dimasukan benda berat. Dengan memperhitungkan waktu yang tepat maka cipratan air yang keluar dengan cepat dapat terekam dengan cukup sempurna. Barangkali para pegiat fotografi sudah tahu bahwa untuk mendapatkan citra tersebut sangatlah sulit dan dibutuhkan pemotretan berulangkali.
Secara visual, tekstur yang terekam memperlihatkan sejumlah bentuk-bentuk organik yang disusun sedemikian rupa dan bahkan cenderung repetitif. Tampak pada gambar, ada rasa garis tegas yang hadir dan dipertemukan oleh nada-nada lengkung di dalam suatu ruang. Ketidakjelasan obyek terlihat pula pada karya yang dibuat oleh Jenifer yang diberi judul Menangkap Cahaya dengan memanfaatkan garis-garis dari permainan lampu yang keluar dari ikatan figuratif. Jenifer memanfaatkan sebuah lampu senter yang digerakkan sehingga membentuk garis-garis lengkung tidak beraturan dalam bingkai dan latar yang gelap. Perekaman yang dilakukan oleh Jenifer hampir mirip dengan karya yang dibuat Philippe Halsman ketika memotret Salvador Dali yang sedang menggambar dengan senter. Dengan keberanian menampilkan objek seperti itu, Bryan dan Yolandita justru menghasilkan karya masing-masing yang mencengangkan secara visual.
Karya-karya lain selebihnya, memperlihatkan bentuk visual yang baik seperti halnya pada karya-karya yang mengutamakan teknik pemotretan. Secara konvensi, mungkin karya-karya yang dipamerkan secara visual dianggap tidak mencapai kesempurnaan. Terlepas dari capaian kesempurnaan, yang jelas karya-karya yang dipamerkan sesungguhnya mencerminkan adanya dorongan kreativitas, kepekaan dan terhadap objek. Pilihan teknik mereka pada saat merekam obyek menunjukkan adanya keinginan untuk mencoba. Walaupun, tampak seperti main-main bagi orang dewasa. Ini merupakan ciri dari usia anak, yang secara alami memang mempunyai rasa keingintahuan yang tinggi. Rasa keingintahuan yang kuat menjadikan dorongan bermain pada diri seorang anak sebagai salah satu cara untuk mereka dalam mengeksplorasi kemampuan dirinya. Hal ini berpengaruh pada cara para fotografer belia dalam pameran ini memperlakukan obyek yang dianggap biasa oleh orang dewasa. Dari objek yang sederhana ini, fotografi menjadi tidak bisu dan diam, melainkan mampu menyuguhkan makna dan bahkan sanggup berbicara.
Secara visual karya-karya ini menyuguhkan representasi obyektif dari obyek. Namun, pada beberapa karya telah tampak konstruksi yang utuh antara bentuk visual yang selalu indah dengan isi yang dituturkannya. Melalui suguhan keseluruhan karya, orang-orang dewasa dihadapkan pada kenyataan bahwa ketika anak-anak dibekali pengetahuan tentang cara memotret, mereka dapat menghasilkan karya yang baik seperti yang dibuat oleh para fotografer dewasa sekaligus menunjukkan semangat anak-anak dalam berkarya. Bravo untuk kawan-kawan fotografer belia!
Dyslexia sering dianggap sebagai salah satu penyebab munculya kesulitan belajar, bahkan penyandang dyslexia digolongkan kedalam orang-orang yang berkebutuhan khusus. Sebenarnya kesulitan belajar dapat menimpa siapa saja dan pada usia berapa saja, bisa terjadi pada usia kanak-kanak, remaja, dan bahkan orang dewasa sekalipun. Kondisi ini akan mempengaruhi banyak aspek kehidupan seseorang, di sekolah misalnya, di tempat kerja, bahkan di kehidupan dalam keluarga.
Apa dyslexia itu?
Disleksia diartikan sebagai kesulitan dalam memaknai simbol, huruf, dan angka melalui persepsi visual dan auditoris. Hal ini akan berdampak pada kemampuan membaca-pemahaman. (Pusat kurikulum Badan penelitian dan pengembangan Departemen pendidikan nasional, 2007). Istilah dyslexia sendiri berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu dys dan lexia. Dys berati susah atau sulit dan lexia berarti kata. Dyslexia kemudian dimaknai sebagai hambatan dalam belajar yang diakibatkan oleh sulitnya seseorang mengenali dan merangkai huruf-huruf menjadi kata, kata menjadi frase, klausa ataupun kalimat. Misalnya kata buku oleh penyandang dyslexia bisa jadi ditulis ataupun diucapkan duku, kata sederhana seperti kata itu ditulis dengan uit atau uti, tanpa disadari olehnya.
Padahal terjadinya perbedaan huruf atau pertukaran huruf mengakibatkan terjadinya perbedaan makna, maka terjadilah perbedaan informasi. Lebih parah lagi, penyandang dyslexia secara tidak disadari tidak hanya mempertukarkan huruf, melainkan juga menghilangkan kata dalam kalimat, misalnya kalimat Bandung kota kita tercinta dapat saja menjadi Bandung kita tercinta dengan menghilangkan kata kota. Atau bahkan membacanya dari kanan ke kiri sehingga menjadi Tercinta kita kota Bandung. Kondisi ini menyebabkan teman-teman sebayanya atau orang-orang di sekitarnya terheran-heran dan kemudian menjadikan mereka bahan olok-olok. Bukan tidak mungkin kondisi ini pun akan melabeli dirinya sebagai seorang bodoh, atau seorang dengan tingkat intelegensi rendah, padahal mereka tidak termasuk orang-orang yang mengalami keterlambatan inteletual.
Keterbatasan atau ketidakmampuan mengolah kata ataupun mengolah informasi ini berdampak pada kemampuan membaca-pemahaman (Pusat kurikulum Badan penelitian dan pengembangan Departemen pendidikan nasional, 2007). Hal ini dibuktikan dengan banyaknya penelitian yang dilakukan baik oleh para psikolog maupun oleh para psikolinguis, dan hasilnya menunjukkan bahwa para penyandang dyslexia memiliki prestasi yang rendah di bidang akademis padahal mereka memiliki tingkat intelegensi normal bahkan tidak jarang di atas IQ rata-rata.Miller-Medzon, (dalam Nevid, et al.,2005) meyebutkan, dyslexia merupakan 80% dari kasus gangguan belajar dan terjadi pada individu-indvidu yang mengalami kesulitan membaca walaupun mereka memiliki inteligensi rata-rata. Kemampuan menulis dan membaca merupakan keterampilan berbahasa yang sangat diperlukan, dan terjadinya gangguan dalam membaca tersebut menyebabkan penyandang dyslexia kurang dapat meningkatkan potensinya. Dyslexia kemudian diklasifikasikan sebagai salah satu bentuk kesulitan belajar akademik.
Penyandang dyslexia banyak terjadi di negara-negara berbahasa Inggris, karena bahasa tersebut memiliki banyak ejaan dengan bunyi yang sama misalnya bunyi [u:] pada ‘to’, ‘too’ dan ‘two’; atau ejaan yang hampir sama seperti ‘split’ dan ‘spilt’, sehingga sulit dibedakan. Tetapi bukan tidak mungkin terjadi di negeri kita yang tidak berbahasa Inggris. Meskipun angka pasti tentang jumlah penyandang dyslexia ini belum diketahui, The Yale Center for Dyslexia & Creativity menyebutkan angka 20 % dari jumlah penduduk menderita dyslexia. Itu berarti di Indonesia juga terdapat para dyslexic yang mungkin dapat kita kenali dengan sejumlah ciri antara lain:
Mengalami kesulitan memahami teks. Mungkin mereka dapat membaca dengan benar, tetapi tidak mengerti atau memahami teks yang dibacanya.
Mengalami kesulitan dalam mengeja kata atau suku kata dengan benar, terbalik-balik ketika membunyikan huruf yang mempunyai kemiripan bentuk (seperti: d-b, u-n, atau m-n), serta rancu membedakan huruf atau fonem yang memiliki kemiripan bunyi (seperi: v dan f).
Sering terbalik-balik dalam menuliskan atau mengucapkan kata, misalnya: kuda menjadi duka, Mengucapkan bahasa Indonesia dengan benar. menjadi Dengan benar mengucapkan Indonesia.
Di lingkungan pelajar dan mahasiswa penyandang dyslexia dapat ditandai dengan seringnya mereka meminjam catatan kuliah temannya karena mereka tidak mampu membuat catatan sendiri. Jangankan untuk membuat catatan sendiri, penyandang dyslexia mengerjakan tugas-tugas sederhana saja misalnya mengisi formulir, atau membaca daftar kuliah dapat merupakan tugas berat yang mungkin saja menyebabkan mereka frustasi.
Penyandang dyslexia juga sering lupa mencantumkan huruf besar, kalaupun dicantumkan, dicantumkan tempat yang salah. Begitu pula dengan tanda baca, sering lupa meletakkan titik, koma, tanda tanya, atau tanda seru.
Sulit berkonsentrasi, acuh tak acuh dan sering tidak masuk kuliah (malas), terlambat menyelesaikan tugas, bahkan suka berbohong dan berpura-pura Para akhli berpendapat ada beberapa faktor penyebab dyslexia, antara lain:
Faktor keturunan dan biologis, Volger, DeFris, dan Decker, 1985 dalam Pinel 2009, menyebutkan bahwa mereka yang memiliki orang tua disleksia akan beresiko lebih besar untuk memiliki gangguan tersebut. Adapun penelitian Bradford (1999) di Amerika menemukan indikasi, bahwa 80 persen dari seluruh subjek yang diteliti oleh lembaganya mempunyai sejarah atau latar belakang anggota keluarga yang mengalami learning disabilities (http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/ panduan05228-02.htm). Shaywitz dan Mody (2006), kemudian mengemukakan bahwa dyslexia pada anak dan remaja terjadi karena adanya gangguan pada belahan otak kiri sistem saraf posterior saat mereka mencoba membaca.
Faktor gangguan pada pendengaran sejak usia dini, Gangguan pendengaran yang terjadi sejak usia dini dan tidak terdeteksi mengakibatkan terjadinya gangguan pada otak yang sedang berkembang. Dengan demikian otak akan mengalami kesulitan menghubungkan suara dalam satu kata dengan bentuk tertulisnya. Kemampuan untuk menghubungkan pendengaran dengan penglihatan merupakan hal yang sangat penting bagi perkembangan kemampuan bahasa. Bila tidak ditindak-lanjuti, gangguan ini akan bersifat menetap. (http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan05228-02.htm).
Faktor kombinasi, Faktor kombinasi yang dimaksud adalah gabungan dari faktor keturunan dan pendengaran. Faktor kombinasi ini menyebabkan kondisi penyandang dyslexia semakin serius sehingga diperlukan penanganan secara terus menerus dari usia dini hingga dewasa.
Dapatkah dyslexia disembuhkan?
Apa penyebabnya?
Dyslexia adalah bawaan dari lahir dan bukan penyakit, oleh karena itu tidak ada obat tertentu yang dapat menyembuhkan. Artinya penyandang dyslexia akan membawa kelainan ini seumur hidupnya. Akan tetapi dyslexia adalah anugerah yang diberikan kepada orang-orang terpilih, jadi tidak perlu dihilangkan, melainkan berusaha hidup berdamai dengannya dengan cara meminimalkan kekurangan-kekurangan melalui penanganan khusus sejak dini dengan metode dan teknik yang tepat. Banyak riset telah dilakukan oleh para psikolog ataupun para psikolinguis dalam upaya mengembangkan strategi belajar para penyandang dyslexia. Menurut Baumer (1996) ada empat langkah untuk mengajarkan penderita dyslexia dalam meningkatkan pemahaman terhadap suatu bacaan. Berikut langkah-langkah tersebut:
Meminta penderita memilih cerita yang menarik baginya dan dengan kata-kata yang dapat dipahami atau familiar dengannya. Kemudian mintalah penderita membaca dengan keras dan menceritakan kembali apa yang telah dibacanya.
Bila mereka tidak mampu menceritakan, mintalah mereka membaca tiap paragraf dalam hati tanpa suara, kemudian menceritakan isi paragraf tersebut.
Ketika pemahamannya meningkat, tambahkan jumlah paragraf yang dibaca sampai mereka mampu membaca dan memahami keseluruhan isi bacaan.
Berikan arahan untuk membantu pemahamannya, misalnya dengan memberikan pertanyaan seperti: Bagaimana akhir ceritanya? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah si pemeran utama berhasil menjalankan misinya?
Berikan pujian untuk setiap keberhasilannya. Pujian akan membangkitkan semangat untuk terus giat berlatih. Terlepas dari yang telah diuraikan, yang paling penting adalah memberikan dukungan sepenuhnya kepada setiap kemampuan yang ditunjukkannya. Berikan pemahaman kepada mereka bahwa memiliki dyslexia bukanlah sebuah kesalahan.
Berdasarkan riset-riset yang dilakukan baik oleh para psikolog maupun para psikolinguis ataupun keduanya, terdapat berbagai model pembelajaran yang telah dikembangkan untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh dyslexia, termasuk model pembelajaran yang dikembangkan oleh depdiknas. Mungkin pada kesempatan yang lain kita dapat membahas ini.
Penutup
Dyslexia memang kemampuan membaca yang buruk yang dimiliki oleh seseorang yang berinteligensi normal. Kondisi faktor penyebabnya didominasi oleh faktor genetis ini mengakibatkan penyandang dyslexia mengalami kesulitan dalam menerima pelajaran karena mereka sulit menyatukan dan mengolah informasi-informasi yang mereka terima. Walaupun demikian, mereka memiliki kemampuan berfikir yang imajinatif yang mungkin tidak dimiliki oleh banyak orang. Mereka adalah anak yang luar biasa bila mendapatkan penanganan dari ahlinya dan mendapatkan tempat untuk menyalurkan kemampuan mereka.
Siapa yang tidak kenal dengan buah durian? Rasanya yang lezat membuatnya disukai banyak orang, terutama di kawasan Asia. Buah ini memiliki banyak manfaat di bidang kesehatan.
Berikut ini adalah manfaat buah durian :
Mencegah sembelit. Bagi anda yang sering mengalami gangguan pencernaan berupa sembelit sebaiknya anda mengonsumsi durian karena buah yang dianggap sebagai raja buah ini memiliki kandungan serat sebanyak 37 persen. Kandungan serat serta nutrisi buah ini dapat membantu anda buang air besar. Manfaat kedua adalah buah durian mampu untuk menanggulangi terjadinya penyakit anemia. Hal ini dikarenakan tingginya asam folat yang dapat meningkatkan sel darah merah pada tubuh.
Untuk keindahan kulit. Durian mengandung banyak sekali vitamin C yang membantu proses pembentukan kolagen sehingga proses regenerasi kulit akan terjadi dengan mudah.
Menjaga kesehatan tulang. Kandungan potassium yang tinggi pada durian memungkinkan untuk menyehatkan tulang Anda apabila Anda rajin mengonsumsi durian.
Menstabilkan gula darah. Walaupun terasa manis Anda tidak perlu khawatir gula darah Anda naik karena durian dapat membantu menstabilkan gula darah karena kandungan mangaan yang ada pada buah ini.
Durian juga mengandung tembaga yang sangat tinggi. Kandungan tembaga ini dapat membantu agar kelenjar thyroid anda dapat berfungsi dengan baik. Dengan demikian Anda tidak akan khawatir terkena gondok jika memakan buah durian.
Apabila Anda termasuk orang yang gampang terserang penyakit migrain, maka makanlah buah durian agar migrain Anda segera sirna. Kandungan vitamin B yang sangat tinggi pada durian memungkinkan untuk hilangnya rasa sakit yang disebabkan oleh migrain Anda.
Selain itu kandungan vitamin B yang tinggi juga mampu mengendalikan nafsu makan anda karena dengan memakan durian Anda akan mampu merasa kenyang lebih lama.
Dari berbagai manfaat buah durian, salah satu manfaat pentingnya adalah untuk membantu pembentukan tulang dan juga gigi. Kandungan fosfor yang tinggi pada buah durian inilah yang membantu dalam hal pembentukan dua buah bagian tubuh yang penting tersebut.
Pisang adalah tumbuhan yang bisa dimanfaatkan seluruhnya untuk kita. Mulai dari batang, daun, hingga buahnya yang berguna untuk mereduksi risiko kanker, bahkan kulitnya. Ya, kalau makan pisang jangan buang kulitnya. Ternyata banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari kulit pisang. Kulit pisang dikenal memiliki sifat antijamur dan antibiotik. Kulit pisang sarat akan vitamin, mineral, dan serat. Lengkapnya, inilah 10 manfaat kulit pisang.
1. Obat Alami untuk Psoriasis
Psoriasis dialami oleh banyak orang. Kulit pisang dapat dimanfaatkan sebagai obat alami untuk menyingkirkan psoriasis. Gosokkan bagian dalam kulit pisang di area yang terkena psoriasis. Awalnya area tersebut akan menjadi merah, namun dengan penggunaan secara terus-menerus akan terlihat perbedaan hasilnya.
2. Mengobati Jerawat
Kulit pisang juga bisa dimanfaatkan untuk kondisi kulit lainnya yaitu sebagai obat jerawat. Gosokkan bagian dalam kulit pisang pada jerawat. Setelah penggunaan rutin, jerawat tidak akan lagi terlihat. Untuk mendapatkan hasil terbaik, disarankan mengoleskan kulit pisang pada jerawat di malam hari.
3. Mengobati Kutil
Manfaat lain dari kulit pisang adalah mengobati kutil. Gosok bagian dalam kulit pisang pada kutil setiap malam. efeknya akan terlihat pada hari ke 7-10. Sebagai alternatif, kulit pisang bisa dilekatkan pada kutil selama semalaman. Lihat hasilnya dalam 15 hari.
4. Mempercantik Kulit
Untuk kulit kenyal yang indah, gosokkan bagian dalam kulit pisang pada wajah sebelum tidur. Biarkan semalaman, cuci keesokan harinya dengan air hangat.
5. Mengatasi Iritasi & Gatal Alergi, iritasi kulit, dan memar
kulit juga dapat diobati dengan kulit pisang.Jika kulit gatal, tempelkan bagian dalam kulit pisang pada area yang terkena gatal dan biarkan semalaman. Bahan kimia dalam kulit pisang akan membantu menyingkirkan rasa gatal.
6. Mengobati Luka
Luka karena cedera, terutama pada lutut dapat disembuhkan dengan kulit pisang. Gosok lutut dengan bagian dalam kulit pisang dan lihat efek penyembuhannya.
7. Memutihkan Gigi
Beberapa orang mengklaim bahwa menggosokkan bagian dalam kulit pisang pada gigi secara teratur bisa membantu memutihkan gigi. Kulit pisang harus digosok pada gigi dengan gerakan melingkar. Jika kulit pisang digunakan setiap hari, efek pemutihan gigi akan terlihat dalam waktu sekitar dua minggu.
8. Mengatasi Gigitan Nyamuk
Bila terkena gigitan nyamuk, kulit menjadi teriritasi dan gatal. Kulit pisang bisa digunakan untuk mengurangi pembengkakan, gatal, serta iritasi yang disebabkan oleh gigitan nyamuk.
9. Mengkilapkan Aksesoris Perak & Kulit
Kulit pisang ternyata bisa membuat aksesoris yang terbuat dari perak dan kulit kembali mengkilap. Sebelum digunakan, disarankan untuk melakukan pengujian dengan menempelkan sedikit kulit pisang di tempat yang tidak mudah terlihat pada aksesoris tersebut.
10. Pupuk Kompos
Kulit pisang bisa juga digunakan sebagai pupuk kompos untuk tanaman. Kadar kalium dan fosfor yang tinggi pada kulit pisang terbukti sangat membantu saat digunakan sebagai pupuk kompos.
Bukan suatu hal aneh dimasyarakat kita bahwa masalah-masalah yang terjadi mengedepankan pada kepentingan individu atau sebagian kelompok, muncullah kemenangan-kemenangan baru akan suatu kelompok berdasarkan kepentingannya. Inilah yang menjadi pemicu adanya gap diantara masyarakat yang ada di sekelilingnya. Bagaimana bila kesenjangan itu dibiarkan berlarut tanpa ada media yang menjembataninya. Untuk menetralisir keadaan ini masyarakat membutuhkan suatu wahana membentuk kerangka masyarakat yang bersatu, permulaannnya hendaklah mengeksplorasi diri pada bentuk trust, tanpa trust betapapun hebatnya sarana dan prasarana untuk mencapai tujuan bersama, tidak akan tercapai bila trust tidak pernah menyertainya. trust sebagai sisi emosional kita yang positif untuk meyakini sesuatu yang kita persepsikan.
Trust setiap individu akan berbeda, upaya untuk mensejajarkan tingkatan trust, lahirlah mutual trust, dimana ada umpan balik didalamnya. Mengkaji lebih dalam mutual trust, dengan memulai menggali apa yang dapat kita kontribusikan terhadap apa yang kita harapkan. Mutual trust sangatlah penting guna menjalin simbiosis mutualisme diantara para pelakunya. Individu-individu yang ada didalamnya membentuk suatu keterikatan atas dasar saling kepercayaan (mutual trust). Mutual trust merupakan modal sosial sebagai pemersatu yang membutuhkan lem kekuatan yang sangat tinggi, salah satunya dapat diapresiasikan melalui kepemimpinan.
Kepemimpinan terjadi karena adanya faktor trust. Kepemimpinan tidak berbicara mengenai subyek yang konstan, melainkan dipenuhi dengan dinamika dan perubahan. (Sulistiyani, 2008:12). Kepemimpinan menjadi simbol pemimpin untuk menggerakkan bawahannya, seorang pemimpin bukanlah pemimpin tanpa mengetahui kepemimpinan bagi yang dipimpinnya. Individu yang tergabung dalam ruang lingkup masyarakat akan memerlukan pemimpin untuk mengintegrasikan kebutuhan dan keinginan dalam lingkungan sosial.
Kepemimpinan adalah sebuah hubungan yang saling mempengaruhi diantara para pemimpin dan pengikut (bawahan) yang menginginkan perubahan nyata yang mencerminkan tujuan bersamanya. (Rost, dikutip Sulistiyani, 2008;13). Kepemimpinan yang efektif menyelaraskan bentuk kepemimpinan dengan kondisi ataupun kematangan masyarakat yang memililiki budaya yang beraneka ragam. Faktor kultur tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan individu bersikap maupun mempersepsikan sesuatu. Alangkah baiknya keanekaragaman budaya yang kita miliki merupakan asset terpenting untuk menciptakan lingkungan masyarakat dalam sebuah negara, Indonesia, yang memiliki visi dan misi yang sama membangun infrastruktur yang ada dengan mendayakan sumberdaya alam yang kaya, agar dapat dikelola untuk dinikmati dan dijaga kelangsungan hidupnya. Kebudayaan yang beraneka ragam yang kita miliki, kita ciptakan sebagai keunggulan kompetitif (competitive advantage) diantara negara-negara lainnya yang sedang berkembang. Proses itu dimulai dari sumberdaya manusia dan menjadi hal krusial, sebagai elemen kunci.
Budaya masyarakat yang beraneka ragam dapat mempengaruhi pola kepemimpinan, untuk itulah diperlukan pemahaman budaya masyarakat yang adaptif. Budaya adaptif memerlukan pendekatan yang bersifat siap menanggung resiko, keyakinan dan proaktif terhadap kehidupan organisasi dan kehidupan individu. Para
anggota secara aktif mendukung usaha satu sama lain untuk mengidentifikasi pemecahan yang dapat berfungsi. (Kliman disadur Tika(2005;13). Satu faktor yang harus diperhatikan, setiap daerah atau wilayah memiliki kekhasan ataupun keunikan budaya masing-masing. Kelebihan yang dimiliki suatu daerah tidak menjadi keunggulan yang menghilangkan nasionalisme. Siapapun yang menjadi pemimpin tidak dilihat dari kefanatikan suatu daerah, dengan menjadikannya simbol untuk menduduki kursi kepemimpnan. Kapabilitas merupakan suatu ukuran, bagian dari kepercayaan masyarakat yang dititipkan pada pemimpinnya. Dengan demikian landasan membangun masyarakat yang memiliki mutual trust melalui kepemimpinan dengan budaya masyarakat yang beraneka ragam, akan lebih mudah untuk dibangunnya. Karena masyarakat tidak membutuhkan sekedar wacana-wacana, masyarakat lebih kritis menghadapi setiap perubahan yang ada, untuk itulah syarat pembangunan yang terpenting adalah dengan manifestasi yang nyata.
Untuk mengembangkan mutual trust, salah satu dasar yang dapat membangunnya adalah teori Albert tentang individual personality, menjelaskan tentang keseimbangan antara cara individu melihat dirinya, cara individu ingin dilihat dan cara individu dilihat oleh orang lain. Semakin harmonis hubungan ketiga hal tersebut, semakin kuat kepribadian seseorang. Dengan kepribadian yang kuat individu akan melangkah kedepan dengan pasti, dengan keyakinan orang lain akan menerima kehadirannya dan memberikan kepercayaan kepadanya. Adapun mengimplementasiannya :
1. Individu melihat dirinya.
Bagaimana seorang individu mengenali dirinya dalam konteks sifat, sikap yang merupakan cerminan diri. Kemampuan melihat dirinya sangatlah penting, mengetahui sisi kelemahan dan kelebihan yang dimiliki oleh individu bersangkutan. Apabila individu melihat dirinya sebagai seseorang yang memiliki power ataupun kemampuan, menjadikan bekal utama dalam membentuk PD (percaya diri). Percaya diri inilah yang menjadi awal kebangkitan untuk mampu bersosialisasi dalam lingkup masyarakat. Kepercayaan diri dibina dengan memiliki kontrol penyeimbangnya, yakni kecedasan emosional (Emotional Intellegence).
2. Individu ingin dilihat.
Sebagai individu yang memiliki rasa bangga terhadap apa yang dimilikinya, selalu memperlihatkan sikap-sikap positif yang dibawanya dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Sikap ini timbul dari dalam keluar. Ketika sikap itu direfleksikan akan memberikan suatu respon terhadap penerimanya.
3. Individu dilihat oleh orang lain.
Sikap dari luar/masyarakat yang menilai individu, tentunya cara ini menekankan pada apa yang kita lakukan dan dipersepsikan oleh masyarakat. Untuk membangun masyarakat yang memiliki mutual trust melalui kepemimpinan dengan budaya heterogen, maka untuk mewujudkannya belajar mengenali diri sebelum mengenal orang lain atau individu lainnya, dengan mengenali diri, pemahaman untuk orang lain atau individu lainnya akan lebih membuka pikiran kita untuk mengenal perbedaan menjadi sebuah kekayaan, yang penuh dengan nilai-nilai yang bermakna. Tujuh kebiasaan yang menggambarkan sebuah pendekatan yang menyeluruh dan terintegrasi terhadap efektivitas pribadi dan antar pribadi, dan bahwa lebih daripada yang ada didalam kebiasaan-kebiasaan individual itu sendiri, kunci yang sebenarnya terletak dalam hubungan diantara kebiasaan-kebiasaan dan bagaimana mereka diurutkan (Covey, 1997).
Paradigma Tujuh Kebiasaan
1. Jadilah Proaktif
Jadilah sebagai individu yang terus dipacu untuk mengembangkan kebiasaan proaktivitas. Stimulus yang ada mempengaruhi pola pikir untuk merespon, sebagai tindakan dalam kebebasan untuk memilih. Individu yang proaktif memperhatikan dari sudut pandang pada paham-paham yang dianutnya sebagai sebuah nilai yang dijadikan barometer dalam kebebasan untuk memilih, sadar betul bahwa apa yang dipilihnya merupakan kematangan yang penuh tanggung jawab. Menjadi proaktif menegakkan pilar-pilar kematangan berpikir dan bertindak.
2. Merujuk pada tujuan akhir
Sebagai manusia yang dianugerahi akal pikiran, alangkah baiknya mengoptimalkan kehidupan yang dijalani dengan agenda padat karya, tujuan yang ingin dicapai, target-target dalam tahap kehidupannya, lakukan dengan mengagendakan rencana-rencana jangka pendek dan jangka panjang, kerjakan sesuatu berdasarkan peta hidup. Sehingga apa yang dilakukan menjadi fokus dan terarah, tidak keluar dari koridor yang telah dirujuknya. Selalu gunakan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Jadikan segala aktifitas yang dilakukan dalam kehidupan bertumpu pada satu tujuan, atau yang dikenal dengan teori path goal.
3. Dahulukan yang utama
Membuat skala prioritas merupakan asfek penting, kita memilah atas apa yang dipilih. Mengambil tindakan siap dengan segala bentuk konsekuensi yang akan diterimanya. Sebagai individu yang memiliki kehendak bebas, pertanggungjawaban tidak hanya terhadap diri sendiri, tetapi pada lingkungan karena manusia tidak pernah terlepas dari interaksi masyarakat sekitarnya. Dengan membuat skala prioritas hasilnya memenej diri menjadi efektif.
4. Berpikir menang
Tempatkan dalam isi kepala kita kata menang, konsep menang memotivasi untuk bisa mencapai kinerja yang optimal. Menang disini bukan karena kemandirian kita, tetapi saling ketergantungan (interdepency) yang memang mekanisme kerjanya selalu adanya kerjasama. Membuat kemenangan setara dengan kesuksesan yang dimiliki individu adalah untuk bersama. Filosofinya tidak ada kemenangan tanpa kemenangan sebelumnya. Menang merupakan perbaikan dari kekurangan. Hal ini menunjukkan apa yang dikerjakan dari setiap individu hasilnya sesuai apa yang diharapkan.
5. Berusaha mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti
Kunci utama mengerti keluhan ataupun kritikan orang lain, menyajikannya bahwa yang berbicara itu adalah yang kita alami, dari sudut pandang yang sama. Tokoh diri yang menyusup melalui penjelmaan orang lain, akan membuat diri kita lebih sensitif, ingin diperhatikan, memancing emosi orang disekitarnya, yang berantusias dengan pengalaman yang kita alami, dan orang akan berempati. Dengan demikian memandang orang lain itu adalah kita, memudahkan langkah kita untuk mengerti terlebih dahulu tentang orang lain atau individu lainnya, sebelum kita ingin dimengerti oleh orang lain.
6. Wujudkan sinergi
Formulasikan kekurangan dan kelebihan menjadi suatu kesatuan yang saling meniadakan perbedaan, yang berpatokan pada satu tujuan. Munculkan kekuatan positif dengan berpikir positif, yang berdampak pada sikap dan perilaku yang positif pula. Sinergi awal dari mindset kita. Cara kerja sinergi sama seperti cara kerja organ tubuh.
7. Asahlah gergaji
Ada empat sisi dalam diri kita, yaitu fisik, spiritual, mental, sosial/emosional. Fisik dengan melakukan olahraga seimbang, periksakan badan secara berkla, penuhi gizi makanan seimbang, istirahatkan tubuh dengan waktu yang cukup. Spiritual, gunakan waktu ibadah dengan tepat, isilah bathin kita, hati kita dengan kekayaan hubungan kita dengan Sang Pencipta.apapun yang kita lakukan, bila kita memiliki hati penuh dengan spiritual, akan membawa kecerdasan emosional, pengendalian diri. Mental, sediakan waktu luang untuk berintropeksi atas segala bentuk kejadian yang dilewati, mengatur diri atau memenej diri terhadap suasana diluar yang diperkirakan. Sosial/emosional, perbanyaklah berinteraksi dengan berbagai kalangan individu, ikut aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, hal-hal seperti ini membentuk kematangan sisi emosional kita, dan kita menjadi peka terhadap orang lain. Dengan apa yang telah penulis paparkan ini secara ringkas, hal ini dapat menjadi dorongan untuk dapat maju dan berkembang secara bersama, dengan saling mengeratkan satu sama lain dalam membentuk kerjasasama yang dibentuk dengan saling kepercayaan.
Rika Rachmawati, Dosen Fakultas Bisnis & Manajemen, dan peneliti di Universitas Widyatama.
Konsumsi kopi dikaitkan dengan banyak manfaat, salah satunya adalah mengurangi risiko diabetes tipe 2. Penelitian baru menemukan bahwa minuman ini juga berpotensi melindungi penglihatan. Studi tersebut dilakukan oleh Cornell University di Ithaca, New York, Amerika Serikat. Kita semua tahu bahwa kafein di dalam kopi memiliki stimulan yang mendukung kesehatan tubuh. Lebih jauh, biji kopi mentah ternyata mengandung 7-9 persen asam klorogenat (CGA), antioksidan yang memiliki banyak manfaat, termasuk penurunan berat badan dan tekanan darah.
Penemuan baru menyatakan, ekstrak kopi dan CGA tersebut memiliki manfaat yang lebih kaya, yakni melindungi mata dari degenerasi retina. Bagian tersebut berfungsi untuk menerima dan mengorganisir informasi visual yang rentan terhadap hipoksia.”Retina adalah salah satu jaringan tubuh yang paling aktif secara metabolik. Retina mengonsumsi oksigen lebih cepat dari jaringan lain, bahkan otak sekalipun,” jelas para peneliti dilansir Medical News Today. Untuk studi mereka, tim menguji sel ganglion retina pada tikus. Sebelumnya, kerusakan sel dapat berkurang dengan pengobatan oksida nitrat saja. Tapi studi membuktikan bahwa CGA dan ekstrak kopi juga dapat mencegah menurunnya protein pada permukaan sel. Inilah sebabnya mengapa kopi turut memberikan manfaat kesehatan pada mata.
Sementara itu selain menyehatkan mata dan mengurangi risiko dia- betes, studi lain juga menyebutkan bahwa minum setidaknya dua cangkir kopi sehari, dapat mengurangi risiko sirosis hati sebesar 66 persen, serta membantu melawan kanker prostat.
Ketika makan nangka, jangan langsung membuang bijinya. Di beberapa daerah Indonesia, biji nangka biasanya diolah kembali untuk dijadikan makanan. Namun rupanya tak banyak yang menyadari bahwa biji nangka tak hanya enak dimakan, melainkan juga bisa membawa banyak manfaat untuk kesehatan dan kecantikan tubuh. Biji buah nangka dipenuhi oleh nutrisi dan protein. Beberapa nutrisi yang ada di dalamnya antara lain adalah karbohidrat, serat, vitamin A, C, dan B, serta mineral seperti kalsium, zat seng, dan fosfor. Selain itu di dalamnya juga terdapat antioksidan yang bisa menangkal kanker. Biji nangka juga bisa membantu mencegah konstipasi. Penasaran dengan manfaat kesehatan lain dari biji buah nangka?
1. Kesehatan kulit
Jika ingin memiliki kulit yang cantik, lembut, dan bebas kerutan serta bintik-bintik hitam, biji buah nangka bisa membantu Anda. Caranya adalah dengan merendam biji buah nangka di susu dingin selama beberapa waktu. Kemudian haluskan biji nangka tersebut dan gunakan sebagai masker pada kulit yang memiliki kerutan. Lakukan hal ini untuk menghilangkan kerutan pada kulit. Cara ini juga bisa digunakan untuk membuat kulit semakin mulus dan bebas noda. Selain itu, mengonsumsi biji buah nangka secara teratur juga bisa membantu menghaluskan kulit. Biji buah nangka yang kaya serat membantu mencegah konstipasi dan menghilangkan racun yang yang ada dalam kulit. Cara ini akan membuat kulit semakin bersih, sehat, dan terlihat berkilau.
2. Kesehatan mental
Makan biji buah nangka mungkin tampak tak berkaitan dengan kesehatan mental. Padahal keduanya ternyata bisa saling berpengaruh. Selain baik untuk kesehatan kulit, mengonsumsi biji buah nangka juga baik untuk mencegah stres. Biji buah nangka mengandung banyak protein dan nutrisi yang baik untuk mencegah stres. Tak hanya itu, makan biji buah nangka juga bisa menjadi salah satu cara menyehatkan kulit. Nutrisi yang ada dalam biji buah nangka meningkatkan kelembapan kulit dan menyehatkan lever.
3. Kesehatan rambut
Biji buah nangka memiliki kemampuan untuk membantu melancarkan sirkulasi darah. Sirkulasi darah yang baik sangat penting untuk kesehatan dan pertumbuhan rambut. Dengan begitu, mengonsumsi biji buah nangka akan membantu menjaga kesehatan rambut. Tak hanya itu, biji buah nangka juga bisa membantu mrngontrol tingkat gula darah karena biji buah nangka mengandung banyak mangan. Biji buah nangka yang mengandung vitamin A juga membantu mencegah rambut rontok dan menyehatkan mata. Vitamin A di dalamnya akan mencegah penyakit mata seperti kebutaan dan lainnya. Vitamin ini juga menjaga kesehatan rambut, mencegah rambut terlihat kering dan rontok atau patah.
4. Mencegah Anemia
Biji buah nangka mengandung banyak zat besi yang bisa membantu mencegah Anda terkena anemia. Zat besi sangat diperlukan tubuh untuk produksi sel darah merah, sehingga mengonsumsi biji buah nangka akan membantu Anda untuk mengontrol jumlah sel darah merah dan mencegah Anda mengalami kekurangan darah atau anemia. Tak hanya itu, biji buah nangka juga melancarkan aliran darah ke seluruh tubuh, sehingga membantu menjaga kesehatan organ tubuh lainnya seperti jantung dan pembuluh darah, serta mencegah penyakit kulit.
5. Meningkatkan gairah seks
Tak banyak yang mengetahui bahwa biji buah nangka sebenarnya merupakan makanan aprodisiak yang bisa membantu meningkatkan gairah seksual. Cara mengonsumsinya adalah dengan membakar biji buah nangka seperti membakar kacang. Jika Anda mengalami masalah dengan gairah seks, tak ada salahnya mencoba mengonsumsi buah biji nangka.
hingga muncul sebagai sebuah keilmuan tersendiri) ?”.
Drs. Indarsyah : “Perkembangan keilmuan Desain Komunikasi Visual (DKV) telah hampir 40 tahun yang lalu dan hal ini tentunya masih terlalu muda dibandingkan dengan keilmuan lainnya seperti ekonomi, sipil, kimia, biologi, matematika. Adapun cikal bakal desain merupakan keilmuan dari barat ‘follow function’ yang berarti memiliki bentuk-bentuk fungsi seperti interior, produk, komunikasi dan lainnya terkait dengan kegunaannya. Oleh karenanya DKV bisa dikategorikan pada cabang ilmu dasar komunikasi yang merupakan salah satu turunan dari anaknya komunikasi visual. Di Indonesia sendiri, DKV didirikan berkat ilmu yang dibawa oleh Prof. A.D Pirous dari ITB sepulangnya sekolah dari Amerika tahun 1972 dengan berbasis pada keilmuan seni rupa. Sementara subsistem dari rupa adalah desain yang dikaitkan dengan masalah-masalah tertentu, contohnya: masalah arsitektur & sipil yaitu desain interior, masalah industri yaitu desain produk, masalah komunikasi yaitu desain komunikasi visual. Walaupun sebenarnya desain ini sudah hampir 40 tahun didirikan, jadi memang dapat digolongkan ilmu yang cukup tua juga. Hanya saja baru dikembangkan dan ditelaah untuk menjadi sebuah ilmu pertama kalinya di ITB (Institut Teknologi Bandung). Nama atau istilah communication visual design (DKV) berbasis pada graphic design (DG) yang berkaitan dengan seni grafis (gambar) pada efek cukilan kayu, contohnya Lino”.
Komunita : “Perkembangan Desain Komunikasi Visual (DKV) di masa sekarang telah menghilangkan batas antar negara, bagaimana hal ini bila dikaitkan dengan era informasi & teknologi ?”.
Drs. Indarsyah : “Pada era informasi dan digitalisasi, seni grafis (graphic art) ini sangat terbantu oleh adanya berbagai perangkat lunak yang semakin canggih sebagai alat perang dagang dan komunikasi, begitu juga dengan berbagai teknologi hardwarenya. Misalnya, pengembangan komputasi, printer, interface, internet dan programmingnya sangat mendukung terjadinya era informasi terkait dengan visual. DKV mempelajari hal-hal yang bersifat iconic & semiotic, yakni mengenalkan ikon-ikon dan tanda-tanda sehingga semua orang dengan mudahnya – mampu mengetahui dan menggunakan fungsi-fungsi tombol tertentu sesuai tujuan dan keinginannya. Widyatama saja memerlukan logo sebagai lambang pada pemakaian katanya yang memiliki ciri khas tertentu agar mudah diingat orang lain, contohnya : pemakaian kata ‘UTama’ sebagai ikon Universitas Widyatama. Hingga saat ini belum ada era yang dapat menggantikan peranan informasi dan digitalisasi, bahkan pengembangan berbagai fitur dan dunia gadget malah semakin canggih. Oleh karenanya berbagai media komunikasi yang dibutuhkan manusia sangat berimplikasi pada realitas informasi yang dikemas sedemikian rupa agar dengan mudah dipahami. Berbagai pengembangan dunia komunikasi mampu diciptakan para teknolog guna menghasilkan variasi gadget tertentu. Misal : variasi handphone, variasi smartphone, variasi tab, dan lain sebagainya”.
Komunita : “Trend DKV bagi sebuah kemajuan bangsa di bidang teknologi seperti sekarang ini seperti apa menurut bapak ?”.
Drs. Indarsyah : “Seni maupun desain dibutuhkan apabila sebuah negara telah melangkah maju, seiring dengan semakin berkembangnya teknologi dasar. Jika kebutuhan akan mengkonsumsi makanan semakin tinggi maka bidang pertanian yang harus menjawabnya sesuai dengan ilmu dasar pertanian dan keteknikannya. Contoh, penerapan teknologi dasar lainnya adalah menghasilkan energi yang berasal dari sumber aliran air. Hal ini telah ditemukan para ahli melalui penciptaan alat teknik penerangan rumah dengan pengembangan energi listrik dari sumber air yang sedang mengalir”.
Komunita : “Indonesia adalah negara kaya akan budaya dan potensi sumber dayanya. Bagaimana peran dan
peluang keprofesian DKV bagi peningkatan seluruh potensi yang ada agar Indonesia dapat berkembang maju?”.
Drs. Indarsyah : “Negara ini butuh pemikiran orang-orang yang konsen di bidang DKV dengan proyeksi pencapaian 50 kali lipat percepatannya. Hingga saat ini, perkembangan keilmuannya telah menghasilkan 300 sekolah yang tersebar pada berbagai daerah. Contohnya, Prodi DKV hadir di Universitas Trisakti, Institut Kesenian Jakarta, Universitas Gunadarma, Universitas Borobudur, Universitas Widyatama, STISI Telkom, Itenas, Unpas, ITHB, Unikom, dan lain sebagainya. Seiring dengan tingginya kebutuhan akan seni & desain pada dunia kerja, maka hal ini tentunya akan menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap orang yang mendalami serta menekuni agar senantiasa mampu berkembang dalam segala bidang. Dalam konteks era industri kreatif saat ini, sebagaimana yang terdapat pada 14 item pembahasan, 8 butir diantaranya membahas mengenai DKV baik dari sisi desainnya maupun sisi interaksi komunikasi secara visual. Imbasnya yakni mutu lulusan dan peluang dari program studi/fakultas ini hampir semuanya langsung diterima bekerja tanpa ada yang menganggur. Hingga saat ini perusahaan masih membutuhkan tenaga di bidang animasi mencapai 25.000 orang”.
Komunita : “Bagaimana fakultas/program studi DKV ini mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi bapak, apakah ada visi & misi pribadi di dalam pengembangan keilmuan ini ?”.
Drs. Indarsyah : “Visi maupun misi yang belum tercapai hingga saat ini adalah membuat pemerintah paham tentang DKV. Belum satu pun usaha dari pihak pemerintah dan pihak lainnya yang mampu menempatkan profesi orang-orang DKV di instansi pendidikan nasional karena merasa belum memiliki keyakinan yang pasti. Hal inilah yang selalu menjadi hambatan sehingga didalam konteks penataan program pendidikannya pun menjadi terbata-bata dan salah kaprah. Contoh : persyaratan dalam memasuki atau mendaftar pada sekolah desain masih belum jelas dibandingkan dengan jurusan lainnya. Di masa mendatang, seiring dengan era informasi & digitalisasi – bidang DKV sangat prospektif kemajuannya. Namun karena kita berada di wilayah Indonesia yang merupakan negara berkembang maka tingkat kebutuhan akan bidang ini menjadi sekedar tambahan saja (bisa ditingkat ke-10 diantara bidang penting lainnya). Ilmu desain sebenarnya suatu bidang keilmuan yang memiliki tingkat kreatifitas tinggi, sehingga bisa dikatakan ilmu desain ini berada pada posisi disamping penguasa/raja sebagai pengambil keputusannya. Beberapa pakar di bidangnya menyebutkan bahwa ilmu ini merupakan ilmu elite bagi kalangan yang memahami secara mendalam dan mengerti akan makna sebuah seni”.
Komunita : “Bagaimana tantangan & mutu lulusan keprofesian DKV dibandingkan dengan jurusan lainnya yang notabene lebih spesifik dan menjanjikan dalam meraih peluang untuk bekerja ?”.
Drs. Indarsyah : “Terdapat dua tantangan atau perjuangan yang harus dijalankan bagi keprofesian di bidang DKV, yaitu pertama, dengan melakukan pengembangan ilmunya secara berkesinambungan dan kedua, denganmembuat orang lain menjadi paham akan keilmuan ini. Hal ini sebenarnya telah diterapkan dan dilakukan oleh pendiri Widyatama, yaitu Prof. Koesbandijah (almh.) dalam rangka mewujudkan pengembangan keilmuan DKV serta membidani keberadaanya di lingkungan Universitas Widyatama. Saya sangat mengapresiasi ibu Prof.Koesbandijah (almh.) yang dengan semangat dan kegigihannya mampu mendorong, mendukung dan menyediakan berbagai fasilitas yang dibutuhkan guna lahirnya cikal bakal keberadaan Fakultas Desain Komunikasi Visual”.
Komunita : “DKV merupakan cabang keilmuan yang dikatakan elite. Bagaimana prospek bidang ilmu desain ini di masa mendatang sehubungan dengan telah diadakannya studi banding (pembelajaran desain masa depan) ke negeri Belanda ?”.
Drs. Indarsyah : “studi banding ke negeri Belanda dengan mempelajari metode kurasi yakni tentang sebuah negara yang awalnya tidak memiliki apa-apa kemudian menjadi sesuatu hal baru yang memiliki segala macamnya. Contohnya, Belanda memiliki semua lukisan Raden Saleh, kemudian ribuan anting dari NTT dikoleksi dan dicatat dalam berbagai museum mereka. Kami semua beruntung sekali dapat mempelajari dan memahami makna penting dari kemewahan desain yang merupakan aset berharga tinggi atau dengan kata lain yakni aset masa depan adalah asetnya orang lain. Beragam perlengkapan dan alat transportasi kuno milik bangsa Indonesia telah berpindah ke negara lain sehingga jika ada orang Indonesia yang ingin melihat asal muasal aset kita, maka harus pergi ke negara lain. Contohnya : sepeda motor Vespa dan Norton sudah hilang dari Indonesia dan pindah ke negara Australia (beragam motor kuno yang dahulunya ada di Indonesia – sekarang telah berpindah di museum Australia). Kemudian museumnya orang Indonesia, mulai dari potongan kursi Schumacher yang merupakan desain arsiteknya Gedung Sate terdapat di museum negeri Belanda. Memang menurut saya antara science – art – technology (IPTEK) tidak dapat dipisahkan dan masing-masing diharapkan untuk saling menghargai karena saling berkesinambungan”.
Komunita : “Bagaimana peran DKV di Indonesia dalam rangka mendorong industri kreatif ?”.
Drs. Indarsyah : “Baru-baru ini saya bersama beberapa kawan lainnya mendesain sejumlah pasar di Kotamadya Bandung, baik di Cihapit, di Cihaurgeulis, di Cicadas, kemudian di Pasar Baru dengan sebutan Pasar Sae konsep pasar yang sehat – aman – endah. Pasar tradisional yang ditingkatkan kualitasnya sehingga terkesan bersih, aman dan nyaman untuk dimasuki masyarakat. Contoh lainnya, yaitu pasar tradisional Depok yang terkesan modern dengan pola interaksi tawar-menawar harga relatif terjangkau. Adapun konsep Pasar Sae yang ingin diterapkan oleh Walikota Bandung – kang Ridwan Kamil – adalah suatu pasar yang modern, nyaman dan aman dengan pembagian tingkatnya sebagai berikut : untuk lantai dasar digunakan sebagai basement lahan parkir, lantai 1 adalah pasar tradisional semi modern yang mampu dilewati kendaraan umum, lantai 2 digunakan sebagai pasar untuk kebutuhan sekunder, seperti toko batik dan perlengkapan lain. Kemudian lantai berikutnya bisa dipakai sebagai tempat tinggal (rusunawa). Sehingga konsep pasar tersebut memiliki konsumen yang tetap (captive market) tanpa harus keluar dari area tempat tinggal. Industri kreatif itu – permasalahannya – sangat kontradiktif dengan industrialisasi, jika pengertian dari industrialisasi yaitu proses penciptaan/produksi barang berdasarkan pada jumlah inputnya (1 produksi menghasilkan 1 barang) sementara kalo industri kreatif yakni dengan jumlah input tertentu mampu menghasilkan beragam output yang bersifat unik (1 produksi menghasilkan banyak barang). Oleh karenanya kita harus mulai berfikir kreatif dengan mencari hal-hal baru yang ada di sekeliling guna memberikan kemaslahatan bagi masyarakat”.
Komunita : “Berdasarkan penjelasan bapak mengenai kemajuan bidang desain serta semakin bertambahnya
minat dan kebutuhan akan DKV, apakah kira-kira Indonesia yang kaya budaya ini memiliki potensi untuk berkembang dan dijadikan kiblat DKV ?”.
Drs. Indarsyah : “Dikarenakan graphic itu memiliki subsistem yang lumayan banyak, maka tentunya sangat kompleks dan mendalam untuk dipahami. Di antara subsistem dari DKV itu sendiri ada 3 pilihan, yakni : iklan, multimedia dan desain grafis. Sementara awal mula keilmuan graphic ini berasal dari luar negeri yang notabene sudah sangat advanced (ahli) di bidangnya, maka masih jauh sekali kalau Indonesia dikatakan sebagai kiblatnya DKV. Dari sisi teknologi pun banyak diciptakan dan dihasilkan negara barat, contoh: Amerika, Jepang, cina, dan lain sebagainya. Paling tidak Indonesia dapat menciptakan industri kreatif di bidang DKV ini dengan cara mengantisipasi semua kebutuhan rakyat guna meningkatkan nilai kekreatifitasannya”.
Komunita : “Dalam bidang desain terdapat sarana komunikasi yang merupakan audience setempat. Bagaimana pandangan bapak terhadap produk dari para desainer dengan mengkombinasikan sisi komunikasi agar mampu memahami audience dan hasilnya laku di pasaran?”.
Dr. Indarsyah : “Seni graphic itu memang harus melalui riset yang telah diteliti secara mendalam, jadi tanpa riset pun belum tentu hasil desainnya dapat diterima masyarakat. Teorinya Prof. Primadi Tabrani menyebutkan bahwa terdapat 3(tiga) kutub yang mendasari proses riset dari desain, yakni : Goodness – Correctness – Fitness. Artinya sesuatu yang bagus itu harus benar, kemudian yang benar dan bagus harus memiliki keserasian. Berdasarkan pemahaman teori tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa segala sesuatu yang benar itu belum tentu bagus, dan yang bagus itu pula belum tentu memiliki kebenaran. Jadi jangan memaksakan pula jika terdapat barang yang hebat dan istimewa dapat diterima produknya di mata masyarakat. Dalam konteks mengelola keilmuan desain dan seni rupa, semua pihak yang berkepentingan dan konsen di bidangnya harus lebih strategis lagi dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakannya, meskipun hingga saat ini negara belum memfasilitasi secara maksimal”.
Komunita : “Perjalanan panjang dari sebuah keilmuan desain dan komunikasi yang telah dilalui selama 40 tahun tentunya memiliki lika-liku tersendiri. Bagaimana harapan bapak terhadap perkembangan pendidikan DKV di Indonesia ?”.
Drs. Indarsyah : “Saya berharap agar kurikulum yang diajarkannya bisa dirubah sehingga memiliki spesifikasi dan spesialisasi tersendiri guna mempersiapkan mutu lulusan yang kompeten dan profesional. Beberapa pengalaman riset yang pernah saya lakukan bersama dosen manajemen Universitas Widyatama mengenai pentingnya ilmu manajemen dalam rangka mensinergikan hasil-hasil produk desain untuk dikelola secara efisien agar memiliki nilai guna ekonomis di masyarakat. Statement terakhir saya menyatakan bahwa ilmu masa depan berada pada bidang DKV, hal ini tentunya didukung juga oleh sarana ilmu pengetahuan dan teknologi yang handal”. (abdrjk).
Drs. Indarsyah – Pakar dan Praktisi DKV, dosen FDKV – ITB dan Universitas Widyatama.
Indarsjah Tirtawidjaja
Visual Communication Designer, As a Lecturer at VCD program in ITB, and starting to be an entrepreneur right now. Anggota KK.KVMM – FSRD ITB.
1976: Kini Perancang Grafis/Logo/Corporate Identity/Branding
1985: Perancang Grafis Paviliun Indonesia – Tsukuba Expo
1987: Job Training di Belanda (Dumbar & Staatsdruken)
1989: Sekretaris Jurusan Desain FSRD ITB
1992: Ketua Jurusan Desain FSRD ITB
1992: Koordinator Pembina PTS Desain (Trisakti/Itenas/Unpas/STISI/STDI/Asesor UNS Solo)
1992: Tim Pendiri FSRD – Itenas (ex officio)
1995: Pendiri Sekolah Desain Grafis Nice – Bandung
1995: Wakil Dekan III FSRD ITB
1998: Ketua Program Studi DKV FSRD ITB
1999: Pendiri Sekolah Tinggi DKV – Universitas Widyatama 1994: Comparative Study di 4 PT di Belanda – atas undangan WVC Netherlands – Jan van Thom (Jan van Eijk/Utrect/Minerva/Scan Design)
2000: Pendiri FSRD – Universitas ARS – Bandung
2001: Penggagas Sekolah Poliseni Yogyakarta
2001: Tim Grafis – Riset Public Building – Singapore
2001: Wakil Dekan II FSRD ITB
2001: Ketua Promosi Ipteks – ITB
2002: Pendiri Graphic Course Shortcut – Bandung 2005: Dekan Fakultas DKV – Universitas Widyatama
MENJAGA dan MENGGALI BUDAYA, AKAR DESAIN KOMUNIKASI VISUAL
Budaya adalah akar bagi kehidupan masa depan, tidak berhenti dan dapat dikembangkan serta tidak harus berulang.
Desain Komunikasi Visual sebagai keilmuan dan praktis tidak lepas dari budaya, karena ciri khas utama berkaitan dengan media dan target. Desain Komunikasi Visual/DKV – ITB yang pemikiran dasarnya berkaitan dengan teknologi dan industri selalu berubah dan mengalami pergeseran, sehingga membuat orang-orang yang berada didalamnya selalu berfikiran dinamis. DKV – ITB selalu mengusung iden- titas bahwa desain yang dihasilkan harus memiliki ciri dan unsur Indonesia.
Khusus mengenai keilmuan DKV mulai berkembang di Indonesia karena industrikreatif mulai tumbuh sehingga dalam konteks dagang maka dengan sendirinya akan laku dan banyak peminatnya. DKV memiliki 2 (dua) ciri khas utama yaitu media dan target yang sangat spesifik. Semisal kampanye tentang global warming. Pesan yang disampaikan di setiap negara akan berbeda. Itulah pembeda antara DKV sebagai cabang ilmu dasar komunikasi, dengan desain produk yang dapat merataratakan target sasaran.
Salah satu masalah komunikasi sosial adalah saat sebuah korporasi yang memiliki modal memiliki Stasiun Televisi sehingga gaya dan keinginan serta pola pandang dan fikir pemilik stasiun televisi lah yang selalu tampil. Bila secara terus menerus berulang diterima oleh orang-orang maka akhirnya dapat merubah pola fikir para penerima siaran tersebut. Efek yang ditimbulkan dapat berupa negatif ataupun positif. Hal inilah yang membedakan antara DKV dan Desain komunikasi secara masal yang terkadang salah sasaran sehingga menimbulkan dampak yang besar di masyarakat. Oleh sebab itu dosen yang mengajar di FRSD-ITB memiliki dasar keilmuan yang berbeda semisal dari Psikologi, Komunikasi, Arsitek dan lainnya sehingga munculah pertanyaan mengenai linieritas keilmuan (saling silang) ilmu yang terlibat dalam memecahkan masalah diri DKV itu sendiri. Permasalahan inilah yang terkadang menjadi kendala dengan permasalahan teknis atau aturan pendidikan dengan DIKTI karena terkadang para dosen disini yang keilmuannya tidak selaras dengan DKV. Lebih beratnya lagi bahwa persepsi-persepsi yang agak melenceng ini terus dipelihara dan tertanam dalam pola pikir maupun kebijakan dari pemerintah kita sendiri yang seakan mengkotak-kotakkan basis keilmuan.
DKV lahir sekitar 25 tahun yang lalu yang mengkombinasikan berbagai keilmuan mulai dari komunikasi, kesenirupaan dan terus bergeser sesuai perkembangan teknologi dengan berbagai alat pendukungnya mulai dari alat tulis, cetak sampai komputer dengan beragam software di dalamnya. Sehingga sampai saat ini keilmuan yang berada didalamnya sangat beragam seperti yang dituturkan di atas. Kendala lainnya adalah keterbatasan kita untuk mengejar teknologi yang dipakai dalam dunia DKV misalnya fotografi yang memerlukan kamera dengan kualitas dan teknologi yang mumpuni guna hasil yang maksimal. Dapat saja kamera yang dipakai adalah kamera yang biasa digunakan dengan teknologi yang dulu, tetapi outputnya akan berbeda dan tidak sesuai dengan yang diinginkan.
Dari segi kreatifitas sebetulnya penggiat DKV di Indonesia merupakan salah satu yang diperhitungkan di dunia. Contohnya, batik yang sekarang sangat komersil dengan pangsa pasar sangat besar sampai tidak dapat terpenuhi sehingga masuk produk batik dari negara lain untuk memenuhi pasar batik di negara kita. Sekitar 5 sampai 10 tahun mendatang diperkirakan dunia DKV akan semakin meningkat secara global termasuk Indonesia. Apabila tidak kita penuhi kebutuhan pasarnya maka yang akan mengisinya adalah orang-orang dari negara lain. Menyikapi atau mengantisipasi hal tersebut maka wajib untuk meningkatkan kualitas kesenirupaan bagi SDM (Sumberdaya Manusia) negeri ini, serta rasa kepercayaan diri yang tinggi bahwa kita memiliki kualitas yang sangat baik. Selanjutnya kita juga harus banyak belajar dari negara lain seperti China, India, Jepang atau negara-negara yang telah berhasil mempertahankan kebudayaan masalalunya untuk membangun dunia masa depannya.
Negara-negara yang tetap mempertahankan kekhasan negaranya tetapi selalu mengupgrade kebudayaannya, baik dalam keilmuan maupun teknologi sehingga terus berkembang mengikuti jiwa zaman yang sedang berlangsung.
Saya sendiri saat ini sedang giat mempelajari atau aktif dalam menggali hal apa yang terjadi di masyarakat atau
wilayah yang belum tersentuh Pemerintah secara jarak. Sebagai contoh warga yang hidup di daerah pedalaman yang kurang tersentuh Pemerintah, karena menurut hemat saya bila kita dapat menyentuh dan mengartikan masa lalu maka kemungkinan besar kita dapat menjalani masa depan. DKV sendiri menurut saya dalam konteks keilmuan adalah komunikasi melalui media yang bergaya harus logis sesuai target dengan 2 (dua) media yaitu material (kertas, kaleng, meja, barang 3 dimensi) dan teknik printing atau sablon atau non screen dan printing seperti animasi. Intinya, DKV selain proses alih pesan, tetapi juga proses tukar makna walaupun terkadang berlebihan. Keterkaitan DKV dalam hal pendidikan adalah kewajiban para pengajar menanamkan pemikiran pada para mahasiswa bahwa mereka adalah produsen atau pencipta bukan konsumen atau pemakai. Meskipun tidak menjadi Entrepreneur tetapi dapat menjadi pekerja yang inovatif dalam perusahaan dimana dia bekerja. (Fe).
Dr. Pindi Setiawan, M.Si adalah dosen DKV, peneliti, Kepala Perpustakaan Seni dan Desain FSRD-ITB, peneliti untuk Rock Art di Kutai Timur.
[box]Dr. Pindi Setiawan, M.Si
PENDIDIKAN
Doctoral for Art and Design, Institute of Technology Bandung, sandwich program at . Centro Camuno di Studi Preistorici, Valcamonica, Italia, dan Art et Histoire, Universite Tolouse de Mirail, Prancis.
PROFESIONAL
Lecture di Komunikasi Visual , Institut Teknologi Bandung
Lecture di Entrepreneur Kreatif Budaya, Business School , Institut Teknologi Bandung
Peneliti untuk Budaya dan Produk Ramah Lingkungan Reseach Centre , Institut Teknologi Bandung
AUTHORSHIP
2012 kegiatan inventarisasi Karst Kalimantan , Kalimantan PPE , Kementrian Lingkungan Hidup
2012 Atlas Karst Sangkulirang – Mangkalihat , Badan Lingkungan Hidup Kutai Timur .
2012 Karst Sangkulirang , Dinas Pariwisata Kutai Timur. (Inggris dan Indonesia versi , dengan Wawan Setiawan) .
2012 Gambar Kalimantan Prasejarah , Melacak Kisah Yang Hilang ( Perancis, Inggris, versi bahasa Indonesia – dengan Luc Henry Fage dan JM Cazine ) Selected Lecture dan Pembicara Paripurna
2013 C – Creativenesia , INCODA , Konferensi Internasional tentang Indonesia Kreatif, UNTAR Jakarta .2013 , Merupakan Masterpiece of Kalimantrope ? Man Genius Kreatif , International Conference 2013 , Sangkulirang Alam dan Warisan Budaya , BPCB Samarinda , Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan Dan Kebudayan , Le Grandeur , Balikpapan .
2013 The Prehistoric Kalimantan Rock Art , Festival Adi Kriya Kalimantan , Yayasan Lontar , Bentara Budaya Jakarta .
2013 Cara membaca Gambar TEKS Tanpa , Universitas PGRI Adi Buana , Surabaya , Indonesia
2013 Etnonesia : Jasa Desain berfikir , Seminar Nasional , Universitas Soegijopranata , Semarang , Indonesia
2012 Visual Studi : kasus Art Borneo Rock, Indira Gandhi National Centre for Art The , New Delhi , India .
PENELITIAN TERKAIT TRAVEL
2010-2015 Harimau gua , Sumatra , Indonesia , dengan collaboratain Riset Nasional Indonesia . Dana Bank Pembangunan Asia.
2013 Bahasa Visual Ramayana Naskah , Penelitian Inovasi Program , Institut Teknologi Bandung .
2013 Pemukiman di Dayak Punan Lati , BerauCoal , Kalimantan
2011-2013 model komunikasi orang Dayak Basap – di Kalimantan .
2011-2012 Inventarisasi situs yang signifikan di Kawasan Karst Kalimantan
PROFESIONAL AWARD
2008 sebagai 12 tahun peneliti untuk Rock Art di Kutai Timur Region, Kutai Timur Region, Republik Indonesia
2008 Sebagai Motivator untuk Guru TK Sekolah Bina Insani, TK, Bina Insani, Bogor
2000 Sebagai tim anggota ROLEX AWARD untuk Luc Henry Fage, Rolex [/box]
Di tengah kesibukannya selaku Dekan FDKV dan Ketua Art Therapy Center Widyatama, Dr. Anne Nurfarina meluangkan waktu berbincang dengan majalah Komunita seputar bidang studi dan praktis desain komunikasi visual/DKV. Dikatakannya, perkembangan DKV seiring dengan perkembangan teknologi. Sehingga trendnya sering berubah, khususnya dalam rana teknis. Namun, yang selalu menjadi isue adalah local value, karena persaingan yang ketat secara global mendorong para kreatif untuk memunculkan kekhasan budaya bangsanya baik dari aspek sosial, budaya, dll.
Indonesia adalah negara multi kultur, kekayaan budayanya menjadi satu kelebihan yang sudah seharusnya dijaga dan dipublikasikan di level internasional. Sayangnya, kreator kita khususnya generasi muda lebih tertarik pada budaya bangsa lain yang sedang trend pada masanya. Budaya Jepang, Korea dan negara Eropa paling dominan pengaruhnya. Sehingga pernah ada masa film kartun Upin Ipin cukup mengagetkan para kreatif Indonesia karena kesuksesannya, menembus pasar nasional dan diminati penonton Indonesia. Yang diangkat adalah budaya lokal Melayu khas Malaysia, baik karakter, logat dan cara berpakaian. Sederhana namun menyentuh simpati
masyarakat.
Dan yang lebih mengagetkan adalah salah satu tim kreatifnya adalah siswa dari Indonesia yang belajar di sana. Begitu juga film sukses bertaraf internasional lainnya, seperti Tintin dan Avatar yang menembus box office.
Ternyata, salah satu tim kreatifnya adalah putera puteri dari Indonesia. Hal ini menunjukkan, potensi anak bangsa tidak kalah bersaing, hanya kesadaran potensi kelokalannya yang masih minim dan tidak menjadikannya sebagai peluang di industri kreatif Indonesia. Perlu menjadi pertimbangan mendasar karena Indonesia di tahun 2015 mendatang akan menghadapi ASEAN Free Trade Area (AFTA), sehingga dapat dibayangkan persaingan tidak hanya sesama warga Indonesia, namun juga pendatang dari luar negeri seperti India, Thailand dll.
JENJANG PENDIDIKAN
Menyinggung jenjang pendidikan tinggi DKV, Dr. Anne menggambarkan bahwa: dalam sistem pendidikan nasional sudah jelas ada pendidikan professional stream dan academic stream (meminjam istilah A.D. Pirous) atau istilah mudahnya pendidikan berbasis industri dan pendidikan berbasis wacana. Penyeleng- gara pendidikan tinggi DKV dalam memasarkan produknya menjanjikan lulusan sarjana S-1 yang siap pakai di industri. Sehingga mentalitas teknisi memang mendominasi pola pikir siswanya. Padahal untuk level D4 setara S1 seharusnya wajib pula dibangun kekuatan seorang konseptor berbasis analisis baik data atau teotritik. D4 khususnya, mahasiswa harus mempunyai kekuatan tersebut. Tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan penguasaan software dan hardware saja, juga harusmenguasai konsep ide kreatif dan mampu menjelaskannya secara argumentatif. Itulah sasaran yang disiapkan FDKV Universitas Widyatama.
Pertumbuhan Pendidikan DKV tersebut tidak lepas dari perkembangan teknologi, media informasi, maupun gaya hidup. Hampir semua sektor seperti : konsumsi, hiburan, media, infrastruktur, properti, keuangan pendidikan dan sebagainya membutuhkan sentuhan desainer komunikasi visual. Fenomena ini yang membuka peluang tumbuhnya profesi-profesi baru terkait dengan DKV yang pada akhirnya meningkatkan permintaan akan jasa pendidikan DKV. Bahkan, Drs. Indarsah T. pakar DKV baru-baru ini menyebutkan: perkembangan keilmuan DKV telah
menghasilkan 300 sekolah yang tersebar pada berbagai daerah. Contohnya, Prodi DKV hadir di Universitas Trisakti, Institut Kesenian Jakarta, Universitas Gunadarma, Universitas Borobudur, Universitas Widyatama, STISI Telkom, Itenas, Unpas, ITHB, Unikom, dan lain sebagainya. Seiring dengan tingginya kebutuhan akan seni & desain pada
dunia kerja, maka hal ini tentunya akan menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap orang yang mendalami serta menekuni agar senantiasa mampu berkembang dalam segala bidang.
Dalam konteks era industri kreatif saat ini, sebagaimana yang terdapat pada 14 item pembahasan, 8 butir diantaranya membahas mengenai DKV baik dari sisi desainnya maupun sisi interaksi komunikasi secara visual. Imbasnya yakni mutu lulusan dan peluang dari program studi/fakultas ini hampir semuanya langsung diterima bekerja tanpa ada yang menganggur. Hingga saat ini perusahaan masih membutuhkan tenaga di bidang animasi mencapai 25.000 orang. Negara ini butuh pemikiran orang-orang yang konsen di bidang DKV dengan proyeksi pencapaian 50 kali lipat percepatannya.
Menurut Dr. Anne, kondisi ini belum sepenuhnya dipahami masyarakat, sehingga banyak kasus calon mahasiswa yang dilarang kuliah pada jurusan ini karena ketidak pahaman orang tua mereka. Padahal, job opportunity industri di bidang ini luar biasa besar, media cetak dan media eletronikberkembang sangat pesat dalam skala nasional atau internasional.
FDKV Widyatama
Universitas Widyatama dulu identik dengan STIEB yang unggul dalam program studi Akuntansi dan Manajemennya. Tetapi kini seiring perkembangan Universitas yang telah berusia 13 tahun, dua belas program studi lainnya telah menunjukkan geliat kemajuan dalam kualitas. Salah satunya Fakultas Desain Komunikasi Visual/FDKV (dahulu STDKV – Widyatama yang berdiri pada tahun 1999 dan tahun 2001 berubah menjadi Fakultas Desain Komunikasi Visual seiring dengan pendirian Universitas Widyatama) dengan program studi Desain Gra?s dan Multimedia. Visi yang diusung adalah FDKV Widya-tama sebagai lembaga yang menghasilkan sumberdaya manusia profesional, dan dapat menyesuaikan diri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, tek-nologi dan seni dalam lingkungan global.
Dr. Anne Nurfarina, S.Sn., M.Sn. menyebutkan bahwa sistem pendidikan FDKV Widyatama mendorong mahasiswa memahami bahwa ilmu desain bersifat cair, bisa masuk ke ranah ilmu lain seperti pendidikan, lingkungan, kesehatan dll. Art Therapy merupakan salah satu contoh bahwa ilmu ini ternyata mempunyai kemampuan untuk menjadi media therapy bagi anak berkebutuhan khusus. Di negara-negara maju seperti Jepang, Inggris dan Amerika, anak disabilitas difasilitasi dengan medium audio visual, selain juga pada industri kreatifnya. Sehingga, janggal sekali jika pemerintah atau masyarakat di Indonesia tidak segera memahaminya. Karena itu, keberadaan Art Therapy – Widyatama menjadi bukti implementasi keilmuan DKV ini dalam bidang pendidikan bagi penyandang disabilitas. Alat terapi berbasis audio visual terbukti bisa mempercepat anak autis terbangun respon komunikasi mereka. Misi Anne sebagai dekan memacu FDKV Widyatama menjadi fakultas yang menghasilkan lulusan yang aktif dan produktif di dunia industri kreatif, khususnya di Indonesia. Lulusannya adalah pribadi yang kreatif, iniovatif dan mampu bersaing.
Pengajar juga didorong menjadi role model bagi peserta didik, sehingga saat ini sedang dibangun inkubator bisnis yang menjadi wadah bagi kekaryaan mahasiswa dan dosen untuk proyek desain.
Upaya tersebut didukung oleh dosen-dosen FDKV-Widyatama, baik dosen senior maupun dosen muda yang ahli di bidangnya. Mereka telah menempuh jenjang magister, sekaligus aktif di luar kampus sebagai praktisi, sehingga pengalaman praktisnya menjadi bahan yang up to date untuk percepatan pendidikan di lingkungan akademis.
Di antara mereka adalah : Prof. Dr. Primadi Tabrani; Drs. Indarsah T; Dr. Anne Nurfarina, S.Sn., M.Sn., Rudy Farid, Drs., M.Ds.; Ifa Mustikadara, Dra., M.Si., Fajar Persada Supandi, S.St.,M.T., Savitri Putri Ramadina, S.Sn., M.Sn., Wahdiaman, S.Sn., M.Sn.; Agus Hakim, S.Ds., M.Ds., Annisa Bela Pertiwi, S.Pd., M.Pd., Arus Reka Prasetya, S.E., M.M., Azizah Assatari, S.Sn., M.Ds., Budiman, Drs., MM.Pd., Jajang Supriyadi, S.Sn., M.Sn., Asep Deni Iskandar, M.Sn., Muhamad Firdaus Benyamin, Drs., dll. Karya-karya mereka tersebar dalam dunia praktis desain komunikasi visual. Juga akti?tas Dr. Anne di luar FDKV Widyatama, yakni di Forum Desain Gra?s Indonesia (FDGI) chapter Bandung, Persatuan Orang Tua dan Keluarga Anak Penyandang Disabilitas Indonesia (PORTADIN) DPW Jawa barat (Ketua). Selain itu, dia juga menjadi mitra Dinas Sosial Jawa Barat sebagai instruktur bagi para pekerja sosial.
FDKV Universitas Widyatama mempunyai potensi dan peluang yang setara dengan program studi sejenis di perguruan tinggi lainnya. Kompetensi dosen dan mahasiswa menunjukkan level yang setara dengan kemampuan dosen dan mahasiswa dari perguruan ternama. Berkait dengan itu kultur akademinya terus ditingkatkan, sistem pembelajarannya difokuskan pada sistem simulasi proyek. Disamping itu, sistem manajemen bisnis dan pemasaran menjadi fokus kajian dengan studi kasus berbasis kelokalan. Secara pribadi, siswa distimulasi untuk siap bekerja mandiri, karena desain komunikasi visual memungkinkan juga untuk berwirausaha. Mari Bergabung bersama FDKV Widyatama.