Di tengah kesibukannya selaku Dekan FDKV dan Ketua Art Therapy Center Widyatama, Dr. Anne Nurfarina meluangkan waktu berbincang dengan majalah Komunita seputar bidang studi dan praktis desain komunikasi visual/DKV. Dikatakannya, perkembangan DKV seiring dengan perkembangan teknologi. Sehingga trendnya sering berubah, khususnya dalam rana teknis. Namun, yang selalu menjadi isue adalah local value, karena persaingan yang ketat secara global mendorong para kreatif untuk memunculkan kekhasan budaya bangsanya baik dari aspek sosial, budaya, dll.
Indonesia adalah negara multi kultur, kekayaan budayanya menjadi satu kelebihan yang sudah seharusnya dijaga dan dipublikasikan di level internasional. Sayangnya, kreator kita khususnya generasi muda lebih tertarik pada budaya bangsa lain yang sedang trend pada masanya. Budaya Jepang, Korea dan negara Eropa paling dominan pengaruhnya. Sehingga pernah ada masa film kartun Upin Ipin cukup mengagetkan para kreatif Indonesia karena kesuksesannya, menembus pasar nasional dan diminati penonton Indonesia. Yang diangkat adalah budaya lokal Melayu khas Malaysia, baik karakter, logat dan cara berpakaian. Sederhana namun menyentuh simpati
masyarakat.
Dan yang lebih mengagetkan adalah salah satu tim kreatifnya adalah siswa dari Indonesia yang belajar di sana. Begitu juga film sukses bertaraf internasional lainnya, seperti Tintin dan Avatar yang menembus box office.
Ternyata, salah satu tim kreatifnya adalah putera puteri dari Indonesia. Hal ini menunjukkan, potensi anak bangsa tidak kalah bersaing, hanya kesadaran potensi kelokalannya yang masih minim dan tidak menjadikannya sebagai peluang di industri kreatif Indonesia. Perlu menjadi pertimbangan mendasar karena Indonesia di tahun 2015 mendatang akan menghadapi ASEAN Free Trade Area (AFTA), sehingga dapat dibayangkan persaingan tidak hanya sesama warga Indonesia, namun juga pendatang dari luar negeri seperti India, Thailand dll.
JENJANG PENDIDIKAN
Menyinggung jenjang pendidikan tinggi DKV, Dr. Anne menggambarkan bahwa: dalam sistem pendidikan nasional sudah jelas ada pendidikan professional stream dan academic stream (meminjam istilah A.D. Pirous) atau istilah mudahnya pendidikan berbasis industri dan pendidikan berbasis wacana. Penyeleng- gara pendidikan tinggi DKV dalam memasarkan produknya menjanjikan lulusan sarjana S-1 yang siap pakai di industri. Sehingga mentalitas teknisi memang mendominasi pola pikir siswanya. Padahal untuk level D4 setara S1 seharusnya wajib pula dibangun kekuatan seorang konseptor berbasis analisis baik data atau teotritik. D4 khususnya, mahasiswa harus mempunyai kekuatan tersebut. Tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan penguasaan software dan hardware saja, juga harusmenguasai konsep ide kreatif dan mampu menjelaskannya secara argumentatif. Itulah sasaran yang disiapkan FDKV Universitas Widyatama.
Pertumbuhan Pendidikan DKV tersebut tidak lepas dari perkembangan teknologi, media informasi, maupun gaya hidup. Hampir semua sektor seperti : konsumsi, hiburan, media, infrastruktur, properti, keuangan pendidikan dan sebagainya membutuhkan sentuhan desainer komunikasi visual. Fenomena ini yang membuka peluang tumbuhnya profesi-profesi baru terkait dengan DKV yang pada akhirnya meningkatkan permintaan akan jasa pendidikan DKV. Bahkan, Drs. Indarsah T. pakar DKV baru-baru ini menyebutkan: perkembangan keilmuan DKV telah
menghasilkan 300 sekolah yang tersebar pada berbagai daerah. Contohnya, Prodi DKV hadir di Universitas Trisakti, Institut Kesenian Jakarta, Universitas Gunadarma, Universitas Borobudur, Universitas Widyatama, STISI Telkom, Itenas, Unpas, ITHB, Unikom, dan lain sebagainya. Seiring dengan tingginya kebutuhan akan seni & desain pada
dunia kerja, maka hal ini tentunya akan menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap orang yang mendalami serta menekuni agar senantiasa mampu berkembang dalam segala bidang.
Dalam konteks era industri kreatif saat ini, sebagaimana yang terdapat pada 14 item pembahasan, 8 butir diantaranya membahas mengenai DKV baik dari sisi desainnya maupun sisi interaksi komunikasi secara visual. Imbasnya yakni mutu lulusan dan peluang dari program studi/fakultas ini hampir semuanya langsung diterima bekerja tanpa ada yang menganggur. Hingga saat ini perusahaan masih membutuhkan tenaga di bidang animasi mencapai 25.000 orang. Negara ini butuh pemikiran orang-orang yang konsen di bidang DKV dengan proyeksi pencapaian 50 kali lipat percepatannya.
Menurut Dr. Anne, kondisi ini belum sepenuhnya dipahami masyarakat, sehingga banyak kasus calon mahasiswa yang dilarang kuliah pada jurusan ini karena ketidak pahaman orang tua mereka. Padahal, job opportunity industri di bidang ini luar biasa besar, media cetak dan media eletronikberkembang sangat pesat dalam skala nasional atau internasional.
FDKV Widyatama
Universitas Widyatama dulu identik dengan STIEB yang unggul dalam program studi Akuntansi dan Manajemennya. Tetapi kini seiring perkembangan Universitas yang telah berusia 13 tahun, dua belas program studi lainnya telah menunjukkan geliat kemajuan dalam kualitas. Salah satunya Fakultas Desain Komunikasi Visual/FDKV (dahulu STDKV – Widyatama yang berdiri pada tahun 1999 dan tahun 2001 berubah menjadi Fakultas Desain Komunikasi Visual seiring dengan pendirian Universitas Widyatama) dengan program studi Desain Gra?s dan Multimedia. Visi yang diusung adalah FDKV Widya-tama sebagai lembaga yang menghasilkan sumberdaya manusia profesional, dan dapat menyesuaikan diri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, tek-nologi dan seni dalam lingkungan global.
Dr. Anne Nurfarina, S.Sn., M.Sn. menyebutkan bahwa sistem pendidikan FDKV Widyatama mendorong mahasiswa memahami bahwa ilmu desain bersifat cair, bisa masuk ke ranah ilmu lain seperti pendidikan, lingkungan, kesehatan dll. Art Therapy merupakan salah satu contoh bahwa ilmu ini ternyata mempunyai kemampuan untuk menjadi media therapy bagi anak berkebutuhan khusus. Di negara-negara maju seperti Jepang, Inggris dan Amerika, anak disabilitas difasilitasi dengan medium audio visual, selain juga pada industri kreatifnya. Sehingga, janggal sekali jika pemerintah atau masyarakat di Indonesia tidak segera memahaminya. Karena itu, keberadaan Art Therapy – Widyatama menjadi bukti implementasi keilmuan DKV ini dalam bidang pendidikan bagi penyandang disabilitas. Alat terapi berbasis audio visual terbukti bisa mempercepat anak autis terbangun respon komunikasi mereka. Misi Anne sebagai dekan memacu FDKV Widyatama menjadi fakultas yang menghasilkan lulusan yang aktif dan produktif di dunia industri kreatif, khususnya di Indonesia. Lulusannya adalah pribadi yang kreatif, iniovatif dan mampu bersaing.
Pengajar juga didorong menjadi role model bagi peserta didik, sehingga saat ini sedang dibangun inkubator bisnis yang menjadi wadah bagi kekaryaan mahasiswa dan dosen untuk proyek desain.
Upaya tersebut didukung oleh dosen-dosen FDKV-Widyatama, baik dosen senior maupun dosen muda yang ahli di bidangnya. Mereka telah menempuh jenjang magister, sekaligus aktif di luar kampus sebagai praktisi, sehingga pengalaman praktisnya menjadi bahan yang up to date untuk percepatan pendidikan di lingkungan akademis.
Di antara mereka adalah : Prof. Dr. Primadi Tabrani; Drs. Indarsah T; Dr. Anne Nurfarina, S.Sn., M.Sn., Rudy Farid, Drs., M.Ds.; Ifa Mustikadara, Dra., M.Si., Fajar Persada Supandi, S.St.,M.T., Savitri Putri Ramadina, S.Sn., M.Sn., Wahdiaman, S.Sn., M.Sn.; Agus Hakim, S.Ds., M.Ds., Annisa Bela Pertiwi, S.Pd., M.Pd., Arus Reka Prasetya, S.E., M.M., Azizah Assatari, S.Sn., M.Ds., Budiman, Drs., MM.Pd., Jajang Supriyadi, S.Sn., M.Sn., Asep Deni Iskandar, M.Sn., Muhamad Firdaus Benyamin, Drs., dll. Karya-karya mereka tersebar dalam dunia praktis desain komunikasi visual. Juga akti?tas Dr. Anne di luar FDKV Widyatama, yakni di Forum Desain Gra?s Indonesia (FDGI) chapter Bandung, Persatuan Orang Tua dan Keluarga Anak Penyandang Disabilitas Indonesia (PORTADIN) DPW Jawa barat (Ketua). Selain itu, dia juga menjadi mitra Dinas Sosial Jawa Barat sebagai instruktur bagi para pekerja sosial.
FDKV Universitas Widyatama mempunyai potensi dan peluang yang setara dengan program studi sejenis di perguruan tinggi lainnya. Kompetensi dosen dan mahasiswa menunjukkan level yang setara dengan kemampuan dosen dan mahasiswa dari perguruan ternama. Berkait dengan itu kultur akademinya terus ditingkatkan, sistem pembelajarannya difokuskan pada sistem simulasi proyek. Disamping itu, sistem manajemen bisnis dan pemasaran menjadi fokus kajian dengan studi kasus berbasis kelokalan. Secara pribadi, siswa distimulasi untuk siap bekerja mandiri, karena desain komunikasi visual memungkinkan juga untuk berwirausaha. Mari Bergabung bersama FDKV Widyatama.
Istilah game mengingatkan kita akan konsol permainan anak-anak sebangsa PSP, Sega, Wii, dan sebagainya. Apakah game terbatas pada permainan anak-anak saja? Sebenarnya tidak juga.
Anda boleh lihat betapa banyaknya media interaktif yang diinspirasi dari game di dunia nyata. Mulai dari smartphone sebangsa samsung dan iphone yang interaktifitasnya sangat bermain hingga tablet PC. Bahkan saat ini, mungkin orang sudah lupa betapapun seriusnya tampilan DOS telah tergantikan dengan mudahnya oleh tampilan windows yang serba praktis dan user friendly (itupun sudah dianggap serius, masih ada interface IOS yang lebih main-main daripada itu.
Fenomena saat ini menunjukkan betapa besarnya kebutuhan masyarakat terhadap media berbasis game itu sendiri. Bahkan mungkin kucing anda termasuk salah satu pengguna teknologi (mengingat sekarang bahkan iPad menyediakan aplikasi untuk kucing peliharaan anda). Sebuah pertanyaan penting, Bagaimana bisa fenomena seperti ini terjadi?
Permainan (game) merupakan bentuk kebudayaan tertua yang dimiliki manusia sebelum munculnya kata dan tulisan. Rasa kebermainan (ludic) pada manusia muncul secara alami sebagai suatu bentuk sifat dasar pada setiap manusia, bahkan hewan. (jadi kesimpulannya, sebenarnya kucing anda yang bermain iPad atau anda yang enjoy melihat kucing anda bermain?).
Namun disini yang membedakan rasa kepermainan manusia dari hewan adalah adanya pemikiran atas permainan itu sendiri. Mulai dari bentuk permainan sederhana hingga permainan dengan kompleksitas tinggi dan tujuan besar. Karena sifat dasarnya itulah manusia disebut sebagai Homo Luden (manusia bermain).
?
Sebuah permainan berawal dari gagasan, visi, ataupun tujuan (rules) yang berasal dari buah pikiran seseorang yang kemudian meng-influence orang lain di sekitarnya. Karena itulah permainan bermetamorfosis dari gagasan menjadi kebudayaan. Walaupun seiring kemajuan teknologi permainan mengalami perubahan, baik dari sisi material, gaya hidup, maupun konten, namun leksitas permainan dalam pikiran manusia itu sendiri bersifat tetap, sehingga dapat kita sebut bahwa budaya bermain merupakan kebudayaan yang bersifat tradisi. Apapun media permainan tersebut, baik berupa objek material (bola, panah, dst) maupun objek tekstual (permainan kata, berbalas pantun, bermain peran, dst), pengertian permainan tetap tidak berubah, dan tetap memiliki suatu gagasan yang harus dicapai dan menghasilkan suatu rasa senang, hiburan, kebanggaan, dan sebagainya pada diri player.
Sampai saat ini, teknologi telah memungkinkan terobosan besar tentang media imajinasi yang saling terkait dengan interaksi. Game merupakan salah satu artefak abad 21 yang telah menghasilkan pemahaman besar tentang nilai spirit juang dalam sebuah daya interaktif buatan. Abad teknologi telah menciptakan peradaban terpenting dalam hidup manusia, manusia menciptakan ketidak pastian interaksi ke dalam suatu dunia buatan. Game saat ini, telah berkembang menjadi industri, struktur dagang dan infrastruktur produk yang dibayangi oleh upaya memenuhi hasrat persaingan dalam diri manusia (modern) (game peperangan seperti Doom, Painkiller, Wolvenstein dll ), kekuatan (God of War, Halo2), teka teki dan petualangan (Prince of Persia: Warrior Within), kuasaan (Blietzkrieg, Rome Total Empire), hasrat maskulinitas dan kekerasan (Max Payne), libido (Leisure Suit Larry), keingin tahuan hasrat memperindah secara fisik (beauty oriented), Horor dan kekerasan (Cold Fear, Silent Hill, Manhunt) hidup ideal, keinginan untuk yang tercepat (Need for Speed Underground: Most Wanted) dan tangan-tangan sang Pencipta (the Sim), sampai keinginan terdalam untuk merusak tatanan ideal dalam masyarakat (depraved desire), lihat game seperti Grand Theft Auto. Dengan kata lain, imajinasi tentang kuasa diri manusia dalam apapun merupakan fantasi terdasar dalam perkembangan Game. Skenario untuk menjadi robot dalam dunia yang tidak nyata. Dan memang banyak sekali produser yang memproduksi dan menjajakan mimpi tersebut. Dan semua itu, tidak lepas dari bagaimana produser ataupun developer menata dunia tersebut melalui interface yang menyenangkan.
Game, User Interface, Dan Fenomena Interaksi Antara Manusia Dan Komputer. Dunia kita hari ini tercipta karena adanya dunia baru yang ditemukan melalui media digital. Akibat dari fenomena inilah, kita mengenal beberapa paradigma baru dari dunia ini.
Sebuah aplikasi ditata menjadi sebuah permainan atau game yang menarik, tidak lepas dari bagaimana peran GUI (Graphic User Interface atau grafik antarmuka pengguna ) dan HCI (human-computer interaction atau interaksi manusia-computer) bekerjasama menggerakkan gagasan dalam game tersebut. Game sendiri merupakan salah satu bentuk fenomena interaksi antara manusia dan komputer dalam melaksanakan dan menyelesaikan tugas/task demi mencapai suatu goal tertentu. Dalam hal ini tentu saja dalam rangka menghindari punishment dan mendapatkan reward yang merupakan inti dari sebuah permainan.
Walaupun berupa permainan, ada banyak sekali faktor penting yang menentukan sistem interaksi dalam sebuah game. Beberapa diantaranya adalah:
Psikologi dan ilmu kognitif : persepsi user, kognitif, kemampuan memecahkan masalah
Ergonomi : kemampuan fisik user
Sosiologi : kemampuan memahami konsep interaksi
Ilmu komputer dan teknik : membuat teknologi
Bisnis : pemasaran
Desain grafis : presentasi interface
Dan lain sebagainya.
Faktor-faktor ini pun sebenarnya berlaku pula pada media aplikasi interaktif lain pada umumnya. Dari sinilah kita dapat menentukan seberapa besar value dari konten sebuah media, dan seberapa banyak effort yang diberikan oleh media tersebut kepada pengguna. Interaksi + informasi dan = interaksi manusia manusia ? mesin teknologi dan komputer.
Lalu, bagaimanakah cara kita berkomunikasi dengan komputer ? Disinilah peran User Interface dibutuhkan. User Interface, tak ubahnya sebuah jendela yang menghubungkan kita sebagai user dengan dunia hiperrealitas yang ada di dalam komputer. Konsep luas user interface mencakup aspek interaktif sistem operasi komputer, perkakas tangan, operator kontrol mesin berat. dan proses kontrol. Pertimbangan desain yang berlaku saat membuat user interface (UI) berkaitan dengan ergonomik dan psikologi. Namun pada intinya, UI adalah segala sesuatu tentang melalui media apa anda berkomunikasi dengan komputer anda, atau bagamana komputer berkomunikasi pada anda. Manusia adalah makhluk yang visual. Bahasa visual memberi akses lebih cepat dibandingkan bahasa. Karena itulah gamifikasi dari segala bentuk interaksi digital dengan manusia menjadi acuan utama desain modern saat ini.
Di sela-sela kesibukannya sebagai Rektor baru Universitas Widyatama 2014-2018, tim redaksi majalah Komunita melakukan audiensi seputar Dinamika Pendidikan Tinggi bersama Dr. Islahuzzaman. Bagaimana Widyatama mensikapinya? Berikut hasil petikan wawancaranya.
Komunita: “Bagaimana pandangan bapak mengenai ‘Perkembangan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia’ saat ini (dipandang dari berbagai sisi) ?”.
Dr. Islahuzzaman: “Pendidikan di Indonesia saat ini sedang dalam posisi membangun, notabene selalu dibandingkan dengan negara lain, misalnya: Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, serta negara-negara di wilayah Eropa dan Amerika. Membandingkan dengan mereka memang posisi Indonesia tertinggal. Oleh karena itu kita (red: Indonesia) dituntut meningkatkan kualitas pendidikan. Jika dilihat dari sisi ukuran kualitas, maka di Indonesia dikenal dengan nama akreditasi, yaitu proporsi penilaian kualitas pendidikan secara nasional baik untuk jenjang SMK, SMP maupun Pendidikan Tinggi.
Untuk jenjang pendidikan tinggi, ukuran akreditasi dibagi menjadi dua, yakni akreditasi program studi dan akreditasi institusi. Disusul kemudian dengan adanya perkembangan sistem LAM (lembaga akreditasi mandiri) yang digunakan dalam menilai akreditasi program studi, sementara untuk menilai akreditasi institusi masih menggunakan BAN-PT. Dilihat dari ukuran indikatornya baik dari sisi institusi maupun prodi, maka akreditasi merupakan bukti akuntabilitas perguruan tinggi kepada masyarakat. Isinya pun sudah mencakup secara keseluruhan, mulai dari aturan bidang manajemen hingga kerjasama (Tri Darma Perguruan Tinggi), termasuk sistem proses belajar-mengajar, kemudian kemahasiswaan serta alumni.
Dari sisi pengelolaan, pendidikan tinggi di Indonesia dikelola oleh swasta dan negeri. Umumnya perguruan tinggi negeri dipandang baik oleh masyarakat, namun tidak menutup kemungkinan juga ada institusi negeri yang tingkat akreditasinya di bawah swasta.
Secara umum dari beberapa indikator akreditasi yang menjadi unsur penilaian menandakan bahwa pendidikan tinggi di Indonesia masih belum memuaskan. Untuk nilai A saja (PTN & PTS) kira-kira hanya memperoleh 10%, sementara yang lainnya kebanyakan mendapatkan nilai B & C. Nilai C umumnya berada pada perguruan tinggi di wilayah Sumatera, hal ini membuktikan bahwa kualitas pendidikan tinggi di Indonesia tidak merata dikarenakan minimnya fasilitas yang diberikan oleh pemerintah”.
Komunita: “Pandangan masyarakat menyatakan bahwa kualitas PTN masih jauh lebih baik dibandingkan dengan PTS dikarenakan mereka lebih berpengalaman. Bagaimana menurut bapak? kemudian bagaimana dengan posisi kualitas Universitas Widyatama ?”.
Dr. Islahuzzaman: “Seperti yang telah saya kemukakan, pada umumnya perguruan tinggi negeri masih dipandang baik oleh masyarakat. Namun dari hasil peringkat akreditasi, ada juga perguruan tinggi negeri yang memperoleh nilai B, sementara perguruan tinggi swasta nilai akreditasinya A, baik dari sisi penilaian institusi maupun program studi. Posisi Universitas Widyatama masih berjuang menuju nilai A dengan keseluruhan penilaian program studi maupun institusi. Dengan target pencapaian nilai A tersebut menandakan bahwa Universitas Widyatama kecil-kecil juga cabe rawit artinya kecil karena fakultasnya hanya 5 dengan jumlah program studi 14 mampu bersaing dengan tingkat capaian perguruan tinggi swasta dan negeri lainnya pada berbagai jenjang.
Menurut informasi dari Kopertis (koordinator Perguruan Tinggi Swasta) Wilayah IV, Universitas Widyatama berada di level atas, hal ini tidak terlepas dari adanya komitmen manajemen Yayasan & pengelola Universitas dengan capaian indikator yang baik. Diantaranya: hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh para dosen dan juga mahasiswa. Pemerintah (dalam hal ini Kementerian Pendidikan & Kebudayaan) terutama yang menangani level pendidikan tinggi, masih dirasakan belum adil dalam hal pembiayaan perguruan tinggi. Kalau perguruan tinggi negeri tidak sulit dalam memperoleh dana-dana hibah, beasiswa dan lainnya sementara perguruan tinggi swasta yang notabene paling banyak di Indonesia ( 90%) cukup sulit dalam memperoleh dana dari pemerintah. Selain itu, masyarakat masih berpandangan bahwa dengan menuntut ilmu di perguruan tinggi negeri maka akan memperoleh kemudahan dalam bekerja padahal tidak menutup kemungkinan banyak pula lulusan dari perguruan tinggi swasta yang terserap di dunia kerja”.
Komunita: “Bagaimana menyikapi adanya kebijakan serta aturan yang semakin ketat dari pemerintah berkaitan dengan hal-hal mengenai persyaratan pada sebuah perguruan tinggi, apakah Universitas Widyatama telah mempersiapkan diri terhadap hal tersebut ?”.
Dr. Islahuzzaman: “Widyatama harus siap dalam membangun dan mengikuti segala persyaratan/aturan pemerintah sekalipun ketatnya karena institusi kita berada di wilayah negara Indonesia. Dengan kata lain bahwa sepahit apapun kebijakan pemerintah tetap harus kita ikuti dengan baik. Dalam hal kebijakan/aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah hanya dapat menambah saja tanpa harus mengurangi segala kelemahannya. Contoh Widyatama, yang memiliki aturan/kebijakan dari pimpinan melebihi standar persyaratan pemerintah. Hal ini dilakukan agar Universitas Widyatama memiliki kelebihan nilai tambah dalam pandangan masyarakat dibandingkan dengan perguruan tinggi lain. Diantara muatan kurikulum tambahan pada beberapa program studinya (menjadi unggulan) adalah adanya mata kuliah SAP dan EPC sebagai bekal aplikasi di dunia kerja. Intinya yaitu kita harus mampu bersaing meskipun di satu sisi masih ada kekurangannya dengan senantiasa melakukan perbaikan terus menerus sehingga nantinya tidak tergolong dalam perguruan tinggi bermasalah”.
Komunita: “Geliat pendidikan tinggi semakin berkembang pesat dan dinamis, bapak selaku rektor baru di Universitas Widyatama tentunya memiliki berbagai strategi dalam menghadapi tantangan tersebut. Bagaimana penjelasan bapak (sebagaimana terdapat dalam visi, misi, dan yang lainnya ?”.
Dr. Islahuzzaman: “Iya pasti, saya memiliki strategi dan kebijakan perubahan ke arah yang lebih baik sebagaimana tercantum dalam visi & misi Universitas Widyatama. Visi & misi ini harus diwujudkan/dilaksanakan yang bermakna bahwa visi merupakan cita-cita sementara misi adalah metode/teknik dalam melaksanakan serta mengaplikasikan suatu visi ke dalam kehidupan nyata sehari-hari. Hal ini wajib dilaksanakan oleh segenap civitas agar dapat meningkatkan kemampuan bersaing secara luas guna menghasilkan dan membentuk mutu SDM yang profesional di bidangnya. Sebagai rektor baru, maka saya akan melakukan penguatan terlebih dahulu secara internal yakni dengan mempertahankan kondisi yang sudah baik hingga ditingkatkan lalu memperbaiki segala kekurangannya guna lebih memantapkan sisi fundamentalnya. Pembenahan yang lebih kuat lagi di internal universitas dapat memacu progress perkembangan secara luas agar mampu berlari kencang (bersaing secara global). Untuk menghadapi berbagai tantangan ke depan, maka akan diawali dari restrukturisasi organisasi dan staffingnya mulai dari jajaran pimpinan universitas hingga tingkat prodi. Yang kedua adalah peningkatan skor akreditasi BAN-PT dengan target perolehan nilai dari semua program studi adalah A”.
Komunita: “Widyatama sebagai sebuah institusi pendidikan tinggi tentunya memiliki ciri & kekhasan
tersendiri yang menjadi pembeda diantara perguruan tinggi swasta sekelas lainnya. Apa sebenarnya yang menjadi ciri & kekhasan tersebut ? tolong bapak jelaskan”.
Dr. Islahuzzaman: “Yang menjadi ciri pertama disini yaitu bahwa kami sangat berkomitmen terhadap peningkatan kualitas pendidikan, kemudian yang menjadi pembeda adalah dengan adanya muatan kurikulum sebagaimana telah diterangkan sebelumnya. Hal ini tentu akan dilaksanakan guna menghasilkan mutu lulusan di bidangnya dengan memiliki keterampilan yang profesional baik pada tingkat nasional maupun internasional. Jika saya paparkan lebih singkatnya lagi mengenai ciri & kekhasannya yakni: yang pertama adalah friendly campus artinya suasana kampus yang kondusif dan nyaman, kemudian yang kedua adalah kurikulum serta yang ketiga adalah kedisiplinan”.
Komunita: “Bagaimana rencana (action plan) pengembangan Universitas Widyatama dibawah kendali bapak selama periode 2014 – 2018 ?”.
Dr. Islahuzzaman: “Melaksanakan visi & misi yang telah ditetapkan kemudian sebagai rel-nya supaya bisa terukur minimal adalah akreditasi melalui pemenuhan indikator ke-5 standar penilaian. Agar dapat tercapai hal-hal tersebut dengan baik maka yang harus dibenahi pertama kali adalah struktur organisasi kemudian proses aktivitas dari seluruh unit yang ada dibawah komando pimpinan universitas. Selanjutnya adalah melakukan rencana strategis pengembangan universitas untuk masa bakti 2014-2018 sebagaimana tercantum dalam butir-butir akreditasi, diantaranya :
Melaksanakan Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran (1 butir),
Tata Pamong, Kepemimpinan, Sistem Pengelolaan dan Penjaminan Mutu (7 butir),
Mahasiswa dan Lulusan (15 butir),
Sumber Daya Manusia (11 butir),
Kurikulum, Pembelajaran, dan Suasana Akademik (7 butir),
Pembiayaan, Sarana dan Prasarana, serta Sistem Informasi (15 butir),
Penelitian, Pelayanan/Pengabdian Kepada Masyarakat dan Kerjasama (11 butir).
Apabila kesemua butir tersebut ditingkatkan dengan maksimal maka tidak menutup kemungkinan kita akan mampu bersaing secara global melalui acuan peningkatan indikator akreditasi internasional”.
Komunita: “Bagaimana kesiapan dan peran dari Universitas Widyatama dalam menghadapi AEC ? Asean Economic Community 2015 mendatang, serta tantangan pembangunan Indonesia khususnya pada aspek SDM di bidang teknologi dan ekonomi ?”.
Dr. Islahuzzaman: “Agar mampu bersaing pada tataran global maka kita persiapkan segala sesuatunya dengan maksimal melalui peningkatan akreditasi baik di tingkat nasional maupun internasional, diantara contohnya adalah peningkatan mutu lulusan yang profesional di bidangnya. Ada beberapa hal supaya kita dapat memenangkan dalam kancah persaingan dunia, yaitu dengan meng-adop dan meningkatkan pengetahuan di bidang teknologi & ekonomi yang cukup disertai ketekunan dan kerja keras”.
Di beberapa negara maju masyarakat sudah berubah menjadi masyarakat pengetahuan atau knowledge society sebagaimana disebut oleh Peter Drucker. Pengetahuan tidak selalu bersifat rahasia, sehingga pengetahuan merupakan sesuatu yang sangat inklusif. Inilah perubahan nyata yang membedakan. Zaman sebelumnya pengetahuan atau knowledge hanya dimiliki orang tertentu atau sekelompok orang-orang tertentu, jelas Koordinator Kopertis Wilayah IV, Prof. Abdul Hakim Halim dalam sambutan Wisuda Universitas Widyatama, 12 Juli 2014.
Ini artinya, anggota knowledge society menjalankan kegiatan ekonomi yang juga berbasis kepada pengetahuan, atau disebut sebagai knowledge economy. Sebuah ciri kegiatan ekonomi berbasis pengetahuan adalah bermunculan dan tumbuh pesatnya industri yang sarat pengetahuan, seperti industri telepon seluler, komputer, TV, pesawat terbang, otomotif, obat-obatan, makanan dan minuman dalam kemasan dan lain sebagainya.
Prof. Abdul Hakim Halim
Industri sarat pengetahuan ini sudah pasti membutuhkan para manajer dan pekerja yang juga memiliki pengetahuan. Orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan memadai sulit diterima perusahaan, atau hanya akan diterima untuk melakukan pekerjaan pada level bawah atau pekerjaan yang bersifat fisik. Untuk pekerjaan manajerial dan strategis sudah pasti dipegang orang-orang yang memiliki pengetahuan sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan. Visi Indonesia 2045 menjelaskan komposisi tenaga kerja Indonesia pada tahun 2010 masih didominasi lulusan SD atau tidak tamat SD, berjumlah lebih dari 50%. Sementara, pekerja Indonesia lulusan S1 dan diploma hanya berjumlah 7,3%. Bahkan hasil studi World Bank menyebutkan 84% tenaga kerja Indonesia di sektor manufaktur mengalami kesulitan menempati posisi manajemen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia sudah terkena dampak dominasi pengetahuan dalam kehidupan sehari hari. Inronisnya bangsa ini belum menjadi masyarakat pengetahuan. Contoh, salah satu industri berbasis penge- tahuan pesawat terbang yang dirintis PT. Dirgantara Indonesia kurang didukung masyarakatnya. Knowledge society di negara-negara maju, berkembang karena masyarakatnya sudah mengubah dirinya menjadi learning society (masyarakat pembelajar), yaitu masyarakat yang senantiasa belajar. Masyarakat sudah tidak lagi menganggap waktu dan tempat sebagai kendala untuk belajar. Kapan pun mereka belajar, dan dimanapun mereka belajar.
Masyarakat negara maju sudah benar-benar menjalankan long life learning atau belajar sepanjang hayat.
Hal penting lain, adalah knowledge cycle (siklus pengetahuan.) Siklus pengetahuan atau dimulai dengan penciptaan pengetahuan atau creation melalui riset, penelitian. Lalu, hasil riset ini didiseminasikan, disebarluaskan melalui diskusi, seminar, workshop, pengajaran, dan publikasi. Tahap berikutnya utili-sasi atau penerapan pengetahuan bagi kesejahteraan masyarakat umum, yang diawali dengan kegiatan prototyping atau penerapan pengetahuan dalam skala laboratorium. Bila sudah terbukti hasil penelitian ini bisa diterapkan dan bermanfaat, maka produk hasil prototyping dibuat secara massal sebagai produk komersial.
Tidak Berdaya
Saat ini, sangat sulit menyebutkan produk komersial yang kita gunakan dalam kehidupan kita sehari-hari berasal dari siklus pengetahuan yang lengkap kita jalankan. Tidak sedikit hasil riset yang sudah kita peroleh, ternyata hanya berhenti pada tahapan diseminasi saja. Artinya, tidak sedikit peneliti atau dosen, bahkan dosen yang bergelar guru besar, yang sudah merasa puas bila hasil penelitiannya sudah dipublikasikan. Padahal, publikasi baru tahap awal dalam siklus pengetahuan. Seharusnya hasil penelitian ditindaklanjuti sampai dihasilkannya produk komersial yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Di pihak lain, di sisi hilir dari siklus pengetahuan ini, kita juga melihat, hampir semua produk komersial yang diperdagangkan dan digunakan dalam kehidupan kita sehari-hari bukan berasal dari penelitian yang kita lakukan. Sebut saja handphone, TV, komputer, pesawat terbang, mobil, motor, obat-obatan, makanan, minuman dalam kemasan dan lain-lain. Semua produk komersial tersebut tidak bisa lepas dari kehidupan kita sehari-hari. Tapi di mana tahap-tahap hulu dalam siklus pengetahuan itu dijalankan ? Kita membutuhkan produk-produk teknologi tinggi untuk menjalankan kehidupan sehari-hari, tapi kita tidak membuatnya.
Bangsa kita benar-benar tidak berdaya. Bangsa ini dengan jumlah penduduk terbesar ketiga hanya menjadi sasaran penjualan produk-produk yang dibuat bangsa lain. Kita hanyalah target pasar dari produsen asing. Kita hanya tempat orang lain mencari keuntungan sebesar-besarnya. Bila sebuah bangsa tidak bisa memberikan nilai tambah atau added value, pada kekayaan yang dimilikinya, tetapi hanya menjual sumberdaya alam untuk membiayai kehidupan sehari-hari, maka seberapa banyakpun kekayaan alam yang dimiliki dalam waktu dekat akan habis terkuras. Bila sumberdaya alam terkuras habis, bagaimana nasib anak-anak kita, bagaimana nasib generasi berikutnya? Apa yang akan kita warisankan kepada generasi mendatang? Apakah kita akan membuat generasi mendatang menjadi generasi lemah dan miskin?
Pendidikan Berkualitas dan Paradigma Memberi
Dapat disimpulkan bahwa saat ini kita sedang menghadapi, paling tidak dua masalah. Pertama, kita harus segera menjadi bagian dari knowledge society yang menjalankan knowledge economy. Kedua, kita harus melengkapkan semua tahapan knowledge cycle, yaitu dari tahap penelitian sampai tahap komersialisasi. Artinya, kita harus menjadi negara produsen yang membuat sendiri produk yang kita butuhkan, sehingga negeri ini bukan sebagai pasar produk asing, bukan sebagai tempat orang asing mencari keuntungan, tetapi menjadi negara produsen yang mampu meningkatkan nilai atau value dari sumberdaya alam yang kita miliki. Kedua masalah tersebut akan dapat dipecahkan apabila bangsa ini mampu menjalankan pendidikan berkualitas. Para lulusan Universitas Widyatama yang diwisuda hari ini serta Yayasan dan Universitas Widyatama akan menjadi bagian dari pemecahan masalah tersebut, bukan bagian dari masalah tersebut, apalagi menciptakan masalah baru. Peran serta dan komitmen seluruh lulusan dan sivitas akademika Universitas Widyatama pada bangsa ini akan membawa bangsa ini lebih cepat dan lebih baik dalam upaya pencapaian tujuan kemerdekaan.
Untuk bisa berperanserta dengan baik dalam upaya pencapaian tujuan kemerdekaan, maka kita semua, seluruh komponen bangsa selain harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan fungsi kita masing-masing. Juga harus menjalani kehidupan ini dengan berorientasi memberi, bukan menerima, apalagi mengambil hak orang lain. Kita tidak perlu ragu-ragu untuk berorientasi memberi, karena memberi memang hakekat dari hidup ini. Seorang dosen setiap hari datang di kampus untuk mengajar. Mahasiswa yang diajar adalah orang lain bagi dosen tersebut, bahkan pada awalnya sama sekali tidak dia kenal. Seorang anggota tentara dan polisi bekerja menjaga keselamatan dan keamanan orang lain, bahkan bisa jadi dengan melupakan keselamatan dan keamanan dirinya sendiri.
Tidak ada seorang pun di dunia yang bekerja untuk dirinya sendiri. Bahkan bila ada orang yang mengatakan: “saya bekerja untuk mendapatkan upah atau gaji,” kalau diperhatikan hanya sebagian kecil saja dari penghasilan orang tersebut yang dia gunakan untuk dirinya sendiri. Sebagian besar dari penghasilan atau kekayaan seseorang itu dinikmati orang lain. Disadari atau tidak, kita bisa hadir dalam acara wisuda ini karena jasa orang lain. Kita berada di sini karena ada orang tua, saudara dan tetangga kita yang menjaga dan mengasuh kita sewaktu kita kecil, karena ada guru SD kita, karena guru kita di tingkat sekolah lanjutan, dan karena dosen-dosen kita yang mengajarkan pengetahuan kepada kita. Dengan demikian, hidup ini pada dasarnya saling memberi. Sama sekali bukan saling meminta, apalagi mengambil hak orang lain.
Kita tidak perlu memikirkan yang akan kita terima karena apa yang akan kita terima bukan urusan kita, tapi urusan yang mempekerjakan kita. Rizqi kita adalah urusan Allah SWT. Kalau bukan urusan, kenapa kita pikirkan. Hal yang harus senantiasa kita pikirkan dengan sungguh-sungguh adalah apa yang terbaik yang akan kita berikan bagi orang lain. Apa yang bisa kita berikan kepada bangsa tercinta ini. Bila kita sudah menjalankan dengan sebaik-baiknya yang harus kita berikan, maka biarkanlah orang lain yang akan menentukan apa dan berapa besar yang akan kita terima. Bila kita sudah menjalankan amal shaleh apapun, biarkan Allah SWT yang memberikan imbalan atas amal shaleh itu, baik yang kita terima di dunia, terlebih lagi pahala yang akan kita terima di akhirat nanti. Percayalah, orang lain atau atasan kita akan melihat kinerja kita, terlebih lagi Allah SWT Maha Mengetahui atas segala sesuatu.
Dengan penerapan paradigma memberi dalam kehidupan kita, maka kita tidak boleh mengukur keberhasilan hidup dengan apa yang kita terima, tapi harus dengan apa yang kita berikan. Artinya, kita tidak boleh mengukur keberhasilan hidup ini dengan seberapa banyak kekayaan yang kita miliki, kita tidak boleh mengukur keberhasilan hidup ini dengan seberapa banyak gelar akademik yang berhasil kita peroleh, dan kita juga tidak boleh mengukur keberhasilan hidup kita dengan seberapa tinggi jabatan yang berhasil kita raih. Kita harus senantiasa mengukur keberhasilan hidup dengan seberapa banyak manfaat terbaik yang bisa kita berikan kepada sesama, kepada bangsa ini. Makin banyak manfaat terbaik yang bisa kita berikan, makin berhasil hidup kita ini. Kepada pengelola Universitas Widyatama, saya ingin menyampaikan bahwa semua yang Saudara lakukan melalui Universitas ini bukan sekedar menjalankan kegiatan rutin, bukan sekedar menghasilkan lulusan, tetapi Saudara semua bertanggungjawab untuk membentuk generasi bangsa yang produktif, memiliki kompetensi yang dibutuhkan dan mau belajar sepanjang hayat serta memiliki komitmen untuk membangun bangsa ini.
Dalam menjalankan kehidupan ke depan, marilah berdoa agar kita tidak merasa benar padahal salah, tidak merasa kuat padahal lemah, tidak merasa pintar padahal bodoh, tidak merasa dermawan padahal pelit, tidak merasa berjasa kepada bangsa ini padahal sebenarnya justeru membawa celaka dan membawa ke gerbang kehancuran bangsa ini. Marilah kita berdoa agar senantiasa diberi hati yang bersih, jauh dari kedengkian terhadap orang lain, mata yang sejuk, jauh dari api kebencian. Marilah kita berusaha sungguh-sungguh dan memohon pertolongan dengan segala kerendahan hati kepada Allah SWT agar segala ucapan kita ini adalah ucapan yang jujur. Aamin Ya Rabbal ‘Aalamiin.
(Prof. Abdul Hakim Halim, Ketua Kopertis IV Jabar dan Banten).
BANDUNG, infobdg.com – Curug dalam Bahasa Sunda artinya adalah air terjun. Di Bandung maupun daerah sekelilingnya merupakan gunung-gunung yang punya banyak sekali objek wisata berupa air terjun. Berikut ini 9 curug yang wajib kita kunjungi di Bandung dan sekitarnya.
1. Curug Dago
Tempatnya sedikit tersembunyi di Kampung Curug Dago, Kecamatan Cidadap Bandung, aksesnya dekat dengan Terminal Dago. Curug ini masuk dalam kawasan Taman Hutan Raya (THR) Djuanda. Diantara objek wisata di THR Djuanda, Curug dago ini paling jarang dikunjungi. Terletak di ketinggian sekitar 800 m di atas permukaan laut, Curug Dago juga menyimpan jejak sejarah bagi Kerajaan Thailand. Tak jauh dari lokasi air terjun, terdapat dua prasasti batu tulis peninggalan sekitar tahun 1818. Menurut para ahli sejarah, kedua prasasti tersebut konon merupakan peninggalan Raja Rama V (Raja Chulalonkorn) dan Raja Rama VII (Pradjathipok Pharaminthara) yang pernah berkunjung ke Curug Dago.
2. Curug Malela
Desa Cicadas Kec. Ronga, Kab. Bandung Barat Keindahan Curug Malela akan menghilangkan rasa lelah selama perjalanan. Saking indahnya, curug ini dijuluki dengan istilah Niagara Mini di ujung barat Bandung. Dijamin terpesona! Curug Malela adalah sebuah curug cantik di Kampung Manglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat. Untuk mencapai curug tersebut diperlukan perjuangan yang tidak mudah. Anda harus menempuh waktu perjalanan sekitar 3 jam hingga memasuki Perkebunan Montaya, di ketinggian 1000 mdpl.Curug Malela memiliki lebar 70 meter dengan ketinggian 60 meter. Nama Malela sendiri berasal dari nama tokoh masyarakat sekitar, yaitu Prabu Taji Malela. Makam tokoh ini bisa ditemui di atas tebing sebelah kanan curug.Tebing yang konon usia bebatuannya ini berkisar 5 hingg 10 juta tahun ini, terbentuk akibat letusan Gunung Api Purba yang dulu banyak terdapat di selatan Bandung.
3. Curug Jompong
Jl. Balakasep Kaler, Soreang Kab. Bandung. Curug ini sebenarnya sangat indah, namun sampah-sampah yang membuatnya menjadi kotor. Belum lagi adanya wacana pemangkasan curug jompong untuk mengatasi banjir cilencang yang kerap terjadi menjadi Curug satu ini sering terabaikan.
4. Curug Maribaya
Curug Maribaya terletak di Desa Maribaya, Lembang Kab. Bandung Barat. Curug omas adalah salah satu daya tarik dikawasan Maribaya.
5. Curug Penganten
Curug Penganten terletak di Parongpong, Kab Bandung Barat, berada di ketinggian 1050 mdpl dan memilki ketinggian terjunan air sekitar 50 meter dengan jatuhnya air terlihat seperti kristal berkilauan ditimpa sinar matahari. Curug Panganten berada di wilayah wisata alam katumiri. Tempat wisata ini berada di Jalan Raya Cihanjuang KM 5,56. Sebelumnya Curug Panganten ini bernama Curug Manglayang, tapi karena peristiwa sesuatu yang menjadi kepercayaan masyarakat disini (sepasang penganten mati bunuh diri dengan terjun atau versi lain hanyut oleh arus curug yang deras), maka curug ini dinamakan Curug Panganten.
6. Curug Siliwangi
Gunung Puntang, Banjaran – Kab. Bandung
7. Curug Cinulang
Curug Cinulang terletak di perbatasan Kab. Bandung & Garut, Tepatnya di Desa Sindulang Sumedang. Saking Indahnya, keindahan panorama Curug Cinulang ini pernah diabadikan dalam sebuah lagu pop Sunda karya Yayan Djatnika berjudul Curug Cinulang.
8. Curug Cimahi
Curug Cimahi terletak sekitar 10 km di Utara Kota Bandung di Jl. Kol Masturi ? Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, tepatnya di kota Cimahi bisa anda temui setelah melalui jalan Sersan Bajuri ke arah Universitas Advent Indonesia menuju ke terminal Parongpong. Tinggi curug ini sekitar 75 meter. Salah satu curug yang sangat terjaga kebersihannya. Curug atau juga Air Terjun Cimahi ini, memiliki ketinggian sekitar 87 m, merupakan salah satu curug yang tertinggi di wilayah Bandung dan sekitarnya. Nama Cimahi berasal dari nama sungai yang mengalir di atasnya yaitu Sungai Cimahi yang berhulu di Situ (danau) Lembang dan mengalir ke Kota Cimahi. Curug ini berada di ketinggian 1050 m dpl dengan suhu di kawasan ini berkisar 18-22 derajat Celsius. Jika dilihat dari atas, curug ini memiliki dua tingkat dan termasuk yang unik. Sesuai nama-nya cimahi alias air cukup (bahasa Sunda), debit air terjun ini selalu sama, baik saat musim hujan atau pun kemarau. Namun, dibandingkan puluhan tahun lalu, debitnya jauh berkurang. Tak jauh dari Curug Cimahi dapat ditemui juga Curug Bugbrug dan Curug Panganten yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Curug Cimahi ini.
Perkembangan teknologi fotografi yang sangat pesat, dimana kamera digital saat ini sangat mudah diperoleh dan beragam jenisnya, sehingga akan mempengaruhi kualitas hasil karya. Kamera-kamera terbaru yang menawarkan kemudahan dalam hal pengoperasian, sehingga setiap orang bisa dengan mudah melakukan pemotretan. Dapat dikatakan bahwa penggunaan kamera kini menjadi begitu egaliter, karena dapat menembus semua lapisan masyarakat. Kehadiran kamera yang menyatu dengan telepon genggam (handphone) berimplikasi mudahnya orang dalam memotret termasuk anak-anak kecil. Kamera kemu-dian menjadi kebutuhan penting untuk merekam diri sendiri atau peristiwa yang dialaminya. Kemudahan dalam merekam objek tentunya tidaklah sebatas melakukan pemotretan semata seperti yang dilakukan oleh para pengguna kamera handphone, namun harus diimbangi dengan pemahaman teknik, pengaturan komposisi, penyinaran yang tepat dan lain-lain.
Kemunculan kamera berdampak bukan hanya pada penggunanya, namun pada ruang lingkup bidang fotografi. Secara praksis ruang lingkup fotografi telah banyak digunakan pada berbagai bidang mencakup ilmu pengetahuan, teknik, seni, dan keterampilan (science, engineering, art, and craft of producing images).
Begitu luasnya secara praktis dalam bidang fotografi kemudian dapatlah dibedakan ruang lingkupnya menjadi tiga bidang yaitu:
(1) fotografi komersial, untuk kebutuhan komersil dimana bagi program studi Desain Komunikasi Visual memberi pembekalan kepada mahasiswanya di samping pengetahuan seni dan mata kuliah fotografi media,
(2) fotografi jurnalistik berupa hasil perekaman suatu peristiwa untuk kebutuhan berita untuk keperluan media baik cetak maupun elektronik,
(3) fotografi seni dengan sajian imaji berupa ungkapan rasa atau representasi gagasan dari seorang fotografer. Demikian disampaikan oleh salah seorang dosen program studi Desain Grafis Fakultas DKV Universitas Widyatama, Asep Deni Iskandar, S.Sn., M.Sn.
Salman (13 tahun) – “Beautiful Butterfly small”
Seiring dengan perkembangan teknologi kamera dan bidang fotografi, berpengaruh pada pertumbuhan komunitas. Sejak tahun 1924 kota Bandung telah menjadi pelopor kegiatan dunia fotografi di Indonesia, ketika sekumpulan orang yang suka dalam fotografi mendirikan Perkoempoelan Amateur Foto (PAF) Bandung. Perkumpulan sampai saat ini masih tetap eksis berperan walaupun telah berubah nama menjadi Perhimpunan Amatir Fotografi. Kini komunitas fotografi terus bermunculan setidaknya di kota Bandung saja telah berdiri + 70 komunitas fotografi. Komunitas fotografi beragam jenis misalnya Barudak Urban Light Bandung (BULB) yang mengkhususkan diri bereksperimen dengan menggunakan lampu sebagai alat bantu dalam menghasilkan karya seni fotografi. Komunitas lainnya melakukan eksperimen dengan membuat kamera-kamera sederhana sampai dengan berproses di kamar gelap yang menamakan komunitas lubang jarum. Di lingkungan kampus Widyatama ada komunitas fotografi MEGAPIXEL yang menampung berbagai personil dengan berbagai ragam bidang kepeminatan sekitar fotografi. Salah seorang personilnya saat ini telah mulai melakukan usaha sendiri dibidang fotografi, dimulai dari sekedar hobi akhirnya dapat menjadi kegiatan menghasilkan yang dapat diandalkan.
Charmaine Cintantya – “Mekar”Thirza (13 tahun) – “The Flowers Small”
Disisi lain ada komunitas yang mayoritas terdiri dari anak-anak berusia 7 sampai 14 tahun dalam komunitas Bidik Fun Photography for Kids. Prestasi yang membanggakan dari kelompok ini adalah salah satu personilnya telah melakukan pameran tunggal hasil karya fotografi. Bidik Fun Photography for Kids didirikan oleh Riadi Rahardja yang juga pengelola Inova Photography School. Berawal dari gagasan Riadi yang berniat membimbing anak-anak usia sekolah baik dari murid SD, SMP, SMA, dan yang setingkat lainnya, sampai dengan mahasiswa. Komunitas Bidik ini mempunyai aktivitas memberikan bimbingan yang berkaitan dengan teknik fotografi dengan cara teori di kelas maupun praktek. Sampai saat ini alumnusnya sudah banyak yang berkiprah di lingkungan fotografi bahkan ada yang berprestasi. Salah satunya adalah Martin Adrian yang menyukai foto-foto dan sangat tertarik sekali untuk mengetahui bagaimana menghasilkan karya yang bagus. Kalaulah kita melihat karya-karya fotografi yang dibuat oleh anak-anak ini menunjukan bahwa penggunaan kamera telah memasyarakat, dan cenderung menjadi gaya hidup. Menariknya, para fotografer belia ini mampu membuat karya fotografi seperti halnya dibuat oleh orang dewasa kebanyakan. Dalam hal penghadiran fakta mengenai subjek, baik secara teknis maupun pengaturan setiap unsur dalam bidang gambar, mereka sudah melakukannya dengan baik. Sebagian besar karya memperlihatkan bagaimana para fotografer belia memperlakukan kamera sebagai media representasi objektif. Mereka menggunakan kamera untuk merekam realitas, wujud dari suatu figur, alam benda, lanskap, atau apa pun yang ada di sekitar.
William (10thn)- “Bintang Mulia’s Big Bubble Small”
Sebagai contoh kita lihat karya bertajuk Bintang Mulias Big Bubble yang dibuat oleh William Christopher. William memanfaatkan obyek yang teramat biasa, yaitu awan di atas gedung sekolah. Di latar depan awan dengan langit biru yang cerah ditampilkan sebuah gelembung balon besar berbentuk seperti buah pir. Ketika balon tersebut dihadirkan, gambar yang semula tidak ada keterkaitannya satu sama lain jika dipertemukan, menjadi gambar yang sekurang-kurangnya menyajikan ikon atau bahasa visual baru. Melalui karya berjudul Bintang Mulias Big Bubble tersebut, William mencoba mengajak yang melihat untuk memperhatikan awan di balik balon yang sedang terbang. Bisa jadi kita diajak berimajinasi melihat perubahan bentuk awan bersamaan dengan pergerakkan balon yang ditiup angin. Perlakuan terhadap objek pemotretan pun yang dimanfaatkan oleh para pemotret belia bukan hanya sekedar untuk pemenuhan representasi objektif. Kamera dijadikan media untuk merepresentasikan peristiwa yang teralami atau mengungkapkan gagasan-gagasan artistiknya. Dengan sajian isi berupa peristiwa, citraannya tidak lagi memperlihatkan keindahan bentuk visual berdasarkan konvensi.
Melalui suguhan keseluruhan karya dari Bidik Fun Photography for Kids, tentunya orang-orang dewasa dihadapkan pada kenyataan bahwa ketika anak-anak dibekali pengetahuan tentang cara memotret, mereka dapat menghasilkan karya yang baik seperti yang dibuat oleh para fotografer dewasa. Kenyataan lain yang diperlihatkan para pemotret belia ini pun bertenaga gugat, sekurang-kurangnya pada gaya perupaan yang dapat menjadi pendorong dalam berekspresi.
Sekitar 300 Karyawan dan Dosen Universitas Widyatama memperingati perayaan hari kemerdekaan RI di Lapang Parkir Graha Universitas Widyatama, Minggu 17 Agustus 2014. Perayaan dibuka dengan upacara pengibaran bendera. Upacara dipimpin oleh Rektor Universitas Widyatama Dr. Islahuzzaman, S.E., M.Si., Ak., C.A.berlangsung mulai pukul 10.00 WIB. Kemerdekaan Indonesia diperoleh dengan pengorbanan nyawa para pejuang. Oleh karena itu, sungguh tidak layak jika kemerdekaan ini diisi oleh hal-hal yang biasa saja. Sebagai bangsa merdeka, Indonesia harus berkibar dengan prestasi. Dalam dunia pendidikan, kemerdekaan layaknya dimaknai sebuah kerja keras. Bukan hanya euphoria atas dilahirkannya sebuah prestasi, atau koreksi berlebih atas timpangnya sebuah sistem, tetapi keinginan luhur untuk membangun manusia Indonesia berwatak dan berkepribadian Indonesia adalah konsekuensi kemerdekaan yang harus dipikul oleh semua orang, khususnya pendidik. (20 Agustus 2014).
Direktorat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (Dit Litabmas) melalui aplikasi SIM-LITABMAS DIKTI menyatakan pengusul Bantuan Seminar Luar Negeri dari Universitas Widyatama LOLOS mendapatkan bantuan.
Bantuan tersebut atas nama INTAN OVIANTARI, S.E., AK., M.S., AK. dengan paper “Interaction Effect of Management Control Systems and Process Quality Management on Product Quality Performance”, yang akan dipresentasikan pada The 4th International Conference on Accounting and Finance (AF 2014), tempat & pelaksanaan Phuket, Thailand, 28-29 April 2014 mendatang. SELAMAT kepada saudara Intan atas prestasinya dan selanjutnya presentasikan dengan sebaik-baiknya dan pertanggungjawabkan hasil kegiatan tersebut. Semoga keberhasilan ini dapat menjadi pemacu bagi civitas academica. (18 Maret 2014)
Kota Bandung memiliki 46 Sungai dan anak sungai dengan 16 sungai prioritas Sub DAS Citarum, 6 Sub DAS Citarum tersebut merupakan titik pantau ADIPURA yang terdiri dari Sungai Cikapundung, Sungai Cikapundung Kolot, Sungai Cidurian, Sungai Cibeureum, Sungai Citepus dan Cicadas. Kondisi status mutu kualitas air sungai pada umumnya berada pada kelas IV dengan posisi tercemar berat. Melihat kondisi tersebut PEMKOT Bandung mencanangkan kegiatan Gerakan Sungai Bersih, sebagai salah satu upaya preventif dalam memperbaiki kualitas air sungai dan kualitas lingkungan sekitar sungai. Titik lokasi pelaksanaan Gerakan Sungai Bersih di Sungai Cidurian lokasi 500 m ke hulu dan 500 ke hilir dari titik lokasi Universitas Widyatama, Kecamatan Cibeunying Kidul,
Kelurahan Sukapada. Harapan dari kegiatan Gerakan Sungai Bersih :
Mensinergikan serta menguatkan program dan kegiatan secara terpadu dalam hal pengelolaan sungai.
Sebagai ajang pembinaan dan informasi kepada seluruh elemen pegiat lingkungan dalam hal pelestarian lingkungan hidup.
Memberikan pesan moral kepada seluruh elemen pegiat lingkungan tentang pentingnya fungsi sungai.
Terbentuknya river guard sepanjang sungai dalam mengawasi pengelolaan sungai secara terpadu.
Gerakan Sungai Bersih agarterus berkesinambung sehingga tercipta kondisi lingkungan sungai yang baik dan lestari.
Gerakan Sungai Bersih ini dilakukan secara serentak bersama yang dikoordinir oleh BPLH Kota Bandung serta didukung oleh instansi terkait, yang terdiri dari Universitas Widyatama, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Dinas Pemakaman dan Pertamanan, Dinas Bina Marga dan Pengairan, Dinas Kesehatan, PD Kebersihan, PDAM, Unsur masyarakat, TNI/POLRI, Siswa-siswi SMA/K Kota Bandung dan Mahasiswa Internasional yang terdiri dari Komunitas AIESEC, dan Komunitas Sungai serta Tokoh Masyarakat sekota Bandung. (19 Juni 2014)
Sebelumnya, Komunita belum banyak tahu mengenai kiprah Atalia. Siapa sesungguhnya Atalia yang nama lengkapnya Atalia Praratya Kamil atau biasa dipanggial Lia Kamil. Sosok ini semakin jelas ketika ia hadir di Universitas Widyatama. Kehadirannya mewakili Walikota yang nota bene suaminya untuk membuka acara peringatan Earth Day dan deklarasi Gerakan Sungai Bersih di kota Bandung sekaligus bebersih sungai Ciduarian, bulan Juni lalu.
Dalam sambutannya Lia Kamil menyebutkan Kota Bandung memiliki 46 Sungai dan anak sungai dengan 16 sungai prioritas Sub DAS Citarum. Enam (6) Sub DAS Citarum tersebut merupakan titik pantau ADIPURA yang terdiri dari Sungai Cikapundung, Sungai Cikapundung Kolot, Sungai Cidurian, Sungai Cibeureum, Sungai Citepus dan Cicadas. Kondisi status mutu kualitas air sungai tersebut pada umumnya berada pada kelas IV dengan posisi tercemar berat.
Kegiatan Gerakan Sungai Bersih yang dirintis kota Bandung, merupakan salah satu upaya preventif dalam memperbaiki kualitas air sungai dan kualitas lingkungan sekitar sungai. Titik lokasi pelaksanaan Gerakan Sungai Bersih ini di Sungai Cidurian lokasi 500 m ke hulu dan 500 ke hilir dari titik lokasi di Universitas Widyatama, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kelurahan Sukapada.
Harapan dari kegiatan Gerakan Sungai Bersih :
Mensinergikan serta menguatkan program dan kegiatan secara terpadu dalam hal pepengelolaan sungai,
Sebagai ajang pembinaan dan informasi kepada seluruh elemen pegiat lingkungan dalam hal pelestarian lingkungan hidup,
Memberikan pesan moral kepada seluruh elemen pegiat lingkungan tentang pentingnya fungsi sungai,
Terbentuknya river guard sepanjang sungai dalam mengawasi pengelolaan sungai secara terpadu.
Gerakan Sungai Bersih bisa terus berkesinambungan sehingga tercipta kondisi lingkungansungai yang baik dan lestari. Gerakan Sungai Bersih yang dikoordinir oleh BPLH Kota Bandung dilakukan serentak serta didukung oleh instansi terkait, yaitu: Universitas Widyatama, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Dinas Pemakaman dan Pertamanan, Dinas Bina Marga dan Pengairan, Dinas Kesehatan, PD Kebersihan, PDAM, Unsur masyarakat, TNI/POLRI, Siswa-siswi SMA/K Kota Bandung dan Mahasiswa Internasional yang terdiri dari Komunitas AIESEC, dan Komunitas Sungai serta Tokoh Masyarakat sekota Bandung.
Lia Kamil adalah sosok yang ramah, jelita, terbuka dan lincah. Demikian kesan yang terpancarkan dari sosok Atalia Praratya Kamil. Dibalut hijabnya yang anggun, bisa ditebak Lia memiliki cita rasa berbusana. Dijumpai saat wawancara, Lia begitu antusias saat berbicara tentang kota, memperbaiki kualitas air sungai dan kualitas lingkungan sekitar sungai. Sejauh ini, Lia begitu menikmati kegiatannya di perusahaan Urbane Indonesia sebagai jasa konsultan perencanaan, arsitektur dan desain yang dia dirikan pada tahun 2004, bersama suaminya Ridwan Kamil.
Lia sejak awal menduduki posisi direktur administrasi dan keuangan, dengan tugas profesional. Di awal perusahaannya membangun reputasi secara komersil. Kini Urbane fokus pada memba- ngun masyarakat miskin kota. Lia Kamil juga aktivis di LSM Ciptadewi yang bergerak dalam peningkatan dan pemberdayaan perempuan, khususnya dalam mengatur finansial keluarga. Juga aktif menjadi host di TV lokal, siaran radio dan menjadi MC.
Setelah dipinang Ridwan Kamil, ia diboyong ke Amerika untuk mendampingi sang suami yang bekerja sekaligus kuliah S2 di University of California, Berkeley. Seperti layaknya pasangan yang baru menikah, perekonomian mereka pun belum semapan saat ini. Bahkan, Lia pernah memiliki pengalaman bekerja di sebuah restoran di Indonesia.
New York. Pengalaman jatuh bangun itulah yang melahirkan motivasi untuk kembali ke Setelah suaminya menjadi Walikota Bandung, Lia lebih bersemangat ketika bercerita tentang pembangunan masyarakat Kota Bandung, khususnya yang berkaitan dengan permasalahan sosial dan lingkungan. Niat membangun Kota Bandung bersama suaminya, menyebabkan ia ikut terjun total dan menyatu dengan masyarakat. Pembangunan lingkungan dengan pendekatan keluarga, adalah hal yang akan saya sentuh, tegasnya.
Keturunan Penghulu Bupati Bandung
Lia Kamil masih keturunan Penghulu Bupati Bandoeng, Raden Haji Abdullah. Ia cucu dari Pendiri Bandung. Sebagai keturunan Pendiri Bandung tentunya keberadaan Lia secara tidak langsung semakin memacu Emil (Ridwan Kamil) memperbaiki dan membangun Bandung. Hal ini pernah ditegaskan Emil di suatu kesempatan. Emil mengaku adanya darah keturunan pendiri Bandung yang mengalir pada istri dan kedua putra-putrinya semakin memotivasi untuk memberikan yang terbaik bagi Kota Bandung. Lia pun menegaskan meskipun kendalanya luar biasa, tapi tekad suaminya sangat kuat bekerja untuk Bandung.
Meskipun keduanya sibuk berkegiatan membangun Bandung. Namun setiap pagi, Atalia menyempatkan diri untuk menyiapkan sarapan untuk Emil. “Biasanya nasi goreng atau bubur. Buat stamina juga,” ujar perempuan yang kerap menyapa Emil dengan sebutan cinta ini. Lia pun mendukung kebiasaan Emil saat ini yang setiap hari bekerja memakai sepeda. Menurut Atalia, salah satu kebahagiaan Emil adalah ketika bersepeda. Ia berharap, Bandung di bawah kepemimpinan suaminya bisa lebih baik dan juara lagi. “Dia itu bekerjanya pakai hati. Insya Allah niat baik, hasilnya juga akan baik,” tandasnya.