Home Blog Page 16

Dosen Widyatama yang Reviewer Beasiswa LPDP

Dr. Deden Novan SN, SS., M.Hum

Dosen Widyatama yang Reviewer Beasiswa LPDP

.

  Mengenal Dr. Deden Novan sebagai dosen Universitas Widyatama (UTama) ketika saya bertemu di kantor Redaksi majalah Komunita beberapa tahun lalu. Dalam perbincangan tersebut ia menyatakan keminatannya bergabung dalam majalah Komunita – majalah yang mengangkat isu-isu pendidikan tinggi. Sebagai Redaktur, kebermintaan Dr. Deden Novan kami sambut dengan terbuka. Sejak itu selain menjalankan profesinya sebagai dosen Widyatama, Dr. Deden Novan juga tim redaktur majalah yang berkontribusi dalam meningkatkan kinerja majalah Komunita. Salah satu kontribusinya majalah Komunita telah memiliki sebuah Rubrik dengan dua Bahasa (Indonesia dan Inggris).

  Suatu hari saya menerima pemberitahuan dari Dr. Deden Novan bahwa ia diterima sebagai salah seorang pewawancara Beasiswa LPDP Kementerian Keuangan dalam rangka program Beasiswa Pendidikan Indonesia. Lalu pada bulan Mei 2022 itu pula ia mengikuti kegiatan Coaching Pewawancara Beasiswa LPDP.

  Peran pewawancara ini sangat penting dalam membantu LPDP menyeleksi calon penerima beasiswa dalam rangka mempersiapkan pemimpin dan profesional Indonesia.   Dengan peran sangat penting tersebut tentunya dosen yang terpilih telah menjalani proses seleksi ketat di bawah Kementeriaan Keuangan dan Kementerian Pendidikan & Kebudayaan Riset Teknologi.

  Memang baru seorang dosen Widyatama menjadi pewawancara nasional LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) – Kementerian Keuangan, yakni Dr. Deden Nowan Setiawan Nugraha, SS., M.Hum. Tugas pewawancara LPDP adalah menyeleksi para calon penerima beasiswa magister dan doktor. Tentunya capaian ini sebuah inpirasi penting bahwa Widyatama seyogyanya semakin berupaya terus memasok dosen-dosen terbaiknya berkontribusi untuk LPDP.

  Program LPDP Kementerian Keuangan dirancang untuk membentuk dan mencetak pemimpin masa depan Indonesia. Pemimpin dalam artian mereka yang mampu memengaruhi masyarakat dan lingkungannya dengan aktivitas yang dilakukannya.

  LPDP merupakan Badan Layanan Umum (BLU) terbaik di Indonesia dan dibentuk sesuai amanat UUD 1945 yang salah satu pasalnya menegaskan bahwa: sekurang-kurangnya 20 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dialokasikan untuk pendidikan.

  Pemerintah dan DPR RI pada tahun 2010 melalui UU Nomor 2 tahun 2010 tentang APBN-P 2010 menyepakati bahwa sebagian dana dari alokasi dana fungsi pendidikan dalam APBN-P tersebut dijadikan sebagai Dana Pengembangan Pendidikan Nasional (DPPN) yang dikelola dengan mekanisme pengelolaan dana abadi (endowment fund) oleh sebuah Badan Layanan Umum (BLU).

  Lalu tahun 2011, Menteri Keuangan dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyepakati bahwa pengelolaan DPPN dan pemanfaatan hasil pengelolaan dana tersebut akan dilaksanakan oleh Kementerian Keuangan, namun pejabat dan pegawainya merupakan gabungan antara pegawai Kementerian Keuangan dan pegawai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

  Menteri Keuangan melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 252/PMK.01/2011 menetapkan Organisasi dan Tata Kelola Lembaga Pengelola Dana Pendidikan sebagai sebuah lembaga non eselon yang langsung bertanggung jawab kepada Menteri Keuangan dan berpedoman pada kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh Dewan Penyantun LPDP (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Keuangan, dan Menteri Agama). Melalui Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 18/KMK.05/2012 tanggal 30 Januari 2012, LPDP ditetapkan sebagai instansi pemerintah yang menerapkan pola keuangan Badan Layanan Umum, yang dikenal sebagai LPDP.

  Dr. Deden Novan menjelaskan peran sebagai reviewer akademisi adalah memberikan pertanyaan dan menentukan rekomendasi atau tidak memberikan rekomendasi calon pelamar beasiswa LPDP sebagai Putera dan Puteri Terbaik Bangsa Indonesia untuk melanjutkan kuliah ke jenjang S2 dan S3 baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Kompetensi yang dibutuhkan untuk menjadi reviewer akademisi yaitu: memiliki ijazah gelar Doktor dan/atau yang setara bagi calon pewawancara akademisi; memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik (TOEFL/IELTS); mengisi Daftar Riwayat Hidup; mengikuti Coaching pewawancara dari LPDP.

  Setiap tahunnya banyak peserta yang ingin mendapatkan beasiswa ini. Tahun 2022 ini direncanakan akan dapat membiayai beasiswa mulai – jenjang S1 sampai dengan jenjang S3 – sebanyak 3.000 lebih penerima beasiswa baru agar dapat meneruskan studi di jenjang yang lebih tinggi, baik di dalam maupun luar negeri.

Di tahun 2022 ini saya mendapatkan kesempatan untuk menguji dan menangani peserta beasiswa dalam negeri dan luar negeri untuk jenjang S2 dan S3. Adapun jenis beasiswanya yaitu Beasiswa LPDP Regular, Beasiswa LPDP Afirmasi, Beasiswa LPDP Afirmasi PNS, TNI, dan POLRI, jelas Dr. Deden Novan.

  Tahapan yang terberat bagi seorang reviewer akademisi yaitu pada saat memvalidasi LoA Unconditional. LoA Unconditional adalah surat resmi dari perguruan tinggi (official admission) yang menyatakan bahwa seseorang telah diterima sebagai mahasiswa di perguruan tinggi tersebut dengan tanpa persyaratan, kecuali persyaratan sponsor pendanaan, dokumen fisik ijazah dan transkrip nilai jenjang studi sebelumnya, dan/atau persyaratan tambahan yang tidak berisiko mengubah status diterimanya orang tersebut sebagai mahasiswa pada program studi yang dituju serta memuat nama lengkap, jenjang studi, program studi, serta durasi studi, lama studi, permulaan studi dan/atau akhir studi.

LoA Unconditional yang diunggah harus memenuhi kriteria sebagai berikut: Perguruan Tinggi dan Program Studi harus sesuai dengan salah satu pilihan pada aplikasi pendaftaran; Intake studi harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan LPDP terkait waktu perkuliahan paling cepat yang diizinkan; Jika intake perkuliahan yang tercantum pada LoA Unconditional yang diunggah tidak sesuai ketentuan maka wajib melampirkan Surat Defer (Penundaan) dari Perguruan Tinggi yang menerbitkan LoA; Jika pendaftar mengunggah LoA Unconditional yang tidak sesuai ketentuan LPDP, maka dianggap tidak memenuhi kriteria pendaftaran.

  Peluang dosen sebagai pewawancara beasiswa LPDP tentu terbuka, Dr. Deden Novan menyampaikan bahwa menjadi reviewer beasiswa LPDP dituntut profesionalitas yang sangat tinggi, karena harus menyeseleksi Putera dan Puteri Terbaik Bangsa Indonesia untuk melanjutkan kuliah ke jenjang S2 dan S3. Karena itu yang utama adalah persiapan, dan tentunya memenuhi kriteria pewawancara, yaitu: Memiliki ijazah gelar Doktor dan/atau yang setara bagi calon pewawancara akademis; Memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik (TOEFL/IELTS).

  Selamat bertugas dan berkontribusi Dr. Deden Novan menyeleksi calon-calon penerima beasiswa LPDP, yang juga dalam rangka mempersiapkan pemimpin dan profesional Indonesia. Sukses selalu. (@lee)

.

JALAN PANJANG PENDIDIKAN TINGGI Menyongsong Alam Metaverse

.JALAN PANJANG PENDIDIKAN TINGGI

Menyongsong Alam Metaverse

.

  

  Bait lagu Indonesia Raya mengajak kita “….Hiduplah tanahku, Hiduplah neg’riku, Bangsaku, Rakyatku, semuanya, Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya, Untuk Indonesia Raya. …”

  Jiwa dalam pandangan Al-Farabi mempunyai: 1) Daya al-Muharrikat (gerak), yang mendorong untuk makan, memelihara, dan berkembang; 2) Daya al-Mudrikat (mengetahui), yang mendorong untuk merasa dan berimajinasi; 3) Daya al-Nathiqat (berpikir), yang mendorong untuk berpikir secara teoretis dan praktis (Sirajuddin Zar, Filsafat Islam, 2017).

  Pendidikan salah satu unsur membangun jiwa generasi masa depan. Sebagai lembaga pendidikan dan pendidik memberi warisan bagi generasi masa depan adalah membangun jiwanya. Maknanya kita berkewajiban membangun jiwa generasi masa depan agar mereka mampu mengembangkan dan memajukan diri, bangsa, dan peradaban.

  Analisis Rosser (2018) – Lowy Institute – Australia menyebutkan bahwa: “Tantangan terbesar pendidikan Indonesia bukan lagi meningkatkan akses tetapi “meningkatkan kualitas”. Namun, banyak penilaian menunjukkan bahwa kinerja pendidikan masih butuh jalan panjang mencapai tujuan tersebut. Di tengah perubahan teknologi dan sosial yang diusung Revolusi Industri 4.0, keniscayaaan perubahan masyarakat yang mungkin saja berbeda jauh dengan sebelumnya bakal terjadi. Nah, pendidikan sangat penting untuk mengelola tantangan masa depan. Kini terjadi pergeseran pasar kerja tampak lebih otomatis, dan digital yang menyebabkan sistem pendidikan tinggi saat ini dengan cepat tidak sesuai dengan masa depan. Wujud keterampilan atau bukan berorientasi gelar mungkin menjadi realitas di masa depan. Demikian pula start-up dan model bisnis baru mengganggu lembaga pendidikan dan model pembelajaran konvensional.

  Memasuki dua dekade abad ke-21, pendidikan tinggi tampaknya masih diarahkan untuk berhasil di abad ke-20. Padahal saat ini sebagian besar perdebatan seputar masa depan pendidikan tinggi yang berfokus pada keterampilan yang dibutuhkan masa depan, karena itu keharusan melakukan pembenahan. Ini artinya membahas transformasi struktural pendidikan tinggi sesuatu yang tak terhindarkan. Pendidikan tinggi saat ini harus menemukan dirinya dalam masyarakat yang terus berubah dan menjadi semakin sulit mengikutinya. Hampir semua yang dikembangkan pendidikan tinggi untuk angkatan kerja abad ke-20 sedang dibangun kembali, termasuk Indonesia dengan MBKM–nya.

  Kita harus mengakui bahwa sistem dan jalur pendidikan tinggi di masa depan akan lebih baik dilayani oleh alternatif, dan model inovatif. Perguruan tinggi harus mengevaluasi kembali peran mereka sekarang dan apa yang dapat mereka tumbuhkan di masa depan.  Apakah Metaverse akan memperkuat konsep atau model pendidikan tinggi? Atau mengganti sepenuhnya, sehingga mengantar kontribusi pada peningkatan kualitas?

  Studi literatur Yose Indarta, Ambiyar, Agariadne Dwinggo Samala, Ronal Watrianthos (2022) berjudul “Metaverse: Tantangan dan Peluang dalam Pendidikan” menyimpulkan bahwa implementasi Metaverse di dunia pendidikan memiliki peluang besar dalam menunjang proses pelaksanaan pendidikan menjadi lebih baik. Pendidikan berbasis audiovisual merupakan aplikasi Metaverse paling popular dan banyak digunakan dalam pembelajaran. Berdasar penelitian, pendidikan berbasis pengalaman menjadi lebih baik, apakah melalui belajar secara langsung maupun simulasi didukung teknologi. Hadirnya Metaverse dapat mengoptimalkan teknologi serta media pendidikan menjadi lebih efektif dan diharapkan mengembangkan soft-skill serta menumbuhkan self-perception yang lebih baik. Metaverse juga memberikan solusi bagi pembelajaran jarak jauh lebih baik dibanding PJJ sekarang.

  Roadmap Metaverse Overview – 2007 mengkategorikan Metaverse menjadi 4 (empat): augmented reality, lifelogging, mirror world, dan virtual reality. Contoh penerapan augmented reality dalam pendidikan kedokteran adalah T-shirt augmented reality yang memungkinkan mahasiswa dapat memeriksa bagian dalam tubuh manusia sebagai laboratorium anatomi. Selanjutnya, tim peneliti di sebuah rumah sakit di Seoul mengembangkan platform operasi tulang belakang yang menerapkan teknologi augmented reality. Potensi Metaverse dalam lingkungan pendidikan disarankan sebagai ruang komunikasi sosial baru; dengan tingkat kebebasan yang lebih tinggi untuk berkreasi dan berbagi; serta penyediaan pengalaman baru dan imersi tinggi melalui virtualisasi.

  Namun yang perlu diperhatikan adalah meminimalkan kelemahan Metaverse. Beberapa keterbatasan Metaverse, diantaranya koneksi sosial yang lebih lemah; kemungkinan pelanggaran privasi; kemungkinan berbagai kejahatan karena ruang virtual dan anonimitas Metaverse; serta mal-adaptasi dengan dunia nyata bagi peserta didik yang identitasnya belum terbentuk. Juga sifat Metaverse yang borderless (menyediakan ruang tak terbatas) memunculkan engagement (keterikatan) lebih besar pendidikan. Lalu kondisi sosial ekonomi masyarakat akan membatasi akses ke pendidikan, keamanan dan privasi data, kondisi fisik shock terhadap perangkat Metaverse.

  Tugas ke depan penggunaan Metaverse dalam pendidikan adalah: pertama, pendidik harus dengan cermat menganalisis bagaimana peserta didik memahami Metaverse; kedua, pendidik harus merancang kelas bagi peserta didik untuk memecahkan masalah atau melakukan proyek secara kooperatif dan kreatif; ketiga, platform Metaverse pendidikan harus dikembangkan ke arah mencegah penyalahgunaan data peserta didik.

  

Teknologi, Hukum, Etika, Psikologi, Sosial, & Ekonomi

  Menurut Park, S. M., & Kim, Y. G. (2022) secara teknologi Metaverse memiliki perbedaan mendasar dengan Augmented Reality/AR maupun Virtual Reality/VR. Tiga hal yang membedakan Metaverse dengan AR maupun VR (dua teknologi yang muncul sebelum Metaverse). Pertama, jika studi terkait VR difokuskan pada pendekatan fisik dan rendering, maka Metaverse lebih memiliki aspek yang kuat sebagai layanan dengan konten dan makna sosial yang lebih berkelanjutan. Kedua, Metaverse tidak harus menggunakan teknologi AR dan VR. Sehingga, meskipun sebuah platform tidak mendukung VR dan AR, platform tersebut tetap bisa menjadi sebuah aplikasi Metaverse. Ketiga, Metaverse memiliki lingkungan terukur yang dapat menampung banyak orang, ini sangat penting untuk memperkuat makna sosial yang ditekankan oleh teknologi ini (Xi et al., 2022).

  Konsep Metaverse (Sumber: Mystakidis, S. (2022). Metaverse. 486–497), gambar bawah:

  Diilustrasikan, Metaverse dalam konteks Mixed-Reality (MR), dapat menjembatani konektivitas media sosial dengan kemampuan unik teknologi imersif VR dan AR. Jika interaksi di antara mereka dilepaskan secara kreatif, itu menjanjikan untuk mengubah banyak sektor kehidupan, di antaranya pendidikan. Model baru Meta-education, pendidikan jarak jauh online yang didukung Metaverse, dapat muncul untuk memungkinkan pengalaman belajar formal dan informal yang baru dengan konsep kampus virtual 3D online (Kye et al., 2021). Berikut menjelaskan Taksonomi Metaverse (Park, S. M., & Kim, Y. G. (2022). A Metaverse: Taxonomy, Components, Applications, and Open Challenges.)

  Pembelajaran online di Metaverse akan mampu mendorong batas akhir koneksi sosial dan pembelajaran informal. Kehadiran fisik di ruang kelas akan berhenti menjadi pengalaman pendidikan yang istimewa. Telepresence, bahasa tubuh avatar dan kesesuaian ekspresi wajah akan memungkinkan pertemuan virtual menjadi sama efektifnya dengan pertemuan langsung. Selain itu, MR sosial di Metaverse dapat memungkinkan pedagogi aktif campuran untuk menumbuhkan pengetahuan yang lebih dalam dan berkelanjutan (Mystakidis, S., 2021). Lebih penting lagi, hal itu dapat menjadi faktor demokratisasi dalam pendidikan, memungkinkan partisipasi di seluruh dunia secara setara, tidak terikat lagi oleh batasan geografis (Girvan, 2018).

  Sebagai inovasi teknologi ruang virtual tiga dimensi sebagaimana dijelaskan di atas, perkembangan Metaverse sangat pesat serta implementasinya mulai banyak digunakan dalam berbagai sektor kehidupan. Akselerasi teknologi Metaverse di dunia pendidikan sudah terlihat dengan adanya aplikasi media pembelajaran digital berbasis AR maupun VR. Metaverse diyakini dapat mengatasi batasan-batasan yang ada di dunia pendidikan, seperti keterbatasan kapasitas kelas karena pandemi, keterbatasan jarak dan waktu untuk masuk ke kelas, dan lain-lain. Dengan konsep dunia virtual, pembelajaran secara online dapat dilakukan dengan lebih interaktif tanpa menghilangkan pengalaman belajar siswa. Metode belajar di mana saja dan kapan saja menjadi konsep menarik yang disenangi banyak generasi Z saat ini.

  Metaverse mengusung konsep dunia virtual, pembelajaran secara online dapat dilakukan dengan lebih interaktif. Metaverse menyediakan dukungan pada pembelajaran online dengan tidak menghilangkan pengalaman belajar di sekolah atau kampus. Metode belajar di mana saja dan kapan saja menjadi konsep menarik yang disenangi banyak pihak. Waktu, ruang dan biaya dapat dipangkas dengan kehadiran teknologi. Contoh, dalam pelajaran geografi, pendidik dapat mengajak peserta didik melihat peristiwa gunung meletus, pada pelajaran Sejarah tidak perlu membawa peserta didik ke museum di dunia nyata, dan pada pelajaran Biologi saat praktik peserta didik bisa mengetahui bagaimana organ-organ tubuh hewan tanpa harus membedahnya. Di dunia virtual pengalaman belajar menjadi lebih nyata dan bermakna.   

  Beberapa perguruan tinggi di dunia mulai merancang lingkungan pendidikan digital. Contoh, Universitas Amman Arab – Yordania telah bekerja sama dengan perusahaan yang bergerak di bidang virtual reality untuk membuat perangkat khusus. CEU University – Spanyol membangun prototipe kampus mereka untuk mendukung komunitas pembelajaran yang berbasis Minecraft Education Edition. Proyek ini melibatkan 200 peserta didik mereka. Khon Kaen University – Thailand meluncurkan proyek yang bernama Metaverse Experience. Kehadiran Metaverse menambah alasan bagi dunia pendidikan tinggi untuk semakin berkembang secara progresif.

  Bahkan beberapa perguruan tinggi sudah mulai menyusun program untuk mengajarkan ilmu-ilmu kepada peserta didik dengan konsep Metaverse. Akan semakin banyak bidang-bidang ilmu yang diajarkan dengan konsep Metaverse, dan untuk berbagai tingkatan pendidikan. Dunia kedokteran sangat terbantu dengan Metaverse. Organ-organ tubuh manusia dapat diperlihatkan dan disentuh sehingga jelas cara bekerjanya melalui gambar-gambar tiga dimensi beresolusi tinggi dengan latar belakang suara yang bening. Menunjukkan efek simpul syaraf di bagian tengah otak yang mengalami gangguan dapat disimulasi sehingga dapat diketahui cara terbaik untuk menanganinya tanpa risiko besar.

  

.

.

  Masalah Metaverse, keseimbangan antara berada di dunia nyata dan digital perlu dijaga agar tidak menimbulkan adiksi terhadap virtual reality. Hukum dan etika dalam pendidikan juga perlu menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Dua hal ini penting untuk keberlangsungan pendidikan di dunia nyata maupun di dunia maya. Perlu juga keseimbangan bagaimana kita belajar di dunia nyata maupun di dunia maya. Karena, tujuan kita belajar adalah bagaimana kita berkontribusi untuk menyelesaikan masalah di dunia nyata.

  Memang adanya Metaverse tidak semerta-merta mengganti keberadaan model pendidikan yang sudah ada. Melainkan sebagai model lain yang dapat dioptimalkan di kondisi dan situasi tertentu. Karena itu prinsip yang harus kita pegang bahwa hakikatnya Metaverse hanyalah sebuah cara, tidak bisa dijadikan esensi kehidupan. Metaverse hanya akan menjadi alat bagi dunia pendidikan untuk membuat pelayanan lebih berkualitas lagi, tanpa harus menghilangkan semua yang ada di dunia nyata. Bagaimanapun juga dunia pendidikan bertujuan memanusiakan manusia, bukan memvirtualkan manusia. Sekolah fisik dan semua kegiatan di dalamnya juga tidak akan tergantikan sepenuhnya oleh Metaverse.

  Suatu yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya bagaimana dalam 6 – 10 tahun ke depan aktivitas interaksi tatap muka dalam dunia pendidikan seperti: orientasi mahasiswa baru, konferensi, tur kampus, ujian tengah/akhir semester, interview, hingga proses magang dapat berpindah ke dunia virtual Metaverse. Mungkin Metaverse akan membuat seluruh aktivitas dalam dunia pendidikan dapat dilakukan dalam dunia virtual. Sekolah akan dibangun di dunia virtual, kelas-kelas akan terdapat di dunia virtual, pembelajaran dilakukan secara virtual, bahkan administrasi sekolah juga dapat dilakukan secara virtual. Singkatnya, ada banyak potensi tak diketahui yang dimiliki Metaverse yang bisa digali para stakeholder pendidikan.

  Jika semua kegiatan dalam dunia pendidikan dilakukan secara virtual diprediksi akan ada dampak negatif yang dapat dirasakan, yakni hilangnya kehangatan sosial karena tidak melakukan interaksi dengan manusia secara langsung. Mensikapi implementasi Metaverse sejak dini tentunya sesuatu yang bijak. Semoga.

  

Rewriter: lili irahali – 22 Juni 2022, dari berbagai sumber.

  

FILOSOFI TERAS Filsafat Yunani-Romawi Kuno Untuk Mental Tangguh Masa Kini  

.FILOSOFI TERAS

Filsafat Yunani-Romawi Kuno

Untuk Mental Tangguh Masa Kini  

.

.

Judul : Filosofi Teras
Penerbit : Kompas Media Nusantara
Penulis : Henry Manampiring

Ilustrator : Levina Lesmana
Ketebalan : 344 hlm
ISBN : 978-602-412-519-6

Ukuran Buku : 13×19 cm
Tahun Terbit : 2019

.

.

“Buku Filosofi Teras ini memberi cara latihan mental supaya kita memiliki syaraf titanium dan tidak gampang KO kesamber galau.” – Dr. A. Setyo Wibowo

Berawal dari pengalaman penulis yang dalam beberapa bulan mengalami kemurungan yang tidak bisa dijelaskan, diganggu pikiran-pikiran yang ‘gelap’ yang tidak dapat dijelaskan pemicunya seperti apa, membawa rasa sedih yang berlarut dan negative thinking. Kemudian Penulis menyadari bahwa dia harus “move on”, dan bangkit dari keadaan itu. Karena pengalaman itu membuat penulis berfikir bahwa gangguan psikis sering dianggap berada di ranah “jiwa” atau “roh”, atau sesuatu yang abstrak, tak terlihat, ataupun hal sejenis lainnya. Masih banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa problem psikis juga bisa berkaitan dengan organ tubuh dan kimia otak, dan ini menjadikannya tidak berbeda dengan saat tenggorokan sakit atau meradang karena serangan bakteri, harus dicari obatnya.

Stigma dan salah pengertian tentang kondisi mental menimpa terapi dan pengobatannya. Masih banyak orang menganggap bahwa terapi psikis tersebut hanya terbatas pada curhat atau konselling. padahal ada aspek fisik dibalik kondisi psikis tersebut. Bagaimana jika depresi bukanlah sebuah kerusakan (malfunction)? Tetapi justru fungsi alarm yang memberitahukan bahwa ada kebutuhan yang tidak terpenuhi, atau merupakan upaya tubuh memberi tahu ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam hidup kita.

Filosofi teras ini diharapkan mampu menjadi “terapi tanpa obat” bagi mereka yang mendambakan ketenangan dalam hidup, yang sedang dilanda kecemasan, kekhawatiran dan kekecewaan dalam kehidupan sehari-harinya. Filosofi Teras tidak menjanjikan rahasia menghilangkan segala kesulitan dan tantangan hidup, tetapi justru menawarkan cara mengembangkan mental tangguh dan bersikap tenang, damai, tidak mudah stress, dan marah-marah.

“Saat orang merasa bahwa akhir hidupnya sudah dekat,ia mulai bertanya-tanya apakah hidupnya memiliki tujuan, akankah dikenang sebagai filsuf atau prajurit, atau tiran?” – Gladiator 2000 –

====================================

.

Pada buku ini juga mengajarkan bagaimana hidup agar selaras dengan alam, menggunakan nalar sebelum mengucap kata dan bertindak, dan memaknai hidup dengan tenang dan damai melalui diri sendiri, dengan menerapkan sikap berserah dan mengendalikan ekspektasi, mengatasi perasaan negative (baper, emosi, cemas) dan mengatasi masalah dalam hidup. Prinsip utamanya adalah manusia tidak sepantasnya melawan sabda alam, dalam artian sebagai manusia harus hidup selaras dengan alam untuk bersikap lapang dada dan fokus saja pada apa yang dapat dikendalikan diri sendiri, hidup dengan menggunakan nalar dan hidup berkebajikan.

Terdapat salah satu bab atau ajaran yang paling menarik dan bermanfaat bagi pembaca Filosofi Teras, yaitu ajaran dikotomi kendali.  Dikotomi kendali adalah sebuah ajaran yang menjelaskan bahwa dalam hidup ada hal yang dapat kita kendalikan dan ada yang tidak dapat kita kendalikan. Jika hidup hanya berfokus pada apa yang dapat kita kendalikan maka kita akan bahagia. Namun, apabila hanya memikirkan apa yang tidak dapat kita kendalikan maka itulah penyebab kita tidak bahagia. Jika kita menggunakan prinsip ini maka dapat membantu kita untuk tidak mudah khawatir terhadap suatu hal atau kejadian yang sudah terjadi ataupun yang akan terjadi dimasa yang akan datang.

Hal yang perlu kita yakini dalam hidup adalah ketika mendapatkan situasi yang paling menyakitkan dan tidak manusiawi, hidup masih memiliki makna. Karenanya penderitaan pun dapat bermakna. Kita tidak dapat memilih situasi sesuai keinginan atau ekspektasi kita, tetapi kita selalu bisa menentukan sikap (attitude) dalam menghadapi segala situasi tersebut.

.

Filosofi Teras sangat memperhatikan hubungan antar manusia. Dalam berkehidupan sosial ada saja orang yang menyebalkan, bahkan terkadang dapat membuat kita tersinggung. Terlebih lagi, saat ini kita hidup melekat dengan media sosial yang dapat menjadi tempat orang untuk berkomentar negatif atas hidup orang lain. Buku ini mengingatkan kita bahwa bisa saja orang-orang bersikap menyebalkan karena mereka tidak tahu, bukan karena disengaja. Jadi, saat kita merasa tersinggung oleh perkataan atau perbuatan orang lain, itu adalah salah kita sendiri. Mengapa demikian? Karena sebenarnya kita dapat mengendalikan persepsi dan pikiran kita sendiri. Semua hanya soal persepsi diri masing-masing 

Filosofi Teras memang berisikan ajaran filsafat, tetapi gaya bahasa yang digunakan oleh penulis terkesan santai dan tidak memberatkan pembaca karena disampaikan dengan cara yang mudah dipahami. Ilustrasi yang ditampilkan juga sangat menarik. Selain itu, isi buku ini juga didapatkan dari data survei, psikiatri, bahkan wawancara dengan praktisi media sosial. Dengan begitu, buku ini berisikan hal-hal yang memang dialami oleh generasi milenial saat ini. 

Namun, isi dan beberapa bahasan dari buku ini diulang-ulang sehingga dapat membuat pembaca menjadi bosan. Terlepas dari kekurangan yang dimilikinya, buku ini sangat direkomendasikan bagi siapa yang ingin hidupnya lebih tenang, terutama para generasi milenial yang sering merasa cemas.

“Satu hal penting untuk selalu bisa diingat: tingkat perhatian kita harus sebanding dengan objek perhatian kita. Sebaiknya kita tidak memberikan waktu lebih banyak dari yang selayaknya terhadap hal-hal remeh yang tidak semestinya”

Fix the source of the problem, perbaikilah langsung di sumber masalahnya-dalam hal ini, pikiran kita sendiri.

.

-Intanlis2022-

.Wawancara

Prof. Hj. Dra. Rachmah Ida M.Com., Ph.D. – UNAIR

Guru Besar bidang Media Komunikasi Politik, Film Studies, Digital Media

.

“SISTEM HYBRID”

SOLUSI PENDIDIKAN TINGGI MEMASUKI METAVERSE

.

  Transformasi pendidikan tinggi sebuah keniscayaan menghadapi tantangan era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity) yang dipicu pesatnya kemajuan teknologi informasi, dan digitalisasi. Saat ini sebagian besar perdebatan seputar masa depan pendidikan tinggi berfokus pada keterampilan yang dibutuhkan masa depan. Ini artinya membahas transformasi struktural pendidikan tinggi sesuatu yang tak terhindarkan. Hampir semua yang dikembangkan pendidikan tinggi untuk angkatan kerja abad ke-20 sedang dibangun kembali, termasuk Indonesia dengan MBKM-nya.

  Bertepatan dengan itu, menggema teknologi, dan konsep Metaverse yang ditawarkan untuk pendidikan. Harus kita akui bahwa sistem dan jalur pendidikan tinggi di masa depan perlu dilayani oleh alternatif, dan model inovatif.

  Dalam kaitan tersebut majalah Komunita menemui Guru Besar UNAIR bidang Digital Media dan Film Studies – Prof. Hj. Dra. Rachmah Ida, M.Comms., Ph.D. untuk memahami teknologi dan konsep Metaverse bagi pendidikan tinggi agar tetap menjaga pendidikan berkualitas. Di tengah kesibukan beliau kami menghubungi via email dan langsung mendapat kepastian pertemuan via daring pada hari Kamis, 9 Juni 2022. Prof. Hj. Dra. Rachmah Ida, M.Comms., Ph.D. adalah Guru besar Universitas Airlangga (Unair) yang mendapatkan penghargaan internasional sebagai Top 100 Scientist Social Sciences versi AD Scientific Index (Alper-Doger Scientific Index) beberapa waktu yang lalu. Penghargaan tersebut diperoleh berkat kontribusi riset dan penelitiannya di bidang audience, gender, dan komunikasi politik. Berikut perbincangan kami.

Komunita: Mohon dijelaskan tentang Metaverse dan teknologi yang mendukungnya?

Prof. Hj. Dra. Rachmah Ida M.Comms., Ph.D.: Metaverse adalah dunia virtual yang memungkinkan antar pengguna dapat saling terhubung, dapat berkomunikasi, bekerja, bermain, sampai bertransaksi layaknya di dunia nyata. Istilah Metaverse pada dasarnya sampai saat ini belum ada yang mendefinisikan secara pasti. Secara sederhana, Metaverse merupakan konsep dunia virtual yang dapat dimiliki dan diisi dengan berbagai benda dan kegiatan selayaknya dunia nyata. Konsep ini adalah kombinasi dari beberapa elemen teknologi, termasuk virtual reality (VR) dan augmented reality (AR).

Komunita: Bagaimana Metaverse dimanfaatkan dan merubah pendidikan?

Prof. Hj. Dra. Rachmah Ida M.Comms., Ph.D.: Dunia pendidikan negara barat, seperti Monash University Australia, di Inggris ada Oxford University. Mereka sudah punya kampus-kampus virtual melalui website secondlife.com. Seperti public space yang mereka gunakan. Di public space itu mereka bisa mempunyai pulau, apartemen didalamnya dan mereka mempunyai avatar dan semua dibangun secara virtual. Awalnya seperti IBM, American Express mewajibkan karyawannya mengakses website secondlife.com untuk berjualan sebagai marketing American Express. Transaksi di dalamnya meng–gunakan uang yang disebut Crypto, sebelumnya disebut Token. Misalkan 1 Token (mata uang digital) seharga $1. American Express menjadikan alat pembayaran untuk mengkonversi $ (Dollar) ke Token (mata uang digital).

Jejak cendekia Prof. Hj. Dra Rachmah Ida, MComms. Ph.D.

1. Mendapat penghargaan internasional Top 100 Scientist Social Sciences versi AD Scientific Index (Alper-Doger Scientific Index). Penghargaan diperoleh berkat kontribusi riset dan penelitiannya di bidang audience, gender, dan komunikasi politik.

2. Dinobatkan sebagai Guru Besar Studi Media Pertama di Indonesia pada 2014.

3. Dalam Google Cendekia, Prof. Rachmah Ida menghasilkan buku dan artikel ilmiah lebih dari 100 karya. Buku tentang kajian media diterbitkan Silkworm Books, Jerman tahun 2010. Buku Imaging Muslim Women in Indonesian Ramadan Soap Operas menjadi buku yang dijual di Amazon.

4. Prof. Ida memberikan pandangan kritis tentang media massa di Indonesia yang mampu membuka mata peneliti komunikasi di Indonesia untuk melihat media massa dengan kritis.

5. Tahun 2014 menulis buku Metode Penelitian: Studi Media dan Kajian Budaya didedikasikan kepada mahasiswa. Mengajari mahasiswa cara meneliti yang benar dari kacamata pendekatan perspektif media dan kajian budaya. Menurut Google Cendekia, buku Metode Penelitian : Studi Media dan Kajian Budaya telah dikutip sebanyak 485 kali.

6. Menginspirasi Peneliti Luar Negeri, dimana salah satu chapter dalam jurnal internasional Journal of The Humanities and Social Sciences of Southeast Asia and Oceania. Karyanya berhasil memberikan dampak besar di dunia penelitian yang banyak disitasi dan menginspirasi beberapa peneliti asing di luar negeri.

7. Menulis karya berjudul “Politics and The Media in Twenty-First Century Indonesia: Decade of Democracy dalam jurnal hasil karangan Prof Krishna Sen dan David T Hill. Salah satu chapternya, menunjukkan bagaimana pemilik media bersekongkol dengan penguasa, yang disebut oligarki media. Tulisan itu membuka mata banyak peneliti luar negeri memahami bahwa pemilik media di Indonesia sangat dekat dengan penguasa. (SINDOnews.com)

  Melihat di Indonesia sangat berbeda. Kita hidup di dalam context culture yang High Context Culture, yakni kultur sosial budaya yang masih mempertahankan konsep tradisional seperti sopan santun, norma, value, dsb. Sementara negara barat menerapkan Low Context Culture, sehingga pendidikan dalam konteks barat selalu sekuler. Metaverse dibangun di negara barat, maka value dari Metaverse adalah low context culture. Mereka tidak memperhatikan konsep value tadi, seperti norma, sopan santun. Kami UNAIR memakai tag line “excellent with morality”, tapi di negara barat tidak ada konsep seperti itu. Bagi mereka prinsipnya “a equal”, equality before the law dan liberal arts. Bagi mereka pendidikan adalah demokratisasi.

  Ketika mereka masuk dalam Metaverse untuk dijadikan kampus tidak masalah. Seperti yang kita lakukan sekarang pendidikan lewat online (daring). Kampus yang biasanya di kota besar dan juga di gedung-gedung tinggi, kemudian mereka ingin mempunyai kampus di tepi pantai, maka mereka menciptakan kuliah sambil mendengar deburan ombak. Jadi peserta kuliahnya seperti sekarang ini, mahasiswa membuat avatar-nya masing-masing. Kalau ada rapat Rektor, keputusan didalam rapat itu sah dan menjadi hukum ketetapan regulasi. Itu yang terjadi ketika mereka masuk ke kampus virtual. Kampus virtual sama dengan kampus fisik, itu yang terjadi.

  Di barat tidak jadi masalah soal “quality of content” itu pertaruhan, karena mahasiswa mereka membayar sehingga mereka betul-betul servicing kepada mahasiswanya. Sehingga apapun kontennya betul-betul dipersiapkan dengan baik. Antara kelas virtual dan pshycal kontennya sama, kecuali kelas yang harus menggunakan laboratorium, seperti science, medicals tetap tidak bisa virtual, tetap harus ada pshycal lab. Namun untuk international business, business administration mereka bisa melakukan di dalam virtual.

  Persoalan di Indonesia, banyak yang mempertanyakan siapkah pendidikan kita dengan Metaverse. Karena pendidikan di Indonesia dengan High Context Culture, yakni harus mendidik akhlak dan moral. Pendidikan yang diterapkan di Indonesia punya “moral ethics baggage”, sementara di barat ethical educations academic mereka wujudkan dalam bentuk regulasi-regulasi yang padat. Misalkan soal “plagiarism”, mereka punya aturan dan cara menghindari freezing ini, tapi kita di Indonesia tidak punya mata kuliah seperti itu. Perbedaan context culture ini yang menjadi kendala Metaverse di Indonesia. Kita mau masuk Metaverse, dunia teknologi pendidikan sudah begitu pesat dan negara barat sudah melakukan Metaverse pendidikan. Kita ada student exchange dari negara barat agar merasakan pendidikan di Indonesia, tapi di sisi lain kita sebagai tenaga pengajar, sistem pendidikan kita itu belum bisa menerima Metaverse. Contoh: “tolong duduknya yang sopan”, “tolong celana tidak sobek-sobek”, “itu berhijab, hijabnya yang sopan”. Pendidikan kita dengan konsep Metaverse jauh sekali GAP-nya. Cara pendidikan kita dengan memberikan pemahaman moral, etika, pergaulan, sopan santun dan sebagainya akan menjadi persoalan besar. Memang Pak Jokowi menyatakan semua masuk dalam Metaverse, tapi karena kultur kita “high context culture” sehingga ini menjadi persoalan.

Komunita: Dengan kondisi di atas, bagaimana persiapan pendidikan tinggi kita terhadap implementasi Metaverse?

Prof. Hj. Dra. Rachmah Ida M.Comms., Ph.D.: Menurut saya, kita memakai sistem Hybrid seperti yang sekarang ini kita lakukan di masa Pandemi ini. Misalkan 14 kali pertemuan (For a weeks Effective Teaching Time) yaitu: 7 weeks memakai Metaverse dan 7 weeks tatap muka. Tentunya agar peserta didik masih bisa kita monitor perilakunya, karena orang tua mahasiswa menitipkan kepada pihak sekolah untuk memperbaiki akhlaknya. Jadi orang tua percaya bahwa pendidik mengajarinya lebih baik daripada orang tua. Berbeda dengan di barat orang tua adalah madrasah pertama bagi anak anaknya, dan pendidik hanya fasilitator. Itu yang membedakan. Kalau di Indonesia pendidik tidak saja fasilitator tapi juga yang mengajari moralnya. Sehingga menurut saya sistem hybrid mungkin lebih flexible ketika kita menerapkan Metaverse. Artinya, di satu sisi kita masih menggunakan konsep konvensional, di sisi lain kita bisa tetap menggunakan perkembangan teknologi maju. Apalagi mahasiswa kita sudah sangat berkembang sebagai instagramers, tiktokers dan lainnya, rasa ingin tahunya sangat besar. Apalagi bagi anak-anak yang Fomo (Fear of Missing Out) takut ketinggalan zaman. Karena itu kita tidak bisa menghindar, apabila menghindar mereka akan mencari kampus dengan teknologi yang canggih, tapi di sisi lain mereka masih butuh sentuhan kemanusiaan agar mahasiswa kita ajarkan value dan norma- norma juga etika.

Komunita: Dampak Metaverse bagi kemajuan pendidikan tinggi dan kualitas lulusan?

Prof. Hj. Dra. Rachmah Ida M.Comms., Ph.D.: Kita kembalikan pada core business pendidikan tinggi, core busniness kita adalah academic services jadi kita memberikan pelayanan akademik. Artinya kualitas yang bisa kita jaga dan monitor adalah kualitas cara pengajaran kita, yakni: pertama, metode cara pengajaran harus tetap dijaga dan di-upgrade; kedua adalah konten. Selama ini saya (kebetulan saya assessor BAN-PT), melihat kelemahan itu. Apa yang diajarkan stagnan (itu-itu saja), sementara kasusnya sudah sangat berkembang. Dari sistem pengajaran dan text book–nya sudah tertinggal jauh, sudah tidak compatible. Tampak upgrade yang mungkin kurang dilakukan. Jadi menurut saya meski teknologi itu high cost, soal dana, fasilitas dan pendanaan yang sulit diperoleh, tetapi dengan kualitas yang baik core business kita dapat kembali. Meskipun teknologi menjadi bagian yang juga perlu dilakukan. Caranya adalah dosennya juga harus mahir teknologi. Misalkan apabila mengajar harus keep in touch dengan teknologi terbaru dan aktif di media social. Mahasiswa juga dapat menyelesaikan dengan prespective kekinian. Jadi sudah lupakanlah buku-buku kurikulum kuliah kita dahulu, sudah tidak update dengan zaman sekarang. Dilihat dari beberapa universitas apabila saya mengakses, kita harus move on mau tidak mau.

Komunita: Kapan sebaiknya Pendidikan Tinggi memanfaatkan Metaverse?

Prof. Hj. Dra. Rachmah Ida M.Comms., Ph.D.: Kita tidak harus terburu-buru, dalam arti itu ada di dalam dunia capitalis industry. Jadi kita di dalam dunia pendidikan harus menyesuaikan, dan pemerintah harus mengetahui kondisi dari Perguruan Tinggi/PT yang sudah siap atau belum. Istilahnya sudah harus ancang-ancang berlari cepat, karena perubahan itu tidak mudah. Saya penganut paham, apabila ada perubahan tidak selalu harus instant, tapi harus gradual. Kita mulai menggunakan pembelajaran melibatkan media social, melibatkan teknologi, mahasiswa membuat tugas di e-learning, jadi kreatifitas mahasiswa kita ajarkan, dengan begitu lambat laun kita siap menuju Metaverse nantinya. Tentu saja tidak bisa instant.

Komunita: Tidak semua PT dapat segera mengimplementasi Metaverse, apakah akan timbul kesenjangan yang semakin lebar dalam aspek pengelolaan, kualitas pendidikan?

Prof. Hj. Dra. Rachmah Ida M.Comms., Ph.D.: Mereka menginginkan paling tidak Universitas harus Pick Up (harus bisa menangkap perubahan). Tiga sampai 4 tahun itu waktu yang disediakan untuk memikirkan. Apakah kita mengubah konten kurikulum atau metodologi pengajaran kita. Kita mulai menyiapkan sistem akademik, seperti sistem absensi, sistem e-learning, dsb. Kemudian kita menyiapkan mental, mungkin besok tidak lagi memakai tulisan tangan yang harus kita koreksi lagi, mungkin itu bagi saya, mungkin mau tidak mau besok kita masuk ke dalam dunia ”avatar”. Seperti sekarang kita sudah memasuki kembali kuliah luring itu kemunduran menurut saya, kemarin kita sudah online dan kembali ke offline. Mengapa? Saya setuju kita menggunakan hybrid, karena ada teknologi, kenapa kita tinggalkan teknologi seperti zoom, aplikasi zoom itu akan terus update semakin canggih, dan tidak menutup kemungkinan zoom memasuki Metaverse. Kalau kita tinggalkan, memasuki ke offline dengan 14 kali pertemuan tatap muka, pada saat memasuki online, zoom akan semakin canggih dan mungkin saja kita akan tertinggal jauh.

Komunita: Kunci pendidikan tentunya dosen sebagai pendidik, kesiapan dosen kita?

Prof. Hj. Dra. Rachmah Ida M.Comms., Ph.D.: Pertama, dosen harus sudah bisa merubah cara berfikirnya (Open Mind). Bagi dosen-dosen muda mereka akan cepat sekali, tapi bagi dosen–dosen yang menengah dan yang sudah senior, agak sulit untuk mengikuti. Resistensi pasti ada, saya tidak menyalahkan itu. Dan selalu yang ditekankan bahwa pendidikan tidak selalu seperti itu, karena dengan teknologi semuanya sekuler, kita tidak bisa mendidik value, norma dan etika, karena teknologi diciptakan tidak untuk itu, itu social construction of technology, teori itu sudah banyak diterima banyak orang. Kedua, kesiapan keterampilan, harus dimiliki oleh dosen. Jadi mau tidak mau dosen harus update, dan bisa mengoperasionalkan teknologi yang semakin canggih. Menurut saya dosen harus lebih kreatif, dalam inovasi pendidikan harus kreatif dan inovatif. Dosen harus bisa menciptakan temuan-temuan baru cara mengajar yang dapat diterima oleh mahasiswa Kemarin saya baca di media, di Australia salah satu mahasiswa yang berkebutuhan khusus (tuna netra) lulus kuliah, karena dia mendengarkan kuliah melalui zoom, dan apabila offline ibunya mengikuti perkuliahan juga dan kemudian ibunya yang membacakan materi di rumah. Artinya artikel itu menjelaskan bahwa teknologi itu memudahkan bagi orang- orang yang punya kekurangan seperti itu.

.

Komunita: Dari aspek lembaga Perguruan Tinggi, saran Prof. untuk implementasi Metaverse?

Prof. Hj. Dra. Rachmah Ida M.Comms., Ph.D.: Untuk institusi pertama, adalah sarana dan prasarana, karena itu kewajiban mereka. Sarana prasarana harus disiapkan, yakni membangun teknologi pendidikan atau membangun teknologi supporting pendidikan dan sistem administrasi akademik, karena keduanya harus sinkron. Kalau akademik saja sistem administrasi akademiknya tidak jalan ya tidak bisa, jadi harus keduanya. Kedua adalah upgreeding skill dari tendiknya, staf-stafnya, karena menjadi supporting sistem, mereka yang mengoperasionalkanya. Ketiga, tentu saja keterbukaan pemimpin PT atau lembaga pendidikan akan perkembangan ini.

Prof. Hj. Dra. Rachmah Ida M.Comms., Ph.D.: Pendidikan harus bisa menjadi penyeimbang teknologi. Kalau tidak, masyarakat kita akan dihantam teknologi. Manusia yang menciptakan, manusia juga yang dikalahkan teknologi. Itu tantangan kita sekarang. Jadi, kita harus menyiapkan generasi yang bisa menjadi pengkritik teknologi, dan menjaga keseimbangannya.

Komunita: Apa yang harus kita waspadai, dampak dari Metaverse untuk menjaga kualitas pendidikan dan pengajaran nilai-nilai peserta didik?

Prof. Hj. Dra. Rachmah Ida M.Comms., Ph.D.: Pertama, kita harus mewaspadai regulasi (cyber law), kecuali ITE, tidak mengatur terjadinya crime, seperti plagiarism, copy paste, pencurian, itu ancaman kita. Kedua, ancaman kita adalah HOAX (kebohongan). Misalkan dosen mengambil sumber pengajaran dan tahunya HOAX, ya sudah selesai. Dan lainnya adalah hambatan software. Kita harus melawan juga malware/virus dengan security system.

  Kesimpulannya: Institusi pendidikan tidak bisa independen dari perkembangan industri kapitalisme teknologi. Mau tidak mau harus ikut perkembangannya. Persiapannya adalah kita mempersiapkan konten dan wadahnya. Kita harus kuat dikontennya baru wadahnya. Jika ingin bersaing dengan teknokrat-teknokrat meraup banyak keuntungan dari teknologi maju ini, pendidikan harus bisa menjadi penyeimbangnya. Kalau tidak, masyarakat kita akan sangat tertinggal, dan dihantam oleh teknologi. Buktinya sekarang masyarakat kita membeli quota internet 100 ribu adalah hal yang mudah, bahkan kelas menengah ke bawahpun menggangap quota ini murah. Bagi mereka lebih baik membeli quota daripada makan. Supaya mereka bisa tiktokan, twitteran, bisa tetap instagraman, yang penting mereka beli quota daripada makan. Kalau seperti itu, maka kita akan kalah dengan teknologi, manusia yang menciptakan, manusia juga yang dikalahkan teknologi. Itu tantangan kita sekarang. Kita harus menyiapkan generasi yang bisa menjadi pengkritik teknologi, dan menjaga keseimbangannya. (lili_irahali – 9 Juni 2022)

(Rewrite & Interview: Lili Irahali – Audio to transcript: Yanda Ramadana)  

URUN REMBUG UNTUK PENDIDIKAN INDONESIA MASADEPAN: Harapan, Tantangan, dan Fokus Kejaran

                                                        

URUN REMBUG UNTUK PENDIDIKAN INDONESIA MASADEPAN: Harapan, Tantangan, dan Fokus Kejaran

Bachrudin Musthafa, Ph.D.

Professor of Literacy Studies, UPI Bandung

.

  Sudah sering dipersoalkan publik terdidik mengapa pendidikan (harus) diorientasikan ke “masa depan”, dan “masa kini” (dan juga “masa lalu”). Setiap orientasi ini memiliki alasannya sendiri. Semua kajian tentang arti penting tatapan dan pertimbangan masa lalu, masa kini, dan masa depan seyogianya mengingatkan kita pada pentingnya fokus perhatian dan belajar memanfaatkan kesempatan yang dijalani dengan harapan dan keyakinan kita dapat memperbaiki keadaan.

  Dalam ajaran Islam ditegaskan adagium seperti ini: hari ini harus lebih baik dari kemarin; masa depan harus disiapkan agar lebih baik dari hari ini. Sedangkan masalalu merupakan residu pengalaman untuk dipelajari dan dijadikan pijakan sebagai titiktolak perbaikan yang berkesinambungan. Inilah, agaknya, pijakan yang harus kita sepakati sebagai negara-bangsa agar pendidikan di Indonesia semakin baik dan memberdayakan bagi masyarakat Indonesia yang dilayaninya.

  Komunita edisi kali ini menghadirkan narasumber ahli Media Komunikasi Politik, Film Studies, dan Digital Media: Prof. Rachmah Ida, Ph.D. dari UNAIR. Dalam format wawancara tertulis, Komunita menyajikan pemikiran Prof. Rachmah Ida sekaitan dengan metaverse dan teknologi yang mendukungnya.

  Untuk sumbangan tulisan kali ini, saya ingin membatasi topik pembicaraan seputar beberapa hal saja yang disinggung Prof. Rachmah Ida, khususnya yang bertalian dengan (1) isu benturan budaya, (2) jurang pemisah antara dosen senior (yang mungkin gaptek) dan dosen muda (yang lincah berteknologi tetapi memerlukan pembinaan dalam hal academic content-knowledge), (3) gagasan tentang pengembangan generasi muda yang literat teknologi dan berjiwa “Indonesiani” dengan tatanilai yang “pancasilais”; dan (4) catatan akhir sekaitan dengan pengawalan mutu pendidikan di Indonesia yang lebih sistematis di masa depan.

  Urutan penyajian gagasan pada artikel ini akan mengikuti alur yang telah diindikasikan pada alinea di atas.

Benturan Budaya: High Context Culture versus Low Context Culture   

  Di bagian awal wawancara, ketika menjelaskan metaverse dan teknologi yang mendukungnya, Prof. Rachmah Ida menegaskan bahwa teknologi tidak bebas-nilai: metaverse yang lahir dari “Barat” mengusung tata-nilai Barat– yang tidak-kompatibel dengan yang tengah ditegakkan di dalam sistem Pendidikan Nasional kita di Indonesia.

  Lebih tegasnya, metaverse yang lahir dari Barat mengusung nilai “equality” (equalivity before the law dan liberal arts). Dalam perspektif orang Barat, yakni tempat kelahiran teknologi metaverse ini, pendidikan adalah demokratisasi.

  Sedangkan bagi Indonesia, nilai yang dibawa teknologi lewat metaverse mengusung paham tertentu, yang pastinya tidak-netral. Dalam sistem pendidikan di Indonesia, yang secara kategorikal termasuk “high-context culture”, salahsatu pesan penting pendidikan adalah “mendidik akhlak dan moral”—oleh karena itu, di Indonesia tata-nilai dan sikap-moral itu penting.

  Dengan kata lain, dalam pendidikan di Indonesia, “moral ethics baggage” merupakan salahsatu indikator penting dalam menu kurikulum di Indonesia.

  Lantas bagaimana posisi teknologi (termasuk metaverse) untuk pendidikan di Indonesia? Bagaimana sikap pendidikan nasional di Indonesia terhadap aspek fasilitatif produk teknologi semisal zoom, whatsapp, dan video bagi kualitas konten dan cara belajar pembelajar di Indonesia?

  Dalam wawancara dengan Komunita yang dirujuk di depan, narasumber kita mengatakan bahwa kita harus memanfaatkan sebaik-baiknya produk teknologi itu untuk kemaslahatan pendidikan dan pembelajaran bagi peserta-didik kita. Sementara itu, mengingat potensi infiltratif produk teknologi yang dimaksud, pendidikan di Indonesia harus mulai waspada dan mulai memikirkan langkah antisipatif bagi “keamanan” tata-nilai moralitas dan sopan-santun Ke-Indonesia-an dan tata-cara gaul Pancasilais yang tengah diupayakan dikukuhkan dalam peserta-didik yang belajar bersama kita.

  Dalam kaitannya dengan pembiasaan secara selektif memanfaatkan produk-produk teknologi yang bermanfaat bagi pendidikan di Indonesia—khususnya yang telah terbukti menyelamatkan pendidikan di Indonesia seperti zoom, whatsapp, dan video dangan berbagai turunannya yang kian hari kian banyak jumlahnya – pesan narasumber adalah bahwa Indonesia harus mulai menyiapkan generasi anak-anak muda terpilih yang dapat dan mampu diamanahi mengkritik teknologi (yang pantas diwaspadai) dan menjaga keseimbangan dalam arah perkembangannya dengan amanah sikap-moral utama yang dititipkan melalui tata-cara gaul Pancasilais yang dimaksud di muka.

Jurang Pemisah antara Dosen Senior (yang mungkin Gaptek) dan Dosen Junior (yang Lincah Secara Teknologis)

  Prof Rahmah Ida—sambil lalu menyinggung kekuatiran tentang sikap kita di Indonesia yang cenderung buru-buru dan kurang hati-hati dalam mengambil pilihan dan arah pengembangan sistem pendidikan untuk masa depan. Dalam artikel saya kali ini, saya ingin menyumbangkan sedikit catatan tambahan sebagai follow-up terhadap “sistem hybrid” yang ditawarkan Prof. Rachmah Ida dalam mengelola format pembelajaran dengan pola “tujuh pertemuan daring” dan “tujuh pertemuan tatap muka”.

  Dalam pola yang disebutkannya sebagai “hibrida” ini, Prof. Rachmah Ida belum mengartikulasikan secara eksplisit mau diapakan dosen senior yang cenderung gaptek dan mau diapakan dosen junior yang cenderung melek-teknologi ketika mengajar menggunakan modalitas yang disebut hibrida itu.

  Sebagai penulis artikel, saya ingin mengedepankan format “collaborative teaching” untuk membantu mempercepat pengembangan keterampilan dosen di Perguruan Tinggi dengan cara seperti berikut.

  Pertama, alih-alih membiarkan dosen senior dan dosen junior membagi dua beban kerja menjadi daring (dalam jaringan seperti memanfaatkan zoom dan teknologi lainnya) dan luring (di luar jaringan atau “tatap muka” langsung), dengan motif memelihara kebiasaan memberi kuliah online seperti menggunakan modus online, saya cenderung memanfaatkan kesempatan ini untuk menghadirkan dua kelompok dosen untuk bekerjasama: saling mengisi dan membelajarkan. Kedua kelompok dosen yang dimaksud adalah seperti yang digambarkan berikut ini:

Kelompok dosen senior (dalam usia kronologis dan usia kepangkatan). Kelompok senior pada umumnya memiliki pengetahuan bidang studi (content knowledge dan methodology dalam bidang studinya) yang kuat dan berpengalaman dalam membaca dan menulis dalam bidang studinya. Namun—mungkin karena usianya yang relatif lanjut dan tidak banyak memiliki waktu luang untuk menjelajahi hal-hal baru —pada umumnya para dosen senior ini kemampuan dan keterampilan teknologinya terbatas. Khususnya sekaitan dengan mode of learning dengan menggunakan produk teknologi mutakhir.
Kelompok dosen muda-usia lebih gandrung terhadap produk teknologi mutakhir dan—oleh karena itu, pada umumnya—lebih lincah dalam ber-olah-teknologi dibandingkan para senior mahagurunya. Akan tetapi, para junior ini belum lama berkenalan dengan bidang studi dan seluk-beluk konsep keilmuannya, dan—oleh karena itu—belum menguasai secara kukuh bidang studinya. Dalam posisi semacam ini orang muda ini relatif terbatas pengalaman mengajarnya: terbatas pengetahuan teoretisnya, terbatas pengetahuan teknis dalam metodologi penelitian dan pengetahuan kasus yang relevan dengan Bidang Studinya.
Dengan karakteristik semacam itu—kedua kelompok dosen ini—yang senior dan yang junior dapat diposisikan dalam status saling memerlukan dan saling menguatkan kelemahan-kelemahan yang dimilikinya.

Bagaimana caranya?

  Dalam format collaborative learning kedua belah pihak dapat mendiskusikan dan kemudian menyepakati topik-topik utama dan pengetahuan konseptual utama yang hendak diajarkan. Pastikan kedua-belah pihak menyepakati indikator-indikator utama pemahaman dari topik yang hendak diajarkan. Juga perlu disepakati adalah prosedur pemahaman yang harus dilalui dalam rangka memahami konsep-konsep utama yang dimaksud dan apa tanda-tanda pemahaman (indikator) yang dapat dipegang sebagai acuan penilaian.

  Dari deliberasi tentang konten bidang studi ini, dosen junior dapat menangkap isi matakuliah yang dianggap penting, dan tinggal sekarang giliran dosen junior ini memikirkan modalitas penyampaiannya melalui bantuan teknologi.

  Dalam hal ini dosen junior dapat mengambil posisi sebagai “instruktur” sekaitan dengan modalitas-belajar berbantuan teknologi (technology-assisted learning mode) yang dimaksud, yang kedalaman konsep dan wawasan keilmuannya diperoleh dari sumbangan dosen senior yang menjadi mentor dan mitra mengajarnya.

  Apabila kita—sebagai institusi di Indonesia—dapat membudidayakan “collaborative learning” sebagai modalitas utama untuk saling membelajarkan di antara sesama dosen, insya Allah kita dapat mendekati lebih lekat lagi konsep saling-membelajarkan yang diajarkan agama kita, khususnya Islam.

Gagasan pengembangan generasi muda yang literat teknologi dan berjiwa “Indonesiani” dan tatanilai yang “pancasilais”

  Seperti diungkapkan secara eksplisit dalam sub judul di atas, gagasan yang gamblang dan sederhana ini dalam realitas dan praktiknya di lapangan—saya kuatir– tidak akan semudah yang dibayangkan. Seperti juga diindikasikan dalam cara pikir yang disampaikan narasumber Prof. Rachmah Ida yang dijadikan figur sentral dalam Komunita kali ini, pendidikan nilai di Indonesia masih akan menghadapi berbagai benturan dan perjuangan panjang. Beberapa isu pokok yang langsung tampak dalam mata-batin kita adalah, antara lain, ini: universalitas nilai dan kode-etik sosial (social code of ethics).

  Masalah ini bukan perkara sederhana karena kita menganut pluralisme agama dan plularisme budaya. Sementara beberapa hal sepintas tampak gamblang dan “mudah diatur”—dalam realitasnya—hal-hal semacam ini lebih tepat diposisikan sebagai “regulative ideals” (atau cita-cita pemandu pandangan) dan bukan dalam tataran panduan praktis implementatif.

  Itulah mengapa—dalam hal yang satu ini—Sistem Pendidikan Nasional Indonesia telah menelan sedemikian besar sumberdaya terbaik yang dimiliki negeri ini, tetapi tanpa menghasilkan simpulan yang jelas dan pasti. Dengan tetap bersemangat dengan cara melihat masalah ini sebagai “jihad kependidikan”, Sistem Pendidikan Nasional kita harus tetap didukung dengan semangat yang gegap-gempita. Ini merupakan “jihad kolektif” sepanjang hayat yang hasilnya tidak dapat ditunggu dengan kepastian dan hitungan masa yang sederhana.

Catatan akhir pengawalan mutu pendidikan di Indonesia yang dikuatirkan akan lebih genting di masa depan

  Melalui Komunita masalah mutu pendidikan Indonesia telah sering diperbincangkan tetapi tidak pernah tuntas, karena selalu parsial dan hanya menekankan pada satu-dua aspek saja dari kompleksitas masalah yang dihadapi.

  Mutu pendidikan dan pembelajaran ini memang merupakan masalah kompleks yang di dalamnya menyangkut banyak variabel dengan berbagai kemungkinan (komposisi) variabel yang kompleks. Dengan kata lain, saya ingin menekankan, bahwa masalah mutu pendidikan dan pembelajaran bukan masalah ringan yang dapat diselesaikan dalam tempo yang cepat. Bagaimana masalah mutu pendidikan dan pengajaran dapat digambarkan secara relatif akurat?

  Jawabannya mungkin tidak dapat dirumuskan dengan singkat dalam forum ini karena—menurut otoritas di KEMENDIKNASRISTEK yang pernah saya tanya—masalah mutu pendidikan dan pengajaran di Indonesia merupakan “masalah yang cair” yang dari waktu ke waktu perlu didefinisikan dan didefinisikan-kembali. It’s a fluid matter to be defined and redefined from one moment to another.

  Meskipun demikian, sebagai suatu ikhtiar kita tetap saja memerlukan patokan-patokan, meski sesederhana apapun patokan itu. Inilah yang saya maksudkan dengan pancangan kualitas sebagai “regulative ideal”: sebagai suatu gambaran yang ada di depan atau yang berada di atas yang kita hanya dapat dekati secara relatif, namun tak pernah dapat kita capai sebagai sesuatu yang final.

  Karena, masalah titik final dalam masalah ini berarti titik henti. Kita berhenti hanya ketika kita mati.

Wallahu a’lam bisshawaab. (Hari Raya Agung 2022, Bachrudin Musthafa)     

.

Fakultas DKV UTama dalam: “Sepuluh Juta Pohon Dalam Poster: Gerakan Nasional Revolusi Mental”

Fakultas DKV UTama dalam:

“Sepuluh Juta Pohon Dalam Poster: Gerakan Nasional Revolusi Mental”

Poster Aksi Nyata

    Belum lama ini FDKV UTama bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Republik Indonesia mempromosikan pro–gram  Gerakan Nasional Revolusi Mental    (GNRM)       Penanaman Sepuluh Juta Pohon. Program tersebut bertujuan mendorong gerakan masyarakat terkait pencegahan tanah longsor dan banjir, serta  kemandirian ekonomi masyarakat.       Dekan   FDKV UTama Drs. Deden Maulana, A., M.Ds. menjelaskan pelaksanaan GNRM memerlukan kolaborasi partisipatif (pentahelix) dalam mewujudkan lima program GNRM, yaitu Gerakan Indonesia Melayani, Gerakan  Indonesia Bersih, Gerakan Indonesia Tertib, Gerakan Indonesia Mandiri, dan Gerakan  Indonesia Bersatu. FDKV UTama melibatkan para mahasiswa untuk berpartisipasi secara langsung melalui karya visual berupa poster yang dibuat dengan desain yang menarik.   

  Karya desain poster mahasiswa Fakultas Desain Komunikasi Visual Universitas Widyatama:

1.Karya Andri Nur Alamsyah 

Desain posterDesain poster Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Penanaman Sepuluh Juta Pohon Kemenko PMK karya Andri Nur Alamsyah.

.

.

.

.

Poster2. Karya Andri Nur Alamsyah dan Deni Irwansyah

Desain poster Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Penanaman Sepuluh Juta Pohon Kemenko PMK karya Andri Nur Alamsyah (kiri) dan Deni Irwansyah (kanan).

.

.

.

.

.

3. Karya Eka Nugara P. dan Deni Irwansyah

Poster 3Desain poster Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Penanaman Sepuluh Juta Pohon Kemenko PMK karya Eka Nugraha P. (kiri) dan Deni Irwansyah (kanan).

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

4. Karya Henandry Samanta Damanhuri

Poster 4Desain poster Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Penanaman Sepuluh Juta Pohon Kemenko PMK karya Henandry Samanta Damanhuri.

.

.

.

.

.

.

.

5. Karya Mijil Taji P.L. dan Kafqa Al Falah

Poster 5Desain poster Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Penanaman Sepuluh Juta Pohon Kemenko PMK karya Mijil Taji P.L. (kiri) dan Kafqa Al Falah (kanan).

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

6. Karya  Anoname dan Mijil Taji P.L.

Poster 6Desain poster Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Penanaman Sepuluh Juta Pohon Kemenko PMK karya Anoname (kiri) dan Mijil Taji P.L. (kanan).

.

.

.

.

.

.

7. Karya Nikanor Tambunan

Poster 7Desain poster Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Penanaman Sepuluh Juta Pohon Kemenko PMK karya Nikanor Tambunan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

8. Karya Nokolaus Tambunan

Poster 8Desain poster Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Penanaman Sepuluh Juta Pohon Kemenko PMK karya Nikolaus Tambunan.

.

.

.

.

.

9. Karya Roihan Adham

Poster 9Desain poster Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Penanaman Sepuluh Juta Pohon Kemenko PMK karya Roihan Adham.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

10. Karya Sela Juniarti

Poster 10Desain poster Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Penanaman Sepuluh Juta Pohon Kemenko PMK karya Sela Juniarti.

.

.

.

.

.

.

.

11. Karya M. Hafizd faizal R.

Poster 11Desain poster Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Penanaman Sepuluh Juta Pohon Kemenko PMK karya M. Hafizd faizal R.

.

.

.

.

.

.

Sumber: Fakultas DKV – Universitas Widyatama/UTama – 24/06/2022

Gunung Bromo yang Mempesona

.

Gunung Bromo yang Mempesona

.

C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\DSCF8704.jpg     

C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\DSCF8690.jpg     

Pemandangan Kawah Gunung Bromo pada pagi hari, Foto: Dok.Hai Bromo

  Taman Nasional Bromo Tengger Semeru adalah tempat wisata Gunung Bromo yang terletak di Jawa Timur. Tepatnya, diantara empat kabupaten yaitu Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Luzmajang, dan Kabupaten Malang. Tidak heran kalau Gunung Bromo memiliki kawasan yang sangat luas.

Tentang Bromo

  Gunung Bromo atau dalam bahasa Tengger dieja “Brama“, juga disebut Kaldera Tengger, adalah sebuah gunung berapi aktif di Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut dan berada dalam empat wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang. Gunung Bromo terkenal sebagai objek wisata utama di Jawa Timur. Sebagai sebuah objek wisata, Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif. Gunung Bromo termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Nama Bromo berasal dari nama dewa utama dalam agama Hindu, Brahma.

  Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. Ia mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.

  Untuk menikmati keindahan alam di Gunung Bromo, sebelumnya pengunjung harus membeli tiket masuk secara online melalui website karena Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) tidak menyediakan layanan pembelian tiket secara offline. Berapa harga tiket masuk Bromo? Harga tiket wisata Bromo untuk wisawatan domestic, Rp 29.000 di hari kerja dan Rp 34.000 di hari weekend. Sedangkan untuk wisatawan manca negara, harga tiket Rp 220.000 untuk hari kerja dan Rp 320.000 untuk weekend. Calon pengunjung akan diminta melengkapi identitas diri untuk keperluan tiket masuk dan pembayaran akan dilakukan melalui transfer.

Apa bisa ke Bromo naik mobil pribadi?

  Wisatawan bisa membawa mobil pribadi ke Bromo, tapi hanya sampai di pintu masuk Bromo / rest area Bromo saja. Untuk memasuki kawasan wisata Bromo, pengunjung diharuskan menyewa Jeep / Toyota Hardtop 4X4 seperti ketentuan yang berlaku.

C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\DSCF8708.jpg   C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\DSCF8753.jpg

Foto by Dok. Hai Bromo

C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\DSCF8714.jpg  C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\DSCF8727.jpg

Foto by Dok. Hai Bromo

  Pengunjung harus menyewa mobil Jeep untuk berkeliling di Kawasan Gunung Bromo. Untuk satu mobil Jeep bisa membawa 5-6 orang dengan kisaran harga 600-800 ribu rupiah. Dengan harga tersebut, pengunjung bisa menikmati pemandangan Gunung Bromo sepuasnya karena tidak ada batasan waktu untuk keluar dari kawasan sampai waktu tutupnya TNBTS. Jadi, jangan khawatir, dengan biaya tersebut pengunjung akan diantarkan keluar sampai selesai. Dijamin naik mobil Jeep di Bromo asik banget loh, apalagi bisa naik di rooftop nya ! Sensasi jalanan pegunungan yang naik turun dan bergelombang benar-benar membuat jantung deg-degan tapi happy banget!!

  Ketika masuk ke kawasan Gunung Bromo, pengunjung akan melihat pemandangan bukit-bukit, hamparan Bunga Edelweiss, dan padang rumput yang indah banget. Umumnya, pertama kali pengunjung akan diantarkan ke sunrise point Bromo Lalu pengunjung akan diantar ke padang rumput sampai ke kaki Gunung Bromo sampai ke Bukit Teletubbies. Nah, di sunrise point Bromo pengunjung bisa melihat Gunung Bromo dengan jelas dan menikmati hamparan pasir. Di Gunung Bromo juga ada kawah yang sangat bagus. Dari kawah ini pengunjung bisa melihat pemandangan sunrise di pagi hari dan sunset di sore hari. Namun, jarak dari bawah sampai ke kawah Gunung Bromo cukup jauh yaitu berkisar kurang lebih 2 km. Pengunjung bisa berjalan kaki atau menaiki kuda untuk sampai ke kawah Bromo. Harga sewa kuda yang ditawarkan berkisar antara 150-200 ribu rupiah dan sudah termasuk turun ke bawah. Kebayangkan, pasti banyak spot-spot foto yang instagramable banget!

  Oh iya jangan memetik Bunga Edelweiss di kawasan Bromo yak karena kalian bisa kena sanksi lhoo, Bunga Edelweiss ini juga banyak dijual loh secara legal karena sudah ada yang membudidayakannya! Warna asli Bunga Edelweiss adalah putih. Tetapi, ada juga Bunga Edelweiss yang dirangkai warna-warni seperti perpaduan warna hijau, ungu, kuning yang tidak kalah cantik.

Ada buket Edelweis yang dijual ilegal di kawasan bromo, namun cobalah kunjungi desa Wonokitri, di sana ada budidaya Edelweis dan menjualnya secara legal.Foto dok by : Yukpigi

.

Ada buket Edelweiss yang dijual ilegal di kawasan Bromo, namun cobalah kunjungi Desa Wonokitri, disana ada budidaya Edelweiss dan menjualnya secara legal.

.

Ini Dia Informasi Seputar Wisata Gunung Bromo di Jawa Timur! (1)Bunga Edelweiss, Foto: Dok. Google

Satu hal yang juga penting adalah ketahui cuaca kawasan Gunung Bromo sebelum berencana liburan. Pada umumnya, waktu yang bagus untuk berwisata adalah pada musim kemarau karena udaranya akan sejuk. Hindari berlibur pada musim hujan karena kawasan Gunung Bromo dikelilingi pasir yang ketika hujan akan berair dan tentunya sangat menganggu.

C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\DSCF8717.jpg     

Bukit-bukit dan Sunrise Point di Gunung Bromo. Foto: Dok. Hai Bromo

  Nah, jangan lupa untuk berbekal makanan ya dan juga memakai jaket, topi, kaos kaki, dan kalau perlu sarung tangan karena udara di Gunung Bromo sangat sejuk dan dingin banget. Have fun Guys !!!

.

By Yanda Ramadana, Juni 2022

IAU (International Association of Universities)/ Asosiasi Internasional Universitas

IAU (International Association of Universities)/

International Association of Universities logo and wordmark English.png Asosiasi Internasional Universitas

  Di tengah dinamika perubahan yang semakin cepat, banyak institusi pendidikan tinggi menggabungkan sumber daya mereka, sehingga mereka dapat berbagi informasi dan sumber daya, mengkoordinasikan agenda penelitian, dan saling mendukung satu sama lain. International Association of Universities (IAU) adalah Asosiasi yang dibentuk di bawah naungan UNESCO pada 9 Desember 1950 selama Konferensi Internasional Universitas di Nice. Tujuannya untuk mendorong kerjasama antara lembaga pendidikan tinggi di seluruh dunia.

  International Association of Universities (IAU) adalah organisasi non-pemerintah yang dipimpin dari keanggotaan di bidang pendidikan tinggi. Beranggotakan 650 institusi dan organisasi pendidikan tinggi dari sekitar 130 negara. IAU merupakan mitra resmi UNESCO dengan Sekretariat berdomisili di Paris di kantor pusat UNESCO. IAU mengadvokasi pendidikan tinggi sebagai kebaikan bersama global, penting untuk pengembangan masyarakat yang berkelanjutan. Promosi peluang didasarkan pada kepercayaan, rasa hormat, dan saling pengertian untuk menyoroti peran universitas sebagai aktor utama yang berkontribusi dalam menciptakan masa depan yang berkelanjutan untuk planet kita dan untuk generasi mendatang.

  Ide awal pembentukan Asosiasi dimulai pada tahun 1930-an, namun harus menunggu sampai tahun 1947, ketika panggilan resmi untuk membentuk Asosiasi dikeluarkan pada Konferensi Umum UNESCO ke-3, di Meksiko oleh Menteri Pendidikan Meksiko saat itu, Dr. Torres Bodet. UNESCO selanjutnya menyelenggarakan Konferensi Persiapan Perwakilan Universitas di Universitas Utrecht pada tahun 1948, pada saat itu dukungan struktur resmi untuk Asosiasi global ini dibentuk. Konferensi Umum IAU pertama berlangsung di Nice pada tahun 1950.

  Maksud dan tujuan umum IAU pada waktu itu adalah “untuk menyediakan pusat kerjasama di tingkat internasional antara universitas dan lembaga pendidikan tinggi sejenis dari semua negara, serta antara organisasi di bidang pendidikan tinggi pada umumnya, dan memberi advokasi untuk keprihatinan mereka” (Konstitusi IAU, pasal 2).

  Pada tahun enam puluhan, perkembangan penting adalah pembentukan Komite Pengarah Bersama UNESCO-IAU untuk penelitian internasional tentang isu-isu substantif yang dihadapi universitas di seluruh dunia, dan diketuai bersama oleh Direktur Jenderal UNESCO dan Presiden IAU. Tahun enam puluhan merupakan masa refleksi atas visi masa depan IAU di luar kegiatan rutinnya. Presiden IAU, Frank Cyril James, membentuk Komite Pengembangan untuk mempertimbangkan arah masa depan Asosiasi.

  Tujuh puluhan melihat inisiatif baru yang keluar dari Konferensi Montreal (1970) – peluncuran seri Seminar IAU. Seminar pertama yang melihat masalah pendidikan tinggi terpadu diadakan pada tahun 1971 di Jerman, dan diikuti serangkaian seminar yang diselenggarakan setiap tahun atau dua tahun sekali. Secara umum, pada dekade ini terlihat peningkatan pembentukan badan-badan regional dan organisasi-organisasi yang menangani pendidikan tinggi. UNESCO bekerja sama dengan IAU dalam pembentukan Pusat Pendidikan Tinggi Eropa UNESCO (CEPES) pada tahun 1972, Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNU) pada tahun 1973, dan Pusat Pendidikan Tinggi Regional UNESCO di Amerika Latin dan Karibia (CRESALC) pada tahun 1974 – pendahulu UNESCO International Institute for Higher Education di Amerika Latin dan Karibia (IESALC) pada 1997.

  Tahun delapan puluhan membawa perubahan, baik dalam hal kepemimpinan di Sekretariat IAU maupun dalam hal operasi dan kemungkinan di era baru “komputerisasi”. Sebuah publikasi baru diluncurkan pada tahun 1988, Kebijakan Pendidikan Tinggi (HEP), sebuah jurnal penelitian peer-review. IAU bekerja sama erat dengan UNESCO dalam digitalisasi layanan informasi dan meluncurkan inisiatif inovatif, termasuk Pusat Informasi IAU-UNESCO yang dikembangkan dari Pusat Informasi awal.

  Tahun sembilan puluhan tradisi pengembangan Pernyataan Kebijakan dimulai sebagai sarana untuk menyatukan masyarakat di sekitar nilai-nilai inti, prinsip-prinsip dan isu-isu yang menjadi perhatian pendidikan tinggi, serta untuk memposisikan Asosiasi sebagai pemangku kepentingan utama dalam masyarakat. Ini termasuk Deklarasi Kyoto tentang Pembangunan Berkelanjutan (1993), Pernyataan Buenos Aires tentang Pendanaan Pendidikan Tinggi (1994) dan Kebebasan Akademik, Otonomi Kelembagaan dan Tanggung Jawab Sosial (1998). Tradisi ini berlanjut selama dekade berikutnya dengan tujuh Pernyataan Kebijakan yang dikeluarkan antara tahun 2000 dan 2014. Yang terbaru, Pernyataan IAU Iquitos tentang Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan dari tahun 2014.

  Setelah terlibat dalam Konferensi Dunia UNESCO tentang Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Bonn, Jerman, 2009), IAU diundang ke dalam Kelompok Referensi Dekade Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan PBB (UN-DESD) dan Kelompok Pengarah Internasional (ISG) dalam persiapan akhir Dekade World Conference on ESD (WC-ESD), di Aïchi Nagoya, Jepang (November 2014). Deklarasi Konferensi menggabungkan rekomendasi yang dinyatakan dalam Pernyataan IAU Iquitos tentang HESD tentang Memadukan Pendidikan Tinggi dan Pengetahuan Tradisional untuk Pembangunan Berkelanjutan yang diadopsi Dewan Administratif IAU pada Konferensi Internasional IAU 2015 di Siena.

  Internasionalisasi pendidikan tinggi menjadi ciri khas kegiatan IAU selama milenium baru. IAU meluncurkan serangkaian Laporan Global tentang Internasionalisasi Pendidikan Tinggi. Sampai saat ini, telah diterbitkan lima laporan dalam periode 2003-2019. IAU juga mengembangkan dan meluncurkan Internationalization Strategies Advisory Service (ISAS), di mana Anggota dapat memperoleh manfaat dari layanan penasihat ahli tentang strategi internasionalisasi.

  Selama dekade ini IAU mengembangkan Konferensi Tahunan di antara Konferensi Umum. Asosiasi universitas regional atau transnasional telah bekerja sama dengan IAU sejak awal. Sejak Konferensi Umum IAU pada tahun 2000 dan adopsi Konstitusi yang diamandemen, organisasi universitas dapat bergabung dengan IAU sebagai Anggota Organisasi. Selain itu, IAU juga menyambut Anggota Afiliasi, seperti jaringan universitas dan organisasi khusus, sementara individu yang terlibat dalam pekerjaan IAU juga dapat mendaftar untuk bergabung sebagai Associates. Untuk Anggota Organisasi, forum dua tahunan telah dibuat – Pertemuan Global Asosiasi (GMA).

     IAU berkontribusi dalam penyusunan dan adopsi Agenda PBB 2030 – Transforming Our World mengadvokasi peran penting pendidikan tinggi. Paling tidak melalui Pernyataan IAU Iquitos, dan IAU meluncurkan serangkaian survei global untuk memantau kontribusi pendidikan tinggi yang berkembang terhadap pembangunan berkelanjutan. Survei pertama dilakukan pada tahun 2016 dan yang kedua pada tahun 2019. Pada tahun 2018, IAU meluncurkan Global Cluster on HESD untuk mempromosikan peran institusi pendidikan tinggi dalam membangun masyarakat yang lebih berkelanjutan, bertindak sebagai suara pendidikan tinggi di Forum Politik Tingkat Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (HLPF), khususnya dengan Asosiasi Universitas Persemakmuran (ACU) dan Agence Universitaire de la Francophonie (AUF).

  Program pengembangan kepemimpinan diluncurkan pada tahun 2015, yang dikenal sebagai Universitas Terkemuka Secara Global (LGEU) yang terbuka berdasarkan prioritas bagi Anggota IAU. Pada tahun 2015, IAU World Higher Education Database (WHED) diluncurkan sebagai portal online bekerja sama dengan UNESCO, memberikan informasi otoritatif pada lebih dari 19.000 institusi pendidikan tinggi di seluruh dunia dan sekitar 196 sistem pendidikan tinggi. Pada tahun 2019, fitur baru diluncurkan untuk memfasilitasi identifikasi HEI: Global WHED ID – kode digital unik untuk setiap HEI di WHED – dan ini dikembangkan untuk mendukung Konvensi Global UNESCO tentang pengakuan kualifikasi pendidikan tinggi.

  Rencana Strategis 2016-2022, diadopsi selama Konferensi Umum IAU ke-15, di Bangkok pada tahun 2016, memperdalam fokus IAU pada empat tema prioritas pendidikan tinggi utama: kepemimpinan, internasionalisasi, pembangunan berkelanjutan, dan transformasi digital pendidikan tinggi sambil meningkatkan dukungan dan layanan untuk Anggota serta meningkatkan visibilitas dan keterlibatan mereka.

  Transformasi digital Perguruan Tinggi menjadi bagian dari prioritas strategis baru Asosiasi yang tertuang dalam Renstra terakhir. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah menjadi topik penting di masa lalu, beberapa kelompok kerja dan proyek telah dikhususkan untuk bidang ini, dan sebuah pernyataan tentang Universitas dan TIK diadopsi pada Konferensi Umum pada tahun 2004. IAU membentuk sebuah Expert Advisory Group pada tahun 2018 untuk mengembangkan pernyataan kebijakan baru untuk menguraikan prinsip-prinsip dan nilai-nilai utama yang harus membentuk transformasi digital masyarakat pendidikan tinggi.

  Seiring waktu, IAU telah dan terus mencapai tujuannya melalui pengembangan dan berbagi pengetahuan, analisis tren, publikasi dan portal khusus, layanan konsultasi, pelatihan dan pembelajaran peer-to-peer, serta advokasi dan representasi global. Keterlibatan IAU dalam inisiatif internasional semakin menonjol dan berlapis-lapis.

Sumber: https://iau-aiu.net/; https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_higher_education_associations_and_alliances#Global

Dunia Dibalik Metaverse

.

Dunia Dibalik Metaverse

Mungkin ada beberapa orang yang sedikit asing dengan istilah metaverse atau dalam kamus besar bahasa Indonesia disebut metasemesta. Metaverse adalah dunia virtual yang memungkinkan antar pengguna dapat saling terhubung, dapat berkomunikasi, bekerja, bermain, sampai bertransaksi layaknya di dunia nyata. Istilah metaverse pada dasarnya sampai saat ini belum ada yang mendefinisikan secara pasti (sumber : dewaweb.com), belum ada arti yang benar menggambarkan apa sebenarnya metaverse itu. Dengan pemahaman yang masih minim, manusia mencoba menjelaskan metaverse ini ke berbagai artian menurut versinya masing masing.

  Manusia memang unik, sudah ada dunia nyata masih juga ingin menciptakan dunia maya. Jangan sampai dunia metaverse ini menjadi kemunduran bagi dunia ini karena interaksi dengan manusia lainnya menjadi rusak seiring dengan berkurangnya aktivitas fisik.

.

Asal Muasal Metaverse

  Istilah metaverse pertama kali diungkapkan dalam novel fiksi ilmiah Niel Stephenson tahun 1992, berjudul Snow Crash, dimana manusia digambarkan sebagai avatar yang berinteraksi satu sama lain dengan perantara perangkat lunak dalam ruang tiga dimensi yang menggunakan metafora digital (sumber: infokumputer.com).

  Dalam dunia pendidikan dunia virtual bukanlah suatu sistem yang asing lagi, bahkan semenjak pandemi Covid-19 muncul di tahun 2020 hampir 90% pembelajaran dilakukan secara virtual. Metaverse dikembangkan berdasarkan kebutuhan masyarakat yang mulai beralih ke dunia digital dengan alih alih mempermudah aktivitas manusia dan untuk mempersiapkan masa depan yang canggih.

  Dalam dunia digital metaverse lebih sering diasumsikan sebagai suatu ruang tiga dimensi yang bisa kunjungi siapa saja dengan menggunakan perangkat yang dikenal dengan Augmented Virtual (AR) dan Virtual Reality (VR). Atau di kalangan pencinta game metaverse lebih sering diartikan sebagai ruang bermain tiga dimensi dimana manusia seolah olah masuk ke dunia digital menggunakan perangkat lunak seperti kacamata VR.

.

Implementasi Metaverse di berbagai aspek kehidupan

Dunia olahraga

  Bike trainer salah satu alat olahraga bersepeda yang bisa dihubungkan ke sistem atau aplikasi sepeda virtual. Alatnya mirip sepeda statis, namun kelebihannya kita bisa menyambungkan alat ini ke aplikasi permainan sepeda yang ditampilkan di tv, seolah olah kita bersepeda di dunia tiga dimensi. Keunikan lainnya yaitu kita bisa membuat avatar yang didesain sesuai keinginan kita. Bike trainer biasanya digunakan oleh atlit sepeda untuk berlatih di rumah. Namun lagi lagi bike trainer mulai booming setelah Covid-19 melanda.

Dunia pendidikan.

  Dalam praktiknya kini sudah banyak dunia pendidikan yang menggunakan ruang virtual untuk proses belajar, contoh zoom meeting. Lalu seperti apakah gambaran pendidikan yang dilakukan di dunia metaverse? Seperti yang disebut di atas bahwa metaverse adalah sebuah ruang virtual 3 dimensi, maka mungkin ke depannya pelajar/mahasiswa tidak perlu datang ke gedung tempat mereka belajar. Di dunia metaverse gedung-gedung yang dibuat mungkin bisa lebih megah daripada gedung yang ada di dunia nyata, dan misal dalam pelajaran sejarah bapak/ibu guru bisa mengajak siswanya kembali melihat sejarah di tahun-tahun yang sudah terlewat. Bisa melihat gambaran suasana yang diciptakan sedemikian rupa di dunia metaverse agar siswa lebih bisa memahami pelajaran tersebut.

  Atau contoh lainnya dalam praktik di perkuliahan kedokteran. Saat praktik menelaah organ tubuh hewan/manusia kini tidak perlu menggunakan media yang sungguhan dan cukup menggunakan hewan/manusia virtual. Terlebih lagi semua kegiatan pembelajaran bisa dilakukan di manapun tidak harus di gedung sekolah atau di gedung universitas.

  Metaverse membutuhkan teknologi internet yang cepat dan lancar, masalah biaya juga akan menjadi kendala karena semua hal itu harus dilakukan dengan serangkaian trial error. Metaverse juga membuat beberapa kegiatan terlihat lebih mudah dan menghemat biaya. Namun pada pelaksanaannya metaverse masih membutuhkan pengembangan, pembelajaran dan implementasi yang mungkin memerlukan biaya yang cukup fantastis. Apakah kita sudah siap dengan Dunia Metaverse? (By Astriawati Jeinab, S.E.)

.

9 Tips Menjaga Kesehatan

  Siapa yang sangka di tahun 2019 merupakan tahun yang paling mencekam bagi seluruh dunia termasuk Indonesia. Tiba-tiba bulan Maret ada virus Corona yang menyerang seluruh manusia di muka dunia ini. Tahun 2022 ini sedikit longgar setelah adanya vaksinasi lambat laun virus corona sedikit menghilang tapi ada lagi virus Hepatitis Akut yang menyerang anak-anak.

  Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia memang sebaiknya diikuti karena sampai saat ini masih bermunculan virus-virus yang menyerang manusia. Berikut adalah tips sederhana tapi dengan hasil dapat menjaga kesehatan diri sendiri di tengah kesibukan.

1.Usahakan bangun pagi

Kebiasaan bermalas-malasan saat bangun mungkin dirasakan sebagian besar kita. Jika alarm berbunyi pukul 5 pagi kebiasaan kita akan bangun tiga puluh menit kemudian. Hal ini akan menyebabkan kemalasan dalam alam bawah sadar manusia. Jika dibiarkan akan menjadi kebiasaan sehingga komitmen diperlukan untuk bangun pagi terabaikan.

2.Waktu makan jangan ditunda

Berapa banyak dari kita yang sering menunda waktu makan terutama saat makan siang. Entah karena sibuk pekerjaan atau asyik bermain gadget. Stop mulai sekarang jika telah waktunya makan sebaiknya langsung makan. Jika ditunda akan terjadi ritme yang kacau saat asupan makan siang. Dan akan menimbulkan penyakit seperti maag bahkan tidak menutupkan kemungkinan asam lambung akan naik.

3.Jika waktu bekerja maka bekerjalah

Jika waktu bermain maka bermainlah. Jangan bekerja diselingi dengan main games atau sebaliknya. Bagilah otak manusia berdasarkan file seperti halnya komputer. Jika file yang dikeluarkan mengenai pekerjaan maka selesaikanlah pekerjaan dengan maksimal. Jika sudah lelah maka istirahatlah dengan menghirup udara segar atau berjalan-jalan sedikit keluar ruangan. Jangan mencampuradukan pekerjaan dengan bermain sehingga akan terasa pekerjaan yang menumpuk padahal pembagian waktu Anda yang tidak efektif.

4.Minum air putih yang cukup

Karena alasan tanggung sedang mengerjakan sesuatu maka minum akan dinantikan. Cegah sejak dini bahwa Anda harus teratur meminum air putih. Untuk dewasa minumlah setidaknya 2 liter sehari. Untuk memotivasi Anda minum sekarang banyak botol minum yang ada takarannya sehingga Anda tahu sudah berapa liter minum hari ini.

5.Berolahraga secara rutin

Jangan pernah berpikiran bahwa olahraga itu harus selalu di lapangan atau di tempat gym. Saat Anda bangun pagi dan bersiap ke kantor berhentilah beberapa meter sebelum masuk kantor dan berjalan kaki menuju ruangan Anda. Atau jika ruangan Anda berada di lantai atas setidaknya dapat menggunakan tangga jangan menggunakan eskalator atau lift. Tidak terasa bahwa Anda sedang melakukan olahraga. Jika ada waktu libur kantor jangan bermalas-malasan di kamar ayo gerakan otot Anda agar menjadi bugar.

6.Hentikan rokok dan minuman beralkohol

Jika tidak sanggup mulailah dikurangi konsumsi rokok atau alkohol Anda mulai hari ini. Sudah berapa banyak Anda mendengar orang meninggal karena kerusakan saluran pernapasan akibat rokok. Jangan sampai menimpa Anda baru berhenti. Sisihkan uang untuk rokok atau alkohol maka tidak akan terasa selain badan sehat maka tabungan Anda akan terkumpul.

7.Jaga kebersihan tempat Anda bekerja

Siapa yang akan nyaman jika ruangan tempat kita bekerja dalam keadaan kotor. Tidak ada salahnya bawalah beberapa tanaman hidup yang kuat dalam ruangan. Selain membuat sejuk dan indah untuk dilihat, ruangan Anda akan terasa lebih asri.

8.Konsumsi sayuran dan buah

Jika Anda tidak menyukai sayuran atau buah sekarang sudah banyak olahan sayur dan buah bervariasi. Ada yang dibuat salad atau dicampur dengan olahan lain sehingga sangat enak untuk dikonsumsi. Sayuran dan buah sudah kita ketahui banyak vitamin yang baik untuk tubuh. Mulailah sedikit demi sedikit konsumsi sayur dan buah. Kurangi gorengan dan makanan berminyak lainnya.

9.Kelola stress Anda

Ya stress itu perlu dikelola. Jika stress dibiarkan menumpuk maka akan melemahkan imun Anda. Berapa banyak masalah yang Anda hadapi setiap harinya yang dapat menyebabkan stress. Mengelola stress dapat dengan berbagi cerita kepada rekan kerja, olahraga teratur, meditasi atau jalan-jalan. (By Pipin Sukandi, S.E., M.M., CH., CHt., CEFT., CT., C.NSP., MNLP)

.

E-Magazine-32