Home Blog Page 16

Fakultas DKV UTama dalam: “Sepuluh Juta Pohon Dalam Poster: Gerakan Nasional Revolusi Mental”

Fakultas DKV UTama dalam:

Sepuluh Juta Pohon Dalam Poster: Gerakan Nasional Revolusi Mental

Poster Aksi Nyata

    Belum lama ini FDKV UTama bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Republik Indonesia mempromosikan program  Gerakan Nasional Revolusi Mental    (GNRM)       Penanaman Sepuluh Juta Pohon. Program tersebut bertujuan mendorong gerakan masyarakat terkait pencegahan tanah longsor dan banjir, serta  kemandirian ekonomi masyarakat.       Dekan   FDKV UTama Drs. Deden Maulana, A., M.Ds. menjelaskan pelaksanaan GNRM memerlukan kolaborasi partisipatif (pentahelix) dalam mewujudkan lima program GNRM, yaitu Gerakan Indonesia Melayani, Gerakan  Indonesia Bersih, Gerakan Indonesia Tertib, Gerakan Indonesia Mandiri, dan Gerakan  Indonesia Bersatu. FDKV UTama melibatkan para mahasiswa untuk berpartisipasi secara langsung melalui karya visual berupa poster yang dibuat dengan desain yang menarik.   

  Karya desain poster mahasiswa Fakultas Desain Komunikasi Visual Universitas Widyatama:

1.Karya Andri Nur Alamsyah 

Desain posterDesain poster Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Penanaman Sepuluh Juta Pohon Kemenko PMK karya Andri Nur Alamsyah.

.

.

.

.

Poster2. Karya Andri Nur Alamsyah dan Deni Irwansyah

Desain poster Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Penanaman Sepuluh Juta Pohon Kemenko PMK karya Andri Nur Alamsyah (kiri) dan Deni Irwansyah (kanan).

.

.

.

.

.

3. Karya Eka Nugara P. dan Deni Irwansyah

Poster 3Desain poster Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Penanaman Sepuluh Juta Pohon Kemenko PMK karya Eka Nugraha P. (kiri) dan Deni Irwansyah (kanan).

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

4. Karya Henandry Samanta Damanhuri

Poster 4Desain poster Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Penanaman Sepuluh Juta Pohon Kemenko PMK karya Henandry Samanta Damanhuri.

.

.

.

.

.

.

.

5. Karya Mijil Taji P.L. dan Kafqa Al Falah

Poster 5Desain poster Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Penanaman Sepuluh Juta Pohon Kemenko PMK karya Mijil Taji P.L. (kiri) dan Kafqa Al Falah (kanan).

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

6. Karya  Anoname dan Mijil Taji P.L.

Poster 6Desain poster Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Penanaman Sepuluh Juta Pohon Kemenko PMK karya Anoname (kiri) dan Mijil Taji P.L. (kanan).

.

.

.

.

.

.

7. Karya Nikanor Tambunan

Poster 7Desain poster Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Penanaman Sepuluh Juta Pohon Kemenko PMK karya Nikanor Tambunan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

8. Karya Nokolaus Tambunan

Poster 8Desain poster Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Penanaman Sepuluh Juta Pohon Kemenko PMK karya Nikolaus Tambunan.

.

.

.

.

.

9. Karya Roihan Adham

Poster 9Desain poster Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Penanaman Sepuluh Juta Pohon Kemenko PMK karya Roihan Adham.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

10. Karya Sela Juniarti

Poster 10Desain poster Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Penanaman Sepuluh Juta Pohon Kemenko PMK karya Sela Juniarti.

.

.

.

.

.

.

.

11. Karya M. Hafizd faizal R.

Poster 11Desain poster Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Penanaman Sepuluh Juta Pohon Kemenko PMK karya M. Hafizd faizal R.

.

.

.

.

.

.

Sumber: Fakultas DKV – Universitas Widyatama/UTama – 24/06/2022

Gunung Bromo yang Mempesona

.

Gunung Bromo yang Mempesona

.

C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\DSCF8704.jpg     

C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\DSCF8690.jpg     

Pemandangan Kawah Gunung Bromo pada pagi hari, Foto: Dok.Hai Bromo

  Taman Nasional Bromo Tengger Semeru adalah tempat wisata Gunung Bromo yang terletak di Jawa Timur. Tepatnya, diantara empat kabupaten yaitu Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Luzmajang, dan Kabupaten Malang. Tidak heran kalau Gunung Bromo memiliki kawasan yang sangat luas.

Tentang Bromo

  Gunung Bromo atau dalam bahasa Tengger diejaBrama“, juga disebut Kaldera Tengger, adalah sebuah gunung berapi aktif di Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut dan berada dalam empat wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang. Gunung Bromo terkenal sebagai objek wisata utama di Jawa Timur. Sebagai sebuah objek wisata, Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif. Gunung Bromo termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Nama Bromo berasal dari nama dewa utama dalam agama Hindu, Brahma.

  Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. Ia mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.

  Untuk menikmati keindahan alam di Gunung Bromo, sebelumnya pengunjung harus membeli tiket masuk secara online melalui website karena Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) tidak menyediakan layanan pembelian tiket secara offline. Berapa harga tiket masuk Bromo? Harga tiket wisata Bromo untuk wisawatan domestic, Rp 29.000 di hari kerja dan Rp 34.000 di hari weekend. Sedangkan untuk wisatawan manca negara, harga tiket Rp 220.000 untuk hari kerja dan Rp 320.000 untuk weekend. Calon pengunjung akan diminta melengkapi identitas diri untuk keperluan tiket masuk dan pembayaran akan dilakukan melalui transfer.

Apa bisa ke Bromo naik mobil pribadi?

  Wisatawan bisa membawa mobil pribadi ke Bromo, tapi hanya sampai di pintu masuk Bromo / rest area Bromo saja. Untuk memasuki kawasan wisata Bromo, pengunjung diharuskan menyewa Jeep / Toyota Hardtop 4X4 seperti ketentuan yang berlaku.

C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\DSCF8708.jpg   C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\DSCF8753.jpg

Foto by Dok. Hai Bromo

C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\DSCF8714.jpg  C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\DSCF8727.jpg

Foto by Dok. Hai Bromo

  Pengunjung harus menyewa mobil Jeep untuk berkeliling di Kawasan Gunung Bromo. Untuk satu mobil Jeep bisa membawa 5-6 orang dengan kisaran harga 600-800 ribu rupiah. Dengan harga tersebut, pengunjung bisa menikmati pemandangan Gunung Bromo sepuasnya karena tidak ada batasan waktu untuk keluar dari kawasan sampai waktu tutupnya TNBTS. Jadi, jangan khawatir, dengan biaya tersebut pengunjung akan diantarkan keluar sampai selesai. Dijamin naik mobil Jeep di Bromo asik banget loh, apalagi bisa naik di rooftop nya ! Sensasi jalanan pegunungan yang naik turun dan bergelombang benar-benar membuat jantung deg-degan tapi happy banget!!

  Ketika masuk ke kawasan Gunung Bromo, pengunjung akan melihat pemandangan bukit-bukit, hamparan Bunga Edelweiss, dan padang rumput yang indah banget. Umumnya, pertama kali pengunjung akan diantarkan ke sunrise point Bromo Lalu pengunjung akan diantar ke padang rumput sampai ke kaki Gunung Bromo sampai ke Bukit Teletubbies. Nah, di sunrise point Bromo pengunjung bisa melihat Gunung Bromo dengan jelas dan menikmati hamparan pasir. Di Gunung Bromo juga ada kawah yang sangat bagus. Dari kawah ini pengunjung bisa melihat pemandangan sunrise di pagi hari dan sunset di sore hari. Namun, jarak dari bawah sampai ke kawah Gunung Bromo cukup jauh yaitu berkisar kurang lebih 2 km. Pengunjung bisa berjalan kaki atau menaiki kuda untuk sampai ke kawah Bromo. Harga sewa kuda yang ditawarkan berkisar antara 150-200 ribu rupiah dan sudah termasuk turun ke bawah. Kebayangkan, pasti banyak spot-spot foto yang instagramable banget!

  Oh iya jangan memetik Bunga Edelweiss di kawasan Bromo yak karena kalian bisa kena sanksi lhoo, Bunga Edelweiss ini juga banyak dijual loh secara legal karena sudah ada yang membudidayakannya! Warna asli Bunga Edelweiss adalah putih. Tetapi, ada juga Bunga Edelweiss yang dirangkai warna-warni seperti perpaduan warna hijau, ungu, kuning yang tidak kalah cantik.

Ada buket Edelweis yang dijual ilegal di kawasan bromo, namun cobalah kunjungi desa Wonokitri, di sana ada budidaya Edelweis dan menjualnya secara legal.Foto dok by : Yukpigi

.

Ada buket Edelweiss yang dijual ilegal di kawasan Bromo, namun cobalah kunjungi Desa Wonokitri, disana ada budidaya Edelweiss dan menjualnya secara legal.

.

Ini Dia Informasi Seputar Wisata Gunung Bromo di Jawa Timur! (1)Bunga Edelweiss, Foto: Dok. Google

Satu hal yang juga penting adalah ketahui cuaca kawasan Gunung Bromo sebelum berencana liburan. Pada umumnya, waktu yang bagus untuk berwisata adalah pada musim kemarau karena udaranya akan sejuk. Hindari berlibur pada musim hujan karena kawasan Gunung Bromo dikelilingi pasir yang ketika hujan akan berair dan tentunya sangat menganggu.

C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\DSCF8717.jpg     

Bukit-bukit dan Sunrise Point di Gunung Bromo. Foto: Dok. Hai Bromo

  Nah, jangan lupa untuk berbekal makanan ya dan juga memakai jaket, topi, kaos kaki, dan kalau perlu sarung tangan karena udara di Gunung Bromo sangat sejuk dan dingin banget. Have fun Guys !!!

.

By Yanda Ramadana, Juni 2022

IAU (International Association of Universities)/ Asosiasi Internasional Universitas

IAU (International Association of Universities)/

International Association of Universities logo and wordmark English.png Asosiasi Internasional Universitas

  Di tengah dinamika perubahan yang semakin cepat, banyak institusi pendidikan tinggi menggabungkan sumber daya mereka, sehingga mereka dapat berbagi informasi dan sumber daya, mengkoordinasikan agenda penelitian, dan saling mendukung satu sama lain. International Association of Universities (IAU) adalah Asosiasi yang dibentuk di bawah naungan UNESCO pada 9 Desember 1950 selama Konferensi Internasional Universitas di Nice. Tujuannya untuk mendorong kerjasama antara lembaga pendidikan tinggi di seluruh dunia.

  International Association of Universities (IAU) adalah organisasi non-pemerintah yang dipimpin dari keanggotaan di bidang pendidikan tinggi. Beranggotakan 650 institusi dan organisasi pendidikan tinggi dari sekitar 130 negara. IAU merupakan mitra resmi UNESCO dengan Sekretariat berdomisili di Paris di kantor pusat UNESCO. IAU mengadvokasi pendidikan tinggi sebagai kebaikan bersama global, penting untuk pengembangan masyarakat yang berkelanjutan. Promosi peluang didasarkan pada kepercayaan, rasa hormat, dan saling pengertian untuk menyoroti peran universitas sebagai aktor utama yang berkontribusi dalam menciptakan masa depan yang berkelanjutan untuk planet kita dan untuk generasi mendatang.

  Ide awal pembentukan Asosiasi dimulai pada tahun 1930-an, namun harus menunggu sampai tahun 1947, ketika panggilan resmi untuk membentuk Asosiasi dikeluarkan pada Konferensi Umum UNESCO ke-3, di Meksiko oleh Menteri Pendidikan Meksiko saat itu, Dr. Torres Bodet. UNESCO selanjutnya menyelenggarakan Konferensi Persiapan Perwakilan Universitas di Universitas Utrecht pada tahun 1948, pada saat itu dukungan struktur resmi untuk Asosiasi global ini dibentuk. Konferensi Umum IAU pertama berlangsung di Nice pada tahun 1950.

  Maksud dan tujuan umum IAU pada waktu itu adalah untuk menyediakan pusat kerjasama di tingkat internasional antara universitas dan lembaga pendidikan tinggi sejenis dari semua negara, serta antara organisasi di bidang pendidikan tinggi pada umumnya, dan memberi advokasi untuk keprihatinan mereka (Konstitusi IAU, pasal 2).

  Pada tahun enam puluhan, perkembangan penting adalah pembentukan Komite Pengarah Bersama UNESCO-IAU untuk penelitian internasional tentang isu-isu substantif yang dihadapi universitas di seluruh dunia, dan diketuai bersama oleh Direktur Jenderal UNESCO dan Presiden IAU. Tahun enam puluhan merupakan masa refleksi atas visi masa depan IAU di luar kegiatan rutinnya. Presiden IAU, Frank Cyril James, membentuk Komite Pengembangan untuk mempertimbangkan arah masa depan Asosiasi.

  Tujuh puluhan melihat inisiatif baru yang keluar dari Konferensi Montreal (1970) – peluncuran seri Seminar IAU. Seminar pertama yang melihat masalah pendidikan tinggi terpadu diadakan pada tahun 1971 di Jerman, dan diikuti serangkaian seminar yang diselenggarakan setiap tahun atau dua tahun sekali. Secara umum, pada dekade ini terlihat peningkatan pembentukan badan-badan regional dan organisasi-organisasi yang menangani pendidikan tinggi. UNESCO bekerja sama dengan IAU dalam pembentukan Pusat Pendidikan Tinggi Eropa UNESCO (CEPES) pada tahun 1972, Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNU) pada tahun 1973, dan Pusat Pendidikan Tinggi Regional UNESCO di Amerika Latin dan Karibia (CRESALC) pada tahun 1974 – pendahulu UNESCO International Institute for Higher Education di Amerika Latin dan Karibia (IESALC) pada 1997.

  Tahun delapan puluhan membawa perubahan, baik dalam hal kepemimpinan di Sekretariat IAU maupun dalam hal operasi dan kemungkinan di era barukomputerisasi”. Sebuah publikasi baru diluncurkan pada tahun 1988, Kebijakan Pendidikan Tinggi (HEP), sebuah jurnal penelitian peer-review. IAU bekerja sama erat dengan UNESCO dalam digitalisasi layanan informasi dan meluncurkan inisiatif inovatif, termasuk Pusat Informasi IAU-UNESCO yang dikembangkan dari Pusat Informasi awal.

  Tahun sembilan puluhan tradisi pengembangan Pernyataan Kebijakan dimulai sebagai sarana untuk menyatukan masyarakat di sekitar nilai-nilai inti, prinsip-prinsip dan isu-isu yang menjadi perhatian pendidikan tinggi, serta untuk memposisikan Asosiasi sebagai pemangku kepentingan utama dalam masyarakat. Ini termasuk Deklarasi Kyoto tentang Pembangunan Berkelanjutan (1993), Pernyataan Buenos Aires tentang Pendanaan Pendidikan Tinggi (1994) dan Kebebasan Akademik, Otonomi Kelembagaan dan Tanggung Jawab Sosial (1998). Tradisi ini berlanjut selama dekade berikutnya dengan tujuh Pernyataan Kebijakan yang dikeluarkan antara tahun 2000 dan 2014. Yang terbaru, Pernyataan IAU Iquitos tentang Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan dari tahun 2014.

  Setelah terlibat dalam Konferensi Dunia UNESCO tentang Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Bonn, Jerman, 2009), IAU diundang ke dalam Kelompok Referensi Dekade Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan PBB (UN-DESD) dan Kelompok Pengarah Internasional (ISG) dalam persiapan akhir Dekade World Conference on ESD (WC-ESD), di Aïchi Nagoya, Jepang (November 2014). Deklarasi Konferensi menggabungkan rekomendasi yang dinyatakan dalam Pernyataan IAU Iquitos tentang HESD tentang Memadukan Pendidikan Tinggi dan Pengetahuan Tradisional untuk Pembangunan Berkelanjutan yang diadopsi Dewan Administratif IAU pada Konferensi Internasional IAU 2015 di Siena.

  Internasionalisasi pendidikan tinggi menjadi ciri khas kegiatan IAU selama milenium baru. IAU meluncurkan serangkaian Laporan Global tentang Internasionalisasi Pendidikan Tinggi. Sampai saat ini, telah diterbitkan lima laporan dalam periode 2003-2019. IAU juga mengembangkan dan meluncurkan Internationalization Strategies Advisory Service (ISAS), di mana Anggota dapat memperoleh manfaat dari layanan penasihat ahli tentang strategi internasionalisasi.

  Selama dekade ini IAU mengembangkan Konferensi Tahunan di antara Konferensi Umum. Asosiasi universitas regional atau transnasional telah bekerja sama dengan IAU sejak awal. Sejak Konferensi Umum IAU pada tahun 2000 dan adopsi Konstitusi yang diamandemen, organisasi universitas dapat bergabung dengan IAU sebagai Anggota Organisasi. Selain itu, IAU juga menyambut Anggota Afiliasi, seperti jaringan universitas dan organisasi khusus, sementara individu yang terlibat dalam pekerjaan IAU juga dapat mendaftar untuk bergabung sebagai Associates. Untuk Anggota Organisasi, forum dua tahunan telah dibuatPertemuan Global Asosiasi (GMA).

     IAU berkontribusi dalam penyusunan dan adopsi Agenda PBB 2030 – Transforming Our World mengadvokasi peran penting pendidikan tinggi. Paling tidak melalui Pernyataan IAU Iquitos, dan IAU meluncurkan serangkaian survei global untuk memantau kontribusi pendidikan tinggi yang berkembang terhadap pembangunan berkelanjutan. Survei pertama dilakukan pada tahun 2016 dan yang kedua pada tahun 2019. Pada tahun 2018, IAU meluncurkan Global Cluster on HESD untuk mempromosikan peran institusi pendidikan tinggi dalam membangun masyarakat yang lebih berkelanjutan, bertindak sebagai suara pendidikan tinggi di Forum Politik Tingkat Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (HLPF), khususnya dengan Asosiasi Universitas Persemakmuran (ACU) dan Agence Universitaire de la Francophonie (AUF).

  Program pengembangan kepemimpinan diluncurkan pada tahun 2015, yang dikenal sebagai Universitas Terkemuka Secara Global (LGEU) yang terbuka berdasarkan prioritas bagi Anggota IAU. Pada tahun 2015, IAU World Higher Education Database (WHED) diluncurkan sebagai portal online bekerja sama dengan UNESCO, memberikan informasi otoritatif pada lebih dari 19.000 institusi pendidikan tinggi di seluruh dunia dan sekitar 196 sistem pendidikan tinggi. Pada tahun 2019, fitur baru diluncurkan untuk memfasilitasi identifikasi HEI: Global WHED ID – kode digital unik untuk setiap HEI di WHED – dan ini dikembangkan untuk mendukung Konvensi Global UNESCO tentang pengakuan kualifikasi pendidikan tinggi.

  Rencana Strategis 2016-2022, diadopsi selama Konferensi Umum IAU ke-15, di Bangkok pada tahun 2016, memperdalam fokus IAU pada empat tema prioritas pendidikan tinggi utama: kepemimpinan, internasionalisasi, pembangunan berkelanjutan, dan transformasi digital pendidikan tinggi sambil meningkatkan dukungan dan layanan untuk Anggota serta meningkatkan visibilitas dan keterlibatan mereka.

  Transformasi digital Perguruan Tinggi menjadi bagian dari prioritas strategis baru Asosiasi yang tertuang dalam Renstra terakhir. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah menjadi topik penting di masa lalu, beberapa kelompok kerja dan proyek telah dikhususkan untuk bidang ini, dan sebuah pernyataan tentang Universitas dan TIK diadopsi pada Konferensi Umum pada tahun 2004. IAU membentuk sebuah Expert Advisory Group pada tahun 2018 untuk mengembangkan pernyataan kebijakan baru untuk menguraikan prinsip-prinsip dan nilai-nilai utama yang harus membentuk transformasi digital masyarakat pendidikan tinggi.

  Seiring waktu, IAU telah dan terus mencapai tujuannya melalui pengembangan dan berbagi pengetahuan, analisis tren, publikasi dan portal khusus, layanan konsultasi, pelatihan dan pembelajaran peer-to-peer, serta advokasi dan representasi global. Keterlibatan IAU dalam inisiatif internasional semakin menonjol dan berlapis-lapis.

Sumber: https://iau-aiu.net/; https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_higher_education_associations_and_alliances#Global

Dunia Dibalik Metaverse

.

Dunia Dibalik Metaverse

Mungkin ada beberapa orang yang sedikit asing dengan istilah metaverse atau dalam kamus besar bahasa Indonesia disebut metasemesta. Metaverse adalah dunia virtual yang memungkinkan antar pengguna dapat saling terhubung, dapat berkomunikasi, bekerja, bermain, sampai bertransaksi layaknya di dunia nyata. Istilah metaverse pada dasarnya sampai saat ini belum ada yang mendefinisikan secara pasti (sumber : dewaweb.com), belum ada arti yang benar menggambarkan apa sebenarnya metaverse itu. Dengan pemahaman yang masih minim, manusia mencoba menjelaskan metaverse ini ke berbagai artian menurut versinya masing masing.

  Manusia memang unik, sudah ada dunia nyata masih juga ingin menciptakan dunia maya. Jangan sampai dunia metaverse ini menjadi kemunduran bagi dunia ini karena interaksi dengan manusia lainnya menjadi rusak seiring dengan berkurangnya aktivitas fisik.

.

Asal Muasal Metaverse

  Istilah metaverse pertama kali diungkapkan dalam novel fiksi ilmiah Niel Stephenson tahun 1992, berjudul Snow Crash, dimana manusia digambarkan sebagai avatar yang berinteraksi satu sama lain dengan perantara perangkat lunak dalam ruang tiga dimensi yang menggunakan metafora digital (sumber: infokumputer.com).

  Dalam dunia pendidikan dunia virtual bukanlah suatu sistem yang asing lagi, bahkan semenjak pandemi Covid-19 muncul di tahun 2020 hampir 90% pembelajaran dilakukan secara virtual. Metaverse dikembangkan berdasarkan kebutuhan masyarakat yang mulai beralih ke dunia digital dengan alih alih mempermudah aktivitas manusia dan untuk mempersiapkan masa depan yang canggih.

  Dalam dunia digital metaverse lebih sering diasumsikan sebagai suatu ruang tiga dimensi yang bisa kunjungi siapa saja dengan menggunakan perangkat yang dikenal dengan Augmented Virtual (AR) dan Virtual Reality (VR). Atau di kalangan pencinta game metaverse lebih sering diartikan sebagai ruang bermain tiga dimensi dimana manusia seolah olah masuk ke dunia digital menggunakan perangkat lunak seperti kacamata VR.

.

Implementasi Metaverse di berbagai aspek kehidupan

Dunia olahraga

  Bike trainer salah satu alat olahraga bersepeda yang bisa dihubungkan ke sistem atau aplikasi sepeda virtual. Alatnya mirip sepeda statis, namun kelebihannya kita bisa menyambungkan alat ini ke aplikasi permainan sepeda yang ditampilkan di tv, seolah olah kita bersepeda di dunia tiga dimensi. Keunikan lainnya yaitu kita bisa membuat avatar yang didesain sesuai keinginan kita. Bike trainer biasanya digunakan oleh atlit sepeda untuk berlatih di rumah. Namun lagi lagi bike trainer mulai booming setelah Covid-19 melanda.

Dunia pendidikan.

  Dalam praktiknya kini sudah banyak dunia pendidikan yang menggunakan ruang virtual untuk proses belajar, contoh zoom meeting. Lalu seperti apakah gambaran pendidikan yang dilakukan di dunia metaverse? Seperti yang disebut di atas bahwa metaverse adalah sebuah ruang virtual 3 dimensi, maka mungkin ke depannya pelajar/mahasiswa tidak perlu datang ke gedung tempat mereka belajar. Di dunia metaverse gedung-gedung yang dibuat mungkin bisa lebih megah daripada gedung yang ada di dunia nyata, dan misal dalam pelajaran sejarah bapak/ibu guru bisa mengajak siswanya kembali melihat sejarah di tahun-tahun yang sudah terlewat. Bisa melihat gambaran suasana yang diciptakan sedemikian rupa di dunia metaverse agar siswa lebih bisa memahami pelajaran tersebut.

  Atau contoh lainnya dalam praktik di perkuliahan kedokteran. Saat praktik menelaah organ tubuh hewan/manusia kini tidak perlu menggunakan media yang sungguhan dan cukup menggunakan hewan/manusia virtual. Terlebih lagi semua kegiatan pembelajaran bisa dilakukan di manapun tidak harus di gedung sekolah atau di gedung universitas.

  Metaverse membutuhkan teknologi internet yang cepat dan lancar, masalah biaya juga akan menjadi kendala karena semua hal itu harus dilakukan dengan serangkaian trial error. Metaverse juga membuat beberapa kegiatan terlihat lebih mudah dan menghemat biaya. Namun pada pelaksanaannya metaverse masih membutuhkan pengembangan, pembelajaran dan implementasi yang mungkin memerlukan biaya yang cukup fantastis. Apakah kita sudah siap dengan Dunia Metaverse? (By Astriawati Jeinab, S.E.)

.

9 Tips Menjaga Kesehatan

  Siapa yang sangka di tahun 2019 merupakan tahun yang paling mencekam bagi seluruh dunia termasuk Indonesia. Tiba-tiba bulan Maret ada virus Corona yang menyerang seluruh manusia di muka dunia ini. Tahun 2022 ini sedikit longgar setelah adanya vaksinasi lambat laun virus corona sedikit menghilang tapi ada lagi virus Hepatitis Akut yang menyerang anak-anak.

  Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia memang sebaiknya diikuti karena sampai saat ini masih bermunculan virus-virus yang menyerang manusia. Berikut adalah tips sederhana tapi dengan hasil dapat menjaga kesehatan diri sendiri di tengah kesibukan.

1.Usahakan bangun pagi

Kebiasaan bermalas-malasan saat bangun mungkin dirasakan sebagian besar kita. Jika alarm berbunyi pukul 5 pagi kebiasaan kita akan bangun tiga puluh menit kemudian. Hal ini akan menyebabkan kemalasan dalam alam bawah sadar manusia. Jika dibiarkan akan menjadi kebiasaan sehingga komitmen diperlukan untuk bangun pagi terabaikan.

2.Waktu makan jangan ditunda

Berapa banyak dari kita yang sering menunda waktu makan terutama saat makan siang. Entah karena sibuk pekerjaan atau asyik bermain gadget. Stop mulai sekarang jika telah waktunya makan sebaiknya langsung makan. Jika ditunda akan terjadi ritme yang kacau saat asupan makan siang. Dan akan menimbulkan penyakit seperti maag bahkan tidak menutupkan kemungkinan asam lambung akan naik.

3.Jika waktu bekerja maka bekerjalah

Jika waktu bermain maka bermainlah. Jangan bekerja diselingi dengan main games atau sebaliknya. Bagilah otak manusia berdasarkan file seperti halnya komputer. Jika file yang dikeluarkan mengenai pekerjaan maka selesaikanlah pekerjaan dengan maksimal. Jika sudah lelah maka istirahatlah dengan menghirup udara segar atau berjalan-jalan sedikit keluar ruangan. Jangan mencampuradukan pekerjaan dengan bermain sehingga akan terasa pekerjaan yang menumpuk padahal pembagian waktu Anda yang tidak efektif.

4.Minum air putih yang cukup

Karena alasan tanggung sedang mengerjakan sesuatu maka minum akan dinantikan. Cegah sejak dini bahwa Anda harus teratur meminum air putih. Untuk dewasa minumlah setidaknya 2 liter sehari. Untuk memotivasi Anda minum sekarang banyak botol minum yang ada takarannya sehingga Anda tahu sudah berapa liter minum hari ini.

5.Berolahraga secara rutin

Jangan pernah berpikiran bahwa olahraga itu harus selalu di lapangan atau di tempat gym. Saat Anda bangun pagi dan bersiap ke kantor berhentilah beberapa meter sebelum masuk kantor dan berjalan kaki menuju ruangan Anda. Atau jika ruangan Anda berada di lantai atas setidaknya dapat menggunakan tangga jangan menggunakan eskalator atau lift. Tidak terasa bahwa Anda sedang melakukan olahraga. Jika ada waktu libur kantor jangan bermalas-malasan di kamar ayo gerakan otot Anda agar menjadi bugar.

6.Hentikan rokok dan minuman beralkohol

Jika tidak sanggup mulailah dikurangi konsumsi rokok atau alkohol Anda mulai hari ini. Sudah berapa banyak Anda mendengar orang meninggal karena kerusakan saluran pernapasan akibat rokok. Jangan sampai menimpa Anda baru berhenti. Sisihkan uang untuk rokok atau alkohol maka tidak akan terasa selain badan sehat maka tabungan Anda akan terkumpul.

7.Jaga kebersihan tempat Anda bekerja

Siapa yang akan nyaman jika ruangan tempat kita bekerja dalam keadaan kotor. Tidak ada salahnya bawalah beberapa tanaman hidup yang kuat dalam ruangan. Selain membuat sejuk dan indah untuk dilihat, ruangan Anda akan terasa lebih asri.

8.Konsumsi sayuran dan buah

Jika Anda tidak menyukai sayuran atau buah sekarang sudah banyak olahan sayur dan buah bervariasi. Ada yang dibuat salad atau dicampur dengan olahan lain sehingga sangat enak untuk dikonsumsi. Sayuran dan buah sudah kita ketahui banyak vitamin yang baik untuk tubuh. Mulailah sedikit demi sedikit konsumsi sayur dan buah. Kurangi gorengan dan makanan berminyak lainnya.

9.Kelola stress Anda

Ya stress itu perlu dikelola. Jika stress dibiarkan menumpuk maka akan melemahkan imun Anda. Berapa banyak masalah yang Anda hadapi setiap harinya yang dapat menyebabkan stress. Mengelola stress dapat dengan berbagi cerita kepada rekan kerja, olahraga teratur, meditasi atau jalan-jalan. (By Pipin Sukandi, S.E., M.M., CH., CHt., CEFT., CT., C.NSP., MNLP)

.

E-Magazine-32

AKREDITASI UNGGUL PT SUDAHKAH MENGGAPAI UKURAN MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA ???

.

AKREDITASI UNGGUL PT

SUDAHKAH MENGGAPAI UKURAN

MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA ???

.

  Pembangunan hanya dapat terwujud jika karakter dan pengetahuan masyarakat dikembangkan melalui pendidikan, sehingga tujuan negara Indonesia bisa didekati capaiannya. Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4, menegaskan tujuan negara Indonesia dalam: “…melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.” 

  Tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa diperkuat dalam pasalnya yang menjelaskan bahwa setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan dan negara memiliki kewajiban untuk memenuhi pendidikan setiap warga negara guna mewujudkan tujuan nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

  Memenuhi kewajiban tersebut memerlukan sistem pendidikan yang komprehensif, saling sinkron, dan mengatur sistem pendidikan dimana negara berkewajiban menyediakan suatu sistem undang-undang yang mengatur dan mengintegrasikan undang-undang yang sudah ada. Sistem pendidikan yang mencerdaskan tentunya mencakup semua komponen pendidikan, baik keluarga sekolah dan masyarakat yang secara bersama mengembangkan kecerdasan peserta didik, kecerdasan bangsa, serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

  Sistem pendidikan nasional tentu harus mampu menjawab kebutuhan peningkatan kualitas pendidikan Indonesia yang sudah menjadi kebutuhan mendesak. Fakta-fakta di lapangan saat ini membuktikan bahwa kualitas pendidikan menjadi permasalahan bersama. Sejumlah lembaga survei internasional masih menempatkan kualitas pendidikan Indonesia di urutan bawah. Laporan The Learning Curve, Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), TIMS and PIRLS, World Education Forum PBB, World Literacy menunjukkan kualitas kita termasuk rendah. Demikian juga penilaian oleh UNESCO lewat Programme for International Student Assessment (PISA) maupun UNDP melalui The Global Knowledge Index.

.

Transformasi dan Capaian

  Di tengah fakta tersebut transformasi terus berjalan. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim telah mencanangkan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2035. Ujian awal transformasi ini dihadapkan pada masa Pandemi Covid-19 yang kini telah berjalan 2 tahun. Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) tersebut tampaknya untuk menjawab tesis bahwa kita berada pada era di mana gelar tidak menjamin kompetensi, lulusan tidak menjamin kesiapan berkarya dan bekerja, akreditasi tidak menjamin mutu, dan masuk kelas tidak menjamin belajar. Konsep ini tentunya memerlukan ekosistem, atmosfer, infrastruktur, serta nilai budaya dan indikator keberhasilan masyarakat yang mendukung.

  Sementara dari sisi perundangan, kini sedang disusun RUU Sisdiknas yang tentu membutuhkan keterbukaan dalam pembahasannya bersama masyarakat. RUU ini dilandasi tiga urgensi: pertama, mandat UUD 45 untuk merancang penyelenggaraan satu sistem pendidikan nasional. Saat ini setidaknya ada tiga UU yang mengatur sistem pendidikan yang memunculkan ketidakselarasan dalam aturan turunannya. Kedua, UU Sisdiknas yang ada kadangkadang mengatur beberapa hal spesifik dan teknis. UU Sisdiknas seharusnya mengatur hal-hal fundamental dan prinsip, sedang mengatur teknis di level PP atau Permen. Ketiga, banyak keputusan Mahkamah Konstitusi yang mengharuskan mengubah materi UU Sisdiknas yang ada. Demikian diutarakan Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan – Kemendikbudristek, Anindito Aditomo.

  Sedangkan capaian sistem pendidikan tinggi seperti dijelaskan Data Statistik Pendididkan Tinggi 2020 mengacu pada tiga program sasaran, yaitu: 1) meningkatnya akses, kualitas pembelajaran dan relevansi Pendidikan tinggi; 2) meningkatnya kualitas dosen dan tenaga kependidikan; 3) terwujudnya tata Kelola ditjen Pendidikan tinggi yang berkualitas.

  Data statistik tersebut menunjukkan perguruan tinggi di Indonesia masih gemuk yakni 4.593 PT yang terdiri: PTS 3.044 (66,27 %), PTA 1,240 (27 %), PTK 187 (4,07 %), dan PTN 122 (2,66 %). Secara berturut jumlah PT terbesar di pulau Jawa 2,220 PT, Sumatera 1.695 PT, Sulawesi 509 PT, Kalimantan 278 PT, Nusa Tenggara & Bali 243 PT, Papua 115 PT, dan Maluku 68 PT. Memang ada penurunan sebesar 0,01% dari tahun lalu dikarenakan proses pemutakhiran data dan peningkatan kualitas perguruan tinggi, antara lain melalui program penggabungan PT. Pertanyaannya apakah distribusi jumlah 4.593 PT berimbang dengan populasi 270.200.000 penduduk, dan kepadatan penduduk yang berbeda di setiap propinsi maupun pulau sebagaimana tergambar di atas.

  Dari jumlah tersebut PT yang terakreditasi adalah 2.713 (59 %), sisanya 1.880 (41 %) belum terakreditasi. Dari yang terakreditasi, terdiri akreditasi: A sejumlah 95 PT, B sejumlah 809 PT, C sejumlah 1.291 PT; Unggul sejumlah 4 PT, Baik Sekali 50 PT, serta Baik 464 PT. Uraian tersebut menggambarkan jumlah terbesar adalah akreditasi yang paling rendah.

  Sementara program studi berjumlah 29.413 program studi, yang terdiri atas bidang ilmu: Pendidikan 6.032 (21 %), Teknik 5.390 (18 %), Sosial 4.302 (15 %), Kesehatan 4.034 (14 %), Ekonomi 3599 (12 %), Pertanian 1.988 (7 %), Agama 1.692 (6 %), MIPA 1.219 (4 %), Humaniora 731 (2 %), serta Seni 426 (1 %). Dari jumlah tersebut 23.691 (81 %) program studi terakreditasi, sisanya 5.722 (19 %) belum terakreditasi. Ini artinya dari sisi kualitas melalui sistem akreditasi, baik PT maupun program studi masih membutuhkan upaya lebih untuk mencapai target kualitas sesuai standar akreditasi tersebut.

  Dari sisi mahasiswa terdaftar di PT sejumlah 8.483.213 orang, terdiri jenjang: Diploma-1 berjumlah 2.778 (0,033 %), Diploma-2 berjumlah 6.934 (0,082 %), Diploma-3 berjumlah 668.922 (7,885 %), Diploma-4 berjumlah 206.685 (2,436 %), Sarjana berjumlah terbesar 7.113.663 (83, 856 %), Magister berjumlah 318.789 (3,758 %); Doktor berjumlah 44.099 (0,520 %), Spesialis berjumlah 12.989 (0,153 %), serta Profesi berjumlah 108.354 (1,277 %). Jenjang Sarjana yang terbanyak padahal kebutuhan dunia usaha dan industri lebih pada jenjang vokasi. Jumlah mahasiswa ini dibimbing 312.890 dosen. Bila dilihat dengan rata-rata kasar rasio dosen: mahasiswa tergambar 1 : 27. Artinya rasio 1 dosen dibanding dengan 27 mahasiswa.

  Sementara itu, Lulusan berjumlah 1.535.074 orang (18 %) dari jumlah mahasiswa terdaftar 8.483.213 orang. Data lulusan tersebut relatif lebih kecil dibandingkan dengan jumlah mahasiswa baru yang terdaftar sejumlah 2.163.681 orang (26 %) dari sisi partisipasi pendidikan tinggi atau supply mahasiswa. Artinya angka partisipasi pendidikan tinggi terkait dengan jumlah PT dan populasi penduduk usia pendidikan sesungguhnya masih mungkin ditingkatkan.

  Sedangkan pilihan studi mahasiswa masih terbagi dalam bidang ilmu konvensional, yakni: Pendidikan sebesar 1.831.768 (21.59 %), Ekonomi sebesar 1.771.864 (20.89 %), Sosial sebesar 1.648.219 (19.43 %), Teknik 1.374.528 (16.20 %), Kesehatan sebesar 658.633 (7.76 %), Pertanian sebesar 414.890 (4.89 %), MIPA sebesar 274.693 (3,24 %), Agama sebesar 256.044 (3,02 %), Humaniora sebesar 170.221 (2.01 %), serta Seni sebesar 82.373 (0,97 %). Bidang ilmu baru atau cabang ilmu baru terkait dengan dinamika perkembangan teknologi informasi dan komunikasi atau lainnya belum terlihat.

  Dari uraian tersebut tampak tujuan pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas, mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan siap menghadapi tantangan dalam dunia industri masih membutuhkan upaya lebih. Memang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terus mendorong upaya tersebut dengan melakukan transformasi Pendidikan tinggi melalui kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang memiliki 8 kegiatan bentuk pembelajaran. Implementasi kebijakan diikat dengan kontrak kinerja dan pengaturan distribusi anggaran perguruan tinggi, yang diatur dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 754/P/2020 mengenai Indikator Kinerja Utama Perguruan Tinggi (IKU PTN).

  Terdapat tiga fokus utama dari IKU PTN diantaranya kualitas lulusan, kualitas dosen dan pengajar, dan kualitas kurikulum. Pengukuran ketiga fokus tersebut dirincikan menjadi delapan indikator.

.

Akreditasi Unggul PT

  Akreditasi yang didalamnya tercantum tingkatan akreditasi (Unggul, Baik Sekali, Baik.) adalah standar baru dalam memberdayakan mutu sistem persekolahan, diantaranya untuk perguruan tinggi. Terkait dengan ukuran mutu pendidikan melalui akreditasi didorong memberikan substansi kualitas, bukan formalitas. Mari kita simak perjalanan ukuran mutu pendidikan tinggi yang berkualitas dalam pendidikan persekolahan jenjang pendidikan tinggi.   

  Saat ini telah berlaku perubahan sistem penilaian akreditasi dari instrumen akreditasi program studi/instrumen akreditasi perguruan tinggi (IAPS/IAPT) 7 standar, ke Instrumen Akreditasi Program Studi (IAPS) 4.0 dan Instrumen Akreditasi Perguruan Tinggi (IAPT) 3.0. IAPS 4.0 mulai diberlakukan sejak 1 April 2019 sedang IAPT 3.0 telah berlaku sejak 1 Oktober 2015.

  Sekilas seolah perubahan sistem penilaian lama dengan yang baru hanya terletak pada cara penyebutan peringkat saja. Secara awam difahami sebagai C=Baik, B=Baik Sekali, dan A=Unggul. Padahal, substansi perubahan sistem penilaian tidaklah sesederhana itu. Bagi PT (perguruan tinggi) atau PS (program studi) yang sudah terakreditasi A tinggal diubah menjadi terakreditasi Unggul, yang B diubah ke Baik Sekali, dan C tinggal ganti menjadi Baik. Sesungguhnya tidak demikian, dan tidak pula semudah atau sesederhana itu.   

  Proses konversi dapat dilakukan hanya berdasarkan dua cara. Pertama, menggunakan Instrumen Suplemen Konversi (ISK) sebagaimana tertuang di dalam Peraturan BAN PT Nomor 2/2020. ISK ini diusulkan Dewan Eksekutif (DE) dan ditetapkan Majelis Akreditasi (MA) yang khusus digunakan untuk konversi peringkat dari sistem peringkat A, B, dan C ke sistem peringkat Unggul, Baik Sekali, dan Baik. Kedua, mengajukan reakreditasi dengan menggunakan APS 4.0 atau APT 3.0.

  Perpanjangan peringkat akreditasi bagi PS atau PT hanya berlaku  satu kali, dan pada perpanjangan berikutnya akan ditambah dengan ISK, sehingga peringkat akreditasi bagi APS (Akreditasi Program Studi) atau APT (Akreditasi Perguruan Tinggi) tersebut akan menggunakan peringkat akreditasi Unggul, Baik Sekali, atau Baik.

  Sistem penilaian akreditasi yang baru ini memang diklaim BAN-PT lebih sederhana dan spesifik dengan instrumen penilaian lebih responsif dan sesuai perkembangan zaman (T. Basaruddin, 2018). Namun tetap menjadi sesuatu yang memberatkan bagi sejumlah perguruan tinggi. Bagaimana tidak. Belum tentu yang telah terakreditasi A dapat dengan mudah meraih Unggul, demikian pula seterusnya. Terdapat kriteria tambahan yang harus dipenuhi agar sebuah PT atau PS dapat meraih akreditasi dengan peringkat terbaru di atas. Menteri Pendidikan, Kebudayaan dan Ristek (Mendikbudristek) menyampaikan bahwa akreditasi perguruan tinggi yang ditetapkan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) akan diperbaharui secara otomatis setiap lima tahun.

  Perbedaan pengelompokan akreditasi A, B, dan C menggunakan instrumen akreditasi 7 standar. Sedangkan untuk pengelompokan akreditasi Unggul, Baik Sekali, dan Baik menggunakan IAPS 4.0 dan IAPT 3.0. Jadi setidaknya terdapat 2 pembeda utama antara IAPT 7 Standar dengan IAPT 3.0. Pertama, terletak pada titik berat penilaian. Pada IAPT 7 standar lebih menekankan aspek input dan proses, sedangkan pada IAPT 3.0 memberikan bobot yang besar pada aspek output dan outcome. Kedua, pemenuhan dan pelampauan standar nasional pendidikan tinggi (SN-Dikti). Jadi hal terpenting dalam IAPT 3.0 (Baru) adalah diukurnya pemenuhan dan pelampauan SN-Dikti, dan hal ini belum bisa diukur dengan IAPT 7 standar karena instrumen tersebut baru dikembangkan tahun 2011. Sementara SN-Dikti baru ditetapkan pada tahun 2014. Kedua perbedaan inilah yang menyebabkan ketidaksetaraan peringkat akreditasi antara peringkat A dengan Unggul, B dengan Baik Sekali, dan C dengan Baik.

  Secara sederhana, sebagaimana tujuan akreditasi BAN PT yakni untuk menentukan kelayakan sebuah PT atau PS berdasarkan SN-Dikti, maka pemerintah ingin perguruan-perguruan tinggi dapat mencapai atau melampaui standar mutu tersebut baik bidang akademik maupun non akademik (Muhammad Yasar, 31 Mei 2021).

Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

  M, Jumarin dalam tulisan dalam Jurnal Ilmiah Kependidikan, AKADEMIKA: Vol. 16, No. 1, April 2017 menggambarkan bahwa konsep cerdas, kehidupan yang cerdas memiliki makna beragam dan berkembang. Awalnya kecerdasan lebih dimaknai sebagai kemampuan kognitif yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti: kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan  bahasa, dan belajar. Kecerdasan in erat kaitannya dengan kemampuan kognitif yang dimiliki oleh individu yang biasa disebut intellegensi (IQ).

Perkembangan lanjut, kecerdasan memiliki makna sangat luas, yaitu kemampuan dalam berbagai aspek kehidupan yang tidak terbatas pada kemampuan kognitif semata. Kecerdasan merupakan istilah umum untuk menjelaskan sifat yang mencakup sejumlah kemampuan individu dalam menyelesaikan suatu masalah yang dihadapi. Kata cerdas berarti memiliki kemampuan yang dapat digunakan untuk menyelesaikan atau menghadapi persoalan nyata, sehingga cerdas bermakna kreatif, inovatif dan solutif. Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah sebuah konsepsi budaya, bukan sekedar konsepsi biologisgenetik. Artinya bukan saja menghasilkan otak yang cerdas, melainkan juga untuk mencapai kemajuan yang adab, harga diri, kesejahteraan dan sebagainya.

Para psikolog awal lebih memahami konsep kecerdasan sebagai kemampuan dasar yag bersifat umum (general capacity factor), kemudian berkembang konsep sekelompok kemampuan (common factor), kemampuan berkembang adanya kemampuan kusus (specific factor) (Sumadi, 1993). Psikolog kontemporer umumnya lebih memiliki konsep multi factor, yaitu manusia memiliki kemampuan umum, kemampuan kelompok dan kemampuan khusus. Dengan demikian arah dan kualitas kecerdasan setiap individu akan berbedabeda. Ada seorang yang cerdas dalam aspek bahasa, lain lebih cerdas dalam aspek hitungan (numerical), lain lebih menonjol dalam kecerdsan ruang (spatial), dan sebagainya.

Kecerdasan dipengaruhi faktor bawaan dan lingkungan. Setiap orang memiliki potensi dasar kecerdasan yang dibawa sejak lahir (faktor bawaan) atau bisa disebut dengan bakat. Potensi dapat dikembangkan melalui pemberian stimulus atau rangsangan dari luar, agar kemampuan bawaan tersebut berkembang. Stimulasi tersebut dapat berupa nutrisi, fisik, psikologis, perlakuan paedagogis, sosial, budaya dan sebagainya. Seorang juga dapat mengoptimalkan kemampuan dasar tersebut menjadi sebuah kemampuan yang fungsional melalui berbagai upaya, seperti latihan, menciptakan kondisi tertentu dan sebagainya.

Dalam psikologi dikenal berbagai kecerdasan, konsep awal yang popular adalah Intelligence Quotient (IQ), kemudian berkembang dengan berbagai jenis kecerdasan. Zohar dan Marshal (2000), misalnya mengemukakan konsep kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient/SQ), Goleman (1995) mengemukakan konsep kecerdasan emosional (Emotional Quotient/EQ), Ary Ginanjar (2001) mengemukakan konsep kecerdasan EmosionalSpiritual (Emotional-Spiritual Quotient/ESQ). Covey (1990) mengemukakan kecerdasan fisik, kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual. Howard Gardner menyebut dengan kecerdasan majemuk, yang awalnya ada delapan faktor, kemudian berkembang menjadi 9, yaitu: kecerdasan bahasa, kecerdasan visual spasial, kecerdasan logis matematis, kecerdasan musik, kecerdasan kinestetik, kecerdasan intra personal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan eksistensial dan kecerdasan naturalis. Syumanjaya (2014) mengemukakan kecerdasan perilaku. Beberapa konsep kecerdasan lain juga dikemukakan seperti kecerdasan memecahkan masalah (advisory Quotient), kecerdasan finansial, kecerdasan buatan, kecerdasan budaya, bahkan kedepan akan berkembang kecerdasan di areaarea lain.

Tidak mudah untuk mengatakan atau menilai bahwa seseorang itu cerdas atau tidak, sebab label kecerdasan sangat tergantung dengan kebudayaan. Orang di suatu tempat/budaya dikatakan cerdas, tetapi belum tentu disebut cerdas pada lingkungan sosial budaya lain, atau orang yang cerdas dalam suatu aspek, belum tentu cerdas dalam aspek lain. Tingkat kecerdasan seseorang dapat diketahui melalui pengukuran, dengan menggunakan alat ukur yang telah dikembangkan. Dewasa ini telah dikembangkan berbagai alat ukur kecerdasan, sesuai dengan aspek kecerdasan dan tujuan pengukuran. Alat ukur kecerdasan atau tes kecerdasan yang telah di buat secara ilmiah memiliki berbagai keterbatasan, diantaranya tidak akan pernah bebas dari pengaruh budaya (free culture test). Pengukuran psikologis khususnya kecerdasan sangat penting untuk kepentingan pendidikan, namun harus menggunakannya dengan cara yang bijak.

Terkait dengan kehidupan yang cerdas adalah kehidupan yang memiliki kemampuan untuk menghadapi permasalahan hidup secara cepat, tepat dan bermakna. Kehidupan yang cerdas berarti menyangkut seluruh aspek kehidupan, bukan hanya aspek kognitif, tetapi juga aspekaspek yang lain. Mencerdaskan kehidupan adalah sebuah konsepsi budaya, bukan sekedar konsepsi biologisgenetik, artinya bukan saja menghasilkan otak yang cerdas, melainkan juga untuk mencapai kemajuan yang adab, harga diri, kesejahteraan dan sebagainya. Kehidupan suatu bangsa baru dapat dikatakan cerdas bila tiap warganya dapat naik dari tempat kelahiran terendah ke tingkat pencapaian tertinggi berkat pendidikan. Lagi pula bangsa yang berhasil pada masa depan adalah yang tidak hanya membukakan pintu bagi sebagian talenta dari sebagian anak bangsa, tetapi mengembangkan semua talenta dari semua anak bangsa.

.

Pendidikan Yang Mencerdaskan

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan keagamaan, mengenali diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (UU No. 20 tahun 2003). Terkait fungsi dan tujuan pendidikan (UU No. 20 Tahun 2003, pasal 3) secara konseptual dan normatif tujuan pendidikan kita sangat ideal, dan itulah sosok atau gambaran manusia Indonesia yang cerdas. Mewujudkan tujuan tersebut diperlukan sebuah sistem pendidikan. Pemerintah telah mengusahakan sebuah sistem pendidikan yang mencerdaskan melalui berbagai peraturan perundangan, namun dalam implementasinya dirasakan belum optimal. Akhirnya fungsi tujuan pendidikan yang mencerdaskan kehidupan bangsa belum terwujud.

Adalah benar mencerdaskan kehidupan bangsa harus dilakukan melalui pendidikan, sebab kecerdasan tidak genetically fixed, tetapi dapat dan harus diajarkan atau dikembangkan. Pendidikan yang mencerdaskan tidak hanya cukup mencerdaskan peserta didik, namun juga mencerdaskan seluruh ekosistem pendidikan yang meliputi orang tua, siswa, guru, dan masyarakat (keluarga, sekolah, dan masyarakat). Apabila ketiga ekosistem tersebut cerdas, maka peserta didik akan lebih cerdas, atau pendidikan akan mampu mencerdaskan. Ekosistem pendidikan merupakan bagian yang sangat penting dalam mewujudkan pendidikan yang mencerdaskan, sebab peserta didik hanya sekitar 6 atau 7 jam berada di sekolah, dan sisanya berada dalam keluarga dan masyarakat. Ketiga ekosistem tersebut saling terkait, semuanya memberikan kontribusi yang penting dalam mewujudkan pendidikan yang mencerdaskan.

Pemerintah telah merumuskan standar pendidikan nasional (yang terbaru PP. No. 57 tahun 2021 dan turunannya) sebagai upaya meningkatkan kecerdasan bangsa, yang terdiri dari 8 (delapan) komponen standar, yaitu: standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar pendidikan, standar tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, serta standar pembiayaan. Kedelapan standar tersebut memang terkait dengan ekosistem pendidikan sekolah dan itu sangat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang mencerdaskan, namun ekosistem lain harus dioptimalkan. Oleh karena itu perlu dibangun sistem pendidikan yang melibatkan seluruh ekosistem pendidikan, yaitu siswa, ekosistem keluarga dan masyarakat.

Komponen ini sangat penting, dimana sistem pendidikan nasional selama ini fokus pada pendidikan persekolahan. Kedelapan standar pendidikan secara minimal harus dipenuhi, namun untuk mewujudkan pendidikan yang mencerdaskan praktek pendidikan harus melampaui kedelapan standar tersebut, diantaranya adalah:

a. Aspek pendidik: pendidik hendaklah memiliki kompetensi, baik personal, sosial, pedagogis dan profesional. Juga pendidik yang memiliki dedikasi, komitmen, memiliki visi, mampu menginspirasi dan sebagainya.

b. Aspek isi atau materi pendidikan: harus disesuaikan dengan perkembangan peserta didik dan kontekstual dengan kehidupan, materi harus terstruktur, sederhana, mudah dipahami, menyediakan kurikulum pilihan bagi peserta didik.

c. Aspek proses: menjadi sangat penting dalam pendidikan yang mencerdaskan, sebab melalui proses peserta didik memperoleh stimulasi bagi pengembangan kecerdasannya. Oleh karena itu dalam proses pendidikan diperlukan pendekatan yang berpusat pada peserta didik, peserta didik aktif, menyenangkan menghadapi tantangan, jauh dari ancaman. Pendekatan individual harus lebih ditekankan.

d. Aspek sarana dan prasarana: lingkungan di sekolah (sosial, alam) harus kondusif memberikan rasa aman, serta harus memadai.

e. Aspek pengelolaan: merupakan kriteria minimal mengenai perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan yang dilaksanakan oleh satuan pendidikan/sekolah agar penyelenggaraan pendidikan efisien dan efektif.

Jadi Pendidikan memiliki peran sentral dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Fungsi utama pendidikan di Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, dimana tidak hanya mencerdaskan aspek intelektual, tetapi mencerdaskan aspek yang lain, tidak hanya mencerdaskan manusia Indonesia, tetapi mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan yang mencerdaskan adalah pendidikan yang mampu mengembangkan seluruh potensi anak bangsa untuk kemaslahatan hidup dan kehidupan. Sistem pendidikan yang mencerdaskan adalah komponen pendidikan, baik keluarga, sekolah dan masyarakat yang fungsional dan secara bersama-sama mampu mengembangkan kecerdasan peseserta didik, kecerdasan bangsa, mencerdasan kehidupan bangsa.

(Dari berbagai sumber, Rewriter: lili irahali15 Maret 2022): Kemendikbudristek – Data Statistik Pendididkan Tinggi 2020; M. Hadi Subhan – Universitas Airlangga, Kompas 4 Maret 2022; M, Jumarin – Jurnal Ilmiah Kependidikan, AKADEMIKA: Vol. 16, No. 1, April 2017; Dr Muhammad Yasar STP M Sc., Memahami Grade Akreditasi BAN PT Terbaru, 31 Mei 2021 – https://aceh.tribunnews.com.

.

KEMBANGKAN KECENDEKIAAN & KOMPETENSI DIRI; BERBAGI PENGETAHUAN DAN BAGI SESAMA ….. ATAU SEDEKAH ILMU …… MENJEMPUT PAHALA TIDAK TERPUTUS  

KEMBANGKAN KECENDEKIAAN & KOMPETENSI DIRI;

BERBAGI PENGETAHUAN DAN BAGI SESAMA ….. ATAU

SEDEKAH ILMU …… MENJEMPUT PAHALA TIDAK TERPUTUS  

EKSPRESIKAN POTENSI ANDA melalui

majalah KOMUNITA …..!!!, pada:

1)Rubrik Buah Pikir
2)Rubrik Opini
3)Rubrik Resensi Buku & Film
4)Rubrik Ragam
5)Rubrik Wawasan
6)Rubrik Ilustrasi Grafis atau Foto

Syarat : belum pernah dipublikasikan, untuk naskah tulisan 1.500 s/d 2.000 kata dalam bahasa Indonesia dalam 1,5 spasi, dilengkapi cv singkat dan foto diri.

Karya disampaikan ke alamat email : [email protected], yandaramadana @gmail.com, atau Redaksi Komunita, Gedung A lantai 1 Yayasan Widyatama, Kampus Widyatama, jl. Cikutra 204 A Bandung, 40125.

 Terima kasih. (Redaksi)

.

REDAKSI

.

.

TOPIK KOMUNITA Edisi berikut.

Edisi # 32 : SDGs, Bagaimana upaya PT.

Edisi # 32 : Bonus Demografi Peluang & Tan-tangan

Edisi # 33 : Biaya Pendidikan Tinggi Mahal ?

Kami mengundang bpk, ibu, rekan-rekan, serta adik-adik mahasiswa berpartisipasi dan berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam topik di atas berbentuk naskah tulisan, foto dll.

Kami tunggu partisipasi Anda. Terima kasih. (red.)

Salam,

Redaksi

QuiiZ …. KiRim NeWs, Ilustrasi, Sequen-Foto berita WidyaTamA untuk Komunita Edisi #32

QuiiZ …. KiRim NeWs, Ilustrasi, Sequen-Foto berita WidyaTamA untuk Komunita Edisi #32

BE a CITIZEN JOURNALIST & ILUSTRATOR

Dapatkan Hadiah Pilihan Kamu !!!

1) voucher makan bareng teman di Foodcourt WidyatamaUniversitas Widyatama OR

2) Voucher pulsa HP anda senilai Rp 200.000 (dua ratus ribu).

.

1. Mahasiswa punya berita / news kampus ? Berniat membuat berita ? Berlatih membuat Berita ? Foto Berita / Mau menjadi citizen journalist ? KIRIM News, Foto berita, ilustrasi anda ke majalah Komunita.

.

2. Syarat : a) Berita mengandung konten 5 W (What, Who, When, Where, Why), 1 H (How); atau Foto Berita; b) Tema kegiatan kampus dan mahasiswa yang mempunyai nilai berita; c) Kegiatan subjek berita pada periode sebelum terbit edisi #32, d) Ilustrasi.

                                  

Kirim Berita/News/Foto Berita/Ilustrasi Anda melalui : Sekretaris Redaksi Komunita, email : [email protected], [email protected]. Berita/Foto yang dimuat pada KOMUNITA edisi #32 mendapat hadiah yang dapat diambil di Redaksi Komunita, Telp 122, dengan membawa identitas lengkap.

.

Kantor Buka pada : RabuKamis, jam 10.00 s/d 16.00.

.

Selamat bergabung sebagai citizen Journalist, illustrator majalah

IKUTI DAN BACA TERUS MAJALAH KOMUNITA.

.

                                            

.

.

QUOTE EDUCATION Komunita Edisi #31

QUOTE EDUCATION Komunita Edisi #31
.

 A good leader takes a little more than his share of the blame, a little less than his share of the credit. – Arnold Glasow, humorist and author

.

 The task of leadership is not to put greatness into humanity, but to elicit it, for the greatness is already there. – John Buchan, novelist, historian and politician

.

 Leadership and learning are indispensable to each other. – John Kennedy, former President, USA

.

Sumber : https://thinkstrategicforschools.com/inspirational-leadership-quotes-school-leaders/

.

.

REFRESHING MEMORY INTELLIGENCE THE LIFE OF THE NATION, INDONESIA 2045, AND INVITATION FROM UNESCO

0

 Lili-6REFRESHING MEMORY

INTELLIGENCE THE LIFE OF THE NATION, INDONESIA 2045,

AND INVITATION FROM UNESCO

.

  At the end of 2021 and early 2022, the mainstream media – Kompas – raised issues of higher education/university (education industrialization, collaboration, research and innovation, digital disruption, competency of graduates, lecturers, professors) which in several ways caused concern and sadness. There are nuances of hypocrisy, academic prostitution, and the growth of educational predators. However, we should still think positively. In order for higher education to achieve its goals in the midst of the MBKM policy, facing the Covid Pandemic; preparing Indonesia’s Vision 2045, as well as UNESCO’s invitation to “Futures of Education 2050”. Isn’t it, twenty or thirty years is a relatively short period of bequeathing something useful for future generations that is rightfully theirs.

  Trying to trace the thoughts of the founding fathers of the nation that penetrated the times and preceded the notions of progressive development that placed humans as sublime subjects. As described by Prof. Sri Edi Swasono (library.bappenas.go.id, 2005) that “educating the nation’s life” is a cultural conception, where the intellectual life of the nation is not just the ability of the brain. The politics of the founding fathers of the nation rejected the attitude and behavior of inlander, namely the attitude of living as the colonized, immersed in self-esteem, full of unfreedom or self-shackles. In fact, an intelligent life requires awareness of self-esteem, dignity, independence, resistance to testing, smart and honest, creative, productive and emancipatory abilities.

  In the context of educating the nation’s life, higher education institutions have a very strategic role as centers of education, research and community service to develop the potential of students – the children of the nation – as individual, social, moral, religious, nationalistic beings. strong, independent from the attitude of being colonized, and having reliable competence. The Mendikbudristek concept is to produce graduates with the profile: critical reasoning, independent, creative, mutual cooperation, global diversity, and noble character. The level of higher education carried by universities (PT) is considered as the last terminal that delivers the nation’s children to become intelligent and character human resources, so that it is hoped that an intelligent nation will be born that is able to solve the problems of its nation’s development, and ultimately bring prosperity to the community.

  The basic thought of “educating the life of the nation” which was stated by the founders of the nation in the Preamble to the 1945 Constitution, and strengthened in the article that every citizen has the right to education and the state has the obligation to fulfill the education of every citizen in order to realize the national goal, namely the intellectual life of the nation. As a goal, this idea is structured in various laws and regulations regarding education and higher education, including: Law Number 20 of 2003 concerning the National Education System, National Education Standards (SNP), Law Number 12 of 2012, and so on. However, along the way, the framework of the laws and regulations still shackles efforts to educate the nation’s life. There are still many obstacles to achieve the intellectual life of the nation.

  An analysis by Rosser (2018) – Lowy Institute – Australia states that: “The biggest challenge for Indonesian education is no longer to increase access but to “improve quality”. The government hopes to develop a ‘world class’ education system by 2025. However, many assessments indicate that education performance still has a long way to go to achieve this goal. Many Teachers and Lecturers do not have the required subject knowledge and pedagogical skills to be effective educators; learning outcomes for poor students; and there is a difference between the skills of graduates and the needs of employers. The reasons behind the problem of poor educational performance are not only the problem of low public spending on education, human resource deficits, incentives that are detrimental to structure, and poor management. The root of the problem is politics and power.

  The government proclaimed the “Vision of Indonesia 2045” as one of the answers to “educate the nation’s life”, which carries 4 (four) pillars, namely: (1) Human Development and Mastery of Science and Technology, (2) Sustainable Economic Development, (3) Equity Development, and (4) Consolidating National Resilience and Governance. The transformation efforts carried out by the Government can be answered by the world of higher education. Maybe time will give a clear answer, even if it is supported by positive thinking.

Another challenge, UNESCO launched its “Education Vision 2050” (“Futures of Education 2050”) to coincide with International Education Day, January 24, 2022, which emphasized the importance of rethinking education. UNESCO’s call, how education is transformed to overcome various global challenges that can unite us in joint efforts, and generate knowledge and innovation for a sustainable future, and shared prosperity.

  The five suggestions for educational transformation are: 1) Pedagogy that adheres to the principles of cooperation, collaboration, and solidarity; 2) A curriculum that focuses on ecological, intercultural, and interdisciplinary learning; 3) More professional teachers as key figures in educational and social transformation; 4) Schools that need to be developed as educational vehicles that support inclusion, equality, and individual and community welfare; 5) Lifelong educational opportunities, as wide and deep as different cultural and social spaces.

  Do we see these problems and challenges as opportunities for transformation to achieve the vision of educating the nation’s life? It all comes down to what Rosser (2018) analyzes, the root of the problem is politics and power.

  Hopefully our spirit and positive thinking will be the driving force, and in this development range will produce a breakthrough that is able to provide space for anyone to organize and manage education in accordance with the capacity and available resources as well as possible, so as to be able to develop superior human resources, educate the nation’s life, and the well-being of individuals and society. Wallahualam.

  Vivat Widyatama, Vivat Civitas Academica, Vivat Indonesia and beloved archipelago. (@lee)

.

Editor – Lili Irahali