Home Blog Page 5

Widyatama & Industri Kolaborasi Ciptakan Lulusan Siap Kerja

0

Biro Karir Universitas Widyatama bersama puluhan praktisi Human Resource Development (HRD) dari berbagai sektor industri menggelar “Gathering HRD” pada Kamis, 24 Juli 2025 lalu. Acara yang diselenggarakan di Ruang Seminar Gedung B Universitas Widyatama ini menjadi forum strategis menjembatani kebutuhan dunia kerja dengan kurikulum pendidikan tinggi. Sebagai bagian dari rangkaian Open House Widyatama Volume 2 dialog ini bertujuan memperkuat sinergi menciptakan lulusan siap kerja yang tidak hanya kompeten secara akademis, tetapi juga relevan dengan tantangan zaman.

Inisiatif ini disambut hangat para pimpinan industri yang hadir. Mereka menekankan pentingnya kolaborasi aktif antara kampus dan perusahaan untuk memastikan relevansi pendidikan. Dunia usaha yang dinamis menuntut adanya adaptasi kurikulum secara berkala agar lulusan yang dihasilkan mampu menjawab kebutuhan pasar yang terus berubah. Forum seperti ini dianggap sebagai langkah awal dalam membangun kemitraan yang berkelanjutan dan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Sandra Sunanto, Ph.D. – CEO PT. Hartadinata Abadi Tbk. – sebagai narasumber menyebutkan dari perspektif industri keterlibatan dalam proses pendidikan menjadi sebuah keharusan. Sandra Sunanto, Ph.D. menyatakan bahwa dunia usaha sangat terbuka untuk bersinergi. Menurutnya kolaborasi tidak hanya sebatas penyerapan tenaga kerja, tetapi juga dalam perancangan kurikulum hingga pengembangan kompetensi sumber daya manusia yang sudah ada di perusahaan.

“Industri memang harus selalu dilibatkan dalam banyak hal. Karena dunia sekarang sudah berubah banyak. Terkait kurikulum, kita sangat terbuka untuk bisa ikut serta dalam memberikan saran. Karena situasi sekarang sudah jauh berbeda dengan 10 tahun atau bahkan 20 tahun yang lalu,” tegas Sandra.

Ia juga menambahkan harapannya agar universitas dapat membantu industri lewat program workshop atau pelatihan kepemimpinan bagi para manajer di perusahaan. Kebutuhan ini muncul karena setiap industri memiliki tantangan spesifik di samping kebutuhan umum lainnya.

Dengan melibatkan praktisi secara langsung, perguruan tinggi dapat merancang program pembelajaran yang lebih aplikatif dan presisi. Dengan kata lain, universitas diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai menara gading, melainkan sebagai mitra strategis yang aktif dalam ekosistem ekonomi dan ketenagakerjaan nasional.

Kampus Menjawab Tantangan Industri

Pipin Sukandi, S.E., M.M selaku Kepala Biro Karir Universitas Widyatama menegaskan komitmennya dalam mempersiapkan mahasiswa secara holistik. Ia menjelaskan bahwa kurikulum saat ini telah dirancang untuk mencakup dua jalur utama bagi lulusan, yaitu menjadi profesional di dunia kerja atau menjadi wirausahawan yang membuka lapangan kerja.

Menurut Pipin, kompetensi akademis saja tidak cukup. Pihaknya secara aktif mendorong mahasiswa untuk mengembangkan soft skill, seperti komunikasi dan kepemimpinan melalui berbagai unit kegiatan mahasiswa (UKM). Hal ini bertujuan menciptakan lulusan siap kerja yang memiliki paket kemampuan lengkap, sesuai dengan ekspektasi tinggi dari dunia industri modern. “Harapan agar lulusan Widyatama  tidak hanya mengandalkan apa yang diajarkan di dalam kelas saja. Jadi istilahnya, mahasiswa harus seperti supermarket, segala bisa dan segala ada, sehingga apa pun yang dibutuhkan oleh dunia industri mereka sudah siap,” ujar Pipin.

Kolaborasi yang terjalin diharapkan tidak berhenti sebagai acara seremonial, melainkan berlanjut ke dalam aksi-aksi konkret seperti pembaruan kurikulum bersama, program magang yang terstruktur, serta pelatihan bersama. Langkah ini merupakan investasi jangka panjang memastikan Indonesia memiliki sumber daya manusia unggul yang mampu bersaing di panggung global. Acara dilengkapi dengan penanda tangan MoU dengan pihak industri. (UTama, 05 Agustus 2025)

Dies Natalis ke-24 Universitas Widyatama Bergerak Bersama Memajukan Universitas Widyatama

0

Universitas Widyatama menyelenggarakan peringatan Dies Natalis ke-24 dengan penuh semangat kebersamaan dan komitmen untuk terus berkembang di tengah arus globalisasi. Mengusung tema “Bergerak Bersama Memajukan Universitas Widyatama dalam Arus Globalisasi”, acara berlangsung meriah di Gedung Serba Guna Universitas Widyatama pada 4 Agustus 2025 lalu yang dihadiri oleh sivitas akademika, pimpinan yayasan, mitra perguruan tinggi, serta tamu undangan dari dalam dan luar negeri.

Acara dimulai dengan Sidang Terbuka Senat Universitas dipimpin langsung Rektor Universitas Widyatama, Prof. Dr. H. Dadang Suganda, M.Hum., dilanjutkan sambutan Ketua Yayasan Widyatama, Roeshartono, S.T., M.C.E.M., M.B.A.. Kekhidmatan dan kemeriahan acara dirangkai dengan penampilan seni budaya oleh mahasiswa, serta penayangan capaian prestasi kampus selama setahun terakhir.

Sebagai bentuk penguatan jejaring internasional hadir Prof. Dr. Deshinta Arrova Dewi., S.T., M.T. dari INTI International University, Malaysia sebagai tamu undangan eksternal. Selain itu, turut hadir para pimpinan perguruan tinggi mitra dari Jawa Barat: Dr. Ir. H. Ibrahim Danuwikarsa, M.S. (Rektor Universitas Bale Bandung – UNIBBA), Fatimah Nurjannati Iskandar, S.E., M.Ak. (Rektor Universitas Sali Al-Aitaam – UNISAL), Prof. Mokhamad Anwar, S.E., M.Si., Ph.D. (Ketua STIE Ekuitas).

Juga kehadiran Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Dr. Lukman, S.T., M.Hum. pada momen penting ini. Beliau memberikan sambutan hangat dan apresiasi atas konsistensi Universitas Widyatama dalam menjaga kualitas pendidikan tinggi. “Universitas Widyatama adalah salah satu perguruan tinggi swasta yang menunjukkan perkembangan signifikan dalam berbagai aspek, baik akademik maupun non-akademik. Saya mengapresiasi langkah-langkah strategis yang dilakukan oleh Widyatama dalam menghadapi tantangan globalisasi, termasuk penguatan kerja sama internasional dan inovasi pembelajaran berbasis teknologi,” ujar Dr. Lukman. Beliau juga mendorong agar perguruan tinggi swasta di lingkungan LLDIKTI Wilayah IV dapat terus bersinergi dan beradaptasi secara progresif untuk menjawab tuntutan zaman.

Di akhir acara, hadirin bersama menyanyikan Mars Widyatama sebagai simbol semangat dan kebersamaan keluarga besar universitas. Perayaan ini sekaligus menjadi momentum reflektif bagi seluruh elemen kampus untuk terus memperkuat peran sebagai Kampus Berdampak, yang mampu menghasilkan lulusan unggul, berintegritas, dan siap bersaing di tingkat global. (UTama, 05 Agustus 2025)

Ratusan Siswa Hadiri Open House Widyatama Vol. 2

0

Ratusan siswa SMA/SMK dari berbagai sekolah di Bandung dan sekitarnya memadati Gedung Serbaguna (GSG) Universitas Widyatama pada Kamis, 24 Juli 2025 lalu. Mereka hadir dengan antusiasme tinggi mengikuti Open House Widyatama Volume 2, sebuah acara yang memperkenalkan kondisi faktual dan keunggulan UTama dari 13 perguruan tinggi swasta (PTS) terakreditasi Unggul di Jawa Barat dan Banten.

Acara ini membangun komunikasi langsung antara universitas dengan calon mahasiswa, orang tua, serta para guru. Rektor Universitas Widyatama, Prof. Dr. H. Dadang Suganda, M.Hum. dalam sambutannya menegaskan tujuan utama kegiatan ini adalah mengkomunikan gambaran nyata dan faktual tentang kampus UTama. “ Di zaman digital ini, informasi mudah didapat, namun mungkin ada yang tidak sesuai kondisi riil. Karena itu, kami mengundang para siswa, orang tua, dan guru untuk mengenal lebih dekat,” ujar Prof. Dadang.

Prof. Dadang menekankan komitmen UTama menyelenggarakan pendidikan berkualitas premium. Komitmen ini dibuktikan dengan kualitas akademik,  riset, sumber daya manusia, serta infrastruktur yang mendapat apresiasi tinggi dari para asesor. “Insyaallah kami akan menjaga kualitas dan kredibilitas untuk menghasilkan lulusan yang bisa bersaing di tingkat nasional dan global,” tegasnya.

Antusiasme Siswa dan Pengalaman Nyata di Kampus

Suasana di gedung GSG terasa semarak layaknya sebuah festival pendidikan. Setiap fakultas dan program studi (prodi) menampilkan booth kreatif yang berhasil menarik perhatian para siswa. Mereka tidak hanya melihat, tetapi juga aktif bertanya dan berdiskusi dengan perwakilan prodi, mendapatkan gambaran jelas tentang dunia perkuliahan yang akan mereka masuki.

Kesan positif datang dari para siswa yang hadir. Seorang siswi dari SMA PGII 1 Bandung mengaku terkejut dengan kualitas yang ditawarkan. “Kesan pertama kaget banget, Widyatama tuh sebagus ini. Pas masuk, lihat banyak sekali jurusannya, jadi kebayang pengen masuk ke mana. Kampusnya juga keren, dan banyak jurusan yang aku minati seperti perdagangan internasional, jadi makin tertarik,” ungkapnya. Ia juga menyoroti keunggulan kerjasama internasional yang dimiliki Widyatama sebagai daya tarik utama.

Hal senada diungkapkan oleh Wulan, siswi dari SMA PGII 2 Bandung yang terkesan dengan fasilitas fisik kampus. “Menurut aku kampusnya gede banget ya, terus bersih. Banyak bangunan baru juga, jadi semuanya bagus. Yang aku perhatikan, fasilitas untuk setiap jurusan sangat lengkap, contohnya untuk Teknik, alat-alatnya banyak banget. Sangat memfasilitasi,” tutur Wulan.

Direktur Marketing Universitas Widyatama, Muchammad Fauzi, S.T, M.Log., CSCA., CSCM. menjelaskan Open House Widyatama merupakan agenda rutin yang diselenggarakan dua kali dalam setahun. Acara ini bukan sekadar pameran, melainkan bagian dari edukasi, peningkatan jejaring, serta menjalin kerja sama strategis.

“Kegiatan sekarang tidak hanya edukasi saja, tapi ada juga lomba dan sosialisasi kerja sama atau MoU dengan mitra industri. Ia berharap melalui acara ini Widyatama dapat memperkuat kolaborasi dengan dunia industri sekaligus meningkatkan peminatan mahasiswa baru tahun akademik 2025-2026.

Open House Widyatama Volume 2 ini tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga pengalaman langsung yang membangun kepercayaan dan minat calon mahasiswa. Dengan memadukan presentasi keunggulan akademik dan suasana yang interaktif, Widyatama membuktikan kesiapannya dalam menyambut, dan mendidik generasi baru yang siap bersaing di kancah global. (UTama, 5 Agustus 2025)

Upacara Peringati HUT Kemerdekaan RI – Universitas Widyatama

0

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, Universitas Widyatama menyelenggarakan upacara bendera di kampus utama dengan penuh khidmat, Minggu (17/8/2025) lalu.

Upacara diikuti pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa dari berbagai fakultas dan program studi. Seluruh peserta antusias mengikuti rangkaian kegiatan, yang diawali dengan pengibaran Sang Merah Putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Dalam amanatnya, Rektor Universitas Widyatama menyampaikan bahwa momentum peringatan kemerdekaan menjadi pengingat penting akan perjuangan para pahlawan bangsa. Semangat persatuan, kerja sama, dan kontribusi nyata dari seluruh elemen masyarakat, termasuk perguruan tinggi, sangat diperlukan untuk membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik. “Dirgahayu Republik Indonesia ke-80. Semoga semangat kemerdekaan terus menginspirasi kita semua untuk membangun bangsa yang maju, mandiri, dan berdaya saing global,” ungkap Prof. Dadang.

Pelaksanaan upacara peringatan Kemerdekaan yang diselenggarakan secara konsisten tiap tahun menegaskan komitmen Universitas Widyatama untuk terus berperan aktif dalam mencetak generasi unggul yang mampu berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa dan negara. (UTama, 17 Agustus 2025)

Widyatama Peroleh Capaian Akademik Perkuat Kualitas TriDharma PT

0

Pada masa Dies Natalis ke 24 Universitas Widyatama bersyukur menerima beberapa capaian akademik dari kinerja dosen, maupun institusi.

Berdasar SK Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 290/M/KPT.KP/2025 Universitas Widyatama menambah seorang guru besar, yakni Prof. Dr. Keni Kaniawati, S.E., M.Si. yang resmi meraih jabatan fungsional sebagai Profesor/Guru Besar bidang Strategic Marketing in UMKM.

Pencapaian ini menjadi bukti kontribusi Universitas Widyatama dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya bidang pemasaran strategis untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Bidang tersebut sangat relevan dengan kebutuhan bangsa dalam meningkatkan daya saing dan kemandirian ekonomi masyarakat melalui penguatan UMKM.

Tidak lama kemudian, Dr. Raden Novitasari, S.S., M.Hum. berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Linguistik. Beliau merupakan dosen pada Program Studi S1 Bahasa Jepang, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Widyatama. Capaian tersebut disusul, Dr. Annisa Bela Pertiwi, S.Pd., M.Pd. yang berhasil meraih gelar Doktor Pendidikan Seni. Beliau merupakan dosen pada Dosen Program Studi D4 Desain Grafis, Fakultas Desain Komunikasi Visual.

Pencapaian akademik dosen-dosen tersebut bukti komitmen Universitas Widyatama senantiasa mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya tenaga pendidik. Gelar profesor/guru besar dan doktor yang mereka raih diharapkan kontribusi dalam bidang pemasaran strategis untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM); juga linguistik, terutama kajian bahasa dan budaya Jepang; serta dalam pendidikan seni semakin memperkuat kualitas pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.

Sementara itu, dalam capaian akreditasi program studi. Program Studi S1 Teknik Mesin Universitas Widyatama meraih predikat “Baik Sekali” per tanggal 14 Agustus 2025 hingga 20 Agustus 2030 berdasarkan Surat Keputusan LAM Teknik No. 0611/SK/LAM Teknik/AS/VIII/2025.

Program Studi S1 Teknik Industri Universitas Widyatama meraih predikat “UNGGUL” sejak tanggal 14 Agustus 2025 hingga 20 Agustus 2030 berdasarkan Surat Keputusan LAM Teknik No. 0612/SK/LAM Teknik/AS/VIII/2025.

Program Studi Profesi Akuntan Universitas Widyatama meraih predikat “UNGGUL” sejak tanggal 25 Agustus 2025 hingga 25 Agustus 2030 berdasarkan Surat Keputusan LAMEMBA No. 2672/DE/A.5/AR.10/VIII/2025.

Program Studi Magister Manajemen Universitas Widyatama atas diraihnya predikat “UNGGUL” sejak tanggal 25 Agustus 2025 hingga 20 Agustus 2030 berdasarkan Surat Keputusan LAMEMBA No. 2726/DE/A.5/AR.10/VIII/2025.

Program Studi Magister Akuntansi Universitas Widyatama atas diraihnya predikat “UNGGUL” sejak tanggal 25 Agustus 2025 hingga 20 Agustus 2030 berdasarkan Surat Keputusan LAMEMBA No. 2687/DE/A.5/AR.10/VIII/2025. (UTama, 8 September 2025)

Edisi Oktober 2025

0

Pendidikan Tinggi Gratis, Seharusnya Bisa!

0

Oleh: Lili Irahali

Pemerhati Pendidikan

Delapan dasa­war­sa (80 tahun) sudah Indonesia mer­deka, sudah sepantasnya kita me­renungkan kembali landasan dan tujuan berdirinya negeri ini. Salah satunya pen­di­dik­an, di mana sejati­nya pen­di­dikan adalah pintu bagi ma­sa depan anak-anak bang­sa.

Di tengah berbagai agenda besar menuju Indonesia Emas 2045, kita justru diha­dapkan pada fakta bahwa ang­ka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi Indonesia masih stagnan di angka 31,45% sepanjang tiga tahun terakhir. Artinya, dari 100 lulusan SMA, SMK, MA, dan sederajat hanya sekitar 31 orang yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Secara na­sional, rata-rata APK pendidikan tinggi masih rendah dan belum mencapai target nasional sebesar 34,56% dari tahun ke tahun. Padahal APK pendidikan tinggi me­ru­pakan salah satu indi­kator pendidikan yang menjadi per­hatian pembangunan ber­­­­­kelanjutan. Sementara ne­­ga­ra jiran, se­perti Ma­lay­sia telah mencapai 44%, Thai­land 49%, dan Singapura me­lesat di angka 88%.

Alinea IV Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 amen­demen menyebutkan bahwa “Pemerintah Indo­ne­sia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memaju­kan kesejahteraan umum, men­cer­daskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksana­kan ke­ter­tiban dunia yang berda­sarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadil­an sosial”. Dipertegas pula pada Pasal 31 Ayat (1) bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendi­dikan.  Bah­kan Ayat (3) me­nyebut­kan, pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang me­ningkatkan keiman­an dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang. Lalu, pada Ayat (4) disebutkan, ne­gara memprioritaskan ang­garan pendi­dikan sekurang-ku­rang­nya 20% dari ang­­garan pendapatan dan belanja negara serta dari ang­garan pendapatan dan belanja daerah untuk me­­me­nuhi kebutuhan pe­nyelenggaraan pendidikan nasional.

Indonesia sedang berada di puncak bonus demografi. Tapi, jika sebagian besar ge­nerasi muda hanya berhenti di bangku sekolah lanjutan atas, potensi ini akan ber­ubah menjadi beban sosial. Pendidikan tinggi bukan semata urusan gelar, tetapi be­kal berpikir kritis, etika kerja, dan kesiapan menghadapi dunia global.

Oleh karena itu, saatnya kita bertanya: mengapa pendidikan tinggi belum menjadi hak semua anak bangsa? Mengapa kebijakan gratis atau subsidi pendidikan tinggi belum benar-benar me­nye­n­tuh akar persoalan? Ke­pala tulisan “Pendidikan Tinggi Gratis” di atas tentu bukan hanya soal subsidi, tapi soal keadilan sosial, mobilitas vertikal, dan masa depan bangsa.

Realitas menunjukkan, tiap tahun, lebih dari 3,7 juta siswa lulus dari SMA, SMK, MA, dan sederajat. Namun hanya sekitar 750.000 yang mampu tertampung di perguruan tinggi negeri (PTN). Sisanya, banyak yang me­nye­rah karena mahalnya biaya atau tak lolos seleksi yang makin ketat. Lebih dari 60% mahasiswa Indonesia me­nempuh pendidikan di perguruan tinggi swasta (PTS). Sayangnya, PTS se­­ring kali dianggap pelengkap semata, bukan mitra strategis. Pemerintah memang te­lah menggulirkan skema se­perti KIP Kuliah dan subsidi UKT, tetapi sebagian besar ha­­nya menyasar PTN. ­Ke­­­­­­­­­tim­­pangan ini mem­per­le­bar jurang sosial dalam akses pendidikan tinggi.

Belajar dari negara lain, Jerman dan Finlandia memberi pendidikan tinggi gratis untuk semua warganya, dibi­ayai sistem pajak yang prog­resif. Lalu, Malaysia dan Si­ngapura memberikan subsidi langsung dan insentif pada institusi pendidikan tinggi swasta. Mereka paham bahwa akses luas ke pendidikan tinggi adalah investasi ter­sra­tegis dalam membangun bangsa berdaya saing. Seha­rusnya Indonesia pun bisa.

Dengan alokasi anggaran pen­didikan nasional tahun 2025 yang tertinggi dalam se­jarah, yakni mencapai Rp 724,262 triliun (setara 20% dari APBN), dan sekitar Rp 93,6 triliun dialokasikan untuk pendidikan tinggi. Hitungan kasar, untuk membiayai satu juta mahasiswa baru dengan skema kuliah dan biaya hidup gratis hanya diperlukan sekitar Rp 18,5 triliun per tahun—kurang da­­ri 3% anggaran pendi­di­kan nasional yang sudah mencapai Rp 724,262 triliun. Bahkan, apabila implementasi bertahap dimulai tahun 2026, target APK >50% di tahun 2035 sangat mungkin bisa dicapai. Ini bukan angka dan hitungan yang mustahil bila ada kehendak politik, ti­dak diserobot korupsi, serta ke­­beranian untuk melibat­kan semua pihak.

“Pendidikan Tinggi Gratis” boleh dibilang usulan kebijakan  menawarkan solusi yang konkret dan kolaboratif. Negara seharusnya bu­kan hanya mendukung PTN, tetapi juga memberi subsidi dan block grant kepada PTS berdasarkan akreditasi dan kinerja. Mahasiswa dari ke­luarga miskin berhak me­ne­rima beasiswa penuh.

Dalam kerangka ini, maka PTS tidak lagi dipinggirkan. PTS sesungguhnya memiliki potensi besar dalam menampung mahasiswa belum menjadi bagian integral dari kebijakan afirmatif nasional. Mereka justru sangat mung­kin menjadi mitra utama da­lam mewujudkan pendi­dikan tinggi sebagai hak warga negara. Tentunya de­ngan melalui pengawasan dan transparansi yang jelas. Kolaborasi PTN dan PTS akan menjadi mesin pengge­rak APK nasional.

Kita sepakat bahwa “pendidikan adalah investasi, bu­kan beban”. Jadi, sudah sa­atnya kita berhenti memandang pendidikan tinggi sebagai beban ang­garan.***

sumber: https://koran.pikiran-rakyat.com/opini/amp/pr-3039603658/pendidikan-tinggi-gratis-seharusnya-bisa?page=all

Kepemimpinan Kolektif Jadi Kunci Transformasi Perguruan Tinggi Swasta di Era Disrupsi

0

Oleh: Lili Irahali

Staf Ahli Yayasan Widyatama

SUATU waktu saya berbincang dengan Ketua Aptisi Jawa Barat yang juga rektor sebuah PTS di Bandung bahwa salah satu aspek kunci menghadapi tantangan PTS yang kompleks adalah kepemimpinan. Pergulatan saya  di tengah dinamika dan kompleksitas dunia pendidikan tinggi di negeri ini merasakan benar adanya, bahwa aspek kepemimpinan dalam perguruan tinggi swasta (PTS) menjadi penentu utama arah dan kualitas institusi. Kepemimpinan yang dimaksud bukan sekadar soal jabatan rektor, dekan, kaprodi, atau kepala lembaga. Lebih dari itu, ia adalah kekuatan penggerak yang menetapkan budaya organisasi, menjaga muruah akademik dan menjembatani idealisme ilmiah dengan realitas opera­sional.

Namun, tak sedikit PTS masih terjebak dalam pola kepemimpinan birokratis dan patrimonial—di mana kekuasaan terlalu tersentralisasi, dan keputusan penting hanya berputar di lingkaran sempit elite pimpinan tertinggi. Model seperti ini tidak hanya meng­hambat partisipasi sivitas akademika, tetapi juga memicu konflik internal dan krisis kepercayaan.

Dalam beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan berbagai kasus yang mencer­minkan lemahnya kepemimpinan dalam tata kelola PTS. Misal, pada 2024 kisruh dualisme antara yayasan dan rektorat di sebuah PTS ternama di Jakarta, yang menyebabkan lumpuhnya aktivitas akademik.

Kepemimpinan 

Di tengah disrupsi digital, globalisasi, dan krisis pendanaan, PTS membutuhkan pemimpin yang tidak hanya andal secara administratif, tetapi juga visioner, adaptif, dan reflektif. Pemimpin PTS harus mampu menjembatani idealisme akademik dengan tuntutan pragmatis dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat. Bryman (2007) menekankan pentingnya kepemimpinan partisipatif yang menginspirasi dan membangun budaya kolaboratif, bukan sekadar menjalankan struktur formal.

Tantangan terbesarnya bukan hanya pada kebijakan, tetapi pada bagaimana kebijakan tersebut diterjemahkan dalam tindakan yang kredibel, konsisten, dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, pendekatan kepemim­pinan kolektif sebagaimana dikemukakan Spillane (20­06), menjadi relevan—yaitu menyebarkan tanggung ja­wab kepada banyak aktor akademik yang memiliki kompetensi dan integritas. Kepemimpinan yang tersebar seperti ini mendorong rasa kepemilikan kolektif ter­hadap masa depan institusi.

Dalam konteks ini, PTS membutuhkan para teknokrat yakni para pejabat struktural, fungsional, mau­pun staf akademik dan administrasi yang mampu menjalankan fungsi mana­je­rial dan pengambilan keputusan berbasis keahlian dan profe­sionalisme sesuai kewe­na­ngannya. Mereka aktor penting dalam merancang, me­mimpin dan mengeva­lu­asi kinerja institusi secara berkelanjutan. Mereka memainkan peran dalam me­ngelola sumber daya, merancang strategi kelembagaan, serta me­mas­tikan tercapainya sasaran­sasaran institusional. Mereka memainkan peran kepemimpinan substantif, dan sebagai middle leaders yang menjembatani kebijakan strategis dengan operasional kampus.

Namun, sayangnya ketika legitimasi moral dan legiti­ma­si akademik pimpinan melemah, institusi PTS kehilangan arah. Lebih buruk lagi, ketika sejumlah pimpinan kampus bahkan terseret dalam skandal penyalahgunaan dana atau jual beli ijazah, seperti terungkap pa­da awal 2025. Ini bukti bahwa tanpa adanya kepemimpinan yang jujur dan bermutu, institusi akademik akan kehilangan jati diri dan nilai keilmuannya. Ini adalah suatu tantangan.

Kalau kita dalami, terdapat tiga aspek kepemimpinan di PTS yang harus dijalankan secara bersamaan. Pertama, kepemimpinan akademik meru­pakan fondasi keberadaan perguruan tinggi menjaga arah dan mu­ruah ilmu. Kedua, kepemimpinan ter­hadap dosen yang harus berangkat dari penghormatan terhadap otonomi akademik, etika keilmuan, dan apre­siasi atas keunikan keahlian dengan tujuan mengelola komunitas ilmiah. Ketiga adalah kepemimpinan struktural akademik, yakni menyangkut bagaimana organisasi kampus mendukung dan menyelaraskan visi, misi, dan prosedur institusi.

Lalu bagaimana memperkuat tata kelola PTS menuju transformasi akademik? Paling tidak terdapat tiga langkah strategis. Pertama, seleksi pemimpin akademik berdasarkan kompetensi dan visi ilmiah. Kedua, peningkatan kapasitas kepemimpinan. Terakhir, reformasi struktur tata kelola. Perlu penyesuaian organisasi kampus agar lebih responsif ter­hadap kebutuhan akademik masa kini.

Pada akhirnya, memang keberhasilan atau kegagalan PTS dalam tata kelola dan transformasi sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinannya—baik dalam aspek akademik, pengelolaan dosen, maupun struktur organisasi. Kepemimpinan yang kolegial, transparan, dan berbasis nilai menjadi prasyarat mutlak untuk menciptakan atmosfer kampus yang sehat dan relevan dengan zaman. Selain itu, tanpa pemimpin yang jujur, berani, dan visioner, mustahil PTS dapat bertransformasi menjadi pusat pembelajaran, penelitian, dan pengabdian yang ber­makna bagi bangsa, serta menjadi harapan stakeholders pendidikan tinggi.***

Sumber Artikel berjudul ” Kepemimpinan Kolektif Jadi Kunci Transformasi Perguruan Tinggi Swasta di Era Disrupsi “, selengkapnya dengan link: https://koran.pikiran-rakyat.com/opini/pr-3039498432/kepemimpinan-kolektif-jadi-kunci-transformasi-perguruan-tinggi-swasta-di-era-disrupsi?page=all

Di Tengah Tekanan Fiskal dan Tantangan Mutu Transformasi PTS Menuju Paradigma Tata Kelola Baru?

Wawancara Ketua APTISI Jabar

Prof. Dr. Ir. H. Eddy Soeryanto Soegoto, M.T.

Di tengah pusaran dinamika pendidikan tinggi nasional, perguruan tinggi swasta (PTS) menghadapi dilema struktural krusial antara tekanan fiskal yang kian kuat, di sisi lain  tuntutan peningkatan mutu yang terus meningkat.

Wawancara Komunita, 5 Juni 2025 dengan Ketua APTISI Jawa Barat, Prof. Dr. Ir. H. Eddy Soeryanto Soegoto, M.T menggali sejumlah realitas di lapangan yang dihadapi PTS. Di balik tantangan tersebut, mengemuka harapan dan inisiatif, strategi dan arah transformasi tata kelola yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berorientasi masa depan, agar PTS tidak sekedar bertahan, tetapi juga mampu terus berperan strategis dalam ekosistem pendidikan nasional.

Semoga wawancara ini membuka cakrawala tentang realitas dan harapan PTS di Indonesia di tengah tekanan dan ketimpangan, dan transformasi tata kelola bukan lagi opsi, melainkan keharusan. PTS yang mampu mengadopsi kepemimpinan adaptif, membangun ekosistem pendukung, dan bermitra strategis akan tetap relevan dan berdaya saing. Di sinilah peran APTISI menjadi penting: sebagai penggerak, penjembatan, dan pengawal perubahan. Mari kita simak.

Komunita: Akhir-akhir ini banyak yang menyoroti tantangan berat PTS. Apa saja tantangan utamanya?

Ketua APTISI Jabar: Tantangannya yang dihadapi PTS sangat kompleks, tapi dapat disederhanakan dalam dua aspek utama: tantangan mutu dan tekanan fiskal. Kunci menghadapinya ada pada kemampuan beradaptasi menggunakan kemajuan teknologi, serta kepemimpinan. Namun, tidak semua yayasan atau pimpinan PTS punya kesamaan visi dan kapasitas. Ada yang ingin maju tapi terbentur dukungan yayasan. Sebaliknya, ada pula yang mendirikan PTS demi kepentingan pribadi, bukan untuk pengembangan pendidikan.

Kemampuan beradaptasi dengan kemajuan teknologi tentu harus didukung oleh kepiawaian kepemimpinan di PTS, dan yayasan. Ada kalanya rektor ingin melakukan perubahan, yayasan belum bisa mendukung karena keterbatasan. Itu kendala yang memang terjadi di PTS. Karena itu, pimpinan PTS harus bisa mengambil keputusan tepat mengarahkan perguruan tingginya bergerak sesuai dengan kondisi yang ada.

Kunci utama adalah kepemimpinan dalam mengelola sumber daya yang harus dimiliki PTS sebagai badan pengelola, serta yayasan sebagai badan penyelenggara yang memahami dan mendukung visi misi PTS yang dibangun bersama tersebut.

PTS juga dituntut beradaptasi dengan kecepatan perubahan teknologi – semisal keberadaan AI. Tentu hal ini harus didukung kebijakan masing-masing, perlu regulasi masing-masing PTS  yang mengarah jauh ke depan. Satu kebijakan yang kokoh melangkah mempersiapkan diri bergerak bersama kecepatan perubahan teknologi itu.

Lalu, perubahan internal menyesuaikan dengan kecepatan perubahan eksternal, serta berkolaborasi dalam wadah APTISI, ABP PTSI, APTIKOM, dan seterusnya. Kita melihat sekarang perguruan tinggi besar bukan lagi melihat level standar, tapi sudah melihat ke level internasional. Bandingkan perguruan tinggi di Malaysia, Thailand  sudah mencapai perankingan level QS, dll. APTISI senantiasa mendorong hal ini.

Komunita: Juni 2025 Kemendikbudsaintek mencatat kenaikan jumlah PTS unggul menjadi 194 PTS, namun sekitar 600 PTS masih bermasalah.

Ketua APTISI Jabar: APTISI berusaha sebagai motor kolektif dan penggerak bersama. Artinya, kita berusaha merangkul PTS untuk bergerak bersama berkembang ke arah yang lebih baik. PTS unggul – 15 PTS unggul di Jawa Barat – memberi contoh bagi yang lain. Tapi sayang masih ada PTS yang menutup diri.  Biasanya ada masalah internal. Selain itu ada kepemimpinan yang lemah, ketidakterbukaan, atau visi yang menyimpang dari tujuan pendidikan.

Komunita: Lalu, bagaimana sikap APTISI terhadap PTS bermasalah?

Ketua APTISI Jabar: Selama ini kami sudah sering mengajak mereka duduk bersama mengurai masalah dan mencari solusi. Barangkali kami bisa membantu. Tapi kalau sudah parah dan tidak bisa diselamatkan, kami membantu mahasiswanya.

APTISI juga bekerja sama dengan LLDIKTI dalam relokasi mahasiswa dan dosen dari PTS bermasalah. Ada PTS tertentu yang sama sekali sudah tidak bisa ditolong. Kami membantu mahasiswanya. Misalnya kondisi akreditasinya C, sementara PTS yang menerima unggul.  Kami harus berbesar hati menerima dan menyelamatkan mahasiswa, lalu bagaimana SPP-nya: semisal 1 juta per semester, sementara SPP PTS yang menerima 10 juta per semester tentu harus berbesar hati. Gambaran di atas merupakan salah satu solusi yang bisa dilakukan bersama dengan LLDIKTI menyelamatkan mahasiswa dari PTS yang ditutup sehingga mahasiswa tidak dirugikan.

Kedua, berusaha membantu dosen-dosen di lingkungan APTISI yang perlu peningkatan kemampuan menulis karya ilmiah. Misal, Unikom bisa menerima 3 kelas kapasitas 50 untuk membina dosen dalam penulisan ilmiah, sehingga jabatan fungsional dosen tersebut bisa naik dari asisten ahli ke lektor, lektor ke lektor Kepala dan seterusnya.

Komunita: Bagaimana APTISI mensikapi kebijakan penerimaan mahasiswa baru PTN yang semakin agresif dengan meluncurkan berbagai program penerimaan mahasiswa?

Ketua APTISI Jabar:  Kami sudah membicarakan hal tersebut ke Kementerian, dengan Menteri Prof. Satrio, maupun Menteri Prof. Brian.  Namun saya melihat belum ada langkah-langkah konkrit, seolah-olah masih membiarkan. PTN sudah seperti gurita dalam penerimaan mahasiswa baru. Mereka tidak hanya mengambil mahasiswa dalam jumlah besar, tetapi juga kurang memperhatikan kualitas.

Kami merangkul semua PTS, Jawa Barat 350 PTS, Banten hampir 200 PTS. Se-Indonesia lebih 3.000 PTS. Kalau sistem PTN mengeruk mahasiswa baru dengan cara-cara yang tidak etis. Saya pikir sangat disayangkan.  Padahal proses belajar mengajar atau akademik di PTS harus berkualitas bagus, demikian pula karier dosen yang mengajar juga harus jelas.  Seharusnya PTN fokus pada jenjang S2 dan S3, sementara S1 dikembangkan bersama PTS. Selanjutnya seharusnya PTN lebih berbicara menjadi perguruan tinggi kelas dunia.

Komunita: Tekanan fiskal dari pemotongan anggaran Kementerian, dan kenaikan pajak menjadi sorotan. Bagaimana dampaknya bagi PTS?

Ketua APTISI Jabar: Dampaknya signifikan. PTS harus cerdas mengelola keuangan dan mengejar hibah. Tapi faktanya, tidak semua PTS siap bersaing. Kami rutin mengadakan workshop, pelatihan, tapi masih ada yang kurang antusias. Inkonsistensi ini menghambat.

Terkait dengan pajak memang merupakan kebijakan masing-masing Pemerintah Daerah. Semestinya bagi penyelenggara pendidikan tinggi sebagai lembaga nirlaba seluruhnya dapat keringanan. Kemudian pemotongan anggaran di Kementerian terkait efisiensi, kami bisa memaklumi.

Kondisi di atas menuntut PTS harus mensiasati dan mengerahkan kemampuan. Bagi dosen-dosen, khususnya di bidang penelitian dan pengembangan berlomba memperoleh hibah dari berbagai lembaga yang memang sangat selektif. Kami selalu berpikir bagaimana PTS bisa meraih hibah tersebut dengan melakukan pembinaan, melalui seminar, lokakarya, ataupun workshop terkait hibah.

Komunita: Solusi utama agar PTS tetap survive dan berkembang?

Ketua APTISI Jabar: Sebagai ilustrasi, ada batas tertentu sebuah perguruan tinggi bisa tumbuh dan berkembang. Perguruan tinggi tergantung mengampu berapa program studi/prodi. Makin banyak prodi, makin besar kebutuhan finansial bagi pengembangan dirinya. Misal perguruan tinggi adalah sekolah tinggi atau politenik prodinya relatif sedikit. Tapi kalau universitas mempunyai berapa fakultas kemudian berapa prodi, maka ada jumlah minimal mahasiswa yang harus mereka penuhi.

Semakin sedikit prodi yang diampu tentu pengeluaran makin kecil. Namun makin banyak prodi, makin besar juga pengeluaran. Disinilah peran pimpinan perguruan tinggi beserta jajaran melakukan upaya-upaya agar jumlah mahasiswa baru minimal berada pada level yang tidak boleh kurang dari ketentuan. Ada batas minimal, dan batas maksimal, sehingga minimal PTS tersebut bisa membiayai aktivitas berkelanjutan, dan mengembangkan dirinya.

Artinya batas minimal dan maksimal harus disikapi. Jangan melebihi kapasitas, atau jangan kurang dari batas minimal. Batas minimal itu tergantung PTS masing-masing. Hal ini dalam rangka menjaga standar mutu. Dengan jumlah minimal kira-kira bisa memenuhi standar, kalau lebih tinggi kira-kira bisa mengembangkan diri. Karena masing-masing PTS mempunyai batas tersendiri.

            Solusi utama agar PTS tetap survive dan berkembang adalah Entrepreneurial mindset. Jangan hanya bergantung pada SPP mahasiswa. Harus punya unit bisnis penopang. Unikom misalnya, mempunyai unit restoran, kafe, peternakan, hingga kapal ikan. PTS harus punya misi jangka panjang dan visi kewirausahaan.

Jadi pola pikir seorang pimpinan PTS ke arah entrepreneurial mindset. Ketika membangun sebuah perguruan tinggi, lalu perguruan tinggi tersebut maju, atau sambil bertumbuh, perguruan tinggi tersebut mulai mengembangkan diri melalui pendirian unit-unit bisnis yang bertahap menopang perguruan tingginya. Jadi, bisnis-bisnis tersebut akan mendukung keberadaan perguruan tinggi. Kita tidak bergantung sepenuhnya pada SPP mahasiswa.

Artinya, sambil berjalan, kita sudah mulai mengembangkan perguruan tinggi, sehingga membuat lebih tenang dan lebih terhormat. Hal ini sangat bisa dilakukan, namun  kembali lagi pada mimpi perguruan tinggi itu. Kira-kira berapa persen idealnya, sehingga menjadi perguruan tinggi yang baik dan berkembang.

Komunita: Apakah pola pikir ini realistis diterapkan?

Ketua APTISI Jabar: Realistis. Semua bisa mulai dari kecil, tapi konsisten. Kuncinya ada pada kepemimpinan: visioner, jujur, jeli melihat peluang. Yayasan juga harus bisa memilih pemimpin yang mampu mengelola sumber daya dengan baik.

Makna bagi PTS secara menyeluruh, baik berstatus akreditasi unggul, sangat baik, atau baik. Ataupun PTS yang baru berdiri sama saja. Asal mengembangkan pola pikir entrepreneurial mindset, atau  tidak terpaku pada SPP (tuition fee) mahasiswa PTS akan berkembang bagus ke depan.

Sebagai pimpinan PTS harus betul-betul inovatif, dan kreatif menggerakkan sumber daya. Kata kuncinya PTS mau dan harus berkembang, pertama – ada komitmen Yayasan.  Yayasan harus melihat siapa menjadi rektor, menjadi ketua atau direktur. Yayasan harus melihat bahwa kandidat pemimpin piawai mengelola sumber daya. Piawai mengelola man, money, mesin, material, manajerial. Kedua, kejujuran dan integritas dirinya bagus. Apakah yang bersangkutan bisa mendukung Yayasan. Ketiga, harus jeli melihat peluang. Karena di swasta itu, masalah hidup adalah peluang. Kalau pimpinan tidak jeli melihat, kemudian meraih peluang akan berat.

Unikom misalnya fokus pada tujuan pendidikan, yakni pendidikan yang didukung juga oleh unit-unit bisnis yang kita bangun. Pola pikir ini ada dalam diri para pimpinan PTS. Artinya, bisnis utama adalah perguruan tingginya, sekundernya adalah unit-unit bisnis yang dibangun untuk menopang pendidikan tinggi. Memang income-wise (segi pendapatan) setiap PTS seharusnya berbeda. Jadi kembali kepada para pemimpin PTS masing-masing.

Jujur Unikom, diawali dari lembaga kursus yang dimulai dari kursus private, kemudian bimbingan tes, kemudian ke LPK. Ketika terjadi era Reformasi, saya ambil peluang membuat Sekolah Tinggi. Lalu dalam waktu 6 bulan, saya gabung Sekolah Sekolah Tinggi ini menjadi Unikom. Kemudian membuka fakultas-fakultas baru, serta program-program studi baru. Saya melihat menempatkan seorang pemimpin harus memiliki entrepreneurial mindset dengan  tiga kata kunci di atas.

Komunita: Bagaimana kolaborasi dengan PTN, serta dunia usaha dan industri (DUDI)?

Ketua APTISI Jabar: Kolaborasi penting. Tapi butuh SDM yang siap. Mahasiswa harus dibekali, agar saat masuk industri tidak merepotkan. Pimpinan PTS harus mempunyai tim khusus untuk menjalin kerja sama dengan DUDI dan luar negeri. Ini soal trust dan sinergi internal.

Kolaborasi antara PTN dengan PTS  sangat dimungkinkan untuk menghasilkan terbosan-terbosan baru, baik terkait dengan karya ilmiah, guru besar, juga menciptakan produk-produk baru sangat dimungkinkan. Tinggal bagaimana antara pimpinan perguruan tinggi mengimplementasikan dengan dimotori forum rektor misalnya.

Dengan dunia industri, ada industri yang membuka diri, tapi ada yang menutup diri. Industri kadang-kadang tidak mau direpotkan oleh mahasiswa yang baru belajar.  Masalahnya terlihat saat kita menerapkan kampus merdeka ada yang bisa dilakukan tapi ada juga tidak. Oleh sebab itu, PTS  ketika mengirimkan para mahasiswanya ke suatu industri harus sudah dibekali dengan kesiapan yang baik, agar pada saat praktek di industri, tidak merepotkan industri.

Karena itu kerjasama dengan DUDI harus di-create. Disitulah seorang pemimpin, seorang rektor, seorang direktur, atau ketua dituntut menempatkan tim di bagian A, misalnya untuk khusus mengurusi masalah internasional, masalah industry yang harus ada orangnya. Dengan begitu, setelah ditunjuk, memahami tugas, mereka menjalankan perannya.

Sebagai pimpinan memberikan gambaran kendala, rambu-rambu, dan mereka  menjalankan. Artinya ini juga soal trust pimpinan. Sejauh mana pimpinan memilih kandidat-kandidat calonnya untuk menduduki sesuatu posisi dengan memberikan trust. Karena trust tentunya mencakup aspek desentralisasi, otonomi, dan lainnya.

Lebih jauh, pimpinan tertinggi memegang fungsi sebagai perumus arah organisasi, pemberi teladan, pengarah, dan pengendali terhadap jajaran manajemen di bawahnya. Sinergi vertikal antara top, middle, dan lower management sangat penting dalam mewujudkan organisasi yang sehat dan berkelanjutan.

Komunita: Bagaimana membangun sistem trust dan kaderisasi di lingkungan PTS?

Ketua APTISI Jabar: Seorang pemimpin harus legowo, harus bisa melahirkan pemimpin-pemimpin baru untuk kelanjutan institusi PTS. Trust harus dibangun, dimana trust juga berarti desentralisasi dan pemberian reward.

Caranya tentu kita menempatkan kandidat berdasar jenjang. Seseorang yang ditempatkan, mendapat tugas, wewenang dan tanggungjawab, maka akan jalan dengan sendirinya. Namun ada juga yang tidak demikian. Sehingga kita secara bertahap mendapatkan yang terbaik. Itu bisa terlihat pada saat action di lapangan. Karena fungsi pemimpin bukan duduk di belakang meja, tetapi action-oriented.  Dia terjun ke lapangan, agar tahu mana yang bisa, mana yang tidak. Hal itu akan mempercepat mereka tumbuh dulu. Saya melihat teman-teman kita ada yang sudah bagus, tapi masih banyak juga yang belum.

Artinya pengembangan kualitas SDM harus diperhatikan terus. Mana yang berkemampuan akademik, mana lebih pada managerial. Terus dikembangkan dalam kaitannya dengan itu. Tentunya berkaitan juga dengan usaha meningkatkan kualitas mereka yang konsekuensinya ada biaya bagi mereka.

Biasanya orang-orang yang terpakai bekerja bisa cepat karena adanya semangat. Semangat muncul karena ada trust yang diberikan oleh pemimpin, juga sebaliknya. Secara otomatis juga akan membawa dampak pada reward, yang tentunya bisa bermacam-macam. Perangsang-perangsang lain juga diberikan bagi karyawan tertentu yang berprestasi luar biasa. Yayasan bisa memberikan tips-tips yang bisa membuat karyawan tetap berkontribusi. Karena mendidik dan membina sumber daya butuh proses dan waktu.

Dari kecenderungan seperti itu, pendekatan tidak selalu pada pola birokratis maupun formil. Ada pendekatan informal, pendekatan pribadi. Bahwa kaderisasi yang sudah dilakukan sangat bagus, namun jangan lupa melakukan pendekatan pribadi yang membuat ada keterikatan batin dengan mereka. Pembinaan sumber daya manusia juga kadang-kadang perlu memberi ruang berbuat salah yang masih bisa ditolelir. Tentu melalui ruang ini, tidak boleh langsung diberi punishment. Manusia kadang berbuat keliru, tidak ada yang sempurna. Jadi kalau ada yang berbuat kesalahan memang harus dipanggil dengan pendekatan pribadi lebih efektif. Juga melalui pendekatan prosedur yang ada seperti: SP1, SP2 dan seterusnya. Namun juga harus mengambil keputusan tegas bagi mereka-mereka yang cenderung tidak bekerja dengan baik dan benar.

Komunita: Apa peran organisasi seperti APTISI, ABPTSI, dan APTIKOM dalam memperkuat tata kelola?

Ketua APTISI Jabar: Ini wadah untuk belajar secara kolektif, dan bertumbuh bersama. Melalui keorganisasian APTISI, ABP PTSI, maupun APTIKOM di atas dapat menyerap kelebihan PTS unggul, untuk perbaiki kekurangan. Kuncinya adalah mau berbaur dan berproses bersama. APTISI terus membangun ekosistem kolaboratif melalui seminar, pelatihan, dan forum rutin. Dengan kebersamaan, ada hal-hal positif bagi kita semua membangun institusi PTS masing-masing.

Komunita: Kebijakan pemerintah yang bagaimana bisa menyelamatkan, memperkuat PTS.

Ketua APTISI Jabar: Kebijakan pemerintah yang mengafirmatif sangat diharapkan mengingat PTS  berjumlah relatif banyak. Maka kebijakan pemerintah seharusnya betul-betul mengakomodir kepentingan PTN, juga kepentingan PTS.

Semisal Pemerintah membuat kebijakan, dimana PTN lebih memperkuat pada jenjang S2, S3, kemudian PTS fokus pada jenjang S1. Sehingga untuk S2, S3 peserta didik tidak melirik ke luar negeri, karena merangkulkan kualitas setara di luar negeri.

Komunita: Apakah perlu Dewan Nasional Pendidikan Tinggi?

Ketua APTISI Jabar: Sangat perlu. Dewan ini bisa menampung aspirasi dari PTN dan PTS. Bisa memberi saran strategis kepada pemerintah secara lebih objektif. APTISI tidak harus demo, lebih baik ada Dewan yang mengadvokasi secara sistemik. Ini akan memperkuat kebijakan pendidikan tinggi nasional. Misalnya salah satunya yang urgent PTN jangan menerima mahasiswa baru yang agresif dan berlebihan, agar PTS bisa berkembang.

Saya kira bisa disinergikan, ada forum rektor, ABPTSI, APTISI untuk mengusung berdirinya Dewan Nasional Pendidikan Tinggi. Dengan adanya Dewan Nasional Pendidikan Tinggi permasalahan dapat diselesaikan terintegrasi untuk kepentingan nasional. Artinya power memperbaikan sistem pendidikan tinggi menjadi lebih kuat.

(Interview & Written by lili irahali)

Pergulatan Nyata PTS Menjaga Kampus dan Tranformasi Tata Kelola

Dilema besar: menginvestasikan dana terbatas untuk mutu, atau sekadar bertahan hidup.

Di balik bangunan-bangunan kampus yang megah, dan gemerlap dan hingar bingarnya promosi penerimaan mahasiswa baru, banyak perguruan tinggi swasta (PTS) di Indonesia tengah bergulat dengan kenyataan pahit: defisit anggaran, menurunnya daya beli calon mahasiswa, dan beban operasional yang terus meningkat. Sejak pandemi merontokkan stabilitas keuangan PTS, tekanan fiskal – kenaikan pajak, daya beli masyarakat menurun -;  serta penerimaan mahasiswa baru digerus PTN menjadi momok yang mengancam keberlanjutan layanan pendidikan tinggi swasta.

Dalam situasi ini, pertanyaan krusial pun mencuat: mampukah PTS tetap menjamin mutu akademik di saat neraca keuangan terus berdarah-darah? Data LLDIKTI dan Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI), menyatakan setidaknya lebih dari 30% PTS mengalami penurunan signifikan dalam jumlah mahasiswa baru sejak 2020. Bagi sebagian PTS, ini berarti kehilangan hingga lebih 50% dari sumber pendapatan utama mereka: uang kuliah. Kondisi ini diperparah oleh meningkatnya kebutuhan operasional — dari kenaikan harga listrik, dan kebutuhan digitalisasi kampus, hingga tuntutan pengembangan SDM dosen dan akreditasi program studi.

Seorang pengelola PTS di Bandung mengungkapkan “Kami harus merestrukturisasi banyak hal. Bahkan, tahun lalu kami menunda perekrutan dosen tetap baru, dan mengalihkan sebagian kelas menjadi daring untuk efisiensi biaya”. Situasi semacam ini terjadi bukan hanya di kota besar, tapi juga di daerah-daerah yang akses mahasiswa dan sumber daya ekonominya terbatas.

Sementara itu, tuntutan peningkatan mutu pendidikan merupakan hal yang mandatori. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dan Kemdikbudristek terus mendorong perguruan tinggi untuk melakukan internasionalisasi, peningkatan kualitas lulusan, dan perluasan jejaring industri. Namun, banyak PTS menghadapi dilema menginvestasikan dana yang terbatas untuk mutu, atau sekadar menjaga agar kampus tetap hidup. Demikian pula seorang pimpinan PTS di Jawa menyebutkan: “Tantangan terbesar kami adalah menjaga keseimbangan antara efisiensi biaya dan kualitas. Mutu pendidikan tak boleh jadi korban, tetapi realitas anggaran sering kali memaksa kami memilih yang paling mendesak.”

Beberapa PTS mencoba bertahan dengan membuka unit usaha pendukung, menjalin kerja sama industri, atau mencari hibah riset dan Corporate Social Responsibility (CSR) dari dunia usaha. Namun, tidak semua PTS memiliki kapasitas jaringan dan SDM untuk menempuh jalur tersebut. Di sisi lain, wacana tentang insentif fiskal dari Negara, bagi PTS yang menyelenggarakan pendidikan berkualitas belum benar-benar terealisasi secara merata.

Dalam menghadapi kenyataan ini, banyak pihak menilai bahwa PTS perlu mengubah paradigma tata kelola. Bukan hanya sebagai pemegang aset kampus, tapi juga sebagai mitra aktif dalam inovasi pendidikan, penggalangan dana, dan kemitraan strategis lintas sektor. “Ini momentum penting bagi PTS untuk keluar dari peran pasif. Mereka harus menjadi aktor strategis yang turut menentukan arah masa depan perguruan tinggi yang mereka kelola,” kata seorang pakar manajemen pendidikan tinggi dari Yogyakarta.

Di tengah krisis ini, masa depan banyak PTS kini ditentukan oleh seberapa cepat yayasan dan pimpinan kampus dapat beradaptasi dengan realitas baru. Antara menjaga keberlanjutan dan mempertahankan mutu, adalah tantangan utama tak lagi bisa dihadapi sendiri atau  berjalan sendiri. Kolaborasi, inovasi, dan tata kelola yang transparan adalah kata kunci yang mungkin bisa menyelamatkan PTS Indonesia dari jurang yang lebih dalam. (@lee)

 

Referensi:

APTISI, 2023. “Krisis Mahasiswa Baru dan Solusi Keuangan PTS.”; LLDIKTI Wilayah IV. Laporan Evaluasi Perguruan Tinggi Swasta 2023; Kompas, 12 Januari 2024. “PTS Menjerit, Mahasiswa Menyusut.”; BPS. Statistik Pendidikan Tinggi Indonesia 2023; BAN-PT. Capaian Akreditasi Institusi dan Prodi 2022–2024.