Home Blog Page 68

Siapkah Lulusan Sarjana Hadapi Tantangan MEA?

Dalam dekade terakhir ini, tantangan yang dihadapi kaum terdidik di lapangan pekerjaan kian berat. Tantangan yang paling utama adalah tingkat persaingan lapangan kerja yang semakin sempit, sementara dunia pendidikan terus mencetak anak didiknya di semua jurusan. Belum lagi dengan gempuran teknisi-teknisi handal dari luar yang akan masuk ketika MEA diberlakukan.

https://uono.fun

https://uono.site

https://uono.club

https://uono.pw

https://uono.space

https://uono.uk.cc

https://yono.sbs

https://yonox.art

https://jaiho.net

https://yono.eu.cc

https://yono.asia

https://yono.rest

https://jaiho.icu

https://jaiho.xyz

https://okrummy.cc

https://okrummy.org

https://winrummy.org

https://winrummy.cc

https://winrummy.asia

https://winrummy.me

https://winrummy.art

https://winrummy.online

https://winrummy.site

https://jaiho.cc

https://jaiho.top

https://okrummy.online

https://okrummy.site

https://okrummy.art

https://okrummy.asia

https://okrumee.top

https://okrummyclub.fun

https://okrumy.xyz

https://ocrummy.site

https://okrumi.online

https://myokrummy.xyz

https://playokrummy.online

https://okrummie.fun

https://okrummy.today

https://okrummyworld.com

https://okrummypro.com

https://okrummylive.com

https://okrummy.live

https://okrummypoker.com

https://okrummynet.com

https://okrummyplus.com

https://okrummygaming.com

https://okrummyplay.com

https://bestokrummy.com

https://okrummy.fun

https://okrummy.click

https://okrummyclub.com

https://okrummy.world

https://okrummygaming.club

https://playokrummy.bet

https://myokrummy.com

https://playokrummy.com

https://gookrummy.com

https://okrummytoday.com

https://okrummyzone.com

https://okrummyvip.com

https://okrummygame.com

https://okrummyonline.com

https://myokrummy.games

https://okrummyzone.biz

https://bestokrummy.pro

https://okrummyonline.vip

https://okrummypoker.co

https://okrummygames.net

https://okrummylive.top

https://okrummygame.site

https://okrummyplay.org

https://okrummy.co

https://okrummy.biz

https://www.sbgaccsojitra.edu.in/okrummy/

https://kamanitubes.com/index.aspx

Data Organization for Economic Co- operation Development (OECD) 2012, Indonesia diprediksi menjadi negara dengan jumlah sarjana terbanyak kelima di dunia pada tahun 2020. Data tersebut merupakan proyeksi dari berbagai program peningkatan jumlah lulusan perguruan tinggi yang dilaksanakan setiap tahunnya.

Namun, penyerapan lulusan sarjana di Indonesia tergolong lambat. Sampai saat ini sebanyak 442.000 lulusan sarjana di Indonesia masih menganggur dan masih mencari pekerjaan. Jumlah ini mewakili 5,5% dari total tingkat pengganguran terbuka di Indonesia yang mencapai 7,17 juta orang (data Badan Pusat Statistik 2013).

Lantas mengapa di Indonesia sarjana banyak yang menganggur? Lambatnya penyerapan tersebut salah satunya disebabkan kualitas lulusan sarjana yang belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Seperti diketahui, seiring dengan perkembangannya yang cukup pesat, dunia industri di Indonesia lebih membutuhkan teknisi, sementara perguruan tinggi lebih banyak menghasilkan akademisi.

Belum lagi salah satu tantangan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada tahun 2015. Yakni kesepatan pasar tunggal persatuan bangsa bangsa Asean, di mana lalu lintas barang, jasa dan orang bebas keluar masuk di seluruh anggota Asean. Di seluruh Asean akan terjadi saling tukar tenaga kerja, tergantung siapa membutuhkan siapa, tentu dengan kualifikasi yang dibutuhkan oleh sebuah perusahaan.

Jika kondisi Indonesia terus-menerus kekurangan tenaga profesional yang memiliki keterampilan serta kompetensi kerja, maka bukannya tidak mungkin perusahaan- perusahaan di Indonesia akan semakin mendatangkan teknisi-teknisi dari luar negeri. Apa artinya ini semua?

Artinya beberapa bulan ke depan, persaingan memperebutkan lapangan pekerjaan akan semakin kompetitif. Seseorang wajib memiliki keahlian khusus sebagai spesialisasi yang dimiliki. Selain spesialisasi atau sebut saja kompetensi yang dimiliki, nantinya bahasa pengantar sehari-hari di dunia bisnis setidaknya adalah menguasai bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

Maka, lulusan sarjana atau calon tenaga kerja yang tidak berkompetensi dan tidak menguasai bahasa asing akan tersingkir! Jadi kesimpulannya, persaingan tenaga kerja sekarang ini belum apa-apa jika dibandingkan kondisi 2015 nanti. Pada saat itu seluruh tenaga kerja akan berkompetisi memperebutkan peluang di pasar kerja, siapa yang siap akan terus berkarir dan siapa yang tidak siap akan menganggur. Kalau begini, lulusan sarjana Indonesia pada ke mana?

Keluhan bahwa ternyata banyak sarjana yang menganggur sebenarnya dirasakan sudah ada sejak dahulu. Hanya saja, jumlahnya tidak sebanyak sekarang ini. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan besar. Siapakah yang patut dipermasalahkan terhadap persoalan tersebut? Apakah ini kesalahan perguruan tinggi yang meluluskan sarjana tersebut atau salah seorang mahasiswa yang telah mendapatkan gelar tersebut namun tidak memiliki keberanian mengambil resiko dan kurang berinovasi, ataukah kesalahan dari pemerintah Indonesia?

Yang jelas tanggung jawab pemerintah di sini sangat diperlukan. Pemerintah hendaknya menyadari bahwa persoalan mahasiswa menganggur adalah masalah yang serius yang nantinya berdampak pada semakin tingginya tingkat kemiskinan di Indonesia. Selain itu, agar mempunyai SDM yang didukung dengan keahlian teknis, sudah saatnya ada kebijakan yang baik dari perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas-kualitas maha- siswanya.

Namun, jika lulusan sarjana masih saja terkendala untuk berkarir dalam dunia industri, maka jalan yang paling tepat adalah mengefektifkan kehadiran wirausaha muda alias entrepreuner. Pemerintah dan dunia akademik harus mendukung para mahasiswa, baik dalam hal permodalan, pengembangan kemampuan, dan lain sebagainya untuk menumbuhkan keberanian para ?sarjana dalam menciptakan lapangan pekerjaan.

Mahasiswa dapat memulai karirnya dengan usaha kecil-kecilan dulu. Sebab berdasarkan pengalaman, pengusaha sukses memulai usahanya sebagai pengusaha kecil. Tentunya disertai dengan ketekunan, kesabaran dan kerja keras. Lihat saja, jumlah entrepreuner Indonesia yang berhasil di dunia bisnis saat ini jumlah terus bertambah, mereka bergerak di segala bidang, mulai di sektor perbankan, industri, properti, IT, jasa keuangan, perkapalan, industri penerbangan dan seterusnya.

Sebut saja beberapa diantaranya seperti Yusuf Kalla (pemilik Kalla Grup) dan Chairul Tanjung (perbankan/Bank Mega, Trans TV, Carrefour), yang mengelola perusahaan skala dunia. Mereka sejak kecil tidak pernah bersekolah di bidang wirausaha, mereka berbisnis berdasarkan pengalaman semata. Tapi berkat kemauan yang kuat serta kerja keras, mereka berhasil membangun kerajaan bisnis berskala nasional, bahkan Yusuf Kalla Grup dan Para Grup milik Chairul Tanjung. www.neraca.co.id, 06 September 2014

SeMa Fak. Ekonomi Gelar Widyatama Accounting Competition 2015

Widyatama Accounting Competition

Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi selenggarakan Widyatama Accounting ?Competition ?(WAC) 2015. Acara yang digelar rutin setiap tahun meliputi lomba akuntansi antar Universitas dan Seminar Nasional. Lomba tahun ini diikuti berbagai Universitas di Indonesia. Juara 1 dan 3 (Tim 1 dan 2) di raih Universitas Widya Mandala, sedangkan Juara 2 diraih oleh Universitas Katolik Parahyangan. Ada perbedaan dalam perlombaan WAC kali ini, para peserta lebih difokuskan pada studi kasus, khususnya berhubungan dengan tema WAC tahun ini Tax Planning.

Seminar yang diselenggarakan di Gedung Serba Guna (GSG) Widyatama merupakan puncak WAC. Pembicara seminar Dr. Diana Sari, S.E., M.Si., Ak., Q.I.A., C.A dosen tetap Universitas Widyatama, pembicara kedua Dr. Widodo, S.E., M.Si Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi IV ? KPP Bandung, dan Dr. Nur Hidayat , S.E., M.E., Ak., CA., BKP serta Syafrizal Ikram, S.E., M.Si., Ak., C.A. sebagai moderator.

Peran pajak sangat penting dalam perkembangan ekonomi, dan mempengaruhi laju pertumbuhan suatu negara. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah dalam pajak sangat penting. Fenomena pajak yang terjadi di Indonesia sangat beragam, mulai dari hal yang termasuk kategori harus dibayar sampai kasus-kasus besar yang mangkir membayar pajak. Pendapatan dari sektor pajak sangat membantu pemerintah dalam membangun, membuat sarana prasarana yang notabene untuk rakyat juga. Perpajakan di Indonesia masih harus ditingkatkan aturannya, demi menghindari kasus-kasus yang dapat merugikan negara. Seminar ini merupakan salah satu wahana bagi masyarakat untuk memahami lebih dalam tentang aturan dan penegakan aturan itu sendiri guna mensosialkan dan membudayakan wajib pajak. 16 April 2015.

Selamat jalan Bapak Agoestiana

Bapak Agoestiana

Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun. Widyatama berduka. Telah berpulang kekhadirat Allah SWT. Bapak Dr. H. Agoestiana Boediprasetya, S.E., M.T., dosen tetap sekaligus Wakil Dekan Fakultas Bisnis dan Manajemen. Beliau adalah sosok yang bijaksana, memiliki jiwa kepemimpinan, cerdas serta seorang dosen yang friendly dan disegani mahasiswanya.

Almarhum Agoestiana menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 6 Mei 2015 pukul 23.45 di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Jenazah di shalatkan di Masjid Al- Mamur Universitas Widyatama. Semoga beliau diterima Iman Islamnya, diampuni segala dosanya ditempatkan ditempat yang? terbaik? disisiNya dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan ketabahan serta anak- anaknya menjadi anak sholeh dan sholeha. Amin YRA.

 

Editorial

Editorial

Menggugat? ?lulusan? ?pendidikan? ?tinggi bisa jadi sudah merupakan keharusan. Fenomena sarjana yang menganggur dan banyaknya penganggur usia muda yang secara potensi ?produktif ?adalah ?salah ?satu ?isu ?yang membutuhkan perhatian ekstra. Mereka harus diberdayakan dengan pekerjaan yang layak, serta diinvestasikan. Karena itu, pemerintah memang harus? ?menyediakan? ?lapangan? ?kerja? ?melalui kebijakan? ?industri? ?yang? ?mempertimbangkan karakteristik ?tenaga ?kerja ?lulusan ?perguruan tinggi dan berbasis pada kekuatan sumber daya domestik.? ?Namun,? ?terdapat? ?kecenderungan lulusan perguruan tinggi memiliki kesenjangan skill ?dikaitkan ?dengan ?kebutuhan ?pasar ?kerja, terutama? ?mencakup? ?kemampuan? ?berbahasa Inggris, kepemimpinan, solusi masalah, kreativitas dan technicall skill lainnya (Penelitian Emanuel Grapello ?et. ?all ?2011). ?Ini ?artinya, ?kekurangan skill ?lulusan ?pendidikan ?tinggi ?menyebabkan ketidakmampuan mereka meningkatkan produk? tivitas? ?mereka? ?sebagaimana? ?tuntutan? ?pasar kerja.? ?Konklusinya? ?masih? ?banyak? ?tantangan meningkatkan kualitas lulusan yang harus dijawab oleh perguruan tinggi.

Kalau dirunut proses pendidikan tinggi sejak penerimaan mahasiswa, proses pengajaran dan pembelajaran, sampai kelulusan masih sarat masalah. Berkembang perjokian tes masuk perguruan tinggi favorit, proses pendidikan dan pengajaran yang abai terhadap tujuan pendidikan karena hanya berbasis kurikulum dan nilai IPK yang miskin penanaman karakter, kecurangan akademis dengan perjokian tugas akhir, dosen berpredikat doktor yang miskin publikasi. Bahkan isu terbaru terungkap praktik jual beli ijazah yang diduga melibatkan 18 perguruan tinggi.

Ini menunjukkan indikasi perguruan tinggi yang berjumlah 3.000an makin hari cenderung abai terhadap tujuan pendidikan. UU Nomor 20 Tahun 2003 menegaskan bahwa tujuan pendidikan adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk menemukan jati dirinya agar beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, ?kreatif dan mandiri. Bukan lulusan dengan sederet gelar kesarjanaan yang hampa ? rendah kompetensi keilmuan dan akhlak.

Siapakah yang berperan dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi dan lulusan sarjana yang menganggur? Mungkin tidak perlu mencari kambing hitam di tengah gejala masyarakat yang sedang mengalami problematik sosial sebagaimana disebut Randall Collins ?dalam buku The Credential Society: A Historical Sociology of Education and Stratification (1979). Dikatakannya : negara berkembang mengalami gejala kredentialisme, yaitu perilaku sosial yang cenderung legal-formalistik, kaku dan prosedural. Gejala ini lama kelamaan meninggalkan hakekat dan substansi tujuan pendidikan, padahal hakekat dan substansi lebih esensial dibanding formalitas. Sehingga saat ini gelar yang direpresentasi dengan selembar ijazah adalah supremasi tertinggi dalam menggapai sukses.

Menciptakan sistem pendidikan tinggi yang ber??mutu dan mampu melahirkan SDM berkualitas yang siap terjun ke dunia kerja sebenarnya telah lama menjadi bagian dari visi dan misi pemerintah cq. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti). Melalui kebijakan dan dinamika regulasi perguruan tinggi yang belum kondusif, Dikti mendorong perguruan tinggi meningkatkan kualitas pendidikan sejalan dengan dinamika masyarakat. Walau dalam pelaksanaannya sangat kaku, sehingga cenderung kurang memberi solusi pada realitas di lapangan yang beragam.

Tantangan yang dihadapi perguruan tinggi saat ini tak hanya dalam hal penyediaan lulusan atau SDM yang memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan tuntutan global, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Juga tuntutan membangun proses pendidikan berkualitas dengan memenuhi persyaratan akreditasi dan standardisasi kompetensi, sekaligus globalisasi pendidikan tinggi. Dengan demikian perguruan tinggi dituntut selalu dinamis sehingga lulusannya dapat memenuhi persyaratan pasar kerja.

Carreer Center dan ?treasure ?study ?adalah salah satu upaya yang digagas pemerintah ? melengkapi kebijakan-kebijakan peningkatan mutu pendidikan ? untuk menjembatani antara perguruan tinggi, lulusan dan dunia kerja ber- sinergi dalam dinamikanya masing-masing. Bagaimana carreer center perguruan tinggi dan perguruan tinggi memainkan peran tersebut ?

Dalam kaitan di atas Komunita mencoba me? motret permasalahan ketenagakerjaan, dan carreer center perguruan tinggi yang dimotori perguruan tingginya menjalankan peran di atas, serta apa yang melatar belakangi upaya pemerintah mendorong carreer center perguruan tinggi.

Komunita juga menyajikan rubrik lain, yaitu: makna bahasa, opini, seputar pendidikan Widyatama, buah pikir, ragam yang ?merupa- kan olah pikir civitas academica terkait de-ngan profesi masing-masing. Kali ini kami ungkap Teori Kebangkrutan, Menuju Teori Pertumbuhan Perusahaan, Audit SDM, dan Personal Brand. Selain itu, di tengah-tengah persaingan bisnis di era globalyangditandaidenganinovasidankreatifitas, serta semakin menipisnya nilai-nilai kemanusiaan kami angkat resensi buku The Lord of the Rings: The Two Towers. Juga tulisan rehat berupa aktivitas Widyatama, tren co-working yang diharapkan menambah energi kreatif, serta lifestyle, keindah- an batu akik sebagai kekayaan nusantara dan lawatan Tebing Keraton untuk relaksasi. Mari kita simak bersama.

Vivat Widyatama, Vivat Civitas Academica, Vivat

Indonesia dan Nusantara tercinta

Pemilu KM-UTama 2015 Ajang Tanding Rencana

Pemilu KM-UTama 2015

Pemilu KM-UTama 2015 Ajang Tanding Rencana

Pemilu KM-UTama 2015 : Ajang Tanding Rencana dan Realisasi Membangun Keorganisasian Mahasiswa. Keluarga Mahasiswa Universitas Widyatama (KMUTama) menggelar kegiatan akbar mereka yaitu Pemilihan Umum KM-UTama. Pemilihan umum bertujuan mencari calon pemimpin mahasiswa di Tahun Akademi mendatang. Pemilihan ini, akan memilih calon Presiden Mahasiswa (PresMa), Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM), dan Ketua Senat Mahasiswa (SEMA) baru. Pemilu KMUTama adalah sebuah sarana pengembangan kreativitas, kepemimpinan, dan intelektual mahasiswa Universitas Widyatama dalam hal keorganisasian. Pemilihan Umum ini juga merupakan sarana para mahasiswa/i civitas untuk berdemokrasi, menyalurkan aspirasi dan memilih calon pemimpin di Lembaga Kemahasiswaan Universitas Widyatama.

Pemilu tahun ini memiliki tema? HAK KITA (Harus Ada Kepemimpinan Atas Dasar Kepedulian Integritas Tentang Mahasiswa) dengan arti kita sebagai mahasiswa berhak untuk me milih pemimpin yang ber-Integritas dan peduli terhadap mahasiswa. Setiap mahasiswa mempunyai hak untuk memilih dan dipilih, sehingga mampu menjadi seorang pimpinan yang mempunyai kapabilitas seorang pemimpin. Para kandidat diberikan waktu mempresentasikan visi-misi dihadapan Universitas yang diwakili Wakil Rektor I Bidang Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Prof. Dr. Davidescu Cristiana Victoria didampingi Kepala Biro Kemahasiswaan, Asep Sudrajat, S.E., M.T. Pemilu diikuti 2 kandidat Calon Presma, 4 Calon Ketua MPM, 2 Calon Ketua SEMA FBM, 3 Calon Ketua FE serta calon tunggal dari SEMA FT dan SEMA FDKV. Pemilihan umum dilaksanakan 3 hari bertepat pada tanggal 18-20 Mei 2015.

Banyak harapan mahasiswa, baik dari Lembaga Kemahasiswaan dan Organisasi Kemahasiswaan, diantaranya: merangkul mahasiswa yang kurang apresiatif dalam kegiatan keorganisasian. Gitta salah satu Panpel Pemilu KM-UTama 2015 mengharapkan adanya sinergi antara pemimpin baru menjabat, dengan mahasiswa, agar mereka lebih awareness terhadap kegiatan Universitas atau Yayasan. 10 Mei 2015

Raih Berbagai Beasiswa di Universitas Widyatama, Beasiswa Bidik Misi

Raih Berbagai Beasiswa di Universitas Widyatama

Universitas Widyatama Tahun Akademik 2015/2016 menerima kuota beasiswa bidik misi. Alokasi penerima? bidik misi meliputi: Program Studi Akuntansi S1 (1 Orang), Program Studi Manajemen S1 (1 Orang), Program Studi Desain Grafis (2 Orang), Program Studi Sistem Informasi (2 Orang), Program Studi Bahasa Inggris (2 Orang), Program Studi Bahasa Jepang (2 Orang).

Tatacara untuk mendaftar beasiswa Bidik Misi dapat dilakukan dengan cara melalui sekolah atau perorangan melalui situs Bidik Misi www.bidikmisi.dikti.go.id

Sebelum mendaftar mahasiswa harus memenuhi persyaratan yang di tentukan. Beasiswa bidik misi diperuntukan bagi sekolah yang sudah terdaftar di situs resmi beasiswa bidik misi.

Beasiswa – Beasiswa Widyatama

 

Universitas Widyatama hadir sebagai bentuk kepedulian terhadap cita-cita mulia, mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana tercermin dalam visi dan misi Yayasan dan Universitas Widyatama. Karena itu dalam rangka menjalankan cita-cita tersebut, serta memperluas akses pendidikan sesuai kemampuan lembaga,? Yayasan Widyatama memberikan beasiswa sbb:

  1. Beasiswa bagi anak Kandung Guru, Dosen serta pegawai tetap PTN/PTS di Seluruh Indonesia,
  2. Beasiswa bagi mahasiswa aktif dengan IPK baik,
  3. Beasiswa bagi calon mahasiswa yang mendaftar secara online
  4. Beasiswa bagi mahasiswa baru yang melunasi uangan sumbangan pembangunan di semester awal
  5. Beasiswa bagi masyarakat sekitar kampus atau warga Kel. Sukapada.
  6. Beasiswa bagi anak pegawai yang melanjutkan di Widyatama

Tim Basket Putri UTama Kembali Mendulang Prestasi

Tim Basket Putri UTama Kembali Mendulang Prestasi

Tim Basket Putri Universitas Widyatama kembali mendulang Prestasi. Mereka menjuarai kompetisi basket Liga Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Mereka melibas lawan dari ?berbagai ?Universitas di seluruh provinsi Indonesia. Dalam perhelatan lomba yang diadakan tanggal 23 April 2015 sampai dengan 1 Mei di GOR Ciracas Jakarta tersebut dihadiri perwakilan Biro Kemahasiswaan, Ibu Ai.

Kami akan mempertahankan prestasi ini, karena tim yang sekarang terasa lebih solid serta dibarengi pola latihan yang teratur, ujar salah satu pemain Basket dari Tim Universitas Widyatama. 1 Mei 2015.

600.000 Lulusan Perguruan Tinggi Menganggur

JAKARTA, KOMPAS – Masalah utama perguruan tinggi di Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 bukan pada persaingan antar perguruan tinggi sesama anggota ASEAN. Masalah terbesar justru pada lulusannya yang akan bersaing ketat dengan lulusan dari perguruan tinggi anggota ASEAN lain untuk mengisi pasar kerja terbuka.

Meskipun sebagian besar dari 3.485 perguruan tinggi swasta dan negeri Indonesia daya saingnya relatif lemah, tidak akan serta- merta terjadi persaingan antar perguruan tinggi. Hal itu karena tidak mudah bagi perguruan tinggi ASEAN untuk mendirikan atau membuka cabang perguruan tinggi di Indonesia. Dengan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), tenaga kerja atau lulusan perguruan tinggi dari negara-negara ASEAN lain yang mempunyai kompetensi dan sertifikasi di bidang keilmuan menjadi terbuka.

Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia Edy Suandi Hamiddi Jakarta, akhir pekan lalu, mengatakan arus tenaga kerja bebas merupakan salah satu elemen inti MEA yang meliberalisasikan lalu lintas tenaga kerja dan menghilangkan diskriminasi antar tenaga kerja dari ASEAN. Akibatnya, lulusan perguruan tinggi di Indonesia terancam semakin banyak menganggur karena kalah bersaing. Lembaga pendidikan tinggi tidak bisa lagi hanya sekedar mengeluarkan ijazah tanpa melihat sejauh mana kompetensi di balik ijazah tersebut, juga kemampuan keterampilan yang melekat dan kemampuan lulusannya untuk memperoleh sertifikasi sesuai dengan keahliannya, kata Edy.

Saat ini, lebih dari 600.000 lulusan perguruan tinggi Indonesia menganggur. Pengangguran intelektual ini sebagian besar lulusan S-1, yakni 420.000 orang, dan sisanya lulusan diploma. Padahal, tambahan lulusan perguruan tinggi hampir satu juta orang per tahun. Mereka juga terancam banyak yang menganggur jika tidak siap bersaing dengan lulusan perguruan tinggi ASEAN yang sebagian di antaranya sudah masuk kaliber dunia. Perguruan tinggi itu antara lain National University of Singapore, Nanyang Technological University, Universiti Kebangsaan Malaysia, Chulalongkorn University Thailand, dan University of the Philippines.

Indonesia Tertinggal

Kualifikasi pendidikan angkatan kerja Indonesia juga masih tertinggal dibandingkan dengan negara seperti Singapura, Malaysia,Thailand, bahkan Filipina, dan dalam beberapa hal di bawah Brunei. Data Badan Pusat Statistik per Februari 2014, dari total angkatan kerja 118,17 juta orang, jumlah lulusan sekolah menengah atas 18,91 juta (15,25 %), sekolah menengah kejuruan 10,91 juta (9,23 %), diploma 3,13 juta (2,65 %), dan sisanya dari universitas hanya 8,85 %. Malaysia, pada 2012, memiliki jumlah angkatan kerja 13,12 juta, yang lulusan sekolah menengah mencapai 55,79 %, sedangkan 24,37 % adalah lulusan universitas dan diploma. Di Singapura (2012), dari angkatan kerja sebesar 3,22 juta orang, sebesar 49,9 % adalah lulusan sekolah menengah, sedangkan lulusan universitas dan diploma 29,4 %.

Rektor Universitas Flores, Stephanus Djawanai mengatakan, dengan keterbatasan kemampuan keuangan perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi swasta (PTS) dan daya beli masyarakat yang masih lemah, menjadi kewajiban pemerintah untuk memberikan lebih banyak dosen negeri untuk dipekerjakan di PTS, seperti tahun 1980-an. Saat ini, penambahan dosen dari pemerintah untuk PTS sangat terbatas (ELN), Kompas, 29 September 2014

MENGENAL BATU AKIK Kekayaan Nusantara yang Menggema

Batu akik telah melanda tanah air dan pecintanya tidak mengenal umur dan juga tidak mengenal latar belakang, dari tukang becak sampai pejabat negarapun menggunakannya. Maka tak heran mereka berbondong-bondong menggunakan aksesoris ini. Nusantara kita diuntungkan dari sisi geografis karena banyak memiliki gunung-gunung vulkanik. Secara geologis Kepulauan Indonesia memang tidak pernah diam. Proses pembentukan batu mulia sejak 400 juta tahun lalu. Secara dinamis peristiwa tektonik terus berlangsung akibat pergeseran lempeng tektonik diikuti perlipatan, retakan dan pembentukan gunung api. Selanjutnya magma dan cairan hidrotermal menerobos zona lemah menyebabkan mineralisasi, termasuk pembentukan batu mulia.

Batu-batu lokal kini merajai pasar batu mulia. Tak hanya Indonesia, dunia pun mengakui keindahan batu-batu alam nusantara. Bermacam-macam batu menjadi buruan dari berbagai daerah, seperti sungai dareh dari Aceh, lavender dan pancawarna dari Garut, batu bacan dari Maluku, lidah buaya dari Palu, batu badar dan kalimaya dari Banten, batu raja dari Palembang, batu kucubung, zambrud dan topas dari Kalimantan dan masih banyak lagi. Lebih fantastis lagi harga dari batu alam ini bisa mencapai jutaan sampai milyaran rupiah.

Awal mula saya menyukai batu akik, jauh sebelum ini ayah dan kakek saya adalah pengoleksi batu akik, bermacam-macam jenis batu pun mereka miliki sampai pada suatu hari saya melihat koleksi mereka dan dan saya menyukai salah satu batu dari koleksi mereka yaitu batu pancawarna Garut. Semenjak itu sampai sekarang saya mengoleksi batu alam itu. Sudah puluhan batu saya miliki dari yang masih berbentuk bongkahan-bongkahan batuan sampai yang sudah menjadi cincin.

Telah terjadi perubahan alkulturasi budaya menggunakan batu akik, dulu batu akik digunakan oleh orang tua dan para pendekar-pendekar karena memiki khasiat kanuragan dari mulai tahan senjata tajam, pengasih, dll. Seiring modernisasi perkembangan jaman dan berkembangnya pola pikir manusia kini batu akik menjadi sebuah Trend Fashion. Tak hanya kaum tua, kaum muda pun ikut mengandrungi batu akik, sampai anak SMP ikut menggunakannya. Perhiasan tubuh ini mereka pakai ke berbagai macam acara, dari non-formal sampai cara formal.

Seiring merebaknya batu akik, di pasaran banyak bermunculan batu akik palsu. Warnanya berkilau bentuknya sempurna. Kita harus berhati-hati membeli jika tidak paham membedakan yang asli dengan palsu, bisa kena tipu dan sudah tentu merugi. Maka dari itu, saya lebih menyukai membeli batu bongkahan di banding sudah jadi. Dengan membeli batu bongkahan selain itu sudah pasti batu kita bisa bentuk batu tersebut sesuai selera yang kita inginkan.

Membedakan Batu asli dan bukan

Yang pertama kita tidak bisa menentukan seenaknya sebuah batu akik asli atau tidak. Harus ada alat atau instrumen yaitu menggunakan senter led atau loop. Pertama senter batu tersebut dan apabila terdapat gelembung maka dapat dipastikan itu kaca bukan batu. Karena gelembung udara terbentuk dari pendinginan cepat dan gelembung tersebut masih tertahan di dalam. Dan apabila di perhatikan atau dilihat menggunakan loop batu asli memiliki serat atau garis-garis, untuk lebih tepat kita bisa periksa ke lab untuk diukur berat jenisnya (SG).

Menentukan harga batu akik

Ada empat hal dalam menentukan harga batu mulia. Pembentukan harga pertama adalah berdasarkan warna (berwarna atau tidak berwarna). Berikutnya pembentukan harga kedua adalah tingkat kejernihan (clarity). Sedangkan pembentukan harga ketiga adalah potongan atau gosokan (cut), berupa proporsi potongan atau pembuatan. Pembentukan berikutnya adalah berat yang kemudian menentukan ukuran.

Batu akik nampak jadi idola mengalahkan emas dan permata. Batu eksotis tersebut pun telah melanglang buana bahkan hingga ke penjuru dunia. Gengsi memakai aksesoris alami ini semakin meningkat karena juga dipakai oleh para tokoh-tokoh nasional hingga internasional, diantaranya Obama dan Sultan Brunei yang menggunakan batu bacan, Pangeran Charles yang menggunakan batu pancawarna Garut, hingga mantan presiden Indonesia pun seperti Ir. Soekarno, Soeharto, Gusdur, hingga Megawati menggunakan batu akik.

Merawat dan Mengkilapkan Batu Akik

Untuk perawatan, bersihkan batu akik dengan air sabun dan sikat secara halus menggunakan sikat gigi. Jangan dipanaskan. Untuk penyimpanan, cukup diletakkan di tempat yang dingin dan gelap. Energi yang terkandung dalam batu akik sudah dikunci sehingga tidak akan lepas. Selain itu, batu akik juga bisa menyerap energi metafisika secara otomatis dari alam.

Mengkilapkan batu cincin permata atau akik merupakan bagian aktivitas pecintanya dan sering dilakukan di sela-sela waktu luang mereka. Namun aktivitas itu bisa menjadi masalah terhadap batu yang dimiliki, jika tidak tahu cara melakukannya karena bisa jadi batu yang semula dalam kondisi baik, justru berubah rusak dan menjadi buram. Oleh sebab itu, sebelum melakukan treatmment pada permata, sebaiknya memahami dengan baik cara melakukannya untuk menjaga kemungkinan batu menjadi rusak, baik disebabkan cara menggosok yang salah atau bisa karena penggunaan bahan-bahan yang seharusnya tidak boleh digunakan untuk jenis permata tertentu.

Berikut cara sederhana dan mudah agar permata lebih mengkilap dan tidak menyebabkan kerusakan:

  • Gosok permata dengan aluminium foil atau kertas bagian dalam bungkus rokok, cara menggosok lakukan secara berlahan dan tidak terlalu menekan Gunakan alas yang lembut seperti karet atau bahan yang tidak membuat batu tertekan.
  • Menggosok batu menggunakan kulit dengan dasar lembut seperti bekas dompet, atau tas yang sudah tidak
  • Menggunakan bambu, cara ini banyak dilakukan tapi sebaiknya berhati-hati dan pilihlah bambu dengan permukaan
  • Menggosok batu memakai klaras pisang atau daun pisang kering, pastikan permukaan alas daun pisang tidak
  • Menggunakan serbuk intan, biasanya banyak dijual di toko penjual batu permata

Beberapa cara di atas berlaku untuk permata yang sudah jadi, namun permukaan masih belum terlihat rata dan belum mengkilap secara sempurna. Namun sebaiknya sebelum melakukan penggosakan pastikan anda mengenal karakter batu yang anda miliki, karena untuk jenis permata dengan kekerasan rendah seperti batu pirus biasanya lebih mudah termakan saat digosok. Untuk itu sebaiknya lakukan secara berlahan. Hal yang perlu diketahui juga, untuk mengkilapkan batu permata tidak perlu terburu- buru, biasanya membutuhkan waktu berhari-hari untuk mendapatkan hasil yang bagus. (Helmi Wahyudin, SS.).

MENGENAL BATU AKIK Kekayaan Nusantara yang Menggema 2

Contoh- Contoh Batu Akik Mentah dan Yang Sudah Jadi

Batu Akik MentahBatu Akik Jadi Batu Akik Jadi 2 Batu Akik Jadi 3 Batu Akik Jadi Batu Akik Mentah 2

Ijazah Saja Kini Tak Cukup lagi

KOMPAS.com – Selama ini, jamak pandangan masyarakat bahwa selembar ijazah pendidikan tinggi, terutama bukti gelar sarjana, merupakan kunci utama untuk mendapatkan pekerjaan impian. Namun, seiring makin banyaknya sarjana yang diproduksi institusi pendidikan tinggi, selembar ijazah tak cukup lagi.

https://uono.fun

https://uono.site

https://uono.club

https://uono.pw

https://uono.space

https://uono.uk.cc

https://yono.sbs

https://yonox.art

https://jaiho.net

https://yono.eu.cc

https://yono.asia

https://yono.rest

https://jaiho.icu

https://jaiho.xyz

https://okrummy.cc

https://okrummy.org

https://winrummy.org

https://winrummy.cc

https://winrummy.asia

https://winrummy.me

https://winrummy.art

https://winrummy.online

https://winrummy.site

https://jaiho.cc

https://jaiho.top

https://okrummy.online

https://okrummy.site

https://okrummy.art

https://okrummy.asia

https://okrumee.top

https://okrummyclub.fun

https://okrumy.xyz

https://ocrummy.site

https://okrumi.online

https://myokrummy.xyz

https://playokrummy.online

https://okrummie.fun

https://okrummy.today

https://okrummyworld.com

https://okrummypro.com

https://okrummylive.com

https://okrummy.live

https://okrummypoker.com

https://okrummynet.com

https://okrummyplus.com

https://okrummygaming.com

https://okrummyplay.com

https://bestokrummy.com

https://okrummy.fun

https://okrummy.click

https://okrummyclub.com

https://okrummy.world

https://okrummygaming.club

https://playokrummy.bet

https://myokrummy.com

https://playokrummy.com

https://gookrummy.com

https://okrummytoday.com

https://okrummyzone.com

https://okrummyvip.com

https://okrummygame.com

https://okrummyonline.com

https://myokrummy.games

https://okrummyzone.biz

https://bestokrummy.pro

https://okrummyonline.vip

https://okrummypoker.co

https://okrummygames.net

https://okrummylive.top

https://okrummygame.site

https://okrummyplay.org

https://okrummy.co

https://okrummy.biz

https://www.sbgaccsojitra.edu.in/okrummy/

https://kamanitubes.com/index.aspx

Gejala ijazah pendidikan tinggi bukan jaminan mengantarkan ke dunia kerja setidaknya tergambar dalam data yang dikumpulkan Badan Pusat Statistik. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada Agustus 2014, di Indonesia ada 9,5 persen (688.660 orang) dari total penganggur yang merupakan alumni perguruan tinggi. Mereka memiliki ijazah diploma tiga atau ijazah strata satu alias bergelar sarjana. Dari jumlah itu, jumlah penganggur paling tinggi, 495.143 orang, merupakan lulusan universitas yang bergelar sarjana.

Pengangguran terdidik itu (baik berijazah diploma maupun strata

1) meningkat dibandingkan tahun 2013 dengan persentase penganggur lulusan perguruan tinggi sebesar 8,36 % (619.288 orang) dan pada 2012 sebesar 8,79 % (645.866 orang).

Sejumlah ahli pendidikan tinggi, seperti Wardiman Djojonegoro, dalam pemberitaan di Kompas, menyebutkan, terjadinya pengangguran terdidik merupakan kelindan berbagai faktor, seperti kurangnya lapangan pekerjaan, pertumbuhan perguruan tinggi dan program studi begitu pesat, serta minimnya kompetensi para lulusan atau tidak sesuainya kompetensi dengan kebutuhan pengguna tenaga kerja.

Faktor ketersediaan lapangan kerja merupakan hal kompleks tersendiri yang, antara lain, terkait dengan ketersediaan investasi memadai untuk menyerap tenaga kerja dari lulusan berbagai program studi, kinerja ekonomi nasional, dan kondisi ekonomi global. Penyebab lain, seperti pengendalian mutu institusi pendidikan tinggi dan pembekalan kompetensi lulusan, sesungguhnya dapat lebih dikendalikan. Jangan sampai, ketika mencari pekerjaan, individu dalam usia produktif tidak memiliki keahlian tertentu sehingga dianggap tidak menarik bagi pencari kerja.

Kompetensi

Kesenjangan kompetensi lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja sebenarnya sudah ada jalan keluar dengan adanya acuan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). KKNI merupakan kerangka penjenjangan kualifikasi dan kompetensi tenaga kerja Indonesia. KKNI menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan sektor pendidikan dengan sektor pelatihan dan pengalaman kerja dalam skema pengakuan kemampuan kerja yang disesuaikan dengan struktur di berbagai sektor pekerjaan.

Dengan KKNI, ijazah bukan segala-galanya. Berbekal kompetensi yang dimiliki, seseorang bisa memperoleh status setara dengan pemilik ijazah yang memperoleh lewat jenjang pendidikan tertentu. Tentu saja pengelola perguruan tinggi harus mengubah paradigma, dengan tidak berpuas diri hanya memberikan ijazah kepada mahasiswa tanpa melihat kemampuan dan keterampilan alumninya. Terbitnya KKNI menjadi kerangka penjenjangan kualifikasi dan kompetensi tenaga kerja Indonesia. Dengan demikian, kebutuhan pengguna dengan kompetensi tertentu lulusan perguruan tinggi dapat lebih didekatkan.

Ijazah Saja kini tak cukup lagi
Aktivitas perakitan mobil di salah satu pabrik di kawasan industri Suryacipta, Karawang, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Selain bermodalkan ijazah, para pekerja di industri berbasis teknologi juga harus memiliki keterampilan dan kemampuan tambahan khusus. Kompas/Iwan Setiyawan

Perguruan tinggi juga perlu didorong bekerja sama dengan para pengusaha dalam membuka kesempatan magang bagi mahasiswa ataupun alumni yang baru lulus. Para lulusan setidaknya dapat memiliki secuplik gambaran nyata tentang dunia kerja yang akan dimasuki.

Satu hal yang perlu diluruskan ialah sering tercampurnya antara tujuan pendidikan tinggi yang bersifat akademis dan menciptakan manusia berpikir ilmiah dengan pendidikan vokasi yang bertujuan menyiapkan tenaga terampil siap kerja. Individu kadang berpikir bahwa dengan memegang gelar sarjana sudah mendapatkan semua yang dibutuhkan untuk bekerja. Padahal, tidak demikian.

Supaya jumlah penganggur bergelar sarjana berkurang, pemerintah perlu mendorong pengembangan pendidikan vokasi. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi berencana memprioritaskan pengembangan pendidikan vokasi.

Data Dikti menyebutkan, ada 1.357 akademi, 2.508 sekolah tinggi, 255 politeknik, dan 124 institut. Adapun universitas hanya ada 504. Artinya, mayoritas perguruan tinggi di Indonesia bergerak di bidang vokasi. Akan tetapi, jumlah program studi (prodi) vokasi hanya 20 persen dari total prodi yang ada. Dengan menambah program vokasi, diharapkan tercipta tenaga kerja terampil yang bisa segera diserap pasar.

Namun, perlu diingat, proses pendidikan di perguruan tinggi tak sekadar pencetak tenaga kerja dan berorientasi pasar. Terdapat sisi dan fungsi penting lain dari penyelenggaraan pendidikan tinggi, termasuk yang bergerak di pendidikan vokasi. Seperti tertuang dalam Undang- Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, pendidikan tinggi berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak, serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Fungsi lain ialah mengembangkan sivitas akademika yang inovatif, responsif, kreatif, terampil, berdaya saing, dan kooperatif melalui pelaksanaan Tridharma. Pendidikan tinggi juga berfungsi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan memperhatikan dan menerapkan nilai-nilai humaniora.

Pada akhirnya, pendidikan tinggi tak hanya persoalan investasi individu untuk dapat bekerja, tetapi juga menentukan kesejahteraan bangsa dan peradabannya. www.edukasi.kompas.com, 4 Februari 2015