Home Blog Page 23

Merdeka Belajar – Kampus Merdeka, Tidak Perlu Diperdebatkan Lagi ?

Merdeka Belajar – Kampus Merdeka, Tidak Perlu Diperdebatkan Lagi ?

.

Sidang Pembaca yang budiman,

  Sebelas Desember 2019 Kemendikbud meluncurkan kebijakan pendidikan nasional “Merdeka Belajar”, berisi empat program pembelajaran nasional yang menyentuh pendidikan dasar dan menengah, yang merupakan episode pertama terobosan pendidikan dalam meningkatkan daya saing lulusan, sumber daya manusia.

  Bagaimana dengan jenjang pendidikan tinggi ? Kampus Merdeka (”Merdeka Belajar – Kampus Merdeka/MBKM”) diluncurkan kemudian, 24 Januari 2020 yang menyentuh pendidikan tinggi. Dua bulan kemudian, Maret 2020 kasus pertama Covid-19 terdeteksi di Bogor, dan dinyatakan sebagai pandemi yang melanda seluruh dunia sampai 2021 ini. MBKM yang baru diluncurkan mendapat tantangan yang berat dengan diterapkan proses belajar dari rumah via daring.

  Kebijakan MBKM sejatinya dalam rangka mewujudkan proses pembelajaran di perguruan tinggi yang otonom dan fleksibel sehingga perguruan tinggi mampu merancang dan melaksanakan proses pembelajaran inovatif agar mahasiswa dapat meraih capaian pembelajaran mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara optimal. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan “link and match” dengan dunia usaha dan dunia industri, serta mempersiapkan mahasiswa dalam dunia kerja sejak awal. Juga untuk meningkatkan kompetensi lulusan, baik soft skills maupun hard skills agar lebih siap dan relevan dengan kebutuhan zaman, serta menyiapkan lulusan sebagai pemimpin masa depan bangsa yang unggul dan berkepribadian. Ini artinya sejauh ini pendidikan tinggi kita belum mampu menjawab tantangan dunia kerja dan perubahan. Utamanya lagi menghadapi Industri 4.0 dan Society 5.0.

  Kata kunci pelaksanaan MBKM adalah inovasi dan kreativitas. Juga dukungan dan kerja sama berbagai pihak mulai sivitas akademika, kementerian lain hingga dunia industri. Inilah paradigma baru yang menjadi tantangan perguruan tinggi kita. Mungkin stigma perguruan tinggi ibarat menara gading dengan konotasi negatif sebaiknya dipupus saja.

  Kebijakan MBKM episode di atas disusul episode Keempat – Organisasi Penggerak, episode Kelima – Guru Penggerak, episode Keenam – Transfomasi Dana Pemerintah untuk Perguruan Tinggi, episode Ketujuh – Sekolah Penggerak, episode Kesembilan – Kartu Indonesia Pintar/KIP Kuliah Merdeka.

  Kebijakan episode 9 (Sembilan) tentang KIP Kuliah Merdeka sejatinya beasiswa melanjutkan kuliah. KIP Kuliah bertujuan meningkatkan akses masyarakat tidak mampu pada pendidikan tinggi secara lebih merata dan berkualitas. Kebijakan ini diharapkan akan mewujudkan keadilan sosial, juga memiliki mobilitas sosial tinggi. Sehingga anak yang berprestasi tapi kurang mampu bisa mencapai mimpi setinggi-tingginya. Diharapkan KIP Kuliah Merdeka mampu memberikan akses pendidikan tinggi secara merata, berkualitas, dan berkesinambungan.

  Merdeka Belajar yang telah memasuki episode 9 (sembilan), tentunya tidak perlu dipermasalahkan lagi. Dimana bedanya dengan konsep “Link & Match” yang sangat popular di tahun 90-an era Menteri Pendidikan Prof. Wardiman Djoyonegoro (1992-1998). Dimana problemanya. Lebih tepat bagaimana implementasi MBKM menghadapi pandemi Covid-19 dan seterusnya Kenormalan Baru.

  Apapun namanya, sejatinya MBKM merupakan upaya menjawab tantangan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Tantangan ke depan kita menurut Proyeksi 2030 terkait Kebutuhan versus Ketersediaan Tenaga Kerja Indonesia menggambarkan: pertama, Permintaan pekerja berpendidikan sarjana pada tahun 2030 meningkat lebih dari tiga kali lipat dari tahun 2010, sementara tenaga kerja semi terampil dengan kualifikasi pendidikan sekolah menengah meningkat hampir dua kali lipat pada tahun 2030;    kedua, sektor jasa akan mensyaratkan 90 % tenaga kerja semi terampil dan terampil; ketiga, sektor industri mensyaratkan sekitar 80 %; keempat, sektor pertanian mensyaratkan 40 % tenaga kerja semi terampil dan terampil. Diprediksi kebutuhan tenaga kerja per jenjang pendidikan pada tahun 2030 akan kekurangan 2 juta tenaga kerja sarjana, khususnya di bidang sains dan insinyur. Sementara untuk Jawa Barat dengan dikembangkan Kawasan Ekonomi Khusus Segitiga Rebana (Cirebon, Patimban, Kertajati), peluang baru 2030 industri di Segitiga Rebana menjadi tulang punggung koridor ekonomi Jawa akan menyerap 4, 3 juta tenaga kerja terampil.

  Pembangunan sumber daya manusia memang tantangan tersendiri bagi kita bila mencermati data World Bank (Bank Dunia) tahun 2020, bahwa indeks sumber daya manusia (Human Capital Index/HCI) Indonesia sebesar 0,53 atau peringkat ke-87 dari 157 negara. HCI Indonesia yang 0,53 mengindikasikan pemerintah perlu meningkatkan investasi yang efektif untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui kesehatan dan pendidikan demi daya saing ekonomi Indonesia di masa mendatang.

  Pembangunan Manusia dengan peta jalan yang jelas dan terukur serta dilakukan secara masif memang diperlukan guna menjawab tantangan pembangunan, serta memastikan konstribusinya terhadap pencapaian Visi Indonesia 2045. Utamanya dalam mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera, maju, berdaulat, adil dan makmur, menjadi ekonomi terbesar ke-lima dunia, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) lebih dari 7,3 triliun dollar AS dan pendapatan per kapita di atas 25 ribu dollar AS.

  Apakah dengan terobosan MBKM, pendidikan tinggi dan perguruan tinggi kita mampu mewujudkannya ditengah problema pendidikan tinggi yang menyangkut akses, relevansi lulusan, dan kualitas mereka ? Jawabnya “Mari kita wujudkan bersama”. Semoga.

  Vivat Widyatama, Vivat Civitas Academica, Vivat Indonesia dan Nusantara tercinta. (@lee)

.

Redaksi – Lili Irahali

.

.

IMPLEMENTASI DAN PROBLEMA MERDEKA BELAJAR – KAMPUS MERDEKA

IMPLEMENTASI DAN PROBLEMA
MERDEKA BELAJAR – KAMPUS MERDEKA

Prof. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D. – Rektor Universitas Terbuka (UT)

Komunita : Kebijakan MBKM memberi keleluasaan dan kemandirian PT menjalankan Tri Dharma, merdeka  dari birokratisasi, dosen bebas birokrasi, mahasiswa mampu mengembangkan kemandirian mereka, implementasi di UT ?

Prof. Ojat Darojat : MBKM memiliki 4 program strategis. Re akreditasi bersifat otomatis, Re akreditasi yang dilakukan oleh UT memang hanya untuk program studi yang bisa ditingkatkan harkat dan peringkatnya, dan jika habis tidak perlu meregitrasi ulang kepada BAN PT, kecuali bila akan mencoba meningkatkan kelas jika dari C menjadi B tentu kita melakukan serangkaian pembenahan di internal dan kemudian menyampaikan usulan untuk re akreditasi bagi prodi yang masih rendah tersebut. Saya kira sudah berjalan dan ada pula mekanisme yang harus ditempuh berkomunikasi dengan BAN PT.

Hak belajar 3 smester di luar prodi, UT sudah menerapkan tetapi belum merata pada seluruh prodi. Baru 2 prodi yaitu Agri Bisnis dan Perpustakaan. Nanti kita akan melihat bagaimana kelebihan dan kekurangan dari implementasi yang sudah kita lakukan untuk perbaikan ke depan, agar dapat dilakukan secara meluas untuk prodi- prodi lainnya. Kami lakukan mengambil mata kuliah yang ditawarkan di prodi lain masih di internal UT belum untuk eksternal. Untuk tahun 2021 di semester 2 akan mengambil beberapa skema, termasuk salah satunya mengambil skema/ mata kuliah di luar UT, dan juga memulai kegiatan yang lain. Kalau tadi ada 9 kegiatan kampus merdeka, kita akan memberikan keleluasaan kepada mahasiswa, mereka akan mengambil bagian yang mana, dan sifatnya menawarkan, tidak memaksa. UT wajib memfasilitasinya, dan akan mulai lebih masif di tahun 2021 ini. Disamping itu, UT memberi kesempatan untuk PT lain apabila mahasiswanya ingin mengambil mata kuliah secara online di UT. Sudah banyak yang melakukan, seperti satu PTN di Sumatera (Kota Padang) 6000 mahasiswanya mengambil mata kuliah online di UT, ada yang 4000 mahasiswa dan ada yang 100. Menurut saya ini solusi yang bagus sekali dari program Kemendikbud ini. Contoh, di Kota Denpasar mayoritas penduduknya beragama Hindu, sehingga mahasiswa yang masuk ke perguruan tinggi/prodi tertentu untuk MKDU agama Islam agak sulit, dengan cara mengirim mahasiswa mereka secara online ke UT masalah terpecahkan, dengan biaya yang murah dan terjangkau, mereka mendapatkan kualitas pembelajaran MKDU dengan baik. Bagi PTN juga tidak ada keharusan merekrut dosen baru untuk kepentingan MKDU tersebut. Itu merupakan praktek Recource Sharing, sehingga penyelenggaraan pendidikan menjadi lebih murah dan kualitasnya menjadi baik. Contoh lain, ketika suatu PT di Bogor mengharuskan menyediakan tenaga dosen 1:40, artinya membutuhkan dosen MKDU Agama yang cukup banyak, kadang yang menjadi dosen agama rata-rata beragama Islam, dan hanya bisa menjadi dosen MKDU Agama Islam. Melalui praktik Resource Sharing permasalahan dapat dipecahkan, rekrutmen baru dapat dihindari.

Pembukaan prodi baru, memberikan otonomi, Dalam kontek PTN-Satker dan PTN-PKBLU belum bisa diimplementasikan, dan harus memerlukan ijin ke LLDIKTI. Kecuali untuk PTN-BH, ketika mendirikan program studi mereka tinggal komunikasi internal dengan Majelis Wali Amanah/MWA-nya, tetapi dalam konteks UT sebagai PTN-PKBLU/Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum, ijin pembukaan prodi baru tetap harus mengajukan kepada Kementerian, belum bisa dilaksanakan oleh PTN-Satker biasa dan PTN-PKBLU. Hal ini hanya bisa dilaksanakan oleh PTN-BH.

Kemudahan menjadi PTN-BH, Sekarang semua PTN-PKBLU sedang didorong menjadi PTN-BH, termasuk UT sedang melangkah kesana. Pada bulan Desember 2020 kita sudah mensubmit 4 dokumen yang dibutuhkan untuk usulah PTN-BH. Diantaranya, dokumen RPJP (Rencana Pengembangan Jangka Panjang), apa yang akan dilakukan UT selama 15 tahun ke depan 2021-2035, dokumen evaluasi diri, dan dokumen masa transisi. Dokmuen-dokumen tersebut kita serahkan langung kepada DIKTI dan kami diberi kesempatan oleh Kemendikbud untuk presentasi pada tanggal 17 Maret 2021, tentang Skema pengembangan UT dari PTN-PKBLU menjadi PTN-BH.

Komunita : MBKM bertujuan mendorong mahasiswa menguasai berbagai keilmuan memasuki dunia kerja. Apakah tafsirnya hanya penguasaan keterampilan teknis, dan relevan dengan tujuan pendidikan tinggi kita ?

Prof. Ojat Darojat : Betul sekali. Kita memang berasumsi ketika perguruan tinggi mengambil 8 kegiatan inti dari MBKM memang memberikan peluang kepada mahasiswa berkompetensi dengan cara terjun langsung di lapangan. Ketika pertukaran pelajar pasti akan sama dengan apa yang dilakukan di tempat kita, hanya mungkin suasana, kualiatas dosen dan kurikulum yang pasti berbeda. Pada penguasaan teori dan konsep masih lebih banyak, tapi di kurikulum prodi yang bersangkutan seimbang antara konsep teori yang diajarkan di kelas dengan mereka diberikan kesempatan untuk melakukan kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler yang mendukung pencapaian kompetensi tersebut. Ini sangat bergantung pada kurikulum yang dipersiapkan oleh masing-masing perguruan tinggi/PT untuk pertukaran pelajar antar universitas. Kita tahu setiap PT pasti menyediakan kurikulum yang berbeda/sama kepada mahasiswanya disesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas yang dimiliki oleh PT yang bersangkutan. Tetapi 8 aspek yang lainnya kalau saya lihat dalam kegiatan pembelajaran itu, melalui membangun desa, mengajar di sekolah, bela negara dan lain sebagainya berorientasi pada kegiatan praktik memberi wawasan kepada mahasiswa, mempersiapkan mereka untuk tampil di lapangan dengan baik. Karena salah satu kelemahan di kita cenderung menciptakan mahasiswa yang sukses di dalam kelas, dengan IPK tinggi dan dituntut menghafal teori-teori dan konsep-konsep yang diberikan kepada mereka, dan ketika UAS mereka harus mendapatkan nilai yang bagus dengan IPK yang baik. Tetapi kurang waktu dosen untuk menyampaikan kepada mereka untuk terjun hidup di masyarakat. Jadi tidak terhubung teori di pembelajaran dengan kehidupan di masyarakat, serta memberikan kesempatan/peluang untuk memahami kehidupan di masyarakat.

Komunita : Bagaimana dengan “Merdeka Belajar – Transformasi Dana Pemerintah untuk PT” memberi peluang meningkatkan kualitas, mendorong terwujudnya lulusan unggul, serta melahirkan talenta-talenta yang mampu bersaing di tingkat global ?

Prof. Ojat Darojat : Transformasi dana untuk PT ada 3 hal ini : a) Insentif berdasarkan capaian Indikator Kinerja Utama untuk perguruan tinggi negeri (PTN), b) Dana penyeimbang atau matching fund untuk kerja sama dengan mitra untuk PTN dan perguruan tinggi swasta (PTS), serta c) Program Kompetisi Kampus Merdeka atau competitive fund (untuk PTN dan PTS) merupakan stimulus yang diberikan oleh Kemendikbud secara berkeadilan sesuai dengan unjuk kerja masing-masing PT. Ini merupakan stimulus yang bagus mendorong PT memperbaiki kualitas pendidikan yang diselenggarakannya supaya nantinya bisa mendapatkan stimulus tersebut.

Terkait butir a), sekarang ada 8 indikator kinerja yang sudah ditetapkan Kemendikbud dan Dirjen DIKTI dan itu akan dilihat masing-masing PT seperti apa. Hanya dalam konteks UT mungkin saya mengkritisi ini baik, tetapi tidak seluruhnya tepat, karena salah satu ukurannya dari jumlah lulusan itu ada berapa persentase yang masuk dalam dunia kerja dan berapa lama periode tunggunya. Dikaitkan dengan capaian lulusan yang cepat bekerja, dalam konteks di UT, mahasiswa hampir 90 % sudah dalam posisi memiliki pekerjaan (pegawai dalam suatu perusahaan), di instansi pemerintah, wirausahawan dan instansi swasta. Indikator yang ini mungkin dapat di review sedikit, kalau di UT pasti tinggi untuk kami, untuk PTS yang basiknya dari STLA/SMA/ SMK mungkin dapat dilihat dan di-review lagi. Bagi kami bukan masalah mendapatkan pekerjaan tapi bagaimana setelah mereka kuliah di UT berdampak pada perusahaan/instansinya dalam karirnya, seperti Jabatannya naik, ataupun ini berdampak positif dalam karir mereka. Itu konteksnya lebih cocok untuk UT.

Untuk butir b) ini sangat bagus memberikan kesempatan PTN/PTS untuk membangun kerjasama kemitraan yang sangat baik dengan dunia kerja, bagi mahasiswa kita mendapatkan peluang pekerjaan dan menggali kompetensi di lapangan dengan para pelaku bisnis. Misalkan mereka ditugaskan oleh dosennya untuk magang di suatu perusahaan, mereka harus mempunyai modal kerja dan modal hidup, itu juga harus diperhatikan supaya nanti matching fund yang akan digelontorkan pemerintah tepat sasaran. Untuk UT dalam kerja sama mitra yang lain itu dengan mahasiswa dengan tempat domisili lainnya, dan rata-rata mahasiswa UT sudah berkeluarga, dan ikatan dinas, maka mereka bisa bermitra sesuai dengan domisili mahasiswa.

Untuk butir c) juga sangat bagus dan penting agar mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan dan lomba-lomba yang dipersiapkan oleh Kemendikbud. Misal keluar negeri mereka butuh biaya untuk kegiatan kompetisi internasional tetapi minimnya dana dari PT.

Komunita : Apa yang dipersiapkan dan dilakukan UT mensikapi kebijakan MBKM -Transformasi Dana untuk PT ?

Prof. Ojat Darojat : Kalau PTS seperti Universitas Widyatama itu sangat perlu. Masukkan saya setiap PTS itu untuk memperoleh anggaran dari pemerintah tidak serta merta/ hadiah, tapi dengan cara kompetisi. Kita harus betul-betul mempersiapkan mahasiswa untuk berkompetisi, bukan hanya mahasiswanya tetapi juga kualitas dosen yang mendukung kegiatan MBKM dan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi mahasiswa untuk terlibat di dalam kegiatan kompetisi tersebut sesuai dengan kapasitas mahasiswa dan kapasitas kampus. Namun yang utama tidak bisa memaksa mahasiswa dan kita sebagai PTS/PTN wajib untuk memfasilitasi dan mahasiswa yang memilih, untuk menghasilkan learning out yang maksimal bagi PTS/ PTN nya.

Yang kedua, kita sebagai penyelenggara pendidikan harus membenahi cara kerja/author working agar mencapai capaian kerja yang optimal. Pencapaian ini adalah kontrak dengan Kementerian teknis, dengan Kemendikbud. Kontrak itu harus diturunkan ke bawah, seperti ke Wakil Rektor, Dekan, Kaprodi, dan Sekprodi. Bagaimana caranya agar dapat tercapai, di case cadding oleh PTN/PTS, agar setiap Prodi dibuatkan kontrak dan pembagian pencapaian indikatornya, supaya setiap Prodi melibatkan mahasiswanya turut mengambil bagian sesuai dengan skema yang dirancang. Itu adalah kewajiban manejemen dari level atas s.d level bawah, dan seluruh elemen manejemen harus terlibat. Jadi kontrak yang sudah disepakati tadi itu termasuk bagaimana cara mendapatkan supporting financial dari Kemendikbud. Apakah Matching Fund dan lainnya harus menjadi bagian dari skema perencanaan tahunan yang akan kita eksekusi selama tahun berjalan. Misalkan RKAT di tahun 2021 di dalam RKAT kita sepakati bersama.

Kalau UT menerapkan Prinsip SMART (Spesific: hal- hal yang secara khusus disepakati dalam kontrak untuk kinerja indikator bagian yang akan dilakukan dalam tahun berjalan, Measureable: terukur dalam hal anggaran, SDM dan juga waktu yang ditentukan, Achivable: Program yang dibuat harus dapat dicapai, terbina dan terbimbing supaya program kerja memungkinkan untuk dapat dicapai, Realistic : Disesuaikan dengan kapasitas, dan sebagai PT dengan pembelajaran jarak jauh, dan disesuaikan dengan mahasiswanya dan programnya Real betu-betul sesuai dengan yang direncanakan, Terakhir Timely Bound: SMART goal harus terikat waktu karena memiliki tanggal mulai dan selesai. Jika tujuan tidak dibatasi waktu, tidak akan ada rasa urgensi dan, oleh karena itu, mudah bagi Rektor untuk melakukan kontrol dan monitoringnya). Saya kira itu yang harus dilakukan dalam eksekusi pelaksanaannya.

Komunita : Elemen dasar “kebebasan akademik” sebagai prasyarat pengembangan lembaga akademik sudah disentuh kebijakan MBKM ?

Prof. Ojat Darojat : Kebebasan Akademik itu menurut saya marwah yang harus kita jujung tinggi, kita fasilitasi di kampus. Kebebasan akademik itu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Kewibawaan Akademik, bisa ditumbuhkan di PT apabila adanya kebebasan akademik yang memang memungkinkan mahasiswa untuk berkembang sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya.

Ini belum tersentuh betul karena mahasiswa kapasitasnya berbeda-beda, ada mahasiswa yang fast learner ada yang slow learner, harusnya learning outcome itu disesuaikan dengan kemampuan mahasiswa, Namun yang terjadi tidak demikian. Kalau elemen dasar Kebebasan Akademik harusnya ini disesuaikan dengan kemampuan mahasiswa, jadinya learning outnya pasti berbeda. Pengemasan Kurikulum menurut saya setiap mata kuliah yang diambil dalam satu semester itu menuju pada penguasaan kompetensi tertentu, jadi harus dikemas setiap semester itu micro learning/micro credential, yang mengarah kepada capaian kompetensi tertentu. Sehingga mahasiswa tidak dituntut harus 8 semester pembelajaran. Menurut saya kebebasan akademik itu harusnya seperti itu. Jadi Learning outcomenya melahirkan skills bagi mahasiswa, sesuai character building mahasiswa yang berbeda-beda jadi kemampuannya juga berbeda-beda, daya tangkapnya juga berbeda-beda juga.

Komunita : Harapan PT dalam mengimpelementasikan MBKM yang bertepatan Pandemi Covid 19 ?

Prof. Ojat Darojat : Saya kira harapannya PT harus mengakselerasi. Online Learning itu bukan pilihan, tetapi merupakan Keniscayaan. Jadi semua orang sekarang sedang diakselerasi dan diharuskan bagaimana caranya supaya kita bisa Moving Forward dari cara-cara pembelajaran konvensional menuju cara pembelajaran yang intregrasikan teknologi. Sekarang cara-cara mengajar konvensional yang sudah diterapan puluhan tahun sebelumnya bagi dosen-dosen tertentu akan resistance, tetapi bagaimana caranya sekarang para Rektor Universitas ataupun Pimpinan Kampus secara komitmen menyertakan semua pihak di dalamnya agar semua bergerak bersama-sama difasilitasi agar mempunyai kemampuan mengintregrasikan teknologi di dalam proses pembelajaran. Ini merupakan suatu kebutuhan nyata pada saat ini seiring dengan revolusi industry 4.0. Harus ada komitmen dari Top Level Manajemen PTN & PTS menyediakan kesempatan bagi semua stakeholder di PT tersebut agar mereka menyukseskan Program Kemendikbud mengusung program-program MBKM, dan program lainnya. Terakhir tugas bersama menjadikan mahasiswa menjadi SDM unggul menyambut Bonus Demografi hingga tahun 2025.

Prof. Hikmahanto Juwana, S.H., L.L.M., Ph.D. – Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani/Unjani

Komunita : Pada tahun 90-an ada program “link and match” yang diluncurkan Prof Wardiman selaku Mendikbud ?

Prof. Hikmahanto Juwana : Esensinya sama dengan yang sekarang, tapi jangan dilihat dari istilah, harusnya “intensi” dibalik itu. Kalau berbicara “link and match” perguruan tinggi jangan seperti “menara gading”, tidak bersentuhan nantinya dengan apa yang di lapangan. “Link and Match” adalah bagaimana caranya para mahasiswa bisa langsung diserap oleh industri, tapi juga harapannya dapat dimanfaatkan oleh industri. Sekarang istilahnya adalah “triple helix”, antara pemerintah, perguruan tinggi dan dunia industri, mereka bisa melakukan kerjasama.

Terlepas dari “istilah”, kami Unjani sedang lakukan itu semua. Saya sebagai Rektor tahu betul jangan sampai Universitas ini menjadi “menara gading”. Oleh karena itu bagaimana mahasiswa kita dipersiapkan agar masuk ke dalam dunia kerja dan industri, juga memberdayakan mereka dalam UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) untuk bekerja di dalam kampus. Misal meliput sebagai media untuk liputan kampus baik radio, televisi kampus, juga majalah kampus, dan mereka mendapatkan pengalaman kerja secara professional dengan pengarahan dari dosen, dan para senior-seniornya, juga dapat menjadi rekognisi bahkan menjadi SKS suatu mata kuliah. By nature mahasiswa seperti itu. Kalau mereka tidak diberi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman itu sayang, memang belum berpikir tentang financial. Jadi yang kita sebut “link and match” atau “triple helix” sedang kami lakukan. Seperti penelitian yang harus match dengan pemerintah, misalkan kami terjemahkan TNI AD, penelitian-penelitian yang ada di Unjani diarahkan berkaitan dengan dunia/industri Militer. Misal ada mahasiswa dengan dosennya ingin membuat mobil listrik. Apabila dibuat seperti yang sudah ada, tidak akan menjadi nilai lebih, karena sama dengan kompetitor dari perguruantinggi lain yang membuat mobil listrik. Jadi harapan saya mereka membuat mobil listrik dengan perbedaan dan ciri khas Unjani, apalagi kami bekerja sama dengan PT PINDAD. Saya pikir dengan ide membuat mobil listrik untuk keperluan militer. Misalkan mobil-mobil militer dengan bahan bakar bensin pastinya jarak tempuhnya terbatas dan harus kembali mengisi bahan bakar. Kalau menggunakan tenaga listrik atau tenaga surya yang menghasilkan listrik akan sangat berguna dan jarak yang ditempuh akan lebih jauh ketimbang dengan mobil bahan bakar bensin. Kalau untuk mahasiswa dan dikompetisikan pasti akan mendapatkan nilai bagus bahkan juara, ketimbang sekedar menjadi follower dari mobil listrik yang ada.

Kami sebagai Universitas peneliti mengembangkan inovasinya akan ditunjukkan kepada industri yang sudah bekerja sama dengan kami untuk memproduksi secara massal. Saya akan menyampaikan kepada Bapak KASAD, untuk para mahasiswa dan dosen kita yang sudah menjadi peneliti. Bapak KASAD akan mendukung dengan memanggilkan industri besarnya seperti PT PINDAD, karena masih satu bendera dengan TNI AD. Juga kami mengusulkan kepada Yayasan untuk mendirikan unit usaha dengan pengelolaan dan kendali dibawah kami (Rektorat). Jadi unit usaha ini memang arahnya untuk pendidikan dengan demikian yang kita sebut sebagai triple helix itu berjalan.

Komunita : Apakah kebijakan MBKM, menjawab problema di lapangan dimana dunia usaha/dunia industri mengatakan lulusan PT tidak siap kerja ?

Prof. Hikmahanto Juwana : Saya lihat dulu praktek dari berbagai Negara. Ambil contoh Amerika, disana mahasiswa S1 banyak diajarkan bukan ilmu yang spesifik, istilahnya liberal art. Mereka bisa belajar apa saja, bahkan olah ragapun ada SKS untuk memenuhi persyaratan.

Di Jepang pengalaman dari teman-teman, peserta didik harus kerja keras sejak TK, supaya masuk SD yang bagus, SMP yang bagus, SMA yang bagus, juga setelah itu masuk Universitas yang bagus. Tapi ketika di Universitas menurut mereka itu adalah masa-masa mereka menikmati hidup. Maka orang di Jepang, apabila sudah masuk Universitas mereka tidak belajar tapi nilainya A semua, mereka pelesiran, karena dalam seumur hidup mereka yang paling mereka nikmati adalah pada waktu di Universitas. Kenapa seperti itu? Ternyata industrinya menghendaki mahasiswa itu kalau bisa kosong, ibarat kertas kalau bisa masih putih bersih, biar nanti industilah yang mencoret-coret kertas kosong itu. Tapi kalau ada salah satu Universitas di Jepang yang sangat berfikir, mereka tidak akan masuk di ranah industri, pasti masuknya ke Pemerintahan, karena pemerintahan banyak sekali regulasinya, dan mereka tidak bisa melakukan inovasi. Tapi mereka yang masuk ke perusahaan swasta, disanalah mereka dibentuk, maunya seperti apa. Artinya saya mengatakan bahwa jangan dunia industri berharap seperti itu. Bahwa yang dilahirkan dari Universitas adalah mereka yang langsung bisa siap pakai kerja, tidak akan bisa seperti itu.

Kita kan maunya mahasiswa adjustment ke industrinya lebih cepat maka disini pentingnya MBKM, “Link & Match”, dan “Triple Helix” dalam konteks mempercepat (fast moving). Kalau saya lihat seberapa kita siapkan mahasiswa S1 langsung masuk industri dan langsung siap kerja, ya tidak bisa seperti itu. Kecuali kalau Vokasi, memang itu keterampilan, yang diajarkan oleh dosen itu bukan teoritis atau doktrin tetapi memang ilmu keterampilan. Misal saya dengan latar belakang Hukum, memangnya mahasiswa-mahasiswa saya di Fakultas Hukum langsung bisa membuat surat perjanjian atau akta notaris, ya tentu tidak. Mereka diajarkan tentang perjanjian itu sendiri iya, tapi bagaimana tentang membuat perjanjian ya tidak diajarkan. Nah untuk mereka membuat sendiri perjanjian bagaimana? Ya pada saat masuk dalam dunia kerja, tapi sebelum masuk ke dunia kerja Universitas tentu boleh berinisatif mendorong mahasiswa tahu bagaimana cara membuat perjanjian tersebut, dengan memanggil dosen yang mempunyai keterampilan seperti itu. Atau kita dorong mahasiswa magang di suatu kantor advokat, sehingga mereka ter-ekspose. Nah ini yang menjadi penting dari MBKM, “Link & Match” dan “Triple Helix”. Tapi sekali lagi jangan industri terlalu banyak menuntut/meminta lulusan Universitas langsung siap bekerja. Sekarang ini ada kecenderungan seperti itu. Misalkan lulusan Hukum jadi diplomat langsung ya tidak bisa. Nantinya Universitas akan terbebani dengan mata kuliah-mata kiluah baru, padahal mahasiswa mengambil mata kuliah supaya cepat lulus. Jadi ini yang menurut saya agak kurang pas.

Komunita : Ada komunikasi antara Universitas dengan dunia industri/usaha untuk menemukan solusi?

Prof. Hikmahanto Juwana : Kalau soal komunikasi, saya sebagai Rektor Unjani konsolidasi ke dalam memberikan pemahaman kepada para Dekan, kemudian harapan saya para Dekan dapat berkomunikasi dengan dunia industri/usaha. Saya selalu bilang otoritas ilmu, dosen dan mahasiswa adalah Fakultas.

Komunita : Terkait pendidikan Akademik dan Vokasi. Apakah ada kecenderungan yang akademik akan divokasikan?

Prof. Hikmahanto Juwana : Menurut saya dua hal yang berbeda. Karena kalau keterampilan mulai mahasiswa masuk hari pertama harusnya sudah diajarkan tentang keterampilan. Tapi kalau masuk ke universitas memang harus banyak cerita tentang teori-teori, doktrin dan pemahaman baru setelah itu mereka silahkan mau ke jalur keterampilan juga bisa untuk dipraktekan di tempat mereka kerja. Tapi kalau misalnya mereka mau jadi peneliti atau jadi dosen itu diteruskan pembelajaran teorinya.

Kalau saya melihat di jenjang S1 itu mereka mempunyai kesempatan yang lebih luas, ketimbang hanya keterampilan saja. Kalau vokasi memang harus berorientasi pada ketermapilan. Bahkan apabila di dunia hukum keterampilan itu kalau di Indonesia, misalnya D1, D2, D3 di vokasi. Kalau dunia hukum di negara Amerika keterampilan itu dididik dan dia kemudian bisa dapat gelar S2. Di Amerika sekolah hukum itu bukan memberikan ilmu pengetahuan hukum kepada mahasiswanya, tetapi keterampilan untuk mempraktekkan. Untuk itu dapat diambil setelah jenjang S1 dahulu. Kalau di Indonesia yang sudah ada degreenya S2 seperti Magister Kenotariatan, orientasinya adalah mengajarkan peserta didik untuk terampil dalam membuat akta dan surat perjanjian, jadi harusnya jangan terlalu banyak teorinya. Ada juga S2 profesi dan berbagai macam nomenklaturnya.

Komunita : MBKM ada 8 item yang harus dipersiapkan, tentunya harus ada perubahan mindset di Unjani ?

Prof. Hikmahanto Juwana : Waktu muncul kebijakan MBKM banyak rekan-rekan civitas bilang kita MoU dengan kampus-kampus lain. Itu kami lakukan supaya mahasiswa bisa belajar di universitas lain, tapi harusnya kita bisa membuat lebih dari itu. Akhirnya saya membuat kerjasama dengan dunia industri, supaya para mahasiswa bisa mengikuti program magang. Bahkan beberapa Dekan saya dorong, seperti Prodi Akuntansi Unjani mencari kantor kerjasama untuk akuntan di Jakarta, sehingga para mahasiswa dapat melakukan magang disana. Memang perlu waktu, jadi saya ingin mahasiswa saya lebih berkembang di tempat lain, bahkan dunia internasional. Misal Accounting Firm dari luar negeri dan mereka harus mengetahui standarnya seperti apa. Saya inisiasi hal-hal seperti itu, tapi saya juga bilang, jangan juga magang diterjemahkan keluar kampus, kenapa gak di dalam kampus, dan kita pun butuh, mereka bisa bekerja dalam fakultas-fakultas.

Sekarang sosial media menjadi daya tarik tersendiri untuk para calon mahasiswa. Agar fakultas dan para Dekan memanfaatkan acara-acara/event untuk diliput mahasiswa dan nanti dimasukkan dalam sosial media. Saya memberikan sks untuk itu kepada mahasiswa, karena mereka sudah bekerja, bukan saja dapat pengalaman tapi juga dapat sks nya. Di lingkungan kita banyak yang membutuhkan tenaga dari mahasiswa, mereka tidak kalah, apalagi generasi milenial sekarang, berbeda dengan generasi kita dahulu, kadang kita punya akses untuk mendapatkan literature, mendapatkan data informasi, jaman sekarang era sudah digital dan sangat mudah mendapatkan informasi. Hal seperti ini yang terus coba kami lakukan membuka kesempatan-kesempatan untuk mahasiswa dapat tersalurkan dalam kaitan kampus merdeka ini.

Komunita : Bagaimana dengan kesiapan kurikulum di semua fakultas dan prodi?

Prof. Hikmahanto Juwana : Tidak harus merubah kurikulum. Di luar negeri juga seperti itu, mahasiswa tidak perlu sensitive dan responsive terhadap kemauan dari industri. Kita memberikan pemahaman-pemahaman yang akan lebih memperdalam dari industri tentang keterampilan-keterampilan. Kurikulum kita sudah berat, ada 5 jenis yang harus ada didalam kurikulum: 1) Yang dipesan Negara, seperti Agama dan Pancasila; 2) Yang menjadi pesanan Universitas, ciri khas universitas seperti kami Unjani dengan mata kuliah kedisiplinan/KeAhmadYani an; 3) Yang disepakati oleh fakultas dengan fakultas lainnya, consortium untuk menentukan mata kuliah yang harus dimiliki mahasiswa; 4) ciri khas yang dimiliki oleh fakultas yang bersangkutan; 5) baru setelah itu bebas. Kita menyesuaikan dengan kebutuhan, dan yang repot dosen yang mengajar, kecuali mereka mempunyai pengalaman praktek, mereka bisa menyampaikan kepada mahasiswa. Tapi secara alamiah dosen lebih menekankan pada sisi teorinya daripada sisi praktiknya, sehingga kalau ada mata kuliah yang sifatnya practice jangan-jangan dosennya yang tidak bisa menyampaikan kepada mahasiswa. Itu yang kami cegah, jangan sampai kurikulum terlalu responsive tapi yang mengajarnya tidak ada.

Komunita : MBKM Transformasi Pendanaan bagi PT, sejauh mana dimanfaatkan sehingga dapat mengembangkan aspek riset dan inovasi ?

Prof. Hikmahanto Juwana : Tentu membantu, dan Unjani sangat ingin mendapatkan dana tersebut apakah pendampingan atau hibah. Tentu kita coba untuk mendapatkan. Kita tahu recources itu terbatas artinya, kita tidak berdiam diri untuk bergantung pada anggaran yang disediakan oleh pemerintah. Apa yang bisa kita lakukan pastinya akan dilakukan semaksimal mungkin. Kebetulan Unjani milik Angakatan Darat (AD) dan sudah membuka diri, ini kami manfaatkan juga.

Komunita : MBKM, apakah akan mengurangi makna kebebasan akademik ?

Prof. Hikmahanto Juwana : Dalam memaknai MBKM pertama, jangan sampai program S1 menjadi program Vokasi; kedua, kurikulum jangan terlalu responsive terhadap kemauan industri. Marwah universitas harus tetap terjaga karena kebebasan akademik yang membuat universitas tetap berkembang. Kebebasan akademik di kampus harus ada basis ilmiahnya, yang kedua tidak berpihak dan harus netral. Mungkin saja bersifat kritikan bagi pemerintah, dan masukan untuk pemerintah namun basisnya harus ilmiah, scientific. Jadi kebebasan berfikir bukan dengan demontransi mahasiswa. Saya kurang setuju, dan itu kurang baik.

Komunita : Bagaimana tetap menjaga karakter Unjani sehubungan dengan MBKM ?

Prof. Hikmahanto Juwana : Saya ingin tiap universitas memunculkan ke-khas-an masing-masing. Misal Unjani dengan nuansa disiplin yang tinggi. Saya menyampaikan kepada Bapak KASAD membutuh asrama untuk mendidik mahasiswa yang ingin mengikuti pola asuh dengan kedisiplinan yang tinggi. Sehingga selain ilmu juga mendapat pola asuh yang disiplin. Harapan saya dengan “link and match”, merdeka belajar mereka bisa diterima di TNI AD juga melalui jalur ilmu, atau TNI AL atau TNI AU, serta bisa diterima Institusi-Institusi Sipil dengan lulusan kedisiplinan yang tinggi.

Mahasiswa mendaftar ke suatu universitas sebaiknya bukan karena memilih universitasnya, tetapi apa yang ditawarkan universitas. Kedepannya saya ingin mahasiswa masuk dengan ke ciri khasan dari Universitas tersebut.

Komunita : Pesan untuk Civitas dan Teman-teman PT yang lain ?

Prof. Hikmahanto Juwana : Untuk Civitas, Dosen dan Mahasiswa, kita harus bisa mengkapitalisir apa yang menjadi kebijakan pemerintah, mengkapitalisir MBKM dengan tidak harus terpaku mahasiswa lulus dengan skripsi, namun bisa dengan magang di suatu perusahaan, ataupun penulisan di jurnal. Menjalin kerjasama antar universitas untuk memunculkan ke Indonesiaan kita. Sehubungan dengan pandemi Covid-19 para mahasiswa walaupun belajar secara daring, tapi tetap dapat membuka wawasan mereka. Mendorong dosen kita untuk senantiasa meningkatkan kompetensi. Mengkapitalisasi hal tersebut harus kita lakukan.

Untuk sesama rekan, kita coba mengidentifikasi jati diri kita, kita harus bisa menunjukkan ke-khas-an masing-masing perguruan tinggi kita. Apa yang membedakan kampus saya dengan anda, agar para mahasiswa mampu memilih dan tahu apa yang dia pilih.

Djoko S. Roespinoedji, S.E.,Pg.Dipl.

Ketua Yayasan Widyatama, Wakil Ketua ABP PTSI Jawa Barat

Komunita : Bagaimana Badan Penyelenggara memaknai kebijakan MBKM bertepatan dengan pandemi Covid-19 ?

Djoko S. Roespinoedji, S.E., Pg.Dipl. : Pelaksanaan MBKM bertepatan pandemi Covid-19, maka dalam rangka mengutamakan keselamatan dan kesehatan mahasiswa dan pendidik, pembelajaran secara online diakselerasi atau mengalami percepatan. Sebagai Badan Penyelenggara, pembelajaran online memberikan beberapa opportunity yaitu : pertama) memberikan waktu leluasa kepada mahasiswa untuk mengatur pembelajarannya (kuliah sambil bekerja, berkarya, atau bahkan mengikuti program lain di kampus lain atau lintas prodi untuk memperkaya disiplin ilmu). Pembelajaran online dengan tetap mendapat bimbingan dosen memberi ruang kepada mahasiswa membekali diri secara leluasa dengan ilmu pengetahuan yang baik serta mengimplementasikan ilmunya di kehidupan masyarakat kelak, sehingga siap beradaptasi dengan dunia kerja (terutama dalam hal sikap mental dan karakternya); kedua) bisa meningkatkan jumlah mahasiswa, tanpa harus menambah sarana dan prasarana.

Namun yang perlu dicermati terkait budaya teknologi digital yang berkembang pesat. Fenomena ini satu sisi membuat generasi muda bisa menjadi insan yang memiliki pengetahuan dan wawasan yang lebih baik dan mumpuni, namun sisi lain lemah atau miskin dalam karakter. Dunia digital yang begitu liberal, juga mengandung konten informasi digital yang menjadikan pembentukan karakter tereliminasi. Padahal harapan kami mahasiswa tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, namun juga punya softskill, attitude yang baik, sopan santun, tata krama, dan loyal. Karena kebutuhan SDM di perusahaan tidak hanya yang pintar secara intelektual yang utama adalah karakter. Kami selaku badan penyelenggara Widyatama memberi perhatian penuh dalam aspek karakter peserta didik ini, salah satunya mata kuliah bersama pembentukan karakter Widyatama.

Komunita : Sejauh mana MBKM mendorong Badan Penyelenggara meningkatkan kualitas lulusan, kualitas dosen dan kualitas kurikulum ?

Djoko S. Roespinoedji, S.E.,Pg.Dipl. : Konteks program MBKM mendorong masing-masing individu mahasiswa memiliki kebebasan memilih program “merdeka belajar”, agar mahasiswa benar-benar siap menjawab tantangan industri ke depan. Namun ada beberapa persyaratan sebagai pedoman yang harus dipenuhi kampus dan mahasiswa. Artinya tetap dalam kontrol dan kendali kampus sebagai penyelenggara pendidikan bagi mahasiswa.

Dari sisi manajemen, penyelenggaraan, outp ut itu harus berjalan beriringan. Dukungan memang tidak lepas dari pola pembelajaran dan kurikulum, dosen sebagai tenaga pendidik yang memberikan transfer ilmu kepada mahasiswa harus meningkatkan kualitas diri dan mengimplementasikan sesuai kompetensi masing-masing. Dosen diharapkan bisa menjadi lead atau mentor bagi mahasiswa, serta menarik keingintahuan dan minat mahasiswa dalam pembelajaran baik di kelas, maupun online.

Dalam hal kualitas kurikulum, para dosen didorong untuk aktif mengembangkan diri, dengan melakukan riset bersama mahasiswa, serta beradaptasi dengan dunia industri. Dosen diberikan ruang untuk berkreasi, meng-eksplore kompetensi, bekerjasama dengan industri, dengan pola strategi yang diatur. Belajar dari perusahaan besar di luar negeri, mereka sambil menggandeng perguruan tinggi untuk Research Development untuk membangun strategi perusahaan yang baik. Sejauh ini, banyak juga dosen Widyatama yang berkiprah di dunia Industri, itu hal yang baik.

Komunita : Bagaimana meningkatkan riset dosen terkait Transformasi Dana untuk PT dalam program MBKM ?

Djoko S. Roespinoedji, S.E.,Pg.Dipl. : Melihat perjalanan Widyatama, publikasi riset sudah kelihatan terpacu. Hal ini menunjukkan bahwa klasifikasi dosen Widyatama, bukan hanya pembelajaran saja, dosen-dosen juga bersemangat membuat riset penelitian. Sepanjang berprogress di 3 tahun terakhir ini, Yayasan akan memberikan kompensasi. Harapannya riset dosen ini menjadikan dosen memiliki opportunity yang lain, melalui kerjasama dengan dunia industri ataupun dengan perguruan tinggi yang lain. Idealnya, Widyatama memiliki 5-10 % dosen yang aktif dalam mendorong riset dan pembaharuan-pembaharuan yang ada.

Nah, Transformasi Dana untuk PT dalam kebijakan MBKM tentu sangat membantu kami melakukan percepatan dalam meningkatkan opportunity lain dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan sumberdaya manusia.

Komunita : Harapan Badan Penyelenggara menerapkan kebijakan Kemendikbud di atas ?

Djoko S. Roespinoedji, S.E.,Pg.Dipl. : Memang perlu perubahan paradigma dosen, yakni dosen bukan sekedar pengajar, namun sebagai dosen penggerak. Dalam ketentuan Tri Dharma, dosen harus melakukan suatu riset yang bersentuhan dengan komunitas eksternal, kemudian hasil riset dipublikasikan dalam bentuk jurnal, sehingga kemampuan dan kompetensinya diakui. Kampus Merdeka setidaknya semakin memberi ruang untuk itu. Harapan Yayasan kepada civitas akademica agar lulusan Widyatama sesuai dengan kebutuhan Industri, maka dosen ataupun mahasiswa terus meng-eksplore kemampuan dirinya, melakukan studi riset yang berguna bagi pembelajaran, sehingga makin diakui intektualitas dan kompetensinya.

Prof. Dr. Obsatar Sinaga, S.Ip., M.Si. – Rektor Universitas Widyatama

Komunita : Langkah kongkrit membekali, serta mendorong dosen lebih kreatif dan demonstratif mensikapi program MBKM ?

Prof. Obsatar Sinaga : Widyatama membuat Direktori Kepakaran, yakni: 1) setiap fakultas harus memiliki Direktori kepakaran dosen (sesuai mata kuliah yang diampunya), 2) kompetensi tambahan yang sesuai kebutuhan pasar. Dosen harus melek industri dan kebutuhan pasar agar dapat mengarahkan mahasiswa memilik hak belajar 3 (tiga) semester di luar kampus. Dosen harus bergaul dalam keilmuan, agar tidak gagap menghadapi situasi kampus merdeka ketika memberikan arahan kepada mahasiswa memenuhi hak belajar 3 (tiga) semesternya di atas.

Dalam kaitan di atas, dosen harus belajar dari luar kampus (dari pergaulan sosial, tempat praktik kerja mahasiswa, industri, masyarakat). Dosen untuk kampus merdeka jangan “kurung batok”, jangan merasa diri sudah pintar dan lain sebagainya, karena dinamika keilmuan sangat cepat, progresifitas perkembangan dunia sangat cepat, harus terakomodasi dan segera ditransfer keilmuannya. Dosen harus turun gunung, terjun ke masyarakat, terjun ke industri, riset, ke desa-desa, pertukaran mahasiswa, untuk menyerap apa yang ada di masyarakat (situasi eksisting) untuk bisa update keilmuan yang mutakhir.

Infrastruktur akademik itu sendiri kaitannya penilaian, pembimbingan, pelatihan tidak akan seperti dulu. Sekarang harus ada semacam kolaborasi menyesuaikan dengan kebutuhan. Dosen harus meng metodologi pendidikan. Pendidikan tatap muka bukan lagi sebuah dogma yang harus dijalankan dosen. Mungkin dosen memberikan dengan cara wisata, mengikutsertakan mahasiswa dalam praktik risetnya, membuat produk sendiri, membuat pelatihan-pelatihan. Rekayasa pendidikan dalam metodogi pembelajarannya tidak lagi bertatap muka dikelas, tapi aktifitas dosen yang sifatnya demontratif.

Setelah membuat Direktori Kepakaran, kami memberikan pelatihan-pelatihan kepada para Dosen untuk memberikan inspirasi bagi mahasiswa. Dosen juga diarahkan mendorong PKM integrated (Pengabdian kepada Masyarakat ter-integrasi) melibatkan dosen, mahasiswa, struktural, dan masyarakat, yang bertujuan agar dosen dapat melihat langsung bagaimana praktik pembelajaran kampus merdeka. Sekarang sudah membuat perencanaan dengan Kecamatan Parongpong untuk kampus merdeka, PKM Integrated, Simkatmawa mahasiswa. Akumulasi dari kegiatan tersebut ber-impact pada penaikan struktur kurikulum transformative di Widyatama.

Praktiknya, dosen didorong untuk mendemonstrasikan konsep pembelajarannya di masyarakat langsung. Dengan harapan dosen dapat terinspirasi merubah metodologi pendidikan dalam kampus merdeka. Sehingga pembelajaran akan senantiasa terbarukan.

Komunita : Sejauh mana manfaat kebijakan MBKM – Transformasi Dana untuk PT ?

Prof. Obsatar Sinaga : Kami menyambut baik bantuan pemerintah, manfaatnya selain memberikan faktor finasial juga memberikan pengetahuan, inovasi, dan kreatifitas, karena dengan adanya desain proposal yang sangat terbuka untuk inovasi dan kreatifitas, maka setiap organ yang terlibat akan memiliki kreasi dan imajinasi untuk memperkaya wawasan yang lebih kaya lagi. Setidak-tidaknya dapat bersaing dengan orang lain, melihat bagaimana orang lain menciptakan, memperkaya diri sendiri untuk kemampuan desain kurikulum dan pembelajaran. Dua manfaat tersebut berupa hasil input kebendaan; serta pembentukan karakter, kecerdasan, pengalaman. Tujuannya bukan faktor finasial saja, tetapi dengan setiap organ yang terlibat membuat desain proposal, dan implementasi kampus merdeka. Maka akan memiliki semacam wawasan, imajinasi, yang pada akhirnya memberikan sinyal-sinyal kepada perubahan pola pembelajaran. Ada variable-variable yang menuntut baik lembaga, prodi, fakultas, dan dosen tadi. Sekarang dimunculkan bantuan untuk prodi, dosen penggerak, dan lainnya.

Komunita : Proyeksi target berapa lama untuk mencapai kampus merdeka di Widyatama ?

Prof. Obsatar Sinaga : Tahun 2021 Widyatama sudah mulai. Kami sudah melakukan relaksasi kurikulum kampus merdeka sehingga mahasiswa baru ada di koridor kurikulum kampus merdeka. Target kami, setelah mahasiswa selesai 5 (lima) semester. Selama 2.5 tahun dididik di prodi kemudian dievaluasi, setelah itu akan kita lihat seberapa jauh kompetensi dan sejauh mana capaian pembelajarannya. Lulusan diberi kemampuan atau luaran apa ? Ukurannya adalah secara skills, kemampuan yang diberikan kampus kepada mahasiswa harus sesuai kebutuhan pasar dan industri. Secara sains (keilmuan), mahasiswa akan memiliki imajinasi, pengetahuan yang kaya tentang dunia pasar dan dunia industri. Sehingga setelah lulus 5 semester di prodi, akan dievaluasi untuk 3 semester di luar prodi.

Tugas akhir mahasiswa tidak melulu soal skripsi melainkan bisa melakukan riset, laporan kewirausahaan, membangun desa, membuat jurnal, menciptakan start up baru, dimana hasil karya mereka direcognisi menjadi tugas akhir. Dan ini sesuai dengan Kementerian Desa yang berorientasi membangun desa di tahun 2021 (dana sebesar 72 triliyun). Kerjasama Kemendikbud dan Kementerian Desa yaitu dengan menurunkan mahasiswa di desa-desa. Mungkin menciptakan strat up, membantu kewirausahaan desa, membangun bumdes, membuat industri kreatif desa dan sebagainya, dan itu akan dijadikan kurikulum baik untuk kesarjanaan, kurikulum untuk sertifikasi, dan kurikulum untuk tugas akhir.

Oleh karena itu, Widyatama mencanangkan tugas akhir mahasiswa bukan dimonopoli oleh tugas skripsi, tetapi bisa jadi laporan pembangunan desa, laporan kewirausahaan, laporan riset, laporan student achieve, laporan jumlah magang, laporan praktik mengajar. Itulah kemerdekaan yang diberikan kepada mahasiswa Widyatama. Sehingga nanti setelah 2 (dua) semester mereka mungkin bisa selesai dalam waktu 3.5 tahun (akan diakomodasikan), untuk melihat seberapa jauh kesuksesan kampus merdeka di Widyatama minimal 2.5 tahun dan maksimal selesai 3.5 tahun. Setelah itu kami yakin, kurikulum akan dievaluasi kembali kecocokannya. Dengan menerapkan kampus merdeka kita mengarahkan tidak hanya kemampuan teknis belaka, tetapi lebih komprehensif.

 

Komunita : Terkait dengan problematika kampus merdeka, apa yang menjadi kesulitan untuk menjalankan program tersebut ?

Prof. Obsatar Sinaga : Kesulitan utama terbelenggu oleh kultur teknis (budaya minta petunjuk, budaya instruksi), karena ruang kemerdekaan dan kreatifitas harus dibangun secara berkala supaya meng-internalisasi dalam diri manusia. Yang paling menjadi hambatan adalah budaya kultur teknis selalu minta petunjuk takut salah ini itu, dan tidak memiliki kemerdekaan yang bersifat orientasinya kemajuan. Misal RPS, CPL, materi kuliah, pertemuan per jam, per semester, selalu harus meminta petunjuk. Kenapa kita tidak melihat dunia yang lebih kaya. Setiap lembaga harus memiliki desain, tetapi desain itu bukan untuk membelenggu orang untuk kreatif inovatif. Hambatan yang paling utama dalam SDM kependidikan di Perguruan Tinggi yaitu terbelenggu kultur teknis tasi sehingga ruang inovasi, kreatifitas, dan ruang imajinasi masih dibelenggu, masih terkungkung budaya minta petunjuk, budaya top down bukan budaya bottom up.

Secara bertahap kami melakukan pengarahan kepada Dekan-prodi-dosen. Dari sekarang menciptakan ruang imajinasi yang sesuai koridor sifatnya normative – regulative yang diatur oleh Fakultas – Prodi – Universitas. Kita memberikan ruang merdeka bagi dekan, dosen dan SDM yang lain untuk berinovasi dan berkreatifitas. Misal dalam susasa pandemi seperti ini, pembelajaran tidak tatap muka. Dosen jangan hanya menunggu instruksi tetapi harus aktif dalam proses belajar mengajar mungkin bisa menggunakan youtube, twitter, facebook, PJJ, zoom, googlemeet, dll. Hal itu bukan larangan, justru kreatif dan inovatif memecahkan problematika agar tidak terjadi kemandegan dalam proses pembelajaran. Sekarang ini yang kami rasakan adalah dosen masih stagnan, masih terkungkung kultur teknis tadi.

Komunita : Bagaimana dengan “kebebasan akademik” di dalam MBKM ?

Prof. Obsatar Sinaga : Terkait kebebasan akademik, sejauh orang itu di kampus menggelontorkan gagasan, pikiran dan perasaan sesuai koridor keilmuan, maka itu berhak disampaikan dan diekspresikan. Dalam pemikiran saya, dosen berhak memberikan gagasan, pemikiran, sepanjang memiliki pijakan ilmiah, rasionalitas ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan (rasionalitas ilmiahnya). Jika kedepan ada singgungan dengan pihak lain, ataupun lembaga, itu merupakan resiko atau konsekuensi dari kemerdekaan kebebasan akademik.

Pada Kampus merdeka sendiri sebetulnya ruang kebebasan akademik itu tidak dibelenggu, malah diberikan kebebasan dan keleluasaan. Persoalannya kebebasan itu diarahkan untuk betul-betul relevan dengan dunia sekarang dan dunia yang akan datang. Peradaban keilmuan ada sifatnya abstrak, konkrit, real. Kalau kita melihat filsuf Eropa, boleh lah mereka menciptakan teori-teori yang sifatnya abstrak karena peradabannya sudah lama dibangun, maka kebebasan untuk menciptakan hal yang teoritis itu diangkat menjadi sebuah abstraksi.

Kebutuhan di negara kita beda dengan Eropa, yang sudah lama peradabannya. Negara kita butuh yang sifatnya operasional. Kampus merdeka ini bukan berarti membelenggu, namun yang abstrak tadi agar diimplementasikan di operasional agar bermanfaat langsung di masyarakat. Masyarakat sekarang butuh pemecahan masalah yang segera diselesaikan, misal lapangan pekerjaan (banyak pengangguran, banyak mahasiswa tidak dapat bekerja, banyak masyarakat miskin yang tidak mendapat mata pencaharian atau lain-lain). Kalau kita berilmu yang abstrak lalu ini bagaimana ? Jadi, akademisi harus bisa menjadi solusi untuk mengatasi masalah yang mendesak adalah butuh hidup, butuh makan, butuh lapangan pekerjaan. Bukan berarti menghilangkan aspek ilmuwan yang sifatnya teoritis terminologisnya, namun agar bisa diimplementasikan, dioperasionalkan. Orientasi ilmuwan Eropa bersifat abstrak, sementara Indonesia melihat kebutuhan sangat mendasar yaitu memecahkan persoalan bangsa yaitu banyaknya kemiskinan, kebodohan, pengangguran, banyaknya pengangguran. Dan ilmu itu harus bisa diimplemantasikan.

Komunita : Statemen terkait program MBKM dan pesan untuk pihak terkait ?

Prof. Obsatar Sinaga : Komitmen Widyatama akan menerapkan program MBKM. Yayasan sangat mendukung penyelenggaraan, perombakan kurikulum sesuai kerangka orientasi kurikulum kampus merdeka. Reaksi dan sambutan stakeholder di Widyatama sangat apresiatif. Sambutan positif ini akan mengarahkan pada keberhasilan yang kita canangkan.

Dosen harus kreatif inovatif untuk 1) menciptakan metode pembelajaran yang lebih kaya; 2) memperkaya kompetensi baik utama maupun tambahan; 3) bergaul (dosen jangan kuper, agar bisa memberikan arahan kepada mahasiswa di kampus merdeka).

Untuk mahasiswa sebaiknya manfaatkan dosen, infrastruktur untuk pembentukan dan mendapatkan ilmu/sains, karakter untuk bekal hidup yang akan datang. Mahasiswa jangan hanya mengandalkan ilmu dari kampus. Belajarlah di tempat magang, tempat praktik, dan di rumah, dengan fasilitas digital. Untuk memperoleh ilmu yang sebanyak-banyaknya. Jangan semua informasi ditelan dengan mudah, tetapi saring dengan : 1) berfikir kritis; 2) fahami; 3) tafsirkan (maknai); 4) perkaya informasi sama dari sumber yang lain. Ada Pepatah mengatakan “mengetahui informasi merupakan level terendah dalam berfikir kritis” padahal mahasiswa itu harus menjadi insan yang memiliki karakter berfikir kritis.

Pesan moral kepada Dosen, dan mahasiswa agar kembali pada hakikat pendidikan yakni memanusiakan manusia dengan bekal keilmuan yang unggul, skills yang unggul, karakter yang unggul, untuk dapat dimanfaatkan di dunia kerja dan masa yang akan datang; hakikat kedua, bergaulah dalam duniamu sesuai potensi, minat, bakat yang dimiliki, dan target cita-cita. Perencanaan yang baik adalah menciptakan masa depan yang baik. Cara terbaik untuk menciptakan masa depan adalah ciptakan dan lakukanlah dari sekarang.(prfds)

Prof. Ir. Sri Widiyantoro, M.Sc., Ph.D., IPU – Rektor Universitas Kristen Maranatha

Komunita : Kebijakan “MBKM” meliputi 4 hal, relevansi kebijakan ini apakah memberikan keleluasaan atau kesulitan bagi Tri Dharma PT ?

Prof. Sri Widiyantoro : Harapan tentu sebaliknya. Supaya Tri Dharma PT dapat diimplementasikan dengan Fleksibel (tidak kaku). Sebelum ada program MBKM ini, sebenarnya kami sudah berjuang ke arah sana. Kami ingin otonomi, bisa mengatur diri sendiri. Dalam arti bukan tidak ingin diatur, namun ada level tertentu dimana Universitas lebih mengetahui persis kebutuhannya, lebih mengenal kondisi kampusnya sendiri. Pemerintah mengatur PTS secara umum, tapi lebih secara umum kan boleh. Yang tidak boleh adalah dibawah standar. Otonomi untuk mengatur diri sendiri baik dalam kurikulum, keuangan (Auditable). Jika dana dari pemerintah harus mengikuti aturan pemerintah. Namun selain dari APBN, kami juga memiliki dana masyarakat yang bisa dikumpulkan dan digunakan untuk pengembangan yang tidak hanya mengandalkan dana APBN saja. Sekarang ini diinstitusionalkan secara nasional untuk memiliki keleluasaan yang bertanggungjawab, dan semua ada ukurannya. Misal otonomi keuangan nantinya pasti ada audit, improvisasi mencapai tujuan.

Komunita : Semboyan Maranatha ICE: “Integrity, Care, Excellence” bagaimana ICE sendiri dimaknai dengan program MBKM ?

Prof. Sri Widiyantoro : Ada 2 (dua) macam ICE: “Integrity, Care, Excellence” itu semboyan Maranatha. Maranatha memiliki program Character Building – Excellence itu diartikan Ke-Prima-an. Program Rektor ICE : Initiative, Collaboration (kolaborasi-kerjasama), Excellence (unggul), program yang ingin dijalankan di Universitas Maranatha. Unggul maksudnya ada ciri khas/keunggulan di bidangnya, melengkapi yang lain tapi tidak follower orang lain.

Misal dalam bidang Kedokteran di Maranatha, ada beberapa riset yang dilakukan di Maranatha seperti pengembangan anti aging, terkait herbal, Plasma Konvalesen (yang dilakukan dr. Monika). Fakultas Ekonomi mau bertransformasi ke Fakultas Bisnis, sekarang ekonomi menjadi agak kuno. Tidak boleh dipungkiri bahwa perubahan itu pasti terjadi. Proses transformasi masih berjalan, proposal sudah disetujui, dan pengajuan renovasi bangunan juga sudah disetujui dan akan direalisasikan dalam waktu dekat, tujuannya agar transformasi menjadi Fakultas Bisnis ini dapat disupport oleh infrastruktur bangunan yang lebih representative.

Komunita : MBKM ditujukan bagi mahasiswa untuk dapat menguasai berbagai keilmuan, khususnya yang berguna ketika masuk di dunia kerja, artinya ?

Prof. Sri Widiyantoro : Tantangan ke depan sangat besar, terutama di industry 4.0 perubahan yang sangat cepat bahkan destruksi dan Menteri menyadari hal tersebut. Contohnya pada Teknik Sipil, Anak dididik untuk membuat jembatan yang kalau zaman dulu bentuknya konvensional, berbeda dengan sekarang yang model jembatan sudah macam-macam. Kurikulum sekarang harus lebih fleksibel untuk mengantisipasi perubahan yang sangat cepat. Di Maranatha mendorong Prodi yang sudah akreditasi A, untuk segera mengikuti akreditasi Internasional.

Komunita : Sejauh mana Transformasi Dana untuk PT meningkatkan kualitas dan daya saing PT ditingkat global?

Prof. Sri Widiyantoro : Pada PTN, ada insentif khusus jika masuk 100 besar Ranking dunia. contoh saat ini per Prodi atau Departemen yang masuk Ranking 100 besar itu ada di ITB seperti Seni rupa, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan. Di Maranatha, ada pengembangan belajar Daring.

Komunita : Kesiapan Perguruan Tinggi menyikapi kebijakan MBKM dari segala bidang, untuk mendukung program-program pemerintah?

 

Prof. Sri Widiyantoro : Maranatha memiliki MORNING/Maranatha Online Learning System. Peran Yayasan sangat mendukung sehingga program belajar daring itu difasilitasi dengan meng-upgrade seluruh fasilitas online (bandwidth, dsb). Seperti Universitas lain juga, kedepannya Maranatha juga merasakan new normal (dan tidak akan kembali seperti dulu). Merasakan berkah di dalam kesulitan (sebelum Pandemic ada kegiatan Course online masih sulit dilaksanakan, setelah Pandemic mau tidak mau harus tetap dilaksanakan). Saat ini yang masih sulit dilakukan secara online adalah Praktikum Kedokteran terutama Kedokteran Gigi. Saat ini dilakukan offline, dengan Protokol Kesehatan yang sangat ketat.

Komunita : Problematika serta harapan Perguruan Tinggi dengan adanya kebijakan MBKM di masa Pandemi COVID-19 ini ?

Prof. Sri Widiyantoro : Beberapa waktu lalu ada Ghosting Kampus, maksudnya jika tatap muka terlihat siapa yang tidak aktif/tidak datang. Dengan pembelajaran Online ini, monitoringnya yang agak sulit. Ini merupakan salah satu tantangan juga, yang bisa diminimize dengan tetap terhubung dengan mahasiswa (contoh membuat WA Group kelas, memberikan tugas, memberikan quiz). Harapan kami, Pandemi ini segera berakhir dan pelaksanaan MBKM ini bisa dilakukan dengan penuh tanggungjawab, supaya tujuan utamanya dapat fleksibitas dalam proses pembelajaran ini dengan hasil yang optimal. Menghasilan lulusan Universitas yang berkualitas, selain bisa bekerja juga dapat membuka lapangan kerja.

Prof. Dr. rer. nat. Martha Fani Cahyandito, SE., M.Sc., CSP. – Ketua STIE EKUITAS

Komunita : Apakah MBKM dapat diterapkan sesuai harapan atau mendorong agreement antar perguruan tinggi?

Prof. Martha Fani Cahyandito : Mengenai soal agreement memang harus dibuat, sebagaimana saya melihat berbagai kampus luar negeri seperti di wilayah Skandinavia itu lebih terasa kerjasamanya, serta lebih islami dibandingkan di kita. Mereka memang saling membantu dan mendukung bagi kemajuan pendidikan. Bukan memikirkan benefit yang diambil secara personal bagi kepentingan dirinya sendiri. Suasana disana terasa sangat islami karena saling berbagi manfaat diantara elemen kampus. Semangat yang dapat ditularkan disana itu yakni dengan istilah “apa yang dapat kami bantu, apa yang dapat kami tawarkan dan lain sebagainya”.

Komunita : Kapan sebenarnya program MBKM ini dijalankan?

Prof. Martha Fani Cahyandito : Saya rasa ini sudah berjalan sebagaimana canangan dari pemerintah. Melalui program ini, kita dapat mengirimkan mahasiswa untuk melakukan magang ke berbagai industri, kemudian melakukan pengabdian masyarakat ke desa-desa. Namun pada kenyataannya, prosedur di kita ini sangat administratif dan banyak aturan tersendiri. Oleh sebab itu, hal ini dikembalikan lagi kepada perguruan tinggi yang bersangkutan mengenai kemauan institusinya dalam hal mengirimkan sejumlah mahasiswa untuk melakukan KKN, namun ditambah dengan program lain seperti: melakukan pengajaran, mengembangkan koperasi di desa yang bisa disetarakan dengan jumlah 30 SKS disesuaikan bidang mata kuliah atas tema/topik tujuan dari program tersebut. Saya rasa, untuk petunjuk detail mengenai hal tersebut (dikonversi ke dalam aturan jumlah SKS) sepertinya belum dibuat dan disepakati secara umum. Mengenai standarisasi pola pengembangan kegiatan di kita sepertinya masih belum terlaksana semuanya sehingga masing-masing institusi berjalan dengan sendirinya.

Komunita : Apakah kebijakan MBKM, yakni: Re-akreditasi otomatis, hak belajar studi pada kampus lain, pembukaan prodi baru, serta kemudahan perubahan PTN menjadi PTN Badan Layanan Umum (BLU) dan satuan kerja (satker) bisa diimplementasikan semua perguruan tinggi ?

Prof. Martha Fani Cahyandito : Meskipun hal ini telah diputuskan oleh pemerintah, namun kelihatan masih wait and see dan trial and error. Nah, mengenai hak belajar mahasiswa selama 3 semester di luar prodi ini bisa saja diterapkan dengan melihat kapabilitas dan potensi dari mahasiswa tersebut, namun ada pula yang belum mampu ke arah sana. Sebenarnya hal ini dikembalikan lagi kepada kesiapan dari mahasiswa yang bersangkutan dan prodi kampus yang ditujunya.

Dari sisi kemudahan untuk membuka prodi baru, tergantung pada kualitas semua elemen didalamnya. Jangan sampai ketika baru dibuka suatu prodi, maka akan cepat pula tutupnya dikarenakan kurang persiapan, kontrol yang tidak optimal serta minat mahasiswa yang sedikit.

Sebenarnya ide dan gagasan dari pemerintah ini sangat bagus, akan tetapi dibutuhkan implementasi terhadap waktu dan proses yang lumayan agak panjang.

Komunita : MBKM bertujuan mendorong mahasiswa menguasai berbagai keilmuan untuk memasuki dunia kerja. Apakah ini ditafsirkan hanya penguasaan keterampilan teknis ?

Prof. Martha Fani Cahyandito : Kalau saya mencermati pernyataan ini, yang dikejar oleh pemerintah (melalui pak Nadiem) 60 % aspek non teknisnya dibandingkan dengan aspek teknis kualifikasi bidang keilmuannya yang hanya sebesar 40 %. Jadi lebih menitikberatkan pada hal-hal yang bersifat non teknis, seperti: Rasa percaya diri yang dikembangkan, communication skill yang bagus, dapat membaca situasi dan lainnya. Banyak juga problem dari lulusan perguruan tinggi bukan pada hard skill-nya namun lebih kepada unsur soft skill-nya. Jadi ide dari pemerintah ini sangat bagus sekali meskipun perlu proses untuk mencapai target ke arah sana. Pengembangan aspek soft skill ini yang dibutuhkan oleh dunia kerja menyangkut pada perilaku dan karakter pembawaan dalam diri mahasiswa yang membentuknya.

Komunita : Mampukah kebijakan MBKM tentang “Transformasi Dana Pemerintah untuk PT” memberi peluang PT meningkatkan kualitas, mendorong terwujudnya lulusan unggul, dan melahirkan talenta-talenta yang mampu bersaing di tingkat global?

Prof. Martha Fani Cahyandito : Saya telah tergabung dalam wadah L2Dikti melalui link grup untuk domain sekolah tinggi dan pimpinan universitas. Mengenai isu matching fund ini sebetulnya baru dan belum lama digaungkan. Proses implementasinya saya pun belum begitu tahu perkembangannya; apakah sudah jalan atau belum. Adapun program yang telah dirasakan yaitu mengenai insentif atas kinerja yang telah dilakukan oleh tiap perguruan tinggi, seperti hibah, beasiswa dan lainnya. Di Ekuitas sendiri untuk pengembangan mutu Dosen di P3M’nya alhamdulillah telah naik peringkat; yang semula dari level binaan ke tingkat madya, lalu sekarang menuju ke level utama.

Artinya kita dapat diberi keleluasaan dan wewenang untuk mereview dan mengelola sendiri atas semua insentif hibah dari pemerintah. Pada bagian kerjasama internasional di Ekuitas Insya Allah terus bagus dan dapat hibah juga dari Kementerian. Sementara untuk program kompetisi kampus merdeka dalam sisi pendanaan, Ekuitas belum menjalankan sepenuhnya. Sementara untuk mengikuti berbagai kegiatan yang bersifat kompetisi, kami pun terus mengikutinya. Alhamdulillah prestasi dari dosen dan mahasiswanya terus naik dan telah berhasil memperoleh reward yang lumayan dari berbagai event perlombaan.

Komunita : Problematik dan harapan dalam hal penerapan kebijakan MBKM, bertepatan dengan pandemi Covid-19?

Prof. Martha Fani Cahyandito : Kita pun juga meniru apa yang telah Widyatama lakukan dalam hal penerapan program E-Learning berkaitan proses belajar mengajar secara daring. Jauh hari sebelum adanya pandemi covid-19, Ekuitas juga telah menerapkan konsep belajar E-Learning pada beberapa mata kuliah. Sehingga saat tiba pandemi, semua bidang keilmuan telah disiapkan untuk dapat diterapkan dan diimplementasikan metode E-Learning oleh semua dosen. Paling tidak untuk satu mata kuliah yang diajarkan – harus ada metode E-Learningnya.

Komunita : Metode E-Learning, Apakah wajib bagi dosen dan mahasiswa dalam satu semester untuk melakukan perkuliahan virtual (online) dengan teknis serta kendala terhadap sinyal/jaringan?

Prof. Martha Fani Cahyandito : Sama seperti lainnya bahwa di Ekuitas juga mengenai problem sinyal/jaringan memang menjadi sesuatu yang umum, namun dalam pelaksanaan teknis – kami memberikan toleransi atas waktu proses pembelajarannya. Mulai dari upload materi, kemudian interaksi virtual (conversation) dan semuanya harus terhubung melalui sistem E-Learning tersebut sehingga dapat dilakukan pemantauan dan dapat direkam secara otomatis.

Komunita : Apakah Ekuitas sudah memperoleh informasi terkait akan diselenggarakan proses belajar mengajar secara offline pada bulan Juli mendatang sehubungan dengan memasuki tahun ajaran baru?

Prof. Martha Fani Cahyandito : Yang saya dengar, mulai bulan Juli itu memang diutamakan untuk anak sekolah. Sementara bagi tingkat perguruan tinggi – belum dimulai untuk proses belajar secara luring. Berdasarkan info dari pemerintah provinsi Jawa Barat, untuk jenjang SMA dan SMK yakni bagi guru dan siswa akan diprioritaskan mendapatkan vaksin terlebih dahulu sehingga proses belajar pada bulan Juli mendatang dapat dilakukan secara tatap muka.

Sedangkan untuk jenjang perguruan tinggi akan diberikan vaksin secara bertahap, sehingga masih dimungkinkan proses belajar mengajarnya secara daring (online) pada semester yang akan datang. Kalaupun nanti dimungkinkan bagi kami untuk menyelenggarakan proses pembelajaran secara offline, paling akan diterapkan model hybrid learning dengan bobot mekanisme belajarnya 50% online dan sisanya yang 50% lagi bisa menerapkan secara offline (tatap muka). Adapun dari prediksi yang dapat saya amati mengenai proses belajar mengajar untuk perkuliahan semester mendatang yakni sekitar 60-70% masih akan dilakukan secara online (daring).

Rewrite : Lili Irahali Pewawancara : Lili Irahali, Keni Kaniawati, Nugi Muhammad Nugraha;

Audio to Transcript: Yanda Ramadana, Intan Liswandini.

 

QUOTE EDUCATION Komunita Edisi #28

QUOTE EDUCATION Komunita Edisi #28
.

1.The best way to predict the future is to create it.  Peter Drucker, Management guru
2.If your actions inspire others to dream more, learn more, do more and become more, you are a leader.  President John Quincy Adams
3.We believe that cooperation is better than conflict, unity is better than division, empowerment is better than resentment and bridges are better than walls.  Hilary Clinton, Democratic Party nominee for President of the United States 2016 election
4.Innovation distinguishes between a leader and a follower. – Steve Jobs, co-founder and CEO of Apple

.

Sumber : https://thinkstrategicforschools.com/inspirational-leadership-quotes-school-leaders/

.

.

QuiiZ …. KiRim NeWs, Ilustrasi, Sequen-Foto berita WidyaTamA untuk Komunita Edisi #28

QuiiZ …. KiRim NeWs, Ilustrasi, Sequen-Foto berita WidyaTamA untuk Komunita Edisi #28

BE a CITIZEN JOURNALIST & ILUSTRATOR

Dapatkan Hadiah Pilihan Kamu !!!

1) voucher makan bareng teman di Foodcourt Widyatama – Universitas Widyatama OR

2) Voucher pulsa HP anda senilai Rp 200.000 (dua ratus ribu).

1. Mahasiswa punya berita / news kampus ? Berniat membuat berita ? Berlatih membuat Berita ? Foto Berita / Mau menjadi citizen journalist ? KIRIM News, Foto berita, ilustrasi anda ke majalah Komunita.

2. Syarat : a) Berita mengandung konten 5 W (What, Who, When, Where, Why), 1 H (How); atau Foto Berita; b) Tema kegiatan kampus dan mahasiswa yang mempunyai nilai berita; c) Kegiatan subjek berita pada periode sebelum terbit edisi #28 (Desember 2020), d) Ilustrasi.

 

Kirim Berita/News/Foto Berita/Ilustrasi Anda melalui : Sekretaris Redaksi Komunita, email : [email protected], [email protected]. Berita/Foto yang dimuat pada KOMUNITA edisi #28 mendapat hadiah yang dapat diambil di Redaksi Komunita, Telp 122, dengan membawa identitas lengkap.

Kantor Buka pada : Rabu – Kamis, jam 10.00 s/d 16.00.

Selamat bergabung sebagai citizen Journalist, illustrator majalah

IKUTI DAN BACA TERUS MAJALAH KOMUNITA.

 

 

Kembangkan Sensor Gempa karena Kepedulian kepada Masyarakat

Udin Komarudin,

Kembangkan Sensor Gempa karena Kepedulian kepada Masyarakat

https://sainspop.widyatama.ac.id/wp-content/uploads/2021/03/IMG_20210220_111125_HDR-300x225.jpg   Adalah Udin Komarudin, seorang dosen yang juga Ketua Program Studi Teknik Mesin S1 Fakultas Teknik Universitas Widyatama (UTama) Bandung yang lahir di Subang 52 tahun lalu. Ia fokus menggeluti teknik mesin dan bahkan dalam kesehariannya tidak lepas dari masalah pendidikan dan pengajaran, serta penelitian yang berhubungan dengan mekanika.

  Dalam perbincangan ia menjelaskan :Saya ingin memberikan hasil penelitian yang berguna bagi Kampus dan Masyarakat, serta dapat membantu permasalahan yang ada di masyarakat. Itulah motivasinya dalam melakukan penelitian.

  Inovasi dilatarbelakangi kepedulian kepada masyarakat daerah Sesar Lembang ini menghasilkan alat Sensor Gempa UTama atau disingkat SeGUT D-001. Menurutnya sejauh ini masih banyak masyarakat di sekitarSesar Lembangyang kurang peduli bencana gempa. Melalui inovasi ini ia  berharap terbentuk masyarakat peduli gempa di sekitar daerah Sesar Lembang.

  Penelitian dilakukan Udin bersama tim dosen dan mahasiswa selama dua bulan. Lokasi penelitian di kelurahan Cipageran, Cimahi Selatan, Jawa Barat. “Alhamdulillah, dengan kerjasama tim, kami dapat membuat sensor gempa ini dengan menggunakan Ayunan Bandul. Secara sederhana ketika terjadi gempa minimal 4 skala richter, bandul akan berayun, sehingga sensor akan memberikan sinyal kepada modul suara dan berbunyi” kata Udin sembari menunjukkan model SeGut D-001. Ketika terjadi gempa, terdapat bunyi suara yang terdengar, sehingga  dapat melakukan Tindakan evakuasi” kata Pa Udin.

  Inovasi berupa kebaruan dari SeGut ini adalah alat sensor gempa yang mudah dibuat, murah, serta menggunakan bahan-bahan  yang banyak terdapat di pasar. Tentu hal ini sangat bermanfaat bagi masyarakat Kelurahan CipageranCimahi pada khususnya dan Rakyat Indonesia pada umumnya karena Indonesia sangat rawan bencana gempa

  Kedepan, Pa Udin dan tim dosen dan mahasiswa Teknik Mesin akan terus mengembangkan SeGut  D-001 dengan dukungan Rektorat UTama dan Yayasan, serta dekan Fakultas Teknik. “Tahapan pemanfaatan SeGut D-001 agar bisa dimanfaatkan oleh lebih banyak orang seperti komunal” kata Pa Udin.

  Beberapa penelitian beliau adalah Pipe stress and turbine nozzle load analysis for HP steam inlet and MP steam extraction on turbine generator 51G201T capacity 10MW, Influence of Fuel System, Fuels Types and Spark Plug Types on CO  Gas Exhaust of Motorized Vehicles dan management and Manufacture of Essential Oil Distillation Equipment with Direct Steam Distillation Method.

SeGUT D-001, alat deteksi Gempa

  Salah satu permasalahan yang dihadapi masyarakat Indonesia adalah gempa. Data  gempa  yang dikeluarkan  oleh  Direktorat  Geologi,  dalam  kurun  waktu  tahun  2012  sampai  September tahun 2019  terjadi  gempa  sebanyak  4506  kali  dengan  kisaran  magnitudo  antara  2.1 sampai  7.7. Badan Geologi Kementerian  Energi  dan  Sumber  Daya Mineral menyebutkan Bandung merupakan salah satu daerah yang sangat berpotensi terjadi gempa.   Khusus  untuk  daerah  Bandung  dan  sekitarnya  ancaman  bencana  akibat gempa  bisa diperburuk  dengan  adanya  patahan  yang  berarah  barat  timur  di  bagian  utara Bandung yang  terkenal  dengan  sebutan  Patahan Lembang,  yang  mana  berpotensi  menumbulkan gempa  dengan  magnitude  6  sampai  8. Para  ahli  menyatakan  bahwa Patahan Lembang dilaporkan terus bergerak aktif dengan rata-rata pergerakan mencapai empat  milimeter  per  tahun.

  Kesadaran  warga  Kota  Bandung dan  sekitarnya  akan ancaman gempa Patahan Lembang masih minim, karena belum ada pengalaman gempa yang  merusak. Masyarakat diharapkan  memiliki  kapasitas  yang  memadai  untuk meningkatkan  kesiapsiagaan  menghadapi encana  serta  tanggap  dan  sadar  bahwa mereka tinggal  di  daerah  rawan  bencana.  Kesiapsiagaan  merupakan  kegiatan  yang menunjukkan  respons  terhadap  bencana.  Faktor  yang  berperan  dalam  kesiapsiagaan bencana  adalah  Masyarakat  dan  pihak  pengambil  keputusan.  Masyarakat  memiliki Pengetahuan (Knowledge), Sikap (Attitude), dan Perilaku (Behaviour) untuk mengukur tingkat  kesiapsiagaan.   Kesiapsiagaan  adalah  bagian  yang  integral  dari pembangunan berkelanjutan.

Menurut  pernyataan Analis  Mitigasi  Bencana  Seksi  Pencegahan  dan Kesiapsiagaan BPBD Cimahi, Kota   Cimahi, termasuk   ke   dalam   zona   merah   bencana Patahan Lembang. Dilihat dari Rencana Kontijensi Gempa Bumi Kota Cimahi ada tiga wilayah memiliki   jarak   3   kilometer   dari   garis Patahan, yakni   Citeureup,   Cipageran   dan Cihanjuang,” Cipageran merupakan daerah yang terlewati oleh jalurP atahan Lembang.

  Fenomena ini menjadi dasar bagi dosen dan mahasiswa Teknik Mesin Universitas Widyatama untuk melakukan inovasi agar dapat membantu masyarakat di Kecamatan Cipageran dapat mengetahui dasar-dasar mitigasi bencana gempa yang didukung oleh produk inovasi berupa sensor gempa. Tentu alat sensor gempa ini yang bisa diketahui dengan cepat oleh warga sehingga membuat mereka bisa melakukan mitigasi resiko dengan cepat.

  Inovasi SeGUT D-001 diawali dengan kegiatan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat oleh tim dosen dan mahasiswa Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Widyatama (UTama) Bandung yang dipimpin oleh Udin Komarudin, Ir., MT dengan judul Membuat dan Penerapan Alat Deteksi Gempa Di Kampung Cipageran  RT.06,  RW.24, Kelurahan Cipageran Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi.

  Melalui penelitian selama 2 bulan, didapatkan SeGUT D-001, alat sensor gempa yang memiliki nilai inovasi yaitu kebaruan berupa alat ini mudah dibuat, murah, serta bahan-bahan  yang digunakan banyak terdapat di pasar.

  Dengan hasil inovasi ini dapat membantu warga Kecamatan Cipageran Kota Cimahi dalam hal mitigasi resiko bencana gempa dengan dukungan sensor gempa bumi. Ini dapat dimanfaatkan oleh pemerintah dan pihak lain untuk membantu masyarakat sebagai early warning ketika terjadi gempa.

Inovasi SeGUT ini sudah dipresentasikan dalam International Conference, InnoSTRE2020, MARA University-Malaysia, 2020 dengan judul Earthquake Detection Named SeGUT D-001.

  SeGUT ini terus dikembangkan dan diharapkan dapat kerjasama dengan berbagai pihak untuk menjadi bagian dari early warning system ketika terjadi gempa dan dapat melakukan mitigasi resiko terhadap akibat bencana gempa.

  Sukses terus Pa Udin, Tidak hari tanpa Inovasi untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

.

Tim Komunita, 21 April 2021

Sepedahan di era pandemic ala Common People Cycling Collective

.

Sepedahan di era pandemic

ala Common People Cycling Collective

.

kita (commonpeople) itu bukan club sepedah tapi kolektiv sepedah

“yang penting itu bukan sepedahnya tapi sepedahan-nya

digarasi rumah ada sepedah, pake. Ga peduli harganya berapa, pake aja

.

C:\Users\01\Downloads\IMG-2104.jpg  Sepenggal potongan percakapan video yang ada di Instagramnya @commonpeople yang mengutarakan dan mengajak siapapun yang punya sepedah untuk ikut gowes bareng mereka. Saya berkesempatan untuk gabung di komunitas mereka dan ikut sepedahan bareng, lalu saya berinisiatif untuk merangkum sedikit cerita bersepedah ala common people. He”re we go ^_^

Virus covid-19 mulai menyerang Indonesia di bulan maret 2020, dari situlah awal mula Kibo (founder) mengajak beberapa temannya bersepedah.   Di bulan Juli 2020 Kibo memutuskan untuk membuat media social (Instagram) common people agar mempermudh berinteraksi dengan orang-orang yang ingin sepedahan bareng mereka.

Berawal dari pertemanan yang memang sudah terbentuk cukup lama Kibo, Diki, Giri, Ardy, Edwin, Ocid berinisiatif untuk sepedahan bareng. Beberapa dari mereka memang sudah menjadikan sepedah sebagai alat transportasi hariannya. Ada pula yang memang sudah cukup lama menekuni hobi sepedahan, dan tidak sedikit juga yang punya sepedah

C:\Users\01\Downloads\IMG-2114.jpgtapi jarang digunakan. Sepedah buat mereka bukan hanya sekedar hobi dan pelepas penat, berkumpul bercerita dan berbagi tawa bahkan ada yang menjadikan sepedah sebagai ladang penghasilannya. Entah berjualan meggunakan sepedah atau bahkan berjualan unit sepedahnya. Karena Salah satu founder memiliki, disanalah awal mula titik kumpul bagi siapapun yang mau gabung bersepedahan bareng mereka. Aktif memposting kegiatan sepedahan di Instagram, membuat Instagram common peole mulai banyak pengikutnya. Dan tidak sedikit Instagram coffeeshop yang mengikuti mereka. Akhirnya tercetus ide bahwa sehabis mereka sepedahan , coffeeshop akan jadi titik finish mereka. Sampai akhirnya kegiatan finish sambal ngopi ini menjadi ciri khas common people, dan pada akhirnya banyak owner coffeshop yang mensponsori kita (hehehhe seru kan sepedahan bareng common people).

Sabtu pagi pukul 06.30 merupakan hari pilihan common people untuk sepedahan keliling kota Bandung dan Jalan Asia Afrika menjadi titik kumpul mereka saat ini. Setiap minggunya admin Instagram akan memposting dimana finish ngopinya.

Seiring berjalannya waktu, komunitas kami semakin dikenal banyak orang dan komunikasi di Instagram semakin aktif. Ada yang bertanya tentang sepedah, dimana tempat service sepedah, dimana membeli spare part sepedah, dll.

Common people bukan sekedar komunitas gowes keliling kota saja, tapi jadi wadah silaturahmi urang Bandung yang hobi sepedahan. Common people juga pernah mengadakan acara amal untuk membantu korban banjir yang melanda beberapa titik di Jawa Barat. Mereka melelang beberapa spare part sepedah dan semua hasil uang yang terkumpul di donasikan melalui sebuah badan amal di Bandung.

Pandemic buat kami bukanlah halangan untuk menyalurkan hobi bersepedah, dengan tetap mematuhi protokal kesehatan (menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan) kami akan selalu eksis di duni persepedahan. Buat semua pembaca Majalah Komunita yang punya dan suka bersepedaan, kami tunggu di Jalan Asia Afrika, Bandung setiap sabtu pagi yaa.

.

By Astriawati Jeinab, S.E.

Instagram @astribude  

.

PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Bagian Integral Tri Dharma PT

.

PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

Bagian Integral Tri Dharma PT

Bincang dengan

Dr. Dindin Abdurohim Brata Sonjaya, M.M., M.Si.

Reviewer Nasional Bidang Pengabdian Masyarakat Kemenristek/BRIN

C:\Users\01\Pictures\Din2 Prof -Unpas (2).jpg

  Pengabdian kepada masyarakat adalah salah satu pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi, disamping dharma pendidikan dan pengajaran serta dharma penelitian. Maka sejatinya, Pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian integral Tri Dharma perguruan tinggi yang dalam pelaksanaannya tidak terlepas dari dua dharma yang lain, serta melibatkan segenap sivitas akademika, yakni: dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan serta alumni.

   Mengapa demikian, karena pengabdian kepada masyarakat merupakan pelaksanaan pengamalan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni budaya langsung kepada masyarakat, yang secara kelembagaan melalui metodologi ilmiah sebagai penyebaran Tri Dharma Perguruan Tinggi serta tanggung jawab luhur dalam usaha mengembangkan kemampuan masyarakat, sehingga dapat mempercepat laju pertumbuhan bagi tercapainya tujuan pembangunan nasional.

  Melalui pengabdian kepada masyarakat, perguruan tinggi diharapkan hadir ditengah-tengah masyarakat, serta memberi solusi bagi masyarakat. Bahkan di tengah arus globalisasi, pengabdian kepada masyarakat bisa dikolaborasikan secara global dengan kolaborasi pengabdian kepada masyarakat oleh para mahasiswa dan dosen asing untuk berkarya bersama di Indonesia. Atau juga melakukan pengabdian kepada masyarakat dunia, melalui berbagai kiprah kerjasama dengan mitra internasional dan berkarya di berbagai belahan dunia.

  Sasaran pengabdian kepada masyarakat mencakup dua hal. Pertama, masyarakat luar kampus yang memerlukan bantuan dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah untuk menunjang pembangunan. Kedua, masyarakat pendidikan khusus yang sesuai dengan prioritas dalam bidang sains, kependudukan dan lingkungan hidup, serta lembaga pendidikan dan lembaga masyarakat yang memerlukan pembinaan dan pengembangan secara khusus. Bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat antara lain : pendidikan pada masyarakat, pelayanan pada masyarakat, Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan pemberdayaan masyarakat, pengembangan wilayah terpadu, atau pengembangan hasil penelitian.

  Tujuan pengabdian kepada masyarakat : a) mempercepat proses peningkatan kemampuan sumber daya manusia sesuai laju pertumbuhan pembangunan; b) mempercepat upaya pengembangan masyarakat ke arah terbinanya masyarakat harmonis serta dinamis dan siap menempuh perubahan-perubahan menuju perbaikan dan kemajuan sesuai dengan nilai-nilai sosial budaya dan norma-norma dalam kehidupan masyarakat berkembang dalam kehidupan masyarakat; c) mempercepat usaha pembinaan institusi dan profesi masyarakat sesuai dengan laju pertumbuhan proses modernisasi dalam kehidupan masyarakat; d) memperoleh umpan balik dan masukan bagi perguruan tinggi dalam rangka meningkatkan relevansi pendidikan, yang memerlukan ahli-ahli dengan kemampuan interdisipliner dan multidisipliner. Karena itu, pengabdian kepada masyarakat juga memerlukan pendanaan yang tepat.   

  Dalam konteks tersebut bagaimana sesungguhnya problematik pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Berikut bincang majalah Komunita dengan Dr. Dindin Abdurohim Brata Sonjaya, M.M., M.Si. Reviewer Nasional Bidang Pengabdian Masyarakat Kemenristek/BRIN.

Komunita : Pengajuan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dianggap sulit dan “merepotkan” ? Apakah karena aturan Kementerian yang ketat atau faktor internal Dosennya?

Dr. Dindin : S1, S2, dan S3 melakukan penelitian, artinya bahwa penelitian merupakan kegiatan yang sudah biasa dilaksanakan. Ada standar dari Dikti (Penerapan IPTEK, Bakti Sosial, CSR, dll) terkait penelitian, dimana ada sistematika yang sulit dipahami oleh dosen. Terkait pengabdian kepada masyarakat, faktanya ketertarikan dosen memang sedikit. Hal ini disebabkan berbagai faktor internal, misalnya masalah penilaian Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), baik di Dikti maupun di perguruan tinggi. Penilaian dan bobot penilaian PKM itu sendiri bernilai kecil.

  Seleksi begitu ketat namun penerimaan hibah PKM bernilai kecil, kembali lagi ke masalah anggaran. Komposisi anggaran penelitian dan pengabdian itu sangat beda jauh. Pemahaman persepsi yang kurang tepat sesuai panduan dan persepsi umum. Ada perguruan tinggi yang beranggapan bahwa pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan tanpa dana (karena namanya juga pengabdian). Termasuk di anggota DPR, dikarenakan bobotnya kecil karena istilah pengabdian itu sendiri yang berarti sukarela, mengabdi.

  Padahal menurut persepsi saya, pengabdian kepada masyarakat adalah penerapan dari IPTEK, memberikan/transfer ilmu. Namun tetap harus profesional, seperti halnya penelitian. Proses pengabdian kepada masyarakat lebih berat dibandingkan dengan penelitian (penelitian misalnya bisa diam ditempat tanpa ke lapangan, masih bisa menggunakan data sekunder), kecuali ada penelitian bersyarat harus bermitra dll. Kondisi ini yang harus diubah. Kemungkinan dalam waktu dekat ada perubahan bobot untuk Pengabdian Masyarakat (sudah dirumuskan dan diajukan ke Komisi X).

  Untuk hibah Doktor penulis pertamanya harus Promotor, sebenarnya itu ada pertimbangan tertentu. Kriteria penilaian ada penilaian administrasi dan penilaian substansi. Dari awal jika sudah tidak memenuhi syarat (itu akan tersisih dengan sendirinya). Pengabdian kepada masyarakat sekarang ini lebih menuntut pada hasil kajian. Perguruan tinggi harus membuat Rencana Induk Penelitian sebagai dasar pengabdian. Contoh kegiatan yang sedang berlangsung, Pengembangan Usaha Kecil Unggulan Kampung Rajut (EKA) merupakan binaan person dari tahun 2012. Kendalanya adalah produk tidak dapat bersaing karena mesin yang masih manual. Untuk itu, kami mengajukan dana ke Dikti sebesar Rp 40 juta (tetapi mesin itu paling murah Rp 95 juta), solusinya EKA harus berkolaborasi dengan mitra lain untuk pengadaan mesin, dengan tujuan untuk membantu UMKM.

  Hasil penelitian dosen yang begitu banyak jangan sampai mubazir, tidak ada manfaatnya dan tidak ada tindaklanjut ke depannya. Tri dharma tujuan akhirnya harus dapat menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat, maka mindset dosen harus diubah, termasuk pada kebijakan-kebijakan Pemerintah. Sehingga penelitian yang telah dilakukan dosen dapat diimplikasikan dengan baik dan sesuai tujuan awalnya yakni untuk dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan penghasilan daerah (PAD), dan sebagainya.   

Komunita : Bagaimana cara menyikapi Perguruan Tinggi yang dituntut mendapat hibah PKM?

Dr. Dindin : Kebijakan nasional harus mewajibkan perguruan tinggi untuk PKM, dan pimpinan perguruan tinggi juga harus dapat memberikan stimulant perolehan hibah PKM. Setiap Prodi diwajibkan minimal mengajukan 1 (satu) proposal hibah PKM. Harus dibuat aturan main dan reward terkait hibah PKM ini, jangan sampai ada persepsi masing-masing.

  Mahasiswa terbaik yang memiliki prestasi bagus juga sebaiknya ikut “digandeng” dalam pelaksanaan PKM ini, dimana mereka akan belajar berwirausaha dan mengembangkan jiwa entepreneurship dengan melihat bagaimana kondisi UMKM, cara kerjanya, produk yang dihasilkan, pengelolaan manajemen, dan lainnya. Sehingga pada waktunya nanti mereka terjun ke masyarakat, dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

.

Komunita : Follow up dengan Hibah, bagaimana memberikan motivasi para dosen?

Dr. Dindin : Motivasi bisa dilakukan dengan menjadi percontohan bagi para dosen, menjadi tempat bertanya, teman diskusi, mengundang narasumber. Dosen wajib melaksanakan Tri Dharma dengan pengabdian kepada masyarakat, bisa menghasilkan mahasiswa yang memiliki “value” di lapangan setelah lulus, mempraktekan ilmu, dan mengembangkan UKM.

  Rencana untuk pengembangan wirausaha, yaitu menggunakan model by project. Dulu dilakukan pada mahasiswa yang terpilih, dan berprestasi. Namun sekarang mengembangkan kewirausahaan harus merata ke setiap mahasiswa. Minimal mahasiswa paham maksud tujuan dan desain dari materi perkuliahan tersebut, setelah itu diarahkan untuk dapat meng-implementasikan konsep tersebut secara faktual.

  Secara birokrasi, tetap harus berkoordinasi dengan pihak terkait. Untuk studi kelayakan kewirausahaan itu bermacam-macam. Setiap kelompok harus mencari studi kelayakan yang sudah jadi (tidak lebih dari 10 tahun) dan mereka harus tetap terjun ke lapangan, melakukan wawancara, kuesioner, dan sebagainya.

Komunita : Mengapa Riset, PKM tidak sesuai yang diharapkan di lapangan dalam konteks kontribusi positif bagi masyarakat ?

Dr. Dindin : Harus dipahami standar maksud dan tujuan dari penelitian tersebut apa. Dituntut kesadaran bahwa sebuah proses adalah tugas bersama. Tidak sekedar mementingkan ego masing-masing atau sekedar selesai melaksanakan penelitian saja, melainkan harus tetap mengawal sejauh mana penelitian tersebut dapat diimplementasikan bagi masyarakat, berguna dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar dan orang banyak, serta bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

  Riset perguruan tinggi dan implementasi di masyarakat masih banyak kelemahannya, itu dikarenakan masih minimnya sinergitas antara Perguruan Tinggi dengan Pemerintah, baik Pemerintah Daerah maupun Pusat. Untuk magang dan penelitian, sebetulnya sudah jelas. Bahwa dalam pelaksanaannya harus ada mitra. Misal Perguruan Tinggi ber-mitra (mengadakan MoU) dengan BUMD dan BUMN.

.

Komunita : Saran selaku Akademisi dalam me-sinergi-kan Riset Perguruan Tinggi, khususnya PKM terkait pada Pertumbuhan Ekonomi?

Dr. Dindin : Pengabdian kepada masyarakat itu ada di bawah divisi apa, kita juga belum mengetahui. Dari rancangan tersebut harus segera diperjelas. Perguruan Tinggi dan dosen harus dilibatkan secara teknis pada penetapan aturan main, lalu adanya MoU dengan perusahaan swasta, BUMD, maupun BUMN. Ada prioritas skala nasional dan lokal, bagaimana pun juga penelitian dan pengabdian harus menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan bisa bermanfaat, khususnya kepada masyarakat -baik industri kecil, mikro, maupun industri besar.

  Tugas Perguruan Tinggi bukan hanya teori atau jurnal, tetapi harus turun langsung ke lapangan dan terasa oleh masyarakat. Intinya, kita mengetahui permasalahan yang terjadi di masyarakat. Mari beramai-ramai kita semua ambil bagian untuk dapat turut serta berkreatifitas dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, tidak lupa untuk berkolaborasi antar Perguruan Tinggi, antar keilmuan, antar kepakaran, minimalisir ego masing-masing.

.

Komunita : Bagaimana pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat khususnya di Perguruan Tinggi Bapak ?

Dr. Dindin : Saat ini sedang membuat model percontohan nasional, yaitu model pengembangan UMKM dan model pengembangan Koperasi. Mulai Februari akan ada FGD, Diskusi dengan dosen dan pihak terkait project tersebut. Untuk pengembangan UMKM produknya sudah di plot sebanyak 7 buah, untuk tahun 2020 – 2024 sudah di plot. Plotting tersebut perlu diketahui oleh mahasiswa yang memiliki minat berwirausaha, jika ada kebijakan program dari pemerintah atau kementerian, agar dimanfaatkan sebaik mungkin. Contoh Bisnis peluang eksport (didanai pemerintah).

Rewrite: Lili Irahali, Wawancara: Keni Kaniawati, Audio to transkrip: Intan Liswandini,

.

MERDEKA BELAJAR – KAMPUS MERDEKA DALAM PERSPEKTIF

.

MERDEKA BELAJAR – KAMPUS MERDEKA

DALAM PERSPEKTIF

.

.

  Tidak dipungkiri bahwa kebijakan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka/MBKM mengundang kontroversi di awal peluncurannya. Namun seiring berjalannya waktu, dan Merdeka Belajar sudah memasuki episode kesembilan yang menyentuh jenjang pendidikan dasar menengah, vokasi, sampai pendidikan tinggi. Upaya terobosan kebijakan pendidikan dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia ini selain dikritisi, namun juga mulai dimaknai sebagai alternatif yang patut diimplementasi dalam kerja positif yang dapat memberi manfaat bagi peserta didik atau sumber daya manusia Indonesia masa depan.

  Mencermati data World Bank (Bank Dunia) tahun 2020, bahwa indeks sumber daya manusia (Human Capital Index/HCI) Indonesia sebesar 0,53 atau peringkat ke-87 dari 157 negara. HCI Indonesia yang 0,53 mengindikasikan pemerintah perlu meningkatkan investasi yang efektif untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui kesehatan dan pendidikan demi mengungkit daya saing ekonomi Indonesia di masa mendatang. Pembangunan ekonomi berbasis komoditi harus bertransformasi ke pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan dan inovasi, dan hal itu tidak terlepas dari peningkatan kualitas sumber daya manusia.

  Majalah Komunita menyambangi beberapa pimpinan yayasan dan perguruan tinggi untuk mengetahui kebijakan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka/MBKM tersebut dimaknai perguruan tinggi dalam mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dalam perspektif mereka selaku penyelenggara, pengelola dan pendidik, MBKM mengandung sisi positif dan sisi lemah yang harus disempurnakan dan dioptimasi dalam pelaksanaannya.

.

Perspektif terhadap Merdeka Belajar – Kampus Merdeka

Prof. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D. – Rektor Universitas Terbuka (UT) dalam pertemuan daring memandang MBKM adalah suatu terobosan Kementerian yang memberikan keleluasaan dan kebebasan kepada masing-masing perguruan tinggi, juga mahasiswa dalam mencapai kompetensi yang diharapkan. Merdeka menurutnya bukan merdeka dalam artian sangat bebas, tetapi merdeka yang tetap dalam kontrol dan kendali universitas sebagai penyelenggara program pendidikan bagi mahasiswa. Karena konteks merdeka belajar dalam kampus merdeka tersebut ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi pihak kampus dan mahasiswanya.   Bagaimana program strategis tersebut diimplementasikan dengan baik di lapangan? Inti dari merdeka belajar adalah memberikan kesempatan kepada mahasiswa di dalam kompetensi yang sudah diatur dalam kurikulum tidak hanya diperoleh dari kuliah seperti biasa, tapi dimungkinkan dengan cara dan skema yang lain. Misal, kita ingin mencetak mahasiswa menjadi sarjana akuntansi, ada struktur kurikulum dan profil lulusan yang diharapkan, disupport mata kuliah-mata kuliah, ada kurikulum yang lebih luas, seluruh pengalaman belajar yang diperoleh mahasiswa ketika mereka menuntut ilmu, ada capaian pembelajaran, kompetensi yang diharapkan, biasanya juga bimbingan dosen. Melalui MBKM tidak seperti itu, tapi mereka bisa meraih kompetensi tersebut dengan cara di luar kampus. Dalam 8 implementasi merdeka belajar bisa dengan pertukaran mahasiswa, kegiatan magang, kegiatan mengajar di sekolah, kegiatan penelitian, kegiatan membangun desa, kegiatan proyek mandiri, serta proyek kemanusiaan dan bela negara. MBKM memberikan kesempatan mahasiswa, tapi melalui skema yang berbeda disesuaikan dengan kapasitas masing-masing mahasiswa sebagai terobosan yang baik.

Inti Merdeka belajar ….. memberikan kesempatan mahasiswa di dalam kompetensi yang sudah diatur dalam kurikulum tidak hanya diperoleh dari kuliah seperti biasa, tapi dimungkinkan dengan cara dan skema yang lain.

(Prof. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D. – Rektor UT)

.

  Mengapa ini diberikan? Menurut saya memberikan pilihan kepada mahasiswa, karena mahasiswa memiliki gaya belajar dan, learning style-nya berbeda–beda. Ada yang lebih suka mendengarkan ceramah/cerita dosen, ada pula yang lebih suka degan melihat video, dan ada yang lebih suka terlibat langsung dalam kegiatan praktiknya, mereka lebih senang di lapangan, menyiapkan berbagai skema. Agar mahasiswa dapat mencapai kompetensi itu sesuai kapasitasnya, sesuai learning stylenya, dan sesuai passion-nya.

  Dengan adanya wabah pandemi Covid-19, MBKM diterapkan dengan mengedepankan sisi kesehatan dan keselamatan mahasiswa dan juga orang yang terlibat di dalamnya. Dalam konteks ini kegiatan perkuliahan di kampus, menurut saya lebih baik secara Online Shopping Courses. Misalkan mahasiswa Widyatama mengambil Online Courses dari Binus, atau Unpar. Yang penting kampus bisa mengetahui bahwa kegiatan Online Shopping Course mahasiswa tersebut mencapai standar kompetensi yang diharapkan. Memberikan pelayanan yang baik dari kampus pemberi mata kuliah yang dibeli secara online harapannya mahasiswa menjadi lebih paham dan mendapatkan ilmu lebih dari yang diharapkan, serta memberikan pelayanan lebih dari yang diharapkan. UT setelah 36 tahun, merupakan lembaga pendidikan tinggi terdepan dalam Online Learning/pembelajaran Online, biayanya pun sangat murah dan terjangkau. Bahkan kalau perlu bisa saja mengembangkan integrasi Online Learning, dengan A-Sincronous atau Sincronous. Bahan belajar jarak jauh, dan caranya beda dengan Offline Learning dengan Online Learning dalam rangka untuk kepentingan yang lebih baik menyukseskan program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

  Sementara, Prof. Hikmahanto Juwana, S.H., L.L.M., Ph.D. – Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani/Unjani dalam pertemuan on site menjelaskan bahwa MBKM mengingatkan dirinya ketika menjadi Dekan Fakultas Hukum Universitas Indonesia. “Ketika itu saya melontarkan ide kepada rekan-rekan asosiasi para Dekan PT Negeri, sepertinya kita perlu melakukan suatu kegiatan dimana para mahasiswa mengenal ke-Indonesiaan-nya. Dengan cara mahasiswa saya mengambil mata kuliah di Universitas Mataram, semisal 1 Semester mengambil mata kuliah yang tidak mungkin diajarkan/ tidak diberikan di UI. Dengan demikian maha-siswa belajar sesuatu yang tidak ditawarkan di UI, kedua mereka akan mempunyai jejaring/ teman-teman di Mataram. Yang terpenting mereka tahu Indonesia bukan hanya Jakarta, tapi ada juga Mataram (NTB). Sebaliknya mahasiswa dari Mataram juga mengambil mata kuliah di UI, sehingga mereka juga tahu Jakarta. Indonesia sangat luas juga variatif, sehingga ke-Indonesiaan harus dimunculkan. Semisal mereka yang dari kota Jakarta menjadi anggota Dewan, pada waktu membuat Undang-Undang tidak sensitif bahwa Indonesia ini bukan hanya Jakarta, dan jangan pula Indonesia hanya direpresentasikan kota Jakarta. Beberapa Fakultas Hukum sudah melakukan, dari Universitas Hasanudin dan Andalas belajar ke UI. Akhirnya mereka kenal dosen dan teman-teman mahasiswa lainnya di UI. Sehingga, ketika mereka lulus datang ke Jakarta lebih percaya diri dan terbiasa, demikian pula ke Luar Negeri”.

Kebijakan MBKM, saya pikir bagus …. sebagai Rektor Unjani, tentu saya ingin semua fakultas melaksanakan Merdeka Belajar di tempat-tempat mahasiswa bisa magang.

(Prof. Hikmahanto Juwana, S.H., L.L.M., Ph.D. – Rektor Unjani)

  Ketika Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan kebijakan MBKM, saya pikir bagus seperti ini. Kemudian berbagai Universitas membuat MoU supaya mahasiswa mereka saling tukar belajar di Universitas tersebut. Kami dengan Universitas Bhayangkara dalam Fakultas Ekologi, mungkin ada yang tidak diajarkan disini tapi diajarkan disana, dan dari segi biaya tidak terlalu besar karena sekarang bisa menggunakan Zoom Meeting (secara Daring). Tinggal apakah kuliah itu bisa menambah angka kredit bagi mahasiswa untuk menyelesaikan kuliahnya. Jadi menurut saya kebijakan ini sudah bagus, cuman bila memakai Daring saja tidak mendapatkan suasana kampus tujuan studi. Seperti UI dengan Kota Depoknya atau UGM dengan suasana Jogjanya. Walau tentunya melalui daring kapasitas bisa lebih banyak kuotanya.

  Saya dipercaya sebagai Rektor Unjani, tentu saya ingin semua fakultas melaksanakan Merdeka Belajar di tempat-tempat mahasiswa bisa magang. Unjani milik TNI AD, dan Bapak KASAD mempersilahkan memanfaatkan cabang-cabang TNI AD untuk mahasiswa magang. Misalnya Dinas Psikologi AD untuk tempat magang mahasiswa yang bisa menjadi SKS, bahkan bisa menjadi Tugas Akhir mereka. Kalau bisa mahasiswa tidak perlu lagi membuat skripsi, tapi digantikan dengan laporan selama mereka bekerja magang. PT PINDAD sangat welcome untuk mahasiswa magang. Yang sudah berjalan Fakultas Kedokteran Unjani dan mereka menyerap tenaga medis calon dokter yang banyak diperbantukan di Rumah Sakit TNI AD, seperti RSPAD dan RS Dustira. Mereka belajar semata-mata tidak hanya dengan dosen, tapi juga dengan mentor-mentor mereka pada saat mereka magang adalah salah satu pembelajaran di lapangan yang sangat membantu mahasiswa saat lulus dan akan lebih baik.

Terkait dengan karakter mendapat respon positif dari salah satu tempat kerja, bahwa mahasiswa Unjani bagus loyalitasnya, karena di Unjani ada suasana Angkatan Daratnya, maka didikan loyalitas juga baik, kedua sopan santunnya, dan ketiga knowledgenya. Karena kedisiplinan senantiasa diterapkan kampus kami, dan menjadi nilai tambah bagi mahasiswa.

  Sedangkan, Djoko S. Roespinoedji, S.E., Pg.Dipl. – Ketua Yayasan Widyatama, yang juga Wakil Ketua ABP PTSI Jawa Barat menyatakan bahwa sebagai Badan Penyelenggara, ingin kampus Widyatama memiliki output yang bagus. Karena itu kami memiliki tanggungjawab untuk berperanserta membangun pendidikan Bangsa ini dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

  Berkaitan dengan kebijakan MBKM kami sangat mendukung penuh karena otonomi proses pembelajaran di Widyatama semakin diperkuat dengan aturan dan ketentuan otonomi kampus dalam kerangka kebijakan MBKM. Memang MBKM merupakan hal baru yang perlu kita maknai secara positif dalam meningkatkan kualitas peserta didik. Sebagai hal baru merupakan sebuah tantangan, khususnya bagi teman-teman dosen, dan manajemen kampus. Namun menurut saya tidak ada yang sulit.

Kami mendukung kebijakan MBKM karena otonomi proses pembelajaran di Widyatama semakin diperkuat dengan aturan dan ketentuan otonomi dalam kerangka kebijakan tersebut.

(Djoko S. Roespinoedji, S.E., Pg.Dipl. – Ketua Yayasan Widyatama/Wakil Ketua ABP PTSI Jawa Barat)

  Dari sisi dosen tetap menjalankan Tri Dharma – melakukan pengajaran, riset kemudian hasil riset dipublikasikan dalam bentuk jurnal, lalu pengabdian kepada masyarakat – sehingga kemampuan dan kompetensinya diakui. Pemahamannya adalah seorang dosen memiliki analogi dan metodologi, sehingga ketika dosen melaksanakan pengajaran, membuat riset, serta pengabdian kepada masyarakat, juga didukung kebijakan MBKM maka akan menjadikan sebuah output yang bisa diaplikasikan dengan baik sehingga bermanfaat bagi mahasiswa juga dosen itu sendiri. Karena itu kebijakan MBKM searah dengan harapan Yayasan kami dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang sesuai kebutuhan dunia usaha, industri dan dunia kerja.

  Dalam usia 50 tahun ke depan Widyatama kami persiapkan memiliki warna sesuai karakter dan pembelajaran Widyatama, yang didorong dengan strategi dan program MBKM sehingga dapat menghasilkan output yang realistis, melahirkan lulusan berkualitas dengan karakter adaptif dan mampu bersaing di dunia kerja, industri, atau kegiatan usaha. Untuk itu kami memfasilitasi serta mendorong dosen, manajemen perguruan tinggi, maupun mahasiswa terus meng-eksplore kemampuan dirinya sesuai fungsi. Dosen melakukan studi, riset yang berguna bagi pembelajaran, berkolaborasi menyesuaikan dengan kebutuhan cara pendidikan ke metodologi pendidikan, dan aktifitas dosen yang demonstratif, yang akhirnya intektualitas dan kompetensinya diakui. Manajemen menata dan mengembangkan tata kelola yang tepat sehingga melahirkan proses dan pelayanan pendidikan yang berkualitas dan berkarakter. Sedang mahasiswa sebagai peserta didik meng-explore dirinya dengan bimbingan dosen dan kampus mencapai prestasi yang terbaik. Hal ini berkaitan dengan memaknai Link & Match yang sebenarnya merupakan signal bahwa kualitas pendidikan harus sejalan dengan industri, bisa membangun bangsa dengan baik, namun tetap memiliki karakter bangsa/identitas bangsa, dan sesuai dengan tata norma yang berlaku di masyarakat.

  Prof. Dr. Obsatar Sinaga, M.Si. – Rektor Universitas Widyatama menjelaskan kita perlu melihat hakikat pendidikan yakni memanusiakan manusia, agar memiliki kemampuan ilmu teknologi dan keterampilan yang dapat berguna kehidupan kelak bagi masyarakat. Filosofi pendidikan memanusiakan manusia di masyarakat tentu harus diadaptasikan dalam struktur kurikulum dan dalam proses iklim pendidikan terutama di Perguruan Tinggi. Dalam konteks tersebut kami sangat setuju MBKM diimplementasikan di Widyatama. Jika kita mendidik mahasiswa tanpa melihat kebutuhan pasar dan industri di Indonesia kedepannya, akan sangat mubazir. Sampah terbesar pendidikan di kampus jika ilmu tersebut tidak dapat dimanfaatkan bagi kehidupan di masyarakat.

Kunci MBKM adalah hak belajar mahasiswa 3 semester di luar Prodi. Ini artinya akan mengubah struktur kurikulum – akan ada kluster hak belajar di dalam Prodi dan kluster hak belajar di luar Prodi.

(Prof. Dr. Obsatar Sinaga, M.Si. – Rektor Universitas Widyatama)

  Filosofi MBKM bahwa pendidikan berbasis kebutuhan pasar dan industri. Oleh karena itu kurikulum harus didesain berdasarkan riset pasar kebutuhan industri, lalu unsur-unsur kebutuhan pasar itu dibuat kompetensi, diakomodasi dalam mata kuliah, kurikulum sehingga linier dengan kebutuhan pasar. Maka pendidikan di Widyatama akan sangat relevan dengan kebutuhan pasar dan Industri, sehingga kelak mahasiswa memiliki modal yang cukup mumpuni menghadapi dunia kerja dan terjun di masyarakat.

  Sisi kunci MBKM adalah hak belajar mahasiswa 3 semester di luar Prodi. Ini artinya akan mengubah struktur kurikulum – akan ada kluster hak belajar di dalam Prodi dan kluster hak belajar di luar Prodi. Jika dirancang untuk sarjana sebanyak 8 semester, maka 5 semester mahasiswa diberi kompetensi mata kuliah baik sains dan skills sesuai Prodi, dan capaian belajarnya. Setelah menyelesaikan kuliah 5 semester, maka mahasiswa memiliki hak belajar diluar Prodi sebanyak 3 semester. Mahasiswa memiliki kemampuan potensi dan karakter yang dapat dikembangkan untuk menambahkan kompetensi dan keilmuannya di luar Prodinya. Selain itu, mahasiswa diberikan opsi hak Belajar di luar kampus 2 semester dengan beberapa opsi seperti magang di perusahaan, kewirausahaan, mengajar, praktek di desa, melakukan riset, pertukaran pelajar, dsb). Mereka mendapat kesempatan memilih dari 8 opsi yang ditawarkan tersebut.

  Misalkan ketika mahasiswa Teknik atau Akuntansi menciptakan start up (yang sedang digalakan Pemerintah) kemudian mempraktikan di sebuah Perusahaan atau Perusahaannya sendiri, itu akan diakui sebagai SKS kumulatif struktur kurikulum di prodi masing-masing. Start up tersebut bisa menjadi modal bagi diri sendiri dan relevan dengan kebutuhan pasar. Mahasiswa bebas memilih 8 (delapan) opsi yang telah disediakan tersebut dengan tujuan agar mahasiswa memiliki modal lain/tambahan ketika berada di lingkungan masyarakat, di luar modal yang sudah diberikan Kampus (Praktik keilmuannya), dan relevan linier bagi kebutuhan Pasar. Maka ketika mahasiswa lulus, mereka akan mendapatkan modal kemampuan: 1) Sains kompetensi Prodi; 2) Skills berkaitan kompetensi Prodi; 3) Sains dan Skills berkaitan kompetensi tambahan di luar prodi kampus sendiri atau di luar kampus; 4) Sains bagaimana kemampuan mempraktikan keilmuannya baik di dalam atau di luar Prodi, baik di fakultas atau kampus lain.

  Kurikulum dalam kampus merdeka sifatnya relaksasi, artinya fleksibilitas sangat mobile karena akan sangat terbuka dengan perubahan yang sangat cepat terhadap ilmu baru di kampus dan akan diakui sebagai sertifikasi profesi. Karena itu kurikulum bersifat terbuka menerima masukan baik dari dalam maupun luar kampus, sehingga dapat mengakomodasi kebutuhan pasar dan industri di masa kekinian. Itulah istimewanya kampus merdeka yang pertama hak belajar 3 semester di luar kampus.

  Kedua, berkaitan dengan kemerdekaan dosen dan juga SDM. Tugas dosen bukan hanya sebagai Pengajar tetapi juga sebagai dosen Penggerak. Selain mengajar, menilai, melatih, membimbing, dosen harus memberikan inspirasi kepada mahasiswa dan mampu menggali potensi mahasiswa untuk dapat mengimplementasikan ilmunya bagi masyarakat, belajar dari mahasiswa dan industri. MBKM membuat mahasiswa belajar mandiri, menggerakan motivasi mahasiswa, yang memiliki kecerdasan dan kemampuan akan berkembang bahkan melebihi dosennya. Mahasiswa diberikan hak untuk belajar mandiri (ilmu yang didapat dari pergaulan dunia digital, sosial, religi, olahraga, keuangan, dsb). Dari pergaulan tersebut ada inspirasi, input-input dan ilmu baru, akhirnya dia akan mengkolaborasikan dan mengintegrasikan ilmu yang diperoleh dari kampus dan dari praktik belajar mandiri. Intinya tidak “kurung batok”, harus terjun langsung di masyarakat, di industri, agar dapat meng-upgrade ilmunya. Karena itu, dosen diharapkan bukan hanya menggunakan metode bertatap muka di kelas saja, tetapi sekarang sangat diharapkan dosen berkolaborasi menyesuaikan dengan kebutuhan cara pendidikan ke metodologi pendidikan, dan aktifitas dosen yang demonstratif.

  Ketiga, keterlibatan masyarakat, saat ini diberikan ruang yang lebih terstruktur. Ada yang namanya Organisasi Penggerak. Masyarakat komunitas itu sendiri memiliki kewajiban untuk memberikan ilmu pengetahuan, sains dan skills, dan membagi ilmu bagi sesamanya. Masyarakat berkewajiban berkontribusi mencerdaskan bangsa, dan memberikan ilmu kepada mahasiswa. Terlepas mahasiswa tersebut berada dalam satu rumpun sekolah, ataupun komunitas lainnya, (yang tidak terkungkung oleh lembaga formal), komunitas anak jalanan yang tidak sekolah, atau yayasan literasi yang memberikan pelatihan & ilmu. Dengan adanya organisasi penggerak, dosen penggerak, dan kuliah mandiri; maka subjektif mahasiswa akan mendapat ilmu sangat cepat dari berbagai bidang (Digital, sosial, dan lain sebagainya) dari digital, lingkungan keluarga, teman-temannya, dsb. Ilmu itu harus memiliki linieritas dengan kebutuhan industri. Dengan adanya kerjasama dari dunia kamus, dunia industri, dan dunia masyarakat akan saling mengisi kekurangan masing-masing.

  Bagaimana kondisi mahasiswa sendiri dalam menghadapi MBKM. Mahasiswa milenial (kids zaman now yang hidup di alam digital) memiliki karakter sendiri. Mereka melek digital, nomaden artinya tidak selalu ingin menetap secara pekerjaan dan tempat tinggal, orientasi hedonistik. Tetapi sebetulnya mereka memiliki tanggung jawab moral bisa menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, namun persoalannya mereka tidak ingin terkurung atau terbelenggu dalam kehidupan yang formal yang bisa membatasi mereka. Informasi yang mereka dapatkan lebih kaya dari generasi sebelumnya, karena adanya fasilitas digital seperti saat ini. Persoalannya, kita harus memberikan penekanan untuk berfikir kritis kepada mereka. Ilmu pertama-tama didapat dari informasi, anak milenial memiliki potensi menjadi pintar sangat luas, memiliki kesempatan yang sangat luas dan kaya untuk mendapatkan informasi dari manapun. Setelah mereka memahami, mereka akan menginterpretasikan sendiri (dari sumber informasi lain yang mereka dapatkan, dengan memilah antara informasi yang bagus, jelek, benar, atau salah).

  Namun memang ada informasi digital yang tidak baik bagi pembentukan karakter. Padahal dalam dunia pendidikan mencakup Hardskill dan softskill. Yang kurang mendapat perhatian dalam dunia digital adalah pembentukan karakter. Karakter disini bagaimana perilaku mereka bekerjasama, bergaul, berkomunikasi dengan orang tua, dengan sesamanya, dengan adik, tetangga, simpati terhadap orang lain, dll. Hal itu tidak didapatkan dari dunia digital, karena setiap orang akan membawa warna dan ke-khas-an karakter masing-masing dan berimbas pada peniruan. Orang milenial sifat sotfskillnya kurang tersentuh (itu salah satu kelemahan dunia Digital). MBKM memiliki ruang terbuka untuk kaum milenial untuk belajar mandiri yang bisa mendapatkan ilmu dari manapun, namun pembentukan karakternya jangan sampai tereliminasi.

  Maka di Universitas Widyatama akan dikembangkan mata kuliah perkuliahan bersama pembentukan karakter Widyatama, sesuai dengan episode 7 Kampus merdeka, bahwa kampus merdeka akan memberikan fasilitas peserta didik untuk dibentuk karakter berbasis Pancasila (Ketuhanan yang maha Esa, berfikir kritis, toleransi, dll). Kampus merdeka memberikan keleluasaan perguruan tinggi menciptakan karakternya sebagai keunggulan kampusnya, memberikan ruang pada keberagaman bukan penyeragaman. Setiap Perguruan tinggi harus memiliki ke-khas-an tersendiri untuk pembentukan karakter. Widyatama akan berbasis kepada karakter budaya yang dalam hal ini budaya sunda dan berbasis pada karakter DJITU.

  Prof. Ir. Sri Widiyantoro, M.Sc., Ph.D., IPU – Rektor Universitas Kristen Maranatha menegaskan bahwa MBKM adalah program yang diusung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini harus diikuti skala Nasional. Kalau kita perhatikan filosofi pendidikan, pendidikan tidak lain adalah proses untuk menggali pengalaman guna membekali para mahasiswa nanti untuk mencapai pembelajaran. Dalam program MBKM ini selaras, dan diperkuat pengalaman mahasiswa, sehingga diharapkan lebih dari apa yang sudah berjalan selama ini. Dibandingkan sebelumnya semisal Kuliah Kerja Nyata (KKN), Praktek lapangan, atau istilah lainnya yang biasa hanya dilaksanakan selama 2-3 bulan saja.

Motivasi terbesar bagi mahasiswa dalam MBKM adalah minat. Program ini tentu sangat memfasilitasi mahasiswa untuk memilih pengalaman yang cukup panjang sesuai minatnya, membangun interaksi di tempat dia berada, misal industri, atau lembaga penelitian. Sehingga ketika lulus, mahasiswa tersebut memiliki orientasi yang lebih kuat.

(Prof. Ir. Sri Widiyantoro, M.Sc., Ph.D., IPU – Rektor Universitas Kristen Maranatha)

.

.

Karena itu motivasi terbesar bagi mahasiswa dalam MBKM adalah minat. Program ini tentu akan sangat memfasilitasi mahasiswa untuk memilih pengalaman yang cukup panjang sesuai minatnya, membangun interaksi ditempat dia berada, misal industri, atau lembaga penelitian. Sehingga ketika lulus, mahasiswa tersebut memiliki orientasi yang lebih kuat. Contoh untuk bidang Geofisika, mahasiswa bisa internship di perusahaan minyak (peluang begitu lulus bisa langsung bekerja). Diharapkan dengan program ini para mahasiswa sudah siap bekerja. Untuk lanjut ke jenjang pascasarjana pun diharapkan mahasiswa ini bisa lebih siap dan memiliki keleluasaan, dan fleksibitas yang bertanggungjawab. Arahnya bisa menyeimbangkan teori dan praktek, dunia sosial budaya di luar kampus. Sehingga mahasiswa lebih mengenal sejak dini dunia kerja dan lebih cepat beradaptasi.

  Prof. Dr. rer. nat. Martha Fani Cahyandito, SE., M.Sc., CSP. – Ketua STIE EKUITAS menjelaskan kalau kita berkaca dengan lingkungan kampus di luar negeri, hal seperti ini (MBKM – red) sudah menjadi umum. Sebagaimana saya pernah kuliah di Jerman – pola interaksi dan komunikasi antar fakultas dengan lainnya telah terbiasa kondusif, begitupun dengan para profesornya (tidak diikuti dengan sesuatu prosedur yang berbelit-belit). Namun permasalahannya, jika di kampus luar negeri – kualitas kampus, SDM dan mahasiswa rata-rata memiliki kesamaan tingkat potensinya, sehingga bila ada yang pindah maka tidak akan bermasalah sama sekali. Willingness antar perguruan tinggi tidak menonjolkan egonya masing-masing dikarenakan memiliki kedudukan yang sama. Oleh karenanya, model kebijakan MBKM bila ingin terlaksana secara optimal harus dimulai dengan membuka diri terhadap lingkungan kampus manapun.

Model kebijakan MBKM bila ingin terlaksana secara optimal harus dimulai dengan membuka diri terhadap lingkungan kampus manapun.

(Prof. Dr. rer. nat. Martha Fani Cahyandito, SE., M.Sc., CSP. – Ketua STIE EKUITAS)

Menurut saya, akan ada kebermanfaatan yang baik bila antar perguruan tinggi saling mendukung satu dengan lainnya, karena dapat membantu tranfer pengetahuan, sekaligus bernilai ibadah (intangible benefit). Alangkah baiknya, bila perguruan tinggi yang telah menduduki peringkat atas dapat bekerjasama dengan perguruan tinggi dibawahnya agar terjadi keselarasan dalam membina satu hal dan lainnya. Saya mengamati dan melihat kondisi antar perguruan tinggi kita saat ini berjalan masing-masing, pemerintah pun tidak mengeluarkan kebijakan instruktif yang tegas dan mengikat, bahkan hanya sekedar himbauan saja.

Contoh permasalahan lain yang terjadi di lingkungan kita terkait dengan MBKM ini berkenaan dengan biaya SPP yang dikeluarkan oleh tiap mahasiswa. Kalau melihat kampus di luar negeri yang saya alami, mengenai biaya pendidikan tentu telah digratiskan oleh pemerintah setempat – sehingga tidak terjadi masalah signifikan yang dialami oleh perguruan tinggi. Nah, kalau di lingkungan kita – mengenai biaya pendidikan saja sudah berbeda satu dengan lainnya sehingga menimbulkan adanya perbedaan strata kelas antar satu kampus dengan kampus lainnya.

  Rudi Martono – APINDO Jawa Barat menegaskan prinsipnya dunia industri akan mendukung output dari dunia pendidikan yang bahasanya “siap kerja”. Kampus Merdeka sebetulnya hanya penamaan saja, semenjak dari dulu sudah berjalan, hingga penguatan- penguatan mana yang disimpul menjadi Kampus Merdeka, dan jangan menjadi suatu jaminan akan menjadi lebih baik. Untuk magang dan PKL kan sudah jalan, nah sekarang kembali ke PT yang menciptakan output tersebut. Jadi tergantung kepada manajemen masing-masing PT untuk membentuknya sebagai fasilitator anak didik / mahasiswa untuk melakukan magang atau PKL. Intinya menejemen PT harus lebih baik. Misalnya jaringan PTnya kuat dan aktif pasti bisa membantu dunia usaha dan industri untuk menyerap tenaga kerja yang dibutuhkan sesuai dengan kemampuannya. Kalau mengandalkan peraturan otomatis jalan tentu tidak bisa, tergantung manusianya yang menjalankannya. Untuk melaksanakan itu pemerintah (Kemendikbud) semestinya proaktif tidak merasa selesai dengan kebijakan itu saya. Misal pilot project terlebih dahulu, jadi harus ada pilot project di masing-masing klaster dalam PTS/ PTN. Bila digeneralisir memang sulit karena itu memiliki kekhususan terutama dari kurikulim, pendekatan, dan lainnya. Nah seharusnya menjadi penting untuk Ditjen Pendidikan Tinggi dalam pelaksanannya dengan baik. Prinsipnya kita mendukung output yang siap kerja dan tidak ada penolakan, karena ini menjadi bagian dari kelangsungan dunia usaha yang membutuhkan tenaga yang siap kerja. Kalau masalah teknis dalam artian teknis pelaksanaan, sesi rencana kerja harusnya pemerintah yang memberi bimbingan kepada PT.

… Kampus Merdeka, …. Dan jangan menjadi suatu jaminan akan menjadi lebih baik. ….. sekarang kembali ke PT yang menciptakan output tersebut. Jadi tergantung kepada manajemen masing-masing PT untuk membentuknya sebagai fasilitator anak didik / mahasiswa ….

Rewrite : Lili Irahali Pewawancara : Lili Irahali, Keni Kaniawati, Nugi Muhammad Nugraha;

Audio to Transcript: Yanda Ramadana, Intan Liswandini.   

Webinar “Women Leaders And Entrepreneur” – Peringati Hari Kartini

Webinar “Women Leaders And Entrepreneur” – Peringati Hari Kartini

C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\Webinar-Wibi-Hari-Kartini-960x570.jpg Di balik kesuksesan seorang suami tidak terlepas dari peran istri yang hebat. Hal itu diutarakan Prof Obsatar Sinaga, Rektor Universitas Widyatama/UTama saat menjadi Keynote Speaker web seminar (webinar) “Women Leaders and Entrepreneur”, Sabtu (24/4/2021) lalu. Karena itu, peran perempuan tidak bisa dipandang sebelah mata.
Tidak terkecuali sebagai entrepreneur atau pengusaha.

“Wanita sebagai pengusaha bukan sesuatu yang baru. Ketika wanita menjadi entrepreneur dan bussines women, kadang kala dikaitkan dengan status gender. Dibandingkan pria sebenarnya wanita itu seorang negosiator yang baik, sensitif cerdas juga kreatif,” terang Prof. Obsatar.

Sementara, Prof. Umi Narimawati, Guru Besar dari Universitas Komputer Indonesia, Bandung, salah satu pembicara utama mengatakan, bahwa perempuan harus mandiri, hal itu akan membuat ketahanan pangan dalam keluarga. Namun tetap tidak bisa melawan kodrat, sebagai ibu yang mengurus rumah tangga.

Kegiatan webinar yang diselenggarakan oleh Widyatama Business Incubator (WIBI) dalam rangka memperingati Hari Kartini. Keni Kaniawati, Ketua WIBI sekaligus Ketua kegiatan mengatakan webinar adalah kegiatan rutin yang merupakan implementasi program WIBI.

Webinar menampilkan tiga guru besar perempuan sebagai pembicara utama, selain Prof. Umi, Prof. Poppy Yuniawati dari Universitas Pasundan, Bandung dan Prof. Sedarmayanti dari Universitas Dr Soetomo, Surabaya. Webinar menyimpulkan bahwa pengusaha perempuan harus memiliki sikap mandiri, tangguh serta menjadi solusi.

Webinar juga menampilkan pengusaha wanita binaan WIBI yang telah berhasil dalam merambah dunia usaha, Irna Mutiara, desainer busana muslim. “Sepak terjang Irna Mutiara yang merupakan alumni Universitas Widyatama, tidak instan, melalui proses yang memakan waktu panjang. Sengaja dijadikan pembicara untuk memotivasi para peserta. Irna mahasiswa bimbingan kami memiliki background desainer. Saat ini punya sekolah fashion desainer. Banyak juga usaha yang dirintis Irna. Bahkan karyawannya sudah lumayan banyak. Irna juga kini bermitra bisnis dengan artis ternama Indonesia, Dewi Sandra dan Dhini Aminarti. Sedangkan segmen bisnisnya untuk kalangan menengah ke atas.” jelas Keni.

Tidak sedikit start up perempuan yang kini dibina oleh WIBI. Meskipun menurut pengakuan Keni, kehadiran WIBI baru seumur balita. Inkubator bisnis di kampus merupakan hal wajib, sesuai dengan Kementerian-BRIN, dimana kampus wajib memiliki inkubator bisnis, karena ke depan mereka juga akan memperoleh berbagai peluang, tidak hanya pendampingan dana tetapi berbagai materi termasuk dari Kementerian Koperasi dan UMKM. Terutama untuk meningkatkan jumlah wirausaha muda yang kreatif dan inovatif. Tidak terkecuali calon pengusaha perempuan yang bergerak di bidang kuliner, cafe, fashion, kecantikan dan lainnya.

Kemudian Keni menjelaskan bahwa WIBI akan melakukan inkubasi kepada tenant, calon start up atau perusahaan yang baru dirintis, setelah lulus melewati tahap seleksi, selama enam bulan. Setelah itu akan dibuat format perjanjian kontrak antara tenant dengan WIBI, termasuk ditandatangani oleh pihak rektorat, sebagai bakal calon penerima hibah.

“Dalam memilih tenant yang akan diinkubasi oleh WIBI, kata Keni usaha para tenant harus sudah berjalan 60 persen ke atas. Mereka terdiri dari mahasiswa UTama, masyarakat sekitar atau pun para alumni. “Mereka benar-benar diinkubasi. Diberikan training, mentoring, pelatihan, sampai mendapatkan speed capital dan bisa dijadikan spin-off bussines maching. Ke depan, tenant yang ada di WIBI bisa naik ke level lebih tinggi bahkan bisa membantu para calon tenant yang lain. Usahanya apabila bisa berkembang nanti bisa membuka koperasi dari tenant oleh tenant untuk tenant. Inkubator bisnis di kampus Universitas Widyatama, juga membantu pemeringkatan akreditasi kampus,” kata Keni.

Kegiatan WIBI juga didukung oleh PT HIPMI dan Entrepreneur And Innovation Center/EIC UTama yang dikomandani Dr. Meriza Hendri. (UTama, 24/4/21)

Mahasiswa UTama Ikuti Sertifikasi BNSP

Mahasiswa Universitas Widyatama Mengikuti Sertifikasi BNSP Selain mendapatkan ijasah kini lulusan Universitas Widyatama/UTama mendapatkan sertifikasi Lembaga Sertifikasi Profesi Universitas Widyatama yang telah mendapatkan lisensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Ujian pertama telah dilakukan dengan 7 skema sertifikasi, salah satunya sertifikasi MICE yang diujikan pada hari Jumat, 26 Februari 2021 yang langsung diawasi asesor dari BNSP dan dilakukan di Universitas Widyatama.

Total ada 18 skema yang telah siap dilakukan sertifikasi dan akan terus bertambah sehingga semua mahasiswa dari semua jurusan akan dibekali sertifikasi sesuai dengan jurusan, keinginan, serta kemampuan masing-masing mahasiswa sehingga mahasiswa dapat memilih sertifikasi apa yang akan diambil, ujar Wakil Rektor 2 Dr. Deden Sutisna. (Ro Kemahasiswaan. 03 Mar 2021)

Virtual Exibition LKOK

  Biro Kemahasiswaan UTama bekerjasama dengan Pemerintahan Mahasiswa UTama mengadakan kegiatan Virtual Exibition pada hari Sabtu, 6 Maret 2021 lau. Menurut Kepala Biro Kemahasiswaan Pipin Sukandi, kegiatan biasanya dilakukan secara offline karena saat ini masih dalam kondisi pandemi sehingga dilakukan secara daring tanpa mengurangi kualitas kegiatan.

Acara dimaksudkan untuk memperkenalkan seluruh Lembaga Kemahasiswaan dan Organisasi Kemahasiswaan (LKOK) yang ada kepada mahasiswa angkatan 2020. Sampai saat ini mahasiswa angkatan 2020 belum dapat mengunjungi kampus maka kami berikan informasi secara online. Melalui aktivitas ini diharapkan mahasiswa angkatan 2020 dapat mengikuti salah satu dari unit yang ditampilkan dalam kegiatan virtual exibition ini. Kegiatan ini diikuti diantaranya oleh MPM, PEMA, Senat Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa dan seluruh Unit Kegiatan Mahasiswa yang ada di UTama seperti olahrara, seni, pengabdian masyarakat dan keagamaan. (Biro Kemahasiswaan, 08 Mar 2021)

Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin Adakan Webinar

Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin Mengadakan Webinar Pandemi Covd-19 bukan merupakan halangan untuk belajar dan tetap semangat. Inilah yang dilakukan Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin Universitas Widyatama yang tetap belajar dengan menambah pengetahuan dari berbagi sektor. Pada hari Minggu, 7 Maret 2021 lalu Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin menyelenggarakan webinar dengan tema Pembuatan Komponen Part Pesawat Terbang Departemen Machining PT. Dirgantara Indonesia dengan menghadirkan narasumber salah seorang dosen Teknk Mesin Universitas Widyatama, Bapak Kresno, S.T. (Biro Kemahasiswaan 08 Mar 2021)

Pelantikan Staff Pemerintahan MahasiswaPelantikan Staff Pemerintahan Mahasiswa

Selasa, 9 Maret 2021 lalu Presiden Mahasiswa UTama, Bambang Teguh Munajat melantik Staff Pemerintahan Mahasiswa Periode 2020-2021 secara online. Dalam sambutannya Kepala Biro Kemahasiswaan UTama mengatakan dalam menjalankan amanah yang diberikan sesuai fungsi masing-masing sebaiknya dilaksanakan secara serius apalagi dalam kondisi pandemi Covid 19 saat ini. Prestasi tetap menjadi urutan pertama dalam memajukan organisasi di lingkungan UTama tutur Pipin Sukandi. (Biro Kemahasiswaan 10 Mar 2021)

Kewirausahaan Day

Kewirus Day Unit Kegiatan Mahasiswa Kewirausahaan UTama hari Sabtu 13 Maret 2021 lalu menyelenggarakan kegiatan dengan tema Kewirus Day secara online. Tema tersebut diusung dengan harapan audiens mahasiswa UTama tertarik mengembangkan diri sebagai seorang entrepreneur.

Tidak dapat dipungkiri pandemi Covid 19 yang telah berjalan selama setahun masih sulit diprediksi kapan akan berakhir. Tidak sedikit perusahaan yang gulung tikar akibat adanya pandemi ini. Termasuk para wirausaha yang jungkir balik merubah pola penjualan akibat pandemi. Walau kondisi demikian harapan kami para mahasiswa UTama setelah lulus tidak terpaku bekerja pada perusahaan, tetapi menetapkan opsi lain yaitu berwirausaha ujar Yashinta Ketua UKM Kewirausahaan. (Biro Kemahasiswaan 16 Mar 2021)

Bandung Model United Nations 2021 Mahasiswa Universitas WidyatamaBandung Model United Nations 2021 Mahasiswa UTama

Unit Kegiatan Mahasiswa International Student Center (ISC) UTama pada hari Sabtu, 13 Maret 2021 mengadakan kegiatan Bandung Model United Nations 2021 secara online. Bandung Model United Nations merupakan kegiatan tahunan Simulasi Sidang PBB yang membahas permasalahan dunia. Dalam simulasi sidang PBB tersebut, delegasi berperan sebagai perwakilan satu negara dan dialokasikan pada satu council dengan fokus bahasan tertentu. Nanti, setiap council akan merumuskan draft Resolusi PBB dalam menanggapi permasalahan dunia seperti pemanasan global, perampasan HAM hingga konflik kerjasama multilateral. (Biro Kemahasiswaan16 Mar 2021)

Mahasiswa UTama Bantu Pemkot Bandung Vaksinasi Lansia

Mahasiswa Widyatama Membantu Pemkot Bandung Dalam Vaksinasi Lansia Sejumlah mahasiswa UTama yang tergabung dalam Lembaga Kemahasiswaan dan Organisasi Kemahasiswaan (LKOK) turut serta dalam kegiatan pemberian vaksin untuk lansia. Kegiatan yang dimotori Pemerintah Kota Bandung, Masyarakat Tionghoa Peduli dan Rumah Sakit Kebonjati dilaksanakan selama 5 (lima) hari mulai tanggal 15-19 Maret 2021 yang berlokasi di Yayasan Dana Sosial Priangan Jl. Nana Rohana Bandung.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus melakukan percepatan vaksinasi COVID-19 untuk lansia di Kota Bandung, Jawa Barat. Sampai saat ini sudah ada 16 ribu lansia yang sudah jalani vaksinasi.

“Vaksinasi Lansia secara kumulatif sudah lumayan tinggi sekitar 16 ribuan dalam 15 hari. Tapi karena sasaran tinggi, maka kita harus melakukan percepatan,” kata Kadinkes Kota Bandung, Ahyani Raksanagara di Yayasan Dana Sosial Priangan, Jalan Nana Rohana, Bandung, Senin (15/3/2021). Jumlah sasaran mencapai 118 ribu orang. Apalagi, untuk lansia tahapannya lebih panjang dan harus berhati-hati dalam melakukan screening.” ujarnya.

Dinkes mendorong organisasi, lembaga, komunitas yang ada lansianya agar melaksanakan kegiatan sendiri dimana tenaga kesehatan kami latih, agar pendaftaran dan pelaporan terpusat dan vaksinasi dibantu oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung. Seperti diketahui, pendataan lansia lebih sulit dibanding sasaran lainnya karena datanya tidak terpusat.

Ahyani menambahkan, jika lansia tidak bisa datang bisa menghubungi Puskesmas di wilayahnya,

petugas Puskesmas nanti datang. (Biro Kemahasiswaan 16 Mar 2021)

Mahasiswa Widyatama Ikuti Kegiatan Wawasan Kebangsaan

Mahasiswa Widyatama Mengikuti Kegiatan Wawasan Kebangsaan Selasa, 16 Maret 2021 lalu 2 (dua) orang mahasiswa UTama terpilih mengikuti kegiatan Wawasan Kebangsaan yang diselengarakan Kodim 0618/BS. Wawasan Kebangsaan harus sudah tertanam sejak usia dini. Melalui pengetahuan wawasan kebangsaan maka kecintaan terhadap tanah air akan semakin meningkat ujar Kepala Biro Kemahasiswaan saat menerima undangan tersebut.

Bela negara dipersepsi sebagian masyarakat adalah tugas TNI dan POLRI. Padahal dalam Undang Undang Dasar 1945 telah jelas bahwa seluruh warga negara Indonesia mempunyai hak dan kewajiban dalam mempertahankan negara kesatuan Republik Indonesia. Mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa merupakan ujung tombak mempertahankan dan mengembangkan negara ini. Dengan kegiatan wawasan kebangsaan semoga dapat menambah pengetahuan dan kecintaannya terhadap negara Indonesia. (Biro Kemahasiswaan 18 Mar 2021)

Milad Yayasan Widyatama Ke-48,

Berharap Senantiasa Melahirkan Insan Berkualitas dan Berakhlak

Djoko Roespinoedji, Ketua Yayasan Widyatama dalam syukuran milad Yayasan Widyatama ke-48 terus mendorong satuan-satuan pendidikan maju ke arah lebih baik. Ketiga satuan pendidikan, yaitu: Universitas Widyatama, Art Theraphy Center (ATC) serta Lembaga Pengembangan & Aplikasi Pengetahuan (LPAP) Widyatama.

Acara syukuran milad Yayasan Widyatama ke-48 digelar di Gedung F, Fakultas Teknik Universitas Widyatama, pada Selasa (5/1/2021) lalu.

Yayasan Widyatama yang berdiri pada tanggal 3 Januari 1973 https://majalahsora.com/wp-content/uploads/2021/01/HUT-Yayasan-Widyatama-ke-48_3-300x225.jpg merupakan perjuangan yang cukup panjang dari pendiri terdahulu, Prof. Koesbandijah. Saya menjadi bagian generasi ketiga, dari pendiri tentu mempunyai kewajiban untuk melanggengkan Yayasan Widyatama ke arah yang semakin baik, semakin dewasa. tegas Djoko.

Ia berharap ketiga satuan pendidikan di bawah naungan Yayasan Widyatama bisa saling bersinergi. Mahasiswa yang mengenyam pendidikan di Widyatama, bisa menjadi insan berkualitas serta memiliki karakter yang baik, sehingga kelak menjadi bagian pemimpin negara ini.

Yayasan Widyatama memiliki program kerja dan komitmen mendorong satuan pendidikan terus berkiprah mengembangkan ilmu pengetahuan dan meningkatkan kualitas para dosennya. Tahun 2020 Universitas Widyatama mencapai peringkat 57 nasional. Ini merupakan pencapaian luar biasa. Karena kita tahu ada sekitar 4000-an perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Namun perjalanan masih panjang tetap berkomitmen menyelenggarakan kualitas pembelajaran yang baik sehingga kurikulum yang kita pakai ter-delivery dengan baik kepada mahasiswa,”papar Djoko.

Di kesempatan yang sama Prof. H. Obsatar Sinaga, Rektor UTama memiliki impian kampus ini bisa masuk “world class university”. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui, di antaranya masuk university world rating, sebagai alat mencapai world ranking.

Dalam kiprahnya Yayasan Widyatama telah memberikan kewenangan kepada satuan pendidikan untuk menentukan proses terhadap strategi kebijakan, sampai pada tingkat aksi. Karena itu Yayasan Widyatama saya fikir bisa menjadi contoh bagi Yayasan lain dalam mengelola satuan pendidikan.” imbuhnya.

Semoga Alloh SWT meridhoi Yayasan Widyatama sebagai lembaga pendidikan yang komitmen pada pendidikan, manfaatnya semakin meningkat bagi masyarakat, utamanya meningkatkan kecerdasan anak bangsa.

Kuliah Umum Virtual “Industri Media Televisi” Bersama ANTV

https://majalahsora.com/wp-content/uploads/2021/01/Kampus-Keren-ANTV-Universitas-Widyatama_3-300x140.jpg Kuliah umum “Industri Media Televisi” yang digelar oleh Prodi Produksi Film & TV UTama bekerjasama dengan ANTV, secara virtual digelar Rabu (13/1/2021) lalu dari pukul 10.00 sampai sekitar pukul 12.00. Kuliah umum terbuka yang diikuti sekitar 500 orang melalui aplikasi zoom meeting, sisanya melalui chanel live streaming YouTube, ANTV Klik.

Di samping mahasiswa UTama, diikuti mahasiswa dari kampus dan siswa lainnya, seperti mahasiswa Fikom Unpad, Unpas, Unikom, YPKP Sangga Buana, siswa SMKN 5 Kota Bandung, SMKN 14 Kota Bandung, SMKN 4 Kota Bandung.

Pada kesempatan itu Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, S.IP., M.Si, Rektor UTama, menjadi pembicara utama dengan narasumber Teguh Anantawikrama, Chief External Affair Officer ANTV.

https://majalahsora.com/wp-content/uploads/2021/01/Kampus-Keren-ANTV-Universitas-Widyatama_5-300x140.jpg Capaian awal dari tujuan kuliah umum ini menurut Prof. Obsatar diharapkan para peserta bisa memahami industri pertelevisian di Indonesia, khususnya ANTV. Para peserta kuliah umum juga jadi tahu bahwa perusahaan televisi mainstream dituntut memberitakan sesuai fakta dan mendidik. “Saya juga menerapkan pada Prodi Produksi Film & TV supaya menghasilkan tenaga yang professional, tidak menjadi penulis, pembaca dan pembuat berita hoax. Harus bermanfaat bagi masyarakat luas,” tegas Prof. Obi.

Sementara itu Teguh Anantawikrama, Chief External Affair Officer ANTV memaparkan materi yang menarik. Seperti banyaknya peluang bekerja di dunia pertelevisian, baik dalam negeri maupun mancanegara seperti Jepang.

Juga menjelaskan mengenai serunya dan tantangan bekerja di industri media televisi, karena harus siap beradaptasi dengan segala perubahan. Termasuk produksi program-program yang ada di ANTV.

ANTV memiliki dua produk televisi, yaitu program on air dan off air yang kedua-duanya memiliki peran penting. Program on air, seperti Uttaran, Jhoda-Akbar, Pesbukers dan lainnya. Ada juga program yang dibuat sendiri, diakuisisi, serta kerjasama.

Beasiswa Kuliah Di UTama Buat Akmaludin Korban Longsor Cimanggung – Sumedang

Akmal Korban Longsor Cimanggung Kabupaten Sumedang Terharu Dan Bangga Mendapat Beasiswa Kuliah Di Universitas Widyatama

Muhammad Akmaludin, siswa kelas XII, SMKN 1 Sumedang bangga dan terharu saat menerima beasiswa kuliah di UTama. Hal itu ia katakan setelah Prof. Obsatar Sinaga – Rektor UTama, serta Djoko Roespinoedji – Ketua Yayasan Widyatama memberikan beasiswa dan santunan uang tunai, sekaligus menjenguk langsung Akmal dikediaman neneknya, di Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jum’at (15/1/2021) lalu.

“Alhamdulillah, sangat senang terima kasih banyak,” kata Akmal.

Hal senada disampaikan Ine Astuti, Ibunda Akmal atas pemberian tersebut terhadap putranya, berupa beasiswa penuh berkuliah di UTama sampai tuntas.“Mudah-mudahan aya balasannya. Anak saya juga bisa menjadi orang yang sukses, bisa mengabdi ke negara dan melanjutkan perjuangan Bapaknya,” kata Ine yang adalah Guru Bahasa Indonesia, di SMA Guna Cipta, Sumedang.

https://majalahsora.com/wp-content/uploads/2021/01/Prof-Obi-Rektor-Universitas-Widyatama-Bantuan-Korban-Longsor-Cimanggung-Sumedang-300x225.jpg Akmal tinggal bersama kedua orangtua dan adik perempuannya di Perumahan Alam Asri, Desa Sindangpakuan, Kecamatan Cimanggung. Akmal merupakan korban selamat akibat longsor susulan di Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang. Ia anggota Pramuka Penegak dan Dadang Kusnadi, ayahnya, adalah Sekretaris Kwartir Pramuka Ranting Cimanggung turut serta menjadi relawan, membantu mengevakuasi korban longsor di daerah Desa Bojongkondang, Kecamatan Cimanggung, Sabtu (9/1/2021).

Ia dan ayahnya membantu puluhan aparat dan tim SAR. Sejumlah rumah dan beberapa warga tertimbun longsor setelah hujan lebat di Cimanggung.

Dadang Ayahanda Akmal adalah pembina mahir dan pernah mengikuti kursus instruktur SAR.

Namun naas saat mencari korban longsoran Akmal dan ayahnya menjadi korban tertimpa material longsoran. Bahkan Dadang ayahanda Akmal menjadi salah satu korban jiwa yang tertimbun longsoran susulan di wilayah itu. Ayahanda Akmal tertimbun tanah dan jenazahnya diketemukan hari Rabu (13/1/2021).

Akmal sendiri mengalami luka-luka di  bagian kepala, kaki dan tangan, karena terbentur batu dan baja ringan terdampak longsor. Kini kondisinya semakin membaik. “Mudah-mudahan beasiswa yang diberikan bermanfaat buat Akmal untuk melanjutkan jenjang pendidikan ke perguruan tinggi dan jalan meraih cita-citanya. Alhamdulillah saya bersama Pak Djoko – Ketua Yayasan Widyatama menyerahkan dan melihat langsung kondisi Akmal. Luar biasa dengan jiwa heroik Akmal yang masih remaja turut serta menjadi relawan. Itu merupakan modal bagi dirinya untuk menjadi orang sukses, tabah dan semoga lekas sembuh” kata Prof. Obi.

Pada kesempatan itu pihak Universitas Widyatama juga menyerahkan bantuan sembako untuk warga terdampak dan uang tunai. Diserahkan langsung ke Camat Cimanggung, di Kantor Kecamatan Desa Cimanggung.

Rektor Universitas Bhakti Kencana Kunjungi UTama

Entris Rektor Universitas Bhakti Kencana Sengaja Mengunjungi Universitas Widyatama Kampus Swasta Ketiga Terbaik Di JabarKiri ke kanan: Dr. Entris Sutrisno, MH. Kes., Apt, Rektor Universitas Bhakti Kencana, Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, S.Ip., M.Si., Rektor UTama, Roeshartono, ST., MCEM., MBA., Sekretaris Yayasan Widyatama dan Dr. H. Deden Sutisna, M.Si., Warek II UTama

 

Rektor Universitas Bhakti Kencana – Bandung, Dr. Entris Sutrisno, MH. Kes., Apt bersama para wakil rektornya berkunjung ke Universitas Widyatama (UTama). Melakukan studi banding Selasa (2/2/2021) lalu. Bersama jajarannya ia berkeliling melihat berbagai fasilitas di UTama, dari mulai gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) yang memiliki sarana untuk basket, futsal, bulu tangkis, boxer, tae kwon do, fitnes, perkantoran biro mahasiswa serta auditorium internasional. Juga Perpustakaan UTama yang telah memiliki akreditasi A, termasuk berkunjung ke gedung Fakultas Teknik dan gedung lainnya.

Entris memaparkan bahwa melakukan kunjungan studi banding, sekaligus melakukan penjajagan kerjasama ke arah yang lebih serius. Terutama dalam proses pengelolaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di UTama. “Saya sengaja datang langsung, ingin belajar ke kampus Universitas Widyatama, prodinya banyak yang telah memiliki akreditasi A. Ingin meniru UTama, karena Universitas Bhakti Kencana adalah universitas baru, jadi masih dalam tahap belajar. seperti Widyatama,” imbuhnya.

Ia pun menjelaskan kunjungan ke UTama merupakan yang kedua. Pada kunjungan sebelumnya, lingkup pertemuan hanya sebatas Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bhakti Kencana dengan LPPM UTama, terkait penelitian. Sekarang lingkupnya lebih luas. Selaku Rektor ingin mengetahui secara global bagaimana proses kerjasama tersebut bisa dilanjutkan. Tidak hanya dalam hal penelitian saja, tetapi bagaimana proses pengelolaan kerjasama, pengelolaan perguruan tinggi dan lainnya,” papar Entris. Rencana ke depan pihaknya akan melakukan proses pendampingan Universitas Bhakti Kencana oleh UTama, agar bisa selaras, melakukan MoU ditindaklanjuti dengan MoA.

Pada kesempatan yang sama Prof. Obsatar Sinaga menyatakan sangat senang dengan kunjungan Rektor Universitas Bhakti Kencana berserta jajarannya, dan dengan tangan terbuka UTama siap berbagi pengalaman dan ilmu dalam mengelola perguruan tinggi.

UTama memberlakukan metode pembelajaran full online untuk seluruh mata kuliah dan mahasiswa dapat mengakses materi perkuliahan, discussion board melalui forum diskusi, chatroom serta mengakses tugas kuliah yang diberikan dosen,” paparnya.

Para dosen UTama pun, dipacu untuk lebih kreatif dalam memberikan materi pembelajaran secara online, yaitu dengan membuat pembelajaran dalam bentuk tutorial yang di-upload di YouTube, memaksimalkan penggunaan google classroom, WhatsApp Group, dan aplikasi video conference sepertinya zoom.

Rektor UTama pun menjelaskan mengenai pentingnya menulis penelitian bagi para dosen dan mahasiswanya yang dipublikasikan pada jurnal internasional, terindeks Scopus. Termasuk membantu mempublikasikan artikel penelitian dosen Universitas Bhakti Kencana, karena ia memiliki personal garansi terhadap chief editor di Eropa dan Amerika Serikat.

Sampai saat ini UTama telah menerbitkan 1.373 artikel terindeks Scopus, dengan jumlah dosen 272 orang. Universitas Widyatama ditunjuk oleh LLDIKTI IV menjadi supervisi bagi perguruan tinggi lain di Jabar Banten. Terbaru ranking UTama versi Webometrics yang baru diliris beberapa hari lalu, menduduki peringkat 3 di Jabar di bawah Telkom University dan Universitas Parahyangan. Sedangkan secara nasional berada di posisi ke-55.

 

UTama Duduki Ranking ke-55 Perguruan Tinggi Nasional

Universitas Widyatama Bandung Kampus Berbasis Riset Menduduki Ranking ke-55 Perguruan Tinggi Ternama NasionalProf. Dr. H. Obsatar Sinaga, S.IP., M.Si., Rektor Universitas Widyatama

Universitas Widyatama/UTama di bawah kepemimpinan Prof. Obsatar Sinaga terus menunjukan prestasi. Kampus UTama, terus dipacu agar bisa menjadi kampus berbasis riset. Di mana 272 dosen dan belasan ribu mahasiswanya, didorong melakukan berbagai penelitian dan menulis jurnal internasional. Salah satu parameter capaian prestasi itu diukur dari perankingan perguruan tinggi, baik yang dilakukan oleh Ditjen Dikti maupun Webometrics.

Pada tahun 2020, dalam perankingan Ditjen Dikti UTama berada pada peringkat ke-57, sebelumnya pada tahun 2019 berada pada peringkat ke-95. Dari pemeringkatan Webometrics UTama menduduki ranking ke-55 dan ke-3 di Jabar Banten. “Alhamdulillah, Universitas Widyatama terus mencatat berbagai prestasi. Kamis (5/2/2021) lalu. Namun kami masih harus meningkatkan kualitas. banyak hal harus diperbaiki termasuk pelayanan, dan juga prestasi kegiatan mahasiswa, penelitian, karena dan pengabdian masyarakat,” imbuhnya.

Menurutnya UTama sebetulnya tidak menyiapkan perankingan untuk Webometrics, namun untuk menyiapkan pemeringkatan Dikjen Dikti yang sebelumnya bernama namanya Ristek Dikti. “Pemeringkatan Webometrics tidak terlalu jauh dengan Dikti, dan biasanya simultan dengan ranking Dikti,” paparnya.

WIBEST 2021 UTama

Menjadi Salah Satu Platform Penelitian Bermutu Dan Bermanfaat Untuk Masyarakat

Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, S.Ip., M.Si., Rektor Universitas Widyatama

Universitas Widyatama/UTama menggelar ajang Widyatama International Conference on Business, Economics, Social and Technology (WIBEST) 2021.  Konferensi internasional mengenai paper hasil penelitian para dosen yang akan dipublikasikan di jurnal internasional terindeks Scopus.

Sekitar 104 paper penelitian yang masuk pada kegiatan konferensi internasional WIBEST 2021. Dalam 1 paper sedikitnya ada tiga dosen yang berkolaborasi menulis. Apabila dijumlahkan sekitar 300-dosen yang terlibat. Pesertanya dari Kanada, Maroko, Thailand, Malaysia, Taiwan termasuk Indonesia. WIBEST 2021 dilangsungkan secara daring melalui aplikasi zoom meeting, Rabu, tanggal 9 Februari 2021 lalu.

Alasan UTama menggelar WIBEST 2021, karena adanya aspirasi dari luar civitas academica kampus UTama, termasuk internal kampus Widyatama.

Sebelumnya UTama, telah menggelar The 3rd International Conference of Business, Policy And Social Sciences 2020 (14-15 Oktober 2020). “Mereka menghendaki UTama menggelar seminar internasional kembali.  “Kebetulan Universitas Widyatama memiliki kerjasama yang baik dengan para chief editor di mancanegara (Amerika Serikat dan Eropa).

Pada kesempatan yang sama Prof. Dr. Mohd. Haizam Bin Mohd. Saudi, Wakil Rektor III, Bidang Riset, Pengembangan dan Kerjasama UTama, menambahkan paper yang sudah di-submit lalu dipresentasikan oleh para peserta yang dilakukan secara pararel session. Papernya mengenai sosial ekonomi dan lainnya. Setiap peserta diberi kesempatan 10 menit memaparkan isi penelitian tersebut. Kemudian dibahas dan dikomentari para peserta lainnya, untuk memberikan penjelasan lebih lanjut. Termasuk ada peninjauan kembali dari  UTama dan komite yang menilai paper yang sudah masuk. Mereka akan menilai kualitas isi paper, kesimpulan, cara, manfaat terhadap dunia industri dan dunia akademik, setelah adanya temuan-temuan, yang dilakukan dalam penelitian.

https://majalahsora.com/wp-content/uploads/2021/02/Prof-Haizam-WIBEST-2021-Universitas-Widyatama-300x225.jpgProf. Dr. Mohd. Haizam Bin Mohd. Saudi, Wakil Rektor III, Bidang Riset, Pengembangan dan Kerjasama UTama

“Peserta ada yang memaparkan tentang keadaan perekonomian masyarakat di Jawa Barat, karena terdampak pandemi. Cara mengatasi yang efektif harus diteliti dan dibahas oleh peserta. Hasil temuan itu apa dampaknya untuk masyarakat. Jadi kami bisa menilai keefektifan dan solusi bagi masyarakat. Apakah papernya memiliki kualitas atau tidak,” paparnya. Setelah proses itu dilalui, akan diserahkan ke pihak editor, untuk diedit lagi.

“Untuk Letter of Acceptance (LoA) kurang lebih memakan waktu selama dua minggu. Sedangkan untuk publikasi pada jurnal internasional terindeks Scopus, perlu waktu antara satu sampai tiga bulan ” jelasnya. Terkait kegiatan WIBEST 2021 yang diikuti oleh lebih dari 300-an dosen, menurutnya hal itu di luar dugaan UTama. “Karena ini awal tahun, biasanya dosen-dosen menulis pada pertengahan tahun atau akhir tahun. Awal tahun dampak yang diterima dosen di Widyatama dan luar Widyatama itu amat bagus sekali. Mereka sadar di masa pandemi, harus tetap menulis untuk peningkatan jabatan fungsional (jafung) nya,” jelas Prof. Haizam.

UTama Raih Penghargaan LLDIKTI IV

WhatsApp Image 2021 02 18 at 08.40.17 1024x768 - Berkat Kerja Keras Universitas Widyatama Kembali Menyabet Penghargaan Kampus Ternama Universitas Widyatama di awal tahun ini meraih peringkat ke-4 kategori  bergengsi Perguruan Tinggi  Klaster Tebaik bentuk Universitas dan Institut, pada Anugerah Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV, tahun 2021. Penganugerahan dilangsungkan di Hotel Aston Cirebon & Convention Center, Cirebon, pada Rabu, 17 Februari 2021 lalu.

Penghargaan diberikan langsung oleh Kepala LLDIKTI Wilayah IV Prof. Dr. Uman Suherman, AS. Ada 11 kategori yang diberikan LLDIKTI Wilayah IV, sementara di bawah naungan LLDIKTI IV ada sekitar 456 perguruan tinggi. Prof. Uman mengatakan, bahwa penghargaan tersebut merupakan sebuah apresiasi dari LLDIKTI Wilayah IV terhadap perguruan tinggi yang memiliki prestasi. Baik yang menyangkut perankingan, penelitian, sertifikasi dosen, termasuk dengan hal-hal yang berkaitan dengan kualitas.

Pada kesempatan tersebut Prof. Obsatar Sinaga Rektor Universitas Widyatama/UTama mengatakan, bahwa capaian tersebut merupakan salah satu bentuk kepercayaan masyarakat kepada UTama.

WhatsApp Image 2021 02 17 at 21.59.12 1024x768 - Berkat Kerja Keras Universitas Widyatama Kembali Menyabet Penghargaan Kampus TernamaKiri ke kanan: Djoko S. Roespinoedji, S.E., PG., DIP., Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, S.Ip., M.Si dan Prof. Dr. Mohd. Haizam Bin Mohd. Saudi

Capaian itu pun tidak terlepas dari Yayasan Widyatama yang selalu mendukung seluruh kegiatan serta program UTama. Sementara itu, Djoko Roespinoedji, Ketua Yayasan Widyatama sangat mengapresiasi capaian UTama itu.

Perguruan tinggi lain dengan peringkat Klaster Terbaik Bentuk Universitas dan Institut, Anugerah LLDIKTI, tahun 2021 adalah : Universitas Telkom, Universitas Katolik Parahyangan, Universitas Islam Bandung, Universitas Widyatama, Institut Teknologi Nasional Bandung, Universitas Djuanda, Universitas Pasundan, Universitas Presiden, Universitas Komputer Indonesia, Universitas Kristen Maranatha, Universitas Pembangunan Jaya, Universitas Pamulang. (UTama 17 Feb 2021)

UTama Peringkat “TOP 3” Perguruan Tinggi Terbaik Se-JABAR BANTEN

ASDASD 1024x1024 - Universitas Widyatama Menduduki Peringkat "TOP 3" Perguruan Tinggi Terbaik Se-JABAR BANTEN Universitas Widytama/UTama versi Webometrics yang baru diliris beberapa waktu lalu, menduduki peringkat 3 perguruan tinggi swasta terbaik di Jabar.

Webometrics memberikan peringkat pada perguruan tinggi baik negeri maupun swasta berdasarkan empat indikator yakni ‘presence’, ‘visibility’, ‘transparency’, dan ‘excellence’.

Prestasi lain yang telah dicapai UTama yaitu: Ranking ke-55 dari 4.682 perguruan tinggi negeri swasta versi Ristek Dikti; Ranking ke-48, program SIMKATMAWA (bidang kemahasiswaan); Juara dunia ke-2, kegiatan Internasional Converence and Exposition on Inventions by Institutions of Higher Learning, Kementerian Pendidikan Malaysia.

Enam prodi mendapatkan akreditasi internasional dengan nilai “Premium” atau A dari ASIC (Accreditation for International Schools, College and Universities) Inggris, UTama mendapat penghargaan Presidential Award dari International Council for Small Business, category Research and Academician; Mendapatkan lima penghargaan MURI, salah satunya Job Fair Online Terlama dan prestasi lainnya. (UTama 03 Feb 2021)

Dosen FEB UTama Lakukan Literasi Pemulihan Ekonomi Nasional Masa Pandemi

Masa pandemi, survey tim dosen FEB UTama menemukan kecenderungan kekhawatiran, kecemasan, ketakutkan dan frustasi masyarakat menghadapi pandemi Corona Virus Disease-2019 (Covid-19). Pandemi yang melanda dunia ini sangat berdampak pada berbagai sektor: kesehatan, perekonomian, pendidikan, pariwisata, transportasi dan masih banyak lagi. Berbagai persoalan hidup pun hadir akibat dari pandemi tersebut.

Pemerintah telah menggulirkan berbagai upaya menanggulangi Pandemi sekaligus melakukan pemulihan ekonomi nasional. Dalam rangka partisipasi dosen FEB UTama menyelenggarakan webinar Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) menghadirkan narasumber Candra Fajri Ananda – Staf Khusus Menteri Keuangan RI, dan Sotarduga Napitupulu – Direktur Pengawasan OJK. Literasi disampaikan kepada seluruh mahasiswa S1, S2, S3, dosen dan pelaku ekonomi terkait program pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19, pada Sabtu, 19 Desember 2020 lalu.

“Ekonomi dunia yang tumbuh positif hanya Tiongkok dan Vietnam. Kunci keluar dari dampak pandemi Covid19 adalah disiplin” ungkap Candra pada kurang lebih 300 peserta webinar. “Sisi demand global sangat ditentukan perkembangan kasus Covid-19, terutama di negara-negara berpenduduk terbesar seperti China, India, AS, Indonesia dan Brazil. Konsumsi global diproyeksi mulai pulih namun akan ditentukan muncul atau tidaknya second wave” tambahnya.

Sementara, pemulihan permintaan domestik diprediksi lebih cepat dari ekonomi global. Menurut panel of Experts survey oleh UN World Tourist Organization (UNWTO) menyimpulkan bahwa pemulihan ekonomi mulai terjadi pada kuartal akhir 2020 dan semakin kokoh pada 2021 sehingga perlu optimisme yang dibangun agar mampu keluar dari pandemi ini.

Sotarduga Napitupulu – Direktur Pengawasan OJK menerangkan selama ini OJK telah melakukan banyak tindakan terkait upaya pemulihan ekonomi akibat Pandemi Covid-19, terutama yang memberi manfaat bagi sektor riil agar dapat bertahan, diantaranya relaksasi kredit. OJK juga mendukung program pemerintah dengan mengatur penempatan dana, likuiditas yang diberikan pemerintah ke Himbara/ Himpunan Bank Negara, BPD dan Lembaga Syariah, serta mendukung program subsidi bunga.

Diingatkan, masyarakat perlu memproteksi diri dari tawaran investasi ilegal yang menjanjikan keuntungan yang tidak wajar dalam waktu cepat. Layanan konsumen OJK melalui Whatsapps 081 157 157 157 tetap berjalan, meskipun kebijakan work from home (WFH) diberlakukan. Menurut Sotarduga ada tiga pertanyaan utama yang sering ditanyakan dalam layanan konsumen ini, yakni: kebijakan stimulus perekonomian, restrukturisasi, dan komplain. Konsumen dimohon untuk memahami dan bisa mengantri seiring dengan meningkatnya layanan konsumen OJK.

Pemateri lain yaitu Gusni, Lia Amaliwiati, Siti Komariah dan Eristi Minda menyampaikan bahwa dengan semangat optimis kita semua harus bergotong-royong dan burden sharing agar mampu bertahan sekaligus recovery sosial ekonomi. Selalu ingat 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Karena pemulihan ekonomi sangat bergantung dengan kinerja sektor kesehatan. Kesehatan pulih, ekonomi bangkit, melindungi diri dan melindungi negeri, ucap Devy Mawarnie – dosen FEB Widyatama. selaku moderator menutup webinar. (UTama, 22Des2020)

Wi-can UTama Diikuti PT Mancanegara, UTama Raih Juara Umum

Prof Uman Kepala LLDIKTI Wilayah IV Wi can 1 1024x422 - Wi-can Ajang Kompetisi Inovasi Internasional Universitas Widyatama Banyak Diikuti Oleh Perguruan Tinggi Mancanegara Dan Dalam Negeri Universitas Widyatama kembali menggelar ajang Widyatama International Innovation and Academic Competition (Wi-can) bagi mahasiswa termasuk pelajar. Tahun 2020 ini merupakan tahun yang kedua, sebelumnya dihelat tahun 2019. Karena dalam kondisi pandemi, ajang dilangsungkan daring atau online, melalui video converence.

Meskipun begitu, tidak menghalangi para peserta turut serta mengikuti ajang Wi-can. Malah jumlah pesertanya semakin melonjak, baik peserta dari mancanegara maupun dalam negeri.

Prof. Dr. Uman Suherman, AS, M.Pd., Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jabar Banten

 

Pada ajang tersebut hadir beberapa pembicara: Prof. Dr. Thomas Suyatno, Ketua Umum Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABP-PTSI), Dr. Ir. Puji Winarni M.A., Sekretaris Utama pada Badan Standardisasi Nasional (BSN), Prof. Dr. Ir. Eddy Jusuf, M.Si., M.Kom., Ketua APTISI Jabar, serta Prof. Dr. Uman Suherman, AS, M.Pd., Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jabar & Banten.

Menurut Prof. Obsatar – Rektor Universitas Widyatama/UTama ajang Wi-can diharapkan menjadi salah satu standar untuk perhitungan pemeringkatan perguruan tinggi di Indonesia. “Makanya Wi-can kedua menjadi semakin banyak pesertanya. Karena mereka merasakan hal itu masuk dalam perhitungan peringkat perguruan tinggi, salah satunya adalah inovasi. Kegiatan seperti ini agak sulit apalagi di masa pandemi. Sehingga dikhawatirkan perguruan tinggi tidak memiliki ajang untuk melakukan kompetisi, yang sifatnya intelectual scientific, oleh Widyatama dibuatlah wadahnya, melalui Wi-can”.

Wi-can bertujuan untuk merumuskan standar tertentu dan kriteria yang akan meningkatkan kreativitas dan produktivitas di kalangan mahasiswa di perguruan tinggi termasuk jenjang SMA, SMK, MA. Terlebih pada era industri atau revolusi 4.0 yang membutuhkan kreativitas yang tinggi dalam hal inovasi teknologi dan bidang terkait TI lainnya seperti IOT/internet of things, serta big data.

Inovasi membutuhkan pengetahuan dan untuk mendukung ide, para pelaku industri membutuhkan perencanaan baik, dan membutuhkan masukan dari akademisi serta pemangku kepentingan lainnya. “Jadi, implementasi dan evaluasi setiap strategi harus dilakukan dengan baik oleh industri untuk memastikan kesuksesan. Oleh karena itu, acara ini diharapkan dapat menjadi titik awal mahasiswa dan siswa untuk bertukar ide, mempromosikan pemahaman yang lebih baik tentang lingkungan saat ini dan akan tercipta solusi yang lebih baik untuk kemaslahatan masyarakat,” jelasnya.

Wican Universitas Widyatama 2020 3 1 1024x600 - Djoko Roespinoedji Bangga Universitas Widyatama Keluar Sebagai Juara Ajang Inovasi Internasional Wi-Can Sementara itu, Prof. Dr. Mohd. Haizam Bin Mohd. Saudi, Wakil Rektor III, Bidang Riset, Pengembangan & Kerjasama UTama, yang juga Direktur/Pengarah kegiatan Wi-can tahun 2020 menyatakan Wi-can sangat penting untuk berkembangnya inovasi mahasiswa dari perguruan tinggi termasuk sekolah Menengah.

“Saya berharap Wi-can bisa menjadi ajang yang merangsang kreativitas mahasiswa di berbagai bidang studi dan tentunya akan menjadi platform bagi mereka, untuk menghasilkan ide-ide baru dan memberikan kontribusi yang bermanfaat. Tidak hanya untuk dunia akademis tetapi industri juga. Peserta tahun ini melonjak menjadi sekitar 292 peserta. Tahun 2019, sekitar 100-an peserta dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Indonesia termasuk mancanegara. Peluang juga bagi perguruan tinggi di dalam negeri, melihat produk-produk hasil inovasi yang dipaparkan oleh mereka dari mancanegara, sehingga bisa jadi pembelajaran, pada masa yang akan datang,” terang Prof. Haizam.

Ke-292 peserta tersebut datang dari sekitar 20 perguruan tinggi Malaysia, Kamboja, Myanmar, Taiwan, Timor Leste serta Jerman. Termasuk 60 perguruan tinggi dalam negeri yang berasal dari Sumatera, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan dan Sulawesi. Tahun ini juga tidak sedikit peserta dari SMA, SMK, MA di kabupaten kota yang ada di Jabar bahkan luar Jabar.

Bentuk lombanya dilakukan secara online, dengan konsep menggunakan aplikasi zoom, dinilai oleh juri internasional untuk tingkat perguruan tinggi. Menilai produk-produk yang dipaparkan oleh para peserta.

Di samping itu juga ada pameran produk-produk inovasi dari para peserta, dilakukan secara virtual atau video converence melalui zoom. Produk tersebut merupakan produk inovasi yang di kemudian hari bisa dipergunakan dan dikomersilkan. Apa yang dipaparkan di pameran tersebut akan dipatenkan juga apabila memang bermanfaat untuk halayak umum.

Lebih lanjut ia menambahkan peserta Wi-can mendapatkan banyak hal, termasuk kritikan-kritikan membangun dari para juri, tidak lain untuk meningkatkan manfaat dari produk yang dipamerkan.

“Mereka juga bisa melihat dan memperbaiki produk-produk ataupun layanan yang mereka tawarkan kepada halayak,” kata Prof Haizam.

Pada kesempatan sama Prof. Dr. Uman Suherman – Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jabar Banten menyatakan bangga terhadap UTama menyelenggarakan kegiatan Wi-can bertaraf internasional di tengah pandemi. “Perbedaan yang diusung oleh Widyatama memandang suatu masalah menjadi hikmah,” kata Prof. Uman yang membuka kegiatan Wi-can 2020. Menurutnya ajang itu sangat baik, bisa menunjukkan kemampuan akademik dan keilmuan mahasiswa. Ia pun berharap UTama secepatnya menjadi perguruan tinggi yang unggul dengan akreditasi unggul.

21 jenis lomba dihelat Wi-can dari tanggal 10-12 Desember 2020, yaitu: Widyatama Accounting poster Competition for senior high School, Widyatama International Accounting Paper Challenge, Business Plan Competition on Manufacturing Industry, Business Plan Competition on Service Industry, 3D Design Competition, Mechanical Exhibition, Web Design, Internet of Things, Start-Up Idea for Developing Enterpreneurship, Technology Implementation in the Industrial Revolution Era 4.0, Information Product Design, Photo Competition “Covid 19 Prevention”, Short Movie Competition “Before-After Covid 19”, Poster Competiton “Health Protocol Awareness Campaign”, CV Creative, Auto Cad Competition 2020, Widyatama International Trade Paper Competition (WITPAC) 2020, Poster (Technologies For Millennial Generation), Poster (Effective Material Handling For SMEs), Innovative Product Design For Akb (Adaptasi Kebiasaan Baru) And Support Industry, Startup And SMEs, International Intrumentation & Control Contest II, Instrumentation Control Robotic and Drone Exhibition II, News Anchor, Speech Contest & Japanese News Anchor.

Djoko Roespinoedji Bangga Universitas Widyatama Keluar Sebagai Juara Ajang Inovasi Internasional Wi-CanUTama Juara Umum

Universitas Widyatama/UTama berhasil menjadi juara umum ajang Widyatama International Academic Competitions & Exhibitions (Wi-can) 2020 yang diselenggarakan tanggal 10-12 Desember lalu secara daring. Sebagai juara umum berhasil meraih 5 medali emas, 5 perak dan 3 perunggu.

Juara kedua diraih Universitas Padjadjaran dengan meraih 1 medali emas dan 1 perak. Sedangkan juara ketiga diraih STBA JIA Bekasi dengan meraih 2 medali perak dan 1 perunggu.

Wi-can menggelar sekitar 21 mata lomba dan pameran produk inovasi termasuk lomba untuk jenjang SMA, SMK dan MA.

Ketua Yayasan Widyatama, Djoko S. Roespinoedji, S.E., PG., DIP. bangga atas capaian UTama menjadi juara umum pada ajang internasional tersebut. Kegiatannya juga berjalan sukses dan lancar. Event Wi-can Internasional mencakup inovasi dan kreativitas, sekaligus memberikan inspirasi, inovasi yang kedepannya menjadi model yang bisa dikembangkan. Di samping itu kelak menjadi bagian dari kemajuan teknologi, khususnya perguruan tinggi di Indonesia.

Dr. Muh. Rozahi Istambul, M.Kom., S.T., Ketua Pelaksana Wi-can, tahun 2020

Dr. Muh. Rozahi Istambul, Ketua Pelaksana Wi-can, menambahkan bahwa kegiatan Wi-can tahun 2020 sangat jauh dibanding tahun lalu, perlombaannya diperbanyak begitu juga pesertanya semakin bertambah, ada sekitar 292 peserta. Hampir tiga kali lipat. Modelnya juga berbeda, melalui video converence karena sedang pandemi. Namun jumlah peserta justru membludak” katanya. (UTama, 14Des2020)

Kerjasama ICMI dan UTama

Gelar Seminar Peluang Industri Kreatif Jabar Di Bosnia Herzegovina

Prof Najib Ketua ICMI Jabar Seminar Internasional ICMI dan Universitas Widyatama 1024x585 - ICMI Bekerjasama Dengan Universitas Widyatama Menggelar Seminar Peluang Industri Kreatif Jabar Di Bosnia Herzegovina The 1st International Seminar Collaboration Between Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) West Java & Widyatama University dihelat di Gedung Serba Guna Universitas Widyatama/UTama, Kamis (3/12/2020) lalu. Seminar bertema “Relation Between Indonesia & Bosnia Herzegovina in Developing & Innovative Economy in West Java”.

Ketua ICMI Orwil Jabar Prof. Dr. Mohammad Najib

Pada kesempatan itu Ketua ICMI Orwil Jabar Prof. Dr. Mohammad Najib menjelaskan bahwa kerjasama antara ICMI Jabar dan Universitas Widyatama/UTama memang sudah terjalin lama. Sebab menurut Najib UTama merupakan perguruan tinggi yang mengedepankan research, sehingga kerjasamanya banyak mengenai kajian-kajian dalam bentuk seminar hasil dari penelitian.

“Seperti sekarang ini, di samping seminar pengembangan industri kreatif hubungan kerjasama dengan Bosnia Herzegovina, juga dilakukan konferensi tentang core paper. Jadi hasil-hasil research ini kita seminarkan. Ada 90 paper hasil research diseminarkan,” ujar Najib.

Dia mengungkapkan kerjasama ini melalui Kedutaan Besar Indonesia, lebih kepada industri kreatif. Tema ini diminta oleh Roem Kono, Duta Besar (Dubes) Bosnia Herzegovina, bagaimana industri ekonomi kreatif dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Jabar bisa dikembangkan ke Bosnia Herzegovina serta bisa melanglangbuana.

“Makanya narasumbernya Pak Roem Kono Dubes Indonesia untuk Bosnia Herzegovina, sasaran kita bagaimana industri kreatif dan UMKM yang ada di Jabar bisa dikembangkan di Bosnia,” ucap Najib.

Lebih lanjut ia mengatakan dari 90 paper yang dikembangkan adalah penelitian dari berbagai topik dan dari berbagai aspek dan disiplin ilmu. Seperti ilmu sosial, ekonomi, pendidikan, politik, agama, budaya dan lainnya. Paper tersebut sudah mendapat Letter of Acceptance (LoA) untuk diterbitkan di jurnal internasional terindek Scopus. Universitas Widyatama Seminar Internasional ICMI 1024x623 - ICMI Bekerjasama Dengan Universitas Widyatama Menggelar Seminar Peluang Industri Kreatif Jabar Di Bosnia Herzegovina Adapun, para penulis paper tersebut merupakan para dosen dari UIN Sunan Gunung Djati, UPI, ITB, UNISBA, UNPAD, UTama dan lainnya.

Sementara itu, Rektor UTama Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga menambahkan Dubes Bosnia untuk Indonesia akan meningkatkan kerjasama dalam hal pendidikan.

“Sebetulnya kami (UTama) sih, sudah ada mahasiswa dari Bosnia, saya pernah membimbing mahasiswa dari Bosnia. Ke depannya, tergantung, UTama kan salah satu yang dipilih, karena memiliki andalan dalam publikasi jurnal internasional,” ucapnya.

Kegiatan seminar internasional itu, hadir sebagai Pembicara Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Barat, Atalia Praratya Kamil, istri Gubernur Jabar.  (UTama, 10Des2020)

Sebagai Pengurus Kwarda Jabar,

Djoko Roespinoedji Akan Menumbuhkan UKM Pramuka Di Perguruan Tinggi

Atalia Ridwan Kamil resmi dilantik menjadi Ketua Kwartir Daerah Jawa Barat (Kwarda Jabar) beserta jajaran pengurus Kwarda Jabar masa bakti 2020-2025, termasuk Djoko Roespinoedji, Ketua Yayasan Widyatama sebagai Wakil Bendahara.

Mereka dilantik oleh Ketua Majelis Pembimbing Daerah (Mabida) di Youth Center Arcamanik, Bandung bertepatan dengan hari Pahlawan Nasional, Selasa (10/11/2020) lalu.

Kegiatan pelantikan dilangsungkan dua sesi pelantikan, secara berurutan. Sesi pertama pelantikan jajaran Mabida oleh Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Mabida berisi para pejabat eselon II Pemerintah Daerah Provinsi Jabar, unsur Forkopimda, serta lembaga lain. Dalam musyawarah daerah di Bogor tanggal 6 -7 Oktober, Atalia terpilih sebagai Ketua Kwarda baru, menggantikan Dede Yusuf yang telah menjabat dua periode. Atalia adalah pucuk pimpinan Kwarda Jabar ke-13 dan perempuan pertama yang menjadi Ketua Kwarda.

Di tahun 2017, Jabar pernah mencatat sebagai provinsi dengan anggota pramuka terbesar di Indonesia. Kala itu tercatat sekitar 6,1 juta anggota pramuka tersebar di 27 Kwartir Cabang. Sekitar 5,8 juta anggota merupakan siswa sekolah, dan 323 ribu anggota dewasa. Namun kini anggotanya 4,5 juta orang. Oleh sebab itu Atalia bertekad mengembalikan gerakan pramuka di Jabar menjadi yang terdepan di Indonesia.  Kehadirannya harus benar-benar dirasakan masyarakat terutama saat pandemi Covid-19.

Ada enam misi Pramuka Jabar Juara Lahir Batin yang dicanangkan, pertama memperkuat marwah pramuka pembentukan karakter, akhlak, dan budi pekerti; kedua, inventarisasi dan optimalisasi aset pramuka; ketiga, internalisasi semangat silih asih, asah, asuh dengan mengedepankan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi; keempat, adaptasi gerakan pramuka pada situasi kekinian; kelima, meningkatkan kolaborasi dengan akademisi, bisnis, komunitas, pemerintahan, serta media; dan keenam, berperan aktif menjawab masalah bangsa.

Wakil Bendahara Kwarda Jabar periode 2020-2025, Djoko Roespinoedji, yang juga Ketua Yayasan Widyatama yang juga Bendahara Asosiasi Badan Pengelola Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABPTSI) Jabar dan Pusat mengemukakan ia berkewajiban memberikan kontribusi dalam mendirikan unit kegiatan mahasiswa (UKM) Pramuka di UTama, juga akan menularkan kepada perguruan tinggi lainnya untuk mendirikan UKM Pramuka di masing-masing kampus yang ada di Jabar.

Saya diminta oleh tokoh-tokoh Pramuka Jabar untuk membantu Bu Atalia Kamil, Ketua Kwarda Jabar agar Pramuka di perguruan tinggi memiliki peran penting di masyarakat, terang Djoko.

Peran strategis Pramuka di kampus, menurut Djoko sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Setelah berdiri UKM Pramuka di kampus-kampus, ke depan harus menjadi agen perubahan bagi masyarakat melalui kemampuan intelektualnya karena memiliki ciri khusus dan berbeda dengan Pramuka komunitas atau teritorial yang lainnya. Menurut Djoko Pramuka kampus perannya menitik beratkan kepada problem solver masyarakat dan sebagai agen penggerak pembangunan. Misi tersebut sesuai dengan konsep Tribina dalam pendidikan kepramukaan, yakni bina diri yakni meningkatkan skill, bina satuan yaitu mengelola kader satuan Pramuka, dan bina masyarakat adalah berbakti kepada masyarakat,” jelasnya. (UTama, 10 Nov 2020)

UTama Tercatat Menjadi Kampus Ternama Di Bandung

 

Universitas Widyatama/UTama tercatat menjadi salah satu kampus ternama di Kota Bandung. Hal itu berdasarkan dari rilis Webometrics yang di keluarkan bulan Juli 2020, lalu.

Landasan penilaiannya, yaitu: presence (5%), visibility impact (50%), openness (10%), dan excellence (35%).

Penilaian berdasarkan Presence  adalah jumlah halaman web host dalam web domain utama (termasuk semua subdomain dan direktori) dari universitas yang diindeks oleh mesin pencari Google. Penilaian tersebut menghitung setiap halaman web, termasuk semua format yang diakui secara individual oleh Google, termasuk halaman statis dan dinamis dan selain rich files.

Berikutnya Visibility Impact adalah kualitas konten dievaluasi melalui “virtual referendum” dengan menghitung semua external inlinks yang diterima oleh web domain universitas dari pihak ketiga. Link tersebut mengakui prestise institusional, kinerja akademik, nilai informasi, dan kegunaan dari layanan seperti yang diperkenalkan dalam halaman web sesuai dengan kriteria jutaan web editor dari seluruh dunia. Data visibilitas link dikumpulkan dari dua provider informasi yaitu Majestic SEO dan ahrefs. Keduanya menggunakan crawler sendiri, menghasilkan database yang berbeda yang digunakan bersama-sama untuk saling melengkapi atau memperbaiki kesalahan. Indikatornya adalah produk dari jumlah backlink dan jumlah domain yang berasal dari backlink tersebut, sehingga tidak hanya penting popularitas link tetapi juga keragaman link.

Sedangkan Openness merupakan jumlah file dokumen Adobe Acrobat (.pdf), Adobe PostScript (.ps, .eps), Microsoft Word (.doc,.docx) and Microsoft Powerpoint (.ppt, .pptx) yang online/open di bawah domain website universitas yang tertangkap oleh mesin pencari (Google Scholar).

Terakhir Excellence merupakan jumlah artikel-artikel ilmiah publikasi perguruan tinggi yang bersangkutan yang terindeks di Scimago Institution Ranking dan di Google Scholar.

Daftar perguruan tinggi ternama di Kota Bandung, menurut Webometrics tahun 2020: 1. Institut Teknologi Bandung, 2. Telkom University, 3. Universitas Pendidikan Indonesia, 4. Universitas Padjadjaran, 5. Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, 6. Universitas Katolik Parahyangan,
7. Universitas Widyatama, 8. Universitas Islam Bandung, 9. Universitas Pasundan, 10. Institut Teknologi Nasional. (UTama, 10 Nov 2020)

ICBPS 2020 Mampu Kolaborasikan Akademisi Dan Dunia Industri

Prof. Dr. Uman Suherman Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV Jabar dan Banten memaparkan bahwa para akademisi dan dosen adalah ilmuwan yang sangat berkaitan erat dengan kemajuan dunia industri di tanah air, terlebih di era digital. Termasuk bagaimana kampus bisa menjalin kedekatan dengan dunia industri itu sendiri. Karena menurutnya segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia industri, seperti cara berpikir serta pola pikir, dihasilkan oleh para akademisi, melalui penelitian-penelitian yang ada.

Hal itu ia paparkan usai menjadi keynote speaker pada kegiatan konferensi internasional secara daring yang dihelat oleh Universitas Widyatama/UTama, Rabu, tanggal 14 Oktober 2020 lalu. Event bernama International Conference on Business Policy and Sciences (ICBPS) ketiga ini berlangsung hingga tanggal 15 Oktober 2020.

Dengan kajian-kajian itu memungkinkan untuk membuat sebuah regulasi bagi ekonom-ekonom yang ada di tanah air. “Dunia bisnis tidak akan berjalan tanpa ilmu. Sebaliknya tidak bisa mengkaji ilmu tanpa ada praktek. Oleh sebab itu mendekatkan dunia akademik dengan industri menjadi sebuah keharusan,” kata Prof. Uman, di kampus UTama, Bandung.

ICBPS Universitas Widyatama Bandung 1024x569 - Resmi Digelar, ICBPS 2020 Mampu Kolaborasikan Akademisi Dan Dunia Industri “Regulasi pertama para dosen melakukan Tri Dharma perguruan tinggi. Yang kedua kebijakan kampus dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh dosen harus bisa dimanifestasikan dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat. Bagaimana pun tingkat relevansi yang ada di kampus bisa mengantisipasi permasalahan yang terjadi di masyarakat. Hal itu bisa dilakukan manakala dosen melakukan penelaahan yang lebih dalam. Seperti sekarang serba digital. Tadi saya paparkan bahwa dulu pedagang itu hanya nagog (nunggu pembeli), terus door to door, kemudian delivery order. Maka sekarang toko bisa saja tutup, tapi bisnis berjalan dengan dunia digital melalui bisnis online. Pertanyaan yang muncul siapa yang mengembangkannya? Bukan orang bisnis melainkan para akademisi yang dimanfaatkan pada dunia industri,” ungkapnya. Lebih lanjut ia mengatakan tinggal bagaimana nanti harus ada kebijakan dari kampus pada saat penelitian yang mengacu kepada kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Tidak terkecuali kebijakan-kebijakan yang ada di pemerintahan, khususnya yang menyangkut ekonomi dan bagaimana penelitian itu dilakukan.

Pada event itu sedikitnya ada sekitar 122 paper dari peserta ICBPS. Paper merupakan hasil penelitian bisnis, manajemen, akuntansi, teknik dan lainnya. Tulisan itu merupakan kolaborasi antara dosen UTama, perguruan tinggi di tanah air serta dosen dari mancanegara, dipublikasikan pada jurnal internasional yang terindek Scopus.

Pada event tersebut selain Prof. Dr. Uman Suherman, hadir Prof. Dr. Norzaidi Mohd Daud, dari Universiti Teknologi MARA, Malaysia menjadi pembicara utama juga. Perguruan tinggi yang turut serta adalah Oxford University (Inggris), Harvard University (Amerika Serikat), IUMW, UiTM dan UPN (Malaysia), University De La Salle Lipa (Philipina), Korea University (Korea Selatan), University of Tokyo (Jepang), ITB, UPI, Mercu Buana, Sangga Buana, Trunojoyo Madura, Unpad, Unpas, UGM, Telkom, dan Brawijaya Malang (Indonesia).

Sementara itu Prof. Obsatar Sinaga, Rektor UTama mengatakan di mancanegara perkembangan dunia industri sudah melewati era 4.0 dan menerapkan Society 5.0, Oleh sebab itu, UTama terus melakukan upaya kolaborasi, antara dunia industri dengan sains. Termasuk menggelar konferensi internasional tahunan ICBPS secara rutin.

Hal itu merupakan upaya mengkolaborasikan dunia industri dengan para sainstis. Ia menambahkan pada event ini dibahas mengenai perkembangan industri saat ini dengan menghadirkan para praktisi, sekaligus membuat penelitian-penelitian yang arahnya pada kolaborasi. UTama membuka pintu selebar-lebarnya bagi perguruan tinggi  yang ingin melakukan kerjasama dan kolaborasi, sekaligus membantu dalam hal publikasinya. (UTama, 14 Okt 2020)

UTama Terima 2300 Mahasiswa Baru TA 2020-2021

2 1024x682 - Atalia Istri Gubernur Jabar Jadi Dosen Universitas Widyatama, UTama Selangkah Lebih Maju Dari Universitas Lainnya

Tahun akademik 2020-2021 Univeristas Widyatama/UTama menerima sekitar 2300 mahasiswa baru untuk jenjang D3, D4, S1 dan S2. Demikian disampaikan Rektor UTama – Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, S. IP., M. Si. usai kegiatan Sidang Senat Terbuka Guru Besar UTama yang berlangsung di Gedung Serba Guna  UTama, Sabtu, tanggal 19 September 2020.

3 1024x682 - Atalia Istri Gubernur Jabar Jadi Dosen Universitas Widyatama, UTama Selangkah Lebih Maju Dari Universitas Lainnya Mereka diterima di lima fakultas, yaitu: Fakultas Ekonomi Bisnis, Fakultas Desain Komunikasi Visual, Fakultas Bahasa, Fakultas Teknik, Sekolah Pasca Sarjana dengan 21 program studi, termasuk prodi baru Perdanganan Internasional, Film dan Televisi, serta Perpustakaan & Sains Informasi.

UTama yang tahun 2020 menduduki ranking ke-57 dari sekitar 4.682 perguruan tinggi negeri swasta terbaik di Indonesia, sangat serius menyiapkan lulusan berkualitas, agar siap bersaing di kancah nasional maupun global. Terlebih untuk menyiapkan generasi emas di tahun 2045. Karena lebih dari 60 % penduduk Indonesia masuk kategori usia produktif.

Dalam tataran teknis, UTama telah berkolaborasi dan bersinergi dengan pemerintah, perguruan tinggi lain serta industri. Agar perencanaan program dan kurikulum termasuk standar pendidikan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Lulusan UTama juga sebisa mungkin bisa cepat lulus, untuk jenjang S1 selama 3,5 tahun dan S2 selama 1,5 tahun. Lulusan UTama akan dibekali sertifikat dari BNSP, LSP serta sertifikat keahlian dari Rektor.

UTama akan menerapkan perkuliahan yang lebih efektif. Mahasiswa dalam satu minggu cukup kuliah selama dua hari. Baik saat pandemi melalui daring, maupun nanti apabila kuliah tatap muka langsung bisa dilaksanakan kembali. Hari lainnya bisa digunakan untuk pengembangan diri sesuai minat bakat para mahasiswanya. “Jadi dalam 1 semester itu 18 SKS, maka tiap satu hari kita upayakan pemberian mata kuliah 9 SKS, dan tiap mata kuliah yang diikuti yakni tiga SKS dimulai pukul 08.00. Kemudian mahasiswa pun bisa memilih perkuliahan yakni Senin dan Selasa, atau Rabu dan Kamis,” terang Rektor.

Tugas akhir mahasiswa di UTama tidak harus berupa skripsi atau tesis tetapi juga bisa berbentuk bisnis plan serta karya ilmiah yang dipublikasikan di SINTA ataupun Scopus.

Atalia – Istri Gubernur Jabar Dosen UTama

5 1024x682 - Atalia Istri Gubernur Jabar Jadi Dosen Universitas Widyatama, UTama Selangkah Lebih Maju Dari Universitas Lainnya Tahun akademik 2020-2021 ini ada yang istimewa di UTama, Atalia Praratya yang menjadi dosen tetap UTama. Atalia yang juga Bunda Literasi Jabar akan mengajar mata kuliah yaitu Public Speaking dan Komunikasi.

Pada Sidang Senat Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru UTama Atalia didaulat menjadi pembicara. Pada paparannya ia berharap agar generasi muda milenial bisa memberikan kontribusi positif di tengah pandemi Covid-19. Dengan media sosial yang mereka miliki bisa menginformasikan hal positif dalam menghadapi pandemi ini. Atalia yang juga istri Gubernur Jabar Ridwan Kamil mencontohkan seperti penerapan protokol kesehatan bagi masyarakat di antaranya penggunaan masker, cuci tangan pakai sabun dan jaga jarak. “Saya hari ini hadir untuk memberikan motivasi kepada mahasiswa baru bagaimana mereka harus mampu menggunakan komunikasi yang efektif dalam menghadapi keadaan saat ini, khususnya di masa pandemi Covid-19. Sekarang banyak berita tentang pandemi Covid-19 sehingga masyarakat perlu diberi konten-konten positif yang bisa dilakukan para mahasiswa,” jelas Atalia.

Ia juga mengajak mahasiswa baru UTama untuk menggerakkan relawan, bahkan mereka juga bisa menjadi peneliti, sebab sudah banyak alat dan teknologi yang dibuat para mahasiswa yang membantu penanganan Covid-19. Ia yakin mahasiswa saat ini sudah banyak berperan membantu dalam menghadapi pandemi Covid-19. (UTama, 21 Sep 2020)

Prodi Teknik Industri UTama Literasi K-3 Masyarakat Binong Jati

WhatsApp Image 2020 09 07 at 12.05.31 - Prodi Teknik Industri Universitas Widyatama Mengedukasi & Membantu Masyarakat Kelurahan Binong Jati Dalam Menerapkan K-3 Sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, Universitas Widyatama/UTama Bandung selalu berupaya untuk menjadikan kampusnya sebagai solusi memecahkan persoalan yang sedang dihadapi masyarakat. Tidak terkecuali di masa pandemi Covid-19.

UTama bergerak cepat membantu pemerintah dalam meringankan beban masyarakat, di antaranya melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) yang diselenggarakan beberapa fakultas, program studi, dan para dosennya.

Prodi Teknik Industri UTama menyelenggarakan kegiatan PkM di Kelurahan Binong Jati, Kota Bandung. Kegiatann dilangsungkan pertengahan bulan Mei 2020. Dikemas dalam bentuk penyuluhan dengan mengambil tema “Pentingnya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Guna Pencegahan Terpapar Covid -19”.

Pada acara tersebut UTama juga memberikan bantuan berupa masker sebanyak 360 buah dan poster tentang cara penggunaan masker serta cuci tangan memakai sabun, 300 lembar.

Kegiatan yang diketuai Dr. Arief Rahmana, ST., MT., CIPMP., dengan anggota para dosen, yaitu : Anita Juraida, ST., MT., Annisa Maharani Suyono, ST., MM., Ayu Endah Wahyuni, ST., MT., dan Rendiyatna Ferdian, ST., MT.

Dr. Arief  memaparkan tujuan kegiatan PkM memberikan pemahaman kepada masyarakat Binong Jati yang umumnya perajin rajutan, mengenai pentingnya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dalam menjalankan setiap aktivitas pekerjaannya agar terhindar dan tertular virus Covid-19. Ia bersama para dosen lainnya berharap dengan kegiatan itu, masyarakat Kelurahan Binong Jati terbantu dan dapat menjalankan protokol kesehatan dan keselamatan kerja (K3) pada saat beraktivitas, terlebih di tengah pandemi.

“Insya Alloh, kegiatan seperti ini terus digalakan, sebagai bentuk tanggung jawab program studi terhadap masyarakat. Juga kami berupaya menjadi bagian solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat. Kami ucapkan terima kasih kepada para dosen, Bapak Lurah, dan masyarakat Kelurahan Binong Jati yang telah membantu terselenggaranya kegiatan ini dengan lancar,” ujar Arief Rahmana, Senin (7/9/2020) lalu.

Sementara itu, Lurah Kelurahan Binong Jati – Pepen Ruspendi, SE., MM., yang menerima langsung bantuan masker dan poster di kantornya, sangat mengapresiasi kegiatan PkM Prodi Teknik Industri UTama.

“Atas nama warga kelurahan Binong Jati, kami mengucapkan terima kasih atas kegiatan PKM ini. Mudah-mudahan dengan kegiatan ini dapat memberikan pemahaman menyeluruh bagi warga kami tentang pentingnya K3, dalam kehidupan sehari-hari, terutama di masa pandemi Covid-19 ,” ujar Pepen. Kami sangat berharap kegiatan PKM seperti ini ke depannya terus berlanjut,” tutup Pepen. (UTama, 09 Sep 2020)

#### 0 ####

BERITA KAMPUS #28

Webinar “Women Leaders And Entrepreneur” – Peringati Hari Kartini

BERITA KAMPUS #28

Webinar “Women Leaders And Entrepreneur” – Peringati Hari Kartini

C:\Users\hp\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\Webinar-Wibi-Hari-Kartini-960x570.jpg Di balik kesuksesan seorang suami tidak terlepas dari peran istri yang hebat. Hal itu diutarakan Prof Obsatar Sinaga, Rektor Universitas Widyatama/UTama saat menjadi Keynote Speaker web seminar (webinar) “Women Leaders and Entrepreneur”, Sabtu (24/4/2021) lalu. Karena itu, peran perempuan tidak bisa dipandang sebelah mata.
Tidak terkecuali sebagai entrepreneur atau pengusaha.

“Wanita sebagai pengusaha bukan sesuatu yang baru. Ketika wanita menjadi entrepreneur dan bussines women, kadang kala dikaitkan dengan status gender. Dibandingkan pria sebenarnya wanita itu seorang negosiator yang baik, sensitif cerdas juga kreatif,” terang Prof. Obsatar.

Sementara, Prof. Umi Narimawati, Guru Besar dari Universitas Komputer Indonesia, Bandung, salah satu pembicara utama mengatakan, bahwa perempuan harus mandiri, hal itu akan membuat ketahanan pangan dalam keluarga. Namun tetap tidak bisa melawan kodrat, sebagai ibu yang mengurus rumah tangga.

Kegiatan webinar yang diselenggarakan oleh Widyatama Business Incubator (WIBI) dalam rangka memperingati Hari Kartini. Keni Kaniawati, Ketua WIBI sekaligus Ketua kegiatan mengatakan webinar adalah kegiatan rutin yang merupakan implementasi program WIBI.

Webinar menampilkan tiga guru besar perempuan sebagai pembicara utama, selain Prof. Umi, Prof. Poppy Yuniawati dari Universitas Pasundan, Bandung dan Prof. Sedarmayanti dari Universitas Dr Soetomo, Surabaya. Webinar menyimpulkan bahwa pengusaha perempuan harus memiliki sikap mandiri, tangguh serta menjadi solusi.

Webinar juga menampilkan pengusaha wanita binaan WIBI yang telah berhasil dalam merambah dunia usaha, Irna Mutiara, desainer busana muslim. “Sepak terjang Irna Mutiara yang merupakan alumni Universitas Widyatama, tidak instan, melalui proses yang memakan waktu panjang. Sengaja dijadikan pembicara untuk memotivasi para peserta. Irna mahasiswa bimbingan kami memiliki background desainer. Saat ini punya sekolah fashion desainer. Banyak juga usaha yang dirintis Irna. Bahkan karyawannya sudah lumayan banyak. Irna juga kini bermitra bisnis dengan artis ternama Indonesia, Dewi Sandra dan Dhini Aminarti. Sedangkan segmen bisnisnya untuk kalangan menengah ke atas.” jelas Keni.

Tidak sedikit start up perempuan yang kini dibina oleh WIBI. Meskipun menurut pengakuan Keni, kehadiran WIBI baru seumur balita. Inkubator bisnis di kampus merupakan hal wajib, sesuai dengan Kementerian-BRIN, dimana kampus wajib memiliki inkubator bisnis, karena ke depan mereka juga akan memperoleh berbagai peluang, tidak hanya pendampingan dana tetapi berbagai materi termasuk dari Kementerian Koperasi dan UMKM. Terutama untuk meningkatkan jumlah wirausaha muda yang kreatif dan inovatif. Tidak terkecuali calon pengusaha perempuan yang bergerak di bidang kuliner, cafe, fashion, kecantikan dan lainnya.

Kemudian Keni menjelaskan bahwa WIBI akan melakukan inkubasi kepada tenant, calon start up atau perusahaan yang baru dirintis, setelah lulus melewati tahap seleksi, selama enam bulan. Setelah itu akan dibuat format perjanjian kontrak antara tenant dengan WIBI, termasuk ditandatangani oleh pihak rektorat, sebagai bakal calon penerima hibah.

“Dalam memilih tenant yang akan diinkubasi oleh WIBI, kata Keni usaha para tenant harus sudah berjalan 60 persen ke atas. Mereka terdiri dari mahasiswa UTama, masyarakat sekitar atau pun para alumni. “Mereka benar-benar diinkubasi. Diberikan training, mentoring, pelatihan, sampai mendapatkan speed capital dan bisa dijadikan spin-off bussines maching. Ke depan, tenant yang ada di WIBI bisa naik ke level lebih tinggi bahkan bisa membantu para calon tenant yang lain. Usahanya apabila bisa berkembang nanti bisa membuka koperasi dari tenant oleh tenant untuk tenant. Inkubator bisnis di kampus Universitas Widyatama, juga membantu pemeringkatan akreditasi kampus,” kata Keni.

Kegiatan WIBI juga didukung oleh PT HIPMI dan Entrepreneur And Innovation Center/EIC UTama yang dikomandani Dr. Meriza Hendri. (UTama, 24/4/21)

Mahasiswa UTama Ikuti Sertifikasi BNSP

Mahasiswa Universitas Widyatama Mengikuti Sertifikasi BNSP Selain mendapatkan ijasah kini lulusan Universitas Widyatama/UTama mendapatkan sertifikasi Lembaga Sertifikasi Profesi Universitas Widyatama yang telah mendapatkan lisensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Ujian pertama telah dilakukan dengan 7 skema sertifikasi, salah satunya sertifikasi MICE yang diujikan pada hari Jumat, 26 Februari 2021 yang langsung diawasi asesor dari BNSP dan dilakukan di Universitas Widyatama.

Total ada 18 skema yang telah siap dilakukan sertifikasi dan akan terus bertambah sehingga semua mahasiswa dari semua jurusan akan dibekali sertifikasi sesuai dengan jurusan, keinginan, serta kemampuan masing-masing mahasiswa sehingga mahasiswa dapat memilih sertifikasi apa yang akan diambil, ujar Wakil Rektor 2 Dr. Deden Sutisna. (Ro Kemahasiswaan. 03 Mar 2021)

Virtual Exibition LKOK

  Biro Kemahasiswaan UTama bekerjasama dengan Pemerintahan Mahasiswa UTama mengadakan kegiatan Virtual Exibition pada hari Sabtu, 6 Maret 2021 lau. Menurut Kepala Biro Kemahasiswaan Pipin Sukandi, kegiatan biasanya dilakukan secara offline karena saat ini masih dalam kondisi pandemi sehingga dilakukan secara daring tanpa mengurangi kualitas kegiatan.

Acara dimaksudkan untuk memperkenalkan seluruh Lembaga Kemahasiswaan dan Organisasi Kemahasiswaan (LKOK) yang ada kepada mahasiswa angkatan 2020. Sampai saat ini mahasiswa angkatan 2020 belum dapat mengunjungi kampus maka kami berikan informasi secara online. Melalui aktivitas ini diharapkan mahasiswa angkatan 2020 dapat mengikuti salah satu dari unit yang ditampilkan dalam kegiatan virtual exibition ini. Kegiatan ini diikuti diantaranya oleh MPM, PEMA, Senat Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa dan seluruh Unit Kegiatan Mahasiswa yang ada di UTama seperti olahrara, seni, pengabdian masyarakat dan keagamaan. (Biro Kemahasiswaan, 08 Mar 2021)

Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin Adakan Webinar

Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin Mengadakan Webinar Pandemi Covd-19 bukan merupakan halangan untuk belajar dan tetap semangat. Inilah yang dilakukan Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin Universitas Widyatama yang tetap belajar dengan menambah pengetahuan dari berbagi sektor. Pada hari Minggu, 7 Maret 2021 lalu Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin menyelenggarakan webinar dengan tema Pembuatan Komponen Part Pesawat Terbang Departemen Machining PT. Dirgantara Indonesia dengan menghadirkan narasumber salah seorang dosen Teknk Mesin Universitas Widyatama, Bapak Kresno, S.T. (Biro Kemahasiswaan 08 Mar 2021)

Pelantikan Staff Pemerintahan MahasiswaPelantikan Staff Pemerintahan Mahasiswa

Selasa, 9 Maret 2021 lalu Presiden Mahasiswa UTama, Bambang Teguh Munajat melantik Staff Pemerintahan Mahasiswa Periode 2020-2021 secara online. Dalam sambutannya Kepala Biro Kemahasiswaan UTama mengatakan dalam menjalankan amanah yang diberikan sesuai fungsi masing-masing sebaiknya dilaksanakan secara serius apalagi dalam kondisi pandemi Covid 19 saat ini. Prestasi tetap menjadi urutan pertama dalam memajukan organisasi di lingkungan UTama tutur Pipin Sukandi. (Biro Kemahasiswaan 10 Mar 2021)

Kewirausahaan Day

Kewirus Day Unit Kegiatan Mahasiswa Kewirausahaan UTama hari Sabtu 13 Maret 2021 lalu menyelenggarakan kegiatan dengan tema Kewirus Day secara online. Tema tersebut diusung dengan harapan audiens mahasiswa UTama tertarik mengembangkan diri sebagai seorang entrepreneur.

Tidak dapat dipungkiri pandemi Covid 19 yang telah berjalan selama setahun masih sulit diprediksi kapan akan berakhir. Tidak sedikit perusahaan yang gulung tikar akibat adanya pandemi ini. Termasuk para wirausaha yang jungkir balik merubah pola penjualan akibat pandemi. Walau kondisi demikian harapan kami para mahasiswa UTama setelah lulus tidak terpaku bekerja pada perusahaan, tetapi menetapkan opsi lain yaitu berwirausaha ujar Yashinta Ketua UKM Kewirausahaan. (Biro Kemahasiswaan 16 Mar 2021)

Bandung Model United Nations 2021 Mahasiswa Universitas WidyatamaBandung Model United Nations 2021 Mahasiswa UTama

Unit Kegiatan Mahasiswa International Student Center (ISC) UTama pada hari Sabtu, 13 Maret 2021 mengadakan kegiatan Bandung Model United Nations 2021 secara online. Bandung Model United Nations merupakan kegiatan tahunan Simulasi Sidang PBB yang membahas permasalahan dunia. Dalam simulasi sidang PBB tersebut, delegasi berperan sebagai perwakilan satu negara dan dialokasikan pada satu council dengan fokus bahasan tertentu. Nanti, setiap council akan merumuskan draft Resolusi PBB dalam menanggapi permasalahan dunia seperti pemanasan global, perampasan HAM hingga konflik kerjasama multilateral. (Biro Kemahasiswaan16 Mar 2021)

Mahasiswa UTama Bantu Pemkot Bandung Vaksinasi Lansia

Mahasiswa Widyatama Membantu Pemkot Bandung Dalam Vaksinasi Lansia Sejumlah mahasiswa UTama yang tergabung dalam Lembaga Kemahasiswaan dan Organisasi Kemahasiswaan (LKOK) turut serta dalam kegiatan pemberian vaksin untuk lansia. Kegiatan yang dimotori Pemerintah Kota Bandung, Masyarakat Tionghoa Peduli dan Rumah Sakit Kebonjati dilaksanakan selama 5 (lima) hari mulai tanggal 15-19 Maret 2021 yang berlokasi di Yayasan Dana Sosial Priangan Jl. Nana Rohana Bandung.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus melakukan percepatan vaksinasi COVID-19 untuk lansia di Kota Bandung, Jawa Barat. Sampai saat ini sudah ada 16 ribu lansia yang sudah jalani vaksinasi.

“Vaksinasi Lansia secara kumulatif sudah lumayan tinggi sekitar 16 ribuan dalam 15 hari. Tapi karena sasaran tinggi, maka kita harus melakukan percepatan,” kata Kadinkes Kota Bandung, Ahyani Raksanagara di Yayasan Dana Sosial Priangan, Jalan Nana Rohana, Bandung, Senin (15/3/2021). Jumlah sasaran mencapai 118 ribu orang. Apalagi, untuk lansia tahapannya lebih panjang dan harus berhati-hati dalam melakukan screening.” ujarnya.

Dinkes mendorong organisasi, lembaga, komunitas yang ada lansianya agar melaksanakan kegiatan sendiri dimana tenaga kesehatan kami latih, agar pendaftaran dan pelaporan terpusat dan vaksinasi dibantu oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung. Seperti diketahui, pendataan lansia lebih sulit dibanding sasaran lainnya karena datanya tidak terpusat.

Ahyani menambahkan, jika lansia tidak bisa datang bisa menghubungi Puskesmas di wilayahnya,

petugas Puskesmas nanti datang. (Biro Kemahasiswaan 16 Mar 2021)

Mahasiswa Widyatama Ikuti Kegiatan Wawasan Kebangsaan

Mahasiswa Widyatama Mengikuti Kegiatan Wawasan Kebangsaan Selasa, 16 Maret 2021 lalu 2 (dua) orang mahasiswa UTama terpilih mengikuti kegiatan Wawasan Kebangsaan yang diselengarakan Kodim 0618/BS. Wawasan Kebangsaan harus sudah tertanam sejak usia dini. Melalui pengetahuan wawasan kebangsaan maka kecintaan terhadap tanah air akan semakin meningkat ujar Kepala Biro Kemahasiswaan saat menerima undangan tersebut.

Bela negara dipersepsi sebagian masyarakat adalah tugas TNI dan POLRI. Padahal dalam Undang Undang Dasar 1945 telah jelas bahwa seluruh warga negara Indonesia mempunyai hak dan kewajiban dalam mempertahankan negara kesatuan Republik Indonesia. Mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa merupakan ujung tombak mempertahankan dan mengembangkan negara ini. Dengan kegiatan wawasan kebangsaan semoga dapat menambah pengetahuan dan kecintaannya terhadap negara Indonesia. (Biro Kemahasiswaan 18 Mar 2021)

Milad Yayasan Widyatama Ke-48,

Berharap Senantiasa Melahirkan Insan Berkualitas dan Berakhlak

Djoko Roespinoedji, Ketua Yayasan Widyatama dalam syukuran milad Yayasan Widyatama ke-48 terus mendorong satuan-satuan pendidikan maju ke arah lebih baik. Ketiga satuan pendidikan, yaitu: Universitas Widyatama, Art Theraphy Center (ATC) serta Lembaga Pengembangan & Aplikasi Pengetahuan (LPAP) Widyatama.

Acara syukuran milad Yayasan Widyatama ke-48 digelar di Gedung F, Fakultas Teknik Universitas Widyatama, pada Selasa (5/1/2021) lalu.

Yayasan Widyatama yang berdiri pada tanggal 3 Januari 1973 https://majalahsora.com/wp-content/uploads/2021/01/HUT-Yayasan-Widyatama-ke-48_3-300x225.jpg merupakan perjuangan yang cukup panjang dari pendiri terdahulu, Prof. Koesbandijah. Saya menjadi bagian generasi ketiga, dari pendiri tentu mempunyai kewajiban untuk melanggengkan Yayasan Widyatama ke arah yang semakin baik, semakin dewasa. tegas Djoko.

Ia berharap ketiga satuan pendidikan di bawah naungan Yayasan Widyatama bisa saling bersinergi. Mahasiswa yang mengenyam pendidikan di Widyatama, bisa menjadi insan berkualitas serta memiliki karakter yang baik, sehingga kelak menjadi bagian pemimpin negara ini.

Yayasan Widyatama memiliki program kerja dan komitmen mendorong satuan pendidikan terus berkiprah mengembangkan ilmu pengetahuan dan meningkatkan kualitas para dosennya. Tahun 2020 Universitas Widyatama mencapai peringkat 57 nasional. Ini merupakan pencapaian luar biasa. Karena kita tahu ada sekitar 4000-an perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Namun perjalanan masih panjang tetap berkomitmen menyelenggarakan kualitas pembelajaran yang baik sehingga kurikulum yang kita pakai ter-delivery dengan baik kepada mahasiswa,”papar Djoko.

Di kesempatan yang sama Prof. H. Obsatar Sinaga, Rektor UTama memiliki impian kampus ini bisa masuk “world class university”. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui, di antaranya masuk university world rating, sebagai alat mencapai world ranking.

Dalam kiprahnya Yayasan Widyatama telah memberikan kewenangan kepada satuan pendidikan untuk menentukan proses terhadap strategi kebijakan, sampai pada tingkat aksi. Karena itu Yayasan Widyatama saya fikir bisa menjadi contoh bagi Yayasan lain dalam mengelola satuan pendidikan.” imbuhnya.

Semoga Alloh SWT meridhoi Yayasan Widyatama sebagai lembaga pendidikan yang komitmen pada pendidikan, manfaatnya semakin meningkat bagi masyarakat, utamanya meningkatkan kecerdasan anak bangsa.

Kuliah Umum Virtual “Industri Media Televisi” Bersama ANTV

https://majalahsora.com/wp-content/uploads/2021/01/Kampus-Keren-ANTV-Universitas-Widyatama_3-300x140.jpg Kuliah umum “Industri Media Televisi” yang digelar oleh Prodi Produksi Film & TV UTama bekerjasama dengan ANTV, secara virtual digelar Rabu (13/1/2021) lalu dari pukul 10.00 sampai sekitar pukul 12.00. Kuliah umum terbuka yang diikuti sekitar 500 orang melalui aplikasi zoom meeting, sisanya melalui chanel live streaming YouTube, ANTV Klik.

Di samping mahasiswa UTama, diikuti mahasiswa dari kampus dan siswa lainnya, seperti mahasiswa Fikom Unpad, Unpas, Unikom, YPKP Sangga Buana, siswa SMKN 5 Kota Bandung, SMKN 14 Kota Bandung, SMKN 4 Kota Bandung.

Pada kesempatan itu Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, S.IP., M.Si, Rektor UTama, menjadi pembicara utama dengan narasumber Teguh Anantawikrama, Chief External Affair Officer ANTV.

https://majalahsora.com/wp-content/uploads/2021/01/Kampus-Keren-ANTV-Universitas-Widyatama_5-300x140.jpg Capaian awal dari tujuan kuliah umum ini menurut Prof. Obsatar diharapkan para peserta bisa memahami industri pertelevisian di Indonesia, khususnya ANTV. Para peserta kuliah umum juga jadi tahu bahwa perusahaan televisi mainstream dituntut memberitakan sesuai fakta dan mendidik. “Saya juga menerapkan pada Prodi Produksi Film & TV supaya menghasilkan tenaga yang professional, tidak menjadi penulis, pembaca dan pembuat berita hoax. Harus bermanfaat bagi masyarakat luas,” tegas Prof. Obi.

Sementara itu Teguh Anantawikrama, Chief External Affair Officer ANTV memaparkan materi yang menarik. Seperti banyaknya peluang bekerja di dunia pertelevisian, baik dalam negeri maupun mancanegara seperti Jepang.

Juga menjelaskan mengenai serunya dan tantangan bekerja di industri media televisi, karena harus siap beradaptasi dengan segala perubahan. Termasuk produksi program-program yang ada di ANTV.

ANTV memiliki dua produk televisi, yaitu program on air dan off air yang kedua-duanya memiliki peran penting. Program on air, seperti Uttaran, Jhoda-Akbar, Pesbukers dan lainnya. Ada juga program yang dibuat sendiri, diakuisisi, serta kerjasama.

Beasiswa Kuliah Di UTama Buat Akmaludin Korban Longsor Cimanggung – Sumedang

Akmal Korban Longsor Cimanggung Kabupaten Sumedang Terharu Dan Bangga Mendapat Beasiswa Kuliah Di Universitas Widyatama

Muhammad Akmaludin, siswa kelas XII, SMKN 1 Sumedang bangga dan terharu saat menerima beasiswa kuliah di UTama. Hal itu ia katakan setelah Prof. Obsatar Sinaga – Rektor UTama, serta Djoko Roespinoedji – Ketua Yayasan Widyatama memberikan beasiswa dan santunan uang tunai, sekaligus menjenguk langsung Akmal dikediaman neneknya, di Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jum’at (15/1/2021) lalu.

“Alhamdulillah, sangat senang terima kasih banyak,” kata Akmal.

Hal senada disampaikan Ine Astuti, Ibunda Akmal atas pemberian tersebut terhadap putranya, berupa beasiswa penuh berkuliah di UTama sampai tuntas.“Mudah-mudahan aya balasannya. Anak saya juga bisa menjadi orang yang sukses, bisa mengabdi ke negara dan melanjutkan perjuangan Bapaknya,” kata Ine yang adalah Guru Bahasa Indonesia, di SMA Guna Cipta, Sumedang.

https://majalahsora.com/wp-content/uploads/2021/01/Prof-Obi-Rektor-Universitas-Widyatama-Bantuan-Korban-Longsor-Cimanggung-Sumedang-300x225.jpg Akmal tinggal bersama kedua orangtua dan adik perempuannya di Perumahan Alam Asri, Desa Sindangpakuan, Kecamatan Cimanggung. Akmal merupakan korban selamat akibat longsor susulan di Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang. Ia anggota Pramuka Penegak dan Dadang Kusnadi, ayahnya, adalah Sekretaris Kwartir Pramuka Ranting Cimanggung turut serta menjadi relawan, membantu mengevakuasi korban longsor di daerah Desa Bojongkondang, Kecamatan Cimanggung, Sabtu (9/1/2021).

Ia dan ayahnya membantu puluhan aparat dan tim SAR. Sejumlah rumah dan beberapa warga tertimbun longsor setelah hujan lebat di Cimanggung.

Dadang Ayahanda Akmal adalah pembina mahir dan pernah mengikuti kursus instruktur SAR.

Namun naas saat mencari korban longsoran Akmal dan ayahnya menjadi korban tertimpa material longsoran. Bahkan Dadang ayahanda Akmal menjadi salah satu korban jiwa yang tertimbun longsoran susulan di wilayah itu. Ayahanda Akmal tertimbun tanah dan jenazahnya diketemukan hari Rabu (13/1/2021).

Akmal sendiri mengalami luka-luka di  bagian kepala, kaki dan tangan, karena terbentur batu dan baja ringan terdampak longsor. Kini kondisinya semakin membaik. “Mudah-mudahan beasiswa yang diberikan bermanfaat buat Akmal untuk melanjutkan jenjang pendidikan ke perguruan tinggi dan jalan meraih cita-citanya. Alhamdulillah saya bersama Pak Djoko – Ketua Yayasan Widyatama menyerahkan dan melihat langsung kondisi Akmal. Luar biasa dengan jiwa heroik Akmal yang masih remaja turut serta menjadi relawan. Itu merupakan modal bagi dirinya untuk menjadi orang sukses, tabah dan semoga lekas sembuh” kata Prof. Obi.

Pada kesempatan itu pihak Universitas Widyatama juga menyerahkan bantuan sembako untuk warga terdampak dan uang tunai. Diserahkan langsung ke Camat Cimanggung, di Kantor Kecamatan Desa Cimanggung.

Rektor Universitas Bhakti Kencana Kunjungi UTama

Entris Rektor Universitas Bhakti Kencana Sengaja Mengunjungi Universitas Widyatama Kampus Swasta Ketiga Terbaik Di JabarKiri ke kanan: Dr. Entris Sutrisno, MH. Kes., Apt, Rektor Universitas Bhakti Kencana, Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, S.Ip., M.Si., Rektor UTama, Roeshartono, ST., MCEM., MBA., Sekretaris Yayasan Widyatama dan Dr. H. Deden Sutisna, M.Si., Warek II UTama

 

Rektor Universitas Bhakti Kencana – Bandung, Dr. Entris Sutrisno, MH. Kes., Apt bersama para wakil rektornya berkunjung ke Universitas Widyatama (UTama). Melakukan studi banding Selasa (2/2/2021) lalu. Bersama jajarannya ia berkeliling melihat berbagai fasilitas di UTama, dari mulai gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) yang memiliki sarana untuk basket, futsal, bulu tangkis, boxer, tae kwon do, fitnes, perkantoran biro mahasiswa serta auditorium internasional. Juga Perpustakaan UTama yang telah memiliki akreditasi A, termasuk berkunjung ke gedung Fakultas Teknik dan gedung lainnya.

Entris memaparkan bahwa melakukan kunjungan studi banding, sekaligus melakukan penjajagan kerjasama ke arah yang lebih serius. Terutama dalam proses pengelolaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di UTama. “Saya sengaja datang langsung, ingin belajar ke kampus Universitas Widyatama, prodinya banyak yang telah memiliki akreditasi A. Ingin meniru UTama, karena Universitas Bhakti Kencana adalah universitas baru, jadi masih dalam tahap belajar. seperti Widyatama,” imbuhnya.

Ia pun menjelaskan kunjungan ke UTama merupakan yang kedua. Pada kunjungan sebelumnya, lingkup pertemuan hanya sebatas Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bhakti Kencana dengan LPPM UTama, terkait penelitian. Sekarang lingkupnya lebih luas. Selaku Rektor ingin mengetahui secara global bagaimana proses kerjasama tersebut bisa dilanjutkan. Tidak hanya dalam hal penelitian saja, tetapi bagaimana proses pengelolaan kerjasama, pengelolaan perguruan tinggi dan lainnya,” papar Entris. Rencana ke depan pihaknya akan melakukan proses pendampingan Universitas Bhakti Kencana oleh UTama, agar bisa selaras, melakukan MoU ditindaklanjuti dengan MoA.

Pada kesempatan yang sama Prof. Obsatar Sinaga menyatakan sangat senang dengan kunjungan Rektor Universitas Bhakti Kencana berserta jajarannya, dan dengan tangan terbuka UTama siap berbagi pengalaman dan ilmu dalam mengelola perguruan tinggi.

UTama memberlakukan metode pembelajaran full online untuk seluruh mata kuliah dan mahasiswa dapat mengakses materi perkuliahan, discussion board melalui forum diskusi, chatroom serta mengakses tugas kuliah yang diberikan dosen,” paparnya.

Para dosen UTama pun, dipacu untuk lebih kreatif dalam memberikan materi pembelajaran secara online, yaitu dengan membuat pembelajaran dalam bentuk tutorial yang di-upload di YouTube, memaksimalkan penggunaan google classroom, WhatsApp Group, dan aplikasi video conference sepertinya zoom.

Rektor UTama pun menjelaskan mengenai pentingnya menulis penelitian bagi para dosen dan mahasiswanya yang dipublikasikan pada jurnal internasional, terindeks Scopus. Termasuk membantu mempublikasikan artikel penelitian dosen Universitas Bhakti Kencana, karena ia memiliki personal garansi terhadap chief editor di Eropa dan Amerika Serikat.

Sampai saat ini UTama telah menerbitkan 1.373 artikel terindeks Scopus, dengan jumlah dosen 272 orang. Universitas Widyatama ditunjuk oleh LLDIKTI IV menjadi supervisi bagi perguruan tinggi lain di Jabar Banten. Terbaru ranking UTama versi Webometrics yang baru diliris beberapa hari lalu, menduduki peringkat 3 di Jabar di bawah Telkom University dan Universitas Parahyangan. Sedangkan secara nasional berada di posisi ke-55.

 

UTama Duduki Ranking ke-55 Perguruan Tinggi Nasional

Universitas Widyatama Bandung Kampus Berbasis Riset Menduduki Ranking ke-55 Perguruan Tinggi Ternama NasionalProf. Dr. H. Obsatar Sinaga, S.IP., M.Si., Rektor Universitas Widyatama

Universitas Widyatama/UTama di bawah kepemimpinan Prof. Obsatar Sinaga terus menunjukan prestasi. Kampus UTama, terus dipacu agar bisa menjadi kampus berbasis riset. Di mana 272 dosen dan belasan ribu mahasiswanya, didorong melakukan berbagai penelitian dan menulis jurnal internasional. Salah satu parameter capaian prestasi itu diukur dari perankingan perguruan tinggi, baik yang dilakukan oleh Ditjen Dikti maupun Webometrics.

Pada tahun 2020, dalam perankingan Ditjen Dikti UTama berada pada peringkat ke-57, sebelumnya pada tahun 2019 berada pada peringkat ke-95. Dari pemeringkatan Webometrics UTama menduduki ranking ke-55 dan ke-3 di Jabar Banten. “Alhamdulillah, Universitas Widyatama terus mencatat berbagai prestasi. Kamis (5/2/2021) lalu. Namun kami masih harus meningkatkan kualitas. banyak hal harus diperbaiki termasuk pelayanan, dan juga prestasi kegiatan mahasiswa, penelitian, karena dan pengabdian masyarakat,” imbuhnya.

Menurutnya UTama sebetulnya tidak menyiapkan perankingan untuk Webometrics, namun untuk menyiapkan pemeringkatan Dikjen Dikti yang sebelumnya bernama namanya Ristek Dikti. “Pemeringkatan Webometrics tidak terlalu jauh dengan Dikti, dan biasanya simultan dengan ranking Dikti,” paparnya.

WIBEST 2021 UTama

Menjadi Salah Satu Platform Penelitian Bermutu Dan Bermanfaat Untuk Masyarakat

Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, S.Ip., M.Si., Rektor Universitas Widyatama

Universitas Widyatama/UTama menggelar ajang Widyatama International Conference on Business, Economics, Social and Technology (WIBEST) 2021.  Konferensi internasional mengenai paper hasil penelitian para dosen yang akan dipublikasikan di jurnal internasional terindeks Scopus.

Sekitar 104 paper penelitian yang masuk pada kegiatan konferensi internasional WIBEST 2021. Dalam 1 paper sedikitnya ada tiga dosen yang berkolaborasi menulis. Apabila dijumlahkan sekitar 300-dosen yang terlibat. Pesertanya dari Kanada, Maroko, Thailand, Malaysia, Taiwan termasuk Indonesia. WIBEST 2021 dilangsungkan secara daring melalui aplikasi zoom meeting, Rabu, tanggal 9 Februari 2021 lalu.

Alasan UTama menggelar WIBEST 2021, karena adanya aspirasi dari luar civitas academica kampus UTama, termasuk internal kampus Widyatama.

Sebelumnya UTama, telah menggelar The 3rd International Conference of Business, Policy And Social Sciences 2020 (14-15 Oktober 2020). “Mereka menghendaki UTama menggelar seminar internasional kembali.  “Kebetulan Universitas Widyatama memiliki kerjasama yang baik dengan para chief editor di mancanegara (Amerika Serikat dan Eropa).

Pada kesempatan yang sama Prof. Dr. Mohd. Haizam Bin Mohd. Saudi, Wakil Rektor III, Bidang Riset, Pengembangan dan Kerjasama UTama, menambahkan paper yang sudah di-submit lalu dipresentasikan oleh para peserta yang dilakukan secara pararel session. Papernya mengenai sosial ekonomi dan lainnya. Setiap peserta diberi kesempatan 10 menit memaparkan isi penelitian tersebut. Kemudian dibahas dan dikomentari para peserta lainnya, untuk memberikan penjelasan lebih lanjut. Termasuk ada peninjauan kembali dari  UTama dan komite yang menilai paper yang sudah masuk. Mereka akan menilai kualitas isi paper, kesimpulan, cara, manfaat terhadap dunia industri dan dunia akademik, setelah adanya temuan-temuan, yang dilakukan dalam penelitian.

https://majalahsora.com/wp-content/uploads/2021/02/Prof-Haizam-WIBEST-2021-Universitas-Widyatama-300x225.jpgProf. Dr. Mohd. Haizam Bin Mohd. Saudi, Wakil Rektor III, Bidang Riset, Pengembangan dan Kerjasama UTama

“Peserta ada yang memaparkan tentang keadaan perekonomian masyarakat di Jawa Barat, karena terdampak pandemi. Cara mengatasi yang efektif harus diteliti dan dibahas oleh peserta. Hasil temuan itu apa dampaknya untuk masyarakat. Jadi kami bisa menilai keefektifan dan solusi bagi masyarakat. Apakah papernya memiliki kualitas atau tidak,” paparnya. Setelah proses itu dilalui, akan diserahkan ke pihak editor, untuk diedit lagi.

“Untuk Letter of Acceptance (LoA) kurang lebih memakan waktu selama dua minggu. Sedangkan untuk publikasi pada jurnal internasional terindeks Scopus, perlu waktu antara satu sampai tiga bulan ” jelasnya. Terkait kegiatan WIBEST 2021 yang diikuti oleh lebih dari 300-an dosen, menurutnya hal itu di luar dugaan UTama. “Karena ini awal tahun, biasanya dosen-dosen menulis pada pertengahan tahun atau akhir tahun. Awal tahun dampak yang diterima dosen di Widyatama dan luar Widyatama itu amat bagus sekali. Mereka sadar di masa pandemi, harus tetap menulis untuk peningkatan jabatan fungsional (jafung) nya,” jelas Prof. Haizam.

UTama Raih Penghargaan LLDIKTI IV

WhatsApp Image 2021 02 18 at 08.40.17 1024x768 - Berkat Kerja Keras Universitas Widyatama Kembali Menyabet Penghargaan Kampus Ternama Universitas Widyatama di awal tahun ini meraih peringkat ke-4 kategori  bergengsi Perguruan Tinggi  Klaster Tebaik bentuk Universitas dan Institut, pada Anugerah Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV, tahun 2021. Penganugerahan dilangsungkan di Hotel Aston Cirebon & Convention Center, Cirebon, pada Rabu, 17 Februari 2021 lalu.

Penghargaan diberikan langsung oleh Kepala LLDIKTI Wilayah IV Prof. Dr. Uman Suherman, AS. Ada 11 kategori yang diberikan LLDIKTI Wilayah IV, sementara di bawah naungan LLDIKTI IV ada sekitar 456 perguruan tinggi. Prof. Uman mengatakan, bahwa penghargaan tersebut merupakan sebuah apresiasi dari LLDIKTI Wilayah IV terhadap perguruan tinggi yang memiliki prestasi. Baik yang menyangkut perankingan, penelitian, sertifikasi dosen, termasuk dengan hal-hal yang berkaitan dengan kualitas.

Pada kesempatan tersebut Prof. Obsatar Sinaga Rektor Universitas Widyatama/UTama mengatakan, bahwa capaian tersebut merupakan salah satu bentuk kepercayaan masyarakat kepada UTama.

WhatsApp Image 2021 02 17 at 21.59.12 1024x768 - Berkat Kerja Keras Universitas Widyatama Kembali Menyabet Penghargaan Kampus TernamaKiri ke kanan: Djoko S. Roespinoedji, S.E., PG., DIP., Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, S.Ip., M.Si dan Prof. Dr. Mohd. Haizam Bin Mohd. Saudi

Capaian itu pun tidak terlepas dari Yayasan Widyatama yang selalu mendukung seluruh kegiatan serta program UTama. Sementara itu, Djoko Roespinoedji, Ketua Yayasan Widyatama sangat mengapresiasi capaian UTama itu.

Perguruan tinggi lain dengan peringkat Klaster Terbaik Bentuk Universitas dan Institut, Anugerah LLDIKTI, tahun 2021 adalah : Universitas Telkom, Universitas Katolik Parahyangan, Universitas Islam Bandung, Universitas Widyatama, Institut Teknologi Nasional Bandung, Universitas Djuanda, Universitas Pasundan, Universitas Presiden, Universitas Komputer Indonesia, Universitas Kristen Maranatha, Universitas Pembangunan Jaya, Universitas Pamulang. (UTama 17 Feb 2021)

UTama Peringkat “TOP 3” Perguruan Tinggi Terbaik Se-JABAR BANTEN

ASDASD 1024x1024 - Universitas Widyatama Menduduki Peringkat "TOP 3" Perguruan Tinggi Terbaik Se-JABAR BANTEN Universitas Widytama/UTama versi Webometrics yang baru diliris beberapa waktu lalu, menduduki peringkat 3 perguruan tinggi swasta terbaik di Jabar.

Webometrics memberikan peringkat pada perguruan tinggi baik negeri maupun swasta berdasarkan empat indikator yakni ‘presence’, ‘visibility’, ‘transparency’, dan ‘excellence’.

Prestasi lain yang telah dicapai UTama yaitu: Ranking ke-55 dari 4.682 perguruan tinggi negeri swasta versi Ristek Dikti; Ranking ke-48, program SIMKATMAWA (bidang kemahasiswaan); Juara dunia ke-2, kegiatan Internasional Converence and Exposition on Inventions by Institutions of Higher Learning, Kementerian Pendidikan Malaysia.

Enam prodi mendapatkan akreditasi internasional dengan nilai “Premium” atau A dari ASIC (Accreditation for International Schools, College and Universities) Inggris, UTama mendapat penghargaan Presidential Award dari International Council for Small Business, category Research and Academician; Mendapatkan lima penghargaan MURI, salah satunya Job Fair Online Terlama dan prestasi lainnya. (UTama 03 Feb 2021)

Dosen FEB UTama Lakukan Literasi Pemulihan Ekonomi Nasional Masa Pandemi

Masa pandemi, survey tim dosen FEB UTama menemukan kecenderungan kekhawatiran, kecemasan, ketakutkan dan frustasi masyarakat menghadapi pandemi Corona Virus Disease-2019 (Covid-19). Pandemi yang melanda dunia ini sangat berdampak pada berbagai sektor: kesehatan, perekonomian, pendidikan, pariwisata, transportasi dan masih banyak lagi. Berbagai persoalan hidup pun hadir akibat dari pandemi tersebut.

Pemerintah telah menggulirkan berbagai upaya menanggulangi Pandemi sekaligus melakukan pemulihan ekonomi nasional. Dalam rangka partisipasi dosen FEB UTama menyelenggarakan webinar Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) menghadirkan narasumber Candra Fajri Ananda – Staf Khusus Menteri Keuangan RI, dan Sotarduga Napitupulu – Direktur Pengawasan OJK. Literasi disampaikan kepada seluruh mahasiswa S1, S2, S3, dosen dan pelaku ekonomi terkait program pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19, pada Sabtu, 19 Desember 2020 lalu.

“Ekonomi dunia yang tumbuh positif hanya Tiongkok dan Vietnam. Kunci keluar dari dampak pandemi Covid19 adalah disiplin” ungkap Candra pada kurang lebih 300 peserta webinar. “Sisi demand global sangat ditentukan perkembangan kasus Covid-19, terutama di negara-negara berpenduduk terbesar seperti China, India, AS, Indonesia dan Brazil. Konsumsi global diproyeksi mulai pulih namun akan ditentukan muncul atau tidaknya second wave” tambahnya.

Sementara, pemulihan permintaan domestik diprediksi lebih cepat dari ekonomi global. Menurut panel of Experts survey oleh UN World Tourist Organization (UNWTO) menyimpulkan bahwa pemulihan ekonomi mulai terjadi pada kuartal akhir 2020 dan semakin kokoh pada 2021 sehingga perlu optimisme yang dibangun agar mampu keluar dari pandemi ini.

Sotarduga Napitupulu – Direktur Pengawasan OJK menerangkan selama ini OJK telah melakukan banyak tindakan terkait upaya pemulihan ekonomi akibat Pandemi Covid-19, terutama yang memberi manfaat bagi sektor riil agar dapat bertahan, diantaranya relaksasi kredit. OJK juga mendukung program pemerintah dengan mengatur penempatan dana, likuiditas yang diberikan pemerintah ke Himbara/ Himpunan Bank Negara, BPD dan Lembaga Syariah, serta mendukung program subsidi bunga.

Diingatkan, masyarakat perlu memproteksi diri dari tawaran investasi ilegal yang menjanjikan keuntungan yang tidak wajar dalam waktu cepat. Layanan konsumen OJK melalui Whatsapps 081 157 157 157 tetap berjalan, meskipun kebijakan work from home (WFH) diberlakukan. Menurut Sotarduga ada tiga pertanyaan utama yang sering ditanyakan dalam layanan konsumen ini, yakni: kebijakan stimulus perekonomian, restrukturisasi, dan komplain. Konsumen dimohon untuk memahami dan bisa mengantri seiring dengan meningkatnya layanan konsumen OJK.

Pemateri lain yaitu Gusni, Lia Amaliwiati, Siti Komariah dan Eristi Minda menyampaikan bahwa dengan semangat optimis kita semua harus bergotong-royong dan burden sharing agar mampu bertahan sekaligus recovery sosial ekonomi. Selalu ingat 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Karena pemulihan ekonomi sangat bergantung dengan kinerja sektor kesehatan. Kesehatan pulih, ekonomi bangkit, melindungi diri dan melindungi negeri, ucap Devy Mawarnie – dosen FEB Widyatama. selaku moderator menutup webinar. (UTama, 22Des2020)

Wi-can UTama Diikuti PT Mancanegara, UTama Raih Juara Umum

Prof Uman Kepala LLDIKTI Wilayah IV Wi can 1 1024x422 - Wi-can Ajang Kompetisi Inovasi Internasional Universitas Widyatama Banyak Diikuti Oleh Perguruan Tinggi Mancanegara Dan Dalam Negeri Universitas Widyatama kembali menggelar ajang Widyatama International Innovation and Academic Competition (Wi-can) bagi mahasiswa termasuk pelajar. Tahun 2020 ini merupakan tahun yang kedua, sebelumnya dihelat tahun 2019. Karena dalam kondisi pandemi, ajang dilangsungkan daring atau online, melalui video converence.

Meskipun begitu, tidak menghalangi para peserta turut serta mengikuti ajang Wi-can. Malah jumlah pesertanya semakin melonjak, baik peserta dari mancanegara maupun dalam negeri.

Prof. Dr. Uman Suherman, AS, M.Pd., Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jabar Banten

 

Pada ajang tersebut hadir beberapa pembicara: Prof. Dr. Thomas Suyatno, Ketua Umum Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABP-PTSI), Dr. Ir. Puji Winarni M.A., Sekretaris Utama pada Badan Standardisasi Nasional (BSN), Prof. Dr. Ir. Eddy Jusuf, M.Si., M.Kom., Ketua APTISI Jabar, serta Prof. Dr. Uman Suherman, AS, M.Pd., Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jabar & Banten.

Menurut Prof. Obsatar – Rektor Universitas Widyatama/UTama ajang Wi-can diharapkan menjadi salah satu standar untuk perhitungan pemeringkatan perguruan tinggi di Indonesia. “Makanya Wi-can kedua menjadi semakin banyak pesertanya. Karena mereka merasakan hal itu masuk dalam perhitungan peringkat perguruan tinggi, salah satunya adalah inovasi. Kegiatan seperti ini agak sulit apalagi di masa pandemi. Sehingga dikhawatirkan perguruan tinggi tidak memiliki ajang untuk melakukan kompetisi, yang sifatnya intelectual scientific, oleh Widyatama dibuatlah wadahnya, melalui Wi-can”.

Wi-can bertujuan untuk merumuskan standar tertentu dan kriteria yang akan meningkatkan kreativitas dan produktivitas di kalangan mahasiswa di perguruan tinggi termasuk jenjang SMA, SMK, MA. Terlebih pada era industri atau revolusi 4.0 yang membutuhkan kreativitas yang tinggi dalam hal inovasi teknologi dan bidang terkait TI lainnya seperti IOT/internet of things, serta big data.

Inovasi membutuhkan pengetahuan dan untuk mendukung ide, para pelaku industri membutuhkan perencanaan baik, dan membutuhkan masukan dari akademisi serta pemangku kepentingan lainnya. “Jadi, implementasi dan evaluasi setiap strategi harus dilakukan dengan baik oleh industri untuk memastikan kesuksesan. Oleh karena itu, acara ini diharapkan dapat menjadi titik awal mahasiswa dan siswa untuk bertukar ide, mempromosikan pemahaman yang lebih baik tentang lingkungan saat ini dan akan tercipta solusi yang lebih baik untuk kemaslahatan masyarakat,” jelasnya.

Wican Universitas Widyatama 2020 3 1 1024x600 - Djoko Roespinoedji Bangga Universitas Widyatama Keluar Sebagai Juara Ajang Inovasi Internasional Wi-Can Sementara itu, Prof. Dr. Mohd. Haizam Bin Mohd. Saudi, Wakil Rektor III, Bidang Riset, Pengembangan & Kerjasama UTama, yang juga Direktur/Pengarah kegiatan Wi-can tahun 2020 menyatakan Wi-can sangat penting untuk berkembangnya inovasi mahasiswa dari perguruan tinggi termasuk sekolah Menengah.

“Saya berharap Wi-can bisa menjadi ajang yang merangsang kreativitas mahasiswa di berbagai bidang studi dan tentunya akan menjadi platform bagi mereka, untuk menghasilkan ide-ide baru dan memberikan kontribusi yang bermanfaat. Tidak hanya untuk dunia akademis tetapi industri juga. Peserta tahun ini melonjak menjadi sekitar 292 peserta. Tahun 2019, sekitar 100-an peserta dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Indonesia termasuk mancanegara. Peluang juga bagi perguruan tinggi di dalam negeri, melihat produk-produk hasil inovasi yang dipaparkan oleh mereka dari mancanegara, sehingga bisa jadi pembelajaran, pada masa yang akan datang,” terang Prof. Haizam.

Ke-292 peserta tersebut datang dari sekitar 20 perguruan tinggi Malaysia, Kamboja, Myanmar, Taiwan, Timor Leste serta Jerman. Termasuk 60 perguruan tinggi dalam negeri yang berasal dari Sumatera, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan dan Sulawesi. Tahun ini juga tidak sedikit peserta dari SMA, SMK, MA di kabupaten kota yang ada di Jabar bahkan luar Jabar.

Bentuk lombanya dilakukan secara online, dengan konsep menggunakan aplikasi zoom, dinilai oleh juri internasional untuk tingkat perguruan tinggi. Menilai produk-produk yang dipaparkan oleh para peserta.

Di samping itu juga ada pameran produk-produk inovasi dari para peserta, dilakukan secara virtual atau video converence melalui zoom. Produk tersebut merupakan produk inovasi yang di kemudian hari bisa dipergunakan dan dikomersilkan. Apa yang dipaparkan di pameran tersebut akan dipatenkan juga apabila memang bermanfaat untuk halayak umum.

Lebih lanjut ia menambahkan peserta Wi-can mendapatkan banyak hal, termasuk kritikan-kritikan membangun dari para juri, tidak lain untuk meningkatkan manfaat dari produk yang dipamerkan.

“Mereka juga bisa melihat dan memperbaiki produk-produk ataupun layanan yang mereka tawarkan kepada halayak,” kata Prof Haizam.

Pada kesempatan sama Prof. Dr. Uman Suherman – Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jabar Banten menyatakan bangga terhadap UTama menyelenggarakan kegiatan Wi-can bertaraf internasional di tengah pandemi. “Perbedaan yang diusung oleh Widyatama memandang suatu masalah menjadi hikmah,” kata Prof. Uman yang membuka kegiatan Wi-can 2020. Menurutnya ajang itu sangat baik, bisa menunjukkan kemampuan akademik dan keilmuan mahasiswa. Ia pun berharap UTama secepatnya menjadi perguruan tinggi yang unggul dengan akreditasi unggul.

21 jenis lomba dihelat Wi-can dari tanggal 10-12 Desember 2020, yaitu: Widyatama Accounting poster Competition for senior high School, Widyatama International Accounting Paper Challenge, Business Plan Competition on Manufacturing Industry, Business Plan Competition on Service Industry, 3D Design Competition, Mechanical Exhibition, Web Design, Internet of Things, Start-Up Idea for Developing Enterpreneurship, Technology Implementation in the Industrial Revolution Era 4.0, Information Product Design, Photo Competition “Covid 19 Prevention”, Short Movie Competition “Before-After Covid 19”, Poster Competiton “Health Protocol Awareness Campaign”, CV Creative, Auto Cad Competition 2020, Widyatama International Trade Paper Competition (WITPAC) 2020, Poster (Technologies For Millennial Generation), Poster (Effective Material Handling For SMEs), Innovative Product Design For Akb (Adaptasi Kebiasaan Baru) And Support Industry, Startup And SMEs, International Intrumentation & Control Contest II, Instrumentation Control Robotic and Drone Exhibition II, News Anchor, Speech Contest & Japanese News Anchor.

Djoko Roespinoedji Bangga Universitas Widyatama Keluar Sebagai Juara Ajang Inovasi Internasional Wi-CanUTama Juara Umum

Universitas Widyatama/UTama berhasil menjadi juara umum ajang Widyatama International Academic Competitions & Exhibitions (Wi-can) 2020 yang diselenggarakan tanggal 10-12 Desember lalu secara daring. Sebagai juara umum berhasil meraih 5 medali emas, 5 perak dan 3 perunggu.

Juara kedua diraih Universitas Padjadjaran dengan meraih 1 medali emas dan 1 perak. Sedangkan juara ketiga diraih STBA JIA Bekasi dengan meraih 2 medali perak dan 1 perunggu.

Wi-can menggelar sekitar 21 mata lomba dan pameran produk inovasi termasuk lomba untuk jenjang SMA, SMK dan MA.

Ketua Yayasan Widyatama, Djoko S. Roespinoedji, S.E., PG., DIP. bangga atas capaian UTama menjadi juara umum pada ajang internasional tersebut. Kegiatannya juga berjalan sukses dan lancar. Event Wi-can Internasional mencakup inovasi dan kreativitas, sekaligus memberikan inspirasi, inovasi yang kedepannya menjadi model yang bisa dikembangkan. Di samping itu kelak menjadi bagian dari kemajuan teknologi, khususnya perguruan tinggi di Indonesia.

Dr. Muh. Rozahi Istambul, M.Kom., S.T., Ketua Pelaksana Wi-can, tahun 2020

Dr. Muh. Rozahi Istambul, Ketua Pelaksana Wi-can, menambahkan bahwa kegiatan Wi-can tahun 2020 sangat jauh dibanding tahun lalu, perlombaannya diperbanyak begitu juga pesertanya semakin bertambah, ada sekitar 292 peserta. Hampir tiga kali lipat. Modelnya juga berbeda, melalui video converence karena sedang pandemi. Namun jumlah peserta justru membludak” katanya. (UTama, 14Des2020)

Kerjasama ICMI dan UTama

Gelar Seminar Peluang Industri Kreatif Jabar Di Bosnia Herzegovina

Prof Najib Ketua ICMI Jabar Seminar Internasional ICMI dan Universitas Widyatama 1024x585 - ICMI Bekerjasama Dengan Universitas Widyatama Menggelar Seminar Peluang Industri Kreatif Jabar Di Bosnia Herzegovina The 1st International Seminar Collaboration Between Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) West Java & Widyatama University dihelat di Gedung Serba Guna Universitas Widyatama/UTama, Kamis (3/12/2020) lalu. Seminar bertema “Relation Between Indonesia & Bosnia Herzegovina in Developing & Innovative Economy in West Java”.

Ketua ICMI Orwil Jabar Prof. Dr. Mohammad Najib

Pada kesempatan itu Ketua ICMI Orwil Jabar Prof. Dr. Mohammad Najib menjelaskan bahwa kerjasama antara ICMI Jabar dan Universitas Widyatama/UTama memang sudah terjalin lama. Sebab menurut Najib UTama merupakan perguruan tinggi yang mengedepankan research, sehingga kerjasamanya banyak mengenai kajian-kajian dalam bentuk seminar hasil dari penelitian.

“Seperti sekarang ini, di samping seminar pengembangan industri kreatif hubungan kerjasama dengan Bosnia Herzegovina, juga dilakukan konferensi tentang core paper. Jadi hasil-hasil research ini kita seminarkan. Ada 90 paper hasil research diseminarkan,” ujar Najib.

Dia mengungkapkan kerjasama ini melalui Kedutaan Besar Indonesia, lebih kepada industri kreatif. Tema ini diminta oleh Roem Kono, Duta Besar (Dubes) Bosnia Herzegovina, bagaimana industri ekonomi kreatif dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Jabar bisa dikembangkan ke Bosnia Herzegovina serta bisa melanglangbuana.

“Makanya narasumbernya Pak Roem Kono Dubes Indonesia untuk Bosnia Herzegovina, sasaran kita bagaimana industri kreatif dan UMKM yang ada di Jabar bisa dikembangkan di Bosnia,” ucap Najib.

Lebih lanjut ia mengatakan dari 90 paper yang dikembangkan adalah penelitian dari berbagai topik dan dari berbagai aspek dan disiplin ilmu. Seperti ilmu sosial, ekonomi, pendidikan, politik, agama, budaya dan lainnya. Paper tersebut sudah mendapat Letter of Acceptance (LoA) untuk diterbitkan di jurnal internasional terindek Scopus. Universitas Widyatama Seminar Internasional ICMI 1024x623 - ICMI Bekerjasama Dengan Universitas Widyatama Menggelar Seminar Peluang Industri Kreatif Jabar Di Bosnia Herzegovina Adapun, para penulis paper tersebut merupakan para dosen dari UIN Sunan Gunung Djati, UPI, ITB, UNISBA, UNPAD, UTama dan lainnya.

Sementara itu, Rektor UTama Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga menambahkan Dubes Bosnia untuk Indonesia akan meningkatkan kerjasama dalam hal pendidikan.

“Sebetulnya kami (UTama) sih, sudah ada mahasiswa dari Bosnia, saya pernah membimbing mahasiswa dari Bosnia. Ke depannya, tergantung, UTama kan salah satu yang dipilih, karena memiliki andalan dalam publikasi jurnal internasional,” ucapnya.

Kegiatan seminar internasional itu, hadir sebagai Pembicara Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Barat, Atalia Praratya Kamil, istri Gubernur Jabar.  (UTama, 10Des2020)

Sebagai Pengurus Kwarda Jabar,

Djoko Roespinoedji Akan Menumbuhkan UKM Pramuka Di Perguruan Tinggi

Atalia Ridwan Kamil resmi dilantik menjadi Ketua Kwartir Daerah Jawa Barat (Kwarda Jabar) beserta jajaran pengurus Kwarda Jabar masa bakti 2020-2025, termasuk Djoko Roespinoedji, Ketua Yayasan Widyatama sebagai Wakil Bendahara.

Mereka dilantik oleh Ketua Majelis Pembimbing Daerah (Mabida) di Youth Center Arcamanik, Bandung bertepatan dengan hari Pahlawan Nasional, Selasa (10/11/2020) lalu.

Kegiatan pelantikan dilangsungkan dua sesi pelantikan, secara berurutan. Sesi pertama pelantikan jajaran Mabida oleh Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Mabida berisi para pejabat eselon II Pemerintah Daerah Provinsi Jabar, unsur Forkopimda, serta lembaga lain. Dalam musyawarah daerah di Bogor tanggal 6 -7 Oktober, Atalia terpilih sebagai Ketua Kwarda baru, menggantikan Dede Yusuf yang telah menjabat dua periode. Atalia adalah pucuk pimpinan Kwarda Jabar ke-13 dan perempuan pertama yang menjadi Ketua Kwarda.

Di tahun 2017, Jabar pernah mencatat sebagai provinsi dengan anggota pramuka terbesar di Indonesia. Kala itu tercatat sekitar 6,1 juta anggota pramuka tersebar di 27 Kwartir Cabang. Sekitar 5,8 juta anggota merupakan siswa sekolah, dan 323 ribu anggota dewasa. Namun kini anggotanya 4,5 juta orang. Oleh sebab itu Atalia bertekad mengembalikan gerakan pramuka di Jabar menjadi yang terdepan di Indonesia.  Kehadirannya harus benar-benar dirasakan masyarakat terutama saat pandemi Covid-19.

Ada enam misi Pramuka Jabar Juara Lahir Batin yang dicanangkan, pertama memperkuat marwah pramuka pembentukan karakter, akhlak, dan budi pekerti; kedua, inventarisasi dan optimalisasi aset pramuka; ketiga, internalisasi semangat silih asih, asah, asuh dengan mengedepankan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi; keempat, adaptasi gerakan pramuka pada situasi kekinian; kelima, meningkatkan kolaborasi dengan akademisi, bisnis, komunitas, pemerintahan, serta media; dan keenam, berperan aktif menjawab masalah bangsa.

Wakil Bendahara Kwarda Jabar periode 2020-2025, Djoko Roespinoedji, yang juga Ketua Yayasan Widyatama yang juga Bendahara Asosiasi Badan Pengelola Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABPTSI) Jabar dan Pusat mengemukakan ia berkewajiban memberikan kontribusi dalam mendirikan unit kegiatan mahasiswa (UKM) Pramuka di UTama, juga akan menularkan kepada perguruan tinggi lainnya untuk mendirikan UKM Pramuka di masing-masing kampus yang ada di Jabar.

Saya diminta oleh tokoh-tokoh Pramuka Jabar untuk membantu Bu Atalia Kamil, Ketua Kwarda Jabar agar Pramuka di perguruan tinggi memiliki peran penting di masyarakat, terang Djoko.

Peran strategis Pramuka di kampus, menurut Djoko sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Setelah berdiri UKM Pramuka di kampus-kampus, ke depan harus menjadi agen perubahan bagi masyarakat melalui kemampuan intelektualnya karena memiliki ciri khusus dan berbeda dengan Pramuka komunitas atau teritorial yang lainnya. Menurut Djoko Pramuka kampus perannya menitik beratkan kepada problem solver masyarakat dan sebagai agen penggerak pembangunan. Misi tersebut sesuai dengan konsep Tribina dalam pendidikan kepramukaan, yakni bina diri yakni meningkatkan skill, bina satuan yaitu mengelola kader satuan Pramuka, dan bina masyarakat adalah berbakti kepada masyarakat,” jelasnya. (UTama, 10 Nov 2020)

UTama Tercatat Menjadi Kampus Ternama Di Bandung

 

Universitas Widyatama/UTama tercatat menjadi salah satu kampus ternama di Kota Bandung. Hal itu berdasarkan dari rilis Webometrics yang di keluarkan bulan Juli 2020, lalu.

Landasan penilaiannya, yaitu: presence (5%), visibility impact (50%), openness (10%), dan excellence (35%).

Penilaian berdasarkan Presence  adalah jumlah halaman web host dalam web domain utama (termasuk semua subdomain dan direktori) dari universitas yang diindeks oleh mesin pencari Google. Penilaian tersebut menghitung setiap halaman web, termasuk semua format yang diakui secara individual oleh Google, termasuk halaman statis dan dinamis dan selain rich files.

Berikutnya Visibility Impact adalah kualitas konten dievaluasi melalui “virtual referendum” dengan menghitung semua external inlinks yang diterima oleh web domain universitas dari pihak ketiga. Link tersebut mengakui prestise institusional, kinerja akademik, nilai informasi, dan kegunaan dari layanan seperti yang diperkenalkan dalam halaman web sesuai dengan kriteria jutaan web editor dari seluruh dunia. Data visibilitas link dikumpulkan dari dua provider informasi yaitu Majestic SEO dan ahrefs. Keduanya menggunakan crawler sendiri, menghasilkan database yang berbeda yang digunakan bersama-sama untuk saling melengkapi atau memperbaiki kesalahan. Indikatornya adalah produk dari jumlah backlink dan jumlah domain yang berasal dari backlink tersebut, sehingga tidak hanya penting popularitas link tetapi juga keragaman link.

Sedangkan Openness merupakan jumlah file dokumen Adobe Acrobat (.pdf), Adobe PostScript (.ps, .eps), Microsoft Word (.doc,.docx) and Microsoft Powerpoint (.ppt, .pptx) yang online/open di bawah domain website universitas yang tertangkap oleh mesin pencari (Google Scholar).

Terakhir Excellence merupakan jumlah artikel-artikel ilmiah publikasi perguruan tinggi yang bersangkutan yang terindeks di Scimago Institution Ranking dan di Google Scholar.

Daftar perguruan tinggi ternama di Kota Bandung, menurut Webometrics tahun 2020: 1. Institut Teknologi Bandung, 2. Telkom University, 3. Universitas Pendidikan Indonesia, 4. Universitas Padjadjaran, 5. Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, 6. Universitas Katolik Parahyangan,
7. Universitas Widyatama, 8. Universitas Islam Bandung, 9. Universitas Pasundan, 10. Institut Teknologi Nasional. (UTama, 10 Nov 2020)

ICBPS 2020 Mampu Kolaborasikan Akademisi Dan Dunia Industri

Prof. Dr. Uman Suherman Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV Jabar dan Banten memaparkan bahwa para akademisi dan dosen adalah ilmuwan yang sangat berkaitan erat dengan kemajuan dunia industri di tanah air, terlebih di era digital. Termasuk bagaimana kampus bisa menjalin kedekatan dengan dunia industri itu sendiri. Karena menurutnya segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia industri, seperti cara berpikir serta pola pikir, dihasilkan oleh para akademisi, melalui penelitian-penelitian yang ada.

Hal itu ia paparkan usai menjadi keynote speaker pada kegiatan konferensi internasional secara daring yang dihelat oleh Universitas Widyatama/UTama, Rabu, tanggal 14 Oktober 2020 lalu. Event bernama International Conference on Business Policy and Sciences (ICBPS) ketiga ini berlangsung hingga tanggal 15 Oktober 2020.

Dengan kajian-kajian itu memungkinkan untuk membuat sebuah regulasi bagi ekonom-ekonom yang ada di tanah air. “Dunia bisnis tidak akan berjalan tanpa ilmu. Sebaliknya tidak bisa mengkaji ilmu tanpa ada praktek. Oleh sebab itu mendekatkan dunia akademik dengan industri menjadi sebuah keharusan,” kata Prof. Uman, di kampus UTama, Bandung.

ICBPS Universitas Widyatama Bandung 1024x569 - Resmi Digelar, ICBPS 2020 Mampu Kolaborasikan Akademisi Dan Dunia Industri “Regulasi pertama para dosen melakukan Tri Dharma perguruan tinggi. Yang kedua kebijakan kampus dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh dosen harus bisa dimanifestasikan dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat. Bagaimana pun tingkat relevansi yang ada di kampus bisa mengantisipasi permasalahan yang terjadi di masyarakat. Hal itu bisa dilakukan manakala dosen melakukan penelaahan yang lebih dalam. Seperti sekarang serba digital. Tadi saya paparkan bahwa dulu pedagang itu hanya nagog (nunggu pembeli), terus door to door, kemudian delivery order. Maka sekarang toko bisa saja tutup, tapi bisnis berjalan dengan dunia digital melalui bisnis online. Pertanyaan yang muncul siapa yang mengembangkannya? Bukan orang bisnis melainkan para akademisi yang dimanfaatkan pada dunia industri,” ungkapnya. Lebih lanjut ia mengatakan tinggal bagaimana nanti harus ada kebijakan dari kampus pada saat penelitian yang mengacu kepada kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Tidak terkecuali kebijakan-kebijakan yang ada di pemerintahan, khususnya yang menyangkut ekonomi dan bagaimana penelitian itu dilakukan.

Pada event itu sedikitnya ada sekitar 122 paper dari peserta ICBPS. Paper merupakan hasil penelitian bisnis, manajemen, akuntansi, teknik dan lainnya. Tulisan itu merupakan kolaborasi antara dosen UTama, perguruan tinggi di tanah air serta dosen dari mancanegara, dipublikasikan pada jurnal internasional yang terindek Scopus.

Pada event tersebut selain Prof. Dr. Uman Suherman, hadir Prof. Dr. Norzaidi Mohd Daud, dari Universiti Teknologi MARA, Malaysia menjadi pembicara utama juga. Perguruan tinggi yang turut serta adalah Oxford University (Inggris), Harvard University (Amerika Serikat), IUMW, UiTM dan UPN (Malaysia), University De La Salle Lipa (Philipina), Korea University (Korea Selatan), University of Tokyo (Jepang), ITB, UPI, Mercu Buana, Sangga Buana, Trunojoyo Madura, Unpad, Unpas, UGM, Telkom, dan Brawijaya Malang (Indonesia).

Sementara itu Prof. Obsatar Sinaga, Rektor UTama mengatakan di mancanegara perkembangan dunia industri sudah melewati era 4.0 dan menerapkan Society 5.0, Oleh sebab itu, UTama terus melakukan upaya kolaborasi, antara dunia industri dengan sains. Termasuk menggelar konferensi internasional tahunan ICBPS secara rutin.

Hal itu merupakan upaya mengkolaborasikan dunia industri dengan para sainstis. Ia menambahkan pada event ini dibahas mengenai perkembangan industri saat ini dengan menghadirkan para praktisi, sekaligus membuat penelitian-penelitian yang arahnya pada kolaborasi. UTama membuka pintu selebar-lebarnya bagi perguruan tinggi  yang ingin melakukan kerjasama dan kolaborasi, sekaligus membantu dalam hal publikasinya. (UTama, 14 Okt 2020)

UTama Terima 2300 Mahasiswa Baru TA 2020-2021

2 1024x682 - Atalia Istri Gubernur Jabar Jadi Dosen Universitas Widyatama, UTama Selangkah Lebih Maju Dari Universitas Lainnya

Tahun akademik 2020-2021 Univeristas Widyatama/UTama menerima sekitar 2300 mahasiswa baru untuk jenjang D3, D4, S1 dan S2. Demikian disampaikan Rektor UTama – Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, S. IP., M. Si. usai kegiatan Sidang Senat Terbuka Guru Besar UTama yang berlangsung di Gedung Serba Guna  UTama, Sabtu, tanggal 19 September 2020.

3 1024x682 - Atalia Istri Gubernur Jabar Jadi Dosen Universitas Widyatama, UTama Selangkah Lebih Maju Dari Universitas Lainnya Mereka diterima di lima fakultas, yaitu: Fakultas Ekonomi Bisnis, Fakultas Desain Komunikasi Visual, Fakultas Bahasa, Fakultas Teknik, Sekolah Pasca Sarjana dengan 21 program studi, termasuk prodi baru Perdanganan Internasional, Film dan Televisi, serta Perpustakaan & Sains Informasi.

UTama yang tahun 2020 menduduki ranking ke-57 dari sekitar 4.682 perguruan tinggi negeri swasta terbaik di Indonesia, sangat serius menyiapkan lulusan berkualitas, agar siap bersaing di kancah nasional maupun global. Terlebih untuk menyiapkan generasi emas di tahun 2045. Karena lebih dari 60 % penduduk Indonesia masuk kategori usia produktif.

Dalam tataran teknis, UTama telah berkolaborasi dan bersinergi dengan pemerintah, perguruan tinggi lain serta industri. Agar perencanaan program dan kurikulum termasuk standar pendidikan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Lulusan UTama juga sebisa mungkin bisa cepat lulus, untuk jenjang S1 selama 3,5 tahun dan S2 selama 1,5 tahun. Lulusan UTama akan dibekali sertifikat dari BNSP, LSP serta sertifikat keahlian dari Rektor.

UTama akan menerapkan perkuliahan yang lebih efektif. Mahasiswa dalam satu minggu cukup kuliah selama dua hari. Baik saat pandemi melalui daring, maupun nanti apabila kuliah tatap muka langsung bisa dilaksanakan kembali. Hari lainnya bisa digunakan untuk pengembangan diri sesuai minat bakat para mahasiswanya. “Jadi dalam 1 semester itu 18 SKS, maka tiap satu hari kita upayakan pemberian mata kuliah 9 SKS, dan tiap mata kuliah yang diikuti yakni tiga SKS dimulai pukul 08.00. Kemudian mahasiswa pun bisa memilih perkuliahan yakni Senin dan Selasa, atau Rabu dan Kamis,” terang Rektor.

Tugas akhir mahasiswa di UTama tidak harus berupa skripsi atau tesis tetapi juga bisa berbentuk bisnis plan serta karya ilmiah yang dipublikasikan di SINTA ataupun Scopus.

Atalia – Istri Gubernur Jabar Dosen UTama

5 1024x682 - Atalia Istri Gubernur Jabar Jadi Dosen Universitas Widyatama, UTama Selangkah Lebih Maju Dari Universitas Lainnya Tahun akademik 2020-2021 ini ada yang istimewa di UTama, Atalia Praratya yang menjadi dosen tetap UTama. Atalia yang juga Bunda Literasi Jabar akan mengajar mata kuliah yaitu Public Speaking dan Komunikasi.

Pada Sidang Senat Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru UTama Atalia didaulat menjadi pembicara. Pada paparannya ia berharap agar generasi muda milenial bisa memberikan kontribusi positif di tengah pandemi Covid-19. Dengan media sosial yang mereka miliki bisa menginformasikan hal positif dalam menghadapi pandemi ini. Atalia yang juga istri Gubernur Jabar Ridwan Kamil mencontohkan seperti penerapan protokol kesehatan bagi masyarakat di antaranya penggunaan masker, cuci tangan pakai sabun dan jaga jarak. “Saya hari ini hadir untuk memberikan motivasi kepada mahasiswa baru bagaimana mereka harus mampu menggunakan komunikasi yang efektif dalam menghadapi keadaan saat ini, khususnya di masa pandemi Covid-19. Sekarang banyak berita tentang pandemi Covid-19 sehingga masyarakat perlu diberi konten-konten positif yang bisa dilakukan para mahasiswa,” jelas Atalia.

Ia juga mengajak mahasiswa baru UTama untuk menggerakkan relawan, bahkan mereka juga bisa menjadi peneliti, sebab sudah banyak alat dan teknologi yang dibuat para mahasiswa yang membantu penanganan Covid-19. Ia yakin mahasiswa saat ini sudah banyak berperan membantu dalam menghadapi pandemi Covid-19. (UTama, 21 Sep 2020)

Prodi Teknik Industri UTama Literasi K-3 Masyarakat Binong Jati

WhatsApp Image 2020 09 07 at 12.05.31 - Prodi Teknik Industri Universitas Widyatama Mengedukasi & Membantu Masyarakat Kelurahan Binong Jati Dalam Menerapkan K-3 Sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, Universitas Widyatama/UTama Bandung selalu berupaya untuk menjadikan kampusnya sebagai solusi memecahkan persoalan yang sedang dihadapi masyarakat. Tidak terkecuali di masa pandemi Covid-19.

UTama bergerak cepat membantu pemerintah dalam meringankan beban masyarakat, di antaranya melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) yang diselenggarakan beberapa fakultas, program studi, dan para dosennya.

Prodi Teknik Industri UTama menyelenggarakan kegiatan PkM di Kelurahan Binong Jati, Kota Bandung. Kegiatann dilangsungkan pertengahan bulan Mei 2020. Dikemas dalam bentuk penyuluhan dengan mengambil tema “Pentingnya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Guna Pencegahan Terpapar Covid -19”.

Pada acara tersebut UTama juga memberikan bantuan berupa masker sebanyak 360 buah dan poster tentang cara penggunaan masker serta cuci tangan memakai sabun, 300 lembar.

Kegiatan yang diketuai Dr. Arief Rahmana, ST., MT., CIPMP., dengan anggota para dosen, yaitu : Anita Juraida, ST., MT., Annisa Maharani Suyono, ST., MM., Ayu Endah Wahyuni, ST., MT., dan Rendiyatna Ferdian, ST., MT.

Dr. Arief  memaparkan tujuan kegiatan PkM memberikan pemahaman kepada masyarakat Binong Jati yang umumnya perajin rajutan, mengenai pentingnya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dalam menjalankan setiap aktivitas pekerjaannya agar terhindar dan tertular virus Covid-19. Ia bersama para dosen lainnya berharap dengan kegiatan itu, masyarakat Kelurahan Binong Jati terbantu dan dapat menjalankan protokol kesehatan dan keselamatan kerja (K3) pada saat beraktivitas, terlebih di tengah pandemi.

“Insya Alloh, kegiatan seperti ini terus digalakan, sebagai bentuk tanggung jawab program studi terhadap masyarakat. Juga kami berupaya menjadi bagian solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat. Kami ucapkan terima kasih kepada para dosen, Bapak Lurah, dan masyarakat Kelurahan Binong Jati yang telah membantu terselenggaranya kegiatan ini dengan lancar,” ujar Arief Rahmana, Senin (7/9/2020) lalu.

Sementara itu, Lurah Kelurahan Binong Jati – Pepen Ruspendi, SE., MM., yang menerima langsung bantuan masker dan poster di kantornya, sangat mengapresiasi kegiatan PkM Prodi Teknik Industri UTama.

“Atas nama warga kelurahan Binong Jati, kami mengucapkan terima kasih atas kegiatan PKM ini. Mudah-mudahan dengan kegiatan ini dapat memberikan pemahaman menyeluruh bagi warga kami tentang pentingnya K3, dalam kehidupan sehari-hari, terutama di masa pandemi Covid-19 ,” ujar Pepen. Kami sangat berharap kegiatan PKM seperti ini ke depannya terus berlanjut,” tutup Pepen. (UTama, 09 Sep 2020)

#### 0 ####

Di balik kesuksesan seorang suami tidak terlepas dari peran istri yang hebat. Hal itu diutarakan Prof Obsatar Sinaga, Rektor Universitas Widyatama/UTama saat menjadi Keynote Speaker web seminar (webinar) “Women Leaders and Entrepreneur”, Sabtu (24/4/2021) lalu. Karena itu, peran perempuan tidak bisa dipandang sebelah mata.
Tidak terkecuali sebagai entrepreneur atau pengusaha.

“Wanita sebagai pengusaha bukan sesuatu yang baru. Ketika wanita menjadi entrepreneur dan bussines women, kadang kala dikaitkan dengan status gender. Dibandingkan pria sebenarnya wanita itu seorang negosiator yang baik, sensitif cerdas juga kreatif,” terang Prof. Obsatar.

Sementara, Prof. Umi Narimawati, Guru Besar dari Universitas Komputer Indonesia, Bandung, salah satu pembicara utama mengatakan, bahwa perempuan harus mandiri, hal itu akan membuat ketahanan pangan dalam keluarga. Namun tetap tidak bisa melawan kodrat, sebagai ibu yang mengurus rumah tangga.

Kegiatan webinar yang diselenggarakan oleh Widyatama Business Incubator (WIBI) dalam rangka memperingati Hari Kartini. Keni Kaniawati, Ketua WIBI sekaligus Ketua kegiatan mengatakan webinar adalah kegiatan rutin yang merupakan implementasi program WIBI.

Webinar menampilkan tiga guru besar perempuan sebagai pembicara utama, selain Prof. Umi, Prof. Poppy Yuniawati dari Universitas Pasundan, Bandung dan Prof. Sedarmayanti dari Universitas Dr Soetomo, Surabaya. Webinar menyimpulkan bahwa pengusaha perempuan harus memiliki sikap mandiri, tangguh serta menjadi solusi.

Webinar juga menampilkan pengusaha wanita binaan WIBI yang telah berhasil dalam merambah dunia usaha, Irna Mutiara, desainer busana muslim. “Sepak terjang Irna Mutiara yang merupakan alumni Universitas Widyatama, tidak instan, melalui proses yang memakan waktu panjang. Sengaja dijadikan pembicara untuk memotivasi para peserta. Irna mahasiswa bimbingan kami memiliki background desainer. Saat ini punya sekolah fashion desainer. Banyak juga usaha yang dirintis Irna. Bahkan karyawannya sudah lumayan banyak. Irna juga kini bermitra bisnis dengan artis ternama Indonesia, Dewi Sandra dan Dhini Aminarti. Sedangkan segmen bisnisnya untuk kalangan menengah ke atas.” jelas Keni.

Tidak sedikit start up perempuan yang kini dibina oleh WIBI. Meskipun menurut pengakuan Keni, kehadiran WIBI baru seumur balita. Inkubator bisnis di kampus merupakan hal wajib, sesuai dengan Kementerian-BRIN, dimana kampus wajib memiliki inkubator bisnis, karena ke depan mereka juga akan memperoleh berbagai peluang, tidak hanya pendampingan dana tetapi berbagai materi termasuk dari Kementerian Koperasi dan UMKM. Terutama untuk meningkatkan jumlah wirausaha muda yang kreatif dan inovatif. Tidak terkecuali calon pengusaha perempuan yang bergerak di bidang kuliner, cafe, fashion, kecantikan dan lainnya.

Kemudian Keni menjelaskan bahwa WIBI akan melakukan inkubasi kepada tenant, calon start up atau perusahaan yang baru dirintis, setelah lulus melewati tahap seleksi, selama enam bulan. Setelah itu akan dibuat format perjanjian kontrak antara tenant dengan WIBI, termasuk ditandatangani oleh pihak rektorat, sebagai bakal calon penerima hibah.

“Dalam memilih tenant yang akan diinkubasi oleh WIBI, kata Keni usaha para tenant harus sudah berjalan 60 persen ke atas. Mereka terdiri dari mahasiswa UTama, masyarakat sekitar atau pun para alumni. “Mereka benar-benar diinkubasi. Diberikan training, mentoring, pelatihan, sampai mendapatkan speed capital dan bisa dijadikan spin-off bussines maching. Ke depan, tenant yang ada di WIBI bisa naik ke level lebih tinggi bahkan bisa membantu para calon tenant yang lain. Usahanya apabila bisa berkembang nanti bisa membuka koperasi dari tenant oleh tenant untuk tenant. Inkubator bisnis di kampus Universitas Widyatama, juga membantu pemeringkatan akreditasi kampus,” kata Keni.

Kegiatan WIBI juga didukung oleh PT HIPMI dan Entrepreneur And Innovation Center/EIC UTama yang dikomandani Dr. Meriza Hendri. (UTama, 24/4/21)

Mahasiswa UTama Ikuti Sertifikasi BNSP

Mahasiswa Universitas Widyatama Mengikuti Sertifikasi BNSP Selain mendapatkan ijasah kini lulusan Universitas Widyatama/UTama mendapatkan sertifikasi Lembaga Sertifikasi Profesi Universitas Widyatama yang telah mendapatkan lisensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Ujian pertama telah dilakukan dengan 7 skema sertifikasi, salah satunya sertifikasi MICE yang diujikan pada hari Jumat, 26 Februari 2021 yang langsung diawasi asesor dari BNSP dan dilakukan di Universitas Widyatama.

Total ada 18 skema yang telah siap dilakukan sertifikasi dan akan terus bertambah sehingga semua mahasiswa dari semua jurusan akan dibekali sertifikasi sesuai dengan jurusan, keinginan, serta kemampuan masing-masing mahasiswa sehingga mahasiswa dapat memilih sertifikasi apa yang akan diambil, ujar Wakil Rektor 2 Dr. Deden Sutisna. (Ro Kemahasiswaan. 03 Mar 2021)

Virtual Exibition LKOK

  Biro Kemahasiswaan UTama bekerjasama dengan Pemerintahan Mahasiswa UTama mengadakan kegiatan Virtual Exibition pada hari Sabtu, 6 Maret 2021 lau. Menurut Kepala Biro Kemahasiswaan Pipin Sukandi, kegiatan biasanya dilakukan secara offline karena saat ini masih dalam kondisi pandemi sehingga dilakukan secara daring tanpa mengurangi kualitas kegiatan.

Acara dimaksudkan untuk memperkenalkan seluruh Lembaga Kemahasiswaan dan Organisasi Kemahasiswaan (LKOK) yang ada kepada mahasiswa angkatan 2020. Sampai saat ini mahasiswa angkatan 2020 belum dapat mengunjungi kampus maka kami berikan informasi secara online. Melalui aktivitas ini diharapkan mahasiswa angkatan 2020 dapat mengikuti salah satu dari unit yang ditampilkan dalam kegiatan virtual exibition ini. Kegiatan ini diikuti diantaranya oleh MPM, PEMA, Senat Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa dan seluruh Unit Kegiatan Mahasiswa yang ada di UTama seperti olahrara, seni, pengabdian masyarakat dan keagamaan. (Biro Kemahasiswaan, 08 Mar 2021)

Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin Adakan Webinar

Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin Mengadakan Webinar Pandemi Covd-19 bukan merupakan halangan untuk belajar dan tetap semangat. Inilah yang dilakukan Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin Universitas Widyatama yang tetap belajar dengan menambah pengetahuan dari berbagi sektor. Pada hari Minggu, 7 Maret 2021 lalu Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin menyelenggarakan webinar dengan tema Pembuatan Komponen Part Pesawat Terbang Departemen Machining PT. Dirgantara Indonesia dengan menghadirkan narasumber salah seorang dosen Teknk Mesin Universitas Widyatama, Bapak Kresno, S.T. (Biro Kemahasiswaan 08 Mar 2021)

Pelantikan Staff Pemerintahan MahasiswaPelantikan Staff Pemerintahan Mahasiswa

Selasa, 9 Maret 2021 lalu Presiden Mahasiswa UTama, Bambang Teguh Munajat melantik Staff Pemerintahan Mahasiswa Periode 2020-2021 secara online. Dalam sambutannya Kepala Biro Kemahasiswaan UTama mengatakan dalam menjalankan amanah yang diberikan sesuai fungsi masing-masing sebaiknya dilaksanakan secara serius apalagi dalam kondisi pandemi Covid 19 saat ini. Prestasi tetap menjadi urutan pertama dalam memajukan organisasi di lingkungan UTama tutur Pipin Sukandi. (Biro Kemahasiswaan 10 Mar 2021)

Kewirausahaan Day

Kewirus Day Unit Kegiatan Mahasiswa Kewirausahaan UTama hari Sabtu 13 Maret 2021 lalu menyelenggarakan kegiatan dengan tema Kewirus Day secara online. Tema tersebut diusung dengan harapan audiens mahasiswa UTama tertarik mengembangkan diri sebagai seorang entrepreneur.

Tidak dapat dipungkiri pandemi Covid 19 yang telah berjalan selama setahun masih sulit diprediksi kapan akan berakhir. Tidak sedikit perusahaan yang gulung tikar akibat adanya pandemi ini. Termasuk para wirausaha yang jungkir balik merubah pola penjualan akibat pandemi. Walau kondisi demikian harapan kami para mahasiswa UTama setelah lulus tidak terpaku bekerja pada perusahaan, tetapi menetapkan opsi lain yaitu berwirausaha ujar Yashinta Ketua UKM Kewirausahaan. (Biro Kemahasiswaan 16 Mar 2021)

Bandung Model United Nations 2021 Mahasiswa Universitas WidyatamaBandung Model United Nations 2021 Mahasiswa UTama

Unit Kegiatan Mahasiswa International Student Center (ISC) UTama pada hari Sabtu, 13 Maret 2021 mengadakan kegiatan Bandung Model United Nations 2021 secara online. Bandung Model United Nations merupakan kegiatan tahunan Simulasi Sidang PBB yang membahas permasalahan dunia. Dalam simulasi sidang PBB tersebut, delegasi berperan sebagai perwakilan satu negara dan dialokasikan pada satu council dengan fokus bahasan tertentu. Nanti, setiap council akan merumuskan draft Resolusi PBB dalam menanggapi permasalahan dunia seperti pemanasan global, perampasan HAM hingga konflik kerjasama multilateral. (Biro Kemahasiswaan16 Mar 2021)

Mahasiswa UTama Bantu Pemkot Bandung Vaksinasi Lansia

Mahasiswa Widyatama Membantu Pemkot Bandung Dalam Vaksinasi Lansia Sejumlah mahasiswa UTama yang tergabung dalam Lembaga Kemahasiswaan dan Organisasi Kemahasiswaan (LKOK) turut serta dalam kegiatan pemberian vaksin untuk lansia. Kegiatan yang dimotori Pemerintah Kota Bandung, Masyarakat Tionghoa Peduli dan Rumah Sakit Kebonjati dilaksanakan selama 5 (lima) hari mulai tanggal 15-19 Maret 2021 yang berlokasi di Yayasan Dana Sosial Priangan Jl. Nana Rohana Bandung.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus melakukan percepatan vaksinasi COVID-19 untuk lansia di Kota Bandung, Jawa Barat. Sampai saat ini sudah ada 16 ribu lansia yang sudah jalani vaksinasi.

“Vaksinasi Lansia secara kumulatif sudah lumayan tinggi sekitar 16 ribuan dalam 15 hari. Tapi karena sasaran tinggi, maka kita harus melakukan percepatan,” kata Kadinkes Kota Bandung, Ahyani Raksanagara di Yayasan Dana Sosial Priangan, Jalan Nana Rohana, Bandung, Senin (15/3/2021). Jumlah sasaran mencapai 118 ribu orang. Apalagi, untuk lansia tahapannya lebih panjang dan harus berhati-hati dalam melakukan screening.” ujarnya.

Dinkes mendorong organisasi, lembaga, komunitas yang ada lansianya agar melaksanakan kegiatan sendiri dimana tenaga kesehatan kami latih, agar pendaftaran dan pelaporan terpusat dan vaksinasi dibantu oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung. Seperti diketahui, pendataan lansia lebih sulit dibanding sasaran lainnya karena datanya tidak terpusat.

Ahyani menambahkan, jika lansia tidak bisa datang bisa menghubungi Puskesmas di wilayahnya,

petugas Puskesmas nanti datang. (Biro Kemahasiswaan 16 Mar 2021)

Mahasiswa Widyatama Ikuti Kegiatan Wawasan Kebangsaan

Mahasiswa Widyatama Mengikuti Kegiatan Wawasan Kebangsaan Selasa, 16 Maret 2021 lalu 2 (dua) orang mahasiswa UTama terpilih mengikuti kegiatan Wawasan Kebangsaan yang diselengarakan Kodim 0618/BS. Wawasan Kebangsaan harus sudah tertanam sejak usia dini. Melalui pengetahuan wawasan kebangsaan maka kecintaan terhadap tanah air akan semakin meningkat ujar Kepala Biro Kemahasiswaan saat menerima undangan tersebut.

Bela negara dipersepsi sebagian masyarakat adalah tugas TNI dan POLRI. Padahal dalam Undang Undang Dasar 1945 telah jelas bahwa seluruh warga negara Indonesia mempunyai hak dan kewajiban dalam mempertahankan negara kesatuan Republik Indonesia. Mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa merupakan ujung tombak mempertahankan dan mengembangkan negara ini. Dengan kegiatan wawasan kebangsaan semoga dapat menambah pengetahuan dan kecintaannya terhadap negara Indonesia. (Biro Kemahasiswaan 18 Mar 2021)

Milad Yayasan Widyatama Ke-48,

Berharap Senantiasa Melahirkan Insan Berkualitas dan Berakhlak

Djoko Roespinoedji, Ketua Yayasan Widyatama dalam syukuran milad Yayasan Widyatama ke-48 terus mendorong satuan-satuan pendidikan maju ke arah lebih baik. Ketiga satuan pendidikan, yaitu: Universitas Widyatama, Art Theraphy Center (ATC) serta Lembaga Pengembangan & Aplikasi Pengetahuan (LPAP) Widyatama.

Acara syukuran milad Yayasan Widyatama ke-48 digelar di Gedung F, Fakultas Teknik Universitas Widyatama, pada Selasa (5/1/2021) lalu.

Yayasan Widyatama yang berdiri pada tanggal 3 Januari 1973 https://majalahsora.com/wp-content/uploads/2021/01/HUT-Yayasan-Widyatama-ke-48_3-300x225.jpg merupakan perjuangan yang cukup panjang dari pendiri terdahulu, Prof. Koesbandijah. Saya menjadi bagian generasi ketiga, dari pendiri tentu mempunyai kewajiban untuk melanggengkan Yayasan Widyatama ke arah yang semakin baik, semakin dewasa. tegas Djoko.

Ia berharap ketiga satuan pendidikan di bawah naungan Yayasan Widyatama bisa saling bersinergi. Mahasiswa yang mengenyam pendidikan di Widyatama, bisa menjadi insan berkualitas serta memiliki karakter yang baik, sehingga kelak menjadi bagian pemimpin negara ini.

Yayasan Widyatama memiliki program kerja dan komitmen mendorong satuan pendidikan terus berkiprah mengembangkan ilmu pengetahuan dan meningkatkan kualitas para dosennya. Tahun 2020 Universitas Widyatama mencapai peringkat 57 nasional. Ini merupakan pencapaian luar biasa. Karena kita tahu ada sekitar 4000-an perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Namun perjalanan masih panjang tetap berkomitmen menyelenggarakan kualitas pembelajaran yang baik sehingga kurikulum yang kita pakai ter-delivery dengan baik kepada mahasiswa,”papar Djoko.

Di kesempatan yang sama Prof. H. Obsatar Sinaga, Rektor UTama memiliki impian kampus ini bisa masuk “world class university”. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui, di antaranya masuk university world rating, sebagai alat mencapai world ranking.

Dalam kiprahnya Yayasan Widyatama telah memberikan kewenangan kepada satuan pendidikan untuk menentukan proses terhadap strategi kebijakan, sampai pada tingkat aksi. Karena itu Yayasan Widyatama saya fikir bisa menjadi contoh bagi Yayasan lain dalam mengelola satuan pendidikan.” imbuhnya.

Semoga Alloh SWT meridhoi Yayasan Widyatama sebagai lembaga pendidikan yang komitmen pada pendidikan, manfaatnya semakin meningkat bagi masyarakat, utamanya meningkatkan kecerdasan anak bangsa.

Kuliah Umum Virtual “Industri Media Televisi” Bersama ANTV

https://majalahsora.com/wp-content/uploads/2021/01/Kampus-Keren-ANTV-Universitas-Widyatama_3-300x140.jpg Kuliah umum “Industri Media Televisi” yang digelar oleh Prodi Produksi Film & TV UTama bekerjasama dengan ANTV, secara virtual digelar Rabu (13/1/2021) lalu dari pukul 10.00 sampai sekitar pukul 12.00. Kuliah umum terbuka yang diikuti sekitar 500 orang melalui aplikasi zoom meeting, sisanya melalui chanel live streaming YouTube, ANTV Klik.

Di samping mahasiswa UTama, diikuti mahasiswa dari kampus dan siswa lainnya, seperti mahasiswa Fikom Unpad, Unpas, Unikom, YPKP Sangga Buana, siswa SMKN 5 Kota Bandung, SMKN 14 Kota Bandung, SMKN 4 Kota Bandung.

Pada kesempatan itu Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, S.IP., M.Si, Rektor UTama, menjadi pembicara utama dengan narasumber Teguh Anantawikrama, Chief External Affair Officer ANTV.

https://majalahsora.com/wp-content/uploads/2021/01/Kampus-Keren-ANTV-Universitas-Widyatama_5-300x140.jpg Capaian awal dari tujuan kuliah umum ini menurut Prof. Obsatar diharapkan para peserta bisa memahami industri pertelevisian di Indonesia, khususnya ANTV. Para peserta kuliah umum juga jadi tahu bahwa perusahaan televisi mainstream dituntut memberitakan sesuai fakta dan mendidik. “Saya juga menerapkan pada Prodi Produksi Film & TV supaya menghasilkan tenaga yang professional, tidak menjadi penulis, pembaca dan pembuat berita hoax. Harus bermanfaat bagi masyarakat luas,” tegas Prof. Obi.

Sementara itu Teguh Anantawikrama, Chief External Affair Officer ANTV memaparkan materi yang menarik. Seperti banyaknya peluang bekerja di dunia pertelevisian, baik dalam negeri maupun mancanegara seperti Jepang.

Juga menjelaskan mengenai serunya dan tantangan bekerja di industri media televisi, karena harus siap beradaptasi dengan segala perubahan. Termasuk produksi program-program yang ada di ANTV.

ANTV memiliki dua produk televisi, yaitu program on air dan off air yang kedua-duanya memiliki peran penting. Program on air, seperti Uttaran, Jhoda-Akbar, Pesbukers dan lainnya. Ada juga program yang dibuat sendiri, diakuisisi, serta kerjasama.

Beasiswa Kuliah Di UTama Buat Akmaludin Korban Longsor Cimanggung – Sumedang

Akmal Korban Longsor Cimanggung Kabupaten Sumedang Terharu Dan Bangga Mendapat Beasiswa Kuliah Di Universitas Widyatama

Muhammad Akmaludin, siswa kelas XII, SMKN 1 Sumedang bangga dan terharu saat menerima beasiswa kuliah di UTama. Hal itu ia katakan setelah Prof. Obsatar Sinaga – Rektor UTama, serta Djoko Roespinoedji – Ketua Yayasan Widyatama memberikan beasiswa dan santunan uang tunai, sekaligus menjenguk langsung Akmal dikediaman neneknya, di Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jum’at (15/1/2021) lalu.

“Alhamdulillah, sangat senang terima kasih banyak,” kata Akmal.

Hal senada disampaikan Ine Astuti, Ibunda Akmal atas pemberian tersebut terhadap putranya, berupa beasiswa penuh berkuliah di UTama sampai tuntas.“Mudah-mudahan aya balasannya. Anak saya juga bisa menjadi orang yang sukses, bisa mengabdi ke negara dan melanjutkan perjuangan Bapaknya,” kata Ine yang adalah Guru Bahasa Indonesia, di SMA Guna Cipta, Sumedang.

https://majalahsora.com/wp-content/uploads/2021/01/Prof-Obi-Rektor-Universitas-Widyatama-Bantuan-Korban-Longsor-Cimanggung-Sumedang-300x225.jpg Akmal tinggal bersama kedua orangtua dan adik perempuannya di Perumahan Alam Asri, Desa Sindangpakuan, Kecamatan Cimanggung. Akmal merupakan korban selamat akibat longsor susulan di Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang. Ia anggota Pramuka Penegak dan Dadang Kusnadi, ayahnya, adalah Sekretaris Kwartir Pramuka Ranting Cimanggung turut serta menjadi relawan, membantu mengevakuasi korban longsor di daerah Desa Bojongkondang, Kecamatan Cimanggung, Sabtu (9/1/2021).

Ia dan ayahnya membantu puluhan aparat dan tim SAR. Sejumlah rumah dan beberapa warga tertimbun longsor setelah hujan lebat di Cimanggung.

Dadang Ayahanda Akmal adalah pembina mahir dan pernah mengikuti kursus instruktur SAR.

Namun naas saat mencari korban longsoran Akmal dan ayahnya menjadi korban tertimpa material longsoran. Bahkan Dadang ayahanda Akmal menjadi salah satu korban jiwa yang tertimbun longsoran susulan di wilayah itu. Ayahanda Akmal tertimbun tanah dan jenazahnya diketemukan hari Rabu (13/1/2021).

Akmal sendiri mengalami luka-luka di  bagian kepala, kaki dan tangan, karena terbentur batu dan baja ringan terdampak longsor. Kini kondisinya semakin membaik. “Mudah-mudahan beasiswa yang diberikan bermanfaat buat Akmal untuk melanjutkan jenjang pendidikan ke perguruan tinggi dan jalan meraih cita-citanya. Alhamdulillah saya bersama Pak Djoko – Ketua Yayasan Widyatama menyerahkan dan melihat langsung kondisi Akmal. Luar biasa dengan jiwa heroik Akmal yang masih remaja turut serta menjadi relawan. Itu merupakan modal bagi dirinya untuk menjadi orang sukses, tabah dan semoga lekas sembuh” kata Prof. Obi.

Pada kesempatan itu pihak Universitas Widyatama juga menyerahkan bantuan sembako untuk warga terdampak dan uang tunai. Diserahkan langsung ke Camat Cimanggung, di Kantor Kecamatan Desa Cimanggung.

Rektor Universitas Bhakti Kencana Kunjungi UTama

Entris Rektor Universitas Bhakti Kencana Sengaja Mengunjungi Universitas Widyatama Kampus Swasta Ketiga Terbaik Di JabarKiri ke kanan: Dr. Entris Sutrisno, MH. Kes., Apt, Rektor Universitas Bhakti Kencana, Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, S.Ip., M.Si., Rektor UTama, Roeshartono, ST., MCEM., MBA., Sekretaris Yayasan Widyatama dan Dr. H. Deden Sutisna, M.Si., Warek II UTama

 

Rektor Universitas Bhakti Kencana – Bandung, Dr. Entris Sutrisno, MH. Kes., Apt bersama para wakil rektornya berkunjung ke Universitas Widyatama (UTama). Melakukan studi banding Selasa (2/2/2021) lalu. Bersama jajarannya ia berkeliling melihat berbagai fasilitas di UTama, dari mulai gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) yang memiliki sarana untuk basket, futsal, bulu tangkis, boxer, tae kwon do, fitnes, perkantoran biro mahasiswa serta auditorium internasional. Juga Perpustakaan UTama yang telah memiliki akreditasi A, termasuk berkunjung ke gedung Fakultas Teknik dan gedung lainnya.

Entris memaparkan bahwa melakukan kunjungan studi banding, sekaligus melakukan penjajagan kerjasama ke arah yang lebih serius. Terutama dalam proses pengelolaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di UTama. “Saya sengaja datang langsung, ingin belajar ke kampus Universitas Widyatama, prodinya banyak yang telah memiliki akreditasi A. Ingin meniru UTama, karena Universitas Bhakti Kencana adalah universitas baru, jadi masih dalam tahap belajar. seperti Widyatama,” imbuhnya.

Ia pun menjelaskan kunjungan ke UTama merupakan yang kedua. Pada kunjungan sebelumnya, lingkup pertemuan hanya sebatas Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bhakti Kencana dengan LPPM UTama, terkait penelitian. Sekarang lingkupnya lebih luas. Selaku Rektor ingin mengetahui secara global bagaimana proses kerjasama tersebut bisa dilanjutkan. Tidak hanya dalam hal penelitian saja, tetapi bagaimana proses pengelolaan kerjasama, pengelolaan perguruan tinggi dan lainnya,” papar Entris. Rencana ke depan pihaknya akan melakukan proses pendampingan Universitas Bhakti Kencana oleh UTama, agar bisa selaras, melakukan MoU ditindaklanjuti dengan MoA.

Pada kesempatan yang sama Prof. Obsatar Sinaga menyatakan sangat senang dengan kunjungan Rektor Universitas Bhakti Kencana berserta jajarannya, dan dengan tangan terbuka UTama siap berbagi pengalaman dan ilmu dalam mengelola perguruan tinggi.

UTama memberlakukan metode pembelajaran full online untuk seluruh mata kuliah dan mahasiswa dapat mengakses materi perkuliahan, discussion board melalui forum diskusi, chatroom serta mengakses tugas kuliah yang diberikan dosen,” paparnya.

Para dosen UTama pun, dipacu untuk lebih kreatif dalam memberikan materi pembelajaran secara online, yaitu dengan membuat pembelajaran dalam bentuk tutorial yang di-upload di YouTube, memaksimalkan penggunaan google classroom, WhatsApp Group, dan aplikasi video conference sepertinya zoom.

Rektor UTama pun menjelaskan mengenai pentingnya menulis penelitian bagi para dosen dan mahasiswanya yang dipublikasikan pada jurnal internasional, terindeks Scopus. Termasuk membantu mempublikasikan artikel penelitian dosen Universitas Bhakti Kencana, karena ia memiliki personal garansi terhadap chief editor di Eropa dan Amerika Serikat.

Sampai saat ini UTama telah menerbitkan 1.373 artikel terindeks Scopus, dengan jumlah dosen 272 orang. Universitas Widyatama ditunjuk oleh LLDIKTI IV menjadi supervisi bagi perguruan tinggi lain di Jabar Banten. Terbaru ranking UTama versi Webometrics yang baru diliris beberapa hari lalu, menduduki peringkat 3 di Jabar di bawah Telkom University dan Universitas Parahyangan. Sedangkan secara nasional berada di posisi ke-55.

 

UTama Duduki Ranking ke-55 Perguruan Tinggi Nasional

Universitas Widyatama Bandung Kampus Berbasis Riset Menduduki Ranking ke-55 Perguruan Tinggi Ternama NasionalProf. Dr. H. Obsatar Sinaga, S.IP., M.Si., Rektor Universitas Widyatama

Universitas Widyatama/UTama di bawah kepemimpinan Prof. Obsatar Sinaga terus menunjukan prestasi. Kampus UTama, terus dipacu agar bisa menjadi kampus berbasis riset. Di mana 272 dosen dan belasan ribu mahasiswanya, didorong melakukan berbagai penelitian dan menulis jurnal internasional. Salah satu parameter capaian prestasi itu diukur dari perankingan perguruan tinggi, baik yang dilakukan oleh Ditjen Dikti maupun Webometrics.

Pada tahun 2020, dalam perankingan Ditjen Dikti UTama berada pada peringkat ke-57, sebelumnya pada tahun 2019 berada pada peringkat ke-95. Dari pemeringkatan Webometrics UTama menduduki ranking ke-55 dan ke-3 di Jabar Banten. “Alhamdulillah, Universitas Widyatama terus mencatat berbagai prestasi. Kamis (5/2/2021) lalu. Namun kami masih harus meningkatkan kualitas. banyak hal harus diperbaiki termasuk pelayanan, dan juga prestasi kegiatan mahasiswa, penelitian, karena dan pengabdian masyarakat,” imbuhnya.

Menurutnya UTama sebetulnya tidak menyiapkan perankingan untuk Webometrics, namun untuk menyiapkan pemeringkatan Dikjen Dikti yang sebelumnya bernama namanya Ristek Dikti. “Pemeringkatan Webometrics tidak terlalu jauh dengan Dikti, dan biasanya simultan dengan ranking Dikti,” paparnya.

WIBEST 2021 UTama

Menjadi Salah Satu Platform Penelitian Bermutu Dan Bermanfaat Untuk Masyarakat

Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, S.Ip., M.Si., Rektor Universitas Widyatama

Universitas Widyatama/UTama menggelar ajang Widyatama International Conference on Business, Economics, Social and Technology (WIBEST) 2021.  Konferensi internasional mengenai paper hasil penelitian para dosen yang akan dipublikasikan di jurnal internasional terindeks Scopus.

Sekitar 104 paper penelitian yang masuk pada kegiatan konferensi internasional WIBEST 2021. Dalam 1 paper sedikitnya ada tiga dosen yang berkolaborasi menulis. Apabila dijumlahkan sekitar 300-dosen yang terlibat. Pesertanya dari Kanada, Maroko, Thailand, Malaysia, Taiwan termasuk Indonesia. WIBEST 2021 dilangsungkan secara daring melalui aplikasi zoom meeting, Rabu, tanggal 9 Februari 2021 lalu.

Alasan UTama menggelar WIBEST 2021, karena adanya aspirasi dari luar civitas academica kampus UTama, termasuk internal kampus Widyatama.

Sebelumnya UTama, telah menggelar The 3rd International Conference of Business, Policy And Social Sciences 2020 (14-15 Oktober 2020). “Mereka menghendaki UTama menggelar seminar internasional kembali.  “Kebetulan Universitas Widyatama memiliki kerjasama yang baik dengan para chief editor di mancanegara (Amerika Serikat dan Eropa).

Pada kesempatan yang sama Prof. Dr. Mohd. Haizam Bin Mohd. Saudi, Wakil Rektor III, Bidang Riset, Pengembangan dan Kerjasama UTama, menambahkan paper yang sudah di-submit lalu dipresentasikan oleh para peserta yang dilakukan secara pararel session. Papernya mengenai sosial ekonomi dan lainnya. Setiap peserta diberi kesempatan 10 menit memaparkan isi penelitian tersebut. Kemudian dibahas dan dikomentari para peserta lainnya, untuk memberikan penjelasan lebih lanjut. Termasuk ada peninjauan kembali dari  UTama dan komite yang menilai paper yang sudah masuk. Mereka akan menilai kualitas isi paper, kesimpulan, cara, manfaat terhadap dunia industri dan dunia akademik, setelah adanya temuan-temuan, yang dilakukan dalam penelitian.

https://majalahsora.com/wp-content/uploads/2021/02/Prof-Haizam-WIBEST-2021-Universitas-Widyatama-300x225.jpgProf. Dr. Mohd. Haizam Bin Mohd. Saudi, Wakil Rektor III, Bidang Riset, Pengembangan dan Kerjasama UTama

“Peserta ada yang memaparkan tentang keadaan perekonomian masyarakat di Jawa Barat, karena terdampak pandemi. Cara mengatasi yang efektif harus diteliti dan dibahas oleh peserta. Hasil temuan itu apa dampaknya untuk masyarakat. Jadi kami bisa menilai keefektifan dan solusi bagi masyarakat. Apakah papernya memiliki kualitas atau tidak,” paparnya. Setelah proses itu dilalui, akan diserahkan ke pihak editor, untuk diedit lagi.

“Untuk Letter of Acceptance (LoA) kurang lebih memakan waktu selama dua minggu. Sedangkan untuk publikasi pada jurnal internasional terindeks Scopus, perlu waktu antara satu sampai tiga bulan ” jelasnya. Terkait kegiatan WIBEST 2021 yang diikuti oleh lebih dari 300-an dosen, menurutnya hal itu di luar dugaan UTama. “Karena ini awal tahun, biasanya dosen-dosen menulis pada pertengahan tahun atau akhir tahun. Awal tahun dampak yang diterima dosen di Widyatama dan luar Widyatama itu amat bagus sekali. Mereka sadar di masa pandemi, harus tetap menulis untuk peningkatan jabatan fungsional (jafung) nya,” jelas Prof. Haizam.

UTama Raih Penghargaan LLDIKTI IV

WhatsApp Image 2021 02 18 at 08.40.17 1024x768 - Berkat Kerja Keras Universitas Widyatama Kembali Menyabet Penghargaan Kampus Ternama Universitas Widyatama di awal tahun ini meraih peringkat ke-4 kategori  bergengsi Perguruan Tinggi  Klaster Tebaik bentuk Universitas dan Institut, pada Anugerah Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV, tahun 2021. Penganugerahan dilangsungkan di Hotel Aston Cirebon & Convention Center, Cirebon, pada Rabu, 17 Februari 2021 lalu.

Penghargaan diberikan langsung oleh Kepala LLDIKTI Wilayah IV Prof. Dr. Uman Suherman, AS. Ada 11 kategori yang diberikan LLDIKTI Wilayah IV, sementara di bawah naungan LLDIKTI IV ada sekitar 456 perguruan tinggi. Prof. Uman mengatakan, bahwa penghargaan tersebut merupakan sebuah apresiasi dari LLDIKTI Wilayah IV terhadap perguruan tinggi yang memiliki prestasi. Baik yang menyangkut perankingan, penelitian, sertifikasi dosen, termasuk dengan hal-hal yang berkaitan dengan kualitas.

Pada kesempatan tersebut Prof. Obsatar Sinaga Rektor Universitas Widyatama/UTama mengatakan, bahwa capaian tersebut merupakan salah satu bentuk kepercayaan masyarakat kepada UTama.

WhatsApp Image 2021 02 17 at 21.59.12 1024x768 - Berkat Kerja Keras Universitas Widyatama Kembali Menyabet Penghargaan Kampus TernamaKiri ke kanan: Djoko S. Roespinoedji, S.E., PG., DIP., Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, S.Ip., M.Si dan Prof. Dr. Mohd. Haizam Bin Mohd. Saudi

Capaian itu pun tidak terlepas dari Yayasan Widyatama yang selalu mendukung seluruh kegiatan serta program UTama. Sementara itu, Djoko Roespinoedji, Ketua Yayasan Widyatama sangat mengapresiasi capaian UTama itu.

Perguruan tinggi lain dengan peringkat Klaster Terbaik Bentuk Universitas dan Institut, Anugerah LLDIKTI, tahun 2021 adalah : Universitas Telkom, Universitas Katolik Parahyangan, Universitas Islam Bandung, Universitas Widyatama, Institut Teknologi Nasional Bandung, Universitas Djuanda, Universitas Pasundan, Universitas Presiden, Universitas Komputer Indonesia, Universitas Kristen Maranatha, Universitas Pembangunan Jaya, Universitas Pamulang. (UTama 17 Feb 2021)

UTama Peringkat “TOP 3” Perguruan Tinggi Terbaik Se-JABAR BANTEN

ASDASD 1024x1024 - Universitas Widyatama Menduduki Peringkat "TOP 3" Perguruan Tinggi Terbaik Se-JABAR BANTEN Universitas Widytama/UTama versi Webometrics yang baru diliris beberapa waktu lalu, menduduki peringkat 3 perguruan tinggi swasta terbaik di Jabar.

Webometrics memberikan peringkat pada perguruan tinggi baik negeri maupun swasta berdasarkan empat indikator yakni ‘presence’, ‘visibility’, ‘transparency’, dan ‘excellence’.

Prestasi lain yang telah dicapai UTama yaitu: Ranking ke-55 dari 4.682 perguruan tinggi negeri swasta versi Ristek Dikti; Ranking ke-48, program SIMKATMAWA (bidang kemahasiswaan); Juara dunia ke-2, kegiatan Internasional Converence and Exposition on Inventions by Institutions of Higher Learning, Kementerian Pendidikan Malaysia.

Enam prodi mendapatkan akreditasi internasional dengan nilai “Premium” atau A dari ASIC (Accreditation for International Schools, College and Universities) Inggris, UTama mendapat penghargaan Presidential Award dari International Council for Small Business, category Research and Academician; Mendapatkan lima penghargaan MURI, salah satunya Job Fair Online Terlama dan prestasi lainnya. (UTama 03 Feb 2021)

Dosen FEB UTama Lakukan Literasi Pemulihan Ekonomi Nasional Masa Pandemi

Masa pandemi, survey tim dosen FEB UTama menemukan kecenderungan kekhawatiran, kecemasan, ketakutkan dan frustasi masyarakat menghadapi pandemi Corona Virus Disease-2019 (Covid-19). Pandemi yang melanda dunia ini sangat berdampak pada berbagai sektor: kesehatan, perekonomian, pendidikan, pariwisata, transportasi dan masih banyak lagi. Berbagai persoalan hidup pun hadir akibat dari pandemi tersebut.

Pemerintah telah menggulirkan berbagai upaya menanggulangi Pandemi sekaligus melakukan pemulihan ekonomi nasional. Dalam rangka partisipasi dosen FEB UTama menyelenggarakan webinar Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) menghadirkan narasumber Candra Fajri Ananda – Staf Khusus Menteri Keuangan RI, dan Sotarduga Napitupulu – Direktur Pengawasan OJK. Literasi disampaikan kepada seluruh mahasiswa S1, S2, S3, dosen dan pelaku ekonomi terkait program pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19, pada Sabtu, 19 Desember 2020 lalu.

“Ekonomi dunia yang tumbuh positif hanya Tiongkok dan Vietnam. Kunci keluar dari dampak pandemi Covid19 adalah disiplin” ungkap Candra pada kurang lebih 300 peserta webinar. “Sisi demand global sangat ditentukan perkembangan kasus Covid-19, terutama di negara-negara berpenduduk terbesar seperti China, India, AS, Indonesia dan Brazil. Konsumsi global diproyeksi mulai pulih namun akan ditentukan muncul atau tidaknya second wave” tambahnya.

Sementara, pemulihan permintaan domestik diprediksi lebih cepat dari ekonomi global. Menurut panel of Experts survey oleh UN World Tourist Organization (UNWTO) menyimpulkan bahwa pemulihan ekonomi mulai terjadi pada kuartal akhir 2020 dan semakin kokoh pada 2021 sehingga perlu optimisme yang dibangun agar mampu keluar dari pandemi ini.

Sotarduga Napitupulu – Direktur Pengawasan OJK menerangkan selama ini OJK telah melakukan banyak tindakan terkait upaya pemulihan ekonomi akibat Pandemi Covid-19, terutama yang memberi manfaat bagi sektor riil agar dapat bertahan, diantaranya relaksasi kredit. OJK juga mendukung program pemerintah dengan mengatur penempatan dana, likuiditas yang diberikan pemerintah ke Himbara/ Himpunan Bank Negara, BPD dan Lembaga Syariah, serta mendukung program subsidi bunga.

Diingatkan, masyarakat perlu memproteksi diri dari tawaran investasi ilegal yang menjanjikan keuntungan yang tidak wajar dalam waktu cepat. Layanan konsumen OJK melalui Whatsapps 081 157 157 157 tetap berjalan, meskipun kebijakan work from home (WFH) diberlakukan. Menurut Sotarduga ada tiga pertanyaan utama yang sering ditanyakan dalam layanan konsumen ini, yakni: kebijakan stimulus perekonomian, restrukturisasi, dan komplain. Konsumen dimohon untuk memahami dan bisa mengantri seiring dengan meningkatnya layanan konsumen OJK.

Pemateri lain yaitu Gusni, Lia Amaliwiati, Siti Komariah dan Eristi Minda menyampaikan bahwa dengan semangat optimis kita semua harus bergotong-royong dan burden sharing agar mampu bertahan sekaligus recovery sosial ekonomi. Selalu ingat 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Karena pemulihan ekonomi sangat bergantung dengan kinerja sektor kesehatan. Kesehatan pulih, ekonomi bangkit, melindungi diri dan melindungi negeri, ucap Devy Mawarnie – dosen FEB Widyatama. selaku moderator menutup webinar. (UTama, 22Des2020)

Wi-can UTama Diikuti PT Mancanegara, UTama Raih Juara Umum

Prof Uman Kepala LLDIKTI Wilayah IV Wi can 1 1024x422 - Wi-can Ajang Kompetisi Inovasi Internasional Universitas Widyatama Banyak Diikuti Oleh Perguruan Tinggi Mancanegara Dan Dalam Negeri Universitas Widyatama kembali menggelar ajang Widyatama International Innovation and Academic Competition (Wi-can) bagi mahasiswa termasuk pelajar. Tahun 2020 ini merupakan tahun yang kedua, sebelumnya dihelat tahun 2019. Karena dalam kondisi pandemi, ajang dilangsungkan daring atau online, melalui video converence.

Meskipun begitu, tidak menghalangi para peserta turut serta mengikuti ajang Wi-can. Malah jumlah pesertanya semakin melonjak, baik peserta dari mancanegara maupun dalam negeri.

Prof. Dr. Uman Suherman, AS, M.Pd., Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jabar Banten

 

Pada ajang tersebut hadir beberapa pembicara: Prof. Dr. Thomas Suyatno, Ketua Umum Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABP-PTSI), Dr. Ir. Puji Winarni M.A., Sekretaris Utama pada Badan Standardisasi Nasional (BSN), Prof. Dr. Ir. Eddy Jusuf, M.Si., M.Kom., Ketua APTISI Jabar, serta Prof. Dr. Uman Suherman, AS, M.Pd., Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jabar & Banten.

Menurut Prof. Obsatar – Rektor Universitas Widyatama/UTama ajang Wi-can diharapkan menjadi salah satu standar untuk perhitungan pemeringkatan perguruan tinggi di Indonesia. “Makanya Wi-can kedua menjadi semakin banyak pesertanya. Karena mereka merasakan hal itu masuk dalam perhitungan peringkat perguruan tinggi, salah satunya adalah inovasi. Kegiatan seperti ini agak sulit apalagi di masa pandemi. Sehingga dikhawatirkan perguruan tinggi tidak memiliki ajang untuk melakukan kompetisi, yang sifatnya intelectual scientific, oleh Widyatama dibuatlah wadahnya, melalui Wi-can”.

Wi-can bertujuan untuk merumuskan standar tertentu dan kriteria yang akan meningkatkan kreativitas dan produktivitas di kalangan mahasiswa di perguruan tinggi termasuk jenjang SMA, SMK, MA. Terlebih pada era industri atau revolusi 4.0 yang membutuhkan kreativitas yang tinggi dalam hal inovasi teknologi dan bidang terkait TI lainnya seperti IOT/internet of things, serta big data.

Inovasi membutuhkan pengetahuan dan untuk mendukung ide, para pelaku industri membutuhkan perencanaan baik, dan membutuhkan masukan dari akademisi serta pemangku kepentingan lainnya. “Jadi, implementasi dan evaluasi setiap strategi harus dilakukan dengan baik oleh industri untuk memastikan kesuksesan. Oleh karena itu, acara ini diharapkan dapat menjadi titik awal mahasiswa dan siswa untuk bertukar ide, mempromosikan pemahaman yang lebih baik tentang lingkungan saat ini dan akan tercipta solusi yang lebih baik untuk kemaslahatan masyarakat,” jelasnya.

Wican Universitas Widyatama 2020 3 1 1024x600 - Djoko Roespinoedji Bangga Universitas Widyatama Keluar Sebagai Juara Ajang Inovasi Internasional Wi-Can Sementara itu, Prof. Dr. Mohd. Haizam Bin Mohd. Saudi, Wakil Rektor III, Bidang Riset, Pengembangan & Kerjasama UTama, yang juga Direktur/Pengarah kegiatan Wi-can tahun 2020 menyatakan Wi-can sangat penting untuk berkembangnya inovasi mahasiswa dari perguruan tinggi termasuk sekolah Menengah.

“Saya berharap Wi-can bisa menjadi ajang yang merangsang kreativitas mahasiswa di berbagai bidang studi dan tentunya akan menjadi platform bagi mereka, untuk menghasilkan ide-ide baru dan memberikan kontribusi yang bermanfaat. Tidak hanya untuk dunia akademis tetapi industri juga. Peserta tahun ini melonjak menjadi sekitar 292 peserta. Tahun 2019, sekitar 100-an peserta dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Indonesia termasuk mancanegara. Peluang juga bagi perguruan tinggi di dalam negeri, melihat produk-produk hasil inovasi yang dipaparkan oleh mereka dari mancanegara, sehingga bisa jadi pembelajaran, pada masa yang akan datang,” terang Prof. Haizam.

Ke-292 peserta tersebut datang dari sekitar 20 perguruan tinggi Malaysia, Kamboja, Myanmar, Taiwan, Timor Leste serta Jerman. Termasuk 60 perguruan tinggi dalam negeri yang berasal dari Sumatera, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan dan Sulawesi. Tahun ini juga tidak sedikit peserta dari SMA, SMK, MA di kabupaten kota yang ada di Jabar bahkan luar Jabar.

Bentuk lombanya dilakukan secara online, dengan konsep menggunakan aplikasi zoom, dinilai oleh juri internasional untuk tingkat perguruan tinggi. Menilai produk-produk yang dipaparkan oleh para peserta.

Di samping itu juga ada pameran produk-produk inovasi dari para peserta, dilakukan secara virtual atau video converence melalui zoom. Produk tersebut merupakan produk inovasi yang di kemudian hari bisa dipergunakan dan dikomersilkan. Apa yang dipaparkan di pameran tersebut akan dipatenkan juga apabila memang bermanfaat untuk halayak umum.

Lebih lanjut ia menambahkan peserta Wi-can mendapatkan banyak hal, termasuk kritikan-kritikan membangun dari para juri, tidak lain untuk meningkatkan manfaat dari produk yang dipamerkan.

“Mereka juga bisa melihat dan memperbaiki produk-produk ataupun layanan yang mereka tawarkan kepada halayak,” kata Prof Haizam.

Pada kesempatan sama Prof. Dr. Uman Suherman – Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jabar Banten menyatakan bangga terhadap UTama menyelenggarakan kegiatan Wi-can bertaraf internasional di tengah pandemi. “Perbedaan yang diusung oleh Widyatama memandang suatu masalah menjadi hikmah,” kata Prof. Uman yang membuka kegiatan Wi-can 2020. Menurutnya ajang itu sangat baik, bisa menunjukkan kemampuan akademik dan keilmuan mahasiswa. Ia pun berharap UTama secepatnya menjadi perguruan tinggi yang unggul dengan akreditasi unggul.

21 jenis lomba dihelat Wi-can dari tanggal 10-12 Desember 2020, yaitu: Widyatama Accounting poster Competition for senior high School, Widyatama International Accounting Paper Challenge, Business Plan Competition on Manufacturing Industry, Business Plan Competition on Service Industry, 3D Design Competition, Mechanical Exhibition, Web Design, Internet of Things, Start-Up Idea for Developing Enterpreneurship, Technology Implementation in the Industrial Revolution Era 4.0, Information Product Design, Photo Competition “Covid 19 Prevention”, Short Movie Competition “Before-After Covid 19”, Poster Competiton “Health Protocol Awareness Campaign”, CV Creative, Auto Cad Competition 2020, Widyatama International Trade Paper Competition (WITPAC) 2020, Poster (Technologies For Millennial Generation), Poster (Effective Material Handling For SMEs), Innovative Product Design For Akb (Adaptasi Kebiasaan Baru) And Support Industry, Startup And SMEs, International Intrumentation & Control Contest II, Instrumentation Control Robotic and Drone Exhibition II, News Anchor, Speech Contest & Japanese News Anchor.

Djoko Roespinoedji Bangga Universitas Widyatama Keluar Sebagai Juara Ajang Inovasi Internasional Wi-CanUTama Juara Umum

Universitas Widyatama/UTama berhasil menjadi juara umum ajang Widyatama International Academic Competitions & Exhibitions (Wi-can) 2020 yang diselenggarakan tanggal 10-12 Desember lalu secara daring. Sebagai juara umum berhasil meraih 5 medali emas, 5 perak dan 3 perunggu.

Juara kedua diraih Universitas Padjadjaran dengan meraih 1 medali emas dan 1 perak. Sedangkan juara ketiga diraih STBA JIA Bekasi dengan meraih 2 medali perak dan 1 perunggu.

Wi-can menggelar sekitar 21 mata lomba dan pameran produk inovasi termasuk lomba untuk jenjang SMA, SMK dan MA.

Ketua Yayasan Widyatama, Djoko S. Roespinoedji, S.E., PG., DIP. bangga atas capaian UTama menjadi juara umum pada ajang internasional tersebut. Kegiatannya juga berjalan sukses dan lancar. Event Wi-can Internasional mencakup inovasi dan kreativitas, sekaligus memberikan inspirasi, inovasi yang kedepannya menjadi model yang bisa dikembangkan. Di samping itu kelak menjadi bagian dari kemajuan teknologi, khususnya perguruan tinggi di Indonesia.

Dr. Muh. Rozahi Istambul, M.Kom., S.T., Ketua Pelaksana Wi-can, tahun 2020

Dr. Muh. Rozahi Istambul, Ketua Pelaksana Wi-can, menambahkan bahwa kegiatan Wi-can tahun 2020 sangat jauh dibanding tahun lalu, perlombaannya diperbanyak begitu juga pesertanya semakin bertambah, ada sekitar 292 peserta. Hampir tiga kali lipat. Modelnya juga berbeda, melalui video converence karena sedang pandemi. Namun jumlah peserta justru membludak” katanya. (UTama, 14Des2020)

Kerjasama ICMI dan UTama

Gelar Seminar Peluang Industri Kreatif Jabar Di Bosnia Herzegovina

Prof Najib Ketua ICMI Jabar Seminar Internasional ICMI dan Universitas Widyatama 1024x585 - ICMI Bekerjasama Dengan Universitas Widyatama Menggelar Seminar Peluang Industri Kreatif Jabar Di Bosnia Herzegovina The 1st International Seminar Collaboration Between Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) West Java & Widyatama University dihelat di Gedung Serba Guna Universitas Widyatama/UTama, Kamis (3/12/2020) lalu. Seminar bertema “Relation Between Indonesia & Bosnia Herzegovina in Developing & Innovative Economy in West Java”.

Ketua ICMI Orwil Jabar Prof. Dr. Mohammad Najib

Pada kesempatan itu Ketua ICMI Orwil Jabar Prof. Dr. Mohammad Najib menjelaskan bahwa kerjasama antara ICMI Jabar dan Universitas Widyatama/UTama memang sudah terjalin lama. Sebab menurut Najib UTama merupakan perguruan tinggi yang mengedepankan research, sehingga kerjasamanya banyak mengenai kajian-kajian dalam bentuk seminar hasil dari penelitian.

“Seperti sekarang ini, di samping seminar pengembangan industri kreatif hubungan kerjasama dengan Bosnia Herzegovina, juga dilakukan konferensi tentang core paper. Jadi hasil-hasil research ini kita seminarkan. Ada 90 paper hasil research diseminarkan,” ujar Najib.

Dia mengungkapkan kerjasama ini melalui Kedutaan Besar Indonesia, lebih kepada industri kreatif. Tema ini diminta oleh Roem Kono, Duta Besar (Dubes) Bosnia Herzegovina, bagaimana industri ekonomi kreatif dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Jabar bisa dikembangkan ke Bosnia Herzegovina serta bisa melanglangbuana.

“Makanya narasumbernya Pak Roem Kono Dubes Indonesia untuk Bosnia Herzegovina, sasaran kita bagaimana industri kreatif dan UMKM yang ada di Jabar bisa dikembangkan di Bosnia,” ucap Najib.

Lebih lanjut ia mengatakan dari 90 paper yang dikembangkan adalah penelitian dari berbagai topik dan dari berbagai aspek dan disiplin ilmu. Seperti ilmu sosial, ekonomi, pendidikan, politik, agama, budaya dan lainnya. Paper tersebut sudah mendapat Letter of Acceptance (LoA) untuk diterbitkan di jurnal internasional terindek Scopus. Universitas Widyatama Seminar Internasional ICMI 1024x623 - ICMI Bekerjasama Dengan Universitas Widyatama Menggelar Seminar Peluang Industri Kreatif Jabar Di Bosnia Herzegovina Adapun, para penulis paper tersebut merupakan para dosen dari UIN Sunan Gunung Djati, UPI, ITB, UNISBA, UNPAD, UTama dan lainnya.

Sementara itu, Rektor UTama Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga menambahkan Dubes Bosnia untuk Indonesia akan meningkatkan kerjasama dalam hal pendidikan.

“Sebetulnya kami (UTama) sih, sudah ada mahasiswa dari Bosnia, saya pernah membimbing mahasiswa dari Bosnia. Ke depannya, tergantung, UTama kan salah satu yang dipilih, karena memiliki andalan dalam publikasi jurnal internasional,” ucapnya.

Kegiatan seminar internasional itu, hadir sebagai Pembicara Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Barat, Atalia Praratya Kamil, istri Gubernur Jabar.  (UTama, 10Des2020)

Sebagai Pengurus Kwarda Jabar,

Djoko Roespinoedji Akan Menumbuhkan UKM Pramuka Di Perguruan Tinggi

Atalia Ridwan Kamil resmi dilantik menjadi Ketua Kwartir Daerah Jawa Barat (Kwarda Jabar) beserta jajaran pengurus Kwarda Jabar masa bakti 2020-2025, termasuk Djoko Roespinoedji, Ketua Yayasan Widyatama sebagai Wakil Bendahara.

Mereka dilantik oleh Ketua Majelis Pembimbing Daerah (Mabida) di Youth Center Arcamanik, Bandung bertepatan dengan hari Pahlawan Nasional, Selasa (10/11/2020) lalu.

Kegiatan pelantikan dilangsungkan dua sesi pelantikan, secara berurutan. Sesi pertama pelantikan jajaran Mabida oleh Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Mabida berisi para pejabat eselon II Pemerintah Daerah Provinsi Jabar, unsur Forkopimda, serta lembaga lain. Dalam musyawarah daerah di Bogor tanggal 6 -7 Oktober, Atalia terpilih sebagai Ketua Kwarda baru, menggantikan Dede Yusuf yang telah menjabat dua periode. Atalia adalah pucuk pimpinan Kwarda Jabar ke-13 dan perempuan pertama yang menjadi Ketua Kwarda.

Di tahun 2017, Jabar pernah mencatat sebagai provinsi dengan anggota pramuka terbesar di Indonesia. Kala itu tercatat sekitar 6,1 juta anggota pramuka tersebar di 27 Kwartir Cabang. Sekitar 5,8 juta anggota merupakan siswa sekolah, dan 323 ribu anggota dewasa. Namun kini anggotanya 4,5 juta orang. Oleh sebab itu Atalia bertekad mengembalikan gerakan pramuka di Jabar menjadi yang terdepan di Indonesia.  Kehadirannya harus benar-benar dirasakan masyarakat terutama saat pandemi Covid-19.

Ada enam misi Pramuka Jabar Juara Lahir Batin yang dicanangkan, pertama memperkuat marwah pramuka pembentukan karakter, akhlak, dan budi pekerti; kedua, inventarisasi dan optimalisasi aset pramuka; ketiga, internalisasi semangat silih asih, asah, asuh dengan mengedepankan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi; keempat, adaptasi gerakan pramuka pada situasi kekinian; kelima, meningkatkan kolaborasi dengan akademisi, bisnis, komunitas, pemerintahan, serta media; dan keenam, berperan aktif menjawab masalah bangsa.

Wakil Bendahara Kwarda Jabar periode 2020-2025, Djoko Roespinoedji, yang juga Ketua Yayasan Widyatama yang juga Bendahara Asosiasi Badan Pengelola Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABPTSI) Jabar dan Pusat mengemukakan ia berkewajiban memberikan kontribusi dalam mendirikan unit kegiatan mahasiswa (UKM) Pramuka di UTama, juga akan menularkan kepada perguruan tinggi lainnya untuk mendirikan UKM Pramuka di masing-masing kampus yang ada di Jabar.

Saya diminta oleh tokoh-tokoh Pramuka Jabar untuk membantu Bu Atalia Kamil, Ketua Kwarda Jabar agar Pramuka di perguruan tinggi memiliki peran penting di masyarakat, terang Djoko.

Peran strategis Pramuka di kampus, menurut Djoko sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Setelah berdiri UKM Pramuka di kampus-kampus, ke depan harus menjadi agen perubahan bagi masyarakat melalui kemampuan intelektualnya karena memiliki ciri khusus dan berbeda dengan Pramuka komunitas atau teritorial yang lainnya. Menurut Djoko Pramuka kampus perannya menitik beratkan kepada problem solver masyarakat dan sebagai agen penggerak pembangunan. Misi tersebut sesuai dengan konsep Tribina dalam pendidikan kepramukaan, yakni bina diri yakni meningkatkan skill, bina satuan yaitu mengelola kader satuan Pramuka, dan bina masyarakat adalah berbakti kepada masyarakat,” jelasnya. (UTama, 10 Nov 2020)

UTama Tercatat Menjadi Kampus Ternama Di Bandung

 

Universitas Widyatama/UTama tercatat menjadi salah satu kampus ternama di Kota Bandung. Hal itu berdasarkan dari rilis Webometrics yang di keluarkan bulan Juli 2020, lalu.

Landasan penilaiannya, yaitu: presence (5%), visibility impact (50%), openness (10%), dan excellence (35%).

Penilaian berdasarkan Presence  adalah jumlah halaman web host dalam web domain utama (termasuk semua subdomain dan direktori) dari universitas yang diindeks oleh mesin pencari Google. Penilaian tersebut menghitung setiap halaman web, termasuk semua format yang diakui secara individual oleh Google, termasuk halaman statis dan dinamis dan selain rich files.

Berikutnya Visibility Impact adalah kualitas konten dievaluasi melalui “virtual referendum” dengan menghitung semua external inlinks yang diterima oleh web domain universitas dari pihak ketiga. Link tersebut mengakui prestise institusional, kinerja akademik, nilai informasi, dan kegunaan dari layanan seperti yang diperkenalkan dalam halaman web sesuai dengan kriteria jutaan web editor dari seluruh dunia. Data visibilitas link dikumpulkan dari dua provider informasi yaitu Majestic SEO dan ahrefs. Keduanya menggunakan crawler sendiri, menghasilkan database yang berbeda yang digunakan bersama-sama untuk saling melengkapi atau memperbaiki kesalahan. Indikatornya adalah produk dari jumlah backlink dan jumlah domain yang berasal dari backlink tersebut, sehingga tidak hanya penting popularitas link tetapi juga keragaman link.

Sedangkan Openness merupakan jumlah file dokumen Adobe Acrobat (.pdf), Adobe PostScript (.ps, .eps), Microsoft Word (.doc,.docx) and Microsoft Powerpoint (.ppt, .pptx) yang online/open di bawah domain website universitas yang tertangkap oleh mesin pencari (Google Scholar).

Terakhir Excellence merupakan jumlah artikel-artikel ilmiah publikasi perguruan tinggi yang bersangkutan yang terindeks di Scimago Institution Ranking dan di Google Scholar.

Daftar perguruan tinggi ternama di Kota Bandung, menurut Webometrics tahun 2020: 1. Institut Teknologi Bandung, 2. Telkom University, 3. Universitas Pendidikan Indonesia, 4. Universitas Padjadjaran, 5. Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, 6. Universitas Katolik Parahyangan,
7. Universitas Widyatama, 8. Universitas Islam Bandung, 9. Universitas Pasundan, 10. Institut Teknologi Nasional. (UTama, 10 Nov 2020)

ICBPS 2020 Mampu Kolaborasikan Akademisi Dan Dunia Industri

Prof. Dr. Uman Suherman Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV Jabar dan Banten memaparkan bahwa para akademisi dan dosen adalah ilmuwan yang sangat berkaitan erat dengan kemajuan dunia industri di tanah air, terlebih di era digital. Termasuk bagaimana kampus bisa menjalin kedekatan dengan dunia industri itu sendiri. Karena menurutnya segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia industri, seperti cara berpikir serta pola pikir, dihasilkan oleh para akademisi, melalui penelitian-penelitian yang ada.

Hal itu ia paparkan usai menjadi keynote speaker pada kegiatan konferensi internasional secara daring yang dihelat oleh Universitas Widyatama/UTama, Rabu, tanggal 14 Oktober 2020 lalu. Event bernama International Conference on Business Policy and Sciences (ICBPS) ketiga ini berlangsung hingga tanggal 15 Oktober 2020.

Dengan kajian-kajian itu memungkinkan untuk membuat sebuah regulasi bagi ekonom-ekonom yang ada di tanah air. “Dunia bisnis tidak akan berjalan tanpa ilmu. Sebaliknya tidak bisa mengkaji ilmu tanpa ada praktek. Oleh sebab itu mendekatkan dunia akademik dengan industri menjadi sebuah keharusan,” kata Prof. Uman, di kampus UTama, Bandung.

ICBPS Universitas Widyatama Bandung 1024x569 - Resmi Digelar, ICBPS 2020 Mampu Kolaborasikan Akademisi Dan Dunia Industri “Regulasi pertama para dosen melakukan Tri Dharma perguruan tinggi. Yang kedua kebijakan kampus dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh dosen harus bisa dimanifestasikan dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat. Bagaimana pun tingkat relevansi yang ada di kampus bisa mengantisipasi permasalahan yang terjadi di masyarakat. Hal itu bisa dilakukan manakala dosen melakukan penelaahan yang lebih dalam. Seperti sekarang serba digital. Tadi saya paparkan bahwa dulu pedagang itu hanya nagog (nunggu pembeli), terus door to door, kemudian delivery order. Maka sekarang toko bisa saja tutup, tapi bisnis berjalan dengan dunia digital melalui bisnis online. Pertanyaan yang muncul siapa yang mengembangkannya? Bukan orang bisnis melainkan para akademisi yang dimanfaatkan pada dunia industri,” ungkapnya. Lebih lanjut ia mengatakan tinggal bagaimana nanti harus ada kebijakan dari kampus pada saat penelitian yang mengacu kepada kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Tidak terkecuali kebijakan-kebijakan yang ada di pemerintahan, khususnya yang menyangkut ekonomi dan bagaimana penelitian itu dilakukan.

Pada event itu sedikitnya ada sekitar 122 paper dari peserta ICBPS. Paper merupakan hasil penelitian bisnis, manajemen, akuntansi, teknik dan lainnya. Tulisan itu merupakan kolaborasi antara dosen UTama, perguruan tinggi di tanah air serta dosen dari mancanegara, dipublikasikan pada jurnal internasional yang terindek Scopus.

Pada event tersebut selain Prof. Dr. Uman Suherman, hadir Prof. Dr. Norzaidi Mohd Daud, dari Universiti Teknologi MARA, Malaysia menjadi pembicara utama juga. Perguruan tinggi yang turut serta adalah Oxford University (Inggris), Harvard University (Amerika Serikat), IUMW, UiTM dan UPN (Malaysia), University De La Salle Lipa (Philipina), Korea University (Korea Selatan), University of Tokyo (Jepang), ITB, UPI, Mercu Buana, Sangga Buana, Trunojoyo Madura, Unpad, Unpas, UGM, Telkom, dan Brawijaya Malang (Indonesia).

Sementara itu Prof. Obsatar Sinaga, Rektor UTama mengatakan di mancanegara perkembangan dunia industri sudah melewati era 4.0 dan menerapkan Society 5.0, Oleh sebab itu, UTama terus melakukan upaya kolaborasi, antara dunia industri dengan sains. Termasuk menggelar konferensi internasional tahunan ICBPS secara rutin.

Hal itu merupakan upaya mengkolaborasikan dunia industri dengan para sainstis. Ia menambahkan pada event ini dibahas mengenai perkembangan industri saat ini dengan menghadirkan para praktisi, sekaligus membuat penelitian-penelitian yang arahnya pada kolaborasi. UTama membuka pintu selebar-lebarnya bagi perguruan tinggi  yang ingin melakukan kerjasama dan kolaborasi, sekaligus membantu dalam hal publikasinya. (UTama, 14 Okt 2020)

UTama Terima 2300 Mahasiswa Baru TA 2020-2021

2 1024x682 - Atalia Istri Gubernur Jabar Jadi Dosen Universitas Widyatama, UTama Selangkah Lebih Maju Dari Universitas Lainnya

Tahun akademik 2020-2021 Univeristas Widyatama/UTama menerima sekitar 2300 mahasiswa baru untuk jenjang D3, D4, S1 dan S2. Demikian disampaikan Rektor UTama – Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, S. IP., M. Si. usai kegiatan Sidang Senat Terbuka Guru Besar UTama yang berlangsung di Gedung Serba Guna  UTama, Sabtu, tanggal 19 September 2020.

3 1024x682 - Atalia Istri Gubernur Jabar Jadi Dosen Universitas Widyatama, UTama Selangkah Lebih Maju Dari Universitas Lainnya Mereka diterima di lima fakultas, yaitu: Fakultas Ekonomi Bisnis, Fakultas Desain Komunikasi Visual, Fakultas Bahasa, Fakultas Teknik, Sekolah Pasca Sarjana dengan 21 program studi, termasuk prodi baru Perdanganan Internasional, Film dan Televisi, serta Perpustakaan & Sains Informasi.

UTama yang tahun 2020 menduduki ranking ke-57 dari sekitar 4.682 perguruan tinggi negeri swasta terbaik di Indonesia, sangat serius menyiapkan lulusan berkualitas, agar siap bersaing di kancah nasional maupun global. Terlebih untuk menyiapkan generasi emas di tahun 2045. Karena lebih dari 60 % penduduk Indonesia masuk kategori usia produktif.

Dalam tataran teknis, UTama telah berkolaborasi dan bersinergi dengan pemerintah, perguruan tinggi lain serta industri. Agar perencanaan program dan kurikulum termasuk standar pendidikan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Lulusan UTama juga sebisa mungkin bisa cepat lulus, untuk jenjang S1 selama 3,5 tahun dan S2 selama 1,5 tahun. Lulusan UTama akan dibekali sertifikat dari BNSP, LSP serta sertifikat keahlian dari Rektor.

UTama akan menerapkan perkuliahan yang lebih efektif. Mahasiswa dalam satu minggu cukup kuliah selama dua hari. Baik saat pandemi melalui daring, maupun nanti apabila kuliah tatap muka langsung bisa dilaksanakan kembali. Hari lainnya bisa digunakan untuk pengembangan diri sesuai minat bakat para mahasiswanya. “Jadi dalam 1 semester itu 18 SKS, maka tiap satu hari kita upayakan pemberian mata kuliah 9 SKS, dan tiap mata kuliah yang diikuti yakni tiga SKS dimulai pukul 08.00. Kemudian mahasiswa pun bisa memilih perkuliahan yakni Senin dan Selasa, atau Rabu dan Kamis,” terang Rektor.

Tugas akhir mahasiswa di UTama tidak harus berupa skripsi atau tesis tetapi juga bisa berbentuk bisnis plan serta karya ilmiah yang dipublikasikan di SINTA ataupun Scopus.

Atalia – Istri Gubernur Jabar Dosen UTama

5 1024x682 - Atalia Istri Gubernur Jabar Jadi Dosen Universitas Widyatama, UTama Selangkah Lebih Maju Dari Universitas Lainnya Tahun akademik 2020-2021 ini ada yang istimewa di UTama, Atalia Praratya yang menjadi dosen tetap UTama. Atalia yang juga Bunda Literasi Jabar akan mengajar mata kuliah yaitu Public Speaking dan Komunikasi.

Pada Sidang Senat Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru UTama Atalia didaulat menjadi pembicara. Pada paparannya ia berharap agar generasi muda milenial bisa memberikan kontribusi positif di tengah pandemi Covid-19. Dengan media sosial yang mereka miliki bisa menginformasikan hal positif dalam menghadapi pandemi ini. Atalia yang juga istri Gubernur Jabar Ridwan Kamil mencontohkan seperti penerapan protokol kesehatan bagi masyarakat di antaranya penggunaan masker, cuci tangan pakai sabun dan jaga jarak. “Saya hari ini hadir untuk memberikan motivasi kepada mahasiswa baru bagaimana mereka harus mampu menggunakan komunikasi yang efektif dalam menghadapi keadaan saat ini, khususnya di masa pandemi Covid-19. Sekarang banyak berita tentang pandemi Covid-19 sehingga masyarakat perlu diberi konten-konten positif yang bisa dilakukan para mahasiswa,” jelas Atalia.

Ia juga mengajak mahasiswa baru UTama untuk menggerakkan relawan, bahkan mereka juga bisa menjadi peneliti, sebab sudah banyak alat dan teknologi yang dibuat para mahasiswa yang membantu penanganan Covid-19. Ia yakin mahasiswa saat ini sudah banyak berperan membantu dalam menghadapi pandemi Covid-19. (UTama, 21 Sep 2020)

Prodi Teknik Industri UTama Literasi K-3 Masyarakat Binong Jati

WhatsApp Image 2020 09 07 at 12.05.31 - Prodi Teknik Industri Universitas Widyatama Mengedukasi & Membantu Masyarakat Kelurahan Binong Jati Dalam Menerapkan K-3 Sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, Universitas Widyatama/UTama Bandung selalu berupaya untuk menjadikan kampusnya sebagai solusi memecahkan persoalan yang sedang dihadapi masyarakat. Tidak terkecuali di masa pandemi Covid-19.

UTama bergerak cepat membantu pemerintah dalam meringankan beban masyarakat, di antaranya melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) yang diselenggarakan beberapa fakultas, program studi, dan para dosennya.

Prodi Teknik Industri UTama menyelenggarakan kegiatan PkM di Kelurahan Binong Jati, Kota Bandung. Kegiatann dilangsungkan pertengahan bulan Mei 2020. Dikemas dalam bentuk penyuluhan dengan mengambil tema “Pentingnya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Guna Pencegahan Terpapar Covid -19”.

Pada acara tersebut UTama juga memberikan bantuan berupa masker sebanyak 360 buah dan poster tentang cara penggunaan masker serta cuci tangan memakai sabun, 300 lembar.

Kegiatan yang diketuai Dr. Arief Rahmana, ST., MT., CIPMP., dengan anggota para dosen, yaitu : Anita Juraida, ST., MT., Annisa Maharani Suyono, ST., MM., Ayu Endah Wahyuni, ST., MT., dan Rendiyatna Ferdian, ST., MT.

Dr. Arief  memaparkan tujuan kegiatan PkM memberikan pemahaman kepada masyarakat Binong Jati yang umumnya perajin rajutan, mengenai pentingnya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dalam menjalankan setiap aktivitas pekerjaannya agar terhindar dan tertular virus Covid-19. Ia bersama para dosen lainnya berharap dengan kegiatan itu, masyarakat Kelurahan Binong Jati terbantu dan dapat menjalankan protokol kesehatan dan keselamatan kerja (K3) pada saat beraktivitas, terlebih di tengah pandemi.

“Insya Alloh, kegiatan seperti ini terus digalakan, sebagai bentuk tanggung jawab program studi terhadap masyarakat. Juga kami berupaya menjadi bagian solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat. Kami ucapkan terima kasih kepada para dosen, Bapak Lurah, dan masyarakat Kelurahan Binong Jati yang telah membantu terselenggaranya kegiatan ini dengan lancar,” ujar Arief Rahmana, Senin (7/9/2020) lalu.

Sementara itu, Lurah Kelurahan Binong Jati – Pepen Ruspendi, SE., MM., yang menerima langsung bantuan masker dan poster di kantornya, sangat mengapresiasi kegiatan PkM Prodi Teknik Industri UTama.

“Atas nama warga kelurahan Binong Jati, kami mengucapkan terima kasih atas kegiatan PKM ini. Mudah-mudahan dengan kegiatan ini dapat memberikan pemahaman menyeluruh bagi warga kami tentang pentingnya K3, dalam kehidupan sehari-hari, terutama di masa pandemi Covid-19 ,” ujar Pepen. Kami sangat berharap kegiatan PKM seperti ini ke depannya terus berlanjut,” tutup Pepen. (UTama, 09 Sep 2020)

#### 0 ####

E-Magazine-24