Home Blog Page 29

Riset & Inovasi PT – Kinerja & Problema

Riset dan Inovasi Perguruan Tinggi/PT penting dan tidak sekedar riset untuk kebutuhan publikasi dan cum/point untuk akreditasi, namun yang lebih penting adalah menghilirisasikan riset2 itu sendiri. Bagaimana upaya dari hasil penelitian, kemudian dihilirisasikan. Kita paham bahwa tahap awal adalah prototype. Untuk itu harus menjalin kerjasama dengan dunia usaha/ industri, atau minimal hasil riset dan inovasi PT dapat diterapkan dalam skala laboratorium, walaupun belum dalam skala produksi, tapi sudah ada usaha untuk menginternalisasikan hasil penelitian tersebut, demikian disampaikan Ketua APTISI, Prof.Dr. Ir. H.?Eddy Jusuf, Sp, M.Si., M.Kom.

Bahkan kini riset dan inovasi PT, didalamnya tentu para dosen dan mahasiswa justru merupakan sebagian dari reputasi akademik PT. Penilaian QS World University Rangkings justru mengangkat reputasi akademik PT (dengan bobot 40% dari 100%) serta reputasi dosen dan mahasiswa (10% dari 100%), bahkan keterkaitannya dengan dunia usaha dan industri termasuk dalam salah satu indikator penilaiannya, demikian diungkapkan Rektor Universitas Indonesia/UI, Prof. Ari Kuncoro, S.E., M.A., Ph.D dalam Webinar Nasional Kampus Merdeka di Era dan Pasca Covid-19, 29 Mei 2020 lalu.

Tiga modal dasar pembangunan industri nasional, yakni SDA, SDM, serta Teknologi, Inovasi & Kreativitas. Ketiga modal ini perlu didukung pula oleh prasyarat infrastruktur, kebijakan & regulasi, serta pembiayaan.

Terlepas prasyarat dukungan di atas, Indonesia memiliki sumber daya alam darat & laut yang kaya, potensi SDM 265 Juta jiwa, dan dalam waktu dekat mendapat bonus demografi (SDM dalam usia muda bakal mengalami populasi puncak), namun SDM ini masih membutuhkan peningkatan kompetensi mereka agar mampu mengelola sumber daya alam tersebut, serta mengembangkan teknologi, inovasi dan kreativitas.

Pada kesempatan ini Komunita mengungkap Inovasi & kreativitas, khusus Riset dan Inovasi yang dilakukan salah satu kelembagaan riset atau aktor riset, yakni Perguruan Tinggi/PT. Secara umum kita pahami bahwa PT adalah salah satu rahim Iptek yang diharapkan sebagai Produsen Iptek Inovasi serta Pusat Keunggulan. Karena sejatinya PT adalah institusi pendidikan yang berbasis pada kegiatan pembelajaran melalui kegiatan riset. Melalui kegiatan riset, para dosen dan mahasiswa tentunya memiliki kesempatan menemukan masalah, mencari berbagai solusi secara ilmiah dan merumuskannya menjadi metode baku dan bisa direproduksi. Proses melihat masalah, berpikir, bertindak secara ilmiah dalam koridor etika ilmiah merupakan ajang pembelajaran dan penciptaan SDM muda dengan literasi Iptek yang tinggi.

Riset & Inovasi PT

Namun fakta sebagaimana diungkapkan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti periode 2014 – 2019) Prof. Drs. H. Mohamad Nasir, Ak., M.Si., Ph.D menyatakan, pada 2016 jumlah peneliti dan publikasi jurnal penelitian di Indonesia masih sangat rendah. Terdata baru sekitar 4.500 hingga 5.500 karya yang berhasil dipublikasikan. Problem seperti itu tidak bisa terlepas karena masih minimnya jumlah peneliti Indonesia.?Hal yang sama juga disampaikan Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar, saat itu jumlah peneliti Indonesia hanya 90 orang per 1 juta penduduk. Sementara jumlah peneliti di Brasil mencapai 700 orang per 1 juta penduduk, dan Rusia 3000 peneliti per 1 juta penduduk.

Sementara itu dalam penilaian Kemenristek/BRIN (2019 ? sekarang), dari sekitar 4.670 PT yang meliputi: Universitas, Institut, Politeknik, Sekolah Tinggi, dan Akademi kontribusi pada riset dan Iptek masih memprihatinkan. Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Ristek/BRIN) baru-baru ini mengumumkan hasil penilaian kinerja penelitian PT untuk periode 2016-2018 (data Simlitabmas), yakni : baru 47 PT masuk dalam kelompok Mandiri, 146 PT pada kelompok Utama, 479 PT pada kelompok Madya, dan sebanyak 1.305 PT pada kelompok? Binaan. Jumlah kontributor baru mencapai 1.977? PT atau baru 42 % dari total 4.670 PT yang ada di Indonesia, walaupun jumlah kontributor pada periode di atas menunjukkan peningkatan dari periode tahun 2013-2015 sebelumnya yang melibatkan 1.447 PT. (lihat Klasterisasi PT Indonesia & Penelitian)

Dari jumlah tersebut di atas, hanya 10 (sepuluh) PT dengan kinerja riset tertinggi. Kesepuluhnya adalah PTN. Dimanakah PTS ?? Bila dibandingkan dengan jumlah Badan usaha skala besar, menengah, kecil dan mikro yang berjumlah 56.539 560 (BPS, 2012), maka masih banyak peluang bagi para akademisi PT Indonesia yang jumlahnya masih relatih sedikit ? 89,5 per satu juta orang – dalam menyumbang riset dan inovasinya.

Data di atas menunjukkan bahwa aktifitas dan kegiatan riset Indonesia masih tertinggal jauh. Tentu saja ini bukan hanya masalah dosen di perguruan tinggi, namun juga lembaga-lembaga riset dan semua litbang di semua kementerian.

Padahal indikator evaluasi QS World University Rankings mencakup: Academic Reputation/40%, Employer Reputation/10%, Faculty/Student Ratio/20%, Citation per Faculty/20%, International Faculty Ratio/5%, International Student Ratio/5%. Terkait dengan riset dan inovasi tentunya merupakan aspek academic reputation dan employer reputation.

Salah satu akibat permasalahan riset selama ini dalam QS World University Rankings 2020 tidak ada satupun perguruan tinggi negeri ini masuk dalam daftar 100 besar universitas terbaik di dunia, padahal ada 4.670 PT. Sembilan perguruan tinggi Indonesia hanya masuk dalam daftar 1.000 universitas terbaik dunia, dan untuk QS Asian University Rankings, hanya 12? universitas termasuk dalam 500 universitas terbaik Asia. Hanya tiga di antaranya yang masuk dalam daftar 500 universitas terbaik dunia, dan 100 universitas terbaik Asia (lihat PT Indonesia QS Ranking University 2020). Untuk kedua ranking tersebut posisi tertinggi ditempati Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada dan Institut Teknologi Bandung.

Rendahnya peringkat perguruan tinggi Indonesia dan QS World University Rankings lantaran skor yang rendah. Dua indikator terendah adalah jumlah sitasi paper dalam lima tahun yang bersumber dari Scopus dan proporsi mahasiswa internasional, masing-masing dengan skor 2,4 dan 3,0. Skor ini berbanding terbalik dengan rata-rata skor 10 universitas terbaik dunia, yakni 88,3 dan 84,6. Indikator yang digunakan adalah reputasi akademik, reputasi alumni, rasio fakultas dan mahasiswa, kutipan jurnal ilmiah, fakultas internasional, dan mahasiswa internasional. Itu belum termasuk indicator reputasi akademik dan dosen dan alumni.

Kinerja Riset merupakan bagian dari persoalan Perguruan tinggi Indonesia. Pendidikan tinggi dalam arti kata Perguruan tinggi? bukan hanya tempat belajar-mengajar, juga tempat dikembangkannya ilmu pengetahuan melalui riset atau penelitian. Perguruan tinggi sebagai basis pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan sekedar menargetkan lulusan yang profesional dalam bidang teknik, kemampuan bersaing dengan pekerja asing, dan globalisasi pendidikan, melainkan kemampuan untuk menjadi hub penelitian, teknologi, jaringan cerdas, dan peradaban dunia.

 

Persoalan SDM

Dalam kaitan di atas, maka persoalan Sumber daya manusia (SDM) menjadi komponen mendasar yang harus ditingkatkan kualitasnya terutama pola piker, serta lompatan kemampuan untuk menyiapkan bahan ajar berbasis riset, berorientasi pasar dan melampaui zamannya, inovasi pembelajaran berbasis TIK terkini, hingga produktivitas penelitian dan pengabdian masyarakat dengan menghasilkan publikasi bereputasi tinggi, hak cipta, paten, dan penyebaran iptek memang patut menjadi pekerjaan rumah bersama. Hal ini menjadi penting terkait dengan kebijakan Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar yang menuntut proses transformasi berkelanjutan.

Salah satunya adalah problem SDM (baca: Dosen) dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan bebannya diperkirakan meningkat menjelang tahun 2050. Dosen dituntut melakukan transformasi diri dalam mensikapi perubahan di atas.

Beberapa hal yang diduga menyebabkan rendahnya kinerja riset dunia pendidikan tinggi Indonesia (https://yusrintosepu.wixsite.com/…./DATA-DAN-FAKTA-KINERJA-RISET-PERGURUAN-TINGGI-DI-INDONESIA)

  1. Riset masih dilihat sebagai tugas tambahan seorang dosen, bukan terintegrasi dan disadari sebagai bagian dari tugas pokok. Paradigma di dunia pendidikan tinggi Indonesia masih melihat proses belajar-mengajar sebagai hal yang utama, bukan riset. Dosen masih melihat tugasnya sama dengan guru: mengajar. Bisa jadi karena Dosen diletakkan sejajar dengan Guru dalam satu undang-undang. Mestinya, berdasarkan perbedaan requirement, perbedaan instansi induk dan perbedaan tugas pokok, guru dan dosen harus dipisahkan.
  2. Persoalan infrastruktur dasar yang tidak memadai. Sarana prasarana kerja yang mendasar seperti meja kerja masih menjadi hal yang mewah bagi dosen? Hasil survey yang dilakukan Abdul Hamid dengan populasi dosen-dosen yang tergabung di Grup Dosen Indonesia. Hasilnya 39% dosen tak memiliki meja kerja, hanya ada ruang dosen yang dipakai bersama-sama. Sebanyak 35% memakai ruang dosen bersama, namun memiliki meja kerja, dan hanya 26% yang memiliki privasi: ada meja kerja dan satu ruangan dipakai maksimal dua orang dosen. (sumber:https://abdul-hamid.com/).?Berkaitan dengan point 1 (satu) diatas, bahwa tugas dosen hanyalah mengajar. Hal ini dianut oleh banyak pemimpin perguruan tinggi (negeri dan swasta) maupun banyak dosen itu sendiri. Pada umumnya pemimpin kampus tidak memfasilitasi dosen untuk memiliki ruang/meja kerja memadai, sementara banyak dosen yang memang ke kampus untuk mengajar saja, setelah itu mengerjakan kegiatan lain, mencari penghasilan tambahan. Mungkin hal ini dilihat bukan sebagai masalah, kecuali dalam instrumen akreditasi belaka. Ini baru soal ruang/meja untuk bekerja, belum bicara perpustakaan atau laboratorium berkualitas yang masih jadi hal langka di kampus-kampus di Indonesia.
  3. Sistem yang memberi disinsentif bagi dosen yang rajin melakukan publikasi ilmiah. Intinya batas sebuah aktivitas dosen dinilai dalam sistem promosi. Misalnya, paper ilmiah yang terbit di jurnal internasional hanya diakui satu paper dalam satu semester. Lebih dari satu tak dihitung sebagai pencapaian. Padahal tentu saja sebagai peneliti tak bisa memastikan atau mendikte editor atau publisher menerbitkan paper di waktu yang berbeda. Proses sebuah paper dari mulai dikirim sampai betul-betul terbit juga bervariasi bisa satu sampai dua tahun.
  4. Kesibukan administratif. Dosen disibukkan dengan berbagai kesibukan administratif. Contoh nyata adalah kesibukan mengisi BKD setiap semester hanya untuk sekedar mendapatkan tunjangan sertifikasi dosen. Contoh lain misalnya, ketika Dosen di seluruh Indonesia diwajibkan mengisi SIPKD dengan scan semua SK, ijazah dan sebagainya. Kewajiban tersebut disertai ancaman dan batas waktu. Akibatnya, dosen-dosen pontang-panting mencari berbagai SK dan surat-surat penting, men-scan, menyerbu situs SIPKD sehingga server ERROR.
  5. Kesibukan administratif juga berkaitan dengan aktivitas penelitian itu sendiri. Dosen harus berkompetisi untuk mendapatkan dana penelitian. Dan dosen yang mendapatkan grant penelitian biasanya disibukkan oleh aspek administratif dan bukan kualitas riset itu sendiri. Berurusan dengan kwitansi dan stempel, serta mencari dana talangan penelitian, sebelum dananya betul-betul turun. Belum lagi seringkali menghadapi potongan di sana-sini yang membuat kualitas riset berkurang.
  6. Rendahnya pendapatan dosen di Indonesia. Seberapa rendah? kan sudah ada sertifikasi dosen? Data Dikti sampai februari 2014 menunjukkan baru 39% dosen yang tersertifikasi. Sisanya, masing antri.

Hal ini tentu saja membuat sulit untuk menarik anak-anak muda bangsa terbaik untuk berkarir di dunia akademik. Untuk yang terlanjur menjadi dosen, kondisi semacam ini memaksa banyak dosen memiliki kesibukan ekstra menambah pendapatan. Apa akibatnya? seperti di point 1 dan 2 di atas: ke kampus hanya mengajar, mau singgah menulis atau membaca tak ada meja, akibatnya menyibukkan diri dengan aktivitas di luar kampus.

Lantas masih ada juga dosen-dosen yang menghasilkan publikasi ilmiah berkualitas. Tentun saja ada, di manapun pasti ada orang-orang hebat yang bertarung melawan keterbatasan. Jika keterbatasan itu kemudian tidak jadi hambatan, maka Indonesia akan menghasilkan lebih banyak dosen peneliti hebat dan lebih banyak publikasi ilmiah yang hebat pula. (lee)

Sumber : Berbagai sumber

Klasterisasi Dan Kinerja Penelitian PT Indonesia

(Kemenristekdikti 2019 dan Kemenristek – BRIN 2016 – 2018)

Klasterisasi Perguruan Tinggi

Tahun 2019

Penilaian Kinerja Penelitian Perguruan Tinggi

Tahun 2016-2018

Siaran Pers

Kemenristekdikti
Nomor: 147/SP/ HM/BKKP/VIII/2019

Klasterisasi Perguruan Tinggi

Konferensi Pers

Kementerian Riset dan Teknologi/Ristek – BRIN

Hasil Penilaian Kinerja Penelitian Perguruan Tinggi Periode Tahun 2016-2018

Jumat, 16/8/2019, Gedung D

Kemenristekdikti, Senayan, Jakarta.

Selasa, 19/11/2019, Gedung II BPPT/

Badan Penelitian & Pengkajian Teknologi, Jakarta

Indikator :

Pemeringkatan Perguruan Tinggi 2019 berfokus pada indikator atau penilaian berbasis Output – Outcome Base, yaitu:

  • Kinerja Masukan, bobot 40 % – meliputi kinerja Input (15%) dan Proses (25%), serta
  • Kinerja Luaran, bobot 60% – meliputi Output (25%), dan Outcome (35%).

Penambahan indikator baru sebagai upaya agar perguruan tinggi dapat secara aktif merespon perkembangan zaman, terutama revolusi industri keempat dan kebutuhan tenaga kerja

Indikator:

Penilaian kinerja penelitian mengacu 4(empat) indikator sebagai tolak ukur pemeringkatan, meliputi komponen:

  • sumber daya penelitian (bobot 30 %),
  • manajemen penelitian (bobot 15 %),
  • luaran/output (bobot 50 %), dan
  • revenue generating (bobot 5 %),

Mengingat peran strategis penilaian kinerja penelitian perguruan tinggi, semua perguruan tinggi berkewajiban menyampaikan data kinerja penelitiannya untuk penilaian pada periode berikutnya.

Tahun 2019, Kemenristekdikti mengeluarkan klasterisasi perguruan tinggi dalam dua (2) kategori yaitu: Perguruan Tinggi Non-Vokasi (pendidikan akademik), terdiri dari Universitas, Institut, dan Sekolah Tinggi, dan Perguruan Tinggi Vokasi, yang terdiri dari Politeknik dan Akademi.

Perguruan Tinggi Non-Vokasi berjumlah 2.141 perguruan tinggi, di bawah Kemenristekdikti terbagi dalam 5 (lima) klaster perguruan tinggi dengan komposisi:

  • Klaster 1, sejumlah 13 perguruan tinggi;
  • Klaster 2, sejumlah 70 perguruan tinggi;
  • Klaster 3, sejumlah 338 perguruan tinggi,
  • Klaster 4, sejumlah 955 perguruan tinggi, dan
  • Klaster 5, sejumlah 765 perguruan tinggi.
Terdapat 1.977 perguruan tinggi yang berkontribusi dalam kinerja penelitian, meningkat dari periode tahun 2013-2015 yang hanya mencapai 1.447 perguruan tinggi.

Berdasarkan analisis data Simlitabnas yang telah diverifikasi, Kinerja Penelitian Perguruan Tinggi Periode Tahun 2016-2018.adalah:

  • Kelompok Mandiri, sejumlah 47 perguruan tinggi
  • Kelompok Utama, sejumlah 146 perguruan tinggi,
  • Kelompok Madya, sejumlah 479 perguruan tinggi, dan
  • Kelompok Binaan, sebanyak 1.305 perguruan tinggi.

Sesuai kelompoknya PT akan mengelola dana penelitian maksimal sbb:

PT klaster Mandiri sebesar 30 Milyar/tahun,

PT klaster Utama sebesar 15 Milyar/tahun,

PT klaster Madya sebesar 7,5 Milyar/tahun, sedangkan

PT klaster Binaan sebesar 2 Milyar/tahun.

Berikut adalah 100 perguruan tinggi non-vokasi ranking tertinggi pada tahun 2019:

1.Institut Teknologi Bandung/skor 3.671 – klaster 1
2.Universitas Gadjah Mada/skor 3.594 – klaster 1
3.Institut Pertanian Bogor/skor 3.577 – klaster 1
4.Institut Teknologi Sepuluh Nopember/skor 3.462 – klaster 1
5.Universitas Indonesia/skor 3.401 – klaster 1
6.Universitas Diponegoro/skor 3.207 – klaster 1
7.Universitas Airlangga/skor 3.056 – klaster 1
8.Universitas Hasanuddin/skor 3.036 – klaster 1
9.Universitas Brawijaya/skor 2.948 – klaster 1
10.Universitas Padjadjaran/skor 2.906 – klaster 1
11.Universitas Andalas/skor 2.795 – klaster 1
12.Universitas Sebelas Maret/skor 2.711- klaster 1
13.Universitas Sumatera Utara/skor 2.695-klaster 1
14.Universitas Telkom (klaster 2)
15.Universitas Pendidikan Indonesia (klaster 2)
16.Universitas Negeri Yogyakarta (klaster 2)
17.Universitas Islam Indonesia (klaster 2)
18.Universitas Negeri Semarang (klaster 2)
19.Universitas Negeri Malang (klaster 2)
20.Universitas Bina Nusantara (klaster 2)
21.Universitas Jember (klaster 2)
22.Universitas Negeri Surabaya (klaster 2)
23.Universitas Syiah Kuala (klaster 2)
24.Universitas Riau (klaster 2)
25.Universitas Negeri Padang (klaster 2)
26.Universitas Katolik Parahyangan (klaster 2)
27.Universitas Sam Ratulangi (klaster 2)
28.Universitas Udayana (klaster 2)
29.Universitas Negeri Makassar (klaster 2)
30.Universitas Atma Jaya Yogyakarta (klaster 2)
31.Universitas Surabaya (klaster 2)
32.Universitas Katolik Indonesia AtmaJaya (klaster 2)
33.Universitas Jenderal Soedirman (klaster 2)
34.Universitas Tarumanagara (klaster 2)
35.Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (klaster 2)
36.Universitas Sriwijaya (klaster 2)
37.Universitas Ahmad Dahlan (klaster 2)
38.Universitas Muhammadiyah Malang (klaster 2)
39.Universitas Sanata Dharma (klaster 2)
40.Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur (klaster 2)
41.Universitas Pendidikan Ganesha (klaster 2)
42.Universitas Trisakti (klaster 2)
43.Universitas Kristen Petra (klaster 2)
44.Universitas Islam Bandung (klaster 2)
45.Universitas Pancasila (klaster 2)
46.Universitas Lampung (klaster 2)
47.Universitas Mataram (klaster 2)
48.Universitas Katolik Soegijapranata (klaster 2)
49.Universitas Mercu Buana (klaster 2)
50.Universitas Negeri Medan (klaster 2)
51.Universitas Dian Nuswantoro (klaster 2)
52.Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (klaster 2)
53.Universitas Ma Chung (klaster 2)
54.Universitas Kristen Satya Wacana (klaster 2)
55.Universitas Gunadarma (klaster 2)
56.Institut Teknologi Nasional Malang (klaster 2)
57.Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (klaster 2)
58.Institut Seni Indonesia Yogyakarta (klaster 2)
59.Universitas Negeri Jakarta (klaster 2)
60.Universitas Djuanda (klaster 2)
61.Universitas Islam Sultan Agung (klaster 2)
62.Universitas Tanjungpura (klaster 2)
63.Universitas Muhammadiyah Surakarta (klaster 2)
64.Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (klaster 2)
65.Universitas Pasundan (klaster 2)
66.Universitas Jambi (klaster 2)
67.Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas Surabaya (klaster 2)
68.Universitas Trunojoyo (klaster 2)
69.Universitas Al-Azhar Indonesia (klaster 2)
70.Institut Teknologi Nasional Bandung (klaster 2)
71.Universitas Kristen Duta Wacana (klaster 2)
72.Universitas Ciputra Surabaya (klaster 2)
73.Universitas Multimedia Nusantara (klaster 2)
74.Universitas Swiss German (klaster 2)
75.Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (klaster 2)
76.Universitas Widya Gama (klaster 2)
77.Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (klaster 2)
78.Universitas Presiden (klaster 2)
79.Universitas Komputer Indonesia (klaster 2)
80.Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Malang Kucecwara (klaster 2)
81.Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (klaster 2)
82.Universitas Lambung Mangkurat (klaster 2)
83.Universitas Narotama (klaster 2)
84.Institut Seni Indonesia Denpasar (klaster 3)
85.Universitas Islam Malang (klaster 3)
86.Universitas Kristen Indonesia (klaster 3)
87.Universitas PGRI Adi Buana (klaster 3)
88.Universitas Mulawarman (klaster 3)
89.Universitas Budi Luhur (klaster 3)
90.Universitas Halu Oleo (klaster 3)
91.Universitas Merdeka Madiun (klaster 3)
92.Universitas Pakuan (klaster 3)
93.Universitas Dr. Soetomo (klaster 3)
94.Universitas PGRI Semarang (klaster 3)
95.Universitas Widyatama (klaster 3)
96.Universitas Muhammadiyah Magelang (klaster 3)
97.Universitas Stikubank (klaster 3)
98.Universitas Nasional (klaster 3)
99.Universitas Ibn Chaldun (klaster 3)
100.Universitas Negeri Gorontalo (klaster 3)

Berdasarkan rilis resmi yang ditandantangani Plt. Dirjen Risbang, Ocky Karna Radjasa, berikut 100 PT terbaik dalam kinerja penelitian:

  1. Universitas Gadjah Mada (Klaster Mandiri)
  2. Institut Pertanian Bogor (Klaster Mandiri)
  3. Universitas Diponegoro (Klaster Mandiri)
  4. Universitas Andalas (Klaster Mandiri)
  5. Institut Teknologi Bandung (Klaster Mandiri)
  6. Universitas Airlangga (Klaster Mandiri)
  7. Universitas Padjadjaran(Klaster Mandiri)
  8. Universitas Hasanuddin(Klaster Mandiri)
  9. Institut Teknologi Sepuluh Nopember(Klaster Mandiri)
  10. Universitas Udayana(Klaster Mandiri)
  11. Universitas Brawijaya(Klaster Mandiri)
  12. Universitas Indonesia(Klaster Mandiri)
  13. Universitas Sebelas Maret(Klaster Mandiri)
  14. Universitas Negeri Malang (Klaster Mandiri)
  15. Universitas Sumatera Utara(Klaster Mandiri)
  16. Universitas Riau(Klaster Mandiri)
  17. Universitas Negeri Semarang(Klaster Mandiri)
  18. Universitas Pendidikan Indonesia(Klaster Mandiri)
  19. Universitas Negeri Yogyakarta(Klaster Mandiri)
  20. Universitas Syiah Kuala (Klaster Mandiri)
  21. Universitas Jember(Klaster Mandiri)
  22. Universitas Islam Indonesia(Klaster Mandiri)
  23. Universitas Lampung(Klaster Mandiri)
  24. Universitas Mataram(Klaster Mandiri)
  25. Universitas Negeri Jakarta(Klaster Mandiri)
  26. Universitas Negeri Padang(Klaster Mandiri)
  27. Universitas Muhammadiyah Surakarta(Klaster Mandiri)
  28. Universitas Sam Ratulangi (klaster Mandiri)
  29. Universitas Sriwijaya(Klaster Mandiri)
  30. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur(Klaster Mandiri)
  31. Universitas Kristen Satya Wacana(Klaster Mandiri)
  32. Universitas Telkom(Klaster Mandiri)
  33. Universitas Bina Nusantara (Klaster Mandiri)
  34. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta(Klaster Mandiri)
  35. Universitas Halu Oleo(Klaster Mandiri)
  36. Universitas Jenderal Soedirman(Klaster Mandiri)
  37. Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya(Klaster Mandiri)
  38. Universitas Negeri Surabaya(Klaster Mandiri)
  39. Universitas Muhammadiyah Malang(Klaster Mandiri)
  40. Universitas Tarumanagara(Klaster Mandiri)
  41. Universitas Negeri Medan(Klaster Mandiri)
  42. Universitas Atma Jaya Yogyakarta(Klaster Mandiri)
  43. Universitas Katolik Parahyangan (Klaster Mandiri)
  44. Universitas Gunadarma (Klaster Mandiri)
  45. Universitas Pancasila(Klaster Mandiri)
  46. Universitas Tanjungpura (Klaster Mandiri)
  47. Universitas Kristen Petra (Klaster Mandiri)
  48. Universitas Mercu Buana (Klaster Utama)
  49. Universitas Djuanda (Klaster Utama)
  50. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta (Klaster Utama)
  51. Universitas Pendidikan Ganesha (Klaster Utama)
  52. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Klaster Utama)
  53. Universitas Trunojoyo(Klaster Utama)
  54. Universitas Negeri Makassar (Klaster Utama)
  55. Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (Klaster Utama)
  56. Universitas Surabaya (Klaster Utama)
  57. Universitas Ahmad Dahlan (Klaster Utama)
  58. Universitas Malikussaleh (Klaster Utama)
  59. Universitas Katolik Soegijapranata (Klaster Utama)
  60. Universitas Islam Sultan Agung (Klaster Utama)
  61. Universitas Islam Bandung (Klaster Utama)
  62. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (Klaster Utama)
  63. Universitas Tadulako (Klaster Utama)
  64. Universitas Mulawarman (Klaster Utama)
  65. Universitas Trisakti (Klaster Utama)
  66. Universitas Sanata Dharma (Klaster Utama)
  67. Universitas Bengkulu (Klaster Utama)
  68. Universitas Islam Malang (Klaster Utama)
  69. Universitas Pasundan (Klaster Utama)
  70. Universitas Jambi (Klaster Utama)
  71. Universitas Presiden(Klaster Utama)
  72. Universitas Islam Riau (Klaster Utama)
  73. Institut Teknologi Nasional Malang (Klaster Utama)
  74. Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Klaster Utama)
  75. Universitas PGRI Adi Buana (Klaster Utama)
  76. Politeknik Negeri Bali Utama (Klaster Utama)
  77. Universitas Islam Nusantara (Klaster Utama)
  78. Universitas Cenderawasih (Klaster Utama)
  79. Universitas Dian Nuswantoro (Klaster Utama)
  80. STKIP PGRI Sumatera Barat (Klaster Utama)
  81. Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (Klaster Utama)
  82. Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (Klaster Utama)
  83. Universitas Nasional (Klaster Utama)
  84. Universitas Muhammadiyah Surabaya (Klaster Utama)
  85. Politeknik Negeri Malang (Klaster Utama)
  86. Universitas Muhammadiyah Magelang (Klaster Utama)
  87. Universitas Ciputra Surabaya (Klaster Utama)
  88. Universitas 17 Agustus 1945 Semarang (Klaster Utama)
  89. Universitas Negeri Gorontalo (Klaster Utama)
  90. Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Klaster Utama)
  91. Institut Teknologi Nasional Bandung (Klaster Utama)
  92. Universitas Amikom Yogyakarta (Klaster Utama)
  93. Universitas PGRI Semarang (Klaster Utama)
  94. Universitas Warmadewa (Klaster Utama)
  95. Universitas Nusa Cendana (Klaster Utama)
  96. Universitas HKBP Nommensen (Klaster Utama)
  97. Universitas Jenderal Achmad Yani (Klaster Utama)
  98. Universitas Terbuka (Klaster Utama)
  99. Universitas Dr Soetomo(Klaster Utama)
  100. Universitas Muhammadiyah Semarang (Klaster Utama)

Diolah : lili irahali dari Kemenristekdikti dan Kemenristek-BRIN

Inovasi juga, Bisa Gagal?

Mengutip pendapat CEO CableLabs yang menegaskan bahwa Tanpa strategi inovasi yang kuat dan tangguh, tidak ada perusahaan yang dapat bertahan. Artinya inovasi justru sebuah strategi dalam mempertahankan keberlanjutan perusahaan. Namun tentunya strategi yang dikuatkan dengan komitmen dan kesungguhan.

Karena itu, tetap jangan lelah berinovasi! Inovasi didapatkan saat kita peka melihat peluang dan kesempatan yang datang. Peluang bisa datang dengan sendirinya, atau harus dicari. Kuncinya selalu lebih peka membaca situasi dan kondisi yang terjadi dan diinginkan masyarakat sekitar kita. Dalam mengembangkan inovasi, tidak terlepas dari keteguhan mental dan determinasi yang kuat sehingga dapat meraih tujuan yang diharapkan.

Perkembangan teknologi dan perangkat lunak telah mengubah wajah bisnis di era digital ini. Ke depan akan semakin banyak perubahan yang terjadi secara dramatis. Pelaku bisnis dituntut senantiasa beradaptasi dan berinovasi agar tidak terlindas perubahan yang terjadi. Kita hidup di era yang menuntut?inovasi. Apalagi di masa Pandemi Covid-19 ini kita semua dipaksa melakukan adaptasi, sekaligus inovasi.

Namun demikian inovasi memerlukan komitmen dan tidak gagap manapakinya, karena inovasi juga menciptakan sebuah paradoks?? Paradoks inovasi adalah paradoks yang biasa dialami perusahaan mapan ketika ingin melakukan inovasi bahwa mereka merasa penemuan baru tersebut akan mengganggu bisnis inti (core business) mereka. Paradoks inovasi juga disebut bahwa inovasi akan mengganggu dan mendisrupsi bisnis lama (Cahyo Prayogo, 2019).

Sebuah perusahaan besar yang sangat mapan ketika memandang perubahan di sekitar mereka, biasanya berpikir tidak perlu berubah, karena sistem mereka sudah teruji puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun. Berikut kisah beberapa perusahaan besar dan mapan yang gagal mengimplementasikan inovasinya.

NOKIA

Nokia, perusahaan yang didirikan di Finlandia adalah yang pertama menciptakan jaringan seluler di dunia. Pada akhir 1990-an dan awal 2000-an, Nokia adalah pemimpin global dalam ponsel. Dengan kehadiran Internet, perusahaan seluler lain mulai memahami bagaimana data – bukan suara – adalah masa depan komunikasi. Nokia tidak memahami konsep perangkat lunak dan terus berfokus pada perangkat keras, karena manajemen takut mengasingkan pengguna saat itu jika mereka berubah terlalu banyak. Kesalahan Nokia adalah fakta bahwa mereka tidak ingin memimpin perubahan drastis dalam pengalaman para pengguna. Hal ini menyebabkan Nokia mengembangkan kekacauan sistem operasi dengan pengalaman pengguna yang buruk yang tidak pas di pasaran. Nokia melebih-lebihkan kekuatan mereknya dan percaya mereka bisa datang terlambat di permainan smartphone dan berhasil. Pada 2007 Steve Jobs meluncurkan iPhone, telepon tanpa keyboard, yang revolusioner pada saat itu. Sungguh, kita melihat dan mendengar orang-orang yang kehilangan akal, ketika pertama kali melihat seseorang menggunakan layar sentuh. Pada 2008 Nokia akhirnya membuat keputusan untuk bersaing dengan Android, tetapi sudah terlambat. Produk mereka tidak cukup kompetitif. James Surowiecki The New Yorker Kontributor menyebutkan Bukan hanya karena Nokia gagal mengenali semakin pentingnya perangkat lunak. Nokia juga meremehkan betapa pentingnya transisi ke smartphone. Dan ini adalah, dalam retrospeksi, kasus klasik dari sebuah perusahaan yang terpesona (dan, dengan cara, dipenjara) oleh kesuksesan masa lalunya.”

KODAK

Kodak, adalah sebuah perusahaan teknologi yang mendominasi pasar film fotografi selama sebagian besar abad ke-20. Perusahaan ini membuang kesempatan untuk memimpin revolusi fotografi digital karena mereka terlalu lama menyangkal. Steve Sasson, insinyur Kodak, benar-benar menemukan kamera digital pertama pada tahun 1975. “Itu adalah fotografi tanpa film, namun reaksi manajemen adalah,”lucu ?jangan memberi tahu siapa pun tentang hal itu,”kata Sasson. Para pemimpin Kodak gagal melihat fotografi digital sebagai teknologi yang bakal memimpin, alih-alih menganggapnya mengganggu.

Seorang mantan wakil presiden Kodak Don Strickland mengatakan: Kami mengembangkan kamera digital konsumen pertama di dunia, tetapi kami tidak bisa mendapatkan persetujuan untuk meluncurkan atau menjualnya karena takut akan efek pada pasar film.

Manajemen sangat fokus pada kesuksesan film sehingga mereka kehilangan revolusi digital setelah memulainya. Kodak mengajukan kebangkrutan pada tahun 2012.

IBM

International Business Machines (IBM), yang dijuluki “Big Blue“, adalah perusahaan teknologi multinasional Amerika yang memiliki terobosan pada 1960-an dengan IBM System / 360 – keluarga komputer yang dirancang untuk mencakup berbagai aplikasi.

Pada awal 1990-an, IBM gagal menyesuaikan diri dengan revolusi komputer pribadi dan dengan demikian memulai kejatuhannya. Perusahaan menyesuaikan fokus mereka kembali pada perangkat keras daripada solusi perangkat lunak.

Hari ini, setelah melalui beberapa transisi, IBM adalah salah satu nama yang paling kuat dalam perangkat lunak perusahaan. Mereka mengubah keberuntungan mereka dengan manajemen baru. Akhir yang tidak dilihat sebagian besar perusahaan. Jack Schofield merinci apa yang salah di IBM dan mengapa rencana induk mereka gagal dilaksanakan. “Kunci kesuksesan adalah kegagalan besar-besaran.” – Thomas Watson President IBM.

JCPENNEY

Sebuah department store Amerika. JCPenney telah mempertahankan sebagai salah satu bisnis ritel katalog terbesar di AS. Toko mereka dulunya adalah tempat tujuan orang pergi membeli pakaian untuk bekerja, gereja, dan anak-anak. Tetapi ketika pasar di sekitar mereka berubah, JCPenney tidak dapat menemukan ceruk baru dan menghadapi krisis identitas.

Pendapatan mulai mengering secara drastis ketika Ron Johnson mengambil alih sebagai CEO pada 2012. Selama waktunya di JCPenny, perusahaan kehilangan sekitar $ 985 juta, 19.00 karyawan, dan 138 toko tutup. Hal ini menyebabkan eksodus massal pelanggan setianya.

Pada saat Mike Ullman mengambil alih, sudah terlambat untuk memperbaiki kerusakan yang telah terjadi. Saat ini, bisnis online dan katalog mereka yang membuat mereka tetap hidup. Dan pada pertengahan 2017 JCPenney menyatakan mereka telah kehilangan sekitar $ 62 juta pada kuartal kedua, yang menyebabkan 127 toko lainnya ditutup secara permanen. Panos Mourdoukoutas menjelaskan kesalahan strategis yang masih menghantui JCPenney.

TOSHIBA

Perusahaan Jepang yang dulunya raksasa teknologi sekarang berjuang untuk tetap hidup. Pada pertengahan 1980-an, Toshiba adalah salah satu perusahaan paling inovatif di dunia. Selama waktu itu mereka meluncurkan T1100, laptop pasar massal pertama. John Rehfeld, mantan karyawan Toshiba yang membantu menjual laptop di luar negeri mengatakan: Ada beberapa laptop yang keluar sebelumnya tetapi mereka semua memiliki kompromi. Itulah sebabnya Toshiba memulai dengan cepat. Kami memiliki laptop yang berfungsi seperti desktop. Internet membunuh pertumbuhan Toshiba, orang membeli komputer pesaing mereka dengan harga online yang lebih rendah. Pada tahun 2016 Toshiba mengumumkan bahwa mereka akan berhenti membuat PC untuk konsumen Eropa, tetapi akan terus menjual komputer ke bisnis di Eropa dan AS. Pada tahun 2017 Toshiba mengumumkan bahwa mereka mempertimbangkan untuk menjual bisnis chip memori berharga untuk melunasi hutang. Belakangan tahun itu, produsen chip memori NAND terbesar kedua di dunia Bain-Led Group menyatakan bahwa mereka membeli bisnis chip dengan harga $ 18 miliar. Josh Horwitz menjelaskan, “Bagaimana Toshiba butuh 70 tahun untuk mencapai puncaknya dan hanya satu dekade untuk jatuh ke dalam jurang maut.”

SONY

Sony, produsen produk elektronik, mengubah cara kita mendengarkan musik dengan penemuan Walkman pada tahun 1979. Pada tahun 90an Walkman adalah gadget yang wajib dimiliki untuk setiap remaja. Itu adalah iPhone pada zamannya. Tetapi ketika MP3 player diperkenalkan ke pasar, penjualan Walkman mulai menurun. Walkman yang ikonik dibunuh oleh pemutar MP3, yang kemudian dibunuh oleh smartphone. Sony tidak beradaptasi dengan inovasi teknologi seperti digitalisasi, pergeseran ke arah perangkat lunak, dan pertumbuhan musik online yang dapat diunduh secara ilegal. Sony sebenarnya memiliki teknologi untuk meluncurkan produk yang bahkan lebih baik daripada iPod, tetapi itu tidak pernah terjadi. Perusahaan itu terlalu takut untuk menguji sesuatu yang baru, berpikir itu akan mengancam kompatibilitas mereka di pasar. John Kay menjelaskan dalam sebuah artikel “Mengapa Sony tidak menciptakan iPod.” Hipsters masih menyukai Sony Walkman. Selalu ada ruang untuk bernostalgia. Intinya adalah: jika Anda ingin dianggap sebagai pencipta teknologi keren, Anda harus membuat teknologi keren. Tantangan bagi Sony adalah bahwa contoh-contoh itu belum ada di sana, dan mereka belum ada di sana selama beberapa tahun. “, terang Steve Beck Founder dari CG42.

PAN AM

Pan American World Airways, sebuah maskapai penerbangan yang dulu dikenal sebagai merek di masa depan. Maskapai ini menjadi perusahaan besar yang dikreditkan dengan banyak inovasi, seperti pesawat jet dan jet jumbo, yang membentuk industri penerbangan saat ini. Perusahaan itu merupakan ikon budaya abad ke-20. Slogan mereka “Maskapai Penerbangan Paling Berpengalaman Dunia” adalah akurat. Namun, karena kecelakaan tragis dan serangan teroris, Pan Am mengalami kemunduran reputasi yang tidak dapat mereka pulihkan. Kepercayaan hilang dari para pelanggannya dan Pan Am dikaitkan dengan menjadi pilihan maskapai yang tidak aman. Gagasan inovatif mereka tidak dapat menyelamatkan perusahaan sehingga pada tahun 1991 Pan Am bangkrut dan tutup. “Tidak mengherankan bahwa, ditambah dengan pers yang buruk, ketakutan, kurangnya agen perjalanan dan kepercayaan publik, nasib Pan Am disegel – sekaligus menghancurkan kehidupan, harapan dan impian ribuan pekerja keras Amerika dan banyak karyawan luar negeri keluarga Pan Am. “, jelas The Washington Post.

NATIONAL GEORAPHIC

Salah satu merek yang paling dihormati dalam sejarah, National Geographic dimulai sebagai majalah resmi National Geographic Society yang diterbitkan terus menerus sejak 1888. Sebuah majalah yang menguasai seni mendongeng visual dan menginspirasi para fotografer dan pembuat film di seluruh dunia. Majalah ini mampu menangkap gambar yang belum pernah dilihat sebelumnya dan menyebarkannya ke setiap sudut dunia. Ini adalah pelopor pertama dari konten luar biasa. Perusahaan ini dihadapkan dengan ide untuk memulai saluran kabel NG baru pada 1980-an. Gagasan itu ditolak dan kelompok produsen yang mengajukan gagasan memutuskan untuk melakukan hal mereka sendiri dan meluncurkan Discovery Channel bersama dengan History Channel dan lainnya. Melihat kesuksesan mereka, National Geographic memutuskan untuk meluncurkan saluran kabel dan satelit mereka sendiri sedikit terlambat pada tahun 1997. “Untuk alasan yang sama saya membaca National Geographic, saya suka melihat tempat-tempat yang tidak akan pernah saya kunjungi”, jelas Edward Bernays.

ENRON

Enron Corporation adalah perusahaan energi, komoditas, dan layanan Amerika, yang dinamai sebagai perusahaan paling inovatif di Amerika oleh Fortune dari tahun 1996 hingga 2001. Pada akhir 1990-an, Gelembung Dotcom terus meningkat dan Enron memutuskan untuk berpartisipasi dengan menciptakan Enron Online pada tahun 1999, situs web perdagangan elektronik. Pada pertengahan 2000 EOL telah mengeksekusi hampir $ 350 miliar dalam perdagangan. Pada tahun yang sama gelembung dotcom meledak dan Enron dengan cepat mulai membangun jaringan telekomunikasi broadband berkecepatan tinggi. Proyek ini berakhir dengan biaya mahal bagi perusahaan tanpa laba. CEO saat itu Jeffrey Skilling telah menyembunyikan kerugian dari perusahaan. Ketika Ken Lay mengambil alih sebagai CEO pada tahun 2001, divisi broadband Enron melaporkan kerugian besar-besaran $ 137 juta. Pada bulan Desember, Enron mengajukan kebangkrutan dan pada tahun 2002 Departemen Kehakiman meluncurkan penyelidikan kriminal, di mana perusahaan akuntansi Enron, Arthur Andersen dihukum karena menghalangi keadilan. Troy Segel mendekonstruksi dan menganalisis “Skandal Enron”: “Jatuhnya Wall Street Sayang.”

Paradoks inovasi adalah paradoks yang bisa dialami oleh perusahaan mapan ketika ingin melakukan inovasi bahwa mereka merasa penemuan baru tersebut akan mengganggu bisnis inti (core business) mereka. Paradoks inovasi juga bisa disebut bahwa inovasi akan mengganggu dan mendisrupsi bisnis lama. Lebih memperjelas konsep paradoks inovasi perlu memahami tiga butir berikut ini.

  1. Perusahaan Mapan Terjebak Kesuksesan Masa Lalu

Perusahaan besar cenderung sulit melakukan inovasi atau kemampuan mereka untuk berinovasi sangat terbatas. Hal itu karena perusahaan besar yang sudah sukses sering terjebak dengan kesuksesan di masa lalu.

  1. Inovasi Akan Mendisrupsi Bisnis Inti

Inovasi memiliki paradoks karena berpotensi mendisrupsi bisnis inti. Dalam jangka pendek, perusahaan yang mengabaikan inovasi dan fokus kepada bisnis inti yang menghasilkan keuntungan besar memang bisa diterima. Akan tetapi, bisnis tersebut tidak berkelanjutan jika ditinjau dalam jangka panjang. Inovasi seharusnya menjadi bisnis-bisnis lain di luar bisnis inti. Perusahaan tidak boleh lagi berpikir dan bertindak seolah-olah mereka adalah monolitik tunggal dengan satu model bisnis. Perusahaan besar justru harus membangun sebuah ekosistem di dalam bisnis mereka.

Perusahaan era digital harus menyelaraskan antara bisnis inti yang menjadi andalan dengan bisnis lain yang memiliki potensi memberi keuntungan besar di masa depan. Untuk itu aka nada resiko, namun, risiko itu lebih baik diambil daripada kerajaan besar berdiam diri dan hanya menunggu waktu: kerajaan besar lain menyerang dan meruntuhkan kerajaan mereka.

  1. Mendisupsi atau Terdisrupsi

Saat ini para pemimpin perusahaan dan pelaku bisnis hanya memiliki dua pilihan: mendisrupsi diri sendiri atau terdisrupsi oleh orang lain?

Pemimpin perusahaan tidak boleh terjebak oleh kejayaan masa lalu. Mereka harus sadar bahwa perubahan-perubahan akan berdampak terhadap bisnis mereka. Melakukan penyangkalan atau pura-pura tidak melihat perubahan bukan pilihan tepat untuk diambil karena taruhannya sangat besar: kelangsungan hidup perusahaan yang mereka pimpin.

Sumber :

Widyatama Percontohan Pusat Karir Bagi Perguruan Tinggi Se-Indonesia

Universitas Widyatama Bandung menjadi contoh pengelolaan pusat karir mahasiswa untuk perguruan tinggi se-Indonesia. Di mana lulusan Universitas Widyatama setelah lulus umumnya cepat terserap oleh dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Hal itu berkat pihak program pusat karir/career center Universitas Widyatama mengoptimalkan pusat bimbingan karir dan tracer study (pusat lanjutan karir) nya, dalam melatih serta memberikan pembekalan, pelayanan bagi mahasiswanya agar cepat terserap bekerja di DUDI.

Maksimal lulusan Universitas Widyatama memiliki masa tunggu kerja selama tiga bulan, terang Prof Obsatar Sinaga, Rektor Universitas Widyatama, Jumat (1/11/2019) di ruang kerjanya. Lebih lanjut, salah satu keunggulan pusat karir Widyatama, di antaranya setiap tahun mengirimkan 8 orang lulusan terbaik dari jurusan manajemen perbankan, untuk menjadi pegawai di salah satu bank ternama di Bali. Ia pun menambahkan bahwa pihaknya pun berkolaborasi dengan 48 perusahaan besar dalam penyaluran lulusannya untuk direkrut menjadi pegawai.

Di samping itu setiap tahun rutin menggelar kegiatan career day, yang menghadirkan puluhan perusahaan untuk malakukan perekrutan dan membuka lowongan kerja. Career Day Widyatama pernah memecahkan rekor MURI Indonesia. Di mana kami menyelenggarakannya selama 48 nonstop (dihelat Juli 2019 lalu), jelasnya.

Masih kata Rektor Widyatama, pihaknya memiliki 18 unsur mengenai Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) bagi mahasiswanya yang dibuat oleh Badan Nasional Serifikasi Profesi (BNSP). Selama kurang lebih tujuh semester mahasiswa Widyatama dari setiap program studi mengikut LSP. Sehingga memiliki sertifikat keahlian dari kementrian tenaga kerja yang dikeluarkan oleh Universitas Widyatama, yang kini berhasil menduduki rengking 95 perguruan ternama se-Indonesia. Setiap lulus satu semester akan di keluarkan sertifikat.

Berkat hal itu Widyatama pun ditunjuk menjadi percontohan bagi kampus lainnya di Indonesia. Menyelenggarakan pelaksanaan program pengembangan layanan pusat karir dan pusat karir lanjutan (tracer study) pada Direktorat Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemasiswaan.

Di samping itu mengadakan kegiatan pembahasan program kerja pengembangan karir tahun 2020, serta pembuatan draft laporan program bantuan pusat karir lanjutan (tracer study) tahun 2019 yang diselenggarakan di Universitas Widyatama, dari tanggal 31 Oktober ? 1 November 2019. Kegiatan diikuti sekitar 20 perwakilan dari perguruan tinggi se-Indonesia, seperti Institut Pertanian Bogor, Univeritas Hasanudin, Institut Teknologi Malang, Universitas Sebelas Maret, dan lainnya.

Widyatama pusat karirnya sudah bagus, hal itu menjadi alasan kenapa dipilih untuk mengajarkan pusat karir yang ideal, kata Tiomega Gultom, Kasubdit Penyelerasan Kebutuhan Kerja Direktorat Kemahasiswaan Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristek Dikti, (Jumat 1/11/2019) yang hadir pada kegiatan itu.

Menurut Gultom dulu yang namanya perguruan tinggi hanya meluluskan mahasiswa saja. Namun sekarang ada unit kerja di setiap perguruan tinggi dengan nama pusat karir. Lebih lanjut kata Gultom pusat karir bertugas untuk mempersiapkan para lulusannya. Mulai dari mahasiswa belajar, lulus, sampai keluar mencari pekerjaan semua itu disiapkan oleh pusat karir. Di antaranya dengan membuat pelatihan-pelatihan bagi mahasiswa untuk menghadapi dunia kerja.

Karena pusat karir membina ketika proses pembelajaran diajarkan, bagaimana mahasiswa nantinya bisa mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di kampus. Hal itu sebagai proses mahasiswa bekerjasama dengan orang banyak. Dunia usaha dan industri kini tidak memprioritaskan nilai ipk, karena hal itu menjadi nomer sekian, kata Gultom. Tetapi yang dilihat karakter dan kompetensi, karena pemerintah sekarang mengharuskan para mahasiswa mengantongi surat keterangan pendamping ijazah, tambahnya.

Menurutnya paling utama kini para mahasiswa dituntut untuk memiliki soft skill. Di antaranya kompetensi tim leader, bisa bekerjasama saat bekerja di bawah tekanan selain itu tata krama/beretika dan lainnya. Kompetensi yang namanya soft skill, kini justru dibutuhkan oleh perusahaan. Di samping itu melihat sosmed. Seperti apa karakter orangnya apa yang sudah diucapkan di dalam sosmednya. Sekarang ini mahasiswa dianjurkan mempunyai sosmed yang sesuai dengan namanya, papar Gultom.

Di akhir paparannya Gultom mengatakan bahwa tujuan dari kegiatan di Widyatama yaitu membina perguruan tinggi untuk membuat pusat karir secara optimal. Di samping itu membentuk tim kordinator pusat karir di 10 wilayah (Jakarta, & Tangerang, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan lainnya) di Indonesia membawahi perguruan tinggi yang diasuhnya. Sehingga pusat karir bisa bekerja dengan baik. byhumas&komunita, 02Nov2019

Abdi UTama Mahasiswa Widyatama Berbagi Dengan Masyarakat Arjasari

Senyum keceriaan dan kebahagiaan terpancar dari rona wajah siswa-siswi kelas 3 dan 4 Madrasah Iftidaiyah (MI) Al Huda Arjasari Kabupaten Bandung, tatkala mahasiswa Universitas Widyatama memberikan pengajaran Bahasa Inggris serta permainan berhadiah.

Di samping itu mereka pun berbagi rezeki, membagikan sekitar 200 paket sembako, berisi beras 2 kg, minyak sayur, sarden dan lainnya kepada para jompo serta yang berhak menerima bantuan.

Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari kegiatan Abdi UTama tahun 2019. Implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Diselenggarakan selama dua hari, tanggal 13-14 Desember 2019 lalu, di Desa Pinggirsari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung.

Kirana Ketua Pelaksana Abdi UTama di MI Al Huda kepada majalahsora.com mengatakan, bahwa Abdi Utama merupakan kegiatan yang digelar pertama kali oleh para mahasiswa di bawah naungan Biro Kemahasiswaan Widyatama. Melalui kegiatan ini kami melakukan bakti pendidikan, kerja bakti, membagikan sembako dan lainnya, kata Kirana, Sabtu (14/12/2019). Ada sekitar 40 mahasiswa Universitas Widyatama yang terlibat, mencakup mahasiswa dari 5 fakultas dan 18 program yang terjun. Mahasiswa yang turut serta merupakan anggota aktif di Unit kegiatan Kemahasiswaan (UKM) yang ada.

Penyuluhan bagi siswa-siswi Madrasah Aliyah (MA) Al Huda, materinya disampaikan langsung oleh dosen DKV. Sedangkan untuk kerja bakti mereka menyusuri daerah di sekitar RW 6 dan 20, dengan memungut sampah menyapu dan mencabut rumput liar.

Kegiatan Abdi Utama ini baru pertama kali berlangsung. Hal ini baik dilakukan, sebagai bentuk bakti nyata dan bentuk kepedulian mahasiswa Widyatama kepada masyarakat. Mudah-mudahan segala sesuatunya ke depan lebih meningkat lagi, untuk membantu sesama, kata Kirana.

Sementara itu Megawati Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Widyatama, masa bakti 2019-2020, sangat berterima kasih kepada seluruh panitia pelaksana yang turut serta. Semoga kegiatan Abdi UTama ini berjalan maksimal dan dapat berlangsung kembali di tahun depan serta memperbaiki kendala-kendala yang ada. Pada kesempatan yang sama Pawit Kepala Biro Kemahasiswaan Universitas? Widyatama, memaparkan bahwa diadakannya Abdi Widyatama, merupakan salah satu kewajiban mahasiswa terhadap pengabdian masyarakat.

Kegiatan ini mengikuti peraturan Kemenristekdikti, bahwa di kampus bukan hanya dosen yang melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat tetapi mahasiswa juga, terangnya. Tujuan dari kegiatan tersebut yaitu, bagaimana mahasiswanya bisa menginvestasikan ilmunya kepada masyarakat.

Di antaranya kegiatan Widyatama mendidik yang mengajarkan bahasa Inggris kepada siswa-siswi MI Al Huda. Kemarin Jumat (13/12/2019)? juga ada penyuluhan mengenai marketing tentang mengelola Usaha Kecil Menengah (UKM), bagi para UKM dan petani. Disampaikan langsung oleh dosen dosen fakultas ekonomi, DKV dan manajemen, kata Pawit.

Hari ini (Sabtu 14/12/2019) ada Widyatama mendidik. Tadi juga ada kerja bakti, bersih-bersih kampung bersama Pak Lurah. Selanjutnya ditutup dengan kegiatan pembagian sembako di Kantor Desa Pinggirsari, Arjasari, Kabupaten Bandung, kata Pawit. Rencananya kegiatan ini rutin. Sudah dijadwalkan tiap semester ada. Diikuti oleh mahasiswa yang ada di UKM, setiap prodi. Minimal mereka satu kali melakukan Abdi Utama, imbuhnya.

Saat ditanya oleh majalahsora.com Abdi UTama di laksanakan di Desa Pinggirsari, ia menjelaskan bahwa hal itu sesuai dengan referensi dari PIKUM (Pusat Inkubasi kewirausahaan masyarakat) Jabar. Ia berharap dengan adanya Abdi UTama di Desa Pinggirsari bisa bermanfaat bagi MI dan MA Al Huda. Begitu juga bagi para petani dan wirausaha yang telah diberikan penyuluhan. Penerima sembako pun dapat merasakan manfaatnya. Semoga menjadi nilai tambah untuk mereka. Bagi mahasiswa kami pun bisa memberikan pengalaman dan meningkatkan jiwa sosial dan kepedulian kepada masyarakat, kata Pawit. Ia pun menjelaskan bisa berjalannya kegiatan ini tidak terlepas dari dukungan Yayasan Widyatama, Prof. H. Obsatar Sinaga, Rektor Universitas Widyatama, para dosen, Biro Kemahasiswaan serta para mahasiswa yang mendukung secara moril dan materil. Byhumas&komunita, 16Des2019

 

Widyatama Juara Umum WICAN Tahun 2019

Universitas Widyatama Kota Bandung berhasil menyabet juara umum WICAN atau Widyatama Internasional Akademik Competition and Exhibition tahun 2019. Ajang yang digelar oleh Widyatama bekerja sama dengan LLDIKTI Wilayah IV Jabar Banten itu, diselenggarakan dari tanggal 10-12 Desember 2019 lalu di kampus Widyatama.

Event ini merupakan ajang inovasi sekaligus eksebisi bagi para mahasiswa, khususnya perguruan tinggi yang berada di LLDIKTI Wilayah IV Jabar dan Banten, ditambah dari? DKI Jakarta dan lainnya.

Prof. H. Obsatar Sinaga merasa bangga dengan ajang tersebut, terlebih Universitas Widyatama berhasil menjadi juara umum. Alhamdulillah event nya berjalan lancar dan sukses. Saya haturkan terima kasih kepada seluruh kampus yang mengirimkan perwakilannya, juga selamat kepada seluruh pemenang. Terutama bagi mahasiswa kami yang berhasil menyabet juara dan mengharumkan Widyatama.

Lebih lanjut Prof. Obi mengatakan ajang inovasi dan eksebisi ini dapat menjadi wadah aktualisasi diri para mahasiswa dalam berkompetisi. Khususnya di wilayah LLDIKTI Wilayah IV Jabar dan Banten. Namun ada juga peserta yang datang dari DKI Jakarta, Yogyakarta, Malang, Malaysia dan lainnya dengan juri internasional dari Malaysia. Kepada seluruh panitia yang bekerja keras mensukseskan ajang WICAN tahun 2019 saya ucapkan terima kasih. Insya Alloh tahun depan ajangnya akan dikemas lebih baik lagi. Di samping diikuti banyak kampus dari mancanegara, ujar Rektor yang berhasil membawa Universitas Widyatama di rengking 95 perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

Berikut daftar pemenang WICAN tahun 2019. Management Smart Competition: 1)Andres Cristiana Maudy, Emi Dwi R, Fahreza F – Universitas Widyatama. 2)Adam Alim H, H Dhika Alvando, Syamsul Fiqri – Universitas Widyatama. 3)Silvi Rosita S, Regita Putri S, Mila Luvita – Universitas Widyatama.

Business Plan Competition: 1)Ilham Nugraha, Daffa Iqbal & Angga dari Universitas Widyatama. 2)Silvia, Anggareni & Sriven dari Universitas Tarumanagara. 3)Echa Tania, Siti Faiziah dan Hendrik dari Universitas Ibnu Khaldun Bogor.

Smart Movie Competition: 1)Anggara Wira , Fauzan Ali dan Rizky Aprilia dari Universitas Widyatama. 2)Dian Prayoga, Fadly Jovi dan Dimas dari SMKN 1 Ciamis. 3)Mahdiyah Adeline dan Raapi Hamzah dari Universitas Widyatama.

Marketing Plan Competition: 1)Andres Cristiana Maudy, Claudia Florensia Universitas dan Lidia Debora Pardosi dari Universitas Widyatama. 2)Yudhitira Dwi Putra Nilza, Jelsi Ratu Berlianne dan Farid Abdul Manan dari Universitas Widyatama. 3)Abdul Setiawan, Haafiz Ramadhan dan Listia Ocktavia Universitas Ibnu Khaldun Bogor.

Accounting Paper Challenge: 1)Miranda Arianty dari Telkom University. 2)Aliza Pravitasari dari Universitas Pasundan. 3)Rani Rahmawati dari Universitas Widyatama.

Startup Proposal Contest: 1)Vernando Wijaya Putra, Ferdian Julianto dan Glory Alifa Puncuna dari Universitas Indonesia. 2)Priskarinda Putri A.D, Ribka Wulan Simbolon dan LuluAh zakiyah dari ITHB. 3)Yuli Maulani, Revy Cahya Alamsyah dan Agnia Dwi Khasanah dari Universitas Widyatama.

Japanese News Anchor: 1)Ayu Andiani dari Universitas Widyatama. 2)Megita Rubiana S. dari STIBA INVADA. 3)Okeu Luthfi Pratama dari Universitas Widyatama.

Instrumentation Control & Contest: 1)Dedy Ariyanto, Yusuf Ari Bahtiar dan Taufik dari Institut Teknologi Nasional Yogyakarta. 2)Fajar Maulana Fahrizal, Roy Setiawan, Sapto Wibowo dari Universitas Widyatama. 3)David Fauzi, Martinus William Hartono, dan Michael Kresna Putra dari ITB.

Speech Contest: 1)Kevin Indira Putra dari Universitas Widyatama. 2)Eirene Pingkan Permana Giroth dari Universitas Widyatama. 3)Muhammad Nazhim Maulana dari Politeknik POS Indonesia.

Story Telling: 1)Andrew Fabian Zein Universitas dari Al-Azhar Indonesia. 2)Deana Febriani Putri dari Universitas Widyatama. 3)Ryo dari Universitas Bina Nusantara.

Essay Writing: 1)Jessica Christianti dari Universitas Bunda Mulia. 2)Suthan Nugraha dari STBA YAPARI Bandung. 3)Angela Ten Universitas Widyatama.

Web Design: 1)Indri Oktaviany dari Universitas Komputer Indonesia. 2)Ivan Yapputra dan Raden M. Xyla Ramadhan, Yusuf Ramadhan dari Universitas Widyatama. 3)Cecep Rifki Bustomi dan Jhon Manuel Damanik dari Universitas Widyatama.

Programming Contest: 1)Laurens Bryan Cahyana, Farrel Najib Anshary dan Hocky Harijanto dari Universitas Bina Nusantara. 2)Raka Rahmat G, Sri Lestari dan M. Rizky F dari Universitas Pendidikan Indonesia. 3)Jonas Tan, Ricky dan Junwin Cong dari Universitas Bina Nusantara. byhumas&komunita, 14Des2019

Liburan 5 hari di Pulau Bali, Cukup ?

Hey Guys,

Saya mau berbagi pengalaman nih 5 hari perjalanan di Bali. Ternyata liburan di awal awal sangat melelahkan dikarenakan jadwal yang padat. Ok anyway berikut trip yang saya lakukan selama di Bali:

15 September

14:00 flight dari Bandung ke Denpasar, Maskapai Lion Airnya ngaret nih.
15:30 Bandara ke Tanjung Benoa, saya pakai taxi bandara (karena yg disediakan cuma itu). Hotel ION, harganya standard tapi kelasnya saya pikir agak di bawah Ibis. Yang menyenangkan di daerah sini tempat makan gampang, massage banyak banget , dari pihak hotel juga menyediakan shuttle ke pantai free charge!

16 September


Tadinya saya mau keliling daerah Tanjung Benoa menggunakan motor sewa, tapi yang punya motor baru bisa datang jam 10, akhirnya saya beralih menggunakan shuttle service ke arah pantai Nusa Dua.
Disana saya sewa sepeda harganya 80 ribu/jam waw, Mahalnya, sedangkan ditempat lain motor saja 70 k/jam. Tapi daripada cape jalan.
Lupa dengan jadwal shuttle, saya ketinggalan kendaraan, akhirnya harus sewa mobil 70 ribu sampai ION ;(. Sebenernya saya bisa ikut bis Bali Collection, tapi ternyata jam 12:00-13:00 mereka break dulu.
Setelah beres-beres saya travelling lagi ke Sanur, dan saya ambil hotel Patrisia. Yaa hotel seadanya yang penting bisa nginap murah. Sanur itu tempat saya melihat sunrise, jadi sebelum pagi tiba, sorenya saya coba lihat dulu daerahnya biar ga nyari nyari lagi. Kira kira 300 m jaraknya dari hotel ke pantai. Cukup jalan kaki sekitar 5-10 menit.

17 September


Pagi sekali sekitar jam 5 pagi saya ?sudah siap siap untuk melihat sunrise, karena perkiraan terbit matahari 5:30, bisa menikmati ombak dan indahnya sunrise. Kembali ke hotel saya siap-siap untuk traveling menggunakan mobil rental yang saya pesan dari rekan saya di Bali. Saya pikir ini rental mobil yang paling murah dibandingkan rental mobil yang ditawarkan supir taksi yaitu 500 ribu (driver+bensin termasuk), sedangkan dari teman saya hanya 200 ribu (bensin termasuk),

Saya minta sarapan di hotel, saya kira yang akan didapatkan adalah nasi goreng, ternyata hanya roti bakar plus selai saja, hmm sesuai dengan harga mungkin. Dan jam 10:00 mulailah saya jalan jalan traveling dimulai ke BIRD PARK.
Harga tiket masuknya untuk lokasi turis yaitu 150 ribu kalau ga salah dan tiket ini termasuk juga untuk tiket masuk REPTILE PARK, sedangkan asing lebih mahal lagi. Makan siang disana juga, namun harganya juga mahal sebenarnya. Tapi tidak ada pilihan lain karena saya tidak melihat warung-warung di luar lokasi. BIRD PARK lokasinya sebenernya kecil saja tapi yang menariknya itu karena banyak burung jinak disana, seperti Kakatua dan Burung hantu yang dibiarkan begitu saja bertengger di pohon, dan mereka tidak lari ke alam bebas.
Lanjut lagi saya traveling ke monkey forest, lokasinya ternyata melewati UBUD. Ternyata disana itu daerah macet, saya sekitar setengah jam mungkin hanya bergerak sekitar 1 km. Memang saya dikejar waktu karena masih menginginkan mengunjungi GWK dan pantai Pandawa pada hari yang sama akhirnya diputuskan balik arah menuju selatan untuk mengunjungi GWK.
Di GWK sebenarnya tidak banyak yang bisa dilihat, selain dua patung yang terkenal yaitu Plaza Garuda dan Patung Wisnu. Yang unik ketika saya akan masuk ke lokasi patung Wisnu, saya diharuskan mengenakan kain berwarna kuning dengan tujuan menghormati tempat suci. Harga tiket masuk GWK yaitu 120 ribu kalau ga salah inget hehe. Cuaca yang sangat panas membuat sangat dehidrasi ketika disana.
Lanjut lagi saya ke pantai Pandawa, Ini adalah pantai yang bagus dengan pasir yang sangat halus dan putih serta bersih lingkungannya. Senang sekali bila bisa bermain ombak disana, tapi berhubung? saya rewel lagi melihat ombak jadi saya tidak bisa main langsung dengan ombak. Disini saya hanya bayar parkir saja, tidak ada tiket masuk.
Setelah puas dengan pantai, masih ada waktu sebelum sunset saya langsung bertolak ke Uluwatu untuk menikmati sunset disana. Harga tiketnya sekitar 20 ribu saya bisa menikmati indahnya sunset. Namun bila saya ingin sekalian nonton Tari Kecak saya dikenakan tiket masuk 100 ribu.

Malamnya saya pergi mencari hotel di daerah Jimbaran, saran driver direkomendasikasn hotel HORISON, namun saya langsung ke receptionist tanya harganya di angka 500 ribu akhirnya saya cari di tripadvisor di dapat Hotel Sari Segara. Hotelnya sepertinya hotel tua dengan tema etnik, bagi saya sih lumayan, namun lihat di review hotel banyak yang bilang ga bagus, mungkin karena tema nya yang etnik itu. Tapi seenggaknya dapat kamar luas, plus kolam renang dan paling penting di depan hotel banyak berjajaran kafe seafood yang langsung menuju akses ke pantai. Saya Dinner disana pas dipinggir pantai, bagi yang sedang berbulan madu daerah jimbaran ini RECOMMEND banget. Namun harga seafoodnya mahal mahal, ya dikarenakan yang dijual yaitu viewnya itu.

18 September

Dikarenakan sehari sebelumnya saya telah jalan jalan jauh sehingga pagi pagi sampai siang saya masih istirahat di hotel untuk recovery energi dulu. Siangnya saya ingin mencoba makan makan di AYANA RESORT di kafe RockBar. Dengan modal 70 ribu saya sewa motor 24 jam dan berangkat ke AYANA, dari hotel hanya butuh waktu sekitar 15-20 menit saya sudah sampai di AYANA. Memang mewah banget tempatnya, apalagi RockBarnya itu kafe yang ada di pinggir tebing pantai dan langsung bisa melihat indahnya sunset. Lagi lagi untuk menikmati sunset di RockBar saya wajib memesan makan dan minum disana. Harganya waaaaw, saya hanya pesan roti dan semacam keroket dan 2 jus kena charge 400 ribuan. Wooow mahalnya mantap.
Sebelum pulang ke Jimbaran, saya mampir dulu ke tempat seafood dengan nama kafe Nyoman. Info dari istri sih harganya murah. Karena saya ingin mencicipi rasanya Lobster akhirnya saya pesan disana. Harganya sangat mahallll, 1Kg lobster (1 lobster) harganya 500 ribu, walah tapi karena penasaran dan mungkin untuk sekali seumur hidup saya coba saja, namun minta tawar menawar, karena penjaganya iba dia bilang “kalau diskon ga bisa, saya bilang saja ini 0.8Kg jadi bisa dapat harga 400 gimana?”, Katanya. Wah lumayan nih masih dapat seratus ribu

19 September


Siap siap saya untuk lanjut traveling lagi, bingung juga ingin ke Tanah Lot namun dana terbatas, bila saya ambil rent car lagi harus keluar uang banyak dan sayang juga cuma dapat satu tempat. Akhirnya saya ingat dengan aplikasi grab bike. Teryata saya bisa lebih berhemat dengan sekitar 200 rb saya bisa mengunjungi Tanah Lot dan lanjut ke pemberhentian hotel terakhir saya di Kuta Heritage Beach.
Walau bulan September saya sebut bulan yang sepi pengunjung, ternyata di Tanah Lot ramai juga. Kebanyakan turis yang datang selama saya di Bali ternyata beretnis Cina, sepertinya karena liburan Tahun Baru Cina.
Setelah panas panasan, keliling sana sini, akhirnya saya sampai di tempat paling terkenal di dunia yaitu Kuta. Kuta memang surganya “Bule” karena disana tempat yang paling lengkap dari pusat perbelanjaan, entertaintment, club house, dan yang paling penting itu akses pantai yang benar benar dekat karena kotanya memang persis di pinggir pantai. Saya sampai terheran heran awalnya, dan macetnya seperti Jakarta saja. Mau gimana tidak macet, jalan sempit gitu tapi lalu lintas dan orang orangnya padat.
Heritage Kuta Beach yang dibawah kendali Accor Hotel saya pikir ga terlalu jauh beda dengan hotel ION baik itu interior dan fasilitasnya, namun harganya lebih tinggi 2x lipat lebih. Tapi yang pasti nyaman memang.

20 September
Akhirnya tidak terasa 5 hari sudah saya plesiran di Bali, bila saya bilang, ini membutuhkan budget yang besar, Paling besar itu ada di hotel dan transportasi. Sedangkan makan itu sih tergantung saya mau hedon atau tidak hehehehe. Baiknya coba berwisata dengan lebih banyak orang sehingga transportasi bisa lebih diminimalkan harganya.


Akhir kata saya sangat puas dengan perjalanan ini walaupun di akhir perjalanan foto-foto saya selama di Bali terhapus semua oleh saya dikarenakan Smartphone saya kecemplung di kolam renang Hotel 🙁 Untungnya masih bisa di restore sebagian ketika sudah sampai Bandung. Well mudah- mudahan ada budget lagi untuk plesiran lagi ke Lombok bersama istri ditahun 2020.

written by : Yanda Ramadana

By Yanda Ramadana

Ayam Geprek GG, Adaptasi di Masa Pandemi Covid-19

Asuhan : Meriza Hendri

Pandemi Covid-19 yang terjadi di Indonesia sudah memberikan pengaruh luar biasa bagi bisnis di semua sektor industri. Apalagi bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yang secara bisnis, sangat rentan terpengaruh oleh perubahan lingkungan bisnis seperti pandemic Covid-19.

Salah satu perusahaan yang terkena dampak adalah Ayam Geprek GG yang dimulai oleh seorang alumni Universitas Widyatama yaitu Adhitya Citra. Anak muda kelahiran Bandung tahun 1987, memang memilih bisnis sebagai pilihan hidupnya. Berbekal ilmu yang sudah didapatkan di jurusan manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Adhit memberanikan diri untuk mengembangkan bisnis Kuliner ini. Banyak hal yang saya dapatkan selama kuliah di Widyatama yaitu pola pikir, ilmu bisnis, dan networking yang sangat bermanfaat sekali kata Adhit.

Adhit memulai Dapur GG sejak Februari 2016 di Bandung dengan modal Rp. 1 Juta dan memanfaatkan garasi rumah orang tuanya serta meminjam peralatan dapur milik keluarga. Fokus bisnisnya adalah kuliner dengan konsep food delivery dan untuk mendukung bisnisnya, bekerjasama dengan Ojek online yang sedang menjadi fenomena baru di bisnis kuliner dengan layanan food delivery apps-nya sehingga model bisnisnya di sebut ghost kitchen atau cloud kitchen. Produk utama Dapur GG Ayam Geprek dan Thaitea saat ini telah terjual sekitar 500 porsi perhari tambah Adit.

Visi yang hendak dicapai Adhit adalah menjadi merchant Ayam Geprek dan Thaitea terlaris di Bandung tahun 2021. Dengan bekal ilmu manajemen serta berbagai pelatihan dan komunitas yang diikuti oleh Adhit, mampu meningkatkan bisnisnya sehingga dapat membangun tiga cabang Ayam Geprek GG.

Hanya saja, Pandemi Covid -19 memberikan dampak yang luar biasa bagi Ayam Geprek GG. Beberapa dampak yang sangat dirasakan adalah penurunan omset sampai 70% dan tidak bisa berjualan sampai malam. Selain itu, cashfow terganggu sehingga mengalami kesulitan untuk membayar karyawan, supplayer, operasional, dan sewa tempat kata Adhit.

Untuk dapat bertahan di masa pandemi Covid-19 ini, Adhit dan manajemen Ayam Geprek GG mengambil langkah stratejik. Pada bagian keuangan, manajemen melakukan efisiensi dengan cara mengidentifikasi pengeluaran yang tidak perlu dan fokus pada biaya yang berhubungan dengan produksi ayam geprek.

Adhitya Citra
Adhitya Citra

Disisi lain, manjemen Ayam Geprek GG juga melakukan inovasi produk yaitu membuat frozen food atau ready to cook. Hal ini dilakukan sesuai dengan need, want dan demand pasar yang dikomunikasikan kepada konsumen dengan memanfaatkan delivery apps kata Adhit. Memang dalam proses bisnisnya, Adhit benar-benar fokus pada penjualan produk yang cepat.

Agar bisa melakukan efisiensi biaya, manajemen ayam geprek GG juga mengurangi jam kerja sesuai dengan peraturan pemerintah. Dan yang paling penting adalah mengikuti Protocol Covid -19 seperti sosial distancing, cek suhu, masker, cuci tangan dan lain lain.

Salah satu aspek yang sangat stratejik adalah sumber daya manusia atau karyawan dan dalam hal ini, manajemen Ayam Geprek GG melakukan pengurangan karyawan dari 22 orang menjadi 13 orang. Saya melakukan open communication dan mengajak karyawan untuk berjuang bersama-sama serta bersyukur tambah Adhit.

Secara ringkas, Adhit menyampaikan dua kunci penting perusahaannya untuk melewati dampak pandemic Covid-19 ini. Pertama adalah mindset, yaitu setiap krisis selalu ada peluang baru yaitu the raise of home cooking/frozen food, dimana banyak orang yang jadi suka masak di rumah kata Adhit. Yang kedua adalah shifting ke delivery apps makin diperlukan karena kuliner Offline/dine in tidak bisa operasional. Oleh karena itu, diperlukan shifting belajar food delivery online tambah Adhit.

Berkat strategi dan program yang dijalankan oleh manajemen Ayam Geprek GG, perusahaan dapat bertahan dan meningkatkan omset dan profit lagi sedikit demi sedikit. Saya yakin bisa mengembangkan bisnis ini dimasa New Normal karena sudah kami siapkan SOP untuk masa New Normal kata Adhit. Bagi yang berminat melihat bisnis Ayam Geprek Dapur GG, bisa dengan follow IG @dapurgg.

Meriza Hendri

Riset Dan Inovasi PT Belum Menggigit Dan Mengkait

Model ekonomi telah bergeser dari Technology Based Economy/TBE menjadi Knowledge Based Economy/KBE. Sehingga abad 21 ini merupakan era masyarakat berbasis pengetahuan (Knowledge Based Society/KBS), dimana pengetahuan menjadi sumber daya utama untuk berkontribusi pada percaturan global. Model di atas tidak terlepas dari inovasi teknologi dan ilmu pengetahuan yang telah mendisrupsi struktur dan lanskap bisnis masa lalu dan kini.

KBE sebagai model ekonomi menstimuli kreativitas, kreasi, penyemaian, serta penerapan pengetahuan dan informasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan; sekaligus mengakselerasi sistem yang efektif bagi pendidikan dan pelatihan;? teknologi informasi dan komunikasi; riset & pengembangan, serta inovasi. Karenanya KBE diyakini menjadi fondasi perekonomian modern yang mampu mempengaruhi proses kerja, perilaku tenaga kerja, serta masyarakat sebagai konsumen. Realitasnya kita sedang menjalani. Namun jangan dilupakan unsur yang melekat pada KBE memerlukan : a) investasi pada riset dan pengembangan (R&D); b) inovasi dalam produk, produksi, pasar, maupun pemasaran; c) pengembangan kewirausahaan pada industri berbasis teknologi, baik skala kecil maupun besar; d) pengembangan teknologi informasi dan komunikasi; e) peningkatan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi; f) serta peningkatan keterampilan dan profesionalitas (World Bank, Knowledge Economic Index, 2012).

Korea Selatan – sebagai salah satu negara yang terbentuk 15 Agustus 1948 atau 3 tahun setelah Indonesia – kini memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi, dimana lebih setengah pertumbuhan ekonominya disokong oleh peningkatan efisiensi yang dicapai melalui riset dan teknologi. Fakta lain, negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi didukung kontribusi riset dan teknologi yang diperlihatkan pada multifactor productivity/MFP (Batelle 2013, CHAN 2009). Nah, kemajuan ilmu pengetahuan & teknologi/Iptek dan inovasi Indonesia diharapkan dapat menjadi ujung tombak meningkatkan daya saing bangsa. Namun ironinya unsur-unsur KBE di atas bagi Indonesia mungkin tidak mudah menjangkaunya.

Iptek Indonesia dalam Lanskap Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Indonesia – Kemenristekdikti tahun 2017 tergambar melalui indikator klasifikasi produk perdagangan selama tahun 2012-2016, Indeks global daya saing dan inovasi (Global Competitiveness Index/GCI dan Global Innovation Index/GII), serta Gross Domestic Expenditure on R&D (GERD) masih membutuhkan perjuangan.

Dari klasifikasi produk perdagangan periode 2012-2016, neraca perdagangan Indonesia positif hanya pada produk dengan intensitas teknologi rendah, sementara? pada produk dengan intensitas teknologi medium dan tinggi neraca perdagangannya negatif. Sangat jauh, dibandingkan dengan: Brazil, Rusia, India, dan Tiongkok (negara BRIC); Korea Selatan; Filipina, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam (negara ASEAN).

Dilihat dari Indeks global untuk daya saing dan kapasitas inovasi (Global Competitiveness Index/GCI dan Global Innovation Index/GII). Peringkat Indonesia pada peringkat ke-10 (GCI? 2017-2018) yang mengindikasikan Indonesia sebagai pasar potensial. Maknanya, jika tidak dapat dimanfaatkan oleh produsen dalam negeri, Indonesia merupakan target pasar potensial produk dan jasa dari luar atau negara lain. Demikian pula pada GII – indeks yang menilai negara dari kapasitas inovasinya – prestasi Indonesia belum cukup baik.

Dari sisi Gross Domestic Expenditure on R&D (GERD), yakni indikator utama perbandingan aktivitas dan pengeluaran litbang antar negara pada periode tertentu. Besaran GERD Indonesia, hanya 0,2% dari Produk Domestik Bruto (PDB), tertinggal jauh dari Korea Selatan, negara-negara BRIC, dan negara-negara ASEAN lainnya. Sedang dari indikator jumlah peneliti/SDM (satuan: FTE per satu juta penduduk) Indonesia berada di posisi paling bawah, yakni jumlah peneliti baru 89,5 FTE per satu juta penduduk di antara 11 negara pembanding.

Dari ukuran di atas belum terlihat kontribusi Iptek dan inovasi Indonesia bergaung di tataran nasional, regional apalagi global, khususnya di teknologi medium dan tinggi. Bisa jadi benar, ketika PT.DI sejak 1976 – 1997 mengibarkan teknologi transportasi pesawat CN-235, N250, (dan kini N219) kontribusi Iptek Indonesia dalam peta teknologi dan inovasi dunia, khususnya teknologi transportasi begitu menggema. Itulah inovasi teknologi terapan, dan produk yang dapat dirasakan walau masih perlu perjalanan berliku. Namun apa dapat dikata nasi telah menjadi bubur, Indonesia meredup dari peta kedirgantaraan dunia setelah PT.DI dikerdilkan.

Pemerintah melalui Rencana Induk Riset Nasional/RIRN 2017 – 2045 mulai menyelaraskan kebutuhan riset jangka panjang dengan arah pembangunan nasional terkait ilmu pengetahuan dan teknologi. RIRN dirancang dengan pendekatan holistik, lintas institusi, lintas ranah dan berdasarkan fokus riset; serta mensinergikan seluruh kekuatan agar mendapatkan hasil optimal di tengah keterbatasan sumberdaya, sekaligus mengakomodasi semua pelaku riset.

RIRN sebagai titik pangkal perbaikan secara menyeluruh, terintegrasi dan selaras dengan perencanaan pembangunan nasional, juga memfokuskan pada aspek riset dari keseluruhan proses riset di hulu sampai dengan hilirisasi, diintegrasikan dengan Rencana Induk sektor terkait, terutama perindustrian (RIPIN) termasuk Kebijakan Energi Nasional (KEN) dan ekonomi kreatif (RIEKN). Karena muara utama dari riset adalah produk manufaktur yang berorientasi pada industri, serta produk kreatif yang menjadi modal ekonomi kreatif berbasis Iptek. Secara umum, perencanaan riset dalam RIRN sampai dengan maksimal satu tahap sebelum pengembangan produk yang dilakukan di industri serta difusi maupun inkubasi teknologi.

RIRN juga tidak membatasi pada topik riset yang hanya berorientasi pasar atau solusi jangka pendek, tetapi mencakup topik riset fundamental yang ditujukan untuk peningkatan tabungan pengetahuan (pool of knowledge) bangsa. Dengan demikian, RIRN diharapkan mampu membangun sinergi riset nasional, yang bukan saja memperbaiki efisiensi, tetapi juga meningkatkan efektivitasnya, serta sebagai pendorong reintegrasi, dan harmonisasi pendidikan tinggi dengan riset, dengan masyarakat, serta lembaga riset lainnya. Demikian dokumen RIRN menjelaskan.

Dalam kaitan di atas, RIRN yang mengangkat 10 (sepuluh) fokus Riset Unggulan seyogyanya segera dimaknai dan disikapi Perguruan Tinggi/PT. Bukankah PT adalah salah satu rahim Iptek yang digadang-gadang sebagai Produsen Iptek Inovasi dan Pusat Keunggulan, serta sejatinya PT adalah institusi pendidikan yang berbasis pada kegiatan pembelajaran melalui kegiatan riset. Melalui kegiatan riset, para dosen dan mahasiswa memiliki kesempatan menemukan masalah, mencari berbagai solusi secara ilmiah dan merumuskannya menjadi metode baku dan bisa direproduksi.

Dari sekitar 4.670 PT yang meliputi: Universitas, Institut, Politeknik, Sekolah Tinggi, dan Akademi kontribusi pada riset dan Iptek masih memprihatinkan. Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Ristek/BRIN) baru-baru ini mengumumkan hasil penilaian kinerja penelitian PT untuk periode 2016-2018 (data Simlitabmas), yakni : baru 47 PT masuk dalam kelompok Mandiri, 146 PT pada kelompok Utama, 479 PT pada kelompok Madya, dan sebanyak 1.305 PT pada kelompok Binaan. Jumlah kontributor baru mencapai 1.977 PT atau baru 42 % dari total 4.670 PT yang ada di Indonesia, walaupun jumlah kontributor pada periode di atas menunjukkan peningkatan dari periode tahun 2013-2015 sebelumnya yang melibatkan 1.447 PT.

Dari jumlah tersebut di atas, hanya 10 (sepuluh) PT dengan kinerja riset tertinggi. Kesepuluhnya adalah PTN. Dimanakah PTS ?? Bila kita bandingkan jumlah Badan usaha skala besar, menengah, kecil dan mikro yang berjumlah 56.539 560 (BPS, 2012), maka masih banyak peluang bagi para akademisi Indonesia yang jumlahnya masih relatih sedikit 89,5 per satu juta orang – dalam menyumbang riset dan inovasinya.

Penilaian kinerja riset PT tersebut, menurut Menristek/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang P.S. Brodjonegoro berdampak pada kuota anggaran penelitian, pengelolaan dana desentralisasi sesuai dengan rencana induk penelitian masing-masing PT, peta kebutuhan program penguatan kapasitas per klaster, serta mekanisme pengelolaan penelitian. Komponen yang dievaluasi dalam penilaian kinerja riset PT meliputi sumberdaya penelitian (30 %), manajemen penelitian (15 %), luaran/output (50 %), dan revenue generating (5 %).

Mengingat peran strategis penilaian kinerja riset, semua PT dituntut menyampaikan data kinerja penelitiannya untuk penilaian periode berikut. Ketentuan ini berlaku bagi PT yang belum pernah menyampaikan data kinerja penelitian sekalipun. Selain itu, klaster PT turut berpengaruh terhadap jumlah anggaran penelitian yang dapat dikelola PT yang bersangkutan. Anggaran maksimal yang dapat dikelola oleh PT klaster mandiri mencapai Rp. 30 miliar/tahun, PT klaster utama sebesar Rp.15 miliar/tahun, PT klaster madya sebesar Rp.7,5 miliar/tahun. Sedangkan PT klaster binaan dapat mengelola dana penelitian sebesar Rp. 2 miliar/tahun.

Cakupan riset bila mengacu pada Agenda Riset Nasional menurut RPJPN 2005 – 2025, maka PT memungkinkan berpartisipasi dalam 7 (tujuh) topik, yaitu : 1) Mendukung ketahanan pangan; 2) Mendukung ketahanan energi; 3) Penciptaan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi; 4) Penyediaan teknologi transportasi; 5) Mendukung kebutuhan teknologi pertahanan; 6) Mendukung kebutuhan teknologi kesehatan; serta 7) Pengembangan teknologi material maju. Ketujuh topik di atas mencakup 10 (sepuluh) fokus pembangunan nasional, yaitu : 1) Bio-molekuler, Bioteknologi, & Kedokteran; 2) Ilmu Pengetahuan Alam; 3) Energi, Energi Baru dan Terbarukan; 4) Material Industri dan Material Maju; 5) Industri Rancang Bangun, Rekayasa; 6) Informatika dan Komunikasi; 7) Ilmu Kebumian dan Perubahan Iklim; 8) Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemasyarakatan; 9) Ketenaganukliran dan Pengawasannya; 10) Penerbangan dan Antariksa.

Sangat menarik !!! Apakah PT bersikap berdiam diri ??? Atau ke depan Riset dan Inovasi PT lebih menggigit dan mengkait dalam kerangka RIRN sebagaimana uraian di atas ?? Kita tidak harus menunggu, Sobat. Ini Era Knowledge Base Economic/KBE, era Disrupsi ditengah gelombang percepatan teknologi, dan inovasi. Nah, Bangsa Indonesia seharusnya tidak lagi hanya berfungsi sebagai konsumen Iptek melainkan sebagai produsen pula. Wallahualam.

Vivat Widyatama, Vivat Civitas Academica, Vivat Indonesia dan Nusantara tercinta. (@lee)

Redaksi – Lili Irahali

Pandemic! COVID-19 Shakes the World

Judul : Pandemic! COVID-19 Shakes the World

No. ISBN? : 978-1-68219-301- 3

Penulis : Slavoj iek

Penerbit : Polity Pr

Tahun Terbit : 8 Mei 2020

Jumlah Halaman : 120

Jenis Cover : Soft Cover

Dimensi : 5 x 0.3 x 7 Inci

Kategori : Filsafat

Bahasa : Inggris

Pandemik Covid-19 menjadi keseharian kita kini, bukan hanya di Wuhan sebagai titik awal, hampir seluruh peloksok dunia termasuk Indonesia. Virus yang pertama berjangkit di Desember 2019 lalu telah mengharu biru dunia, semua gagap karena belum ditemukan penawarnya, walaupun secara bertahap dengan usaha bersama mulai menunjukkan penurunan. Sisi lain buku ini terbit ketika Pandemi yang berdampak multi dimensi ini masih menjangkit di hampir seluruh negara bangsa.

Karena itu kami tertarik resensi yang ditulis di https://www.orbooks.com/ dan https://mediaindonesia.com/? dimuat di majalah kita ini.

Ketika pandemi global yang belum pernah terjadi sebelumnya menyapu bumi ini, Slavoj iek (salah seorang filsuf dan teoretikus budaya paling produktif dan terkenal di dunia saat ini) mengungkap makna yang lebih dalam, mengagumi paradoks yang membingungkan, dan berspekulasi pada kedalaman konsekuensi pandemi ini. Saat ini kita hidup ketika tindakan cinta terbesar adalah untuk menjaga jarak dari objek kasih sayang kita. Ketika pemerintah tiba-tiba harus menggelontorkan triliunan untuk pengeluaran publik. Ketika kertas toilet menjadi komoditas yang sama berharganya dengan berlian.

Pandemic! Covid-19 Shakes the World, begitu judul buku karya Slavoj iek. Filsuf Slovenia itu mengetengahkan paradoks dari kenyataan Pandemi Covid-19. Pada pembukaan buku, ia menulis Introduction; Noli Me Tangere yang berarti Jangan Sentuh Aku. Kalimat itu disampaikan Yesus kepada Maria Magdalena ketika Maria mengenali Yesus seusai kebangkitan. Satu bagian itu menjadi awalan cukup menarik. Covid-19; jika sayang kerabat, jangan kunjungi. Jika cinta orang tua, jangan mudik. Gampangnya, paradoks yang digagas Zizek hampir semacam kalimat cinta tak harus memiliki, sayang tak harus bersama, kasih tak harus berbalas, dan semacamnya.

Buku ini terdiri atas 10 bagian. Zizek banyak membahas dampak Covid-19 pada beberapa bagian awal. Tiba-tiba saja dunia tersungkur. Semua yang awalnya dibanggakan tiba-tiba rapuh, dari kekuatan ekonomi, kesehatan, pangan, negara sekutu, bahkan kemanusiaan. Seluruh dunia merasakan dampaknya. Virus korona juga memicu epidemi virus ideologis yang tertidur di masyarakat, seperti berita palsu, teori konspirasi, paranoid, dan rasialisme. Ia juga mengetengahkan standar ganda yang marak saat ini. Meremehkan korona sembari bersiap melindungi diri secara berlebih. Entengkan korona, tapi timbun bahan makanan dan alat kesehatan. Tentu hal itu bisa memicu kemarahan publik.

Serasa cukup dengan paparan dampak Covid-19 yang menjungkirbalikkan keadaan masa kini, Zizek lalu memulai dengan pertanyaan. Satu pertanyaan menarik akibat epidemi virus korona, bahkan untuk yang tidak ahli dalam statistik seperti saya, ialah: di mana data berakhir dan ideologi dimulai ujar Zizek (hlm 59). Solusi teknis mungkin tidak. Zizek bergerak lebih jauh, ia mengandaikan seluruh negara bersatu padu untuk mengatasi pandemi global. Saling berbagi dan membantu. Ia menganalogikan pandemi ini selayaknya perang besar melawan Covid-19. Alat kesehatan, misal ventilator, ialah senjata yang dibutuhkan di medan perang. Itu juga membutuhkan kerja sama dengan negara-negara lain. Seperti dalam operasi militer, informasi harus dibagikan dan rencana dikoordinasikan sepenuhnya. Ia mengajukan adanya organisasi global yang mengatur seluruh negara. Tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga masalah kedaulatan. Bukankah semua ini menandakan perlunya reorganisasi ekonomi global yang tidak lagi bergantung pada mekanisme pasar Di sini, tentang semacam organisasi global yang dapat mengendalikan dan mengatur ekonomi, serta membatasi kedaulatan negara-bangsa ketika dibutuhkan. Negara-negara dapat melakukannya dalam kondisi perang, dan kita sekarang mendekati keadaan perang medis secara efektif, tambahnya (hlm 44-45).

Menurutnya, dunia saat ini dihadapkan pada beberapa kemungkinan, pengorbanan dari masyarakat yang terlemah karena keterbatasan sumber daya kesehatan, kebijakan yang membuka ruang untuk korupsi besar-besaran, dan penerapan logika brutal yang kuat yang bertahan. Jadi, sekali lagi, pilihan yang kita hadapi ialah: barbarisme atau semacam penciptaan kembali komunisme, (hlm 70). Kita bisa setuju, bisa juga tidak, dengan pendapat Zizek. Paling tidak, buku ini menawarkan cara pandang tersendiri dalam melihat pandemi yang tengah menjungkirbalikkan keseharian banyak orang.

Deden Novan dari berbagai sumber: https://www.orbooks.com/, dan https://mediaindonesia.com/