Home Blog Page 28

Apakah RIRN 2017 – 2045? Memahami Kebijakan Riset & Inovasi

Indeks Inovasi Global 2019 menempatkan Indonesia jauh diurutan bawah, serta realita hasil riset dan inovasi masih belum berkiprah dalam tataran produk industri nasional, demikian pula peran perguruan tinggi yang bisa dibilang masih minim mendorong majalah Komunita menelusuri Kebijakan Riset dan Inovasi.

Adalah dokumen Rencana Induk Riset Nasional/RIRN 2017 – 2045 menggambarkan dinamika kebijakan dari dua era pemerintahan, serta pelaksanaan riset nasional tahun 2017 – 2045.

Pada era pemerintahan Orde Baru kebijakan iptek dituangkan di dalam Rencana Pembangunan Lima Tahunan (Repelita). Repelita I dan II ditujukan sebagai upaya membentuk dan meningkatkan kuantitas lembaga litbang pemerintah serta meningkatkan sarana dan prasarana penelitian. Repelita III dan IV diarahkan untuk mengembangkan iptek dengan prioritas alih teknologi, terutama teknologi tinggi, peningkatan SDM dan diakhiri dengan melaksanakan penelitian dasar. Instrumen kebijakan yang digunakan pada era itu adalah RUSNAS, RUT, dan RUK.

Sedang pada era reformasi pasca 1998 berbeda, kebijakan iptek diarahkan untuk penguatan internal, pengembangan dan difusi iptek dengan mulai memperhatikan perlindungan hak kekayaan intelektual dan kerjasama internasional. Instrumen kebijakan yang digunakan Kebijakan strategis Pembangunan Nasional Iptek/Jakstranas Iptek dan Agenda Riset Nasional (ARN).

Tahun 2000, Repelita berganti menjadi Program Pembangunan Nasional (PROPENAS), dimana iptek tidak menjadi salah satu prioritas, namun menjadi unsur pendukung pembangunan kesejahteraan rakyat melalui pengembangan kapasitas industri untuk meningkatkan daya saing usaha. Lalu Kemenristek ditugaskan menyusun arah kebijakan iptek dalam dokumen tersendiri, yaitu Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional Iptek/Jakstranas Iptek. Tahun 2002 lahir Undang-Undang (UU) no. 18 tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Sisnas P3 Iptek) merupakan produk kebijakan dalam rangka mengelola dan mendayagunakan sumber daya Indonesia dan isinya.

Awal era reformasi, paradigma pembangunan masih mengikuti paradigma Orde Baru, dan masih menggunakan GBHN 1998-2003 yang merupakan GBHN terakhir. Dalam rencana pembangunan jangka panjang, pembangunan iptek diarahkan pada “Pemanfaatan, pengembangan, dan penguasaan iptek secara lebih tepat, cepat, dan cermat, serta bertanggung jawab agar mampu memacu pembangunan menuju terwujudnya masyarakat yang mandiri, maju, dan sejahtera” (GBHN, 1998). Sedangkan dalam Repelita VII, prioritas pembangunan bidang iptek adalah meningkatnya kapasitas pemanfaatan, pengembangan, dan penguasaan iptek didukung oleh peningkatan kualitas SDM berlandaskan “Nilai-nilai spiritual moral, dan etik sesuai dengan nilai luhur budaya bangsa dan keimanan serta ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa”; peningkatan kapasitas pengembangan teknologi bangsa sendiri; pemanfaatan, pengembangan, dan penguasaan teknologi untuk proses industrialisasi dan bidang-bidang pembangunan lainnya; serta pengembangan sarana dan prasarana iptek.

Mengusung amanat GBHN tahun 1999-2004, disusun Program Pembangunan Nasional (PROPENAS). Perbedaan nyata mengenai posisi iptek dalam pembangunan nasional pada PROPENAS ini bahwa iptek bukan sebagai salah satu bidang pembangunan nasional terpisah, sehingga masing-masing kelembagaan iptek harus memiliki rencana strategis sendiri yang mengacu pada dokumen arah pembangunan nasional iptek. Program pembangunan iptek tidak diuraikan secara detail dalam PROPENAS, namun disusun oleh Kemenristek dalam suatu dokumen tersendiri, yaitu Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional Iptek ( Jakstranas Iptek).

PROPENAS 2000-2004 menyebutkan empat program nasional bidang iptek, yaitu: (1) program peningkatan iptek dunia usaha, (2) program diseminasi informasi teknologi yang bertujuan meningkatkan pembangunan ekonomi; serta (3) program penelitian, peningkatan kapasitas dan pengembangan kemampuan sumber daya iptek, dan (4) peningkatan kemandirian dan keunggulan iptek, untuk meningkatkan pembangunan bidang pendidikan.

Jakstranas Iptek pertama memuat rencana kebijakan Iptek tahun 2000 – 2004. Fokus kebijakan iptek awal Orde Reformasi ini diarahkan untuk revitalisasi pembangunan ekonomi dari dampak krisis dengan pemanfaatan iptek dan inovasi melalui integrasi antara jaringan kelembagaan iptek. Pembangunan ekonomi dilakukan melalui pembangunan industri dengan peningkatan kegiatan penelitian, pengembangan, dan rekayasa dalam kerangka sistem inovasi nasional.

Prioritas utama nasional pembangunan iptek tahun 2000-2004 adalah: (1) pembinaan sumber daya manusia; (2) pengembangan dan penguasaan iptek; dan (3) peningkatan kualitas penelitian, pengembangan dan rekayasa untuk mendukung pembangunan nasional. Pada Orde Baru pembangunan difokuskan pada sembilan wahana industri berteknologi menengah tinggi, sedang pada Orde Reformasi ini bidang fokus pembangunan lebih luas diarahkan ke segala sektor, baik yang berteknologi rendah, menengah, maupun tinggi.

Sesuai dengan PROPENAS 2000-2004, Jakstranas Iptek tahun 2000-2004 memuat 11 bidang fokus, yaitu: sosial budaya; pengembangan sistem-sistem nasional sektoral dan daerah; pertanian dan pangan; kesehatan; lingkungan; kelautan, kebumian dan kedirgantaraan; transportasi dan logistik; energi; manufaktur; informasi dan mikroelektrik; serta bahan baru. Pengembangan teknologi tinggi untuk industri strategis tidak lagi menjadi fokus kebijakan iptek seperti pada masa Orde Baru. Teknologi rendah, menengah, dan tinggi dikembangkan secara bersama-sama untuk mendukung 11 bidang fokus di atas.

Selanjutnya pada periode 2005-2009, pemerintah menyusun Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2005-2009 sebagai pengganti PROPENAS. Dalam RPJPN, disebutkan bahwa salah satu langkah untuk membangun daya saing bangsa adalah dengan meningkatkan penguasaan, pengembangan, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam RPJM tersebut iptek difungsikan sebagai alat untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat.

Perubahan-perubahan signifikan juga terdapat pada Jakstranas Iptek 2005-2009 dengan ARN 2005-2009 sebagai lampirannya. Visi dan misi iptek pada periode ini lebih spesifik dibandingkan visi dan misi iptek pada periode sebelumnya dengan disebutkannya sektor tertentu sebagai obyek. Visi iptek 2005-2009 mengarah pada: a) teknologi sebagai pemacu pertumbuhan ekonomi dan kemandirian bangsa; b) iptek yang humanistik; c) terwujudnya sistem informasi spasial; d) iptek nuklir berkeselamatan handal; e) iptek kedirgantaraan; dan f ) Standar Nasional Indonesia (SNI) sebagai penguat daya saing. Sedangkan misi iptek 2005-2009 adalah: a) pusat keunggulan dan komersialisasi teknologi; b) mencerdaskan kehidupan bangsa yang berkemanusiaan; c) berlandaskan pada etika keilmuan; d) memperkuat daya saing masyarakat; e) membangun infrastruktur data spasial nasional; f ) pemanfaatan dan pelayanan reaktor dan fasilitas nuklir; g) penguasaan teknologi dirgantara dan berkelanjutan; serta h) pengembangan SNI.

Bidang fokus kebijakan iptek masih mengacu pada RPJM 2005-2009 yang terdiri dari enam bidang, yaitu: 1) pembangunan ketahanan pangan; 2) penciptaan dan pemanfaatan sumber energi baru dan terbarukan; 3) pengembangan teknologi dan manajemen transportasi; 4) pengembangan teknologi informasi dan komunikasi; 5) pengembangan teknologi pertahanan; serta 6) pengembangan teknologi kesehatan dan obat-obatan.

Pada periode ini dihasilkan empat peraturan pemerintah sebagai instrumen untuk mewujudkan sistem inovasi nasional, yaitu: 1) PP No. 20 Tahun 2005, 2) PP No. 41 Tahun 2006, 3) PP No. 35 Tahun 2007, 4) PP No. 48 Tahun 2009.

Posisi iptek dalam RPJMN semakin kuat dengan dijadikannya iptek sebagai salah satu tujuan pembangunan. RPJMN 2010-2014 ditujukan untuk memantapkan penataan kembali Indonesia di segala bidang dengan menekankan pada upaya peningkatan kualitas SDM termasuk pengembangan kemampuan iptek serta penguatan daya saing perekonomian. Selain itu, iptek termasuk salah satu bidang pembangunan bersama sosial budaya, ekonomi, sarana prasarana, politik, pertahanan keamanan, hukum dan aparatur, wilayah dan tata ruang, sumber daya alam dan lingkungan hidup; serta inovasi teknologi sebagai salah satu prioritas nasional.

Secara garis besar, prioritas pembangunan iptek 2010-2014 masih diarahkan pada penguatan SIN/Sistem Inovasi Nasional meliputi: penguatan kelembagaan iptek, penguatan sumber daya iptek, dan penguatan jaringan iptek; serta penelitian, pengembangan, dan penerapan iptek (P3) di seluruh bidang fokus pembangunan, yaitu pangan, energi, teknologi informasi dan komunikasi, transportasi, pertahanan, kesehatan, dan material maju (Gambar 1).

 

Mengacu pada Jakstranas Iptek, telah diterbitkan instrumen produk hukum yang mendukung pembangunan iptek, antara lain: 1) PP Nomor 46 Tahun 2012, 2) PP Nomor 54 Tahun 2012.

Langkah-langkah pembangunan iptek tidak hanya dijalankan Kemenristek. Mendukung penguatan inovasi, pada tahun 2010 dibentuk Komisi Inovasi Nasional (KIN), yang ditugaskan Presiden untuk mengkoordinasikan kegiatan inovasi dalam meningkatkan produktivitas nasional. Untuk penerapan iptek, pada tahun yang sama didirikan Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetika berfungsi mengawasi peredaran produk hasil rekayasa genetika dan mengevaluasi pemanfaatannya. Untuk meningkatkan kegiatan penelitian dan pengembangan iptek, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia iptek, pada tahun 2012 Kementerian Keuangan bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan membentuk Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang setiap tahun menyediakan dana penelitian bagi tim peneliti dari lembaga penelitian kementerian dan non-kementerian, perguruan tinggi, maupun mitra lain; serta menyediakan beasiswa pendidikan untuk jenjang pendidikan S2 dan S3 yang memenuhi persyaratan tertentu.

Kebijakan iptek pada era reformasi menyinggung tentang pentingnya penataan ataupun penguatan kelembagaan iptek nasional. Aktor-aktor yang teridentifikasi memiliki peran penting dalam kegiatan penguatan sektor iptek Indonesia, terbagi dalam 9 (sembilan) jenis lembaga, yakni: 1) penyusun kebijakan iptek, 2) sektor industri strategis, 3) lembaga penelitian dan pengembangan di kementerian, 4) lembaga penelitian dan pengembangan non-Kementerian, 5) Perguruan Tinggi, 6) Sektor industri/ dunia usaha, 7) Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah, 8) Organisasi Profesi, 9) Lembaga Penunjang, dan 10) Masyarakat. Sektor-sektor tersebut dibagi menjadi empat kelompok dasar yakni: kelompok institusi pendukung kegiatan iptek (nomor 8 dan 9), kelompok pengguna iptek (nomor 2, 6 dan 10), kelompok penyusun kebijakan/pemerintah (nomor 1), kelompok penghasil/pengembang iptek dan inovasi (nomor 3, 4, 5 , dan 7) (Gambar 2).

 

Untuk mengoptimalkan fungsinya, Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KMNRT) telah mengeluarkan beberapa kebijakan tentang pengaturan kelembagaan (aktor) iptek nasional, yakni: Kebijakan Strategis Iptek Nasional ( Jakstranas) atau dikenal sebagai “Repelita Iptek” era reformasi. Kebijakan tersebut merupakan ringkasan acuan pengembangan kegiatan iptek nasional dalam tiap lima tahun. Jakstranas telah lahir tiga kali, yakni Jakstranas Iptek 2000-2004, Jakstranas Iptek 2005-2009, dan Jakstranas Iptek 2010-2014. Secara garis besar, Jakstranas Iptek beserta ARN sebagai lampirannya menggambarkan dinamika prioritas pengaturan ataupun jangkauan implementasi kebijakan yang mengatur kelembagaan iptek.

Rencana Induk Riset Nasional/RIRN Sinergi Kebijakan Lain

RIRN 2017-2045 disusun dengan memperhatikan beberapa aspek kebijakan terkait yang memiliki relevansi yang kuat, di antaranya pada sektor perindustrian (yakni RIPIN), sektor energi (yakni KEN), serta dipersiapkan untuk mengantisipasi sektor ekonomi kreatif (rencana induk sektor ekonomi kreatif dalam masa penyusunan) sebagaimana

1.a. Peraturan Pemerintah RI Nomor 14 Tahun 2015 (RIPIN)

Peraturan Pemerintah (PP) RI Nomor 14 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035 menyebutkan salah satu sasaran dan tahapan capaian pembangunan industri adalah meningkatnya pengembangan inovasi dan penguasaan teknologi. Artinya bahwa pengembang- an inovasi dan penguasaan teknologi menjadi salah satu pilar dalam mencapai pembangunan industri nasional. Di sisi lain, pengembangan inovasi dan penguasaan teknologi tidak bisa dilakukan tanpa riset.

Dalam pembangunan industri nasional, RIPIN membagi tiga tahapan, pada setiap tahapan mempertegas kembali peran inovasi dan penguasaan iptek dalam pembangunan industri nasional. Artinya kebutuhan pengembangan inovasi dan penguasaan iptek sangat memerlukan dukungan riset.

RIPIN menjelaskan bahwa industri nasional yang akan dikembangkan, berisikan industri andalan masa depan, industri pendukung, serta industri hulu. Ketiga kelompok industri tersebut memerlukan modal dasar berupa, sumber daya alam, SDM, serta teknologi, inovasi, dan kreativitas. Pembangunan industri di masa depan tersebut juga memerlukan prasyarat berupa ketersediaan infrastruktur dan pembiayaan yang memadai, serta didukung oleh kebijakan dan regulasi yang efektif. Adapun 10 (sepuluh) industri prioritas yang terbagi dalam 3 kelompok meliputi:

Industri Andalan: (1) Industri Pangan, (2) Industri Farmasi, Kosmetik dan Alat Kesehatan, (3) Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki dan Aneka, (4) Industri Alat Transportasi, (5) Industri Elektronika dan Telematika/ICT, (6) Industri Pembangkit Energi.
Industri Pendukung: (7) Industri Barang Modal, Komponen, Bahan Penolong dan Jasa Industri.
Industri Hulu : (8) Industri Hulu Agro, (9) Industri Logam Dasar dan Bahan Galian Bukan Logam Industri Hulu, (10) Industri Kimia Dasar Berbasis Migas dan Batubara.

Pembangunan industri nasional jelas memerlukan penguasaan teknologi, yang dilakukan secara bertahap sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan industri dalam negeri agar mampu bersaing di pasar dalam negeri dan pasar global.

Pengembangan, penguasaan dan pemanfaatan teknologi industri bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, nilai tambah, daya saing dan kemandirian industri nasional. Penguasaan teknologi di masing-masing kelompok industri prioritas terbagi dalam tiga periodesasi, sebagaimana pada Tabel terlampir.

 

Pemenuhan kebutuhan teknologi bagi pengembangan industri nasional, sebagaimana ditunjukkan pada Tabel di atas, memerlukan sinergi kebijakan, sasaran, program yang diimplementasikan dalam bentuk aktivitas riset antara berbagai pemangku kepentingan, baik itu lembaga riset pemerintah, lembaga riset swasta, perguruan tinggi, dan dunia usaha.

1.b. Peraturan Presiden RI Nomor 5 Tahun 2006 (KEN)

Perpres Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) bertujuan untuk mewujudkan keamanan pasokan energi dalam negeri. Ada dua sasaran KEN dalam Perpres tersebut, yaitu (a) Tercapainya elastisitas energi lebih kecil dari 1 (satu) pada tahun 2025; dan (b) Terwujudnya energi (primer) mix yang optimal pada tahun 2025, yaitu peranan masing-masing jenis energi terhadap konsumsi energi nasional:

minyak bumi menjadi kurang dari 20%,
gas bumi menjadi lebih dari 30%,
batubara menjadi lebih dari 33%,
biofuel menjadi lebih dari 5%,
panas bumi menjadi lebih dari 5%,
energi baru dan terbarukan lainnya, khususnya, Biomasa, Nuklir, Tenaga Air Skala Kecil, Tenaga Surya, dan Tenaga Angin menjadi lebih dari 5%,
Bahan Bakar Lain yang berasal dari pencairan batubara menjadi lebih dari 2%.

Guna mewujudkan tujuan keamanan pasokan energi dalam negeri dan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, langkah kebijakan yang dilakukan dikelompokan dalam Kebijakan Umum dan Kebijakan Pendukung.

Kebijakan Utama, meliputi penyediaan energi (melalui penjaminan ketersediaan pasokan energi dalam negeri, pengoptimalan produksi energi, pelaksanaan konservasi energi); pemanfaatan energi (melalui efisiensi pemanfaatan energi, diversifikasi energi); penetapan kebijakan harga energi ke arah harga keekonomian, dengan tetap mempertimbangkan bantuan bagi rumah tangga miskin dalam jangka waktu tertentu; dan pelestarian lingkungan dengan menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan.

Kebijakan Pendukung, meliputi pengembangan infrastruktur energi termasuk peningkatan akses konsumen terhadap energi; kemitraan pemerintah dan dunia usaha; pemberdayaan masyarakat; dan pengembangan litbang serta diklat.

Tindak lanjut Perpres Nomor 5 Tahun 2006 pemerintah mengeluarkan Cetak Biru Pengelolaan Energi Nasional (PEN) 2006-2025. Cetak Biru tersebut menyebutkan bahwa litbang energi merupakan salah satu program utama pengelolaan energi nasional. Ada 4 (empat) hal terkait program litbang energi, yaitu:

Pengembangan iptek energi, diarahkan pada:

(a) Teknologi batubara kalori rendah (Upgraded Brown Coal-UBC)

(b) Batubara cair (Coal Liquefaction)

(c) Teknologi energi ramah lingkungan

(d) Integrated coal gasification

(e) CNG untuk pembangkit tenaga listrik

(f ) Kilang mini LNG

(g) Ocean technology

(h) Dimethyl ether (DME)

(i) Coal bed methane

( j) Hidrat gas bumi

(k) Photovoltaic

Pengembangan mekanisme pendanaan Pemerintah/Pemerintah Daerah bagi

penelitian dan pengembangan iptek energi

Komersialisasi iptek energi, dilakukan melalui:

(a) Aplikasi teknologi energi berbahan bakar ganda, antara lain batubara dengan energi lainnya, khususnya biomassa,

(b) Pengembangan kendaraan berbahan bakar energi alternatif

(c) Pemanfaatan LNG untuk transportasi

(d) Pengembangan model skema bisnis

(e) Penerapan sistem insentif finansial

(f ) Pengembangan energi baru terbarukan dan teknologi energi efisien dalam kegiatan pengadaan yang menggunakan dana Pemerintah

Peningkatan kemitraan antar stakeholders energi baik di dalam maupun di luar negeri

Fungsi dan Peran Startegis Rencana Induk Riset Nasional

Penyusunan RIRN memang dibutuhkan bukan saja karena keterbatasan sumber daya pemerintah, tetapi juga untuk memperbaiki efisiensi dan efektivitas pembangunan nasional di sektor riset.

2.a Sebagai Jembatan Penghubung Pembangunan Jangka Panjang dan Tahunan

Pelaksanaan pembangunan nasional merupakan mata rantai tidak terputus dan harmonis mulai dari cita-cita nasional seperti yang tertuang dalam mukadimah

UUD 1945 sampai langkah-langkah operasional, seperti yang tertuang dalam dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Karena itu, kegiatan-kegiatan tahunan yang sifatnya operasional melalui pelaksanaan program-program seharusnya merupakan bagian integral dari pencapaian cita-cita pembangunan nasional.

Fokus RIRN adalah prioritas riset berbasis pemetaan kekuatan dan kapasitas riil terkini. RIRN dijabarkan dalam bentuk Prioritas Riset Nasional dengan periode 5 tahun yang berisi bidang fokus yang diperkirakan mampu menghasilkan produk-produk inovasi dalam jangka waktu paling lama 5 tahun. Penyusunan RIRN diharapkan akan membangun jembatan penghubung antara cita-cita pembangunan nasional dengan langkah-langkah operasional yang berfondasikan kebijakan berbasis data (evidence based policy ).

2.b Sebagai Pembangunan Sinergi Riset Nasional

Penyusunan RIRN diharapkan akan membangun sinergi riset nasional, yang bukan saja memperbaiki efisiensi, tetapi juga meningkatkan efektivitasnya. Indikator peningkatan efisiensi riset adalah menurunnya biaya yang harus dikeluarkan untuk menyelesaikan satu riset yang besar dan kualitasnya sama dibanding dengan masa-masa yang lalu. Dari sisi lain, peningkatan efisiensi riset juga dapat dilihat dari aspek anggaran. Dengan anggaran yang sama dapat dihasilkan riset dengan skala lebih besar dan kualitas juga meningkat.

Sinergi riset nasional akan mengurangi potensi tumpang tindih yang berlebihan, atau pengulangan yang tidak proporsional. Sinergi riset nasional akan memberikan masukan untuk rasionalisasi riset yang belum merupakan prioritas utama. Di lain sisi, akan memotong mata rantai prosedur riset yang terlalu panjang. Namun perlu ditekankan bahwa penetapan prioritas bukan berarti melakukan eksklusi atas riset-riset yang belum menjadi prioritas.

Secara prinsip seluruh riset yang dilakukan dengan benar harus didukung karena berpotensi memunculkan invensi dan kontribusi di masa mendatang. Tetapi penetapan prioritas menjadi petunjuk untuk memberikan persentase dukungan yang lebih besar bagi riset prioritas.

2.c Sebagai Sarana Reintegrasi Pendidikan Tinggi dengan Riset

Fungsi dan peran RIRN ketiga sebagai pendorong reintegrasi pendidikan tinggi dengan riset. RIRN akan mendorong harmonisasi kegiatan riset di perguruan tinggi dengan masyarakat serta lembaga riset lainnya. Karena sejatinya pendidikan tinggi adalah pendidikan yang berbasis pada kegiatan pembelajaran melalui kegiatan riset. Melalui kegiatan riset, para mahasiswa memiliki kesempatan menemukan masalah, mencari berbagai solusi secara ilmiah dan merumuskannya menjadi metode yang baku dan bisa direproduksi. Proses melihat masalah, berpikir, bertindak secara ilmiah dalam koridor etika ilmiah ini merupakan ajang pembelajaran dan penciptaan SDM muda dengan literasi iptek yang tinggi di kemudian hari. Pola dan budaya ilmiah semacam inilah yang kelak menjadi modal penting untuk berkiprah dan berkompetisi secara global.

Pelaksanaan RIRN Tahun 2017 – 20145

Kapasitas dan kompetensi riset Indonesia saat ini masih sangat rendah, bahkan di lingkungan ASEAN sekalipun. Perlu dilakukan upaya dan strategi terintegrasi dan menyeluruh untuk memperbaiki. RIRN Tahun 2017-2045 didesain sebagai titik pangkal perbaikan secara menyeluruh.

Perencanaan sektoral seperti RIRN melengkapi perencanaan nasional yang telah ada dan berbasis keluaran akhir dari setiap K/L. RIRN diharapkan mengatur distribusi sumber daya secara rasional di semua ranah riset untuk meminimalisir potensi tumpang tindih yang berlebihan serta menempatkan setiap aktor sesuai dengan kapasitas dan kompetensinya. Seluruh upaya dan strategi ini bermuara pada peningkatan kontribusi riset terhadap ekonomi nasional/ (lee)

Sumber : Dokumen RIRN 2017 – 2045

Widyatama MoU Dengan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia

Widyatama MoU Dengan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia

Universitas Widyatama dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Jabar melakukan penantanganan nota kesepahaman/MoU. Prof. H. Obsatar Sinaga mengatakan bahwa hal itu merupakan salah satu langkah awal untuk menyokong pendirian jurusan komunikasi di kampusnya. Rencananya kami akan mendirikan jurusan komunikasi. Insya Alloh tahun depan sudah ke luar. Sekarang sudah di upload di Kementrian Pendidikan Nasional, terang Prof Obsatar, Rektor Widyatama, Kamis (28/11/2019) usai kegiatan yang berlangsung di ruang seminar lantai VI, Kampus Widyatama Bandung.

Ia pun memaparkan bahwa di kampusnya sudah ada Fakultas Desain Komunikasi Visual yang beririsan langsung dengan kerja-kerja jurnalis, di antaranya mengenai desain layout dan lainnya. Jika itu terjadi kerjasama akan digeser mengarah pada upaya menjadi media bagi mahasiswa Widyatama dalam praktek-praktek jurnalistik, tegasnya.

Universitas Widyatama pun menawarkan kepada anggota IJTI dan insan pers, yang akan melanjutkan kuliah jenjang S-2 dan S-3. Bagi yang belum melanjutkan S-2 dan S-3 (tahun depan sudah ada/2020), bisa melanjutkan di kami.

Dalam waktu dekat usai melakukan MoU, Universitas Widyatama dan IJTI Jabar menggelar diskusi publik/seminar. Rencananya menghadirkan tokoh-tokoh yang kompeten dalam bidang radikalisme dan terorisme, digelar di Gedung Serbaguna Widyatama Jalan Cikutra No 204 A. Mengundang seluruh insan pers, ratusan mahasiswa serta dosen.

Perlu diketahui Universitas Widyatama sebelumnya sudah menjalin kerjasama dengan IJTI. Dengan diadakannya MoU, menjadikan langkah-langkah ke depan terpayungi dengan payung hukum yang tepat untuk kedua belah pihak. byhumas&komunita, 28Nov2019

Tingkatkan Kualitas, STIKES Aisyiyah Lakukan MoU Dengan Widyatama

Tingkatkan Kualitas, STIKES Aisyiyah Lakukan MoU Dengan Widyatama

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Aisyiyah Kota Bandung terus berupaya meningkatkan kualitas termasuk ranking perguruan tingginya di tanah air. Salah satu caranya melalui strategi pengembangan dan publikasi karya ilmiah para dosennya.

Untuk mencapai hal tesebut, STIKES Aisyiyah melakukan penandatangan nota kesepahaman atau MoU dengan Universitas Widyatama, pada Kamis 5 Desember 2019 di Kampus Widyatama.

Isi MoU di antaranya mengenai publikasi jurnal internasional. Tia Setiawati, Ketua STIKES Aisyiyah, usai kegiatan kepada majalahsora.com mengatakan, bahwa pihaknya melakukan MoU tersebut berdasarkan arahan dari LLDIKTI Wilayah IV.

Menurutnya Universitas Widyatama yang kini dipimpin oleh Prof. Obsatar Sinaga, merupakan salah satu kampus yang ditunjuk untuk melakukan pembinaan publikasi jurnal internasional. Kami memiliki sekitar 40 dosen. Minimal 50 persennya menindaklanjuti MoU ini, kata Tia. Di samping itu Tia mengaku sampai saat ini ada sekitar 50 artikel karya dosennya yang belum mereka publikasikan sama sekali. Makanya dengan MoU ini, minimal ada 40 artikel bisa terpublikasikan di semester ini (akhir Desember 2019). Dengan bimbingan dan supervisi dari Rektor Universitas Widyatama.

Perlu diketahui Universitas Widyatama merupakan perguruan tinggi pertama swasta yang ditunjuk Kemenristekdikti/Kemendikbuddikti, menggelar kegiatan pelatihan sistem aplikasi Risbang bagi 486 perguruan tinggi negeri swasta di wilayah Jabar Banten. Biasanya kegiatan itu dilaksanakan oleh perguruan tinggi negeri dan pihak swasta tidak pernah dilirik. Pada tahap awal ada 80 dosen dari 80 perguruan tinggi yang mengikuti pelatihan sistem aplikasi Risbang di Hotel Horison selama dua hari (28-29 Oktober 2019) lalu. Pematerinya dari Kemristekdikti/Kemdikbudikti.

Materi yang diberikan pada saat pelatihan mengenai sosialisasi prioritas riset nasional, kesiapterapan teknologi, pelatihan aplikasi garba rujuan digital (Garuda), pelatihan aplikasi akreditasi jurnal (Arjuna), pelatihan sistem informasi penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (Simlitabmas). Di samping itu ada juga pelatihan mengenai pelatihan repositori tugas akhir mahasiswa (Rama), pengenalan aplikasi anjungan integritas akademik Indonesia (Anjani), pelatihan aplikasi science and technology index (Sinta) dan lainnya, sehingga para peserta paham cara menggunakan aplikasi dan meng-upload jurnalnya.

Oleh karena itu, menurut Tia pada saat Prof Obsatar, Rektor Widyatama memberikan penjelasan-penjelasan, akhirnya tertarik melakukan MoU. Pihak Widyatama akan melakukan pembinaan penelitian dan publikasi kepada para dosen STIKES Aisyiyah.

Strategi lainnya untuk mengembangkan kualitas STIKES Aisyiyah yaitu melakukan peningkatan SDM. Tidak hanya membina dari kemampuan dosennya tetapi juga meningkatkan jenjang karirnya. Selain tentang SDM, terutama dalam publikasi kami diberi ilmu baru atau pencerahan terkait bagaimana memotivasi dosen untuk melakukan publikasi, kata Tia.

Ini lebih smart strateginya dibandingkan pola-pola terdahulu. Mempercepat publikasi jurnal internasional. Ada yang satu tahun jurnalnya belum dipublikasikan, imbuhnya. Lebih lanjut ia memaparkan bahwa selama ini pihaknya memakai cara normatif, dalam pengajuan-pengajuan publikasinya akhirnya lama untuk terbit. Tadi setelah diberikan pencerahan dari Prof. Obsatar ternyata begitu mudahnya untuk publikasi jurnal internasional, kata Tia. Ia pun berharap ke depan 100 persen dosennya dapat mempublikasikan jurnal internasionalnya.

Di samping pembinaan pihaknya juga ingin ada peningkatan kualitas dari institusi STIKES Aisyiyah, di mana pada tahun 2021 mereka akan diakreditasi.

Sementara itu Prof Obsatar mengatakan bahwa dirinya diminta untuk melakukan supervisi oleh pihak STIKES Aisyiyah, di antaranya untuk merubah sekolah tinggi menjadi universitas.

STIKES Aisyiyah juga mengajukan bantuan kepada kami terutama dalam urusan akreditasi dalam hal jurnal penelitian, serta kenaikan jabatan fungsional, kata Prof Obsatar, di ruang kerjanya. Semua proses itu kami bantu untuk mencapai ke arah sana.

Dari pengakuannya STIKES Aisyiyah menjadi perguruan tinggi ke-9 yang disupervisi oleh Widyatama. Berikutnya Universitas Widyatama akan melakukan hal yang sama kepada Universitas Sangga Buana (USB) YPKP, pada tanggal 10 Desember 2019.

Kembali dengan MoU, STIKES Aisyiyah ingin melakukan lonjakan seperti Widyatama. Di mana Widyatama sebelumnya berada diperingkat 225, sekarang ada diperingkat ke 95 (top 100 perguruan tinggi di Indonesia). STIKES Aisyiyah rankingnya kini ada di 500 an. Kalau mereka mau kami bisa supervisi untuk meningkatkan rankingnya.

Kami bersyukur, Widyatama dipercaya oleh seluruh perguruan tinggi di wilayah IV (Jabar Banten) sekitar 486-an perguruan tinggi untuk melakukan supervisi, imbuhnya. Byhumas&komunita, 09Des2019

MoA PT. Pindad antara Widyatama dan Unpad Untuk Program Magang Bersertifikat

MoU sekaligus MoA antara PT. Pindad dengan Universitas Widyatama dan Unpad ditandatangani di PT. Pindad, Kamis (18/12/2019) lalu di Gedung Direksi Pindad, Lantai 2, dalam kegiatan magang pendampingan bersertifikat bagi mahasiswa kedua kampus tersebut di BUMN strategis alutsista.

Terkait kerjasama Direktur Keuangan & Administrasi PT. Pindad, Wildan Arief, S.E., Ak, MBA, CPMA. Mengatakan, bahwa ada hal yang berbeda yang akan didapat oleh para mahasiswa yang ikut magang di BUMN yang berlokasi di Jalan Terusan Gatot Subroto No. 517, Sukapura, Kec. Kiaracondong, Kota Bandung.

Karena kultur kami berbeda dengan BUMN yang lain. PT. Pindad dahulu di bawah naungan TNI AD, jadi ada penerapan disiplin khas TNI yang kami pertahankan. Dari sisi cara bisnisnya pun berbeda pendekatannya karena menjual alat pertahanan, kata Arief.

Ia menjelaskan bahwa program magang bersertifikat ini bagian dari program Kemendikbud. Kami sendiri sudah memiliki kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi, Widyatama dan Unpad melakukannya hari ini. Dengan adanya program magang bersertifikat ke depan dunia industri akan mendapat support dari mahasiswa yang akan memasuki dunia kerja, katanya. Hal ini merupakan program perbaikan dari sistem pendidikan perguruan tinggi di Indonesia. Tentu dari hard skill mahasiswa Widyatama dan Unpad sudah memiliki kualitas yang sangat baik di kampusnya. Apalagi kalau melihat dari lulusan Widyatama dan Unpad merupakan perguruan tinggi terkemuka, kata Arief.

Mereka selama magang di sini?akan meningkatkan soft skillnya, karena mereka akan terlibat langsung?berkomunikasi dengan staf yang ada. Bisa mempelajari mengenai komunikasi yang efektif, bagaimana cara mengetahui dan mengikuti gaya bekerja dan hal lainnya di PT. Pindad, pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Arry Bainus Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Padjadjaran (Unpad) mengatakan bahwa pihaknya akan terus melakukan pembekalan kepada mahasiswanya, di mana di setiap semester mereka akan diberikan sertifikat pendampingan (soft skill) seperti penguasaan bahasa asing, teknologi informasi, dan lainnya sesuai fakultas serta prodinya. Dirinya sependapat bahwa saat ini mahasiswa dituntut memiliki soft skill yang unggul, ketimbang hanya baik pada sisi nilai akademik (IPK) saja. Ia pun menambahkan bahwa mahasiswa juga harus pandai berkomunikasi.

Dr. Arry Bainus menyatakan, bahwa ke depan Unpad siap-siap disusul oleh Universitas Widyatama Kota Bandung. Tahun 2020 kami selaku PTN dituntut oleh Mendikbud masuk ranking 500 besar dunia perguruan tinggi unggul. Namun saat ini Universitas Widyatama pun hampir menyusul Unpad, kami berada ranking 8, Univesitas Widyatama menduduki ranking 12 (raking Dikti, Unirank), kata Arry Bainus. Menurutnya Widyatama saat ini maju pesat, melakukan terobosan-terobosan luar biasa dalam hal penerapan sistem akademik serta meningkatkan kualitasnya.

Pada kesempatan yang sama Prof. H. Obsatar Sinaga, Rektor Universitas Widyatama sangat tersanjung terhadap pujian yang dilontarkan Warek Akademik dan Kemahasiswaan Unpad, Dr. Arry Bainus Kakak angkatannya di Unpad. Ia mengatakan bahwa kampusnya terus melakukan terobosan agar mahasiswanya lebih menguasai soft skill ketimbang hanya nilai akademik, terlebih untuk menghadapi persaingan global dalam dunia industri dan usaha.

Perlu diketahui Widyatama meningkatkan soft skill para mahasiswanya, karena di setiap semester mahasiswa Widyatama akan menerima sertifikat (keahlian) pendampingan. Di samping itu Widyatama pun akan menerapkan patokan kelulusan mahasiswanya dengan menerbitkan hasil penelitian mereka pada jurnal internasional. Jadi tidak hanya skripsi. Saya sangat berterima kasih kepada PT. Pindad yang telah memberi kesempatan melakukan MoA dengan kami (Widyatama), khususnya pada program pemagangan bersertifikat. Semoga mahasiswa kami semakin terasah soft skill dan pengalamannya, kata Prof. H. Obi sapaan akrabnya. Lebih lanjut Prof. H. Obi menjelaskan bahwa kampusnya belum lama ini melakukan kerjasama strategis dengan Air Asia, salah satu maskapai penerbangan ternama di Dunia, sebagai upaya membuka Prodi Perawatan Pesawat Udara.

Sementara itu Oliver Hasan Padmanegara, S.E., M.Sc., Kepala Biro Kerja Sama Universitas Widyatama, mengatakan bahwa MoA dengan PT. Pindad merupakan kolaborasi yang penting. khususnya pemagangan bagi mahasiswa Widyatama. Selain dapat memberikan manfaat bagi kedua institusi, harapan kami adalah dapat menghilangkan expectation gap antara employer dan calon tenaga kerja yang tersedia di bursa tenaga kerja saat ini, kata nya. byhumas&komunita, 19Des2019

UMKM Perlu Terapkan Hak Merek pada Franchising

Civitas akademika Universitas Widyatama Bandung melaksanakan pengabdian masyarakat (PKM) dengan melakukan riset dan melatih UMKM tentang hak merek pada franchising di era digital marketing. Civitas Widyatama merasa perlu pemanfaatan economical right melalui perjanjian waralaba (franchising) de ngan dilakukan pencatatan, sehingga pengusaha mendapatkan optimalisasi nilai ekonomis secara cepat dan fair. Riset dan pelatihan ini dilakukan oleh Tim Klaster PKM yang terdiri dari para dosen Magister Manajemen Widyatama.

Ketua Tim Klaster PKM Widyatama, Dr. Nina Nurani, mengatakan sebagai pengusaha, meski masih UMKM, pengusaha perlu memperhatikan perlindungan hukum untuk produk karya kreatif agar menjamin kepastian hak, baik moral right maupun economical right, melalui pendaftaran hak merek. Sejauh ini, UMKM masih sangat minim melakukan hal tersebut. Melalui kegiatan ini disampaikan materi implementasi hak kekayaan intelektual, terutama terkait dengan merek serta franchising dalam upaya pengembangan bisnis UMKM di era Digital Marketing, katanya, Senin (30/12).

Menurutnya, program PKM ini diharapkan memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh pegiat UMKM mitra binaan Universitas Widyatama dalam menghadapi dan mengatasi tantangan bisnisnya di era global dan digital.

Sebagaimana diketahui, program PKM perlindungan Hak Merek atas produk kreatif ini diikuti oleh 26 pegiat UMKM dari Kota Bandung. Peserta dilatih tatacara pendaftaran hak merk dan pencatatan waralaba.

Selain Nina Nurani, pemateri lain yaitu Mohd. Haizam bin Mohd Saudi, Suharno, Nurul Hermina, Keni Kaniawati, Yenny Maya Dora, Alfiana, Deden Novan Setiawan, Farida Nursjanti, Tanti Irawati, dan Yusep Budiansyah.

Selanjutnya, Keni Kaniawati dalam pemaparan materinya tentang Pengembangan Bisnis mengatakan bahwa pengembangan UMKM di Indonesia khususnya di Jawa Barat membutuhkan ekosistem yang kondusif untuk tumbuh secara berkualitas. Untuk itu diperlukan berbagai unsur yang mendukung pengembangan bisnis pada usaha UMKM dari hulu ke hilir seperti produk, promosi dan pembiayaan, kata Keni.

Paparan berikutnya mengenai Digital Marketing oleh Yenny Maya Dora serta Tim Womenwill Gapura Digital Bandung menyatakan bahwa langkah solutif mengembangkan usaha sebagai bahan promosi yang cepat, murah dan praktis adalah menerapkan digitalisasi marketing.

Dengan adanya PKM melalui kegiatan pelatihan tersebut diharapkan usaha Tini Gustini sebagai pegiat UMKM Serundeng Kalapa Indung serta pegiat UMKM lainnya di Kota Bandung mampu menjalankan usahanya dengan melakukan divesifikasi usaha melalui franchising dengan melakukan pencatatan dan pendaftaran Hak merek.

Sebagai kegiatan yang berkesinambungan, Tim Klaster PKM akan menindaklanjuti kegiatan ini berupa pendampingan secara berkelanjutan kepada pegiat UMKM lainya sebagai mitra binaan UMKM Universitas Widyatama. Kami berharap, usaha UMKM binaan Widyatama bisa go global. Kami pantau seluruh progresnya. Dan kami yakin beberapa dari binaan kami segera mewujudkan hal itu, katanya.

Anggota kluster lain, Alfiana mengatakan Program PKM merupakan dharma ketiga dari Tri Dharma Perguruan Tinggi selain Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan, idealnya terinternalisasi ke dalam jiwa seluruh civitas akademika. Sehingga terminologi tersebut bukan hanya slogan atau jargon, namun terimplementasi dengan baik secara berkelanjutan dan terus hingga menjadi budaya civitas akademika, katanya. Dengan demikian, tuturnya, dosen sebagai salah satu civitas akademika, tidak hanya melakukan kegiatan pendidikan dan penelitian namun juga melakukan kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ketiga yaitu Pengabdian Kepada Masyarakat. byhumas&komunita, 31Des2019

Untuk Jurnal Internasional USB YPKP Gandeng Widyatama

Untuk Jurnal Internasional USB YPKP Gandeng Widyatama

Dalam upaya memudahkan terbitnya jurnal internasional para dosen, Universitas Sangga Buana (USB) YPKP menandatangani nota kesepahaman/MoU dengan Universitas Widyatama. Khususnya melalui bimbingan dari Prof. H. Obsatar Sinaga, Rektor Universitas Widyatama merangkap Guru Besar Universitas Padjadjaran.

Dengan MoU ini ke depan akan lebih cepat jurnal internasional dosen kami yang terbit. Karena kalau secara normatif bisa memakan waktu satu tahun, kata Dr. H. Asep Effendi, Rektor USB YPKP, usai melakukan MoU dengan Prof. H. Obsatar Sinaga, Rektor Universitas Widyatama, Senin (9/12/2019) di Kampus USB YPKP Bandung.

Lebih lanjut ia mengatakan kerjasama ini merupakan akar dari aplikasi Tridharma Perguruan Tinggi.

Rektor USB YPKP pun mengakui, bahwa majunya suatu kampus salah satunya dilihat dari banyaknya jurnal internasional yang diterbitkan oleh para dosennya. Kami akan membangun kebiasaan menulis melalui Lembaga Penulisan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) juga terbiasa melakukan riset dan menulis, terangnya. Dengan kerjasama ini dalam dua pekan jurnal internasional yang ditulis oleh dosen USB YPKP bisa diterbitkan, salah satunya terindex Scopus.

Dr. H. Asep pun memuji Widyatama yang kini berada di ranking 100 besar (ranking 95) perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Mereka sudah melakukan banyak kerjasama tingkat internasional. Secara internasional terakreditasi, maka kami wajib untuk belajar kepada mereka, katanya.

Di samping itu, USB YPKP dan Widyatama pun melakukan MoU pada bidang kemahasiswaan, marketing, lulusan dan lainnya.

Diharapkan dengan sinergitas antara USB YPKP yang memiliki tagline Kampus Entrepreneur bisa melakukan percepatan dalam meningkatkan kualitasnya.

Sementara itu Prof. H. Obsatar mengatakan bahwa pihaknya di tahun 2020 memiliki kuota 5000 jurnal internasional untuk diterbitkan. Kami memiliki kuota 5000 jurnal internasional dan akan kami sebar ke kampus yang ada di lingkungan LLDIKTI Wilayah IV, Jabar dan Banten, untuk bekerjasama menerbitkannya, tegasnya. Terkait MoU dengan USB YPKP pihaknya ingin bersinergi agar bisa maju secara bersama-sama menggapai asa.

Kami sudah banyak melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi di luar negeri. Kami merasa bersalah kalau tidak melakukan kerjasama dengan tetangga kami yang secara jarak sangat dekat. Untuk beriringan meraih ke arah kemajuan yang lebih baik, kata Rektor yang meraih juara kedua dunia artikel Pecipta di Malaysia. Prof. H. Obsatar siap membantu agar jurnal dosen USB YPKP bisa terbit. Rencananya ada 6 dosen tetap USB didorong menerbitkan jurnal internasional, dan tahun 2021 bisa menjadi Guru Besar. byhumas&komunita, 10Des2019

Widyatama Antisipasi Pandemi COVID-19

Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, S.Ip., M.Si. Rektor Universitas Widyatama dalam siaran pers menjelaskan kampusnya telah melakukan penyemprotan cairan disinfektan di seluruh area kampus sebagai?tindakan pencegahan penyebaran virus COVID-19. Penyemprotan tersebut dilakukan selama dua hari (25-26 Maret 2020) baik di dalam maupun di luar gedung. Termasuk?penyemprotan terhadap fasilitas umum seperti tempat ibadah, yang biasa dipergunakan warga kampus, juga dimanfaatkan warga sekitar kampus.

Sebelumnya Universitas Widyatama juga telah melakukan pencegahan dalam rangka mengantisipasi?penyebaran virus COVID-19 di lingkungan kampus dengan memasang hand sanitizer di beberapa titik area kampus.

Antisipasi lainnya membentuk tim satgas COVID-19 di lingkungan kampus. Tim tersebut melakukan sosialisasi pencegahan COVID-19 bagi seluruh civitas akademika Universitas Widyatama, di antaranya melalui media informasi di kampus, seperti spanduk, banner, poster, email, serta menerbitkan surat edaran kesiapsiagaan menghadapi pandemic COVID-19 di lingkungan Universitas Widyatama.

Himbauan tersebut berlaku bagi seluruh civitas akademika Universitas Widyatama, agar mengurangi aktivitas dan kegiatan di lingkungan kampus maupun kegiatan yang diikuti di luar kampus serta kegiatan yang mengundang keramaian.

Perkuliahan tatap muka dan ujian serta sidang tugas akhir dilakukan secara online (e-learning), terhitung mulai tanggal 16 Maret 2020. Menunda kegiatan wisuda yang rencananya akan diselenggarakan pada tanggal 1 April 2020. Menunda kegiatan 2nd International Conference of Business, Policy and Social Sciences (ICBPS) yang rencananya akan diselenggarakan di Hotel Papandayan Bandung, tanggal 15-16 April 2020.

Kegiatan yang memerlukan koordinasi dengan pihak internal maupun eksternal, seperti rapat koordinasi dan sejenisnya dilakukan dengan menggunakan media teleconference. Layanan administrasi baik yang berkaitan dengan program Penerimaan Mahasiswa Baru maupun layanan terhadap mahasiswa lama, tetap berjalan dan dilakukan secara online (daring).

Rektor juga menghimbau seluruh civitas akademika agar selalu menjaga kesehatan, dan melakukan self distancing serta tidak keluar rumah kecuali ada keperluan mendesak dalam rangka menjaga tidak meluasnya penyebaran pandemi COVID-19. by?pti&komunita, 28Mar2020

WICAN Widyatama Ajang Inovasi Eksebisi Mahasiswa Tingkat Internasional

WICAN Widyatama Ajang Inovasi Eksebisi Mahasiswa Tingkat Internasional

Widyatama bekerja sama dengan LLDIKTI Wilayah IV Jabar Banten menggelar kegiatan WICAN atau Widyatama Internasional Akademic Competition and Exhibition dihelat dari tanggal 10-12 Desember 2019, di kampus Widyatama.

WICAN merupakan ajang inovasi sekaligus eksebisi bagi para mahasiswa, khususnya perguruan tinggi di LLDIKTI wilayah IV Jabar dan Banten, ditambah dari?DKI Jakarta dan lainnya.

Ajang ini dibuka oleh Prof. H. Uman Suherman, Kepala LLDIKTI Wilayah IV, melombakan berbagai kompetisi seperti design exhibition, news anchor contest, English speech contest, smart movie contest, story telling contest, start up proposal contest, industrial engineering essay contest, transportation engineering contest, water resource research contest, accounting paper challenge, English essay writing competition, management smart competition, business plan competition, Cadcam competition, programming contest, marketing plan competition, instrumentation and control contest dan IT exhibition. Diikuti oleh 180 an peserta dari sekitar 50 perguruan tinggi yang ada di Jabar dan Banten, termasuk DKI Jakarta.

Prof. H. Uman Suherman mengatakan sangat bangga dengan kegiatan yang diinisiasi oleh Universitas Widyatama bekerjasama dengan LLDIKTI Wilayah IV, karena dapat menjadi ajang untuk berkompetisi bagi mahasiswa dalam berinovasi dan kreasi.

Saya bangga mahasiswa bisa menjawab tantangan?zaman yang ada di masyarakat. Ini sebuah solusi, semuanya untuk menghadapi persoalan-persoalan yang ada di masyarakat, itu yang pertama. Kedua,? saya bangga dengan pameran ini karena bagaimanapun kalau kemampuan kita tidak dilihat orang, maka kita tidak mendapat penghargaan. Maksudnya karya kita dilihat itu merupakan?bentuk aktualisasi diri, apabila kita berkiprah di tengah masyarakat, kata Prof Uman.

Lebih lanjut menurutnya target ke depan bukan hanya menyangkut inovasi, tetapi menyangkut inkubator-inkubator itu akan membuat interface, terutama dalam pembiayaan kampus. Sehingga mahasiswa tidak lagi menjadi yang dominan tapi hanya bagian kecil yang berkontribusi untuk kampus.

Sedangkan operasional dibangun dengan pembiayaan yang dihasilkan dari inkubator-inkubator. Ia pun mengatakan bahwa kampus yang berada di bawah naungan LLDIKTI Wilayah IV sudah banyak yang bekerjasama dengan Dunia Usaha dan Industri (DUDI), di samping itu melakukan MoU dengan Kadin Jabar Banten.

Kegiatan tersebut pun merupakan kerjasama pertama Widyatama dan LLDIKTI Wilayah IV dalam mengadakan lomba.

Sementara itu Prof. H. Obsatar Sinaga, Rektor Universitas Widyatama mengatakan dengan kegiatan WICAN, diharapkan dapat menjadi jembatan dalam pemeringkatan kampus dari sisi inovasi. Kami berharap teman-teman perguruan tinggi? yang mendapat kesulitan tentang pemeringkatan dari sisi inovasi, dapat terpecahkan dengan mengikuti kegiatan ini, kata Prof. H. Obsatar, Selasa (10/12/2019), usai pembukaan.

Bagi Universitas Widyatama ajang? ini menjadi pengalaman pertama, membuka acara sebagai kegiatan inovasi dan eksebisi. Kami tidak ingin maju sendiri tapi maju bareng-bareng, sambungnya. Pesertanya selain dari Indonesia juga datang dari Malaysia, termasuk jurinya yang merupakan juri internasional. Targetnya insya Alloh diadakan setiap tahun. Ke depan pesertanya akan banyak kampus dari mancanegara, tegasnya.

Pada kesempatan yang sama Prof. Dr. Mohd. Haizam Bin Mohd. Saudi, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerjasama Universitas Widyatama menambahkan, bahwa pemenang ajang eksebisi akan dipilih yang kreatif dan inovatif dan bermanfaat bagi masyarakat. Bahkan rencanya akan diikut sertakan pada lomba tingkat internasional di Jeneva Swiss, tahun 2020.

Kami sudah menyiapkan juri tingkat internasional. Supaya yang menang bisa diperbaiki agar bisa bersaing di ajang internasional, Prof. Haizam. Salah satu produk yang bermanfaat pada ajang WICAN ini yaitu alat yang bisa mendeteksi/mengukur gempa dari waktu ke waktu, katanya.

Selain ada produk, juga ada peserta memasukkan proposal bisnis plan, juga ada yang memasukkan sistem informasi dimana sistem organisasi ini berkaitan erat dengan produk aplikasi, aplikasinya bermacam-macam bisa manfaatkan oleh masyarakat untuk digunakan pada sebuah perusahaan. Ke depan produk inovasi ini akan dikembangkan di masa yang akan datang. byhumas&komunita, 12Des2019

Dua Perguruan Tinggi Ternama Malaysia Melakukan MoA dengan Widyatama

Dua Perguruan Tinggi Ternama Malaysia Melakukan MoA dengan Widyatama

Universitas Widyatama Kota Bandung kembali dipercaya menjalin kerjasama dan melakukan perjanjian internasional, dengan dua perguruan tinggi ternama di Negeri Jiran Malaysia. MoA (Memorandum Of Action) mengenai penelitian bersama dalam inovasi produk dengan Universiti Sains Islam Malaysia dan Universiti Teknologi Mara. Kedua universitas tersebut memang dikenal kawakan dalam bidang inovasi produk.

MoA dilaksanakan Kamis (12/12/2019) di ruang rapat Rektorat Universitas Widyatama, Jalan Cikutra No 204-A, Kota Bandung. MoA ini merupakan tindak lanjut dari MoU yang telah ditandatangani sebelumnya mengenai Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Universiti Sains Islam Malaysia dan Universiti Teknologi Mara akan melakukan kerjasama dalam penulisan jurnal internasional dengan Widyatama. Kedua kampus tersebut mengetahui kapasitas Rektor Universitas Widyatama, Prof. H. Obsatar Sinaga memiliki garansi personal dalam menerbitkan jurnal internasional di Eropa dan Amerika Serikat.

Kami memiliki 5000 slot untuk menerbitkan jurnal internasional. Nanti dalam Mbox Malaysia Universitas Widyatama akan dicantumkan juga, kata Prof. H. Obsatar Sinaga, Kamis (12/12/2019) siang. Rektor Widyatama ini berambisi membawa kampusnya masuk QS Ranking di tahun 2020.

Masih terkait kerjasama dengan Universiti Sains Islam Malaysia dan Universiti Teknologi Mara, pada tahun 2020 Widyatama dan kedua kampus itu akan melakukan pertukaran mahasiswa. byhumas&komunita, 13Des2019

Riset Perguruan Tinggi harus menyentuh Hilirisasi

Disparitas Perguruan Tinggi Swasta/PTS dan PTN sebuah fakta yang tidak bisa dibantah, bahkan antara PTS pun demikian. Kendati demikian upaya untuk? menjaga dan meningkatkan mutu keduanya tidak boleh berhenti.? Diantara keduanya jelas mempunyai peran yang sama, melaksanakan Tri Dharma PT – yakni pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Alih-alih menjalankan ketiganya, saat ini umumnya PT masih berkutat di dharma pertama. Capaian riset/penelitian dan inovasi masih harus dipicu dan dipacu. Padahal PT adalah lembaga pendidikan yang berbasis riset, yang dalam diriya adalah aktor pengembangan riset dan inovasi.

Riset dan inovasi sejak dulu seharusnya sudah inherent dalam aktivitas PT – baik negeri maupun swasta. Apalagi kini menghadapi perubahan bersifat VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity). Dunia VUCA adalah dunia yang kita hidup ini dan ke depan, dimana perubahan sangat cepat, tidak terduga, dipengaruhi oleh banyak faktor yang sulit dikontrol, dan kebenaran serta realitas menjadi sangat subyektif. Pengaruh terbesar dipengaruhi inovasi dan teknologi, setiap jengkal hidup kita beririsan teknologi.

Demikian pula model ekonomi telah bergeser bukan lagi Technology Based Economy/TBE, namun menjadi Knowledge Based Economy/KBE. Model di atas tidak terlepas dari inovasi teknologi dan ilmu pengetahuan yang telah mendisrupsi struktur dan lanskap bisnis masa lalu dan kini. KBE sebagai model ekonomi menstimuli kreativitas, kreasi, penyemaian, serta penerapan pengetahuan dan informasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan; sekaligus mengakselerasi sistem yang efektif bagi pendidikan dan pelatihan;? teknologi informasi dan komunikasi; riset & pengembangan,? serta inovasi. Dan sebagaimana diakui Menteri Bambang Brodjonegoro bahwa belum bertranformasi menjadi Innovation-Driven Economy. Disinilah benang merah PT dalam perannya sebagai lembaga pendidikan sekaligus aktor dalam bidang riset dan inovasi. Untuk itu kita menyimak pandangan Ketua APTISI Jawa Barat, Prof.?Dr. Ir. H.?Eddy Jusuf, Sp, M.Si., M.Kom. ?bagaimana Riset dan Inovasi di PT, khususnya swasta. Berikut liputan wawancara.

Komunita : Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam penelitian atau riset bagi peningkatan daya saing bangsa. Tapi tampaknya belum ada riset berarti yang ditampilkan perguruan tinggi /PT. Bagaimana sesungguhnya kondisi riset di PT padahal ada 4.600 PT di Indonesia?

Prof Eddy Jusuf : Riset/ Penelitian & Inovasi Pentingnya, namun yang lebih penting adalah menghilirisasikan riset2 itu sendiri. Penelitian-penelitian yang dilakukan PT jangan hanya mengejar Cum/ Point saja, tapi bagaimana upaya dari hasil penelitian selain mendapat Cum, kemudian dihilirisasikan. Kita paham bahwa tahap awal adalah prototype. Untuk ini harus menjalin kerjasama dengan dunia usaha/ industri, atau minimal hasil riset? PT dapat diterapkan dalam skala laboratorium, walaupun belum dalam skala produksi, tapi sudah ada usaha untuk menginternalisasikan hasil penelitian tersebut.

Komunita : Apa akar masalah dan bagaimana PT mengambil inisiatif untuk meningkatkan peran penelitiannya?

Prof Eddy Jusuf : Bagaimanapun dosen-dosen PT apabila mengandalkan dana dari institusi relatif terbatas/ dari dana internal, ada baiknya menggunakan dana hibah, dan jumlahnya terbatas maka sebaiknya? diseleksi/ dikompetisikan oleh pemerintah, Seharusnya krn jumlah PTS cukup banyak sekitar 93% sedangkan PTN 7 %, tapi kendala pemerintah dengan APBN nya, jalan keluarnya adalah bagaimana PTS bisa menggandeng dunia usaha dan industri, serta memanfaatkan dana-dana CSR (Pengabdian kepada Masyarakat) dari perusahaan-perusahaan dan cara meningkatkan daya saingnya, sedang diharapkan dari PTN dengan menggandeng pemerintah dan dibiayai APBN pemerintah dan menjadi lokomotif dari hasil-hasil penelitian tersebut sehingga meningkatkan daya saing bangsa.

Komunita 😕 Terkait dengan Hibah dari Kementerian/Pemerintah, kami lihat banyak Hibah? ditawarkan, namun dilihat di lapangan, partisipasi dosen-dosen menurun mengajukan proposal riset, mengapa?

Prof Eddy Jusuf : Dari tiap PT yang menurun adalah tingkat lanjut (advanced) saja, sedangkan dari Riset Pemula relatif banyak. Kita ingin mengarahkan agar penelitian-penelitian bukan hanya untuk dosen pemula, tapi untuk dosen tingkat lanjut (Advanced), namun diakui persyaratannya cukup ketat. Apalagi peningkatan dari riset pemula menjadi riset tingkat lanjutan (Advanced Reasearch), juga harus sekian persen anggaran PT harus ada, ditambah lagi stnadar penelitian masuk dalam 9 kriteria Akreditasi. Ini artinya standar penelitian, dan hasil-hasil riset diakuinya sangat penting.? Berikutnya,? di lingkungan Kementerian, penanganan Riset sudah dikelola oleh Kementerian tersendiri sebagai upaya peningkatan daya saing bangsa dan diandalkan sekali. Oleh karena itu tidak bisa hanya mengandalkan dana hibah yang relatif terbatas, namun juga harus ada kontribusi Institusi bersangkutan mendanai riset yang dimaksud.

Komunita : Apakah sistem pembelajaran E-Learning yang didorong kebijakan Kampus Merdeka, serta situasi Pandemi Covid-19 akan meningkatkan peluang dosen menjalankan Tri Dharma,? khususnya dharma Penelitian dan PKM? Apakah Sistem E-Learning? bakal meningkatkan atau memotifasi dosen lebih berkarya lagi?

Prof Eddy Jusuf : Saya optimistik dengan Sistem E-Learning, karena sangat mempermudah mencari akses informasi bagi mahasiswa/I, dan tentunya dosen. Sistem ini memberikan kesempatan lain dengan pembelajaran jarak jauh membuka selebar-lebarnya proses pendidikan. Apalagi dalam kebijakan kampus merdeka, PT harus menyediakan waktu 3 semeter untuk magang di dunia usaha dan dunia? industri,? boleh dalam satu Prodi mengambil Prodi yang tidak linear, dalam artian membekali para peneliti atau calon lulusan untuk menjadi Entrepreneur dengan memberi kesempatan yang seluas- luasnya.

Komunita : Riset apa yang biasa dikembangkan PT, serta bagaimana kaitannya dengan arah rencana induk riset nasinonal, pemerintah, serta dunia usaha dan industri?

Prof Eddy Jusuf : Riset yang dikembangkan PT tentunya? selain kejarannya untuk tingkat nasional, juga bermanfaat bagi kepentingan Perguruan Tinggi, berdampak pada keberadaan PT terutama pada lingkungan sekeliling PT tersebut atau artinya lebih bermanfaat bagi lingkungan PT itu berada. PT sebagai menara air (pusat) untuk sekitarnya. Disamping tentunya untuk peneliti, untuk institusi juga harus bermanfaat, termasuk akreditasi PT.

Komunita : Saran Prof. Eddy selaku akademisi/pimpinan PT/pimpinan APTISI kepada pemerintah serta dunia industri/usaha dalam rangka menyelaraskan potensi dan kualitas riset perguruan tinggi dalam meningkatkan daya saing dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi ?

Prof Eddy Jusuf 😕

Menyelaraskan dana-dana hibah antara PTS dengan PTN, karena keberadaan PTS mengangkat APK (Angka Partisipasi Kasar) pendidikan tinggi. Daya serap / lulusan 4600 PTS kurang lebih besaran presentasenya mencapai 93 %, kontribusinya sangat tinggi. Karena itu kita usulkan kepada Kementrian/pemerintah, baiknya ada seperti dana operasional untuk PTS seperti BOS. Sehingga memberikan energi tambahan bagi penguatan potensi dan kualitas riset di PTS, walau hal ini tentunya dengan persyaratan yang terukur.

Komunita : Menurut Prof. Eddy Jusuf? bagaimana dengan Riset Peneliti lintas Perguruan Tinggi?

Prof Eddy Jusuf : Riset lintas PT sangat bisa dikolaborasikan antar dosen lintas PT, juga melibatkan dunia usaha dan industri. Misalkan dalam skala publikasi, riset kolaborasi antar PT penelitian-penelitian bisa berhasil masuk ke dalam Jurnal, maka masing2 akan mempunyai Poin/Cum. Lalu riset bersama dan membuka link dan potensi yang ada di sekeliling kita untuk menjawab permasalahan masyarakat dimana PT berada. (Written by Yanda Ramadana & Edited by lili irahali)