Home Blog Page 34

Butuh SDM Kuat Sukseskan Perusahaan

0

President Director PT. Amman Mineml Nusa Tenggam

‘Amman M ineral’ merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan. Sebelumnya memang ada yang janggal mengenai nama dari perusahaan kami, kebanyakan orang menyangka bahwa ‘Amman Mineral’ merupakan perusahaan air mineral, namun nyatanya bukan itu. Amman Mineral mempunyai banyak aktivitas dan program yang memang bukan hanya segi operasional pertambangan saja, namun terdapat pula program lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat. Salah satunya yaitu bagaimana perusahaan kami dapat berkontribusi pada dunia pendidikan, seperti program pemberian beasiswa, program peningkatan infrastruktur serta program peningkatan kemampuan dan keterampilan (capability) bagi para stafpengajar maupun mahasiswa. Pentsahaan kami yang bergerak di bidang pertambangan membutuhkan program reklamasi yang hingga saat ini banyak diterpa isu negatif mengenai pertambangan liar. Saya mewakili manajemen PT Amman Mineral menyampaikan bahwa kami melakukan operasi pertambangan secara legal dan sesuai peraturan undang-undang dengan tidak merusak habitat ekosistem, serta meminimalisir dampak kentsakan lingkungan. Hal ini telah mampu kami lakukan dan terbukti hasilnya.

Berbicara mengenai sumber daya manusia dimanapun, khususnya di bidang pertambangan tentu kami sangat membutuhkan orang yang kuat dalam mensukseskan program kegiatan perusahaan. Ketika seorang lulusan perguruan tinggi dihadapkan pada keputusan 2 (dua) pilihan, yakni antara membuka usaha baru atau menjadi karyawan pada suatu perusahaan. Sebenarnya tergantung pada kondisi dan situasi yang dialaminya sendiri. Namun, saat ini sebagian besar lulusan perguruan tinggi menginginkan untuk bekerja dengan orang lain, padahal sebenarnya Indonesia sangat membutuhkan para ttalene muda yang berkecimpung dalam berbagai bidang usaha (menjadi pengusaha). Saya akan mencoba mengupas lebih banyak mengenai proses dalam mendapatkan suatu pekeijaan, karena sebetulnya bukan hanya dimulai dari proses ketika lulus kuliah saja namun kesiapan mental dan lahiriah pun harus menjadi perhatian penting saat memulai serta berada dalam lingkungan pekerjaan. Maksudnya yaitu pada saat mulai memasuki dunia kerja dan diterima sebagai karyawan baru, tentunya harus mampu beradaptasi sena siap dipindahkan ke beberapa posisi maupun wilayah lainnya (mutase,d11). Proses inilah yang harus dipahami oleh rekan-rekan yang baru memasuki dunia kerja. Saya sampaikan bahwa masa transisi dalam setiap jenjang posisi pekerjaan harus tetap kita siapkan dengan penuh kemantapan. Setiap bentuk kegagalan yang sering dialami selama bekerja yakni apabila kita tidak siap dengan proses transisi tersebut serta mudah mengalami kekecewaan dengan tidak menerima keadaaan yang sesungguhnya. Kesempatan yang diberikan pada dunia kerja tidak sebanyak yang diberikan dalam dunia pendidikan. Saya sering mengatakan bahwa “hidup itu tidak adil”, dan saya ingin kita semua mengambil sisi posilif

dari quotes tersebut. Dimana jika kita mengetahui bahwa hidup ini tidak adil, maka kita senantiasa akan mempersiapkan diri dalam menghadapi ketidakadilan yang akan kita ditemui pada dunia kerja atau bahkan pada hidup kita di masa mendatang. Sekilas berbicara mengenai kehidupan dunia pendidikan, dimana kita mampu bergaul dengan teman sebaya, kemudian banyak hal fleksibel yang dapat dilakukan tanpa keterikatan waktu, bahkan biaya pun masih dari orangtua. Sementara pada dunia kerja, yang kita siapkan tentu berbeda sekali. Kita bertemu orang baru dengan banyak perbedaan, kemudian durasi waktu bekerja pun telah ditentukan secara terjadwal. Dari segi finansial, rencana pertama yang dapat dilakukan pada saat lulus kuliah yaitu bagaimana mengelola elemen keuangan sendiri. Karena hanya dengan kemampuan finansial-lah kita dapat berbagi dan memberikan manfaat kepada orang lain. Selain penjelasan tadi, perlu dipelajari pula mengenai sofiskill. Softskill bukan hanya dibutuhkan pada saat kita mulai melamar pekerjaan, namun terus menerus hingga kapan pun, bahkan dengan posisi jabatan apapun. Sebuah sofiskill harus kita pelajari secara kontinyu dengan tanpa ada ujungnya. Saya ingin membuka pik iran rekan mahasiswa bahwa kebutuhan untuk dunia kerja, selain persiapan teknik iskille yang sudah dipelajari di perguruan tinggi, yang dibutuhkan kedepannya adalah menguatkan softskill yang kita miliki, sayangnya dalam mempelajari softskill harus juga dipraktekkan secara langsung. Kembali lagi seperti yang saya sampaikan di awal, yaitu tetap fokus dengan target tujuan kita kemudian menyiapkan diri dalam menghadapi berbagai rintangan serta menemukan solusinya. Sebetulnya tujuan yang kita lakukan ini hanya untuk membangun kepercayaan dari pimpinan manajemen perusahaan. Karena pada saat bekerja, harus menunjukkan kinerja yang sebaik mungkin dihadapan pimpinan.

Oleh sebab itu, softskill merupakan hal yang sangat penting dan perlu dilatih secara berkesinambungan. Kita harus mampu membangun komunikasi yang baik dengan orang-orang yang berada di lingkungan pekerjaan. Kenyataan dalam hidup ini, setiap orang cenderung senang bergaul dengan orang yang paling dia senangi. Tantangannya yakni dengan cara menjauhi sikap negatif serta mulailah berbaur dengan kebanyakan orang yang berfikir positif. Memang tidak mudah, akan tetapi saya yakin banyak hal yang bisa kita lakukan untuk melakukannya. Jika suatu saat Anda menjadi seorang pimpinan, berperanlah menjadi sesuatu yang berguna serta mampu membuat suasana perfonnance team dengan baik. Teruslah berfikir positif dalam segala hal yang mampu diberikan. Apabila bertemu dengan orang-orang yang bersikap negatif, maka sebisa mungkin kita harus menjaga jarak dengan tetap memberi masukan positif melalui pendekatan persuasif. Pesan saya adalah fokuskan diri dengan tetap memiliki tujuan hidup yang jelas & terukur, selalu ingin belajar mengembangkan potensi diri, serta berfikir positif dalam situasi maupun kondisi apapun. (Written by Silpiani Nur Utami & Editted by Abdul Rozak)

Mahasiswa Prodi Bahasa Jepang Raih Prestasi di Jepang Zuki Show UPI

Mahasiswo Prodi Bahasa lepang Muhammod Ikhsan Zulfo Firdaus meraih juara ke-3 Sokubun Contest, sementara Riki Ramdani meraih juara ke-3 Konji Contest di UPI. lapan Zuki Show UPI merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakon Universitas Pendidikan Indonesia,diisi lomba-lomba yang diikuti SMA dan perguruon tinggi se-lawa Barat. Keg iaton te rsebut mempertandingkan lomba-lomba bahasa don budaya lepang, yaitu: shuuji contest, kanji contest, speech contest, sokubun contest, kana contest, dan rodoku contest. Kegiatan ini dilaksonakan pada tanggal 6 – 7 April 2019 di Universitas Pendidikan lndonesia, Setiabudhi. ( Hms 2019)

Workshop Tinjauan Kurikulum Fakultas Bahasa

Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) adalah perwujudon mutu dan joti diri Bangsa terkait sistem pendidikan nasional, sistem pelatihan kerja nosional serto sistem penilaian kesetaraan copaian pembelajaran (learning outcomes), untuk menghasilkan sumber daya manusia bermutu dan produktif. Perguruan Tinggi sebagai pencetak sumberdaya manusia perlu mengupgrade kurikulum pembelajaran sesuai tuntutan jaman. Kurikulum dikembangkan untuk menghasilkan lulusan yang unggul dan siap memasuki dunia kerja. Membangun keunggulan mahasiswa, Kemenristekdikti dan Perguruan tinggi terus berupoya mengembangkan kurikulum berstandarKKNI, serta SN DIKT1.
Dalam rangka tujuan di atas Fokultas Bahasa Universitas Widyatoma menggelar Workshop Tinjauan Kurikulum pada Selasa, 16 Juli 2019. Fakultas Bahasa yang menoungi Program Studi Bahaso Inggris dan Bahasa lepang merumuskon kurikulum berstandar KKNI dengan mengusung tema “Implementasi Kurikulum Prodi Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang sesuai Jenjang KKNI”.

Hadir sebagai pembicara dari Prodi Bahasa Inggris H. Herman Rukmanadi (Direktur Bhara Tour & Trovel), don Dra. Sri Dewiyognti, M.Ed., M.A. (Ka. UPT Bahasa POLBAN). Sementara dari Prodi Bahasa lepang dihadiri Dr. Herniwati, M.Pd. (Ka. Prodi Bahaso Jepang UPI Bandung) dan Aswandi, M.Sc (Direktur PT. Aun Wahana laya, PT. Olympia Kogyou Indonesia). (Ed – 19 Juli 2019)

 

Mahasiswa Prodi Jepang Raih Prestasi Di Bunkasai UNPAD

Mahasiswa Prodi Bahasa lepang atas nama Raditya lagadhita memperoleh juara ke-3 Sakubun Contest dalam Bunkasai UNPAD. Pekan Budaya dan Bahasa lepang (Bunkasai UNPAD) merupokan kegiatan rutin tahunan yang diadakan Universitos Padjajoran. Pekon budaya yang menggelar lomba-lomba ini diikuti perguruon tinggi se-lowo Ba rat. Kegiaton tersebut berisi lombo-lombo Bahosa lepang, yakni : speech contest, sokubun contest, choukol contest, kano contest, konji contest, shuuji contest, dan karooke contest. Kegiatan dilaksonakan pado tonggal 28 – 29 Juni 2019 bertempot di Universitas Padjajoran latinangor. (Hms.- 2019)

STIE PGRI Sukabumi Kunjungi Universitas Widyatama

Fakultas Ekonomi (FE) dan Fakultas Bisnis Manajemen (FBM) Widyatama Kamis (4/7/2019) menerima kunjungan studi banding STIE PGRI Sukabumi di Ruang Rapat Graha Gedung A lt.l. Rombongan berjumlah 13 orang diterima Dekan Fakultas Ekonomi Dr. Diana Sari, S.E.,M.S1.,AK.,Q.I.A.,C.A. dan Dekan Fakultas Bisnis Manajemen Dr. Deden Sutisna, M.N., S.E., M.Si. serta para Ka. Program Studi Akuntansi dan Ka. Prodi Bisnis Manajemen. Dekan FBM, Dr.Deden menyampaikan saat ini mahasiswa Universitas Widayatama sedang dalam masa perkuliahan Semester Antara 2018/2019, persiapan Visitasi BAN-PT Re-Akreditasi Program Studi. Baru-baru ini 6 Prodi mendapatkan Penilaian “Premier” Akreditasi Internasional ASIC, tambahnya.

Rombongan STIE PGRI Sukabumi dipimpin Bapak AgusSabar (Wakabid Kemahasiswaan) antusias terhadap keseriusan Universitas Widyatama terhadap pembentukan karakter mahasiswanya sebagai entrepreneur, karena dalam waktu dekat akan membuka prodi bisnis/entrepreneur. Pada tahun 2019 ini Fakultas Bisnis Manajemen telah memperbaharui kurikulum agar mengacu ke penguatan karakter lulusan menjadi entrepreneur. Lebih lanjut Dr. Diana menambahkan pemisahan antara FE dan FBM dikarenakan student body yang besar dan tidak lain karena Universitas Ingln fokus bahwa FE lebih ke arah Akuntansi sementara FBM ke arah entrepreneur.

Dari hasil Pengabdian Kepada Masyamkat ke desa-desa di Jawa Barat ditemukan permasalahan Keuangan Desa dan Koperasi, untuk menanggulangi hal tersebut, FE Widyatama menambahkan mata kuliah Akuntansi BUMDES, tambahnya. Diskusi dan sharing informasi banyak membahas mengenai rencana ke depan yang akan dilakukan Fakulas Ekonomi Widyatama yang sedang dirancang diantaranya pendirian D4 Akuntansi Perpajakan dengan keunggulan lulusan mendapatkan brevet A dan B. Sebelumnya Widyatama telah memiliki lembaga pelatihan dan Test Center bidang perjajakan, yakni LPAP Widyatama. (Ed – 06 lutt 2015)

QuiiZ BE A CITIZEN JOURNALIST & ILUSTRATOR

0

KiRim NeWs, Ilustrasi, Sequen-Foto berita WidyaTamA untuk Komunita Edisi #25

BE a CITIZEN JOURNALIST & ILUSTRATOR

Dapatkan Hadiah Pilihan Kamu !!!

1) voucher makan bareng teman di Foodcourt Widyatama – Universitas Widyatama OR

2) Voucher pulsa HP anda senilai Rp 200.000 (dua ratus ribu).

  1. Mahasiswa punya berita / news kampus ? Berniat membuat berita ? Berlatih membuat Berita ? Foto Berita / Mau menjadi citizen journalist ? KIRIM News, Foto berita, ilustrasi ?anda ke majalah Komunita.
  2. Syarat : a) Berita mengandung konten 5 W (What, Who, When, Where, Why), 1 H (How); atau Foto Berita; b) Tema kegiatan kampus dan mahasiswa yang mempunyai nilai berita; c) Kegiatan subjek berita pada periode Mei 2019 s/d Juli 2019, d) Ilustrasi.

Kirim Berita/News/Foto Berita/Ilustrasi Anda melalui : Sekretaris Redaksi Komunita, email : [email protected], [email protected]. Berita/Foto yang dimuat pada KOMUNITA edisi #25 mendapat hadiah yang dapat diambil di Redaksi Komunita, Telp 122, dengan membawa identitas lengkap.

Kantor Buka pada : Rabu – Kamis, jam 10.00 s/d 16.00.

Selamat bergabung sebagai citizen Journalist, illustrator majalah

IKUTI DAN BACA TERUS MAJALAH KOMUNITA.

Memaknai Angka Partisipasi Kasar Pendidikan Tinggi

Wawancara

Prof. Dr. Dinn Wahyudin – Guru Besar Pengembangan Kurikulum UPI
Prof. Dr. Endang Caturwati, S.ST.M.S. – Guru Besar Seni Pertunjukan Indonesia lnstitut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Tantangan Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Tinggi yang belum signifikan (baca : rendah) serta daya saing lulusan memang perlu disikapi secara sinergi oleh para pemangku kepentingan, yakni perguruan tinggi, industri dan pemerintah.

Dalam mensikapi Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Tinggi, majalah Komunita menyempatkan berbincang dengan Prof. Dinn – Guru Besar Pengembangan Kurikulum UPI.

Dalam perbincangan dengan beliau terungkap bagaimana kita sebaiknya memaknai APK PendidikanTinggi tersebut.

Angka Partisipasi Kasar (APK) atau Gross Enrollment Ratio (GER) merupakan kelaziman universal dalam menghitung besarnya jumlah masyarakat yang melanjutkan pendidikan dari suatu jenjang pendidikan tertentu, termasuk APK Pendidikan Tinggi. Dengan demikian APK Pendidikan Tinggi yang diraih dalam suatu negara memiliki arti penting sebagai salah satu indikator capaian Indeks Pendidikan Tinggi dalam suatu Negara tersebut. Besarnya Angka Partisipasi Kasar suatu jenjang pendidikan menunjukkan kualitas layanan pemerintah terhadap hak masyarakat dalam memperoleh akses pendidikan. Sejalan dengan hal tersebut, besaran Angka Partisipasi Kasar (APK) juga menunjukkan bahwa masyarakat memperoleh kemudahan dalam akses menempuh Pendidikan Tinggi. Dengan demikian, persentase APK dapat digunakan sebagai penentu tingkat kualitas layanan pembelajaran dan kemahasiswaan perguruan tinggi.

Sebagaimana negara-negara maju, maka kemajuan pendidikan tingginya juga dikaitkan dengan seberapa besar APK Pendidikan Tinggi di negera tersebut. Angka Partisipasi Kasar (APK), menunjukkan partisipasi penduduk yang sedang mengenyam pendidikan sesuai dengan jenjang pendidikannya. APK Pendidikan Tinggi Indonesia tahun 2018, menunjukkan angka 33,37 %, Jika dibandingkan dengan target yang ditetapkan pada periode akhir Renstra tahun 2019 yaitu sebesar 32,55%, capaian APK Pendidikan Tinggi pada tahun 2017 juga sudah melebihi target yang ditetapkan yaitu naik sebesar 102,50% (Kemenristekdikti, 2018).

Dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN, APK Pendidikan Tinggi Indonesia memang diakui masih tertinggal, baru mencapai 33%. Hal ini terutama bila dibandingkan dengan Singapura 78%, dan Malayasia 38%. Ada beberapa alasan utama : Pertama, kita akui prioritas pembangunan pendidikan baru pada usaha wajar (wajib belajar) pendidikan dasar 9 tahun menuju pada wajib belajar 12 tahun, sehingga APK dan APM Pendidikan Dasar kita mencapai lebih dari 95%. Secara bertahap perhatian Pemerintah bergeser pada upaya peningkatan Pendidikan Tinggi. Diyakini, perguruan tinggi memiliki peran yang sangat strategis dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa, sekaligus sebagai agen perubahan bagi sebuah bangsa. Daya saing SDM dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang masih rendah akan menjadi persoalan serius bangsa dalam menghadapi pasar bebas (MEA).

Kedua, kurang meratanya kualitas pendidikan tinggi di Indonesia. Hal ini antara lain bisa dilihat dari data perguruan tinggi, baik PTN dan PTS yang telah terakreditasi dengan nilai A Saat ini, tercatat ada 27 PTS dibawah binaan Kemenristekdikti sudah mendapatkan nilai akreditasi A, akan tetapi PTS yang terakreditasi A masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Kesenjangan kualitas ini juga memberi pengaruh pada raihan APK PT yang dicapai. Ketiga, umumnya pendidikan tinggi di Tanah air masih bercirikan akademis. Artinya layanan pendidikan yang diberikan cenderung terbatas pada pendidikan akademik jenjang S1, S2, atau S3. Perguruan tinggi di Tanah air, sangat kurang membuka program profesi dan pendidikan vokasi dari jenjang diploma 1 sampai dengan diploma 4 atau sarjana terapan. Padahal pendidikan profesi dan pendidikan vokasi pun, lulusannya sangat dibutuhkan untuk memenuhi angkatan kerja di berbagai sektor industri dan sektor jasa.

Memandang Faktor-faktor yang menjadi hambatan dalam peningkatan angka partisipasi kasar masyarakat dalam melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi di Indonesia mencakup 4 hal. Pertama, masih terdapat kesenjangan mutu antar perguruan tinggi, antara PTN dan PTS, ataupun kesenjangan PT di Jawa dan di luar Jawa, termasuk berkaitan dengan ketersediaan SDM (tenaga dosen dan tenaga kependidikan lainnya), ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan tinggi terutama di daerah 3 T (Tertinggal, Termiskin, Terbelakang). Kedua, kendala psikologis masyarakat dan generasi muda yang cenderung masih berorientasi pada employeeminded menjadi Aparat Sipil Negara (ASN) atau bekerja di sektor swasta ketimbang sebagai entrepreneurship pioneer yang tampil sebagai sosok mandiri, inovatif dan tangguh yang siap menghadapi tantangan zaman. Kondisi ini menjadikan Perguruan Tinggi, terjebak pada suatu paradigma layanan pendidikan yang bercirikan akademik jenjang S1, S2 atau S3 ketimbang membuka lebar lebar program vokasi yang bercirikan kewirausahaan. Ketiga, secara internal kesiapan (readiness) perguruan tinggi dalam menghadapi Revolusi Industri 4,0 masih beragam. Belum semua PT siap menghadapi era disruptive curriculum yang menjadi penciri kultur akademik PT di abad 21. Big Data masih menjadi fenomena baru yang belum ditanglcap secara optimal oleh masyarakat kampus sebagai peluang untuk meningkatkan layanan akademiknya bagi masyarakat terutama mahasiswa sebagai core customers – nya. Hal ini menjadikan APK PT tak pernah naik secara significan karena belum semua PT siap untuk melaksanakan disruptive curriculum yang inovatif dan menantang sesuai dengan tantangan zaman. Keempat, partisipasi sektor dunia industri dan dunia usaha (DUDI) belum secara sinergis memberi keberpihakan pada meningatnya APK PT. Hal ini antara lain terlihat secara kasat mata, tak semua industri membuka lebar lebar untuk terjadinya kolaborasi antara industri dengan PT. Kurikulum praktik kerja industri pun, belum mampu mengembangkan lahirnya kompetensi yang mumpuni bagi para lulusan PT karena keterbatasan pengalaman belajar dan praktek nyata pada setting autentik di dunia kerja.

Karena itu Program kegiatan yang dapat dilakukan oleh institusi pendidikan tinggi dalam menunjang peningkatan angka partisipasi masyarakat dalam melanjutkan pendidikannya di Indonesia sebaiknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut. Pertama, ada upaya yang lebih serius dari pengelola PT, untuk melakukan terobosan program dalam meningkatkan mutu layanan akademik dan penjaminan mutu internal dengan memenuhi 8 standar pendidikan tinggi, 8 standar penelitian, dan 8 standar pelayanan kepada masyarakat secara akuntabel, sistemik, dan berkelanjutan. Kedua, pihak Kemenristekdikti dan Kementerian terkait lainnya, bertindak sebagai Pembina PT yang bertanggunjawab dalam mendorong dan membina semua PT untuk terus berkiprah sebagai lembaga pendidikan tinggi pencerdas bangsa. Meningkatnya APK PT bukan hanya meningkatnya angka APK secara statistik, tetapi lebih jauh dari itu, lahirnya generasi muda yang memiliki kompetensi dan kemampuan prima yang siap dipartisipasikan dalam pembangunan bangsa, bukan sebaliknya lembaga yang secara langsung langsung atau tak langsung memberi peluang lahirnya barisan pengangguran kerah putih (white collar unemployement). Ketiga, kebijakan dual system PT lebih ditingkatkan, terutama bagi PT yang melaksanakan pendidikan vokasi dengan menambah porsi peningkatan pengalaman mahasiswa pada praktik kerja di laboratorium atau pun praktek kerja di dunia industri. Bila hal ini dilalcsanalcan, APK PT akan naik secara signifikan. Keempat, bangun dan kembangkan pendidikan tinggi di daerah 3 T ataupun di daerah perbatasan. Hal ini selain, untuk memberi kesempatan para lulusan SMA/SMK yang tinggal di daerah 3 T dan daerah perbatasan, untuk dapat melanjutkan di PT ternama, juga hadirnya PT di perbatasan bisa memberi efek ganda, gerbang terdepandalam merekatkan NKRI.

Dalam kaitan hal di atas pemerintah (Kemenristekdikti) perlu memberikan stimulus dan program andalan guna tercapainya peningkatan angka partisipasi kasar perguruan tinggi di Indonesia, yakni : Pertama, Kemenristekdikti lebih bersifat sebagai regulator yang juga berperan membina semua PT di Indonesia. Pembinaan dilakukan kepada semua PT, dan terapkan merit ystem dan reward dan punishment secara konsisten dan tanpa pandang bulu. Kedua, pemerintah seyogyanya memberi penghargaan (reward) yang memadai pada industri atau dunia Usaha (DUDI) yang telah sungguh mau bermitra dengan PT untuk memajulcan kualitas perguruang tinggi. Penghargaan tersebut bisa beragam, mulai dari diberi konsesi kemudahan usaha, perluasan usaha, perizinan, sampai pada pembebasan atau pengurangan pajak (Tax Holiday). Hal ini berarti pembangunan dan pembinaan PT tak hanya tanggung jawab Kemenristekdikti saja, tetapi juga semua Kementrian terkait, termasuk Kementrian Keuangan dalam memberikan tax holiday. (By : Keni Kaniawati, 08 Maret 2019)

Nila Tanzil – Pendiri Taman Bacaan Pelangi

foto: brilio.net/Yani Andriansyah

Nila, begitu biasa disapa, sejak 2009 mendirikan Taman Bacaan Pelangi yang tujuannya memberikan akses buku kepada anak-anak sekolah di wilayah timur Indonesia. Wanita kelahiran Jakarta 29 April 1976 ini selain cantik juga punya jiwa sosial yang tinggi. Ide awal pendirian Taman Bacaan Pelangi dimulai saat Nila masih bekerjasebagai konsultan komunikasi di sebuah perusahaan.

Wanita yang suka traveling ini saat ditempatkan di Labuan Bajo, Flores menyaksikan banyak anak sekolah yang tidak memiliki akses terhadap buku. “Saya ingat masa kecil saya selalu membaca buku. Bisa dibayangkan betapa susahnya hidup tanpa buku,” ujarnya.

Dari situ terpikir untuk membantu anak-anak di kampung-kampung di Labuan Bajo. Selain itu, Nila melihat budaya membaca di Indonesia masih relatif kecil. Menurut data Unesco, di Indonesia hanya 1 dari 1.000 orang yang suka membaca. Berangkat dari keprihatinan itu, Nila mendirikan sebuah perpustakaan kecil Taman Bacaan Pelangi.

Setelah 8 tahun berjalan, saat ini sudah ada 63 perpustakaan Tarnan Bacaan Pelangi yang tersebar di 15 pulau di wilayah Indonesia Timur dari Flores hingga Papua. Perpustakaannya bisa memberi manfaat kepada 17.000 anak dan bisa memberikan akses ke lebih dari 117.000 buku cerita anak berkualitas. Lewat perpustakaan Nila j uga bisamelatih 624 guru lokal di kawasan timur Indonesia.

Karena karyanya, Nila mendapat sejumlah penghargaan di antaranya Forbes Indonesia 10 Inspiring Women 2015, Kartini Next Generation Award 2013, Nugra Jasadarma Pustaloka 2013.

Pengenalan Sertifikasi keahlian / Profesi Prodi Manajemen D-III

Persaingan dalam dunia kerja saat ini sangat ketat. Lulusan dari berbagai tingkat pendidikan khususnya perguruan tinggi berlomba-lomba untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan harapan mereka. Perusahaan pun tidak ragu meminta kualifikasi yang tinggi terhadap calon karyawannya, tidak cukup hanya berbekal ijasah dan transkrip nilai yang memuaskan serta pengalaman kerja, tetapi juga banyak perusahaan yang mensyaratkan calon karyawannya memiliki sertifikasi keahlian atau profesi dalam bidang tertentu.

Sertifikasi keahlian adatah suatu proses yang menghasilkan sertifikat keahlian yang menunjukan seseorang tetah memenuhi persyaratan kompetensi berdasarkan disiplin keilmuan, kefungsian, dan/atau keahlian tertentu. Pentingnya sertifikasi keahlian perlu diketahui seluruh mahasiswa. Oleh karena itu Prodi Manajemen D-III Fakultas Bisnis dan Manajemen UTama, memberikan pengenalan mengenai sertifikasi keahlian / profesi kepada mahasiswa Prodi Manajemen D3, khususnya angkatan 2016 dan 2017.

Pemaparan dilakukan pada tanggaI 19 Februari dan 15 Maret 2019 bekerjasama dengan Galeri Investasi UTama. Kepala Galeri Investasi UTama, Siti Komariah, S.E., M.M. berkesempatan memberikan gambaran mengenai Sertifikasi WPPE Pasar Modal. Sertifikasi WPPE Pasar Modal ini dapat diikuti mahasiswa UTama tanpa dikenakan biaya (gratis). Mahasiswa yang berminat mengikuti proses sertifikasi WPPE Pasar Modal dapat mendaftarkan dirinya melalui link yang tersedia di wesit TICMI.

Kegiatan sertifikasi WPPE Pasar Modal meliputi 10 jam kegiatan pelatihan dan tes uji kompetensi. Apabila mahasiswa atau peserta sertifikasi mengikuti serangkaian kegiatan dan mampu melalui tes uji kompetensi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan maka mahasiswa / peserta berhak memperoleh sertifikat keahlian profesi WPPE. Sertifikat keahlian profesi WPPE nantinya meningkatkan daya jual lulusan Prodi Manajemen D-III di pasar tenaga kerja.

UTama pun memiliki beberapa kerja sama terkait sertifiksi keahlian / profesi ini seperti yang dikelola oleh LPAP untuk sertifikasi Ekspor Impor dan lain sebagainya. (Humas-20Mar2019)

Andre Surya Pendiri Enspire Studio & Enspire School of Digital ( ESDA )

Adalah Andre Surya. Anak muda ini saat berusia 22 tahun sudah menunjukkan kehebatannya i industri digital. Di balik kehadiran sosok Iron Man – superhero berbadan besi ada anak uda Indonesia yang punya peran, dialah Andre Surya. TIdak hanya Iron Man, dia juga kerap terlibat dalam sejumlah film Hollywood seperti Star Trek, Terminator Salvation, Transformers dan masih banyak lagi.

Saat ini Andre mendirilcan ESDA untuk membantu “menyembuhkan” mereka yang keranjingan game. “Daripada cuma sekadar main game, mereka kita arahkan untuk berkarya lewat 3D animasi. Jadi mereka bisa berkarya sendiri,tegasnya.

Mendirikan ESDA berangkat dari pengalaman pribadinya yang gemar sekali bermain game. Bahlcan dari situ Andre bisa berkarier di Hollywood. Saat keranjingan game, Andre secara tidak sengaja menemukan software 3D untuk memodifikasi game. Dari situlah dia terus menekuni dunia 3D hingga berkiprah di kancah internasional yang dimulai dari Lucasfilm Singapore. Saat ini sudah ada 10 sekolah ESDA berdiri berkat tangan dingin nya.