Home Blog Page 33

Lulusan PT dalam Kacamata Mahasiswa

Mahasiswa adalah subyek dari lulusan PT, yang merasakan langsung proses belajar mengajar yang mereka alami, dampak proses belajar mengajar, serta harapan yang mereka gantungkan setelah mereka lulus dari studinya. Berikut bincang dengan mereka seputar “Nilai Lebih Lulusan PT”.

Komunita : Bagaimana pandangan anda memaknai ‘Kualitas lulusan PT kaitannya dengan posisi peluang pekerjaan sebagai persyaratan (requirements) dunia industri/usaha’ dan apa nilai lebih dari lulusan suatu perguruan tinggi?

Ezhaldo Jesaya JH : Kualitas seorang mahasiswa sangat bergantung pada bidang pekerjaan yang akan dicapai. Semakin berkualitas dalam dunia pendidikan tinggi (bangku perkuliahan), maka semakin besar peluang untuk memperoleh pekerjaan. Berbicara mengenai indikator perkuliahan; ada dua macam indikatornya, yaitu akademik dan non akademik. Untuk bidang akademik dapat diukur dari perolehan nilai IPK, sedangkan untuk bidang non akademik dapat diukur dari kompetensi organisasi sosial. Tentunya tidak semua mahasiswa mampu menguasai kedua indikator tersebut, misalnya: terdapat mahasiswa yang memperoleh nilai IPK tinggi namun cara dia bersosialisasi maupun berorganisasi terlihat kurang menonjol, sebaliknya ada pula mahasiswa yang tidak memperoleh nilai IPK tinggi namun cara dia bersosialisasi dan berorganisasi lebih mumpuni.

Mengenai perkembangan disaat saya mengikuti beasiswa Djarum, ternyata perolehan nilai IPK hanya menjadi syarat administratif saja, manajemen Djarum lebih cenderung mengajarkan bagaimana cara berorganisasi dan bersosialisasi dengan baik. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa perolehan nilai IPK juga penting guna mencapai dunia perkerjaan yang diharapkan. Intinya kedua indikator tersebut harus tetap seimbang. Membahas mengenai nilai lebih pada Universitas Widyatama, seperti yang kita ketahui bahwa motto kampus Widyatama yaitu “Friendly Campus for Future Business Pro”. Mahasiswa dituntut agar mampu menumbuhkan jiwa kewirausahaan dan terjun langsung pada bidangnya, hal tersebut dapat dirasakan pada saat mempelajari mata kuliah kewirausahaan. Setelah mempelajari mata kuliah tersebut, saya pun merasakan manfaatnya. Awalnya saya tidak berminat untuk terjun ke berbagai bidang usaha, namun akhirnya saat ini saya sudah memiliki dua jenis usaha.

Efry Amar Prasetya : Di lingkungan kampus Itenas, saya sendiri bukanlah termasuk kriteria mahasiswa yang memperoleh nilai IPK tinggi. Dapat dikatakan pula saya tergefincir dalam kcilmuan sains, karena pada awalnya saya tidak tertarik dengan keilmuan tersebut. Namun setelah mengikuti berbagai macam bidang perlombaan serta mendapatkan beasiswa, ternyata saya mampu meraihnya. Dengan demikian, menurut saya bidang akademik pada suatu perguruan tinggi yang digunakan sekitar 70%, sementara sisanya merupakan bagian dari softskill mahasiswa. Untuk mempetoleh pekerjaan bukan hanya dari akademik saja, melainkan diperlukan pula sisi sollskill-nya. Dari sana dapat disimpulkan bahwa kita tidak perlu bersikeras menggeluti bidang akademik seperti dalam menentukan target nilai IPK harus tinggi, karena tidak semua orang pintar seperti ‘Habibie’. Memang semua orang menginginkan untuk menjadi pintar, hanya saja masing-masing tingkat IQ-nya pasti berbeda dan tidak bisa disamakan. Saran saya untuk semua mahasiswa, agar tidak melihat dari sisi perolehan nilai IPK yang tinggi saja, namun mulailah untuk mencoba dalam mencari relasi sebanyak mungkin. Jenjang perkuliahan memang tidak sama dengan jenjang sekolah biasa yang hanya bcrpedoman pada pengerjaan tugas semata, akan tetapi dalam jenjang perkuliahan — kita juga diharapkan dapat membangun relasi + memperbanyak sertifikasi kualitas keilmuan. Selain ilmu yang diperoleh pada saat di bangku perkuliahan, tentu relasi pun penting kita bangun. Seperti ‘quotes’ atas inspirasi dari Bapak Habibie, “Percuma Anda Jenius Jika Anda Pemalas” yang secara garis besar, isinya adalah walaupun kita jenius dan pintar, jika kita mengedepankan rasa malas dalam melakukan sesuatu hal, tentu tidak akan dapat dicapai hingga kapan pun. Dari semangat jiwa juang tersebut, manusia dapat dibandingkan; apakah dia mampu atau tidak untuk bertahan hingga akhir. Saat usia muda inilah kesempatan kita untuk menentukan yang terbaik. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa seseorang tidak akan dapat menggapai sesuatu hal tanpa adanya kemauan dan kerja keras dari dalam diri sendiri.

Komunita : Target, harapan dan upaya apa yang anda lakukan setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi agar dapat menyelaraskan kompetensinya dengan lingkungan kerja?

Ezhaldo Jesaya JH : Setelah lulus, mahasiswa diharapkan untuk tidak hanya beketja dengan orang lain, namun harus pula mampu mcmbuka lowongan pekerjaan. Target dan harapan yang ingin saya raih saat ini yaitu semoga usaha yang sedang saya jalani tems berkerobang dengan lancar & sustainable. Dengan bermodalkan usaha tersebut, diharapkan dapat membantu tumbuhnya perekonomian khususnya di wilayah setempat. Efry Amar Prasetya : Dapat dikatakan bahwa saya sudah lama berada di lingkungan kerja tepatnya pada perusahaan BUMN yang bergerak di bidang perminyakan, kemudian pemah juga terikat pembangunan proyek nasional yaitu pembuatan tol Sumatera. Namun terdapat misi yang memang belum terealisasi yakni mendapatkan beasiswa kc Jerman, karena merasa bosan dan jenuh dengan pekerjaan yang sedang dijalani, sehingga saya memutuskan untuk mencari informasi guna mengikuti beasiswa tersebut.

Pada dasamya untuk mencapai target yang diinginkan tidak hanya melalui satu cara saja, akan tetapi banyak metode dan jalannya. Seyogianya kita memiliki persepsi bahwa tidak hanya orang pintar yang mampu mendapatkan beasiswa, namun dengan bermodalkan kepercayaan dan keyakinan kita pun mampu mendapatkan beasiswa meskipun tidak terlalu pintar. Kesalahan mempersepsikan semua pada umumnya bahwa untuk masuk perusahaan BUMN syaratnya harus memperoleh nilai IPK tinggi. Nah, pemyalaan tersebut sepenuhnya kurang pas juga, hal yang penting selain itu adalah dengan bekerja keras & bekerja cerdas guna mensukseskan segalanya.

Komunita : Jelaskan hubungan antara dunia pendidikan dengan dunia indust?i dan usaha dari sisi : a) Potensi lulusan petguruan tinggi, Kuantitas Musan perguruan tinggi, dan c) Ketersediaan lowongan pekerjaan.

Ezhaldo Jesaya JH : Seorang memperoleh nilai 1PK tinggi belum tentu mendapatkan posisi jabatan dalam pekerjaannya yang tinggi pula. Semuanya tergantung dari bagaimana cara kita bersosialisasi antar satu dengan lainnya. Contoh: saya kenal dengan kebanyakan orang, sehingga memiliki banyak hubungan/relasi dan link pengetahuan. Namun, hal tersebut kembali kepada diri mahasiswanya masing-masing; ada mahasiswa yang hanya mengcjar perolehan nilai IPK saja dengan tujuan ingin bekerja pada perusahaan bonafid, kemudian ada juga mahasiswa yang kuliah hanya ingin bertemu dengan teman-temannya sehingga mengikuti perkuliahan pun dengan sesukanya. Hal itulah yang menjadi penentu tujuan dari setiap mahasiswa di kampus.

Efry Amar Prasetya : Dikarenakan saya menggeluti bidang sains, maka saya akan tnenjelaskannya dari sudut pandang sains, khususnya pada bagian teknik. Jika dikaitkan antara dunia pendidikan dengan dunia kerja di Indonesia, dapat dikatakan sudah sejalan dengan bidang sains. Presiden kita saat ini (Bapak Jokowi), telah mcncanangkan pembangunan berbagai proyek di setiap daerah. Jadi untuk pengaplikasian dalam pendidikan teknik, bisa langsung dioperasikan ke berbagai perusahaan yang melakukan proyek tersebut. Seperti pada perusahaan yang sedang saya jalani, terdapat mahasiswa dari berbagai macam perguruan tinggi yang menjalani kegiatan magang.

Dari sanalah mahasiswa dapat terjun langsung untuk mengaplikasikan segala keilmuan yang telah didapatkan pada bangku perkuliahan dengan dunia kerjanya melalui program magang. Bila dilihat dari sudut pandang bidang keilmuan teknik, kualitas dan kuantitas mahasiswanya cukup baik. Hanya saja cara penerimaan materi perkuliahan dari setiap mahasiswanya yang berbeda-beda. Kendala lainnya yaitu kesulitan dalam mengaplikasikan antara teori dengan praktek di lapangannya, sehingga mereka pun perlu dibimbing agar mampu menjalankan dan mengaplikasikan secara prakteknya. Mengenai ketersediaan lowongan peketjaan yang ada di Indonesia saat ini, tentu sangat banyak. Terlebih semakin banyaknya tingkat penempatan posisi pada lowongan pekerjaan yang saya inginkan, sehingga saya berkeinginan keluar dari Indonesia guna meraih posisi yang saya dambakan sebagaimana canangan program kerja yang di usung oleh Bapak Presiden Jokowi melalui wadah MEA (Masyarakat Ekonomi Asean).

Komunita : Sebagian besar kurikulum pendidikan tinggi dirasa kurang twlevan dengan kebutuhan (requirements) dunia indust?i dan usaha. Bagaintana pandangan anda sebagai mahasiswa dalam tnenyikapi hal tersebut ?

Ezhaldo Jesaya JH : Memang dapat dikatakan bahwa saat ini sebagian besar kurikulum perguruan tinggi kurang relavan dengan kebutuhan dunia usaha. Namun dengan adanya perkembangan era teknologi industri 4.0 + jaringan internet, hal tersebut memudahkan kita dalam menyeimbangkan antara kurikulum pendidikan dan kebutuhan dunia industri. Misalnya saja saat ini Universitas Widyatama sudah menerapkan sistem digital pembelajaran melalui aplikasi e-learning yang diharapkan secara perlahan akan cocok guna menyeimbangkan kurikulum pendidikan. Selain itu, kurikulum pendidikan pada perguruan tinggi dapat ditambahkan dengan tidak hanya menjelaskan mengenai teori namun lebih mengajarkan para mahasiswa untuk teljun langsung ke lapangan, seperti halnya pada matakuliah kewirausahaan. Sistem pembelajaran e-learning harus lebih ditingkatkan dengan menambahkan aplikasi guna membangun motivasi mahasiswa dalam meraih point melalui pengemasan dan metode menarik. Apabila mahasiswa hanya diajarkan dengan teori saja justru hal tersebut dirasa kurang efektif dan efisien, sehingga diperlukan metode e-learning dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran berbasis digital. Sebenamya setiap perguruan tinggi diharapkan mampu tnenerapkan kurikulum yang metnadukan sinergitas antara dunia pendidikan dengan dunia kerja, agar disaat mahasiswa terjun langsung ke dunia bisnis — mereka tidak merasa canggung dalam penerapan segmen teknologinya.

Efry Amar Prasetya : Tidak dapat dipungkiri memang terdapat mata kuliah yang tidak selaras dengan pekerjaan atau memang tidak teraplikasikan pada kchidupan nyata, seperti (akar 3) yang tidak ada dalam kehidupan. Namun dalam dunia matematika, hal itu justru sesuatu yang mendasar untuk tetap dipelajari. Oleh karena itu pada berbagai kampus dipelajari matakuliah matematika, meskipun memang dalam dunia pekerjaan tidak langsung diterapkan secara penuh sebagaimana teori yang telah dipelajari. Sehingga dibutuhkanlah suatu kunci kreativitas dan inovasi dalam pengembangannya. Memang tidak semua bagian keilmuan akan selalu selaras, akan tetapi tentu harus tetap kita pelajari dan kembangkan sesuai dengan bidang keilmuan yang kita tekuni

Ezhaldo Jesaya JH : Sebetulnya jumlah lulusan alumni perguruan tinggi dengan kapasitas lapangan pekerjaan itu seimbang, namun permasalahannya jumlah lulusan alumni perguruan tinggi — mau atau tidak dalam menerima posisi pekerjaan yang ditawarkan. Selaku lulusan baru perguruan tinggi atau istilahnya ‘fresh graduate”, harus mampu mengukur kemampuan yang dimiliki, walaupun telah memperoleh keilmuan pada bangku perkuliahan, serta telah mengikuti program magang secara terukur. Alangkah lebih baiknya kita menerima tawaran lowongan pekerjaan itu terlebih dahulu, karena memang segala sesuatu ada proses jenjang karirnya. Pada dasarnya lapangan pekerjaan itu telah tersedia, namun bersedia atau tidaknya menerima tawaran tersebut sangat tergantung pada diri kita sendiri meskipun posisi bidang penempatannya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Efry Amar Prasetya : Faktor posisi dan pengaturan jumlah pegawai dari pihak manajemen perusahaan yang tidak ingin menambah karyawan baru. Padahal dalam kenyataannya, jumlah alumni mahasiswa perguruan tinggi banyak membawa ide baru bagi pengembangan perusahaan. Saat ini kebanyakan perusahaan menutup diri terhadap sesuatu hal yang baru, seh ingga kemudian mengak ibatkan lulusan alumni perguruan tinggi tidak memperoleh kesempatan bekerja. Contohnya pada PT. Garuda I ndonesia, menyatakan bahwa terdapat fasilitas bagi konsumen yakni “first class” dalam penyajian menu makanan. Seharusnya dapat menggunakan pengembangan teknologi touch screen, namun kenyataannya hanya menggunakan kertas yang ditulis oleh pulpen. Menyadari hal tersebut, seharusnya PT. Garuda Indonesia melek teknologi dengan memposisikan seorang pegawai yang profesional pada bidang tersebut sehingga dapat melakukan inovasi baru guna memberi kenyamanan bagi para konsumennya.

Komunita : Saran anda sebagai mahasiswa kepada pemerintah, pengelola perguntan tinggi dan pimpinan manajemen dunia industri dan usaha dalam rangka meminimalisir gapikesenjangan lulusan PT dengan kebutuhan tenaga terampil yang siap pakai guna menunmkan angka pengangguran dan meningkatkan pertwnbuhan ekonomi ?

Ezhaldo Jesaya JH : Berdasarkan artikel yang pemah saya baca, yakni terdapat negara yang memfokuskan anak-anak dalam memilih pendidikan pada satu bidang saja. Contohnya : seorang memiliki keberminatan pada bidang pertanian, maka dia harus fokus pada bidang tersebut, tujuannya yaitu agar menjadi seorang yang memiliki kepahaman & kepakaran tersendiri dengan menguasai bidangnya. Seharusnya kita memiliki jangkauan ke depan mengenai tujuan hidup serta cita-cita yang ingin diraih sejak dari bangku SMA. Apabila menginginkan jadi seorang pengusaha, maka kita harus memfokuskan pendidikan pada bidang usaha. Sementara saran untuk pemerintah, sebaiknya terus memfasilitasi bidang pendidikan/sekolandengan tidak hanya fokus pada bidang akademik saja, namun fokus pula pada non-akademiknya. Seperti halnya ketika ada mahasiswa yang berbakat di bidang olahraga, alangkah lebih baik difokuskan pada bidang olahraga. Karena pada dasarnya setiap mahasiswa memiliki kemampuan dan kelebihannya masing-masing. Dengan demikian, alangkah baiknya diberikan pilihan peminatan untuk masa depan mulai sejak dini (usia remaja). Kemudian pemerintah juga harus memberi akses kemudahan kepada semua mahasiswa yang memang memiliki peminatan/bakatnya bukan hanya pada bidang akademik, misalnya : bakat pada bidang seni, desain grafis, broadcasting dan lainnya.

Efry Amar Prasetya : Pemerintah sebaiknya memberikan wadah khusus dalam menampung ide-ide baru dari mahasiswa. Dilihat dari kenyataannya, pemerintah saat ini justru sulit untuk membuka diri dalam menampung ide tersebut, dikarenakan telah memiliki kesibukan tersendiri dalam menyelesaikan program kerjanya. Walaupun begitu terbukanya suara mahasiswa, akan tetapi pemerintah masih terpaku dengan peraturan yang telah ditetapkan. Banyak para SDM unggul kita beraktivitas di luar negeri, dikarenakan mereka tidak diberikan fasilitas memadai di dalam negeri sendiri. Oleh karenanya saya juga menyarankan agar pemerintah memulangkan para SDM unggul kita yang tengah berada di luar negeri untuk kembali mengemban amanah dalam memajukan negeri Indonesia mclalui berbagai metode pembelajaran dan kelembagaan riset. (Written by Silpiani Nur Utami & Editted by AbdulRozak)

Mahasiswa Widyatama Ikuti Kompetisi Diplomasi Nasional di Ull

7 Mahasiswa Universitas Widyatama ikuti Kompetisi Diplomasi Nasional bertajuk “Short Diplomatic Course” yang diselenggarakan Universitas lslam Indonesia (UII) Jogyakarta 5-7 juli 2019. Acara Short Diplomatic Course merupakan acara dimana para delegasi dari Perguruan Tinggi di Indonesio melakukan simulasi Konferensi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Setiap delegasi merepresentasikan suatu negara dan bertindak sesuai dengan kepentingan negara yang ia representasikan dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang akan dibahas dalam konferensi

tersebut. Selain bertujuan memberikan pelatihan kemampuan berdiplomasi melalui simulasi sidang Association Southeast-Asian Nations (ASEAN), mahasiswa juga dilatih berani tampil. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mempresentasikan negara anggota ASEAN. Dalam simulasi sidang tersebut, para mahasiswa
mempraktekkan diplomasi, negosiasi,dan lobi negara lain guna mendapatkan kepentingan yang diinginkan. Mereka juga diminta menyampaikan pandangan masing-masing negara terkait isu-isu yang sedang dibicarakan. Pada ajang tersebut delegasi Universitas Widyatama berhasil meraih beberapa predikat : Most Outstanding Delegates diraih Nabila Adiandini,Fakultas Bahasa angkatan 2018; Best Position Paperdiraih Vioriza Kemala Putri, Fakultas Ekonomiangkatan 2018; Verbal Comendation diraih Muhamad Anfaza (Fakultas Bisnis Manajemen 2017), Ananda Panji (Fakultas Bahasa 2017) dan Ricky Adrian (Fakultas Bahasa 2017). “Prestasi ini diharapkan dapat meningkatkan peringkat Universitas Widyatama melalui SIMKATMAWA”, ucap Ka. Biro Kemahasiswaan Widyatama Pawit Wartono, S.E., M.M. (Hms – 08 Jull 2019)

Kunjungan Widyatama Ke Kampus IMWI Sukabumi

Kamis, 11 Juli 2019, Institut Monajemen Wiyata Indonesia (IMWI) Sukabumi menerima kunjungan Pengurus Yayasan Widyatama beserta jajaran Rektorat UniversitasWidyatama Bandung. Hadir dalam kunjungan tersebut, Ketua Harian Yayasan Widyatama, Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, M.Si.; Wakil Rektor Bidang Operasional, SDM dan Keuangan Universitas Widyatama, Djoko S. Roespinoedji, S.E., PG. DIP; Wakil Rektor Bidang Akademik, Perencanaan dan Kerjasama Universitas Widyatama, Prof. Dr. Mohd. Haizom Bin Mohd. Saudi; Direktur Penjaminan Mutu Widyatama (PMW), Dr. Suhamo Powirosumarto, M.M.; jajaran manajemen Pascasarjana Universitas Widyatama, staf ahli Yayasan Widyatama, jajaran Yayasan serta jajaran Rektorat Universitas Widyatama lainnya. Kunjungan Pengurus Yayasan dan Rektorat Universitas Widyatama diterima lang5ung jajaran Yayasan Wiyata Indonesia, yang menaungi Institut Manajemen Wiyata Indonesia. Hadir
Pembina Yayasan Wiyata Indonesia, Bapak Bambang Somantri, S.E., M.M. dan Ketua YayasanWiyata Indonesia,lbu Dra. Mariati Tirta Wiyata, MBA., Rektor Institut Manajemen Wiyata Indonesia, Dr. Ryan Kurniawan,S.E., M.M., Wakil Rektor Institut Manajemen Wiyata Indonesia, Zulkarnain, S.E., M.Si.; dan jajaran Yayasan serta jajaran Rektorat lnstitut Manajemen Wiyata Indonesia. “IMW1 merasa tersanjung atas kunjungan tokoh-tokoh dari Widyatama,” ungkap Bapak Bambang Somantri dalam sambutannya. “Semangat yang dibawa dalam kunjungan ini, yakni peluang kerjasama antar Iembaga yang dapat dijalin yang memberi dampak pada pengembangan dan kemajuan IMWI,” ujarnya. Prof. Obsatar menyampaikan bahwa semangat membangun pendidikan menjadi ciri Widyatama. Tersedianya ruang dan kesempatan bagi generasi muda untuk mendapatkan pendidikan tinggi berkualitas harus terbuka lebar.

Widyatama membuka pintu jalinan kerjasama dengan lembaga pendidikan tinggi lain, baik di dalam maupun di luar negeri, khususnya dengan IMWI dengan arah tujuan serupa, yaitu untuk membangun generasi masa depan melalui pendidikan. Semoga warga Kota Sukabumi dan sekitarnya dapat merasakan manfaat dari kerja sama yangdijalin. (Hms – )2 Juli 2019)

Memaknai Profil Lulusan, Relevansi & Penganguran lulusan PT

Memaknai Profil Lulusan, Relevansi & Penganguran lulusan PT

Sidang Pembaca yang budiman

Masalah pengangguran lulusan PT (Perguruan Tinggi) merupakan momok bagi dunia pendidikan tinggi. Mereka berasal dari lulusan 4.670 PT setiap tahun. Laporan Statistik Kemenrintekdikti Tahun 2018 terdaftar 1.247.116 lulusan, dan diperkirakan tahun-tahun mendatang bakal meningkat. Karena jumlah mahasiswa terdaftar sekitar 8.043.480, sedang mahasiswa baru 1.732.308. Memang Tingkat penggangguran terbuka (TPT) per Februari 2019 berjumlah 6,82 juta. Kendati angka pengangguran cenderung menurun pada Februari 2016, namun bila dilihat dari tingkat pendidikan, lulusan diploma dan universitas makin banyak yang tidak bekerja. Sejumlah faktor yang dinilai menyebabkan peningkatan pengangguran terdidik tersebut, yakni keterampilan tidak sesuai kebutuhan, elcspektasi penghasilan & status lebih tinggi, serta lapangan kerja terbatas. (https://katadata.co.idfinfigrafik/2019/05/17).

Sementara itu, isu-isu global yang mempengaruhi pendidikan tinggi semakin nyata. Tahun 2050 atau 30 tahun ke depan dunia menghadapi masalah demografi, permintaan sumber daya terdidik dan profesional, globalisasi, serta perubahan ildim. Bahkan isu global di atas bergerak lebih cepat, dunia usaha dan industri sangat membutuhkan SDM profesional. Menghadapi itu, Indonesia mengusung visi baru pendidikan dan kebudyaaan, yaitu “terbentuknya insan serta ekosistem pendidikan dan kebudayaan yang berIcarakter”. Ketika saya mencoba menyelami hal tersebut. Suatu hari saya bertemu dengan pelaku usaha dan industri mereka mempertanyakan “profil lulusan PT” dengan IPK tinggi, tetapi dalam aspek kompetensi dan sikap kerja tidak tercermin mewakili nilai IPK tersebut. Ukuran IPK ternyata bukan cerminan yang setara atau mewakili. Fakta ini tentunya baru contoh. Apakah hal ini merupakan potret keseluruhan, sebagian kecil atau bahkan sebagian besar tentunya masih memerlukan kajian lebih luas dan mendalam.

Gambaran di atas, menjadikan insan pendidikan tinggi perlu memaknai apa sesungguhnya “Profil lulusan”, capaian pembelajaran (learning outcomes) dan apa sesungguhnya “Relevansi Pendidikan”, sebagaimana diungkap dalam kebijakan pendidikan tinggi. “Profil Lulusan? seharusnya dikembangkan dilandasi dua hal : a) analisis visi dan perkembangan keilmuan dan keahlian, b) analisis kebutuhan pasar dan pemangku kepentingan. Karena secara definisi “Profil lulusan” adalah “Peran” yang dapat dilakukan lulusan PT di bidang keahlian atau bidang kerja tertentu setelah menyelesaikan studi. Peran tersebut menunjuk pada suatu profesi (semisal : dokter, arsitek) atau pekerjaan khusus (semisal : manager perusahaan, prakthi hukum, akademisij atau bentuk kerja yang digunakan dalam beberapa bidang lebih umum (semisal : komunikator, kreator, leader) yang dirumuskan oleh Program Studi bersangkutan (Direktorat Belmawa – Dikti, 2019). Dengan landasan di atas diharapkan “profil lulusan” mendekati kebutuhan dunia kerja (dunia usaha dan industri). Sementara, “Relevansi Pendidilcan” adalah kesesuaian antara kemampuan/skills yang diperoleh melalui jenjang pendidikan tinggi dengan kebutuhan kerja (Ali, Mohammael 2009 Pendidikan untuk Pembangunan Nasional, Menuju Bangsa Indonesia yang Mandiri Dan Berdaya Saing Tinggi, Jakarta). Artinya kurikulum/program pendidikan tin haruslah disesuaikan dan relevan dengan tuntutan hidup ataupun kebutuhan dunia pekerjaan/dunia usaha dan industri (www.definisimenurutparaahli.com).

Konsekuensinya adalah bagaimana perguruan tinggi menetapkan dan mengembangkan profil lulusan, menyusun kurikulum, merancang capaian pembelajaran, serta melaksanakan proses pendidikan sehingga hasilnya sesuai rancangan, mendekati atau relevan dengan kebutuhan pekerjaan/persyaratan dunia kerja. Terdapat korelasi yang kuat dan langsung antara perguruan tinggi dengan dunia usaha & industri. Namun, antara keduanya secara nyata masih berjalan sendiri-sendiri, belum terhubung. Hal ini terjadi karena tidak ada sinergisitas, serta fungsi yang menjembatani komunikasi secara intens dan terstruktur. Bagaimana dunia usaha dan dunia kerja mendekatkan dan membuka diri terhadap perguruan tinggi. Demikian pula sebaliknya. Dampaknya, dunia usaha dan industri tidalc paham apa yang terjadi di dunia pendidikan tinggi dan sebaliknya perguruan tinggi tidak paham apa yang dibutuhkan dunia usaha dan industri.

Hubungan proaktif, interaktif, sistematis, dan konsisten di antara keduanya akan memberikan dampak pada efisiensi dan efektivitas dunia pendidikan, sekaligus dunia usaha dan industri, dalam peran yang berbeda. Sinergitas ini, selayaknya membangun sebuah ekosistem pendidikan tinggi & pelatihan yang saling menguatkan keduanya. “Perencanaan dan penyelenggaraan pendidikan tinggi harus ada kerjasama antara perguruan tinggi dan dunia usaha dan industri (semisal : Kadin), sebagaimana yang sudah diterapkan di negara-negara maju. Semisal Jerman, Jepang, bahkan yang terdekat negeri serumpun Malaysia bisa sebagai rujukan. Apakah konsep pendidikan tinggi sekarang sudah menuju arah tersebut ? Tampaknya kita masih perlu menunggu. Bila mengacu pada KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) dan SN DIKTI (Standar Nasional Pendidikan Tinggi) dengan rumusan yang ada dalam standar tersebut, juga referensi Rumusan kompetensi (dari hasil penelusuran alumni, pengguna lulusan, lembaga sertifikasi), serta Rumusan capaian pembelajaran (dari Asosiasi Profesi, Kolokium Keilmuan, Badan Akreditasi, serta program studi yang kredibel), maka Capaian Pembelajaran yang menggambarkan “Profil Lulusan” seharusnya bisa dicapai. Kita pahami bahwa unsur capaian KKNI adalah sikap dan tata nilai, kewenangan dan tanggungjawab, kemampuan kerja, serta penguasaan pengetahuan yang tentunya menggambarkan kualifikasi tertentu lulusan. Sementara deskripsi capaian SN DIKTI adalah sikap, keterampilan umum, keterampilan khusus, serta pengetahuan.

Namun masalahnya apakah semua sudah dilakukan dengan kesungguhan, sinergisitas, konsisten dan sistematis, sehingga terbangun ekosistem pendidikan tinggi berkelanjutan, yang melibatkan para pihak ? Fakta menunjukkan, bahwa intensitas keterhubungan dalam memaknai profil lulusan, relevansi pendidikan tinggi, dan pengangguran lulusan PT dari semua pihak sangat dibutuhkan. Tampaknya perlu bertanya kepada masing-masing pemangku kepentingan, yakni : dunia pendidikan tinggi serta dunia usaha dan industri. Dimanakah “ruangkosong” terjadi. Semoga. “Ruang kosong” ini diisi, dan harapan kita bersama bisa mewujud. Profil lulusan PT, Relevansi Pendidikan Tinggi dan Tingkat Pengangguran PT bukan lagi menjadi beban sejarah pendidikan kita. Wallahualam.

Vivat Widyatama, Vivat Civitas Academica, Vivat Indonesia dan Nusantara tercinta. Redaksi – Lili Irahali

Pemuda Bandung Ciptakan Astronaut dan 50 Aplikasi Mobile

Dilansir dari galamedianews.com – GEMAR mengulik teknologi, pemuda berusia 25 tahun asal Bandung sudah membuat 50 aplikasi mobile, salah satunya aplikasi wawancara virtual bernama Astronaut. Deni Rohimat nama pemuda Bandung tersebut. Deni merupakan seorang pemuda berbakat yang menggeluti bidang teknologi informasi. Kecintaannya terhadap dunia IT (teknologi informasi) mendorong Deni untuk terus belajar dan berkomunitas dengan sesama pecinta IT.

Bersama beberapa temannya, Deni mendirikan komunitas Android Developer Bandung (ADB), aktif di komunitas Code Android Indonesia di Facebook dan menjadi leader di Developer Student Clubs (DSC) Universitas Widyatama, Bandung. Kegemarannya ini membawa Deni untuk berkesempatan hadir di Google 1/0 2019 dan bertemu dengan developers dari seluruh dunia. (Hms – 05 Jull 2019)

 

RTM Widyatama Untuk Perbaikan Dan Peningkatan Mutu Pendidikan

Jum’at (12/7/2019) seluruh Pimpinan Yayasan dan Universitas Widyatama kembali menggelar Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) di ruang Seminar Gedung B lantai 6.
RTM tahun ini dihadiri top manajemen di lingkungan Universitas Widyatama sebagai penentu kebijakan di setiap lini, dengan tujuan agar top manajemen senantiasa meninjau sistem Manajemen mutu organisasi, dalam interval terencana, untuk memastikan kesesuaian berkelanjutan, kecukupan, efektivitas dan kesejajaran dengan arah strategis organisasi. Rektor Universitas Widyatama, Dr. H. Islahuzzaman, S.E., M.Si., Ak., CA menyampaikan agar seluruh sivitas fokus terhadap hal-hal yang disampaikan oleh PMW dalam RTM ini terutama dalam hal perbaikan dan pengembangan mutu Widyatama. Sementara itu Ketua Pelaksana Harian Yayasan Widyatama Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, M.Si menuturkan prestasi Universitas Widyatama saat ini mendapat penilaian positif dari pihak eksternal, salah satunya di bidang penelitian khususnya publikasi. Hal ini menyita perhatian National University Singapore (NUS) untuk mengirimkan perwakilannya berkunjung ke Universitas Widyatama hari ini bertepatan dengan RTM. Prof. Obsatar menambahkan perlunya loyalitas dan sinergi dari seluruh sivitas akademika dalam rangka mewujudkan mutu pembelajaran dan meningkatkan peringkat Universitas Widyatama berdasarkan kriteria pemeringkatan yang dilakukan oleh Kemenrisetdikti. (Hms – 13Juli 2019)

 

6 Program Studi di Widyatama Raih Akreditasi Internasional ASIC

Setelah menerima Visitosi tim assessor Tim Asesor Accreditation Service for international Schools, Colleges & Universities (ASIC) pada Senin, 20 Mei 2019 yang lalu, diakhir Juni ini 6 Program Studi di Universitas Widyatama meraih pencapaian akreditasi internasional dari ASIC dengan nilai Premier Institution. Ke enam Program Studi yang meraih akreditasi tersebut yakni : S1 Manajemen, SI Akuntansi, S1 Bahasa Inggris, SI Sistem informasi, S1 Teknik Industri dan D3 Bahasa Jepang. Proses visitasi akreditasi telah dilakukan pada 20-23 Mei 2019 yang lalu. Akreditasi mengaudit berbagai aspek diantaranya proses penerimaan mahasiswa baru, proses pembelajaran, Teknologi Informasi, bentuk layanan untuk mahasiswa, beasiswa, prestasi mahasiswa, kerjasama, student exchange, keamanan dan kenyamanan mahasiswa sampai layanan purnastudi. Akreditasi ASIC (Accreditation for International Schools, Colleges, and Universities) merupakan lembaga penilaian pendidikan internasional independen yang berbasis di Inggris. Dengan capaian ini Universitas Widyatama telah meraih pengakuan dari dunia internasional sebagai Perguruan Tinggi yang berkualitas. Seluruh Civitas Academica Universitas Widyatama mengucapkan selamat atas diraihnya Akreditasi Internasional bagi 6 Program Studi. (Hms-28Juni2019)

National University of Singapura (NUS) Kunjungi Widyatama

Perwakilan National University of Singapura (NUS) Mr. Dexton mengadakan lawatan akademik ke Biro Kerjasama Universitas Widyatama pada Jum’at (12/07/2019). Tamu diterima di Ruang Rapat Rektorat Gedung Alantai2. Hadir pada pertemuan tersebut Rektor Universitas Widyatama, Dr. islahuzzaman, SE., M.Si., Ak., CA beserta jajarannya. Kunjungan dimaksudkan untuk menjajaki sejauh mana ke depan kedua pihak dapat bekerjasama. Mr. Dexton mewakili fakultas yang berbasiskan praktik bidang komputer dan menawarkan kepada alumni Widyatama yang berprestasi di bidang IT untuk dapat melanjutkan kuliah di NUS di area praktik IT dengan membuka kesempatan juga setelah lulus dari NUS dapat bekerja di Singapura. Lebih lanjut Mr. Dexton menyampaikan hal ini juga atas dorongan pemerintah Singapura yang membutuhkan tenaga terpelajar di bidang IT. Artinya akan ada kesempatan bagi alumni Widyatoma yang memiliki kemampuan di bidang IT untuk menambah ilmu di Singapura yang menjadi salah satu kiblat IT di Asia bersama Jepang dan Korea. Program studi lanjut jenjang Master ini merupakon program beasiswa dari NUS yang ditawarkan ke Widyatama atas dukungan dari pemerintah Singapura. (Hms-15Jull2019)
National University of Singapura (NUS) Kunjungi Widyatama

 

Workshop Lanjutan Penyusunan Borang Akreditas PT

Yayason dan Universitas Widyatama menggelar workshop Penyusunan Borang Akreditasi Perguruan Tinggi lanjutan di ruang Seminar Gedung B lantai 6. Workshop Penyusunan Borang Akreditasi Perguruan Tinggi lanjutan ini diikuti para pejabat struktural dan dosen, acara tersebut dilaksanakan pada hari Senin – Rabu, tanggal 15-17 Juli 2019 yang menghadirkan narasumber Bpk. Saepudin Nirwan, S.Kom., M.Kom. (Hms -16Jull 2019)

Butuh SDM Kuat Sukseskan Perusahaan

0

President Director PT. Amman Mineml Nusa Tenggam

‘Amman M ineral’ merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan. Sebelumnya memang ada yang janggal mengenai nama dari perusahaan kami, kebanyakan orang menyangka bahwa ‘Amman Mineral’ merupakan perusahaan air mineral, namun nyatanya bukan itu. Amman Mineral mempunyai banyak aktivitas dan program yang memang bukan hanya segi operasional pertambangan saja, namun terdapat pula program lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat. Salah satunya yaitu bagaimana perusahaan kami dapat berkontribusi pada dunia pendidikan, seperti program pemberian beasiswa, program peningkatan infrastruktur serta program peningkatan kemampuan dan keterampilan (capability) bagi para stafpengajar maupun mahasiswa. Pentsahaan kami yang bergerak di bidang pertambangan membutuhkan program reklamasi yang hingga saat ini banyak diterpa isu negatif mengenai pertambangan liar. Saya mewakili manajemen PT Amman Mineral menyampaikan bahwa kami melakukan operasi pertambangan secara legal dan sesuai peraturan undang-undang dengan tidak merusak habitat ekosistem, serta meminimalisir dampak kentsakan lingkungan. Hal ini telah mampu kami lakukan dan terbukti hasilnya.

Berbicara mengenai sumber daya manusia dimanapun, khususnya di bidang pertambangan tentu kami sangat membutuhkan orang yang kuat dalam mensukseskan program kegiatan perusahaan. Ketika seorang lulusan perguruan tinggi dihadapkan pada keputusan 2 (dua) pilihan, yakni antara membuka usaha baru atau menjadi karyawan pada suatu perusahaan. Sebenarnya tergantung pada kondisi dan situasi yang dialaminya sendiri. Namun, saat ini sebagian besar lulusan perguruan tinggi menginginkan untuk bekerja dengan orang lain, padahal sebenarnya Indonesia sangat membutuhkan para ttalene muda yang berkecimpung dalam berbagai bidang usaha (menjadi pengusaha). Saya akan mencoba mengupas lebih banyak mengenai proses dalam mendapatkan suatu pekeijaan, karena sebetulnya bukan hanya dimulai dari proses ketika lulus kuliah saja namun kesiapan mental dan lahiriah pun harus menjadi perhatian penting saat memulai serta berada dalam lingkungan pekerjaan. Maksudnya yaitu pada saat mulai memasuki dunia kerja dan diterima sebagai karyawan baru, tentunya harus mampu beradaptasi sena siap dipindahkan ke beberapa posisi maupun wilayah lainnya (mutase,d11). Proses inilah yang harus dipahami oleh rekan-rekan yang baru memasuki dunia kerja. Saya sampaikan bahwa masa transisi dalam setiap jenjang posisi pekerjaan harus tetap kita siapkan dengan penuh kemantapan. Setiap bentuk kegagalan yang sering dialami selama bekerja yakni apabila kita tidak siap dengan proses transisi tersebut serta mudah mengalami kekecewaan dengan tidak menerima keadaaan yang sesungguhnya. Kesempatan yang diberikan pada dunia kerja tidak sebanyak yang diberikan dalam dunia pendidikan. Saya sering mengatakan bahwa “hidup itu tidak adil”, dan saya ingin kita semua mengambil sisi posilif

dari quotes tersebut. Dimana jika kita mengetahui bahwa hidup ini tidak adil, maka kita senantiasa akan mempersiapkan diri dalam menghadapi ketidakadilan yang akan kita ditemui pada dunia kerja atau bahkan pada hidup kita di masa mendatang. Sekilas berbicara mengenai kehidupan dunia pendidikan, dimana kita mampu bergaul dengan teman sebaya, kemudian banyak hal fleksibel yang dapat dilakukan tanpa keterikatan waktu, bahkan biaya pun masih dari orangtua. Sementara pada dunia kerja, yang kita siapkan tentu berbeda sekali. Kita bertemu orang baru dengan banyak perbedaan, kemudian durasi waktu bekerja pun telah ditentukan secara terjadwal. Dari segi finansial, rencana pertama yang dapat dilakukan pada saat lulus kuliah yaitu bagaimana mengelola elemen keuangan sendiri. Karena hanya dengan kemampuan finansial-lah kita dapat berbagi dan memberikan manfaat kepada orang lain. Selain penjelasan tadi, perlu dipelajari pula mengenai sofiskill. Softskill bukan hanya dibutuhkan pada saat kita mulai melamar pekerjaan, namun terus menerus hingga kapan pun, bahkan dengan posisi jabatan apapun. Sebuah sofiskill harus kita pelajari secara kontinyu dengan tanpa ada ujungnya. Saya ingin membuka pik iran rekan mahasiswa bahwa kebutuhan untuk dunia kerja, selain persiapan teknik iskille yang sudah dipelajari di perguruan tinggi, yang dibutuhkan kedepannya adalah menguatkan softskill yang kita miliki, sayangnya dalam mempelajari softskill harus juga dipraktekkan secara langsung. Kembali lagi seperti yang saya sampaikan di awal, yaitu tetap fokus dengan target tujuan kita kemudian menyiapkan diri dalam menghadapi berbagai rintangan serta menemukan solusinya. Sebetulnya tujuan yang kita lakukan ini hanya untuk membangun kepercayaan dari pimpinan manajemen perusahaan. Karena pada saat bekerja, harus menunjukkan kinerja yang sebaik mungkin dihadapan pimpinan.

Oleh sebab itu, softskill merupakan hal yang sangat penting dan perlu dilatih secara berkesinambungan. Kita harus mampu membangun komunikasi yang baik dengan orang-orang yang berada di lingkungan pekerjaan. Kenyataan dalam hidup ini, setiap orang cenderung senang bergaul dengan orang yang paling dia senangi. Tantangannya yakni dengan cara menjauhi sikap negatif serta mulailah berbaur dengan kebanyakan orang yang berfikir positif. Memang tidak mudah, akan tetapi saya yakin banyak hal yang bisa kita lakukan untuk melakukannya. Jika suatu saat Anda menjadi seorang pimpinan, berperanlah menjadi sesuatu yang berguna serta mampu membuat suasana perfonnance team dengan baik. Teruslah berfikir positif dalam segala hal yang mampu diberikan. Apabila bertemu dengan orang-orang yang bersikap negatif, maka sebisa mungkin kita harus menjaga jarak dengan tetap memberi masukan positif melalui pendekatan persuasif. Pesan saya adalah fokuskan diri dengan tetap memiliki tujuan hidup yang jelas & terukur, selalu ingin belajar mengembangkan potensi diri, serta berfikir positif dalam situasi maupun kondisi apapun. (Written by Silpiani Nur Utami & Editted by Abdul Rozak)