Home Blog Page 40

ARDUINO DAY – 2019 di UTama

Dalam rangka memeriahkan gelaran Internasional Arduino Day 2019, Pusat Studi Informatics Research and Development (IRD) UTama pada Jum’at (15/3) menggelar Workshop Arduino (introduction) dan Pameran karya komunitas-komunitas Arduino (live demo) yang diikud peminat platform Arduino di Bandung dan sekitarnya. Bertempat di Ruang Lab Sertifikasi (R.B.411) Gedung B Lantai 4 yang diselenggarakan pada tanggal 15 dan 16 Maret 2019.

Gelaran kali ini menjadi satu dari total 659 event Arduino Day di 106 negara (day.arduino.cc). Arduino Day Widyatama kali ini diikuti puluhan peserta dari berbagai latar belakang sekolah menengah, Perguruan Tinggi di kota Bandung dan kalangan umum (komunitas pengembang platform Arduino).

Arduino Day merupakan perayaan ulang tahun Arduino di seluruh dunia. Ini adalah acara yang berlangsung 24 jam yang diselenggarakan langsung oleh komunitas, atau oleh para pendiri Arduino yang menyatukan orang untuk berbagi pengalaman dan belajar lebih banyak tentang platform open-source. Tujuan diselenggarakan kegiatan adalah mengenalkan platform teknologi arduino untuk mengembangan berbagai ide kreatif dan menampilkan berbagai karya komunitas yang dikembangkan dengan basis platform Arduino.

Dalam event tersebut diadakan Workshop “Introduction to Arduino Workshop bagi siswa SMP-SMA sederajat yang ingin mengetahui platform Arduino sebagai platform pengembangan loT (lnternet of Things). Tools yang digunakan Arduino IDE dan Thinker CAD (simulator Arduino) dan materi yang disampaikan adalah materi dasar terkait Arduino, diantaranya Pengenalan Arduino UNO, Pengenalan & Penggunaan LED dan RGB, Pengenalan dan Penggunakan Tilt Button, Pengenalan dan Penggunaan Speaker, Pengenalan dan Penggunaan Sensor Ultrasonic, Pengenalan dasar pemograman (Conditional dan Looping).

Sementara itu kegiatan live demo bekerjasama dengan berbagai komunitas Arduino, khususnya di kota Bandung dan sekitarnya. Tujuannya adalah menampilkan berbagai macam karya yang dimiliki oleh komunitas dan saling berbagi pengetahuan antar sesama pengembang. “Semua grup pengguna baik berupa komunitas makerspaces & hackerspaces, fablab, asosiasi, guru, profesional, dan pemula dipersilakan berkontribusi dalam kegiatan yang diada kan di seluruh dunia secara gratis. Arduino Day terbuka untuk siapa saja yang ingin merayakan hal-hal menakjubkan yang telah dilakukan (atau dapat dilakukan !) dengan terbuka -sumber daya platform. Acara menampilkan berbagai jenis kegiatan, yang dirancang untuk pemirsa lokal di seluruh dunia”. Ucap Benny Yustim, S.SI., M.T.selaku kepala IRD sekaligus Ketua Pelaksana.

Benny menambahkan “kegiatan ini diharapkan dapat diikuti berbagai individu yang ingin mengetahui tentang Arduino dan komunitas yang memang memiliki berbagai macam karya yang dikembangkan pada platform Arduino. Diharapkan nantinya berbagai karya tersebut dapat menginspirasi dan mendorong berbagai ide baru dalam pengembangan teknologi dimasa yang akan datang.” (Ed-Humas-19Mar2019)

 

Muhammad : Lelaki Penggenggam Hujan

Judul : Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan
No. ISBN : 978-602-291-050-3
Penulis : Tasaro GK
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun Terbit : Edisi II Cetakan Kesebelas, Agustus 2018
Jumlah Halaman : 640 Halaman
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi (L x P) : 130 x 250 mm
Kategori : Spiritualitas
Bahasa : Indonesia

Sudah lama sekali saya tidak mengunjungi toko buku yang merupakan kebiasan di waktu senggang. Toko langganan saya Gramedia, BBC, juga Togamas. Kebetulan hari itu saya mengantar cucu membeli buku kesenangannya ke Togamas. Sambil membiarkan cucu memilih bukunya, seperti biasa saya menyambangi counter-counter buku yang menjadi minat saya.

Mata saya tertumbuk pada buku cover warna hijau yang tertera judul “Muhammad : Lelaki Penggenggam Hujan”. Sebuah novel yang mengkisahkan sosok Muhammad SAW sebagai nabi terakhir yang sesungguhnya sudah diberitakan dan dijanjikan sebelum kelahiran beliau.

Adalah betul apa yang dikatakan A. Fuadi, penulis Negeri 5 Menara bahwa penulis novel ini – “Tasaro bagai memimpin tur spiritual ke pelosok Persia, Asia dan Arab di abad VII”. Novel menceritakan dua kisah. Kehidupan Nabi Muhammad SAW, dan seorang lelalci Persia bernama Kashva, yang hidup di abad yang sama dengan masa kenabian. Kisah Nabi Muhammad SAW ini berseling dengan kisah Kashva.

Novel diawali, kisah Kashva seorang pria Persia yang tinggal di Kuil Gunung Sistan pada masa pemerintahan Kaisar Khosrou di Persia. Ia menghabiskan hari-harinya dengan mengamati bintang dan menerjemahkannya, sekaligus menulis kisah-kisah indah yang memukau, sehingga ia dijuluki rakyat Persia, sebagai Sang Pemindai Surga.

Selain mengamati bintang dan menulis, Kashva rajin berkorespondensi dengan teman-temannya dari berbagi negara di luar Persia. Teman koresponden khususnya adalah Elyas, seorang penjaga Biara Bashra di Suriah. Mereka membicarakan seseorang yang kehadirannya diramalkan oleh berbagai keyakinan di dunia di abad tersebut. Seseorang yang dikatakan akan menaklukan dunia dan membawa kedamaian bagi seluruh alam.
Hasrat Kashva sudah tak terbendung lagi. Keinginannya untuk memurnikan ajaran Zarduhst, bertemu dengan Elyas, bertemu dengan Muhammad SAW yang demikian besar membawa dia pada petualangan panjang, jauh dan di luar dugaannya. Bahkan maut yang mengintai dari ujung pedang tentara Khosrou tidak juga menyurutkan kerinduannya bertemu Muhammad SAW. Kisah pencarian Kashva dalam novel ini membawa kita menelusur Jazirah Arab, India,Barrus,hingga Tibet.

Kehidupan Kashva setelah itu berubah menjadi pelarian dan pencarian yang tiada henti terhadap sosok yang dijanjikan. Seorang Pangeran Kedamaian yang dijanjikan oleh semua kitabsuci yang dia cari dari setiap ungkapan ayat-ayat Zardusht sampai puncak-puncak salju di perbatasan India, Pegu nungan Tibet, biara di Suriah, Istana Heraklius, dan berakhir di Yatsrib, sang Kota Cahaya.

Kisah Kashva berseling dengan kisah Nabi Muhammad SAW. Membaca kisah Nabi Muhammad SAW, memang selalu membawa keharuan dan kerinduan tersendiri. Dan Tasaro semakin menambah rasa rindu semakin menjadi. Tasaro memanggil Rasulullah bukan dengan namanya, melainkan dengan julukan-julukan yang memang pantas disandang Rasulullah. Seperti, Duhai yang Hatinya Bercahaya, wahai Lelaki yang Jitu Perhitungannya, dan beberapa julukan lainnya.

Tasaro, dengan caranya telah menunjukkan kecintaannya kepada Kekasih Allah, Muhammad SAW. Dan dengan caranya pula, telah mem bawa saya semakin mencintai Rasulullah. Lelaki mulia yang patut diteladani segala tingkah lakunya.

Rasulullah dengan kisahnya yang mengharu biru telah sampai pada bab perang parit yang sungguh mempesona, mujizat-mujizat yang membuat tercengang. Saat sebuah batu besar menghalangi proses penggalian parit sebagai benteng pertahanan Madinah dari serbuan kaum kafir. Batu besar itu menghimpit orang Anshar. Orang-orang sudah mencoba memecahkan batunya, Namun hasilnya nihil. Rasulullah akhirnya turun tangan, memecahkan batu besar yang seketika retak disertai berkas cahaya berpendar ke tiga arah, kastil-kastil Yaman dan Suriah, serta istana-istana Khosrou di Persia.

Kisah tentang Rasulullah SAW adalah kisah tentang cinta, perjuangan, pengorbanan dan semuanya. Terhimpun dalam keihlasan demi menegakkan kalimat Allah SWT. Juga tentang strategi perang dan pedang dalam sebuah perwujudan cinta. Rasulullah datang, menjungkirbalikkan peradaban jahiliah, menggantikan dengan peradaban Islam yang gilang gemilang selama 1300 abad pada dua pertiga belahan dunia. Rasulullah dan kisahnya bagai cahaya yang tidak akan pemah mati, dia akan selalu bersinar seiring kecintaan kita terhadap Rasullullah SAW dan ketaatan kita terhadap Allah swt.

Di bab terakhir novel membahas tentang Runtuhnya Berhala. Penggambaran latar kisah semakin hidup dengan deskripsi yang detil lewat kata-kata yang indah. Dan di bagian akhir buku disajikan gambar peta jalur perjalanan Kashva, dan bab tentang Membaca, Memahami dan Mengoneksi, daftar Pustaka, yang membuat novel ini kaya akan referensi.

Secara keseluruhan novel ini menarik dan enak untuk dibaca, meskipun tebal. Bahkan, saya ingin mengikuti terus kisahnya dan melanjutkan membaca ketiga buku berikutnya dari Serial Muhammad SAW, yakni : Lelaki Pengeja Hujan, Sang Pewaris Hujan, dan Generasi Penggema Hujan. (Lee – dilengkapi berbagai Sumber)

Lulusan PT dalam Pandangan Dunia Industri

Wawancara
Kresno – Bagian SDM PT. Dirgantara IndonesiaLulusan PT dalam Pandangan Dunia Industri

Kualitas SDM menjadi faktor strategis membangun periumbuhan ekonomi bangsa yang dimotori dunia usaha dan industri. SDM bermutu tentunya SDM yang marnpu melaksanakan fungsi dan kinerjanya secara inovatif, kreatif, dan produktif dengan semangat keria dan disiplin tinggi sesuai dengan persyaratan dunia usaha dan industri. Karena itu upaya peningkatan mutu SDM melalui pendidikan sesungguhnya proses peningkatan kualitas manusia, sekaligus mentransformasikan SDM menjadi angkatan kerja produktif menjawab kebutuhan dunia usaha dan industri. Dengan demikian sinergitas antara perguruan tinggi dengan dunia usaha dan industri menjadi keharusan,

Bisa disebut banyak lulusan pendidikan tinggi, namun keterserapan di dunia kerja hanya berapa persen. Laporan MeKinsey menjelaskan Indonesia kekurangan tenaga kerja rnenghadapi Era Industri 4.0 sebanyak 9 juta orang pada tahun 2015 – 2030, yakni tenaga kerja yang kompeten dalam industri digital. Namun ketersediaan tenaga kerja sesuai dengan persyaratan dunia usaha dan industri cenderung terbatas, selain kuantitas, kualitas kompetensinya pun menjadi masalah. lni masalah klasik yang belum tuntas di negeri ini. “Link & match” antara pendidikan tinggi dan dunia usaha dan industri masih sebatas program yang masih miskin implementasi. Beberapa masukan dunia usaha dan industri bisa kita dengarkan melalui wawancara kami dengan salah satu industri dengan persyaratan yang ketat berstandar / sertifikasi internasional.

Saya bertugas di bagian FIRD PT. Dirgantara Indonesia dengan Title job: Training Analyst. Bagian ini merupakan bidang khusus yang rnenangani perekrutan pegawai baru yang merupakan tahap awal dalam proses penempatan untuk ponsi jabatan sesuai dengan keahliannya masing-masing.

Bagi lulusan perguruan tinggi yang berminat melamar ke PT. Dirgantara Indonesia wajib mengikuti berbagal tahap uji kemampuan & keahlian pada lembaga Pusdiklat setempat. Tahapan proses pengujian yang berjenjang ini dikenal dengan istilah Skill Matrix: Berikut ini contoh penerapan materi basic skill matrix pada departemen mesin yang telah saya ikuti, diantaranya: english elementry, blueprint reading, operating machine,SOP dan trigonometrie.

Semua karyawan baru yang direkrut kami, harus rnengikuli diklat dengan penyampaian pokok bahasan pengetahuan umum terlebih dahulu. Setelah rangkaian dalam bahasan pengetahuan umum telah terpenuhi, baru ditempatkan pada berbagai divisi sesuai dengan jurusannya masing-masing. Tahap berikutnya yaitu orientasi job training sebagai dasar pengenalan atas iugas pokok suatu pekerjaan sesuai dengan prosedur (SOP = standard operating procedure). Orientasi ini biasanya dilakukan selama 3 bulan dengan kepadatan materi yang harus dipahami seeara akurat dan tepat. Bila mana terdapat pegawai yang gagal dalarn menyelesaikan tahap ini, maka dikembalikan lagi ke pusdiklat untuk mengulang materi dari awal bagian dasar (basic).

Saran saya kepada pengelola perguruan tinggi antara lain : menyusun kurikulum terkait basic skill matrix yang dibutuhkan dunia kerja.

Sehingga ada kemiripan materi bahan ajar berupa orientasi job training yang disampaikan perusahaan dengan perguruan tinggi sesuai jurusannya masing – masing. Muatan materi yang terdapat pada skill matrix berbasiskan pada job description dan qualification agar para mahasiswa memperoleh bekal teori dan praktek untuk kesiapan bekerja pada berbagai industri.

Sementara untuk para pengajar/dosen perguruan tinggi diharapkan memillki sertifikasi pengajaran terkait dengan kurikulum dan skill matrix yang disampaikan kepada mahasiswa. Untuk itu, akan diberikan training for trainer guna mempersiapkan dirinya secara praktis dalam teknik pengajaran. Ini pun nantinya akan mendapatkan sertifikat pengajaran bagi yang telah lulus mengikutI program tersebut. Semua persyaratan ini bersifat mutlak dan wajib dilaksanakan para pengajar/dosen pada tIngkat perguruan tinggi agar mensinkronkan persepsi antara pihak pendidikan tinggi dengan Industri.

Dalam merawat kompetensi karyawan agar senantiasa tetap unggul dan mampu berkontribusi terhadap perusahaan ? PT. Dirgantora Indonesia memiliki bagian khusus menangani masalah maintenance karyawan. Bagian ini dikenal dengan sebutan refresh training-pararneternya terukur, dimana semua karyawan dan staf pengajar (trainer) yang mengalami fase fatic/ titik jenuh – akan memperoleh penyegaran kembali melalui berbagai macam program. Hal ini dilakukan secara terstruktur & terjadwalkan dengan rinci, agar mengantisipasi dari efek kelelahan / jenuh serta meminimalisir faktor human error.

Jenjang penerimaan mekanisme rekrut karyawan baru pada PT. Dirgantara Indonesia harus melalui beberapa tahapan yang materi program training’nya telah disiapkan oleh bagian Pusdiklat, diantaranya: 1. Tahap pengetahuan umum, 2 Tahap basic, 3. Tahap interrnediate, dan 4.Tahap advance. Hal ini dimaksudkan agar terjadi similaritas/persamaan persepsi llmu pengetahuan yang disampaikan oleh perguruan tinggi dengan dunia industri. Karena itu, lulusan perguruan tinggi pada level Fresh Graduate tidak langsung diterima bekerja di industri PT.Dirgantara Indonesia.

Hal lain yang kami temui dalam perekrutan karyawan baru adalah faktor etika atau sikap. Faktor sikap lebih utama dan mahal sekali nilainya dibandingkan dengan faktor teknis lain, karena menyangkut pada sesuatu yang prinsip dalam citra diri seseorang. Point pertama, yang kami berikan assesment kepada para karyawan baru adalah faktor tingkah laku / budi pekerti, dimana akan terlihat pola interaksi kesopanan antara pimpinan dan bawahan, kedisiplinan dan kejujuran dalam memanfaatkan waktu bekerja. Point kedua, mengenai kekuatan fisik seorang pegawai. Kami pernah mendapati karyawan baru yang lemah secara fisik dalam artian sering sakit-sakitan dan tidak kuat bekerja dengan tekanan.

PT.Dirgantara indonesia dituntut memiliki SDM unggul dengan ciri berintegritas tinggi, kompeten pada bidangnya serta mampu bekerjasama. Karena itu, Pusdiklat PT. Dirgantara Indonesia harus mampu mencetak SDM unggul dari berbagai bidang, dengan senantiasa mengamalkan kunci utama dalam skema Skill Matrix yang telah ditetapkan. Skill matrix ini mampu membentuk pola pemahaman karyawan sesuai dengan bidang keahlian masing-masing secara berjenjang. Tahapan demi tahap yang keseluruhan prosesnya diikuti para karyawan, akan diberikan evaluasi oleh bagian training analysis selaku pemegang kebijakan assesment berupa rekomendasi akhir. Bukti rekomendasi ini akan menempatkan karyawan sesuai dengan posisi jabatannya masing-masing. Apabila terdapat karyawan yang penilaian assesment-nya gagol, maka bagian training analyst akan merekomendasikan untuk mengulang kembali trainingnya (re-Training) dari awal sehingga memperoleh kelulusan.

Agar perguruan tinggi dan PT Dirgantara Indonesia saling menguatkan, maka similaritas kurikulum yang diimplementasikan dunia kerja menjadi suatu hal penting pula digunakan perguruan tinggi.

Akhirnya saran saya, harus terjadi saling bersinergi dan kerjasama cntara dunia industri dengan dunia pendidikan dalam mencetak para generasi baru dalam menghadapi tantangan kerja yang begitu dinamis. Pihak pengelola perguruan tinggi sebaiknya dapat mengadopsi perkembangan kurikulum yang diterapkan dunia industri masa kini, sehingga memiliki kesamaan persepsi secara teoretis dan praktek. Hal ini tentu akan berujung pada hubungan saling menguntungkan dan membutuhkan antara kedua belah pihak. Kesamaan persepsi tambahan kurikulum dalam bahan ajar ini dapat diimplementasikan untuk kategori mata kuliah yang bersifat teknik maupun non teknik, tinggal disesuaikan saja dengan jurusannya masing-masing. Selain menyamakan persepsi kurikulum, para dosen di perguruan tinggi diharapkan dapat mengikuti program Training for frainer guna menambah wawasan khusus mengenai materi skill matrix serta memperoleh serfifikasi untuk legalitas pengakuan kelimuan+kompetensi di bidangnya. Jadi, pengajar/dosen harus memperoleh sertifikasi terlebih dahulu, baru nanti menyusul kemudian untuk para mahasiswanya. (Written & Editted by Abdul Rozak)

Perlukah Pola Pikir dan Sikap Kewirausahaan ?

Sidang Pembaca yang budiman

Sebuah sinyalemen bahwa kewirausahaan dan wirausaha yang berkembang di Indonesia, bertumbuh justru bukan dari lulusan perguruan tinggi, tetapi dari sebab lain. Memang kebenarannya perlu diteliti. Tetapi paling tidak ada tiga sebab, yakni : Wirausaha muncul disebabkan bakat yang dimiliki (born by themselves), dikembagkan melalui pendidikan dan pelatihan (born to developed), serta bias juga karena keterpaksaan akibat tidak ada jalan lain setelah melamar ke berbagai instansi atau dunia usaha/industry tidak kunjung diterima.

Indonesia dengan penduduk 252 juta jiwa memiliki jumlah wirausaha non pertanian mencapai 7,8 juta orang atau 3,1 persen. Rasio wirausaha sebesar 3,1 persen tersebut lebih rendah dibandingkan negara: Malaysia 5 persen, China 10 persen, Singapura 7 persen, Jepang 11 persen, bahkan Amerika Serikat mencapai 12 persen. Bila diidentikkan dengan Malaysia yang memiliki luas wilayah 329.750 km2 atau seperenam, serta penduduk hanya 27 juta atau sepersembilan, jumlah wirausaha mereka mencapai 1,4 juta. Maka Indonesia yang memiliki luas wilayah 1.990.250 km2, serta penduduk 252 juta, seyogyanya memiliki 12,6 juta wirausaha. Padahal sekarang baru mencapai 7,8 juta wirausaha, maka masih dibutuhkan 4,8 juta wirausaha baru.

Ini sebuah tantangan bagi dunia pendidikan, dunia usaha/industri, serta pemerintah agar berupaya mencapai jumlah wirausaha yang memadai. Ekonom Joseph Schumpeter mengatakan ada tiga elemen utama dalam kemajuan suatu bangsa, yakni : wirausaha, inovasi dan creative destruction (kultur yang lama diganti dengan yang baru, yang lebih baik)

Mengapa demikian Habib Amin Nurrokhman dalam https://www.kompasiana.com/www.habibamin.blogspot.com menggambarkan : Pertama, sebuah negara yang banyak memiliki wirausaha tentunya akan mendapatkan penghasilan dari sector pajak (itu pun kalau para wirausahanya sudah mampu dan jujur membayar pajak-red) atas kegiatan ekonomi yang mereka lakukan. Kedua, ekonomi Negara akan mandiri, tidak akan bergantung pada sistem ekonomi kapitalis. Dalam kaitan ini salah satunya pemerintah harus membuka ruang pasar, dan proaktif menyediakan modal dengan bunga kompetitif bagi para wirausaha agar benar-benar produktif. Hasil keuntungan usaha mereka disimpan dibank- bank dalam negeri, sehingga perputaran uang semakin lancar, modal mereka akan bertambah yang diharapkan mampu menembus pangsa pasar global, menaikkan neraca ekspor-impor dan akan menambah devisa negara secara signifikan. Dengan demikian, bertumbuhnya wirausaha memiliki peran yang sangat penting untuk menaikkan harkat martabat kita di kancah pergaulan internasional. Semakin banyak wirausaha akan meningkatkan daya saing negara dan bangsa.

Ditinjau dari segi GNP ( Gross National Product), semakin banyak uang yang dihasilkan wirausaha anak negeri maka uang yang dihasilkan berpeluang semakin besar meningkatkan GNP sehingga akan semakin memperkuat ekonomi nasional secara makro, dan mempercepat roda pembanguna nasional karena ketersediaan anggaran semakin meningkat.

Kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi kita adalah kewirausahaan di sektor UMKM/Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Saat ini, sektor UMKM menyerap tenaga kerja 116 juta dan kontribusi terhadap produk domestik bruto/PDB mencapai 60%.

Sektor ini senantiasa bisa diandalkan saat ekonomi skala besar tertekan ingat ketika krisis ekonomi 1997 – 1998. Melihat hal tersebut kewirausahaan sector UMKM seyogyanya didukung agar bertumbuh. Lebih jauh, kewirausahaan bertujuan meningkatkan ekonomi masyarakat dan secara umum meningkatkan harkat dan martabat pribadi wirausaha, serta bangsa dan negara. Dengan pengetahuan, pola pikir dan sikap kewirausahaan diharapkan akan semakin banyak anak bangsa, khususnya mahasiswa yang terjun ke dunia usaha.

Bagaimana merubah pola pikir dan sikap berwirausaha ??? Tidak lain dan tidak bukan, diantaranya melalui dunia Pendidikan dan peluang Pengalaman serta praktek berwirausaha. Keduanya harus dikondisikan melalui kebijakan pemerintah, kepesertaaan dunia pendidikan dan dunia usaha dan industri. Wallahu alam.

 

Vivat Civitas Academica,Vivat Indonesia dan Nusantara tercinta. Redaksi – Lili Irahali

Mendorong Kewirausahaan Indonesia

Wawancara bersama :

Dr. Agung Sudjatmoko, MM

Pimpinan Harian DEKOPIN Pusat

Mendorong kewirausahaan indonesia

Kewirausahaan memang kota yang mudah di ucapkan namun tidak mudah untuk diwujudkan. Butuh keuletan, kerja keras, konsisten dan tidak mudah putus harapan, disamping semangat inovasi dan kreativitas terus menerus. Mari kita menyimak kewirausahaan/entrepreneur di Indonesia menurut Pimpinan Dewan Koperasi Indonesia/DEKOPIN yang digadang mendorong peran koperasi dan kewirausahaan. Berikut wawancara Komunita dengan Dr. Agung Sudjatmoko, MM – Pimpinan Harian DEKOPIN Pusat terkait dengan ‘Kewirausahaan di Indonesia’.

Komunita : Kewirausahaan merupakan proses dalam mengidentifikasi berbagai peluang dan gagasan yang bersifat kreatif dan inovatif melalui cara yang baik dalam menjalankan suatu bisnis. Bagaimana pandangan bapak dalam memaknai suatu konsep Kewirausahaan dari sisi bakat dan potensi yang dimiliki masing-masing orang ?

Agung Sudjatmoko : Kewirausahaan lebih pada sikap mental seseorang yang memiliki kemampuan dalam membaca peluang lingkungannya. Mereka adalah orang yang berani melawan arus kehidupan, serta mempunyai keyakinan kuat untuk mempertaruhkan kehidupannya dengan usaha yang digelutinya tersebut. Dalam mengembangkan kemampuan wirausahanya, seseorang mempunyai berbagai strategi, karena kemampuan wirausaha merupakan integrasi intelektual, emosional, spiritual disamping kemampuan menemukan peluang bisnis (business opportunity).

Wirausaha adalah orang yang mampu menangkap setiap peluang untuk menjadi uang, mempunyai kemampuan mengumpulkan segala sumber daya untuk bergerak mewujudkan tujuan bisnis yang biasanya sejalan dengan tujuan hidupnya menjadi manusia sukses. Dapat dilihat bahwa bekal menjadi wirausaha terbesar adalah sikap mental yang unggul dan mandiri. Tentu hal ini, sangat terkait erat dengan karakter kepribadian seseorang. Secara kodrati, masing-masing orang diciptakan Tuhan dengan kepribadian sendiri. Tidak ada seorang pun yang memiliki kepribadian sama, karena itu adalah Sunnatullah. Seseorang yang memiliki kepribadian kuat, dia akan menjadi dirinya sendiri karena memiliki kemampuan kemandirian, tanggung jawab, kepercayaan diri yang kuat, optimis, berpikir positif, kreatif, inovatif dan cerdas. Dengan demikian orang tersebut mampu memimpin dirinya sendiri, atau mempunyai kepercayaan diri yang baik sehingga faktor eksternal hanya bersifat komplementer saja.

Orang-orang berkarakter mandiri inilah yang akan sukses menjadi wirausaha serta menjadi manusia berhasil.

Komunita : Jumlah wirausaha (entrepreneur) di Indonesia masih tergolong rendah bila dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand. Berdasarkan survei Bank Dunia tahun 2008, jumlah wirausaha Indonesia hanya 1,5% dari total penduduk. Sementara Malaysia sudah mencapai 4% dan Thailand 4,1%. Bagaimana pendapat bapak mengenai hal tersebut, khususnya dalam mendukung program koperasi Indonesia untuk mengembangkan kualitas dan kuantitas wirausaha di Indonesia ?

Agung Sudjatmoko : Wirausaha muncul disebabkan : bakat yang dimiliki (born by themselves), juga dapat dikembangkan melalui pendidikan dan pelatihan (born to developed), serta bisa muncul juga karena keterpaksaan akibat tidak ada jalan lain setelah melamar pada berbagai instansi atau perusahaan tidak pernah diterima. Berdasarkan teori tersebut, maka pemerintah dan lembaga non pemerintah dapat membuat berbagai program pelatihan pengembangan kewirausahaan.

Sejak aktif di koperasi mahasiswa tahun 1991, saya telah banyak membuat program kewirausahaan mahasiswa baik pelatihan, seminar, diskusi dan bantuan permodalan usaha mahasiswa melalui koperasi mahasiswa. Tidak mudah memang mengajak dan membentuk seseorang menjadi wirausaha, karena banyak faktor yang melingkupinya antara lain : faktor internal seseorang seperti cita-cita, latar belakang keluarga, cara pandang tentang kehidupan serta faktor eksternal, diantaranya : budaya, kondisi sosial, kebijakan & kondisi ekonomi, ketenagakerjaan, lingkungan bisnis serta budaya bisnis yang sulit ditembus para pelaku usaha.

Kompleksitas permasalahan akan meningkatkan kuantitas dan kualitas wirausaha, serta menjadi tantangan bersama sebagai anak bangsa untuk tidak menyerah. Sejak tahun 1994 Presiden Soeharto telah mengeluarkan Inpres Gerakan Nasional Memasyarakatkan dan Membudayakan Kewirausahaan yang melibatkan semua kementerian untuk terus mengembangkannya di kalangan masyarakat dan kelompok strategis, khususnya generasi muda. Program ini berlanjut sampai sekarang dengan format berbeda yang tujuannya sama dan telah diikuti oleh lembaga, instansi, serta lembaga pendidikan termasuk perguruan tinggi guna pengembangan kewirausahaan.

Harapan kita dengan banyaknya keterlibatan lembaga dalam mengembangkan kewirausahaan akan menjadi peningkatan rasio wirausaha di negara kita. Kementerian Koperasi dan UKM menjelaskan bahwa rasio kewirausahaan negara kita tahun 2014 mencapai angka 1,55%, tahun 2015 mencapai 1,65%, dan pada tahun 2017 sudah mencapai 3,1%. Ini menunjukkan perkembangan yang signifikan, karena berdasarkan pada standar UNDP, majunya suatu negara ditentukan oleh rasio wirausaha penduduk minimal 2%, dimana negara kita telah mencapai angka 3,1%.

Komunita : Program kegiatan apa saja yang telah dan akan dilakukan oleh institusi DEKOPIN dalam menunjang keberhasilan mutu para wirausahawan di Indonesia, serta apakah turut berkolaborasi dengan pemerintah maupun beberapa perguruan tinggi ?

Agung sudjatmoko : DEKOPIN memiliki program pendidikan dan pelatihan yang sistematis dan terarah. Pelatihan ini dilakukan oleh lembaga teknis DEKOPIN, yaitu Lapenkop. Pelatihan yang dilakukan untuk anggota, pengurus, pengawas serta pengelola (manajemen) koperasi bertujuan untuk meningkatkan kapasitas insan koperasi agar lebih produktif didalam mengembangkan kemampuan berusaha sebagai anggota koperasi atau pengelola.

Komunita : Bagaimana peran dan solusi yang ditawarkan institusi DEKOPIN dalam membantu para wirausahawan untuk terus berkembang meningkatkan usahanya ?

Agung Sudjatmoko : Hambatan dan tantangan wirausaha di negara kita cukup banyak dan berat, namun sebagai pelaku usaha seorang wirausahawan harus memiliki sikap optimisme tinggi guna mengatasi berbagai permasalahan yang timbul. Keberhasilan wirausaha diukur dari kinerja usahanya serta kemampuan dalam mengatasi berbagai masalah. Semakin banyak masalah usaha yang mampu diselesaikan, maka akan semakin berhasil mereka mengembangkan usahanya. Sementara untuk peran dan solusi yang ditawarkan lembaga DEKOPIN, diantaranya: 1) Pelaku usaha harus memperkuat mental berusaha dan mengembangkan kreatiftas serta inovasinya; 2) Terus berusaha dan meningkatkan kapasitas diri dalam pengelolan usaha; 3) Fokus dalam pengembangan usahanya; 4) Terus melakukan perubahan untuk memodernisasi manajemen serta memanfaatkan informasi teknologi; 5) Memperkuat jaringan bisnis serta selalu berorientasi pada pasar dalam membangun loyalitas konsumen.

Harapan pada pemerintah, untuk segera melakukan koreksi atas perundangan dan kebijakan yang menghambat serta diskriminatif bagi para pelaku usaha, sehingga terdapat unsur kanalisasi lapangan usaha bagi para pelaku usaha besar, menengah, kecil dan mikro. Pemerintah juga harus memberikan akses besar pada pelaku usaha kecil dan mikro yang jumlahnya sangat besar yakni lebih dari 57 juta pelaku usaha, menyerap tenaga kerja sebesar 98% yang tersebar di seluruh penjuru tanah air, serta menjadi katub pengaman ekonomi rakyat. Para pelaku usaha level mikro dan kecil inilah sebenarnya yang tetap memiliki andil dalam menggerakkan perekonomian rakyat.

Komunita : Saran apa saja yang bapak dapat sampaikan kepada pemerintah didalam memberikan stimulus dan program inkubator bisnisnya guna peningkatan kualitas dan kuantitas wirausaha (entrepreneur) di Indonesia ?

Agung Sudjatmoko : Pertama, pemerintah harus mampu memberikan fasilitas program inkubator bisnis melalui in-wall strategy, karena model ini dapat memberikan fasilitas menyeluruh kepada calon wirausaha pemula untuk belajar ketrampilan bisnis, mendirikan perusahaan, memiliki fasilitas kantor dan unit produksi bersama, mendapatkan mentoring secara rutin, serta fasilitas lainya secara penuh, hingga mereka menjadi wirausaha yang mampu untuk mandiri. Kedua, mereka dapat mengikuti program inkubator bisnis melalui out-wall strategy. Artinya fasilitas usahanya sudah di luar pusat inkubasi bisnis, namun mentoring dan pembinaannya terus dilakukan. Program inkubator bisnis ini harus terus dikembangkan pada pusat pertumbuhan demografi serta potensi usaha, sehingga dapat mendorong terbentuknya wirausaha baru dan optimalisasi potensi perekonomian daerah. Ketiga, pemerintah menciptakan iklim berusaha yang kondusif baik dalam bentuk regulasi, akses permodalan, akses teknologi, akses pasar, serta penegakkan hukum dalam setiap permasalahan usaha, sehingga akan tercipta kepastian dan keadilan pada lingkup dunia usaha. (Written & Editted by Abdul Rozak)

Prodi Bahasa Jepang Widyatama Terima Kunjungan PT. Wata Sunrise

Program Studi Bahasa Jepang S1 Universitas Widyatama menerima kunjungan dari PT. Wata Sunrise. Perusahaan yang berdiri sejak tahun 2013 ini merupakan anak perusahaan dari WATANABE SHOJI CORPORATION yang berlokasi di Kyoto Jepang dan bergerak di bidang Industri penjualan bahan alumunium serta proses pembentukan suku cadang bahan Alumunium. Kunjungan PT Wata Sunrise disambut oleh Ketua Program Studi Bahasa Jepang S1 Dinda Gayatri Ranadireksa, M.A., Ph.D dan Ketua Program Studi Bahasa Jepang D3 Aan Amalia Dra, M.Pd di Gedung B Lantai 2 Universitas Widyatama.

Hadir mewakili PT. Wata Sunrise Mr.Watanabe Akira (CEO), Mr. Nakamura Motoki (Product Director) dan Mr. Shindou Shugo (Marke_ng Director). Pada Agustus mendatang, PT. Wata Sunrise akan kembali mengunjungi Universitas Widyatama beserta 11 mahasiswa dari Jepang dalam Program Internship ke Indonesia. (Ed) Humas Widyatama

Mengingatkan Kembali Kewirausahaan Kita !!!

Mau usaha? Tidak perlu takut dan banyak pertimbangan. Begitulah? Presiden Joko Widodo saat berbagi cerita pengalamannya berwirausaha dalam acara Penghargaan Wirausaha mandiri, Gerakan Kewirausahaan Nasional 2015 di Jakarta Convention Center. Menjadi wirausaha harus berani berpikir out of the box dan berani keluar dari zona nyaman. jelas Jokowi saat itu.

Mengapa kewirausahaan ? Potensi kekayaan alam nusantara (Indonesia) sejak dahulu mengundang kedatangan bangsa-bangsa lain. Kedatangan bangsa-bangsa lain yang ekploratif tersebut akhirnya menguasai nusantara (Indonesia). 385 tahun nusantara tenggelam dalam periode penjajahan yang akhirnya membangkitkan semangat kebangsaan, persatuan dan lahirlah bangsa Indonesia. Kini, 73 tahun Indonesia sebagai bangsa telah memerdekakan diri dari penjajahan fisik Portugis, Inggris, Belanda maupun Jepang. Dalam usia tersebut Indonesia telah melewati dua generasi, dan memasuki generasi ketiga dalam mengisi kemerdekaan. Tetapi cita-cita menghantarkan bangsa ini bagi kesejahteraan seluruh warga bangsanya masih jauh.

Padahal tidak ada negara sekaya dan selengkap sumber daya alam Indonesia. Kekayaan sumber daya alam berupa bahan tambang, mega biodiversity (peringkat 17 dari 139 negara), forest diversity – sebagai hutan tropis terbesar setelah Brazil. Negeri kepulauan yang terbentang di sepanjang garis khatulistiwa, dengan luas daratan 1,9 juta km2, beserta kekayaan alamnya, dan 3,1 juta km2 luas perairan beserta kekayaan lautnya. Secara budaya memiliki lebih dari 300 ragam suku dan 742 bahasa dan dialek, memiliki 8 World Heritage Cultural Sites.

Sebagai negara kepulauan terbesar dan terluas, Indonesia juga memiliki populasi penduduk terbesar ke empat di dunia, yang merupakan potensi sekaligus pasar. Terlebih Indonesia pada tahun 2030 memiliki anugerah demografis – dimana penduduk usia muda berjumlah relatif besar – yang berpotensi sebagai generasi-generasi pembelajar, generasi pembangun yang kreatif, inovatif dan berdaya tahan. Namun, hingga saat ini Indonesia baru memiliki 57 juta tenaga kerja terampil. Padahal untuk menjadi negara berekonomi kuat tahun 2030, Indonesia membutuhkan 3,8 juta tenaga ahli per tahun (Bisnis Indonesia, 9 November 2018).Mengingatkan Kembali Kewirausahaan Kita

Data statistik terakhir mengatakan bahwa pertumbuhan perekonomian kita meningkat, sebaran kemiskinan dan pengangguran terbuka semakin menurun. Tetapi capaian tersebut dibandingkan dengan populasi penduduk yang 252 juta justru belum menunjukkan sebaran cukup yang dirasakan kebanyakan warga bangsa. Pengangguran kini tersebar di pedesaan, karen apotensi desan tidak terkembangkan. Sejauhmana potensi penduduk dan kekayaan tersebut dikelola dengan baik oleh warga bangsa, negara dan pemerintah bagi kepentingan bersama.

Indonesia salah satu sumber utama dunia dalam hasil bumi dan laut. Komoditas pertanian, perkebunan, laut, dan pantai Indonesia, bahkan? sekarang Indonesia dianggap sebagai potensi pasar sudah jadi pembicaraan para pebisnis dunia. Hampir semua produk negara-negara industri masuk Indonesia.

Ironi yang berlangsung sejak zaman penjajahan, bahwa Indonesia dikenal penghasil kopi terbaik di dunia. Kopi yang dihasilkan Jawa Barat, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Toraja diakui kualitasnya. Tetapi Amerika Serikat melalui Starbucks merupakan perusahaan di bidang kopi terbesar di dunia yang memiliki cabang di berbagai negara termasuk Indonesia.

Ironi lain, industri kedirgantaraan dan kelautan sulit berkembang di negeri kepulauan ini, padahal industri tersebut dibutuhkan untuk memperkuat sarana transportasi dan logistik bagi pertumbuhan perekonomian. Industri kedirgantaraan yang dibangun serta dipelopori anak-anak bangsa bahkan sempat membawa nama bangsa di seluruh dunia di era tahun sembilan puluhan, terkerdilkan sejalan dengan krisis ekonomi tahun 1997. Padahal sebagai negara kepulauan percepatan perekonomian perlu didukung sistim transportasi dan logistik nasional melalui moda transportasi yang tepat.

Jepang, China, Korea Selatan, dan India semakin mengibarkan produk-produk negerinya di pasar global termasuk pasar Indonesia, yang sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi negara mereka. Bisnis korporasi multinasional terus menggurita di tanah air mengeksplorasi potensi domestik, sementara pengusaha, wirausaha, dan korporasi nasional belum juga memiliki satu pun produk industri bermerek global yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat global. Itulah, fakta bahwa potensi sumber daya alam, maupun sumber daya manusia belum sepenuhnya dikembangkan dengan baik.

Kemajuan ekonomi akan dapat dicapai jika ada spirit kewirausahaan yang kuat dari warga bangsa yang didukung penuh oleh pemerintah. Karena itu wirausaha merupakan pilihan keharusan ke depan. Dengan berwirausaha tidak saja memungkinkan melakukan sesuatu sesuai keinginan melalui upaya membuka diri, meningkatkan semangat juang dan motivasi, mengoptimalkan seluruh potensi, minat dan kemampuan yang ada pada diri sendiri; juga membuka peluang bagi kesejahteraan banyak orang.

Negara lain memiliki wirausaha yang relatif banyak ketimbang Indonesia. BPS menyebutkan dengan penduduk 252 juta orang, Indonesia memiliki jumlah wirausaha non pertanian mencapai 7,8 juta orang atau 3,1 persen. Rasio wirausaha sebesar 3,1 persen itu masih lebih rendah dibandingkan dengan negara: Malaysia 5 persen, China 10 persen, Singapura 7 persen, Jepang 11 persen maupun AS yang 12 persen dengan jumlah penduduknya jelas lebih sedikit. Memang, rasio wirausaha Indonesia ada kenaikan dibanding sebelumnya, namun kita sangat membutuhkan peningkatan jumlah wirausaha.

Kebijakan

Menumbuhkan kewirausahaan, dan wirausaha tak lepas dari peran masyarakat bersama pemerintah yang terus mendorong, juga swasta dan kalangan kampus, khususnya mahasiswa dan alumni. Koordinasi kebijakan pemerintah dalam Pengembangan Kewirausahaan dilandasi pada Instruksi Presiden 3/2006, 6/2007 dan 5/2008. Bahwa koordinasi kebijakan pengembangan kewirausahaan dilandasi antara lain : a) kebijakan perekonomian dan kewirausahaan yang mengacu pada RPJP 2005 – 2025 yang dijabarkan dalam RPJM 1 (2005 – 2009) sampai dengan RPJM 4 (2020 – 2024); b) Koordinasi Program Kewirausahaan; serta c) Pengembangan Kewirausahaan.

RPJM 2 (2010 – 2014) menetapkan titik berat pembangunan pada : meningkatkan kualitas sumber daya manusia, membangun kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memperkuat daya saing perekonomian yang merupakan landasan bagi upaya pengembangan kewirausahaan. Sedangkan RPJM 3 (2015 – 2019) menekankan pembangunan keunggulan kompetitif perekonomian berbasis sumber daya alam/SDA yang tersedia, sumber daya manusia/SDM yang berkualitas, serta kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan RPJM 4 (2020 – 2024) menekankan pada upaya pembangunan struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif.

Koordinasi Program Kewirausahaan dilandasi Instruksi Presiden nomor 3/2006, nomor 6/2007, serta nomor 5/2008; Upaya pemberian Penghargaan, Standarisasi, Label dan Branding; Inkubator Bisnis; Pengembangan produk unggulan daerah; One Village One Product (OVOP); Industri Kreatif dan Pengembangan Model Model Kewirausahaan. Model Model Kewirausahaan mencakup : model Diklat Terapan, model Merit System, model Kemitraan, model Pengembangan Potensi yang masingmasing didukung : penguatan peran PI-UMKM, program pembiayaan, promosi quick wins, serta program kerjasama internasional.

Program dan Aktivitas

Program kewirausahaan yang akhir-akhir ini banyak diselenggarakan berbagai lembaga atau institusi berguna mendukung pengembangan usaha dan industri sejalan dengan program pemerintah di atas, yakni Kementerian Koperasi dan UMKM, Kementerian BUMN, dan lain-lain.

Kementerian Koperasi dan UMKM (Kemenkop UKM) menurut Deputi Bidang Pembiayaan, Kementerian Koperasi dan UMKM (Kemenkop UKM), Yuana Sutyowati 5 Februari lalu memiliki program prioritas pembiayaan tahun anggaran 2018-2019 adalah permodalan usaha bagi wirausaha pemula (startup capital). Target tahun ini, pendanaan diberikan pada 1.831 pengusaha pemula dengan nilai Rp 26,1 miliar. Tahun 2019 ditargetkan meningkat menjadi 16.292 wirausaha pemula, dengan nilai Rp 325,84 miliar.

Program prioritas lain adalah peningkatan akses permodalan 15.000 usaha mikro melalui KUR dengan target anggaran sebesar Rp 8,005 miliar dan program bantuan sertifikasi Hak Atas Tanah Bagi usaha mikro yang diusulkan Rp 5,36 miliar dengan melibatkan sebanyak 10.000 UMK. Melalui kerja sama Program Pembiayaan Usaha Mikro (UMi) dengan Pusat Investasi Pemerintah yang memberikan fasilitas pembiayaan mudah dan murah bagi usaha mikro dapat menambah jumlah wirausahawan baru. Di samping itu, koperasi dapat berperan aktif sebagai penyalur program UMi dengan memenuhi beberapa kriteria, yakni sehat, mendapat persetujuan dalam Rapat Anggota, telah melaksanakan RAT 3 tahun berturut-turut, SDM pengelola tersertifikasi, memiliki Ijin Usaha Simpan Pinjam, laporan keuangan yang teraudit 3 tahun terakhir, memiliki NPWP dan rekening bank atas nama koperasi.(Kontan.co.id)

Semisal, IPB pada tahun 2017 lalu, menghasilkan sekitar 5 % lulusannya menjadi wirausaha. Bahkan IPB sudah memiliki Direktorat Pengembangan Karir dan Wirausaha sebagai sarana belajar wirausaha mahasiswa. HIPMI/Himpunan Pengusaha Muda Indonesia menebarkan nilai-nilai kewirausahaan, baik kepada siswa/i sekolah, mahasiswa, bahkan santri di pondok pesantren. Program yang diluncurkan HIPMI goes to school, HIPMI goes to campus dan ada lagi HIPMI goes to pesantren.

Juga think Indonesia mengajak para mahasiswa sebagai pengusaha muda Indonesia. Tahun 2018, think Indonesia mengajak Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya membahas pentingnya keberadaan program pendampingan kewirausahaan terhadap keberhasilan pertumbuhan wirausaha muda Indonesia melalui Focus Group Discussion (FGD). Upaya-upaya ini diyakini bisa menghantar lulusan perguruan tinggi memiliki keinginan menjadi wirausaha. Sejak tahun 2000, banyak bermunculan wirausaha muda dari berbagai sektor usaha. Think Indonesia menargetkan tidak terlalu besar, paling tidak setiap universitas membentuk 10 pengusaha dengan omset Rp 300 juta per bulan. Tahap awal yang diupayakan mereka menguatkan mindset dan daya juang mahasiswa.

Kementerian BUMN memiliki beberapa program untuk mendorong pengembangan ekonomi masyarakat, seperti Rumah Kreatif BUMN dan Balai Ekonomi Desa. Menteri BUMN, Rini Sumarno mengungkapkan, kehadiran para pebisnis muda akan semakin memperkuat kewirausahaan nasional. Bank Mandiri berpartisipasi dalam melahirkan pengusaha muda yang potensial melalui ajang Wirausaha Muda Mandiri/WMW. Penciptaan pengusaha baru itu dilakukan melalui sinergi yang kuat dengan lebih dari 300 Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia. Melalui program ini, diharapkan melahirkan lebih banyak wirausahawan-wirausahawan baru yang nantinya dapat menopang dan mendorong ekonomi Indonesia menuju ke arah yang jauh lebih baik. WMM menjadi salah satu upaya Kementerian BUMN untuk selalu hadir di tengah masyarakat dan membangun negeri,” tegas Rini.

Pada 2018, Bank Mandiri kembali melahirkan 28 pelaku usaha muda potensial, tangguh, dan profesional melalui kegiatan Kompetisi Wirausaha Muda Mandiri/WMM 2018. Salah satunya, pebisnis termuda berusia 18 tahun, yakni Christopher Farrel Millenio Kusuma. Anak muda kelahiran Yogyakarta ini berhasil menjadi juara pertama di bidang usaha teknologi digital dengan nama usahanya ‘Kecilin’ dalam website kecilin.id. dengan nama perusahaannya PT. Millenio Amerta Data.

Selain menjaring 28 pemenang, WMM 2018 juga menghimpun lebih dari 800 calon pebisnis yang tercatat mengikuti proses penyisihan lewat 34 perguruan tinggi di Indonesia, dan 10 komunitas maupun inkubasi bisnis. Peserta kompetisi dibagi ke dalam kategori non-mahasiswa dan mahasiswa. Kategori yang dilombakan antara lain :

Wirausaha industri, perdagangan dan jasa boga, kreatif, sosial dan teknologi. Penghargaan pemenang telah diserahkan langsung di Gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Sabtu (15/9/2018).

Direktur Utama Bank Mandiri, Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, pelaksanaan program WMM diharapkan mampu memberikan inspirasi generasi muda untuk menjadi generasi yang dapat menciptakan lapangan kerja yang peduli dan mau berkontribusi dalam pembangunan. WMM sejak pertama kali digelar pada 2007, telah menumbuhkan lebih dari 36.000 wirausaha muda dari 656 perguruan tinggi di seluruh Indonesia yang tercatat menjadi bagian dari komunitas ini, baik sebagai juara, finalis, maupun peserta. (CNN Indonesia,20/09/2018).

Mengapa Kewirausahaan

Realitas menunjukkan banyak negara mengandalkan kewirausahaan untuk dapat memacu perekonomiannya berkembang maju. Pertemuan APEC tahun 2004 di Santiago – Chile, para anggota APEC sepakat akan pentingnya pengembangan kewirausahaan yang tertuang dalam Santiago Agenda on Entrepreneurship. Ada empat butir yang dijadikan agenda dalam pengembangan kewirausahaan, yaitu : (a) kebijakan promosi kewirausahaan di APEC, (b) tujuan dari aktivitas promosi kewirausahaan APEC, (c) kriteria untuk intervensi, dan (d) strategi dan lingkup intervensi.Pengembangan kewirausahaan di kawasan APEC dipandang sangat penting karena basis bisnis dan kemampuan wirausaha suatu ekonomi merupakan faktor-faktor produksi yang pertama. Jumlah dan kualitas orang dengan kemampuan wirausaha merupakan kunci untuk memaksimalkan efisiensi penggunaan faktor-faktor pengembangan daya saing ekonomi (I Wayan Dipta, 2004).

Indonesia semakin berpacu dengan bangsa lain yang sudah lebih dulu maju. Apalagi korporasi baru dunia yang terus bermunculan dan dikendalikan generasi muda dengan visi bisnis yang kuat, jiwa kewirausahaan yang tangguh. Pemimpin bisnis berusia muda terus bermunculan membawa perekonomian mengalami percepatan lebih pesat. Melalui kekuatan modal, teknologi, dan sumber daya manusia yang dimilikinya korporasi multinasional terus menggunakan segala kekuatan untuk melakukan ekspansi dan pengisapan kekayaan di negara-negara tertinggal atau berkembang tempat mereka beroperasi.

Kekuatan bangsa Indonesia mestinya terletak pada sumber daya manusia yang tercerahkan. Sekitar 252 juta penduduk sesungguhnya aset utama untuk maju. Jangan berpikir potensi ini menjadi beban. Indonesia harus menumbuhkan jiwa kewirausahaan generasi muda, karena negara tidak akan maju tanpa kehadiran dan kontribusi kalangan wirausaha. Wirausaha merupakan kunci bagi Indonesia dalam memajukan perekonomian dan kesejahteraan. Wirausaha adalah salah satu motor penggerak perekonomian. Karena wirausaha memiliki sifat ingin meningkatkan nilai tambah bagi setiap apapun yang dia sentuh, dia lihat; serta sekaligus wirausaha tidak ingin menjadi beban.

Mengingatkan Kembali Kewirausahaan Kita (2) Mengingatkan Kembali Kewirausahaan Kita (3) Mengingatkan Kembali Kewirausahaan Kita (4)

Wirausaha menjadi penting karena tidak ada satu bangsa di dunia yang mampu menjadi negara besar tanpa ditopang oleh pemuda dan masyarakat yang berwirausaha. Indonesia membuktikan pada krisis 2008 lalu, berhasil selamat dari krisis akibat banyaknya usaha mikro kecil dan menengah/UMKM (wirausaha) yang masih bertahan.

Upaya penciptaan wirausaha diperlukan bukan sekedar bagi pertumbuhan ekonomi, lebih dari itu untuk menyelesaikan masalah kemiskinan sekaligus pengangguran. Melalui wirausaha, sekaligus bekerja dan mengatasi kemiskinan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, wirausaha di Indonesia saat ini masih didominasi oleh pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) seperti petani, nelayan, pedagangan asongan, dan industri rumahan. Pelaku usaha ini sebagian besar tidak terdaftar dan tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak. Karena itu, penciptaan wirausaha harus diprioritaskan pada wirausaha profesional yang patuh terhadap kewajiban membayar pajak.

Kebijakan Pemerintah mendorong pengembangan kewirausahaan, salah satunya Indonesia dihadapkan pada realitas sosial ekonomi yang relative berat. Selain itu, jumlah dan kualitas sumber daya manusia dengan kemampuan wirausaha merupakan kunci untuk memaksimalkan efisiensi penggunaan faktor-faktor pengembangan daya saing ekonomi. Sumber daya alam yang kaya membutuhkan sumber daya manusia yang tercerahkan.

Apa Kewirausahaan ?

Era global sekarang ini merupakan era kewirausahaan. Para wirausahawan mengendalikan revolusi yang mentransformasi dan memperbaharui perekonomian dunia. Ekonomi baru telah ditandai budaya kewirausahaan yang diaplikasi ke dalam aktivitas primer maupun pendukung. Siapa yang tidak kenal wirausahawan global yang mengubah dunia seperti : Steve Jobs yang mengembangkan Apple, Howard Schultz dengan Starbuks, Jeff Bezos dengan Amazon, Herb Kelleher dengan Southwest Airlines, Reid Hoffman dengan Linkedin, Bill Gates dengan Microsoft, Sir Richard Branson dengan Virgin Group, Oprah Winfrey dengan Harpo Inc., Ted Turner dengan Turner Broadcasting, Fred Smith dengan Federal Express Corp., Muhammad Yunus dengan Grameen Bank, Ratan Tata dengan Tata Group, Larry Page and Sergey Brin dengan Google, Mark Zuckerberg dengan Facebook.

Kini Indonesia muncul wirausaha muda, diantaranya Anwar Makarim dengan Go-Jek yang beroperasi pada tahun 2011, Tokopedia yang dicetuskan oleh William Tanuwijaya di tahun 2009 merupakan salah satu e-Commerce terbesar di Indonesia, Bukalapak, dll. Indonesia semakin berpacu dengan bangsa lain yang sudah lebih dulu maju. Korporasi baru dunia yang terus bermunculan dikendalikan generasi muda dengan visi bisnis yang kuat, jiwa kewirausahaan yang tangguh. Pemimpin bisnis berusia muda terus bermunculan membawa perekonomian melaju lebih pesat. Dengan kekuatan modal, teknologi, dan sumber daya manusia yang dimilikinya korporasi multinasional akan terus menggunakan segala kekuatan untuk melakukan ekspansi dan pengisapan kekayaan di negara-negara tertinggal atau berkembang tempat mereka beroperasi.

Kebangkitan wirausaha muda Indonesia semakin dituntut, tidak lain kecuali membangun semangat kewirausahaan di kalangan warga bangsa Indonesia seagresif mungkin sehingga lahir semakin banyak pelaku usaha, dan bertumbuhnya korporasi-korporasi nasional baru yang sehat dan tangguh. Lembaga pendidikan semestinya berperan lebih banyak lagi untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan dan membentuk orang-orang yang tahan banting dengan segala kesukaran yang dihadapi untuk membangun kemandirian.

Indonesia telah menjadi pasar yang besar bagi produk bangsa dan korporasi asing. Kekayaan berupa potensi sumber daya alam lebih banyak dinikmati bangsa lain, sementara bangsa Indonesia cukup puas mengonsumsi karya bangsa lain. Dan semua itu semakin nyata di tengah arus kapitalisme global yang mengutamakan keunggulan modal, teknologi, dan inovasi manusianya, yang kini menjadi kelemahan bangsa ini.

Jadi, apa sesungguhnya kewirausahaan ? Dr. H. Yoyon Bahtiar Irianto, M.Pd. dalam konsep kewirausahaan menguraikan sebagai berikut. Kewirausahaan/Entrepreneurship merupakan esensi dari usaha bebas simetrik dan a-simetrik, karena penciptaan dan kelahiran bisnis baru dalam industri yang telah ada dan industri baru yang memberi vitalitas bagi ekonomi pasar.

Dikatakannya, secara harfiah penggalan kata usaha dalam istilah kewirausahaan lebih berkonotasi effort atau upaya, bukan sekedar konotasi bisnis belaka. Karena itu, jiwa dan semangat kewirausahaan tidak hanya harus dimiliki oleh para pengusaha (business-man), melainkan sangat perlu dimiliki oleh profesi dan peran apa saja dalam berbagai fungsi yang berbeda. Apakah profesi guru/dosen, murid/mahasiswa, dokter, tentara, polisi, dan sebagainya. Karena itu kewirausahaan bukanlah mitos, atau bakat dari lahir atau milik etnis/suku tertentu, melainkan sesuatu yang realistic yang dapat dipelajari melalui proses pembelajaran, pelatihan, simulasi, dan magang secara intent.

Seorang wirausahawan (entrepreneur) adalah seseorang yang memiliki visi dan intuisi yang realistik sekaligus seorang implementator yang handal dalam penguasaan detail-detail yang diperlukan untuk mewujudkan visi pribadi maupun organisasinya. Jiwa entrepreneur tidak identik dengan bisnis komersial. Namun, mengapa seorang entrepreneur dapat lebih tangguh dari yang lain? Kuncinya adalah pada etos kerja, yaitu keyakinan yang kuat dan mendalam mengenai nilai penting dari bekerja yang ditekuninya. Seseorang dengan keyakinan bahwa usahanya bermakna penuh bagi hidupnya akan berjuang lebih keras untuk berhasil.

Seorang entrepreneur akan mengarahkan usahanya untuk mencapai potensi keuntungan dan dengan demikian mereka mengetahui apa yang mungkin atau tidak mungkin mereka lakukan. Artinya seorang entrepreneur itu harus selalu mengetahui pengetahuan (atau informasi) baru – dimana orang banyak belum mengetahuinya. Kemudian pengetahuan atau informasi baru tersebut dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan. Bukankah dengan inovasi juga kita bisa mendapatkan pengetahuan, informasi, bahkan teknologi baru?

Seorang wirausahawan selalu diharuskan menghadapi resiko atau peluang yang muncul, serta sering dikaitkan dengan tindakan yang kreatif dan inovatif. Selain itu, seorang wirausahawan menjalankan peranan manajerial dalam kegiatannya, bukan manajemen rutin pada operasi yang sedang berjalan. Seorang individu mungkin menunjukkan fungsi kewirausahaan ketika membentuk sebuah organisasi, tetapi selanjutnya menjalankan? fungsi? manajerial? tanpa? menjalankan? fungsi kewirausahaannya. Jadi kewirausahaan bisa bersifat kondisional.

Wirausahawan adalah seorang katalisator. Mereka adalah orangorang yang melakukan tindakan sehingga suatu gagasan bisa terwujud menjadi suatu kenyataan. Mereka menggunakan kreativitasnya untuk senantiasa melakukan pengembangan berkesinambungan. Wirausahawan adalah seorang yang mengorganisasikan dan mengarahkan usaha dan pengembangan baru, memperluas dan memberdayakan suatu organisasi, untuk memproduksi produk baru atau menawarkan jasa baru kepada pelanggan baru dalam suatu pasar yang baru (Rye, 1996:3-4)

Karakteristik yang dimiliki seorang wirausaha memenuhi syarat-syarat keunggulan bersaing bagi suatu perusahaan/organisasi, seperti : inovatif, kreatif, adaptif, dinamik, kemampuan berintegrasi, kemampuan mengambil risiko atas keputusan yang dibuat, integritas, daya-juang, dan kode etik niscaya mewujudkan efektivitas perusahaan/organisasi.

Dengan demikian, seorang wirausahawan mengetahui berbagai fungsi yang terkait dalam mengelola suatu perusahaan/organisasi, seperti fungsi manajemen, keuangan, pemasaran, produksi, operasi, sumberdaya manusia, organisasi dan kelembagaan. Wirausahawan adalah seorang yang berorientasi prestasi dan meyakini bahwa mereka menguasai kemampuan sendiri. (lili irahali, dari berbagai sumber)

PKM Penerapan Digital Marketing Dan Personal Finance UKM Jus Honje Desa Mangunjaya Pangandaran

Hibah internal yang diberikan oleh Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Pada Masyarakat (LP2M) Universitas Widyatama kepada TimDosen Fakultas Bisnis Manajemen Keni Kaniawati SE.Msi sebagai Ketua KM dan Andhi Sukma S.Si.SE.MM. sebagai Anggota. Kegiatan PKM yang dilaksanakan pada tanggal 27 Juni – 29 Juni 2018 Tim Hibah Internal bekerjasama dengan P2M Utama, dan Dekopin yang diwakili oleh Ketua Harian Dr. Agung Sudjatmoko yang mempunyai kepakaran pada bidang UMKM dan Koperasi, Biro Marketing Utama dan Biro Fasilitas Utama melaksanakan PKM kepada UKM jus honje di Desa/Kecamatan Mangunjaya Kabupaten Pangandaran.

Kegiatan PKM yang dihadiri oleh bapak Karli sebagai kasi . Pemerdayaan dan Perlindungan KoperasiKabupaten Pangandaran, perangkat kelurahan dan kecamatan besertajajaranya serta 53 anggota Koperasi Serba Usaha (KSU) Kuntum Mekar,berjalan dengan baik dan menghasilkan pengembangan wawasan pelku usaha untuk lebih mengembangkan usahanya. Secara umum UKM mempunyai termasuk permasalahan yang dihadapi pelaku usaha jus honje dalam mengembangkan usahanya di Desa/kecamatan Mangunjaya adalah pemahaman mengenai memasarkan produknya. Apalagi saat sekarang pemasaran dengan menggunakan digital marketing masih sangat kurang.

Kondisi sekarang pemasaran jus honje masih dilakukan secara tradisional, terbatas dan masih meggunakan metode pemasaran WOM(word of mouth) serta pemasaran langsung melalui pameran, atau konsinyasi pada rumah makan, serta pemasaran sederhana lainnya yang Membutuhkan transportasi mobil sehingga sulit untuk mendistribusikannya. Selama ini produk ini hanya disdistribusikan oleh Koperasi Serba Usaha (KSU) Kuntum Mekar. Dampak dari system pemasaran ini jangkauan pasar jus honje masih sangat terbatas.Disamping itu masih ada masalah pemahaman personal finance masih kurang, sehingga belum mampu mengembangkan usaha dengan modal terbatas yang dimiliki. Inilah tantangan pengembangan usaha jus honje yang dilakukan anggota KSU Kutum Mekar dan berbagai kelemahan pengembangan usahanya.

Berdasarkan permasalahan diataslah maka Tim Hibah Internal Dosen FBM Utama Keni Kaniawati? dan Andhi Sukma, tertarik melakukan penelitian yang dilaksanakan dalam bentuk pengabdian pada masyarakat di Desa Mangunjaya Kabupaten Pangandaran. memberikan solusi pemasalahan yang dihadapi mitra PKM.Pelaksanaan PKM pada pelaku usaha jus honje yang dipimpin oleh Ibu Hj.Ooh Darhayati selaku Mitra PKM dilakukan melalui pendekatan secara terpadu yaitu melalui pelatihan digital marke_ng dan personal finance,sharing experience yang disampaikan oleh pakar umkm dan koperasi mengenai perkembangan UMKM dan Koperasi Dr. AgungSudjatmoko.MM. Digital marketing dapat dilakukan oleh pelaku UKM,memanfaatkan teknologi informasi secara sederhana berbekal Gadget Android yang sudah ada dapat dilakukan. Kegiatan PKM ini memberikan penjelasan digital marketing dan manfaatnya dalam dunia usaha khususnya usaha mikro. Pemasaran melalui media social merupakan contoh sederhana digital marketing dapat dilakukan oleh pelaku UKM.

Outcome yang diharapkan pelaku usaha khsusunya jus honjepaham dan terampil menggunakan digital marketing sebagai media pemasaran jus honje. Kunjungan TIM Hibah yang kedua ini jus honjesudah perluasan jaringan pemasaran dan kemasan, sebab pemesanan jus honje sudah memakai kemasan dus tersendiri yang menjadi ciri khas Jus Honjeku. Kegiatan PKM ini juga dilakuan pelatihan sederhana yang memberikan wawasan pengelolaaan keuangan secra mikro dengan menekankan pentingnya pencatatan dan pengelolaan keuangan dalam usahanya. Menurut Dr. Agung Sudjatmoko. MM.

Pakar UMKM dan Koperasi, mengembangkan produk usaha bagi UKM pekerjaan yang lebih mudah, dibandingkan memasarkan. Pemasaran bagi UKM ditengah dinamika bisnis saat ini dapat menggunakan banyak media. Namun begitu, UKM tidak mempunyai banyak pengetahuan tentang pemasaran melalui berbagai media tersebut. Untuk itulah pembinaan pengembangan strategi pemasaranpada UKM sangat dibutuhkan.Ditambahkan juga, bahwa, tipologi usaha kecil a).modal terbatas, b) produk konten lokal dan hand made, bahkan mudah ditiru oleh orang lain, c) luas lingkup pemasaran terbatas, d) teknologi produksinya sangat sederhana dan e) tidak memiliki rencana usaha yang baik. Berbagai kelemahan UKM ini masih ditambah kapasitas pelaku UKM yang juga terbatas, untuk itu pembinaan UKM akan memperoleh keberhsilan jika ada kelembagaan yang baik untuk wadah pengembangan usaha dan pembinaan peningkatan kapasitas serta pengembangan usahanya. Dalam Pengabdian Masyarakat ini, Tim Hibah Internal Dosen FBM Utama menyerahkan bantuan berupa sebuah freezer untuk membantu mengembangkan usahanya dalam hal proses produksi jus honje.

Pada kesempatan yang akan datang, program berikutnya sudah ada kerjasama untuk mngembangkan usaha jus honje ini ke produk yang lebih kreatif dan inovatif, pembimbingan dan monitoring penerapan digital marketing dan pelaksanaan personal finance . (Ed) humas widyatama.

Pengembangan Kreativitas dan Entrepreneurship dalam Pendidikan Nasional

Judul : Pengembangan Kreativitas dan Entrepreneurship dalam Pendidikan Nasional

Penulis : Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, MSc.Ed.

Tebal Buku : xviii + 237 halaman

Penerbit : Buku Kompas

Tahun Terbit : 1 Juni 2012

Tahun Terbit : 1 Juni 2012

ISBN : 9789797096533

Kekayaan sumber daya alam berupa bahan tambang, mega biodiversity, forest diversity – sebagai hutan tropis terbesar setelah Brazil. Negeri kepulauan yang terbentang di sepanjang garis khatulistiwa, dengan luas daratan 1,9 juta km2 beserta kekayaan alamnya, dan 3,1 juta km2 luas perairan beserta kekayaan lautnya. Sedang secara budaya memiliki lebih dari 300 ragam suku dan 742 bahasa dan dialek. Itulah potensi kekayaan alam Indonesia sejak dahulu mengundang kedatangan bangsa-bangsa lain.

Namun, fakta bahwa potensi sumber daya alam, maupun sumber daya manusia belum sepenuhnya dikembangkan dengan baik. Sebaliknya, bisnis korporasi multinasional terus menggurita di tanah air mengeksplorasi potensi domestik di atas, sementara pengusaha, dan korporasi nasional belum memiliki satu pun produk industri global yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat global sekaligus menopang kemajuan ekonomi kita.

Kemajuan ekonomi akan dapat dicapai jika ada spirit kewirausahaan yang kuat dari warga bangsa yang didukung penuh pemerintah. BPS menyebutkan potensi 252 juta penduduk Indonesia, hanya memiliki wirausaha non pertanian 7,8 juta orang atau 3,1 %. Rasio wirausaha sebesar 3,1 % itu masih lebih rendah dibandingkan dengan negara: Malaysia 5 %, China 10 %, Singapura 7 %, Jepang 11 % maupun AS yang 12 % dengan jumlah penduduknya jelas lebih sedikit. Bagaimana program pendidikan dalam mengembangkan semangat kewirausahaan.

 

Pakar ilmu pendidikan Prof. Dr. H.A.R. Tilaar mencoba memberi jawaban. Buku ini berisi kajian tentang akar dari sikap seorang entrepreneur, yakni kemampuan berpikir kreatif dan inovatif. Juga berisi gagasan tentang cara bagaimana kemampuan dan tindakan kreatif tersebut dapat dikembangkan melalui program-program pendidikan dan pelatihan di dalam system pendidikan nasional kita. Berikut kami angkat resensi kritis seorang Wahyu dari laman https://islamindonesia.id/.

Entrepreneurship dan Perubahan Sosial

Pemikir pendidikan kritis, H.A.R Tilaar, menyebut ketertinggalan ekonomi Indonesia dari Negara-negara tetangga dikarenakan minimnya entreprenuer di negara ini. Mengapa harus entrepeneur dan apa kaitannya dengan pedagogik kritis transformatif yang selama ini diusungnya?

Kreativitas, Entrepreneur dan Pedagogik kritis merupakan tiga kata kunci dari buku Pengembangan Kreativitas dan Entrepreneurship dalam Pendidikan Nasional ini. Penulisnya, H.A.R Tilaar, mencoba menemukan benang merah antara tiga kata itu dengan realitas sosial ekonomi masyarakat Indonesia saat ini.

Dari hasil penelusurannya, Tilaar menemukan keterpurukan ekonomi Indonesia dikarenakan minimnya jumlah entrepreneur yang hanya 0,8 persen dibandingkan dengan total jumlah penduduk yang kurang lebih mencapai dua ratus juta jiwa. Ia pun membandingkan dengan negara-negara maju yang pernah disinggahinya, paling minimal entrepreneurnya berjumlah dua persen dari total penduduknya. Salah satu faktor yang membuat Indonesia minim dengan entrepreneur, kata Tilaar, itu dikarenakan sistem pengembangan sumber daya manusia Indonesia, khususnya di bidang pendidikan dan pelatihan masih belum beranjak pada pola lama, hanya bertumpu pada hal-hal teknis seperti pencapaian kemampuan pengetahuan dengan nilai yang tinggi sebagai ukuran.
Alhasil, pola ini diyakini mematikan kreativitas peserta didik, karena hanya mengantarkan peserta didik pada lembah kompetensi dan persaing an yang pada akhir nya hanya menghasilkan output pendidikan yang timpang; individualistis dan memikirkan dirinya sendiri. Tilaar mengkritik kebijakan pendidikan yang masih terkooptasi dengan rezim tes dan nilai tersebut.

Namun, di tengah praktek pendidikan yang begitu merusak pola pikir sumber daya manusia Indonesia, masih ada daya yang bias membongkar, menggugat dan menerobos pakem-pakem yang mencengkeram dunia pendidikan nasional, ini yang disebut dengan berpikir kreatif dan inovatif atau disebut dengan sikap entrepreneur.
Tilaar menggarisbawahi, entrepreneur tidak selalu wirausahawan atau pengusaha, tapi orang atau kelompok yang mampu keluar dari pakem yang ada dan mampu memaksimalkan batas-batas kemampuannya. Kendati begitu, Tilaar juga tak bisa melepaskan diri dari menggunakan sosok pengusaha sukses seperti Martha Tilaar (Istrinya) dan Ciputra sebagai contoh seorang entreprenuer sejati.

Pada hakikatnya entreprenuer adalah pembaharu zaman dan pembawa obor perubahan. Lompatan peradaban manusian, ditentukan serta diwarnai oleh cara berpikir kritis, cara berpikir kreatif-inovatif yang menghasilkan hal-hal baru di tengah masyarakat. Kedua pola berpikir itulah yang akhirnya melahirkan modernisasi dan globalisasi . Tilaar menambahkan, sumber dari segala kreativitas ialah penemuan problem. Seorang anak tidak mungkin mengembangkan kreativitas apabila tak pernah menemukan masalah dalam keseharian hidup.

Namun, hal yang lebih penting, kata Tilaar, keberhasilan seorang entreprenuer justru ditentukan oleh pola pikirnya, yakni bagaimana dirinya menggunakan dimensi pikirannya untuk berpikir secara kritis dan merdeka. Dimensi berpikir kritis dan merdeka dapat menuntun individu untuk mencari kebenaran dan membebaskan dirinya dari keterkungkungan dan ketidakberdayaan.

Subjek Perubahan

Sebagai pendidik sekaligus pakar pendidikan , tilikan Tilaar tentang Entrepreneurship tak jauh-jauh dari kajian pedagogik. Entrepreneur, kata Tilaar, tak bias dipisahkan dari ranah pedagogik, terutama pedagogik transformatif (Hal 126). Pedagogik transformatif atawa proses pendidikan yang menekankan pada kesadaran kritis dan tindakan perubahan ke arah yang lebih baik, sejalan dengan ide entrepreneur. Pertemuan pedagogik transformatif dengan entrepreneur berada pada titik cara berpikir, yakni kesadaran berpikir kritis, kreatif dan transformatif.

Tilaar percaya, pola berpikir yang menghasilkan entrepreneur atau pelaku pedagogik transformatif akan muncul apabila lembaga pendidikan bisa melepaskan diri dari mabuknya dogma-dogma darwnisme sosial yang mengagung-agungkan persaingan dan melestarikan kekuatan politik yang dominan.

Untuk itu, menurut Tilaar ada baiknya institusi pendidikan mencoba menjejakkan diri pada aliran Mazhab Frankfurt yang menekankan pada teori krtis dan postmodernisme yang mengusung tema dekonstruksi kemapanan dan menolak narasi besar yang tunggal. Kebersatuan dua aliran ini dalam pendidikan nasional diharapkan dapat menghasilkan peserta didik yang tidak begitu saja menerima konsep pengetahuan mapan tanpa didasari pada kritik yang dialektis, serta menolak bentuk penyeragaman pengetahuan sehingga pengetahuan bisa lebih kontekstual.

Inti dari kedua paradigma itu pada pendidikan nasional adalah pengembalian peserta didik sebagai subjek atau inti perubahan itu sendiri. Murid atau peserta didik dapat membongkar peneguhan proses transformasi (sistem) pengetahuan (knowledge) yang hanya dikuasai atau dihegemoni oleh segelintir pihak (dominasi guru misalnya).

Sebenarnya, itulah yang menjadi sasaran tembak Tilaar dalam bukunya ini. Memulihkan kembali posisi subjek pendidikan sebagai individu produktif di dalam kehidupan sosialnya, sadar akan dirinya dan sadar pada tanggung jawabnya terhadap kemanusiaan sehingga tidak melakukanpengkhianatan pada upaya pencerahan budi.

Tugas entrepreneur yang tercipta melalui pedagogik transformatif ialah melucuti ideology pendidikan yang justr u melang gengkan pelecehan terhadap kemanusiaan itu sendiri, seperti RSBI (baru dibatalkan oleh MK) yang membuat kastanisasi dalam dunia pendidikan atau pola pendidikan yang mengarahkan peserta didik hanya sebagai sekrup atau robot industri.

Di buku ini, Tilaar mencoba mengajukan tawaran bahwasanya Entrepreneurship dalam dunia pendidikan nasional harus sejalan dengan agenda pembangunan lokal. Artinya, proses pendidikan, sesunguhnya diterapkan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhanakan sumberdaya manusia yang (minimal) sanggup menyelesaikan persoalan lokal yang melingkupinya dan signifikan dengan kebutuhan masyarakat. Bukan hanya pada persoalan global yang justru jauh dari realita masyarakat.

Saat ini, dunia pendidikan nasional memang sedang gandrung dengan pendidikan kewirausahaan sebagai hasil dari penerjemahan konsep entrepreneurship. Sayangnya, konsep hanyalah konsep. Pasalnya pendidikan kewirausahaan yang gencar digalakkan oleh pemerintah seperti tergelincir alias salah kaprah.

Budaya kritis dan kreatif sebagai landasan dasar dari pendidikan kewirausahaan tidak dibangun dalam paradigma pendidikan nasional.

Akhirnya, pendidikan kewirausahaan besutan pemerintah hanyalah bertujuan atau berorientasi pada pengejaran profit semata yang ujung-ujungnya juga bermuara pada persaingan dan individualisme. Padahal, entrepreneurship di mata Tilaar tidak semata-mata hanya bicara soal ekonomi, tapi juga perubahan sosial.

Jika hanya bicara soal ekonomi, tak bias dipungkri kalau konsep Entrepreneurship masih berada dalam kerangka kapitalisme global. Memang, lewat buku setebal 238 halaman ini Tilaar mengajak kita untuk membuka pola pikir kalau kita harus bisa berkompromi dengan globalisasi yang tak bisa dihindari. Kendati begitu, lewat pemikirannya ini guru besar emiritus UNJ menawarkan jalan agar bangsa ini tidak tenggelam begitu saja dalam gulungan globalisasi, salah satunya caranya membangun manusia Indonesia yang kritis dan kreatif melalui pedagogik transformatif. (Wahyu/Islam Indonesia) https://islamindonesia.id /berita/resensi-buku

 

 

 

Career Center Widyatama Terima Studi Banding STIE PGRI Sukabumi

Selasa (17/7) Career Center Widyatama menerima studi banding dari STIE PGRI Sukabumi di Ruang Rapat Rektorat Gedung A lt.2. Tepat pukul 10.00 WIB rombongan diterima oleh kepala Career Center Widyatama Pipin Sukandi, S.E., M.M yang sekaligus sebagai Koordinator Wilayah Jawa Barat dan Banten Pemenang Bantuan Layanan Pusat Karir dan Pusat Karir Lanjutan dari Kemenristek Dik_. Selain dari Pusat Karir Universitas Widyatama mereka juga diterima oleh para Dekan, Ka Prodi, Biro dan Pusat dari Universitas Widyatama yang dibuka oleh Wakil Rektor Operasional Dr. H. Nuryaman, S.E., M.Si., Ak., C.A. Rombongan STIE PGRI Sukabumi yang dipimpin oleh H. Asep Deni (Pelindung) didampingi oleh Kepala Pusat Karir Riki Riswandi dan beberapa staff Pusat Karir membahas pengelolaan Pusat Karir yang ada di Universitas Widyatama sebagai coordinator Wilayah Jabar Banten.

Career Center Widyatama secara berturut-turut berhasil meraih hibah setelah sebelumnya diraih sejak tahun 2015 dari Kemenristek Dikti dalam hal penelusuran alumni atau program tracer study. Menurut laporan yang di release oleh Career Center Widyatama, rata-rata masa tunggu lulusan Widyatama untuk mendapatkan pekerjaan selama 4,6 bulan. (Ed) Humas Widyatama